Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

KIMIA ORGANIK

PEMBUATAN ETIL ASETAT

Guru Pembimbing : Sudirman Pide, ST. M.Pd

Disusun oleh:

Muhammad Fajar Rivani / 160101019

X AK A

Jurusan Analis Kimia

SMK NEGERI 1 BONTANG

TAHUN 2016/2017
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang,
Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat,
hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Kimia
Organik tentang Pembuatan Etil Asetat selesai tepat pada waktunya

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan
baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka
kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah
mikrobiologi ini

Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Atas perhatiannya kami ucapkan
terima kasih

Bontang, 9 Juni 2017

M.Fajar Rivani
DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................
A. Latar Belakang.......................................................................................................
B. Rumusan Masalah.................................................................................................
C. Tujuan Penulisan...................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................
A. Pengertian Etil Asetat............................................................................................
B. Sifat Fisik Dan Kimia Dari Etil Asetat..................................................................
...............................................................................................................................
C. Reaksi Esterifikasi.................................................................................................
D. Parameter Keberhasilan Proses Pembuatan Ester.................................................
BAB III METODE SINTESIS..........................................................................................
A. Skala Laboratorium...............................................................................................
B. Skala industri.........................................................................................................
C. Hasil dan Pembahasan...........................................................................................
BAB IV PENUTUP............................................................................................................
A. Kesimpulan............................................................................................................
B. Saran Dan Kritik....................................................................................................
DAFTAR PUSATAKA......................................................................................................
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Dalam ilmu kimia, ester merupakan turunan asam karboksilat yang mana gugus OH
pada asam karboksilat (RCOOH) diganti menjadi gugus R (alkil) sehingga menjadi ester
dengan rumus RCOOR. Reaksi pembentukan ester disebut esterifikasi. Ester yang sering
digunakan adalah etil asetat. Dimana etil asetat diperoleh dari reaksi esterifikasi antara asam
asetat (CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) dengan bantuan katalis asam sulfat (H2SO4).
Pada skala industri, etil asetat di produksi dari reaksi esterifikasi antara asam asetat
(CH3COOH) dan etanol (C2H5OH) dengan bantuan katalis asam sulfat (H2SO4). Dimana
reaksi esterifikasi adalah reaksi pembentukan ester dengan cara merefluks sebuah asam
karboksilat bersama sebuah alkohol dengan katalis asam. Asam yang digunakan sebagai
katalis biasanya adalah asam sulfat (H2SO4). Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion
H+. Produk esterifikasi disebut ester yang mempunyai sifat yang khas yaitu baunya yang
harum. Sehingga pada umumnya digunakan sebagai pengharum sintesis. Esterifikasi
dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah struktur molekul dari alkohol, suhu
prosesdan konsentrasi katalis maupun reaktan.
Ester yang sering digunakan adalah etil asetat (CH3CO2CH2CH3). Etil asetat
merupakan cairan tidak berwarna yang mempunyai berat molekul 88,12 g/mol. Zat ini
merupakan pelarut polar menengah yang volatile (mudah menguap), tidak beracun, dan tidak
higroskopis. Etil asetat dapat melarutkan air hingga 3% dan larut dalam air hingga kelarutan
8% pada suhu kamar. Kelarutannya meningkat pada suhu yang lebih tinggi. Namun
demikian, senyawa ini tidak stabil dalam air yang mengandung basa atau asam. Oleh sebab
itu dilakukan percobaan pembuatan etil asetat melalui esterifikasi alkohol dengan asam
asetat.
B. RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut :
1. Apa yang dimaksud dengan etil asetat
2. Bagaimana sifat fisik dan kimia dari etil asetat
3. Apa yang dimaksud dengan reaksi esterifikasi
4. Apa sajakah parameter keberhasilan proses pembuatan ester

C. TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai berikut:
1. Agar kita dapat mengetahui definisi dari etil asetat
2. Agar kita dapat mengetahui sifat fisik dan kimia dari etil asetat
3. Mengetahui rekasi esterifikasi
4. Mengetahui parameter keberhasilan proses pembuatan ester
BAB II
PEMBAHASAN

