Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH PERSOALAN EKONOMI DALAM ISLAM

DISUSUN OLEH:

1.

2.

FAKULTAS TEKNIK

TEKNIK MESIN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh


sendi kehidupan manusia dan alam semesta. Allah SWT menciptakan bumi dan
segala isinya untuk manusia dan memberi kebebasan kepada manusia untuk
mengelola sumber daya ekonomi yang tersedia di alam untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya dan membangun peradaban manusia ke arah yang lebih
baik. Manusia diberi kebebasan untuk mengelola sumber daya ekonomi dan
melakukan transaksi perekonomian sesama mereka (muamalah). Kegiatan
perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan prinsip illahiyah. Harta
yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia, melainkan hanya
titipan dari Allah swt agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan
umat manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah swt untuk
dipertanggungjawabkan. kaidah fiqih menyatakan bahwa segala kegiatan
ekonomi yang dilakukan oleh manusia diperbolehkan asalkan tidak
bertentangan dengan dalil-dalil nash (Al-Quran dan sunnah). Sistem ekonomi
Islam merupakan sistem ekonomi yang bebas, tetapi kebebasannya ditunjukkan
lebih banyak dalam bentuk kerjasama daripada dalam bentuk kompetisi
(persaingan). Karena kerjasama meupakan tema umum dalam organisasi sosial
Islam. Individualisme dan kepedulian sosial begitu erat terjalin sehingga
bekerja demi kesejahteraan orang lain merupakan cara yang paling
memberikan harapan bagi pengembangan daya guna seseorang dan dalam
rangka mendapatkan ridha Allah SWT. Maka dari itu ekonomi dalam Islam
perlu dibahas dan diketahui oleh umat Islam agar apa yang telah ditentukan
oleh Allah dapat dijalankan dan meninggalkan apa yang dilarang-Nya.

1.2 Tujuan penulis


mahasiswa dapat mengaplikasikan persoalan ekonomi dalam islam meliputi:
a. prinsip-prinsip ekonomi dalam islam
b. persoalan ekonomi dalam pandangan islam:
1. bank
2. asuransi
3. valas
4. bursa efek
c. akhlak bekerja sebagai kewajiban dan ibadah
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PRINSIP-PRINSIP EKONOMI DALAM ISLAM

Kita menyaksikan di luar negeri termasuk di Indonesia bahwa dunia


ekonomi konvensional kini telah memberikan tempat bagi berkembangnya
ekonomi yang berdasarkan syariah atau dikenal dengan ekonomi Islam. Secara
spesifik ekonomi Islam tidak memiliki teori khusus sebagaimana ekonomi
konvensional pada umumnya yang dibangun dan ditumbuh-suburkan dengan
berbagai teori ekonomi klasik (Adam Smith, Karl Marx dll). Tetapi ekonomi
Islam dikembangkan berdasarkan nilai-nilai normatif ajaran Islam meliputi
keseluruhan dari ekonomi Islam tidak hanya menyangkut persoalan perbankan,
pembiayaan dan asuransi syariah yang selama ini lebih dikenal dan marak muncul
di Indonesia. Ekonomi Islam berbicara amat jelas tentang larangan riba, hak
kepemilikan harta dan kepemilikan barang-barang publik, persoalan pekerjaan,
hak dan kewajiban majikan dan pekerja hingga pembahasan mengenai social
security atau jaminan/solidaritas sosial dalam upaya mengatasi kemiskinan
melalui konsep zakat infak dan sedekah (ZIS). Ekonomi Islam menganut azas-
azas keadilan dan kebersamaan, sehingga ekonomi Islam itu merupakan sistem
ekonomi syariah berlandaskan pada azas kebersamaan dan keadilan sosial yang
sebenarnya juga dambaan para founding fathers kita dalam azas berbangsa dan
bernegara sebagaimana tercantum dalam sila-sila yang terdapat pada dasar
Negara, Pancasila.

Praktek ekonomi Islam dengan demikian dapat dikategorikan dalam 5 prinsip


yang menjadi fondasi pada tataran praksis implementatif, yaitu:

Prinsip 1: Pendayagunaan atau pengejawantahan konsep ZIS dalam mengentaskan


kemiskinan

Pada prinsip ini umat Islam dianjurkan dengan sangat bahkan pada kondisi
tertentu diwajibkan untuk membelanjakan harta-hartanya di jalan Allah secara
optimal. Membelanjakan dalam arti membantu para kaum duha'afa, yatim piatau,
fakir miskin dan lain-lain yang termasuk dalam 8 asnaf mustahik Zakat. Hal ini
dilakukan agar dapat terwujud kesejahteraan dan keadilan sosial di masyarakat
Islam karena Islam sama sekali tidak mentolerir berlangsunganya atau situasi
kesenjangan mencolok antara kaum berpunya dan tidak berpunya (the haves and
the have nots). Sebagai contoh, berdasarkan hasil penelitian apabila umat benar-
benar menunaikan zakat lalu dikelola oleh amilin (pengurus badan amil zakat)
secara benar maka tidak akan ada orang miskin (Kholilah, 2011). Pengelolaan ZIS
perlu profesional agar muzaki yang menunaikan zakat dan membelanjakan
hartanya atas dasar ajaran agama merasa percaya bahwa ZIS mereka sampai
kepada mustahik yang benar-benar membutuhkan

