Anda di halaman 1dari 35

TUGAS KOMUNIKASI KESEHATAN

KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Disusun Oleh :
KELOMPOK 3
Norma Arinda Kesuma 25010112120024
Nurul Oktavia Puspita Sari 25010112120025
Siti Rohmawati 25010112120026
Mia Kartika 25010112120027
Tiodora Ultaria Silalahi 25010112120028
Pradipta Dhimasrasta S P 25010112120029
Reni Setyarini 25010112120030
Chesaria Candra C 25010112120031
Reza Ayu R M 25010112120032
Rizky Endah W 25010112120033
Luluk Masruroh 25010112120034
Kelas A 2012

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
2013
A. KONSEP DASAR DAN TUJUAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL
1. Pengertian Komunikasi Interpersonal
Pada hakekatnya komunikasi adalah suatu proses pengiriman pesan dari
komunikator (pengirim) kepada komunikan (penerima pesan), baik secara
langsung maupun melalui media. Secara etiomologis, komunikasi berasal dari
kata communicare (bahasa latin) yang artimnya memberitahukan. Sedangkan
dalal Oxford Dictionary, komunikasi berarti pengiriman informasi atau pertukaran
pesan.1
Theodorson, (Liliweri,1997) mendefinisikan komunikasi secara lebih luas,
yakni suatu proses pengaliha informasi dari satu orang atau sekelompok orang
dengan menggunakan symbol-simbol tertentu kepada satu orang atau kelompok
lain.Oleh karena itu, komunikasi dappat berlangsung dalam konteks antarpribadi,
baik langsung maupun tidak langsung; komunikasi dalam situasi kelompok; dan
komunikasi melalui media massa.1
Komunikasi Interpersonal seringkali diartikan sebagai suatu proses
komunikasi yang terjadi antara dua orang atau lebih, baik secara langsung atau
tidak langsung serta dapat berlangsung dalam satu arah ataupun dua arah.
Komunikasi Interpersonal ataupun komunikasi antarpribadi memungkinkan
terjadi pengiriman pesan baik secara verbal maupun non verbal.1
Joseph A. DeVito (1995) menyatakan bahwa komunikasi interpersonal dapat
didefinisikan Pendekatan Hubungan Dyadik (A dyadic/Relation Definition) dan
Pendekatan Perkembangan (A Developmental Definition). Dari pendekatan
pertama, komunikasi interpersonal diartikan sebagai proses pengiriman pesan
diantara dua orang yang memiliki hubungan interpersonal, misalnya antara
orangtua-anak, antarteman, antarsaudara, guru-murid, atasan-bawahan, dokter-
pasien, atau hubungan professional atau non professional lainnya. Sedangkan dari
sudut pandang kedua, komunikasi interpersonal merupakan suatu kontinum
hubungan interpersonal sampai pada terbantuknya intimasi dalam hubungan
interpersonal.6
Lebih lanjut dijelaskkan oleh Rakhmat (2003) bahwa proses impersonal atau
interpersonal tersebut meliputi sensasi, persepsi, memori dan proses berpikir.
Sensasi adalah proses indera menerima stimuli, persepsi adalah pengalaman
tentang suatu objek, peristiwa, atau hubunga-hubungan yang diperoleh dari
penyimpulan dan penafsiran pesan. Dengan kata lain persepsi adalah pemberian
makna pada sensasi sehingga manusia dapat memperoleh hal-hal baru. Memori
adalah suatu sistem terstruktur yang memungkinkan manusia dapat merekam atau
menyimpan Informasi dan memanggilnya kembali untuk membimbing
perilakunya. Jadi, memori bekerja dalam tiga tahap, yakni: perekaman (encoding),
penyimpanan (storage), dan pemanggilan (retrieval). Proses interpersonal atau
impersonal selanjutnya adalah berpikir, yaitu proses penarikan kesimpulan dalam
rangka pengambilan keputusan (decision making), pemecahan masalah (problem
solving), dan menemukan hal-hal baru (creativity).8

2. Bentuk-Bentuk Komunikasi Interpersonal


Bentuk atau jenis komunikasi dapat diidentifikasikan dengan menggunakan
berbagai landasan. Berdasarkan konteksnya, komunikasi menurut Liliweri (2003)
memiliki lima bentuk, yakni:
(1) komunikasi antarpribadi
(2) komunikasi kelompok
(3) komunikasi organisasi
(4) komunikasi public
(5)komunikasi massa. Masing-masing memiliki karakteristik sebagaimana
yang tersaji dalam gambar berikut ini.1

Tabel 1. Karakter Interaksi dalam Komunikasi


Berdasarkan Konteks (Liliweri,2003)

KARAKTERISTIK

Sedikit Jumlah orang Banyak

Deekat Kedekatan fisik antarpribadi Jauh

Segera Sifat umpan balik Tertunda

Informal Peran komunikasi Formal

Spesifik Adaptasi pesantujuan dan maksud Umum

Kelompok organisasi publik


Antarpribadi Terstruktur
KONTINUM SITUASI

Komunikasi dapat juga dibedakan berdasarkan atas ada tidaknya umpan balik,
yakni bentuk komunikasi yang berlangsung satu arah (one way communication)
dan komunikasi dua arah (two way communication). Komunikasi satu arah tidak
memiliki peluang untuk memperoleh kejelasan dan konfirmasi, sehingga bentuk
ini akan tepat digunakan pada saat komunikasi bertujuan persuasif. Sedangkan
komunikasi dua arah member peluang untuk memperoleh kejelasan dan
konfirmasi karena ada sistem umpan baliknya.7
Berdasarkan bentuk pesan yang disampaikan, maka komunikasi dapat
dibedakan dalam dua bentuk, yakni verbal (tertulis dan lisan) dan non verbal.
Sedangkan dari proses berlangsungnya komunikasi interpersonal dapat dibedakan
dalam dua jenis yakni komunikasi secara langsung (face to face) dan komunikasi
secara tidak langsung atau melalui media. Saat komunikasi interpersonal
berlangsung face to face, maka disadari ataupun tidak para pelaku komunikasi
akan mengirimkan pesan, baik berupa verbal maupun nonverbal. Pesan verbal
yang berupa lisan atau tulisan seringkali disertai dengan pesan nonverbal yang
dapat ditandai dari bahasa tubuh (gesture) atau kinesik, bahasa proksemik atau
jarak social, dan paralinguistic.9

3. Fungsi dan Tujuan Komunikasi Interpersonal


Berkomunikasi adalah aktivitas utama manusia saat berinteraksi dengan orang
lain. Komunikasi interpersonal tersebut memiliki berbagai macam tujuan, agar
dapat memenuhi kebutuhannya.
a. Fungsi Komunikasi Interpersonal
Secara umum, Liliweri (1997) mengemukakan empat kategori fungsi
komuniksi yakni:
(1) fungsi informasi
(2) fungsi instruksi
(3) fungsi persuasif
(4)fungsi menghibur
Keempat fungsi tersebut disederhanakan lagi menjadi dua kategori fungsi,
yakni fungsi pribadi dan fungsi social. Fungsi pribadi meliputiidentitas social,
integrasi social, dan kognitif, serta melepaskan diri atau komu nikasi sebagai
jalan keluar; dan fungsi social terdiri dari fungsi pengawasan, fungsi relasi,
atau menghubungkan, fungsi sosialisasi, dan fungsi menghibur.1
Pada bagian lain Gorden (dalam Pearson, 1983) mengungkapkan adanya
lim fungsi komunikasi, yakni:
(1) membangun konsep diri
(2) eksistensi diri
(3)keberlangsungan hidup
(4) memperoleh kebahagiaan
(5) terhindar dari tekanan dan tegangan.

