Anda di halaman 1dari 26

Atom

Dari Wikipedia bahasa Indonesia,


ensiklopedia bebas Atom helium
Portal Kimia

Atom adalah suatu satuan dasar materi,


yang terdiri atas inti atom serta awan
elektron bermuatan negatif yang
mengelilinginya. Inti atom terdiri atas
proton yang bermuatan positif, dan
neutron yang bermuatan netral (kecuali
pada inti atom Hidrogen-1, yang tidak
memiliki neutron). Elektron-elektron pada
sebuah atom terikat pada inti atom oleh
gaya elektromagnetik. Sekumpulan atom
demikian pula dapat berikatan satu sama
lainnya, dan membentuk sebuah molekul.
Atom yang mengandung jumlah proton
dan elektron yang sama bersifat netral, Ilustrasi atom helium yang memperlihatkan inti atom
sedangkan yang mengandung jumlah (merah muda) dan distribusi awan elektron (hitam). Inti
proton dan elektron yang berbeda atom (kanan atas) berbentuk simetris bulat, walaupun
bersifat positif atau negatif dan disebut untuk inti atom yang lebih rumit ia tidaklah selalu
sebagai ion. Atom dikelompokkan demikian.
berdasarkan jumlah proton dan neutron Klasifikasi
yang terdapat pada inti atom tersebut.
Satuan terkecil unsur kimia
Jumlah proton pada atom menentukan
unsur kimia atom tersebut, dan jumlah Sifat-sifat
neutron menentukan isotop unsur Kisaran 1,67 1027 sampai dengan
tersebut. massa: 4,52 1025 kg
Muatan nol (netral) ataupun muatan
Istilah atom berasal dari Bahasa Yunani
listrik: ion
(/tomos, -), yang berarti
tidak dapat dipotong ataupun sesuatu Kisaran 62 pm (He) sampai dengan
yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Konsep diameter: 520 pm (Cs)
atom sebagai komponen yang tak dapat Elektron dan inti atom yang
dibagi-bagi lagi pertama kali diajukan oleh Komponen: terdiri dari proton dan
para filsuf India dan Yunani. Pada abad neutron
ke-17 dan ke-18, para kimiawan
meletakkan dasar-dasar pemikiran ini dengan menunjukkan bahwa zat-zat tertentu tidak
dapat dibagi-bagi lebih jauh lagi menggunakan metode-metode kimia. Selama akhir abad ke-
19 dan awal abad ke-20, para fisikawan berhasil menemukan struktur dan komponen-
komponen subatom di dalam atom, membuktikan bahwa 'atom' tidaklah tak dapat dibagi-
bagi lagi. Prinsip-prinsip mekanika kuantum yang digunakan para fisikawan kemudian
berhasil memodelkan atom.
Dalam pengamatan sehari-hari, secara relatif atom dianggap sebuah objek yang sangat kecil
yang memiliki massa yang secara proporsional kecil pula. Atom hanya dapat dipantau
dengan menggunakan peralatan khusus seperti mikroskop gaya atom. Lebih dari 99,9%
massa atom berpusat pada inti atom,[catatan 1] dengan proton dan neutron yang bermassa
hampir sama. Setiap unsur paling tidak memiliki satu isotop dengan inti yang tidak stabil,
yang dapat mengalami peluruhan radioaktif. Hal ini dapat mengakibatkan transmutasi, yang
mengubah jumlah proton dan neutron pada inti.[2] Elektron yang terikat pada atom
mengandung sejumlah aras energi, ataupun orbital, yang stabil dan dapat mengalami
transisi di antara aras tersebut dengan menyerap ataupun memancarkan foton yang sesuai
dengan perbedaan energi antara aras. Elektron pada atom menentukan sifat-sifat kimiawi
sebuah unsur, dan memengaruhi sifat-sifat magnetis atom tersebut.

Daftar isi
1 Sejarah
2 Komponen-komponen atom
o 2.1 Partikel subatom
o 2.2 Inti atom
o 2.3 Awan elektron
3 Sifat-sifat
o 3.1 Sifat-sifat nuklir
o 3.2 Massa
o 3.3 Ukuran
o 3.4 Peluruhan radioaktif
o 3.5 Momen magnetik
o 3.6 Aras-aras energi
o 3.7 Valensi dan perilaku ikatan
o 3.8 Keadaan
4 Identifikasi
5 Asal usul dan kondisi sekarang
o 5.1 Nukleosintesis
o 5.2 Bumi
o 5.3 Bentuk teoritis dan bentuk langka
6 Lihat pula
7 Catatan
8 Referensi
o 8.1 Referensi buku
9 Pranala luar

Sejarah
Konsep bahwa materi terdiri dari satuan-satuan terpisah yang tidak dapat dibagi lagi
menjadi satuan yang lebih kecil telah ada selama satu milenium. Namun, pemikiran tersebut
masihlah bersifat abstrak dan filosofis, daripada berdasarkan pengamatan empiris dan
eksperimen. Secara filosofis, deskripsi sifat-sifat atom bervariasi tergantung pada budaya
dan aliran filosofi tersebut, dan seringkali pula mengandung unsur-unsur spiritual di
dalamnya. Walaupun demikian, pemikiran dasar mengenai atom dapat diterima oleh para
ilmuwan ribuan tahun kemudian, karena ia secara elegan dapat menjelaskan penemuan-
penemuan baru pada bidang kimia.[3]

Rujukan paling awal mengenai konsep atom dapat ditilik kembali kepada zaman India kuno
pada tahun 800 sebelum masehi,[4] yang dijelaskan dalam naskah filsafat Jainisme sebagai
anu dan paramanu.[4][5] Aliran mazhab Nyaya dan Vaisesika mengembangkan teori yang
menjelaskan bagaimana atom-atom bergabung menjadi benda-benda yang lebih
kompleks.[6] Satu abad kemudian muncul rujukan mengenai atom di dunia Barat oleh
Leukippos, yang kemudian oleh muridnya Demokritos pandangan tersebut disistematiskan.
Kira-kira pada tahun 450 SM, Demokritos menciptakan istilah tomos (bahasa Yunani:
), yang berarti "tidak dapat dipotong" ataupun "tidak dapat dibagi-bagi lagi". Teori
Demokritos mengenai atom bukanlah usaha untuk menjabarkan suatu fenomena fisis secara
rinci, melainkan suatu filosofi yang mencoba untuk memberikan jawaban atas perubahan-
perubahan yang terjadi pada alam.[1] Filosofi serupa juga terjadi di India, namun demikian
ilmu pengetahuan modern memutuskan untuk menggunakan istilah "atom" yang dicetuskan
oleh Demokritos.[3]

Kemajuan lebih jauh pada pemahaman mengenai atom dimulai dengan berkembangnya
ilmu kimia. Pada tahun 1661, Robert Boyle mempublikasikan buku The Sceptical Chymist
yang berargumen bahwa materi-materi di dunia ini terdiri dari berbagai kombinasi
"corpuscules", yaitu atom-atom yang berbeda. Hal ini berbeda dengan pandangan klasik
yang berpendapat bahwa materi terdiri dari unsur-unsur udara, tanah, api, dan air.[7] Pada
tahun 1789, istilah element (unsur) didefinisikan oleh seorang bangsawan dan peneliti
Perancis, Antoine Lavoisier, sebagai bahan dasar yang tidak dapat dibagi-bagi lebih jauh lagi
dengan menggunakan metode-metode kimia.[8]
Berbagai atom dan molekul yang digambarkan pada buku John Dalton, A New System of
Chemical Philosophy (1808).

Pada tahun 1803, John Dalton menggunakan konsep atom untuk menjelaskan mengapa
unsur-unsur selalu bereaksi dalam perbandingan yang bulat dan tetap, serta mengapa gas-
gas tertentu lebih larut dalam air dibandingkan dengan gas-gas lainnya. Ia mengajukan
pendapat bahwa setiap unsur mengandung atom-atom tunggal unik, dan atom-atom
tersebut selanjutnya dapat bergabung untuk membentuk senyawa-senyawa kimia.[9][10]

Teori partikel ini kemudian dikonfirmasikan lebih jauh lagi pada tahun 1827, yaitu ketika
botaniwan Robert Brown menggunakan mikroskop untuk mengamati debu-debu yang
mengambang di atas air dan menemukan bahwa debu-debu tersebut bergerak secara acak.
Fenomena ini kemudian dikenal sebagai "Gerak Brown". Pada tahun 1877, J. Desaulx
mengajukan pendapat bahwa fenomena ini disebabkan oleh gerak termal molekul air, dan
pada tahun 1905 Albert Einstein membuat analisis matematika terhadap gerak ini.[11][12][13]
Fisikawan Perancis Jean Perrin kemudian menggunakan hasil kerja Einstein untuk
menentukan massa dan dimensi atom secara eksperimen, yang kemudian dengan pasti
menjadi verifikasi atas teori atom Dalton.[14]

Berdasarkan hasil penelitiannya terhadap sinar katode, pada tahun 1897 J. J. Thomson
menemukan elektron dan sifat-sifat subatomiknya. Hal ini meruntuhkan konsep atom
sebagai satuan yang tidak dapat dibagi-bagi lagi.[15] Thomson percaya bahwa elektron-
elektron terdistribusi secara merata di seluruh atom, dan muatan-muatannya
diseimbangkan oleh keberadaan lautan muatan positif (model puding prem).

