Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN DENGAN ANEMIA
DI RUANG BUGENVIL 2 RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA

OLEH
SANTO TRI WAHYUDI
06/194809/EIK/00530

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2008
ANEMIA

A. Pengertian
Anemia adalah istilah yang menunjukkan rendahnya hitung sel darah merah
dan kadar hemoglobin dan hematokrit dibawah normal. Anemia bukan
merupakan penyakit, melainkan merupakan pencerminan keadaan suatu
penyakit atau akibat gangguan fungsi tubuh. Secara fisiologis anemia terjadi
apabila terdapat kekurangan jumlah hemoglobin untuk mengangkut oksigen
ke jaringan.

B. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum atau
kehilangan sel darah merah secara berlebihan atau keduanya. Kegagalan
sumsum dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, pajanan toksik, invasi tumor
atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah
dapat hilang melalui perdarahan atau hemplisis (destruksi), hal ini dapat
akibat defek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah
merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau
dalam system retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Hasil
samping proses ini adalah bilirubin yang akan memasuki aliran darah. Setiap
kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan
peningkatan bilirubin plasma (konsentrasi normal 1 mg/dl, kadar diatas 1,5
mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera).
Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, (pada
kelainan hemplitik) maka hemoglobin akan muncul dalam plasma
(hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas
haptoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk
mengikat semuanya, hemoglobin akan berdifusi dalam glomerulus ginjal dan
kedalam urin (hemoglobinuria).
Kesimpulan mengenai apakah suatu anemia pada pasien disebabkan oleh
penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak
mencukupi biasanya dapat diperoleh dengan dasar:1. hitung retikulosit dalam

2
sirkulasi darah; 2. derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum
tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dalam biopsi; dan ada
tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.
Anemia

viskositas darah menurun

resistensi aliran darah perifer

penurunan transport O2 ke jaringan

hipoksia, pucat, lemah

beban jantung meningkat

kerja jantung meningkat

payah jantung

C. Etiologi:
1. Hemolisis (eritrosit mudah pecah)
2. Perdarahan
3. Penekanan sumsum tulang (misalnya oleh kanker)
4. Defisiensi nutrient (nutrisional anemia), meliputi defisiensi besi, folic
acid, piridoksin, vitamin C dan copper

D. Klasifikasi anemia:
Klasifikasi berdasarkan pendekatan fisiologis:
1. Anemia hipoproliferatif, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah
merah disebabkan oleh defek produksi sel darah merah, meliputi:
a. Anemia aplastik
Penyebab:
- agen neoplastik/sitoplastik
- terapi radiasi

3
- antibiotic tertentu
- obat antu konvulsan, tyroid, senyawa emas, fenilbutason
- benzene
- infeksi virus (khususnya hepatitis)

Penurunan jumlah sel eritropoitin (sel induk) di sumsum tulang


Kelainan sel induk (gangguan pembelahan, replikasi, deferensiasi)
Hambatan humoral/seluler

Gangguan sel induk di sumsum tulang

Jumlah sel darah merah yang dihasilkan tak memadai

Pansitopenia

Anemia aplastik

Gejala-gejala:
- Gejala anemia secara umum (pucat, lemah, dll)
- Defisiensi trombosit: ekimosis, petekia, epitaksis, perdarahan
saluran cerna, perdarahan saluran kemih, perdarahan susunan
saraf pusat.
- Morfologis: anemia normositik normokromik
b. Anemia pada penyakit ginjal
Gejala-gejala:
- Nitrogen urea darah (BUN) lebih dari 10 mg/dl
- Hematokrit turun 20-30%
- Sel darah merah tampak normal pada apusan darah tepi
- Penyebabnya adalah menurunnya ketahanan hidup sel
darah merah maupun defisiensi eritopoitin
c. Anemia pada penyakit kronis
Berbagai penyakit inflamasi kronis yang berhubungan dengan anemia
jenis normositik normokromik (sel darah merah dengan ukuran dan
warna yang normal). Kelainan ini meliputi artristis rematoid, abses
paru, osteomilitis, tuberkolosis dan berbagai keganasan

4
d. Anemia defisiensi besi
Penyebab:
- Asupan besi tidak adekuat, kebutuhan meningkat selama
hamil, menstruasi
- Gangguan absorbsi (post gastrektomi)
- Kehilangan darah yang menetap (neoplasma, polip, gastritis,
varises oesophagus, hemoroid, dll.)
gangguan eritropoesis

