Anda di halaman 1dari 47

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Telah diketahui bahwa untuk dapat memelihara dan meningkatkan derajat


kesehatan, mencegah, dan mengobai penyakit serta memulihkan kesehatan
masyarakat perlulah di sediakan dan di selenggarakan pelayanan kesehatan
masyarakat (public health services) yang sebaik-baiknya. Untuk dapat
menyiapkan dan menyelenggarakan pelayanan kesehantan tersebut, banyak yang
hurus di perhatikan. Yang paling penting adalah pelayanan kesehatan yang
dimaksud harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Namus sekalipun terdapat
kesesuaian yang seperti ini telah menjadi kesepakatan semua pihak,namu dalam
praktek sehari-hari tidaklah mudah dalam menyediakan dan menyelenggarakan
pelayanan kesehatan yang dimaksud.
Untuk megatasinya, telah di diporoleh semacam kesepakan bahwa perumusan
kebutuhan kesehatan dapat dilakukan jika diketahui masalah kesehatan
masyarakat. Dengan kesepakatan yang seperti ini diupayakan menemukan
masalah kesehatan yang ada di masyarakat tersebut. Demikianlah, berpedoman
pada kesepakatan yang seperti ini dilakukan berbagai upaya untuk menemukan
serta merumuskan masalah kesehatan masyarakat.
Upaya tersebut dikaitkan dengan menentukan frekuensi, penyebaran serta
faktor-faktor yang mempengaruhi frekuensi dan penyebaran disuatu masalah
kesehatan dimasyarakat tercakup dalam suatu cabang ilmu khusus disebut dengan
Epidemiologi. Subjek dan objek epidemiologi adalah tentang masalah kesehatan.
Ditinjau dari sudut epidemiologi, pemahaman tentang masalah kesehatan berupa
penyakit amatlah penting. Karena sebenarnya berbagai masalah kesehatan yang
bukan penyakit hanya akan menpunyai arti apabila ada hubungannya dengan soal
penyakit. Apabila suatu masalah kesehatan tidak sangkut pautnya denga soal
penyakit, maka pada lazimnya masalah kesehatan tersebut tidak terlalu
dipreoritaskan penanggulangannya.
2

Demikian karena pentingnya soal penyakit ini, maka perlulah dipahami


dengan sebaik-baiknya hal ikhwal yang berkaitan dengan penyakit tersebut.
Kepentingan dalam epidemiologi paling tidak untuk mengenal ada atau tidaknya
suatu penyakit di masyarakat sedemikian rupa sehingga ketika di lakukan
pengukuran tidak ada yang sampai luput atau tercampur dengan penyakit lainya
yang berbeda.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan yang dapat dirumuskan dari latar belakang diatas adalah
sebagai berikut:
1. Jelaskan tentang epidemiologi secara defenisi, ruang lingkup, peran dan
manfaat nya
2. Jelaskan tentang desain riset epidemiologi
3. Jelaskan tentang konsep endemik dan epidemik
4. Jelaskan tentang demografi dan unsur-unsurnya
5. Jelaskan factor-faktor yang mempengaruhi distribusi
6. Jelaskan tentang konsep dasar terjadinya penyakit
7. Jelaskan factor resiko dalam hubungannya dengan kejadian penyakit
8. Jelaskan tahapan riwayat alamiah penyakit
9. Jelaskan indikator penilaian kondisi kesehatan masyarakat yang berkaitan
dengan gigi dan mulut
10. Jelaskan tentang angka kematian dan kesakitan
11. Jelaskan insidensi dan prevalensi dengan kejadian penyakit
12. Jelaskan metode pencengahan yang bisa dilakukan pada kasus
13. Jelaskan tentang program-program pemerintah dalam meningkatkan derajat
kesehatan
3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Epidemiologi
1. Definisi
Jika ditinjau dari asal kata, epidemiologi berarti ilmu yang mempelajari
tentang penduduk (yunani, yaitu Epi : pada atau tentang, Demos : populasi,
penduduk dan Logos : ilmu).1
Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan
factor-faktor yang menentukan atau mempengaruhi frekuensi dan distribusi
suatu penyakit, cedera dan kejadian terkait kesehatan lainya dan penyebabnya
pada suatu populasi manusia yang sudah jelas.2
WHO pada regional commite meeting ke-42 tahun 1989 di bandung telah
membuat definisi mengenai epidemiologi yaitu ilmu yang mempelajari
distribusi dan determinan dari peristiwa kesehatan dan peristiwa lainnya yang
berhubungan dengan kesehatan yang menimpa sekelompok masyarakat, dan
menerapkan disiplin ilmu tersebut untuk memecahkan masalah-masalah
kesehatan.3
Seiring dengan berkembangnya ilmu, epidemiologi mengalami
perkembangan pengertian dan mengalami perubahan dalam definisi,
diantaranya adalah :
a. Greenword (1934)
Mengatakan bahwa epidemiologi adalah ilmu tentang penyakit dan segala
macam kejadian penyakit yang mengenai kelompok penduduk.
b. Gilliam (1963)
Epidemiologi adalah apa yang dilakukan oleh ahli epidemiologi. Dari
definisi ini, Gilliam menekankan pada semua kegiatan atau tindakan yang
dilakukan oleh ahli epidemiologi.
c. Wade Hampton Frost (1972)

Mendefinisikan Epidemiologi sebagai suatu pengetahuan tentang


fenomena massal (Mass Phenomen) penyakit infeksi atau sebagai riwayat
alamiah (Natural History) penyakit menular. Di sini tampak bahwa pada
4

waktu itu perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah


penyakit infeksi yang terjadi/mengenai masyarakat/massa.

d. Anders Ahlbom & Staffan Norel (1989)

Epidemiologi adalah ilmu pengetahuan mengenai terjadinya penyakit pada


populasi manusia.

e. Gary D. Friedman (1974)

Epidemiologi yaitu ilmu pengetahuan tentang kejadian penyakit di


masyarakat.

f. Morris (1964)
Epidemiologi adalah suatu pengetahuan tentang sehat dan sakit dari suatu
penduduk. Dari definisi ini, morris lebih menekankan pada pengetahuan
penduduk teantang status sehat-sakit.
g. Abdel R. Omran (1974)
Epidemiologi merupakan suatu ilmu mengenai terjadinya dan distribusi
keadaan kesehatan, penyakit dan perubahan pada penduduk,
determinannya serta akibat-akibat yang terjadi pada kelompok penduduk.
h. Lilienfeld (1977)
Epidemiologi adalah suatu metode pemikiran tentang penyakit yang
berkaitan dengan penilaian biologis dan berasal dari pengamatan suatu
tingkat kesehatan suatu populasi.
i. Last (1988)

Epidemiologi adalah studi tentang distribusi dan determinan tentang


keadaan atau kejadian yang berkaitan dengan kesehatan pada populasi
tertentu dan penerapan studi ini untuk mengendalikan masalah.

j. Hirsch (1883)
Epidemiologi adalah suatu gambaran kejadian, penyebaran dari jenis-jenis
penyakit pada manusia pada saat tertentu diberbagai tempat di bumi dan
menghubungkan dengan kondisi eksternal.4

2. Ruang lingkup
5

Adapun ruang lingkup epidemiologi secara sederhana dibedakan atas tiga


macam,yakni :
a. Masalah kesehatan sebagai subjek dan objek epidemologi
Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah penyakit
saja, tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas di tentukan
dimasyarakat. Diantaranya masalah keluarga berencana saja, masalah
kesehatan lingkungan, pengadaan tenaga kesehatan, pengadaan sarana
kesehatan dan sebagainya. Dengan demikian, subjek dan objek
epidemiologi berkaitan dengan masalah kesehatan secara keseluruhan.
b. Masalah kesehatan pada sekelompok manusia
Pekerjaan epidemiologi dalam mempelajari masalah kesehatan, akan
memanfaatkan data dari hasil pengkajian terhadap sekolompok manusia,
apakah itu menyangkut masalah penyakit, keluarga berencana atau
kesehatan lingkungan, setelah dianalisa dan diketahui penyebabnya
dilakukan upaya-upaya penanggulangan sebagai tindak lanjutnya.
c. Pemanfaatan data tentang frekuensi dan penyebaran masalah kesehatan
dalam merumuskan penyebab timbulnya suatu masalah kesehatan.
Pekerjaan epidemiologi akan dapat mengetahui banyak hal tentang
masalah kesehatan dan penyebab dari masalah tersebut dengan cara
menganalisis data tentang frekuensi dan penyebaran masalh kesehatan
yang terjadi pada sekelompok manusia atau masyarakat. Dengan
memanfaatkan perbedaan yang kemudian dilakukan uji statisti, maka dapat
dirumuskan penyebab timbunyan masalah kesehatan.1

Adapun bidang kajian epidemiolagi diantaranya adalah :

a. Epidemiologi penyakit menular


Epidemiologi penyakit menular adalah epidemiologi yang berusaha
untuk mempelajari distribusi dan factor-faktor yang mempengaruhi
terjadinya penyakit menular dalam masyarakat.
Peranan epidemiologi surveilan yang awalnya hanya ditujukan
pada pengamatan penyakit-penyakit menular yang telah memberikan
hasil yang cukup berarti dalam menanggulangi berbagai masalah
penyakit menular dan penyakit tidak menular
b. Epidemiologi penyakit tidak menular
6

Epidemiologi penyakit tidak menular adalah epidemiologi yang


berusaha untuk mempelajari distribusi dan factor-faktor yang
mempengaruhi terjadinya penyakit tidak menular dalam masyarakat.