Namun pada tahun 1909, para peneliti di bawah arahan Ernest Rutherford menembakkan
ion helium ke lembaran tipis emas, dan menemukan bahwa sebagian kecil ion tersebut
dipantulkan dengan sudut pantulan yang lebih tajam dari yang apa yang diprediksikan oleh
teori Thomson. Rutherford kemudian mengajukan pendapat bahwa muatan positif suatu
atom dan kebanyakan massanya terkonsentrasi pada inti atom, dengan elektron yang
mengitari inti atom seperti planet mengitari matahari. Muatan positif ion helium yang
melewati inti padat ini haruslah dipantulkan dengan sudut pantulan yang lebih tajam. Pada
tahun 1913, ketika bereksperimen dengan hasil proses peluruhan radioaktif, Frederick
Soddy menemukan bahwa terdapat lebih dari satu jenis atom pada setiap posisi tabel
periodik.[16] Istilah isotop kemudian diciptakan oleh Margaret Todd sebagai nama yang tepat
untuk atom-atom yang berbeda namun merupakan satu unsur yang sama. J.J. Thomson
selanjutnya menemukan teknik untuk memisahkan jenis-jenis atom tersebut melalui hasil
kerjanya pada gas yang terionisasi.[17]
Model atom hidrogen Bohr yang menunjukkan loncatan elektron antara orbit-orbit tetap
dan memancarkan energi foton dengan frekuensi tertentu.

Sementara itu, pada tahun 1913 fisikawan Niels Bohr mengkaji ulang model atom
Rutherford dan mengajukan pendapat bahwa elektron-elektron terletak pada orbit-orbit
yang terkuantisasi serta dapat meloncat dari satu orbit ke orbit lainnya, meskipun demikian
tidak dapat dengan bebas berputar spiral ke dalam maupun keluar dalam keadaan
transisi.[18] Suatu elektron haruslah menyerap ataupun memancarkan sejumlah energi
tertentu untuk dapat melakukan transisi antara orbit-orbit yang tetap ini. Apabila cahaya
dari materi yang dipanaskan memancar melalui prisma, ia menghasilkan suatu spektrum
multiwarna. Penampakan garis-garis spektrum tertentu ini berhasil dijelaskan oleh teori
transisi orbital ini.[19]

Ikatan kimia antar atom kemudian pada tahun 1916 dijelaskan oleh Gilbert Newton Lewis
sebagai interaksi antara elektron-elektron atom tersebut.[20] Atas adanya keteraturan sifat-
sifat kimiawi dalam tabel periode kimia,[21] kimiawan Amerika Irving Langmuir tahun 1919
berpendapat bahwa hal ini dapat dijelaskan apabila elektron-elektron pada sebuah atom
saling berhubungan atau berkumpul dalam bentuk-bentuk tertentu. Sekelompok elektron
diperkirakan menduduki satu set kelopak elektron di sekitar inti atom.

Percobaan Stern-Gerlach pada tahun 1922 memberikan bukti lebih jauh mengenai sifat-sifat
kuantum atom. Ketika seberkas atom perak ditembakkan melalui medan magnet, berkas
tersebut terpisah-pisah sesuai dengan arah momentum sudut atom (spin). Oleh karena arah
spin adalah acak, berkas ini diharapkan menyebar menjadi satu garis. Namun pada
kenyataannya berkas ini terbagi menjadi dua bagian, tergantung dari apakah spin atom
tersebut berorientasi ke atas ataupun ke bawah.[22]

Pada tahun 1926, dengan menggunakan pemikiran Louis de Broglie bahwa partikel
berperilaku seperti gelombang, Erwin Schrdinger mengembangkan suatu model atom
matematis yang menggambarkan elektron sebagai gelombang tiga dimensi daripada sebagai
titik-titik partikel. Konsekuensi penggunaan bentuk gelombang untuk menjelaskan elektron
ini adalah bahwa adalah tidak mungkin untuk secara matematis menghitung posisi dan
momentum partikel secara bersamaan. Hal ini kemudian dikenal sebagai prinsip
ketidakpastian, yang dirumuskan oleh Werner Heisenberg pada 1926. Menurut konsep ini,
untuk setiap pengukuran suatu posisi, seseorang hanya bisa mendapatkan kisaran nilai-nilai
probabilitas momentum, demikian pula sebaliknya. Walaupun model ini sulit untuk
divisualisasikan, ia dapat dengan baik menjelaskan sifat-sifat atom yang terpantau yang
sebelumnya tidak dapat dijelaskan oleh teori mana pun. Oleh sebab itu, model atom yang
menggambarkan elektron mengitari inti atom seperti planet mengitari matahari digugurkan
dan digantikan oleh model orbital atom di sekitar inti di mana elektron paling
berkemungkinan berada.[23][24]
Diagram skema spetrometer massa sederhana.

Perkembangan pada spektrometri massa mengijinkan dilakukannya pengukuran massa


atom secara tepat. Peralatan spektrometer ini menggunakan magnet untuk membelokkan
trayektori berkas ion, dan banyaknya defleksi ditentukan dengan rasio massa atom terhadap
muatannya. Kimiawan Francis William Aston menggunakan peralatan ini untuk
menunjukkan bahwa isotop mempunyai massa yang berbeda. Perbedaan massa antar
isotop ini berupa bilangan bulat, dan ia disebut sebagai kaidah bilangan bulat.[25] Penjelasan
pada perbedaan massa isotop ini berhasil dipecahkan setelah ditemukannya neutron, suatu
partikel bermuatan netral dengan massa yang hampir sama dengan proton, yaitu oleh
James Chadwick pada tahun 1932. Isotop kemudian dijelaskan sebagai unsur dengan jumlah
proton yang sama, namun memiliki jumlah neutron yang berbeda dalam inti atom.[26]

Pada tahun 1950-an, perkembangan pemercepat partikel dan detektor partikel mengijinkan
para ilmuwan mempelajari dampak-dampak dari atom yang bergerak dengan energi yang
tinggi.[27] Neutron dan proton kemudian diketahui sebagai hadron, yaitu komposit partikel-
partikel kecil yang disebut sebagai kuark. Model-model standar fisika nuklir kemudian
dikembangkan untuk menjelaskan sifat-sifat inti atom dalam hal interaksi partikel subatom
ini.[28]

Sekitar tahun 1985, Steven Chu dkk. di Bell Labs mengembangkan sebuah teknik untuk
menurunkan temperatur atom menggunakan laser. Pada tahun yang sama, sekelompok
ilmuwan yang diketuai oleh William D. Phillips berhasil memerangkap atom natrium dalam
perangkap magnet. Claude Cohen-Tannoudji kemudian menggabungkan kedua teknik
tersebut untuk mendinginkan sejumlah kecil atom sampai beberapa mikrokelvin. Hal ini
mengijinkan ilmuwan mempelajari atom dengan presisi yang sangat tinggi, yang pada
akhirnya membawa para ilmuwan menemukan kondensasi Bose-Einstein.[29]

Dalam sejarahnya, sebuah atom tunggal sangatlah kecil untuk digunakan dalam aplikasi
ilmiah. Namun baru-baru ini, berbagai peranti yang menggunakan sebuah atom tunggal
logam yang dihubungkan dengan ligan-ligan organik (transistor elektron tunggal) telah
dibuat.[30] Berbagai penelitian telah dilakukan untuk memerangkap dan memperlambat laju
atom menggunakan pendinginan laser untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik
mengenai sifat-sifat atom.[31]

Komponen-komponen atom
Partikel subatom

Walaupun awalnya kata atom berarti suatu partikel yang tidak dapat dipotong-potong lagi
menjadi partikel yang lebih kecil, dalam terminologi ilmu pengetahuan modern, atom
tersusun atas berbagai partikel subatom. Partikel-partikel penyusun atom ini adalah
elektron, proton, dan neutron. Namun hidrogen-1 tidak mempunyai neutron. Demikian pula
halnya pada ion hidrogen positif H+.

Dari kesemua partikel subatom ini, elektron adalah yang paling ringan, dengan massa
elektron sebesar 9,11 1031 kg dan mempunyai muatan negatif. Ukuran elektron sangatlah
kecil sedemikiannya tiada teknik pengukuran yang dapat digunakan untuk mengukur
ukurannya.[32] Proton memiliki muatan positif dan massa 1.836 kali lebih berat daripada
elektron (1,6726 1027 kg). Neutron tidak bermuatan listrik dan bermassa bebas 1.839 kali
massa elektron[33] atau (1,6929 1027 kg).

