Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PENGOLAHAN LIMBAH

PEMANFAATAN LIMBAH CAIR MENJADI BIOGAS

Oleh:
Suhartanto
NIM A1H013002

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Energi dan pengolahan limbah menjadi kajian keilmuan yang saat ini sedang

diupayakan untuk dikembangkan. Dalam jangka panjang, peran energi akan lebih

berkembang khususnya guna mendukung pertumbuhan sektor industri dan

kegiatan lain yang terkait dengan pemanfaatan produk pertanian. Pengolahan

bahan pertanian dalam suatu proses industri, pada suatu saat akan menghasilkan

residu/sisa hasil sampingan. Pemanfaatan pengambilan energi dari pengolahan

limbah biomassa dengan memanfaatkan degradasi alami ini dapatdigunakan

sebagai energi alternatif yang bersifat renewable, sekaligus memberikan jalan

keluar terhadap penanganan limbah biomassa. Industri tahu sebagai salah satu

pengolah bahan pertanian yang menghasilakan produk samping limbah biomasa.

Biomasa yang dihasilkan biasaberupa padatan (ampas tahu) atau limbah cair

(whey/kecutan). Limbah cair tahu sisa produksi tahu ini masih memiliki

kandungan bahan organik yang dapat dimanfaatkan untuk energi alternatif.

Tahu merupakan salah satu makanan tradisional yang populer. Selain

rasanya enak, harganya murah dan nilai gizinya pun tinggi. Bahan makanan ini

diolah dari kacang kedelai. Meskipun berharga murah dan bentuknya sederhana,

ternyata tahu mempunyai mutu yang istimewa dilihat dari segi gizi. Hasil-hasil

studi menunjukkan bahwa tahu kaya protein bermutu tinggi, tinggi sifat

komplementasi proteinnya, ideal untuk makanan diet, rendah kandungan lemak

jenuh dan bebas kholesterol, kaya mineral dan vitamin (Koswara, 2006).
Limbah utama dari pembuatan tahu adalah limbah cair, limbah cair yang

di hasilkan dari produksi tahu belumbanyak di proses kembali karena banyak dari

pabrik tahu yang belum memikirkan manfaatnya biasanya limbah cair tersebut di

buang saja ke aliran air. Dengan semakin majunya teknologi limbah cair yang

tidak berguna akhirnya dapat berguna, yaitu untuk pembuatan biogas dari limbah

cair tahu.

B. Tujuan

1. Mengetahui pemanfaatan limbah yang terdapat di desa kali sari

2. Mengetahui pemanfaatan limbah cair tahu menjadi sebuah bahan bakar

biogas

3. Mengetahui proses pembuatan biogas dari limbah cair tahu


II. TINJAUAN PUSTAKA

Tahu adalah bahan pangan yang di buat dari bahan dasar kedelai, selain

kedelai bahana baku pembuatan tahu adalah air, hampir semua tahapan dalam

pembuatan tahu membutuhkan air dari proses perendaman, pencucian,

penggilingan, pemasakan, dan perendaman tahu yang sudah jadi sehingga

dibutuhkan air dalam jumlah banyak. Air yang digunakan di berasal dari air tanah

atau air artesis, dan asam cuka, asam cuka berfungsi untuk mengedapkan atau

memisahkan air dengan konsentrat tahu. Asam cuka mengandung cuka dan garam

sehingga bersifat asam. Asam cuka yang digunakan diperoleh dari pabrik tahu lain

dan dapat digunakan secara berulang-ulang. Kemudian proses pembuatan tahu

sendiri meliputi :

a. Perendaman

Pada tahapan perendaman ini, kedelai direndam dalam sebuah bak perendam

yang dibuat dari semen. Langkah pertama adalah memasukan kedelai ke dalam

karung plastik kemudian diikat dan direndam selama kurang lebih 3 jam (untuk 1

karung berisi 15 kg biji kedelai). Jumlah air yang dibutuhkan tergantung dari

jumlah kedelai, intinya kedelai harus terendam semua. Tujuan dari tahapan

perendaman ini adalah untuk mempermudah proses penggilingan sehingga

dihasilkan bubur kedelai yang kental. Selain itu, perendaman juga dapat

membantu mengurangi jumlah zat antigizi (Antitripsin) yang ada pada kedelai.

