Anda di halaman 1dari 14

PENGARUH PENERAPAN MODEL BLENDED LEARNING

TERHADAP PRESTASI BELAJAR SEJARAH SISWA

Arif Permana Putra, M.Pd.1


1
Dosen Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Jln. Raya Ciwaru No. 25
Serang Banten. Hp. +6281291592245
arifpermana2013@gmail.com

Abstract

The method uses in this research is experimental method. The sample data acquired using
multi stage sampling technique. Analysis data technique uses two way anava. The results of the
research are: (1) there are significant effects in the using of blended learning method and
interactive approach on the historical major students achievement (Fcomputing > Ftable or 17,320 >
3,11); (2) there is no significant effect on the historical major students achievement between IPS
and IPA (Fcomputing < Ftable or 0,060 < 3,11); and (3) learning approach and the historical major
students achievements, it can be seen by the result (Fcomputing < Ftable atau 0,405 < 3,11).

Keywords: Learning Method, Blended Learning, Interactive, Majority Group, History Major
Students Achievements.

1. PENDAHULUAN Dengan berkembangnya ICT


Perkembangan teknologi informasi dan memunculkan berbagai pembelajaran secara
komunikasi berkembang begitu cepat, online atau web-school atau cyber-school yang
sehingga menuntut sumber daya manusia yang menggunakan fasilitas internet. Salah satu
bisa tanggap akan perkembangan tersebut. pembelajaran yang menggunakan aplikasi ICT
Pengaruh teknologi informasi dan komunikasi (komputer dan internet) dikenal dengan nama
dalam dunia pendidikan semakin terasa sejalan Blended Learning. Istilah Blended Learning
dengan adanya pergeseran pola face to face digunakan untuk mendeskripsikan situasi
learning yang konvensional ke arah pembelajaran yang memadukan beberapa
pendidikan yang lebih terbuka dan bermedia. metode pembelajaran sekaligus pada sebuah
Dalam dunia pendidikan, perkembangan atmosfer pembelajaran yang menetapkan
teknologi sangat mempengaruhi akan sebuah tujuan menciptakan proses pembelajaran yang
model pembelajaran yang berdasarkan teori- efektif dan efisien (Harriman, 2007).
teori belajar yang ada. Dalam proses Pembelajaran ini memadukan pembelajaran di
pembelajaran, guru sebagai salah satu sumber kelas (classroom lesson) dengan online
daya manusia tentunya memegang peranan learning yang dilakukan oleh pendidik.
penting keberhasilan dan keefektifan sebuah Penerapan Blended Learning ini bisa
pendidikan. dilakukan kapan pun baik secara bergantian
maupun secara bersamaan antara metode face

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


to face learning dan pembelajaran secara proses pembelajaran sejarah yang tidak
online, maka pembelajaran ini dapat menarik. Pertama, pembelajaran sejarah
diterapkan pada mata pelajaran apa pun, adalah pembelajaran yang ketinggalan zaman,
termasuk mata pelajaran sejarah. membosankan karena hanya menghafal, dan
Sejarah merupakan alat untuk cerita melulu. Kedua bahwa metode sajiannya
menghidupkan dan memelihara gagasan monoton dan untuk menguasainya dibutuhkan
tentang bangsa yaitu menularkan nilai-nilai kemampuan menghafal yang luar biasa, dan
luhur, melestarikan budaya, memupuk ketiga, anggapan yang kurang mengesankan
kebanggaan nasional dan menggalang ini terajut dari kesan pembelajaran sejarah
persatuan dan kesatuan bangsa (Asvi Warman sebagai produk masa lampau yang dalam
Adam, 2010). Oleh karena itu, pembelajaran penyajiannya tidak relevan dengan konteks
sejarah penting untuk siswa sebagai pewaris sosial siswa masa kini (out up date). Faktor
yang meneruskan nilai-nilai luhur bangsa. keempat yang perlu diperhatikan adalah,
Pembelajaran sejarah sebagai pondasi kurangnya perhatian pemerintah menempatkan
untuk membangun karakter bangsa pada sejarah secara proporsional. Jam pembelajaran
prakteknya mulai dianggap kurang penting. sejarah di institusi pendidikan terlalu sedikit
Hal ini terlihat dengan adanya pengurangan dibandingkan dengan ilmu pasti. Kondisi
jam pelajaran pada saat menjelang Ujian seperti itu juga terjadi di Sekolah Menengah
Nasional akan dilaksanakan di sekolah Atas (SMA) Negeri di Wonogiri.
khususnya untuk siswa kelas XII. Materi yang Pemilihaan model pembelajaran yang
diprioritaskan adalah materi yang akan diterapkan di sekolah berpengaruh terhadap
digunakan dalam Ujian Nasional (UN). tingkat penyerapan ilmu bagi siswa. Selama
Standar yang tinggi dianggap mata pelajaran ini, SMA Negeri di Wonogiri proses
UN seperti harus diberikan jam tambahan pembelajaran belum banyak menggunakan
dengan mengorbankan mata pelajaran yang model pembelajaran yang inovatif. Waktu
dianggap bisa dipelajari sendiri, misalnya mata yang terbatas juga menjadi penyebab kurang
pelajaran sejarah. Di sisi lain guru dituntut maksimalnya penyampaian materi bahan ajar
untuk menyelesaikan materi pelajaran sejarah guru kepada siswa, sehingga berakibat
yang harus dituntaskan sesuai kurikulum yang kurangnya daya serap siswa terhadap materi
telah ditentukan dengan alokasi waktu yang yang diajarkan. Hal semacam ini
kurang. Sehingga dibutuhkan strategi khusus menyebabkan siswa kesulitan mendapatkan
untuk tetap mencapai tujuan pembelajaran. informasi yang sesuai, kecenderungan siswa
Menurut Andreas Priyono (2004) ada menganggap pelajaran sejarah tidak perlu
beberapa kemungkinan link error dalam dipelajari sehingga malas untuk membaca

