Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH SINTESIS ANORGANIK

SINTESIS SENYAWA 4-(3-HIDROKSIFENIL)-3-BUTEN-2-


ON DAN UJI POTENSINYA SEBAGAI TABIR SURYA

Disusun oleh :
Kelompok 1
Ayunovia Krisiani/1413015022
M. Satrio Pradana
Qori Ariza
Rezky Zakaria
Mifta

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS MULAWARMAN
SAMARINDA
2017
Kata Pengantar

Puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa karna dengan
rahmat dan karunia-Nya, penyusunan makalah ini dapat kami selesaikan.
Makalah ini berjudul Sintesis senyawa 4-(3-HIDROKSIFENIL)-3-BUTEN-2-
ON dan Uji potensinya sebagai Tabir Surya Penyusunan dari makalah ini
merupakan salah satu dari tugas kami sebagai mahasiswa untuk menyelesaikan
tugas makalah sintesis anorganik.
Kami mengucapkan permohonan maaf apabila terdapat kesalahan dalam
penulisan kata dan adanya pernyataan-pernyataan yang kami tulis didalam
makalah ini tidak berkenan dihati saudara.
Kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca kepada kami mengenai
makalah yang kami buat sehingga untuk kedepannya kami dapat memperbaiki
kesalahan kami dan kedepannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Samarinda, Mei 2017


Penyusun
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sinar matahari selain merupakan sumber energi bagi kelangsungan hidup


semua makhluk hidup, ternyata juga memberikan efek yang merugikan, antara
lain menyebabkan terbakarnya sel-sel kulit manusia, pigmentasi, dan penuaan
dini pada paparan yang berlebihan. Sinar UV diketahui memiliki potensi bahaya
terhadap kulit manusia dan berdasarkan pengaruhnya terhadap kesehatan
manusia, maka sinar UV dibedakan menjadi 3 golongan yakni UV-A (315 - 400
nm), UV-B (290 315 nm) dan UV-C (100 - 290 nm) . Efek buruk sinar
matahari dapat dicegah dengan cara menghindari paparan sinar UV atau
memakai tabir surya bila berada di bawah sinar matahari. Senyawa tabir surya
dibutuhkan untuk melindungi kesehatan kulit manusia dari pengaruh sinar UV.
Senyawa tabir surya adalah senyawa yang dapat melindungi kulit dari pengaruh
sinar ultra violet yang dipancarkan dari matahari. Mekanisme perlindungan sinar
UV dari suatu senyawa tabir surya adalah penyerapan sinar UV oleh senyawa
tersebut senyawa tabir surya yang banyak digunakan adalah senyawa turunan
alkil sinamat. Efek perlindungan sinar UV dari senyawa tersebut diakibatkan
bagian cincin benzena yang mengalami transisi elektronik. Satuan tabir surya
adalah SPF (Sun Protection Factor), lazim digunakan untuk menunjukkan
berapa lama kita bisa terpapar sinar matahari tanpa kulit jadi terbakar.
Senyawa yang biasa digunakan sebagai senyawa tabir surya adalah turunan
asam sinamat atau alkil sinamat. Sebagai contoh adalah senyawa p- metoksi oktil
sinamat. Berdasarkan struktur kimianya, ada dua bagian pada senyawa p-metoksi
oktil sinamat yang dimungkinkan berperan penting yaitu bagian rantai alkil dan
bagian rantai benzil. Berdasarkan struktur kimia senyawa tersebut, maka terdapat
bagian benzena aromatis dan sisi alkil yang bersifat relatif non polar. Efek
perlindungan sinar UV dari senyawa diakibatkan bagian cincin benzena,
sedangkan bagian sisi alkil digunakan untuk kontribusi sifat non polar senyawa
yang berakibat senyawa tak larut dalam air. Senyawa 4-(3- hidroksifenil)-3-
buten-2-on yang mempunyai nama lain 3-hidroksibenzalaseton merupakan
senyawa turunan benzalaseton yang mempunyai struktur yang mirip dengan
asam sinamat. Senyawa turunan asam sinamat merupakan senyawa yang banyak
digunakan sebagai senyawa tabir surya. Oleh karena senyawa ini memiliki
sruktur yang mirip dengan asam sinamat, maka diharapkan senyawa 4-(3-
hidroksifenil)-3-buten-2-on ini memiliki aktivitas sebagai tabir surya.
Atas dasar uraian di atas, akan di sintesis senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-
buten-2-on dengan mereaksikan 3-hidroksi benzaldehida dan aseton dengan
menggunakan reaksi kondensasi aldol silang. Faktor-faktor yang perlu
diperhatikan dalam mensintesis senyawa ini adalah katalisator yang digunakan
dan waktu yang diperlukan dalam proses refluks. Aktivitas sebagai senyawa tabir
surya ini dapat dilihat dari nilai serapan UV dengan spektrofotometer UV-Vis
yang kemudian ditentukan Sun Protection Factor (SPF)-nya. Perhitungan SPF
A
menurut Walter adalah SPF=10 , dengan A adalah absorbansi tiap larutan
yang diukur menggunakan alat spektroskopi
Senyawa hasil sintesis ini kemudian direkristalisasi untuk menghilangkan
pengotor yang dihasilkan selama reaksi berlangsung supaya mempunyai
tingkat kemurnian yang tinggi. Kemudian dikarakterisasi dan diidentifikasi

1
dengan menggunakan metode spektroskopi UV, IR dan H-NMR untuk
mengetahui struktur senyawa yang dihasilkan. Selanjutnya senyawa ini diuji
aktivitasnya sebagai senyawa tabir surya.

