Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar belakang

Infeksi Candida pertama kali didapatkan didapatkan di dalam mulut sebagai


thrush yang dilaporkan oleh FRANCOIS VALLEIX (1836). LAMGERBACH (1839)
menemukan jamur penyebab thrush, kemudian BERHOUT (1923) memberi nama
organisme tersebut sebagai kandida.Kebanyakan infeksi jamur yang patogen
disebabkan oleh species candida yang umumnya mempengaruhi manusia. Masalah
yang timbul pada mukosa dan candidiasis sistemik mencerminkan peningkatan resiko
pasien terjangkit candida, yang seharusnya jaringan normal biasanya resisten
terhadap invasi candida.(1)

Peningkatan prevalensi kelainan lokal dan sistemik yang pada dasarnya


berhubungan dengan system imun pasien. Infeksi candida menghasilkan kelainan
spectrum luas, mulai dari kelainan superficial mucocutaneous sampai invasif.
Penanganan yang serius terhadap candidiasis invasive yang mengancam nyawa
masih sangat terhambat oleh keterlambatan diagnosis dan kurangnya metode
diagnostik yang handal yang memungkinkan deteksi baik fungemia dan invasive
jaringan oleh species candida.(1)

Sebagian besar infeksi mucocutaneous tidak menyebabkan kematian, namun


pada pasien dengan immunodeficiency yang diakibatkan oleh infeksi HIV, dapat
menyebabkan infeksi yang refrakter terhadap terapi anti jamur dan akhirnya
menyebabkan kematian. Candidemia dan Disseminated Candidiasis angka kematian
terkait infeksi ini belum membaik beberapa tahun terakhir dan tetap di kisaran 30-
40%. Candidiasis sistemik lebih banyak menyebabkan kematian di banding mikosis
lainnya. Peneliti melaporkan dampak ekonomi berperan besar terhadap infeksi
sistemik candidiasis. Tidak ada perbedaan predisposisi jenis kelamin pada koloni
candida. Umur yang ekstrim terjadi pada neonates, bayi dengan berat badan rendah
dan usia > 65 tahun.(1)

1
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2,1 Definisi

Kandidosis adalah penyakit jamur, yang bersifat akut atau subakut disebabkan
oleh spesies Candida, biasanya oleh spesies albicans dan dapat mengenai mulut,
vagina, kulit, kuku, bronki, atau paru, kadang-kadang dapat menyebabkan
septikemia, endokarditis, atau meningitis. (1)

Kandidiasis kutis merupakan infeksi spesies Candida yang biasa terjadi pada
lipatan kulit atau tempat yang tertutup pakaian atau prosedur dressing medis pada
tempat yang lembab. Tempat yang dekat denga orificium dan jari, dimana sering
terkena saliva juga merupakan risiko terkena kandidiasis kutis. Gejala yang tersering
adalah kemerahan dan adanya eksudat yang basah yang pertama terjasi pada lipatan
kulit yang dalam.(2)

2.2 Sinonim

Kandidiasis, moniliasis.

2.3 Epidemiologi

Di Amerika Serikat 80 juta penduduk menderita gangguan kesehatan yang


disebabkan Candida. Penyakit ini terdapat di seluruh dunia, dapat menyerang semua
umur, baik laki-laki maupun perempuan, tetapi data menunjukkan bahwa 70%
penderitanya adalah perempuan. Di Indonesia dilaporkan 84% penderita AIDS yang
dirawat di RSCM sampai tahun 2000 juga menderita kandidiasis oral yang
disebabkan oleh jamur oportunistik Candida albicans.(3,4).

Jamur penyebabnya terdapat pada orang sehat sebagai saprofit. Faktor resiko
yang pemicu hal ini adalah kondisi imunocompromise, diabetes militus, obesitas,
hyperhidrosis, demam, polyendocrinophaties, terapi steroid topikal maupun sistemik,
dan penyakit kronik.Gambaran klinisnya bermacam-macam sehingga tidak diketahui
data-data penyebarannya dengan tepat.(3,4)

2
2.4 Etiologi

Yang tersering sebagai penyebab ialah Candida albicans yang dapat diisolasi dari
kulit, mulut, selaput mukosa vagina, dan feses orang normal. Sebagai penyebab
endokarditis kandidiosis ialah C. Parapsilosis dan penyebab kandidosis septikemia
adalah C. tropicalis.Sebagian besar dari spesies C. albicans tidak bersifat
menguntungkan maupun merugikan. Kolonisasi C. albicans dapat diisolasi dari kulit,
mulut, selaput mukosa vagina dan feses orang normal.(1,3)

