Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHLUAN

A. Latar Belakang Masalah


Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (kemdikbud) telah
memproyeksikan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP)
Pendidikan Nasional 2005-2025. Khusus untuk pendidikan kejuruan,
telah dan sedang dilaksanakan lima kebijakan pendidikan kejuruan yaitu
yaitu proporsi jumlah siswa SMA:SMK, fungsi SMK, Kurikulum 2013
SMK, pendidikan kewirausahaan, dan kespesifikan daerah. Salah satu
kebijakan yang sekarang menjadi fenomenal adalah kebijakan
pembalikan proporsi jumlah siswa SMA:SMK dari 70%:30% pada tahun
2008 menjadi 30%:70% pada tahun 2015. Kebijakan ini ditetapkan oleh
Menteri Pendidikan Nasional (sekarang Mendikbud) dalam bentuk
perintah lisan, kemudian dituliskan dalam Renstra Kemendikbud 2010-
2014 (Permendiknas 44/2010), dirinci dalam Renstra Pendidikan
Menengah 2010-2014, dan diluweskan proporsinya sesuai konteks
daerah melalui Permendikbud 80/2013 tentang Pendidikan Menengah
Universal.
Melalui kebijakan ini, artinya ke depan pemerintah lebih
memfokuskan pada pendidikan yang bersifat kejuruan (vokasi), oleh
karena itu diperlukan suatu tindak nyata yaitu dengan pendirian SMK
yang baru dan diiringi dengan upaya mendorong program pendidikan
kejuruan yang sesuai dengan kebutuhan potensi daerah dan
masyarakat yang terus berubah. Tujuan dari kebijakan tersebut adalah
upaya pemerintah untuk mengurangi jumlah penggangguran terdidik,
sehingga kaum terdidik bisa terserap di dunia kerja dan bisa bersaing di
kancah internasional.
Melalui pendidikan, khususnya SMK diharapkan bisa menciptakan
tenaga ahli yang terdidik dan terlatih sehingga bisa bersaing dalam
dunia kerja, karena pendidikan memegang peranan penting bagi

1
peningkatan kualitas sumber daya yang dimiliki. Oleh karena itu
diharapkan pula para pelaku yang berkecimpung di dunia pendidikan
berupaya untuk menaikkan derajat mutu pendidikan khususnya
pendidikan di Indonesia agar dapat menciptakan suatu model
pendidikan yang berkualitas yang pada akhirnya bisa menyiapkan
peserta didiknya agar dapat bersaing dalam pasar tenaga kerja dengan
menyesuaikan pembangunan pendidikan itu sendiri.
Untuk mendukung dan merealisasikan RPJP tersebut diperlukan
tindak nyata yaitu dengan cara mendirikan SMK baru pada suatu
daerah. Pada era otonomi daerah, daerah diberi keleluasan untuk
mengatur pendidikannya, salah satunya pendidikan kejuruan. Pendirian
SMK baru harus melihat potensi daerah yang dimiliki.
Pertumbuhan jumlah SMK baru pada saat ini cukup pesat,
berdasarkan data Direktorat Pendidikan SMK Kemdikbud (2014) jumlah
SMK tumbuh dari sebesar 9.164 SMK pada tahun 2010 menjadi 11.708
sekolah pada tahun 2013 atau tumbuh sebesar 27,6%. Jumlah SMK
terbanyak adalah di Jawa Barat (2.215) diikuti dengan Jawa Timur
(1.654), Jawa Tengah (1.427), Sumatera Utara (901) dan DKI Jakarta
(595). Sementara Provinsi dengan jumlah SMK terendah adalah
Provinsi Papua Barat dengan 44 sekolah. Pertumbuhan terbesar terjadi
di Jawa Barat dengan 679 SMK baru selama periode 2010-2013.
Sementara itu, di Kabupaten Majalengka jumlah SMK pada tahun
2010 sebanyak 20 SMK dan pada tahun 2015 melonjak 160% menjadi
52 SMK (Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, 2015). Pesatnya
pertumbuhan SMK baru khususnya di Kabupaten Majalengka
disebabkan karena adanya inisiatif dan prakarsa dari praktisi
pendidikan kalangan swasta yang peduli terhadap kebijakan
pemerintah, terbukti yang banyak tumbuh adalah SMK swasta dengan
proporsi 42 SMK swasta (81%) dan 10 SMK negeri (19%). selain itu
dikarenakan mudahnya pemberian ijin operasional pendirian SMK baru
dan pembukaan program studi baru pada SMK oleh Dinas Pendidikan.

2
Seiring dengan bertambahnya jumlah SMK baru, muncul berbagai
permasalahan, seperti yang diungkapkan oleh Direktorat PSMK (2014)
berbagai permasalahan SMK adalah jumlah dan sebaran SMK, kualitas
guru, kualitas lulusan, kondisi sarana prasarana, standar kompetensi
bidang keahlian, tata kelola SMK dan minimnya pembiayaan SMK.
Oleh karena itu, di era otonomi ini pemerintah pusat dan pemerintah
daerah harus bekerja sama dalam menangani permasalahan
pendidikan yang dihadapi SMK.
Diantara permasalahan yang dihadapi SMK, terutama SMK
swasta yang baru berdiri adalah kualitas pendidikan SMK swasta dan
kualitas guru, karena guru dalam komponen pendidikan memiliki
peranan yang besar dan strategis. Karena gurulah yang dijadikan
sebagai ujung tonggak dalam pendidikan. Guru mempunyai tugas yang
berat dan sangat menentukan pada mutu lulusan. Untuk dapat
menjalankan tugasnya dengan baik maka seorang guru selayaknya
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi yang berkaitan dengan
tugas dan tanggung jawabnya.
Dengan adanya kualifikasi dan kompetensi tersebut diharapkan
seorang guru menjadi tenaga pendidik dan pengajar yang professional.
Sementara itu, fakta di lapangan menunjukkan bahwa jumlah guru
terutama guru produktif di SMK swasta yang baru didirikan sangat
kurang, belum lagi kualifikasi dan kompetensi guru produktif SMK
masih belum memenuhi standar. Begitu pula yang dialami salah satu
SMK yang baru berdiri di Kabupaten Majalengka yaitu SMK Perjuangan
Bangsa Ligung.

B. Rumusan Masalah
Mengingat luasnya masalah pendidikan kejuruan yang dihadapi
SMK, maka pada makalah ini dibatasi pada kajian tentang kebijakan
pendirian SMK baru dalam konteks otonomi daerah dan kualitas guru
produktif SMK. Adapun rumusan masalah adalah sebagai berikut:

3
1. Bagaimana kebijakan pemberian ijin operasional pendirian SMK
baru dan program studi baru dalam Konteks Otonomi Daerah di
lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka dalam upaya
meningkatkan pertumbuhan dan mutu pendidikan SMK yang
berkualitas?
2. Bagaimana upaya peningkatan ketersediaan, kualifikasi dan
kompetensi Guru Produktif di SMK Perjuangan Bangsa Ligung
Kabupaten Majalengka?
Berdasarkan rumusan masalah di atas, dibuat rumusan hipotesis
pemecahan masalah sebagai berikut:
1. Pertumbuhan SMK baru dan kualitas pendidikan SMK pada suatu
daerah otonom akan terkendali apabila dalam pemberian ijin
operasional pendirian SMK dan program studi baru oleh Dinas
Pendidikan dilakukan dengan memperhatikan potensi daerah dan
berbagai sumber daya pendidikan yang mendukung.
2. SMK swasta yang baru berdiri akan memiliki kualitas pendidikan
kejuruan yang baik apabila memiliki ketersediaan jumlah guru
produktif yang memadai dengan kualifikasi dan kompetensi Guru
Produktif yang baik.

