Anda di halaman 1dari 7

PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI GURU MATA

PELAJARAN IPS MTs


Posted on 26/01/2015 09:07 by admin bdk

PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 BAGI GURU MATA


PELAJARAN IPS MTs

Oleh: SIti Rokhanah *)

ABSTRAK

Diklat dan bimtek Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru IPS MTs diikuti oleh sebagian
kecil guru IPS. Sementara di Lapangan harus sudah mengimplementasikannya. Salah satu
permasalahan yang dihadapi guru mapel IPS adalah kesulitan menerapkan IPS terpadu.
Permasalahan tersebut berawal dari latar belakang kwalifikasi pendidikan Guru, yaitu dari
berbagai disiplin ilmu non IPS. Sedangkan Guru yang berlatar belakang IPS terpadu 50%
sedangkan dari disiplin ilmu terpisah 50%. Permasalahan lainnya Guru kesulitan menganalis
keterkaitan SKL, KI dan KD dan membuat Indikator pencapaian kompetensi untuk dituangkan
dalam rancangan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran IPS di MTs.

Kajian ini bertujuan untuk mendapatkan solusi mengatasi permasalahan agar Guru dapat
mengimplementasikan IPS terpadu dalam Kurikulum 2013. Solusi mengatasi permasalahan dari
latar belakang kwalifikasi pendidikan Guru melalui pemberdayaan MGMP. Memperbanyak
praktik menganalis keterkaitan SKL, KI dan KD dan membuat Indikator pencapaian kompetensi
untuk dituangkan dalam rancangan pembelajaran dan melaksanakan pembelajaran IPS di MTs
dan praktik menyusun RPP, melaksanakan pembelajaran dan melaksanakan evaluasi
menggunakan pendekatan IPS terpadu.

Kata Kunci: Problematika, Implementasi Kurikulum 2013, Pembelajaran IPS

A. PENDAHULUAN

Implementasi Kurikulum 2013 diharapkan telah dilaksanakan di seluruh kelas I sampai


dengan Kelas XI Pada Tahun Ajaran 2015/2016. Menjelang implementasi Kurikulum 2013,
penyiapan tenaga guru dan tenaga kependidikan lainnya sebagai pelaksana kurikulum di
lapangan perlu dilakukan. Sehubungan dengan itu, Badan Pengembangan Sumberdaya Manusia
Pendidikan dan Kebudayaan dan Penjaminan Mutu Pendidikan (BPSDMPK dan PMP), telah
menyiapkan strategi Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru, kepala sekolah, dan
pengawas. (Modul Implementasi Kurikulum 2013).

Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 tidak hanya dilakukan dilingkungan Kementrian


Pendidikan dan Kebudayaan, tetapi Kementrian Agama juga menyelenggarakan bimtek
Implementasi Kurikulum 2013 bagi guru MI, MTs dan MA. Bintek tersebut dilaksanakan di
tingkat Kabupaten/Kota pada bulan November dan Desember 2013.
Pada Tahun pelajaran 2014/2015 implmentasi Kurikulum 2013 bagi guru MI, MTs dan MA
sudah dilaksanakan. kenyataan pada umumnya guru masih menghadapi kesulitan dalam
memahami dan menerapkan Kurikulum 2013. Kenyataan ini dialami guru pada saat mengikuti
workshop MGMP implementasi kurikulum 2013 pembelajaran IPS bagi guru MTs se DI
Yogyakarta di MTsN Maguwoharjo. Permasalahan mendasar bagi guru adalah materi IPS
disajikan terpadu, tidak dipisah dalam kelompok Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi.
Menggunakan Geografi sebagai platform kajian dengan pertimbangan semua kejadian dan
kegiatan terikat dengan lokasi. Diajarkan oleh satu orang guru yang memberikan wawasan
terpadu antar mata kajian tersebut.

