Anda di halaman 1dari 32
BAB IV ANALISA KUALITAS BATUBARA 4.1 Pengertian Analisa Kualitas Batubara Analisa Kualitas batubara bertujuan untuk

BAB IV ANALISA KUALITAS BATUBARA

4.1 Pengertian Analisa Kualitas Batubara

Analisa Kualitas batubara bertujuan untuk mengetahui kandungan yang terdapat di dalamnya. Dalam pemanfaatannya, batubara harus diketahui terlebih dahulu kualitasnya. Hal ini dimaksudkan agar spesifikasi mesin atau peralatan yang memanfaatkan batubara sebagai bahan bakarnya sesuai dengan mutu batubara yang akan digunakan, sehingga mesin-mesin tersebut dapat berfungsi optimal dan tahan lama.

4.2 Kualitas Batubara

Kualitas batubara adalah sifat fisika dan kimia dari batubara yang mempengaruhi potensi

kegunaannya. Kualitas batubara dipengaruhi oleh komponen-komponen yang terdapat dalam batubara tersebut, yaitu air (moisture), organic matter dan mineral matter penyusunnya.

4.2.1 Air (moisture)

Air yang terkandung dalam batubara terdiri dari :

Air bebas (free moisture) adalah air yang terikat secara mekanik dengan batubara pada permukaan, dalam retakan atau kapiler dan mempunyai tekanan uap normal. Kadarnya dipengaruhi oleh bermacam macam kondisi, seperti pengeringan dan pembasahan selama penambangan, transportasi, penyimpanan dan lain-lain.

Air lembab (inherent moisture/moisture in air dried sample) adalah air yang terikat secara fisik dalam batubara pada struktur pori-pori sebelah dalam, dan mempunyai tekanan uap lebih rendah daripada tekanan normal. Kadar air lembab dipakai sebagai karakteristik dasar daripada batubara, kadar air lembab bertambah besar dengan turun naiknya rank batubara.

Air kristal adalah air yang terikat secara kimia dengan mineral yang terdapat dalam batubara. Bentuk ini menguap pada suhu yang cukup tinggi, tergantung dari jenis mineral yang

mengikatnya. Penguapan umumnya mulai terjadi pada suhu di atas 450 0 C. Beberapa badan standarisasi international membuat metode untuk menetapkian air kristal ini, namun jarang dipergunakan. Para ahli Amerika menetapkan air kristal ini sebesar 8% dari kadar abu batubaranya, sedangkan negara Eropa menetapkan sebesar 9% dari kadar abu batubaranya.

4.2.2 Organic Matter (Zat Organik)

Organik matter adalah satu-satunya komponen batubara yang menghasilkan kalori pada proses pembakaran. Penguraian komponen ini dapat dilihat dari dua sisi berbeda. Pertama dilihat dari sisi bagian dan jenis tanaman awal yang membentuknya, sedangkan sisi kedua dilihat dari unsur kimia yang membentuknya.

Dilihat dari sisi pertama, yaitu bagian dan jenis tanaman awal yang membentuknya, komponen batubara ini

Dilihat dari sisi pertama, yaitu bagian dan jenis tanaman awal yang membentuknya, komponen batubara ini diuraikan menjadi beberapa elemen yang disebut dengan maceral. Lihat tabel di bawah ini! Tabel 1. Mean Maceral Group

Maceral Group

Maceral

Bagian/jenis tanaman

Vitrinite

Collinite

 

Telinit

Wood and cortical tissues

Exinite

Sporinite

Spore exines

Resinite

Resine and waxes

Cutinite

Leaf cuticles

Alginite

Algae

Inertinite

Fusinite

Wood and corticle tissues

Semi Fusinite

Wood and corticle tissues

Micrinite

Uncertain

Scleronite

Resin or fungae

Jika dilihat dari sisi kedua, yaitu unsur kimia yang membentuknya, komponen ini terdiri dari unsur carbon, hydrogen, nitrogen, sulfur, oxygen, serta terdapat juga sedikit unsur zat organik bawaan, seperti natrium, kalium, dan sebagainya. Walaupun zat organik batubara merupakan satu-satunya komponen yang menghasilkan kalori, namun di dalamnya terdapat beberapa unsur yang dianggap pengotor, karena pada proses pembakaran unsur ini dapat menimbulkan polusi. Unsur kimia tersebut antara lain nitrogen dan sulfur.Dalam proses pembakaran, nitrogen akan membentuk NO x , sedangkan

sulfur akan membentuk SO 2 .

4.2.3 Inorganic Matter (Zat Anorganik)

Elemen dari zat anorganik disebut mineral atau disebut juga dengan mineral matter. Satu hal

yang perlu diingat, bahwa batubara tidak mengandung abu tetapi mengandung mineral. Abu hanyalah residu sisa pembakaran batubara, namun dalam pengujian disebut sebagai kadar abu. Kadar mineral matter dalam batubara bisa didapat lewat pengujian di laboratorium, tetapi hal tersebut jarang dilakukan. Pada umumnya untuk mendapatkan data ini melaui

perhitungan. Banyak formula yang dapat digunakan untuk menghitung kandungan mineral matter, Parr formula adalah salah

perhitungan. Banyak formula yang dapat digunakan untuk menghitung kandungan mineral matter, Parr formula adalah salah satunya,

MM

= 1.08A + 0.55S

MM

= mineral matter, %

A

= ash, %

S

= sulfur, %

Mineral yang terdapat dalam batubara terbagi dalam dua bentuk, yaitu : inherent mineral dan

extraneous mineral matter. Inherent Mineral

Material ini terdapat dalam batubara dalam bentuk partikel halus yang tersebar ke seluruh bagian batubara. Pada dasarnya, sebagian material ini ialah unsur anorganik berasal dari tanaman yang membentuk batubara tersebut, dan sebagian lainnya berasal dari material sampingan yang terbawa ke dalam batubara selama terjadinya proses pembentukan batubara. Oleh karena itu jumlah serta sifat mineral dalam batubara bisa berbeda dari satu lapisan ke lapisan lainnya. Berdasarkan bentuk ikatan mineral ini dengan batubara maka hampir dapat dipastikan bahwa mineral ini tidak dapat dipisahkan dari batubara dengan cara mekanis (penggilingan

dan pencucian).