C. Tujuan dan Manfaat


Tujuan yang ingin dicapai dalam penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk memperoleh gambaran tentang implementasi kebijakan
pemberian ijin operasional pendirian SMK baru dan program studi
baru dalam Konteks Otonomi Daerah di lingkungan Dinas
Pendidikan Kabupaten Majalengka dalam upaya meningkatkan
pertumbuhan dan mutu pendidikan SMK yang berkualitas.
3. Memperoleh gambaran tentang upaya peningkatan ketersediaan,
kualifikasi dan kompetensi Guru Produktif di SMK Perjuangan
Bangsa Ligung Kabupaten Majalengka.

4
Adapun manfaat yang diharapkan dari penyusunan makalah ini
adalah:
1. Manfaat Teoritis
Hasil kajian ini diharapkan dapat mengembangkan hasanah
keilmuan berkaitan dengan implementasi kebijakan pendirian SMK
baru dan penyediaan guru produktif yang memiliki kualifikasi dan
kompetensi yang baik untuk meningkatkan mutu pendidikan SMK.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Dinas Pendidikan
Hasil kajian ini dapat dijadikan dasar bagi Dinas Pendidikan
untuk meningkatkan fungsi dan perannya dalam memberikan ijin
operasional pendirian SMK baru dan program studi baru untuk
meningkatkan mutu pendidikan SMK.
b. Bagi SMK
Hasil kajian ini dapat dijadikan dasar bagi SMK untuk
meningkatkan ketersediaan jumlah guru produktif yang memiliki
kualifikasi dan kompetensi yang baik untuk meningkatkan mutu
pendidikan SMK.

5
BAB II
KONSEP DAN TEORI

A. Otonomi Daerah dalam Bidang Pendidikan

Pengertian otonomi daerah menurut Wikipedia:


Otonomi daerah dapat diartikan sebagai kewajiban yang diberikan
kepada daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut aspirasi
masyarakat untuk meningkatkan daya guna dan hasil
guna penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka pelayanan
terhadap masyarakat dan pelaksanaan pembangunan sesuai dengan
peraturan perundang-undangan.

Pada era otonomi daerah terjadi pemindahalihan wewenang dari


pemerintah pusat ke pemerintah daerah atau biasa disebut dengan
desentralisasi. Istilah desentralisasi muncul dalam paket undang-
undang tentang pemerintahan daerah yang pelaksanaannya
dilatarbelakangi oleh keinginan segenap lapisan masyarakat untuk
melakukan reformasi dalam semua bidang pemerintahan, termasuk
bidang pendidikan.
Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 pasal 50 ayat (5)
menetapkan bahwa Pemerintah Kabupaten dan Pemerintah Kota
mengelola pendidikan dasar dan pendidikan menengah, serta satuan
pendidikan yang berbasis keunggulan lokal. Kewenangan Pemerintah
Provinsi dalam hal ini adalah melakukan koordinasi atas
penyelenggaraan pendidikan, pengembangan tenaga kependidikan,
dan peyediaan fasilitas penyelenggaraan pendidikan lintas
kabupaten/kota untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah.
Berdasarkan ketentuan perundang-undangan yang ada, pemerintah
daerah diberi otonomi atau keleluasaan untuk membuat perencanaan,
pengelolaan, sampai evaluasi serata pembiayaan program pendidikan
yang akan diterapkan di daerah masing-masing.

6
Wagiran (2007) menyatakan pemanfaatan potensi daerah
sebagai basis pengembangan, pemerataan, dan perluasan pendidikan
harus dilihat dari tiga aspek utama, yaitu: (1) potensi geografis yang
meliputi kekayaan alam, letak wilayah, dan. sumber daya buatan, (2)
faktor kultural, kepercayaan nilai-nilai moral, dan norma yang
menentukan kepribadian masyarakatnya, (3) kondisi sosial, ekonomi,
dan tingkat kemajuan masyarakatnya. Ketiga aspek ini ada pada setiap
kawasan dan kadang-kadang memperlihatkan kesamaan, tetapi sangat
sering terjadi perbedaan atau variasi. Pembukaan dan perluasan
pendidikan memerlukan adanya iklim yang mendukung, adanya
sumber tempat praktek atau pelatihan, dan suasana penerimaan dan
pemanfaatan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, setiap upaya
mendirikan sarana atau lembaga pendidikan perlu disesuaikan dengan
kondisi kawasan yang ada, sehingga tidak terkesan mubazir. Mungkin
lembaga pendidikan bersifat umum bisa sama seluruh Indonesia, tetapi
yang bersifat khusus harus disesuaikan dengan kondisi kawasan
dengan mempertimbangkan tiga aspek pendukung di atas.
Lebih lanjut Wagiran (2007) mengungkapkan bahwa dalam
konteks pengembangan pendidikan kejuruan, daerah memiliki
kewenangan menentukan kebijakan pengembangan program
pendidikan SMK yang sesuai dengan konteks daerah. Program
pendidikan SMK dapat diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja
atau sumber daya manusia (SDM) yang lebih produktif dan mampu
mendayagunakan potensi perekonomian daerah, mampu
memperbesar perputaran perekonomian, sehingga dalam jangka
panjang akan meningkatkan kemandirian daerah.

B. Kualifikasi dan Kompetensi Guru Produktif


Menurut wikipedia kata guru berasal dari Sanskerta yang arti
secara harfiahnya adalah berat, secara definisi guru adalah seorang
pengajar suatu ilmu (Wikipedia: 2012). Sementara menurut Undang-

7
undang No. 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen bahwa guru adalah
pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar,
membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi
peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal,
pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

1. Kualifikasi Akademik Guru Produktif


Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kualifikasi adalah
pendidikan khusus untuk memperoleh suatu keahlian atau keahlian
yang diperlukan untuk mencapai sesuatu (menduduki jabatan dsb).
Sedangkan akademik memiliki arti akademis. Jadi kualifikasi
akademik adalah keahlian atau kecakapan khusus dalam bidang
pendidikan baik sebagai pengajar pelajaran, administrasi pendidikan
dan seterusnya yang diperoleh dari proses pendidikan.
Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 32 Tahun 2013,
Kualifikasi akademik diartikan sebagai tingkat pendidikan minimal
yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan
ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan
perundang-undanangan yang berlaku. Lebih detailnya dalam
lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun 2007
tanggal 4 Mei 2007 tentang Standar kualifikasi akademik dan
kompetensi guru, disebutkan bahwa Kualifikasi akademik guru
SMK/MAK adalah Guru pada SMK/MAK atau bentuk lain yang
sederajat, harus memiliki:
a) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1).
b) program studi yang sesuai dengan mata pelajaran yang
diajarkan/diampu dan diperoleh dari program studi yang
terakreditasi, dan
c) memiliki sertifikasi guru untuk SMK/MAK.