Pada saat ini sedang berkembang pesat suatu usaha mencari


berbagai factor yang memegang peranan dalam timbulnya berbagai
masalah penyakit tidak menular, seperti kanker penyakit sitemik, serta
berbagai penyakit menahun lainnya. Bidang ini mulai banyak
digunakan terutama dengan meningkatnya masalah kesehatan yang
berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan akibat kemajuan dalam
berbagai bidang, terutama dalam bidang industry yang banyak
mempengaruhi keadaan lingkungan termasuk lingkungan fisik,
biologis maupun maupun lingkungan social budaya.

c. Epidemiologi klinis
Epidemiologi klinis merupakan salah satu bidang epidemiologi yang
bertujuan untuk dapat membekali para klinisi yang bertujuan untuk
dapat membekali para klinisi dan dokter tentang cara pendekatan
masalah melaui disiplin ilmu melalui epidemiologi
d. Epidemiologi kependudukan
Merupakan salah satu bentuk cabang ilmu epidemiologi yang
menggunakan sistem pendekatan dalam menganalisis berbagai
permasalahan yang berkaitan dengan bidang demokrafi atau
kependudukan
e. Epidemiologi pengelolaan pelayanan kesehatan
Merupakan suatu sistem pendekatan manajemen dalam menganalisis
masalah, mencari factor timbulnya suatu masalah serta penyusunan
rencana pemecahan suatu masalah secara menyeluruh dan terpadu.
f. Epidemiologi lingkungan dan kesehatan kerja
Merupakan salah satu bagian epidemiologi yang mempelajari serta
menganalisis keadaan kesehatan tenaga kerja akibat pengaruh
keterpaparan pada lingkungan kerja, baik yang bersifat fisik, kimiawi,
biologis, maupun social budaya serta kebiasaan hidup para pekerja.
g. Epidemiologi kesehatan jiwa
Merupakan salah satu dasar pendekatan dan analisis masalah gangguan
jiwa dalam masyarakat, baik mengenai kaedaan kelainan jiwa
7

kelompok penduduk tertentu maupun analisis berbagai factor yang


mempengaruhi timbunya gangguan jiwa dalam masyarakat.
h. Epidemiologi gizi
Merupakan epidemiologi yang bertujuan untuk menganalisis berbagai
factor yang berhubungan erat dengan timbulnya masalah gizi
masyarakat, baik yang bersifat biologis, dan terutama yang berkaitan
dengan kehidupan social masyarakat.
i. Epidemiologi perilaku
Merupakan epidemiologi yang menganalisis tidakan masyarakat yang
berbeda ditiap orang berkaitan dengan masalah kesehatan.
j. Epidemiologi genetika
Merupakan epidemiologi yang mempelajari variasi genetic dan
interaksinya dengan factor lingkungan sehingga memanifestasikan
suatu penyakit.4

3. Peran Epidemiologi
Epidemiologi diharapkan dapat berperan dalam pembangunan kesehatan
masyarakat secara keseluruhan. Bentuk peran tersebut dapat dijabarkan dalam
7 peran utama menurut Valanis yaitu :
a. Investigasi etiologi penyakit
Hal ini menggambarkan bahwa epidemiologi dapat digunakan untu
mencari penyebab pasti terjadinya suatu masalah kesehatan.
b. Identifikasi factor resiko
Hal ini menggambarkan bahwa epidemiologi dapat digunakan untuk
mengidentifikasi factor-faktor yang mungkin menjadi penyebab terjadinya
masalah kesehatan.
c. Identifikasi sidrom dan klasifikasi penyakit
Hal ini menggambarkan bahwa epidemiologi dapat digunakan untuk
mengidentifikasi kumpulan gejala dari masalah kesehatan yang nantinya
dapat ditentukan masalah kesehatannya yang akhirnya dimasukkan ke
dalam golongan penyakit tertentu.
d. Melakukan diagnose banding dan perencanaan pengobatan
Hal ini menggambarkan bahwa epidemiologi dapat digunakan untuk
membandingkan 2 masalah kesehatan dengan gejala yang sama sehingga
8

dapat ditentukan diagnose pastinya untuk dapat dilakukan rencana


pengibatan yang tepat.
e. Surveilan status kesehatan penduduk
Surveilans dalam epidemiologi adalah suatu kegiatan memantau dengan
berhati-hati dan memberikan tanggapan yang relevan tentang frekuensi,
distribusi, dan determinan masalah kesehatan yang terjadi di masyarakat.
f. Diagnosis komunitas dan perencanaan pelayanan kesehatan
Karena elemen epidemiologi adalah komunitas atau masyarakat maka
epidemiologi memiliki peranan dalam menentukan masalah kesehatan
komunitas bukan masalah individu. Setelah itu, dilanjutkan dengan
membuat rencana pelayanan kesehatan yang meliputi promotif , preventif,
dan rehabilitative.
g. Evaluasi pelayanan kesehatan dan intervensi kesehatan masyarakat
Epidemiologi memiliki peran dalam menilai secara keseluruhan hasil dari
tindakan kesehatan dan pelayanan kesehatan yang diberikan pada
masyarakat.4
4. Manfaat Epidemiologi
Dari batasan dan ruang lingkup pengertianya, maka epidemiologi sebagai
kumpulan metoda pengamatan yang mencakup berbagai bidang ilmu juga
mempunyai manfaat yang cukup luas, terutama dalm ilmu kesehatan
masyarakat maupun ilmu kedokteran pada umumnya. Meskipun demikian
manfaat utama epidemiologi pada hakekatnya secara garis besarnya dapat di
kelompokkan antara lain sebagai berikut :
a. Untuk mengenali dan memahami penyakit dan masalah kesehatan lainya.
Sesuai dengan batasanya, maka epidemiologi bermanfaat untuk dapat
menguraikan dan memahami proses terjadinya pada penyebarannya
penyakit dan masalah kesehatan, serta factor-faktor yang
mempengaruhinya.
b. Untuk melengkapi body of knowledge dan riwayat alamiah penyakit.
Suatu pengamatan epidemiologis hendaknya merupakan upaya penelitian
yang hasilnya diharapkan akan dapat lebih melengkapi riwayat alamiah
penyakit yang sekaligus juga merupakan body of knowledge dari
penyakit atau masalah kesehatan yang bersangkutan.
9

c. Untuk dapat diaplikasiakan dalam upaya pengendalian dan


penanggulangan penyakit atau masalah kesehatan. Segala upaya untuk
selalu lebih melengkapi pemahaman kita tentang riwayat alamiah
penyakit tidak lain maksudnya adalah agar kita dapat menemukan jalan
keluar dalam upaya menanggulangi masalah panyakit tadi.1

B. Desain Riset Epidemiologi

1. Desain Penelitian Deskriptif

a. Jenis Desain Laporan dan Studi Kasus

1) Jenis Desain Laporan Kasus

Pertama kali diketahui ada penyakit dengan gejala panas dan keluar
darah dari tubuh penderita di Rumah Sakit Dr. Sutomo Surabaya
pada tahun 1968. Pada waktu itu para dokter belum mengetahui apa
diagnosis penyakit dengan gejala tersebut. Karena itu dilakukan
observasi riwayat alamiah penyakit pada permulaan masa
pathogenesis sampai penyakit menjadi berat dan ada yang
meninggal. Maka dibuat laporan kasus dengan membandingkan
kejadian penyakit dengan gejala tersebut dari keputusan yang ada.
Ternyata penyakit itu sama dengan penyakit yang sebelumnya
ditemukan di Manila dan Bangkok yaitu disease of haemorhagic
fever (DHF) atau penyakit demam berdarah (DBD). Yang
ditularkan oleh Aedes aegypti yang hidup subur di daerah tropis.
Memang di Indonesia dengan iklim sama dengan Thailand dan
Filipina telah lama hidup Aedes aegypti. Kemudian penyakit DBD
itu ditemukan pula di kota-kota lain di Indonesia, seperti Semarang
dan Jakarta.

2) Jenis Desain Studi Kasus

Ada perbedaan antara studi kasus dengan laporan kasus yang


mempelajari seorang kasus penderita dengan cermat. Studi kasus
10

mempelajari gambaran epidemiologi yaitu distribusi dari masalah


tertentu yang didistribusikan menurut waktu, tempat, dan orang.

b. Studi Korelasi

Menurut statistik, studi korelasi menggunakan teknis analitik karena


untuk mengetahui hubungan variabel independen dengan variabel
dependen.
Unit analisis dari studi korelasi adalah kelompok individu. Tujuan dari
studi korelasi adalah untuk mengetahui hubungan antara karakteristik
penduduk dengan frekuensi masalah kesehatan dalam 1) Periode waktu
sama, populasi beda atau 2) Populasi sama, periode waktu beda. Lebih
lanjut dijelaskan sebagai berikut:

1) Jenis desain korelasi ekologi. Dalam korelasi ekologi, periode waktu


sama tetapi populasi berbeda.

2) Jenis desain analisis seri waktu. Dalam analisis seri waktu, periode
waktu berbeda tetapi populasi sama.

c. Jenis Desain Studi Penampang

Ada dua jenis desain studi penampang (Cross Sectional Study) yaitu
sebagai berikut:

1) Jenis Desain Studi Penampang Deskriptif (Descriptive Cross Sectional


Study)

Bertujuan untuk mengetahui angka prevalensi penyakit atau masalah


kesehatan. Pada studi penampang deskriptif, angka prevalensi penyakit
atau masalah kesehatan didistribusikan menurut waktu, tempat, dan
orang. Angka prevalensi adalah jumlah kasus baru dan kasus lama di
suatu daerah pada saat tertentu sebagai pembilang dan jumlah
penduduk di daerah dan saat yang sama.
11

2) Jenis Desain Studi Penampang Analitis (Analytic Cross Sectional


Study)

Bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor-faktor tertentu dan


penyakit atau masalah kesehatan. Dalam studi penampang analitik,
faktor yang dioperasionalkan menjadi variabel indepeden dihubungkan
secara statistik dengan masalah kesehatan, yang dioperasionalkan
menjadi variabel dependen, yang ditemukan dan dikumpulkan pada
waktu yang bersamaan. Model jenis studi penampang terlihat pada
gambar di bawah ini. Referensi populasi adalah kemana hasil
penelitian dari sampel yang representatif degeneralisasikan. Dari
Sampel, akan ditemukan mereka dengan Masalah kesehatan +,
misalnya kanker tulang dan masalah kesehatan -, yaitu tanpa kanker
tulang. Ekspos (expose) adalah variabel independen yang terpenting,
misalnya merokok. Dari mereka masing-masing dengan masalah
kesehatan + atau masalah kesehatan -, dapat ditemukan Expose + yaitu
yang merokok, atau Expose yaitu yang tidak merokok.