Zat antigizi yang ada dalam kedelai ini dapat mengurangi daya cerna protein pada

produk tahu sehingga perlu diturunkan kadarnya.


b. Pencucian kedelai

Proses pencucian merupakan proses lanjutan setelah perendaman. Sebelum

dilakukan proses pencucian, kedelai yang di dalam karung dikeluarkan dari bak

pencucian, dibuka, dan dimasukan ke dalam ember-ember plastik untuk kemudian

dicuci dengan air mengalir. Tujuan dari tahapan pencucian ini adalah

membersihkan biji-biji kedelai dari kotoran-kotoran supaya tidak mengganggu

proses penggilingan dan agar kotoran-kotoran tidak tercampur ke dalam adonan

tahu. Setelah selesai proses pencucian, kedelai ditiriskan dalam saringan bambu

berukuran besar.

c. Penggilingan

Proses penggilingan dilakukan dengan menggunakan mesin penggiling biji

kedelai dengan tenaga penggerak dari motor lisrik. Tujuan penggilingan yaitu

untuk memperoleh bubur kedelai yang kemudian dimasak sampai mendidih. Saat

proses penggilingan sebaiknya dialiri air untuk didapatkan kekentalan bubur yang

diinginkan.

d. Perebusan/Pemasakan

Proses perebusan ini dilakukan di sebuah bak berbentuk bundar yang dibuat

dari semen yang di bagian bawahnya terdapat pemanas uap. Uap panas berasal

dari ketel uap yang ada di bagian belakang lokasi proses pembuatan tahu yang

dialirkan melalui pipa besi. Bahan bakar yang digunakan sebagai sumber panas

adalah kayu bakar yang diperoleh dari sisa-sisa pembangunan rumah. Tujuan

perebusan adalah untuk mendenaturasi protein dari kedelai sehingga protein

mudah terkoagulasi saat penambahan asam. Titik akhir perebusan ditandai dengan
timbulnya gelembung-gelembung panas dan mengentalnya larutan/bubur kedelai.

Kapasitas bak perebusan adalah sekitar 7.5 kg kedelai.

e. Penyaringan

Setelah bubur kedelai direbus dan mengental, dilakukan proses penyaringan

dengan menggunakan kain saring. Tujuan dari proses penyaringan ini adalah

memisahkan antara ampas atau limbah padat dari bubur kedelai dengan filtrat

yang diinginkan. Pada proses penyaringan ini bubur kedelai yang telah mendidih

dan sedikit mengental, selanjutnya dialirkan melalui kran yang ada di bagian

bawah bak pemanas. Bubur tersebut dialirkan melewati kain saring yang ada

diatas bak penampung.

Setelah seluruh bubur yang ada di bak pemanas habis lalu dimulai proses

penyaringan. Saat penyaringan secara terus-menerus dilakukan penambahan air

dengan cara menuangkan pada bagian tepi saringan agar tidak ada padatan yang

tersisa di saringan. Penuangan air diakhiri ketika filtrat yang dihasilkan sudah

mencukupi. Kemudian saringan yang berisi ampas diperas sampai benar-benar

kering. Ampas hasil penyaringan disebut ampas yang kering, ampas tersebut

dipindahkan ke dalam karung. Ampas tersebut dimanfaatkan untuk makanan

ternak ataupun dijual untuk bahan dasar pembuatan tempe gembus/bongkrek.

f. Pengendapan dan Penambahan Asam Cuka

Dari proses penyaringan diperoleh filtrat putih seperti susu yang kemudian

akan diproses lebih lanjut. Filtrat yang didapat kemudian ditambahkan asam cuka

dalam jumlah tertentu. Fungsi penambahan asam cuka adalah mengendapkan dan

menggumpalkan protein tahu sehingga terjadi pemisahan antara whey dengan


gumpalan tahu. Setelah ditambahkan asam cuka terbentuk dua lapisan yaitu

lapisan atas (whey) dan lapisan bawah (filtrat/endapan tahu). Endapan tersebut

terjadi karena adanya koagulasi protein yang disebabkan adanya reaksi antara

protein dan asam yang ditambahkan. Endapan tersebut yang merupakan bahan

utama yang akan dicetak menjadi tahu. Lapisan atas (whey) yang berupa limbah

cair merupakan bahan dasar yang akan diolah menjadi Nata De Soya.

g. Pencetakan dan Pengepresan

Proses pencetakan dan pengepresan merupakan tahap akhir pembuatan tahu.