A. PENGERTIAN ETIL ASETAT

Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3. Senyawa ini
merupakan ester dari etanol dan asam asetat. Senyawa ini berwujud cairan tak berwarna,
memiliki aroma khas. Senyawa ini sering disingkat EtOAc, dengan Et mewakili gugus etil
dan Oac mewakili asetat. Etil asetat tidak beracun, tidak higroskopis, dan dalam skala besar
digunakan sebagai pelarut polar menengah. Etil Asetat dibuat melalui reaksi esterifikasi
Fischer dari asam asetat dan etanol. Reaksi esterifikasi Fischer adalah 18

Reaksi pembentukan ester dengan cara merefluks sebuah asam karboksilat bersama
sebuah alkohol dengan katalis asam. Asam yang digunakan sebagai katalis biasanya adalah
asam sulfat.

Secara sederhana, reaksi pembentukan etil asetat digambarkan sebagai berikut:


H3C-COOH + HO-CH2-CH3<==> H3C-COO-CH2-CH3 + H2O

B. SIFAT FISIK DAN KIMIA DARI ETIL ASETAT.


Sifat Fisik Dari Etil Asetat :
Nama sistematis : Etil etanoat ,Etil asetat.
Nama alternative : Etil ester, Ester asetat, Ester etanol.
Rumus molekul : C4H8O2.
Massa molar : 88.12 g/mol.
Densitas dan fase : 0.897 g/cm, cairan
Titik lebur : 83.6 C (189.55 K).
Titik didih : 77.1 C (350.25 K).
Penampilan : Cairan tak berwarna.
Sifat Kimia dari Etil Asetat adalah :
Pelarut polar menengah yang volatil.
Tidak beracun.
Tidak Higroskopis.
C. REAKSI ESTERIFIKASI

Reaksi esterifikasi Fischer adalah reaksi pembentukan ester dengan cara merefluks
sebuah asam karboksilat bersama sebuah alkohol dengan katalis asam. Asam yang digunakan
sebagai katalis biasanya adalah asam sulfat.

Pembentukan ester melalui asilasi langsung asam karboksilat terhadap alkohol, seperti
pada esterifikasi Fischer lebih disukai ketimbang asilasi dengan anhidrida asam ( atom yang
rendah) atau asil klorida (sensitif terhadap kelembapan). Kelemahan utama asilasi langsung
adalah konstanta kesetimbangan kimia yang rendah. Hal ini harus diatasi dengan
menambahkan banyak asam karboksilat, dan pemisahan air yang menjadi hasil reaksi.
Pemisahan air dilakukan melalui distilasi Dean-Stark atau penggunaan saringan molekul.

Dalam ilmu kimia, ester adalah campuran organik dengan symbol R yang
menggantikan suatu atom Hidrogen atau lebih. Ester juga di bentuk dengan asam yang tidak
tersusun teratur. Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi.
Esterifikasi dapat di katalisi oleh kehadiran ion H+. Ester dapat di buat oleh suatu reaksi
keseimbangan antara suatu alcohol dan suatu asam karbon. Ester dinamai menurut kelompok
alkil dari alkohol dan kemudian alkanoat ( bagian dari asam karbon ).

Reaksi esterifikasi merupakan reaksi pembentukan ester dengan reaksi langsung


antara suatu asam karbiksilat dengan suatu alcohol. Berikut ini reaksi etanol dengan asam
karboksilat:

Alkohol + Asam karboksilat menggunakan katalis asam menjadi Ester + Air.

Etanol + Asam Asetat H2SO4 Etil Ester + Air.

C2H5OH + CH3COOH CH3COOCH2 + H2O.