B. Tujuan

Tujuan penelitian ini antara lain :


1. Mensintesis senyawa 4-(3- hidroksifenil)-3-buten-2-on dengan
menggunakan reaksi kondensasi aldol silang antara 3-hidroksi
benzaldehida dan aseton.
1
2. Menentukan karakteristik serapan sinar UV, spektrum IR dan H-NMR dari
senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on hasil sintesis.
3. Menentukan rendemen senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on hasil
sintesis.
4. Menentukan potensi senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on sebagai
senyawa tabir surya secara invitro menggunakan spektrofotometer UV.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalah


dalam penelitian ini adalah :
1. Apakah senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on dapat disintesis dengan
menggunakan reaksi kondensasi aldol silang antara 3-hidroksi
benzaldehida dan aseton?
2. Bagaimana karakteristik serapan sinar UV, spektrum IR dan 1H-NMR
darisenyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-onhasil sintesis?
BAB II

PEMBAHASAN

1. Aseton

Aseton merupakan keton yang paling sederhana, digunakan

sebagai pelarut polar dalam kebanyakan reaksi organik. Aseton dikenal juga

sebagai dimetil keton, 2-propanon, atau propan-2-on. Aseton adalah senyawa

berbentuk cairan yang tidak berwarna dan mudah terbakar, digunakan untuk

membuat plastik, serat, obat-obatan, dan senyawa-senyawa kimia lainnya. Selain


dimanufaktur secara industri, aseton juga dapat ditemukan secara alami, termasuk

pada tubuh manusia dalam kandungan kecil.

Aseton memiliki gugus karbonil yang mempunyai ikatan rangkap dua

karbon-oksigen terdiri atas satu ikatan dan satu ikatan . Umumnya atom

hidrogen yang terikat pada atom karbon sangat stabil dan sangat sukar diputuskan.

Namun lain halnya dengan atom hidrogen yang berada pada karbon (C) di

samping gugus karbonil yang disebut atom hidrogen alfa. Sebagai akibat

penarikan elektron oleh gugus karbonil, kerapatan elektron pada atom karbon alfa

semakin berkurang, maka ikatan karbon dan hidrogen alfa semakin melemah,

sehingga hidrogen alfa menjadi bersifat asam dan dapat mengakibatkan terjadinya

substitusi alfa (). Substitusi melibatkan penggantian atom H pada atom karbon

dengan elektrofil (Wade, L.G. 2006:1041-1063). Atom hidrogen alfa pada

aseton dapat dilihat pada Gambar 1.


H O H

H C C C H

H H

Gambar 1. Atom hidrogen alfa pada aseton.

Aseton mempunyai atom hidrogen alfa bersifat asam, oleh karena itu dapat

terionisasi menghasilkan ion enolat. Ion enolat dapat berada dalam dua bentuk

yaitu bentuk keto dan bentuk enol yang disebut bentuk tautomerisasi. Tautomer

adalah isomer-isomer pada senyawa karbonil yang hanya dibedakan oleh

kedudukan ikatan rangkap dan yang disebabkan perpindahan letak atom hidrogen

alfa ke atom oksigen. Bentuk keto dan bentuk enol pada aseton dapat dilihat pada

Gambar 2.

O H O H

H3C C CH2 H3C C CH2


Bentuk keto Bentuk enol

Gambar 2. Bentuk keto dan bentuk enol pada aseton.

Hidrogen alfa pada senyawa aseton dapat disubtitusi oleh karbokation

sehingga terjadi reaksi alkilasi. Reaksi alkilasi pada aseton terdapat pada Gambar

3.
O O
AlCl3
H3C C CH2 + RX H3C C CH2 + HX

H R
Gambar 3. Alkilasi pada aseton.

2. Senyawa 3-Hidroksibenzaldehida

Senyawa 3-Hidroksibenzaldehida dengan struktur seperti ditunjukkan

pada Gambar 4 merupakan senyawa turunan benzaldehida yang tersubstitusi

gugus hidroksi pada posisi meta pada cincin aromatik.

O
HO
H

Gambar 4. 3-hidroksibenzaldehida

Senyawa ini berbentuk kristal berwarna putih, memiliki titik leleh 100-103C dan

titik didih 191C dan larut dalam etanol pada suhu kamar.

Salah satu reaksi yang dapat dialami gugus karbonil pada benzaldehida

adalah reaksi kondensasi aldol silang dengan aseton menjadi benzalaseton seperti

terlihat pada Gambar 5.


O H
C

O -
OH
CH3 + + H2O
H3C C O
C

CH3

Gambar 5. Reaksi kondensasi aldol silang antara benzaldehida


dengan aseton

3. Senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on

Senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on (Gambar 6) merupakan

senyawa turunan benzalaseton yang tersubstitusi gugus hidroksi pada cincin

aromatik. Senyawa turunan benzalaseton ini memiliki rumus molekul yang analog

dengan senyawa turunan asam sinamat (Gambar 7).

OH
3'
4' 2'
3
2 O
5' C
1' 4
6'
CH3
1

Gambar 6. Struktur 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on

OH

O
C

OR

Gambar 7. Turunan Asam Sinamat


Struktur 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on memiliki kemiripan dengan

turunan asam sinamat karena sama-sama memiliki senyawa karbonil tak jenuh ,

yang terkonjugasi dengan cincin benzena. Maka diharapkan senyawa tersebut juga

memiliki aktivitas sebagai tabir surya.

4. Senyawa Tabir Surya

Tabir surya adalah suatu senyawa yang digunakan untuk menyerap secara

efektif sinar matahari terutama daerah emisi gelombang UV sehingga dapat

mencegah gangguan pada kulit akibat pancaran secara langsung sinar UV tersebut

(Titik Taufikurohmah, 2008). Besarnya kemampuan suatu senyawa untuk

melindungi kulit dari sinar matahari dapat dilihat dari nilai SPF (Sun Protection

Factor) yaitu nilai pelindung terhadap UV yang dapat melindungi kulit terbakar

dari sinar matahari. SPF mengindikasikan berapa lama kita dapat berada di bawah

paparan sinar matahari langsung tanpa menyebabkan kulit terbakar. Perhitungan


A
SPF menurut Walter adalah SPF=10 , dengan A adalah absorbansi tiap larutan

yang diukur menggunakan alat spektroskopi UV (Ike Yuliastuti dan Jumina,

2002).

Senyawa tabir surya yang baik digunakan untuk melindungi kulit dari sinar

ultraviolet adalah senyawa yang memiliki kemampuan proteksi maksimal (ultra)

tetapi memiliki konsentrasi kecil sehingga tidak menimbulkan iritasi pada kulit.

Jenis proteksi ultra adalah senyawa yang memiliki nilai SPF di atas 15.