Cetakan yang digunakan adalah terbuat dari kayu berukuran 70x70cm yang diberi

lubang berukuran kecil di sekelilingnya. Lubang tersebut bertujuan untuk

memudahkan air keluar saat proses pengepresan. Sebelum proses pencetakan yang

harus dilakukan adalah memasang kain saring tipis di permukaan cetakan. Setelah

itu, endapan yang telah dihasilkan pada tahap sebelumnya dipindahkan dengan

menggunakan alat semacam wajan secara pelan-pelan. Selanjutnya kain saring

ditutup rapat dan kemudian diletakkan kayu yang berukuran hampir sama dengan

cetakan di bagian atasnya. Setelah itu, bagian atas cetakan diberi beban untuk

membantu mempercepat proses pengepresan tahu. Waktu untuk proses

pengepresan ini tidak ditentukan secara tepat, pemilik mitra hanya memperkirakan

dan membuka kain saring pada waktu tertentu. Pemilik mempunyai parameter

bahwa tahu siap dikeluarkan dari cetakan apabila tahu tersebut sudah cukup keras

dan tidak hancur bila digoyang.


h. Pemotongan tahu

Setelah proses pencetakan selesai, tahu yang sudah jadi dikeluarkan dari

cetakan dengan cara membalik cetakan dan kemudian membuka kain saring yang

melapisi tahu. Setelah itu tahu dipindahkan ke dalam bak yang berisi air agar tahu

tidak hancur. Sebelum siap dipasarkan tahu terlebih dahulu dipotong sesuai

ukuran. Pemotongan dilakukan di dalam air dan dilakukan secara cepat agar tahu

tidak hancur.

Pada setiap produksi tahu di semua pabrik tahu pasti terdapat limbah sama

halnya pada pabrik tahu yang berada di desa kalisari cilongok, dari hasil

sampingan itu terdapat limbah yaitu limbah cair dan endapan. Limbah endapan

dari proses produksi tahu sudah banyak di olah menjadi kripik atau pun hasil lain

yang dapat di konsumsi karena rasanya yang masih cukup enak dan terdapat

nutrisi di dalamnya, tatapi beda halnya dengan limbah cair, limbah yang

mengandung zat tertentu harus di olah sedemikian rupa agar tak mencemari

lingkungan, dan sekarang sudah dapat di olah menjadi biogas limbah cair dari

produksi tahu.
III. METODELOGI

A. Alat dan Bahan

1. Alat tulis

2. Buku Catatan

3. Kamera

B. Prosedur Kerja

Mengunjungi desa kalisari, mendegarkan, mengamati dan menanyakan

proses pengolahan limbah tahu menjadi biogas.


IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Kami mengunjungi, mengamati dan menanyakan proses pengolahan limbah

cair hingga menjadi biogas di kantor kepala desa, dan bertemu dengan bapa

kepala desa dan mengunjungi tempat pengolahan limbah cair menjadi biogas.

Gambar 1. Pada kantor desa.

Gambar 2. Tempat pengolahan limbah cair menjadi biogas.


B. Pembahasan

Desa kalisari, Kecamatan Cilongok. Kabupaten Banyumas adalah sentra

desa produksi tahu yang sudah sangat terkenal, memang karena di desa ini

terdapat kurang lebih 250 pengrajin tahu yang setiap waktu memproduksi sebagai

mata pencahariaannya. Desa ini sudah memproduksi tahu sudah sekitar tahun

1965 sampai saat ini. Selain tahu jika kita melintasi jalanan di Desa Kalisari,

aroma busuk serta merta langsung menusuk hidung. Aroma tidak sedap itu berasal

dari sungai dan selokan yang berada di sepanjang jalan utama desa yang secara.

