Anda di halaman 1dari 24

RUANG KOTA JALAN KEMANG UTARA IX

Mata Kuliah : Arsitektur Perkotaan


Dosen : Rully Firman, S.T.

Disusun Oleh:
Nama : Rio Fahrizal 201445500117
Kelas : S.6.C

PROGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS TEKNIK, MATEMATIKA & ILMU PENGETAHUAN ALAM
(FTMIPA)
UNIVERSITAS INDRAPRASTA (UNINDRA) PGRI
2017
I. PENDAHULUAN

Perkembangan kota tergantung dari lokasi, kepadatan kota, dan berkaitan dengan masa
lalu atau sejarah terbentuknya kota serta berkaitan dengan masa yang akan datang
(Lynch,1992:254). Seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan kemajuan
teknologi, perkembangan kota juga berjalan sesuai dengan kebutuhannya yang makin
berkembang. Perkembangan tersebut berpengaruh terhadap sikap dan perilaku penduduk
masyarakat kota selaku pengguna lahan kawasan perkotaan. Dengan demikian terjadi
adanya perubahan bentuk keragaman kegiatan penduduk serta pemanfaatan kawasan kota
di lingkungan kawasan yang mereka diami.
Salah satu perkembangan yang dapat diamati adalah pesatnya perkembangan ekonomi
di kota Medan yang dapat menimbulkan dampak yang begitu luas di semua aspek. Dampak
perkembangan ekonomi tersebut antara lain pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor.
Tingkat pertumbuhan volume lalu lintas dari tahun ke tahun mengakibatkan peningkatan
kebutuhan prasarana lalu lintas. Menjamurnya pembangunan tempat-tempat komersial juga
merupakan dampak dari berkembangnya kehidupan ekonomi yang berlangsung di
masyarakat. Bangunan komersial seperti pusat pertokoan, toko serba ada (swalayan), ruko,
dan perkantoran biasanya diikuti oleh kehadiran sektor informal (pedagang kaki lima).
Aktivitas PKL sebagai aktivitas pendukung (activity support) suatu kawasan komersial
merupakan salah satu dari delapan elemen-elemen perancangan kota. Keberadaannya
saling terkait dengan elemen perancangan kota lainnya seperti pedestrian ways, dan
circulation and parking (Shirvani, 1985:7). Elemen perancangan kota sirkulasi masih
menurut Shirvani (1985:26) merupakan salah satu alat paling bermanfaat untuk
membangun lingkungan kota. Sirkulasi dapat membentuk, mengarahkan dan mengontrol
pola aktivitas dan pengembangan kota, ketika sistem transportasi jalan umum, pedestrian
ways dan sistem transit menghubungkan dan memusatkan pergerakan. Jalur pejalan kaki
(pedestrian ways) dalam pengertian umum adalah merupakan bagian dari jalan yang
berfungsi sebagai ruang sirkulasi bagi pejalan kaki yang terpisah dari sirkulasi kendaraan.
Pemisahan sirkulasi pejalan kaki dengan sirkulasi kendaraan diperlukan untuk
keselamatan pejalan kaki karena tergesernya pejalan kaki oleh kendaraan yang semakin
meningkat jumlah dan kecepatannya. Perkembangan suatu kota dengan aktivitas kegiatan
manusia membuat fungsi-fungsi elemen kota dan sarana transportasi mempunyai
kedudukan penting, sehingga menyebabkan pejalan kaki semakin tergeser perannya. Lebih
memprihatinkan lagi ketika ruang sirkulasi pejalan kaki digunakan untuk kegiatan lain
misalnya untuk tempat parkir kendaraan bermotor (on street parking) dan tempat berjualan
pedagang kaki lima (activity support). Timbulnya kegiatan tersebut karena adanya interaksi
dengan pejalan kaki dan adanya ruang yang memberikan peluang kegiatan tersebut. Jadi
ruang sirkulasi pejalan kaki merangsang tumbuhnya kegiatan-kegiatan lain seperti
pedagang kaki lima (sektor informal) dan tempat parkir (on street parking).
II. LANDASAN TEORI

II.I. KEVIN LINCH

Kevin Lynch Andrew (1918 Chicago, Illinois - 1984 Vineyard Martha, Massachusetts)
adalah seorang perencana perkotaan Amerika dan penulis. Lynch perencana perkotaan
paling terkenal, pada gambar kota diterbitkan pada tahun 1960, adalah hasil dari penelitian
lima tahun ketika melihat dan mengatur informasi spasial karena mereka menavigasi
melalui kota-kota. Menggunakan tiga kota yang berbeda sebagai contoh (Boston, Jersey
City, dan Los Angeles), Lynch melaporkan bahwa pengguna memahami lingkungan
mereka dengan cara yang konsisten dan dapat diprediksi, membentuk peta mental dengan
lima elemen:

PATHS (Jalur, Jalan)


