Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Penggunaan tanaman sebagai obat sudah dikenal luas baik di Negara


berkembang maupun Negara maju. Di Asia dan Afrika 70-80% populasi masih
tergantung pada obat tradisional sebagai pengobatan primer. Penggunaan obat
tradisional disebabkan kepercayaan masyarakat bahwa obat tradisional berbahan
alami, lebih aman dan tidak menimbulkan efek samping.

Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang


berlimpah. Contoh dari kekayaan alam tersebut adalah banyaknya jenis spesies
tanaman di Indonesia. Kurang lebih terdapat 30.000-40.000 spesies tanaman ada
di Indonesia, berbagai tanaman tersebut sebagian telah dimanfaatkan sebagai obat
tradisional oleh masyarakat. Tanaman yang dapat digunakan sebagai obat
tradisional tersebut adalah daun jambu biji.

Ekstraksi adalah proses pemisahan suatau zat berdasarkan perbedaan


kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda, biasanya air dan
yang lainnya ( pelarut organik ). Sedangkan ekstrak (Extracta) adalah sediaan
kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani
menurut cara yang cocok diluar pengaruh matahari langsung ekstrak kering harus
mudah digerus menjadi serbuk. Salah satu metode ekstraksi yang dapat digunakan
untuk mengekstraksi kunyit adalah metode perkolasi.

Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan


cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. Kekuatan yang
berperan pada perkolasi antara lain : gaya berat, kekentalan, daya larut, tegangan
permukaan difusi, osmosa, adesi daya kapiler dan daya geseran (friksi). Cara
perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena aliran cairan
penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang
konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan
konsentrasi. Dan juga karena ruangan diantara serbuk-serbuk simplisia
membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari karena kecilnya saluran
kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mrngurangi lapisan batas,
sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

1.2 Tujuan Percobaan

1
1. Mahasiswa mampu memahami penyarian simplisia dengan cara perkolasi
serta hal-hal yang harus diperhatikan dalam menyari simplisia dengan cara
perkolasi.
2. Mahasiswa mampu membuat ekstrak cair atau kental dengan cara
perkolasi.
3. Membuktikan pengaruh perlindungan ekstrak kunyit terhadap mukosa
lambung mencit BALB/c yang diberi paracetamol.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Perkolasi

Perkolasi adalah metode ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut


mengalir yang selalu baru. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit
sekunder dari bahan alam, terutama senyawa yang tidak tahan panas (termolabil).
Ekstraksi dilakukan dalam bejana yang dilengkapi kran untuk mengeluarkan
pelarut pada bagian bawah. Perbedaan utama dengan maserasi terdapat pada pola
penggunaan pelarut, dimana pada maserasi pelarut hanya dipakai untuk merendam
bahan dalamwaktu yang cukup lama, sedangkan pada perkolasi pelarut dibuat
mengalir.

Penambahan pelarut dilakukan secara terus menerus, sehingga proses


ekstraksi selalu dilakukan dengan pelarut yang baru. Dengan demikian diperlukan
pola penambahan pelarut secara terus menerus, hal ini dapat dilakukan dengan
menggunakan pola penetesan pelarut dari bejana terpisah disesuaikan dengan
jumlah pelarut yang keluar atau dengan penambahan pelarut dalamjumlah besar
secara berkala. Yang perlu diperhatikan jangan sampai bahan kehabisan pelarut.
Proses ekstraksi dilakukan sampai seluruh metabolit sekunder habis tersari,
pengamatan sederhana untuk mengindikasikannya dengan warna pelarut,
dimanabila pelarut sudah tidak lagi berwarna biasanya metabolit sudah tersari.
Namun untuk memastikan metabolit sudah tersari dengan sempurna dilakukan
dengan menguji tetesan yang keluar dengan KLT atau spektrofometer UV.
Penggunaan KLT lebih sulit karena harus disesuaikan fase gerak yang dipakai,
untuk itu lebih baik menggunakan spektrofotometer ditandai dengan tidak adanya
puncak.