Prinsip 2: Larangan Riba

Amat jelas surat-surat dalam al Quran terutama surat al Baqarah tentang


laranga melakukan riba bagi umat Islam. Dalam dunia usaha dan perbankan riba
sering dikaitkan dengan bunga bank namun sebenarnya tidak hanya tentang bunga
bank tetapi menggandakan uang atau berharap mendapat keuntungan berlipat-lipat
sebagaimana koperasi berkedok syariah tetapi melakukan manipulasi dengan
mengiming-imingi nasabahnya dengan keuntungan banyak bahkan berkali-kali
lipat dari kewajaran suatu bisnis itu bisa juga dikatakan riba. Tentang bunga bank
memsang ada sedikit perbedaan pendapat dari ulama yang mengatakan bahwa
bunga bank itu tidak riba namun sebagian besar ulama mengkategorikan bunga
bank riba karena sistem yang ada (ekenomi kapitalis) itu sudah bukan
berlandaskan nilai-nilai Islami sehingga turunan dari sistem itu yang berbentuk
bunga juga bisa dikatakan riba. Hal ini mengingat juga bahwa bunga bank itu
ditetapkan bahkan bisa berlipat-lipat bila misalnya nasabah gagal bayar sehingga
akan terdapat siatuasi win-lose (memang kalah) antara nasabah dan pihak bank
dan sebaliknya yang ini tidak dibenarkan dalam prinsip ke dua ini. Dalam konteks
ini jelas Allah akan memerangi orang-orang yang menjalankan usahanya dengan
sistem riba (QS al Baqarah 2: 278-279) dan Allah melarang riba tetapi
menghalalkan jual beli. Riba ini dalam sejarahnya amat disenangi oleh kaum
Yahudi oleh karena itu hingga kini pun kaum pebisnis Yahudi internasional masih
menjalankan usahanya dengan sistem model ini. Kita jangan sampai terjebak
untuk mengikuti cara-cara mereka (Yahudi dan Nasrani) karena mereka memang
ingin gaya hidup mereka ditiru dan mengglobal, apalagi mereka tidak rela Islam
berkembang sehingga ingin memisahkan agama (Islam) dari kehidupannya sehari-
hari bahkan lebih jauh lagi mereka berharap orang-orang Islam ikut dengan cara-
cara dan gaya hidup mereka sebagaimana Allah menggambarkan hal itu dalam QS
al Baqarah ayat 120 yang artinya Dan orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak
akan rela kepadamu sebelum engkau mengikuti agama mereka. Katakanlah,
sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk yang (yang sebenarnya). Dan jika
engkau mengikuti keinginan mereka setelah ilmu (kebenaran) sampai kepadamu,
tidak akan ada bagimu pelindung dan penolong dari Allah.

Prinsp 3 Membagi Resiko (Risk Sharing)


Ekonomi Islam yang berjalan dalam azas kebersamaan dan keadilan itu
tidak membolehkan salah satu pihak yang berkongsi menderita kerugian atau rugi
sendirian, oleh karena itu menanggung resiko kerugian pada usaha bersama secara
adil dan bijak mesti dilakukan agar tidak ada salah satu pihak yang merasa
terdzholimi dan tidak puas. Prinsip ini mengajak umat Islam yang berbisnis selalu
senasib dan sependeritaan, jika untung mesti sama-sama untung dan jika rugi
mesti sama-sama menanggungnya. Inilah suatu ajaran bisnis yang mengajarkan
kita dalam kebersamaan, adil, fair, transparan.Hal-hal seperti itulah yang
seharusnya ditumbuh-kembangkan dalam ekonomi Islam.

Prinsip 4. Dilarang terjadinya eksploitasi

Kegiatan ekonomi dilarang menyebabkan terjadinya fenomena eksploitasi.


Suatu kegiatan industri dan bisnis yang hanya mengeksploitasi kekayaan alam dan
sumber daya manusia tetapi tidak mampu menjaga keseimbangan ekonomi dan
memerhatikan hak-hak pekerja amat sangat dibenci bahkan dilarang dalam prinsip
ekonomi Islam ini. Eksploitasi dimaksud jika dijabarkan lebih lanjut bisa berupa
pembagian keuntungan yang berat sebelah misalnya kontrak karya yang tidak adil
dan ternyata lebih besar mudharat dari pada manfaatnya. Jika hal ini terjadi maka
sesuai ajaran Islam dalam prinsip keempat ini kita semestinya menggugat kontrak
karya tersebut. Apakah misalnya kontrak karya penambangan di Indonesia oleh
perusahaan asing banyak yang melanggar prinsip keempat ini? Anda tentu tahu
dan bisa menjawabnya dengan mudah.

Prinsip 5: Menjauhi usaha yang bersifat spekulatif

Judi sudah tentu dilarang dan masuk dalam kategori usaha yang tinggi
sifat spekulasinya. Sistem ekonomi kapitalis berbagai bisnisnya banyak ditopang
dan didukung dengan usaha model spekulatif ini. Umat Islam jangan meniru
model bisnis macam ini, mesti dijauhi sejauh-jauhnya karena konsep ekonomi
mereka tidak dituntun oleh nilai-nilai agama (Islam) dan bisa menyesatkan bagi
masyarakat Islam. Meski kita ketahui bahwa dewasa ini umat islam tidak bisa
terhindarkan dari sistem ekonomi Islam, namun yang penting sekarang ini umat
Islam mesti sadar terlebih dulu bahwa umat Islam sebenarnya punya konsep
ekonomi yang lebih baik. Apabila suatu saat nanti umat Islam sudah tersadarkan
dan memiliki pemimpin yang kuat, amanah dan benar serta berkomitmen tinggi
dalam menegakkan ajaran Islam, maka saatnya ekonomi Islam dapat
diimplementasikan oleh kita dengan meninggalkan cara dan sistem ekonomi yang
tidak Islami. Diperlukan kemauan dan tekad kuat untuk memurnikan kegiatan
ekonomi dari unsure-unsur yang bertentangan dengan prinsip ajaran Islam (al
Quran dan Hadist).
2.2 PERSOALAN EKONOMI DALAM PANDANGAN ISLAM