Sinar ultraviolet dibagi menjadi tiga macam sesuai efek

yang ditimbulkannya terhadap sel kulit yaitu UV-A, UV-B, dan

UV-C. Sinar UV-C (


= 100- 290 nm) mempunyai energi tertinggi dan berbahaya, namun tidak sampai

ke permukaan bumi karena terserap oleh lapisan termosfer. Sinar UV-B ( = 290-

320 nm) dengan energi yang relatif tinggi termasuk berbahaya sebab akan sampai

ke permukaan bumi walau hanya sebagian kecil saja. Meskipun UV-B hanya akan

terserap kulit sampai lapisan epidermis saja namun akan menyebabkan kulit

terbakar, efek penuaan dini dan kanker kulit. Sinar UV-A ( = 320-400 nm)

memiliki energi paling rendah, relatif tidak berbahaya namun mampu menembus

lapisan dermis kulit dan dalam waktu yang lama mengakibatkan efek merusak

pula seperti UV-B (Agus Dwiono, Jumina dan Iqmal Tahir, 2003 : 34).

Senyawa tabir surya yang banyak digunakan dalam industri kosmetika

adalah senyawa turunan alkil sinamat. Senyawa turunan alkil sinamat yang

populer adalah p-metoksi oktil sinamat. Berdasarkan struktur kimianya, ada dua

bagian pada senyawa tersebut yang dimungkinkan berperan penting yaitu bagian

rantai alkil dan bagian rantai benzil seperti pada Gambar 8.

OCH3

R
O

Gambar 8. Struktur alkil parametoksisinamat

Berdasarkan struktur kimia senyawa tersebut maka terdapat bagian

benzena aromatik dan sisi alkil yang bersifat non polar. Efek perlindungan sinar

UV dari senyawa tersebut diakibatkan bagian cincin benzena, sedangkan bagian


sisi alkil digunakan untuk kontribusi sifat non polar senyawa yang berakibat

senyawa tak larut dalam air (Ike Yuliastuti dan Jumina, 2002).

Kemampuan suatu senyawa tabir surya dalam melindungi kulit dari

paparan sinar UV identik dengan panjang gelombang serapan maksimum yaitu

panjang gelombang dengan intensitas absorpsi tertinggi atau maksimum. Hal

tersebut tergantung pada struktur elektronik dari setiap senyawa (Sastrohamidjojo,

1991).

5. Kondensasi Aldol silang

Reaksi kondensasi adalah suatu reaksi dimana dua molekul kecil

bergabung membentuk satu molekul besar dengan atau tanpa hilangnya suatu

molekul kecil (misalnya air). Kondensasi aldol adalah reaksi antar aldehida atau

antar keton yang sama menggunakan basa sebagai katalis. Syarat terjadinya reaksi

adalah tersedianya H pada karbonil yang terlibat dalam reaksi tersebut. Reaksi

kondensasi aldol dalam beberapa kasus biasanya diikuti reaksi dehidrasi. Jika

aldehida tidak memiliki H, maka dimerisasi dengan kondensasi aldol tidak dapat

terjadi, kondensasi dapat terjadi jika pada aldehida tersebut ditambahkan aldehida

atau keton yang mempunyai H. Kondensasi aldol melibatkan adisi nukleofilik

sebuah enolat keton ke sebuah aldehida, membentuk -hidroksi keton atau -

hidroksi aldehida dan diikuti dengan dehidrasi, menghasilkan sebuah enon

terkonjugasi (Wade, L.G. 2006:1041-1063).

Bila suatu aldehida yang memiliki atom H diolah dengan basa seperti

NaOH dalam air, maka akan terbentuk ion enolat, yang kemudian dapat bereaksi
pada gugus karbonil dari molekul aldehida yang lain. Hasilnya ialah adisi satu

molekul aldehida ke molekul aldehida yang lain seperti pada Gambar 9.

O OH- OH O

2 CH3CH 2 CH3CH CH2CH

Asetaldehida 3-hidroksibutanal
(suatu (suatu aldol)
aldehida)

Gambar 9. Adisi satu molekul aldehida ke molekul aldehida yang lain.

Kondensasi aldol dengan menggunakan katalis basa akan membentuk ion enolat

(Gambar 10), yang kemudian akan terjadi serangan nukleofil oleh enolat pada

gugus karbonil lain yang terstabilisasi oleh resonansi (Gambar 11). Produk reaksi

ini adalah garam alkoksida, aldol akan terbentuk dan mengalami dehidrasi

menghasilkan senyawa karbonil tak jenuh (Gambar 12).

Reaksi dengan katalis basa :

H O O
O + H2 O
+ OH C C CH2
C CH2
CH2 H H
H

ion enolat

Gambar 10. Pembentukan ion enolat.

O H
O O
H C CH3 H OH H C CH3 + OH
C CH2 + H C CH3
H HC C HC C H
H H
H O
O
produk aldol

Gambar 11. Serangan enolat pada gugus karbonil.


O H

H C
H3O
+ H C CH3
CH3
HC C H2O
HC C
H
HH
O O

produk aldol senyawa karbonil tak jenuh

Gambar 12. Dehidrasi aldol.

Senyawa aldol (-hidroksialdehida dan -hidroksiketon) hasil dari reaksi

adisi lebih mudah terdehidrasi karena ikatan rangkap dalam produk dehidrasi

berkonjugasi dengan gugus karbonil. Konjugasi meningkatkan kestabilan produk

dan oleh sebab itu senyawa karbonil tak jenuh ,-aldehida atau keton mudah

diperoleh sebagai produk kondensasi aldol (Bruice, P.Y., 2007 : 873).

Bila dehidrasi menghasilkan suatu ikatan rangkap yang berkonjugasi

dengan cincin aromatik maka dehidrasi berlangsung spontan. Misalnya -

hidroksiketon yang dibentuk melalui adisi aldol dari asetofenon, karena ikatan

rangkap yang baru tidak hanya berkonjugasi dengan gugus karbonil tetapi juga

berkonjugasi dengan cincin aromatik, maka dehidrasi berlangsung spontan seperti

pada Gambar 13. Konjugasi dapat menstabilkan produk dehidrasi, maka relatif

lebih mudah diperoleh (Bruice, P.Y., 2007 : 873).