Berdasarkan permasalahan tersebut diatas perlu dicarikan solusi agar implementasi


kurikulum 2013 untuk pembelajaran IPS mudah di laksanakan. Kajian ini sebagai upaya untuk
dapat memberikan kontribusi agar implementasi kurikulum 2013 utuk pembelajaran IPS sukses
di laksanakan di MTs. Dengan pembelajaran secara terpadu, diharapkan pembelajaran IPS lebih
bermakna bagi peserta didik dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Peserta didik akan
memperoleh pemahaman yang lebih luas dan utuh (Permendiknas No. 58 Th 2014).

B. URAIAN MATERI

1. Landasan Teori

a. Problematika Implementasi Kurikulum 2013

Istilah problema/problematika berasal dari bahasa Inggris yaitu problematic yang artinya
persoalan atau masalah. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, problema berarti hal yang belum
dapat dipecahkan, yang dapat menimbulkan masalah ( Kamus Besar Bahasa Indonesia :
276). Sedangkan Implementasi kurikulum 2013 adalah pelaksanaan kurikulum 2013. Jadi
problematika implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran IPS adalah permasalahan yang
menjadi kendala implementasi kurikulum 2013 dalam pembelajaran IPS.

b. Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)

1). Pengertian

IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) adalah telaah tentang manusia dalam hubungan sosial atau
kemasyarakatan. Manusia sebagai makhluk sosial akan mengadakan hubungan sosial dengan
sesamanya, mulai dari keluarga sampai masyarakat global. Hal ini sebagaimana diungkap oleh
Nursid Sumaatmadja (2007:13) bahwa setiap orang sejak lahir, tidak terpisahkan dari manusia
lain. Selain berinteraksi dengan sesama, manusia juga berinteraksi dan memanfaatkan
lingkungan alam, serta harus mempertanggungjawabkan semua tindakan sosialnya kepada Tuhan
Yang Maha Kuasa.

2). Karakteristik Pembelajaran IPS.

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengambil peran untuk memberi pemahaman
yang luas dan mendalam pada bidang ilmu yang berkaitan, yaitu: (1) Memperkenalkan konsep-
konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya; (2) Membekali
kemampuan dasar untuk berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, memecahkan masalah,
dan keterampilan dalam kehidupan sosial; (3) Memupuk komitmen dan kesadaran terhadap nilai-
nilai sosial dan kemanusiaan; dan (4) Membina kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan
berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik di tingkat local, nasional maupun global.

3). Tujuan Pembelajaran IPS

Tujuan utama pembelajaran IPS adalah agar peserta didik memiliki kemampuan dalam
berpikir logis dan kritis untuk memahami konsep dan prinsip yang berkaitan dengan pola dan
persebaran keruangan, interaksi sosial, pemenuhan kebutuhan, dan perkembangan kehidupan
masyarakat untuk menciptakan kondisi kehidupan yang lebih baik dan atau mengatasi masalah-
masalah sosial. Menurut Hamid Hasan bahwa kedudukan pendidikan IPS sebagai mata pelajaran
yang berdiri sendiri sejajar dengan mata pelajaran lain adalah untuk memberikan kesempatan
yang lebih besar bagi peserta didik guna mempelajari riancian yang diperlukan. Sementara untuk
mapel IPS di SMP menggunakan pendekatan integratif dalam organisasi Kompetensi Dasar (KD)
dan pembelajaran. Hamid juga menambahkan bahwa Kompetensi Dasar tersebut diintegrasikan
dengan menggunakan konsep Geografi sebagai platform. Integrasi dalam KD dilakukan antara
konten Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi dan Antropologi. Yang nantinya bisa disebut
sebagai Pembelajaran IPS.

