Anda di halaman 1dari 5

Hidup Ke 2

Jangan ganggu aku, kumohon jangan mendekat Aku meronta lalu seketika sebuah pecahan
kaca menusuk perutku. Rasa sakit begitu hebat kunikmati.
Intan, bangun nak Mama membangunkanku dari mimpi buruk itu. Ma, mimpi itu datang lagi
Kataku sambil mengusap wajahku yang berkeringat. Sudah sayang, mimpi itu hanya bunga
tidur. Sekarang kau bergegas mandi lalu berangkat kuliah. Oh iya, Hari ini adalah awal aku
kembali berkuliah setelah setahun lamanya aku mengalami koma akibat kecelakaan itu. Tapi
semenjak aku kembali membuka mata, Aku sering sekali mendapat gangguan yang membuatku
takut. Selalu ada hal aneh yang menurutku begitu janggal.
Setibanya aku di kampus. Aku disambut dengan senyum bahagia oleh seluruh penduduk kampus.
Selamat ya tan, atas kembalinya duniamu. Hahaha Ucap mery padaku. Aku senang kau sudah
sadar dari koma Irwan menyambung. Ini semua berkat doa kalian, Terimakasih semua
Ucapku sambil memeluk mereka. Sama-sama intan. Oh iya, Kalian tahu? Irwan adalah
kekasihku, Walau sekian lamanya aku koma, Tapi itu tak membuatku lupa padanya. Aku sangat
mencintainya.
Saat mata kuliah berlangsung. Kulihat nina begitu murung, Wajahnya pucat pasi. Saat aku
menatapnya, Dia terlihat marah padaku. Aku tak begitu dekat dengannya. Aku pikir Apa dia
sedang sakit?. Kulihat dia pergi tanpa izin. Lalu aku meminta izin kepada dosen untuk keluar.
Aku mengikuti ke mana nina akan pergi, Tapi dia mendadak menghilang. Apa yang terjadi
padaku? ke mana dia? Tanyaku membatin. Saat aku melewati lorong kampus, Sepi dan lengang.
Hembusan angin tiba-tiba membuat bulu kudukku berdiri. Aku melihat bayangan putih
menghampiriku. Aku mendengar teriakkan seseorang, Semakin jelas. Intannnnnnn, Ini saatnya
kau membayar janjimu. Entah suara itu dari mana. Seketika aku mendengar suara isak tangis,
Saat kuhampiri. Sedang apa kau di sini nina? Kataku. Pergiii, Bukan saatnya sekarang. Aku
hanya diam. Nina terus menangis. Air matanya berubah menjadi darah. Wajahnya sangat
mengerikan. Dia menghampiriku lebih dekat. Oh tuhan, wajahnya hancur sekali Batinku. Aku
berlari sekencang mungkin.
Setibanya di kelas. Kulihat nina sudah duduk di bangkunya. Sejak kapan dia di sini? Tanyaku
dalam hati. Jam kuliah berakhir. Hei, Ngapain di sini sendirian? Tanya irwan sambil menepuk
pundakku. Kau ini, Ngagetin aku aja Balasku. Habis kau melamun saja, Mikirin aku ya!
Ledeknya. Ih bisa aja Balasku. Terus mikirin apa dong?, Mikirin, Apa setahun ini kau telah
melupakanku? Tanyaku. Tentu tidak, Aku percaya kau akan sadar dan bersamaku lagi
Balasnya. Aku percaya kau setia padaku. Irwan mengantarku pulang, Berpamitan dan berlalu.
Seperti biasa. Saat maghrib tiba, Aku hendak berwudhu. Air kran mendadak mati, Aku
mendengar suara orang sedang mandi, Saat kubuka pintu, Tak seorang pun kudapati. Suara itu
semakin jelas terdengar. Aku hanya tinggal berdua dengan mama setelah papa pergi
meninggalkan kami. Tiba-tiba lampu mati dengan sendirinya. Aku berteriak memanggil mama.