Perkolasi dilakukan dalam wadah berbentuk silindris atau kerucut


(perkulator) yang memiliki jalan masuk dan keluar yang sesuai. Bahan
pengekstraksi yang dialirkan secara kontinyu dari atas, akan mengalir turun secara
lambat melintasi simplisia yang umumnya berupa serbuk kasar. Melalui
penyegaran bahan pelarut secara kontinyu, akan terjadi proses maserasi bertahap
banyak. Jika pada maserasi sederhana tidak terjadi ekstraksi sempurna dari
simplisia oleh karena akan terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan dalam
sel dengan cairan disekelilingnya, maka pada perkolasi melalui simplisia bahan
pelarut segar perbedaan konsentrasi tadi selalu dipertahankan. Dengan demikian
ekstraksi total secara teoritis dimungkinkan (praktis jumlah bahan yang dapat
diekstraksi mencapai 95%).

3
2.2 Jenis-jenis perkolator

Jenis-jenis dari perkolator yaitu :

a. Perkolator bentuk corong.


b. Perkolator bentuk tabung.
c. Perkulator bentuk paruh.

Dasar pemilihan perkolator tergantung pada jenisn serbuk simplisia


yang akan disari. Jumlah bahan yang disari tidak boleh lebih dari 2/3 tinggi
perkolator.

2.3 Hal-hal yang perlu diperhatikan pada metode perkolasi


1. Pembuatan ekstrak cair dengan penyari etanol dilakukan tanpa
pemanasan.
2. Untuk ekstrak cair dengan penyari etanol,hasil akhir sebaiknya
dibiarkan ditempat sejuk selama 1 bulan, kemudian disaring
sambilmencegah penguapan.
3. Untuk ekstrak cair dengan penyari air, segera dihangatkan padasuhu
90C, dienapkan dan diserkai kemudian diuapkan pada tekanan
rendah tidak lebih dari 50C hingga diperoleh konsentrasi yang
dikehendaki.
4. Bagian leher perkolator diberikan kapas atau gabus bertoreh. Kapas
atau gabus bertoreh diusahan tidak basah oleh air. Untuk penggunaan
gabus, sebaiknya dilapisi dengan kertas saring yang bagian tepinya
digunting supaya dapat menempel pada dinding perkolator.
5. Pemindahan massa ke perkolator dilakukan sedikit demi sedikit
sambil ditekan. Penekanan bertujuan untuk mengatur kecepatan aliran
penyari. Bilazat tidaktersari sempurna, penekanan dilakukan dengan
agak kuat. Selain itu, bila perkolat tidak menetes, massa terlalu padat
atau serbuk simplisia terlalu halus,maka perkolator harus dibongkar.
Kemudian dimasukkan kembali dengan penekanan agak longgar bila
perlu dicampur dengan sejumlah kerikil yang bersih.
6. Cairan penyari yang dituangkan harus selalu dijaga agar selapis cairan
penyari selalu ada dipermukaan massa, diusahakan agar kecepatan
cairan penyari samadengan kecepatan sari menetes.
7. Penambahan cairan penyari dilakukan setelah didiamkan selama 24
jam.
8. Kecepatan aliran perkolator diatur 1 mL/menit.

2.4 Kelebihan metode perkolasi

4
Tidak terjadi kejenuhan pengaliran meningkatkan difusi (dengan dialiri
cairan penyari sehingga zat seperti terdorong untuk keluar dari sel).

2.5 Kekurangan metode perkolasi


a. Cairan penyari lebih banyak.
b. Resiko cemaran mikroba untuk penyari air karena dilakukan secara
terbuka.

2.6 Prinsip Perkolasi

Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara serbuk simplisia


dimaserasi selama 3 jam, kemudian simplisia dipindahkan ke dalam bejana
silinder yang bagian bawahnya diberi sekat berpori, cairan penyari dialirkan dari
atas ke bawah melalui simplisia tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif
dalam sel-sel simplisia yang dilalui sampai keadan jenuh. Gerakan ke bawah
disebabkan oleh karena gravitasi, kohesi, dan berat cairan di atas dikurangi gaya
kapiler yang menahan gerakan ke bawah. Perkolat yang diperoleh dikumpulkan,
lalu dipekatkan.