Extraneous mineral Material ini berasal dari tanah penutup atau lapisan-lapisan yang terdapat di antara lapisan batubara yang terbawa ke dalam batubara saat berlangsungnya proses penambangan. Pada umumnya tingkat kandungan extraneous mineral dalam batubara bervariasi mengikuti ukuran partikelnya, dimana partikel yang lebih halus akan mempunyai kandungan extraneous mineral yang lebih tinggi, sehingga proses liberasi dengan penggilingan ke ukuran yang lebih kecil dapat dimanfaatkan. Komponen-komponen batubara dapat digambarkan sebagai berikut :

Batubara

batubara dapat digambarkan sebagai berikut : Batubara moisture Organic matter Inorganic matter Komponen

moisture

Organic matter

Inorganic matter

Komponen pengotor sumber energi komponen pengotor
Komponen pengotor
sumber energi
komponen pengotor

sumber karbon

pengotor sumber energi komponen pengotor sumber karbon Kalori merupakan hasil Pembakaran (oksidasi) komponen ini S

Kalori merupakan hasil Pembakaran (oksidasi) komponen ini

4.3 Basis Dalam Perhitungan Analisa Batubara Basis dalam perhitungan hasil analisa batubara adalah dasar yang

4.3 Basis Dalam Perhitungan Analisa Batubara

Basis dalam perhitungan hasil analisa batubara adalah dasar yang dipakai untuk menyatakan nilai dari suatu parameter dan menginterpretasikan nilai tersebut pada kondisi tertentu. Interpretasi dari basis tersebut sesuai dengan istilah basis tersebut, misalkan seperti basis basis di bawah ini :

As received/as sampled basis (ar) = nilai parameter atau kualitas batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling.

batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling. Air dried basis (adb) = nilai kualitas pada
batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling. Air dried basis (adb) = nilai kualitas pada
batubara pada saat batubara tersebut diterima / disampling. Air dried basis (adb) = nilai kualitas pada

Air dried basis (adb) = nilai kualitas pada kondisi batubara setelah dikeringkan dalam udara.

pada kondisi batubara setelah dikeringkan dalam udara. Dry basis (db) = nilai kualitas pada kondisi batubara
pada kondisi batubara setelah dikeringkan dalam udara. Dry basis (db) = nilai kualitas pada kondisi batubara

Dry basis (db) = nilai kualitas pada kondisi batubara kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free)

kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free) Dry ash free basis (daf) = nilai kualitas
kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free) Dry ash free basis (daf) = nilai kualitas
kering atau tidak memiliki nilai moisture (moisture free) Dry ash free basis (daf) = nilai kualitas

Dry ash free basis (daf) = nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash.

pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash. Dry mineral matter free basis (dmmf) =
pada kondisi batubara tersebut kering dan bebas dari ash. Dry mineral matter free basis (dmmf) =

Dry mineral matter free basis (dmmf) = menginterpretasikan nilai kualitas pada kondisi batubara tidak mengandung air dan mineral matter.

Moist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut masih

Moist, mineral matter free basis (mmmf) menginterpretasikan nilai kualitas batubara pada kondisi batubara tersebut masih didalam tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter.

tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter. Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau
tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter. Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau
tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter. Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau
tanah (in-situ coal) dan tidak mengandung mineral matter. Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau

Basis-basis di atas merupakan basis-basis yang umum atau biasanya dipakai dalam menyatakan nilai dari suatu parameter kualitas dari suatu batubara. Selain basis-basis tersebut di atas masih ada beberapa basis lainnya yang hanya untuk keperluan tertentu saja digunakan seperti misalnya ; Sulfat free, SO3 free, Ash free, dan lain-lain. Dari interpretasi–interpretasi basis di atas, maka dibuatlah suatu persamaan matematis untuk menyatakannya ke dalam bentuk angka.

4.3.1 Rumus Untuk Menghitung Hasil Pengujian ke Basis yang Berbeda (ISO 1170-1997 E) 4.4 PARAMETER-PARAMETER

4.3.1 Rumus Untuk Menghitung Hasil Pengujian ke Basis yang Berbeda

(ISO 1170-1997 E)

Hasil Pengujian ke Basis yang Berbeda (ISO 1170-1997 E) 4.4 PARAMETER-PARAMETER KUALITAS BATUBARA

4.4 PARAMETER-PARAMETER KUALITAS BATUBARA

Parameter-parameter kualitas yang dilakukan pengujian di Laboratorium terdiri dari :

Total Moisture Proksimate : air (moisture), abu (ash content), zat terbang (volatile matter) dan karbon padat (fixed carbon) Ultimate : carbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen Calorific value (nilai kalor) Ash Analysis (komposisi abu) Ash Fusion Temperature (titik leleh abu) Hardgrove Grindability Index (index ketergerusan) Size Analysis (ukuran partikel) Slagging dan Fouling Index