Atas dasar jenis desain studi penampang analitik sepeti gambar di atas,
dapat dilakukan analisis data seperti terlihat pada tabel berikut:
12

Pada jenis studi penampang analitis digunakan dua indicator, yaitu:

Prevalence ratio = a/(a+b) : c/(c+d) dan


Prevalence odds ratio = ad/bc.5,3

2. Desain penelitian analitis

a. Studi Kohort

Merupakan salah satu desain penelitian epidemiologi yang kelompok


sampelnya dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan faktor
risiko dan kelompok yang tidak memiliki faktor risiko (kelompok kontrol).
Ini merupakan salah satu studi observasional. Apabila disebut studi kohort,
yang dimaksud adalah studi kohort prospektif (prospective cohort), ada
pula yang disebut dengan studi kohort retrospektif (retrospective cohort).
Objektif dari kohort yaitu membuktikan hipotesis yang mengatakan
hubungan sebab akibat antara suatu faktor dengan satu masalah. Unit
analisis adalah individu. Model jenis desain Kohort prospektif yaitu:

Dalam studi kohort digunakan Indicator absolute effect dan relative risk
(RR). Atas dasar jenis desain studi kohort seperti gambar di atas, maka
dapat dilakukan analisis data dengan menggunakan table dibawah ini
(misalnya penyakit kanker paru):
13

Cumulative Incidence (CI):


CI expose = a/(a+b)
CI non expose = c/(c+d)
Absolute Effect = a/(a+b) c/(c+d)
Relative Effect = Relative Risk = a/(a+b) : c/(c+d).5,6

b. Studi Kasus Kontrol


Selain desain cross-sectiona dan cohort, kita juga mengenal desain
case-control sebagai salah satu desain penelitian analitik observasional.
Desain ini terutama digunakan untuk mengetahui penyebab penyakit
dengan menginvestigasi hubungan antara faktor risiko dengan kejadian
penyakit. Desain ini relatif simple, menggunakan pendekatan backward
looking (retrospective) berdasarkan exposure histories of cases and
controls. Untuk kasus penyakit yang jarang terjadi ataupun yang long
latent periods antara exposure dan disease, maka case-control study lebih
efisien dibandingkan dengan desain yang lain.

Atas dasar jenis desain studi kasus kontrol seperti gambar di atas, maka
dapat dilakukan analisis data dengan menggunakan tabel dibawah ini:

Odds Ratio (OR) = ad/bc. 5,7


14

C. Endemi dan epidemi


1. Endemi
Endemis adalah suatu keadaan di mana penyakit terjadi secara menetap,
tidak cepat hilang, jumlah orang yang terinfeksi tidak bertambah secara
luar biasa dalam masyarakat pada suatu tempat atau populasi tertentu.
2. Epidemi
Epidemic adalah penyakit yang timbul sebagai kasus baru pada suatu
populasi tertentu dalam suatu periode waktu tertentu, dengan laju yang
melampaui laju ekspektasi (dugaan) atau jumlah yang melebihi atas
jumlah normal atau yang biasa.4
Berdasarkan batasan di atas maka epidemi mempunyai arti yang luas
a. Epidemi berkaitan dengan berbagai macam penyakit termasuk juga
penyakit yang tidak menular.Pada epidemi tidak terdapat ketentuan
yang baku tentang banyaknya kasus yang diangkap melebihi kejadian
normal hingga disebut epidemi, tetapi dikatan epidemi bila terjadi
peningkatan jumlah kasus di suatu daerah yang melebihi kejadian yang
diharapkan berdasarkan pengalaman sebelumnya. Jumlah kasus yang
diharapkan terjadi sangat bervariasi untuk sebagai penyakit dan kondisi
tertentu. Misalnya, terjadinya beberapa kasus veriola di Indonesia telah
dianggap melebihi keadaan yang diharapkan sedangkan di Afrika
terjadi 100 kasus dalam satu tahun dan itu dianggap biasa.
b. Tidak terdapat batasan demografis. Oleh karena itu, epidemi dapat
mengenai beberapa bagian atau seluruh wilayah atau seluruh negara,
bahkan seluruh dunia seperti pandemik influenza.
c. Pada epidemi tidak terdapat batasan waktu. Oleh karena itu, epidemi
dapat terjadi dalam waktu beberapa jam atau hari seperti pada
keracunan makanan atau keracunan bahan kimia. Epidemi dapat juga
terjadi selama beberapa minggu seperti kecanduan obat terlarang.
d. Bila epidemi suatu penyakit berlangsung bertahun-tahun dan berturut-
turut dapat dianggap sebagai endemi, misalnya penyakit kronis seperti
hipertensi dan penyakit kardiovaskular di negara maju dianggap
sebagai penyakit endemis.8

D. Demografi
15

Donald J. Bogue (1969) di dalam bukunya yang berjudul principles of


demography mendefinisikan demografi sebagai ilmu yang mempelajari secara
statistic dan matematik tentang besar, komposisi dan distribusi penduduk serta
perubahan-perubahan penduduk sepanjang masa melalui bekerjanya lima
komponen demografi yaitu kelahiran, kematian. Perkawinan, migrasi dan
mobilitas social.9
Berikut beberapa pendapat beberapa ahli terkait dengan demografi:

1. Menurut Johan Susczmilch, demografi adalah ilmu yang mempelajari hukum


ilahi dalam perubahan-perubahan pada umat manusia yang tampak dari
kelahiran, kematian, dan pertumbuhannya.
2. Menurut Achille Guillard, demografi adalah ilmu yang mempelajari segala
sesuatu dari keadaan dan sikap manusia yang dapat diukur.
3. Menurut George W. Barclay, demografi adalah ilmu yang memberikan
gambaran menarik dari penduduk yang digambarkan secara statistika.
Demografi mempelajarai tingkah laku keseluruhan dan bukan tingkah laku
perorangan.
4. Menurut Phillip M. Hauser dan Dudley Duncan, demografi adalah ilmu yang
mempelajari tentang jumlah, persebaran teritorial dan komposisi penduduk
serta perubahan-perubahan dan sebab-sebab perubahan tersebut.

5. Menurut D.V. Glass, demografi adalah ilmu yang secara umum terbatas untuk
mempelajari penduduk yang dipengaruhi oleh proses demografis, yaitu :
fertilitas, mortalitas dan migrasi.10

E. Konsep Dasar Terjadinya Penyakit


Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang
dipengaruhinya.
Konsep dasar timbulnya penyakit, dipengaruhi beberapa unsur yaitu unsur
penyebab (agent), unsur penjamu (host), dan unsur lingkungan (environment).
16

1. Agens penyakit
Agens penyakit dapat berupa benda hidup atau mati dalam factor mekanis.
Kadang-kadang penyebab untuk penyakit tertentu tidak diketahui, misalnya
penyebab untuk penyakit ulkus peptikum, penyakit jantung koroner, dan lain-
lain. Agens penyakit dapat diklasifikasikan menjadi lima kelompok, antara lain
:
a. Agens biologis
Contoh : Virus, bakteri, fungi, ricketsiae, protozoa, dan metazoan.
b. Agens nutrien
Contoh : protein, lemak, karbohidrat, vitamin, mineral, dan air.
c. Agens fisik
Contoh : panas, radiasi, dingin, kelembaban, tekanan, cahaya, dan
kebisingan.
d. Agens kimia
Agens kimia dapat bersifat endogenous, seperti esidosos, diabetes
(hiperglikemia), dan uremia atau bersifat exogenous, seperti zat kimi,
allergen, gas debu dan lain-lain
e. Agens mekanis.

Gesekan, benturan, atau pukulan yang dapat menimbulkan kerusakan


jaringan tubuh pejamu (host).

2. Manusia (Host)
Faktor manusia sangat kompleks dalam proses terjadinya penyakit. Factor
tersebut bergantung pada karakteristik yang dimiliki masing-masing individu,
antara lain :
17

a. Usia
Usia menyebabkan adanya perbedaan penyakit yang diderita, seperti
penyakit smallpox pada usia kanak-kanak, penyakit kaknker pada usia
pertengahan, dan penyakit anterosklerosis pada usia lanjut.
b. Jenis kelamin (seks)
Frekuensi penyakit pada laki-laki lebih tinggi di bandingkan penyakit pada
perempuan , sementara itu penyakit tertentu seperti resiko kehamilan dan
persalinan hanya dijumpai pada perempuan, sedangkan penyakit hipertropi
prostat hanya dijumpai pada laki-laki.
c. Ras.
Hubungan antara ras dan penyakit bergantung pada perkembangan adat
istiadat dan kebudayaan di samping terdapat penyakit yang hanya
dijumpai pada ras tertentu seperti anemia sickle cell pada ras Negro.
d. Genetik
Ada penyakit tertentu yang diturunkan secara herediter, seperti
mongolisme, fenilketonuria, buta warna, hemophilia, dan lain-lain.
e. Pekerjaan.
Status pekerjaan mempunyai hubungan erat dengan penyakit akibat
pekerjaan, seperti keracunan, kecelakaan kerja, silikosis, asbestotis, dan
lain-lain.
f. Nutrisi.
Gizi buruk mempermudah seseorang menderita penyakit infeksi, seperti
TBC dan kelainan gizi seperti obesitas, kolesterol tinggi, dan lain-lain.
g. Status kekebalan.
Reaksi tubuh terhadap penyakit bergantung pada status kekebalan yang
dimiliki sebelumnya seperti kekebalan terhadap paenyakit virus yang tahan
lama dan seumur hidup.
h. Adat.
Ada beberapa adat istiadat yang dapat menimbulkan penyakit. Contoh
kebiasaan makan ikan mentah dapat menyebabkan penyakit cacing hati.
i. Gaya hidup.
18

Kebiasaan minum alkohol, narkoba, dan merokok dapat menimbulkan


gangguang pada kesehatan.
j. Psikis.
Factor kejiwaan seperti steres dapat menyebabkan terjadinya penyakit
hipertensi, ulkus peptikum, depresi imsomnia, dan lainnya.