D. PARAMETER KEBERHASILAN PROSES PEMBUATAN ESTER

Keberhasilan proses pembuatan essen dapat dicapai, apabila dalam proses


pembuatannya memperhatikan faktor-faktor yang berpengaruh pada reaksi esterifikasi antara
lain :

a) Waktu Reaksi

Semakin lama waktu reaksi maka kemungkinan kontak antar zat semakin besar sehingga
akan menghasilkan konversi yang besar. Jika kesetimbangan reaksi sudah tercapai maka
dengan bertambahnya waktu reaksi tidak akan menguntungkan karena tidak memperbesar
hasil.

b) Pengadukan

Pengadukan akan menambah frekuensi tumbukan antara molekul zat pereaksi dengan
zat yang bereaksi sehingga mempercepat reaksi dan reaksi terjadi sempurna. Sesuai dengan
persamaan Archenius :

k = A e (-Ea/RT)

dimana, T = Suhu absolut ( C)

R = Konstanta gas umum (cal/gmol K)

Ea = Tenaga aktivasi (cal/gmol)

A = Faktor tumbukan (t-1)

k = Konstanta kecepatan reaksi (t-1)

Semakin besar tumbukan maka semakin besar pula harga konstanta kecepatan reaksi.
Sehingga dalam hal ini pengadukan sangat penting mengingat larutan minyak-katalis-metanol
merupakan larutan yang immiscible

c) Katalisator

Katalisator berfungsi untuk mengurangi tenaga aktivasi pada suatu reaksi sehingga
pada suhu tertentu harga konstanta kecepatan reaksi semakin besar. Pada reaksi esterifikasi
yang sudah dilakukan biasanya menggunakan konsentrasi katalis antara 1-4 % berat sampai
10 % berat campuran pereaksi (Ketta 1978).

d) Suhu Reaksi

Semakin tinggi suhu yang dioperasikan maka semakin banyak konversi


yangdihasilkan, hal ini sesuai dengan persamaan Archenius. Bila suhu naik maka harga k
makin besar sehingga reaksi berjalan cepat dan hasil konversi makin besar.

e) Perbandingan zat pereaksi

Reaksi esterifikasi bersifat reversible, maka salah satu pereaktan harus dibuat berlebih
agar optimal dalam pembentukan produk essen yang ingin dihasilkan
BAB III
METODE SITESIS
A. Skala Laboratorium :
a) Alat dan bahan yang digunakan
Alat-alat yang digunakan pada praktikum ini adalah
a. Labu alas bulat 250 ml
b. Pendingin air untuk refluks
c. Pendingin Liebig
d. Corong pisah 250 ml
e. Gelas piala 200 ml, Erlenmeyer 250 ml
f. Corong
g. Labu destilasi 100 ml
h. Termometer
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah
a. Etanol 50 ml
b. Asam sulfat pekat 10 ml
c. Asam asetat glasial 50 ml
d. Kalsium klorida anhidrat 25 gram
e. Karbon aktif
f. Natrium karbonat 30%
B. Skala industri

Pada skala industri, etil asetat diproduksi dari reaksi esterifikasi antara asam
asetat(CH3COOH) dan etanol (C2H5OH), dengan bantuan katalis dalam suasana asam
(H2SO4) dan mengikuti reaksi berikut:

C2H5OH + CH3COOH CH3COOCH2CH3 + H2O

Selain melalui reaksi di atas, etil asetat juga diproduksi secara komersil melalui reaksi
antara etilen dan asam asetat. Namun, dari sisi keekonomian, etil asetat dari etanol dan
asam asetat lebih kompetitif.
C. Hasil dan pembahasan

a) Hasil

Skala laboratorium :

NO Perlakuan Campuran Homogen


1 50 ml etanol + 50 ml asam asetat + 10 Campuran homogen
ml H2SO4 pekat sambil dinaikkan dan
dikocok
2 Campuran direfluks selama 10 menit Terbentuk 2 lapisan
lalu didestilasi hingga 2/3 dari volume
semua
3 Destilat + 25 ml Na2CO3 dimasukkan Terbentuk 2 lapisan
dalam corong pisah (berisi eril asetat),
dikocok dan didiamkan
4 Lapisan atas + 25g CaCl3 + 25 ml air Larutan Keruh
dimasukkan dalam corong pisah (berisi
etil asetat), dikocok dan didiamkan
5 Lapisan atas + Kalsium clorida dihidrat, Larutan keruh
dibiarkan selama 20 menit
6 Filtrat (46 ml) didestilasi Pada suhu (35-40C) diperoleh dietil
eter
Pada suhu (74-79C) diperoleh 20 ml
etil asetat

