Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. TINJAUAN TEORITIS
1. Defisit Perawatan Diri
a. Pengertian defisit perawatan diri

Defisit perawatan diri merupakan salah satu dari tujuh

diagnosa keperawatan jiwa. Defisit perawatan diri pada pasien

gangguan jiwa disebabkan oleh adanya gangguan kognitif atau

persepsi yang menyebabkan ketergantungan terhadap kebutuhan

perawatan dirinya. Defisit perawatan diri menurut Wilkinson (2011)

seringkali disebabkan oleh intoleransi aktivitas, hambatan mobilitas

fisik, nyeri, ansietas, dan gangguan kognitif atau persepsi.

Definisi dari defisit perawatan diri diartikan sebagai suatu

keadaan seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan

kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan

diri, seperti mandi, berganti pakaian, makan dan eliminasi untuk diri

sendiri (NANDA, 2012; Wilkinson, 2011).

Defisit perawatan diri terdiri dari empat aktivitas, yaitu: mandi,

berpakaian/berhias, makan, dan eliminasi yang akan dijelaskan

sebagai berikut:

1) Defisit perawatan diri: mandi

9
10

Defisit perawatan diri: mandi adalah hambatan/gangguan

kemampuan untuk melakukan atau memenuhi aktivitas

mandi/hygiene untuk diri sendiri (NANDA, 2012; Wilkinson,

2011). Batasan karakteristik defisit perawatan diri: mandi adalah:

ketidakmampuan pasien untuk mengakses kamar mandi (masuk

dan keluar kamar mandi), mengeringkan tubuh, mengambil

perlengkapan mandi, menjangkau sumber air, mendapatkan atau

menyediakan air, mengatur suhu dan aliran air mandi, mengatur

air mandi, dan membersihkan tubuh/anggota tubuh.


2) Defisit perawatan diri: berpakaian/berhias
Defisit perawatan diri: berpakaian/berhias adalah suatu

hambatan kemampuan untuk memenuhi/menyelesaikan aktivitas

berpakaian lengkap dan berhias untuk diri sendiri (NANDA,

2012; Wilkinson, 2011). Batasan karakteristik perawatan diri:

berpakaian adalah ketidakmampuan pasien untuk memilih

pakaian, mengambil pakaian, mengambil atau menggantikan

pakaian, mengenakan atau melepas pakaian pada bagian

atas/bawah tubuh, mempertahankan penampilan pada tingkat

yang memuaskan, mengenakan dan melepas sepatu atau kaus

kaki, menggunakan alat bantu, menggunakan resleting, hambatan

kemampuan untuk mengancingkan pakaian; hambatan

kemampuan pasien untuk mengambil pakaian, mengenakan atau

melepas atribut penting pakaian, mengenakan atau melepas sepatu

atau kaus kaki.


3) Defisit perawatan diri: makan
11

Defisit perawatan diri: makan adalah suatu hambatan

kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan/memenuhi

aktivitas makan sendiri (NANDA, 2012; Wilkinson, 2011).

Batasan karakteristik defisit perawatan diri: makan adalah

ketidakmampuan pasien untuk menyuap, mengunyah, atau

menghabiskan makanan, menempatkan makanan ke perlengkapan

makan, menggunakan perlengkapan makan, memakan makanan

dengan cara yang dapat diterima oleh sosial, memakan makanan

dengan aman dan jumlah memadai, membuka wadah makanan,

mengambil gelas/cangkir, menyiapkan makanan, menelan

makanan, atau menggunakan alat bantu.


