Anda di halaman 1dari 18

SIMPOSIUM

2016 TEKNOLOGI INFORMASI SEBAGAI MEDIA DAN SUMBER


PEMBELAJARAN

SEKOLAH TANPA
RUANG DAN WAKTU

Oleh :

Agung Subekti

SMK UMAR FATAH REMBANG


SIMPOSIUM 2016

Teknologi Informasi Sebagai Media dan Sumber Pembelajaran

SEKOLAH TANPA RUANG DAN WAKTU

1. PENGANTAR

Teknologi Informasi dan Komunikasi, adalah payung besar


terminologi yang mencakup seluruh peralatan teknis untuk
memproses dan menyampaikan informasi. TIK mencakup dua
aspek yaitu teknologi informasi dan teknologi komunikasi. Teknologi
informasi meliputi segala hal yang berkaitan dengan proses,
penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan pengelolaan
informasi. Sedangkan teknologi komunikasi adalah segala sesuatu
yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk memproses
dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke lainnya. Oleh
karena itu, teknologi informasi dan teknologi komunikasi adalah dua
buah konsep yang tidak terpisahkan. Jadi Teknologi Informasi dan
Komunikasi mengandung pengertian luas yaitu segala kegiatan
yang terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan,
pemindahan informasi antar media.Istilah TIK muncul setelah
adanya perpaduan antara teknologi komputer (baik perangkat
keras maupun perangkat lunak) dengan teknologi komunikasi pada
pertengahan abad ke-20. Perpaduan kedua teknologi tersebut
berkembang pesat melampaui bidang teknologi lainnya. Hingga
awal abad ke-21, TIK masih terus mengalami berbagai perubahan
dan belum terlihat titik jenuhnya.
Dalam dunia pendidikan pemaknaan terhadap Teknologi ini
sudah lama dilakaukan sehingga menghasilkan sebuah kajjian ilmu
yang disebut dengan Teknologi Pendidikan bahkan dalam
perkembangannya dewasa ini jelah melahiarkan ilmu Teknologi
Pembelajaran. Dengan demikian Teknologi Pendidikan dan
Teknologi pembelajaran telah membawa upaya terwujudnya
berbagai ide dan pemikiran serta prosedur dan tindakan yang harus
dilakukan dlam rangka mewujudkan inovasi dalam dunia
pendidikan sehingga mampu menghasilkan sesuatu yang baru baik
itu yang berhubungan dengan ide,proses, prosedur dan hasil yan
berhubungan langsung maupun tidak langsung dengan berbagai
sumber belajar yang meliputi lingkungan, orang alat prosedur,
konsep, teori, teknologi, media, serta prosedur pemecahan
masalah itu sendiri, bahkan di era sekarang telah termasuk
didalamnya adalah model-modedl pembelajaran elektronik dan
virtul baik secara personal maupun kelembagaan hingga system
akreditasi atas temuan-temuan hasil inovasi dalam dunia
pendidikan dan pembelajaran.
Pemahaman akan teknologi dalam konteks pendidikan dan
pembelajaran terkadang terkadang banyak dipengaruhi oleh bidang
konsep dan praktis. Dalam arti pemahaman terhadap teknologi itu
sendiri kadang cenderung mengarah pada perangkat dan sistem
otomatis yang sifatnya hardware, padahal pemahaman terhadap
hakikat teknologi dalam konteks pendidikan dan pembelajaran
justru diarahkan pada aplikasi dari teknologi sebagai ide tentang
rancang bangun dan hasil pikirnya. Demikian juga dalam telaah
mengenai teknologi pembelajaran di dalamnya terdapat yang
mengadopsi hasil piker dan rancangn bangun suatu ide yang
diwujudkan dalam produk tertentu dan memeberikan kemudahan
dalam pembelajaran. Disamping pemahaman initinya yang lain
bahwa teknologi pembelajaran itu sendiri merupakan suatu
teknologi, yaitu teknologi sebagai ide dan rancang bangun tentang
bagaimana suatu proses pembelajaran bias berkualitas melalui
pengukuran efektivitas dan efisiensi, serta akselerasi pencapaian
perubahan perilaku peserta didik atau warga sekolah.
Definisi tahun 1994, teknologi pembelajaran dirumuskan
dapat berlandaskan pada lima bidang garapan bagi teknologi
pembelajaran, yaitu desain, pengembangan, pemanfaatan,
pengelolaan, dan penilaian. Kelima hal ini merupakan kawasan dari
bidang teknologi pembelajaran. Tujuan dari uraian ini adalah untuk
menganalisis setiap pergeseran paradigm definisi setiap kawasan
teknologi pembelajaran, menganalisis subkategori kawasan
berdasarkan sudut pandang teknologi terapan dalam pembelajaran,
mengklasifikasikan konsep yang terkait, menganalisis
kecenderungan permasalahan pembelajaran berdasarkan analisis
teknologi pembelajaran dan sumber pengaruh utama teknologi
pembelajaran dalam optimalisasi pembelajaran.