2.7 Modifikasi Perkolasi

Untuk menghindari kehilangan minyak atsiri pada pembuatan sari, maka


cara perkolasi diganti dengan cara reperkolasi. Pada perkolasi dilakukan
pemekatan sari dengan pemanasan, pada reperkolasi tidak dilakukan pemekatan.
Reperkolasi dilakukan dengan cara simplisia dibagi dalam beberapa perkolator.

a. Perkolasi bertingkat

Dalam proses perkolasi biasa, perkolat yang dihasilkan tidak dalam


kadar yang maksimal. Selama cairan penyari melakukan penyarian serbuk
simplisia, maka terjadi aliran melalui lapisan serbuk dari atas sampai
kebawah disertai pelarutan zat aktifnya. Proses penyaringan tersebut akan
menghasilkan perkolat yang pekat pada tetesan pertama dan terakhir akan
diperoleh perkolat yang encer.

5
Untuk memperbaiki cara perkolasi tersebut dilakukan cara
perkolasi bertingkat. Serbuk simplisia yang hampir tersari sempurna
sebelum dibuang disari dengan cairan penyari yang baru. Hal ini
diharapkan agar serbuk simplisia tersebut dapat tersari sempurna.
Sebaliknya serbuk simplisia yang baru disari dengan perkolat yang hampir
jenuh, dengan demikian akan diperoleh perkolat akhir yang jernih,
kemudian perkolat dipisahkan dan dipekatkan.

Cara ini cocok digunakan untuk perusahaan obat tradisional,


termasuk perusahaan yang memproduksi sediaan galenik. Agar diperoleh
cara yang tepat, perlu dilakukan percobaan pendahuluan. Dengan
percobaan tersebut dapat ditetapkan :

1. Jumlah perkolator yang diperlukan.


2. Bobot serbuk simplisia untuk tiap kali perkolasi.

3. Jenis cairan penyari.

4. Jumlah cairan penyari untuk tiap kali perkolasi.

5. Besarnya tetesan dan lain-lain.

Perkolator yang digunakan untuk cara perkolasi ini agak berlainan


dengan perkolator biasa. Perkolator ini harus dapat diatur sehingga :

1. Perkolat dari suatu perkolator dapat dialirkan ke perkolator lainnya.


2. Ampas dengan mudah dapat dikeluarkan.

Perkolator diatur dalam suatu suatu deretan dan tiap perkolator


berlaku sehingga tiap perkolator berlaku sebagai perkolator pengatur.

Untuk mendapatkan hasil ekstraksi yang lebih tuntas digunakan


metode perkolasi, alatnya namanya perkolator yaitu bentuk tabung terbalik
dibagian bawah dipasang kran dan dibagian atas diletakkan wadah berisi

6
cadangan penyari. Bagian tengah perkolator diletakkan serbuk simplisia
yang akan diekstraksi, direndam dalam penyari yang dipilih selama
beberapa saat, setelah itu kran bawah dibuka sedikit sehingga cairan
penyari akan menetes lebawah tetes per tetes, otomatis cadangan penyari
diatas perkolator akan ikut menetes mengganti pelarut yang keluar berupa
ekstrak. Dengan cara ini maka fenomena jenuh seperti halnya terjadi
pada metode maserasi tidak akan terjadi dan selama terjadi aliran maka
perbedaan konsentrasi antara zat aktif didalam dan diluar sel akan selalu
terjaga sebesar-besarnya.sehingga proses ekstraksinya akan berjalan
dengan lebih sempurna dan lebih tuntas tersari sempurna.