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


sendiri materi yang harus dipelajari. kelompok jurusan juga terdapat perbedaan.
Sedangkan guru juga mengalami kesulitan Untuk jurusan IPS alokasi waktu yang
untuk menyampaikan dengan tuntas materi disediakan lebih banyak dari pada jurusan
yang ada. Oleh karena itu diperlukan adanya IPA. Oleh karena itu, beban materinya juga
penerapan model Blended Learning untuk berbeda, sehingga mempengaruhi prestasi
mempermudah guru untuk menyampaikan belajar siswa.
materi dan siswa mudah untuk menyerap Seperti halnya memilih model
materi yang disampaikan kelas XII jurusan pembelajaran yang tepat, alasan pemilihan
IPS dan IPA. materi reformasi karena melihat isu
Penerapan model Blended Learning untuk kontroversial yang terjadi akhir-akhir ini di
mempermudah guru dalam menyampaikan Tunisia, Mesir, Libya yang melakukan
materi sehingga siswa mudah untuk menyerap revolusi memiliki dampak sosial, politik, dan
materi yang disampaikan di kelas XII jurusan ekonomi di Afrika. Pengorganisasian massa
IPS dan IPA. Model pembelajaran ini terdiri dengan kecanggihan teknologi melalui jejaring
terdiri atas 4 tahapan instruksional dari Alessi sosial. Oleh sebab itu, penting kiranya
dan Trollip (2002), yakni tahapan satu memberikan materi reformasi untuk siswa
(pressting information) dan tahapan kedua SMA melalui model Blended Learning agar
(guiding the learner) menggunakan tidak menimbulkan pemahaman yang salah.
pembelajaran tatap muka (face to face Selain itu, peristiwa reformasi di Indonesia
learning), sedangkan tahapan ketiga sudah tersimpan dalam bentuk file baik bentuk
(practicing) dan tahapan keempat (assessing tertulis dan video mengenai peristiwa 1998
learning) menggunakan pembelajaran berbasis yang lengkap untuk diaplikasikan ke dalam
web (web-based learning) (Luik, 2006). pembelajaran melalui media web. Oleh karena
Karakteristik materi mata pelajaran itu perlu diterapkan model Blended Learning
sejarah yang diajarkan pada jenjang SMA sejarah yang dapat digunakan untuk
untuk kelas XII IPS dan IPA memiliki arti melengkapi proses pembelajaran yang tidak
strategis dalam pembentukan watak dan terbatas oleh jarak, tempat dan waktu.
peradaban bangsa yang bermartabat serta Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
dalam pembentukan manusia Indonesia yang di atas, maka permasalahan mengenai model
memiliki rasa kebangsaan dan cinta tanah air. pembelajaran sejarah dengan materi reformasi
Beban materi yang harus dipelajari siswa layak untuk diteliti lebih lanjut. Sehingga
berbeda untuk mata pelajaran sejarah jurusan judul penelitian ini adalah Pengaruh
IPS dan IPA kelas XII sehingga kedalaman Penerapan Model Blended Learning terhadap
pencapaian kompetensi dari masing-masing