Maklum, karena hasil sampingan dari tahu yaitu limbah cair langsung di buang

pada selokan atau aliran sungai oleh para pengrajin tahu.Namun pemandangan

sungai penuh limbah dan bau menyengat itu sudah tidak nampak lagi. Sungai-

sungai di Kalisari kembali menjadi jernih dan tidak berbau. Hal ini disebabkan

program pengelolaan limbah industri tahu di Kalisari sudah menunjukkan

keberhasilannya. Hal ini diungkapkan oleh Ardan Aziz, Kepala Desa Kalisari.

Desa Kalisari berhasil mengatasi masalah limbah karena keberhasilan

program pengolahan limbah tahu menjadi biogas dengan pendampingan teknologi

dari BPPT sejak tahun 2009. Akhirnya, limbah yang tadinya menjadi sumber

masalah di desa sekarang justru menjadi manfaat bagi masyarakat berupa energi

biogas.

Limbah tahu memang seringkali menjadi masalah lingkungan, terutama bau

yang ditimbulkan sangat mengganggu lingkungan. Belum lagi masalah cemaran

bahan organik yang meracuni tanah di sekitar tempat pembuangan limbah.

Masalah akan menjadi lebih serius lagi jika limbah tersebut dibuang ke sungai
tanpa didahului oleh proses pengolahan yang benar. Bahan organik di dalam

limbah tahu sangat tinggi, terutama senyawa protein dan lemak. Kandungan

protein dalam bahan organik limbah tahu mencapai 40-60%, karbohidrat sebesar

25-50% dan lemak sebesar 10%. Total protein yang terkandung dalam 1 liter

limbah bisa mencapai 226,06 hingga 434,78 mg. Hal ini diungkap dalam

penelitian Nurhasan dan Pramudya pada tahun 1987.Kadar polutan limbah tahu

tersebut sangat berbahaya bagi keberlangsungan hidup spesies yang hidup di

perairan yang tercemar. Dalam beberapa penelitian, setidaknya 1 dari 2 ikan yang

dimasukkan dalam air yang tercemar limbah tahu mati kurang dari 6 menit saja.

Dapat dibayangkan bahwa dalam jangka panjang, hampir tidak ada ikan yang

mampu hidup di aliran sungai yang tercemar limbah tahu. Padahal, Banyumas

merupakan salah satu kawasan dengan keragaman ikan lokal yang tinggi di Jawa.

Saat ini, di Desa Kalisari hampir-hampir tidak ditemui lagi sungai-sungai yang

tercemar limbah tahu. Perairan menjadi bening kembali dan tidak mengeluarkan

bau menyengat. Bahkan banyak warga yang menggunakan air sungai itu untuk

mengairi kolam ikan mereka.

Sebenarnya Upaya memecahkan masalah limbah tahu di desa sendiri sudah

dimulai sejak puluhan tahun yang lalu. Menurut keterangan bapa kepala desa

semenjak tahun 1992 sudah ada program bantuan IPAL (Instalasi Pengelolaan Air

Limbah) dari Dinas Kesehatan berupa septic tank komunal. Namun program

tersebut tidak memberikan dampak yang cukup berarti karena limbah tersebut

hanya ditampung tanpa ada proses lebih lanjut. Baru pada tahun 2009, ada

program dari BPPT berupa instalasi pengolahan biogas secara komunal.


Sebenarnya program ini dibangun di 2 desa yaitu Desa Kalisari dan Desa

Cikembulan di Kecamatan Pekuncen. Namun menurut kabar yang disampaikan

oleh Kepala Desa Kalisari, program yang di Desa Cikembulan tidak berjalan. Di

desa kami bisa berjalan karena kami menerapkan retribusi ke masyarakat agar

biaya pengelolaan baik operasional maupun pemeliharaan instalasi biogas dapat

berjalan baik. Kami hanya menarik retribusi sebesar Rp 10.000 - 20.000 per

kepala keluarga yang memanfaatkan biogas untuk kebutuhan dapurnya, jelasnya

lebih lanjut.