7
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Uraian Tanaman Kunyit

3.1.1 Klasifikasi Tanaman

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Class : Monocotyledonae

Ordo : Zingiberales

Family : Zingiberaceae

Genus : Curcuma

Spesies : Curcuma domestica, Vhal

3.1.2 Deskripsi Tanaman

Kunyit (Curcuma domestica Vhal) termasuk salah satu tanaman


rempah dan obat asli dari wilayah Asia Tenggara. Tanaman ini kemudian
mengalami persebaran ke daerah Indo-Malaysia, Indonesia, Australia
bahkan Afrika. Hampir setiap orang Indonesia dan India serta bangsa Asia
umumnya pernah mengkonsumsi tanaman rempah ini, baik sebagai
pelengkap bumbu masakan, jamu atau untuk menjaga kesehatan dan
kecantikan. Kunyit adalah rempah-rempah yang biasa digunakan dalam
masakan di negara-negara Asia.
Kunyit sering digunakan dalam masakan sejenis gulai, dan juga
digunakan untuk memberi warna kuning pada masakan. Produk farmasi
berbahan baku kunyit, mampu bersaing dengan berbagai obat paten,

8
misalnya untuk peradangan sendi (arthritis-rheumatoid) atau osteoarthritis
berbahan aktif natrium diklofenak, piroksikam, dan fenil butason dengan
harga yang relatif mahal atau suplemen makanan (Vitamin-plus) dalam
bentuk kapsul. Produk bahan jadi dari ekstrak kunyit berupa suplemen
makanan dalam bentuk kapsul (Vitamin-plus) pasar dan industrinya sudah
berkembang. Suplemen makanan dibuat dari bahan baku ekstrak kunyit
dengan bahan tambahan Vitamin B1, B2, B6, B12, Vitamin E, Lesitin,
Amprotab, Mg-stearat, Nepagin dan Kolidon 90.
Tanaman kunyit tumbuh dengan tinggi 40-100 cm. Batang
merupakan batang semu, tegak, bulat, membentuk rimpang dengan warna
hijau kekuningan dan tersusun dari pelepah daun (agak lunak). Daun
tunggal, bentuk bulat telur (lanset) memanjang hingga 10-40 cm, lebar 8-
12,5 cm dan pertulangan menyirip dengan warna hijau pucat. Berbunga
majemuk yang berambut dan bersisik dari pucuk batang semu, panjang 10-
15 cm dengan mahkota sekitar 3 cm dan lebar 1,5 cm, berwarna
putih/kekuningan. Ujung dan pangkal daun runcing, tepi daun yang rata.
Kulit luar rimpang berwarna jingga kecoklatan, daging buah merah jingga
kekuning-kuningan.

3.1.3 Kandungan Kimia

Kunyit mengandung senyawa yang berkhasiat obat, yang disebut


kurkuminoid yang terdiri dari kurkumin, desmetoksikumin dan
bisdesmetoksikurkumin serta zat-zat bermanfaat lainnya. Kandungan
kurkuminoid : Kurkumin : R1 = R2 = OCH3 10 %, Demetoksikurkumin :
R1 = OCH3, R2 = H 1 5 %, Bisdemetoksikurkumin: R1 = R2 = H,
sisanya Minyak asiri / Volatil oil (Keton sesquiterpen, turmeron, tumeon
60%, Zingiberen 25%, felandren, sabinen, borneol dan sineil ), Lemak 1 -3
%, Karbohidrat 3 %, Protein 30%, Pati 8%, Vitamin C 45-55%, Garam-
garam Mineral (Zat besi, fosfor, dan kalsium). Struktur kurkumin :

Struktur kurkumin

9
3.1.4 Khasiat

Kandungan utama kurkumin dan minyak atsiri, berfungsi untuk


pengobatan hepatitis, antioksidan, gangguan pencernaan, anti mikroba
(broad sprectum), anti kolesterol, anti HIV, anti tumor (menginduksi
apostosis), menghambat perkembangan sel tumor payudara ( hormone
dependent and independent), menghambat ploriferasi sel tumor pada usus
besar (dose-dependent), anti invasi, anti rheumatoid arthritis (rematik),
diabetes melitus, tifus, usus buntu, disentri, sakit keputihan, haid tidak
lancar, perut mulas saat haid, memperlancar, perut mulas saat haid,
memperlancar ASI, amandel, berak lendir, morbili, cangkrang
(Waterproken).