Tapi yang kudengar hanya Intan, Ini saatnya. Siapa itu? Tanyaku. Lalu sosok itu
menghampiriku. Wajahnya sama seperti yang kulihat tadi siang. Mengerikan. Dia membawa
sebuah pecahan kaca seakan hendak membunuhku Arrrrrghh.. Aku berteriak lalu semua gelap.
Saat aku sadar, Aku telah berada di tempat tidurku Lukanya, Tidak ada. Apa aku bermimpi
lagi? Batinku. Kau sudah sadar sayang? Suara mama membuyarkan lamunanku. Memang
ada apa ma? Tanyaku heran. Kau pingsan di kamar mandi nak. Aku mau ke rumah mery,
Aku mau mama mengantarku. Tap.. Belum sempat mama melanjutkan ucapannya, Aku
menarik tangannya agar mama mau menuruti pintaku. Mama pasrah dan akhirnya mengantarku.
Setibanya di sana. Mery heran mengapa aku datang mendadak. Kuceritakan semua padanya.
Tapi mery tak percaya. Kemudian aku pamit pulang. Mery mengantarku. Di dalam mobil aku
kembali berusaha meyakinkannya, Tapi dia hanya menganggapku berhalusinasi.
Sesampainya di rumah, Kurebahkan tubuhku di atas sofa. Aku tertidur dan terbangun ketika
kudengar pintu diketuk seseorang. Kulihat arloji pukul 21:05. Saat aku membuka pintu, Kulihat
mery berdiri di hadapanku. Kemudian dia menangis Mengapa kau lakukan ini padaku
Ucapnya. Kemudian wajah itu berubah begitu mengerikan. Intannn Kututup pintu lalu berlari
ke dalam kamarku. Kulihat arloji pukul 22:05. Kututup wajahku dengan selimut. Kudengar
langkah kaki mendekat semakin dekat. Saat kubuka mata, Semua gelap. Meryyyyy Teriakku.
Sayang sadarlah, Ini mama. Mamaaa Sontak aku memeluk mama dan meminta mama
tidur bersamaku. Saat kubangun, Aku menemukan kertas putih bertinta darah dengan huruf M.
Pagi harinya, Aku terkejut saat mendengar berita bahwa mery tewas mengenaskan dalam
kecelakaan pukul 21:05 dimana saat mery mendatangiku.
Pada malam harinya. Amanda datang ke rumahku. Kebetulan mama sedang lembur di kantornya.
Aku menceritakan semua pada amanda. Nina sudah mati intan Ucapnya. Jadi dia hantu?
Tanyaku dengan bodoh. Iya, Dan dia telah membunuh mery Balasnya. Tapi kenapa dia
membunuh mery? Tanyaku lagi. Sudahlah, Aku pamit pulang. Setelah itu, Aku melanjutkan
menonton siaran televisi. Terdengar suara pintu diketuk. Kulihat arloji pukul 21:05.
Saat kubuka pintu, Amanda menatapku tajam dan menggigil. Kemudian dia berkata Kau harus
membayar semua ini. Lalu wajah itu mendekat hendak menerkamku. Aku lari hingga terjatuh.
Kulihat arloji menunjukkan pukul 22:05. Saat kubangun matahari telah terbit. Mama sudah
menyiapkanku sarapan dan bertanya. Mengapa aku tidur di bawah tangga. Aku juga heran. Aku
kembali menemukan kertas itu tapi dengan huruf A. Aku tak memperdulikannya. Aku
mendengar kabar bahwa amanda tewas dibunuh di tepi sungai dekat rumahku. Tubuhnya
terdapat tusukan kaca di bagian perut. Persis seperti mery. Kini hari-hariku kelabu. Dalam dua
hari ini aku kehilangan kedua sahabatku.
Malam datang lagi. Kring.. kring.. kring Bunyi handphoneku. Kulihat nama tio yang tertera.
Aku mengangkatnya. Hallo, Ada apa yo? Tanyaku di telepon. Aku ingin bicara denganmu,
Apa kita bisa bertemu? Tanyanya. Bisa, Kapan dan di mana?. Sekarang, Di taman. Aku
menghampirinya. Tio berkata Mengapa mereka semua mati setelah bertemu denganmu intan?.
