Anda di halaman 1dari 8

M.

Husna Al Hasa ISSN 0216 - 3128 37

FORMASI FASA DAN MIKROSTRUKTUR BAHAN STRUK-


TUR PADUAN ALUMINIUM FERO-NIKEL HASIL PROSES
SINTESIS
M. Husna Al Hasa
Pusat Teknologi Bahan Bakar Nuklir

ABSTRAK
FORMASI FASA DAN STRUKTUR MIKRO BAHAN STRUKTUR PADUAN ALUMINIUM FERO-
NIKEL HASIL PROSES SINTESIS. Paduan Aluminium Fero-Nikel (AlFeNi) merupakan kandidat
kelongsong bahan bakar berdensitas tinggi type MTR. Paduan aluminium ferro-nikel ini merupakan hasil
sintesis dengan metoda peleburan menggunakan arc furnace. Pengamatan yang dilakukan meliputi analisis
struktur fasa dengan XRD, dan analisis struktur mikro dengan mikroskop optik. Hasil pengukuran
berdasarkan pola difraksi sinar x menunjukkan bahwa paduan AlFeNi memiliki struktur fasa , , dan .
Puncak fasa dan relatif lebih banyak dan intensitasnya relatif lebih tinggi dengan kadar 3,5 Fe1,5 Ni
daripada 3 Fe1, 5 Ni dan 2,5 Fe1, 5 Ni. Puncak fasa hanya terdeteksi pada kadar 3%Fe dan 3,5%Fe.
Hasil pengamatan struktur mikro menunjukkan topografi butir berbentuk dendrit dan granular. Struktur
mikro paduan AlFeNi dengan kadar 2,5%, 3% dan 3,5% Fe cenderung berbentuk dendrit dan sejumlah kecil
granular. Mikrostruktur bentuk dendrit cenderung menurun ukuran butirnya dengan semakin tinggi kadar
Fe dalam paduan. Kadar Fe semakin tinggi dalam paduan cenderung semakin memacu terbentuknya fasa
senyawa antar logam.
Kata kunci: Paduan AlFeNi, Struktur fasa, Fasa paduan, mikrostruktur

ABSTRACT
PHASE FORMATION AND MICROSTRUCTURE OF ALUMINUM-FERRO-NICKEL ALLOY
OBTAINED FROM SYNTESIS. The Alumunium (AlFeNi) alloy is of MTR type high density fuel cladding
material. This AlFeNi alloy was synthesis result by using an arc furnace under vacuum condition. The
observation included phase structure analysis by using XRD, and microstructure analysis by using optical-
microscope. X-ray diffraction analysis of the AlFeNi alloy show that the phase structure was anisotropic
(,, and ). The peaks of and phase with 3,5 % wt Fe content relatively more increases and intensity
relatively higher. The peaks of phase was detected only 3 % and 3,5 % wt Fe content. The results of
microstructure observation show that the grain topographic is dendritic and granular formed. The
microstructure of the AlFeNi alloy with 2,5, 3 dan 3,5 % wt Fe content was dendritic and relatively smaller
granular grain formed. The microstructure of the AlFeNi alloy with dendritic grain tend to decrease the
grain size with increasing Fe content. The formation of the intermetallic compound phase tend to increase
with increasing Fe content in the alloy.