4.4.1 Total Moisture

Total moisture (TM) adalah air (moisture) yang terkandung dalam batubara, yang menggambarkan kandungan keseluruhan moisture yang terdapat dalam batubara. Total moisture dalam analisa terdiri dari Free Moisture dan Residual Moisture. Tinggi rendahnya total moisture tergantung pada :

Peringkat Batubara (Rank)

Size Distribusi

Kondisi pada saat sampling (pengambilan sample)

Peringkat Batubara Semakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara tersebut atau semakin padat

Peringkat Batubara Semakin tinggi peringkat suatu batubara semakin kecil porositas batubara tersebut atau semakin padat batubara tersebut. Dengan demikian akan semakin kecil juga moisture yang dapat diserap atau ditampung dalam pori-pori batubara tesrsebut. Hal ini menyebabkan semakin kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya.

kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya. Size Distibusi Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka
kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya. Size Distibusi Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka
kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya. Size Distibusi Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka
kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya. Size Distibusi Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka
kecil kandungan moisturenya terutama inherent moisturenya. Size Distibusi Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka

Size Distibusi Semakin kecil ukuran partikel batubara, maka semakin besar luas permukaannya. Hal ini menyebabkan semakin tinggi surface moisturenya. Pada nilai inherent moisture tetap, maka total moisture-nya akan naik karena naiknya surface moisture.

Kondisi Sampling Total moisture dapat dipengaruhi oleh kondisi pada saat batubara tersebut di sampling. Yang termasuk kondisi sampling adalah :

Kondisi batubara pada saat di sampling

Size distribusi sample batubara yang diambil terlalu besar atau terlalu kecil

Cuaca pada saat pengambilan sample

4.4.2 Proksimate Pada proses pembakaran batubara pada suhu tertentu terjadi beberapa perubahan fisik pada komponen batubara. Moisture akan menguap. Mineral akan terbakar menghasilkan residu yang disebut dengan ash dan menguapkan sedikit zat terbang yang kemudian terukur sebagai sebagian kecil dari volatile matter. Organic matter akan menghasilkan residu karbon

yang disebut dengan fixed carbon serta gas hidrokarbon ringan yang menguap sebagai volatile matter. Jadi

yang disebut dengan fixed carbon serta gas hidrokarbon ringan yang menguap sebagai volatile matter. Jadi proksimate adalah rangkaian pengujian untuk mengukur unsur moisture, abu, volatile matter dan fixed carbon. Moisture Moisture dalam standar ASTM disebut Moisture in the Analysis Sample adalah moisture yang terkandung dalam batubara dikeringkan dalam udara. Besar kecilnya dipengaruhi oleh peringkat batubara, makin tinggi peringkatnya maka semakin rendah moisturenya. Nilainya tergantung pada humiditas (kelembaban) dan temperatur ruangan di mana moisture tersebut dianalisa. Nilainya tergantung juga pada preparasi sample sebelum moisture dianalisa (standar preparasi)

sample sebelum moisture dianalisa (standar preparasi) Gambar 4.1. Diagram Alir Standar Preparasi sample untuk

Gambar 4.1. Diagram Alir Standar Preparasi sample untuk moisture Abu (Ash Content) Batubara sebenarnya tidak mengandung abu, melainkan mengandung mineral matter. Namun sebagian mineral matter dianalisa dan dinyatakan sebagai kadar Abu atau Ash Content. Mineral Matter atau ash dalam batubara terdiri dari inherent dan extarneous. Inherent Ash ada dalam batubara sejak pada masa pembentukan batubara dan keberadaan dalam batubara terikat secara kimia dalam struktur molekul batubara. Sedangkan Extraneous Ash, berasal dari dilusi atau sumber abu lainnya yang berasal dari luar batubara.

Zat terbang (Volatile Matter) Volatile matter/ zat terbang, adalah bagian organik batubara yang menguap ketika

Zat terbang (Volatile Matter) Volatile matter/ zat terbang, adalah bagian organik batubara yang menguap ketika dipanaskan pada temperature tertentu. Volatile matter biasanya berasal dari gugus hidrokarbon dengan rantai alifatik atau rantai lurus, yang mudah putus dengan pemanasan tanpa udara menjadi hidrokarbon yang lebih sederhana seperti methana atau ethana. Kadar Volatile Matter dalam batubara ditentukan oleh peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat suatu batubara akan semakin rendah kadar volatile matternya. Volatile matter dalam batubara dapat dijadikan sebagai indikasi reaktifitas batubara pada saat dibakar.

Karbon Padat/Tertambat (Fixed carbon) Fixed carbon ialah kadar karbon tetap yang terdapat dalam batubara setelah volatile matter dipisahkan dari batubara. Kadar fixed carbon diperoleh dari hasil perhitungan sebagai berikut :

Persentase fixed carbon = 100% - %(moisture + ash content + volatile matter)

4.4.3 Ultimate

Ultimate adalah rangkaian pengujian untuk mengukur unsur yang terkandung dalam organic matter, yaitu carbon, hydrogen, nitrogen, sulfur, oxygen dan unsur lainnya yang jumlahnya tidak terlalu besar seperti chlorine dan flourine. Pada saat pembakaran, komponen organic matter inilah yang menghasilkan kalori.