Apa maksudmu? Kau menuduhku membunuh mereka Ucapku dengan kesal. Bukan seperti
itu intan Bantahnya. Lalu siapa? Apa nina? Mengapa nina membunuh mereka? Tanyaku.
Nina, Tidak mungkin Kemudian tio berlari meninggalkanku. Aku terpaksa pulang sendiri.
Kulihat mama sedang duduk di sofa. Aku pamit untuk tidur. Kemudian aku mendengar jendela
di kamarku berdenyit tanda seseorang telah membukanya. Saat kulihat tio sedang menahan rasa
sakit di perutnya. Wajahnya tersenyum sinis padaku. Tiba-tiba dia menghilang disertai hembusan
angin yang membuatku merinding. Lagi-lagi pukul 21:05. Arrghh.. Teriakku. Intan, kamu
kenapa sayang? Kenapa kamu berteriak-teriak? Mama membangunkanku. Tepat kulihat pukul
22.05. Ada apa denganmu? Kau begitu aneh Tanyanya. Tak Apa ma Jawabku singkat.
Sebaiknya kau bergegas tidur nak.
Saat ku bangun, Aku kembali menemukan kertas itu dengan huruf T. Jika kugabungkan semua
itu dan ditambah dengan huruf I, Akan menjadi kata MATI dan semua orang yang kuceritakan
tentang nina, Mereka semua mati. Aku tak akan menceritakannya lagi. Saat aku tiba di kampus.
Benar dugaanku, Tio ditemukan tewas di taman dengan luka yang sama. Mungkin nina merasa
terganggu jika aku terus mencampuri urusannya Batinku.
Tak disangka hari ini tepat tanggal 5 desember 2016 dimana aku mengalami kecelakaan pada
tanggal 5 desember 2015 pukul 21.05. Aku merasa ada kejanggalan pada pukul itu. Sore harinya,
Kring.. kring Bunyi telepon. Ah irwan, Mau apa dia telepon? Batinku. Hallo, Selamat sore
intan Ucapnya. Sore, Ada apa? Tanyaku. Begini, Apa nanti malam kau mau makan malam
denganku? Tanyanya. Tentu, Pukul berapa? Jawabku. pukul 19:30. Kemudian kami
berpamitan lalu menutup teleponnya.
Tepat pukul 19:30 irwan menjemputku. Sesampainya di sana, Sepi dan lengang. Ke mana
mereka? Tanyaku pada irwan. Aku menyewa tempat ini ksusus hanya untuk berdua
denganmu Ucapnya. Ketika kami duduk. Irwan menceritakan tentang nina. Pikiranku kini
bukan apakah irwan akan mati seperti mereka. Tapi rasa sakit di hatiku begitu aku tahu Dulu,
Sebelum kecelakaan itu terjadi. Aku menjalin cinta dengan nina di belakangmu. Tanpa
sepengetahuanmu. Aku bermain cinta dengannya selama 4 bulan. Pada malam sebelumnya, Nina
mengancam akan memberitahukan semua ini padamu intan. Tapi aku tak ingin menyudahi
hubunganku denganmu. Aku ceritakan semua ini pada mereka. Lalu amanda mengusulkan untuk
membunuhnya. Malam berikutnya, Aku menemuinya. Kemudian aku mengajaknya ke rumahku
tepat tanggal 5 desember 2015 pukul 19:30. Di sanalah kami mencoba membunuhnya. Kemudian
tio merusak mobil nina hingga remnya blong, Kalau-kalau nina mencoba untuk kabur. Benar saja
nina berhasil lolos dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kami mengikutinya.
Dan tanpa kami duga. Mobilmu lewat di depan mobilnya hingga kalian saling bertabrakan.
Bukan sebuah kebetulan, Tapi itu takdir. Kami pun turun. Saat kulihat yang ditabraknya adalah
kamu intan, Kekasih yang amat kucintai. Aku membawamu ke rumah sakit bersama mery.