2. MASALAH

Keberadaan teknologi harus dimaknai sebagai upaya untuk


meningkatkan efektivitas dan efisiensi dan teknologi tidak dapat
dipisahkan dari masalah, sebab teknologi lahir dan dikembangkan
untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh manusia.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka teknologi pendidikan juga
dapat dipandang sebagai suatu produk dan proses. Sebagai suatu
produk teknologi pendidikan mudah dipahami karena sifatnya lebih
konkrit seperti radio, televisi, proyektor, OHP dan sebagainya.
Sebagai sebuah proses teknologi pendidikan bersifat abstrak.
Dalam hal ini teknologi pendidikan bisa dipahami sebagai sesuatu
proses yang kompleks, dan terpadu yang melibatkan orang,
prosedur, ide, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis
masalah, mencari jalan untuk mengatasi permasalahan,
melaksanakan, menilai, dan mengelola pemecahan masalah
tersebut yang mencakup semua aspek belajar manusia.
E-learning secara harfiah merupakan akronim dari
E=electronic sedang Learning=proses belajar jadi e-learning adalah
sistem pembelajaran secara elektronik, menggunakan media
elektronik, internet, computer dan file multimedia (suara, gambar,
animasi dan video). E-learning merupakan proses secara
elektronik, yang dimaksud elektornik disini bukan semata-mata
peralatannya, men-download materi perkuliahan, meng-upload
tugas, melakukan diskusi dengan dosen dan sebagainya, dilakukan
secara elektronis. Adapun masalah yang timbul di era globalisasi
saat ini adalah :
1. Genersi muda kita saat ini waktu dan perhatiannya sudah
tersita banyak oleh games, gadget (seperti HP) dan internet
pada tingkat yang memprihatinkan dan para orangtua semakin
kebingungan karena anak-anak kecanduan hal tersebut.
2. Pemakaian warnet yang tersebar pemanfaatannya masih
kurang mencerdaskan pemakai, terutama para kaum muda
(ABG)
3. Orang tua sudah terbebani biaya pendidikan yang mahal belum
termasuk media belajar seperti buku, transport dan lain-lain
4. Perlu media yang bisa membuat orang menjadi pintar dengan
biaya yang lebih terjangkau dan diajarkan oleh
guru/pengajar/dosen yang diajaran lewat modul e-learning.