Reaksi :

O O

C
OH
C
C CH2 spontan C CH + H2 O

CH3 CH3

Gambar 13. Dehidrasi yang menghasilkan suatu ikatan rangkap terkonjugasi


dengan cincin aromatik.

Suatu aldehida tanpa hidrogen tidak dapat membentuk ion enolat dan

dengan demikian tidak dapat berdimerisasi dalam suatu kondensasi aldol. Namun

jika aldehida semacam ini dicampur dengan senyawa lain yang memiliki hidrogen

maka kondensasi antara keduanya dapat terjadi. Reaksi inilah yang disebut aldol

silang (cross aldol condensation). Suatu kondensasi aldol silang sangat berguna

bila hanya satu senyawa karbonil yang memiliki hidrogen , kalau tidak akan

diperoleh produk campuran (R.J Fessenden & J.S. Fessenden, 1999 : 181).

Mekanisme reaksi pembentukan senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-

on dari reaksi antara aseton dengan 3-hidroksibenzaldehida ditunjukkan seperti

pada Gambar 14 berikut:


CH3 CH3 CH3

C C C
O
- -
+ + -OH
CH2 + Na O CH3 O CH2

ONa

Na H2
C O
H
C C + H+
O
+

+C

H O- CH3
3
H
C
2
H
C

suatu ion alkoksida


H2O
OC
OH

OH ONa

H
-H2O
NaCl + H2O+ H CH O
HCl C C
O
C

OH CH3
CH3

4-(3'-hidroksifenil)-3-buten-2-on

Gambar 14. Mekanisme reaksi pembentukan 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on


dengan katalis basa.
6. Teknik Rekristalisasi

Senyawa-senyawa organik yang berbentuk padat dari hasil isolasi maupun

dari hasil sintesis reaksi-reaksi organik umumnya jarang diperoleh dalam keadaan

murni. Senyawa tersebut biasanya terkontaminasi dengan sejumlah kecil dari

senyawa-senyawa lain yang dihasilkan selama reaksi berlangsung. Pemurnian

senyawa-senyawa yang berbentuk kristal yang tidak murni, lazimnya dilakukan

dengan jalan rekristalisasi dengan berbagai pelarut atau campuran pelarut.

Pemurnian zat-zat padat dengan jalan rekristalisasi didasarkan pada

kelarutannya di dalam pelarut tertentu atau campuran pelarut. Pada prinsipnya

pekerjaan rekristalisasi terdiri atas :

a. Melarutkan senyawa yang tidak murni (hasil sintesis atau isolasi) dalam

pelarut yang baik (sesuai) atau titik didihnya berdekatan.

b. Menyaring larutan yang masih dalam keadaan panas dari partikel-partikel

yang tidak larut.

c. Mendinginkan larutan panas sehingga zat terlarut menjadi kristal.

d. Memisahkan kristal dari larutan yang menyertainya.

Karakteristik dari pelarut yang umumnya digunakan untuk rekristalisasi

adalah :

a. Mempunyai daya melarutkan yang tinggi untuk senyawa yang akan

dimurnikan pada suhu yang relatif tinggi dan mempunyai daya melarutkan

yang rendah pada suhu kamar atau pada suhu yang lebih rendah.

b. Mampu melarutkan sedikit kotoran-kotoran (impurities).

c. Mudah menghasilkan bentuk-bentuk kristal dari senyawa yang dimurnikan


d. Mudah dipisahkan dari kristal-kristal senyawa yang dimurnikan, atau

memiliki titik didih yang relatif rendah

e. Pelarut tidak bereaksi secara kimia dengan senyawa yang dimurnikan.

7. Kromatografi Lapis Tipis

Teknik kromatografi lapis tipis dikembangkan oleh Ismailoff dan

Schraibar pada tahun 1938. Adsorben dilapiskan pada lempeng kaca yang

bertindak sebagai penunjang fasa diam. Fasa bergerak akan menyerap sepanjang

fasa diam dan terbentuklah kromatogram. Ini dikenal juga sebagai kromatografi

kolom terbuka. Biasanya yang sering digunakan sebagai materi pelapisnya adalah

silika gel, bubuk selulosa, tanah diatome, dan kieselguhr (Hardjono

Sastrohamidjojo, 1991: 26-28). Pemilihan sistem pelarut dan komposisi lapisan

tipis ditentukan oleh prinsip kromatografi yang akan digunakan. Sampel

diteteskan pada salah satu bagian tepi plat kromatografi (0,01 10 g zat).

Kromatografi lapis tipis digunakan untuk memisahkan komponen-

komponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam dipisah

gerakan pelarut pengembang. Teknik Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

dikembangkan oleh Egon Stahl dengan menghamparkan penyerap pada lempeng

gelas, sehingga merupakan lapisan tipis. KLT merupakan kromatografi serapan,

tetapi dapat juga merupakan kromatografi partisi karena bahan penyerap telah

dilapisi air dari udara. Sistem ini sangat popular karena banyak memberikan

keuntungan, yaitu peralatan yang diperlukan sederhana, murah, waktu analisis


yang singkat serta daya pisah cukup baik. Selain itu sampel yang dibutuhkan

sangat sedikit (Sudjadi, 1986 : 167).

Larutan cuplikan ditotolkan dengan pipet mikro atau injektor pada jarak 1-

2 cm dari batas plat. Setelah pelarut dari noda menguap, plat siap untuk

dikembangkan dengan fasa gerak yang sesuai hingga jarak eluen/fasa gerak dari

batas plat mencapai 7-10 cm. Proses pengembangan dikerjakan dalam wadah

tertutup (chamber) yang diisi eluen yang sesuai dengan sampel. Chamber tersebut

dijenuhi dengan uap eluen agar dihasilkan pemisahan yang baik dan dapat ulang

(reproducible). Teknik pengembangan dapat dari bawah ke atas (ascending), dari

atas ke bawah (descending) atau mendatar. Jangan sampai terlalu lama

mencelupkan plat dalam bejana bila permukaan pelarut telah mencapai garis

akhir, karena oleh pengaruh difusi dan penguapan dapat menyebabkan

pemancaran dari noda-noda yang terpisah. Langkah berikutnya adalah

mengeringkan sisa eluen dalam lapisan tipis dengan didiamkan pada suhu kamar

beberapa saat. Noda pada lapisan tipis dapat diamati langsung untuk noda tampak.