3. Lingkungan (environment),
Linkungan hidup manusia pada dasarnya terdiri dari dua bagian, internal
dan eksternal. Lingkungan hidup internal merupakan suatu keadaan yang
dinamis dan seimbang yang disebut dengan homeostatis, sedangkan
lingkungan hidup eksternal merupakan lingkungan diluar tubuh manusia yang
terdiri atas tiga komponen, antara lain :
a. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik bersifat abiotik atau benda mati seperti air, udara, tanah,
cuaca, makanan, rumah, panas, sinar, radiasi, dan lain-lain. Lingkungan
fisik ini berinteraksi secara konstan dengan manusia sepanjang waktu dan
masa serta memegang peranan penting dalam proses terjadinya penyakit
pada masyarakat, contoh, kekurangan persediaan air bersih terutama dalam
musim kemarau dapat menimbulkan penyakit diare dimana-mana.
b. Lingkungan biologis
Lingkungan biologis bersifat biotik atau benda hidup, misalnya tumbuh-
tumbuhan, hewan virus, bakteri, jamur, parasit, serangga, dan lain-lain
yang dapat berperan sebagai agens penyakit, reservoir infeksi, vacktor
penyakit, dan hospes intermediate. Hubungan manusia dengan lingkungan
biologisnya bersifat dinamis dan pada keadaan tertentu saat terjadi ketidak
seimbangan diantara hubungan tersebut manusia akan menjadi sakit.
c. Lingkungan sosial.
Lingkungan sosial berupa kultur, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan,
agama, sikap, standard an gaya hidup, pekerjaan kehidupan
kemasyarakatan, organisasi social dan politik. Manusia di pengaruhi oleh
lingkungan sosial melalui berbagai media seperti radio, TV, Pers, Seni,
literatur, cerita lagu, dan sebagainya. Bila manusia tidak dapat
19

menyesuaikan dirinya dengan lingkungan sosial, akan terjadi konflik


kejiwaan dan menimbulkan gejala psikosomatik seperti steres, insomnia,
depresi, dan lain-lain.11

F. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Distribusi Penyakit di Masyarakat

Penyebaran masalah kesehatan menunjukkan kepada pengelompokan masalah


menurut keadaan waktu (variabel time), menurut keadaan tempat (variabel place),
dan menru keadaan orang (variabel men/person).

1. Variabel orang

Meliputi hal-hal sebagai berikut:

a. Umur

Angka kesakitan dan kematian dalam hamper semua keadaan


menunjukan hubungan dengan umur, keadaan itu berkaitan dengan:

1) Fungsi dari proses umur, perkembangan, immunitas, dan keadaan


fisiologis

2) Perubahan kebiasaan makan dari tiap-tiap golongan umur atau


dengan pejalanan waktu

3) Perubahan daya tahan tubuh

4) Penyakit-penyakit tertentu yang menyerang umur-umur tertentu

b. Jenis kelamin

Dari berbagai penelitian menunjukan bahwa adanya penyakit-penyakit


yang menyerang jenis kelamin tertentu. Misalnya penyakit kanker
payudara pada wanita, kanker prostat pada pria. Perbedaan faktor ini
sangat dipengaruhi oleh faktor dari dalam atau dari luar orang yang
bersangkutan.
Faktor dari dalam diantaranya adalah:

1) Keturunan (herediter)
20

2) Perbedaan hormonal

Faktor dari luar diantaranya adalah:

1) Perokok

2) Peminum alcohol

3) Pekerja berat

4) Pekerjaan-pekerjaan yang berbahaya

c. Jenis pekerjaan

Jenis pekerjaan tertentu akan berakibat terhadap penyakit-penyakit


tertentu. Diantaranya:

1) Faktor lingkungan yang berhubungan dengan penyakit, misalnya:


bahan kimia, gas-gas beracun, radiasi, benda-benda fisik yang
menimbulkan kecelakaan

2) Situasi pekerjaan yang dipenuhi dengan stress, misalnya: ulkus


peptikum, hipertensi dan sebagainya,

3) Peyakit cacing tambang yang bekerja dipertambangan

d. Penghasilan

Penghasilan akan erat kaitannya dengan kemampuan orang untuk


memenuhi kebutuhan gizi, perumahan yang sehat, pakaian dan
kebutuhan lain yang berkaitan dengan pemeliharaan kesehatan.

e. Golongan etnik

Golongan etnik tertentu akan menderita penyakit tertentu dan keadaan


tersebut berkaitan dengan:

1) Kebiasaan makan

2) Susunan genetika

3) Gaya hidup
21

f. Status perkawinan

Dari penelitian-penelitian menunjukan terdapat hubungan antara angka


kesakitan dan angka kematian antara status perkawinan, kematian bagi
yang tidak kawin lebih tinggi dari pada yang kawin, keadaan ini
disebabkan karena:

1) Orang-orang yang tidak kawin kebanyakan kurang sehat

2) Orang-orang yang tidak kawin lebih banyak berhubungan dengan


penyebab penyakit

3) Perbedaan-perbedaan dalam gaya hidup.

2. Variabel tempat

Penyebaran penyakit menurut keadaan tempat lebih menekankan kepada


kondisi geografis. Karena variasi geografis tertentu akan erat kaitannya
dengan penyakit-penyakit tertentu. Ada beberapa faktor sebagai berikut:

a. Lingkungan fisik, kimiawi, biologis, sosial, dan ekonomi yang


berbeda-beda dari suatu tempat

b. Karakteristik penduduk

c. Kebudayaan, yang terlihat dari kebiasaan, pekerjaan, keluarga,


pemeliharaan kesehatan perorangan

d. Hygiene sanitasi lingkungan

e. Tersedianya unit-unit pelayanan medis

3. Variabel waktu

Perubahan-perubahan penyakit menurut waktu menunjukkan adanya


perubahan-perubahan dari faktor etiologis, yang dapat dibedakan menjadi:
22

a. Fluktuasi jangka pendek. Dimana perubahan angka kesakitan


berlangsung beberapa jam, hari, minggu, bulan, dan orang yang
terserang bersamaan dengan waktu inkubasi rata-rata pendek.

b. Perubahan-perubahan secara siklus. Dimana perubahan-perubahan


angka kesakitan terjadi secara berulang-ulang dengan waktu beberapa
hari, beberapa bulan (musiman), tahunan, atau beberapa tahun. Contoh
kongkrit adalah kasus penyakit DHF di Jakarta akan meningkat setiap
lima tahunan.

c. Perubahan-perubahan angka kesakitan yang berlangsung dalam waktu


periode panjang. Keadaan tersebut biasanya berkaitan dengan
perubahan demografi (kependudukan), untuk masalah ini erat
kaitannya dengan program keluarga berencana dan program kesehatan
lainnya. 12

G. Factor resiko

Konsep hubungan sebab akibat bentuk segitiga epidemiologi serta bentuk


hubungan keseimbangan host, agent, environment dalam proses kejadian penyakit
lebih sesuai pada penyakit infeksi atau menular. Namun pada penyakit non-
infeksi, konsep faktor resiko lebih sesuai. Hal ini terutama disebabkan karena
terjadinya transisi epidemiologi dewasa ini, di mana dominasi penyakit infeksi
masa lalu digantikan oleh penyakit non-infeksi sepeti penyakit degeneratif dan
psikososial.
Dalam ke-nisbian (hanya terlihat) faktor resiko, maka untuk mengindentifikasi
faktor resiko adalah:
1. Jika ada faktor tersebut akan meningkatkan kemungkinan terjadinya penyakit,
2. Jika menyingkirkan faktor tersebut, akan menurunkan kemungkinan kejadian
penyakit,

3. Faktor resiko tersebut dapat dianggap sebagai penyebab penyakit.


Ada 4 bagian utama dalam konsep tersebut yang meliputi: gaya hidup,
lingkungan, biologi manusia dan organisasi sistem pelayanan kesehatan.
23

1. Gaya hidup dewasa ini merupakan faktor resiko yang paling dominan dalam
proses kejadian penyakit dan sangat menentukan derajat kesehatan suatu
kelompok populasi tertentu.
2. Lingkungan yang meliputi:
a. Dimensi fisik dari dasar lingkungan, baik yang bersifat pencemaran udara,
bunti serta pencemaran tanah dan air.
b. Dimensi sosial dan psikologis termasuk kepadatan penduduk, isolasi sosial,
interaksi sosial dan lai-lain.
3. Biologi manusia. Elemen ini lebih mengarah kepada biologi dasar manusia
yang memiliki ciri individual. Hal ini sangat erat hubungannya dengan faktor
genetis dalam biologi molekuler yang mempengaruhi mutasi genetis patogen,
cacat bawaan serta pertumbuhan yang terhambat. Juga faktor usia kedewasaan
dan usia tua yang memberikan kontribusi faktor artritis, kanker, diabetes,
tulang keropos dan lainnya. Epidemiologi terhadap gangguan tersebut di atas
membantu untuk program pencegahan.
4. Sistem organisasi pelayanan kesehatan
Ada tiga elemen utama yakni :
a. Sistem yang meliputi kualitas, kuantitas, dan ketersediaan sumber daya
untuk melaksanakan pelayanan kesehatan.
b. Kuratif meliputu obat, pengobatan gigi, dan pelayanan spesialis.
c. Elemen preventif sangat terbatas.13
H. Riwayat Alamiah Penyakit

Riwayat alamiah perjalanan penyakit atau sering disebut sebagai natural


history of disease merupakan riwayat alamiah perjalanan pada manusia yang
terdiri atas :

1. Fase prepatogenesis
Pada fase ini mulai terjadi gangguan keseimbangan anAtar agens penyakit,
manusia, dan lingkungan. Disini, kondisi lingkungan lebih menguntungkan
agens penyakit dan merugikan manusia. Contoh, pencemaran udara akibat
pembakaran hutan oleh peladang di musim kemarau akan menimbulkan asap
tebal atau smog yang menguntungkan agens penyakit dan merugikan manusia.
2. Fase pathogenesis
Tahap ini meliputi sub-sub tahap yaitu :
a. Tahap Inkubasi
24

Merupakan tenggang waktu antara masuknya bibit penyakit kedalam


tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit, sampai timbulya gejala
penyakit
Tahap ingkubasi memiliki ciri-ciri :
1) Belum tampak tanda-tanda sakit yang khas dari penyakit
2) Tiap penyakit memiliki masa inkubasi yang berbeda-beda, mulai dari
beberapa jam, hari, minggu, bulan, sampai bertahun-tahun.