Umumnya jalur atau lorong berbentuk pedestrian dan jalan raya. Jalur merupakan
penghubung dan jalur sirkulasi manusia serta kendaraan dari sebuah ruang ke ruang
lain di dalam kota.
Secara fisil paths adalah merupakan salah satu unsur pembentuk kota. Path sangat
beraneka ragam sesuai dengan tingkat perkembangan kota, lokasi geografisnya,
aksesibilitasnya dengan wilayah lain dan sebagainya. Berdasarkan elemen
pendukungnya , paths dikota meliputi jaringan jalan sebagai prasarana pergerakan
dan angkutan darat, sungai, laut, udara, terminal/pelabuhan, sebagai sarana
perangkutan. Jaringan perangkutan ini cukup penting khususnya sebagai alat
peningkatan perkembangan daerah pedesaan dan jalur penghubung baik produksi
maupun komunikasi lainnya.
Berdasarkan frekuensi, kecepatan dan kepentingannya jaringan penghubung di
kota dikelompokan menjadi :
Jalan arteri primer
Jalan arteri sekunder
Jalan kolektor primer
Jalan kolektor sekunder
Jalan utama lingkungan
Jalan lingkungan

Paths ini akan terdiri dari eksternal akses dan internal akses, yaitu jalan-jalan
penghubung antar kota dengan wilayah lain yang lebih luas. Jaringan jalan adalah
pengikat dalam suatu kota, yang merupakan suatu tindakan dimana kita menyatukan
semua aktivitas dan menghasilkan bentuk fisik suatu kota.

NODES (SIMPUL)
Simpul merupakan pertemuan antara beberapa jalan/lorong yang ada di kota,
sehingga membentuk suatu ruang tersendiri. Masing-masing simpul memiliki ciri
yang berbeda, baik bentukan ruangnya maupun pola aktivitas umum yang terjadi.
Biasanya bangunan yang berada pada simpul tersebut sering dirancang secara khusus
untuk memberikan citra tertentu atau identitas ruang.
Nodes merupakan suatu pusat kegiatan fungsional dimana disini terjadi suatu pusat
inti/core region dimana penduduk dalam memenuhi kebutuhan hidup semuanya
bertumpu di nodes. Nodes ini juga juga melayani penduduk di sekitar wilayahnya
atau daerah hinterland-nya.

DISTRICK (DISTRIK)
Suatu daerah yang memiliki ciri-ciri yang hampir sama dan memberikan citra
yang sama. Distrik yang ada dipusat kota berupa daerah komersial yang didominasi
oleh kegiatan ekonomi.
Daerah pusat kegiatan yang dinamis, hidup tetapi gejala spesialisasinya semakin
ketara. Daerah ini masih merupakan tempat utama dari perdagangan, hiburan-hiburan
dan lapangan pekerjaan. Hal ini ditunjang oleh adanya sentralisasi sistem transportasi
dan sebagian penduduk kota masih tingal pada bagian dalam kota-kotanya
(innersections). Proses perubahan yang cepat terjadi pada daerah ini sangat sering
sekali mengancam keberadaan bangunan-bangunan tua yang bernilai historis tinggi.
Pada daerah-daerah yang berbatasan dengan distrik masih banyak tempat yang agak
longgar dan banyak digunakan untuk kegiatan ekonomi antara lain pasar lokal,
daerah-daerah pertokoan untuk golongan ekonomi rendah dan sebagian lain
digunakan untuk tempat tinggal.

LANDMARKS (TENGARAN)
Tengaran merupakan salah satu unsur yang turut memperkaya ruang kota.
Bangunan yang memberikan citra tertentu, sehingga mudah dikenal dan diingat dan
dapat juga memberikan orientasi bagi orang dan kendaraan untuk bersirkulasi.
Landmarks merupakan ciri khas terhadap suatu wilayah sehingga mudah dalam
mengenal orientasi daerah tersebut oleh pengunjung. Landmarks merupakan citra
suatu kota dimana memberikan suatu kesan terhadap kota tersebut.

EDGES (TEPIAN)
Bentukan massa-massa bangunan yang membentuk dan membatasi suatu ruang di
dalam kota. Ruang yang terbentuk tergantung kepada kepejalan dan ketinggian
massa.
Daerah perbatasan biasanya terdiri dari lahan tidak terbangun. Kalau dilihat dari
fisik kota semakin jauh dari kota maka ketinggian bangunan semakin rendah dan
semakin rendah sewa tanah karena nilai lahannya rendah (derajat aksesibilitas lebih
rendah), mempunyai kepadatan yang lebih rendah, namun biaya transpotasinya lebih
mahal.