4) Defisit perawatan diri: eliminasi
Defisit perawatan diri: eliminasi adalah suatu hambatan

kemampuan untuk melakukan, menyelesaikan, atau melengkapi

kegiatan/aktivitas eliminasi sendiri (NANDA, 2012; Wilkinson,

2011). Batasan karakteristik defisit perawatan diri: eliminasi

adalah ketidakmampuan melakukan hygiene eliminasi yang tepat,

menyiram toilet, naik ke toilet, melepas atau menggunakan

pakaian untuk eliminasi, turun dari toilet atau untuk

duduk/bangun dari toilet, membersihkan diri sehabis eliminasi.

b. Tanda dan gejala


Menurut Fitria (2010) tanda dan gejala klien dengan defisit

perawatan diri adalah:


1) Ketidakmampuan mandi/membersihkan diri: rambut kotor, gigi

kotor, kulit berdaki dan berbau, serta kuku panjang dan kotor.
12

2) Ketidakmampuan berpakaian/berhias: rambut acak-acakan,

pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, tidak

bercukur (bagi yang laki-laki), atau tidak berdandan (bagi yang

perempuan).
3) Ketidakmampuan makan: ketidakmampuan mengambil

makanan sendiri, makan berceceran, dan makan tidak pada

tempatnya.
4) Ketidakmampuan BAB/BAK: ketidakmampuan BAB/BAK

pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah

BAB/BAK.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri
Faktor-faktor yang mempengaruhi perawatan diri menurut

Potter dan Perry (2009) sebagai berikut :


1) Praktik sosial
Kelompok sosial mempengaruhi pilihan hygiene, termasuk

produk dan frekuensi perawatan pribadi. Selama masa kanak-

kanak, kebiasaan keluarga mempengaruhi hygiene, misalnya

frekuensi mandi, waktu mandi, dan jenis hygiene mulut. Pada

masa remaja, remaja pribadi dipengaruhi oleh kelompok teman.

Remaja wanita misalnya menjadi tertarik pada penampilan pribadi

dan mulai memakai riasan wajah. Pada masa dewasa, teman dan

kelompok kerja membentuk harapan tentang penampilan pribadi.

Beberapa praktik hygiene pada lansia berubah karena kondisi dan

sumber yang tersedia.


2) Pilihan pribadi
Tiap klien memiliki keinginan sendiri dalam menentukan

waktu bercukur, mandi, dan mengurus rambut. Pilihan produk

didasarkan pada penilaian pribadi, kebutuhan dan dana


13

pengetahuan tentang pilihan klien akan membantu perawatan

yang terindividualisasi. Selain itu bantu klien untuk membangun

praktik hygiene baru jika ada penyakit. Contoh: perawat harus

mengajarkan hygiene kaki pada klien penderita diabetes.


3) Citra tubuh
Citra tubuh mempengaruhi cara seseorang memelihara

hygiene. Jika klien tampak rapi, pertimbangkan detail kerapihan

saat merencanakan keperawatan dan berkonsultasi dengan klien

sebelum memberikan perawatan hygiene. Klien yang tampak

berantakan dan tidak peduli dengan hygiene dirinya akan

membutuhkan edukasi tentang kepentingan hygiene atau

pemeriksaan lebih lanjut untuk melihat kemampuan klien

berpartisipasi dalam hygiene harian. Penampilan umum klien

menggambarkan pentingnya hygiene bagi dirinya. Citra tubuh

adalah konsep subyek seseorang tentang tubuhnya, termasuk

penampilan, struktur atau fungsi fisik. Citra ini sering berubah,

saat klien menjalani operasi, menderita penyakit, atau perubahan

status fungsional, citra tubuh akan berubah drastis. Perawat

berusaha untuk meningkatkan kenyaman dan penampilan hygiene

klien.
4) Status sosial ekonomi
Status ekonomi akan mempengaruhi jenis dan sejauh

mana praktik hygiene dilakukan. Perawat harus sensitif terhadap

status ekonomi klien dan pengaruhnya terhadap kemampuan

pemeliharaan hygienenya. Jika klien mengalami masalah

ekonomi, dirinya akan sulit berpartisipasi dalam aktivitas promosi


14

kesehatan seperti hygiene dasar. Jika barang untuk perawatan

tidak dapat dibeli oleh klien, carilah alternatifnya. Pelajari juga

apakah penggunaan produk tersebut merupakan bagian kebiasaan

yang dilakukan oleh kelompok sosial klien. Contohnya, tidak

semua klien menggunakan deodoran atau kosmetik.