b. Tujuan Komunikasi interpersonal


Joseph A. DeVito (1995) dalam bukunya The Interpersonal
Communication Book menjelaskan mengenai tujuan berlangsungnya
komunikasi interpersonal. Menurutnya, ytujuan dari komunikasi interpersonal
dapat dilihat dari dua perspektif, yakni dari segi motif atau hal yang
mendorong seseorang ingin berkomunikasi dan dari segi hasil atau apa yang
menjadi keinginan dan tujuan yang akan dicapai dari proses komunikasi
tersebut. dari dua latar belakang tersebut dapat diidentifikasikan adanya lima
tujuan komunikasi interpersonal.6
Tujuan pertama adalah untuk mendidik (to educate); pendidikan identik
dengan proses pengembangan dan penyebaran ilmu pengetahuan, wawasan,
nilai, norma dan berbagai materi lainnya. Namun sesungguhnya, pengetahuan
tak sekedar informasi mengenai suatu objek di luar diri perlu komunikasi,
melainkan juga informasi yang terkait dengan diri subjek, meliputi diri sendiri,
orang lain dan tentang dunia luar.6
Tujuan kedua adalah untuk menjalin hubungan (to relate). Sebagaimana
yang dikemukakan oleh McClelland bahwa pada dasarnya manusia memiliki
motif social yang terdiri dari motif berkuasa, motif berprestasi, dan motif
berafiliasi. Motif berafiliasi inilah yang akan mendorong seseorang untuk
membangun dan membina hubungan dengn orang lain. Tujuan atau hasil yang
ingin dibaperoleh adalah terbentuknya relasi baru, atau pemeliharaan
hubungan atau persahabatan, persaudaraan, dan kerjasama yang telah terjalin
sebelumnya.6
Tujuan komunikasi ketiga adalah untuk mempengaruhi (to influence).
Disadari ataupun tidak, komunikasi interpersonal seringkali bertujuan untuk
mengontrol, memanipulasi, dan mengarahkan orang lain. Bila seseorang
berkomunikasi didorong oleh adanya kebutuhan untuk mengendalikan, maka
biasanya gaya komunikasinya akan cenderung mempengaruhi, memimpin atau
mengarahkan, serta mendukung proses negosiasi untuk memperoleh
kesepakatan. Sehingga hasil yang ingin dicapai adalah pengaruh, kekuasaan,
pengendalian atau control, serta kesepakatan. Beberapa aspek yang mengalami
perubahan meliputi perubahan sikap, perubahan pendapat, dan perubahan
perilaku. Sikap adalah suatu kecendrungan atau tingkat kesetujuan atau
ketidaksetujuan pada obyek sikap. Komunikan mengalami perubahan sikap
setelah menerima informasi (pesan), perubahan sikap tersebut bisa saja positif
atau negative.perubahan pendapat, muncul apabila para pelaku komunikasi
memperoleh pemahaman baru mengenai sesuatu hal yang dikomunikasikan.
Pemahaman adalah kemampuan memahami pesan secara cermat sebagaimana
dimaksudkan oleh komunikator. Melalui proses komunikasi bisa saja terjadi
perubahan pendapat dari komunikan mengenai sesuatu hal yang terkait dengan
informasi yang disampaikan oleh komunikator. Sehingga tidak jarang
perubahan pendapat akan disertai dengan munculnya perubahan perilaku.6
Tujuan keempat adalah untuk menolong (to help). Menolong dapat
menyangkut hubungan professional maupun nonprofessional. Pada intinya,
komunikasi yang berlangsung dengan tujuan membantu orang lain,
membimbing orang lain untuk penyesuaian perilaku yang lebih baik., bertukar
pikiran, membantu membuat keputusan, dan melayani orang lain menjadi
salah satu tujuan dalam komunikasi interpersonal.1
Tujuan terkahir yang dikemukakan DeVito (1995) adalah komunikasi
untuk bermain (to play). Yang dimaksud bermain disini adalah segala sesuatu
yang timbul dari komunikasi tersebut berupa kegembiraan, kebahagiaan,
keceriaanselyaknya apa yang dirasakan anak-anak saat bermain. Hasil dari
tujuan ini adalah kenikmatan, relaksasi, kesenangan dan berbagai bentuk
kegembiraan lainnya.6

Tabel 2. Tujuan, Motivasi dan Hasil Komunikasi


Interpersonal (DeVito,1995)
Tujuan Motivasi Hasil

Belajar
Kebutuhan akan Peningkatan,
memperoleh
pengetahuan baru dan pengetahuan, an
pengetahuan dan
rasa ingin tahu, belajar keterampilan
keterampilan

Berhubungan Pembentukan,
Kebuthan berinteraksi,
Membentuk dan pemeliharaan,
menjalin hubungan
memelihara hubungan peningkatan hubungan
interpersonal
interpersonal interpersonal

Mempengaruhi Kebuthan dominasi,


Mengatur, memimpin, mengatur, Pengaruh kekuasaan,
memanfaatkan, dan mengemukakan control, kesepakatan
mengarahkan orang lain pendapat

Penyesuaian diri,
Menolong Altruis, ingin menolong,
pemecahan masalah,
Melayani kebutuhan merasa/menjadi yang
perubahan
orang lain dibutuhkan
sikap,perilaku

Bermain Kebutuhan rasa senang,


Kesenangan, kepuasan,
Rekreatif, kegembiraan, dan
kegembiraan
menyenangkan hiburan.

B.KLASIFIKASI KOMUNIKASI INTERPERSONAL DAN MODELNYA

1. Kalsifikasi Komunikasi Interpersonal

Redding yang dikutip Muhammad (2004, p. 159-160) mengembangkan


klasifikasi komunikasi interpersonal menjadi interaksi intim, percakapan sosial,
interogasi atau pemeriksaan dan wawancara.1
a. Interaksi intim termasuk komunikasi di antara teman baik, anggota
famili, dan orang-orang yang sudah mempunyai ikatan emosional yang
kuat.
b. Percakapan sosial adalah interaksi untuk menyenangkan seseorang
secara sederhana. Tipe komunikasi tatap muka penting bagi
pengembangan hubungan informal dalam organisasi. Misalnya dua
orang atau lebih bersama-sama dan berbicara tentang perhatian, minat
di luar organisasi seperti isu politik, teknologi dan lain sebagainya.
c. Interogasi atau pemeriksaan adalah interaksi antara seseorang yang ada
dalam kontrol, yang meminta atau bahkan menuntut informasi dari yang
lain. Misalnya seorang karyawan dituduh mengambil barang-barang
organisasi maka atasannya akan menginterogasinya untuk mengetahui
kebenarannya.
d. Wawancara adalah salah satu bentuk komunikasi interpersonal di mana
dua orang terlibat dalam percakapan yang berupa tanya jawab.
Misalnya atasan yang mewawancarai bawahannya untuk mencari
informasi mengenai suatu pekerjaannya.

2. Model-model Komunikasi Interpersonal

Esensi komunikasi terletak pada prosesnya. Berlangsungnya komunikasi


interpersonal dapat diuraikan dalam 3 model, yaitu Linier Model (Model Garis),
Circle Model (model Lingkaran) dan Convergence Model (Model Memusat).1

a. Komunikasi Model Garis (Linier Model)


Bentuk pertama dari model ini dikemukakan oleh Claude E. Shannon
(Profesor Massachusets Institute of Technology) dan Warren Weaver dalam
karyanya The Mathematical Theory of Communication yang ditulis pada tahun
1949. Profesor Shannon mengamati bahwa masalah komunikasi yang mendasar
adalah persoalan mereproduksi (pesan) pada satu titik dan dapat diterima pada
titik lain secara persis sama.1
Hal itulah yang kemudian melahirkan teori bahwa sebuah pesan
sebenarnya hanya membutuhkan angka 1 dan 0 untuk mentransmisikannya.
Dalam sistem digital bilangan 0 dipakai untuk mewakili kondisi off/non-aktif,
sedangkan bilangan 1 untuk mewakili kondisi on/aktif.