II.II. HAMID SHIRVANI

Setiap perancangan kota harus memperhatikan elemen-elemen perancangan yang ada


sehingga nantinya kota tersebut akan mempunyai karakteristik yang jelas. Menurut Hamid
Shirvani dalam bukunya Urban Design Process terdapat delapan macam elemen yang
membentuk sebuah kota (terutama pusat kota), yaitu:

TATA GUNA LAHAN (LAND USE)


Prinsip Land Use adalah pengaturan penggunaan lahan untuk menentukan pilihan
yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga kawasan tersebut
berfungsi dengan seharusnya.
Tata Guna Lahan merupakan rancangan dua dimensi berupa denah peruntukan
lahan sebuah kota. Ruang-ruang tiga dimensi (bangunan) akan dibangun di tempat-
tempat sesuai dengan fungsi bangunan tersebut.
Terdapat perbedaan kapasitas (besaran) dan pengaturan dalam penataan ruang
kota, termasuk di dalamnya adalah aspek pencapaian, parkir, sistem transportasi yang
ada, dan kebutuhan untuk penggunaan lahan secara individual. Pada prinsipnya,
pengertian land use (tata guna lahan) adalah pengaturan penggunaan lahan untuk
menentukan pilihan yang terbaik dalam mengalokasikan fungsi tertentu, sehingga
dapat memberikan gambaran keseluruhan bagaimana daerah-daerah pada suatu
kawasan tersebut seharusnya berfungsi.

BENTUK DAN MASSA BANGUNAN (BUILDING FORM AND MASSING)


Bentuk dan massa bangunan ditentukan oleh tinggi dan besarnya bangunan, KDB,
KLB, sempadan, skala, material, warna, dan sebagainya. Prinsip-prinsip dan teknik
Urban Design yang berkaitan dengan bentuk dan massa bangunan meliputi:
Scale, berkaitan dengan sudut pandang manusia, sirkulasi, dan dimensi
bangunan sekitar.
Urban Space, sirkulasi ruang yang disebabkan bentuk kota, batas, dan tipe-tipe
ruang.
Urban Mass, meliputi bangunan, permukaan tanah dan obyek dalam ruang
yang dapat tersusun untuk membentuk urban space dan pola aktifitas dalam
skala besar dan kecil.

Building form and massing membahas mengenai bagaimana bentuk dan massa-
massa bangunan yang ada dapat membentuk suatu kota serta bagaimana hubungan
antar-massa (banyak bangunan) yang ada. Pada penataan suatu kota, bentuk dan
hubungan antar-massa seperti ketinggian bangunan, jarak antar-bangunan, bentuk
bangunan, fasad bangunan, dan sebagainya harus diperhatikan sehingga ruang yang
terbentuk menjadi teratur, mempunyai garis langit-horizon (skyline) yang dinamis
serta menghindari adanya lost space (ruang tidak terpakai).
Building form and massing dapat meliputi kualitas yang berkaitan dengan
penampilan bangunan, yaitu : ketinggian bangunan, kepejalan bangunan, KLB,
KDB, garis sempadan bangunan, langgam, skala, material, tekstur, warna.

SIRKULASI DAN PERPARKIRAN


Sirkulasi kota meliputi prasarana jalan yang tersedia, bentuk struktur kota,
fasilitas pelayanan umum, dan jumlah kendaraan bermotor yang semakin meningkat.
Semakin meningkatnya transportasi maka area parkir sangat dibutuhkan terutama di
pusat-pusat kegiatan kota (CBD).
Sirkulasi adalah elemen perancangan kota yang secara langsung dapat
membentuk dan mengkontrol pola kegiatan kota, sebagaimana halnya dengan
keberadaan sistem transportasi dari jalan publik, pedestrian way, dan tempat-tempat
transit yang saling berhubungan akan membentuk pergerakan (suatu kegiatan).
Sirkulasi di dalam kota merupakan salah satu alat yang paling kuat untuk
menstrukturkan lingkungan perkotaan karena dapat membentuk, mengarahkan, dan
mengendalikan pola aktivitas dalam suatu kota. Selain itu sirkulasi dapat membentuk
karakter suatu daerah, tempat aktivitas dan lain sebagainya.
Tempat parkir mempunyai pengaruh langsung pada suatu lingkungan yaitu pada
kegiatan komersial di daerah perkotaan dan mempunyai pengaruh visual pada
beberapa daerah perkotaan. Penyediaan ruang parkir yang paling sedikit memberi
efek visual yang merupakan suatu usaha yang sukses dalam perancangan kota.

RUANG TERBUKA (OPEN SPACE)


Open space selalu berhubungan dengan lansekap. Lansekap terdiri dari elemen
keras dan elemen lunak. Open space biasanya berupa lapangan, jalan, sempadan,
sungai, taman, makam, dan sebagainya.
Berbicara tentang ruang terbuka (open space) selalu menyangkut lansekap.
Elemen lansekap terdiri dari elemen keras (hardscape seperti : jalan, trotoar, patung,
bebatuan dan sebagainya) serta elemen lunak (softscape) berupa tanaman dan air.
Ruang terbuka biasa berupa lapangan, jalan, sempadan sungai, green belt, taman dan
sebagainya.
Dalam perencanan open space akan senantiasa terkait dengan perabot taman/jalan
(street furniture). Street furniture ini bisa berupa lampu, tempat sampah, papan nama,
bangku taman dan sebagainya.