2.2.1 Bank

Bank merupakan salah satu lembaga keuangan yang berfungsi sebagai penghimpun
dan penyalur dana dari masyarakat untuk masyarakat. Menurut ajran agama
islam seluruh kegiatan perbankan harus berlandaskan syariat islam yaitu bebas
dari unsur riba. Larangan tentang riba dijelaskan dalam al-quran :

orang-orang yang memakan riba, tiada berdiri melainkan seperti berdirinya orang-
orang yang kemasukan setan dengan sentuhan kepadanya; yang demikian itu
Karen amereka berkata, sesungguhnya jual beli sama dengan riba: padahal Allah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Maka barang siapa menerima
pelajaran dari tuhannya, lalu berhenti (melakukan riba) maka baginya apa yang
telah lalu dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barang siapa kembali
(melakukannya), mereka adalah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.
(Q.S. Al Baqarah:275)

Riba merupakan istilah terhadap bunga. Bunga merupakan hal yang lazim, bahkan
wajib pada dunia kapitalisme. Sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa
seamdaainya tidak ada bunga, kaum kapitalis tidak akan mempunyai rangsangan
untuk mensirkulasikan modalnya dengan produktif.

2.2.2 Asuransi

Asuransi adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau
bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa,
properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-
kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan,
kerusakan atau sakit, di mana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam
jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.
(Wikipedia)

Berbagai Alasan Terlarangnya Asuransi

Berbagai jenis asuransi asalnya haram baik asuransi jiwa, asuransi barang, asuransi
dagang, asuransi mobil, dan asuransi kecelakaan. Secara ringkas, asuransi menjadi
bermasalah karena di dalamnya terdapat riba, qimar (unsur judi), dan ghoror
(ketidak jelasan atau spekulasi tinggi).
Berikut adalah rincian mengapa asuransi menjadi terlarang:

1. Akad yang terjadi dalam asuransi adalah akad untuk mencari keuntungan
(muawadhot). Jika kita tinjau lebih mendalam, akad asuransi sendiri mengandung
ghoror (unsur ketidak jelasan). Ketidak jelasan pertama dari kapan waktu nasahab
akan menerima timbal balik berupa klaim. Tidak setiap orang yang menjadi
nasabah bisa mendapatkan klaim. Ketika ia mendapatkan accident atau resiko,
baru ia bisa meminta klaim. Padahal accident di sini bersifat tak tentu, tidak ada
yang bisa mengetahuinya. Boleh jadi seseorang mendapatkan accident setiap
tahunnya, boleh jadi selama bertahun-tahun ia tidak mendapatkan accident. Ini sisi
ghoror pada waktu.

Sisi ghoror lainnya adalah dari sisi besaran klaim sebagai timbal balik yang akan
diperoleh. Tidak diketahui pula besaran klaim tersebut. Padahal Rasul shallallahu
alaihi wa sallam telah melarang jual beli yang mengandung ghoror atau
spekulasi tinggi sebagaimana dalam hadits dari Abu Hurairah, ia berkata,


- -

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil
lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari jual beli ghoror
(mengandung unsur ketidak jelasan) (HR. Muslim no. 1513).

2. Dari sisi lain, asuransi mengandung qimar atau unsur judi. Bisa saja nasabah tidak
mendapatkan accident atau bisa pula terjadi sekali, dan seterusnya. Di sini berarti
ada spekulasi yang besar. Pihak pemberi asuransi bisa jadi untung karena tidak
mengeluarkan ganti rugi apa-apa. Suatu waktu pihak asuransi bisa rugi besar
karena banyak yang mendapatkan musibah atau accident. Dari sisi nasabah
sendiri, ia bisa jadi tidak mendapatkan klaim apa-apa karena tidak pernah sekali
pun mengalami accident atau mendapatkan resiko. Bahkan ada nasabah yang baru
membayar premi beberapa kali, namun ia berhak mendapatkan klaimnya secara
utuh, atau sebaliknya. Inilah judi yang mengandung spekulasi tinggi. Padahal
Allah jelas-jelas telah melarang judi berdasarkan keumuman ayat,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir


(berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah
termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu
mendapat keberuntungan (QS. Al Maidah: 90). Di antara bentuk maysir adalah
judi.
3. Asuransi mengandung unsur riba fadhel (riba perniagaan karena adanya sesuatu
yang berlebih) dan riba nasiah (riba karena penundaan) secara bersamaan. Bila
perusahaan asuransi membayar ke nasabahnya atau ke ahli warisnya uang klaim
yang disepakati, dalam jumlah lebih besar dari nominal premi yang ia terima,
maka itu adalah riba fadhel. Adapun bila perusahaan membayar klaim sebesar
premi yang ia terima namun ada penundaan, maka itu adalah riba nasiah
(penundaan). Dalam hal ini nasabah seolah-olah memberi pinjaman pada pihak
asuransi. Tidak diragukan kedua riba tersebut haram menurut dalil dan ijma
(kesepakatan ulama).