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


Prestasi Belajar Sejarah Ditinjau dari tersebut adalah sebagai berikut: (1) Variabel
Kelompok Jurusan.. bebas pertama, yaitu penerapan model
Blended Learning dan model pembelajaran
2. METODE PENELITIAN interaktif; (2) Variabel bebas kedua adalah
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah kelompok jurusan yang terdiri atas dua
Menengah Atas (SMA) Negeri di Wonogiri. kategori, yaitu Kelompok Jurusan IPS dan
Dalam hal ini penelitian akan dilaksanakan di IPA; (3) Variabel ketiga penelitian ini sebagai
SMA Negeri 1 Wonogiri, SMA Negeri 2 variabel terikat adalah prestasi belajar sejarah
Wonogiri dan SMA Negeri 3 Wonogiri kelas kelas XII SMA Negeri di Wonogiri. Cara
XII pada semester I tahun pelajaran pengambilan sampel dilakukan dengan
2011/2012. Dipilihnya ketiga sekolah tersebut multistage cluster random sampling, yaitu
karena memiliki karakteristik sekolah yang pemilihan sampel secara acak dari kelompok
sama sehingga memiliki kemampuan SMA Negeri yang ada di Kabupaten
akademik yang sama, selain itu sekolah Wonogiri. Kelas eksperimen diberi penerapan
tersebut memiliki fasilitas yang lengkap model Blended Learning pada materi
diantaranya adanya area hotspot, lab komputer reformasi, sedangkan kelas kontrol dikenai
lengkap dengan LCD sehingga dapat perlakuan model pembelajaran interaktif.
mendukung proses pembelajaran sejarah Rancangan desain penelitian pada kelompok
dengan menerapkan model Blended Learning. eksperimen dan kelompok kontrol disajikan
Penelitian ini merupakan penelitian pada tabel 1.
kuantitatif dengan menggunakan pendekatan Tabel 1. Rancangan Desain Penelitian
eksperimen. Menurut Sugiyono (2010: 72)
Model Pembelajaran
Penelitian eksperimen dapat diartikan sebagai (A)
metode penelitian yang digunakan untuk Blended
Interaktif
Learning
mencari pengaruh perlakuan tertentu terhadap (2)
(1)
yang lain terhadap kondisi yang IPS
Kelompok A 1 B1 A 2 B1
(1)
terkendalikan. Desain penelitian yang Jurusan
IPA
(B) A 1 B2 A 2 B2
digunakan adalah desain faktorial 2 x 2 (2)

dengan teknik analisis varian (Two Way


Metode pengumpulan data dalam
Anava). Dalam penelitian ini melibatkan tiga
penelitian ini adalah: metode tes. Tes yang
variabel, yaitu dua variabel bebas (model
diberikan merupakan pencerminan dari tingkat
pembelajaran dan kelompok jurusan) serta
penguasaan materi sejarah yang telah
satu variabel terikat, yaitu prestasi belajar
diajarkan. Tes berisi pelajaran sejarah pokok
sejarah. Uraian dari ketiga variabel penelitian
materi reformasi. Metode Analisis Data,

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


Analisis data merupakan langkah terpenting (homogenitas) dua kelompok yang
dalam penelitian karena dari analisis data dibandingkan, sedangkan jika nilai sig. atau
dapat disimpulkan berdasarkan hipotesis. signifikansi < 0,05 atau > 0.95 maka dapat
Analisis data dilakukan pada tahap awal dan dikatakan bahwa tidak terdapat kesamaan
tahap akhir, yaitu uji normalitas, uji varians (homogenitas) dua kelompok yang
homogenitas, uji hipotesis dengan dibandingkan.
menggunakan teknik analisis varians dua jalan Uji hipotesis dalam analisis data
(desain faktorial 2 x 2) dan dilanjutkan dengan penelitian menggunakan teknik analisis
uji komparasi ganda Scheffe. varians dua jalan (desain faktorial 2 x 2) pada
Uji normalitas menggunakan rumus taraf signifikansi 0,05 dan dilanjutkan dengan
Lilliefors Significance Correction dari uji komparasi ganda Scheffe. Analisis tahap
Kolmogorov-Smirnov sebagai berikut : akhir dilakukan setelah kedua kelompok
L = Maks F z i S z i diberi tes hasil belajar sejarah pokok materi
reformasi menggunakan model Blended
Dengan F z i = P(Zz): Z ~ N (0,1)
Learning dengan model pembelajaran
S(z i ) = proporsi cacah zz i , terhadap interaktif
seluruh z i
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
X X
zi = 1 Pelaksanaan penelitian pada kelompok
s
eksperimen sebanyak 4 kali pertemuan.
Uji normalitas ditujukan terhadap H0
Pertemuan pertama digunakan untuk pre test
yang menyatakan bahwa sampel berasal dari
dan pertemuan terakhir digunakan untuk post
populasi yang terdistribusi secara normal.
test. Perangkat tes yang digunakan pada pre
Penerimaan atau penolakan H0 didasarkan
test dan post test sama. Tahapan pelaksanaan
pada kriteria jika nilai signifikansi > 0,05
pembelajaran pada kelompok eksperimen
maka distribusi data normal, sedangkan jika
adalah: (1) Apersepsi untuk mengetahui sejauh
nilai signifikansi < 0,05 maka distribusi data
mana pengetahuan siswa tentang materi
tidak normal (Budiyono, 2009: 170-171).
reformasi yang meliputi reformasi, munculnya
Uji homogenitas variansi populasi
reformasi, jatuhnya orba, dan masa reformasi;
menggunakan uji Levenees test of homogenity
(2) Penyampaian model Blended Learning dan
of variance pada taraf signifikansi = 0,05 %.
umpan balik serta cara penilaiannya; (3)
Penerimaan atau penolakan homogenitas
Motivasi yaitu mengingatkan siswa untuk
didasarkan pada kriteria jika nilai signifikansi
mandiri dalam belajar dengan media berbasis
> 0,05 dan < 0.95 maka dapat dikatakan
web dengan Blog
bahwa terdapat kesamaan varians