Pengetahuan tentang lamanya masa inkubasi ini sangat penting. yaitu


berguna untuk informasi diagnosis. Setiap penyakit mempunyai masa
inkubasi tersendiri dan pengetahuan masa inkubasi dapat digunakan untuk
identifikasi jenis penyakit.

b. Tahap dini
Tahap dini memiliki ciri-ciri :
1) Mulai muncul gejala penyakit yang kelihatan ringan
2) Sudah mulai menjadi masalah kesehatan karena sudah ada gangguan
patologis, walaupun penyakit masih dalam sub klinik.
3) Penjamu masih dapat melasanakan aktivitas sehari-hari
4) Diharapkan diagnosis sudah dapat ditegakkan secara dini, karena bila
diobati sembuh, bila dibiarkan sakit.
c. Tahap lanjut
Tahap lanjut memiliki ciri-ciri :
1) Gejala penyakit bertambah jelas dan mungkin tambah berat dengan
segala kelainan patoligis dan gejalanya
2) Penyakit sudah menunjukkan gejala dan kelainan klinik yang jelas,
sehingga diagnosis sudah relatif mudah untuk ditegakkan sehingga
diperlukan pengobatan yang tepat untuk menghindari akibat lanjut
yang kurang baik
3. Fase pasca pathogenesis
Tahap ini adalah tahap berakhirnya perjalanan penyakit, dimana ada lima
keadaan setelah berakhirnya penyakit :
a. Sembuh sempurna
Merupakan kondisi dimana bibit penyakit menghilang, bentuk dan fungsi
tubuh kembali seperti keadaan sebelum sakit
b. Sembuh dengan cacat
Merupakan kondisi dimana bibit penyakit menghilang, penyakit suah
tidak ada, tetapi bentuk dan fungsi tubuh tidak kembali seperti keadaan
25

sebelum sakit, meninggalkan bekas atau gangguan yang permanen berupa


cacat.
c. Karier
Merupakan kondisi dimana perjalanan penyakit seolah-olah tampak
berhenti, gejala penyakit tidak tampak tetapi bibit penyakit masih di
temukan dalam penjamu dan penyakit dapat timbul kembali saat daya
tahan tubuh menurun.
d. Penyakit tetap berlansung secara kronik
Merupakan kondisi dimana perjalanan penyakit tampak berhenti gejala
penyakit tidak berubah tidak bertambah berat atau ringan.
e. Berakhir dengan kematian
Merupakan kondisi dimana perjalanan penyakit berhenti dan penjamu
meninggal dunia.4

Proses perjalanan suatu penyakit terjadi di mulai sejak adanya gangguan


keseimbangan antara agens penyakit, host, dan lingkungan sampai terjadinya
suatu kesakitan seperti terlihat pada gambar dibawah ini.

Pra- pathogenesis Patogenesis & Pasca Patogenesis

A N
Mati
kronis
E
Keseimbangan Perjalanan klinis Cacat
Segitiga Ketidakmampuan
Ekologis
terganggu Sakit Sembuh

Gejala dan tanda klinis

I. Indikator Penilaian Kondisi Kesehatan Gigi dan Mulut Masyarakat.


26

Dalam penilaian kondisi kesehatan gigi dan mulut, digunakan beberapa


indeks dan indikator penilaian yang disesuaikan dengan kondisi kasus yang ingin
di amati, indeks dan indicator penilaian kondisi gigi dan mulut dijabarkan sebagai
berikut :
a. Indeks DMF-T
Merupakan indeks dan indikator yang digunakan untuk menunjukkan
jumlah gigi dengan karies pada seseorang atau sekelompok orang. D = gigi
yang berlubang karena karies, M = gigi yang dicabut karena karies, F =
gigi yang ditambal/ditumpat karena karies, T = treatment.
Menurut WHO, indeks DMF-T adalah untuk menilai status kesehatan
gigi dan mulut dalam hal karies gigi pada gigi permanen, sedang untuk
gigi sulung mengunakan indeks dmft. Indikator utama pengukuran DMF-T
menurut WHO adalah anak usia 12 tahun, yang dinyatakan dengan indeks
DMF-T yaitu 3, yang berarti pada usia 12 tahun jumlah gigi yang
berlubang (D), dicabut karena karies gigi (M), dan gigi dengan tumpatan
yang baik (F), tidak lebih atau sama dengan 3 gigi per anak.
b. OHI-S
Merupakan indeks dan indikator yang digunakan untuk mengukur
daerah permukaan gigi yang mengukur daerah permukaan gigi yang
tertutup oleh oral debris dan kalkulus.
OHI-S = DIS+CIS .

Adapun indikator OHI-S yakni:

Baik : 0.0-1.2
Sedang : 1.3-3.0
Buruk : 3.1-6.0
Untuk pemeriksaan OHI-S ini digunakan kaca mulut, sonde yang
bengkok tanpa disclosing solution. Keenam gigi yang diperiksa pada OHI-

6 1 6
S adalah permukaan fasial/buccal dan permukaan lingual dari
616
gigi. Tiap permukaan gigi dibagi secara horizontal menjadi 1/3 bagian
yakni 1/3 insisal,1/3 medial, 1/3 servical.

Untuk DI-S (Debris Indeks-Score)


1 : Tidak ada debris
2 : Debris lunak menutupi tidak lebih dari 1/3 permukaan gigi
27

3 : Debris lunak menutupi lebih dari 1/3 permukaan gigi, tapi


tidak lebih dari 2/3 permukaan gigi.
4 : Debris lunak menutupi lebih dari 2/3 permukaan gigi.

Untuk CI-S ( Calculus Indeks- Score)

1 : Tidak ada kalkulus


2 : Kalkulus supragingival, menutupi tidak lebih dari 1/3
permukaan gigi
3 : Kalkulus supragingival, menutupi lebih dari 1/3 permukaan
gigi, tapi tidak lebih dari 2/3 permukaan gigi.
4 : Kalkulus supragingival, menutupi lebih dari 2/3 permukaan
gigi, atau bila terdapat kalkulus subgingival.14

Untuk mengukur derajat keparahan penyakit periodontal dapat dilakukan


pemeriksaan status gingival dan status jaringan periodontal pada enam sekstan
untuk mendapatkan status keparahan penyakit periodontal berdasarkan kriteria
index GPI. Memaparkan tingkat keparahan status periodontal dengan
menggunakan index GPI. GPI merupakan suatu sistem yang menilai komponen
penyakit periodontal yaitu skor gingiva dan skor periodontal (kedalaman poket).
Rahang atas dan rahang bawah dibagi menjadi 6 sekstan yaitu gigi 18 sampai gigi
14, gigi 13 ke gigi 23, gigi 24 ke gigi 28, gigi 38 ke gigi 34, gigi 33 ke gigi 43,
gigi 44 ke gigi 48. Penilaian dilakukan pada semua sekstan, dan hanya skor
tertinggi yang dimasukkan pada setiap sekstan. Setiap sekstan dinilai untuk
masing-masing komponen penyakit periodontal yaitu skor gingiva dan skor
periodontal yang kemudian dimasukan dalam perhitungan skor GPI.15

J. Angka Kesakitan dan Angka Kematian


28

Angka kesakitan adalah angka penderita sakit yang terjadi di antara


penduduk selama periode waktu tertentu. Sedangkan angka kematian adalah
angka atau jumlah yang menunjukan kematian penduduk dalam masa tertentu.
Angka kesakitan dan angka kematian merupakan tolak ukur tinggi rendahnya
derajat kesehatan. Upaya penurunan angka kesakitan dan kematian dilakukan
dengan upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit, baik penyakit menular
maupun penyakit tidak menular yang dapat menimbulkan kematian dan kesakitan
tinggi bagi masyarakat seperti malaria, TBC, kolera, gondok endemic, infeksi
saluran pernapasan akut, kardiovaskular, dan penyakit lain yang sejenis.16

1. Pengukuran angka penyakit (Morbiditas)17

Pengukuran frekuensi penyakit dititikberatkan pada angka kesakitan dan angka


kematian yang terjadi pada masyarakat. Pengukuran angka kesakitan relatif lebih
sulit dibandingkan dengan angka kematian.

a. Incidence rate

Incidence rate merupakan jumlah kasus baru yang terjadi di kalangan penduduk
selama periode waktu tertentu. Rumus yang digunakan :

jumla h kasus suatu penyakit selama periode ter h enti


Incidencerate= 1.000
populasi yang mempunyairisiko tertular penyakit yang sama

b. Attack rate

Bila penyakit terjadi secara mendadak dan orang yang menderita dalam jumlah
besar seperti keracunan makanan, maka formula yag dipakai untuk menghitung
adalah attack rate. Rumus yang digunakan :

jumla h orang yang sakit


Attackrate= 1.000
populasi yang mempunyai risiko

c. Prevalence rate

Prevelance rate merupakan frekuensi penyakit lama dan baru yang terjadi pada
suatu masyarakat pada periode tertentu. Bila prevelenace rate ditentukan pada
suatu periode, misalnya pada bula Juli 2006, maka disebut sebagai point
29

prevalence rate. Tetapi jika ditentukan dalam periode tertentu misalnya satu tahun
( 1 januari 2007 sampai 31desember 2007) maka disebut sebagai prevalence rate.