Jika noda tidak tampak dapat dilihat dengan lampu UV pada panjang gelombang

pendek (254 nm) atau pada panjang gelombang (366 nm). Dapat juga dilihat

dengan menggunakan pereaksi semprot penimbul warna.

Pemilihan eluen yang tepat merupakan langkah yang sangat penting untuk

keberhasilan analisis dengan KLT. Pertimbangannya dapat menggunakan prinsip

like disolve like .

Pemilihan eluen (fasa gerak) sebaiknya menggunakan campuran pelarut

organik yang mempunyai polaritas serendah mungkin, hal ini untuk mengurangi
serapan dari setiap komponen dari campuran pelarut. Jika komponen-komponen

yang mempunyai sifat polar yang tinggi (terutama air) dalam campuran akan

merubah sistem menjadi sistem partisi. Campuran yang baik memberikan fasa-

fasa bergerak yang mempunyai kekuatan bergerak sedang, tetapi sebaiknya

dicegah sejauh mungkin mencampur lebih dari dua komponen terutama karena

campuran yang lebih kompleks cepat mengalami perubahan-perubahan fasa-fasa

terhadap perubahan-perubahan suhu (Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 28-36).

Setelah noda dikembangkan dan divisualisasikan, identitas noda

dinyatakan dengan harga Rf (Retordation Factor) yang didefinisikan sebagai rasio

jarak noda terhadap titik awal dibagi jarak eluen terhadap titik awal. Secara

matematis dapat ditulis:


l
Rf
h

dengan l = jarak noda dari titik awal ke titik akhir setelah proses pengembangan

dan h = jarak eluen dari titik awal ke batas akhir eluen. Harga Rf berkisar antara

0-0,999. Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam kromatografi

lapis tipis sehingga mempengaruhi harga Rf antara lain struktur kimia senyawa

yang dipisahkan, sifat penyerap, tebal dan kerapatan lapisan penyerap, pelarut

(fasa gerak), derajat kejenuhan, teknik pemisahan, jumlah cuplikan, dan suhu

(Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 35-36).

Alat yang digunakan untuk mengetahui harga Rf secara langsung adalah

KLT Scanner. Alat ini akan memberikan data Rf dan luas area yang memberi data

tentang persentase kemurnian senyawa yang dipisahkan.


Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan noda dalam KLT yang juga

mempengaruhi harga Rf (Hardjono Sastromidjoyo, 1991 : 35-36) adalah :

a. Struktur senyawa yang sedang dipisahkan.

b. Sifat adsorben dan derajat aktivitasnya. Perbedaan adsorben memberikan

perbedaan yang besar terhadap harga Rf.

c. Tebal dan kerataan lapisan adsorben.

d. Pelarut fasa gerak (dan tingkat kemurnianya).

e. Derajat kejenuhan dan uap dalam bejana pengembangan yang digunakan.

f. Teknik percobaan.

g. Jumlah cuplikan yang digunakan. Penetesan jumlah cuplikan yang

berlebihan memberikan tendensi penyebaran noda-noda dengan

kemungkinan terbentuknya ekor.

h. Suhu, untuk mencegah perubahan-perubahan dalam komposisi pelarut

yang disebabkan oleh penguapan-penguapan atau perubahan-perubahan

fasa.

8. Spektroskopi UV

Dasar spektroskopi UV adalah serapan cahaya. Serapan cahaya oleh

molekul dalam daerah spektrum UV tergantung pada struktur elektronik dari

molekul. Spektrum UV dari senyawa-senyawa organik berkaitan erat dengan

transisi-transisi diantara tingkatan tenaga elektronik, oleh sebab itu serapan radiasi

UV sering dikenal sebagai spektroskopi elektronik (Hardjono Sastrohamidjojo,


1991 : 11). Spektroskopi UV dapat digunakan untuk menentukan gugus kromofor

yang terdapat dalam suatu senyawa yang menyerap radiasi dalam daerah UV.

Serapan cahaya (energi) dalam daerah UV dari spektrum elektronik

mengakibatkan transisi elektronik, promosi elektron-elektron dari orbital keadaan

dasar berenergi rendah, ke orbital keadaan tereksitasi berenergi tinggi. Spektrum

UV terdiri dari pita serapan lebar pada daerah panjang gelombang yang lebar.

Panjang gelombang serapan biasanya dilaporkan sebagai maks, yakni panjang

gelombang yang memberikan nilai serapan terbesar (Hardjono

Sastrohamidjojo,1991: 11). Serapan energi direkam sebagai absorbansi.

Absorbansi pada panjang gelombang tertentu didefinisikan sebagai :

I
A = log O
I

Keterangan: A = absorbansi

Io = intensitas radiasi yang datang

I = intensitas radiasi yang diteruskan

Absorbansi suatu senyawa dengan panjang gelombang tertentu bertambah

dengan makin banyaknya molekul yang mengalami transisi. Panjang gelombang

tergantung pada kuat lemahnya elektron itu terikat pada molekul. Keuntungan

penggunaan spektroskopi UV yaitu gugus-gugus karakteristik dapat dikenal dalam

molekul-molekul yang sangat kompleks (Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 12).

Panjang gelombang cahaya UV bergantung pada mudahnya promosi

(eksitasi) elektron. Molekul-molekul yang memerlukan lebih banyak energi untuk

promosi elektron (eksitasi) akan menyerap pada panjang gelombang lebih pendek.

Molekul yang memerlukan energi lebih sedikit akan menyerap pada panjang
gelombang lebih panjang (R.J., Fessenden & J.S., Fessenden, 1999 : 437).

Umumnya penggunaan spektroskopi serapan pada senyawa-senyawa organik

*
didasarkan pada transisi elektron n dan ke excited state ke karena energi-

energi yang diperlukan untuk proses-proses ini cukup rendah, yaitu pada daerah

spektrum (200-700 nm) (Sumar Hendayana, Asep K, AA Sumarna, Asep S,

1994:160).