3. PEMBAHASAN DAN SOLUSI

Teori belajar sibernetik merupakan teori belajar yang cukup


baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Teori ini
berkembang sejalan dengan perkembangan teknologi dan ilmu
informasi. Menurut teori belajar sibernetik belajar adalah
pemrosesan informasi. Teori ini lebih mementingkan sistem
informasi dari pesan atau materi yang dipelajari. Bagaimana proses
belajar akan berlangsung sangat ditentukan oleh sistem informasi
dari pesan tersebut, oleh sebab itu teori sibernetik berasumsi
bahwa tidak ada satu jenis pun cara belajar yang ideal untuk segala
situasi, sebab cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi.
Teori ini telah dikembangkan oleh para penganutnya, antara
lain seperti pendekatan-pendekatan yang berorientasi pada
pemrosesan informasi yang dikembangkan oleh Gage dan Beliner,
Biehler dan Snowman, Baine serta Tennyson.
Bahwa proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai
dari proses penyajian informasi (encoding), diikuti dengan
penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan
mengungkapkan kembali informasi-informasi yang disimpan dalam
ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang
terorganisasi dan penelusuran informasi yang paling umum dan
rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.
Telah kita ketahui bersama berbagai peranan teknologi
informasi dalam perubahan masyarakat. Kerap kali kita menemui
berbagai permasalahan terkait pemanfaatan teknologi informasi
yang dipergunakan secara serampangan, baik dalam penyajian
informasi, isi pesan, dan berbagai kepentingan yang tidak
bertanggungjawab lainnya.
Hal tersebut disebabkan perkembangan teknologi informasi
yang begitu pesat, sehingga kita tidak mempunyai cukup waktu
untuk bereaksi terhadap perkembangan tersebut, termasuk dalam
mempersiapkan sumber daya manusia dan masyarakat yang
bertanggungjawab dan beretika teknologi informasi dan
komunikasi. Sehingga untuk memanfaatkan produk informasi,
kedepannya diperlukan adanya kemampuan khusus bagi setiap
orang dalam memilih, mengolah dan menyerap informasi yang
bermanfaat untuk kepentingan masyarakat.
Dalam hal ini dapat diidentifikasi beberapa permasalahan
tersebut sebagai berikut:
1. Sumberdaya Manusia
Telah kita ketahui bersama bahwa konsekuensi logis dari
perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat adalah
menyiapkan sumberdaya manusia yang memadai baik kaulitas
(kapasitas pribadi) dan kuantitasnya (menanggapi berbagai
kebutuhan masyarakat, dan dunia industri).
Sumberdaya manusia dalam konteks era teknologi
informasi dipersiapkan untuk mengantisipasi dan mengatasi
dampak negatif perkembangan teknologi khususnya teknologi
informasi dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga perlu dikenalkan, dipraktekkan dan dikuasi sedini
mungkin agar ia mampu menggunakan, menjaga, dan merawat
produk teknologi informasi dan komunikasi, serta mampu
memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk
mendukung proses pembelajaran dan kehidupannya, termasuk
apa implikasinya saat ini dan dimasa yang akan datang.
Secara khusus, rumusan tujuan mempelajari teknologi
informasi dan komunikasi adalah:
Menyadarkan siswa akan potensi perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi yang terus berubah
sehingga siswa dapat termotivasi untuk mengevaluasi dan
mempelajari teknologi informasi dan komunikasi sebagai
dasar untuk belajar sepanjang hayat.
Memotivasi kemampuan siswa untuk bisa beradaptasi
dan mengantisipasi perkembangan teknologi informasi
dan komunikasi, sehingga siswa bisa melaksanakan dan
menjalani aktifitas kehidupan sehari-hari secara mandiri
dan lebih percaya diri.
Mengembangkan kompetensi siswa dalam menggunakan
teknologi informasi dan komunikasi untuk mendukung
kegiatan belajar, bekerja, dan berbagai aktifitas dalam
kehidupan sehari-hari.
Mengembangkan kemampuan belajar berbasis teknologi
informasi dan komunikasi, sehingga proses pembelajaran
dapat lebih optimal, menarik, dan mendorong siswa