Skema di atas menyiratkan adanya lima komponen yang terlibat dalam


proses komunikasi, yakni :
1. Source atau sumber yang berfungsi sebagai transmitte yang
mengkode/memancarkan atau mengirim pesan
2. Message atau pesan yang berupa isyarat verbal dan nonverbal
3. Receiver (penerima) yang berfungsi sebagai penerima pesan
4. Destination atau tujuan/sasaran
5. Noise atau gangguan yang dapat menghambat pengiriman dan/atau
penerimaan suatu pesan. Keterbatasan dalam model ini adalah belum
adanya perhatian terhadap umpan balik (feedback).1
Bentuk kedua dari Model Linier berikutnya dikemukakan oleh Charles
Osgood pada tahun 1957. Ia berpendapat bahwa teknik komunikasi yang
dikembangkan sebelumnya oleh Shannon dan Weaver tidak diharapkan untuk
menjelaskan proses komunikasi antar manusia, karena dihasilkan dari masalah-
masalah keahlian teknik. Oleh karena itu, berbeda dengan apa yang dikemukakan
sebelumnya oleh Shannon dan Weaver, Osgood menyatakan bahwa proses
komunikasi interpersonal yang berlangsung melibatkan proses psikolinguistik dan
menetapkan fungsi pengiriman danpenerimaan pesan berupa simbol atau tanda-
tanda. Fungsi pengiriman atau pemancar dilakukan oleh sumber dan sasaran
sebagai penerima dimana yang akan mengartikan message dan kemudian
memancarkan feedback atau umpan balik. Fungsi pengiriman dan penerimaan
pesan inilah yang disebut dengan fungsi encode (oleh source) dan decode (oleh
receiver), dimana masin-masing fungsi akan dilakukan secara bergantian. 1
Model berikutnya dikemukakan oleh Edwin Emery, Philip H.Ault dan
Warren K.Aggs. Menurut Emery dkk (Liliweri, 1997), komunikasi interpersonal
melibatkan adanya komunikator atau penyampaian pesan, penerima pesan,
saluran, noise atau gangguan, feedback dan latar belakang pelaku komunikasi.
Pada tahun 1960, David Berlo dengan pendekatan yang sama (linier)
mengidentifikasi unsur utama komunikasi interpersonal yang meliputi sumber
(Source) selaku pengirim pesan; pesan (Message) yang merupakan isi pesan;
saluran komunikasi (Channel) dimana medianya tergabtung pada bentuk pesan,
yakni visual (seeing), auditif (hearing), rabaan (touching), bau (smelling) dan rasa
(testing); unsur selanjutnya adalah penerima pesan (Receiver).1
Kompleksitas berbagai unsur dalam proses komunikasi interpersonal
dengan pendekatan linier, semakin lengkap diuraikan oleh dua tokoh Joseph
A.DeVito dan David W.Johnson. Senada dengan teori Osgood, proses komunikasi
yang berlangsung antara komunikator dengan komunikan menurut Johnson
(Johnson&Johnson, 1991) dan dan DeVito (1995) berlangsung secara simultan,
sehingga fungsi sebagai komunikator atau sumber (source) yang mengirimkan
pesan akan bergantian dengan fungsi receiver atau penerima pesan.1
Keunggulan lain adalah, selain memperhatikan komponen feedback atau
umpan balik, baik Johnson maupun DeVito menaruh perhatian pula pada
feedforward atau pesan pendahuluan, unsur gangguan dalam komunikasi, serta
efek yang menyertai berlangsungnya komunikasi interpersonal turut
diperhitungkan.6

3.Unsur-unsur dalam Proses Komunikasi Interpersonal


a. Pelaku Komunikasi
Menurut Rakhmat (2003) manusia sebagai komunikan memiliki dua peran
yang bersifat stimultan, yakni peran sebagai sender (pengirim pesan) atau
sebagai sumber (source), dan lebih akrab disebut sebagai komunikator serta peran
sebagai receiver (penerima pesan) atau yang disebut sebagai istilah komunikan.
Sebagai komunikator, sender melakukan aktivitas merumuskan dan mengirimkan
suatu pesan kepada komunikan.1
Aktivitas dalam mengolah pesan dan menuangkan ide-ide atau gagasan ke
dalam berbagai simbol atau kode untuk dikirimkan sebagai pesan ini yang disebut
encoding, sehingga tidak jarang orangnya disebut encoder. Komunikan atau
penerima pesan sebagai receiver akan berusaha menerima dan memahami pesan
yang disampaikan komunikator. Prosesnya disebut decoding, yaitu aktivitas untuk
memahami pesan dengan menterjemahkan atau mengubah kode atau simbol-
simbol pesan ke dalam bentuk ide dan gagasan kembali, sehingga komunikan
sering disebut decoder.1
Dari kedua aktivitas memerankan fungsi tersebut, maka muncul dua
bentuk komunikasi dalam konteks komunikasi interpersonal, yakni komunikasi
searah (one way communication) dan komunikasi dua arah (two way
communication). Komunikasi interpersonal berlangsung searah bila pelaku
komunikasi memerankan salah satu fungsi saja. Sebaliknya komunikasi
interpersonal akan berlangsung dua arah bila kedua fungsi tersebut secara
bergantian atau simultan dilakukan kedua pelaku komunikan.1
b. Pesan (Message)
Unsur kedua komunikasi interpersonal adalah pesan (message). Pesan
merupakan simbol/isyarat/kode yang digunakan sebagai stimulus untuk
dikirimkan dan diterima para pelaku komunikasi. Bentuknya dapat berupa
auditori/suara yang melibatkan fungsi auditif atau pendengaran, atau pesan
visual/gambar/tulisan yang melibatkan fungsi penglihatan, atau gabungan pesan
yang berupa rabaan/sentuhan melibatkan fungsi taktil, atau pesan olfaktori/bau
yang melibatkan indera penciuman, pesan gustatori atau rasa yang melibatkan
fungsi lidah, dan pesan berupa gestur atau bahasa tubuh. 1
Bila unsur pesan (message) menjadi salah satu komponen utama dalam
komunikasi, maka dalam komunikasi interpersonal juga mengupas tentang adanya
unsur pesan yang lain yakni apa yang disebut dengan metamessage. DeVito
(1995) menyebutkan metamessage terdiri dari feedback dan feedforward. Melalui
feedback, efek dari pengiriman pesan dapat diketahui.1
Lebih lanjut dijelaskan DeVito (1995) mengenai empat dimensi feedback,
yaitu: 1. Dimensi positif negatif, dimensi ini dikategorikan berdasarkan ketepatan
pesan yang disampaikan. Umpan balik positif muncul saat komunikator sudah
tepat dalam menyampaikan pesan, sedangkan umpan balik negatif diberikan saat
komunikator melakukan kesalahan dalam menyampaikan pesan; 2. Berdasarkan
kesegeraan terdapat dimensi segera-tertunda. Pada umumnya, komunikasi
interpersonal secara face to face terdapat umpan balik yang bersifat segera,
sedangkan dalam komunikasi interpersonal yang bermedia , misal melalui surat
atau komunikasi media massa lainnya terdapat umpan balik yang tertunda; 3.
Dimensi tinggi rendah muncul berdasarkan tingkat pengawasannya. Feedback low
monitoring atau pengawasan rendah biasanya terjadi pada saat komunikan
berhadapan dengan komunikator yang akrab atau justru dengan level dibawahnya,
sehingga umpan balik lebih bersifat spontan, kurang hati-hati atau tidak teliti dan
kurang spesifik. Feedback high monitoring muncul saat komunikan berhadapan
dengan orang yang dihormati, sehingga feedback yang diberikan jauh lebih hati-
hati dan spesifik; 4. Dimensi krisis-suportif, berdasarkan sifatnya umpan balik
kritis biasanya bersifat evaluatif atau menilai, sedangkan feedback suportif
bersifat mendukung, tanpa disertai penilaian.1
Metamessage berikutnya adalah feedforward atau pesan pendahuluan.
Pesan ini biasanya disampaikan oleh komunikator pada komunikan mendahului
pesan yang sesungguhnya (message). Menurut DeVito (1995) feedforward
memiliki 4 fungsi yaitu; 1. Membuka saluran komunikasi, dengan menerapkan
phatic communication, yaitu pesan pendahuluan yang bertujuan
menginformasikan kesiapan seseorang untuk berkomunikasi; 2. Menampilkan
atau mengantarkan pesan lain, biasanya penggunaan feedforward lebih banyak
pada informasi yang bersifat kurang menyenangkan, sehingga pengirim pesan
akan membungkus pesan yang sesungguhnya dengan pendahuluan. Tujuannya
agar penerima pesan lebih siap dan tepat saat merespon pesan yang diterima; 3.
Menyangkal, tujuannya untuk meyakinkan bahwa pesan yang diterima dan
dipahami orang lain (komunikan) sesuai dengan keinginan penyampai pesan; 4.
Memperoleh informasi melalui perubahan peran.1
Kadangkala komunikator menggunakan teknik feedforward ini untuk
memperoleh umpan balik dari lawan bicara, dengan cara menempatkan
komunikan dalam peran-peran tertentu. Misalnya dengan mengajukan pertanyaan
apa yang akan kamu lakukan bila seseorang mengingkari apa yang telah
dijamjikannya padamu?.
c. Saluran
Unsur berikutnya adalah saluran atau channel, yaitu media yang dilalui
oleh pesan. Bentuknya tergantung pada bentuk pesan yang akan disampaikan.
d. Konteks
Salah satu keunggulan yang diungkapkan DeVito (1995) dalam skema
proses komunikasi interpersonalnya adalah adanya communication context atau
suatu konteks yang melatarbelakangi berlangsungnya komunikasi. Menurutnya,
terdapat empat dimensi dalam konteks 6, yaitu:

1. Dimensi fisik, yaitu lingkungan secara fisik, yaitu lingkungan secara


fisik sebagai tempat berlangsungnya komunikasi
2. Dimensi temporal, menyangkut waktu dan situasi saat berkomunikasi;
3. Dimensi sosiopsikologis, berkaitan dengan norma yang berlaku bagi
pelaku komunikan, relasi atau kedekatan yang terjalin antar pelaku
komunikasi, serta peran yang disandang oleh pelaku komunikasi; 4.
Dimensi budaya, menyangkut latar belakang budaya dari para pelaku
komunikasi.1

e. Gangguan
Noise atau gangguan dalam komunikasi adalah semua hal yang dapat
mengganggu, menyimpangkan atau menghalangi proses pengiriman dan
penerimaan pesan. Secara garis besarnya, gangguan dalam proses komunikasi
dapat dicermati dalam tiga tipe1 yaitu:
1. Gangguan psikologis, adalah suatu hambatan komunikasi yang muncul
karena faktor individual defferences pelaku komunikasi, misalnya
perbedaan persepsi, status, jenjang umur dan lain-lain.
2. Gangguan fisik, biasanya bersifat teknis. Seringkali saat berkomunikasi
tiba-tiba muncul gangguan teknis misalnya saluran telepon terganggu,
bising kendaraan, dan lain-lain yang dapat menghambat pengiriman dan
penerimaan pesan.
3. Gangguan semantik, biasanya disebabkan karena penggunaan simbol-
simbol atau jenis bahasa yang berbeda dari para pelaku komunikasi.
Semantik didefinisikan sebagai suatu studi atas pengertian/pemaknaan
(study of meaning).
Untuk menghambat terjadinya multitafsir dan misscommunication tersebut,
sebaiknya komunikator memilih kata-kata yang sesuai dengan karakteristik
komunikan.

f. Efek
Unsur komunikasi yang berupa efek, memiliki tiga domain yakni efek
kognitif, efek afeksi dan efek psikomotor.1
Menurut Effendy (1989) dalam Kamus Komunikasi, cognitive effect
atau efek kognitif adalah pengaruh pesan komunikasi yang timbul pada
komunikan berupa kegiatan berpikir, mengetahui, menghayati, mengartikan,
menggambarkan, mempertimbangkan, menalar dan aktivitas berpikir lainnya yang
dapat meningkatkan kapasitas intelektualnya. Terkait dengan tujuan komunikasi,
maka efek kognitif yang timbul memungkinkan komunikan memperoleh
pengetahuan, belajar melakukan analisis, evaluasi dan sintesis terhadap suatu
pesan atau informasi, dan pengambilan keputusan.1
Efek afeksi menimbulkan perubahan sikap, keyakinan terhadap sesuatu
yang menyangkut segi perasaan atau emosi. Efek psikomotor ditunjukkan bila
seseorang memperoleh cara-cara baru atau berbeda dari sebelumnya dalam
melakukan aktivitas tertentu baik menyangkut perilaku verbal dan non verbal.1

Tabel Efek Komunikasi Interpersonal (DeVito, 1995; Rakhmat,2003)


Kognisi Memperoleh pengetahuan, menganalisis, evaluasi dan
sintesis terhadap informasi atau pesan.

Afeksi Menimbulkan perubahan sikap, keyakinan terhadap sesuatu


menyangkut perasaan atau emosi.

Konasi Memperoleh cara-cara baru melakukan aktifitas tertentu,


baik dalam bentuk perilaku verbal maupun nonverbal.

4. Tujuan Komunikasi Interpersonal

Komunikasi interpersonal mungkin mempunyai beberapa tujuan. Di sini akan


dipaparkan 6 tujuan, antara lain ( Muhammad, 2004, p. 165-168 ) 8 :

a. Menemukan Diri Sendiri


Salah satu tujuan komunikasi interpersonal adalah menemukan personal atau
pribadi. Bila kita terlibat dalam pertemuan interpersonal dengan orang lain kita
belajar banyak sekali tentang diri kita maupun orang lain.1

Komunikasi interpersonal memberikan kesempatan kepada kita untuk berbicara


tentang apa yang kita sukai, atau mengenai diri kita. Adalah sangat menarik dan
mengasyikkan bila berdiskusi mengenai perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita
sendiri. Dengan membicarakan diri kita dengan orang lain, kita memberikan
sumber balikan yang luar biasa pada perasaan, pikiran, dan tingkah laku kita.

b. Menemukan Dunia Luar

Hanya komunikasi interpersonal menjadikan kita dapat memahami lebih banyak


tentang diri kita dan orang lain yang berkomunikasi dengan kita. Banyak
informasi yang kita ketahui datang dari komunikasi interpersonal, meskipun
banyak jumlah informasi yang datang kepada kita dari media massa hal itu
seringkali didiskusikan dan akhirnya dipelajari atau didalami melalui interaksi
interpersonal.

c. Membentuk Dan Menjaga Hubungan Yang Penuh Arti

Salah satu keinginan orang yang paling besar adalah membentuk dan memelihara
hubungan dengan orang lain. Banyak dari waktu kita pergunakan dalam
komunikasi interpersonal diabadikan untuk membentuk dan menjaga hubungan
sosial dengan orang lain.

d. Berubah Sikap Dan Tingkah Laku

Banyak waktu kita pergunakan untuk mengubah sikap dan tingkah laku orang lain
dengan pertemuan interpersonal. Kita boleh menginginkan mereka memilih cara
tertentu, misalnya mencoba diet yang baru, membeli barang tertentu, melihat film,
menulis membaca buku, memasuki bidang tertentu dan percaya bahwa sesuatu itu
benar atau salah. Kita banyak menggunakan waktu waktu terlibat dalam posisi
interpersonal.
e. Untuk Bermain Dan Kesenangan

Bermain mencakup semua aktivitas yang mempunyai tujuan utama adalah


mencari kesenangan. Berbicara dengan teman mengenai aktivitas kita pada waktu
akhir pecan, berdiskusi mengenai olahraga, menceritakan cerita dan cerita lucu
pada umumnya hal itu adalah merupakan pembicaraan yang untuk menghabiskan
waktu. Dengan melakukan komunikasi interpersonal semacam itu dapat
memberikan keseimbangan yang penting dalam pikiran yang memerlukan rileks
dari semua keseriusan di lingkungan kita.

f. Untuk Membantu

Ahli-ahli kejiwaan, ahli psikologi klinis dan terapi menggunakkan komunikasi


interpersonal dalam kegiatan profesional mereka untuk mengarahkan kliennya.
Kita semua juga berfungsi membantu orang lain dalam interaksi interpersonal kita
sehari-hari. Kita berkonsultasi dengan seorang teman yang putus cinta,
berkonsultasi dengan mahasiswa tentang mata kuliah yang sebaiknya diambil dan
lain sebagainya.