Setelah keberhasilan program tahun 2009, Desa Kalisari kembali mendapat

bantuan unit biogas pada tahun 2012 sebanyak 1 unit dari BPPT dengan

pendanaan dari Kementerian Riset dan Teknologi. Pada tahun 2013 kembali

dibangun dengan dukungan dari Pemda Banyumas bersama Pemerintah Provinsi

Jawa Tengah. Secara total, terdapat 5 unit pengolahan biogas berbahan bakar

limbah tahu. Saat ini, keseluruhan reaktor biogas di Kalisari telah mampu

mengolah limbah dari 142 dari total 250 home industry tahu di Desa Kalisari atau

sekitar 56% dari total pengrajin tahu. Unit biogas ini sendiri sudah mampu

memenuhi kebutuhan energi untuk dapur di 210 rumah dari total sekitar 1000

rumah di seluruh desa.

Proses pembuatan biogas dari limbah cair tahu di desa kalisari sendiri

terdapat pada BIOLITA, ada yang sudah baik dan ada yang masih kurang, berikut

penjelasannya

1. BIOLITA I
Biolita ini masih sangat sederhana dalam hal sistem pengolahan air limbah

tahu yang dihasilkan dari industri tahu di Desa Kalisari. Hal ini terjadi karena
sistem yang dibangun masih menimbulkan bau tidak sedap yang sangat

menyengat dan tidak ada IPAL lanjutan sehingga air yang dihasilkan masih belum

bisa digunakan untuk tempat hidup sekelompok ikan. Proses pengolahan air

limbah tahu pada BIOLITA I adalah sebagai berikut:

a. Bak penampung tanpa tutup dengan sistem pompa yang akan mengalirkan

limbah ke bak selanjutnya

b. Bak digester (berisi potongan bambu dan kotoran sapi)

c. Gas Holder (berfungsi untuk menampung air limbah yang sudah diproses

dari Bak Digester disertai dengan akumulasi gas yang dihasilkan oleh

Bakteri). Air limbah yang terakumulasi akan terbuang bersama aliran air

sedangkan gas akan terakumulasi dan masuk ke saluran pipa-pipa kecil

utnuk selanjutnya disalurkan ke rumah warga.

d. Pembuangan ke saluran air dengan sistem aliran.

2. BIOLITA IV
Berdiri pada tahun 2013 dengan sistem pengolahan air limbah tahu yang

sedikit lebih maju dari sistem BIOLITA II. Hal ini terjadi karena sistem yang

dibangun dilengkapi juga dengan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)

sehingga bau menyengat sudah tidak muncul dan ikan masih dapat tetap hidup

pada air buangan pabrik tersebut. Berikut ini adalah proses pengolahan air limbah

tahu pada BIOLITA IV

a. Bak Penangkap/Penampung dibangun dibawah tanah yang dilengkapi

dengan penutup dan bekerja dengan sistem gravitasi untuk mengalirkan air

limbah ke bak selanjutnya. Air limbah tahu dari masing-masing UKM di

Desa Kalisari akan melewati pipa-pipa besar dan berujung pada bak
penampung ini. Ada 2 bak penampung dengan tinggi 3 meter dan

berkapasitas hingga 16.000 liter.

Gambar 3. Salauran penyaluran limbah cair dan bak penampung.

b. Bak Digester dibangun dibawah tanah yang dilengkapi dengan penutup

serta ada media berupa potongan bambu dan kotoran sapi.

Ditambahkannya kedua media tersebut berfungsi untuk pembibitan awal

serta proses fermentasi air limbah yang diubah menjadi biogas. Air limbah

tahu merupakan nutrisi yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroba

terutama bakteri yang ada pada kotoran sapi. Saat proses metabolisme,

bakteri tersebut akan menghasilkan metabolit berupa gas-gas yang jika

diakumulasikan akan dapat dimanfaatkan untuk biogas yang dapat

memenuhi kebutuhan memasak rumah tangga sehari-hari. Bak digester ini

juga memiliki kapasitas yang sama dengan bak penampung yaitu sebesar

16.000 liter. Sistem ini juga dilengkapi dengan glass book yang berfungsi

sebagai sistem kontrol media pada bak digester. Jika banyak terbentuk
gelembung gas pada glass book maka proses fermentasi pada bak digester

juga berjalan dengan baik.