PEDESTRIAN
Sistem pejalan kaki yang baik adalah:
Mengurangi ketergantungan dari kendaraan bermotor dalam areal kota.
Meningkatkan kualitas lingkungan dengan memprioritaskan skala manusia.
Lebih mengekspresikan aktifitas PKL dan mampu menyajikan kualitas udara.
Elemen pejalan kaki harus dibantu dengan interaksinya pada elemen-elemen dasar
desain tata kota dan harus berkaitan dengan lingkungan kota dan pola-pola aktivitas
sertas sesuai dengan rencana perubahan atau pembangunan fisik kota di massa
mendatang.
Perubahan-perubahan rasio penggunaan jalan raya yang dapat mengimbangi dan
meningkatkan arus pejalan kaki dapat dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek
sebagai berikut :
Pendukung aktivitas di sepanjang jalan, adanya sarana komersial.
Street furniture

PERPAPANAN (SIGNAGES)
Perpapanan digunakan untuk petunjuk jalan, arah ke suatu kawasan tertentu pada
jalan tol atau di jalan kawasan kota. Tanda yang didesain dengan baik
menyumbangkan karakter pada fasade bangunan dan menghidupkan street space dan
memberikan informasi bisnis.
Aktivitas pendukung adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang
mendukung ruang publik suatu kawasan kota. Bentuk, lokasi dan karakter suatu
kawasan yang memiliki ciri khusus akan berpengaruh terhadap fungsi, penggunaan
lahan dan kegiatan pendukungnya. Aktivitas pendukung tidak hanya menyediakan
jalan pedestrian atau plasa tetapi juga mempertimbangkan fungsi utama dan
penggunaan elemen-elemen kota yang dapat menggerakkan aktivitas.
Meliputi segala fungsi dan aktivitas yang memperkuat ruang terbuka publik,
karena aktivitas dan ruang fisik saling melengkapi satu sama lain. Pendukung
aktivitas tidak hanya berupa sarana pendukung jalur pejalan kaki atau plaza tapi juga
pertimbangankan guna dan fungsi elemen kota yang dapat membangkitkan aktivitas
seperti pusat perbelanjaan, taman rekreasi, alun-alun, dan sebagainya.

PENDUKUNG KEGIATAN
Pendukung kegiatan adalah semua fungsi bangunan dan kegiatan-kegiatan yang
mendukung ruang public suatu kawasan kota. Bentuk activity support antara lain
taman kota, taman rekreasi, pusat perbelanjaan, taman budaya, perpustakaan, pusat
perkantoran, kawasan PKL dan pedestrian, dan sebagainya.
Penandaan yang dimaksud adalah petunjuk arah jalan, rambu lalu lintas, media
iklan, dan berbagai bentuk penandaan lain. Keberadaan penandaan akan sangat
mempengaruhi visualisasi kota, baik secara makro maupun mikro, jika jumlahnya
cukup banyak dan memiliki karakter yang berbeda. Sebagai contoh, jika banyak
terdapat penandaan dan tidak diatur perletakannya, maka akan dapat menutupi fasad
bangunan di belakangnya. Dengan begitu, visual bangunan tersebut akan terganggu.
Namun, jika dilakukan penataan dengan baik, ada kemungkinan penandaan tersebut
dapat menambah keindahan visual bangunan di belakangnya.

PRESERVASI
Preservasi harus diarahkan pada perlindungan permukiman yang ada dan urban
space, hal ini untuk mempertahankan kegiatan yang berlangsung di tempat itu.
Preservasi dalam perancangan kota adalah perlindungan terhadap lingkungan
tempat tinggal (permukiman) dan urban places (alun-alun, plasa, area perbelanjaan)
yang ada dan mempunyai ciri khas, seperti halnya perlindungan terhadap bangunan
bersejarah. Manfaat dari adanya preservasi antara lain:
Peningkatan nilai lahan.
Peningkatan nilai lingkungan.
Menghindarkan dari pengalihan bentuk dan fungsi karena aspek komersial.
Menjaga identitas kawasan perkotaan.
Peningkatan pendapatan dari pajak dan retribusi.

II.III. ROGER TRANCIK

Secara umum para arsitek tertarik mengenai teori-teori yang memandang kota sebagai
produk. Roger Trancik sebagai tokoh perancangan kota mengemukakan bahwa ketiga
pendekatan kelompok teori berikut ini adalah merupakan landasan dalam penelitian
perancangan perkotaan, baik secara historis maupun modern.
Ketiga pendekatan teori tersebut sama-sama memiliki suatu potensi sebagai strategi
perancangan kota yang menekankan produk perkotaan secara terpadu.

