Anda di halaman 1dari 15

LANGKAH-LANGKAH :

1. Perhitungan Nilai Tambah (margin), M

Jika nilai tambah ini sudah ditetapkan sebesar 12 MPa maka langsung

langkah ke empat. Jika nilai tambah dihitung berdasarkan nilai deviasi

standar Sd, maka dilakukan rumus berikut:

M = K * Sd

Keterangan : M = Nilai tambah (MPa)

K = 1,64

Sd = Deviasi Standar

2. Menetapkan Kuat Tekan Rata-Rata Yang Direncanakan

Kuat tekan beton rata-rata beton yang direncanakan diperoleh dengan

rumus:

Fcr = fc + M

Keterangan : fcr = Kuat tekan rata-rata (MPa)

Fc = Kuat tekan yang disyaratkan (MPa)

M = Nilai tambah (MPa)

3. Penetapan Jenis Semen Portland

Menurut SNI-2002 di Indonesia semen portland dibedakan menjadi 5

jenis, yaitu jeni I, II, III, IV, V. Jenis I merupakan semen biasa, adapun

jenis III merupakan jenis semen yang dipakai untuk struktur yang

menuntut persyaratan kekuatan awal yang tinggi, atau dengan kata lain

sering cepat mengeras.


4. Penetapan Jenis Agregat

Jenis kerikil dan pasir ditetapkan, apakah berupa agregat alami (tak

dipecah) ataukan agregat jenis batu pecah (crushed aggregate).

5. Tetapkan faktor air semen dengan salah satu dari dua cara berikut:

a. Cara pertama. Berdasarkan jenis semen yang dipakai dan kuat tekan

rata-rata beton yang direncanakan pada umur tertentu ditetapkan nilai

faktor air semen dengan melihat Gambar 3.1. Grafik hubungan faktor

air semen dan kuat tekan rata-rata beton.

70
: semen tipe I, II, V

: semen tipe III

60

50
91
Ha
ri
Kuat tekan silinder beton ( MPa )

40
28
H ari

30
7
H
ar
i

20

3H
ari

10

0
0,3 0,4 0,5 0,6 0,7 0,8 0,9 1,0
Faktor air - semen

GAMBAR 3.1 HUBUNGAN FAKTOR AIR SEMEN DAN KUAT TEKAN RATA-RATA
SILINDER BETON (SEBAGAI PERKIRAAN FAS)
800 80
Cara yang Pertama-tama harus diikuti
dalam mencari harga faktor Air
Semen berdasarkan Tabel 8.18
700 70

Semen Tipe I, II dan IV


600 Semen Tipe III 60
91 hari
Kuat Tekan (Kg/cm)

500 50

28 hari

400 40
14 hari

300 30

3 hari

200 20

100 10

0 0
0.3 0.4 0.5 0.6 0.7 0.8 0.9 1.0

Faktor Air Semen

GAMBAR 3.2 HUBUNGAN ANTARA KUAT TEKAN DAN FAKTOR AIR SEMEN

UNTUK BENDA UJI KUBUS (150 x 150 x 150 mm)

b. Cara kedua. Berdasarkan jenis semen yang dipakai jenis agregat kasar

dan kuat tekan rata-rata yang direncanakan pada umur tertentu

ditetapkan nilai faktor air semen dengan Tabel 3.10. dan Gambar 3.2.

Grafik mencari faktor air semen.


Langkah penetapannya dilakukan dengan cara sebagai berikut:

1) Lihat Tabel 3.10. dengan data jenis semen, jenis agregat kasar dan

umur beton yang dikehendaki, di baca perkiraan kuat tekan beton

yang akan diperoleh jika dipakai faktor air semen 0,50. Jenis

kerikil maupun umur beton yang direncanakan, maka diperoleh

kuat tekan beton seandainya dipakai nilai fas 0.50.

