Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

Pada tiap persalinan harus diperhatikan 3 faktor penting, yaitu jalan


lahir, janin dan kekuatan yang ada pada ibu. Jalan lahir dibagi atas bagian
tulang dan bagian lunak. Bagian tulang terdiri dari tulang-tulang panggul
dengan sendi-sendinya (artikulasio), sedangkan bagian lunak terdiri atas otot-
otot, jaringan-jaringan dan ligamen-ligamen.

Disproporsi kepala panggul merupakan keadaan yang menggambarkan


ketidak seimbangan antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak
bisa keluar melalui vagina. Disproporsi kepa panggul disebabkan oleh panggul
sempit, janin yang besar atau keduanya. Cephalopelvic Disproportion(CPD)
merupakan diagnosa medis digunakan ketika kepala bayi dinyatakan terlalu
besar agar muat melewati panggul ibu. Sering kali, diagnosis ini dilaksanakan
sesudah wanita telah bekerja keras selama beberapa waktu. Diagnosis ini tidak
harus berdampak masa depan seorang wanita melahirkan keputusan. Banyak
tindakan bisa diambil oleh ibu hamil agar meningkatkan peluangnya agar bisa
melahirkan melalui vaginanya.

Panggul sempit dapat didefinisikan secara anatomi dan secara obstetri.


Secara anatomi berarti panggul yang satu atau lebih ukuran diameternya berada
di bawah angka normal sebanyak 1 cm atau lebih. Pengertian secara obstetri
adalah panggul yang satu atau lebih diameternya kurang sehingga mengganggu
mekanisme persalinan normal.
1.3 DISPROPORSI KEPALA PANGGUL

1. DEFINISI
Disproporsi kepala panggul adalah keadaan yang
menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu
sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Disproporsi kepala
panggul disebabkan oleh panggul sempit, janin yang besar ataupun
kombinasi keduanya.(2,3,5)

2. ETIOLOGI
a) Pintu Atas Panggul yang Sempit
Pintu atas panggul biasanya dianggap sempit jika diameter
anteroposterior yang terpendek kurang dari 10 cm atau jika diameter
transversal yang paling besar kurang dari 12 cm. Diameter pintu atas
panggul anteroposterior biasanya diperkirakan dengan mengukur
konjugata diagonalis secara manual, yaitu sekitar 1,5 cm lebih besar.
Dengan demikian, pintu atas yang sempit biasanya diartikan dengan
konjugata diagonalis yang kurang dari 11,5 cm.(2)
Secara klinis dan saat ini, dengan pencitraan pelvimetri, penting
untuk mengidentifikasi diameter anteroposterior terpendek yang
merupakan tempat yang harus dilewati oleh kepala janin.
Terkadang, korpus dari vertebra sacral pertama bergeser ke depan
sehingga jarak terpendek sebenarnya dapat berada antara
promontorium sacral abnormal ini dan simfisis pubis.(2)
Sebelum persalinan, diameter biparietal janin telah menunjukkan
rata-rata 9,5 sampai sebesar 9,8 cm. dengan demikian, mungkin sulit
dibuktikan atau bahkan tidak mungkin bagi sebagian janin melalui
pintu atas panggul yang diameter anteroposteriornya kurang dari 10
cm. Dengan menggunakan pelvimetri sinar-x, menunjukkan bahwa
insideni sulitnya pelahiran meningkat dengan angka yang kurang
lebih sama, baik pada diameter anteroposterior pintu atas panggul
yang kurang dari 10 cm maupun diameter transversal yang kurang
dari 12 cm. seperti yang diperkirakan, jika kedua diameter sempit,
distosia jauh lebih besar daripada jika hanya salah satunya yang
sempit.(2)
Perempuan yang berbadan kecil biasanya memiliki panggul yang
sempit, tetapi dia juga sangat mungkin memiliki bayi yang kecil.
Thoms ( 1937 ) meneliti 362 nulipara dan menemukan rata-rata
berat badan lahir bayi mereka lebih rendah-280 g-pada perempuan
dengan panggul sempit daripada mereka yang memiliki panggul
yang berukuran medium atau luas.(2)
Normalnya, dilatasi serviks dibantu dengan kerja hidrostatik dari
membran yang belum ruptur atau setelah membran ruptur, melalui
kontak langsung bagian terendah janin dengan serviks. Namun, pada
panggul yang sempit, karena kepala berhenti pada pintu atas
panggul, seluruh kekuatan yang dikeluarkan uterus bekerja secara
langsung pada bagian membran yang berkontak dengan serviks yang
sedang berdilatasi. Akibatnya, rupture sepontan dini membran lebih
sering terjadi.(2)
Setelah membran ruptur, tidak adanya tekanan dari kepala pada
serviks dan segmen bawaah uterus menunjukan adanya kontraksi
yang kurang efektif. Jadi, dilatasi selanjutnya dapat terjadi sangat
lambat atau tidak sama sekali.(2)
Adapsi mekanis dari janin terhadap tulang jalan lahir
memainkan bagian penting dalam menentukan efisiensi kontraksi.
Semakin baik adapatsi tersebut, semakin efisien kontraksi. Dengan
demikian, respons servikal terhadap persalianan menunjukan
tinjauan prognostic terhadap keluaran persalinan pada perempuan
dengan pintu atas panggul yang sempit.(2)
Pintu atas panggul yang sempit memainkan peran penting dalam
menghasilkan presentasi abnormal. Pada nulipara normal, bagian
terendah pada kehamilan aterm biasanya turun ke dalam rongga
panggul sebelum awitan persalianan. Namun, jika pintu atas sangat
sempit, penurunanya biasanya tidak terjadi sampai setelah awitan
persalinan, atau tidak sama sekali. Presentasi kepala masih dominan,
tetapi kepala terapung bebas diatas pintu atas panggul atau lebih
kearah lateral pada salah satu fossa iliaca. Karena itu, sedikit saja
pengaruh dapat menyebabkan perubahan presentasi janin. Pada
perempuan yang panggulnya sempit, presentasi wajah dan bahu
terhitung tiga kali lebih sering, dan prolapsusus tali pusat terjadi
empat sampai enam kali lebih sering.(2)