TEORI FIGURE/GROUND
Pada teori ini dapat dipahami melalui pola perkotaan dengan hubungan antara
bentuk yang dibangun (building mass) dan ruang terbuka (open space). Analisis
figure/ground adalah alat yang baik untuk:
Mengidentifikasikan sebuah tekstur dan pola-pola tata ruang perkotaan (urban
fabric)
Mengidentifikasi massalah keteraturan massa atau ruang perkotaan.

Kelemahan analisis figure/ground muncul dari dua segi:


Perhatiannya hanya mengarah pada gagasan-gagasan ruang perkotaan yang dua
dimensi saja.
Perhatiannya sering dianggap statis. (Markus Zahnd, 1999, p.70)
Figure/ground berisi tentang lahan terbangun (urban solid) dan lahan terbuka
(urban void). Pendekatan figure ground adalah suatu bentuk usaha untuk
memanipulasi atau mengolah pola existing figure ground dengan cara penambahan,
pengurangan, atau pengubahan pola geometris dan juga merupakan bentuk analisa
hubungan antara massa bangunan dengan ruang terbuka.
a. Urban solid
Tipe urban solid terdiri dari:
Massa bangunan, monument.
Persil lahan blok hunian yang ditonjolkan.
Edges yang berupa bangunan.

b. Urban void
Tipe urban void terdiri dari:
Ruang terbuka berupa pekarangan yang bersifat transisi antara publik dan
privat.
Ruang terbuka di dalam atau dikelilingi massa bangunan bersifat semi privat
sampai privat.
Jaringan utama jalan dan lapangan bersifat publik karena mewadahi
aktivitas publik berskala kota.
Area parkir publik bisa berupa taman parkir sebagai nodes yang berfungsi
preservasi kawasan hijau.
Sistem ruang terbuka yang berbentuk linier dan curvalinier. Tipe ini berupa
daerah aliran sungai, danau dan semua yang alami dan basah.

TEORI LINKAGE
Teori pada kelompok kedua ini dapat dipahami dari segi dinamika rupa perkotaan
yang dianggap sebagai pembangkit atau generator kota. Analisa linkage adalah alat
yang baik untuk Memperhatikan dan menegaskan hubungan-hubungan dan gerakan-
gerakan sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric).
Kelemahan analisa linkage muncul dari segi lain adalah kurangnya perhatian
dalam mendefinisikan ruang perkotaan (urban fabric) secara spatial dan kontekstual.
(Markus Zahnd, 1999, p.70)
Linkage artinya berupa garis semu yang menghubungkan antara elemen yang satu
dengan yang lain, nodes yang satu dengan nodes yang lain, atau distrik yang satu
dengan yang lain. Garis ini bisa berbentuk jaringan jalan, jalur pedestrian, ruang
terbuka yang berbentuk segaris dan sebagainya. Teori linkage melibatkan
pengorganisasian garis penghubung yang menghubungkan bagian-bagian kota dan
disain spatial datum dari garis bangunan kepada ruang. Spatial datum dapat
berupa: site line, arah pergerakan, aksis, maupun tepian bangunan (building edge).
Yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem linkage dalam sebuah
lingkungan spasial. Sebuah linkage perkotaan dapat diamati dengan cara dan
pendekatan yang berbeda, terdapat 3 pendekatan linkage perkotaan:

a. Linkage yang visual.


Dalam linkage yang visual dua atau lebih fragmen kota dihubungkan
menjadi satu kesatuan yang secara visual, mampu menyatukan daerah kota
dalam berbagai skala. Pada dasarnya ada 2 pokok perbedaan antara linkage
visual, yaitu:
Yang menghubungkan dua daerah secara netral.
Yang menghubungkan dua daerah, dengan mengutamakan satu daerah.

Lima elemen linkage visual, merupakan elemen yang memiliki ciri khas dan
suasana tertentu yang mampung menghasilkan hubungan secara visual, terdiri
dari:
Garis: menghubungkan secara langsung dua tempat dengan satu deretan
massa (bangunan atau pohon).
Koridor: dibentuk oleh dua deretan massa (bangunan atau pohon) yang
membentuk sebuah ruang.
Sisi: menghubungkan dua kawasan dengan satu massa. Mirip dengan
elemen garus namun sisi bersifat tidak langsung.
Sumbu: mirip dengan elemen koridor , namun dalam menghubungkan
dua daerah lebih mengutamakan salah satu daerah saja.
Irama: menghubungkan dua tempat dengan variasi massa dan ruang.
b. Linkage yang struktural.
Menggabungkan dua atau lebih bentuk struktur kota menjadi satu kesatuan
tatanan.Menyatukan kawasan kawasan kota melalui bentuk jaringan struktural
yang lebih dikenal dengan sistem kolase (collage). Tidak setiap kawasan
memiliki arti struktural yang sama dalam kota, sehingga cara
menghubungkannya secara hierarkis juga dapat berbeda.
Fungsi linkage struktural di dalam kota adalah sebagai stabilisator dan
koordinator di dalam lingkungannya, karena setiap kolase perlu diberikan
stabilitas tertentu serta distabilisasikan lingkungannya. Hal ini dapat dilakukan
dengan memprioritaskan sebuah daerah yang menjelaskan lingkungannya
dengan suatu struktur, bentuk, wujud, atau fungsi yang memberikan susunan
tertentu didalam prioritas penataan kawasan.
Ada tiga elemen linkage struktural yang mencapai hubungan secara
arsitektural, yaitu:
Tambahan: melanjutkan pola pembangunan yang sudah ada sebelumnya.
Sambungan: memperkenalkan pola baru pada lingkungan kawasan.
Tembusan: terdapat dua atau lebih pola yang sudah ada di sekitarnya dan
akan disatukan sebagai pola-pola yang sekaligus menembus didalam
suatu kawasan.