8
2. Kompetensi dan Standar Kompetensi Guru Produktif
Menurut Kamus Bahasa Indonesia, kompetensi berarti
(kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan
sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi (competency) yakni
kemampuan atau kecakapan. Kompetensi di definisikan dalam Surat
Keputusan Mendiknas nomor 045/U/2002. Kompetensi adalah
seperangkat tindakan cerdas, penuh tanggung jawab yang dimiliki
seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat
dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu.
Robert A. Roe (2001) mengemukakan definisi dari
kompetensi yaitu Competence is defined as the ability to adequately
perform a task, duty or role. Competence integrates knowledge,
skills, personal values and attitudes. Competence builds on
knowledge and skills and is acquired through work experience and
learning by doing. kompetensi dapat digambarkan sebagai
kemampuan untuk melaksanakan satu tugas, peran atau tugas,
kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, ketrampilan-
ketrampilan, sikap-sikap dan nilai-nilai pribadi, dan kemampuan
untuk membangun pengetahuan dan keterampilan yang didasarkan
pada pengalaman dan pembelajaran yang dilakukan.
Adapun kompetensi guru adalah the ability of teacher to
responsibility perform has or her duties oppropriately. Kompetensi
guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan
kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak. Secara
singkat kompetensi bagi guru dapatlah disimpulkan bahwa
kompetensi guru merupakan kemampuan dan kewenangan guru
dalam melaksanakan profesi keguruannya.
Ada sekurang-kurangya empat kompetensi yang harus dimiliki
seorang guru, yaitu kompetensi professional, kompetensi pedagogik,
kompetensi kebribadian, dan kompetensi sosial:

9
a. Kompetensi Profesional
Guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan
dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu
melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan
kemampuan maksimal. Atau dengan kata lain, guru profesional
adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta
memiliki pengalamn yang kaya di bidangnya.
Yang dimaksud dengan terdidik dan terlatih bukan hanya
memperoleh pendidikan formal tetapi juga harus menguasai
berbagai strategi atau teknik di dalam kegiatan belajar mengajar
serta menguasai landasan-landasan kependidikan seperti yang
tercantum dalam kompetensi guru yang profesional.
Terdapat banyak pendapat tentang kompetensi yang seharusnya
dikuasai guru sebagai suatu jabatan profesional. Ada sebelas
kompetensi yang harus dikuasai guru, yaitu:
1) Menguasai bahan ajar.
2) Menguasai landasan-landasan kependidikan
3) Mampu mengelola program belajar mengajar.
4) Mampu mengelola kelas.
5) Mampu menggunakan media/sumber belajar lainnya.
6) Mampu mengelola interaksi belajar mengajar.
7) Mampu menilai prestasi peserta didik untuk kepentingan
pengajaran.
8) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan
penyuluhan.
9) Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah.
10) Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil
penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran, dan
11) Memiliki kepribadian yang tinggi.

Uzer Usman (1995) berpendapat bahwa kompetensi


profesional seorang guru diantaranya mencakup: (1) menguasai
landasan kependidikan, (2) menguasai bahan pengajaran, (3)
mampu menyusun program pengajaran, (4) mampu
melaksanakan program pengajaran, serta (5) mampu menilai
hasil dan proses belajar mengajar.

10
b. Kompetensi Pedagogik
Kompetensi pedagogik pada dasarnya adalah kemampuan
guru dalam mengelola pembelajaran peserta didik. Kompetensi
pedagogik merupakan salah satu jenis kompetensi yang harus
dikuasai guru. Kompetensi pedagogik merupakan kompetensi
khas yang membedakan guru dengan profesi lainnya.
Aspek yang terdapat dalam kompetensi pedagogik menurut
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun 2007
tentang Standar kualifikasi akademik dan kompetensi guru,
diantaranya adalah:
1) Menguasai karakteristik peserta didik
2) Menguasai teori belajar dan prinsip-prinsip pembelajaran
3) Mengembangkan kurikulum
4) Menyelenggarakan pembelajaran yang medidik
5) Mengembangkan potensi peserta didik
6) Melakukan komunikasi dengan peserta didik
7) Menilai dan mengevaluasi pembelajaran

c. Kompetensi Kepribadian
Kompetensi kepribadian merupakan kemampuan personal
yang mencerminkan kepribadian yang mantap, stabil, dewasa,
arif dan berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik, dan
berakhlak mulia. Kepribadian yang mantap dan stabil memiliki
indikator esensial, yakni bertindak sesuai dengan norma hukum,
bertindak sesuai dengan norma sosial, bangga sebagai guru,
dan memiliki konsistensi dalam bertindak sesuai dengan norma.
Jika kita mengacu kepada standar nasional pendidikan,
kompetensi kepribadian guru meliputi:
1) Memiliki kepribadian yang mantap dan stabil, yang
indikatornya bertindak sesuai dengan norma hukum, norma
sosial. Bangga sebagai pendidik, dan memiliki konsistensi
dalam bertindak sesuai dengan norma,
2) Memiliki kepribadian yang dewasa, dengan ciri-ciri
menampilkan kemandirian dalam bertindak sebagai pendidik
yang memiliki etos kerja,
3) Memiliki kepribadian yang arif, yang ditunjukkan dengan
tindakan yang bermanfaat bagi peserta didik, sekolah dan

11
masyarakat serta menunjukkan keterbukaan dalam berpikir
dan bertindak,
4) Memiliki kepribadian yang berwibawa, yaitu perilaku yang
berpengaruh positif terhadap peserta didik dan memiliki
perilaku yang disegani,
5) Memiliki akhlak mulia dan menjadi teladan, dengan
menampilkan tindakan yang sesuai dengan norma religius
(iman dan takwa, jujur, ikhlas, suka menolong), dan memiliki
perilaku yang diteladani peserta didik.

d. Kompetensi Sosial
Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru untuk
berkomunikasi dan berinteraksi secara harmonis dengan peserta
didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan, orangtua/wali
peserta didik, dan masyarakat sekitar. Indikasinya, guru mampu
berkomunikasi dan bergaul secara harmonis peserta didik,
sesame pendidik, dan dengan tenaga kependidikan, serta
dengan orang tua/wali peserta didik dan masyarakat sekitar.
La Fontana dan Cillesen (2002) menuliskan bahwa
kompetensi sosial dapat dilihat sebagai perilaku prososial,
altruistik, dan dapat bekerja sama. Anak-anak yang sangat
disukai dan yang dinilai berkompetensi sosial oleh orang tua dan
guru-guru pada umumnya mampu mengatasi kemarahan dengan
baik, mampu merespon secara langsung, melakukan cara-cara
yang dapat meminimalisasi konflik yang lebih jauh dan mampu
mempertahankan hubungannya.
Menurut Panduan Serftifikasi Guru (2006) bahwa terdapat
4 indikator untuk menilai kemampuan sosial seorang guru, yaitu:
1) Bertindak objektif serta tidak diskriminatif karena
pertimbangan jenis ke-lamin, agama, ras, kondisi fisik, latar
belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
2) Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan
sesama guru, tenaga kependidikan, orangtua, dan masyarakat.
3) Beradaptasi di tempat bertugas di seluruh wilayah Republik
Indonesia yang memiliki keragaman sosial budaya.
4) Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi
lain secara lisan dan tulisan atau bentuk lain.

