Anda di halaman 1dari 2

MEWARTA DALAM KARYA DAN CINTA: MENABUR DALAM ROH

Galatia 6.1-10

Allah telah menerima kita sebagai anak-anak-Nya (Galatia 3.26). Ia telah menjadikan kita anggota-
anggota dari keluarga iman (oikeioi ts pistes, 6.10). Dasarnya: iman/kesetiaan Kristus (pistis tou
Christou, 2.16, 20; 3.22). Yesus sepenuhnya percaya dan setia kepada Allah. Sampai akhir, yakni
kematian-Nya di kayu salib. Allah membenarkan iman dan kesetiaan Yesus: (1) Ia membangkitkan
Yesus dari antara orang mati. Lebih jauh, (2) Ia membuat iman dan kesetiaan Yesus menjadi dasar untuk
menerima kita sebagai anak-anak-Nya, menjadikan kita anggota-anggota keluarga iman atau keluarga
Allah.

Bukan Taurat, melainkan iman dan kesetiaan Kristus. Itulah dasar keselamatan kita. Berdasarkan itu
Rasul Paulus menolak tuntutan sementara orang Yahudi-Kristen yang mewajibkan orang-orang dari
bangsa lain yang telah percaya kepada Tuhan Yesus untuk melaksanakan syariat Taurat (terutama S2H:
Sunat, Sabat, dan pembedaan Halal-haram dalam makanan). Mengikut Yesus, menjadi bagian dari
keluarga Allah, seseorang merdeka dari syariat Taurat; ia tidak harus menjadi Yahudi. Kristus telah
memerdekakan kita (5.1).

Dalam pada itu, hidup sebagai anak-anak Allah berarti menjalani kehidupan yang baru. Itu berarti hidup
bertuhankan Kristus: memenuhi Taurat Kristus (ho nomos tou Christou, 6.2), yang tak lain dari
iman yang bekerja melalui kasih (5.6). Aplikasinya bisa secara positif, bisa secara negatif. Aplikasi
secara positif, misalnya: Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! (Gal 6.2). Juga, Janganlah kita
jemu-jemu berbuat baik (6.9). Serta, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, khususnya
kepada anggota-anggota keluarga iman (6.10). Aplikasi secara negatif, misalnya: janganlah kita gila
hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki (5.26).

Hidup bertuhankan Kristus berarti dipimpin oleh Roh (=Roh Kudus, tentunya). Dipimpin oleh Roh
(5.18, 25), kita meninggalkan perbuatan-perbuatan daging (lihat 5.19-21a). Kita melakukannya
dengan keinsyafan: (1) kita adalah milik Kristus Yesus; dan (2) kita telah menyalibkan daging dengan
segala hawa nafsu dan keinginannya (5.24). Rasul Paulus menandaskan bahwa orang yang hidup dalam
perbuatan-perbuatan daging tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah (5.21b). Dengan
perkataan lain, barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya
(6.8a). Ironis: mengaku telah percaya kepada Tuhan Yesus tapi masih hidup dalam perbuatan-perbuatan
daging. Miris: hidup dalam ilusi kepastian keselamatan yang mengatakan Sekali selamat tetap
selamat!

Dipimpin oleh Roh, karakter Kristus terbentuk dalam diri kita. Rasul Paulus menyebutnya buah
Roh: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan,
penguasaan diri (5.22-23a). Pendeknya, dipimpin oleh Roh hasilnya adalah buah Roh alias karakter
Kristus. Dipimpin oleh Roh sama dengan menabur dalam Roh, yang membuat kita menuai hidup yang
kekal dari Roh itu (6.8). Hidup yang kekal adalah hidup Kerajaan Allah; ia adalah kebalikan dari
kebinasaan. Hidup yang kekal adalah hidup yang menikmati kehadiran ilahi melalui partisipasi dalam
karakter Allah selamanya. Karena itu, keberadaan buah Roh alias terbentuknya karakter Kristus dalam
diri kita menandakan bahwa hidup kita sedang diubah menjadi hidup yang kekal.

Bila hidup kita dipimpin oleh Roh, kita memenuhi Taurat Kristus. Gereja/jemaat selaku keluarga Allah
pun terpelihara keutuhannya dan tumbuh menjadi sebuah pewartaan tentang Injil di tengah dunia.
Melalui gereja orang bisa melihat Allah yang kaya dengan rahmat. Melalui gereja orang bisa mengenal
dengan Kristus, dasar keselamatan. Melalui gereja orang bisa mencicipi keindahan hidup baru dalam
Kristus. Dalam gereja orang menemukan keluarga Allah. Demikianlah gereja menjadi terang: contoh
yang bisa diteladani dan menarik untuk diikuti. Menabur dalam Roh bermuara dalam Mewarta dalam
Karya dan Cinta. Terpujilah Allah! (RA_280517) ***