Anda di halaman 1dari 4

Penyesalan

Masih kuingat tentang itu..


Kau katakan takkan pernah kau kutinggalkan, Seperti janji kemarin Aku masih mengingat
takkan pernah kulupakan, Aku ingin bersamamu sehidup semati
Miraj Panggil seseorang yang suaranya sangat kurindukan. Hey, kau lupa sekarang tanggal
berapa? Tanyanya kepadaku dengan bibir yang sedikit dimajukan. Seperti kebanyakan
perempuan, Hal tersebut dapat diartikan bahwa si perempuan sedang marah. Tanggal 5,
Memangnya kenapa? Tanyaku padanya. Argghhh seharusnya kita merayakan hari jadi kita,
Kamu nggak romantis Lalu dia pergi meninggalkanku dengan kecewa. Aku memang bukan
laki-laki seperti mereka, Aku tak suka dengan itu semua. Aku menyukai hal yang menurutku
memang berguna. Harusnya kau tahu, Aku lebih suka mengatakan. Apakah kau mau menjadi
istriku? Kuikat kau dengan sebuah cincin, Bukan dengan itu saja. Kita akan bersama
selamananya membangun keluarga yang bahagia.
Aku minta maaf miraj, Seharusnya aku tak menuntut semua itu padamu Sambil memeluk
tubuhku erat. Kulepaskan pegangannya di pundakku, Bukan aku menampik semua itu. Aku
memang naif, Aku menyukai itu. Tapi semua itu harus kulakukan hingga nanti saatnya tiba!.
Mengapa miraj, Aku hanya menyentuhmu sedikit saja. Apa itu salah? Itu hal yang wajar
Kupandang wajahnya, Amarah itu seakan merobek hati yang ramah. Aku tidak tahu miraj,
Apakah janji yang kuucapkan 5 desember lalu dapat kutepati jika saja sikapmu selalu begini.
Aku bukan perempuan seperti itu. Layaknya mereka, Aku ingin.., Tolong, jangan katakan itu
lagi. Aku sung.., Sudahlah miraj, Nikahi saja aku. Agar semua ini tak memberatkan kita.
Begitu kata yang kutahu, Semua itu butuh pertimbangan. Aku memang sudah lama
mengenalnya, Tapi hanya dengan waktu singkatkah semua itu terjadi. Tidakkk Suaraku
menggema di setiap sudut ruangan. Aku mencari di mana jalan yang harus kulalui!
Almira.. Aku sungguh mencintai kamu.. Andai saja aku mengiyakan semuanya. Kita tentu saja
sudah bahagia, Memiliki mereka yang melengkapi kebahagiaan itu.
Kau katakan, Kau takkan pergi! Tapi beberapa waktu kemudian. Kau enyah bagai rembulan takut
kepada fajar, bagai mentari takut kepada senja. Miraj, sampai kapan kau akan begini?
Menghindariku, Aku bosan miraj. Apa yang kau pegang teguh? Yang diajarkan Rasullullah kah?
Hubungan yang bagaimana yang baik untukmu miraj? Jawab aku. Kata-kata itu seakan
mengacaukan pikiranku. Menusuk hati yang kututupi. Sudahlah mira, Jika kau bosan denganku.
Pergi saja, Cari mereka yang dapat mengerti kamu. Sungguh aku tak bisa. Miraj, Kau lupa
dengan janji kita. Sampai kapanpun kita akan bersama. Aku membutuhkan itu semua dari kamu.
Jika semua itu diharamkan. Ayo kita selesaikan. Tak semudah itu mira, Kau pikir semua itu
permainan. Kita harus sudah siap untuk semuanya. Jika kau bosan, Kau tidak bisa pergi begitu
saja. Aku tahu miraj, Aku mengerti. Aku tidak bodoh miraj. Aku takkan pernah
meninggalkanmu.
Beberapa bulan berlalu. Aku selalu memikirkan itu. Hingga suatu keputusan yang kuambil
membuat sebuah penyesalan yang tak berujung. Aku kecewa, Bukan.. Bukan karena dia telah
pergi. Tapi karena mengapa aku tak bisa menahannya! Tuhan tahu hati mana yang pantas, Jodoh
mana yang akan tinggal. Semua itu tuhan telah gariskan di sebuah dimensi waktu yang sedang
berputar, Berhenti pada tempatnya!
Ahahahahahaha, Miraj.. Lihat itu, Mereka seakan menertawakan kita dengan derunya. Sambil
menunjuk sebuah truk yang bergandengan. Kapan kau akan menggenggam tanganku seperti
itu? Truk aja gandengan! Mira tersenyum manis padaku. Sebenarnya hatiku tersayat
mendengarnya, Aku seakan tak bisa membuatnya bahagia. Hahahaha, Kamu bisa aja, Lalu
mereka sedang apa kalau truk aja gandengan? Sambil menunjuk sebuah benda berbentuk kotak
panjang dilengkapi benda bulat yang membuatnya mungkin lebih bahagia. Aaaaaaaa itu sih
gerobak bakso, Aku mauuuuuuu. Sambil bernyanyi abang tukang bakso, Mira dan aku
menghampiri si tukang bakso itu. Dengan senang mira memesan baksonya Miraj, Kalau kita
menikah. Setiap hari kita harus makan dengan bakso, Kalau perlu kau yang akan menjadi si
tukang baksonya. Hihihi. Aaahh kau ada-ada saja. Ada tampangkah aku menjadi seorang