5) Kepercayaan atau motivasi kesehatan
Pengetahuan akan hygiene mempengaruhi praktik

hygiene. Motivasi merupakan kunci penting dalam pelaksanaan

hygiene. Kesulitan internal yang mempengaruhi praktik hygiene

adalah ketiadaan motivasi karena kurangnya pengetahuan. Klien

berperan penting dalam menentukan kesehatan dirinya karena

perawatan diri merupakan hal yang paling dominan pada

kesehatan masyarakat kita. Banyak keputusan pribadi yang dibuat

tiap hati yang membentuk gaya hidup dan lingkungan sosial/fisik.

Penting untuk mengetahui apakah klien merasa dirinya memiliki

resiko. Jika klien mengetahui memiliki resiko dan dapat bertindak

tanpa konsekuensi negatif, mereka lebih cenderung menerima

konseling oleh perawat.


6) Variabel budaya
Kepercayaan budaya dan nilai pribadi klien akan

mempengaruhi perawatan hygiene. Berbagai budaya memiliki

praktik hygiene yang berbeda. Beberapa budaya tidak

menganggap kesehatan sebagai hal yang penting.


7) Kondisi fisik

Klien dengan keterbatasan fisik biasanya tidak memiliki

energi dan ketangkasan untuk melakukan hygiene. Contoh klien


15

dengan traksi, penyakit dengan rasa nyeri membatasi ketangkasan

dan rentang gerak, klien dibawah efek sedasi tidak memiliki

koordinasi mental untuk melakukan perawatan diri, penyakit

kronis, jantung, kanker, neurologis dan psikiatrik. Genggaman

yang melemah akibat stroke atau kelainan otot akan menghambat

klien untuk menggunakan sikat gigi, handuk basah atau sisir.

d. Tingkat kemampuan perawatan diri

Kemampuan pasien dalam memenuhi perawatan diri

digambarkan berdasarkan skala tingkat ketergantungan menurut

NANDA dalam Wilkinson (2011) sebagai berikut : tingkat 0

merupakan tingkatan tertinggi yang ditandai dengan kemandirian

penuh dalam kegiatan sehari-hari; tingkat 1 ditandai dengan

penggunaan alat-alat atau bahan pembantu meskipun dilakukan secara

mandiri dan tanpa ketergantungan pada orang lain; tingkat 2 ditandai

dengan diperlukannya bantuan orang lain untuk pengawasan; tingkat 3

ditandai dengan diperlukannya alat-alat dan bahan bantu serta

pengawasan dari orang lain; tingkat 4 adalah tingkatan terendah

dimana klien sepenuhnya tergantung pada bantuan orang lain.

Penjelasan tentang kemampuan perawatan diri dapat dilihat

dalam tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 2.1
Klasifikasi tingkat kemampuan klien dalam perawatan diri