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


http://sejarahku2011.blog.com/, pelajaran Uji keseimbangan ini dilakukan dengan
sejarah lebih kaya sumber sehingga siswa melihat apakah antara kelas eksperimen dan
dapat mengembangkan imajinasinya. Hasil tes kelas kontrol telah sepadan atau sama
uji prestasi reformasi siswa setelah mengikuti keadaannya sebelum diberi perlakuan yang
pembelajaran dari kedua kelompok diambil berbeda. Untuk uji keseimbangan tersebut
dari nilai post test, (tabel 2). diambil dari nilai UTS siswa kelas XII

Tabel 2. Data Uji Prestasi Belajar Siswa semester gasal tahun ajaran 2011/2012 yaitu
untuk kelas eksperimen memiliki Mean

Eksper K 74,8667, Standar Deviasi () 6,90194 dengan

imen ontrol jumlah siswa 30, sedangkan untuk kelas

N 30 30 kontrol dengan jumlah siswa 30 diperoleh

Mean 20,433 17,600 Mean 74,0000, Standar Deviasi () 4,59385.

Variansi 7,909 5,628 Hasil uji keseimbangan tersebut menggunakan

Standar 2,812 2,372 uji Independent Sample Test dengan

Deviasi menggunakan bantuan SPSS 19 dari kelompok


eksperimen memiliki taraf signifikansi 0,569,
Max 25,00 23,00
sedangkan untuk kelas kontrol memiliki nilai
Min 14,00 13,00
signifikansi 0,569. Berdasarkan hasil uji
statistik dengan SPSS 19 dapat disimpulkan
Berdasarkan hasil analisis post test, rata-
bahwa kelompok eksperimen dan kelompok
rata prestasi belajar siswa kelompok
kontrol dalam keadaan seimbang.
eksperimen mencapai 20,433 sedangkan siswa
Uji normalitas populasi menggunakan
kelompok kontrol mencapai 17,600. Hasil
data nilai post test sejarah materi reformasi.
belajar tertinggi kelompok eksperimen dapat
Hasil uji normalitas data post test disajikan
mencapai 25,00 terendah 14,00. Pada
pada tabel 3. Berdasarkan perhitungan statistik
kelompok kontrol, nilai tertinggi 23,00 dan
dengan menggunakan SPSS 19 data prestasi
terendah 13,00.
belajar sejarah dengan model Blended
Setelah data yang berhubungan dengan
Learning pada materi Reformasi diperoleh
variabel telah dikumpulkan, maka akan
hasil perhitungan N=30, dengan nilai
dilakukan uji hipotesis dengan menggunakan
probabilitas = 0.05 diperoleh harga statistik
Anava dua jalan. Untuk itu terlebih dahulu
Kolmogorov-Smirnov 0,620 dengan tingkat
diperlukan uji prasyarat yang harus dipenuhi
signifikansi kenormalan sebesar 0,837,
dalam Anava yaitu uji normalitas data, uji
sedangkan data prestasi belajar Sejarah dengan
homogenitas dengan terlebih dahulu
penerapan model pembelajaran interaktif pada
melakukan uji keseimbangan.

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


materi Reformasi diperoleh hasil perhitungan ini menggunakan teknik Anava Dua Jalan
N=30, dengan nilai probabilitas = 0.05 (Two Way Anava). Dari hasil perhitungan
diperoleh harga statistik Kolmogorov-Smirnov dengan menggunakan teknik Anava Dua Jalan
1,094 dengan tingkat signifikansi kenormalan (Two Way Anava).
sebesar 0,183. Sehingga dapat disimpulkan Berdasarkan hasil pengujian hipotesis di
kenormalan untuk data pada dua kelompok ini atas, berikut ini dikemukakan pembahasan
dapat terpenuhi. Berdasarkan hasil analisis ini hasil penelitian yang dilakukan berdasarkan
dapat digunakan sebagai pertimbangan dalam interpretasi data hasil tes prestasi belajar pada
analisis selanjutnya yaitu menggunakan materi Reformasi: (1) Terdapat perbedaan
statistika parametrik. pengaruh prestasi belajar Sejarah pada materi
Uji homogenitas varians dilakukan untuk Reformasi antara siswa yang diajar dengan
menunjukkan bahwa populasi-populasi dari menggunakan model Blended Learning pada
sampel penelitian ini bersifat homogen atau materi Reformasi dan model pembelajaran
memiliki variansi yang sama. Pengujian interaktif kelas XII SMA Negeri di Kabupaten
homogenitas variansi populasi menggunakan Wonogiri. Pada pengujian pertama, diperoleh
uji Levenees test of homogenity of variance Fhitung 17,320 hasil ini dibandingkan dengan
dihitung dengan menggunakan SPSS 19 untuk Ftabel = 3,11 (=5%) sehingga Fhitung 17,320 >
menguji bahwa setiap kategori variabel Ftabel = 3,11 maka dapat disimpulkan bahwa
independent memiliki variansi yang sama. terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan
Dari hasil perhitungan tersebut diperoleh antara model Blended Learning dan model
Fhitung = 0,637 selanjutnya dan nilai pembelajaran interaktif terhadap prestasi
signifikansi pada 0,594 (p>0,05) dengan taraf belajar sejarah pada materi Reformasi. Hal ini
signifikansi 0,05 diperoleh Ftabel = 2,92 , maka melihat dari hasil rerata prestasi belajar sejarah
dapat diketahui Fhitung < Ftabel = 0,637 < 2,92. pada materi Reformasi dengan penerapan
dengan demikian dapat disimpulkan bahwa model Blended Learning sebesar 20,433 dan
varian keempat kelompok sampel tersebut rerata prestasi belajar sejarah pada materi
memiliki kesamaan varian atau keempat Reformasi dengan penerapan model
kelompok tersebut homogen. pembelajaran interaktif sebesar 17,600
Setelah asumsi yang diperlukan dalam sehingga prestasi belajar sejarah pada materi
analisis variansi terpenuhi, maka akan Reformasi dengan model Blended Learning
dilakukan uji analisis variansi dua jalan. lebih baik dibandingkan dengan model
Pengujian hipotesis dilakukan untuk pembelajaran interaktif. Pembelajaran sejarah
mengetahui apakah hipotesis yang dirumuskan merupakan sarana untuk menghidupkan dan
terbukti. Pengujian hipotesis dalam penelitian memelihara gagasan tentang bangsa yaitu