4. Asuransi termasuk bentuk judi dengan taruhan yang terlarang. Judi kita
ketahui terdapat taruhan, maka ini sama halnya dengan premi yang ditanam.
Premi di sini sama dengan taruhan dalam judi. Namun yang mendapatkan klaim
atau timbal balik tidak setiap orang, ada yang mendapatkan, ada yang tidak sama
sekali. Bentuk seperti ini diharamkan karena bentuk judi yang terdapat taruhan
hanya dibolehkan pada tiga permainan sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu
Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Tidak ada taruhan dalam lomba kecuali dalam perlombaan memanah, pacuan unta,
dan pacuan kuda (HR. Tirmidzi no. 1700, An Nasai no. 3585, Abu Daud no.
2574, Ibnu Majah no. 2878. Dinilai shahih oleh Syaikh Al Albani). Para ulama
memisalkan tiga permainan di atas dengan segala hal yang menolong dalam
perjuangan Islam, seperti lomba untuk menghafal Al Quran dan lomba menghafal
hadits. Sedangkan asuransi tidak termasuk dalam hal ini.

5. Di dalam asuransi terdapat bentuk memakan harta orang lain dengan jalan
yang batil. Pihak asuransi mengambil harta namun tidak selalu memberikan
timbal balik. Padahal dalam akad muawadhot (yang ada syarat mendapatkan
keuntungan) harus ada timbal balik. Jika tidak, maka termasuk dalam keumuman
firman Allah Taala,

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu
dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku saling
ridho di antara kamu (QS. An Nisa: 29). Tentu setiap orang tidak ridho jika
telah memberikan uang, namun tidak mendapatkan timbal balik atau keuntungan.
6. Di dalam asuransi ada bentuk pemaksaan tanpa ada sebab yang syari. Seakan-
akan nasabah itu memaksa accident itu terjadi. Lalu nasabah mengklaim pada
pihak asuransi untuk memberikan ganti rugi padahal penyebab accident bukan
dari mereka. Pemaksaan seperti ini jelas haramnya.

[Dikembangkan dari penjelasan Majlis Majma Fikhi di Makkah Al Mukarromah,


KSA]

Masa Depan Selalu Suram Ganti dengan Tawakkal

Dalam rangka promosi, yang ditanam di benak kita oleh pihak asuransi adalah masa
depan yang selalu suram. Engkau bisa saja mendapatkan kecelakaan,
Pendidikan anak bisa saja membengkak dan kita tidak ada persiapan, Kita
bisa saja butuh pengobatan yang tiba-tiba dengan biaya yang besar. Itu slogan-
slogan demi menarik kita untuk menjadi nasabah di perusahaan asuransi. Tidak
ada ajaran bertawakkal dengan benar. Padahal tawakkal adalah jalan keluar
sebenarnya dari segala kesulitan dan kekhawatiran masa depan yang suram.
Karena Allah Taala sendiri yang menjanjikan,



( 2)

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan
keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan
Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan
(keperluan)nya (QS. Ath Tholaq: 2-3).

Tawakkal adalah dengan menyandarkan hati kepada Allah Taala. Namun bukan
cukup itu saja, dalam tawakkal juga seseorang mengambil sebab atau melakukan
usaha. Tentu saja, sebab yang diambil adalah usaha yang disetujui oleh syariat.
Dan asuransi sudah diterangkan adalah sebab yang haram, tidak boleh seorang
muslim menempuh jalan tersebut. Untuk membiayai anak sekolah, bisa dengan
menabung. Untuk pengobatan yang mendadak tidak selamanya dengan solusi
asuransi kesehatan. Dengan menjaga diri agar selalu fit, juga persiapan keuangan
untuk menjaga kondisi kecelakaan tak tentu, itu bisa sebagai solusi dan preventif
yang halal. Begitu pula dalam hal kecelakaan pada kendaraan, kita mesti berhati-
hati dalam mengemudi dan hindari kebut-kebutan, itu kuncinya.

Yang kami saksikan sendiri betapa banyak kecelakaan terjadi di Saudi Arabia
dikarenakan banyak yang sudah mengansuransikan kendaraannya. Jadi, dengan
alasan kan, ada asuransi, itu jadi di antara sebab di mana mereka asal-asalan
dalam berkendaraan. Jika mobil rusak, sudah ada ganti ruginya. Oleh karenanya,
sebab kecelakaan meningkat bisa jadi pula karena janji manis dari asuransi.

Ingatlah setiap rizki tidak mungkin akan luput dari kita jika memang itu sudah Allah
takdirkan. Kenapa selalu terbenak dalam pikiran dengan masa depan yang suram?
Dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda

Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang
baik dalam mencari rezeki, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan
mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rezekinya, walaupun
terlambat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan
yang baik dalam mencari rezeki. Tempuhlah jalan-jalan mencari rezeki yang
halal dan tinggalkan yang haram (HR. Ibnu Majah no. 2144, dikatakan shahih
oleh Syaikh Al Albani).