4.4.4 Calorific Value (Nilai Kalor)

Salah satu parameter penentu kualitas batubara ialah nilai kalornya, yaitu seberapa banyak energi yang dihasilkan per satuan massanya. Nilai kalor batubara diukur menggunakan alat yang disebut Bomb Kalorimeter. Nilai kalori batubara dapat dinyatakan dalam satuan MJ/Kg, Kcal/Kg atau Btu/Lb. Nilai kalori tesebut dinyatakan dalam Gross dan Net. Nilai kalori batubara bergantung pada peringkat batubara. Semakin tinggi peringkat batubara, semakin tinggi nilai kalorinya. Nilai kalori juga dipengaruhi oleh moisture dan abu. Semakin tinggi moisture dan abu, semakin rendah nilai kalorinya. 4.4.5 Ash Analysis Ash analysis adalah pengujian untuk menentukan komposisi kimia residu sisa pembakaran (abu). Parameter yang dianalisa adalah silika (SiO 2 ), alumina (Al 2 O 3 ), besi (Fe 2 O 3 ), kalsium (CaO),

Kalium (K 2 O), Natrium (Na 2 O), Magnesium (MgO), Titanium (Ti 2 O), posfor (P 2 O 5 ), Mangan (Mn 3 O 4 ), dan sulfur (SO 3 ). Data ash analysis ini dapat dipakai untuk menghitung potensi slagging dan fouling yang akan terjadi di ruang bakar.

4.4.6 Ash Fusion Temperature

Ash Fusion Temperature adalah pengujian untuk melihat perilaku abu ketika dipanaskan pada suhu tertentu. Abu tersebut meleleh atau tidak. Parameter yang dilaporkan adalah suhu pada saat contoh abu (yang dibentuk seperti piramid) berubah bentuk sesuai dengan

profil-profil yang tersedia dalam metode standar. Profil-profil tersebut, yaitu deformation, spherical, hemispherical

profil-profil yang tersedia dalam metode standar. Profil-profil tersebut, yaitu deformation, spherical, hemispherical dan flow.

4.4.7 Hardgrove Grindability Index (Index Ketergerusan)

Hardgrove Grindability Index (HGI) atau nilai ketergerusan hardgrove adalah angka yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus oleh alat penggerus (pulverizer) di PLTU. Nilai HGI yang tinggi menyatakan batubara tersebut mudah digerus dan sebaliknya.

4.4.8 Size Analysis ( Analisa Ukuran Partikel)

Size analysis ialah pengujian yang mengukur distribusi/penyebaran ukuran patikel batubara. Pengujian ini penting artinya dalam perancangan preparation plant, mengukur kinerja crushing plant dan terutama dalam PLTU adalah perancangan peralatan Pulverizer.

4.4.9 Slagging dan Fouling Index

Slagging adalah masalah yang timbul pada proses pembakaran dimana abu batubara meleleh dan membentuk kerak yang menempel di dinding ruang bakar pada daerah radiasi seperti di wall tube boiler. Slagging Index adalah indeks yang dihitung dari data ash analysis maupun data ash fusion temperature (titik leleh abu), yang dapat memberikan indikasi kecenderungan suatu batubara menimbulkan masalah slagging selama pembakaran. Fouling adalah masalah yang timbul pada proses pembakaran dimana abu batubara halus

yang mengandung sodium menguap bersama sama sulfur dan bereaksi membentuk endapan dan menempel di pipa boiler pada daerah konveksi seperti di superheater dan reheter. Fouling Index adalah indeks yang dihitung dari data ash analysis, yang dapat memberikan indikasi kecenderungan suatu batubara menimbulkan masalah fouling selama pembakaran.

4.5 PRINSIP KERJA DAN ANALISA KUALITAS BATUBARA

Analisa/pengujian kualitas batubara merupakan tahapan yang sangat penting untuk menentukan kualitas batubara sesuai kontak atau design boiler.Pengujian kualitas batubara dilakukan di laaboratorium setelah melaui tahapan pengambilan sample (sampling) dan penyiapan sample (preparasi). Prosedure pelaksanaan pengujian kualitas batubara menggunakan standar nasional (SNI/Standard National Indonesia) maupun standar internasional (ASTM/American Society Testing and Materials, ISO/International Standard Organization, BS/British Standard, AS/Australian Standard), dan lain-lain yang diakui secara international. Pada materi diklat ini hanya dibahas standar ASTM (umum dipakai oleh laboratorium di PLTU). Pengujian kualitas batubara meliputi pengujian sifat kimia dan fisika batubara, di antaranya :

proksimate (moisture, kadar abu, zat terbang dan fixed carbon), ultimate (carbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan oxygen), nilai kalori, ash analysis, ash fusion temperature,Hardgrove grindability index (HGI), size analysis dan slagging/fouling index. Untuk memperoleh hasil analisa yang valid (dapat dipercaya), perlu diperhatikan hal-hal berikut:

Peralatan analisa dan pendukungnya harus terkalibrasi dan tertelusur ke satuan international

Quality control dilakukan secara konsisten agar penyimpangan hasil analisa dapat diketahui sedini mungkin dan dilakukan

Quality control dilakukan secara konsisten agar penyimpangan hasil analisa dapat diketahui sedini mungkin dan dilakukan tindak lanjut perbaikannya.