Dalam model standar fisika, baik proton dan neutron terdiri dari partikel elementer yang
disebut kuark. Kuark termasuk kedalam golongan partikel fermion dan merupakan salah
satu dari dua bahan penyusun materi dasar (yang lainnya adalah lepton). Terdapat enam
jenis kuark dan tiap-tiap kuark tersebut memiliki muatan listri fraksional sebesar +2/3
ataupun 1/3. Proton terdiri dari dua kuark naik dan satu kuark turun, manakala neutron
terdiri dari satu kuark naik dan dua kuark turun. Perbedaan komposisi kuark ini
memengaruhi perbedaan massa dan muatan antara dua partikel tersebut. Kuark terikat
bersama oleh gaya nuklir kuat yang diperantarai oleh gluon. Gluon adalah anggota dari
boson tolok yang merupakan perantara gaya-gaya fisika.[34][35]

Inti atom

Energi pengikatan yang diperlukan oleh nukleon untuk lolos dari inti pada berbagai isotop.
Inti atom terdiri atas proton dan neutron yang terikat bersama pada pusat atom. Secara
kolektif, proton dan neutron tersebut disebut sebagai nukleon (partikel penyusun inti).
Diameter inti atom berkisar antara 1015 hingga 1014m.[36] Jari-jari inti diperkirakan sama
dengan fm, dengan A adalah jumlah nukleon.[37] Hal ini sangatlah kecil
dibandingkan dengan jari-jari atom. Nukleon-nukleon tersebut terikat bersama oleh gaya
tarik-menarik potensial yang disebut gaya kuat residual. Pada jarak lebih kecil daripada 2,5
fm, gaya ini lebih kuat daripada gaya elektrostatik yang menyebabkan proton saling tolak
menolak.[38]

Atom dari unsur kimia yang sama memiliki jumlah proton yang sama, disebut nomor atom.
Suatu unsur dapat memiliki jumlah neutron yang bervariasi. Variasi ini disebut sebagai
isotop. Jumlah proton dan neutron suatu atom akan menentukan nuklida atom tersebut,
sedangkan jumlah neutron relatif terhadap jumlah proton akan menentukan stabilitas inti
atom, dengan isotop unsur tertentu akan menjalankan peluruhan radioaktif.[39]

Neutron dan proton adalah dua jenis fermion yang berbeda. Asas pengecualian Pauli
melarang adanya keberadaan fermion yang identik (seperti misalnya proton berganda)
menduduki suatu keadaan fisik kuantum yang sama pada waktu yang sama. Oleh karena itu,
setiap proton dalam inti atom harusnya menduduki keadaan kuantum yang berbeda dengan
aras energinya masing-masing. Asas Pauli ini juga berlaku untuk neutron. Pelarangan ini
tidak berlaku bagi proton dan neutron yang menduduki keadaan kuantum yang sama.[40]

Untuk atom dengan nomor atom yang rendah, inti atom yang memiliki jumlah proton lebih
banyak daripada neutron berpotensi jatuh ke keadaan energi yang lebih rendah melalui
peluruhan radioaktif yang menyebabkan jumlah proton dan neutron seimbang. Oleh karena
itu, atom dengan jumlah proton dan neutron yang berimbang lebih stabil dan cenderung
tidak meluruh. Namun, dengan meningkatnya nomor atom, gaya tolak-menolak antar
proton membuat inti atom memerlukan proporsi neutron yang lebih tinggi lagi untuk
menjaga stabilitasnya. Pada inti yang paling berat, rasio neutron per proton yang diperlukan
untuk menjaga stabilitasnya akan meningkat menjadi 1,5.[40]

Gambaran proses fusi nuklir yang menghasilkan inti deuterium (terdiri dari satu proton dan
satu neutron). Satu positron (e+) dipancarkan bersamaan dengan neutrino elektron.
Jumlah proton dan neutron pada inti atom dapat diubah, walaupun hal ini memerlukan
energi yang sangat tinggi oleh karena gaya atraksinya yang kuat. Fusi nuklir terjadi ketika
banyak partikel atom bergabung membentuk inti yang lebih berat. Sebagai contoh, pada inti
Matahari, proton memerlukan energi sekitar 310 keV untuk mengatasi gaya tolak-menolak
antar sesamanya dan bergabung menjadi satu inti.[41] Fisi nuklir merupakan kebalikan dari
proses fusi. Pada fisi nuklir, inti dipecah menjadi dua inti yang lebih kecil. Hal ini biasanya
terjadi melalui peluruhan radioaktif. Inti atom juga dapat diubah melalui penembakan
partikel subatom berenergi tinggi. Apabila hal ini mengubah jumlah proton dalam inti, atom
tersebut akan berubah unsurnya.[42][43]

Jika massa inti setelah terjadinya reaksi fusi lebih kecil daripada jumlah massa partikel awal
penyusunnya, maka perbedaan ini disebabkan oleh pelepasan pancaran energi (misalnya
sinar gamma), sebagaimana yang ditemukan pada rumus kesetaraan massa-energi Einstein,
E = mc2, dengan m adalah massa yang hilang dan c adalah kecepatan cahaya. Defisit ini
merupakan bagian dari energi pengikatan inti yang baru.[44]

Fusi dua inti yang menghasilkan inti yang lebih besar dengan nomor atom lebih rendah
daripada besi dan nikel (jumlah total nukleon sama dengan 60) biasanya bersifat
eksotermik, yang berarti bahwa proses ini melepaskan energi.[45] Adalah proses pelepasan
energi inilah yang membuat fusi nuklir pada bintang dapat dipertahankan. Untuk inti yang
lebih berat, energi pengikatan per nukleon dalam inti mulai menurun. Ini berarti bahwa
proses fusi akan bersifat endotermik.[40]

Awan elektron

Sumur potensial yang menunjukkan energi minimum V(x) yang diperlukan untuk mencapai
tiap-tiap posisi x. Suatu partikel dengan energi E dibatasi pada kisaran posisi antara x1 dan
x2.

Elektron dalam suatu atom ditarik oleh proton dalam inti atom melalui gaya
elektromagnetik. Gaya ini mengikat elektron dalam sumur potensi elektrostatik di sekitar
inti. Hal ini berarti bahwa energi luar diperlukan agar elektron dapat lolos dari atom.
Semakin dekat suatu elektron dalam inti, semakin besar gaya atraksinya, sehingga elektron
yang berada dekat dengan pusat sumur potensi memerlukan energi yang lebih besar untuk
lolos.

Elektron, sama seperti partikel lainnya, memiliki sifat seperti partikel maupun seperti
gelombang (dualisme gelombang-partikel). Awan elektron adalah suatu daerah dalam
sumur potensi di mana tiap-tiap elektron menghasilkan sejenis gelombang diam (yaitu
gelombang yang tidak bergerak relatif terhadap inti) tiga dimensi. Perilaku ini ditentukan
oleh orbital atom, yakni suatu fungsi matematika yang menghitung probabilitas suatu
elektron akan muncul pada suatu lokasi tertentu ketika posisinya diukur. [46] Hanya akan ada
satu himpunan orbital tertentu yang berada disekitar inti, karena pola-pola gelombang
lainnya akan dengan cepat meluruh menjadi bentuk yang lebih stabil.[47]

Fungsi gelombang dari lima orbital atom pertama. Tiga orbital 2p memperlihatkan satu
biidang simpul.

Tiap-tiap orbital atom berkoresponden terhadap aras energi elektron tertentu. Elektron
dapat berubah keadaannya ke aras energi yang lebih tinggi dengan menyerap sebuah foton.
Selain dapat naik menuju aras energi yang lebih tinggi, suatu elektron dapat pula turun ke
keadaan energi yang lebih rendah dengan memancarkan energi yang berlebih sebagai
foton.[47]

Energi yang diperlukan untuk melepaskan ataupun menambah satu elektron (energi
pengikatan elektron) adalah lebih kecil daripada energi pengikatan nukleon. Sebagai
contohnya, hanya diperlukan 13,6 eV untuk melepaskan elektron dari atom hidrogen.[48]
Bandingkan dengan energi sebesar 2,3 MeV yang diperlukan untuk memecah inti
deuterium.[49] Atom bermuatan listrik netral oleh karena jumlah proton dan elektronnya
yang sama. Atom yang kekurangan ataupun kelebihan elektron disebut sebagai ion. Elektron
yang terletak paling luar dari inti dapat ditransfer ataupun dibagi ke atom terdekat lainnya.
Dengan cara inilah, atom dapat saling berikatan membentuk molekul.[50]

Sifat-sifat
Sifat-sifat nuklir

Berdasarkan definisi, dua atom dengan jumlah proton yang identik dalam intinya termasuk
ke dalam unsur kimia yang sama. Atom dengan jumlah proton sama namun dengan jumlah
neutron berbeda adalah dua isotop berbeda dari satu unsur yang sama. Sebagai contohnya,
semua hidrogen memiliki satu proton, namun terdapat satu isotop hidrogen yang tidak
memiliki neutron (hidrogen-1), satu isotop yang memiliki satu neutron (deuterium), dua
neutron (tritium), dll. Hidrogen-1 adalah bentuk isotop hidrogen yang paling umum. Kadang-
kadang ia disebut sebagai protium.[51] Semua isotop unsur yang bernomor atom lebih besar
daripada 82 bersifat radioaktif.[52][53]

Dari sekitar 339 nuklida yang terbentuk secara alami di Bumi, 269 di antaranya belum
pernah terpantau meluruh.[54] Pada unsur kimia, 80 dari unsur yang diketahui memiliki satu
atau lebih isotop stabil. Unsur 43, 63, dan semua unsur lebih tinggi dari 83 tidak memiliki
isotop stabil. Dua puluh tujuh unsur hanya memiliki satu isotop stabil, manakala jumlah
isotop stabil yang paling banyak terpantau pada unsur timah dengan 10 jenis isotop
stabil.[55]

Massa
Karena mayoritas massa atom berasal dari proton dan neutron, jumlah keseluruhan partikel
ini dalam atom disebut sebagai nomor massa. Massa atom pada keadaan diam sering
diekspresikan menggunakan satuan massa atom (u) yang juga disebut dalton (Da). Satuan ini
didefinisikan sebagai seperduabelas massa atom karbon-12 netral, yang kira-kira sebesar
1,66 1027 kg.[56] Hidrogen-1 yang merupakan isotop teringan hidrogen memiliki bobot
atom 1,007825 u.[57] Atom memiliki massa yang kira-kira sama dengan nomor massanya
dikalikan satuan massa atom.[58] Atom stabil yang paling berat adalah timbal-208,[52] dengan
massa sebesar 207,9766521 u.[59]

Para kimiawan biasanya menggunakan satuan mol untuk menyatakan jumlah atom. Satu
mol didefinisikan sebagai jumlah atom yang terdapat pada 12 gram persis karbon-12.
Jumlah ini adalah sekitar 6,022 1023, yang dikenal pula dengan nama tetapan Avogadro.
Dengan demikian suatu unsur dengan massa atom 1 u akan memiliki satu mol atom yang
bermassa 0,001 kg. Sebagai contohnya, Karbon memiliki massa atom 12 u, sehingga satu
mol karbon atom memiliki massa 0,012 kg.[56]

Ukuran

Atom tidak memiliki batasan luar yang jelas, sehingga dimensi atom biasanya dideskripsikan
sebagai jarak antara dua inti atom ketika dua atom bergabung bersama dalam ikatan kimia.
Jari-jari ini bervariasi tergantung pada jenis atom, jenis ikatan yang terlibat, jumlah atom di
sekitarnya, dan spin atom.[60] Pada tabel periodik unsur-unsur, jari-jari atom akan cenderung
meningkat seiring dengan meningkatnya periode (atas ke bawah). Sebaliknya jari-jari atom
akan cenderung meningkat seiring dengan menurunnya nomor golongan (kanan ke kiri). [61]
Oleh karena itu, atom yang terkecil adalah helium dengan jari-jari 32 pm, manakala yang
terbesar adalah sesium dengan jari-jari 225 pm.[62] Dimensi ini ribuan kali lebih kecil
daripada gelombang cahaya (400700 nm), sehingga atom tidak dapat dilihat menggunakan
mikroskop optik biasa. Namun, atom dapat dipantau menggunakan mikroskop gaya atom.