2.2.3 Valas

Valas adalah singkatan dari valuta asing. Yang dimaksud dengan valuta
asing ialah mata uang luar negeri, seperti dollar Amerika, poundsterling Inggris,
ringgit Malaysia dan sebagainya.
Apabila antara negara terjadi perdagangan international, maka tiap negara
membutuhkan valuta asing untuk alat bayar luar negeri, yang dalam dunia
perdagangan disebut devisa. Misalnya, importir Indonesia memerlukan devisa
untuk mengimpor barang dari luar negeri. Untuk membayar barang-barang impor
tersebut, si importir membutuhkan mata uang asing.
Demikian juga misalnya, bila sebuah perusahaan di Indonesia mengekspor barang,
misalnya ke Jepang, maka pertukaran mata uang asing diperlukan. Pembayaran
oleh Jepang untuk perusahaan Indonesia harus dengan mata uang lokal, rupiah.
Sementara importir Jepang hanya memiliki mata uang yen.
Dalam hal ini ada dua kemungkinan yang dapat ditempuh, guna memenuhi
kebutuhan transaksi antara eksportir Indonesia dan importir Jepang tersebut.
Pertama, bila eksportir Indonesia menagih dalam bentuk rupiah, maka
importir Jepang harus menjual yen dan membeli rupiah untuk membayar barang
yang diimpor dari Indonesia. Kedua, bila eksportir Indonesia dibayar dengan mata
uang yen, maka eksportir Indonesialah yang harus menukar yen itu kepada rupiah.
Dengan demikian, akan timbul penawaran dan permintaan devisa di bursa valuta
asing. Dapat juga terjadi bahwa transaksi antara dua negara diselesaikan dengan
menggunakan mata uang negara ketiga, misalnya dollar.
Hal ini bisa terjadi bila eksportir maupun importir tidak memiliki mata
uang lokal negara masing-masing atau mata uang kedua negara itu sangat jarang
diperdagangkan karena mata uangnya sangat lemah. Ini berarti mata uang yang
dipergunakan itu adalah mata uang yang populer di kedua negara itu, misalnya
dollar.
Kurs mata uang tersebut bisa berubah-ubah, tergantung pada situasi ekonomi
negara masing-masing. Islam mengakui perubahan nilai mata uang asing dari
waktu ke waktu secara sunnatullah (mekanisme pasar). Bila perubahan itu terlalu
tinggi, maka campur tangan pemerintah diperlukan untuk menjaga stabilitas mata
uang, karena Islam menginginkan terciptanya stabilitas kurs mata uang.
Transaksi jua beli valuta asing sebagaimana yang digambarkan di atas, umumnya
diselenggarakan di pasar valuta asing, money changer, bank devisa dan
perusahaan bisnis valas.
Larangan Spekulasi Valas
Sekali lagi ditegaskan bahwa pertukaran mata uang atau jual beli valas
untu kebutuhan sektor riil, baik transaksi barang maupun jasa, hukumnya boleh
(jaiz) menurut hukum Islam. Namun, bila motifnya untuk spekulasi, sebagaimana
yang banyak terjadi saat ini, maka hukumnya haram.
Argumentasi dan dasar pemikiran larangan perdagangan spekulasi valas untuk
spekulasi, dirumuskan dalam bentuk poin di bawah ini :
Pendapat Mahathir Muhammad, PM Malaysia, Mahathir Muhammad
dikenal luas sebagai orang yang mengecam keras praktik perdagangan valas
(Margin trading valas). Larangan keras ini didasarkan pada sejumlah alasan :
I. Berdagang valuta asing ini tidak ubahnya seperti judi, karena dalam transaksinya
penuh dengan spekulasi. 2. Konstribusi margin trading sangat signifikan terhadap
melemahnya rupiah atas dollar AS. Sedangkan melemahnya rupiah atas dollar
merupakan bencana bagi ekonomi Indonesia. 3. Praktik margin trading biasanya
tidak mengindahkan fair bussines. 4. Karena tidak ada proses transaksi riel, para
pelaku hanya mengandalkan selisih dari harga valuta pada saat penutupan.
II. Uang bukan komuditas. Dalam ekonomi Islam, uang tidak boleh dijadikan sebagai
komoditas, namun dalam perdagangan valuta, yang secara jelas, telah dijadikan
sebagai komoditas.
Menurut Taqiyuddin An-Nabhani dalam buku An-Nizham al Iqtishadi al-
Islami, mengatakan bahwa uang adalah standar nilai pada barang dan jasa (199-
297). Demikian pula Thahir Abdul Muhsin Sulaiman dalam buku Ilajul
Musykilah al-Iqtishadi bil Islam, memandang uang sebagai medium of exchange.
Pakar ekonomi Islam sepakat, bahwa perdagangan spekulasi valuta telah
menimbulkan dampak buruk bagi perekonomian dunia dan senantiasa mengancam
ekonomi banyak negara. Oleh karena itu praktik spekulasi valas harus dilarang.
Menurut ekonomi Islam, transaksi valas hanya dibenarkan apabila
digunakan untuk kebutuhan sektor riel, seperti membeli barang untuk kebutuhan
import, berbelanja atau membayar jada di luar negeri, sebagaimana yang
dibutuhkan para jamaah haji, dan sebagainya.
Perdagangan valas dalam kegiatan spekulasi adalah sebuah transaksi maya
(semu), karena padanya tidak terdapat jual beli sektor riil. Dalam perdagangan
valas, yang diperjualbelikan adalah uang itu sendir, bukan barang atau jasa.
Dalam transaksi maya, tidak ada sektor riil (barang atau jasa) yang
diperjualbelikan. Mereka hanya memperjualbelikan kertas berharga dan mata
uang untuk tujuan spekulasi. Selisih dan tambahan (gain) yang diperoleh dan jual
beli itu termasuk kepada riba. Karena gain itu diperoleh bighairi iwadhin, yakni
tanpa ada sektor riil yang dipertukarkan, kecuali mata uang itu sendiri.
Tegasnya, gain (harga beli lebih besar dari harga jual) yang diperoleh
dalam perdagangan valas adalah riba. Pelarangan riba yang secara tegas terdapat
dalam Al-Quran (QS. 2 : 275-279), pada hakikatnya, merupakan pelarangan
terhadap transaksi maya. Firman Allah, Allah menghalalkan jual beli (sektor
riil), dan mengharamkan riba (transaksi maya).