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


menularkan nilai-nilai luhur, melestarikan dan kondisi masyarakat di masa lalu.
budaya, memupuk kebanggaan nasional dan Penggunaan web yang memuat gambar, audio,
menggalang persatuan dan kesatuan bangsa audiovisual tidak saja menghasilkan cara
(Asvi Warman Adam, 2010). Pembelajaran belajar yang efektif dalam waktu yang lebih
sejarah sebagai pondasi untuk membangun singkat, tetapi apa yang diterima mudah
karakter bangsa pada prakteknya mulai dipahami dan diingat (Amir Hamzah
dianggap kurang penting. Hal ini terlihat Sulaiman, 1981: 18). Untuk mencapai
dengan adanya pengurangan jam pelajaran peningkatan prestasi belajar tersebut guru
pada saat menjelang Ujian Nasional akan dituntut menggunakan berbagai cara dalam
dilaksanakan di sekolah khususnya untuk pembelajaran, salah satunya adalah model
siswa kelas XII. Materi yang diprioritaskan Blended Learning. Penerapan model Blended
adalah materi yang akan digunakan dalam Learning pada pembelajaran sejarah tampak
Ujian Nasional (UN). Standar yang tinggi pada penggunaan media pembelajaran dengan
dianggap mata pelajaran UN seperti harus memanfaatkan media web berupa blog
diberikan jam tambahan dengan sehingga peserta didik mudah mengambil dan
mengorbankan mata pelajaran yang dianggap mengakses secara langsung melalui internet.
bisa dipelajari sendiri, misalnya mata pelajaran Model Blended Learning ini memanfaatkan
sejarah. Di sisi lain guru dituntut untuk media berbasis web, dengan alamat blog:
menyelesaikan materi pelajaran sejarah yang http://sejarahku2011.blog.com/. Dalam blog
harus dituntaskan sesuai kurikulum yang telah memuat: (1) modul berupa materi, artikel,
ditentukan dengan alokasi waktu yang kurang. berita, gambar, grafik, streaming video, e-
Sehingga dibutuhkan strategi khusus untuk mail, dan jurnal-jurnal sejarah; (2) evaluasi
tetap mencapai tujuan pembelajaran. Mata prestasi belajar sejarah berupa tes; dan (3)
pelajaran sejarah perlu diupayakan jejaringan sosial melalui facebook, twitter,
peningkatannya agar sejajar dengan mata yahoomessenger, email serta chatbox. Hasil
pelajaran yang diujikan pada Ujian Nasional. penelitian ini membuktikan bahwa dengan
Upaya ini dapat dibangun sejak di kelas awal model Blended Learning peserta didik mampu
yaitu kelas XII SMA dengan tujuan semua aktif dalam mencari, menjelajahi, dan
pihak mempunyai perhatian terhadap prestasi mempelajari referensi-referensi yang diberikan
belajar sejarah. Prestasi belajar sejarah dapat oleh pengajar. Peserta didik memiliki motivasi
naik apabila peserta didik dirangsang dengan yang tinggi untuk memajukan diri sendiri,
model Blended Learning, sehingga peserta memiliki kedisiplinan mandiri yang tinggi, dan
didik tidak hanya mendengarkan guru manejemen waktu yang baik dengan
berceramah saja, tapi juga melihat keadaan pemanfaatan media web berupa blog. Model