Umbi akar yang berumur lebih dari satu tahun dipakai obat (umbi
akar bersifat mendinginkan, membersihkan, mempengaruhi bagian perut
khususnya lambung, merangsang, melepaskan kelebihan gas di usus,
menghentikan pendarahan dan mencegah penggumpalan darah) selain dari
itu juga digunakan sebagai bahan dalam masakan. Kunyit juga digunakan
sebagai obat anti gatal anti kejang serta mengurangi pembengkakan
selaput lendir mulur. Kunyit dikonsumsi dalam bentuk perasan yang
disebut filtrat, juga diminum sebagai ekstrak atau digunakan sebagai salep
untuk megobati bengkak. Kunyit juga berkhasiat untuk menyembuhkan
hidung yang tersumbat, caranya dengan membakar kunyit dan
menghirupnya.

10
BAB IV

METODE

4.1 Alat

a. Perkolator dan perlengkapannya.

b. Botol perkolat.

c. Waterbath.

d. Timbangan simplsia.

e. Batang pengaduk.

f. Cawan penguap.

g. Wadah ekstrak.

h. Kapas.

i. Kertas saring, dan

j. Alat-alat gelas lainnya.

4.2 Bahan

a. Simplisia kunyit.

b. Paracetamol

c. Etanol konsentrasi 50%, 70% dan 96%.

d. Aquades.

4.3 Membuat ekstrak Rimpang Kunyit

Ekstrak kunyit dibuat dengan cara menggunakan 100g simplisia


(kunyit) dengan 2,3-5 bagian penyari (etanol70%) yang akan menghasilkan
ekstrak cair, kemudian diuapkan diatas waterbath hingga diperoleh ekstrak
kental.

4.4 Cara Kerja

1. Dibuat 100 bagian perkolat.

2. Siapkan perkolator.

11
3. Basahi 100g serbuk simplisia (kunyit) dengan 2,5-5 bagian penyari,

4. Masukkan kedalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam.

5. Pindahkan massa sedikit demi sedikit kedalam perkolator sambil tiap


kali ditekan hati-hati.

6. Tuangkan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes


dan diatas simplisia masih terdapat selapis cairan penyari.

7. Tutup perkolator dan biarkan selama 24 jam.

8. Biarkan cairan menetes dan diatas simplisia masih terdapat 1 mL per


menit.

9. Tambahkan berulang-ulang cairan penyari secukupnya hingga selalu


terdapat selapis cairan penyari diatas simplisia hingga diperoleh 80
bagian perkolat.

10. Peras massa, campurkan cairan perasan kedalam perkolat

11. Tambahkan cairan penyari hingga diperoleh volume yang di inginkan.

12. Pindahkan kedalam bejana, tutup dan biarkan selama 2 hari ditempat
sejuk, terlindung dari cahaya.

13. Enap, dituangkan atau disaring.

14. Uapkan perkolat diatas waterbath hingga diperoleh ekstrak kental.

4.4.1 Cara kerja dalam penelitian

1. Penetuan Dosis Ekstrak

Dosis kunyit yang digunakan berdasarkan penelitian sebelumnya


yaitu 100mg/kg pada tikus dikonversikan ke mencit. Perhitungan dosis
kunyit pada mencit adalah 0,14 (faktor konversi) dikali dengan 0,2 kg
(berat tikus) dikali dengan 100mg/kg (dosis kunyit pada tikus tiap kg berat
tikus) maka diperoleh dosis untuk mencit yaitu 3mg. Pada penelitian ini
digunakan 3 dosis untuk memperoleh dosis maksimal. Dosis pertama
adalah dosis empiris diatas 3 mg, dosis kedua adalah 2 kali dosis empiris
setara dengan 6 mg dan dosis ketiga adalah 4 kali dosis empiris setara