2) Lihat Gambar 3.2. Grafik mencari faktor air semen. Lukislah

titik A pada gambar terebut dengan nilai fas 0,50 (sebagai absis)

dan kuat tekan beton yang diperoleh dari Tabel 3.10. (sebagai

ordinat). Pada titik A tersebut kemudian dibuat grafik baru yang

berbentuk sama dengan grafik yang ada didekatnya. Selanjutnya

ditarik garis mendatar dari sumbu tegak di kiri pada kuat tekan

rata-rata yang dikehendaki sampai memotong grafik baru tersebut.

Dari titik potong itu, kemudian ditarik garis bawah sampai

memotong sumbu mendatar dan dapatlah dibaca nilai fas yang

dicari.

Tabel 3.10. Perkiraan kuat tekan beton (MPa) dengan Fas 0,50 dan
jenis semen serta agregat kasar yang biasa dipakai
di Indonesia

Jenis Agregat Umur (hari) Bentuk


Jenis Semen
Kasar 3 7 28 91 Benda Uji
Semen Portland Silinder
Alami 17 23 33 40
Tipe I atau
semen tahan
Batu pecah 19 27 37 45 Kubus
sulfat Tipe II, V
Alami 21 28 38 44 Silinder
Semen Portland
Tipe III Batu pecah 25 33 44 48 Kubus
Sumber : Tabel 2, SNI. T-15-1990-03:6
6. Penetapan Faktor Air Semen

Agar beton yang diperoleh tidak cepat rusak misalnya, maka perlu

ditetapkan nilai Fas maksimum. Penetapan nilai Fas maksimum

dilakukan dengan Tabel 3.11. Jika nila Fas maksimum ini lebih rendah

dari pada nilai Fas dari langkah (7) maka nilai Fas maksimum ini yang

dipakai untuk perhitungan selanjutnya.

Tabel 3.11. Persyaratan Jumlah Semen Minimum dan Faktor Air


Semen Maksimum Untuk Berbagai Macam Pembetonan
dan Lingkungan Khusus

Jumah Semen
Jenis Pembetonan Fas
Min dlm m3
Maksimum
beton (Kg)
Beton di dalam ruang Bangunan:
a. Keadaan sekeliling non korosif 275 0,60
b. Keadaan keliling korosif disebabkan oleh 325 0,52
kondensasi atau uap korosi
Beton di luar bangunan:
a. Tidak terlindung dari hujan dan terik matahari 325 0,60
langsung
b. Terlindung dari hujan dan matahari langsung 275 0,60
Beton yang masuk ke dalam tanah:
a. Mengalami keadaan basah dan kering berganti- 325 0,55
ganti
b. Mendapat pengaruh sulfat dan alkali tanah Lihat tabel
3.4.a.
Beton yang terus menerus berhubungan dengan air :
a. Air Tawar Lihat tabel
b. Air Laut 3.4.b.
Sumber : Tabel 3, SNI. T-15-1990-03:7

Tabel 3.11.a. Fas maksimum untuk beton yang berhubungan dengan air
tanah yang mengandung sulfat.
Konsentrat Sulfat dlm bentuk SO3 Kandungan Semen
Min. Kg/m3 Ukuran
Kadar Dalam Tanah Nominal Agregat
Sulfat
Ganggu Tipe maks.
(SO3) dlm FAS
an SO3 Dlm Semen
air tanah
Sulfat Total SO3 camp. Air
lt/gr 40mm 20mm 10mm
(%) : Tanah =
2:1 lt/gr
Tipe I dgn
1. < 0,2 < 1,0 < 0,3 Pozolan 80 300 350 0,5
(15-40%)
Tipe I dgn
Pozolan 290 330 380 0,5
(15-40%)

Tipe I dgn
Pozolan
(15-40%)
2. 0,2 1,0 - 1,9 0,3 1,2
atau 270 310 360 0,55
Semen
Portlan
Pozolan