b) Panggul Tengah yang Sempit


Temuan ini lebih sering daripada pintu atas panggul yang
sempit. Keadaan ini sering kali menyebabkan berhentinya kepala
bayi dalam posisi melintang, yang berpotensi menyebabkan operasi
midforseps yang sulit atau pelahiran Caesar.(2)
Bidang obstetris panggul tengah membentang dari batas inferior
simfisis pubis melalui spina ishciadica dan menyebabkan os sacrum
dekat dengan taut vertebra keempat dan kelima. Secara teoritis, garis
transversal menghubungkan spina ischiadica dan membagi panggul
tengah menjadi bagian anterior dan posterior. Bagian anterior
panggul tengah dibagian anteriornya dibatasi oleh batas bawah
simfisis pubis dan bagian lateralnya oleh ramus ischiopubicus.
Bagian posterior panggul tengah dibagian dorsal dibatasi oleh os
sacrum dan bagian lateralnya oleh ligamentum sacrospinale,
membetuk batas bawah incisura ischiadica major.(2)
Ukuran panggul tengah rata-rata adalah sebagai berikut :
transversal, atau spinosus interrischial, 10,5 cm; anteroposteri; dari
batas bawah simfisis pubis ke taut S4-S5, 11,5 cm; dan sagitalis
posterior, dari titik tengah garis interspinosus ke titik yang sama di
os sacrum, 5 cm. definisi panggul tengah yang sempit belum akurat
seperti definisi pintu atas panggul yang sempit. Meskipun demikian,
panggul tengah biasanya sempit jika jumlah diameter interspinosus
dan sagitalis posterior-normal, 10,5 ditambah 5 cm, atau 15,5 cm-
menjadi 13,5 cm atau kurang. Konsep ini ditekankan oleh Chen dan
Huang ( 1982 ) dalam mengevaluasi kemungkinan sempitnya
panggul tengah. Terdapat alasan untuk mencurigai sempitnya
panggul tengah bila diameter interspinosus kurang dari 10 cm.
ketika ukuranya kurang dari 8 cm, panggul tengah sempit.(2)
Walaupun tidak terdapat metode manual pasti untuk mengukur
dimensi panggul tengah, panggul tengah yang sempit terkadang
dapat diduga jika spina menonjol, dinding samping panggul cekung,
atau incisura ischiadica major sempit.(2)
c) Pintu Bawah Panggul yang Sempit
Temuan ini biasanya didefinisikan sebagai diameter tuberositas
interiskial sebesar 8 cm atau kurang. Pintu bawah panggul secara
kasar dianalogika dengan dua segitiga, dengan tuberositas
interischial yang dianggap sebagai dasar keduanya. Sisi segitiga
anterior adalah ramus pubis, dan apeksnya adalah permukaan
inferoposterior simfisis pubis. Segitiga posterior tidak memiliki sisi
tulang tetapi apeksnya dibatasi oleh ujung vertebra saklar terakhir
dan bukan ujung os coccygis.(2)
Pengurangan diameter intertuberositas yang diikuti oleh
penyempitan segitiga anterior pasti menyebabkan terdorongnya
kepala janin kea rah posterior. Floberg dkk, ( 1987 ) melaporkan
bahwa panggul bawah yang sempit ditemukan sebanyak hampir 1
persenpada lebih dari 1400 nulipara dengan kehamilan aterm yang
dipilih secara acak. Pintu bawah yang sempit saja dapat
menyebabkan distosia, tetapi tidak sebanyak yang disertai dengan
panggul tengah yang sempit, karena pintu bawah yang sempit
seringnya disertai dengan panggul tangah sempit. Pintu bawah
panggul yang sempit tanpa disertai bidang tengah yang sempit
jarang terjadi.(2)
Walaupun disproporsi antara kepala janin dan pintu bawah
panggul tidak cukup kuat untuk menimbulkan distosia berat, hal ini
mungkin berperan penting dalam menyebabkan robekan perineum.
Dengan makin menyempitnya arcus pubis, oksiput tidak dapat
keluar secara langsung dibawah simfisis pubis, tetapi terdorong kuat
jauh ke bawah pada permukaan ramus ischiopubicus.(2)
Selanjutnya, perineum menjadi sangat terdistensi dan, dengan
demikian, memilki peluang besar untuk mengalami laserasi.(2)
d) Fraktur Pelvis
Speer dan Peltier ( 1972 ) meninjau kembali pengalaman dengan
fraktur pelvis dan kehamilan. Trauma akibat kecelakaan lalu lintas
adalah penyebab tersering fraktur pelvis. Sering terjadi farktur
bilateral rami pubis yang membahayakan kapasitas jalan lahir denga
pembentukan kalus dan malunion. Riwayat fraktur pelvis
mengharuskan tinjauan yang cermat terhadap radiografi sebelumnya
dan mungkin nantinya, computed tomographic pelvimetry pada saat
hamil.(2)
e) Janin Yang Besar
Normal berat neonatus pada umumnya 4000gram dan jarang ada
yang melebihi 5000gram. Berat badan neonatus lebih dari 4000gram
dinamakan bayi besar. Frekuensi berat badan lahir lebih dari
4000gram adalah 5,3%, dan berat badan lahir yang melihi 4500gram
adalah 0,4%. Biasanya untuk berat janin 4000-5000 gram pada
panggul normal tidak terdapat kesulitan dalam proses melahirkan.