Berdasarkan perumusan rumus empiris oleh Woodward-Fieser, maks

secara teoritis dari senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on adalah:

Struktur 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on

OH Harga dasar enon asiklik : 215

nm 3 tambahan ikatan rangkap 3 x 30 : 90


nm

Komponen homodiena : 39 nm +
O
C
maks terhitung : 344 nm
CH3
Nilai panjang gelombang maksimum ( maks) sebesar 344 nm menunjukkan

potensi senyawa tabir surya UV-A.

9. Spektrofotometer FTIR

Spektrum IR digunakan untuk menentukan berbagai macam gugus fungsi

yang terkandung dalam suatu senyawa. Kegunaan dari spektroskopi inframerah

adalah untuk mengenal (elusidasi) struktur molekul, khususnya gugus fungsional

beserta lingkungannya. Hampir setiap senyawa yang memiliki ikatan kovalen baik

organik maupun anorganik, akan menyerap berbagai frekuensi radiasi


elektromagnetik dalam daerah spektrum IR. Sinar IR berada pada kisaran

gelombang elektromagnetik dengan panjang gelombang 0,5-1000 m. Daerah

yang paling berguna untuk mengenal struktur suatu senyawa adalah pada daerah

-1
1-25 m atau 10.000 40.000 cm . Satuan yang lebih umum dipakai adalah

-
satuan frekuensi (cm 1), dan bukan satuan panjang gelombang. Serapan setiap tipe

ikatan (N-H, C-H, O-H, C-X, C=O, C-O, C-C, C=C, dan sebagainya) hanya

diperoleh dalam bagian-bagian kecil tertentu dari daerah vibrasi infra merah.

Kisaran serapan yang kecil dapat digunakan untuk menentukan setiap tipe ikatan.

Frekuensi inframerah biasanya dinyatakan dalam satuan bilangan

gelombang (wavenumber), yang didefinisikan sebagai banyaknya gelombang per

sentimeter. Instrumen biasa memindai (scan) pada kisaran sekitar 700 sampai

-1
5000 cm . Kisaran frekuensi ini sama dengan energi sekitar 2 sampai 12

kkal/mol. Jumlah energi ini cukup untuk mempengaruhi getaran (vibrasi) ikatan

(gerakan seperti peregangan atau pembengkokan ikatan) tetapi sangat kurang

untuk memutus ikatan.

Spektrometer FTIR memiliki keuntungan yaitu dapat digunakan pada

semua frekuensi dari sumber cahaya secara simultan sehingga analisis dapat

dilakukan lebih cepat daripada menggunakan cara pemindaian, sensitifitas FTIR

lebih besar daripada cara dispersi disebabkan radiasi yang masuk ke sistem

detektor lebih banyak karena tanpa harus melalui celah (Palleros D. R, 2003 :

699-700).

Spektra inframerah suatu senyawa dapat dengan mudah diperoleh dalam

beberapa menit. Sedikit sampel senyawa diletakkan dalam instrumen dengan


sumber radiasi inframerah. Spektrometer secara otomatis membaca sejumlah

radiasi yang menembus sampel dengan kisaran frekuensi tertentu dan merekam

pada kertas berapa persen radiasi yang ditransmisikan. Radiasi yang diserap oleh

molekul muncul sebagai pita spektra.

Seberapa banyak frekuensi tertentu yang melewati senyawa tersebut

diukur sebagai persentase transmitansi (percentage transmittance). Persentase

transmitansi dengan nilai 100 berarti bahwa semua frekuensi dapat melewati

senyawa tersebut tanpa diserap sama sekali. Pada kenyataannya, itu tidak pernah

terjadi, selalu akan ada penyerapan, walaupun kecil, mungkin transmitansi sebesar

95% adalah yang terbaik yang bisa diperoleh.

Identifikasi pita absorpsi khas yang disebabkan oleh berbagai gugus fungsi

merupakan dasar penafsiran spektra inframerah. Delapan daerah terpenting dan

telah ditentukan dengan baik yang digunakan pada pemeriksaan pendahuluan

spektra tertera dalam Tabel 1 (Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 82-85).

Tabel 1. Harga Dasar Serapan Ikatan Gugus Fungsi


Daerah Spektra (Bilangan
-1 Ikatan yang menyebabkan absorpsi
Gelombang, cm )
3750 3000 Regang OH, NH
3300 2900 Regang C-H : CCH, C=CH, ArH
3000 2700 Regang CH : CH3, CH2, CH, COH
2400 2100 Regang CC, CN
1900 1650 Regang C=O (asam, aldehid, keton, amida,
ester, anhidrida)
1675 1500 Regang C=C (alifatik dan aromatik), C=N
1475 1300 Lentur CH
1000 - 650 Lentur C=CH, ArH (luar bidang)
Berdasarkan struktur dari senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on, maka

dapat diperkirakan kemungkinan gugus fungsi yang akan muncul dalam

spektroskopi infra merah diantaranya:


-1
a. Adanya gugus karbonil C=O pada serapan 1900 1650 cm . Puncak ini

biasanya terkuat dengan lebar medium dalam spektrum dan serapan

tersebut sangat karakteristik.

b. Adanya gugus hidroksi memiliki serapan yang melebar pada daerah

-1
3750-3000 cm .

c. Adanya cincin aromatik memiliki serapan medium tinggi kuat pada

-1
daerah 1675 1500 cm .

d. Adanya ikatan rangkap C=C yang memiliki serapan pada daerah 1675

-1
1500 cm .
-1
e. Adanya C-H alifatik pada daerah serapan kurang dari 3000 cm , maupun
-1
aromatik pada daerah serapan lebih dari 3000 cm .
-1
f. Adanya cincin disubtitusi meta pada daerah serapan 671 cm dan satu

-1
lagi dekat 780 cm .

1
10. Spektrofotometer H-NMR

Spektroskopi Resonansi Magnet Inti memberikan gambaran mengenai

1
jenis atom, jumlah, maupun lingkungan atom hidrogen ( H NMR). Spektroskopi

NMR didasarkan pada penyerapan gelombang radio oleh inti-inti tertentu dalam

molekul organik, apabila molekul tersebut berada dalam medan magnet yang kuat

(Hardjono Sastrohamidjojo, 1991 : 102).