terampil dalam berkomunikasi, terampil mengorganisasi
informasi, dan terbiasa bekerjasama.
Mengembangkan kemampuan belajar mandiri, berinisiatif,
inovatif, kreatif, dan bertanggungjawab dalam
penggunaan teknologi informasi dan komunikasi untuk
pembelajaran, bekerja, dan pemecahan masalah sehari-
hari.
Sebagai sebuah rancangan kurikulum, hal diatas
merupakan sebuah rumusan ideal yang realitasnya bergantung
pada kondisi di lapangan (sekolah, keluarga, dan masyarakat).
Sehingga diperlukan sebuah usaha bersama, termasuk pelajar
sendiri untuk memahami dan senantiasa membelajarkan diri
dan masyarakat sejalan dengan perkembangan teknologi
informasi dan komunikasi.
Ada tujuh keterampilan dasar yang tampaknya
diperlukan untuk dapat hidup pada abad teknologi informasi
dan komunikasi disamping keterampilan tradisional seperti
membaca, menulis, dan menghitung. Ketujuh keterampilan itu
adalah : 1) Berfikir dan berbuat secara kritis; 2) Kreativitas; 3)
Kolaborasi; 4) Saling pengertian lintas budaya; 5) Komunikasi;
6) Menggunakan komputer; dan 7) Karir dan Belajar meyakini
kemampuan sendiri.
2. Remaja dan Perkembangan Teknologi Informasi
Beberapa, atau sebagian besar, atau bahkan semua
muatan remaja di media massa akhirnya akan menemukan
jalan ke dunia online ynang dinikmati oleh para remaja.
Pernyataan tersebut dapat kita temui dengan mudah di
era teknologi informasi dan komunikasi dewasa ini, dikarenakan
sasaran dari berbagai media tersebut adalah kalangan remaja.
Dampaknya adalah sebagaian besar aktivitas remaja diluar
kegiatan sekolah adalah menonton TV (dengan berbagai
tayangan yang jauh dari nilai-nilai edukatif), menggunakan
internet (tren Face Book, friendsters, game online, mengunduh
video, music, dsb), mendengar musik MP3/MP4, mendengar
radio, membaca majalah remaja, dan membaca komik. Terlebih
kesemua layanan tersebut telah menjadi beberapa fitur menarik
yang tersedia lewat handphone.
Bahkan yang lebih berbahaya lagi para remaja
cenderung meniru berbagai trend atau budaya asing,
berkenalan dan berkorespondensi dengan orang asing yang
berbahaya, hingga masalah perekaman, penyebaran, dan
akses video-video porno yang dilakukan oleh remaja kita, di
Indonesia ini.
Berikut profil pornografi remaja yang dihimpun oleh
gerakan JBDK:
500+ video porno dengan 100% berisi content lokal
90%nya dibuat pelajar/ mahasiswa, dengan kecenderungan
pelaku semakin muda.
Merata sampai kepelosok, dengan modus eksperimental
youth.
Pemborosan. Contoh: 19,6 juta video mesum ME-YZ
didownload dari youtube.com/ bulan di tahun 2006. jika
biaya download minimal Rp. 1000,- = 19,6 milyar.
Beberapa hal diatas merupakan krisis remaja yang perlu
kita bendung, dan perlahan diminimalisir melalui sebuah usaha
bersama, baik pemerintah, sekolah, masyarakat, pemuka
agama, dan orangtua. Pemerintah sebagai kekuatan terbesar
dalam konteks penyelenggaraan kehidupan bernegara dapat
melakukan langkah antisipasi berupa memprioritaskan konten
yang ramah anak, pendidikan, pembelajaran, life skills, dll serta
tidak memberi tempat bagi industri pornografi.
Langkah antisipasi selanjutnya bagi keluarga dengan
tidak meniru berbagai aksi pornografi di rumah, memberikan
pengetahuan dan pemahaman sex sejak dini oleh bagi
orangtua, komitmen/ tanggung jawab terhadap fasilitas
teknologi informasi, seperti handphone, komputer, dll.
Antisipasi lainnya dapat dilakukan disekitar lingkungan
(masyarakat, sekolah, dan warnet) dengan mengontrol warnet
sehat, yang komitmen pada kebijakan penggunaan media
teknologi informasi. Dapat juga dengan meningkatkan berbagai
ceramah/ tausyiah mengenai pandangan agama, gerakan
nasional, penyuluhan tentang sex, dan narkoba oleh lembaga-
lembaga terkait, seperti BKKBN dan LSM-LSM.
Hal terpenting dalam upaya membendung permasalahan
diatas adalah kepada setiap pribadi agar menyadari berbagai
kegiatan produktif lainnya yang dapat dilakukan melalui media
teknologi informasi, tidak membuat berbagai rekaman yang
mengandung unsur pornografi dan pornoaksi, tidak
menyebarkan, dan hapus jika ditemukan.