PENDAHULUAN dunia[2]. Kajian yang dilakukan menunjukkan


bahwa paduan aluminum AlFeNi mempunyai sifat
aduan logam aluminium umumnya digunakan mekanik dan ketahanan korosi yang relatif baik[2,3].
P sebagai komponen struktur pada berbagai
industri, seperti industri transportasi dan industri
Paduan logam AlFeNi memiliki struktur politropik
yang dapat meningkatkan sifat kekuatan dan ke-
nuklir. Industri nuklir menggunakan paduan tangguhan bahan. Sifat ketangguhan dan ketahanan
aluminium untuk komponen struktur pada berbagai korosi bahan struktur AlFeNi sangat dipengaruhi
reaktor nuklir dan bahan bakar nuklir terutama oleh pembentukan struktur fasa dalam paduan.
sebagai cladding bahan bakar[1]. Bahan struktur Pembentukan fasa sangat dipengaruhi oleh unsur
paduan aluminium merupakan material yang pemadu dan kadar pemadu dalam paduan. Struktur
mempunyai sifat ketahanan korosi yg relatif baik fasa dan struktur mikor berperan pula terhadap
dan memilki sifat mekanik terutama kekerasan yang perubahan sifat bahan terutama sifat termal dan sifat
cukup memadai. Paduan aluminium seperti paduan mekanik. Struktur paduan AlFeNi yang berstruktur
AlFeNi telah dikaji untuk digunakan sebagai anisotropik, yaitu struktur monoklinik dan
cladding bahan bakar oleh beberapa negara di ortorombik relatif stabil berada di bawah suhu 377

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
38 ISSN 0216 - 3128 M. Husna Al Hasa

o [4]
C . Kestabilan struktur fasa sangat dipengaruhi memiliki batas kemampuan larut padat (solid
oleh kadar pemadu yang larut padat dalam paduan solubility) Fe dalam fasa (Al) sampai maksimum
dan semakin tinggi kadar pemadu semakin 0,04%Fe pada suhu 652 oC . Fasa + mulai
memperlambat proses transformasi difusi. terbentuk pada daerah komposisi 0,04-37 % berat
Pembentukan fasa dalam paduan logam dapat Fe di bawah suhu 652 oC. Fasa + ini merupakan
terbentuk apabila komposisinya terdiri dari dua hasil transformasi dari pemaduan Al dan Fe yang
unsur atau lebih dan memiliki perbedaan jari-jari mengikuti reaksi fasa eutectic, yaitu L +.
atom sehingga membentuk larutan padat sebagai Diagram kesetimbangan fasa sistem ternary
salah satu fasa. Selain itu, fasa yang terbentuk Al-Fe-Ni pada Gambar 2 menunjukkan bahwa mulai
memiliki sifat, ukuran kisi dan struktur kristal serta pada suhu 640 oC secara bersamaan dapat terjadi
titik cair yang berbeda. Unsur Al, Fe dan Ni reaksi fasa yang membentuk fasa (FeNiAl9). Hal
mempunyai ukuran atom, jarak antar atom dan juga ini dimungkinkan bila kadar Ni dan Fe memiliki
bentuk struktur kristal yang berbeda. Logam Al jumlah yang besar dalam paduan. Reaksi fasa antara
memiliki struktur kristal berbentuk selsatuan FCC Ni dan Al dapat membentuk senyawa fasa NiAl3
dengan parameter kisi berukuran 4,0496 dan pada kadar Ni yang relatif rendah. Apabila kadar Ni
jarak antar atom 2,8635 . Logam Fe memiliki dalam paduan melebihi batas larut padat di atas 0,04
struktur kristal BCC dengan parameter kisi % memungkinkan terbentuknya fasa (NiAl3). Fasa
berukuran 2,8664 dan jarak antar atom 2,4823 , mulai terbentuk pada daerah komposisi 0,04-42 %
sedangkan logam Ni memiliki selsatuan FCC berat Ni di bawah suhu 640 oC. Fasa ini
dengan ukuran kisi 3,52338 dan jarak antar atom merupakan hasil transformasi dari pemaduan Al dan
2,4919 [4].
Ni yang mengikuti reaksi fasa eutectic, yaitu L
Pembentukan dan perubahan fasa sangat +. Besarnya fasa sangat dipengaruhi oleh
tergantung pada komposisi dan suhu paduan yang tingkat prosentase kadar Ni dalam paduan. Kadar Ni
dipengaruhi dan dipacu oleh kadar pemadu melalui semakin tinggi mengakibatkan semakin memper-
reaksi fasa, seperti ditunjukkan oleh diagram fasa besar jumlah fasa dalam paduan. Selain itu, reaksi
sistem biner Al-Fe pada Gambar 1. Reaksi fasa fasa antara Fe dan Ni membentuk Ni3Fe dapat
eutectik paduan aluminium dan besi mulai terjadi terjadi pada suhu yang lebih rendah mulai dari suhu
pada suhu 652 oC dengan kadar 1,8 % Fe dan 345 oC[4].
membentuk fasa padat + yaitu Al+FeAl3. Fasa

Gambar 1. Diagram fasa sistem biner Al-Fe[6].