Dampak Spekulasi Perdagangan Valas


a). Perdagangan valas menimbulkan dampak negatif bagi perekonomian suatu
negara, antara lain menimbulkan ketidakstabilan nilai tukar mata uang. Sehingga
menggusarkan para pengusaha dan masyarakat umum, malah kegiatan jual-beli
valas cenderung mendorong jatuhnya nilai uang rupiah, karena para spekulan
sengaja melakukan rekayasa pasar agar nilai mata uang suatu negara berfluktuasi
secara tajam.
Bila nilai rupiah anjlok, maka secara otomatis, rusaklah ekonomi Indonesia yang
ditandai dengan naiknya harga barang-barang atau terjadinya inflasi secara tajam.
Sedangkan inflasi adalah realitas ekonomi yang tidak diinginkan ekonomi Islam.
Akibat lain adalah goncang dan ambruknya perusahaan yang tergantung pada bahan
impor yang pada gilirannya mengakibatkan kesulitan operasional dan sering
menimbulkan PHK di mana-mana. Demikian pula, suku bunga perbankan menjadi
tinggi, APBN harus direvisi karena disesuaikan dengan dollar. Defisit APBN pun
semakin membengkak secata tajam.
Demikianlah keburukan jatuhnya nilai mata uang rupiah yang dipicu oleh permainan
spekulasi valas. Berdasarkan dampak negatif itu, perdagangan valas untuk
kepentingan spekulasi, amat dilarang dalam Islam.
b). Dampak lain transaksi maya dalam perekonomian ialah terjadinya
ketidakseimbangan arus moneter dengan arus finansial. Realitas
ketidakseimbangan arus moneter dan arus barang/jasa tersebut, mencemaskan dan
mengancam ekonomi berbagai negara.
Dalam ekonomi Islam, jumlah uang yang beredar, bukanlah variabel yang
dapat ditentukan begitu saja oleh pemerintah sebagai variabel eksogen. Dalam
ekonomi Islam, jumlah uang yang beredar ditentukan di dalam perekonomian
sebagai variabel endogen, yaitu ditentukan oleh banyaknya permintaan uang di
sektor riel. Atau dengan kata lain, jumlah uang yang beredar sama banyaknya
dengan nilai barang dan jasa dalam perekonomian.
Dalam ekonomi Islam, sektor finansial dan sektor riel. Inilah perbedaan
konsep ekonomi Islam dengan ekonomi konvensional, jelas memisahkan antara
sektor finansial dan sektor riel.
Akibat pemisahan itu, ekonomi dunia rawan krisis, khususnya negara-negara
berkembang (terparah Indonesia). Sebab, pelaku ekonomi tidak lagi menggunakan
uang untuk kepentingan sektor riil, tetapi untuk kepentingan spekulasi mata uang.
Spekulasi inilah yang dapat menggoncang ekonomi berbagai negara, khususnya
negara yang kondisi politiknya tidak stabil. Akibat spekulasi itu, jumlah uang
yang beredar sangat tidak seimbang dengan jumlah barang di sektor riil.
Bagi spekulan, tidak penting apakah nilai menguat atau melemah. Bagi mereka
yang penting adalah mata uang selalu berfluktuasi. Tidak jarang mereka
melakukan rekayasa untuk menciptakan fluktuasi bila ada momen yang tepat,
biasanya satu peristiwa politik yang minimbulkan ketidakpastian.
Menjelang momentum tersebut, secara perlahan-lahan mereka membeli rupiah,
sehingga permintaan akan rupiah meningkat. Ini akan mendorong nilai rupiah
menguat. Penguatan rupiah secara semu ini, akan menjadi makanan empuk para
spekulan.
Bila momentumnya muncul dan ketidakpastian mulai merebak, mereka akan
melepaskan rupiah sekaligus dalam jumlah besar. Pasar akan kebanjiran rupiah
dan tentunya nilai rupiah akan anjlok. Para spekulan meraup keuntungan dari
selisih harga harga beli dan harga jual. Makin besar selisihnya, makin menarik
bagi para spekulan untuk bermain.
c). Perdagangan mata uang (valas) secar signifikan menimbulkan kerawanan krisis
bagi suatu negara. Karena itulah, maka konferensi tahunan Asociation of Muslim
scientist di Chicago, Oktober 1998 yang membahas masalah krisis ekonomi Islam,
menyepakati bahwa akar persoalan krisis adalah perkembangan sektor finansial
yang berjalan sendiri, tanpa terkait dengan sektor riil.
Dengan demikian, nilai suatu mata uang dapat berfluktuasi secara liar. Solusinya
adalah mengatur sektor finansial agar dijauhkan dari segala transaksi yang
mengandung riba, termasuk transaksi maya di pasar uang.
Gejala decopling, sebagaimana digambarkan di atas, disebabkan, karena alat tukar
dan penyimpanan kekayaan, tetapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan
dan sangat menguntungkan bagi mereka yang memperoleh gain (tambah selisih
harga jual dan harga beli). Meskipun bisa berlaku sebaliknya, yakni orang yang
bisa mengalami kerugian milyaran dolar AS.