1
Interpretasi spektra H NMR harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

a. jumlah sinyal, menunjukkan ada berapa macam perbedaan proton yang

terdapat dalam molekul

b. kedudukan sinyal, ditunjukkan oleh geseran kimia () ppm, menunjukkan

jenis proton

c. intensitas sinyal atau harga integrasi masing-masing sinyal, perbandingan

harga integrasi menyatakan perbandingan jumlah proton

d. pemecahan (spliting), menerangkan tentang limgkungan dari sebuah

proton dengan proton lainnya yang berdekatan

Perbedaan frekuensi resonansi setiap proton dalam cuplikan diukur relatif

terhadap frekuensi resonansi dari proton-proton senyawa standar. Senyawa

standar yang umum digunakan yaitu tetrametilsilan (TMS). TMS dipilih karena

TMS memberikan puncak tunggal yang tajam dan kuat walaupun digunakan

konsentrasi yang rendah. Hal ini disebabkan duabelas proton pada TMS yang

ekuivalen. TMS bersifat inert, memiliki titik didih rendah sehingga mudah

diuapkan untuk memperoleh kembali cuplikan, dan TMS juga dapat larut dalam

kebanyakan pelarut organik (Kemp W, 1975: 83). Selain itu, proton-proton dari

gugus metil pada TMS jauh terlindungi bila dibandingkan dengan kebanyakan

senyawa-senyawa lain. Hal ini disebabkan silikon yang elektropositif mendorong

elektron ke gugus metil melalui efek induksi sehingga memberikan efek

perlindungan yang sangat kuat (Hardjono Sastrohamidjojo, 1985: 111).


Tabel 2. Tipe Proton dengan Berbagai Pergeseran Kimia
Jenis Proton Geseran Kimia
-CH3 0-1 ppm
-CH2 1-2 ppm
-CH-OH 2-4 ppm
-CH-NR2 2,5-4 ppm
-CH-Cl
-CH-O
-OCH3 3,5-4,5 ppm
-C=CH- vinilik 4,5-7 ppm
-C=CH- aromatik 7-8 ppm
R-CHO 9-10 ppm
R-COOH 10-12 ppm

Berdasarkan struktur dari senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on, maka

dapat diprediksikan kemungkinan gugus fungsi yang akan muncul dalam

1
spektroskopi H-NMR diantaranya:

a. Adanya proton dari cincin aromatik akan ditunjukkan oleh puncak pada

= 7 8 ppm, biasanya muncul dengan puncak tunggal.

b. Adanya proton dari primer jenuh CH3 pada = 0 1 ppm.

c. Adanya proton yang terikat pada atom C=C ditunjukkan oleh puncak pada

= 5,0 6,5 ppm.

d. Adanya proton dari OH fenol akan ditunjukkan oleh puncak pada = 6

8 ppm.

B. Penelitian yang Relevan

Penelitian relevan yang mendukung penelitian ini adalah

1. Penelitian yang dilakukan oleh Fathul Arifin (2007) yang telah berhasil

mensintesis senyawa benzalaseton dan dibenzalaseton menghasilkan senyawa

dengan panjang gelombang maksimum 327 nm untuk senyawa benzalaseton


dan panjang gelombang maksimum 328 nm untuk senyawa dibenzalaseton,

sehingga kedua senyawa tersebut memiliki potensi sebagai senyawa tabir

surya UV-A.

2. Penelitian yang dilakukan oleh Gunantyo Decky Wirawan (2008) yang telah

berhasil mensintesis senyawa 1,5-difenil-2,4-pentadien-1-on dengan panjang

gelombang maksimum 343 nm, sehingga senyawa tersebut memiliki potensi

sebagai senyawa tabir surya UV-A.

3. Penelitian yang dilakukan Sri Handayani (2009) yang telah berhasil

mensintesis senyawa dibenzalaseton asimetris dengan panjang gelombang

maksimum 350 nm, sehingga senyawa tersebut memiliki potensi sebagai

senyawa tabir surya UV-A.

C. Kerangka Berfikir

Senyawa 3-hidroksibenzaldehida merupakan senyawa turunan

benzaldehida yang tersubstitusi gugus hidroksi pada posisi meta. Senyawa ini

digunakan sebagai intermediet dalam sintesis organik. Pemanfaatan senyawa ini

dalam sintesis perlu dikembangkan, terutama untuk mensintesis suatu senyawa

baru yang diharapkan mempunyai banyak manfaat, salah satunya adalah

menghasilkan senyawa yang berpotensi sebagai tabir surya.

Senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on merupakan senyawa turunan

benzalaseton yang diperkirakan mempunyai aktivitas sebagai senyawa tabir surya,

karena senyawa ini mempunyai struktur yang mirip dengan senyawa turunan asam

sinamat yang merupakan bahan dasar dari senyawa-senyawa turunan alkil sinamat
yang banyak digunakan sebagai senyawa tabir surya. Hal ini juga

diperkuat dengan nilai panjang gelombang maksimum senyawa 4-(3-

hidroksifenil)-3-buten- 2-on sebesar 344 nm yang menunjukkan potensi

senyawa tabir surya UV-A.

Senyawa ini disintesis dengan menggunakan reaktan 3-

hidroksibenzaldehida dan aseton dengan katalis basa menggunakan reaksi

kondensasi aldol silang. Reaksi ini melibatkan ion enolat yang terbentuk

dari aseton yang akan bertindak sebagai nukleofil yang akan menyerang

karbon karbonil senyawa aldehida aromatik menghasilkan senyawa -

hidroksi keton, yang selanjutnya mengalami dehidrasi menghasilkan

senyawa , -keton tak jenuh 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on.


BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka didapat
kesimpulan sebagai berikut :
1. Sintesis senyawa dengan menggunakan reaksi kondensasi aldol silang
antara 3-hidroksibenzaldehida dan aseton menghasilkan senyawa dengan
kemurnian sebesar 76,01% dan sifat fisik yakni berbentuk kristal,
0 0
berwarna kuning, mempunyai titik leleh 102 C-104 C.