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
M. Husna Al Hasa ISSN 0216 - 3128 39

Gambar 2. Diagram fasa sistem terner Al-Fe-Ni[6].

Paduan Al-Fe-Ni dalam keadaan padat akan TATA KERJA


terbentuk fasa-fasa paduan. Fasa-fasa padat yang
Spesimen paduan logam AlFeNi yang terdiri
terbentuk seperti fasa , dan mempunyai bentuk
dari Aluminum (Al), serta Ferro (Fe) dan Nikel (Ni)
struktur kristal yang berbeda-beda [5]. Fasa sebagai unsur pemadu utama merupakan paduan
(FeAl3) memiliki struktur kristal monoklinik dengan logam hasil sintesis dengan teknik kompaksi dan
parameter kisi berukuran a:15,489 b:8,0831 peleburan.
c:12,476 dan sudut :107,720. Fasa (NiAl3)
Pemaduan logam AlFeNi dilakukan dengan
memiliki struktur kristalnya orthorhombik dengan
kadar Fe dan Ni yang bervariasi menggunakan
parameter kisi berukuran a: 6,1114 , b: 7,3662 , tungku busur listrik, yaitu (2,5Fe1,5Ni), (3Fe1,5Ni)
c: 4,8112 . Fasa (FeNiAl9) memiliki struktur dan (3,5Fe1,5Ni). Peleburan berlangsung di atas
kristal monoklinik dengan parameter kisi berukuran titik cair suhu paduan AlFeNi yang berdasarkan
a:8,598 , b:6,271 , c:6,207 dan sudut kadar persentase unsur pemadu, yaitu berkisar 700
o
:94,66o. Fasa padat paduan AlFeNi tersebut di atas C dan 800 oC. Peleburan paduan logam AlFeNi
masing-masing memiliki temperatur titik cair dilakukan secara berulang untuk mendapatkan
berkisar 11570 C untuk fasa , <854o C untuk fasa tingkat kehomogenan paduan.
dan <1133o C untuk fasa . Spesimen paduan AlFeNi hasil peleburan
diamati struktur fasa, perubahan fasa dan
Serbuk logam Al, Fe dan Ni dilakukan sin- mikrostrukturnya. Pengamatan struktur fasa
tesis dengan teknik metalurgi serbuk dan peleburan dianalisis berdasarkan pola difraksi menggunakan
menggunakan tungku busur listrik dalam kondisi difraksi sinar x. Analisis mikrostruktur paduan
inert gas. Proses sintesis menghasilkan bahan AlFeNi berdasarkan topografi bentuk butir diamati
spesimen dalam bentuk ingot paduan AlFeNi. menggunakan mikroskop-optik.
Spesimen ingot paduan AlFeNi diidentifikasi
fasanya melalui pola difraksi menggunakan difraksi
sinar x. Spesimen paduan AlFeNi dianalisis secara HASIL DAN PEMBAHASAN
metalografi dan diamati topografi struktur butir
mengggunakan mikroskop-optik. Penelitian ini Analisis struktur fasa paduan AlFeNi
bertujuan membuat paduan logam AlFeNi serta berdasarkan pola difraksi sinar x diperlihatkan pada
Gambar 3 dan analisis mikrostruktur paduan AlFeNi
mengidentifikasi fasa dan mikrostruktur paduan
hasil peleburan ditunjukkan pada Gambar 4.
yang terbentuk.