Ukuran atom sangatlah kecil, sedemikian kecilnya lebar satu helai rambut dapat
menampung sekitar 1 juta atom karbon.[63] Satu tetes air pula mengandung sekitar 2 1021
atom oksigen.[64] Intan satu karat dengan massa 2 10-4 kg mengandung sekitar 1022 atom
karbon.[catatan 2] Jika sebuah apel diperbesar sampai seukuran besarnya Bumi, maka atom
dalam apel tersebut akan terlihat sebesar ukuran apel awal tersebut.[65]

Peluruhan radioaktif
Diagram ini menunjukkan waktu paruh (T) beberapa isotop dengan jumlah proton Z dan
jumlah proton N (dalam satuan detik).

Setiap unsur mempunyai satu atau lebih isotop berinti tak stabil yang akan mengalami
peluruhan radioaktif, menyebabkan inti melepaskan partikel ataupun radiasi
elektromagnetik. Radioaktivitas dapat terjadi ketika jari-jari inti sangat besar dibandingkan
dengan jari-jari gaya kuat (hanya bekerja pada jarak sekitar 1 fm).[66]

Bentuk-bentuk peluruhan radioaktif yang paling umum adalah:[67][68]

Peluruhan alfa, terjadi ketika suatu inti memancarkan partikel alfa (inti helium yang
terdiri dari dua proton dan dua neutron). Hasil peluruhan ini adalah unsur baru
dengan nomor atom yang lebih kecil.
Peluruhan beta, diatur oleh gaya lemah, dan dihasilkan oleh transformasi neutron
menjadi proton, ataupun proton menjadi neutron. Transformasi neutron menjadi
proton akan diikuti oleh emisi satu elektron dan satu antineutrino, manakala
transformasi proton menjadi neutron diikuti oleh emisi satu positron dan satu
neutrino. Emisi elektron ataupun emisi positron disebut sebagai partikel beta.
Peluruhan beta dapat meningkatkan maupun menurunkan nomor atom inti sebesar
satu.
Peluruhan gama, dihasilkan oleh perubahan pada aras energi inti ke keadaan yang
lebih rendah, menyebabkan emisi radiasi elektromagnetik. Hal ini dapat terjadi
setelah emisi partikel alfa ataupun beta dari peluruhan radioaktif.

Jenis-jenis peluruhan radioaktif lainnya yang lebih jarang meliputi pelepasan neutron dan
proton dari inti, emisi lebih dari satu partikel beta, ataupun peluruhan yang mengakibatkan
produksi elektron berkecepatan tinggi yang bukan sinar beta, dan produksi foton berenergi
tinggi yang bukan sinar gama
Tiap-tiap isotop radioaktif mempunyai karakteristik periode waktu peluruhan (waktu paruh)
yang merupakan lamanya waktu yang diperlukan oleh setengah jumlah sampel untuk
meluruh habis. Proses peluruhan bersifat eksponensial, sehingga setelah dua waktu paruh,
hanya akan tersisa 25% isotop.[66]

Momen magnetik

Setiap partikel elementer mempunyai sifat mekanika kuantum intrinsik yang dikenal dengan
nama spin. Spin beranalogi dengan momentum sudut suatu objek yang berputar pada pusat
massanya, walaupun secara kaku partikel tidaklah berperilaku seperti ini. Spin diukur dalam
satuan tetapan Planck tereduksi (), dengan elektron, proton, dan neutron semuanya
memiliki spin , atau "spin-". Dalam atom, elektron yang bergerak di sekitar inti atom
selain memiliki spin juga memiliki momentum sudut orbital, manakala inti atom memiliki
momentum sudut pula oleh karena spin nuklirnya sendiri.[69]

Medan magnet yang dihasilkan oleh suatu atom (disebut momen magnetik) ditentukan oleh
kombinasi berbagai macam momentum sudut ini. Namun, kontribusi yang terbesar tetap
berasal dari spin. Oleh karena elektron mematuhi asas pengecualian Pauli, yakni tiada dua
elektron yang dapat ditemukan pada keadaan kuantum yang sama, pasangan elektron yang
terikat satu sama lainnya memiliki spin yang berlawanan, dengan satu berspin naik, dan
yang satunya lagi berspin turun. Kedua spin yang berlawanan ini akan saling menetralkan,
sehingga momen dipol magnetik totalnya menjadi nol pada beberapa atom berjumlah
elektron genap.[70]

Pada atom berelektron ganjil seperti besi, adanya keberadaan elektron yang tak
berpasangan menyebabkan atom tersebut bersifat feromagnetik. Orbital-orbital atom di
sekeliling atom tersebut saling bertumpang tindih dan penurunan keadaan energi dicapai
ketika spin elektron yang tak berpasangan tersusun saling berjajar. Proses ini disebut
sebagai interaksi pertukaran. Ketika momen magnetik atom feromagnetik tersusun
berjajaran, bahan yang tersusun oleh atom ini dapat menghasilkan medan makroskopis
yang dapat dideteksi. Bahan-bahan yang bersifat paramagnetik memiliki atom dengan
momen magnetik yang tersusun acak, sehingga tiada medan magnet yang dihasilkan.
Namun, momen magnetik tiap-tiap atom individu tersebut akan tersusun berjajar ketika
diberikan medan magnet.[70][71]

Inti atom juga dapat memiliki spin. Biasanya spin inti tersusun secara acak oleh karena
kesetimbangan termal. Namun, untuk unsur-unsur tertentu (seperti xenon-129), adalah
mungkin untuk memolarisasi keadaan spin nuklir secara signifikan sehingga spin-spin
tersebut tersusun berjajar dengan arah yang sama. Kondisi ini disebut sebagai
hiperpolarisasi. Fenomena ini memiliki aplikasi yang penting dalam pencitraan resonansi
magnetik.[72][73]

Aras-aras energi

Ketika suatu elektron terikat pada sebuah atom, ia memiliki energi potensial yang
berbanding terbalik terhadap jarak elektron terhadap inti. Hal ini diukur oleh besarnya
energi yang diperlukan untuk melepaskan elektron dari atom dan biasanya diekspresikan
dengan satuan elektronvolt (eV). Dalam model mekanika kuantum, elektron-elektron yang
terikat hanya dapat menduduki satu set keadaan yang berpusat pada inti, dan tiap-tiap
keadaan berkorespondensi terhadap aras energi tertentu. Keadaan energi terendah suatu
elektron yang terikat disebut sebagai keadaan dasar, manakala keadaan energi yang lebih
tinggi disebut sebagai keadaan tereksitasi.[74]

Agar suatu elektron dapat meloncat dari satu keadaan ke keadaan lainnya, ia haruslah
menyerap ataupun memancarkan foton pada energi yang sesuai dengan perbedaan energi
potensial antar dua aras tersebut. Energi foton yang dipancarkan adalah sebanding dengan
frekuensinya.[75] Tiap-tiap unsur memiliki spektrum karakteristiknya masing-masing. Hal ini
bergantung pada muatan inti, subkelopak yang terisi dengan elektron, interaksi
elektromagnetik antar elektron, dan faktor-faktor lainnya.[76]

Contoh garis absorpsi spektrum.