Volume destilat
Rendemen 100
Volume sampel

20 ml
100
46 ml

43,5

b) Pembahasan
Asam karboksilat dapat diubah menjadi turunan-turunannya, yaitu dengan mengganti
bagian hidroksil dari gugus karboksil dengan macam-macam gugus. Salah satu turunan dari
asam karboksilat yang dibahas dalam percobaan ini adalah ester yaitu senyawa yang
diturunkan dari asam dengan mengganti gugus OH dengan gugus OR. Dalam percobaan ini,
senyawa ester yaitu etil asetat disintesis dengan berdasarkan reaksi esterifikasi. Reaksi ini
merupakan reaksi substitusi nukleofilik bimolekuler (SN 2) yaitu suatu reaksi yang serentak
karena reaksi pemutusan ikatan yang lama dan pembentukkan ikatan yang baru terjadi secara
bersamaan.

Senyawa etil asetat yang dibuat dalam percobaan ini adalah ester dari etanol dan asam
asetat, dengan wujud berupa cairan tak berwarna dan memiliki aroma khas. Esterifikasi pada
dasarnya adalah reaksi yang bersifat reversibel (dapat balik) karena ketika asam karboksilat
yaitu asam asetat dan alkohol yaitu etanol dipanaskan untuk bereaksi maka akan terjadi reaksi
kesetimbangan antara ester dan air. Artinya bahwa ester dan air yang terbentuk dapat kembali
menghasilkan reaktan-reaktannya yaitu asam asetat maupun etanol. Oleh karena itu, untuk
memperoleh hasil reaksi yang banyak maka diusahakan agar reaksi cenderung bergeser ke
arah produk yaitu dengan cara reaktan dibuat berlebih yang dalam percobaan ini etanol dibuat
berlebih ketika direaksikan dengan asam asetat.

Pada percobaan pembuatan etil etanoat ini, mula-mula gugus karbonil asam asetat
diprotonasi oleh katalis asam (gugus H+). Dimana pada percobaan ini di gunakan H2SO4
pekat sebagai katalis. Tampak bahwa penambahan katalis dilakukan secara perlahan-lahan
sambil didinginkan dan dikocok. Penambahan perlahan-lahan asam ini bertujuan agar
campuran cepat homogen dan untuk menghindari terjadinya degradasi campuran beraksi
(asam asetat dengan etanol), kemudian juga bertujuan untuk menghindari hal-hal yang tidak
diinginkan (misalnya H2SO4 menguap), mengingat bahwa sifat reaksi H2SO4 yang eksoterm.

Proses protonasi sangat dibutuhkan dalam reaksi ini, karena dapat menaikan muatan
positif pada atom karbon karbonil. Karena tanpa adanya H +, oksigen yang terikat pada C
karbonil memiliki keelektornegatifan yang besar sehingga adanya efek imbas indeks dapat
menyebabkan C karbonil berkurang keelektronegatifannya karena O akan cenderung
memberikan elektoronegatifan. Akan tetapi dengan adanya prtonasi pada oksigen karbonil
menyebabkan oksigen lebih cenderung memberikan elektron pada H+ sehingga muatan positif
dari karbon karbonil meningkat dan menyebabkan keadaan yang baik penyerangan
nukleofilik. Dimana yang bertindak sebagai gugus nukleofilik di sini adalah gugus OH dari
etanol. Gugus OH merupakan gugus masuk yang baik sehingga akan menyerang karbon
karbonil pada asam asetat yang telah terprotonasi.
Pada tahap ini terjadi adisi nukloefilik, yakni gugus OH (pada etanol) kemudian
terjadi ikatan C-O yang baru atau ikatan ester baru. Setelah adisi nukleofilik maka reaksi
dilanjutkan dengan deprotonasi/penghilangan gugus H+ pada ikatan ekster yang baru.
Deprotonasi ini dilakukan dengan tujuan untuk membentuk ikatan C-O yang stabil

Karena digunakan katalis asam dari reaksi akan terbentuk kembali H+. hal ini
memberikan peluang untuk terjadinya protonasi. Protonasi ini sangat di butuhkan karena
melihat bahwa OH pada gugus asam asetat merupakan gugus pergi yang jelek karna OH
memiliki keelektonegatifan sehingga kemampuan untuk terikat pada C yang parsial (+)
sangat besar (karena adanya perbedaan momen dipol menyebabkan OH enggan pergi). Untuk
itu dibutuhkan protonasi hingga terbentuk H2O yang merupakan gugus pergi yang baik.
Pada tahap akhir dari reaksi ini adalah lepasnya air dan putusnya ikatan C-O. akan
tetapi karena reaksi ini merupakan kesetimbangan maka air yang dilepaskan akan menyerang
kembali gugus karbonil yang terprotonasi. Ester yang dihasilkan (yang berprotonasi) akan
melepaskan protonnya dan membentuk etil asetat/etil etanoat sebagai produk akhir.