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


Blended Learning dalam proses belajar tersebut melalui pengayaan content dan
mengajar antara pendidik dan peserta didik pengembangan teknologi pendidikan; (4)
dapat dilakukan di kelas dan melalui Kapasitas guru amat bervariasi tergantung
lingkungan berbasis online, sehingga pelajar pada bentuk isi dan cara penyampaiannya.
tidak hanya dibatasi pada materi, referensi, Makin baik keselarasan antar content dan alat
dan penjelasan yang didapatkan saat tatap penyampai dengan gaya belajar, maka akan
muka dengan pengajar di kelas, melainkan lebih baik kapasitas siswa yang pada
peserta didik dapat mencari materi dan gilirannya akan memberi hasil yang lebih baik;
referensi dari sumber lain dan berdiskusi antar (5) Memanfaatkan jasa teknologi elektronik;
sesama peserta didik di dalam lingkungan di mana guru dan siswa, siswa dan sesama
berbasis online, baik dengan pelajar internal siswa atau guru dan sesama guru dapat
maupun dengan pelajar eksternal. Jadi, guru berkomunikasi dengan relatif mudah dengan
hanyalah berfungsi sebagai mediator, fasilitor, tanpa dibatasi oleh hal-hal yang protokoler; (6)
dan teman yang membuat situasi yang Memanfaatkan keunggulan komputer digital
kondusif untuk terjadinya konstruksi media dan computer networks; (7)
pengetahuan pada diri peserta didik. Dengan Menggunakan bahan ajar bersifat mandiri (self
begitu peserta didik dapat terlibat secara aktif learning materials) disimpan di komputer
agar dapat mengejar materi untuk pencapaian sehingga dapat diakses oleh guru dan siswa
tujuan pembelajaran. Menurut Cepi Riyana kapan saja dan di mana saja bila yang
(2010: 31-32) penerapan model Blended bersangkutan memerlukannya; (8)
Learning memiliki makna sebagai berikut: (1) Memanfaatkan jadwal pembelajaran,
merupakan penyampaian informasi, kurikulum, hasil kemajuan belajar dan hal-hal
komunikasi, pendidikan, pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan administrasi
tentang materi keguruan baik substansi materi pendidikan dapat dilihat setiap saat di
pelajaran maupun ilmu kependidikan secara komputer/netbook/Hp yang terkoneksi dengan
on-line; (2) menyediakan seperangkat alat internet. Selain berbagai keunggulan di atas,
yang dapat memperkaya nilai belajar secara model Blended Learning ini juga memiliki
konvensional (model belajar konvensional, kelemahan diantaranya: (1) mahalnya biaya
kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan operasional internet; (2) pertimbangan
pelatihan berbasis komputer) sehingga dapat efektivitas pembelajaran; (3) kesiapan peserta
menjawab tantangan perkembangan didik, jika peserta didik tidak memiliki
globalisasi; (3) Blended Learning tidak berarti motivasi tinggi cenderung akan gagal; (4)
menggantikan model belajar konvensional di adanya kekhawatiran penyalahgunaan internet
dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar oleh siswa; (2) Tidak terdapat perbedaan

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


pengaruh prestasi belajar sejarah pada materi manusia Indonesia yang memiliki rasa
Reformasi antara siswa dengan kelompok kebangsaan dan cinta tanah air. Materi sejarah:
jurusan IPS dan IPA kelas XII SMA Negeri di (1) mengandung nilai-nilai kepahlawanan,
Kabupaten Wonogiri. Berdasarkan analisis keteladanan, kepeloporan, patriotisme,
variansi dua jalan diperoleh Fhitung = 0,06 < nasionalisme, dan semangat pantang menyerah
Ftabel = 3,11 dengan 5%, dapat diambil yang mendasari proses pembentukan watak
kesimpulan bahwa H oB diterima. Dan H1B dan kepribadian peserta didik; (2) memuat
khasanah mengenai peradaban bangsa-bangsa,
ditolak. Hal ini berarti tidak terdapat
termasuk peradaban bangsa Indonesia. Materi
perbedaan rata-rata prestasi belajar Sejarah
tersebut merupakan bahan pendidikan yang
pada kompetensi dasar Menganalisis
mendasar bagi proses pembentukan dan
perkembangan politik dan ekonomi serta
penciptaan peradaban bangsa Indonesia di
perubahan masyarakat di Indonesia pada masa
masa depan; (3) menanamkan kesadaran
Reformasi antara kelompok jurusan IPS
persatuan dan persaudaraan serta solidaritas
dengan IPA. Pada pengujian hipotesis ke dua
untuk menjadi perekat bangsa dalam
diperoleh Fhitung sebesar 0,060 dibandingkan
menghadapi ancaman disintegrasi bangsa; (4)
dengan Ftabel 3,11 ( = 5%) sehingga Fhitung
sarat dengan ajaran moral dan kearifan yang
0,060 < Ftabel = 3,11 dapat disimpulkan bahwa
berguna dalam mengatasi krisis multidimensi
tidak terdapat perbedaan pengaruh yang
yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari;
signifikan antara siswa kelompok jurusan IPS
(5) berguna untuk menanamkan dan
dan IPA terhadap prestasi belajar sejarah pada
mengembangkan sikap bertanggung jawab
materi Reformasi. Melihat nilai rata-rata siswa
dalam memelihara keseimbangan dan
kelompok jurusan IPS sebesar 19,100 dan nilai
kelestarian lingkungan hidup.
rata siswa siswa kelompok jurusan IPA adalah
Tujuan mata pelajaran Sejarah (BSNP,
18,933 maka dapat disimpulkan siswa
2006: 187-188) adalah agar peserta didik
kelompok jurusan IPS memiliki prestasi
memiliki kemampuan sebagai berikut: (1)
belajar sejarah pada materi Reformasi lebih
Membangun kesadaran peserta didik tentang
baik dibandingkan prestasi belajar sejarah
pentingnya waktu dan tempat yang merupakan
pada materi Reformasi siswa kelompok
sebuah proses dari masa lampau, masa kini,
jurusan IPA. Karakteristik mata pelajaran
dan masa depan; (2) Melatih daya kritis
sejarah (BSNP, 2006: 187) yang diajarkan
peserta didik untuk memahami fakta sejarah
pada jenjang SMA untuk kelas XII IPS dan
secara benar dengan didasarkan pada
IPA memiliki arti strategis dalam
pendekatan ilmiah dan metodologi keilmuan;
pembentukan watak dan peradaban bangsa
(3) Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan
yang bermartabat serta dalam pembentukan