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
40 ISSN 0216 - 3128 M. Husna Al Hasa

Al Al Al Al Al
111 200 220 311 222

NiAl3
011 NiAl3 NiAl3 Al
FeNIAl9 002 101 400
111 221 FeN iAl9
301 312 322

Al Al Al Al Al
111 200 220 311 222

NiAl3
211
FeNiAl9 FeNiAl9 002 NiAl3
200 111 FeAl3 101,221
320 NiAl3 FeNiAl9 Al
210 312 400

Al Al Al Al
111 200 220 311
NiAl3
301

NiAl3
230
FeAl3
210

FeNiAl9 NiAl3
200 101 FeAl3 NiAl3 Al
320 210 211 FeNiAl9 222
312 320 Al
400

Gambar 3. Pola difraksi sinar x paduan AlFeNi : a) 2,5% Fe, b) 3% Fe, c)3,5% Fe.

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
M. Husna Al Hasa ISSN 0216 - 3128 41

Gambar 3 memperlihatkan pola difraksi puncak-puncak fasa pada sudut 2 berkisar


paduan AlFeNi hasil peleburan dengan kadar 2,5 % antara 39o, 45o, 65o, 78o 83o dan puncak fasa
Fe, 3% Fe dan 3,5 % Fe yang menghasilkan pada sudut 2 berkisar antara 30o, 35o, 41o,
puncak-puncak fasa , , dan . Puncak fasa sedangkan puncak fasa pada sudut 2 berkisar
untuk masing-masing bidang hkl berada pada sudut antara 17o, 23o dan 57o. Pola difraksi paduan
difraksi 2 antara 35o-100o. Puncak fasa untuk AlFeNi dengan kadar 3% Fe pada Gambar 3b
masing-masing bidang hkl berada pada sudut menunjukkan terdapat satu puncak fasa pada
difraksi 2 antara 5o-30o. Puncak fasa untuk bidang 320, empat puncak fasa pada bidang 210,
masing-masing bidang hkl berada pada sudut 2 211, 102, 221 dan tiga puncak fasa pada bidang
antara 20o-50o, sedangkan puncak fasa untuk 200, 111, 312. Puncak fasa relatif tinggi
masing-masing bidang hkl berada pada sudut intensitasnya daripada intensitas puncak fasa
difraksi 2 antara 15o-65o. Berdasarkan persamaan pada Gambar 3a. Demikian pula intensitas puncak
BRAGG[7] dengan panjang gelombang (cu)=1,542 fasa pada bidang 200, 111, 312 cenderung
menunjukkan bahwa puncak fasa berada pada berkurang pada 3% Fe, seperti ditunjukkan pada
sudut 2 sebesar 39o, 45o, 65o, 78o, 83o dan 99o Gambar 3b. Gambar 3b memperlihatkan pula
pada masing-masing bidang hkl, yaitu 111, 200, timbulnya puncak baru, yaitu pada sudut 2 25o
220, 311, 222 dan 400. Puncak fasa berada pada bidang hkl 320 dan sudut 2 35o bidang hkl 211.
sudut 2 sebesar 10o dan 25o pada masing-masing Kedua puncak tersebut merupakan puncak fasa
bidang hkl, yaitu 210 dan 320. Puncak fasa dan . Selain itu, Gambar 3b memperlihatkan
berada pada sudut 2 sebesar 22o, 30o, 35o, 40o, beberapa puncak muncul semakin jelas, seperti
41o, 43o dan 45o pada masing-masing bidang hkl, pada sudut 2 17o bidang hkl 200, sudut 2 35o
yaitu 011, 210, 211, 102, 221, 230 dan 301, bidang hkl 211 dan sudut 2 57o bidang hkl 312.
sedangkan puncak fasa berada pada sudut 2 Ketiga puncak tersebut merupakan bagian dari
sebesar 17o, 23o, 53o, 57o, 61 dan 63 pada masing- puncak pola difraksi fasa , dan . Puncak dan
masing bidang hkl, yaitu 200, 111, 301, 312, 320 cenderung meningkat pada kadar 3 % Fe yang