12
dengan 12mg. Esktak kunyit diberikan dengan cara dilarutkan dalam 0,5
ml aquadest.
Parasetamol diperoleh dari laboratorium farmasi FK Undip. Dosis
yang digunakan berdasarkan penelitian sebelumnya yaitu dengan konversi
dosis dari dosis manusia 500mg dikali 0,0026 (faktor konversi) maka
didapat hasil 1,3 mg untuk menjadi toksik maka ditingkatkan menjadi 3,5
mg dosis tersebut sudah menunjukkan adanya iritasi pada mukosa
lambung mencit. Parasetamol dilarutan dalam 0,5 ml aquadest untuk setiap
kali pemberian.
2. Langkah Penelitian
Sebelum penelitian mencit diadaptasikan dalam lingkungan
laboratorium histologi FK Undip dengan dikandangkan sesuai kelompok
dan jenis kelamin serta diberi pakan standar serta minumum yang sama
selama 7 hari dan diawasi kesehatannya.
3. Pemberian Perlakuan
a. kelompok kontrol hanya diberi pakan standar
b. P1 tiap hari diberi 0,5 cc larutan yang mengandung parasetamol 3,5mg
dari hari 1 -7.
c. P2 tiap hari diberi 0,5 cc larutan yang mengandung ekstrak kunyit 3
mg dari hari 1-14.
d. Kelompok P3, P4 dan P5 tiap hari diberi 0,5 cc larutan masing-masing
mengandung ekstrak kunyit 3 mg, 6 mg, dan 12 mg dari hari ke 1-14,
kemudian kelompok P3, P4 dan P5 tersebut dari hari ke 15-21 setiap
hari diberi 0,5 cc larutan yang mengandung parasetamol 3,5 mg.
Pemberian perlakuan melalui saluran cerna menggunakan sonde
lambung.
4. Setelah perlakuan
Setelah diberi perlakuan sesuai jadwal masing-masing kelompok,
kemudian mencit dimatikan dengancara dislokasi leher untuk diambil
lambungnya serta difiksasi dengan buffer dengan formalin 10%,
selanjutnya dibuat preparat histologi dengan pewarnaan hemaktosilin-
eosin sesuai dengan metode baku histologi preparat pembuatan jaringan.
Dari setiap mencit dibuat preparat lambung dan preparat masing-
masing mencit dari anggota kelompok, dilihat di 5 tempat dengan
menggeser dari kiri kekanan serta pemberian skor adalah sesuai dengan

13
adanya gambaran mikroskopik atau kelainan yang dilihat. Pemeriksaan
dilakukan dengan menggunakan mikroskopik cahaya dengan perbesaran
400 kali.
Sasaran utama sasaran yang dibaca adalah integrasi (iritasi) epitel
mukosa lambung dengan penelitian berdasarkan modifikasi dari kriteria
Manja Barthel, yaitu skor 0, apabila tidak ada perubahan patologis, skor 1
apabila terjadi deskuamasi epitel, skor 2 apabila terjadi erosi permukaan
epitel (gap1-10 sel epitel/ lesi),skor 3 apabila terjadiulserasi epitel (gep
>10 sel epitel/lesi).
5. Hasil Penlitian
Data hasil penelitian diolah dengan program komputer SPSS 15.00.
Pengaruh ekstrak kunyit terhadap mukosa lambung mencit yang diberi
parasetamol dianalisis dengan uji statistik non parametrik Kruskal Wallis
kemudian dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney.

14
Data Hasil Penelitian

Rerata skor integritas epitel mukosa lambung dapat digunakan


untuk mengetahui adanya iritasi mukosa lambung sesuai penelitian
sebelumnya.Pada pemberian parasetamol (P1) terjadi peningkatan rerata
skor integritas (iritasi) epitel mukosa lambung tertinggi. Hal tersebut
mengindikasikan iritasi mukosa lambung terbanyak. Hasil ini sesuai
penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa parasetamol dapat
mengiritasi mukosa lambung pada dosis tinggi.