12
BAB III
PEMBAHASAN

Kajian dalam makalah ini adalah kajian analisis masalah, yang


merupakan kajian yang bersifat induktif empiris terhadap masalah-masalah
yang dihadapi dalam pertumbuhan dan pendirian SMK baru dalam konteks
otonomi daerah yang terjadi di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten
Majalengka dan kajian tentang ketersediaan guru produktif, kualifikasi
akademik dan kompetensi guru produktif pada salah satu SMK swasta di
Kabupaten Majalengka, yaitu pada SMK Perjuangan Bangsa Ligung. Oleh
karena itu, apa yang ditulis dalam makalah ini lebih cenderung pada
pengalaman penulis selama berkecimpung dan berinteraksi dengan para
pemangku kepentingan pendidikan kejuruan di tingkat Kabupaten
Majalengka dan di tingkat sekolah khususnya SMK, yang disertai dengan
kutipan-kutipan terbatas dari sejumlah sumber, baik melalui observasi
partisipatif, wawancara, studi dokumentasi dan studi kepustakaan sebagai
penunjang kajian.

A. Implementasi kebijakan pemberian ijin operasional pendirian SMK


baru dan program studi baru dalam Konteks Otonomi Daerah di
lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka dalam upaya
meningkatkan pertumbuhan dan mutu pendidikan SMK yang
berkualitas
Seiring bergulirnya kebijakan pemerintah melalui Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2008 tentang proporsi 30%
SMA dan 70% SMK, maka pertumbuhan SMK di Kabupaten
Majalengka sangat pesat. Tercatat pada tahun 2008 jumlah SMK
sebanyak 20 dan melonjak 160% pada tahun 2015 menjadi 52 SMK
(Dinas Pendidikan Kabupaten Majalengka, 2016). Pesatnya
pertumbuhan SMK baru khususnya di Kabupaten Majalengka
disebabkan karena animo lulusan SMP/MTs yang ingin melanjutkan

13
pendidikan ke SMK yang sangat tinggi, adanya inisiatif dan prakarsa
dari praktisi pendidikan kalangan swasta yang peduli terhadap
kebijakan pemerintah, terbukti yang banyak tumbuh adalah SMK
swasta dengan proporsi 42 SMK swasta (81%) dan 10 SMK negeri
(19%).
Dalam memberikan ijin pendirian SMK baru, Dinas Pendidikan
Kabupaten Majalengka sudah menjalankan sesuai prosedur dan aturan
yang tertuang dalam Permendikbud Nomor 36 Tahun 2014 tentang
Pedoman Pendirian, Perubahan, dan Penutupan Satuan Pendidikan
Dasar Dan Menengah, meliputi: hasil studi kelayakan; isi pendidikan;
jumlah dan kualifikasi pendidik dan tenaga kependidikan; sarana dan
prasarana pendidikan; pembiayaan pendidikan; sistem evaluasi dan
sertifikasi; dan manajemen dan proses pendidikan.
Selain persyaratan sebagaimana dimaksud pada pasal 4 ayat (1),
pendirian satuan pendidikan harus melampirkan: a) hasil studi
kelayakan tentang prospek pendirian satuan pendidikan formal dari segi
tata ruang, geografis, dan ekologis; b) hasil studi kelayakan tentang
prospek pendirian satuan pendidikan formal dari segi prospek
pendaftar, keuangan, sosial, dan budaya; c) data mengenai
perimbangan antara jumlah satuan pendidikan formal dengan penduduk
usia sekolah di wilayah tersebut; d) data mengenai perkiraan jarak
satuan pendidikan yang diusulkan di antara gugus satuan pendidikan
formal sejenis; e) data mengenai kapasitas daya tampung dan lingkup
jangkauan satuan pendidikan formal sejenis yang ada; f) data mengenai
perkiraan pembiayaan untuk kelangsungan pendidikan paling sedikit
untuk 1 (satu) tahun akademik berikutnya; dan g) data mengenai status
kepemilikan tanah dan/atau bangunan satuan pendidikan harus
dibuktikan dengan dokumen kepemilikan yang sah sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan atas nama Pemerintah,
pemerintah daerah, atau badan penyelenggara; Selain itu, Persyaratan
pendirian satuan pendidikan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

14
sekurang-kurangnya harus memenuhi Standar Pelayanan Minimal.
Khusus pendirian Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), selain
persyaratan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, harus memenuhi:
1. tersedianya sarana dan prasarana praktik yang sesuai dengan
kejuruannya;
2. adanya potensi sumber daya wilayah yang memerlukan keahlian
kejuruan tertentu;
3. adanya potensi lapangan kerja;
4. adanya pemetaan satuan pendidikan sejenis di wilayah tersebut; dan
5. adanya dukungan masyarakat dan dunia usaha/dunia industri yang
dibuktikan dengan dokumen tertulis dari masyarakat dan dunia
usaha/industri.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kabid. Pendidikan Menengah


dan Kejuruan Disdik Kab. Majalengka, bahwa dalam tata cara pemberian
izin SMK yang diselenggarakan oleh masyarakat/swasta sudah memenuhi
ketentuan yang berlaku, yaitu sebagai berikut:
a. badan penyelenggara mengajukan permohonan izin pendirian satuan
pendidikan kepada bupati melalui dinas pendidikan kabupaten dengan
melampirkan hasil studi kelayakan dan data;
b. kepala dinas pendidikan kabupaten menugaskan kepada Tim Penilai
untuk menelaah usul pendirian satuan pendidikan;
c. tim penilai sebagaimana dimaksud pada huruf b merupakan tim yang
dibentuk oleh kepala dinas kabupaten;
d. kepala dinas kabupaten paling lambat dalam jangka waktu 3 (tiga)
bulan setelah menerima usul rencana pendirian satuan pendidikan
sebagaimana dimaksud dalam butir a, menerbitkan surat keputusan
tentang izin pendirian satuan pendidikan atau pemberitahuan penolakan
pendirian satuan pendidikan; dan
e. izin pendirian sebagaimana dimaksud pada huruf d berlaku untuk 1
(satu) satuan pendidikan pada 1 (satu) lokasi.