Jenis (0) (+1) Semi mandiri Ketergantunga Ketergantunga


16

perawatan n sebagian n total


(+2)
diri (+3) (+4)
Mandir Perlu Perlu bantuan Perlu bantuan Perlu bantuan
i menggunaka dari orang lain dari orang lain orang lain, tidak
n alat bantu untuk dan alat bantu berpartisipasi
membantu, dalam aktivitas
mengawasi atau
mengajarkan
Mandi Perawat Perawat Pasien
memberikan menyediakan membutuhkan
seluruh seluruh mandi lengkap,
peralatan, peralatan, tidak dapat
mengatur posisi mengatur posisi membantu sama
pasien di pasien, sekali.
tempat membersihkan
tidur/kamar punggung,
mandi. Pasien tungkai,
dapat mandi perineum, dan
sendiri, kecuali semua bagian
untuk bagian tubuh lain sesuai
punggung dan keperluan.
kaki. Pasien dapat
membantu.
Berpakaian Perawat Perawat Pasien perlu
/ mempersiapkan menyisir rambut dikenakan
berhias pakaian, dapat pasien, pakaian dan
mengancingkan membantu tidak dapat
, merisleting, mengenakan membantu.
atau mengikat pakaian, Perawat dapat
pakaian. Pasien mengancingkan, menyisir rambut
dapat merisleting pasien.
mengenakan pakaian dan
pakaian sendiri. mengikat sepatu.
Makan Perawat Perawat Pasien perlu
mengatur posisi memotong dibantu untuk
pasien, makanan, makan secara
mengambil membuka total.
makanan, wadah, mengatur
memantau posisi,
aktivitas mendorong dan
makan. memantau
pasien untuk
makan.
Eliminasi Pasien dapat Perawat Pasien
berjalan ke menyediakan inkontinensia,
kamar kecil pispot, perawat
17

atau kursi menempatkan menempatkan


buang air pasien pada atau pasien pada
dengan membantu pispot atau kursi
bantuan, pasien turun dari buang air
perawat pispot,
membantu menempatkan
mengenakan pasien di kursi
atau melepas buang air.
pakaian.
Sumber: Wilkinson, J. M. (2011). Buku Saku Diagnosis Keperawatan
dengan Diagnosis NANDA, Intervensi NIC & Kriteria Hasil NOC Ed. 9.
Jakarta: EGC

2. Terapi Perilaku
Menurut Direja (2011) terapi perilaku didasarkan pada keyakinan

bahwa perilaku dipelajari, dengan demikian perilaku yang tidak diinginkan

atau maladaptif dapat diubah menjadi perilaku yang diinginkan atau

adaptif. Peningkatan dari latihan perilaku positif untuk meningkatkan

kesehatan adalah sebuah kunci dan sebagian besar terkait dengan

karakteristik kepribadian dan suasana hati yang muncul (Fassino, 2007

dalam Kokaridas et.al, 2013).


Proses mengubah perilaku terapi ini adalah dengan menggunakan

teknik yang disebut conditioning yaitu suatu proses dimana klien belajar

mengubah perilaku. Cara melakukan conditioning adalah sebagai berikut:


a. Reciprocal inhibition
Cara mengurangi ansietas yang dirasakan dengan mengendalikan

situasi yang dapat meredakan ansietas yang dirasakan.


b. Positive conditioning
Dengan demikian hadiah (reward) pada setiap perilkau yang

diinginkan dan tidak memberikan reward atau menghukum pada

perilaku yang tidak diinginkan.


c. Eksperimental extinction
18

Yaitu upaya menurunkan suatu perilaku dengan cara tidak

memberikan reward berulang-ulang.


(Direja, 2011)
Ada beberapa macam teknik terapi perilaku yang bisa diterapkan.

Menurut Nelson (2011, dalam Dwi Indah Iswanti, 2012) menguraikan

macam-macam teknik terapi perilaku sebagai berikut:


a. Desentisasi Sistematik
Teknik ini digunakan untuk menghapus tingkah laku yang

diperkuat secara negatif dan menyertakan pemunculan tingkah laku

yang hendak dihapus. Langkah-langkahnya meliputi: latihan relaksasi

otot dalam, menyusun hierarki stimuli yang membangkitkan

kecemasan, skoring dari nol sampai seratus, setelah relaks meminta

klien membayangkan item-item dari hierarki kecemasan dengan scene

(membayangkan) kemudian di ikuti hentikan scene-nya atau stop

(hapus) seperti teknik Thought Stopping.


b. Teknik Inflosif dan Pembanjiran (paparan dalam waktu lama dan

berulang)
Teknik ini terdiri atas pemunculan stimulus dalam kondisi

berulang-ulang tanpa memberikan penguatan. Konfrontasi terhadap

stimulus yang ditakuti dilanjutkan sampai respon yang tidak di

inginkan berkurang. Oleh karena ketakutan tidak akan berkurang

sampai dikonfrontasikan selama waktu yang cukup lama dan

berulang-ulang.
c. Latihan Asertif
Teknik ini diterapkan pada individu yang mengalami kesulitan

menerima kenyataan bahwa tindakannya selama ini tidak benar.