3. Pendidikan Tertinggal atau Pendidikan Terpanggil?


Permasalahan lainnya dalam era teknologi informasi
adalah penerapannya dibidang pendidikan yang belum optimal,
sehingga lebih cenderung terkesan tertinggal dari
perkembangan teknologi informasi itu sendiri. Dalam bidang
pendidikan teknologi informasi menggunakan istilah teknologi
informasi dan komunikasi (TIK), mengacu pada defenisi yang
dikeluarkan, sebagai berikut :
Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) mencakup
dua aspek, yaitu Teknologi Informasi dan Teknologi Komunikasi.
Teknologi Informasi, meliputi segala hal yang berkaitan dengan
proses, penggunaan sebagai alat bantu, manipulasi, dan
pengelolaan informasi. Teknologi Komunikasi merupakan
segala hal yang berkaitan dengan penggunaan alat bantu untuk
memproses dan mentransfer data dari perangkat yang satu ke
lainnya. Karena itu, Teknologi Informasi dan Teknologi
Komunikasi adalah suatu padanan yang tidak terpisahkan yang
mengandung pengertian luas tentang segala kegiatan yang
terkait dengan pemrosesan, manipulasi, pengelolaan, dan
transfer/pemindahan informasi antar media.
Permasalahan yang kerap ditemukan dari pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi dalam dunia pendidikan
adalah sebagai berikut:
Komitmen dalam pendayagunaan internet dalam
pembelajaran, berupa keharusan menyediakan dana
anggaran penyediaan peralatan teknologi informasi
pendukungnya.
Biaya perawatan dan operasional
Sumber daya yang memadai dalam pengeloaannya, baik
teknisi maupun operatornya.
Memberikan penyadaran (awareness) baik terhadap guru
maupun siswa akan pentingnya teknologi informasi dan
komunikasi dalam pembelajaran.
Sehingga pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi dalam pendidikan memungkinkan peserta didik
belajar secara mandiri melalui media yang senantiasa
berkembang, serta dapat dilakukan melalui sebuah proses
pembelajaran di kelas, maupun masyarakat belajar (learning
society)yang dapat dilakukan sepanjang hayat (long life
education).
Dengan demikian, hal yang paling mendasar dalam
penerapan internet di sekolah adalah tekad, kesiapan, da
kesungguhan institusi yang diwujudkan dengan suatu kebijakan
yang menyeluruh, meliputi kebijakan berubahnya strategi
pembelajaran, kebijakan mengenai manajemen dan prosedur,
kebijakan mengakses internet dan lain-lain. Karena kesemua
itu merupakan kunci utama keberhasilan pendayagunaan untuk
pembelajaran di lingkungan sekolah.
Selain itu pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi dapat dimanfaatkan sebagai media belajar jarak
jauh (BJJ) melalui siaran radio, televisi, dan internet berupa
layanan tele/video conference yang dapat dimanfaatkan
sebagai sarana pembelajaran, pendidikan dan pelatihan di
lingkungan tenaga kependidikan yang berada di daerah
terpencil maupun daerah kepulauan. Tentunya dengan
memperhatikan berbagai pertimbangan dan perbandingan
kegiatan konvensional yang dilakukan selama ini.

4. KESIMPULAN DAN HARAPAN


Melalui bebarapa pandangan diatas, penulis menyimpulkan
beberapa hal sebagai berikut :

1. Pemanfaatan teknologi informasi hendaklah dibarengi dengan


kemampuan sumber daya manusia yang memadai, sehingga
dapat terus mengikuti perkembangan teknologi informasi. Hal
ini dibarengi dengan kriteria penyebaran gagasan yang
menyangkut pemikiran inovatif dalam memperkenalkan
penemuan teknologi baru, sebagaimana diungkapkan Everett
M. Rogers melalui bukunya Diffusion of Innovation, sebagai
berikut:

a. Tahap menyadarkan (awareness stage)

b. Tahap menyampaikan informasi (information stage)

c. Tahap mencoba menerapkan gagasan (trial stage)

d. Tahap menentukan sikap menerima atau menolak (adaption


stage).