Rumus yang digunakan :

jumla h orang yang mendertita penyakit pada periode tertentu


Prevalencerate= 1.000
jumla h pendudukseluru h nya

2. Pengukuran Angka Kematian (Mortalitas)

Pengukuran angka kematian jauh lebih mudah jika dibandingakan dengan


pengukuran angka kesakitan, karena kejadiannya sudah pasti dan lebih mudah
untuk mendapatkan datanya dari sumber-sumber yang pasti. Angka kematian yang
sering digunakan adalah angka kematian kasar, angka kematian bayi, angka
kematian ibu, angka kasus fatal, dan angka kematian neonatal.

a. Angka kematian kasar

Angka kematian kasar (AKK) merupakan jumlah seluruh kematian selama tahun
berjalan bagi jumlah penduduk pada pertengahan tahun. Rumus yang digunakan :

Jumla h seluru h kematian


AKK = 1.000
Pertenga h antah un

b. Angka kematian bayi

Angka kematian bayi (AKB) adalah angka kematian anak berumur kurang dari
satu tahun. AKB merupakan indikator penting dalam menilai status kesehatan
masyarakat yang meliputi keadaan tingkat ekonomi, sanitasi, gizi, pendidikan, dan
fasilitas kesehatan yang terdapat di suatu negara. Rumus yang digunakan :

Jumla h kematianbayi
AKB= 1.000
J umla h kelah iran hidup pada ta hun yang sama

c. Angka kematian Ibu

Angka kematian ibu (AKI) pada proses kehamilan merupakan indikator penting
pelayanan obsterik dan keberhasilan program Keluarga Berencana. Selain itu, juga
30

bisa dipakai sebagai tolok ukur pengembangan status sosial ekonomi masyarakat.
Rumus yang digunakan :

Jumla h kematian bayi pada proses ke h amilan , kela h iran, dan nifas
AKI = 1.000
jumla h kela h iranhiduppadata h unyangsama

k. Insidensi dan Prevalensi Penyakit

Insidensi dan prevalensi adalah dua ukuran utama frekuensi penyakit.


Angka insidensi dirancang untuk mengukur rate pada orang sehat yang menjadi
sakit selama suatu periode waktu tertentu, yaitu jumlah kasus baru suatu penyakit
dalam suatu populasi selama suatu periode waktu tertentu. Angka prevalensi
mengukur jumlah orang yang sakit di dalam suatu populasi pada suatu titik waktu
yang ditentukan. Insidensi dan prevalensi didefinisikan sebagai berikut:

Insidensi mengukur kemunculan penyakit; prevalensi mengukur keber-


adaan penyakit. Insidensi berarti kasus baru, dan prevalensi berarti semua kasus
baru, dan prevalensi berarti semua kasus (baru dan lama). Insidensi hanya
merefleksikan angka kejadian penyakit. Suatu perubahan pada insidensi berarti
terdapat perubahan dalam keseimbangan faktor-faktor etiologi, baik terjadi
fluktuasi secara alami maupun kemungkinan adanya penerapan suatu program
pencegahan yang efektif. Bagi para peneliti, insidensi penting untuk mencari
etiologi.
Prevalensi bergantung pada dua factor, angka insidensi dan durasi
penyakit. Jadi suatu perubahan dalam prevalensi penyakit dapat mencerminkan
suatu perubahan dalam insidensi, atau outcome, atau bahkan keduanya.18
31

l. Metode Pencengahan
Upaya pencegahan dapat di lakukan sesuai dengan perkembangan penyakit
tersebut dari waktu ke waktu sehingga upaya pencegahan tersebut di bagi atas
berbagai tingkat sesuai denga perjalanan penyakit. Ada 4 tingkat utama
pencegahan penyakit yaitu
1. Pencegahan tingkat pertama
Pencegahan ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan melalukan
tindakn pencegahan khusus. Pencegahan tingkat pertama meliputi :
a. Promosi kesehatan
Merupakan upaya ntuk menghindari kemunculan dari atau adanya
faktor resiko. Upaya promosi kesehatan meliputi :
1) Penyuluhan kesehatan
2) Pebaikan perumahan
3) Penyediaan sanitasi yang baik
4) Perbaikan gizi
5) Konsultasi genetic
6) Pengendalian factor lingkungan
b. Pecegahan Khusus
Merupakan upaya untuk mengurangiatau menurunkan pengaruh
penyebab serendah mungkin. Upaya pencegahan khusus meliputi.
1) Pemberian imunisasi dasar
2) Pemberian nutrizi khusus
3) Pemberian vitamin A tablet zat besi
4) Perlindungan kerja terhadap bahan berbahaya
5) Perlindungan terhadap sumber-sumber pencemaran.
2. Pencegaha tingkat 2
Pecegahan ini bertujuan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin
sehingga mendapatkan pengobatan yang tepat. Pencegana ini meliputi :
a. Diagnosis awal dan pengobatan tepat
32

Merupakan upaya yang ditujukan untuk diagnosis dini penderita atau


dianggap menderita suatu penyakit sehingga dapat diberikan
penggobatan tepat dan segera. Upaya ini meliputi :
1) Melakukan General cek-up secara rutin
2) Melakukan berbagai survey seperti screning (penyaringan)
3) Pencarian khasus
4) Pemeriksaan khusus (laboraturium dan tes)
5) Monitoring dan surveilans epidemiologi
6) Pemberian obat yang rational dan efektif
b. Pembatasan kecacatan
Merupakan upaya untuk mencegah penyakit tidak bertambah parah,
tidak mati atau timbul cacat atau kronik. Upaya ini meliputi :
1) Operasi pelastik pada bagian atau organ yang cacat
2) Pemasangan pin pada tungkai yang patah
c. Pencegahan tingkat ketiga
Yang termasuk upaya pencegahan ketiga adalah rehabilitasi yang
merupakan upaya untuk memulihkan kedudukan, kemampuan atau
fungsi setelah penderita sembuh. Pada keadaan ini kerusakan patologis
suadah bersifat irreversible, tidak bisa di perbaiki lagi, karena itu upaya
rehabilitasi yang dapat dilakukan seperti :
a. Rehabilitasi fisik, misilnya rehabilitasi cacat tubuh dengan
pemberian alat bantu
b. Rehabilitasi social, misalnya mendirikan tempat pendidikan untuk
tunanetra, tunarugu, anak cacat dan terbelakang
c. Rehabilitasi kerja
d. Rehabilitasi mental, misalnya mengembalikan kepercayaan diri
orang yang terkena narkoba.4

M. Program Pemerintah Dalam Meningkatkan Derajat Kesehatan Gigi dan


Mulut Masyarakat

Pelaksanaan program dan kegiatan kesehatan gigi dan mulut dilakukan dengan
pendekatan terintegrasi dengan program kesehatan lainnya dengan
33

memperhatikan, kegiatan serta sasaran yang ingin dicapai oleh Kementerian


Kesehatan. Dan telah tertuang dalam Rencana Strategi Kementerian Kesehatan.
Program, kegiatan dan sasaran pelayanan kesehatan gigi dan mulut, dilakukan
melalui:

1. Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

a. Mengintegrasikan promosi kesehatan gigi dan mulut kedalam program


perilaku hidup bersih dan sehat.

b. Membuat media promosi yang inovatif dan efektif, baik melalui media
cetak, media elektronik dan secara langsung pada semua kelompok umur
pada masyarakat seperti mencetak leaet, poster, CD, lembar balik, serta
dialog interaktif di TV, radio, tayangan pendek, dll

c. Melakukan pendidikan tentang pentingnya perawatan gigi dan mulut yang


teratur oleh tenaga kesehatan gigi baik secara individu maupun
masyarakat.

2. Program Fluoridasi

a. Kadar uor dalam air minum yang dikonsumsi di seluruh provinsi di


Indonesia

b. Kadar uor didalam berbagai pasta gigi yang beredar di Indonesia

c. Program uoridasi air minum, garam, susu, dll.

d. Program kumur-kumur uor pada murid-murid sekolah dasar (UKGS)

e. Program topikal aplikasi uor secara individual

f. Program pemberian tablet uor pada beberapa sekolah dasar di daerah


yang resiko kariesnya tinggi

3. Upaya Kesehatan Gigi Masyarakat

a. Penyusunan Pedoman Promotif Preventif dengan pendekatan UKGM

b. Penyusunan Pedoman Pembinaan kesehatan Gigi melalui Desa siaga


34

c. Penyusunan Petunjuk Pemeliharaan Kesehatan Gigi Keluarga seri Ibu


hamil dan balita.

d. Penyusunan Lembar Balik penyuluhan kesehatan gigi

e. Penyusunan Buku Usaha Kesehatan Gigi Sekolah di Taman Kanak-Kanak

f. Penyunan Buku Usaha Kesehatan Gigi Sekolah dan UKGS Inovatif

g. Penyusunan Buku pendidikan kesehatan gigi dan mulut remaja

h. Penyusunan Buku Pedoman Usaha Kesehatan Gigi Sekolah Lanjutan

i. Penyusunan Pedoman pencegahan karies gigi berupa brosur, poster, lea t,


yer,booklet, modul pelatihan kader/gigi

j. Penyusunan materi kesehatan gigi untuk RS/PKMRS

k. Penyusunan Petunjuk Pemeliharaan Kesehatan Gigi Keluarga seri lansia

4. Upaya Kesehatan Perorangan

a. Kebijakan Pelayanan Kedokteran Gigi Keluarga

b. Pedoman Penyelenggaraan Kedokteran Gigi Keluarga

c. Standar Perizinan Praktek Dokter Gigi Keluarga

d. Pedoman Paket Dasar Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas


dengan Model Basic Package Oral Care

e. Pedoman Upaya Kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas

f. Penyusunan Standar Pelayanan Kesehatan Gigi di Puskesmas Perkotaan

g. Penerapan metode Atraumatic Restoration Treatment (ART)

h. Pedoman pelayanan kesehatan gigi dan mulut di RSU Pemerintah/


Swasta/RS Khusus.

i. Pedoman rujukan upaya kesehatan gigi dan mulut

j. Pedoman integrasi pelayanan kesehatan gigi dan mulut di Puskesmas.