Factor keturunan memegang peranan penting sehingga dapat


terjadi bayi besar. Janin besar biasanya juga dapat dijumpai pada ibu
yang mengalami diabetes mellitus, postmaturitas, dan pada grande
multipara. Selain itu, yang dapat menyebabkan bayi besar adalah ibu
hamil yang makan banyak, hal tersebut masih diragukan.(2)
Untuk menentukan besarnya janin secara klinis bukanlah
merupakan suatu hal yang mudah. Kadang-kadang bayi besar baru
dapat kita ketahui apabila selama proses melahirkan tidak terdapat
kemajuan sama sekali pada proses persalinan normal dan biasanya
disertai oleh keadaan his yang tidak kuat. Untuk kasus seperti ini
sangat dibutuhkan pemeriksaan yang teliti untuk mengetahui apakah
terjadi sefalopelvik disproporsi. Selain itu, penggunaan alat
ultrasonic juga dapat mengukur secara teliti apabila terdapat bayi
dengan tubuh besar dan kepala besar.(2)
Pada panggul normal, biasanya tidak menimbulkan terjadinya
kesulitan dalam proses melahirkan janin yang beratnya kurang dari
4500gram. Kesulitan dalam persalinan biasanya terjadi karena
kepala janin besar atau kepala keras yang biasanya terjadi pada
postmaturitas tidak dapat memasuki pntu atas panggul, atau karena
bahu yang lebar sulit melalui rongga panggul.(2)
Bahu yang lebar selain dapat ditemukan pada janin yang
memiliki berat badan lebih juga dapat dijumpai pada anensefalus.
Janin dapat meninggal selama proses persalinan dapat terjadi karena
terjadinya asfiksia dikarenakan selama proses kelahiran kepala anak
sudah lahir, akan tetapi karena lebarnya bahu mengakibatkan
terjadinya macet dalam melahirkan bagian janin yang lain.
Sedangkan penarikan kepala janin yang terlalu kuat ke bawah
dapat mengakibatkan terjadinya cedera pada nervus brakhialis dan
muskulus sternokleidomastoideus. (2)

3. PERKIRAAN KAPASITAS PANGGUL


Teknik evaluasi klinis menggunakan pemeriksaan digital tulang
panggul selama persalinan akan dijelaskan secara detil. Singkatnya,
pemeriksa berusaha untuk menilai diameter anteroposterior pintu atas
panggul-konjugata diagonalis diameter interspinosus panggul tengah,
dan jarak intertuberositas pintu bawah panggul. Arkus panggul sempit
yang kurang dari 90 derajat dapat menandakan panggul sempit. Kepala
janin yang unengged dapat mengidentisikasikan ukuran kepala janin
yang sangat besar atau berkurangnya kapasitas pintu atas panggul.(2)
Pelvimetri Sinar-X :
Walaupun telah digunakan secara luas, prognosis untuk
pelahiran per vagina yang berhasil baik pada setiap kehamilan tidak
dapat ditetapkan menggunakan pelvimetri sinar-X saja ( Mengert,
1948 ). Karena itu, pelvimetri sinar-X dianggap mempunyai nilai
terbatas dalam penatalaksanaan persalinan dengan presentasi
kepala.(2)