c. Linkage bentuk yang kolektif.


Teori linkage memperhatikan susunan dari hubungan bagian-bagian kota
satu dengan lainnya. Dalam teori linkage, sirkulasi merupakan penekanan pada
hubungan pergerakan yang merupakan kontribusi yang sangat penting. Linkage
memperhatikan dan mempertegaskan hubungan-hubungan dan pergerakan-
pergerakan (dinamika) sebuah tata ruang perkotaan (urban fabric)
Menurut Fumuhiko Maki, Linkage adalah semacam perekat kota yang
sederhana, suatu bentuk upaya untuk mempersatukan seluruh tingkatan
kegiatan yang menghasilkan bentuk fisik suatu kota. Teori ini terbagi menjadi 3
tipe linkage urban space yaitu:
Compositional form: bentuk ini tercipta dari bangunan yang berdiri
sendiri secara 2 dimensi. Dalam tipe ini hubungan ruang jelas walaupun
tidak secara langsung.
Mega form: susunan-susunan yang dihubungkan ke sebuah kerangka
berbentuk garis lurus dan hirarkis.
Group form: bentuk ini berupa akumulasi tambahan struktur pada
sepanjang ruang terbuka. Kota-kota tua dan bersejarah serta daerah
pedesaan menerapkan pola ini.

TEORI PLACE
Pada teori ketiga ini, dipahami dari segi seberapa besar kepentingan tempat-
tempat perkotaan yang terbuka terhadap sejarah, budaya, dan sosialisasinya. Analisa
place adalah alat yang baik untuk:
Memberi perngertian mengenai ruang kota melalui tanda kehidupan
perkotaannya.
Memberi pengertian mengenai ruang kota secara kontekstual.

Kelemahan analisa place muncul dari segi perhatiannya yang hanya difokuskan pada
suatu tempat perkotaan saja. (Markus Zahnd, 1999, p.70)
Trancik (1986) menjelaskan bahwa sebuah ruang (space) akan ada jika dibatasi
dengan sebuah void dan sebuah space menjadi sebuah tempat (place) kalau
mempunyai arti dari lingkungan yang berasal dari budaya daerahnya. Schulz (1979)
menambahkan bahwa sebuah place adalah sebuah space yang memiliki suatu ciri
khas tersendiri. Menurut Zahnd (1999) sebuah place dibentuk sebagai sebuah space
jika memiliki ciri khas dan suasana tertentu yang berarti bagi lingkungannya.
Selanjutnya Zahnd menambahkan suasana itu tampak dari benda konkret (bahan,
rupa, tekstur, warna) maupun benda yang abstrak, yaitu asosiasi kultural dan regional
yang dilakukan oleh manusia di tempatnya. Sebuah tempat (place) akan terbentuk
bila dibatasi dengan sebuah void, serta memiliki ciri khas tersendiri yang
mempengaruhi lingkungan sekitarnya.
Madanipour (1996) memberikan penjelasan bahwa dalam memahami tempat
(place) dan ruang (space) menyebut 2 aspek yang berkaitan:
Kumpulan dari bangunan dan artefak (a collection of building and artifacts).
Tempat untuk berhubungan sosial (a site for social relationship).
Selanjutnya menurut Spreiregen (1965), urban space merupakan pusat kegiatan
formal suatu kota, dibentuk oleh faade bangunan (sebagai enclosure) dan lantai
kota. Jadi sudah sangat jelas bahwa sebuah jalan yang bermula sebagai space dapat
menjadi place bila dilingkupi dengan adanya bangunan yang ada di sepanjang jalan,
dan atau keberadaan landscape yang melingkupi jalan tersebut, sebuah place akan
menjadi kuat keberadaannya jika didalamnya memiliki ciri khas dan suasana tertentu
yang berarti bagi lingkungannya.

II.IV. ROB KRIER

TEORI FIGURE-GROUND
Teori ini berawal dari studi tentang hubungan perbandingan lahan yang ditutupi
bangunan sebagai massa yang padat (figure) dengan ruang-ruang (voids) terbuka
(ground). Secara khusus teori ini memfokuskan diri pada pemahaman pola, tekstur
dan poche (tipologi-tipologi massa bangunan dan ruang tersebut).

