Anda di halaman 1dari 6

SOP PEMERIKSAAN MATA

No.Dokumen :
No. Revisi :
SOP
Tanggal Terbit :
Halaman :1-3
Kepala UPT Puskesmas
Dinas Kesehatan Palingkau
Tanda tangan :
UPT Puskesmas dr. Timothy Von Simon
Palingkau NIP. 19790612 200802 1
001

1. PengertianSuatu pemeriksaan yang di lakukan untuk mengetahui adanya gangguan


kesehatan mata.
2. Tujuan 1. Mengidentifikasi jenis gangguan kesehatan mata untuk mencegah serta
menentukan terapi/pengobatan, penanganan lebih lanjut dan sebagai
dasar untuk melakukan rujukan ke pelayanan kesehatan rujukan / Rumah
Sakit sesuai Standar.
2. Sebagai pedoman bagi petugas untuk melaksanakan pemeriksaan Mata
sesuai standar
3. Kebijakan Surat Keputusan Kepala UPT Puskesmas Palingkau Nomor Tentang
Survei kepuasan pelanggan.
4. Standar Dokter : 1 orang
Tenaga Perawat : 1 orang
5. Sarana dan 1.Sarana Non Medis :
Prasarana a. Ruang Pemeriksaan
Ukuran minimal 4 m x 4 m
Ventilasi dan pencahayaan yang cukup
Ruangan bersih dan rapi
Wastafel dengan air yang mengalir, dilengkapi dengan sabun
cair serta handuk tangan yang bersih / disposible tissue
b. Mebelair
Meja kursi satu set untuk pemeriksa dan pasien serta pengantar
Tempat tidur
c. Lain lain
Tempat sampah medis dan non medis masing masing 1 buah
Buku register pasien
Status / lembar rekam medis
Informed consent
Kertas resep
Blanko permintaan laboratorium
Alat tulis menulis
Formulir rujukan
Surat kabar atau majalah
Penggaris kecil
Komputer
Surat kabar
Penggaris kecil
2.Sarana Medis :
Stetoskop dan tensimeter
Pinhole (cakram berlubang)
Snellen chart
Penutup 1 mata (okluder)
Trial Frame
Trial lensa
Isihara test
Loupe
Senter
Optalmoskop
Kartu kipas
Tonometer
Kapas steril
APD