dan 322. Gambar 3a memperlihatkan pola difraksi ditandai dengan lebih tingginya intensitas. Gambar
paduan AlFeNi hasil peleburan yang menghasilkan 3c memperlihatkan timbulnya beberapa puncak
puncak-puncak fasa pada sudut 2 berkisar fasa, yaitu pada sudut 2 10o bidang hkl 210,
antara 39o, 45o, 65o, 78o 83o dan puncak fasa sudut 2 43o bidang hkl 230, sudut 2 45o
pada sudut 2 berkisar antara 22o, 30o, 40o, 41o, bidang hkl 301 dan sudut 2 83o bidang hkl 222.
sedangkan puncak fasa pada sudut 2 berkisar Kempat puncak fasa tersebut merupakan bagian
antara 23o, 53o, 57o dan 63o. Besaran sudut 2 dari puncak pola difraksi fasa , dan . Puncak
untuk puncak fasa , dan pada pola difraksi fasa , dan semakin meningkat dengan kadar
Gambar 3a cenderung mendekati sama dengan 3,5 % Fe dan intensitasnya cenderung semakin
besaran sudut 2 hasil perhitungan dengan tinggi. Gambar 3 memperlihatkan pula bahwa
persamaan BRAGG di atas. Kondisi ini cenderung kandungan Fe yang relatif lebih tinggi dalam
mengindentifikasikan bahwa struktur fasa yang paduan akan menghasilkan puncak fasa yang
terbentuk merupakan fasa , dan . Fasa meningkat dan intensitas semakin tinggi yang
merupakan aluminium (Al), fasa merupakan berdampak terhadap keadaan puncak pola difraksi.
senyawa NiAl3 dan fasa adalah senyawa FeNiAl9 Mikrostruktur paduan AlFeNi dengan kadar
. Pembentukan fasa ini merupakan proses reaksi 2,5% Fe, 3% Fe dan 3,5% berat Fe diperlihatkan
antara nikel dan aluminium yang terjadi akibat pada Gambar 4. Gambar 4 memperlihatkan
rejeksi dari larutan padat aluminium yang melebihi struktur butir paduan intermetalik AlFeNi yang
kemampuan larut-padat dalam struktur fasa . terdiri dari beberapa fasa dalam bentuk senyawa
Rejeksi ini terjadi karena kelarutan atom Ni dalam logam cenderung berbentuk dendrit. Senyawa fasa
struktur fasa telah melampaui batas yang paduan AlFeNi, seperti fasa , dan cenderung
diizinkan, yaitu melebihi di atas 0,04% Ni [6] berbentuk dendrit yang diawali tumbuh pada batas
sehingga aluminium mengikat nikel membentuk butir. Pembentukan senyawa fasa paduan diawali
senyawa NiAl3. Demikian pula pembentukan fasa pada batas butir karena energi pada daerah batas
merupakan proses reaksi antara Fe, Ni dan Al yang butir relatif tinggi daripada di daerah butir sehingga
terjadi akibat rejeksi dari larutan padat aluminium menyebabkan daerah batas butir menjadi lebih
yang melebihi kemampuan larut-padat dalam reaktif daripada di butir. Energi pada batas butir
struktur fasa . relatif tinggi karena batas butir adalah daerah yang
sangat tidak stabil dan batas butir merupakan
Gambar 3b memperlihatkan pola difraksi
daerah pertemuan kristal-kristal atom dengan
paduan AlFeNi hasil peleburan yang menghasilkan
orientasi yang berbeda atau acak.

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
42 ISSN 0216 - 3128 M. Husna Al Hasa

Gambar 4. Mikrostruktur paduan AlFeNi. a) kadar 2,5% Fe b)


kadar 3% Fe , c) 3,5% Fe.