Adapun perekembangan jumlah SMK di Majalengka dari tahun 2008


2015 sebagai berikut:
Tabel 1
Pertumbuhan SMK di Kabupaten Majalengka periode tahun 2008 2015
Status Jumlah SMK
No
SMK 2008 2010 2012 2015
1 Negeri 8 10 10 10
2 Swasta 12 31 38 42

15
Total 20 41 48 52
Sumber: Disidik Kab. Majalengka, 2016
Berdasarkan SK Dirjen Mendikbud RI bahwa jumlah program studi
untuk SMK yaitu sebanyak 128 program, adapun jumlah program studi
yang ada di SMK kabupaten Majalengka sebanyak 30 program studi
yang tersebar di 52 SMK.
Tabel 2
Jumlah dan Penyebaran Program Studi pada SMK Negeri dan Swasta
Di Kabupaten Majalengka Tahun 2015

Jumlah pada
Jumlah
No Program Studi SMK
Total
Negeri Swasta
1 Teknik Gambar Bangunan 1 1 2
2 Teknik Instalasi Tenaga Listrik 1 2 3
3 Teknik Pemesinan 1 3 4
4 Pemeliharaan dan Perbaikan Instrumen 1 1
Elektronika Pesawat Udara
5 Teknik Penyempurnaan Tekstil 2 2
6 Kimia Analisis 3 3
7 Kimia Industri 2 2
8 Teknik Kendaraan Ringan 6 34 40
9 Teknik Sepeda Motor 6 40 46
10 Teknik Audio video 2 2 4
11 Rekayasa Perangkat Lunak 8 40 48
12 Teknik Komputer dan Jaringan 8 36 44
13 Multimedia 2 2 4
14 Teknik Produksi dan penyiaran program 1 1 2
radio dan pertelevisian
15 Keperawatan 1 4 5
16 Analis Kesehatan 4 4
17 Farmasi 1 4 5
18 Agribisnis tanaman pangan dan hortikultura 1 1 2
19 Teknologi pengolahan hasil pertanian 1 1
20 Kehutanan 1 1
21 Budidaya perikanan 1 1
22 Administrasi Perkantoran 2 2 4
23 Akuntansi 4 10 14
24 Perbankan 2 4 6
25 Pemasaran 4 6 10
26 Usaha Perjalanan Swasta 2 2 4
27 Akomodasi Perhotelan 1 3 4
28 Jasa Boga 1 1 2
29 Seni Tari 1 1
30 Seni Karawitan 1 1
Sumber: Disidik Kab. Majalengka, 2016

16
Dari table di atas dapat terlihat bahwa program studi yang
berkembang di SMK kabupaten Majalengka tidak merata, sebagian
besar SMK membuka Program Studi Rekayasa Perangkat Lunak,
Teknik Sepeda Motor, Teknik Kendaraan Ringan, dan Teknik Komputer
dan Jaringan, sementara program studi yang lain jumlahnya sedikit.
Hal ini kurang selaras dengan perencanaan pembangunan yang
dicanangkan Pemerintah Kabupaten Majalengka, yaitu pembangunan di
bidang pertanian, industry, pariwisata, perbankan. Apalagi dengan akan
dibukanya Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) pada tahun 2017
dan mulai dibukanya Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) Kabupaten
Majalengka akan menjadi kota Industri dan Kota Pariwisata dan Kota
Pertanian, mengingat potensi daerah Majalengka sebagian besar
adalah wilayah pertanian (Bapeda Kab. Majalengka, 2015).
SMK di Majalengka yang membuka program studi bidang
pertanian dan pariwisata jumlahnya sangat sedikit, karena dalam hal ini
pemberian ijin pendirian SMK yang dilakukan Dinas Pendidikan
Kabupaten Majalengka didasarkan pada pengajuan dari pihak
penyelenggara pendidikan, bukan atas dasar kajian atau rekomendasi
dari Dinas Pendidikan. Sementara itu pihak penyelenggara pendidikan,
dalam membuka program studi masih berorientasi pada kebutuhan
lulusan yang dibutuhkan industry di luar Majalengka dan mengikuti tren
yang saat ini sedang booming yaitu Industri Otomotif dan industry
telekomunikasi.
Dalam konteks pengembangan pendidikan kejuruan, daerah
memiliki kewenangan menentukan kebijakan pengembangan program
pendidikan SMK yang sesuai dengan konteks daerah. Program
pendidikan SMK dapat diarahkan untuk menghasilkan tenaga kerja atau
sumber daya manusia (SDM) yang lebih produktif dan mampu
mendayagunakan potensi perekonomian daerah, mampu memperbesar

17
perputaran perekonomian, sehingga dalam jangka panjang akan
meningkatkan kemandirian daerah.
Sebelum mendirikan suatu SMK baru, dinas pendidikan
Kabupaten Majalengka hendaknya berpedoman pada salah satu prinsip
filsafat kejuruan yang salah satunya adalah Kebutuhan (needs). Artinya
kompetensi keahlian yang ada di SMK harus disesuaikan dengan
potensi dan kebutuhan masyarakat di daerah. Misalnya pada suatu
daerah tepi laut, kompetensi keahlian yang tepat adalah Budidaya Ikan
Air Laut, budidaya rumput laut atau Konstruksi Kapal. Pada daerah
yang memiliki potensi perkebunan yang tinggi seperti kopi, durian,
kelapa sawit dll maka kompetensi keahlian yang cocok adalah teknik
mesin, Pengelolaan Hasil Pertanian Pangan dll. Diharapkan dengan
adanya kecocokan antara kompetensi keahlian dengan kebutuhan pada
suatu daerah, bisa mengurangi jumlah pengganguran serta berusaha
untuk memperoleh tenaga kerja dengan produktivitas tinggi (lulusan
SMK) yang diperlukan untuk mengembangkan dan mendayagunakan
potensi perekonomian daerah.
Berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa Kepala SMK
dalam forum MKKS, berikut akan dijelaskan permasalah-permasalahan
yang paling mendasar dan sering terjadi di SMK swasta yang baru
berdiri:
1. Pemenuhan Fasilitas Sekolah
SMK harus memiliki dan menyiapkan sarana dan prasarana yang
lengkap sebagai penunjang pembelajaran, jumlah rasio sarana dan
prasarana harus disesuaikan dengan jumlah peserta didik. Fasilitas
sekolah disebut sarana dan prasarana. Sarana adalah sarana belajar
yang meliputi semua peralatan serta perlengkapan yang langsung
digunakan dalam pendidikan di sekolah misalnya gedung sekolah,
ruangan, meja, kursi, alat peraga, alat pelajaran, buku-buku,
kelengkapan peralatan praktek dan lain-lain. Sedangkan prasarana
merupakan semua komponen yang secara tidak langsung menunjang

18
jalannya proses pembelajaran misalnya jalan menuju ke sekolah,
halaman sekolah, dan tata tertib. Proses pembelajaran akan terlaksana
dengan baik apabila ditunjang oleh kelengkapan fasilitas pembelajaran.
Prasarana yang wajib dimiliki oleh setiap SMK meliputi: (1) Lahan,
(2) ruang kelas, (3) ruang pimpinan satuan pendidikan, (4) ruang guru,
(5) ruang tata usaha, (6) ruang perpustakaan, (7) ruang laboratorium,
(8) ruang bengkel kerja, (9) ruang unit produksi, (10) ruang kantin, (11)
instalasi daya dan jasa, (12) tempat berolahraga, (13) tempat
beribadah, (14) tempat bermain, (15) tempat rekreasi; dan (16)
ruang/tempat lain yang diperlukan.
Adapun standar fasilitas pembelajaran untuk SMK, harus
memenuhi kriteria minimum fasilitas pembelajaran sebagaimana diatur
dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008
tentang Standar Fasilitas Pembelajaran untuk Sekolah Menengah
Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK). Sebagaimana diatur
dalam lampiran peraturan tersebut, standar Fasilitas Pembelajaran
dimaksud meliputi: (1) Satuan pendidikan, (2) Lahan, (3) bangunan dan
(4) kelengkapan Fasilitas Pembelajaran.
Di lapangan, SMK swasta yang baru berdiri mempunyai banyak
persoalan yang telah menjadi rahasia umum. Permasalahan yang
paling nampak adalah fasilitas sekolah yang belum terpenuhi.
Penyelenggara pendidikan swasta hanya menyediakan lahan, ruang
kelas, ruang pimpinan sekolah (kadang digabung dengan ruang guru,
dan ruang tata usaha). Ruang kelas hanya cukup untuk angkatan
pertama, apabila tahun depan menerima angkatan baru maka angkatan
tersebut akan masuk sekolah pada siang hari. Meja dan kursi pun
terkadang belum tersedia, jadi siswa yang harus menyediakan sendiri.
Pembelajaran di SMK berbasis praktek, artinya sebagian kegiatan
pembelajaran berupa praktikum di bengkel/workshop. Untuk itu
diperlukanlah bengkel/workshop beserta mesin-mesin serta
kelengkapan pratikumnya. Aneh rasanya kalau pembelajaran di SMK