4). Konten pendidikan IPS dalam Kurikulum 2013

Konten pendidikan IPS adalah pengetahuan: tentang kehidupan masyarakat di sekitarnya,


bangsa dan umat manusia dalam berbagai aspek kehidupan dan lingkungannya; 2) ketrampilan:
berpikir logis dan kritis, membaca, belajar (learning skills, inqury), memecahkan masalah,
berkomunikasi dan bekerjasama dalam kehidupan bermasyarakat-berbangsa; 3) nilai-nilai
kejujuran, kerja keras; sosial, budaya, kebangsaan, cinta damai dan kemanusiaan serta
kepribadian yang didasarkan pada nilai-nilai tersebut; 4) sikap: rasa ingin tahu, mandiri,
menghargai prestasi, kompetitif, kreatif dan inovatif serta bertanggung jawab. (Hamid Hasan)

a). Ruang Lingkup

Ruang lingkup IPS tidak lain adalah perilaku sosial, ekonomi, dan budaya manusia di
masyarakat dalam konteks ruang dan waktu yang mengalami perubahan. Oleh karena itu,
masyarakat menjadi sumber utama IPS. Ruang lingkup mata pelajaran IPS di SMP, meliputi
aspek-aspek sebagai berikut: (1) Keruangan dan konektivitas antar ruang dan waktu ; (2)
Perubahan masyarakat Indonesia pada zaman pra-aksara, zaman Hindu-Buddha dan zaman
Islam, zaman penjajahan dan tumbuhnya semangat kebangsaan, masa pergerakan kemerdekaan
sampai dengan awal (masa) reformasi sekarang; (3) Jenis dan fungsi kelembagaan sosial,
budaya, ekonomi, dan politik dalam masyarakat; (4) Interaksi manusia dengan lingkungan alam,
sosial, budaya, dan ekonomidari waktu ke waktu.

b). Konsep IPS Terpadu.


Kurikulum 2013 menuntut pembelajaran IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) yang disampaikan
secara terpadu. Dengan pembelajaran secara terpadu, diharapkan pembelajaran IPS lebih
bermakna bagi peserta didik dalam konteks pembelajaran sehari-hari. Peserta didik akan
memperoleh pemahaman yang lebih luas dan utuh. Mata pelajaran IPS mengkaji berbagai aspek
kehidupan masyarakat secara terpadu, karena kehidupan masyarakat sebenarnya merupakan
sebuah system dan totalitas dari berbagai aspek. Kehidupan masyarakat bersifat
multidimensional, sehingga pembelajaran IPS yang dilaksanakan secara terpadu diharapkan
mampu mengantarkan dan mengembangkan kompetensi peserta didik kea rah kehidupan
masyarakat dengan baik dan fungsional, memiliki kepekaan sosial dan mampu berpartisipasi
dalam mengatasi masalah-masalah sosial yang terjadi.

Pembelajaran IPS merupakan keterpaduan dari materi Geografi, Sejarah, Ekonomi dan
Sosiologi. IPS terpadu menggunakan Geografi sebagai platform kajian dengan pertimbangan
semua kejadian dan kegiatan terikat dengan lokasi. Tujuannya adalah menekankan pentingnya
konektivitas ruang dalam memperkokoh NKRI. Kajian sejarah, sosiologi, budaya, dan ekonomi
disajikan untuk mendukung terbentuknya konektivitas yang lebih kokoh.

2. Workshop Implementasi Kurikulum 2013 bagi MGMP Guru IPS

Peserta workshop jumlahnya 27 orang, terdiri dari guru IPS MTs se-DI Yogyakarta.
Workshop dilaksanakan 4 hari di MTsN Maguwoharjo. Materi rancangan pembelajaran di
laksanakan selama satu hari = 10 JP. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan peserta
workshop, bahwa implementasi kurikulum 2013 pembelajaran IPS menghadapi berbagai
permasalahan.

a. Permasalahan Implementasi Kurikulum 2013.