2.2.4 Bursa efek


Pemakaian istilah bursa untuk menunjukkan tempat atau transaksi yang
berhubungan dengan surat-surat berharga, merujuk kepada julukan seorang
pedagang Belgia yang bernama Vander Bourse. Definisi bursa secara umum yaitu
tempat transaksi produk-produk surat berharga di bawah pembinaan dan
pengawasan pemerintah (Hasibuan, 2013).
Secara definitif bursa saham atau bursa efek dapat dikatakan sebagai
tempat diselenggarakannya kegiatan perdagangan efek pasar modal yang
didirikan oleh suatu badan usaha (Anoraga dan Pakarti, 2001). Sedangkan yang
dimaksud pasar modal adalah kegiatan yang bersangkutan dengan penawaran
umum dan perdagangan efek, perusahaan publik yang berkaitan dengan efek yang
diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan efek (UU Pasar
Modal No. 8 1995). Lebih umumnya pasar modal dikatakan sebagai sebuah
tempat di mana modal diperdagangkan antara orang yang memiliki kelebihan
modal dengan orang yang membutuhkan modal untuk investasi yang mereka
butuhkan (Al Habshi, tt.). Pasar modal di Indonesia misalnya Bursa Efek Jakarta
(BEJ), Bursa Efek Surabaya (BES) (Bahri, 201

Macam Macam Transaksi Bursa Efek


Transaksi burfa efek memiliki dua macam yaitu dari sisi waktu dan dari sisi objek.
Dari Sisi Waktunya
1. Transaksi instan.
Yakni transaksi dimana dua pihak pelaku transaksi melakukan serah terima jual beli
secara langsung atau paling lambat 2 kali 24 jam atau transaksi instan adalah serah
terima barang sungguhan, bukan sekadar transaksi semu, atau bukan sekadar jual
beli tanpa ada barang, atau bisa diartikan ada serah terima riil..
2. Transaksi berjangka.
Yakni transaksi yang diputuskan setelah beberapa waktu kemudian yang ditentukan
dan disepakati saat transaksi atau bisa juga transaksi berjangka pada umumnya
bertujuan hanya semacam investasi terhadap berbagai jenis harga tanpa keinginan
untuk melakukan jual beli secara riil, dimana jual beli ini pada umumnya hanya
transaksi pada naik turun harga-harga itu saja.
Baik transaksi instan maupun transaksi berjangka terkadang menggunakan kertas-
kertas berharga, terkadang menggunakan barang-barang dagangan.
Dari Sisi Objek
Dari sisi objeknya transaksi bursa efek ini terbagi menjadi dua:
1. Transaksi yang menggunakan barang-barang komoditas (Bursa
komoditas). Dalam bursa komoditas yang umumnya berasal dari hasil alam,
barang-barang tersebut tidak hadir. Barter itu dilakukan dengan menggunakan
barang contoh atau berdasarkan nama dari satu jenis komoditas yang disepakati
dengan penyerahan tertunda
2. Transaksi yang menggunakan kertas-kertas berharga (Bursa efek).
Bursa efek sendiri objeknya adalah saham dan giro. Kebanyakan transaksi bursa
itu menggunakan kertas-kertas saham tersebut. Giro yang dimaksud di sini adalah
cek yang berisi perjanjian dari pihak yang mengeluarkannya, yakni pihak bank
atau perusahaan untuk orang yang membawanya agar ditukar dengan sejumlah
uang yang ditentukan pada tanggal yang ditentukan pula dengan jaminan bunga
tetap, namun tidak ada hubungannya sama sekali dengan pergulatan harga pasar.
Sementara saham adalah jumlah satuan dari modal koperatif yang sama
jumlahnya bisa diputar dengan berbagai cara berdagang, dan harganya bisa
berubah-ubah sewaktu-waktu tergantung keuntungan dan kerugian atau kinerja
perusahaan tersebut (Muhsinhar, 2013).

Fungsi Bursa Efek


Secara umum fungsi bursa saham bisa dibagi menjadi dua yaitu terhadap negara dan
ekonomi.
Peranan bursa saham kepada Negara yaitu:
- Pasar modal yang menyediakan modal bagi pihak yang memerlukannnya
dengan cara jual beli saham.
- Menyediakan layanan dan informasi saham yang berkaitan dengan kerjasama
kepada penanam modal. Disamping menciptakan rangsangan terhadap pasar
saham dan obligasi dikalangan khusus dan umum.
Peranan bursa saham terhadap ekonomi yaitu:
- Mengalokasikan dana dan menyalurkannya untuk proyek-proyek.
- Mengupdate indeks tentang pergerakan harga, barang dan nilai sekaligus
menggambarkan status ekonomi Negara.
- Membantu peningkatan ekonomi dengan berbagai proyek pembangunan.
- Wadah bagi negara untuk mencapai kestabilan nilai tukar mata uang dengan
perdagangan saham dan obligasi sekuriti dalam peningkatan inflasi (Abdulbakri,
2013).