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


peserta didik terhadap peninggalan sejarah 0,405 < Ftabel = 3,11 dapat disimpulkan bahwa
sebagai bukti peradaban bangsa Indonesia di tidak terdapat interaksi yang signifikan antara
masa lampau; (4) Menumbuhkan pemahaman model Blended Learning dan kelompok
peserta didik terhadap proses terbentuknya jurusan terhadap prestasi belajar sejarah pada
bangsa Indonesia melalui sejarah yang materi Reformasi. Prestasi belajar sejarah pada
panjang dan masih berproses hingga masa kini materi Reformasi ini dicapai dengan
dan masa yang akan datang; (5) penerapan model Blended Learning
Menumbuhkan kesadaran dalam diri peserta dibandingkan dengan model pembelajaran
didik sebagai bagian dari bangsa Indonesia interaktif serta kelompok jurusan sama-sama
yang memiliki rasa bangga dan cinta tanah air memiliki pengaruh terhadap pencapaian
yang dapat diimplementasikan dalam berbagai prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi.
bidang kehidupan baik nasional maupun Prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi
internasional. Hasil penelitian ini siswa yang belajar dengan penerapan model
menunjukkan kelompok jurusan IPS memiliki Blended Learning pada kelompok jurusan IPS
rata-rata prestasi yang lebih baik dari memiliki Mean 20,733 , sedangkan prestasi
kelompok jurusan IPA. Dengan beban materi belajar sejarah pada materi Reformasi siswa
dan keterbatasan waktu untuk mencapai yang belajar dengan penerapan model
kompetensi belajar yang telah ditetapkan pembelajaran interaktif pada kelompok
menjadikan perbedaan hasil prestasi belajar jurusan IPS memiliki nilai Mean 17,467.
sejarah. Dalam penerapan model Blended Prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi
Learning peserta didik harus aktif dalam siswa dengan menggunakan penerapan model
mencari, menjelajahi, dan mempelajari Blended Learning pada kelompok jurusan IPA
referensi-referensi yang diberikan oleh guru. memiliki nilai Mean 20,133. Sedangkan
Peserta didik harus memiliki motivasi yang prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi
tinggi untuk memajukan diri sendiri, memiliki siswa yang belajar dengan penerapan model
kedisiplinan mandiri yang tinggi akan pembelajaran interaktif pada kelompok
meningkatkan prestasi belajar sejarah; (3) jurusan IPA memiliki nilai Mean 17,733.
Tidak terdapat interaksi antara model Blended Berdasarkan prestasi belajar sejarah pada
Learning dan kelompok jurusan terhadap materi Reformasi tersebut, maka disimpulkan
prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi bahwa: (1) Pembelajaran dengan penerapan
siswa kelas XII SMA Negeri di Kabupaten model Blended Learning lebih baik
Wonogiri. Pada pengujian hipotesis ke dua dibandingkan dengan prestasi belajar sejarah
diperoleh Fhitung sebesar 0,405 dibandingkan pada materi Reformasi siswa yang belajar
dengan Ftabel 3,11 ( = 5%) sehingga Fhitung dengan penerapan model pembelajaran