2. Fokus utama pemanfaatan teknologi informasi hendaklah


difokuskan kepada faktor manusianya. Seorang antropolog
terkemuka Ashley Montagu dalam buku Communication
Evolution and Education, dengan tegas menyatakan the most
important agency through which the child learns to be human is
communication, verbal also non verbal. Dengan demikian
komunikasi erat kaitannya dengan perilaku dan pengalaman
kesadaran manusia yang menimbulkan respons melalui
lambang-lambang verbal maupun non verbal. Oleh karena itu
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi tidaklah
semata-mata pada nilai fisik sesuatu proyek saja, tetapi yang
lebih penting lagi adalah faktor manusianya.

3. Peran serta pemerintah, praktisi, dan masyarakat dalam


mengontrol, memberi masukan, dan mengevaluasi
pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi merupakan
kunci utama keberhasilan masyarakat era teknologi informasi.

4. Berbagai kecenderungan pemanfaatan teknologi informasi dan


komunikasi yang kita temui dewasa ini, merupakan sebuah
aktivitas dari keinginan pribadi dan kelompok yang
memanfaatkannya untuk sebuah kemajuan dan sarana
membantu aktivitas manusia sehari-hari. Namun adakalanya
dipergunakan sebagai sarana kepentingan pribadi maupun
kelompok dengan dalih mengatasnamakan sebuah kreativitas
yang menjurus kepada kejahatan logic bomb atau unsmoking
gun, yakni senjata maut yang tidak berasap dan tidak
memberikan tanda bahaya terlebih dahulu.

Adapun saran penulis kepada para pengguna jasa


teknologi informasi dan komunikasi, agar dapat memperhatikan
empat pokok aktivitas para ahli komunikasi yang disebutkan
Harold Lasswell berbicara tentang the structure and function of
communication insociety dalam bukunya The Communication
of Ideas, sebagai berikut :
1. Pengawasan lingkungan (surveillance)

Pengawasan menunjukkan pengumpulan dan distribusi


informasi mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung
di lingkungan sekitarnya, baik di luar, maupun di dalam
suatu masyarakat tertentu.

2. Korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi


lingkungan (correlation).

Korelasi di sini meliputi interpretasi informasi mengenai


lingkungan dan pemakaiannya untuk berprilaku dalam
reaksinya terhadap peristiwa-peristiwa atau kejadian-
kejadian yang berlangsung.

3. Transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke genarasi


berikutnya (cultural transmission).

Transmisi warisan sosial (sosial heritage) berfokus pada


komunikasi pengetahuan nilai-nilai dan norma-norma
sosial dari satu generasi ke generasi lain atau dari
anggota-anggota suatu kelompok kepada pandatang baru.
Pada umumnya aktivitas ini diidentifikasikan sebagai
aktivitas pendidikan.

4. Hiburan (entertainment).

Penekanan hiburan di sini menunjukkan pada tindakan-


tindakan komunikatif yang terutama dimaksudkan untuk
menghibur, dengan tidak melupakan jenis sarana
komunikasi yang dipilihnya.
DAFTAR PUSTAKA

5. Daftar Pustaka dan surat Surat Pernyataan Keaslian Karya (di luar
15 halaman yang dipersyaratkan)

https://forumsejawat.wordpress.com/2010/10/27/teknologi-informasi-
permasalahan-dan-pemanfaatannya/

https://nurcahyonotrimuda.wordpress.com/artikel/tik-sebagai-media-
pembelajaran/
SURAT PERNYATAAN

Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun 2016

Nama Lengkap :

Tempat / Tanggal Lahir :

Jenis Kelamin :

Jabatan :

Alamat :

No Telp / Hp :

E-mail :

Saya dengan identitas yang tertulis di atas menyatakan bahwa


karya saya yang berjudul Sekolah Tanpa Ruang dan Waktu dan
diikutsertakan pada Simposium Guru dan Tenaga Kependidikan Tahun
2016 adalah karya asli, tidak menjiplak/mencontek karya orang lain. Dan
Karya tersebut tidak sedang diikutsertakan dalam perlombaan sejenis.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-


benarnya. Apabila di kemudian hari saya terbukti telah melanggar
ketentuan tersebut, maka saya bersedia didiskualifikasi, baik sebagai
peserta maupun pemenang.

Rembang, November 2016

Dibuat oleh,