Peranan posistif dan negatif bursa efek


Perusahaan yang maju atau dengan kata lain go publik berarti perusahaan
tersebut membuka diri bagi para pemegang saham dan masyarakat. Sehingga
masyararakat investor akan selalu mengikuti perkembangan dan menilai
keberhasilan perusahaan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Hal
ini karena kebijakannya selalu dinilai oleh para investor. Maka kalangan manajer
akan senantiasa berusaha meningkatkan efisien dan efektifitasnya untuk
mengelola perusahaan sehingga setiap perusahaan memiliki prospek yang baik
berdasarkan penilaian akuntan publik, akuntan negara, serta bapendam. Tentunya
para investor akan memiliki harga pasar bagi sahamnya yang lebih baik. Mereka
yang memiliki perusahaan yang sangat sehat, mengharapkan agar pasarnya
bertambah terus sesuai dengan penampilan perusahaan, sehingga akan diperoleh
keuntungan kalau saham tersebut dijual. Keuntungan dari suatu investasi dalam
saham akan mencakup pendapatan keuntungan berupa dividen dan tambahan
pendapatan berupa selisih harga beli dengan harga jual saham yang dimiliki.
Adanya pengawasan yang ketat dimaksudkan agar tidak terjadi spekulasi
yang berlebihan, yang dapat merugikan investor. Ketika masyarakat investor
sudah semakin dewasa dengan tingkat pengetahuan mengenai pasar modal yang
semakin matang, ketentuan mengenai batas fruktasi (naik turunnya) kurs saham
sudah diperlonggar.
Seiring dengan upaya berbagai pihak dalam mengelola iklim saham
dengan perwujudan bursa efek yang tertib dan sehat, bursa efek dalam
perkembangannya ada masa boom (lonjakan pasar) dan ada pula masa lesu. Masa-
masa lonjakan keberuntungan itu, ironisnya merupakan lahan yang
menguntungkan bagi kaum investor pemilik kekayaan yang relative besar, dan
belum dapat dinikmati oleh golongan investor kecil. Sebaliknya pada masa lesu,
tidak sedikit diantara para investor kecil yang terpaksa menjual sahamnya karena
perlu duit dengan resiko menderita kerugian.

2.3 AKHLAK BEKERJA SEBAGAI KEWAJIBAN DAN IBADAH

Bekerja adalah suatu kewajiban sebagai hamba ALLAH SWT


Allah SWT memerintahkan bekerja kepada setiap hamba-hamba-Nya (QS. Attaubah/
9 : 105) :
Dan katakanlah: Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang
mumin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada
(Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya
kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.

Seorang insan minimal sekali diharuskan untuk dapat memberikan nafkah kepada
dirinya sendiri, dan juga kepada keluarganya. Dalam Islam terdapat banyak sekali
ibadah yang tidak mungkin dilakukan tanpa biaya & harta, seperti zakat, infak,
shadaqah, wakaf, haji dan umrah. Sedangkan biaya/ harta tidak mungkin diperoleh
tanpa proses kerja. Maka bekerja untuk memperoleh harta dalam rangka ibadah
kepada Allah menjadi wajib. Kaidah fiqhiyah mengatakan :

Suatu kewajiban yang tidak bisa dilakukan melainkan dengan pelaksanaan sesuatu,
maka sesuatu itu hukumnya wajib.

Keutamaan (Fadhilah) Bekerja Dalam Islam


a. Orang yang ikhlas bekerja akan mendapatkan ampunan dosa dari Allah SWT.
Dalam sebuah hadits diriwayatkan :

( )

Barang siapa yang sore hari duduk kelelahan lantaran pekerjaan yang telah
dilakukannya, maka ia dapatkan sore hari tersebut dosa-dosanya diampuni oleh
Allah SWT. (HR. Thabrani)

b. Akan diampuninya suatu dosa yang tidak dapat diampuni dengan shalat, puasa,
zakat, haji & umrah. Dalam sebuah riwayat dikatakan :

X


( )

Sesungguhnya diantara dosa-dosa itu, terdapat satu dosa yang tidak dapat
dihapuskan dengan shalat, puasa, haji dan umrah. Sahabat bertanya, Apa yang
dapat menghapuskannya wahai Rasulullah? Beliau menjawab, Semangat dalam
mencari rizki. (HR. Thabrani)

c. Mendapatkan Cinta Allah SWT. Dalam sebuah riwayat digambarkan :


( )

Sesungguhnya Allah SWT mencintai seorang mumin yang giat bekerja. (HR.
Thabrani)

d. Terhindar dari azab neraka

Dalam sebuah riwayat dikemukakan, Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari
berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk,
beliau melihat tangan Saad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman
karena diterpa sengatan matahari. Rasulullah bertanya, Kenapa tanganmu? Saad
menjawab, Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah
keluarga yang menjadi tanggunganku. Kemudian Rasulullah SAW mengambil
tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, Inilah tangan yang tidak akan
pernah disentuh oleh api neraka (HR. Tabrani)

BAB III

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Setelah pemaparan di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam kehidupan ekonominya
manusia memiliki masalah-masalah yang cukup rumit. Dan sebagai solusinya, Islam
telah menawarkan konsep-konsep yang berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah. Dengan
demikian, semakin terbukti bahwa ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang paling
sempurna.

B. SARAN

DAFTAR PUSATAKA

http://www.umm.ac.id/id/detail-98-5-prinsip-ekonomi-islam-opini-umm.html

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/hukum-asuransi.html
http://islam-full.blogspot.com/2013/04/perdagangan-valas-dalam-perspektif.html

https://www.academia.edu/6547664/MASALAH_EKONOMI_DALAM_PANDANGAN_ISLA
M