2.5 Klasifikasi

Berdasarkan tempat yang terkena CONANT dkk.(1971), membaginya sebagai


berikut: (1)

1. Kandidiasis selaput lendir:


- Kandidosis oral (thrush)
- Perleche
- Vulvovaginitis
- Balanitis atau balanopostitis
- Kandidosis mukokutan kronik
- Kandidosis bronkopulmonar dan paru
2. Kandidiasis kutis:
- Lokalisata: daerah intertriginosa dan daerah perianal
- Generalisata
- Paronikia dan onikomikosis
- Kandidosis kutis granulomatosa
3. Kandidiasis sistemik:
- Endokarditis
- Meningitis
- Pielonefritis
- Septikemia
Reaksi id. (kandidid).

2.6 Patogenesis

Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen
maupun eksogen.(1)

3
Faktor endogen:

1. Perubahan fisiologik:
a. Kehamilan, karena perubahan pH dalam vagina.
b. Kegemukan, karena banyak keringat.
c. Debilitas.
d. Iatrogenik.
e. Endokrinopati, gangguan gula darah kulit.
f. Penyakit kronik dengan keadaan umum yang buruk.
2. Umur: usia tua dan bayi lebih mudah terkena infeksi ini karena status imunologi
yang tidak sempurna.
3. Imunologik: penyakit genetik.

Faktor eksogen:

a. Iklim, panas, dan kelembaban.


b. Kebersihan kulit.
c. Kebiasaan merendam kaki dalam air yang lama.
d. Kontak dengan penderita, misalnya pada thrush, balanopotitis.

Infeksikandida dapat terjadi, apabila ada faktor predisposisi baik endogen


maupun eksogen.(1)
Candida albicans bentukyeast-like fungi dan beberapa spesies kandida yang
lain memilikikemampuan menginfeksi kulit, membran mukosa, dan organ dalam
tubuh. Organisme tersebut hidup sebagai flora normal di mulut, traktus vagina, dan
usus. Mereka berkembang biak melalui ragi yang berbetuk oval. Kehamilan,
kontrasepsi oral, antibiotik, diabetes, kulit yang lembab, pengobatan steroid topikal,
endokrinopati yang menetap, dan faktor yang berkaitan dengan penurunan imunitas
seluler menyediakan kesempatan ragi menjadi patogenik dan memproduksi spora
yang banyak pseudohifa atau hifa yang utuh dengan dinding septa. (5)

Ragi hanya menginfeksi lapisan terluar dari epitel membran mukosa dan kulit
(stratum korneum). Lesi pertama berupa pustul yang isinya memotong secara
horizontal di bawah stratum korneum dan yang lebih dalam lagi. Secara klinis
ditemukan lesi merah, halus, permukaan mengkilap, cigarette paper-like, bersisik,
dan bercak yang berbatas tegas. Membran mukosa mulut dan traktus vagina yang

4
terinfeksi terkumpul sebagai sisik dan sel inflamasi yang dapat berkembang menjadi
curdy material.(5)
Kebanyakan spesies kandida memiliki faktor virulensi termasuk faktor
protease. kelemahan faktor virulensi tersebut adalah kurang patogenik. Kemampuan
bentuk yeast untuk melekat pada dasar epitel merupakan tahapan paling penting
untuk memproduksi hifa dan jaringan penetrasi. Penghilangan bakteri dari kulit,
mulut, dan traktus gastrointestinal dengan flora endogen akan menyebabkan
penghambatan mikroflora endogen, kebutuhan lingkungan yang berkurang dan
kompetisi zat makanan menjadi tanda dari pertumbuhan kandida.(6)
Jumlah infeksi kandida meningkat secara dramatis pada beberapa tahun
terakhir, mencerminkan peningkatan jumlah pasien yang immunocompromised.
Secara spesifik, tampak makin bertambahnya umur semakin pula terjadi peningkatan
angka kesakitan dan kematian. Meskpun infeksi kandidiasis superfisial dipercaya
termasuk ringan, akan tetapi menyebabkan kematian pada populasi lanjut usia.
Candida albicans juga dapat menyerang kulit dengan folikel rambut yang aktif atau
istirahat.(6)
Infeksi kandida diperburuk oleh pemakaian antibiotik, perawatan diri yang
jelek, dan penurunan aliran saliva, dan segala hal yang berkaitan dengan umur. Dan
pengobatan dengan agen sitotoksik (methotrexate, cyclophosphamide) untuk kondisi
rematik dan dermatologik atau kemoterapi agresif untuk keganasan pada pasien usia
lanjut memberikan resiko yang tinggi.(7)