Computed Tomographic ( CT ) Scanning :


Keuntungan pelvimetri CT, dibandingkan dengan pelvimetri
sinar-X konvensional, adalah berkurangnya pajanan terhadap
raadiasi, akurasi yang lebih besar, dan lebih mudah dilakukan.
Kedua metode tersebut, biasanya sebanding dan pajanan terhadap
sinar-X sedikit.(2)
Magnetic Resonance ( MR ) Imaging :
Keuntungan pelvimetri MR adalah kurangnya radiasi ionisasi,
pengukuran yang akurat, pencitraan janin yang komplit, dan potensi
untuk mengevaluasi distosia jaringan lunak yang menggunakan
pencitraan MR untuk mengukur volume pelvis dan kepala janin
dalam usaha untuk mengidentifikasi seorang perempuan yang
memiliki risiko yang besar untuk menjalani pelahiran caesar karena
distosia.(2)

4. PENANGANAN
Persalinan Percobaan
Setelah dilakukan penilaian ukuran panggul serta hubungan
antara kepala janin dan panggul dapat diperkirakan bahwa
persalinan dapat berlangsung per vaginan dengan selamat dapat
dilakukan persalinan percobaan. Cara ini merupakan tes terhadap
kekuatan his, daya akomodasi, termasuk moulage karena faktor
tersebut tidak dapar diketahui sebelum persalinan.(5)
Persalinan percobaan hanya dilakukan pada letak belakang
kepala, tidak bisa pada letak sungsang, letak dahi, letak muka, atau
kelainan letak lainnya. Ketentuan lainnya adalah umur keamilan
tidak boleh lebih dari 42 mingu karena kepala janin bertambah besar
sehingga sukar terjadi moulage dan ada kemungkinan disfungsi
plasenta janin yang akan menjadi penyulit persalinan percobaan.(5)
Keberhasilan persalinan percobaan adalah anak dapat lahir
sontan per vaginam atau dibantu ekstraksi dengan keadaan ibu dan
anak baik. Persalinan percobaan dihentikan apabila pembukaan
tidak atau kurang sekali kemajuannnya, keadaan ibu atau anak
kurang baik, ada lingkaran bandl, setelah pembukaan lengkap dan
ketuban pecah kepala tidak masuk PAP dalam 2 jam meskipun his
baik, serta pada forceps yang gagal. Pada keadaan ini dilakukan
seksio sesarea.(5)

Seksio Sesarea
Seksio sesarea elektif dilakukan pada kesempitan panggul berat
dengan kehamilan aterm, atau disproporsi sephalopelvik yang nyata.
Seksio juga dapat dilakukan pada kesempitan panggul ringan
apabila ada komplikasi seperti primigravida tua dan kelainan letak
janin yang tak dapat diperbaiki.(5)
Seksio sesarea sekunder (sesudah persalinan selama beberapa
waktu) dilakukan karena peralinan perobaan dianggap gagal atau
ada indikasi untuk menyelesaikan persalinan selekas mungkin
sedangkan syarat persalinan per vagina belum dipenuhi.(5)

BAB IV

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Disproporsi kepala panggul merupakan keadaan yang menggambarkan


ketidak seimbangan antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin
tidak bisa keluar melalui vagina. Disproporsi kepa panggul disebabkan
oleh panggul sempit, janin yang besar atau keduanya. Cephalopelvic
Disproportion(CPD) merupakan diagnosa medis digunakan ketika kepala
bayi dinyatakan terlalu besar agar muat melewati panggul ibu. Sering kali,
diagnosis ini dilaksanakan sesudah wanita telah bekerja keras selama
beberapa waktu. Diagnosis ini tidak harus berdampak masa depan seorang
wanita melahirkan keputusan. Banyak tindakan bisa diambil oleh ibu hamil
agar meningkatkan peluangnya agar bisa melahirkan melalui vaginanya.

DAFTAR PUSTAKA

1) Moore, Keith L. 2012. Anatomi Klinis Dasar. Jakarta : Penerbit


Hipokrates.
2) Gary, Cunningham, dkk. 2013. Obstetri Williams Edisi 23 Volume
1. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
3) Asri, Dwi, dkk. 2012. Asuhan Persalinan Normal. Yogyakarta:
Penerbit Nuha Medika.
4) Dorland, Newman. 2012. Kamus Saku Kedokteran Edisi 28. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
5) Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Penerbit
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.