5. Prosedur 1. Anamnesa
Tetap 2. Pemeriksaan
3. Diagnosa
4. Penatalaksanaan
5. Konseling
Pencatatan dan pelaporan
6. Cara 1. ANAMNESA
Melaksanakan Menyapa pasien dengan ramah, sambil menatap mata pasien dengan
Tiap Kegiatan lembut dan mengucapkan salam
Bila kunjungan yang pertama perlu menanyakan identitas pasien :Nama ,
umur, alamat rumah, pekerjaan.
Bila kunjungan ulang, maka jawaban pasien dicocokkan dengan kartu
status pasien
Bertanya dengan ramah dan hati-hati tentang
Riwayat Penyakit :
Tentukan masalah yang mendorong klien untuk mencari bantuan
kesehatan.
Tanyakan pada klien adakah kelopak mata yang turun menutup
terus menerus, Nyeri mata, foto phobia (kerentaan terhadap cahaya)
rasa seperti terbakar pada mata, gatal, air mata, kotoran mata yang
berlebihan, diplopia (pandangan ganda), pandangan kabur ,
perasaan adanya film diatas lapang penglihatan, mengambang
(titik hitam kecil yang tampak menghilang pada lapang
penglihatan), cahaya kilatan, lingkaran hitam (halo) di seputar
cahaya.
Tentukan apakah klien mempunyai riwayat penyakit mata, trauma
pada mata, diabetes, hipertensi, atau masalah visual
Tentukan apakah ada riwayat keluarga dengan gangguan mata,
meliputi gloukoma atau retinitis pigmentosa
Kaji riwayat pekerjaan klien mengenai aktivitas kerja yang
memerlukan kerja tertutup, kerja yang melibatkan computer, atau
aktivitas seperti pengelas, terpajan langsung dengan bahan kimia
yang membuat resiko cedera mata.
Tanyakan pada klien apakah memakai kaca mata, atau lensa kontak
atau tidak
Tentukan tanggal terakhir klien memeriksakan mata.
Kaji obat obatan yang sudah di pakai termasuk tetes mata.
2. PEMERIKSAAN
Pemeriksaan dengan cara :
KETAJAMAN PENGLIHATAN
Tahap I
i. Lakukan pemeriksaan sekilas dengan meminta klien membaca surat
kabar/majalah.Pastikan pencahayaan cukup. Klien berkacamata
seharusnya memakai kecamatanya selama tahap pemreksaan ini.
Perhatikan cara klien memegang lembaran yang dibaca dari matanya.
ii. Pastikan klien tidak buta huruf. Mintalah klien agar membaca dengan
keras untuk memastikan bahwa klien tidak buta huruf. Bila klien
menghadapi kesulitan lanjutkan pengujian ke tahap II
Tahap II
i. Untuk pemeriksaan yang akurat gunakan lembar pemeriksaan Snellen.
Pastikan bahwa lembaran pemeriksa benar benar diterangi. Buat klien
berdiri 20 kaki (6,1 m) jauhnya dari lembar Snellen atau duduk di
kursi pengujian yang telah terpasang khusus bersebrangan dengan
layar periksa
ii. Minta klien untuk membaca huruf huruf pada layar dimulai dari garis
yang mana saja, pertama dengan kedua mata terbuka dan kemudian
dengan satu mata terpisah (mata lainnya ditutupi)
iii. Selalu menguji pertanma kali tanpa kacamata. Kemudian bila
memakai kacamata jarak jauh, ulangi pengujian. Tentukan baris
terkecil dimana klien dapat membaca seluruh huruf dengan benar
baca ketajaman untuk garis tersebut.
iv. Bila klien tidak bisa membaca, gunakan kartu E dan tentukan arah
tangan huruf E . Pada anak kecil, gunakan lembaran dengan
gambaran obyek yang dikenal. Catat nilai ketajaman penglihatan
untuk masing masing mata dan kedua mata dalam dua nilai :
Pembilang adalah jarak dari lembar pemeriksaan ke klien
dalam ukuran kaki.
Penyebut adalah nomor standar untuk garis tersebut pada
lembar pemeriksa ( contoh : 20/80 ). Nomor standar ini adalah
jarak dimana mata normal dapat membaca baris tersebut.
Tahap III
i. Uji masing-masing mata dengan klien membaca kartu indek dengan
menutupi satu mata bergiliran
ii. Jangan menggunakan tangan untuk menutupi mata
iii. Minta klien dengan gangguan penglihatan parah untuk menghitung
jari jari yang diacungkan kurang lebih satu kaki ( 30 cm ) dari wajah
klien.
iv. Bila klien gagal dalam kedua tes tersebut, sinari mata klien dengan
senter kecil dan kemudian padamkan cahayanya . Tanyakan apakah
klien melihat cahaya.
Hasil Normal :
Nilai normal ketajaman penglihatan adalah 20/20
Catat, apabila ketajaman penglihatan diukur dengan kacamata
perbaikan atau lensa kontak ( cc ) atau tanpa perbaikan ( sc ).
Penyimpangan dari Normal :
Nilai ketajaman penglihatan 20/200 dianggap buta total

PEMERIKSAAN LAPANG PENGLIHATAN


Pemeriksaan lapang penglihatan dengan cara :