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
M. Husna Al Hasa ISSN 0216 - 3128 43

Gambar 4a memperlihatkan struktur butir bentuk dendrit dengan kadar 3,5 % Fe relatif lebih
fasa , dan yang memiliki butir berbentuk dominan daripada dengan kadar 2,5% dan 3% berat
dendrit relatif banyak, sedangkan fasa dan Fe. Hal ini karena kadar unsur pemadu yang
berbentuk dendrit relatif kecil dan sedikit yang terkandung dalam paduan aluminium (AlFeNi)
tampak mulai terbentuk pada batas butir dan butir. meningkat sehingga kontribusinya terhadap
Struktur mikro paduan AlFeNi dengan kadar 2,5% pembentukan fasa dan menjadi lebih besar.
berat Fe yang ditunjukkan pada Gambar 4a tersebut Dengan demikian unsur Al yang diikat oleh Fe dan
memperlihatkan pertumbuhan struktur butir fasa Ni membentuk fasa dan menjadi semakin
dan . Pembentukan fasa dan ini terjadi karena meningkat dan relatif lebih tinggi daripada fasa
jumlah kadar unsur Fe dan Ni dalam paduan dan pada struktur mikro Gambar 4a dan 4b.
melebihi batas kemampuan larut padat fasa . Selain itu, kadar Fe yang relatif tinggi akan
Sebagai akibatnya unsur Fe dan Ni bereaksi dengan berdampak terhadap peningkatan energi dalam.
Al membentuk senyawa FeNiAl9 () dan NiAl3 (). Energi dalam yang tinggi akan memacu mem-
Kondisi ini ditandai dengan pertumbuhan struktur percepat pengintian butir sehingga menyebabkan
butir fasa dan yang meluas dari daerah batas butir yang terbentuk semakin banyak dan besaran
butir ke daerah butir, seperti diperlihatkan pada butir menjadi menurun atau mengecil.
Gambar 4a. struktur mikro paduan AlFeNi dengan
kadar 3% berat Fe yang ditunjukkan pada Gambar
4b yang memperlihatkan pertumbuhan struktur butir
fasa cenderung semakin meningkat dan relatif
KESIMPULAN
banyak dibandingkan dengan struktur butir fasa Paduan AlFeNi hasil sintesis menghasilkan
pada kadar 2,5% berat Fe. Peningkatan pemben- puncak-puncak fasa pada bidang hkl dan sudut 2
tukan fasa ini terjadi karena jumlah kadar unsur Fe tertentu yang diidentifikasikan merupakan puncak
dalam paduan semakin meningkat. Sebagai akibat- fasa , fasa , fasa dan fasa . Fasa tidak
nya unsur Fe yang bereaksi dengan Al membentuk terbentuk secara sempurna karena hanya meng-
senyawa FeAl3 (). Kondisi ini ditandai dengan hasilkan 2 puncak pola difraksi terutama pada
pertumbuhan puncak fasa pada pola difraksi sinar paduan AlFeNi dengan kadar 3,5%Fe. Fasa , dan
x, seperti diperlihatkan pada Gambar 3b. terbentuk secara sempurna pada paduan AlFeNi
Mikrostruktur paduan AlFeNi dengan kadar berdasarkan pola difraksi sinar x yang menghasilkan
3,5% berat Fe yang ditunjukkan pada Gambar 4c melebihi 3 puncak fasa pada masing-masing bidang
memperlihatkan pertumbuhan struktur butir fasa , hkl. Struktur mikro AlFeNi hasil sintesis cenderung
dan cenderung semakin meningkat dan relatif berbentuk dendrit yang diduga merupakan struktur
banyak dibandingkan dengan struktur butir fasa fasa , dan . Struktur fasa dan cenderung
pada kadar 2,5% dan 3 % berat Fe. Peningkatan mulai tumbuh pada batas butir dan daerah butir yang
pembentukan fasa , dan ini terjadi karena berbentuk butir dendrit. Struktur butir fasa dan
jumlah kadar unsur Fe dalam paduan semakin cenderung semakin meningkat dengan mening-
meningkat. Sebagai akibatnya unsur Fe yang katnya kadar Fe dalam paduan.
bereaksi dengan Al dan Ni membentuk senyawa
FeAl3 () dan FeNiAl9 () menjadi semakin
bertambah. Kondisi ini ditandai dengan UCAPAN TERIMAKASIH
pertumbuhan puncak fasa dan intensitasnya yang
relatif meningkat, seperti ditunjukkan pada Gambar Terimakasih kami sampaikan kepada pihak
3c. Selain itu dimungkinkan pula pertumbuhan yang telah ikut berpartisipasi membantu kelancaran
struktur butir fasa paduan AlFeNi yang meluas dari kegiatan eksperimen baik secara langsung maupun
daerah batas butir ke daerah butir, seperti tidak langsung sehingga menghasilkan tulisan dalam
diperlihatkan pada Gambar 4c. bentuk makalah ini terutama Bapak Ir. Sudarmadi,
M.Sc., sebagai Kepala PTBN dan Drs. Bambang
Struktur mikro paduan AlFeNi dengan kadar
Purwadi sebagai direktur produksi PT.Batan
3,5% berat Fe yang ditunjukkan pada Gambar 4c
Teknologi.
memperlihatkan pula bahwa struktur butir fasa
relatif berkurang karena bertransformasi membentuk
fasa , dan . Struktur butir fasa , dan
semakin meningkat dan membesar seperti tampak DAFTAR PUSTAKA
secara jelas dalam bentuk struktur butir dendrit pada
Gambar 4c dan yang ditunjukkan pada pola difraksi 1. BENJAMIN, M.MA., Nuclear Reactor
sinar x Gambar 3c. Struktur butir fasa dan dalam Material and Applications, VNR Company Inc,
USA, page 133, 149, 1983.