Latihan ini membantu individu yang tidak mampu mengungkapkan

kemarahan atau perasaan tersinggung, memiliki kesulitan untuk


19

mengatakan tidak dan bentuk lainnya. Perilaku asertif untuk

mengatasi situasi tertentu, diajarkan secara verbal maupun nonverbal

melalui perilaku asertivitas.


d. Teknik Aversi (Self Punishment)
Teknik ini digunakan untuk menurunkan gangguan perilaku

yang spesifik dengan pemberian stimulus yang menyakitkan sampai

stimulus yang tidak diinginkan terhambat kemunculannya. Stimulus

aversi ini biasanya berupa hukuman dengan kejutan listrik atau

pemberian ramuan yang memualkan. Mendorong klien

mengadministrasikan konsekuensi aversi (tidak menyenangkan)

kepada dirinya.
e. Pengkondisian Operan
Operant conditioning adalah sebuah tingkah laku diikuti dengan

sebuah konsekuensi, dan konsekuensi-konsekuensi tersebut dapat

merubah kecenderungan organisme untuk mengulang tingkah laku

tersebut di masa datang. Eksperimen yang dilakukan Skinner (2008,

dalam Dwi Indah Iswanti, 2012) membuktikan bahwa suatu tingkah

laku yang diikuti oleh stimulus penguat akan meningkatkan

kemungkinan munculnya kembali tingkah laku tersebut di masa

depan.
f. Sensitisasi Terselubung/Covert Sensitization
Biasanya klien mengingkari atau rasionalisasi konsekuensi

negatif dari tindakannya. Merupakan intervensi untuk menghentikan

atau mengurangi perilaku yang tidak di inginkan. Terapis membantu

mengadministrasikan membayangkan konsekuensi aversif dalam

imajinasinya terhadap tindakan yang dilakukan. Contoh kasus pedofili


20

dan kleptomania, klien ingin menghentikan tindakannya tetapi tidak

mampu.

g. Modeling Partisipan
Modeling partisipan merupakan strategi modifikasi perilaku

melalui pengamatan perilaku terhadap model. Salah satu jenis strategi

modeling adalah modeling partisipan. Modeling partisipan

menekankan kinerja in vivo pada tugas-tugas yang ditakutkan, dengan

konsekuensi yang dimunculkan oleh kinerja sukses yang dianggap

sebagai sarana bagi perubahan psiokologis.


h. Penguatan dengan Token Economy
Terapi perilaku: Token Economy merupakan salah satu

intervensi modifikasi perilaku dengan memberikan penguatan perilaku

berupa token (hadiah) sesuai kesepakatannya sebelumnya. Token akan

ditarik kembali ketika muncul perilaku baru yang telah membudaya,

sehingga hasil akhirnya klien mendapatkan perilaku positif yang lebih

berharga daripada sebuah token (hadiah).


Menurut Nasir & Muhith (2011) Token Economy merupakan suatu

wujud modifikasi perilaku yang dirancang untuk meningkatkan

perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang tidak

diinginkan dengan pemakaian token (tanda-tanda). Individu menerima

token cepat setelah menunjukkan perilaku yang diinginkan. Token itu

dikumpulkan dan dipertukarkan dengan suatu objek atau kehormatan

yang penuh arti. Secara singkatnya Token Economy merupakan

sebuah sistem reinforcement untuk perilaku yang dikelola dan diubah,


21

seorang mesti dihadiahi/diberikan penguatan, untuk meningkatkan

atau mengurangi perilaku yang diinginkan.