Dibalik itu, Saat amanda dan tio melihat keadaan nina, Dia selamat. Namun amanda
membunuhnya. Menusuk perutnya dengan pecahan kaca hingga nina tewas seketika. Setelah itu
kamu koma, Sudah 5 bulan kamu koma dan aku amat frustasi. Amanda datang padaku dan
menceritakan apa yang terjadi pada nina. Amanda berkata dia melakukan itu karena mencintaiku.
Kami pun menjalin cinta. Maafkan aku intan, Kau pantas membenciku Ucapnya padaku sambil
menangis memelukku. Aku hanya diam atas kekecewaanku padanya. Apakah dia juga akan
membunuhku? Batinku. Entah kekuatan dari mana. Aku mendorong tubuhnya hingga irwan
terjatuh. Aku akan membunuhmu, Seperti aku membunuh mereka. Jadi kamu yang
membunuh mereka?. Bukan, Bukan aku Aku menjawab dengan heran. Kemudian sosok putih
datang menghampiri kami Nina. Kau yang membunuh mereka intan Ucap nina. Tidak, Aku
tidak merasa melakukan itu. Kamu yang membunuh mereka Ucapku. Masih ingatkah kau
dengan perjanjian kita intan? Aku akan mengembalikan hidupmu, Asal kau mau menukarnya
dengan orang-orang yang kumau.
Dan kau bersedia. Sekarang yang kumau adalah irwan. Bunuh dia Ucap nina padaku dengan
wajah yang menyeramkan. Tidak aku bukan pembuhuh Teriakku. Tapi kau telah membunuh
mery saat dia mengantarmu pulang. Kau bertengkar dengannya dimobil saat kau tahu mery tak
mempercayaimu dan kau marah hingga membuatnya celaka. Kemudian kau menusuknya dengan
pecahan kaca jendela mobil. Saat amanda datang dan kau menceritakan semua padanya. Kau
tanya mengapa aku membunuh mery, Amanda malah berpamit pulang padamu. Lalu kau berkata
padanya karena aku sakit hati sama seperti sakit hatimu padanya. Kau menusuknya dengan
pecahan kaca, Kau membuang mayatnya di sungai. Dan saat tio mengira kau membunuh mereka,
Kau marah padanya lalu menusuknya pula seperti kau membunuh mereka. Kau menulis huruf-
huruf itu setelah kau membunuh dengan darah mereka sendiri agar aku tahu kau menepati
janjimu. Hahaha.. hahaha Nina tertawa mengerikan. Aku tidak merasa melakukan itu semua,
Kau bohong Ucapku. Aku meminjam ragamu, Tapi kau yang melakukannya. Kau terlalu naif
intan, Kau menukar nyawamu dengan nyawa mereka. Kau biarkan mereka mati dan kau hidup.
Aku menginginkan irwan. Jika kutahu itu aku tak akan pernah. Bunuh dia, Bukankah dia
juga telah menyakiti hatimu Nina berteriak, Seketika itu aku mengambil pecahan kaca dan
Pergi irwan. Arghh Darah mengalir deras.
Mengapa kau lakukan ini?. Aku terlalu naif untuk dapat membencimu, Aku ingin kau hidup
bahagia kelak. Perjanjian yang tak kuinginkan ini usai sayang Ucapku lirih. Mengapa kau tak
membiarkanku mati?. Aku mencintaimu Lalu aku telah pergi selamanya menjadi gumpalan
darah. Luka yang irwan telah torehkan di hatiku tak sebesar cintaku padanya. Hari ini aku pernah
mati dan telah mati serta takkan hidup kembali.
Irwan menangis seraya melihat batu nisan di hadapannya. Orang yang dicintainya, Orang yang
telah disakitinya rela mengorbankan hidupnya demi laki-laki sepertinya. Dan aku telah bahagia,
Di tempat yang terindah. Di sisi tuhan yang maha esa, Yang senantiasa mencintai tanpa
menyakiti.
YANG TIDAK TERLIHAT OLEH MATA BUKAN BERARTI TIDAK ADA, YANG JAUH
BUKAN BERARTI TAK DAPAT MENYATU.