Pola Massa dan Ruang


Secara teoritik ada enam tipologi pola yang dibentuk oleh hubungan massa
dan ruang yaitu pola anguler, aksial, grid, kurva linier, radial konsentris dan
organis. Pola angular adalah konfigurasi yang dibentuk oleh massa dan ruang
secara menyiku. Pola aksial adalah konfigurasi massa bangunan dan ruang di
sekitar poros keseimbangan yang tegak lurus terhadap suatu bangunan
monumentalis. Pola grid adalah konfigurasi massa dan ruang yang dibentuk
perpotongan jalan-jalan secara tegak lurus. Pola kurva linier adalah konfigurasi
massa bangunan dan ruang secara linier (lurus menerus). Pola radial konsentris
adalah konfigurasi massa dan ruang yang memusat. Sedangkan pola organis
merupakan konfigurasi massa dan ruang yang dibentuk secara tidak beraturan.
Pola konfigurasi massa bangunan (solid) dan ruang terbuka (void).
Sumber : Markus Zahn, 2000.

Tekstur perkotaan
Tekstur merupakan derajat keteraturan dan kepadatan massa dan ruang.
Menurut variasi massa dan ruangnya, secara teoritik ada tiga tipologi tekstur
perkotaan yaitu
1. Tekstur homogeny: konfigurasi yang dibentuk oleh massa dan ruangnya
yang realtif sama baik dari ukuran, bentuk dan kerapatan.
2. Tekstur heterogen: konfigurasi yang dibentuk oleh massa dan ruangnya
yang ukuran, bentuk dan kerapatannya berbenda.
3. Tekstur tidak jelas: konfigurasi yang dibentuk oleh massa dan ruangnya
yang ukuran, bentuk dan kerapatannya sangat heterogen sehingga sulit
mendefinisikannya.

Tekstur konfigurasi massa bangunan dan lingkungan.


Sumber : Markus zahn, 2000 : 81.
Kepadatan massa terhadap ruang merupakan bagian penting dalam tekstur
perkotaan maka biasanya para perancang membagi tekstur menjadi tipologi
kepadatan yaitu:
1. Tipologi kepadatan tinggi (BCR > 70 %)
2. Kepadatan sedang (BCR 50-70 %)
3. Kepadatan rendah (BCR < 50 %)

Tipologi solid (massa) dan void (ruang)


Sistem hubungan di dalam figure/ground mengenal dua kelompok elemen,
yaitu solid (massa bangunan) dan void (ruang). Secara teoritik ada tiga elemen
dasar yang bersifat solid serta empat elemen dasar yang bersifat void.
Tiga elemen solid (atau blok) adalah:
1. Blok tunggal: terdapat satu massa bangunan dalam sebuah blok yang
dibatasi jalan atau elemen alamiah
2. Blok yang mendefinisi sisi: konfigurasi massa bangunan yang menjadi
pembatas sebuah ruang.
3. Blok medan: konfigurasi yang terdiri dari kumpulan massa bangunan
secara tersebar secara luas.

Tipologi massa bangunan (Blok).


Sumber : Markus zahn, 2000 : 97.
Elemen void (ruang) sama pentingnya, karena elemen ini mempunyai
kecenderungan untuk berfungsi sebagai sistem yang memiliki hubungan erat
tata letak dan gubahan massa bangunan. Secara teoritik ada empat elemen void
yaitu:
1. Sistem tertutup yang linear: ruang yang dibatas oleh massa bangunan
yang memanjang dengan kesan terutup, biasanya adalah ruang berada di
dalam atau belakang bangunan dan umumnya bersifat private atau
khusus seperti brandgang
2. Sistem tertutup yang memusat: ruang yang dibatas oleh massa bangunan
dengan kesan terutup.
3. Sistem terbuka yang sentral: ruang yang dibatasi oleh massa dimana
kesan ruang bersifat terbuka namun masih tampak terfokus (misalnya
alun-alun, taman kota, dan lain-lain).
4. Elemen sistem terbuka yang linear merupakan tipologi ruang yang
berkesan terbuka dan linear (misalnya kawasan sungai dan lain-lain).
Dalam literatur arsitektur, elemen terbuka kadang-kadang juga diberikan
istilah soft-space dan ruang dinamis, sedangkan ruang tertutup
dinamakan hard-space dan ruang statis.

Tipologi elemen ruang (urban void).


Sumber : Markus zahn, 2000 : 97.

Rob Krier 1991 : 15-62 mengemukakan secara teoritis berbagai tipologi ruang
terbuka dan tertutup berdasarkan geometri dasar segi empat, lingkaran dan segi tiga
dengan berbagai variasinya. Tipologi-tipologi itu dihasilkan dari proses pengubahan
siku (angling), membagi (segment), menambahkan (addition), menggabungkan
(merging), menumpukkan (overlapping), menyimpangkan (distortion) bentuk dasar
segi empat, lingkaran dan segi tiga baik secara reguler (lazim sesuai dengan kaidah
merancang) maupun irreguler dalam berbagai skala.