1) Tujuan terapi perilaku: Token Economy
Tujuan yang utama suatu Token Economies untuk

meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku

yang tidak diinginkan. Seringkali Token Economies digunakan

dalam pengaturan dalam sebuah lembaga (seperti rumah sakit

jiwa atau fasilitas rehabilitasi) untuk mengatur perilaku dari

individu yang tidak bisa diramalkan atau agresif. Bagaimana pun

juga, tujuan yang lebih utama dari Token Economies untuk

mengajar perilaku yang sesuai dan keterampilan-keterampilan

sosial yang dapat digunakan dalam satu lingkungan yang alami

(wajar) (Nasir & Muhith, 2011).

2) Indikasi terapi perilaku: Token Economy

Token Economy dapat digunakan pada individu maupun

kelompok, baik pasien di ruang psikiatri atau untuk pasien anak-

anak. Pasien-pasien psikiatri yang diberikan terapi ini pada

umumnya adalah pasien-pasien dengan diagnosa keperawatan

defisit perawatan diri, selain itu untuk perilaku kekerasan,

isolasi sosial, halusinasi dan harga diri rendah (FIK UI, 2014).

3) Teknik pelaksanaan terapi perilaku: Token Economy


Berdasarkan hasil Workshop Keperawatan Jiwa ke-8 di Depok

tahun 2014, teknik pelaksanaan terapi perilaku: Token Economy

adalah sebagai berikut:


22

a) Bentuk token sebaiknya adalah suatu objek yang benar-

benar diinginkan klien atau kehormatan yang penuh arti

atau hadiah yang bagus.


b) Hadiah dapat bersifat individual tergantung dari umur, jenis

kelamin, hobi, dan tipe intensitas dari tanda yang tampak

pada klien.
c) Besarnya reward/hadiah adalah sama nilainya untuk semua

individu dalam suatu kelompok.


d) Penggunaan dari hukuman lebih sedikit resikonya

dibandingkan bentuk-bentuk hukuman yang lain.


e) Kontrak yang sangat jelas mengenai waktu dan tujuan

diberikannya Token Economy kepada pasien.


Proses pelaksanaan terapi perilaku: Token Economy terdiri dari 4

sesi :
a) Sesi 1 Identifikasi perilaku yang akan dirubah: merawat diri

(mandi, berpakaian/berhias)
b) Sesi 2 Mengubah perilaku negatif klien merawat diri:

makan
c) Sesi 3 Mengubah perilaku negatif klien merawat diri:

toileting
d) Sesi 4 Mengungkapkan manfaat dan hasil dari latihan setiap

sesi serta merencanakan tindak lanjut


(FIK UI, 2014)

4) Waktu pelaksanaan
Intervensi dilakukan sebanyak 4 sesi selama 3 hari dan

dilakukan observasi selama 3 minggu. Setelah dilakukan

intervensi sesi pertama klien sudah mempraktekkan kemampuan

merawat dirinya dan langsung dilakukan observasi pada hari

keduanya. Sesi kedua dilakukan pada hari kedua dan hari ketiga
23

langsung dilakukan observasi untuk kemampuan sesi satu dan

sesi dua. Sesi ketiga dilakukan pada hari ketiga dan hari

keempatnya dilakukan observasi untuk semua sesi selama 3

minggu. Setiap satu minggu Token Economy yang diperoleh di

hitung dan di jumlahkan untuk ditukarkan dengan hadiah barang

sesuai dengan daftar yang tersedia. Terapi ini dilakukan setiap

hari kerja mulai dari jam 08.00 WIB sampai dengan 16.00 WIB.
3. Pengaruh Terapi Perilaku: Token Economy dengan Kemampuan

Merawat Diri
Definisi dari defisit perawatan diri diartikan sebagai suatu keadaan

seseorang yang mengalami gangguan atau hambatan kemampuan untuk

melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri, seperti mandi,

berganti pakaian, makan dan eliminasi untuk diri sendiri (NANDA, 2012;