Absorbsi besi dari usus kurang

sel darah merah sedikit (jumlah kurang)
sel darah merah miskin hemoglobin

Anemia defisiensi besi
Gejala-gejalanya:
- Atropi papilla lidah
- Lidah pucat, merah, meradang
- Stomatitis angularis, sakit di sudut mulut
- Morfologi: anemia mikrositik hipokromik
e. Anemia megaloblastik
Penyebab:
- Defisiensi defisiensi vitamin B12 dan defisiensi asam folat
- Malnutrisi, malabsorbsi, penurunan intrinsik faktor (aneia rnis
st gastrektomi) infeksi parasit, penyakit usus dan keganasan, agen
kemoterapeutik, infeksi cacing pita, makan ikan segar yang
terinfeksi, pecandu alkohol.
Sintesis DNA terganggu

Gangguan maturasi inti sel darah merah

Megaloblas (eritroblas yang besar)

Eritrosit immatur dan hipofungsi

5
2. Anemia hemolitika, yaitu anemia defisiensi jumlah sel darah merah
disebabkan oleh destruksi sel darah merah:
- Pengaruh obat-obatan tertentu
- Penyakit Hookin, limfosarkoma, mieloma multiple, leukemia
limfositik kronik
- Defisiensi glukosa 6 fosfat dihidrigenase
- Proses autoimun
- Reaksi transfusi
- Malaria
Mutasi sel eritrosit/perubahan pada sel eritrosit

Antigesn pada eritrosit berubah

Dianggap benda asing oleh tubuh

sel darah merah dihancurkan oleh limposit

Anemia hemolisis

E. Tanda dan Gejala


o Lemah, letih, lesu dan lelah
o Sering mengeluh pusing dan mata berkunang-kunang
o Gejala lanjut berupa kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak
tangan menjadi pucat.

F. Kemungkinan Komplikasi yang muncul


Komplikasi umum akibat anemia adalah:
o gagal jantung,
o parestisia dan
o kejang.

G. Pemeriksaan Khusus dan Penunjang

6
o Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah, penelitian sel darah
putih, kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar folat, vitamin
B12, hitung trombosit, waktu perdarahan, waktu protrombin, dan waktu
tromboplastin parsial.
o Aspirasi dan biopsy sumsum tulang. Unsaturated iron-binding
capacity serum
o Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan adanya penyakit akut
dan kronis serta sumber kehilangan darah kronis.

H. Terapi yang Dilakukan


Penatalaksanaan anemia ditujukan untuk mencari penyebab dan mengganti
darah yang hilang:
1. Anemia aplastik:
o Transplantasi sumsum tulang
o Pemberian terapi imunosupresif dengan globolin antitimosit(ATG)
2. Anemia pada penyakit ginjal
o Pada paien dialisis harus ditangani denganpemberian besi dan
asam folat
o Ketersediaan eritropoetin rekombinan
3. Anemia pada penyakit kronis
o Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan tidak
memerlukan penanganan untuk aneminya, dengan keberhasilan
penanganan kelainan yang mendasarinya, besi sumsum tulang
dipergunakan untuk membuat darah, sehingga Hb meningkat.
4. Anemia pada defisiensi besi
o Dicari penyebab defisiensi besi
o Menggunakan preparat besi oral: sulfat feros, glukonat ferosus dan
fumarat ferosus.
5. Anemia megaloblastik
o Defisiensi vitamin B12 ditangani dengan pemberian vitamin B12,
bila difisiensi disebabkan oleh defekabsorbsi atau tidak tersedianya
faktor intrinsik dapat diberikan vitamin B12 dengan injeksi IM.

7
o Untuk mencegah kekambuhan anemia terapi vitamin B12 harus
diteruskan selama hidup pasien yang menderita anemia pernisiosa
atau malabsorbsi yang tidak dapat dikoreksi.
o Anemia defisiensi asam folat penanganannya dengan diet dan
penambahan asam folat 1 mg/hari, secara IM pada pasien dengan
gangguan absorbsi.

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN MASALAH KOLABORASI YANG MUNGKIN


MUNCUL
1. Intoleransi aktifitas b.d ketidakseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d inadekuat
intake makanan.
3. Kurang pengatahuan tentang anemia berhubungan dengan kurang
informasi.
4. Resiko Infeksi. Faktor resiko pertahanan sekunder tidak adekuat
(penurunan Hb)
5. perfusi jaringan tidak efektif b.d perubahan ikatan O2 dengan Hb,
penurunan konsentrasi Hb dalam darah.
6. Deficite self care b.d kelemahan
7. Resiko jatuh
8. PK anemia