Tipologi ruang terbuka dan tertutup berdasarkan bentuk dasar segi empat, lingkaran dan segi tiga
serta variasinya.
Sumber : Rob Krier, 1991 : 29.
Bentuk Pola Dimensi Unit Perkotaan

Sumber : Buku Perancangan Kota Secara Terpadu, Markus Zahnd


III. RUANG KOTA JALAN KEMANG UTARA IX

Jalan Kemang Utara IX masuk di dalam kawasan Kecamatan Mampang Prapatan,


Jakarta Selatan. Jalan ini merupakan salah satu akses jalan alternatif yang menghubungkan
kawasan Kemang dengan Mampang Prapatan. Jalan ini sendiri terdiri dari dua lajur satu
mengarah ke Kemang dan lajur satu lagi merupakan jalan menuju ke jalan warung jati
barat.
Permasalahan yang sering timbul di jalan ini salah satunya di sebabkan Karena
penumpukan jumlah volume kendaraaan terutama pada jam-jam sibuk, diantaranya pada
jam berangkat dan pulang kerja. Selain itu karena jalan ini melewati salah satu pasar
tradisional dan tempat penampungan sementara maka kepadatan tidak bisa di hindari.
Kecilnya ruas jalan yang disediakan tidak mampu mengimbangi aktifitas yang ada di
dalammya menyebabkan kepadatan yang sering terjadi di jalanan ini. Menumpuknya
pengunjung pasar yang memakai kendaraan dan tidak tertapung di area parkir pasar
mengakibatkan banyak pengunjung yang memarkirkan kendaraannya di tepi-tepi jalan raya
secara tidak beraturan. Ditambah lagi pasar yang sudah tidak dapat menampung jumlah
pejual yang akhirnya banyak dari pedagang memilih untuk berjualan di pingir jalan raya.
Kemudian tempat penampungan sampah sementara yang hanya memiliki satu jalur
akses kendaraan untuk keluar-masuk mengakibatkan bertambahnya permasalahan yang di
hadapi jika kita melewati jalan ini. Serta tidak tersedianya akses untuk pejalan kaki
(pedestrian) sehingga banyak dari pejalan kaki yang berlalu-lalang diantara jalan yang
mengakibatkan kemacetan. Dengan sebagian kecil permasalahan yang ada saat ini
mengakbitkan jalan ini terlihat kumuh dan tidak terawat. Berikut adalah gambar-gambar
kondisi disekitar lokasi Jalan Kemang Utara IX :
Kondisi Pasar Warung Buncit serta kendaraan yang parker di bagian depan pasar.

Kondisi tempat pembuangan sampah terpadu

Salah satu kondisi pedagang yang berjualan di luar pasar


Ruas Jalan Kemang Utara IX

Dengan kondisi yang ada sekarang dan segala persoalan yang di hadapi sekilas solusi
yang dapat ditawarkan untuk pembenahan lingkungan ini dapat dilakukan dengan cara :

Area pasar

Area pasar

Parkir

Area pasar di buat secara vertical seperti pada umumnya pengembangan pasar
tradisional modern yang dilakukan di lingkungan Pemerintahan Jakarta saat ini. Semua ini
dengan maksud agar pemanfaatan lahan yang ada bias digunakan secara maksimal, seperti
bagian dasar bangunan yang bias dimanfaatkan sebagai lahan parker sehingga tidak perlu
lagi pengunjung pasar yang parker di luar area pasar sampai ke tepi-tepi jalan raya. Sedang
bagian depan pasar digunakan bagi untuk pengunjung yang hanya parker sementara dan
untuk bongkar muat barang di pasar. Selain itu pasar yang di buat vertical bertujuan agar
dapat menampung jumlah pedagang yang sudah melampaui kapasitas yang tadinya
berdagang di sekitar area pasar itu sendiri.

Pasar Warung Buncit

Jalan Kemang Utara IX

TPST
Area Tempat Pembuangan Sampah Terpadu diperlebar dan dibuatkan akses
untuk keluar masuk kendaraan pengangkut sampah dengan tujuan agar nantinya sirkulasi
kendaraan sampah tidak mengganggu penguna jalan yang berlalu-lalang di jalan raya.
Serta di buat tertutup agar tumpukan sampah nantinya tidak terlihat dari badan jalan raya.

Area Tepi Jalan yang hanya dua lajur di buatkan pedestrian pada sisi-sisi tepi
jalannya sebagai akses untuk para pejalan kaki sehingga tidak lagi berlalu-lalang di jalan
yang digunakan untuk akses kendaraan pada pedestrian sendiri nantinya di bagian bawah
di buatkan saluran kota yang nantinya mengarah ke saluran utama kota supaya tidak
menjadikan permasalahan baru karena genangan air pada saat hujan.