19
hanya pembelajaran teori saja tanpa praktek. Kalau itu yang terjadi
sama saja dengan SMA berlatar SMK. Tidak ada yang bisa didapatkan
siswa untuk menambah skill, kemampuan atau keterampilannya. Ketika
lulus, seharusnya mereka bisa langsung bekerja tapi kenyataannya
berbeda. Mereka masih harus melanjutkan pendidikan ke jenjang yang
lebih tinggi. Beruntung bagi orang tua mereka yang mampu
menyekolahkan, jika tidak maka jumlah pengganguran akan semakin
bertambah.
Jika standar tersebut belum terpenuhi, para siswa tidak dapat
mempraktekkan atau latihan untuk menerapkan ilmu yang telah
diperolehnya dari guru. Jika sekolah tidak memiliki atau kekurangan
fasilitas praktik maka akan menimbulkan kesenjangan antara
pemahaman teori dan praktik yang pada akhirnya akan menghasilkan
mutu lulusan yang rendah. Praktik merupakan kegiatan yang tidak
terpisahkan dalam proses belajar mengajar di pendidikan kejuruan.
Pembekalan melalui praktik sangat berguna dalam mempersiapkan
kompetensi peserta didik yang siap bekerja. Praktik dalam kegiatan
belajar mengajar baik itu di SMK atau di perguruan tinggi teknik dan
kejuruan dilakukan dalam lingkungan sekolah atau lingkungan kampus
sendiri, yaitu dalam ruang praktik atau laboratorium, pada unit-unit
produksi yang dimiliki, juga dilakukan dalam dunia industri melalui
praktik kerja industri.
Pembelajaran di SMK merupakan penggabungan dan penerapan
antara teori dan praktek. Ada sebuah peribahasa Teori tanpa praktek
adalah lumpuh, praktek tanpa teori adalah buta artinya dalam
pendidikan, teori dan praktek diibaratkan dua sisi koin, apabila koin
tersebut kita putar maka dua sisi tersebut akan berputar juga sama
cepatnya. Teori dan praktek merupakan dua hal yang tidak bias
dipisahkan. Masing-masing memiliki peranan dan tujuan yang saling
melengkapi satu sama lainnya. Sebagai contoh seseorang yang akan
belajar bagaimana cara membubut, tapi dia hanya mengetahui caranya

20
dengan membaca manualnya saja tanpa mempraktekkan langsung
maka bisa dipastikan maka ia akan gagal. Seharusnya ia belajar cara
membuat dari melihat teori yang terdapat pada buku terlebih dahulu,
kemudian langsung mempraktekkannya dengan pengawasan dari
orang yang sudah bisa (guru, teknisi). Orang yang bisa praktek saja
tanpa mengetahui teori yang mendasari apa yang telah ia kerjakan
(praktekkan) juga tidak baik. Jadi antara teori dan praktek harus ada
kesinambungan diantara keduanya, agar kedua hal tersebut bisa
dikuasai hendaknya dengan latihan atau pembelajaran yang intens.
Mustahil rasanya apabila kita ingin bisa melakukan sesuatu atas dasar
teori hanya dilakukan satu kali, walaupun berhasil mungkin itu hanya
faktor keberuntungan saja. Untuk melakukan sesuatu berhasil dan
hasilnya baik agar menerapkannya seperti kata pepatah Ala bisa
karena biasa artinya coba, coba dan coba maka anda pun akan
berhasil.
Pentingnya fasilitas praktikum di SMK menurut teori prosser :
a. Pendidikan Kejuruan akan efisien apabila disediakan lingkungan
belajar yang sesuai dengan-semisal replika dari lingkungan di mana
mereka kelak akan bekerja; dan
b. Latihan kejuruan yang efektif hanya dapat diberikan jika tugas-tugas
yang diberikan di dalam latihan memiliki kesamaan operasional,
dengan peralatan yang sama dan dengan mesin-mesin yang sama
dengan yang akan dipergunakan di dalam kerjanya kelak.

Dari pendapat prosser diatas dapat diartikan betapa penting


fasilitas pratikum. Maksudnya adalah agar pendidikan kejuruan bisa
menghasilkan lulusan yang bisa diterima di dunia kerja maka SMK
harus menyediakan fasilitas atau mereplika peralatan dan lingkungan
yang mirip atau sama dengan dunia industri. Siswa juga harus dilatih
dengan latihan-latihan yang menggunakan mesin yang mirip atau sama
yang ada di dunia kerja. Hal ini dimaksudkan agar ketika siswa terjun

21
ke dunia industri mereka tidak terkejut lagi dengan lingkungan dan
peralatan yang digunakan karena sudah terbiasa dilakukan di SMK.
Tapi prinsip ini susah untuk diterapkan di Indonesia karena pembuatan
replika akan memerlukan biaya besar dan harus selalu mengikuti
perkembangan yang terjadi di dunia industri. Hal terjauh yang bisa
dilaksanakan adalah menyediakan fasilitas praktek dasar sehingga
lulusan nanti akan memiliki kompetensi dasar yang kuat untuk
dikembangkan lebih lanjut jika sudah diterima di industri.
Fenomena lain yang terjadi ketika sebuah sekolah baru didirikan,
ketika fasilitas sekolah belum terpenuhi pemerintah akan langsung
menerima siswa angkatan pertama. Ketika ditanya sarana dan
prasarana maka akan dijawab dengan akan dipenuhi sambil jalan,
maksudnya pemenuhan sarana dan prasarana akan dilakukan secara
berangsur-angsur dan memakan waktu cukup lama. Kalau hal ini yang
terjadi maka angkatan pertama yang akan menjadi korban. Mereka
hanya mendapat pelajaran teori saja tanpa adanya penerapannya
dalam penerapan praktek. Oleh karena itu Pemerintah dan sekolah
sebelum menerima siswa terlebih dahulu harus dan wajib melengkapi
serta memenuhi fasilitas sekolah sekurang-kurangnya standar
minimum sarana dan prasarana sudah terpenuhi.