tukang bakso?. Kau lebih mirip menjadi baksonya sayang. Hehehehehe.
Aku dan mira tertawa di tengah keheningan jalan, Langit menangis meninggalkan sendunya di
atas awan. Awan mulai hitam, Sedikit demi sedikit air menetes menjadi deras. Dusun kemiri
memang sangat terkenal dengan banyaknya anak muda, Entah itu anak siapa saja. Aku tak
pernah tahu, Yang aku tahu banyak pemuda yang seumuran dengan mira. Yang aku takutkan mira
akan tergoda oleh mereka. Almira, Wajahnya cantik terbalut kesederhanaan yang membuatnya
terlihat anggun. Walau mira tak pernah bercerita tentang siapa saja yang menarik perhatiannya!
Tak hanya sekali mira memperhatikan pemuda itu setiap aku mengantarnya pulang. Kutunggu
hujan mulai reda Bagaimana putri cantik, Apakah kamu mau tetap tinggal di sini? Atau ikut
denganku menyusuri kerikil-kerikil ini? Langit sudah mulai gelap Mira menggenggam
tanganku. Hanya sekali ini saja miraj, Setelah itu takkan pernah Mira menarik tanganku.
Kulajukan sepeda motor tua itu dengan kecepatan sedang, Melewati jalan sempit menuju
rumahnya. Disaat melewati jalan itu lagi, Seperti sebelumnya. Mira menatap wajahnya, Kulihat
matanya menyimpan kesedihan. Haruskah kau jujur padaku? Siapa sebenarnya pemuda itu.
Kulihat seringkali kau bersedih karenanya. Mira memeluk tubuhku erat Miraaa. Tidak apa
miraj, Aku hanya memelukmu sebentar saja Mira meneteskan air matanya lagi. Air mata yang
seringkali kulihat. Kau terlalu naif miraj, Aku menyukainya. Tapi dia telah memiliki seorang
istri, Pantaskah aku menyukai suami orang?. Pengakuannya membuat hatiku sakit, Seperti
mimpi tadi malam. Mira meninggalkanku tanpa berkata sedikitpun. Mira meninggalkan janji itu
tanpa sempat aku membuktikannya.
Setahun berlalu, Sejak kepergian mira.
Aku merasa dunia yang kupunya hanya untuk diriku sendiri. Aku menyembah kepada tuhan yang
kusembah. Ya Allah Ya Rabb, Aku merindukannya.
5 desember 2015,,
Miraj, Aku janji. Aku takkan meninggalkanmu apapun yang terjadi. Sejak hari ini, Kutempatkan
hatiku di sana. Di lubuk hatimu yang paling dalam. Aku akan merindukanmu, Dihela nafas ini.
Kuhirup raga yang menyala, Meresapi belaian angin. Hingga kulihat, kau disana. Menggenggam
tanganku erat. Memeluk tubuhku rekat. Miraj.. Kita akan bersama sejak hari ini dan seterusnya.
Seharusnya hingga hari ini kau berada di sini, Kulihat wajahmu disana! Miraj, Lihatlah ini. Ada
undangan pernikahan untukmu Suara ibu yang membangunkan lamunanku seakan bumi
berguncang menghempaskan amarahnya. Lalu gunung-gunung meletus bersamaan dengan
hancurnya hatiku. Almira, Tak ingatkah kau dengan janjimu dulu. Janji yang kau tinggalkan.
Apalah aku saat ini? Menunggu takdir yang mempertemukan kita di pelaminan, Bukan kita. Tapi
kau dengannya. Aku hanya diam, Saat kulihat namamu tertera disana. Hanya doa yang dapat
kuberikan, Tapi kau harus tahu! Semua itu kulakukan karena aku menghormatimu, Sebagai
perempuanku.
Yang membuatku sakit, Almira menikah dengan pemuda itu. Mengapa cinta tak adil? Menerima
yang tak pantas diterima. Memiliki yang tak seharusnya dimiliki. Mira menjadikan dirinya
sebagai sipenggoda. Pemuda itu meninggalkan istrinya dan menikahinya. Terkadang si penggoda
cintanya lebih tulus darinya yang telah lama singgah. Cintanya lebih besar darinya yang telah
lama memberi bahagia. Si penggoda lebih baik dari apa yang terbaik! Mira, Sungguh aku tak
merelakan itu. Andai kau tahu, Aku menginginkan kamu. Seperti nasi yang telah menjadi bubur.
Semua itu tak mungkin bagiku.
Miraj, Kamu akan terus melamun seperti itu?. Haduh nak, Kalau jodoh tak akan kemana Suara
ibu seakan menentramkan hati ini. Dan aku yang masih mengharapkan kamu.
Aku hanya untaian kata yang tak sempat diucapkan rindu kepada cinta yang menjadikan semua
itu tiada.
Penyesalan tak pernah jua mengalahkan kerinduan ini. Penyesalan itu, Seakan menusuk dadaku
keras! Mengeluarkan sedikit darah tanpa luka.
Kini almiraku telah pergi, Bersama cintanya yang telah dia pilih. Aku hanya perlu menunggu,
Entah almiraku kembali. Atau akan ada cinta yang menggantikannya. Suatu hal yang perlu kau
tahu, Jangan pernah kau sia-siakan sesuatu yang telah kau miliki, Jika semua itu telah pergi. Tak
semudah itu kau mendapatkannya lagi.