C. EFEKTIVITAS KOMUNIKASI INTERPERSONAL

Menurut Kumar (2000: 121-122) menekankan 5 dimensi untuk mencapai


efektifitas komunikasi interpersonal yaitu keterbukaan (openess), empati
(emphaty), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positivenes) dan
kesetaraan (equality).5 Dari kelima dimensi ini dapat diturunkan perilaku-perilaku
spesifik yang menandai komunikasi interpersonal yang efektif.

1. Keterbukaan (openess)

Keterbukaan yaitu kemauan menanggapi dengan senang hati informasi yang


diterima didalam menghadapi hubungan antarpribadi. Keterbukaan atau sikap
terbuka sangat berpengaruh dalam menumbuhkan komunikasi antarpribadi
yang efektif. Johnson Supratiknya (1995) mengartikan keterbukaan diri yaitu
membagikan kepada orang lain perasaan kita terhadap sesuatu yang telah
dikatakan atau dilakukan atau perasaan kita terhadap kejadian-kejadian yang
baru saja kita saksikan. Brooks dan Emmert (Rahmat, 2005) mengemukakan
bahwa karakteristik orang yang terbuka adalah sebagai berikut.

a. Menilai pesan secara obyektif dengan menggunakan data dan keajegan


logika.

b. Mebedakan dengan mudah, melihat nuansa

c. Mencari informasi dari berbagai sumber

d. Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian


kepercayaanya.2

2. Empati (emphaty)

Empati adalah merasakan sesuatu, seperti apa yang dirasakan oleh orang
yang mengalaminya Menurut Sugiyo (2005), empati dapat diartikan sebagai
menghayati perasaan orang lain atau turut merasakan apa yang dirasakan
orang lain.2 Apabila empati tumbuh dalam proses komunikasi antarpribadi
maka suasana hubungan komunikasi akan dapat berkembang dan tumbuh
sikap saling pengertian dan penerimaan. Langkah-langkah untuk mencapai
empati adalah:

a. Menahan godaan untuk mengevaluasi, menilai, dan mengkritik .


Bukan karena reaksi ini salah, melainkan semata-mata karena reaksi
reaksi seperti ini seringkali menghambat pemahaman. Contoh :
Pekerjaan Saudara buruk .

b. Mengenal latar belakang komunikan. Komunikator berusaha untuk


mengetahui latar belakang pengalaman, pendidikan, ketakutan,
keinginan dari komunikan.

c. Mencoba merasakan apa yang dirasakan orang lain dari sudut


pandangnya, bukan dari sudut pandang kita. 2

3. Sikap mendukung (supportivenes)


Yaitu situasi yang terbuka untuk mendukung komunikasi berlangsung
efektif. Dalam komunikasi antarpribadi diperlukan sikap memberi
dukungan dari pihak komunikator agar komunikan mau berpartisipasi
dalam komunikasi.5 Jack R. Gibb (Rahmat, 2005) menyebutkan beberapa
perilaku suportif yaitu:

a. Deskripsi, yaitu menyampaikan perasaan dan persepsi kepada orang


lain tanpa menilai, tidak memuji atau mengecam, mengevaluasi pada
gagasan, bukan pada pribadi orang lain, orang tersebut merasa
bahwa kita menghargai diri mereka.

b. Orientasi masalah yaitu mengajak untuk bekerjasama mencari


pemecahan masalah, tidak mendikte orang lain, tetapi secara bersama-
sama menetapkan tujuan dan memutuskan bagaimana mencapainya.

c. Spontanitas yaitu sikap jujur dan dianggap tidak menyelimuti motif


yang terpendam.

d. Provisionalisme yaitu kesediaan untuk meninjau kembali pendapat


sendiri, mengakui bahwa manusia tidak luput dari kesalahan sehingga
wajar kalau pendapat dan keyakinan diri sendiri dapat berubah.2

4. Sikap positif (positivenes)

Rasa positif merupakan kecenderungan seseorang untuk bertindak


berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebihan,
menerima diri sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain,
memiliki keyakinan atas kemampuannya untuk mengatasi persoalan, dan
peka terhadap kebutuhan orang lain. Seseorang harus memiliki perasaan
positif terhadap dirinya, mendorong orang lain lebih aktif berpartisipasi,
dan menciptakan situasi komunikasi yang kondusif untuk interaksi yang
efektif. Rahmat (2005) menyatakan bahwa sukses komunikasi antarpribadi
banyak tergantung pada kualitas pandangan dan perasaan diri, positif atau
negatif. Pandangan dan perasaan tentang diri yang positif, akan lahir pola
perilaku komunikasi antarpribadi yang positif pula.2

5. Kesetaraan (equality)

Menurut Rahmat (2005) mengemukakan bahwa persamaan atau kesetaraan


adalah sikap memperlakukan orang lain secara horizontal dan demokratis,
tidak menunjukkan diri sendiri lebih tinggi atau lebih baik dari orang lain
karena status, kekuasaan, kemampuan intelektual, kekayaan atau
kecantikan. Dalam komunikasi masing-masing pihak harus mengakui
bahwa masing-masing pihak dalam berkomunikasi sama-sama bernilai dan
berharga. Masing-masing pihak mempunyai sesuatu yang penting untuk
disumbangkan. Dalam berkomunikasi, masing-masing pihak hendaknya
saling menghargai dan menghormati.2

3.1 Pengertian komunikasi Interpersonal yang Efektif

Rakhmat (2003) dalam bukunya Psikologi Komunikasi menyatakan


bahwa bila komunikator dan komunikan mencapai pengertian yang sama dan
komunikasi berlangsung dalam suasana yang menyenangkan, maka tercapailah
efektivitas komunikasi interpersonal.10 Untuk mencapai pengertian dan memahami
pesan dalam komunikasi, Berger et al (Liliweri (2003) menegaskan bahwa
komunikator dan komunikan harus memiliki kemampuan untuk menggambarkan
(to description), meramalkan (to prediction), dan kemampuan menjelaskan (to
explaination).1 Sedangkan menurut Liliweri (2003) pencapaian komunikasi yang
efektif ditandai dengan adanya kemampuan untuk menyampaikan maksud dan isi
hati secara professional sesuai dengan kompetensi masing-masing.1

Buhrmester, dkk (1977, h.991) menyatakan bahwa kompetensi


interpersonal memiliki lima aspek1, yakni:

1. Kemampuan berinisiatif untuk memulai suatu hubungan


interpersonal (initiative)
2. Kemampuan untuk mengungkapkan diri (self-disclosure)
3. Kemampuan untuk bersikap asertif atau kemampuan
menyampaikan suatu ketidaksetujuan (negative assertion)
4. Kemampuan untuk memberikan dukungan emosional (emotional
support)
5. Kemampuan untuk mengelola dan mengatasi konflik (conflict
management)

Secara rinci aspek aspek Buhrmester tersebut dijabarkan dalam Dayakisni dan
Hudaniah (2005) sebagai berikut:

1. Kemampuan berinisiatif (initiative)

Inisiatif adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk memulai suatu bentuk
interaksi atau hubungan dengan orang lain atau dengan lingkungan sosial yang
lebih luas.

2. Kemampuan untuk membuka diri (self-Disclosure)

Kemampuan ini ditunjukkan dengan adanya keberanian seseorang dalam


mengungkapkan ide-ide, pendapat dan perasaan-perasaannya pada orang lain.

3. Kemampuan bersikap asertif (Negative Assertion)

Dengan kemampuan bersikap asertif ini, diharapkan individu dapat bersikap


tergas terhadap seseorang yang memperlakukan dirinya dengan tidak
menyenangkan.

4. Kemampuan untuk memberikan dukungan emosional (Emotional Support)

Aspek ini mencakup kemampuan untuk menenangkan dan memberikan


perasaan nyaman kepada orang lain yang sedang dalam kondisi tertekan dan
bermasalah.