Ketika suatu spektrum energi yang berkelanjutan dipancarkan melalui suatu gas ataupun
plasma, beberapa foton diserap oleh atom, menyebabkan elektron berpindah aras energi.
Elektron yang tereksitasi akan secara spontan memancarkan energi ini sebagai foton dan
jatuh kembali ke aras energi yang lebih rendah. Oleh karena itu, atom berperilaku seperti
bahan penyaring yang akan membentuk sederetan pita absorpsi. Pengukuran spektroskopi
terhadap kekuatan dan lebar pita spektrum mengijinkan penentuan komposisi dan sifat-sifat
fisika suatu zat.[77]

Pemantauan cermat pada garis-garis spektrum menunjukkan bahwa beberapa


memperlihatkan adanya pemisahan halus. Hal ini terjadi karena kopling spin-orbit yang
merupakan interaksi antara spin dengan gerak elektron terluar.[78] Ketika suatu atom berada
dalam medan magnet eksternal, garis-garis spektrum terpisah menjadi tiga atau lebih
komponen. Hal ini disebut sebagai efek Zeeman. Efek Zeeman disebabkan oleh interaksi
medan magnet dengan momen magnetik atom dan elektronnya. Beberapa atom dapat
memiliki banyak konfigurasi elektron dengan aras energi yang sama, sehingga akan tampak
sebagai satu garis spektrum. Interaksi medan magnet dengan atom akan menggeser
konfigurasi-konfigurasi elektron menuju aras energi yang sedikit berbeda, menyebabkan
garis spektrum berganda.[79] Keberadaan medan listrik eksternal dapat menyebabkan
pemisahan dan pergeseran garis spektrum dengan mengubah aras energi elektron.
Fenomena ini disebut sebagai efek Stark.[80]

Valensi dan perilaku ikatan

Kelopak atau kulit elektron terluar suatu atom dalam keadaan yang tak terkombinasi
disebut sebagai kelopak valensi dan elektron dalam kelopak tersebut disebut elektron
valensi. Jumlah elektron valensi menentukan perilaku ikatan atom tersebut dengan atom
lainnya. Atom cenderung bereaksi dengan satu sama lainnya melalui pengisian (ataupun
pengosongan) elektron valensi terluar atom.[81] Ikatan kimia dapat dilihat sebagai transfer
elektron dari satu atom ke atom lainnya, seperti yang terpantau pada natrium klorida dan
garam-garam ionik lainnya. Namun, banyak pula unsur yang menunjukkan perilaku valensi
berganda, atau kecenderungan membagi elektron dengan jumlah yang berbeda pada
senyawa yang berbeda. Sehingga, ikatan kimia antara unsur-unsur ini cenderung berupa
pembagian elektron daripada transfer elektron. Contohnya meliputi unsur karbon dalam
senyawa organik.[82]

Unsur-unsur kimia sering ditampilkan dalam tabel periodik yang menampilkan sifat-sifat
kimia suatu unsur yang berpola. Unsur-unsur dengan jumlah elektron valensi yang sama
dikelompokkan secara vertikel (disebut golongan). Unsur-unsur pada bagian terkanan tabel
memiliki kelopak terluarnya terisi penuh, menyebabkan unsur-unsur tersebut cenderung
bersifat inert (gas mulia).[83][84]

Keadaan

Gambaran pembentukan kondensat Bose-Einstein.

Sejumlah atom ditemukan dalam keadaan materi yang berbeda-beda tergantung pada
kondisi fisik benda, yakni suhu dan tekanan. Dengan mengubah kondisi tersebut, materi
dapat berubah-ubah menjadi bentuk padat, cair, gas, dan plasma.[85] Dalam tiap-tiap
keadaan tersebut pula materi dapat memiliki berbagai fase. Sebagai contohnya pada karbon
padat, ia dapat berupa grafit maupun intan.[86]

Pada suhu mendekati nol mutlak, atom dapat membentuk kondensat Bose-Einstein, di
mana efek-efek mekanika kuantum yang biasanya hanya terpantau pada skala atom
terpantau secara makroskopis.[87][88] Kumpulan atom-atom yang dilewat-dinginkan ini
berperilaku seperti satu atom super.[89]

Identifikasi
Citra mikroskop penerowongan payaran yang menunjukkan atom-atom individu pada
permukaan emas (100).

Mikroskop penerowongan payaran (scanning tunneling microscope) adalah suatu mikroskop


yang digunakan untuk melihat permukaan suatu benda pada tingkat atom. Alat ini
menggunakan fenomena penerowongan kuantum yang mengijinkan partikel-partikel
menembus sawar yang biasanya tidak dapat dilewati.

Sebuah atom dapat diionisasi dengan melepaskan satu elektronnya. Muatan yang ada
menyebabkan trayektori atom melengkung ketika ia melalui sebuah medan magnet. Jari-jari
trayektori ion tersebut ditentukan oleh massa atom. Spektrometer massa menggunakan
prinsip ini untuk menghitung rasio massa terhadap muatan ion. Apabila sampel tersebut
mengandung sejumlah isotop, spektrometer massa dapat menentukan proporsi tiap-tiap
isotop dengan mengukur intensitas berkas ion yang berbeda. Teknik untuk menguapkan
atom meliputi spektroskopi emisi atomik plasma gandeng induktif (inductively coupled
plasma atomic emission spectroscopy) dan spektrometri massa plasma gandeng induktif
(inductively coupled plasma mass spectrometry), keduanya menggunakan plasma untuk
menguapkan sampel analisis.[90]

Metode lainnya yang lebih selektif adalah spektroskopi pelepasan energi elektron (electron
energy loss spectroscopy), yang mengukur pelepasan energi berkas elektron dalam suatu
mikroskop elektron transmisi ketika ia berinteraksi dengan sampel. Tomografi kuar atom
memiliki resolusi sub-nanometer dalam 3-D dan dapat secara kimiawi mengidentifikasi
atom-atom individu menggunakan spektrometri massa waktu lintas.[91]

Spektrum keadaan tereksitasi dapat digunakan untuk menganalisa komposisi atom bintang
yang jauh. Panjang gelombang cahaya tertentu yang dipancarkan oleh bintang dapat
dipisahkan dan dicocokkan dengan transisi terkuantisasi atom gas bebas. Warna bintang
kemudian dapat direplikasi menggunakan lampu lucutan gas yang mengandung unsur yang
sama.[92] Helium pada Matahari ditemukan dengan menggunakan cara ini 23 tahun sebelum
ia ditemukan di Bumi.[93]

Asal usul dan kondisi sekarang


Atom menduduki sekitar 4% densitas energi total yang ada dalam alam semesta terpantau,
dengan densitas rata-rata sekitar 0,25 atom/m3.[94] Dalam galaksi Bima Sakti, atom memiliki
konsentrasi yang lebih tinggi, dengan densitas materi dalam medium antarbintang berkisar
antara 105 sampai dengan 109 atom/m3.[95] Matahari sendiri dipercayai berada dalam
Gelembung Lokal, yaitu suatu daerah yang mengandung banyak gas ion, sehingga densitas
di sekelilingnya adalah sekitar 103 atom/m3.[96] Bintang membentuk awan-awan padat
dalam medium antarbintang, dan proses evolusioner bintang akan menyebabkan
peningkatan kandungan unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium dalam
medium antarbintang. Sampai dengan 95% atom Bima Sakti terkonsentrasi dalam bintang-
bintang, dan massa total atom ini membentuk sekitar 10% massa galaksi.[97] Massa sisanya
adalah materi gelap yang tidak diketahui dengan jelas.[98]

Nukleosintesis

Proton dan elektron yang stabil muncul satu detik setelah kejadian Dentuman Besar. Dalam
masa waktu tiga menit sesudahnya, nukleosintesis Dentuman Besar kebanyakan
menghasilkan helium, litium, dan deuterium, dan mungkin juga beberapa berilium dan
boron.[99][100][101] Atom pertama (dengan elektron yang terikat dengannya) secara teoritis
tercipta 380.000 tahun sesudah Dentuman Besar, yaitu ketika alam semesta yang
mengembang cukup dingin untuk mengijinkan elektron-elektron terikat pada inti atom.[102]
Sejak saat itulah, inti atom mulai bergabung dalam bintang-bintang melalui proses fusi
nuklir dan menghasilkan unsur-unsur yang lebih berat sampai dengan besi.[103]

Isotop seperti litium-6 dihasilkan di ruang angkasa melalui spalasi sinar kosmis.[104] Hal ini
terjadi ketika sebuah proton berenergi tinggi menumbuk inti atom, menyebabkan sejumlah
besar nukleon berhamburan. Unsur yang lebih berat daripada besi dihasilkan di supernova
melalui proses r dan di bintang-bintang AGB melalui proses s. Kedua-duanya melibatkan
penangkapan neutron oleh inti atom.[105] Unsur-unsur seperti timbal kebanyakan dibentuk
melalui peluruhan radioaktif unsur-unsur lain yang lebih berat.[106]

Bumi

Kebanyakan atom yang menyusun Bumi dan termasuk pula seluruh makhluk hidupnya
pernah berada dalam bentuk yang sekarang di nebula yang runtuh dari awan molekul dan
membentuk Tata Surya. Sisanya merupakan akibat dari peluruhan radioaktif dan
proporsinya dapat digunakan untuk menentukan usia Bumi melalui penanggalan
radiometrik.[107][108] Kebanyakan helium dalam kerak Bumi merupakan produk peluruhan
alfa.[109]

Terdapat sekelumit atom di Bumi yang pada awal pembentukannya tidak ada dan juga
bukan merupakan akibat dari peluruhan radioaktif. Karbon-14 secara berkesinambungan
dihasilkan oleh sinar kosmik di atmosfer.[110] Beberapa atom di Bumi secara buatan
dihasilkan oleh reaktor ataupun senjata nuklir.[111][112] Dari semua Unsur-unsur transuranium
yang bernomor atom lebih besar daripada 92, hanya plutonium dan neptunium sajalah yang
terdapat di Bumi secara alami.[113][114] Unsur-unsur transuranium memiliki waktu paruh
radioaktif yang lebih pendek daripada umur Bumi[115], sehingga unsur-unsur ini telah lama
meluruh. Pengecualian terdapat pada plutonium-244 yang kemungkinan tersimpan dalam
debu kosmik.[107] Kandungan alami plutonium dan neptunium dihasilkan dari penangkapan
neutron dalam bijih uranium.[116]

Bumi mengandung sekitar 1,33 1050 atom.[117] Pada atmosfer planet, terdapat sejumlah
kecil atom gas mulia seperti argon dan neon. Sisa 99% atom pada atmosfer bumi terikat
dalam bentuk molekul, misalnya karbon dioksida, oksigen diatomik, dan nitrogen diatomik.
Pada permukaan Bumi, atom-atom saling berikatan membentuk berbagai macam senyawa,
meliputi air, garam, silikat, dan oksida. Atom juga dapat bergabung membentuk bahan-
bahan yang tidak terdiri dari molekul, contohnya kristal dan logam padat ataupun
cair.[118][119]

Bentuk teoritis dan bentuk langka

Pencitraan 3-Dimensi keberadaan "Pulau stabilitas" di bagian paling kanan

Manakala isotop dengan nomor atom yang lebih tinggi daripada timbal (62) bersifat
radioaktif, terdapat suatu "pulau stabilitas" yang diajukan untuk beberapa unsur dengan
nomor atom di atas 103. Unsur-unsur super berat ini kemungkinan memiliki inti yang secara
relatif stabil terhadap peluruhan radioaktif.[120] Atom super berat yang stabil ini
kemungkinan besar adalah unbiheksium, dengan 126 proton 184 neutron.