4.5.1 Analisa Total Moisture (ASTM D-3302)

Pengujian total moisture dilakukan dalam dua tahap sehingga pengujiannya disebut two- stage determination. Tahap pertama dilakukan di ruang preparasi contoh dengan menimbang contoh, kemudian dikeringkan pada suhu ruangan sampai diperoleh berat konstan (perbedaan berat penimbangan terakhir dengan berat penimbangan sebelumnya harus <0.1%). Kehilangan berat dihitung persentasinya dan disebut dengan air dry loss (ASTM) atau free moisture (ISO/BS/AS). Tujuan pencapaian berat konstan adalah agar contoh tidak mengalami perubahan lagi (menyerap atau menguapkan moisture) pada saat dilakukan proses preparasi berikutnya seperti pengggilingan dan pembagian, sehingga hasil pengujian total moisture menjadi lebih benar. Setelah dicapai berat konstan, contoh digiling ke partikel tertentu, diambil sebagian dan dikirimkan ke laboratorium untuk dianalisa residual moisture-nya, dengan cara memanaskan

contoh tersebut dalam oven pada suhu 105-110 0 C selama 3 jam sambil dialiri gas nitrogen.

Gambar 4.2. Diagram Alir Penentuan Total Moisture

Total moisture kemudian dihitung dengan rumus : TM = ADL + RM x (1-ADL/100) Di

Total moisture kemudian dihitung dengan rumus :

TM = ADL + RM x (1-ADL/100) Di mana :

TM = total moisture dalam % (as-received basis – ar) ADL = air-dry loss dalam % (as-received basis – ar) RM = residual moisture dalam % (air-dried basis – ad)

4.5.2 Analisa Proksimate (ASTM D-3173, D-3174, D-3175 dan D-7582)

a. Analisa Moisture in the Analysis Sample (ASTM D-3173)

Penetapan Moisture in the Analysis Sample ditentukan dengan cara memanaskan 1 gram contoh batubara berukuran -60 mesh dalam oven pada suhu 105-107 selama 3 jam atau sampai berat konstan. Kehilangan berat selama pemanasan adalah berat air lembab dari batubara tersebut. Berat asal = M 1

Berat cawan + sample setelah dipanaskan = M 3 Berat cawan + sample setelah dipanaskan = M 3 Persentase moisture = (M 2 – M 3 )/ M 3 x 100%

M 3 Persentase moisture = (M 2 – M 3 )/ M 3 x 100% S
Gambar 4.3. Tahap-tahap analisa moisture b. Analisa Abu (Ash Content)- (ASTM D-3174) Cawan ditimbang dan
Gambar 4.3. Tahap-tahap analisa moisture b. Analisa Abu (Ash Content)- (ASTM D-3174) Cawan ditimbang dan
Gambar 4.3. Tahap-tahap analisa moisture b. Analisa Abu (Ash Content)- (ASTM D-3174) Cawan ditimbang dan
Gambar 4.3. Tahap-tahap analisa moisture b. Analisa Abu (Ash Content)- (ASTM D-3174) Cawan ditimbang dan
Gambar 4.3. Tahap-tahap analisa moisture b. Analisa Abu (Ash Content)- (ASTM D-3174) Cawan ditimbang dan

Gambar 4.3. Tahap-tahap analisa moisture

b. Analisa Abu (Ash Content)- (ASTM D-3174)

Cawan ditimbang dan kemudian dimasukkan sampel ke dalam cawan sebanyak 1 gram.

Sampel dimasukkan ke dalam furnace, yaitu memulai dari suhu rendah 250 0 C selama 30

menit kemudian suhu 250-500 0 C selama 30 menit dan 500-815 0 C selama 60 menit. Cawan diambil dari dalam furnace dan diletakkan pada lempengan logam kemudian didinginkan dalam desikator. Setelah dingin kemudian sampel ditimbang. Cara ini diulangi untuk sampel yang sama, sampai didapat hasil yang hampir sama.

Gambar 4.4. Tahap-tahap analisa abu c. Analisa Zat Terbang (Volatile Matter) - (ASTM D-3175) Volatile

Gambar 4.4. Tahap-tahap analisa abu

c. Analisa Zat Terbang (Volatile Matter) - (ASTM D-3175)

Volatile matter ditentukan dengan cara menghitung kehilangan berat dari contoh batubara

yang dipanaskan tanpa oksigen pada suhu 900 0 C ± 10 0 C selama 7 menit, selanjutnya hasilnya dikoreksi terhadap kadar air lembab. Tujuan dipanaskan tanpa oksige agar tidak terjadi oksidasi terhadap organic matter-nya dan volatile matter yang diukur adalah murni sebagai volatile matter saja.

d. Analisa Karbon Padat (Fixed carbon) Kadar fixed carbon diperoleh dari hasil perhitungan sebagai berikut

d. Analisa Karbon Padat (Fixed carbon)

Kadar fixed carbon diperoleh dari hasil perhitungan sebagai berikut :

Persentase fixed carbon = 100% - %(moisture + ash content + volatile matter)

e. Analisa Proksimate metode instrumental (ASTM D-7582) Metode pengujian secara instrumental ini meliputi penentuan moisture, abu,volatile matter dan perhitungan fixed carbon secara gravimetri dalam suatu alat yang diprogram dan dikendalikan oleh sistem komputer. Penimbangan, pemanasan dan perhitungan terhadap parameter tersebut langsung dapat dilihat di layar komputer.