5. Kemampuan untuk mengatasi konflik (Conflict Management)


Individu yang memiliki kompetensi interpersonal yang baik diharapkan juga
memiliki kemampuan untuk menyelesaikan konflik yang timbul saat
berinteraksi dengan orang lain.
3.2 Prinsip-prinsip dalam Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Menurut Stewart L. Tubbs dan Silvia Moss sebagaimana yang dikutip oleh
Rakhmat (2003) bahwa komunikasi efektif akan berlangsung bila memenuhi lima
hal berikut ini yakni pengertian, kesenangan, pengaruh pada sikap, hubungan
yang semakin baik dan tindakan10

Sedangkan Aristoteles dalam karyanya mengenai Rethorika menekankan


bahwa keindahan bahasa dipakai dalam empat hal, yakni:

(1) Corrective -> berfungsi untuk membenarkan


(2) instructive -> memerintah, biasanya bersifat satu arah
(3)Suggestive -> mendorong,bersifat persuasive
(4) Defensive -> mempertahankan sikap dan pendapatnya sendiri.
Berbagai tinjauan tersebut diatas membawa suatu kesimpulan bahwa pada
prinsipnya komunikasi interpersonal akan berlangsung efektif bila berpegang pada
Tujuh C prinsip berikut ini.

Prinsip pertama adalah Correct atau kebenaran, komunikasi hendaknya


mengandung kejujuran dengan menyampaikan pesan yang benar

Prinsip kedua adalah clear atau kejelasan, prinsip ini terkait dengan
kemampuan seseorang untuk mengkomunikasikan pikiran dan perasaan secara
tepat dan jelas.

Prinsip ketiga adalah Credibility, menyangkut kepecayaan atau kredibilitas


sumber. Berlo (Michigan State University) mengatakan bahwa kredibilitas
seseorang komunikator diperoleh jika memiliki communication skill
(keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan), knowledge (pengetahuan luas
tentang apa yang disampaikan), attitude (sikap jujur dan bersahabat), serta social
and cultural system (kemampuan beradaptasi)

Prinsip keempat adalah Concise atau ringkas, suatu pesan atau informasi
bila dikemas dalam bahasa yang ringkas (singkat namun padat) tentu tidak akan
mengurangi materi yang hendaknya tersampaikan.
Prinsip kelima adalah Courteous atau kesopanan. Hubungan interpersonal
harus didasari dengan sopan santun, menyangkut penampilan fisik maupun etiket
penggunaan bahasa (honorifics)

Prinsip Keenam adalah perhatian dan kepedulian (care), komunikasi akan


berlangsung secara efektif saat satu sama lain saling menunjukkan perhatian dan
kepedulian.

Prinsip Terakhir adalah Comfortable atau kenyamanan. Rakhmat (2003)


mengatakan bahwa komunikasi interpersonal efektif bila berlangsung dalam
suasana yang menyenangkan. Suasana tersebut akan dapat diwujudkan bila kedua
belah pihak merasa nyaman pada asaat menjalin komunikasi.10

3.3 Pendekatan dalam Efektivitas Komunikasi Interpersonal

Terdapat dua bentuk pendekatan dalam menjelaskan komponen dari efektivitas


komunikasi interpersonal, yakni A Humanistic Model of Interpersonal
Effectiveness dan A Pragmatic Model of Interpersonal Effectiveness. Kedua
pendekatan ini dikemukakan oleh Joseph A.DeVito (1995) Pendekatan humanistic
berorientasi pada interaksi manusia yang penuh makna, jujur dan memuaskan,
sedangkan pragmatis berorientasi pada perilaku positif yang digunakan saat
berkomunikasi untuk mencapai tujuan komunikasi.6

3.3.1 Humanistic Model

Menurut DeVito (1995) terdapat lima aspek dalam pendekatan humanis


untuk mencapai efektivitas dalam komunikasi interpersonal. 6 Aspek-aspek
tersebut meliputi:

1. Keterbukaan (openness)

Aspek keterbukaan (openness) saat berkomunikasi dengan orang lain dapat


diekspresikan bila seseorang memiliki kemauan untuk membuka diri (self
disclosure), kemauan untuk bereaksi secara jujur dalam merespon pesan yang
disampaikan oleh lawan bicara, dan ada pengakuan atau kepemilikan terhadap
segala sikap, perasaan, pikiran yang telah di ekspresikan.

2. Empati (empathy)

Kemampuan untuk memahami pikiran dan perasaan orang lain atau


kemampuan untuk meletakkan diri kita pada sudut pandang dan kerangka
pikir orang lain.

3. Dukungan (supportiveness)

Untuk mencapai komunikasi interpersonal yang efektif diperlukan dukungan


dari pelaku komunikan untuk memotivasi dan memelihara berlangsung
komunikasi dengan baik.

4. Sikap positif (positiveness)

Sikap ini dapat diekspresikan melalui bahasa verbal maupun nonverbal,


misalnya dengan pujian, penguatan atau penekanan pesan positif atau dengan
tepukan, pandangan mata yang focus pada lawan bicara, sentuhan yang tepat
untuk memperkuat isi pesan dari bentuk bentuk lain.

5. Kesetaraan/keseimbangan (equality)

Kesetaraan merupakan hal prinsip dalam menjalin relasi interpersonal, baik


dalam situasi informal maupun formal. Bila terasa ada unsur superioritas
muncul saat komunikasi sebaiknya gaya bicara yang menyiratkan dominasi,
instruksi, interupsi, dan bahasa nonverbal lain yang menunjukkan superioritas
dalam berbicara sedapat mungkin dihindarkan.

3.3.2 Pragmatic Model

Pragmatic Model merupakan pendekatan kedua dalam efektivitas komunikasi


interpersonal yang dikemukakan Josph A. DeVito (1995).6 Menurutnya untuk
mencapai komunikasi interpersonal yang efektif secara pragmiatis, diperlukan
adanya lima aspek berikut ini, yakni:

1. Kepercayaan diri (convidence)

Kepercayaan dalam diri seseorang (convidence) saat berkomunikasi ditandai


dengan adanya rasa nyaman, inisiatif untuk membuka saluran komunikasi,
sikap dan pemikiran yang fleksibel dan terkontrol.

2. Kesegeraan (Immediacy)

Kesegeraan (immediacy), aspek ini menunjukkan rasa ketertarikan dan ada


tidaknya perhatian lawan bicara dengan isi pembicaraan. Penting bahwa kedua
belah pihak , baik komunikator maupun komunikan menaruh perhatian penuh
pada lawan bicara saat berkomunikasi agar kesatuan/kebersamaan komunikasi
terpelihara.

3. Pengelolaan interaksi (interaction management)

Kemampuan mengatur pembicaraan agar alus dan alur komunikasi dapat


berjalan lancar. Kemampuan ini berkaitan dengan kontrol diri seseorang atas
kesan/ citra diri yang ditampilkannya terhadap orang lain yang disebut dengan
self-monitoring.

4. Ekspresif (expressiveness)

Kemampuan untuk mengekspresikan perasaan dan pikirannya dengan cara-


cara yang tepat, baik secara verbal maupun nonverbal.

5. Orientasi pada orang lain (other orientation)

Kemampuan seseorang untuk menunjukkan perhatian dan ketertarikannya


pada obyek pembicaraan orang lain.hal itu dapat ditunjukkan dengan cara
verbal maupun nonverbal. Cara-cara verbal diantaranya menanyakan
opini/kesan yang dimiliki oleh lawan bicara, menunjukkan rasa setuju pada
saat yang tepat. Sedangkan cara-cara nonverbal misalnya menjaga kontak
mata, tersenyum, mengangguk, mencondongkan mata, tersenyum atau
ekspresi nonverbal lain yang positive.

D. Fungsi Komunikasi Interpersonal dalam Kesehatan

Misalnya, dalam menjalankan tugas sebagai perawat, menurut Arwani


(2000:40), peran dalam teraupetik sebagai kegiatan yang ditujukan langsung pada
pencegahan, pengobatan penyakit dan proses penyembuhan.11

Pentingnya komunikasi dalam kesmas dapat dijabarkan melalui 3 fungsi


inti kesmas. Dalam prakteknya, ilmu kesmas memiliki 3 fungsi inti yaitu
fungsi assessment, policy development dan assurance. Ketiga fungsi ini harus
dilaksanakan secara sistematis, sehingga tujuan akhir untuk meningkatkan
kesehatan masyarakat secara menyeluruh dapat tercapai.