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007
44 ISSN 0216 - 3128 M. Husna Al Hasa

2. BALLAGNY, A., Situation of technological M. Husna Al Hasa


Irradiation Reactors A Progress Report On The Dengan mengetahui struktur mikro akan
Jules Horowitz Reactor Project,. http/www. menginformasikan dan mengidentifikasikan
anl.gov. bentuk butir dan fasa. Bentuk butir dan fasa
3. BALLAGNY, A., Main Technical of The Jules akan mempengaruhi sifat mekanik dan laju
Horowitz Reactor Project to Achieve High Flux korosi.
Performances and High Safety Level. http/
www.anl.gov.
4. RAYNOR, GV., RIVLIN, GV., Phase Equilibria Bambang Supardiyono
in iron Ternary Alloy, New york, The institute of
Apakah makin tinggi kandungan Fe makin baik?
Metals, 1988.
5. PETZOW, G., EFFENBERG, G., (1992), Ter- Bagaimana efek neutron terhadap selongsong
nary Alloy AlFeNi, Vol.15, Germany: ASM, dengan Fe tinggi?
International, 1992.
6. MONDOLFO, L.F., Aluminium Alloys Struc- M. Husna Al Hasa
ture and Properties, London, Butter Worths, Semakin tinggi kadar Fe semakin meningkat
1979. pembentukan Fasa kedua. Pembentukan fasa ini
7. CULLITY, B.D., Element of X-Ray Difraction, akan berpengaruh terhadap sifat mekanik dan
the 2th addison-wesley Publishing Company, laju korosi. Laju korosi yang tinggi memberikan
Inc, Philippines, 1978.Page 87, 501, dampak yang tidak baik terhadap sifat bahan
struktur.
Efek neutron terhadap bahan struktur kelongsong
dengan Fe tinggi akan mempercepat/mening-
TANYA JAWAB katkan laju korosi.

Tono Wibowo
Kegunaan setelah mengetahui struktur mikro
akan terkait dengan apa?

Prosiding PPI - PDIPTN 2007


Pustek Akselerator dan Proses Bahan - BATAN
Yogyakarta, 10 Juli 2007