35

k. Pedoman peningkatan mutu pelayanan Kesehatan gigi dan mulut di


Puskesmas dan Rumah sakit.

l. Standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Pelayanan Kesehatan Gigi


dan Mulut di Fasilitas Kesehatan Gigi

m. Modul Pelatihan Identikasi Lesi Rongga Mulut dan Penatalaksanaan


Kesehatan Gigi dan Mulut pada ODHA bagi Tenaga Kesehatan Gigi di
Fasilitas Gigi.

n. Tata cara kerja pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas

o. Pelaksanaan Angka Kredit Jabatan Dokter Gigi/Perawat Gigi.

p. Panduan pendayagunaan dokter gigi spesialis.

5. Program Pengawasan Obat dan Bahan Kedokteran Gigi

a. Pedoman standar bahan dan alat kedokteran gigi (RS/Puskesmas)

b. Penyusunan standar obat kesehatan gigi essensial (DOEN)

c. Formularium Obat dan bahan kedokteran gigi di RS Indonesia

d. Pedoman bahan/obat tradisional dibidang kesehatan gigi dan mulut

e. Pedoman Pemakaian antibiotik di Bidang Kedokteran Gigi

6. Program Pengembangan Sumber Daya Kesehatan:

a. Internal

1) Penyusunan modul pelatihan teknis

2) Penyusunan modul TOT

3) Pedoman dan pelaksanaan evaluasi penerapan metode ART

4) Evaluasi peralatan di Puskesmas

b. Lintas Program

1) Kerjasama dengan Pusdatin dalam penyusunan prol kesehatan gigi


dan mulut
36

2) Kerjasama dengan badan Litbangkes Kementerian Kesehatan dalam


survei epidemiologi penyakit gigi dan mulut.

3) Pelatihan/TOT Tenaga Kesehatan/Pemegang Program

4) Uji kualitas kandungan uor dalam pasta gigi, air minum, dll.

5) Evaluasi peralatan di Rumah Sakit Pemerintah/Swasta

c. Lintas Sektor

1) Kerjasama dengan Kementerian Pendidikan Nasional

2) Kerjasama dengan seluruh Kementerian dalam upaya pelayanan


kesehatan gigi dan mulut (poli gigi)

3) Kerjasama dengan swasta

4) Kerjasama dengan tim penggerak PKK

5) Kerjasama dengan FKG/CHS/profesi

6) Kerjasama dengan dunia usaha untuk pengadaan ART, pasta uor


generik, sikat gigi generik, dan bahan lainnya.

7. Program Pengembangan Kebijakan dan Manajemen Pembangunan


Kesehatan

a. Tersusunnya rencana kegiatan lima tahun kesehatan gigi dan mulut

b. Tersusunnya laporan akuntabilitas kinerja tahunan kesehatan gigi dan


mulut

c. Kegiatan yang berkaitan dengan kesehatan gigi dan mulut dengan instansi,
unit dan pihak lain yang terkait secara nasional dan Internasional.

8. Monitoring dan Evaluasi

a. Kesehatan gigi dan mulut pra sekolah dan usia anak sekolah

b. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas

c. Upaya kesehatan gigi di UKGM


37

d. Pelayanan kesehatan gigi rujukan dan integrase

e. Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di rumah sakit

f. Penyusunan website kesehatan gigi dan mulut sebagai wahana interaksi,


inter relasi dan interdependensi dengan masyarakat, profesi, dunia usaha
serta pihak lain yang berkepentingan untuk peningkatan kualitas kesehatan
gigi dan mulut.

9. Bimbingan Teknis/Supervisi

a. Pembinaan program kesehatan gigi dan mulut di Dinas Kesehatan


Provinsi/Kabupaten/Kota

b. Pembinaan penyelenggaraan pelayanan kesehatan gigi puskesmas dan


rumah sakit baik pemerintah maupun swasta.

c. Peningkatan kinerja melalui peningkatan mutu SDM dan suasana/budaya


kerja.

d. Pembinaan profesi tenaga kesehatan gigi

10. Program Unggulan

a. Program Kebijakan Kesehatan, Pembiayaan, dan Hukum Kesehatan.

1) Tersusunnya rencana kegiatan lima tahunan (propenas) dan rencana


kerja tahunan (Repeta) kesehatan gigi dan mulut.

2) Tersusunnya laporan akuntabilitas kinerja tahunan kesehatan gigi dan


mulut

3) Legalisasi Produk-produk Bidang kesehatan Gigi dan Mulut.

b. Program Perbaikan Gizi.

1) Kegiatan kesehatan gigi dan mulut pra sekolah dan anak usia sekolah

2) Penyusunan petunjuk pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut keluarga


seri ibu hamil dan balita

3) Penyusunan pedoman pembinaan kesehatan gigi melalui polides


38

4) Perlindungan kesehatan gigi anak dengan sikat gigi sesudah makan.

c. Program Peningkatan Perilaku Hidup Bersih Sehat (PHBS) sejak usia dini

1) Penyusunan buku pendidikan kesehatan gigi remaja

2) Penyusunan lembar balik penyuluhan kesehatan gigi

3) Penyusunan standar pelayanan kesehatan gigi bagi anak berkebutuhan


khusus

4) Penyusunan materi kesehatan gigi dan mulut untuk RS

5) Penyusunan pedoman standar peralatan kedokteran gigi RS

d. Program Lingkungan Pemakaian air, dan udara sehat.

1) Pedoman pelaksanaan higienis klinik gigi di lingkungan kerja.

e. Program kesehatan keluarga

2) Penyusunan pedoman promotif-pereventif dengan pendekatan UKGM


dan UKGM inovatif

3) Penggunaan pedoman pembinaan kesehatan gigi dan mulut melalui


desa siaga

4) Penyusunan petunjuk pemeliharaan kesehatan gigi keluarga seri lansia.

5) Penyusunan pedoman pencegahan penyakit gigi, berupa brosur, leaet,


booklet.

6) Modul pelatihan kesehatan gigi bagi kader/guru.

f. Program pencegahan kecelakaan dan rudapaksa termasuk keselamatan lalu


lintas.

1) Melakukan penelitian pengaruh sakit gigi terhadap kecelakaan lalu


lintas.

g. Program integrasi dengan penyakit tidak menular (PTM)

2) Program anti tembakau di klinik Gigi


39

3) program Pengendalian Gula

4) Program skreening kanker mulut

5) Program Pengendalian konsumsi alkohol berhubungan dengan


penyakit gigi dan mulut

6) Penyusunan Pengendalian faktor-faktor resiko penyakit gigi dan mulut


dalam upaya meningkatkan kualitas hidup.19

BAB III

PEMBAHASAN

Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang
menyebabkan ketidaknyamanan, disfungsi atau kesukaran terhadap orang yang
dipengaruhinya atau dengan kata lain terjadi perubahan pada individu yang
menyebabkan parameter kesehatan mereka berada pada di bawah kisaran normal.
Berbagai jenis penyakit (menular dan tidak menular) sudah berkembang di
lingkungan kita. Ada penyakit yang berkembang secara endemis di suatu wilayah,
ada juga jenis penyakit yang baru berkembang di lingkungan kita.
Upaya yang dikaitkan dengan menentukan frekuensi, penyebaran serta faktor-
faktor yang mempengaruhi frekuensi dan penyebaran disuatu masalah kesehatan
dimasyarakat tercakup dalam suatu cabang ilmu khusus disebut dengan
Epidemiologi.
40

Jika ditinjau dari asal kata, epidemiologi berarti ilmu yang mempelajari
tentang penduduk (yunani, yaitu Epi : pada atau tentang, Demos : populasi,
penduduk dan Logos : ilmu) dimana subjek dan objek epidemiologi adalah
tentang masalah kesehatan.
Epidemiologi sendiri terdiri atas beberapa bidang kajian yaitu epidemiologi
penyakit menular, tidak menular, klinis, kependudukan, kesehatan jiwa, perilaku,
gizi, genetika, pengelolaan pelayanan kesehatan dan sebagainya.
Berbicara mengenai epidemiologi maka tidak lepas dari konsep dasar
terjadinya suatu penyakit, riwayat alamiah penyakit, factor resiko dan lain-lain.
Konsep dasar timbulnya penyakit, dipengaruhi tiga unsur yaitu unsur
penyebab (agent), yaitu dapat berupa benda hidup atau mati dalam factor mekanis.