8
PERENCANAAN KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) Rasional
1 Intoleransi aktifitas Klien dapat mentoleransi aktivitas & Toleransi aktivitas
b.d melakukan ADL dgn baik 1. Menentukan penyebab Menentukan penyebab dapat

ketidakseimbangan Berpartisipasi dalam intoleransi membnatu menentukan

suplai dan kebutuhan aktivitas fisik dgn TD, HR, RR aktivitas&menentukan apakah intoleransi
yang sesuai penyebab dari fisik,
oksigen
Menyatakan gejala psikis/motivasi
memburuknya efek dari OR & 2. Kaji kesesuaian aktivitas & Terlalu lama bedrest dapat
menyatakan onsetnya segera istirahat klien sehari-hari memberi kontribusi pada
Warna kulit intoleransi aktivitas
normal,hangat&kering 3. Tingkatkan aktivitas secara Peningkatan aktivitas membantu
Memverbalisasikan bertahap, biarkan klien mempertahankan kekuatan otot,
pentingnya aktivitassecara berpartisipasi dapat perubahan tonus
bertahap posisi, berpindah & perawatan
Mengekspresikan pengertian diri
pentingnya keseimbangan 4. Pastikan klien mengubah Bedrest dalam posisi supinasi
latihan&istirahat posisi secara bertahap. menyebabkan volume

toleransi aktivitas meningkat plasmahipotensi postural &


syncope

5. Monitor gejala intoleransi TV & HR respon terhadap


ortostatis sangat beragam
aktivitas ketika membantu klien
berdiri, observasi gejala
intoleransi spt mual, pucat,
pusing, gangguan
kesadaran&tanda vital
6. Lakukan latihan ROM jika Ketidakaktifan berkontribusi
klien tidak dapat menoleransi terhadap kekuatan otot&struktur
aktivitas sendi
2 Ketidakseimbangan Status nutrisi Therapi gizi
nutrisi kurang dari Pemasukan yang adekuat 1. Monitor masukan cairan Mengantisipasi kekurangan gizi

kebutuhan tubuh b.d Tidak ada tanda-tanda dan makanan dan hitung kalori

inadekuat intake malnutrisi makanan dengan tepat


Membran konjungtiva dan 2. berikan PenKes tentang Meningkatkan pengetahuan ps
makanan.
mukosa tidak pucat pentingnya gizi dan keluarga
Nilai Lab.: 3. Kolaborasi dengan ahli Menentukan jumlah kalori dan
Protein total: 6-8 gr% gizi jenis makanan yang diperlukan

Albumin: 3.5-5,3 gr % ps untuk memenuhi

Globulin 1,8-3,6 gr % persyaratan gizi

HB tidak kurang dari 10 gr % Mencegah konstipasi atau

4. Pastikan diet gizi serat dan sembelit, Mencegah penurunan

buah-buahan yang cukup nafsu makan


Penanda pemenuhan keb.gizi

5. *pantau lab jika perlu


Mencegah terjadinya gizi buruk

6. *evaluasi tanda-tanda
kekurangan gizi
3 Kurang pengatahuan Pengetahuan tentang penyakit, Pengetahuan penyakit
tentang anemia Ps mampu Menjelaskan 1. Jelaskan tentang proses Meningkatan pengetahuan dan

berhubungan dengan kembali tentang proses penyakit, penyakit mengurangi cemas


mengenal kebutuhan perawatan
kurang informasi.
dan pengobatan tanpa cemas 2. Jelaskan tentang program Mempermudah intervensi
pengobatan dan alternatif
pengobantan
3. Jelaskan tindakan untuk Mencegah keparahan penyakit
mencegah komplikasi
4. Tanyakan kembali Mereviw
pengetahuan ps tentang
penyakit, prosedur prwtn dan
pengobatan
4 Kontrol infeksi dan kontrol resiko manajemen infeksi
Bebas dari tanda-tanda 1. Amati tanda2 infeksi dan Ps mungkin masuk dg infeksi yg
infeksi peradangan, spt demam, bisanya telah mencetuskan
Angka leukosit normal kemerahan, adanya pus pada keadaan ketoasidosis atau dapat
Ps mengatakan tahu tentang luka, sputum purulen, urine mengalami infeksi nasokomial
tanda-tanda infeksi wrna keruh atau berkabut.
Tidak ada ulkus/luka 2. Tingkatkan uapaya mencegah INOS
pencegahan (cuci tangan
semua orang yg b.d Ps
termasuk pasiennya sendiri
setiap kali akan melakukan
aktifitas untuk membantu ps
3. Pencegahan tehnik aseptic kadar glukosa yang tinggi dalam
untuk semua prosedur invasive darah akan menjadi media
terbaik bagi pertumbuhan kuman
4. Auskultasi bunyi nafas Ronki mengidentifikasi adanya
akumulasisi secret yang mungkin
b.d pnemonia/bronchitis (mungkin
sebagai pencetus KDA).