Tiap-tiap partikel materi memiliki partikel antimaterinya masing-masing dengan muatan


listrik yang berlawanan. Sehingga, positron adalah antielektron yang bermuatan positif, dan
antiproton adalah proton yang bermuatan negatif, Ketika materi dan antimateri bertemu,
keduanya akan saling memusnahkan. Terdapat ketidakseimbangan antara jumlah partikel
materi dan antimateri. Ketidakseimbangan ini masih belum dipahami secara menyeluruh,
walaupun terdapat teori bariogenesis yang memberikan penjelasan yang memungkinkan.
Antimateri tidak pernah ditemukan secara alami.[122][123] Namun, pada tahun 1996,
antihidrogen berhasil disintesis di laboratorium CERN di Jenewa.

Terdapat pula atom-atom langka lainnya yang dibuat dengan menggantikan satu proton,
neutron, ataupun elektron dengan partikel lain yang bermuatan sama. Sebagai contoh,
elektron dapat digantikan dengan muon yang lebih berat, membentuk atom muon. Jenis
atom ini dapat digunakan untuk menguji prediksi fisika.
Lihat pula
Massa atom relatif
Molekul
Unsur
Elektron
Proton
Neutron
Inti atom

Catatan
1. ^ Kebanyakan isotop mempunyai jumlah nukleon lebih banyak dari jumlah elektron.
Dalam kasus hydrogen-1, yang mempunyai satu elektron and satu nukleon,
protonnya , atau 99,95% dari total massa atom.
2. ^ Satu karat sama dengan 200 miligram. Berdasarkan definisi, karbon-12 memiliki
0,012 kg per mol. Tetapan Avogadro sekitar 6 1023 atom per mol.