Gambar 4. Digester.

c. Gas Holder (berfungsi untuk menampung air limbah yang sudah diproses

dari Bak Digester disertai dengan akumulasi gas yang dihasilkan oleh

Bakteri). Air limbah yang terakumulasi akan masuk ke sistem IPAL

sedangkan gas akan terakumulasi dan masuk ke saluran pipa-pipa kecil

utnuk selanjutnya disalurkan ke rumah warga.

Gambar 5. Gas Holder.


d. IPAL (Instalasi Pengolahan Air Limbah)

Setelah limbah air tahu diolah di bak digester dan dilanjut melalui gas

holder, air limbah ini akan mengalir ke dalam sistem IPAL. Didalam IPAL

ada beberapa kali penyaringan yaitu dengan sabut kelapa dan bak

penyaringan sepanjang kurang lebih 1 meter. Kemudian setelah melewati

sistem penyaringan itu air bisa langsung dibuang ke saluran air. Dengan

penambahan sistem IPAL ini air limbah yang dibuang ke saluran air masih

bisa digunakan untuk tempat hidup ikan sehingga tingkat pencemaran

limnbah air tahu ini dapat diminimalisir.

Gambar 6. Saluran pengolahan limbah.

Secara keseluruhan adanya program pemerintah ini sangat membantu warga

dalam menyelesaikan masalah warga yang selama ini mengganggu, dan warga

kedepannya dapat di buatkan kembali pengolahan limbah cair tahu menjadi biogas

agar semmua pengrajin tahu dapat terkena semua manfaatnya.


V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Pada setiap produksi tahu di semua pabrik tahu pasti terdapat limbah sama

halnya pada pabrik tahu yang berada di desa kalisari cilongok, dari hasil

sampingan itu terdapat limbah yaitu limbah cair dan endapan. Limbah endapan

dari proses produksi tahu sudah banyak di olah menjadi kripik atau pun hasil lain

yang dapat di konsumsi karena rasanya yang masih cukup enak dan terdapat

nutrisi di dalamnya, tatapi beda halnya dengan limbah cair, limbah yang

mengandung zat tertentu harus di olah sedemikian rupa agar tak mencemari

lingkungan, dan sekarang sudah dapat di olah menjadi biogas limbah cair dari

produksi tahu.

Proses pembuatan biogas dari limbah tahu yaitu limbah cair dari pengrajin

di alirkan melalui pipa ke Bak penampung selanjutnya masuk pada bak digester

(berisi potongan bambu dan kotoran sapi) dan terjadilah proses pembuatan biogas

CH4, setelah terbantuk gas masuk pada Gas Holder (berfungsi untuk menampung

air limbah yang sudah diproses dari Bak Digester disertai dengan akumulasi gas

yang dihasilkan oleh Bakteri). Air limbah yang terakumulasi akan terbuang

bersama aliran air sedangkan gas akan terakumulasi dan masuk ke saluran pipa-

pipa kecil utnuk selanjutnya disalurkan ke rumah warga, air limbah dari proses

masuk ke saluran pembuangan yang diproses sehingga air tidak mencemari

lingkungan.
B. Saran

Desa kalisari sudah termasuk desa yang berkembang baik karena sudah

dapat menciptakan mandiri energi. Bantuan dari pemerintah sangatlah penting

untuk terciptanya masyarakat yang maju, semoga ke depannya desa desa di

indonesia mempunyai ciri khas yang berpotensi menciptakan manfaat yang baik.
DAFTAR PUSTAKA

Achsin Utami. 1992. Evaluasi biodegrability dari air Limbah Untuk menentukan
pengolahannya, sub dir pengendalian dan mitigasi bencana,BPPT,Jakarta
Banyumaskab.go.id. 2016. KALISARI DIPERKENALKAN TEKNOLOGI
MANDIRI ENERGI http://kalisari. cilongokkec. banyumaskab.go.id/read/
17548/kalisari- diperkenalkan- teknologi-mandiri-energi#.V1ZQuflEm00. di
akses 7 juni 2016.
Bocahilang.com. 2016. Mandirinya Desa Kalisari Biogas dan Pemasaran Tahu
https://jejak- /2016/05/24/ mandirinya-desa-kalisari-biogas-dan-
pemasaran-tahu/ di akses 7 juni 2016.