2. Ketersediaan dan Kualifikasi Tenaga Pendidik Produktif


Disamping permasalahan tersebut permasalahan lainnya yang
tak kalah penting serta bisa juga dibilang utama adalah keberadaan
tenaga pendidik (guru) pada SMK swasta, yang menjadi masalah disini
adalah jumlah guru produktif yang sangat minim, kalaupun ada
kualifikasi tenaga pendidikanya masih minim. Bahkan ada guru yang
lulusan SMK mengajar pelajaran produktif. Sehingga terjadinya
ketidakselarasan antara pendidikan terakhir dengan kualifikasi
pendidik.
Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16

22
tahun 2007 tanggal 4 mei 2007 tentang Standar kualifikasi akademik
dan kompetensi guru, Disebutkan bahwa Kualifikasi akademik guru
SMK/MAK adalah Guru pada SMK/MAK atau bentuk lain yang
sederajat, harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum
diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) program studi yang sesuai
dengan mata pelajaran yang diajarkan/diampu, dan diperoleh dari
program studi yang terakreditasi.
Guru produktif yang kompeten yang sesuai dengan kualifikasi
pendidikannya diharapkan mampu memberikan pelayanan
pembelajaran diperlukan dalam menjalankan tugasnya. Guru yang
kompeten secara langsung dapat mempengaruhi bagaimana siswa
belajar serta meningkatkan hasil belajar siswa melalui pelayanan
proses pembelajaran yang bermutu. Kualitas kinerja guru akan sangat
menentukan pada kualitas hasil pendidikan, karena guru merupakan
pihak yang paling banyak bersentuhan langsung dengan siswa dalam
proses pendidikan/pembelajaran di lembaga pendidikan sekolah.
Kurangnya jumlah guru produktif ini dikatakan oleh Hamid
Muhammad, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah Kementrerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Tempo.com, 26 Juni 2015), Indonesia
kekurangan pengajar untuk SMK sebanyak 39 ribu orang. Di
Majalengka sendiri, Guru produktif yang masih sangat kurang adalah
guru produktif bidang teknik otomotif dan teknik informatika.

3. Rendahnya Mutu Lulusan


SMK diharapkan bisa menciptakan tenaga ahli yang terdidik dan
terlatih sehingga bisa bersaing dalam dunia kerja, karena pendidikan
memegang peranan penting bagi peningkatan kualitas sumber daya
yang dimiliki. Oleh karena itu diharapkan pula para pelaku yang
berkecimpung di dunia pendidikan berupaya untuk menaikkan derajat
mutu pendidikan khususnya pendidikan di Indonesia agar dapat
menciptakan suatu model pendidikan yang berkualitas yang pada
akhirnya bisa menyiapkan peserta didiknya agar dapat bersaing dalam

23
pasar tenaga kerja dengan menyesuaikan pembangunan pendidikan itu
sendiri.
Di indonesia, khususnya di Kabupaten Majalengka ada beberapa
persoalan di bidang pendidikan kejuruan yang telah menjadi rahasia
umum. Salah satunya adalah adanya kesenjangan atau gap antara
kualitas SDM yang dihasilkan SMK dengan kualitas SDM yang
dibutuhkan oleh dunia usaha dan industri (DUDI). Oleh karena itu
diperlukan keselarasan antara dunia pendidikan dan DUDI.

Tabel 1. Pengangguran Terbuka Menurut Pendidikan Tertinggi yang


Ditamatkan tahun 2013
No Pendidikan Tertinggi Yang Ditamatkan Jumlah
1. Tidak/belum pernah sekolah 109.865
2. Belum/Tidak Tamat SD 513.534
3. SD 1.421.653
4. SLTP 1.822.395
5. SMA 1.841.545
6. SMK 847.052
7. Diploma/Akademi 192.762
8. Universitas 421.717
Total 7.170.523
Sumber: BPS, 2014

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) di atas


didapatkan pengangguran terbanyak terdapat pada Sekolah Lanjutan
Tingkat Atas (SLTA) umum (Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah)
ini mengindikasikan bahwa para lulusan SLTA Umum belum memiliki
keahlian atau keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan Dunia
Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Dengan demikian meskipun
lapangan pekerjaan tersedia tetapi lulusan SLTA Umum tidak bisa
mengisi lowongan pekerjaan tersebut dikarenakan minimnya keahlian
yang ia peroleh di sekolah. Dari tabel di atas juga didapatkan bahwa
jumlah pengangguran lulusan SMK berjumlah 847.052 orang, jumlah
tersebut tidaklah sedikit walaupun tidak sebanyak lulusan SLTA Umum.
Sebenarnya lulusan SMK diharapkan bisa langsung terserap di

24
DUDI karena pada pendidikan SMK sudah dibekali keahlian dan
keterampilan, tapi kenyataannya belum memenuhi harapan yang
dimaksud rendahnya mutu lulusan SMK ini disebabkan oleh input dari
proses pendidikan yang kurang. Fasilitas dan tenaga pendidikan
merupakan input dari sistem pendidikan. Ketika fasilitas dan tenaga
pendidikan tidak terpenuhi kompetensi atau standar minimalnya maka
akan mempengaruhi proses dan output dari pendidikan tersebut.
Dengan adanya fasilitas yang lengkap dan guru produktif yang
kompeten maka akan diharapkan proses yang terjadi disekolah akan
berjalan dengan baik sehingga akan menghasilkan lulusan yang
kompeten. Oleh karena itu, untuk menghasilkan lulusan SMK yang
berkualitas dan berkompeten serta memiliki daya saing baik di tingkat
lokal, regional maupun internasional maka 8 SNP harus terpenuhi
minimalnya standar fasilitas dan standar tenaga pendidik.

B. Upaya peningkatan ketersediaan, kualifikasi dan kompetensi Guru


Produktif di SMK Perjuangan Bangsa Ligung Kabupaten
Majalengka
Seperti telah diuraikan di atas salah satu permasalahan SMK
swasta yang baru berdiri adalah ketersediaan dan kualitas guru
produktif, sama halnya yang dialami oleh SMK Perjuangan Bangsa
Ligung Majalengka. SMK ini berdiri sejak tahun 2008, dengan program
studi yang dibuka adalah Rekayasa Perangkat Lunak dan Teknik
Kendaraan Ringan, seiring dengan perkembangannya pada tahun
pelajaran 2015/2016 program studi yang dimiliki sebanyak enam, yaitu
program studi Rekayasa Perangkat Lunak, Teknik Kendaraan Ringan,
Teknik Komputer Jaringan, Akomodasi Perhotelan, Akuntansi dan
Teknik Sepeda Motor.
Adapun perkembangan jumlah peserta didik sangat pesat, pada
tahun 2008 hanya berjumlah 46 orang, tetapi pada tahun 2015
jumlahnya sebanyak 949 siswa dari enam program studi yang terbagi

25
ke dalam 29 rombel. Tetapi pertumbuhan jumlah siswa dan jumlah
rombel tidak diikuti dengan ketersediaan guru produktif.
Tabel 3
Jumlah Peserta Didik, Jumlah Rombel dan Jumlah Kebutuhan Guru
Produktif SMK Perjuangan Bangsa Ligung Majalengka
Tahun Pelajaran 2015/2016
Guru
Kebutu-
Jumlah Jumlah Produktif Kekura
No Program Studi han Guru
Siswa Rombel Yang ngan
Produktif
Ada
1 Teknik Kendaraan Ringan 324 9 4 2 2
2 Rekayasa Perangkat Lunak 233 7 3 2 1
3 Teknik Komputer Jaringan 163 6 3 2 1
4 Akomodasi Perhotelan 124 4 2 1 1
5 Akuntansi 73 2 2 2 0
6 Teknik Sepeda Motor 32 1 1 1 0
Jumlah 949 29 15 10 5
Sumber: Profil SMK Perjuangan Bangsa Ligung, 2015