Pada tahap pertama, dalam menjalankan fungsi assessment atau penilaian,


komunikasi sangat diperlukan untuk memahami betul kebutuhan kesehatan yang
diperlukan oleh masyarakat. Kebutuhan kesehatan masyarakat tidak akan sama
satu dengan yang lain.

Berdasarkan hasil penilaian kebutuhan (assessment), kemudian dibuatlah


kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan masyarakat. Bayangkan jika
tidak adanya komunikasi antara pembuat kebijakan dan masyarakat, maka
kebutuhan kesehatan tidak akan terpenuhi.

Setelah kebijakan dibuat, fungsi terakhir dari kesmas adalah


fungsi assurance, mengawasi pelaksanaan kebijakan yang telah dibuat. Dalam
fungsi ini, tenaga kesmas juga bertugas memberikan informasi dan edukasi
kepada masyarakat terkait kebijakan yang telah dibuat. Pemberian informasi dan
edukasi yang dilakukan kepada masyarakat tentunya memerlukan komunikasi
sebagai medianya.

Selain pemberian informasi dan edukasi, kesmas juga berperan


membangun kemitraan antara pemangku kekuasaan dengan berbagai elemen
masyarakat. Untuk menjadi jembatan antara masyarakat dan pengambil kebijakan,
maka tenaga kesmas harus menguasai teknik komunikasi yang baik. Teknik
komunikasi efektif diperlukan oleh tenaga kesmas karena dalam menjalankan
fungsinya, tenaga kesmas akan berhadapan dengan orang-orang yang berbeda.
Misalnya saja ketika berhadapan dengan pemangku kekuasaan/ pengambil
kebijakan, maka teknik berkomunikasinya akan berbeda ketika berhadapan
dengan masyarakat biasa. Contoh lain, ketika berhadapan dengan masyarakat
yang mempunyai kebudayaan atau kepercayaan tertentu, maka cara
berkomunikasi pun harus disesuaikan agar tercapai kesepahaman antar kedua
belah pihak.

Ilustrasi di atas merupakan gambaran pentingnya komunikasi dalam


kesehatan masyarakat. Berbicara tentang kesehatan masyarakat artinya berbicara
tentang suatu sistem yang harus dijalankan secara berurutan sehingga semua
elemennya dapat terlaksana dengan baik. Untuk mencapai tujuan ini, maka
komunikasi sangat diperlukan agar semua komponen dalam kesehatan masyarakat
dapat dilaksanakan dengan baik sehingga derajat kesehatan masyarakat dapat
dicapai setinggi-tingginya.

Fungsi komunikasi interpersonal (terapeutik) adalah untuk mendorong dan


mengajarkan kerja sama antara perawat dan pasien melalui hubungan perawat dan
pasien. Perawat berusaha mengungkap perasaan, mengidentifikasi dan mengkaji
masalah serta mengevaluasi tindakan yang dilakukan dalam perawatan (Purwanto,
1994).

Komunikasi interpersonal (terapeutik) bermanfaat untuk:

1. Mendorong dan menganjurkan kerjasama antara tenaga kesehatan-pasien.


2. Mengidentifikasi, mengungkap perasaan dan mengkaji masalah serta
mengevaluasi tindakan yang dilakukan tenaga kesehatan.
3. Memberikan pengertian tingkah laku pasien dan membantu pasien
mengatasi masalah yang dihadapi.
4. Mencegah tindakan yang negatif terhadap pertahanan diri pasien.4
Adapun prinsip-prinsip komunikasi interpersonal (terapeutik) adalah sebagai
berikut:

a. Hubungan tenaga kesehatan dengan klien adalah hubungan terapetik yang


saling menguntungkan (berdasarkan pada humanity of nurse and cliens.
b. Tenaga kesehatan harus menghargai keunikan klien.
c. Semua komunikasi harus dilakukan harus dapat menjaga harga diri
pemberi maupun penerima pesan.
d. komunikasi menciptakan tumbuhnya hubungan saling percaya harus
dicapai terlebih dahulu sebelum menggali permasalahan dan memberikan
alternatifpemecahan masalah. 4

Tujuan dari komunikasi interpersonal interpersonal (terapeutik) adalah sebagai


berikut:

a. Membantu pasien untuk memperjelas dan mengurangi beban perasaan dan


pikiran serta dapat mengambil tindakan yang efektif untuk pasien,
membantu mempengaruhi orang lain, lingkungan fisik dan diri sendiri.
b. Realisasi diri, penerimaan diri dan peningkatan penghornmatan diri.
Melalui komunikasi terapeutik diharapkan terjadi perubahan pada diri
klien.
c. Kemampuan membina hubungan interpersonal yang tidak superfisial dan
saling bergantung dengan orang-orang lain. Melalaui komunikasi
terapeutik, pasien diharapkan mau menerima dan diterima oleh orang lain.
d. Peningkatan fungsi dan kemampuan untuk memuaskan kebutuhan serta
mencapai tujuan yang realistis. Terkadang klien menetapkan ideal diri atau
tujuan yang terlalu tinggi tanpa mengukur kemampuannya.
e. Rasa identitas personal yang jelas dan peningkatan integritas diri. Identitas
personal disini termasuk status, peran, jenis dan jenis kelamin. 4

Tujuan terapeutik akan tercapai bila tenaga kesehatan memiliki


karakteristik seperti Kesadaran diri, Klarifikasi nilai, Eksplorasi perasaan,
Kemampuan untuk menjadi model peran, Motivasi altruistik, Rasa tanggung
jawab dan etik.

E. KONSEP DIRI

1. Pendekatan konsep diri


Konsep diri merupakan salah satu faktor penting yang
memepengaruhi komunikasi interpersonal. Secara umum, konsep diri
diartikan sebagai suatu keyakinan, pandangan atau penilaian terhadap
dirinya. Menurut Carl Rogers (Lindzey & Hall, 1993) konsep diri
merupakan konsep tual yang terorganisasidan konsisten yang terdiri dari
persepsi persepsi tentang sifat sifat dari diri subjek atau diri objek dan
persepsi = persepsi tentang hubungan hubungan antar diri subjek, diri
objek, dengan orang lain dan dengan berbagai aspek kehidupan beserta
nilai nilai yang melekat pada persepsi tersebut.1
Menurut William D. Brooks (Rakhmat, 2003) konsep diri adalah
pandangan dan perasaan kita terhadap diri kita sendiri yang bersifat
psikologis, sosial, dan fisik. Adanya pandangan dan perasaan mengenai diri
tersebut menyiratkan adanya komponen kognitif dan komponen afektif,
keduanya identik dengan apa yang disebut dengan citra diri (self image /
komponen kognitif) dan harga diri ( self esteem / komponen afektif).
Adanya proses perkembangan konsep diri menunjukkan bahwa konsep diri
seseorang tidak langsung dan menetap, tetapi merupakan suatu keadaan
yang mempunyai proses pembentukandan masih dapat berubah dan
merupakan hasil interaksi dengan orang lain.10
2. Pengenalan diri
Salah satu cara membentuk konsep diri adalah dengan teknik
pengenalan diri. Pengenalan diri merupakan kemampuan seseorang untuk
mengenali/melihat kekuatan dan kelemahan dirinya. Teknik ini dibangun
berdasarkan konsep yang diperkenalkan oleh Joseph Luft dan Harrington
Ingham yang trekenal dengan konsep jendela Johari atau Johari window.1
Wilayah terbuka (open area): kotak ini disebut the open self (diri
yang terbuka) dimana seluruh informasi, segala aspek dalam diri, sikap,
dan pikiran pikiran diketahui ole diri sendiri maupun orang lain. Jika
wilayah ini makin lebar, dalam arti kita dapat saling memahami maka akan
terjadi komunikasi yang baik. 1
Wilayah Buta (blind area): kotak ini disebut titik buta karena apa
yang dimilikinya diketahui oleh orang lain tetapi justru diri sendiri tidak
mengetahuinya. Segala aspek dalam dirinya diketahui oleh orang lain tetapi
tidak disadari oleh diri sendiri. Jika wilayah ini makin melebar maka terjadi
kesulitan komunikasi. Karena komunikasi interpersonal mengalami
kegagalan saat seseorang tidak memahami dirinya sendiri.1
Wilayah tersembunyi (hidden area): meliputiinformasi yang hanya
dimengerti oleh dirinya sendiri tanpa diketahui oleh orang lain. Merupakan
batas area dimana dalam batas batas tertentu setiap orang melakukannya
agar dapat mempertahankan diri.1
Wilayah tak dikenal (unknown area): merupakan wilayah paling
kritis dalam komunikasi. Segala informasi dan aspek aspek dalam dirinya
tidak diketahui oleh diri sendiri mupun orang lain. Kotak ini memberi
petunjuk adanya potensi yang tersembunyi. 1
Keempat wilayah tersebut merupakan satu kesatuan dan
berfungsinya keempat area tersebut berdasarkan prinsip ini:
(1) perubahan pada suatu area mempengaruhi area lain
(2)semakin sempit area pertama, komunikasi akan semakin
memburuk
(3) meningkatkan komunikasi interpersonal berarti melakukan
perubahan diri sehingga area pertama akan lebih besar dan area
lainnya menjadi lebih sempit.