Gambar 4.5. Peralatan analisa Proksimate secara Instrumental (LECO-TGA-601) 4.5.3 Analisa Ultimate (ASTM D-3177, D-3178,

Gambar 4.5. Peralatan analisa Proksimate secara Instrumental (LECO-TGA-601)

4.5.3 Analisa Ultimate (ASTM D-3177, D-3178, D-3179, D-4239 dan D-5373)

a. Analisa Carbon dan Hydrogen (ASTM D-3178)

Kadar karbon dan hydrogen ditentukan secara bersamaan dengan cara mengoksidasi contoh dengan oksigen murni dalam alat “Micro Combustion Furnace”, sehingga seluruh karbon berubah menjadi karbon dioksida (CO 2 ) dan hydrogen berubah menjadi air (H 2 ). Gas

hasil oksidasi ini dialirkan melalui penyerap air dan karbon dioksida, kemudian ditetapkan secfara gravimetri. Total karbon dan hydrogen dihitung dari penambahan berat penyerap gas-gas tersebut.

b. Analisa Nitrogen (ASTM D-3179) Untuk penentuan nitrogen dilakukan dengan cara Kyeldahl. Contoh batubara didestruksi dengan asam sulfat pekat sehingga terbentuk garam amonium sulfat (NH 4 ) 2 SO 4 dan selanjutnya dilakukan proses destilasi. Pada saat larutan mendidih tambahkan larutan kalium hidroksida, maka NH 3 akan dibebaskan dan ditampung ke dalam larutan asam borat. Kadar

nitrogen dapat dihitung dengan cara meniter (titrasi) larutan tersebut. Batubara + H 2 SO 4 ------> (NH 4 ) 2 SO 4 (NH 4 ) 2 SO 4 + KOH -------> NH 4 OH -----> NH 3 + H 2 O

c. Analisa Sulfur (ASTM D-3177, D-4239) Analisa total sufur dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu

c. Analisa Sulfur (ASTM D-3177, D-4239)

Analisa total sufur dapat dilakukan dengan 3 metode yaitu metode Esckha, metode

pembakaran suhu tinggi dan metode Infra Red (isntrumental).

Analisa dengan metode Esckha (ASTM D-3177) Contoh batubara dicampur dengan pereaksi Esckha (MgO + Na 2 CO 3 ) dan dipanaskan dalam

furnace sampai suhu 825 0 C, selanjutnya leburan dilarutkan dalam air panas. Sulfat yang terbentuk kemudian diendapkan dengan penambahan larutan BaCl 2 membentuk endapan

BaSO 4 dan selanjutnya ditetapkan secara gravimetri.

% S = [(A-B) x 13,738]/C

Di mana :

A = berat BaSO 4 yang diendapkan

B = berat BaSO 4 koreksi

C = berat sample yang dianalisa

Analisa dengan metode pembakaran suhu tinggi (ASTM D-4239)

Contoh batubara dibakar dalam furnace pada suhu 1350 0 C dengan dialiri oksigen. Gas SO 2

dan Cl 2 yang terbentuk diserap oleh larutan hydrogen peroksida dan selanjutnya kadar sulfur

ditentukan dengan cara titrasi. Koreksi dilakukan untuk menghitung jumlah chlor yang

terbentuk.

oksigen

Batubara ------------> SO 2 + H 2 O 2 -------> H 2 SO 4 ------> titrasi

1350 0 C

Analisa dengan metode Infra Red/instrumental (ASTM D-4239)

Penetapan ini menggunakan sebuah peralatan instrumen yang dikendalikan oleh sistem komputer. Salah satu peralatan yang digunakan adalah LECO S-144DR. Pengujian dimulai dengan menimbang sample. Sample dibakar di dalam sebuah “Combustion Chamber” pada

suhu 1350 0 C, di mana dengan adanya oksigen yang dialirkan ke dalam ruang bakar akan mengakibatkan sample terbakar. Proses pembakaran akan merubah elemen sulfur menjadi

SO 2 . Gas-gas tersebut selanjutnya dilewatkan ke cell infra red untuk mengukur kadar sulfur

dalam batubara tersebut.

Batubara

oksigen

------------>

1350 0 C

SO 2 -------> cell infra red

Gambar 4.6. Peralatan analisa sulfur dengan metode infra red (instrumental) d. Analisa Oksigen (by diference)

Gambar 4.6. Peralatan analisa sulfur dengan metode infra red (instrumental)

d. Analisa Oksigen (by diference)

Kadar oksigen dalam batubara adalah kandungan oksigen yang terdapat dalam batubara, baik yang terikat dalam material batubara, mineral maupun dalam air. Kadar oksigen ditentukan dengan cara perhitungan, menggunakan persamaan berikut :

Kadar

Kadar oksigen terkoreksi = 100% - % (abu + air + H terkoreksi + C + N + S) Di mana :

Oksigen terkorekasi adalah kadar oksigen tidak termasuk oksigen dalam air. Hidrogen terkoreksi adalah kadar hidrogen tidak termasuk hidrogen dalam air, dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

total oksigen + 100% - %(abu + C + H + N + S)

H terkoreksi = H total – (0.1119 x moisture)

4.5.4 Analisa Nilai kalor (ASTM D-5865)

Nilai kalor adalah panas yang dihasilkan oleh pembakaran setiap satuan berat batubara pada kondisi satandar, satuannya adalah cal/g, kcal/kg, MJ/kg atau Btu/lb. Nilai kalori dari batubara dapat dihitung dari kenaikan suhu setelah pembakaran dengan mengadakan

beberapa koreksi.