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah kekurangan guru produktif


sebanyak 5 orang, yaitu untuk guru TKR 2 orang, guru RPL 1 orang,
guru TKJ 1 orang dan guru AP 1 orang. Untuk guru TKR yang terdiri 2
orang, keduanya belum memenuhi kualifikasi akademik yang
dipersyaratkan, 1 orang guru adalah lulusan D-III Teknik Otomotif dan 1
orang guru adalah lulusan SMK program studi Teknik Otomotif., yang 8
orang lainnya sudah memenuhi kualifikasi akademik yaitu lulusan S1
sesuai dengan latar belakang bidang studinya.
Berdasarkan hasil penilaian dan supervisi akademik terhadap 10
orang guru produktif yang dilakukan Kepala SMK Perjuangan Bangsa
Ligung pada semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016, menunjukkan
bahwa kompetensi guru produktif rata-rata masih berada pada kategori
cukup.

26
Tabel 4
Pencapaian Kompetensi Guru Produktif SMK Perjuangan Bangsa Ligung
Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2015/2016
Pencapaian Kompetensi
No Nama Guru Program Studi Profe- Peda- Kepri- Ket.
Sosial
sional gogik badian
1 Ahmad Jaenal, AMd TKR 65 66 68 68 Cukup
2 Imam Hambali TKR 60 62 65 65 Cukup
3 Agus Gunawan, TKJ 75 80 75 75 Baik
S.Kom
4 Arif, ST. TKJ 65 68 68 68 Cukup
5 Ikawati, ST RPL 70 65 68 68 Cukup
6 Endang Kurniawan, RPL 72 64 66 66 Cukup
S.Kom
7 Roseu, S.Par AP 75 66 68 68 Cukup
8 Nurman, S.Pd AK 75 80 78 80 Baik
9 Topik Rachman, AK 70 66 68 68 Cukup
S.Pd.
10 Atim Ratim, S.Pd. TSM 80 84 80 78 Baik
Sumber: Hasil Supervisi Kepala SMK PB Ligung, 2015
Ketercapaian : 86 100 = Baik Sekali
70 - 85 = Baik
55 - 69 = Cukup
< 55 = Kurang

Berdasarkan tabel di atas dapat terlihat bahwa pencapaian


kompetensi 3 orang guru berada kategori baik dan 7 guru berada pada
kategori cukup. Hal ini tentunya berdampak kualitas pembelajaran yang
dilakukan oleh guru produktif dan kualitas mutu lulusan yang dihasilkan.
Untuk mengatasi permasalahan ini, SMK Perjuangan bangsa
Ligung telah menetapkan misi, yaitu Peningkatan kualifikasi dan
kompetensi tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, yang
ditindaklanjuti dengan berbagai program diantaranya, pemberian
bantuan pendidikan kepada guru untuk melanjutkan pendidikan ke
jenjang S-1, pengiriman guru produktif untuk mengikuti magang di
industry, untuk peningkatan kompetensi professional yaitu dengan
mengirimkan guru untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan tentang
kejuruan sesuai dengan bidangnya. Selain itu, untuk meningkatkan
kompetensi pedagogik, kebribadian dan social yaitu dengan adanya

27
kegiatan in house training.
Hal ini sejalan dengan kebijakan Direktorat PSMK dalam upaya
peningkatan kompetensi guru produktif, yang tertuang dalam program
SMK rujukan dimana guru produktif selain memiliki sertifikat pendidik
ditambah harus memiliki sertifikat kompetensi di bidangnya masing-
masing.
Sementara untuk meningkatkan proses pembelajaran pada
peserta didik, untuk pembelajaran mata pelajaran produktif dilakukan
dengan mendatangkan guru tamu dari kalangan professional yang
berasal dari dunia industri yang relevan serta penyelenggaraan program
praktik kerja industry dengan menempatkan peserta didik di dunia
industry yang relevan dengan program studinya selama 3 6 bulan.

28
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemerintah sudah menetapkan kebijakan tentang proporsi
jumlah siswa SMK 70% dan SMA 30%. Untuk mengimplementasikan
rencana tersebut maka diperlukan suatu tindak nyata yaitu berupa
pendirian SMK baru. Dalam prosesnya SMK yang baru berdiri memiliki
banyak kendala yaitu fasilitas yang minim dan tenaga pendidik yang
jumlah dan kualifikasinya belum terpenuhi. Ketika fasilitas dan tenaga
pendidika tidak terpenuhi standar minimalnya maka akan
mempengaruhi pada mutu lulusan SMK. Pemerintah daerah harus
menanggulangi masalah tersebut agar pendidikan di SMK bisa berjalan
dengan semestinya.

B. Saran
1. Bagi Dinas Pendidikan
a. Sebelum mendirikan SMK yang baru, Dinas Pendidikan
hendaknya melakukan studi analisis kebutuhan dan studi
kelayakan terlebih dahulu. Ini dimaksudkan agar pendirian SMK
ini bisa benar-benar berguna untuk siswa, masyarakat dan
daerah.
b. Dinas Pendidikan juga harus memperhatikan potensi daerah
dalam memilih kompetensi keahlian apa yang akan dibuka di
SMK.
c. Pemerintah daerah juga harus memenuhi fasilitas sekolah
minimal sesuai dengan standar minimum sarana prasarana.
serta mendirikan Balai Latihan Kerja (BLK) serta

29
penyelenggaraan kompetensi guru.

2. Bagi SMK
a. Sekolah harus berupaya menyediakan guru yang sesuai dengan
kualifikasi dan kompetensi di bidangnya.
b. SMK harus berupaya meningkatkan lagi Sumber Daya
Manusianya (SDM) dengan melaksakan berbagai program
penilaian kinerja dan program pelatihan.

30
DAFTAR PUSTAKA

id.wikipedia.org/wiki/Guru, diakses pada tanggal 14 Maret 2016

id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah diakses pada tanggal 13 Maret 2016

Popi Sopiatin. 2010. Manajemen Belajar Berbasis Kepuasan Siswa. Bogor:


Ghalia Indonesia.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 40 Tahun 2008 Tentang


Standar Sarana dan Prasarana. Kemdikbud RI.

________________. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru


dan Dosen.

Lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No 16 tahun 2007


tanggal 4 mei 2007 tentang Standar kualifikasi akademik dan
kompetensi guru. Kembikbud RI .

________________. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang


Sistem Pendidikan Nasional.

Wagirman. 2007. Pengembangan Pendidikan Kejuruan Berbasis Potensi


Daerah dan Sumberdaya Alam dalam Mendukung Continuing
Vocational Education. Materi disajikan dalam Seminar Internasional,
ISSN 1907-2066 Peran LPTK Dalam Pengembangan Pendidikan
Vokasi di Indonesia.

31