i. Buat klien duduk atau berdiri 2 kaki 60 cm jauhnya, berhadapan


dengan petugas sejajar ketinggian mata.
ii. Minta klien untuk menutupi atau melapisi dengan perlahan satu mata
menggunakan kartu indeks dan menatap mata petugas berlawanan
arah contoh mata kiri klien, mata kanan petugas-
iii. Tutup atau lapisi mata petugas yang berlawanan dengan mata klien
sehingga lapang penglihatan petugas tidak bertumpang tindih dengan
lapangan penglihatan klien.
iv. Gerakkan jari dengan jarak sebanding panjang lengan diluar lapang
penglihatan.
v. Minta klien untuk mengatakannya bila melihat jari petugas.
vi. Perlahan tarik jari petugas mendekat. Jari selalu dijaga tetap di tengah
anatara petugas dan klien.
vii. Ulangi prosedur pada sisi yang lain, atas dan bawah. Selalu harus
membandingkan titik dimana petugas melihat jari tersebut memasuki
lapang penglihatan petugas dan titik di mana klien melihatnya.
viii. Ulangi prosedur dengan ke empat arah pada mata lainnya.
ix. Bila klien melihat jari sedikit lebih lama dari petugas, klien
mengalami penyempitan lapang penglihatan.
PEMERIKSAAN VISUS
Pemeriksaan visus dengan cara :
I. Kartu diletakkan pada jarak 5 atau 6 meter dari pasien dengan posisi
lebih tinggi atau sejajar dengan mata pasien.
Bila jarak 5 meter, maka visus normal akan bernilai 5/5 artinya mata
normal dapat melihat pada jarak 5 meter, pasien juga dapat melihat
pada jarak 5 meter. Bila berjarak 6 m, berarti visus normalnya 6/6.
Satuan selain meter ada kaki = 20/20, ada juga log (logaritma).
II. Pastikan cahaya harus cukup
III. Bila ingin memeriksa visus mata kanan, maka mata kiri harus ditutup
dan pasien diminta membaca kartu.
IV. Cara menilai visus dari hasil membaca kartu :
a) Bila pasien dapat membaca kartu pada baris dengan visus 5/5
atau 6/6, maka tidak usah membaca pada baris berikutnya =>
visus normal
b) Bila pasien tidak dapat membaca kartu pada baris tertentu di atas
visus normal, cek pada 1 baris tersebut
i. Bila cuma tidak bisa membaca 1 huruf, berarti visusnya
terletak pada baris tersebut dengan false 1.
ii. Bila tidak dapat membaca 2, berarti visusnya terletak pada
baris tersebut dengan false 2.
iii. Bila tidak dapat membaca lebih dari setengah jumlah huruf
yang ada, berarti visusnya berada di baris tepat di atas baris
yang tidak dapat dibaca.
iv. Bila tidak dapat membaca satu baris, berarti visusnya terdapat
pada baris di atasnya.
c) Bila terdapat penurunan visus, maka cek dengan menggunakan pinhole
(alat untuk memfokuskan titik pada penglihatan pasien)
d) Bila visus tetap berkurang => berarti bukan kelainan refraksi.
e) Bila visus menjadi lebih baik dari sebelumnya => berarti merupakan
kelainan refraksi
PEMERIKSAAN TONOMETER
Pemeriksaan tonometer dengan cara :
Menggunakan Tonometer dari Schiotz.
i. Klien diminta tidur terlentang di tempat tidur.
ii. Mata penderita terlebih dulu ditetesi dengan larutan anestesi lokal-
pantokain 0,5%, masing-masing 1 tetes. Ditunggu sampai klien tidak
merasa perih.
iii. Kelopak mata klien dibuka dengan telunjuk dan ibu jari jangan
tertekan bola mata pasien-
iv. Pasien diminta meletakkan ibu jari tangannya di depan matanya atau
pasien melihat ke langit-langit ruang pemeriksaan.
v. Tonometer diletakkan dengan perlahan-lahan dan hati-hati diatas
cornea penderita.
vi. Setelah telapak tonometri menunjukkan angka yang tetap,dibaca nilai
tekanan pada skala busur schiotz yang berantara 0-15
vii. Misalnya menunjukkan angka 5 dengan beban 5.5, maka tekanan bola
matanya ialah 5/5.5. lalu carilah tabel konversi yang selalu ada pada
setiap tonometer. Misssalnya untuk 5/5.5 akan terdapat angka
konversi 15.0 mmHg.
viii. Apabila dengan beban 5.5 jarum skala tidak bergerak atau bergerak
Cuma sedikit, misalnya hanya pada angka 1-2, maka gantilah beban
tonometer dengan beban 7.5. apabila dengan beban ini angka skala
menunjukkan angka 4, maka tekanan bola mata ialah 4/7.5. lalu
bacalah tabel konversi untuk mendapatkan angka untuk itu.
ix. Tekanan bola mata yang disebut normal ialah yang berkisar antara
15-22mmHg. Jika tekanan bola mata di bawah 10 mmHg, maka
berarti rendah dan bila diatas 25 mmHg berati tinggi.

6. DIAGNOSA
Dari hasil pemeriksaan didapatkan diagnosa :
Katarak sesuai SOP
Kelainan Refraksi sesuai SOP
Glaukoma sesuai SOP
Konjungtivitis sesuai SOP
Xerofthalmia sesuai SOP
Buta Warna sesuai SOP

4. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan Katarak sesuai SOP
Penatalaksanaan Kelainan Refraksi sesuai SOP
Penatalaksanaan Glaukoma sesuai SOP
Penatalaksanaan Konjungtivitis sesuai SOP
Penatalaksanaan Xerofthalmia sesuai SOP
Penatalaksanaan Buta Warna sesuai SOP

5. KONSELING
Konseling Katarak sesuai SOP
Konseling Kelainan Refraksi sesuai SOP
Konseling Glaukoma sesuai SOP
Konseling Konjungtivitis sesuai SOP
Konseling Xerofthalmia sesuai SOP
Konseling Buta Warna sesuai SOP

6. PENCATATAN DAN PELAPORAN


Pencatatan dan pelaporan Katarak sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Kelainan Refraksi sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Glaukoma sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Konjungtivitis sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Xerofthalmia sesuai SOP
Pencatatan dan pelaporan Buta Warna sesuai SOP
7. Refrensi Peraturan menteri kesehatan republik indonesia Nomor 29TAHUN 2016
Tentang Penyelenggaraan pelayanan kesehatan mata Di fasilitas pelayanan
kesehatan.
8. Unit Terkait Poli Umum, Poli Umum Mata
9. Dokumen Prosedur tindak perbaikan
Terkait Daftar keluhan pelanggan
keluhan pelanggan
No Yang dirubah Isi Perubahan Tgl. Mulai diberlakukan.
10. Rekaman
historis
perubahan.