Permasalahan yang dihadapi Guru IPS dalam mengimplementasikan Kurikulum 2013,


tersebut adalah sebagai berikut:

Pertama, bahwa pembelajaran IPS dilaksanakan terpadu secara otomatis menuntut guru IPS
dapat menguasai materi Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi. Diklat dan bimtek Implementasi
Kurikulum 2013 bagi guru IPS MTs diikuti oleh sebagian kecil guru IPS. Sementara di Lapangan
harus sudah mengimplementasikannya. Salah satu permasalahan yang dihadapi guru mapel IPS
adalah kesulitan menerapkan IPS terpadu. Permasalahan tersebut berawal dari latar belakang
kwalifikasi pendidikan Guru, yaitu dari berbagai disiplin ilmu non IPS. Sedangkan Guru yang
berlatar belakang IPS terpadu 30 % sedangkan dari disiplin ilmu IPS terpisah seperti Geografi,
Sejarah, Ekonomi, Sosiologi 40% sisanya 30% dari disiplin ilmu non IPS

Kedua, Guru kesulitan menganalis keterkaitan SKL, KI dan KD dan membuat Indikator
pencapaian kompetensi untuk dituangkan dalam rancangan pembelajaran dan melaksanakan
pembelajaran IPS di MTs.

Kedua, Untuk mengatasi latar belakang guru IPS dari berbagai disiplin ilmu seperti
Geografi, Sejarah, Ekonomi, Sosiologi berarti guru sebelumnya melaksanakan pembelajaran IPS
secara terpisah. Hal ini menjadi permasalahan yang perlu dicarikan solusinya, sebab tuntutan
pembelajaran IPS MTs diajarkan oleh satu orang guru. Tujuan pembelajaran IPS diajarkan
terpadu agar antar mata kajian tersebut dipahami peserta didik dengan keterpaduan antar mata
kajian tersebut sebelum mendalaminya secara terpisah dan lebih mendalam pada jenjang
selanjutnya (MA).

Penulis sebagai widyaiswara memberikan solusi agar guru IPS selalu belajar konsep-konsep IPS
dari berbagai sumber. Sementara ini Guru masih mengalami keterbatasan dalam menggali
sumber belajar IPS yaitu berdasarkan buku pegangan Guru yang tingkat kedalaman dan keluasan
materi tidak jauh berbeda dengan buku pegangan murid.

Keempat, Penilaian dalam pembelajaran IPS mencakup: penilaian otentik,

b. Solusi mengatasi masalah Implementasi Kurikulum 2013

Dalam Workshop Guru IPS ditawarkan solusi Langkah-langkah Implementasi Kurikulum


2013. Sebagai berikut:

Pertama. Penulis sebagai widyaiswara memberikan solusi untuk mengatasi latar belakang
guru IPS dari berbagai disiplin ilmu seperti Geografi, Sejarah, Ekonomi dan Sosiologi ( disiplin
ilmu terpisah) solusinya agar guru IPS selalu belajar konsep-konsep IPS dari berbagai sumber
dan menggali sumber belajar IPS yaitu berdasarkan buku pegangan Guru yang tingkat
kedalaman dan keluasan materi tidak jauh.

Kedua, Guru dianjurkan untuk membiasakan menganalisis SKL, KI, dan KD sebelum
menyusun RPP. Melalui bimbingan dalam pendampingan oleh Widyaiswara langkah-langkah
analisis SKL, KI, dan KD dipraktikkan sampai benar-benar dipahami. Langkah tersebut adalah
sebagai berikut: Analisis Kompetensi Dasar IPS (KD). KD dirumuskan untuk mencapai
kompetensi inti. Rumusan kompetensi dasar dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik
pesertadidik, kemampuan awal, serta ciri dari suatu mata pelajaran. Kompetensi dasar dibagi
menjadi empat kelompok sesuai dengan pengelompokkan kompetensi inti sebagai berikut:
kelompok 1: kelompok kompetensi dasar sikap spiritual dalam rangka menjabarkan KI-1;
kelompok 2: kelompok kompetensi dasar sikap sosial dalam rangka menjabarkan KI-2;kelompok
3: kelompok kompetensi dasar pengetahuan dalam rangka menjabarkan KI-3; dan kelompok
4: kelompok kompetensi dasar keterampilan dalam rangka menjabarkan KI-4.Kompetensi
Dasar untuk setiap Mata Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah ada dalam
(Lampiran Permendikbudr 68 Tahun 2013.