Wilkinson, 2011).
Pasien dengan defisit perawatan diri butuh motivasi dalam

melakukan aktivitas perawatan diri. Sebuah penelitian melaporkan bahwa

upaya perawatan diri yang adekuat sangat dibutuhkan bagi klien yang

mengalami gangguan jiwa untuk memenuhi keinginan mereka dalam

mencapai kehidupan yang normal (Moore & Pichler, 1999 dalam Susanti,

2010).
Terapi perilaku dan rehabilitasi, membantu individu untuk

mendapatkan kembali keterampilan dan pola perilaku (Sadock et.al, 2007

dalam Gholipur, Gholinia & Taheri, 2012). Terapi perilaku: Token

Economy adalah suatu wujud modifikasi perilaku yang dirancang untuk

meningkatkan perilaku yang diinginkan dan pengurangan perilaku yang


24

tidak diinginkan dengan pemakaian tokens (tanda-tanda) (Nasir & Muhith,

2011).
Pasien dengan defisit perawatan diri akan berdampak pada

gangguan fisik seperti mengalami penyakit kulit dan mulut, juga

berdampak pada masalah psikososial seperti gangguan rasa nyaman dan

gangguan interaksi sosial. Lebih jauh lagi masalah defisit perawatan diri

bisa menularkan berbagai macam penyakit kepada penghuni lain dan juga

tenaga kesehatan.
Untuk mencapai keberhasilan kemampuan dalam merawat diri

pada pasien defisit perawatan diri perlu dilakukan terapi perilaku yang

mampu memotivasi pasien dengan penguatan, yaitu dengan menggunakan

Token Economy.

B. PENELITIAN TERKAIT
1. Penelitian yang dilakukan oleh Gholipur, et al tahun 2011 tentang Token

Reinforcement Therapeutic Approach is More Effective than Exercise for

Controlling Negative Symptoms of Schizophrenic Patients: A

Randomized Controlled Trial. Hasil percobaan acak terkendali ini

menunjukkan bahwa pendekatan penguatan dengan token lebih tinggi

dan lebih efektif secara signifikan dari pada latihan (exercise) untuk

menurunkan gejala-gejala negatif pada pasien skizofrenia (36 7 vs.

21 8, masing-masing p value < 0.001).


2. Penelitian yang dilakukan oleh Kokaridas, et al tahun 2013 tentang The

Effect of A Token Economy System Program and Physical Activity on

Improving Quality of Life of Patients With Schizophrenia: A Pilot Study.

Hasil dari studi percontohan ini menunjukkan bahwa secara umum token
25

economy mampu memotivasi pasien skizofrenia untuk memperbaiki

kualitas hidupnya dengan p value < 0.05.

C. KERANGKA KONSEP
Kerangka konsep penelitian pada hakikatnya adalah suatu uraian dan

visualisasi konsep-konsep serta variabel-variabel yang akan diukur (diteliti)

(Notoadmodjo, 2012).

Skema 2.1
Kerangka Konsep Penelitian

Input Proses Output


Perawatan diri sebelum Perawatan diri sesudah
dilakukan terapi perilaku: dilakukan terapi perilaku:
Terapi perilaku: Token
Mandi Economy Mandi
Berpakaian/berhias Berpakaian/berhias
Makan Makan
Eliminasi Eliminasi
D. HIPOTESIS
Variabel Independent Variabel Dependent
Hipotesis menurut Notoadmodjo (2005) adalah sebuah pernyataan

tentang hubungan yang diharapkan antara dua variabel atau lebih yang dapat

di uji secara empiris. Biasanya hipotesis terdiri dari pernyataan terhadap


26

adanya atau tidak adanya hubungan antara dua variabel, yaitu variabel bebas

(independent variable) dan variabel terikat (dependent variable).


Hipotesis dalam penelitian ini adalah:
Ha : Ada pengaruh yang signifikan terhadap perawatan diri sebelum dan
sesudah terapi perilaku: Token Economy
Ho : Tidak ada pengaruh signifikan terhadap perawatan diri sebelum
dan sesudah terapi perilaku: Token Economy