2. Karakterisasi senyawa hasil sintesis menggunakan UV-Vis, IR dan


NMR menyimpulkan bahwa senyawa yang dihasilkan dari reaksi
kondensasi aldol silang antara 3-hidroksi benzaldehida dengan aseton
adalah senyawa 1,5-bis(3-hidroksifenil)-1,4-pentadien-3-on, bukan
senyawa 4-(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on.
3. Rendemen senyawa 1,5-bis(3-hidroksifenil)-1,4-pentadien-3-on hasil
sintesis sebesar 47,53%.
4. Senyawa 1,5-bis(3-hidroksifenil)-1,4-pentadien-3-on memiliki jenis
serapan sinar dan 332 nm yang merupakan daerah serapan UV-A (320
400 nm). Konsentrasi terendah senyawa 1,5-bis(3-hidroksifenil)-1,4-
pentadien-3-on yang memberikan perlindungan ultra adalah 20 g/mL
dengan absorbansi sebesar 1,520 dan mempunyai nilai SPF sebesar
33,113.

B. Saran
Sintesis senyawa 4(3-hidroksifenil)-3-buten-2-on dengan bahan dasar 3-
hidroksi benzaldehida dan aseton tidak berhasil, oleh karena itu:
1. Perlu dilakukan optimalisasi perbandingan bahan dasar, sehingga dapat
diperoleh senyawa yang diinginkan.
2. Sintesis senyawa ini menggunakan bahan dasar 3-hidroksibenzaldehida
dan aseton dengan perbandingan mol 1:1. Aseton perlu dibuat berlebih
untuk mengantisipasi penguapan pada aseton, sehingga perbandingan
molnya tidak berubah.

DAFTAR PUSTAKA

Ari Ahmadi, Iqmal Tahir dan Karna Wijaya. (2008). Prediksi Tipe Aktivitas
Senyawa Tabir Surya Homosalat Berdasarkan Analisis Spektra
Transisi Elektronik Pada Konfigurasi Bentuk Dimer dan Solut-
Solven. Makalah Seminar Nasional Kimia XVIII, Jurusan Kimia
FMIPA UGM. Hlm. 2-3.

Ege, Seyhan. (1984). Organic Chemistry. USA : The University Of

Michigan.

Fathul Arifin. (2007). Sintesis Senyawa Benzalaseton dan Dibenzalaseton

dan Uji
Potensinya sebagai Senyawa Tabir Surya, Skripsi Program Sarjana
UNY.
Yogyakarta.
Fessenden & Fesenden. (1999). Kimia Organik Edisi
Ketiga Jilid 2. Jakarta : Erlangga.

Gunantyo Decky Wirawan. (2008). Sintesis senyawa 1,5-difenil-2,4-pentadien-1-


on dan Uji Potensinya sebagai Senyawa Tabir Surya, Skripsi
Program Sarjana UNY. Yogyakarta.

Hardjono Sastrohamidjojo. (1991). Kromatografi. Yogyakarta :

Liberty.

Hardjono Sastrohamidjojo. (1991). Spektroskopi. Yogyakarta : Liberty.


Ike Yuliastuti dan Jumina. (2002). Pemodelan dan Sintesis Senyawa Penyerap
Sinar UV 3,4-Dimetoksi Heksil Sinamat Berdasarkan Pendekatan
Kimia Komputasi. Proceeding Seminar Nasional, FMIPA
Universitas Negeri Yogyakarta. Hlm. 351-360.

Iqmal Tahir, Jumina, Ike Yuliastuti. (2002). Analisis Aktivitas Perlindungan


Sinar UV Secara In Vitro Dan In Vivo Dari Beberapa Senyawa Ester
Sinamat Produk Reaksi Kondensasi Benzaldehida Tersubstitusi Dan
Alkil Asetat. Makalah pada Seminar Nasional Kimia XI, Jurusan
Kimia FMIPA UGM. Yogyakarta.

Maya Rahmayanti. (2004). Optimasi Waktu Reaksi Pada Sintesis Kalkon


Dengan Bahan Dasar Asetofenon dan Benzaldehida, Skripsi
Program Sarjana UNY. Yogyakarta.

Muhammad Yusuf Affandi. (2008). Mempelajari Reaksi Kondensasi Aldol


Silang Antara p-Anisaldehida dan p-Hidroksibenzaldehida dengan
Aseton Pada Kondisi Basa, Skripsi Program Sarjana UGM.
Yogyakarta.

R. N. Silverstein, et al. (1991). Spectrometric Identification of Organic


Compounds Fifth Edition. Canada : John Wiley & Sons. Inc.

Siti Sulastri & Susila Kristianingrum. (2003). Kimia Analisis Instrumental.


Yogyakarta : jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNY.

Sri Handayani & Indyah Sulistyo Arty. (2009). Synthesis and activity test of
some compounds 1,5-diphenyl-1,4-pentadiene-3-one as potensial
sun screen material. The First International Seminar on Science
and Technology. Hlm. 233-236.

Sudjadi. (1998). Metode Pemisahan. Fakultas Farmasi UGM : Yogyakarta.

Titik Taufikurohmah. (2008). Pemilihan Pelarut dan Optimasi Suhu Pada


Isolasi Senyawa Etil Para Metoksi Sinamat (EPMS) dari Rimpang
Kencur Sebagai Bahan Tabir Surya Pada Industri Kosmetik. Artikel
Penelitian.
Tutik Dwi Wahyuningsih, Tri Joko Raharjo dan Iqmal Tahirdkk. (2002).
Sintesis Senyawa Tabir Surya 3,4-dimetoksi Isoamil Sinamat dari
Bahan Dasar Minyak Cengkeh dan Minyak Fusel. Indonesian
Journal of Chemistry. 2(1) : 55-63.

Widji Soeratri, Noor Ifansyah, Soemiati dan Epipit. (2005). Penentuan


Persentase Transmisi Eritema dan Pigmentasi Beberapa Minyak
Atsiri. Fakultas Farmasi UNAIR. Hlm. 117-121.

Yurkanis, Paula Bruice. (2007). Organic Chemistry Fifth Edition. USA :


University Of California.