Nilai Kalor, kcal/kg =

Di mana ;

(ta – t0) x C – f koreksi

M

Ta = suhu awal

Tb = suhu akhir

C

= kapasitas panas efektif (energi ekuivalent)

M

= berat contoh

Faktor koreksi, f adalah :

1. Panas akibat pembakaran kawat

2. Panas pembentukan asam sulfat, dan

3. Panas pembentukan asam nitrat

Selama proses pembakaran yang sebenarnya di boiler, nilai gross calorific value ini tidak pernah tercapai karena beberapa komponen batubara, terutama air, menguap dan menghilang bersama-sama denga panas penguapannya. Nilai pendekatan maksimum kalori

yang dapat dicapai selama proses ini adalah nilai net calorific value, nilai ini didapat dengan

perhitungan

net calorific value, nilai ini didapat dengan perhitungan Gambar 4.7. Peralatan analisa Nilai Kalor 4.5.5 Analisa

Gambar 4.7. Peralatan analisa Nilai Kalor

4.5.5 Analisa Komposisi Abu/Ash Analysis (ASTM D-3682)

Abu batubara dikomposisikan dari senyawa-senyawa Si, Al, Fe, Ca dan sedikit Ti, K, Na, Mg, Mn dalam bentuk silikat, oksida, sulfat dan phospat. Pengujian komposisi abu dapat

dikerjakan dengan cara melarutkan contoh abu batubara tersebut dengan cara peleburan menggunakan asam kuat, selanjutnya oksida-oksida logam dalam abu batubara tersebut dapat ditentukan dengan cara :

Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS)

X-ray Fflourescense Dan lain-lain

X-ray Fflourescense Dan lain-lain Gambar 4.8. Peralatan analisa komposisi abu (AAS) 4.5.6 Analisa Ash Fusion

Gambar 4.8. Peralatan analisa komposisi

abu (AAS)

4.5.6 Analisa Ash Fusion Temperature/Titik Leleh Abu (ASTM D-1857)

Abu batubara merupakan sisa pembakaran yang tinggal setelah semua material yang dapat terbakar habis. Abu batubara akan meleleh dan menempel pada pipa boiler bila tercapai titik lelehnya.Pengujian titik leleh abu di laboratorium untuk melihat perubahan karakteristik dari abu batubara apabila dipanaskan pada kondisi standar.

Prinsip kerja :

Abu batubara dicetak menjadi bentuk piramida, kemudian dipanaskan pada kenaikan suhu tertentu pada suasana reduksi atau oksidasi dan diamati secara kontinu. Suhu saat terjadinya perubahan karakteristik dari bentuk uji tersebut diamati sebagai :

Suhu deformasi awal (initial deformation temperature) IT, adalah suhu saat terjadinya perubahan pertama pada bentuk piramida dari contoh uji. Suhu spherical/softening (spherical/softening temperature) ST, adalah suhu pada saat piramida dari contoh uji berubah menjadi spherical, yaitu bila diamati secara visual, tingginya sama dengan lebar dari dasar piramida.

Suhu hemispherical (hemispherical temperature) HT, adalah suhu saat bentuk piramida dari contoh uji berubah menjadi hemispherical, yaitu bila diamati secara visual, tingginya sama dengan setengah dari lebar dasar piramida. Suhu alir (flow/fluid temperature) ST, adalah suhu pada saat abu batubara mulai meleleh pada dudukannya, sehingga tingginya menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida.

IT

ST

HT

FT

menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh
menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh
menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh
menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh
menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh
menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh
menjadi 1/3 bagian dari lebar dasar piramida. IT ST HT FT Gambar 4.9. Perubahan titik leleh

Gambar 4.9. Perubahan titik leleh abu

4.5.7 Analisa Hardgrove Grindability Index/HGI (ASTM D-409)

Hardgrove grindability index atau nilai ketergerusan hardgrove adalah anagka yang menunjukkan kemudahan batubara untuk digerus. Nilai HGI yang tinggi menyatakan batubara tersebut mudah digerus dan sebaliknya. Cara pengujiannya sebagai berikut :

Contoh batubara yang berukuran -20 + 28 mesh digerus dalam alat Hardgrove Grindability Machine sampai 60 putaran.Hasil penggerusan diayak dengan saringan 200 mesh menggunakan alat “sieve shaker” selama 10 menit. HGI dapat dihitung dari hasil penimbangan berat contoh batubara yang lolos saringan 200 mesh, dengan mengkonversikan ke dalam kurva kalibrasi dari contoh standar.

HGI Berat contoh lolos saringan
HGI
Berat contoh lolos saringan

200 mesh, gr

HGI Berat contoh lolos saringan 200 mesh, gr Gambar 4.10. Kurva kalibrasi HGI Gambar 4.11. Peralatan

Gambar 4.10. Kurva kalibrasi HGI

HGI Berat contoh lolos saringan 200 mesh, gr Gambar 4.10. Kurva kalibrasi HGI Gambar 4.11. Peralatan

Gambar 4.11. Peralatan analisa HGI

4.5.8

Size Analysis/Analisa ukuran partikel (ASTM D-4749)

Size analysis ialah pengujian yang bertujuan mengukur distribusi partikel batubara. Sejumlah contoh setelah dikeringkan dalam udara, diayak dengan ayakan ukuran 70 mm, 50 mm, 32

mm

dan 2.38 mm. Contoh yang tertahan pada masing-masing ayakan selanjutnya ditimbang

dan

dihitung prosentasenya ukuran partikel batubara.