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


interaktif pada siswa kelompok jurusan IPS. dicapai siswa melaui media blog yang
(2) Pembelajaran dengan penerapan model digunakan proses pembelajaran dengan model
Blended Learning lebih baik dibandingkan Blended Learning. Untuk domain psikomotor
dengan prestasi belajar sejarah pada materi belum mampu dicapai pada saat kegiatan
Reformasi siswa yang belajar dengan pembelajaran berlangsung. Hal ini
penerapan model pembelajaran interaktif pada dikarenakan evaluasi pembelajaran sejarah
siswa kelompok jurusan IPA. Penerapan yang lakukan dengan test multiple choice (tes
model Blended Learning pada kelompok pilihan ganda) pada materi Reformasi
jurusan IPS dan IPA menunjukkan prestasi sehingga hanya hafalan fakta, serta belum
belajar sejarah pada materi Reformasi lebih mencapai domain psikomotor dan
baik dibandingkan dengan kelompok jurusan pembelajaran berorientasi pada nilai. Faktor-
IPS dan IPA dengan penerapan model faktor inilah yang menyebabkan tidak ada
pembelajaran interaktif. Penerapan model interaksi antara model pembelajaran pada
Blended Learning lebih kaya akan kelompok jurusan terhadap prestasi belajar
sumber/resource serta jejaring sosial yang sejarah pada materi Reformasi siswa.
dibenamkan dalam media web berupa blog
yang digunakan sebagai online learning 4. KESIMPULAN
meningkatkan interaksi antara sesama siswa, Berdasarkan hasil penelitian dan analisis
siswa dengan guru, serta pengaruh penguasaan dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: (1)
teknologi ICT menciptakan iklim Terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan
pembelajaran sehingga memotivasi siswa antara penerapaan model Blended Learning
untuk semangat dalam dalam mencapai tujuan dan model pembelajaran interaktif terhadap
pembelajaran. Tidak adanya interaksi antara prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi
model pembelajaran dan kelompok jurusan siswa kelas XII SMA Negeri di Kabupaten
terhadap prestasi belajar sejarah pada materi Wonogiri (Fhitung > Ftabel atau 17,320 > 3,11).
Reformasi siswa, di sebabkan oleh faktor Hasil penelitian membuktikan bahawa nilai
intern dan ekstern mempengaruhi hasil perolehan mean prestasi belajar sejarah pada
prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi. materi Reformasi sebesar 20,433 lebih baik
Penerapan model Blended Learning dengan dibandingkan dengan nilai mean dengan
memanfaatkan web berupa blog hanya bisa penerapan model pembelajaran interaktif
mencapai aspek kognitif dan afektif. sebesar 17,600. Dengan penerapan model
Kemampuan siswa memahami fakta sejarah Blended Learning mampu menciptakan
sebagai rangkaian kisah masa lalu yang hubungan positif antara model pembelajaran
memiliki hubungan dengan masa kini mampu dengan siswa, sehingga siswa dapat

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


mempelajari materi yang belum dipahami DAFTAR PUSTAKA
dengan mengakses materi dan bisa bertanya Adam, Asvi Warman. Membangun Paradigma
kapan saja dimana saja melalui jejaring sosial Baru Pendidikan Sejarah SMA.
yang termuat dalam media web berupa blog; Disampaikan dalam seminar sehari
(2) Tidak terdapat pengaruh yang signifikan Membangun Paradigma Baru
antara siswa IPS dan IPA terhadap prestasi Pendidikan Sejarah SMA yang diadakan
belajar sejarah pada materi Reformasi siswa Asosiasi Guru Sejarah Indonesia dan
kelas XII SMA Negeri di Kabupaten Wonogiri Institut Sejarah Sosial Indonesia dengan
(Fhitung < Ftabel atau 0,060 < 3,11). Hal ini dukungan HIVOS pada Galeri Nasional
terlihat dengan perolehan rata-rata prestasi Jakarta, 5 Maret 2010.
belajar sejarah materi Reformasi pada siswa BSNP. 2006. Kurikulum 2004. Standar
kelompok jurusan IPS, sebesar 19,100 yang Kompetensi Mata Pelajaran Sejarah
lebih baik daripada siswa kelompok jurusan SMA. Jakarta: Dirjen Dikdasmen.
IPA sebesar 18,933. Hal ini dapat disimpulkan Budiyono. 2009. Statistika Untuk Penelitian.
bahwa prestasi belajar sejarah materi Surakarta: UNS Press
reformasi yang dicapai oleh siswa pada Harriman, G. 2007. Whats Is Blended
kelompok IPS lebih baik dari pada siswa Learning ? A Learning Recources.
kelompok IPA; (3) Tidak terdapat interaksi (Online)
yang signifikan antara penerapan model www.grayharriman.com/blended_learnin
pembelajaran dan kelompok jurusan terhadap g.htm, diakses 8 agustus 2011.
prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi Piret, Luik. 2006. Web Based-Learning or
siswa kelas XII SMA Negeri di Kabupaten Face-to-Face Teaching Preferences of
Wonogiri (Fhitung < Ftabel atau 0,405 < 3,11). Estonian Students. Tersedia [online]
Prestasi belajar sejarah pada materi Reformasi www.aare.edu.au/06pap/lui06159.pdf
siswa dapat ditingkatkan apabila guru dapat [12 Oktober 2010)
memilih dan menerapkan model pembelajaran Priyono, Andreas. 2004. Minat Siswa Belajar
yang tepat dan adanya motivasi belajar yang Sejarah Menurun. http://www.suara
tinggi dari siswa. Dengan pemilihan model merdeka.com/harian/0409/03/kot18.htm,
pembelajaran yang tepat berdampak pada diakses 6 April 2011.
meningkatnya prestasi belajar sejarah pada Riyana, Cepi. 2010. Blended Learning.
materi Reformasi. Teknologi Informasi dan Komunikasi
dalam Pembelajaran.
http://kurtek.upi.edu/tik/content/blended.
pdf, diakses 6 April 2011.

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015


Sugiyono. 2010. Metode Penelitian
Pendidikan Penelitian Kuantitatif,
Kualitatif dan R&D. Jakarta: Alfabeta
Sulaiman, Amir Hamzah. 1981. Media Audio-
Visual Mengarang. Jakarta: Gramedia

Jurnal Candrasangkala, Volume 1 Nomor 1 November 2015