5. Lakukan perubahan posisi Membantu dalam

dan anjurkan ps untuk batuk memventilasikan semua derah


efektif/nafas dalam jika ps paru dan memobilisasikan secret,
sadar dan kooperatif mencegah secret tidak statis dg
terjadinya peningkatan terhadap
resiko infeksi

6. Kaloborasi untuk mengidentifikasi


medis organisme

pemeriksaan kultur sensitifitas sehingga dapat memilih terapi


sesuai indikasi antibiotik yang terbaik
Penanganan awal dapat
7. Kelola antibiotik sesuai
mencegah timbulnya sepsis
order

Mencegah infeksi sekunder


Kontrol infeksi Mencegah INOS
1. Batasi pengunjung
2. Cuci tangan sebelum dan Meningkatkan daya tahan tubuh
sesudah merawat ps
3. Tingkatkan masukan gizi Membantu relaksasi dan

yang cukup membantu proteksi infeksi

4. Anjurkan istirahat cukup Mencegah tjdnya infeksi

Meningkatkan pengetahuan ps
5. Pastikan penanganan
aseptic daerah IV
6. Berikan PEN-KES tentang
risiko infeksi
5 Kurang pengatahuan Perawatan diri: (mandi, berpakaian), Membantu perawatan diri pasien
tentang anemia Tubuh bebas dari bau dan 1. Tempatkan alat-alat mandi Mempermudah jangkauan

berhubungan dengan menjaga keutuhan kulit disamping TT ps

kurang informasi. Menjelaskan cara mandi dan 2. Libatkan keluarga dan Melatih kemandirian
berpakaian secara aman pasien Meningkatkan kepercayaan

3. Berikan bantuan selama


pasien masih mampu
mengerjakan sendiri

Memudahkan intervensi
ADL berpakaian
1. Informasikan pd ps dlm Melatih kemandirian
memilih pakaian selama
perawatan Menghindari nyeri bertambah
2. Sediakan pakaian di Memberikan kenyamanan
tempat yg mudah dijangkau Memberikan kepercayaan diri ps

3. Bantu berpakaian yg
sesuai
4. Jaga privacy ps
5. Berikan pakaian pribadi yg
digemari dan sesuai
6 PK : Anemi Setelah dilakukan tindakan 1. Monitor tanda-tanda vital Nila tanda-tanda vital yang
perawatan perawat dapat mengatasi
(RR, P, BP, T) bergeser dari normal
atau mengurangi komplikasi anemia
Kriteria hasil : mengindikasikan
1. Hb > 10 g% ketidaknormalan fungsi
2. Konjungtiva tidak anemis
3. TTV dalam batas normal homeostasis tubuh
4. Nutrisi adekuat
Dengan mengetahui jumlah.
5. Tidak letargi
2. Monitor perdarahan Jenis dan warna perdarahan
(jumlah, jenis, warna) dapat menentukan tindakan
penanganan secara tepat

Keseimbangan cairan dalam


3. Monitor keseimbangan tubuh harus dipertahankan untuk
cairan, pantau intake dan mencegah kondisi klien jatuh ke
output, pasang kateter jika perlu kondisi shock

Nilai Hb dipantau untuk


4. Lakukan kolaborasi mengetahui adanya perdarahan
pemeriksaan kadar Hb atau kekurangan darah

Tranfusi darah merupakan


5. Kolaborasi pemberian
penanganan efektif dalam
tranfusi darah
meningkatkan Hb

6. Kaji keluhan post transfusi Perawat harus meminimalisasi


efek-efek samping pemberian
tranfusi agar tidak terjadi masalah
sekunder bagi klien

7. Monitor kemungkinan Tanda-tanda shock harus


terjadinya shock karena diketahui sebagai tindakan
perdarahan waspada dan preventif

Medikasi diperlukan untuk


8. Berikan medikasi sesuai mengatasi masalah Anemi klien
program
Diit tinggi protein mendukung
9. Anjurkan klien untuk diit
sistem eritropoetin darah
adekuat : tinggi protein
DAFTAR PUSTAKA

Barbara, CL., 1996, Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan proses


keperawatan), Bandung.
Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, alih bahasa:
Waluyo Agung., Yasmin Asih., Juli., Kuncara., I.made karyasa, EGC,
Jakarta.
Carpenito, L.J., 2000, Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis, alih
bahasa: Tim PSIK UNPAD Edisi-6, EGC, Jakarta
Doenges,M.E., Moorhouse, M.F., Geissler, A.C., 1993, Rencana Asuhan
Keperawatan untuk perencanaan dan pendukomentasian perawatan
Pasien, Edisi-3, Alih bahasa; Kariasa,I.M., Sumarwati,N.M., EGC, Jakarta
McCloskey&Bulechek, 1996, Nursing Interventions Classifications, Second edisi,
By Mosby-Year book.Inc,Newyork
NANDA, 2001-2002, Nursing Diagnosis: Definitions and classification,
Philadelphia, USA
University IOWA., NIC and NOC Project., 1991, Nursing outcome Classifications,
Philadelphia, USA