4.5.9 Slagging dan Fouling Index

Slagging dan Fouling Index ditentukan dengan perhitungan berdasarkan data ash analysis

dan

ash fusion temperature. Untuk perhitungannya perlu ditetapkan dulu karakteristik dari

abu

yaitu abu bituminous atau abu lignitic.

Abu

bitumunous, bila Fe 2 O 3 > CaO + MgO

Abu

lignitic, bila Fe 2 O 3 < CaO + MgO Slagging index- abu bituminous (R s )

R s = (B/A) x S

Di mana : B = CaO + MgO + Fe 2 O 3 + Na 2 O + K 2 O

A

= SiO 2 + Al 2 O 3 + TiO 2

S

= % sulfur, dry basis

Klasifikasi slagging index menggunakan R s sebagai berikut :

R s <0.6 = low

0.6 < R s <2.0 = medium

2.0

< R s <2.6 = high

2.6

< R s

= severe

Slagging index- abu lignitic (R s *)

(max HT + 4 (min IT)

R s * =

5

Di mana :

max HT = temperature hemispherical tertinggi min IT = temperature initial deformation terendah

Fouling index- abu bituminous (R f ) R s = (B/A) x Na 2 O

Di mana : Na 2 O = % dari ash analysis

Klasifikasi fouling index menggunakan R f sebagai berikut :

R f <0.2 = low

0.2 < R f < 0.5 = medium

0.5 < R f < 1.0 = high

Fouling index- abu lignitic (R f *), berdasarkan kandungan sodium (Na 2 O) dalam abu :

Bila CaO + MgO + Fe 2 O 3 > 20%

Na 2 O < 3 = low to medium 3 < Na 2 O < 6 = high Na 2 O > 6 = severe

Bila CaO + MgO + Fe 2 O 3 < 20%

Na 2 O < 1.2 = low to medium 1.2 < Na 2 O< 3 = high Na 2 O > 3 = severe

4.6

Pelaporan Data

Parameter

 

Satuan

Hasil pengujian

 
   

As

Received

Air Dried Basis

Dry Basis

Basis

Proximate Analysis:

         

Total Moisture

 

% wt

27.29

-

-

Moisture

in

the

analysis

% wt

-

13.28

-

sample

% wt

2.45

2.92

3.37

Ash Content

 
 

% wt

35.92

42.84

49.40

Volatile Matter

 
 

% wt

34.34

40.96

47.23

Fixed Carbon

 
 

Kcal/kg

4928

5878

6778

Gross Calorific Value

Ultimate Analysis:

 
 

% wt

46.60

55.58

64.09

Carbon

% wt

3.29

3.92

4.52

Hydrogen

% wt

0.13

0.16

0.18

Sulfur

% wt

0.55

0.66

0.76

Nitrogen

% wt

19.69

23.48

27.08

Oxygen

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P heno menal

  HGI Index 52 Size distribution: + 70 mm % wt 0.35 + 50 –
 

HGI

Index

52

Size distribution:

+ 70 mm

% wt

0.35

+ 50 – 70 mm

% wt

3.05

+ 32 – 50 mm

% wt

13.16

+ 2.38 – 32 mm

% wt

64.99

2.38 mm

% wt

18.45

Ash Analysis:

SiO 2

% wt

51.43

Al 2 O 3

% wt

14.92

Fe 2 O 3

% wt

10.24

TiO 2

% wt

2.03

CaO

% wt

3.76

MgO

% wt

4.20

K

2 O

% wt

0.63

Na 2 O

% wt

0.54

P

2 O 5

% wt

0.52

SO 3

% wt

11.12

MnO 2

% wt

0.10

Undetermined

% wt

0.51

Slagging Index

 

0.05

low

Fouling Index

 

0.15

low

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P heno menal

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P heno menal

Ash Fusion   Reducing Oxidicing Temperature Initial deformation 0 C 1190 1260

Ash

Fusion

 

Reducing

Oxidicing

Temperature

Initial deformation

0

C

1190

1260

Spherical

0

C

1210

1270

Hemispherical

0

C

1220

1280

Flow

 

1240

1290

0

C

4.7 Macam pengujian serta fungsinya

Parameter

Unit

Basis

Catatan

 

Total moisture

%

ar

Diperlukan untuk menghitung parameter ke as received basis

Proximate

 

adb

Analisis dasar

 

Moisture

%

 

Ash

%

Volatile matter

%

Fixed carbon

%

Calorific value

Cal/g

adb

Parameter penting

 

Total sulphur

%

adb

Ultimate

 

daf

Hasil

analisis

dalam

adb,

tetapi

pelaporan

dalam daf

 

Carbon

%

 

Hidrogen

%

Nitrogen

%

Sulphur

%

Oxygen

%

Ash

fusion

   

Diperlukan untuk memprediksi perilaku abu batubara saat proses pembakaran

temperature

Deformation

0

C

 

Spherical

0

C

0

C

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P hen o menal

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P hen o menal

Hemispherical 0 C     Flow   Ash analysis   Ignited 0 at Diperlukan untuk

Hemispherical

0

C

   

Flow

 

Ash analysis

 

Ignited

0

at

Diperlukan untuk memprediksi perilaku abu

815

C

batubara saat proses pembakaran

SiO 2

%

 

Al 2 O 3

%

Fe 2 O 3

%

TiO 2

%

Mn 3 O 4

%

CaO

%

MgO

%

Na 2 O

%

K

2 O

%

P

2 O 5

%

SO 3

%

Hardgrove

   

Untuk memperkirakan index gerus

grindability index

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P hen o menal

S impl e , I nspiri n g, Performi ng , P hen o menal