Kadang-kadang penyebab untuk penyakit tertentu tidak diketahui, dapat


diklasifikasikan menjadi lima kelompok yakni, agens biologis, agens nutrient,
agens fisik, agens kimia, agens mekanis. Sedangkan unsur penjamu (host) dalam
hal ini manusia bergantung pada karakteristik yang dimiliki masing-masing
individu, dan unsur lingkungan (environment) yang pada dasarnya terdiri dari dua
bagian, internal dan eksternal. Lingkungan hidup internal merupakan suatu
keadaan yang dinamis dan seimbang yang disebut dengan homeostatis, sedangkan
lingkungan hidup eksternal merupakan lingkungan diluar tubuh manusia.
Perhatikan gambar berikut.
Berdasarkan gambar tersebut, dapat kita simpulkan bahwa perubahan pada
satu komponen akan mengubah keseimbangan ketiga komponen. Dari hasil
interaksi antara tiga faktor host, agent, dan environment itu penyakit berpeluang
untuk terjadi yang selanjutnya berkembang dan menyebar.
41

Selain dipengaruhi oleh ketiga factor tersebut, terdapat juga factor resiko yang
juga berperan dalam timbulnya suatu penyakit seperti gaya hidup, lingkungan,
biologi manusia dan organisasi sistem pelayanan kesehatan.
Selanjutnya kita melangkah ke tahapan atau riwayat alamiah suatu penyakit
yang pada umumnya dimulai dengan adanya individu atau host yang cukup rentan
terhadap suatu penyakit dan/atau agen pathogen virulen penyebab penyakit. Pada
saat host yang rentan ini terpapar pathogen, maka pathogen akan memperbanyak
diri dan menyebar pada hostnya. Respon terhadap setiap penyakit dan pathogen
berbeda pada masing-masing individu. Proses berkembangnya penyakit tersebut
dapat berhenti kapanpun, baik karena intervensi medis seperti pemberian obat-
obatan maupun karena kemampuan dan respon dari system imunitas alamiah
tubuh.
Awalnya respon tubuh terhadap pathogen tidak terasa oleh host. Namun,
seiring dengan perkembangan pathogen, perubahan yang terjadi karena proses
patologis sudah mulai dapat dirasakan oleh host. Gejala seperti sakit kepala,
demam, sakit perut, mual, lemas, akan dirasakan oleh host tergantung pada
penyakit apa yang disebabkan oleh pathogen. Setelah penyakit terbentuk, tubuh
akan merespon dan secara umum akan terjadi satu dari lima keadaan berikut yaitu,
kondisi host membaik hingga host akhirnya kembali sehat atau kondisi dimana
perjalanan penyakit tampak berhenti, gejala penyakit tidak berubah tidak
bertambah berat atau ringan atau penyakit memburuk dan pathogen semakin
berkembang dalam tubuh host yang menyebabkan kecacatan atau kematian host.h
perhatikan gambar dibawah ini untul lebih mudah dipahami.
42

Sebagaimana kita ketahui, jika penyakit yang menimpa suatu host


memburuk dan pathogen semakin berkembang dalam tubuh maka akan bisa
menyebabkan terjadinya kematian. Namun, berbagai golongan umur mempunya
kemungkinan meninggal yang berbeda-beda. Statistik kematian merupakan angka
yang menggambarkan frekuensi relatif terjadinya kematian dalam periode waktu
tertentu pada populasi tertentu.
Contoh 1:
Pada pertengahan tahun 2009 di kecamatan Binamu, kelurahan Balang toa di
laporkan 50 orang yang meninggal akibat menderita berbagai penyakit. Sedang
jumlah penduduk desa tersebut adalah 20.000 orang, maka angka kematian
kasarnya dalam persen adalah :
50
Angka kematian kasar : x 100 =0,25
20.000
Contoh 2 :
Pada pertengahan tahun 2010 di kecamatan rumbia jumlah penduduknya 4.000.
selama tahun 2010 tersebut terdapat 40 orang yang meninggal dunia karena DBD,
maka angka kematian DBD adalah :
Angka kematian penyebab khusus
40
x 1000=1 kematian per 1.000 penduduk.
4.000
Sedangkan statistik kesakitan merupakan ukuran yang penting dalam
mengevaluasi tingkat kesehatan masyarakat. Terdapat dua istilah yang kadang-
kadang digunakan secara berbaur antara insidensi dengan prevalensi. Terdapat
43

beberapa jenis statistik kesakitan yaitu: Angka Insidensi (AI), Angka Prevalensi
(AP), dan sebagainya.
Angka insiden atau incidence rate merupakan jumlah kasus baru penyakit
tertentu yang terjadi di kalangan penduduk pada suatu waktu tertentu
dibandingkan dengan jumlah penduduk yang mungkin terkena penyakit baru
tersebut pada pertengahan tahun jangka waktu yang bersangkutan dalam persen
atau permil.
Contoh :
Di sebuah desa kecamatan arungkeke dengan jumlah penduduk tanggal 1 mei
2015 sebanyak 400 orang balita, dimana seluruh balita tersebut berisiko atau
rentan terhadap penyakit campak. Kemudian ditemukan laporan penderita baru
dari puskesmas kecamatan arungkeke yakni, bulan februari 8 orang, bulan april 10
orang, bulan juli 12 orang, bulan oktober 14 orang dan bulan desember 16 orang.
Maka angka insidensinya adalah :
8+10+12+14+16
Incidence rate x 100 =15
400
Jadi, angka insidennya adalah 15 kasus per 100 penduduk balita.
Sedangkan prevalensi merupakan gambaran tentang frekuensi penderita
lama dan baru yang ditemuan pada waktu jangka tertentu disekelompok
masyarakat tertentu. Point prevalence rate mengukur jumlah penderita lama dan
baru yang ditemukan disekelompok masyarakat tertentu pada satu titik waktu
tertentu dibagi dengan jumlah penduduk saat itu dalam persen atau permil.
Contoh :
Kasus penyakit demam berdarah di kecamatan tamalatea pada waktu dilakukan
survey pada juli 2016 adalah 100 orang dari 5.000 penduduk dikecamatan
tersebut. Maka point prevalence rate Demam Berdarah di kecamatan tersebut
adalah :

100
Point prevalence rate x 1000=20 kasus per 1000 penduduk .
5000

Period prevalence rate terbentuk dari Point prevalence rate ditambah


dengan incidence rate dan kasus-kasus yang kambuh selama periode observasi.
44

Contoh :
Jumlah penduduk pada tanggal 13 oktober 2016 di daerah tarowang adalah
100.000 orang, menurut laporan puskesmas kecamatan tarowang jumlah penderita
penyakit TBC yakni, Maret 50 kasus lama, 70 kasus baru, Juni 40 kasus lama, 65
kasus baru, Agustus 30 kasus lama, 45 kasus baru, September 100 kasus lama, 110
kasus baru, November 80 kasus lama, 120 kasus baru. Maka angka prevalensi
periode adalah :
Period prevalence rate

( 50+70 )+ ( 40+65 )+ ( 30+45 ) + ( 100+110 ) + ( 80+120 )


x 100
1 000 00
0.71

Berdasarkan hal diatas untuk meminimalisir angka kesakitan dan kematian


diperlukan metode pencengahan serta program program kesehatan yang mampu
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat seperti yang dipaparkan pada tinjaun
pustaka.

BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
45

Epidemiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkenaan dengan factor-


faktor yang menentukan atau mempengaruhi frekuensi dan distribusi suatu
penyakit. Epidemiologi tidak hanya sekedar mempelajari masalah-masalah
penyakit saja, tetapi juga mencakup masalah kesehatan yang sangat luas di
tentukan dimasyarakat. Dalam epidemiologi membahas mengenai konsep dasar
penyakit, riwayat alamiah penyakit, angka kematian dan kesakitan, serta
prevalensi dan insidensi penyakit pada masyarakat. Oleh karena itu, dibutuhkan
peran baik itu upaya pencengahan maupun upaya pemerintah untuk
meminimalkan timbulnya penyakit sehingga dapat meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat.
B. Saran
Diharapkan pembaca mampu memahami konsep dari epidemiologi karena
ilmu ini merupakan ilmu yang penting untuk kedepannya.
46

DAFTAR PUSTAKA
1. Alhamda S, Sriani Y. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Yogyakarta:
Deepublish; 2014.
2. Dorland Newman. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Edisi 28. Jakarta : EGC;
2011. p. 391.

3. Chandra B. Ilmu kedokteran pencegahan dan komunitas. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC; 2006. Hal 7-8, 145, 161-6.

4. Maryani L, Muliani R. Epidemiologi kesehatan Pendekatan Penelitian.


Yogyakarta: Graha Ilmu;2010.p.3-8,16-9,54-6,59-61.
5. Lapau B. Metode penelitian kesehatan: metode ilmiah penulisan skripsi, tesis,
dan disertasi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia; 2012.p. 38-54, 57-70.
6. Swarjana IK. Statistik kesehatan. Yogyakarta: CV Andi Offset; 2016. Hal 252

7. Swarjana IK. Metodologi penelitian kesehatan (edisi revisi). Yogyakarta: CV


Andi Offset; 2015.p.65.

8. Budirto E, Anggraeni D. Pengantar epidemiologi. Edisi 2. Jakarta: Penerbit


Buku Kedokteran EGC; 2001.p.65, 131.

9. Rasya Faruk M. Pengangguran dan Pembangunan Perkotaan (Studi Kasus :


Kota Palembang). Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota;2010;21(1):57.
10. Lembaga Demografi FE UI. Dasar-dasar demografi. Jakarta: Lembaga
Penerbit FE UI; 2007.

11. Chandra B. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta : EGC. 2006.p.8-10.


12. Effendy N. Dasar-dasar keperawatan kesehatan masyarakat. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 1997. Hal 188-93.

13. Timmreck TC. Epidemiologi Suatu Pengantar. Alih bahasa : Fauziah M, dkk.
Edisi 2. Jakarta: EGC; 2001. Pg. 139-140, 337.
47

14. Herijulianti E, Indriani Ts, Artini S. Pendidikan kesehatan gigi. Jakarta :


EGC;2001.P.97-108.
15. Nandya, Maduratna E, Augustina EF. Status kesehatan jaringan periodontal
pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dibandingkan dengan pasien non diabetes
mellitus berdasarkan gpi. FKG UNAIR.

16. Redaksi Best Publisher. Undang-undang kesehatan dan praktik kedokteran.


Yogyakarta: Best Publisher; 2009. Hal 71-2.

17. Efendi F, Makfadli. Keperawatan Kesehatan Komunitas Teori dan Praktik


dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika;2009.p.61-4.
18. Morton RF, Hebel JR, McCarter RJ. Panduan studi epidemiologi dan
biostatistika. Edisi 5. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2003. Hal 24
19. Kementerian Kesehatan RI. Rencana program pelayanan kesehatan gigi dan
mulut. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI; 2012.Hal 23-9.