Anda di halaman 1dari 7

3.

4 Tahap Perencanaan Struktur

3.4.1 Desain Pendahuluan

Desain pendahuluan dilakukan untuk mendapatkan dimensi awal yang

digunakan untuk perancangan struktur sesuai dengan SNI-2874-2013 dan

untuk persyaratan kekuatan dan kekakuan struktur juga mengacu pada SNI-

2847-2013.

Desain pendahuluan terdiri dari :

1) Prarencana Balok

Prarencana balok merupakan tahapan perancangan awal untuk

menentukan dimensi balok, yaitu tinggi balok (h) dan lebar balok (b).

Perancangan awal ini bertujuan untuk memperoleh dimensi penampang

yang optimum terhadap kondisi struktur dan rencana pembebanan yang

akan bekerja pada struktur balok tersebut.

Diagram alir prarencana balok adalah sebagai berikut :

Gambar 3.4 Diagram Alir Prarencana Balok


2) Prarencana Pelat

Prarencana pelat lantai bertujuan untuk mendapatkan tebal pelat (h)

optimum pada suatu struktur pelat dan balok beton bertulang.

Diagram alir prarencana pelat adalah sebagai berikut :

Gambar 3.5 Diagram Alir Prarencana Pelat Lantai

3) Prarencana Kolom

Prarencana kolom merupakan tahapan untuk mendapatkan perkiraan

awal dimensi penampang kotor kolom (Ag). Dimensi penampang kolom

diperoleh dari perhitungan berdasarkan pembebanan struktur di atasnya,

yaitu beban dari pelat lantai dan balok.

Diagram alir prarencana kolom dapat dilihat pada gambar 3.6 :


Gambar 3.6 Diagram Alir Prarencana Kolom

3.4.2 Asumsi dan Perancangan

Pembebanan struktur pada penelitian berdasarkan SNI-1727-2013

tentang Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung. Beban kerja

yang dipertimbangkan bekerja pada struktur gedung adalah sesuai SNI-2847-

2013 pasal

10.2 dalam merencanakan struktur terhadap beban lentur atau aksial atau

kombinasi dari beban lentur dan aksial, digunakan asumsi sebagai berikut :

1) Distribusi regangan diasumsikan linier.

2) Regangan maksimum pada serat tekan beton terluar sama dengan 0,003.

3) Tegangan tulangan yang lebih kecil dari fy diambil sebesar Es

dikalikan dengan regangan baja ss sedangkan tegangan tulangan yang

lebih besar dari fy diambil sama dengan fy.

4) Kuat tarik beton diabaikan.


5) Hubungan antara distribusi tegangan tekan beton dengan regangan beton

diasumsikan berbentuk persegi.

3.5.3 Analisis Beban

Beban yang bekerja pada struktur utama berupa beban mati, beban

hidup dan beban gempa.

1) Beban Mati

Beban mati merupakan beban yang tetap bekerja selama bangunan ada

dan besarnya tidak berubah. Beban-beban ini langsung bekerja pada struktur

dan diletakkan pada pelat lantai. Beban mati pada pelat lantai terdiri dari :

a) Berat sendiri material yang digunakan.

b) Beban mati yang ditahan oleh penampang, seperti dinding bata, adukan

keramik, utilitas, plafond dan penggantung.

2) Beban Hidup

Beban hidup merupakan beban yang dapat berpindah atau dipindahkan

dan bekerja pada struktur, besarnya sesuai dengan fungsi dari ruang. Seperti

halnya beban mati, beban hidup bekerja di atas lantai.

3) Beban Gempa

Pembebanan struktur beban gempa berdasarkan peraturan SNI-1726-


2012.

Analisis beban gempa dilakukan dengan cara analisis gaya lateral ekivalen.

Diagram alir perhitungan gempa metode statik ekivalen adalah sebagai

berikut :
Gambar 3.7 Diagram Alir Perhitungan Gempa Metode Statik Ekivalen
3.5.4 Permodelan Struktur

Permodelan struktur beraturan dibuat berdasarkan data desain struktur

yang sudah ditentukan dengan acuan SNI-2847-2013. Permodelan dibuat

dengan data pelat, balok, dan kolom sesuai data yang didapat dari desain

pendahuluan sebagai acuan perbandingan terhadap efisiensi struktur yang

ditinjau, dengan data beban yang bekerja pada struktur mengikuti ketentuan

dalam peraturan SNI-1726-2012.

3.5.5 Periksa Kekakuan

Tahap dimana untuk memeriksa kekakuan sebuah struktur yang di

desain agar mencapai titik kekakuan yang diatur didalam peraturan SNI-

2847-2013 tentang simpangan struktur terhadap batas layan.

3.5.6 Periksa Kekuatan

Faktor di dalam sebuah desain, perencanaan,dan juga pelaksanaan dari

sebuah struktur yaitu mengenai kekuatan sebuah struktur bangunan yang

diatur didalam peraturan SNI-2847-2013 , maka memeriksa kekuatan adalah

hal yang sangat penting di dalam membangun atau konstruksi gedung.

3.6 Perhitungan Sengkang

Karena struktur pada umumnya berada dalam daerah rawan gempa bumi

maka pada saat terjadi gempa tegangan geser dapat berubah tandanya. Maka dari

itu pada setiap tulangan dibutuhkan sengkang sebagai pengikat dan pengaku di

dalam elemen struktur.


3.6.1 Metode Perhitungan Efek Pengekangan Kolom

Analisis yang digunakan pada penelitian ini menggunakan metode

perhitungan efek kekangan pada sengkang kolom. Karena perkuatan pada

daerah sengkang kolom ini sangatlah berperan penting untuk menjadi

tumpuan pada konstruksi sebuah gedung. Pada penelitian ini peningkatan

kekuatan elemen struktur ditinjau dengan memperhitungkan efek kekangan

sengkang kolom, yaitu dengan merubah fc menjadi fcc.

3.6.2 Hasil Perhitungan Sengkang Kolom

Didalam tahap ini dapat diketahui hasil yang telah dilakukan dengan

perhitungan dengan efek pengekangan sengkang pada kolom. Karena dengan

adanya pengekangan sengkang kolom akan menyebabkan meningkatnya

mutu beton dari fc ke fcc. Dengan begitu ukuran penampang kolom yang

dirancang bisa diperkecil.

3.6.3 Hasil Perbandingan Perhitungan Efek Kekangan Sengkang Kolom

Perbandingan dari kedua tahap pekerjaan perhitungan akan di dapatkan

sebuah hasil yaitu apakah dari kedua model konfigurasi struktur kolom

menghasilkan desain ukuran penampang kolom yang lebih efisien, dan

tentunya sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam peraturan SNI yang

berlaku.