Reaksi di atas merupakan reaksi reversibel atau reaksi kesetimbangan. Sehingga


untuk mendapatkan produk yang besar maka kesetimbangan harus digeser ke kanan, dengan
menambahkan alkohol berlebihan. Akan tetapi, ada efek dari penambahan alkohol berlebih
karena reaksi akan mengalami trans-esterifikasi yakni akan menghasilkan hasil samping
selain produk induk.

Hal yang sama juga terjadi pada pembuatan etil etanoat karena kita menggunakan
alkohol berlebih maka kemungkinan untuk bereaksi dengan katalis asam sangat besar.
Akibatnya, etanol akan bereaksi dengan katalis asam sangat besar. Akibatnya, etanol akan
bereaksi dengan H2SO4 (sebagai katalis) membentuk hasil samping berupa dietil eter.

Pada pembuatan etil asetat ini, campuran (etanol + asam asetat + H 2SO4) terlebih
dahulu direfluks. Refluks ini adalah proses penambahan panas pada suatu larutan sehingga
dapat meningkatkan energi aktivitas. Proses refluks ini bertujuan menghomogenkan larutan.
Selain itu refluks juga berfungsi untuk memutuskan ikatan rangkap dari karbon karbonil
dengan oksigen (CO) sehingga akan memudahkan gugus OH (sebagai Nu-) untuk
menyerang karbon karbonil. Dengan kata lain produk etil asetat yang diinginkan dapat
diperoleh dalam jumlah besar. Setelah direfluks maka dilanjutkan dengan destilasi hingga
diperoleh 2/3 dari volume sebelumnya. Proses destilasi ini bertujuan memisahkan etil etanoat
(etil asetat) dengan air atau dengan kata lain untuk mendapatkan etil asetat murni. Karena
produk lain dari reaksi esterifikasi adalah H2O yang dapat dipisahkan dengan destilat karena
antara air dan etil asetat memiliki perbedaan titik didih (air : 1000C sedangkan etil asetat :
770C). Sehingga destilat (memiliki titik didih rendah akan keluar terlebih dahulu) adalah etil
etanoat (etil asetat).

Destilat, kemudian ditambahkan natrium karbonat 30% (Na2CO3). Penambahan ini


dimaksudkan untuk mengekstraksi asam sisa dalam larutan etil asetat karena Na 2CO3
memiliki kemampuan untuk mengekstrak asam sisa menghasilkan garam natrium yang larut
dalam air. Dari hasil percobaan terlihat bahwa garam natrium yang larut dalam air ini berada
pada lapisan bawah sedangkan senyawa-senyawa organik berada pada lapisan atas.
Pembentukan 2 lapisan ini disebabkan oleh adanya perbedaan massa jenis, dimana garam
natrium yang larut dalam air memiliki massa jenis yang lebih besar daripada senyawa organik
yang terbentuk. Selain itu, kepolaran juga sangat mempengaruhi terjadinya pemisahan lapisan
ini, dimana garam natrium dalam air ini bersifat polar sedangkan senyawa-senyawa organik
yang dihasilkan (etil asetat dan dietil eter) bersifat non polar. Berdasarkan sifat kelarutannya,
senyawa polar tidak akan larut dalam pelarut non polar dan begitu pula sebaliknya, pelarut
polar tidak dapat melarutkan senyawa non polar.