Tipe II
250 290 340 0,55
atau V
Tipe I dgn
Pozolan
(15-40%)
3. 0,5 1,0 1,9 3,1 1,2 2,5 atau 340 380 430 0,45
Semen
Portlan
Pozolan
Tipe II
290 330 380 0,50
atau V
4. 1,0 2,0 3,1 5,6 2,5 5,0
Tipe II
330 370 420 0,45
atau V
Tipe II
atau V dan
5. >2,0 > 5,6 > 5,0 330 370 420 0,45
lapisan
pelindung
Sumber : Tabel 4, SNI. T-15-1990-03:10

Tabel 3.11.b. Faktor air semen untuk Beton Bertulang dalam air
Kandungan Semen
Kondisi
Min. (kg/ m3)
Jenis Lingk. FAS
Tipe Semen Ukuran Nominal
Beton Berhubungan Maks.
Agregat Maks.
dengan
40 mm 20 mm
Air Tawar 0,50 Semia Tipe I - V 280 300
Air Payau 0,45 Tipe I + pozolan 340 380
Bertulang
(15 40 %) atau
atau
S.P pozolan
Prategang
0,50 Tipe II atau V 290 330
Air Laut 0,45 Tipe II atau V 330 370
Sumber : Tabel 5, SNI. T-15-1990-03:11
7. Penetapan Nilai Slump

Penentuan nilai slump dilakukan dengan memperhatikan pelaksanaan

pembuatan, pengangkatan penuangan, pemadatan maupun strukturnya.

Cara pengangkatan adukan beton dengan aliran dalam pipa yang

dipompa dengan tekanan membutuhkan nilai slump yang besar, adapun

pemadatan adukan dengan alat getar (triler) dapat dilakukan dengan nilai

slump yang agak kecil. Nilai slump yang diinginkan dapat diperoleh dari

tabel 3.12.

Tabel 3.12. Penetapan nilai slump


Pemakaian beton Maks Min

Dinding, plat pondasi, dan pondasi telapank 12,5 5,0

tulang

Pondasi telapak tidak bertulang kaison, dan 9,0 2,5

struktur di bawah tanah

Pelat, balok, kolom, dan dinding 15,0 7,5

Pengerasan jalan 7,5 5,2

Pembetonan massal 7,5 2,5

Sumber : Teknologi beton (Kardiyono Tjokrodimulyo)

8. Penetapan Besar Butir Agregat Maksimum, dilakukan berdasarkan nilai

terkecil dari ketentuan-ketentuan berikut:

a. Tiga perempat kali jarak bersih minimum antar baja tulangan, atau

berkas baja tulangan, atau tendong prategang atau selonsong.


b. Sepertiga kali tebal plat.

c. Seperlima jarak terkecil antar bidang samping cetakan.

9. Tetapkan jumlah air yang diperlukan permeter kubik beton, berdasarkan

ukuran maksimum agregat, dan slump yang diinginkan, lihat Tabel 3.13.

Tabel 3.13. Perkiraan Kebutuhan Air Permeter Kubik Beton (liter)


Besar Ukuran Slump
Jenis
Maks Kerikil
Batuan 0 10 10 - 30 30 60 60 - 80
(mm)
10 Alami 150 180 205 225
Batu pecah 180 205 230 250
20 Alami 135 160 180 195
Batu pecah 170 190 210 225
30 Alami 115 140 160 175
Batu pecah 155 175 190 205
Sumber : Tabel 6, SNI. T-15-1990-03:13

Dalam tabel 3.13. Apabila agregat halus dan agregat kasar yang dipakai

dari jenis yang berbeda (alami dan pecahan) maka jumlah air yang

diperkirakan diperbaiki dengan rumus:

A = 2/3 Ah + 1/3 Ak

Dengan : A = jumlah air yang dibutuhkan

Ah = jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat

halusnya

Ak = jumlah air yang dibutuhkan menurut jenis agregat

kasarnya
10. Hitung Berat Semen Yang Diperlukan

Berat semen permeter kubik beton dihitung dengan membagi jumlah air

(dari langkah 11) dengan faktor air semen yang diperoleh pada langkah

(7) dan (8).