Patogenesis gastritis akut yang paling banyak berupa iritasi mukosa


yaitu terjadi peningkatan pengelupasan sel epitel permukaan akibat obat-
obat yang mempunyai efek iritasi sehingga menyebabkan eksfoliasi sel
epitel permukaan dan mengurangi sekresi mukus yang merupakan barier
protektif terhadap serangan asam. Parasetamol dosis besar dapat

15
menyebabkan iritasi mukosa lambung dengan menghambat biosintesis
prostaglandin melalui enzim siklooksigenase, Penurunan sintesa
prostaglandin menyebabkan penuruan sekresi mukus dan bikarbonat
sehingga menyebabkan kerusakan mukosa lambung. Selain itu
prostaglandin mempunyai efek vasodilatasi, dengan penghambatan
tersebut yang dapat menurunkan sirkulasi darah ke mukosa lambung
sehingga dapat terjadi iskemia jaringan yang menyebabkan mukosa
mengalami erosi.
Pada pemberian kunyit (P2) rerata skor integritas epitel mukosa
lambung tidak berbeda jauh dengan kontrol, hal ini menunjukkan kunyit
tidak terlalu menimbulkan iritasi mukosa lambung. Walaupun pemberian
kunyit dapat menimbulkan iritasi namun bersifat ringan. Iritasi mukosa ini
kemungkinan disebabkan, seperti laporan peneliti sebelumnya,
kurkuminoid bisa menyebabkan iritasi mukosa lambung jika dikonsumsi
dalam keadaan lambung kosong.
Pada kelompok P3 (kunyit 3 mg kemudian parasetamol) dan P4
(kunyit 6mg kemudian parasetamol) rerata integrasi epitel mukosa
lambung lebih kecil dari kelompok yang diberi parasetamol tetapi pada
statistik menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna terhadap kelompok
P1 (parasetamol) tersebut. Hal ini berarti ekstrak kunyit 3 mg dan 6 mg
belum efektif dalam melindungi mukosa lambung dari efek parasetamol.
Pada kelompok P5 (kunyit 12 mg kemudian parasetamol)
menunjukkan adanya pengaruh perlindungan ekstrak kunyit terhadap
mukosa lambung dari efek parasetamol. Pengujian statistik menunjukkan
perbedaan bermakna dengan kelompok P1(parasetamol). Potensi
perlindungan tersebut dikarenakan efek gastroprotektif dan antiulkus,
dengan beberapa mekanisme, antara lain karena ekstrak kunyit dapat
memblok reseptor histamin H2 (RH2) secara langsung dan menghambat
reseptor gastrin sehingga sekresi asam lambung menurun. Di samping itu
ekstrak kunyit dapat memproteksi mukosa asam lambung dengan
meningkatkan sekresi mukus dan mempunyai efek vasodilatator. Dengan

16
mekanisme-mekanisme di atas, kunyit berpengaruh meningkatkan
pertahanan mukosa lambung.

17
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1. Perkolasi adalah metode ekstraksi cara dingin yang menggunakan pelarut
mengalir yang selalu baru.

2. Perkolasi banyak digunakan untuk ekstraksi metabolit sekunder dari bahan


alam, terutama senyawa yang tidak tahan panas (termolabil). Ekstraksi
dilakukan dalam bejana yang dilengkapi kran untuk mengeluarkan pelarut
pada bagian bawah. Perbedaan utama dengan maserasi terdapat pada pola
penggunaan pelarut, dimana pada maserasi pelarut hanya dipakai untuk
merendam bahan dalamwaktu yang cukup lama, sedangkan pada perkolasi
pelarut dibuat mengalir.

3. Ekstrak kunyit berpengaruh dalam melindungi mukosa lambung mencit


BALB/c yang mengalami iritasi akibat parasetamol terutama pada dosis
12mg/hari.

18