3. Karakteristik Konsep Diri


Konsep diri adalah persepsi tentang diri, baik bersifat fisik,
psikologis, maupun sosial yang datang dari pengalaman dan interaksi kita
dengan orang lain. Konsep diri memiliki dua kualitas atau valensi, yaitu
konsep diri positif dan negatif.
Menurut William D.Brooks dan Philip Emmertt (Rakhmat,2003)
orang yang memiliki konsep diri positif ditandai dengan adanya lima hal
berikut ini:
(1) keyakinan bahwa dirinya mampu mengatasi masalah
(2) merasa setara dengan orang lain
(3) menerima pujian tanpa rasa malu
(4) menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan,
keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat
(5) mampu memperbaiki dirinya karena ia sanggup
mengungkapkan aspek aspek kepribadian yang tidak
disenanginya dan berusaha mengubahnya. Sedangkan orang yang
memiliki konsep diri negatif memiliki karakteristik sebagai
berikut:
sensitif terhadap kritik
responsif terhadap pujian
mempunyai sikap hiperkritis
cenderung merasa tidak disenangi orang lain
bersikap pesimis terhadap kompetisi.
4. Faktor faktor Konsep Diri
Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Psikologi komunikasi
menyebutkan adanya dua faktor yang mempengaruhi konsep diri, yakni
orang lain dan kelompok rujukan. Menurutnya, pembentukan dan
perkembangan konsep diri dipengaruhi oleh orang orang di sekitar.
Pengaruh paling besar bersumberdari orang orang terdekat atau
bersumber dari orang lain yang memiliki ikatan emosional. Ikatan
emosional tidak hanya bersifat personal, bisa juga seseorang memiliki
ikatan emosional dengan suatu kelompok (kelompok rujukan).10

F. PERSEPSI INTERPERSONAL

1. Pendekatan Persepsi Interpersonal


Persepsi interpersonal merupakan salah satufaktor yang
mempengaruhi komunikasi interpersonal. Persepsi ini sering disebut
sebagai persepsi sosial, karena objek yang dipersepsikan adalah peristiwa
peristiwa sosial, termasuk personal di dalamnya. Untuk membedakan
persepsi sosial yang berobjek manusia dan peristiwanya dengan persepsi
objek yang mempersepsikan benda, Rakhmat (2003) menguraikan
perbedaan diantara kedua persepsi tersebut.10
2. Faktor Faktor Persepsi Interpersonal
Rakhmat (2003) mengidentifikasi adanya faktor personal dan
faktor situasional yang mempengaruhi persepsi interpersonal. Dimana
dalam setiap faktor tersebut terdapat subfaktor lainnya. Faktor personal
terdiri dari:
(1) pengalaman
(2) motivasi
(3) kepribadian, sedangkan faktor situasional meliputi :
deskripsi verbal
petunjuk proksemik
petunjuk kinesik
petunjuk wajah
petunjuk paralingustik
petunjuk artifaktural.
Pengalaman mempengaruhi kecermatan seseorang dalam
mempersepsi, sehingga perbedaan pengalaman akan menimbulkan
perbedaan persepsi. Motivasi erat hubungannya dengan kebutuhan.
Perbedaan kebutuhan akan menimulkan perbedaan persepsi terhadap
sesuatu yang sedang dihadapi. Unsur kepribadian sangat kompleks, setiiap
unsur akan memiliki pengaruh pada persepsi personal.
Faktor situasional adalah petunjuk petunjuk eksternl yang dapat
diamati, meliputti petunjuk verbal dan nonverbal. Keseluruhannya akan
mempengaruhi dugaan dugaan terhadap karakteristik seseorang.
Deskripsi verbal adalah rangkaian sifat yang diinformasikan merupakan
petunjuk verbal yang dapat mempengaruhi persepsi interpersonal. Petunjuk
proksemik adalah penggunaan jarak personal dan sosial pada saat
berkomunikasi. Petunjuk kinesik adalah gerakan tubuh yang diekspresikan
ketika menyampaikan pesan. Petunjuk wajah adalah petunjuk yang
diekspresikan melalui wajah. Petunjuk paralingustik adalah cara
komunikator menyampaikan atau mengucapkan lambang lambang
verbal. Petunjuk artifaktural merupakan keseluruhan penampilan atau cara
berpakaian.9

G. ATRAKSI INTERPERSONAL

1. Pendekatan Atraksi interpersonal


Atraksi personal adalah kesukaan pada orang lain atau sikap positif
pada orang lain yang muncul karena adanya daya tarik seseorang.1 Ada
empat teori Liking yang menjelaskan ;
a. reinforcement theory menjelaskan bahwa seseorang menyukai
orang lain adalah sebagai hasil belajar.
b. equity theory menyatakan bahwa dam suatu hubungan manusia
cenderung menjaga keseimbangan antara harga (cost) yang
dikeluarkan dengan ganjaran (reward) yang bakal diperoleh.
c. exchange theory berpendapat bahwa interaksi sosial diibaratkan
sebagai transaksi dagang. Jika orang kenal pada seseorang yang
mendatangkan keuuntungan ekonomis dan psikologis maka akan
lebih disukai.
d. Gain-loss theory berpendapat bahwa orang cenderung lebih
menyukai orang orang yang menguntungkan bagi kita dan kurang
tertarik pada orang orang yang merugikan kita.
2. Faktor faktor Atraksi Interpersonal meliputi:
(1) Kesamaan karakteristik personal
(2) Tekanan emosional
(3) Harga diri yang rendah
(4)Isolasi sosial, sedangkan faktor situasional yakni

daya tarik fisik

ganjaran (reward)

familiaritas

kedekatan

kemampuan.1
DAFTAR PUSTAKA

1. Liliweri, Alo. 2007. Dasar-Dasar Komunikasi Kesehatan. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.
2. Rejeki,Tri Andayani. 2012. Efektivitas Komunikasi Interpersonal. Semarang
Penerbit Universitas Diponegoro
3. Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi dan Mediannya.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
4. Hartley, Peter. 1999. Interpersonal Communication. Penerbit : Routledge.
5. Arwani. 2002. Komunikasi Dalam Keperawatan. Jakarta:EGC
6. Wiryanto. 2012. Pengantar Ilmu Komunikasi.
7. Devito,Joseph. 1997. Komunikasi Antar manusia. Jakarta : Professional
Book.
8. Mulyana, Deddy. 2006. Ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Jakarta: Rosda
Karya.
9. Agus M. Hardjana. 2003. Komunikasi intrapersonal & Komunikasi
Interpersonal. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.
10. Knapp, Mark Land and Judith A.Hall. 1992. Nonverbal communication In
Human Interaction. Bandung: Mizan Media Utama.
11. Jalaludin Rahmat, 2005. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja
Rosdakarya.
12. Balzer, Julia Riley. 2011. Communication in Nursing.Penerbit: C V MOSBY
Company.
Buku 1 Buku 2 Buku 3
Buku 4 Buku 5 Buku 6 Buku 7

Buku 8 Buku 9 Buku 10 Buku 11

Anda mungkin juga menyukai