11. Jumlah semen maksimum diabaikan bila tidak ditetapkan.

12. Kebutuhan Semen Minimum

Kebutuhan semen minimum dapat dilihat berdasarkan tabel 3.4. serta

kebutuhan semen minimum ini ditetapkan untuk menghindari beton dari

kerusakan akibat lingkungan khusus, misalnya korosif, air payau, dan air

laut berdasarkan tabel 3.4.a dan tabel 3.4.b.

13. Penyesuaian Jumlah Air atau Faktor Air Semen

Jika jumlah semen berubah karena jumlahnya lebih kecil dari jumlah

semen minimum atau lebih besar dari jumlah semen maksimum, maka

FAS harus dihitung kembali. Jika jumlah semen yang dihitung dari

langkah (12) berada diantara maksimum dan minimum, kita bebas

memilih jumah semen yang akan digunakan.

14. Penentuan Daerah Gradasi

Berdasarkan gradasinya (hasil analisa ayakan) agregat halus yang akan

dipakai diklasifikasikan menjadi 4 daerah. Penentuan daerah gradasi ini

berdasarkan atas grafik gradasi yang diberikan dalam Tabel 3.2. dengan

ini, agregat halus dapat dimasukkan menjadi salah satu dari 4 daerah,

yaitu daerah 1, 2 , 3, dan 4.


15. Perbandingan Agregat Halus dan Agregat Kasar

Nilai banding antara agregat halus dan agregat kasar diperlukan untuk

memperoleh gradasi campuran yang baik. Pada langkah ini dicari nilai

banding antara berat agregat halus dan berat agregat campuran.

Penetapan dilakukan dengan memperhatikan besar butir maksimum

agregat kasar, nilai slam, faktor air semen, dan gradasi agregat halus.

16. Berat Jenis Agregat Campuran

Berat jeni agregat campuran dihitung dengan rumus:

Bj camp. = (P/100) * Bj Ag halus + (K/100) * Bj ag. Kasar

Dengan : Bj Ag. = Berat jenis agregat campuran

Bj ag. Halus = Berat jenis agregat halus

Bj ag. Kasar = Berat jenis agregat kasar

P = Persentase agregat halus terhadap campuran

K = Persenatase agregat kasar terhadap campuran

Berat jenis agregat halus dan agregat kasar diperoleh dari hasil

pemeriksaan laboratorium. Namun jika tidak, dapat diambil sebesar

2,60 untuk agregat tak dipecah/alami dan 2,70 untuk agregat pecahan.

17. Penentuan Berat Jenis Beton

Dengan data berat jenis campuran dari langkah (8) dan kebutuhan air

tiap meter kubik betonnya, amak dengan grafik pada Gambar 3.3 dapat

diperkirakan berat jenis betonnya.


Caranya adalah sebagai berikut:

a. Dari berat jenis agregat campuran dari langkah (17) dibuat garis

kurva berat jenis gabungan yang sesuai dengangaris kurva yang

paling dekat dengan garis kurva pada Gambar 3.4.

b. Kebutuhan air yang diperoleh pada langkah (11) dimasukkan dalam

Gambar 3.4. kemudian dari nilai itu ditarik garis vertikal ke atas

sampai mencapai garis kurva yang dibuat pada (a) di atas.

c. Dari titik potong ini kemudian ditarik garis horizontal ke kiri

sehingga diperoleh nilai berat jenis betonnya.

2700
BERAT JENIS BETON DALAM KEADAAN BASAH (KG/CM)

Berat Jenis Agregat Gabungan (Pasir


Kerikil/Batu Pecah) Atas Batas
2600 Kering Permukaan.