Perlakuan selanjutnya adalah penambahan larutan kalsium klorida (CaCl 2) ke dalam


larutan yang diperoleh. Penambahan larutan ini bertujuan agar ion Ca 2+ dapat menarik ion-ion
karbonat yang ditambahkan sebelumnya, sehingga membentuk garam CaCl 2 dan CaCO3,
yang juga dapat dengan mudah dipisahkan dengan produk yang diinginkan karena CaCl 2 dan
CaCO3 membentuk endapan yang berada di dasar wadah karena memiliki massa jenis yang
lebih besar dari produk yang diinginkan. Kemudian setelah lapisan atas dipisahkan, maka
ditambahkan kalsium klorida anhidrous. Penambahan ini bertujuan agar ion-ion karbonat
yang masih ada dalam larutan dapat ditarik oleh adanya ion Ca 2+. Sehingga diharapkan
dengan penambahan CaCl2 anhidrous dapat diperoleh larutan yang benar-benar murni.
Setelah penambahan kalsium klorida anhidrous maka dilanjutkan dengan penutupan larutan.
Hal ini dilakukan agar larutan yang kita peroleh tidak banyak menguap, mengingat bahwa
sifat dari etil asetat adalah mudah menguap. Sedangkan untuk perlakuan, dimana larutan
didiamkan dengan tujuan agar mempercepat terbentuknya endapan CaCl2.

Proses destilasi ini menghasilkan etil asetat murni yang ditampung pada erlenmeyer
sedangkan air tetap tertinggal dalam labu alas bulat. Untuk itu, dalam percobaan ini proses
destilasi digunakan untuk memisahkan dietil eter (sebagai hasil samping) dengan etil asetat
yang diinginkan, berdasarkan perbedaan titik didih kedua senyawa tersebut. Karena titik
didih dietil eter lebih kecil yakni 350 C 400 C sedangkan titik didih etil asetat adalah 740
C 770 C, sehingga yang keluar sebagai destilat yang ditampung sebagai produk yang
diinginkan ditampung pada suhu 740 C 770 C, yakni destilat etil asetat (etil etanoat).
Pada percobaan ini, destilat yang diperoleh setelah destilasi adalah sebanyak 20 mL dari 46
mL volume sebelum destilasi. Sehingga diperoleh rendemen sebesar 43,5 %. Rendemen ini
diperoleh dengan membandingkan volume destilat dengan volume sampel.

BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Dalam percobaan ini, senyawa ester yaitu etil asetat disintesis dengan berdasarkan
reaksi esterifikasi. Reaksi ini merupakan reaksi substitusi nukleofilik bimolekuler (SN 2) yaitu
suatu reaksi yang serentak karena reaksi pemutusan ikatan yang lama dan pembentukkan
ikatan yang baru terjadi secara bersamaan.

Etil asetat adalah senyawa organik dengan rumus CH3CH2OC(O)CH3. Senyawa etil
asetat yang dibuat dalam percobaan ini adalah ester dari etanol dan asam asetat, dengan
wujud berupa cairan tak berwarna dan memiliki aroma khas. Esterifikasi pada dasarnya
adalah reaksi yang bersifat reversibel (dapat balik) karena ketika asam karboksilat yaitu asam
asetat dan alkohol yaitu etanol dipanaskan untuk bereaksi maka akan terjadi reaksi
kesetimbangan antara ester dan air. Artinya bahwa ester dan air yang terbentuk dapat kembali
menghasilkan reaktan-reaktannya yaitu asam asetat maupun etanol. Oleh karena itu, untuk
memperoleh hasil reaksi yang banyak maka diusahakan agar reaksi cenderung bergeser ke
arah produk yaitu dengan cara reaktan dibuat berlebih yang dalam percobaan ini etanol dibuat
berlebih ketika direaksikan dengan asam asetat.

B. SARAN DAN KRITIK

Penulis menyadari bahwa penulisan makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh
karena itu kami sangat membutuhkan saran serta kritik dari pembaca yang sifatnya
membangun agar penulisan makalah makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi. Atas
perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR PUSTAKA

Penulis, 2014, Kimia Organik Kelas X, Jakarta : Direktorat Pembinaan Sekolah


Menengah Kejuruan

http://pahrutendo94.blogspot.co.id/2016/04/laporan-praktikumpembuatan-etil-
asetat.html
https://www.scribd.com/doc/67734062/Makalah-Kimia-Organik-Etil-Asetat