Referensi
1. ^ a b Haubold, Hans; Mathai, A. M. (1998). "Microcosmos: From Leucippus to
Yukawa". Structure of the Universe. Common Sense Science. Diakses 2008-01-17.
2. ^ Staff (2007-08-01). "Radioactive Decays". Stanford Linear Accelerator Center,
Stanford University. Diakses 2007-01-02.
3. ^ a b Ponomarev (1993:14-15).
4. ^ a b (Inggris)A. Pablo Iannone. Dictionary of World Philosophy. hlm. 62. ISBN 0-
415-17995-5. Diakses 2010-06-09.
5. ^ (Inggris)Hajime Nakamura (1992). A comparative history of ideas. Shri Jainendra
Press. hlm. 145. ISBN 81-208-1004-x Check |isbn= value (help). Diakses 2010-06-
09.
6. ^ (Inggris)Ben-Ami Scharfstein (1998). A comparative history of world philosophy:
from the Upanishads to Kant. State University of New York Press. hlm. 189. ISBN 0-
7914-3683-7. Diakses 2010-06-09.
7. ^ Siegfried (2002:4255).
8. ^ "Lavoisier's Elements of Chemistry". Elements and Atoms. Le Moyne College,
Department of Chemistry. Diakses 2007-12-18.
9. ^ Wurtz (1881:12).
10. ^ Dalton (1808).
11. ^ Einstein, Albert (May 1905). "ber die von der molekularkinetischen Theorie der
Wrme geforderte Bewegung von in ruhenden Flssigkeiten suspendierten Teilchen"
(PDF). Annalen der Physik (dalam bahasa German) 322 (8): 549560.
doi:10.1002/andp.19053220806. Diakses 2007-02-04.
12. ^ Mazo (2002:17).
13. ^ Lee, Y. K.; Hoon, Kelvin (1995). "Brownian Motion". Imperial College, London.
Diakses 2007-12-18.
14. ^ Patterson, Gary (2007). "Jean Perrin and the triumph of the atomic doctrine".
Endeavour 31 (2): 5053. doi:10.1016/j.endeavour.2007.05.003. Diakses 2008-11-07.
15. ^ The Nobel Foundation (1906). "J.J. Thomson". Nobelprize.org. Diakses 2007-12-
20.
16. ^ "Frederick Soddy, The Nobel Prize in Chemistry 1921". Nobel Foundation. Diakses
2008-01-18.
17. ^ Thomson, Joseph John (1913). "Rays of positive electricity". Proceedings of the
Royal Society A 89: 120. Diakses 2007-01-18.
18. ^ Stern, David P. (May 16, 2005). "The Atomic Nucleus and Bohr's Early Model of
the Atom". NASA Goddard Space Flight Center. Diakses 2007-12-20.
19. ^ Bohr, Niels (December 11, 1922). "Niels Bohr, The Nobel Prize in Physics 1922,
Nobel Lecture". The Nobel Foundation. Diakses 2008-02-16.
20. ^ Lewis, Gilbert N. (April 1916). "The Atom and the Molecule". Journal of the
American Chemical Society 38 (4): 762786. doi:10.1021/ja02261a002.
21. ^ Scerri, Eric R. (2007). The Periodic Table. Oxford University Press US. hlm. 205
226. ISBN 0195305736.
22. ^ Scully, Marlan O.; Lamb Jr., Willis E.; Barut, Asim (June 1987). "On the theory of
the Stern-Gerlach apparatus". Foundations of Physics 17 (6): 575583.
doi:10.1007/BF01882788.
23. ^ Brown, Kevin (2007). "The Hydrogen Atom". MathPages. Diakses 2007-12-21.
24. ^ Harrison, David M. (March 2000). "The Development of Quantum Mechanics".
University of Toronto. Diakses 2007-12-21.
25. ^ Aston, Francis W. (1920). "The constitution of atmospheric neon". Philosophical
Magazine 39 (6): 44955.
26. ^ Chadwick, James (December 12, 1935). "Nobel Lecture: The Neutron and Its
Properties". Nobel Foundation. Diakses 2007-12-21.
27. ^ Kullander, Sven (August 28, 2001). "Accelerators and Nobel Laureates". The Nobel
Foundation. Diakses 2008-01-31.
28. ^ Staff (October 17, 1990). "The Nobel Prize in Physics 1990". The Nobel
Foundation. Diakses 2008-01-31.
29. ^ Staff (October 15, 1997). "The Nobel Prize in Physics 1997". Nobel Foundation.
Diakses 2008-02-10.
30. ^ Park, Jiwoong et al (2002). "Coulomb blockade and the Kondo effect in single-
atom transistors". Nature 417 (6890): 72225. doi:10.1038/nature00791. Diakses
2008-01-03.
31. ^ Domokos, P.; Janszky, J.; Adam, P. (1994). "Single-atom interference method for
generating Fock states". Physical Review a 50: 334044.
doi:10.1103/PhysRevA.50.3340. Diakses 2008-01-03.
32. ^ Demtrder (2002:3942).
33. ^ Woan (2000:8).
34. ^ Particle Data Group (2002). "The Particle Adventure". Lawrence Berkeley
Laboratory. Diakses 2007-01-03.
35. ^ Schombert, James (April 18, 2006). "Elementary Particles". University of Oregon.
Diakses 2007-01-03.
36. ^ (Inggris)Basic Knowledge of Radiation and Radioisotopes (Scientific Basis, Safe
Handling of Radioisotopes and Radiation Protection). Japan Radioisotope
Association. 2005. ISBN 4-89073-170-9 C2040.
37. ^ Jevremovic (2005:63).
38. ^ Pfeffer (2000:330336).
39. ^ Wenner, Jennifer M. (October 10, 2007). "How Does Radioactive Decay Work?".
Carleton College. Diakses 2008-01-09.
40. ^ a b c Raymond, David (April 7, 2006). "Nuclear Binding Energies". New Mexico
Tech. Diakses 2007-01-03.
41. ^ Mihos, Chris (July 23, 2002). "Overcoming the Coulomb Barrier". Case Western
Reserve University. Diakses 2008-02-13.
42. ^ Staff (March 30, 2007). "ABC's of Nuclear Science". Lawrence Berkeley National
Laboratory. Diakses 2007-01-03.
43. ^ Makhijani, Arjun; Saleska, Scott (March 2, 2001). "Basics of Nuclear Physics and
Fission". Institute for Energy and Environmental Research. Diakses 2007-01-03.
44. ^ Shultis et al. (2002:726).
45. ^ Fewell, M. P. (1995). "The atomic nuclide with the highest mean binding energy".
American Journal of Physics 63 (7): 65358. doi:10.1119/1.17828. Diakses 2007-02-
01.
46. ^ Mulliken, Robert S. (1967). "Spectroscopy, Molecular Orbitals, and Chemical
Bonding". Science 157 (3784): 1324. doi:10.1126/science.157.3784.13.
PMID 5338306.
47. ^ a b Brucat, Philip J. (2008). "The Quantum Atom". University of Florida. Diakses
2007-01-04.
48. ^ Herter, Terry (2006). "Lecture 8: The Hydrogen Atom". Cornell University.
Diakses 2008-02-14.
49. ^ Bell, R. E.; Elliott, L. G. (1950). "Gamma-Rays from the Reaction H1(n,)D2 and
the Binding Energy of the Deuteron". Physical Review 79 (2): 282285.
doi:10.1103/PhysRev.79.282.
50. ^ Smirnov (2003:24972).
51. ^ Matis, Howard S. (August 9, 2000). "The Isotopes of Hydrogen". Guide to the
Nuclear Wall Chart. Lawrence Berkeley National Lab. Diakses 2007-12-21.
52. ^ a b Sills (2003:131134).
53. ^ Dum, Belle (April 23, 2003). "Bismuth breaks half-life record for alpha decay".
Physics World. Diakses 2007-12-21.
54. ^ Lindsay, Don (July 30, 2000). "Radioactives Missing From The Earth". Don
Lindsay Archive. Diakses 2007-05-23.
55. ^ CRC Handbook (2002).
56. ^ a b Mills et al. (1993).
57. ^ Chieh, Chung (January 22, 2001). "Nuclide Stability". University of Waterloo.
Diakses 2007-01-04.
58. ^ "Atomic Weights and Isotopic Compositions for All Elements". National Institute
of Standards and Technology. Diakses 2007-01-04.
59. ^ Audi, G.; Wapstra, A. H.; Thibault C. (2003). "The Ame2003 atomic mass
evaluation (II)". Nuclear Physics A 729: 337676.
doi:10.1016/j.nuclphysa.2003.11.003. Diakses 2008-02-07.
60. ^ Shannon, R. D. (1976). "Revised effective ionic radii and systematic studies of
interatomic distances in halides and chalcogenides". Acta Crystallographica, Section
a 32: 751. doi:10.1107/S0567739476001551. Diakses 2007-01-03.
61. ^ Dong, Judy (1998). "Diameter of an Atom". The Physics Factbook. Diakses 2007-
11-19.
62. ^ Zumdahl (2002).
63. ^ Staff (2007). "Small Miracles: Harnessing nanotechnology". Oregon State
University. Diakses 2007-01-07.describes the width of a human hair as 105 nm and
10 carbon atoms as spanning 1 nm.
64. ^ Padilla et al. (2002:32)"There are 2,000,000,000,000,000,000,000 (that's
2 sextillion) atoms of oxygen in one drop of waterand twice as many atoms of
hydrogen."
65. ^ Feynman (1995).
66. ^ a b "Radioactivity". Splung.com. Diakses 2007-12-19.
67. ^ L'Annunziata (2003:356).
68. ^ Firestone, Richard B. (May 22, 2000). "Radioactive Decay Modes". Berkeley
Laboratory. Diakses 2007-01-07.
69. ^ Hornak, J. P. (2006). "Chapter 3: Spin Physics". The Basics of NMR. Rochester
Institute of Technology. Diakses 2007-01-07.
70. ^ a b Schroeder, Paul A. (February 25, 2000). "Magnetic Properties". University of
Georgia. Diakses 2007-01-07.
71. ^ Goebel, Greg (September 1, 2007). "[4.3] Magnetic Properties of the Atom".
Elementary Quantum Physics. In The Public Domain website. Diakses 2007-01-07.
72. ^ Yarris, Lynn (Spring 1997). "Talking Pictures". Berkeley Lab Research Review.
Diakses 2008-01-09.
73. ^ Liang and Haacke (1999:41226).
74. ^ Zeghbroeck, Bart J. Van (1998). "Energy levels". Shippensburg University. Diakses
2007-12-23.
75. ^ Fowles (1989:227233).
76. ^ Martin, W. C.; Wiese, W. L. (May 2007). "Atomic Spectroscopy: A Compendium
of Basic Ideas, Notation, Data, and Formulas". National Institute of Standards and
Technology. Diakses 2007-01-08.
77. ^ "Atomic Emission Spectra Origin of Spectral Lines". Avogadro Web Site.
Diakses 2006-08-10.
78. ^ Fitzpatrick, Richard (February 16, 2007). "Fine structure". University of Texas at
Austin. Diakses 2008-02-14.
79. ^ Weiss, Michael (2001). "The Zeeman Effect". University of California-Riverside.
Diakses 2008-02-06.
80. ^ Beyer (2003:232236).
81. ^ Reusch, William (July 16, 2007). "Virtual Textbook of Organic Chemistry".
Michigan State University. Diakses 2008-01-11.
82. ^ "Covalent bonding - Single bonds". chemguide. 2000.
83. ^ Husted, Robert et al. (December 11, 2003). "Periodic Table of the Elements". Los
Alamos National Laboratory. Diakses 2008-01-11.
84. ^ Baum, Rudy (2003). "It's Elemental: The Periodic Table". Chemical & Engineering
News. Diakses 2008-01-11.
85. ^ Goodstein (2002:436438).
86. ^ Brazhkin, Vadim V. (2006). "Metastable phases, phase transformations, and phase
diagrams in physics and chemistry". Physics-Uspekhi 49: 71924.
doi:10.1070/PU2006v049n07ABEH006013.
87. ^ Myers (2003:85).
88. ^ Staff (October 9, 2001). "Bose-Einstein Condensate: A New Form of Matter".
National Institute of Standards and Technology. Diakses 2008-01-16.
89. ^ Colton, Imogen; Fyffe, Jeanette (February 3, 1999). "Super Atoms from Bose-
Einstein Condensation". The University of Melbourne. Diakses 2008-02-06.
90. ^ Jakubowski, N.; Moens, L.; Vanhaecke, F (1998). "Sector field mass spectrometers
in ICP-MS". Spectrochimica Acta Part B: Atomic Spectroscopy 53 (13): 173963.
doi:10.1016/S0584-8547(98)00222-5.
91. ^ Mller, Erwin W.; Panitz, John A.; McLane, S. Brooks (1968). "The Atom-Probe
Field Ion Microscope". Review of Scientific Instruments 39 (1): 8386.
doi:10.1063/1.1683116. ISSN 0034-6748.
92. ^ Lochner, Jim; Gibb, Meredith; Newman, Phil (April 30, 2007). "What Do Spectra
Tell Us?". NASA/Goddard Space Flight Center. Diakses 2008-01-03.
93. ^ Winter, Mark (2007). "Helium". WebElements. Diakses 2008-01-03.
94. ^ Hinshaw, Gary (February 10, 2006). "What is the Universe Made Of?".
NASA/WMAP. Diakses 2008-01-07.
95. ^ Choppin et al. (2001).
96. ^ Davidsen, Arthur F. (1993). "Far-Ultraviolet Astronomy on the Astro-1 Space
Shuttle Mission". Science 259 (5093): 32734. doi:10.1126/science.259.5093.327.
PMID 17832344. Diakses 2008-01-07.
97. ^ Lequeux (2005:4).
98. ^ Smith, Nigel (January 6, 2000). "The search for dark matter". Physics World.
Diakses 2008-02-14.
99. ^ Croswell, Ken (1991). "Boron, bumps and the Big Bang: Was matter spread evenly
when the Universe began? Perhaps not; the clues lie in the creation of the lighter
elements such as boron and beryllium". New Scientist (1794): 42. Diakses 2008-01-
14.
100. ^ Copi, Craig J.; Schramm, David N.; Turner, Michael S. (1995). "Big-Bang
Nucleosynthesis and the Baryon Density of the Universe" (PDF). Science 267: 192
99. doi:10.1126/science.7809624. PMID 7809624. Diakses 2008-01-13.
101. ^ Hinshaw, Gary (December 15, 2005). "Tests of the Big Bang: The Light
Elements". NASA/WMAP. Diakses 2008-01-13.
102. ^ Abbott, Brian (May 30, 2007). "Microwave (WMAP) All-Sky Survey".
Hayden Planetarium. Diakses 2008-01-13.
103. ^ F. Hoyle (1946). "The synthesis of the elements from hydrogen". Monthly
Notices of the Royal Astronomical Society 106: 34383. Diakses 2008-01-13.
104. ^ Knauth, D. C.; Federman, S. R.; Lambert, David L.; Crane, P. (2000).
"Newly synthesized lithium in the interstellar medium". Nature 405: 65658.
doi:10.1038/35015028.
105. ^ Mashnik, Stepan G. (August 2000). "On Solar System and Cosmic Rays
Nucleosynthesis and Spallation Processes". Cornell University. Diakses 2008-01-14.
106. ^ Kansas Geological Survey (May 4, 2005). "Age of the Earth". University of
Kansas. Diakses 2008-01-14.
107. ^ a b Manuel (2001:407430,511519).
108. ^ Dalrymple, G. Brent (2001). "The age of the Earth in the twentieth century:
a problem (mostly) solved". Geological Society, London, Special Publications 190:
20521. doi:10.1144/GSL.SP.2001.190.01.14. Diakses 2008-01-14.
109. ^ Anderson, Don L.; Foulger, G. R.; Meibom, Anders (September 2, 2006).
"Helium: Fundamental models". MantlePlumes.org. Diakses 2007-01-14.
110. ^ Pennicott, Katie (May 10, 2001). "Carbon clock could show the wrong
time". PhysicsWeb. Diakses 2008-01-14.
111. ^ Yarris, Lynn (July 27, 2001). "New Superheavy Elements 118 and 116
Discovered at Berkeley Lab". Berkeley Lab. Diakses 2008-01-14.
112. ^ Diamond, H. et al. (1960). "Heavy Isotope Abundances in Mike
Thermonuclear Device" (subscription required). Physical Review 119: 200004.
doi:10.1103/PhysRev.119.2000. Diakses 2008-01-14.
113. ^ Poston Sr., John W. (March 23, 1998). "Do transuranic elements such as
plutonium ever occur naturally?". Scientific American. Diakses 2008-01-15.
114. ^ Keller, C. (1973). "Natural occurrence of lanthanides, actinides, and
superheavy elements". Chemiker Zeitung 97 (10): 52230. Diakses 2008-01-15.
115. ^ Marco (2001:17).
116. ^ "Oklo Fossil Reactors". Curtin University of Technology. Diakses 2008-01-
15.
117. ^ Weisenberger, Drew. "How many atoms are there in the world?". Jefferson
Lab. Diakses 2008-01-16.
118. ^ Pidwirny, Michael. "Fundamentals of Physical Geography". University of
British Columbia Okanagan. Diakses 2008-01-16.
119. ^ Anderson, Don L. (2002). "The inner inner core of Earth". Proceedings of
the National Academy of Sciences 99 (22): 1396668. doi:10.1073/pnas.232565899.
PMID 12391308. Diakses 2008-01-16.
120. ^ Anonymous (October 2, 2001). "Second postcard from the island of
stability". CERN Courier. Diakses 2008-01-14.
121. ^ Jacoby, Mitch (2006). "As-yet-unsynthesized superheavy atom should form
a stable diatomic molecule with fluorine". Chemical & Engineering News 84 (10): 19.
Diakses 2008-01-14.
122. ^ Koppes, Steve (March 1, 1999). "Fermilab Physicists Find New Matter-
Antimatter Asymmetry". University of Chicago. Diakses 2008-01-14.
123. ^ Cromie, William J. (August 16, 2001). "A lifetime of trillionths of a second:
Scientists explore antimatter". Harvard University Gazette. Diakses 2008-01-14.
124. ^ Hijmans, Tom W. (2002). "Particle physics: Cold antihydrogen". Nature
419: 43940. doi:10.1038/419439a.
125. ^ Staff (October 30, 2002). "Researchers 'look inside' antimatter". BBC News.
Diakses 2008-01-14.
126. ^ Barrett, Roger; Jackson, Daphne; Mweene, Habatwa (1990). "The Strange
World of the Exotic Atom". New Scientist (1728): 77115. Diakses 2008-01-04.
127. ^ Indelicato, Paul (2004). "Exotic Atoms". Physica Scripta T112: 2026.
doi:10.1238/Physica.Topical.112a00020.
128. ^ Ripin, Barrett H. (July 1998). "Recent Experiments on Exotic Atoms".
American Physical Society. Diakses 2008-02-15.