AGR
E GAT
2500 BAT
U PEC
AGR AH
EGAT 2.90
TAK
2400 DIPE
CAH 2.80

2.70
2300
2.60

2.50
2200

2.40

2100
100 120 140 160 180 200 220 240 260 280

KADAR AIR BEBAS (KG/CM)

GAMBAR 3.3. PERKIRAAN BERAT JENIS BETON BASAH


18. Kebutuhan Agregat Campuran

Kebutuhan agregat campuran dihitung dengan cara mengurangi berat

beton permeter kubik dikurangi air dan semen.

19. Hitung berat agregat halus yang diperlukan berdasarkan langkah (17)

dan (20) . kebutuhan agregat halus dihitung dengan cara mengalikan

kebutuhan agregat campuran dengan persentase berat agregat halusnya.

20. Hitung berat agregat kasar yang diperlukan berdasarkan langkah (21).

Kebutuhan agregat kasar dihitung dengan cara mengurangi kebutuhan

agregat campuran dengan kebutuhan agregat halus.


Untuk mempermudah pelaksanaan, maka dibuatkan formulir isian

seperti di bawah ini:

FORMULIR PERANCANGAN ADUKAN BETON

No. Uraian Hasil


1 Kuat tekan beton yang disyaratkan pada umur . Hari : .......... Mpa
2 Deviasi Standar (S) : .......... MPa
3 Nilai Tambah (M) : .......... Mpa
4 Kuat tekan rata-rata yang direncanakan (f cr) : .......... Mpa
5 Jenis semen (* coret yang tidak perlu) Biasa/cepat keras
6 Jenis kerikil ((* coret yang tidak perlu) Alami/batu pecah
7 Faktor air semen (gb.3.1 tabel 3.11 dan gb.3.2.) : ...................
8 Faktor air semen minimum (tabel 3.11) : ...................
..............>> dipakai faktor air semen rendah
9 Nilai slump (tabel 3.12) : .............. cm
10 Ukuran maksimum agregat kasar : .. mm
11 Kebutuhan air (tabel 3.13) : ... ltr
12 Kebutuhan semen portland (dari butir 8 dan 11) : ............... kg
13 Kebutuhan semen portland minimum (tabel 3.8) : ............... kg
14 ........... >> dipakai kebutuhan semen portland : ... kg
15 Penyesuaian jumlah air atau Fas : ...
16 Daerah gradasi agregat halus (tabel 3.2) 1, 2, 3, 4
17 Persen berat ag. Halus terhadap campuran (gb. 7.10) : ............... %
18 Berat jenis agregat campuran (dihitung) : ............... kg/m
19 Berat jenis beton (gb. 7.11) : ............... kg/m
20 Kebutuhan agregat (langkah 9 11 14) : ............... kg/m
21 Kebutuhan agregat halus (langkah 17 x 20) : ............... kg/m
22 Kebutuhan agregat kasar (langkah 20 21) : ............... kg/m
Kesimpulan:
Volume Berat total air semen ag. Halus ag. Kasar
1 m3 : . kg : .. kg : . Kg : . Kg :.. kg
1 adukan : .. kg : ...... kg : ..... kg : . Kg : . kg
GRAFIK PERBANDINGAN MATERIAL
(Menggunakan Pasir dan Kerikil Batauga)

PERSEN PASIR
100

3/4''
90

3/8''
80
NO. 4

70 NO. 8
PERSEN LOLOS PASIR

60

PERSEN LOLOS KERIKIL


50

NO. 16
40

30

20
NO. 30

10
NO. 50

NO. 100

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
PERSEN KERIKIL

Maka diperoleh perbandingan material yaitu :


Pasir Batauga = 37,6 %
Kerikil Batauga = 62,4 %
GRAFIK PERBANDINGAN MATERIAL
(Menggunakan Pasir Pasarwajo dan Kerikil Batauga)

PERSEN PASIR
100

3/4''
90

3/8''
80
NO. 4

NO. 8
70
PERSEN LOLOS PASIR

NO. 16
60

PERSEN LOLOS KERIKIL


50

40
NO. 30

30

20

10
NO. 50

NO. 100

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100

PERSEN KERIKIL