Setelah dapat mempraktikkan analisis SKL, KI, dan KD dilanjutkan bimbingan cara
merencanakan pembelajaran, mulai dari memetakan KD, pemilihan tema, penjabaran kompetensi
dasar ke dalam indikator, dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Kegiatan ini
di monitoring oleh Widyaiswara sampai benar-benar Guru Faham dan dapat menyusun RPP.

Ketiga, Pemahaman terhadap penilaian dalam pembelajaran IPS mencakup: penilaian


otentik, penilaian diri, penilaian berbasis portofolio, ulangan harian, ulangan tengah semester,
ulangan akhir semester, ujian tingkat kompetensi, ujian mutu tingkat kompetensi, ujian nasional,
dan ujian sekolah/madrasah (Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang Standar Penilaian).
C. KESIMPULAN

1. Pembelajaran IPS dilaksanakan terpadu menuntut guru IPS dapat menguasai materi Geografi,
Sejarah, Ekonomi, Sosiologi. Latar belakang kwalifikasi pendidikan Guru dari berbagai disiplin
ilmu non IPS, dari disiplin ilmu IPS terpisah solusinya agar guru IPS selalu belajar konsep-konsep
IPS dari berbagai sumber dan menggali sumber belajar IPS dan memberdayyakan MGMP.

2. Kesulitan menganalis keterkaitan SKL, KI dan KD dan membuat Indikator pencapaian kompetensi
untuk dituangkan dalam rancangan pembelajaran solusinya melalui bimbingan dalam
pendampingan oleh Widyaiswara dengan mempraktikkan langkah-langkah analisis SKL, KI, dan
KD sampai benar-benar dipahami, dilanjutkan bimbingan cara merencanakan pembelajaran,
mulai dari memetakan KD, pemilihan tema, penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator,
dan menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

3. Kesulitan melaksanakan penilaian dalam pembelajaran IPS diberikan solusi meningkatkan


pemahaman terhadap konsep penilaian dan praktik menyusun instrument penilaian dalam
pembelajaran IPS melalui pendampingan oleh Widyaiswara.

D. REKOMENDASI

1. Pemberdayaan MGMP pembelajaran IPS melalui pendampingan oleh Widyaiswara untuk


meningkatkan pemahaman konsep IPS dan praktik merencanakan, melaksanakan dan
mengevaluasi pembelajaran.

2. Bagi Guru perlu meningkatkan kemampuan merencanakan, melaksanakan pembelajaran dan


mengevaluasi pembelajaran IPS melalui diklat dan pendampingan di tempat kerjanya.

3. Balai Diklat Keagamaan perlu meningkatkan kerjasama Balai Diklat Keagamaan dengan
Madrasah untuk memberdayakan Guru IPS.

DAFTAR PUSTAKA

Azis, Wahab A, Metode dan Model-model Mengajar Ilmu Pengetahuan Sosial, Bandung:
Alfabeta, 2007.

Debdikbud, 2002, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Bulan Bintang

Diknas. 2011. Diklat IPS Terpadu Model Keterpaduan IPS, Jakarta.

Hasan, S Hamid. 1995. Pendidikan Ilmu Sosial. Jakarta: Depdikbud

Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan 2013, Materi Pelatihan Guru Implementasi


Kurikulum 2013 SMP
Kosasih A. , Djahiri, Pengajaran Studi Sosial/IPS (Dasar-dasar Pengertian, Metodogi, Model
Belajar-Mengajar IPS), Bandung: LPPIPS FKIPS IKIP, 1983.

Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan, Modul Pelatihan Implementasi Kurikulum 2013 untuk
SMP/MTs

Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Nomor 58 Tahun 2014, Tentang Kurikulum
2013 Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah

*). Penulis adalah Widyaiswara pada Balai Diklat Keagamaan Semarang

Artikel