Referensi buku

L'Annunziata, Michael F. (2003). Handbook of Radioactivity Analysis. Academic


Press. ISBN 0124366031. OCLC 162129551.
Beyer, H. F.; Shevelko, V. P. (2003). Introduction to the Physics of Highly Charged
Ions. CRC Press. ISBN 0750304812. OCLC 47150433.
Choppin, Gregory R.; Liljenzin, Jan-Olov; Rydberg, Jan (2001). Radiochemistry and
Nuclear Chemistry. Elsevier. ISBN 0750674636. OCLC 162592180.
Dalton, J. (1808). A New System of Chemical Philosophy, Part 1. London and
Manchester: S. Russell.
Demtrder, Wolfgang (2002). Atoms, Molecules and Photons: An Introduction to
Atomic- Molecular- and Quantum Physics (ed. 1st). Springer. ISBN 3540206310.
OCLC 181435713.
Feynman, Richard (1995). Six Easy Pieces. The Penguin Group. ISBN 978-0-140-
27666-4. OCLC 40499574.
Fowles, Grant R. (1989). Introduction to Modern Optics. Courier Dover Publications.
ISBN 0486659577. OCLC 18834711.
Gangopadhyaya, Mrinalkanti (1981). Indian Atomism: History and Sources. Atlantic
Highlands, New Jersey: Humanities Press. ISBN 0-391-02177-X. OCLC 10916778.
Goodstein, David L. (2002). States of Matter. Courier Dover Publications. ISBN 0-
486-49506-X.
Harrison, Edward Robert (2003). Masks of the Universe: Changing Ideas on the
Nature of the Cosmos. Cambridge University Press. ISBN 0521773512.
OCLC 50441595.
Iannone, A. Pablo (2001). Dictionary of World Philosophy. Routledge.
ISBN 0415179955. OCLC 44541769.
Jevremovic, Tatjana (2005). Nuclear Principles in Engineering. Springer.
ISBN 0387232842. OCLC 228384008.
Lequeux, James (2005). The Interstellar Medium. Springer. ISBN 3540213260.
OCLC 133157789.
Levere, Trevor, H. (2001). Transforming Matter A History of Chemistry for
Alchemy to the Buckyball. The Johns Hopkins University Press. ISBN 0-8018-6610-3.
Liang, Z.-P.; Haacke, E. M. (1999). In Webster, J. G. Encyclopedia of Electrical and
Electronics Engineering: Magnetic Resonance Imaging (PDF). vol. 2. John Wiley &
Sons. hlm. 41226. ISBN 0471139467. Diakses 2008-01-09.
MacGregor, Malcolm H. (1992). The Enigmatic Electron. Oxford University Press.
ISBN 0195218337. OCLC 223372888.
Manuel, Oliver (2001). Origin of Elements in the Solar System: Implications of Post-
1957 Observations. Springer. ISBN 0306465620. OCLC 228374906.
Mazo, Robert M. (2002). Brownian Motion: Fluctuations, Dynamics, and
Applications. Oxford University Press. ISBN 0198515677. OCLC 48753074.
Mills, Ian; Cvita, Tomislav; Homann, Klaus; Kallay, Nikola; Kuchitsu, Kozo (1993).
Quantities, Units and Symbols in Physical Chemistry (ed. 2nd). Oxford: International
Union of Pure and Applied Chemistry, Commission on Physiochemical Symbols
Terminology and Units, Blackwell Scientific Publications. ISBN 0-632-03583-8.
OCLC 27011505.
Moran, Bruce T. (2005). Distilling Knowledge: Alchemy, Chemistry, and the
Scientific Revolution. Harvard University Press. ISBN 0674014952.
Myers, Richard (2003). The Basics of Chemistry. Greenwood Press.
ISBN 0313316643. OCLC 50164580.
Padilla, Michael J.; Miaoulis, Ioannis; Cyr, Martha (2002). Prentice Hall Science
Explorer: Chemical Building Blocks. Upper Saddle River, New Jersey USA: Prentice-
Hall, Inc. ISBN 0-13-054091-9. OCLC 47925884.
Pauling, Linus (1960). The Nature of the Chemical Bond. Cornell University Press.
ISBN 0801403332. OCLC 17518275.
Pfeffer, Jeremy I.; Nir, Shlomo (2000). Modern Physics: An Introductory Text.
Imperial College Press. ISBN 1860942504. OCLC 45900880.
Ponomarev, Leonid Ivanovich (1993). The Quantum Dice. CRC Press.
ISBN 0750302518. OCLC 26853108.
Scerri, Eric R. (2007). The Periodic Table. Oxford University Press.
ISBN 0195305736.
Shultis, J. Kenneth; Faw, Richard E. (2002). Fundamentals of Nuclear Science and
Engineering. CRC Press. ISBN 0824708342. OCLC 123346507.
Siegfried, Robert (2002). From Elements to Atoms: A History of Chemical
Composition. DIANE. ISBN 0871699249. OCLC 186607849.
Sills, Alan D. (2003). Earth Science the Easy Way. Barron's Educational Series.
ISBN 0764121464. OCLC 51543743.
Smirnov, Boris M. (2003). Physics of Atoms and Ions. Springer. ISBN 0-387-95550-
X.
Teresi, Dick (2003). Lost Discoveries: The Ancient Roots of Modern Science. Simon
& Schuster. hlm. 213214. ISBN 074324379X.
Various (2002). In Lide, David R. Handbook of Chemistry & Physics (ed. 88th).
CRC. ISBN 0849304865. OCLC 179976746. Diakses 2008-05-23.
Woan, Graham (2000). The Cambridge Handbook of Physics. Cambridge University
Press. ISBN 0521575079. OCLC 224032426.
Wurtz, Charles Adolphe (1881). The Atomic Theory. New York: D. Appleton and
company.
Zaider, Marco; Rossi, Harald H. (2001). Radiation Science for Physicians and Public
Health Workers. Springer. ISBN 0306464039. OCLC 44110319.
Zumdahl, Steven S. (2002). Introductory Chemistry: A Foundation (ed. 5th).
Houghton Mifflin. ISBN 0-618-34342-3. OCLC 173081482. Diakses 2008-02-05.

Pranala luar
Francis, Eden (2002). "Atomic Size". Clackamas Community College. Diakses 2007-
01-09.
Freudenrich, Craig C. "How Atoms Work". How Stuff Works. Diakses 2007-01-09.
"Atom:The Atom". Free High School Science Texts: Physics. Wikibooks. Diakses
2007-01-09.
Anonymous (2007). "The atom". Science aid+. Diakses 2007-01-09.
Anonymous (2006-01-03). "Atoms and Atomic Structure". BBC. Diakses 2007-01-
11.
Various (2006-01-03). "Physics 2000, Table of Contents". University of Colorado.
Diakses 2008-01-11.
Various (2006-02-03). "What does an atom look like?". University of Karlsruhe.
Diakses 2008-05-12.