Patologi kutaneus superfisial dicirikan dengan pustul subkorneal. Organisme


ini jarang tampak dalam pustul tetapi dapat dilihat pada pewarnaan stratum korneum
dengan PAS (Periodic Acid-Schiff). Histologi granuloma kandidal menunjukkan
tanda papillomatous dan hyperkeratosis dan kulit yang menebal berisi infiltrat
limfosit,granulosit, plasmasel, dan sel giant multinuklear.(7)

2.7 Gejala Klinis

1. Kandidiasis kutis.
1.1 Kandidiasis intertriginosa
Lesi didaerah lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat payudara,
antara jari tangan dan kaki, glans penis dan umbilikus, berupa bercak yang berbatas
tegas, bersisik, basah, dan eritematosa dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel

5
dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila pecah meninggalkan daerah erosi, dengan
pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi primer.Kandidiasis mengenai sela jari
tangan (tersering) pada sela jari ketiga dan keempat, yang sering kena air(1)

Gambar 1.1 Kandidiasis Intertriginosa

1.2 Kandidiasis perianal


Lesi berupa maserasi seperti infeksi dermatofit tipe basah. Penyakit ini
(1)
menimbulkan pruritus ani. Kandidosis perianal adalah infeksi oleh Candida pada
kulit genital, perianal yang banyak ditemukan pada bayi, sering disebut juga sebagai
kandidosis popok, diaper rash, diaper dermatitis. Hal ini terjadi karena popok yang
basah oleh air kencing tidak segera diganti, sehingga menyebabkan iritasi kulit
genital dan sekitar anus. Penyakit ini juga sering diderita oleh neonatus sebagai gejala
sisa dermatitis oral dan perianal. (8)

Popok yang basah akan tampak seperti area intertriginosa buatan, merupakan
tempat predisposisi untuk infeksi ragi. Lesi yang tampak berupa dasar merah dan
(4,8)
pustule satelit. Kadang sering dijumpai pula gejala pruritus ani.Biasanya
kandidosis perianal ini dapat menyebabkan bayi tersebut menjadi irritable, tidak
nyaman ketika berkemih, defekasi dan ketika menganti popok. Sering ditemukan lesi
eritema, edema dengan papul dan pustus. Terdapat juga erosi, collarette- like scaling
pada tepi lesi. (8)

Dermatitis popok sering diobati dengan kombinasi steroid krim dan lotion yang
mengandung antibiotic. Walaupun obat ini mungkin berisi klotrimazol yang
merupakan obat anti jamur, mungkin konsentrasinya tidak cukup untuk
mengendalikan infeksi jamur yang terjadi. Komponen kortison dapat mengubah
gambaran klinis dan memperpanjang penyakit. Bentuk nodular granulomatosis
kandidiasis di daerah popok, muncul sebagai kusam, eritem, dan nodul dengan

6
bentuk yang tidak teratur, kadang-kadang dasar yang eritem merupakan reaksi biasa
untuk organisme Candida atau infeksi Candida yang disebabkan oleh steroid.
Meskipun infeksi dermatofit jarang terjadi di daerah popok, tetapi kasus ini sering
ditemukan. Setiap upaya harus dilakukan untuk mengidentifikasi organism dan
mengobati infeksi dengan tepat. (4)

1.3 Kandidiasis kutis generalisata


Lesi mengenai daerah pelipatan-pelipatan badan, umbilikus, pannikulus (lipatan
lemak badan). Kulit nyeri, inflamasi, eritematus dan ada satelit vesikel/pustul, bula
atau papulopustular yang pecah meninggalkan permukaan yang kasar dengan tepi
erosi. (9)

1.4 Paronikia dan onikomikosis


Lesi berupa kemerahan, bengkak yang tidak bernanah, kuku menjadi tebal,
mengeras, dan berlekuk-lekuk, kadang-kadang berwarna kecoklatan, tidak rapuh,
tetap berkilat dan tidak terdapat sisa jaringan di bawah kuku seperti pada tine
unguium.(1)

Gambar 1.2 Onikomikosis

1.5 Kandidiasis napkin (Diaper Rash)

Sering terdapat pada bayi yang popoknya selalu basah dan jarang diganti yang
dapat menimbulkan dermatitis iritan, juga sering diderita neonatus sebagai gejala sisa
dermatitis oral dan perianal.(1)

7
Gambar 1.3 Diaper Rash

1.6 Kandidiasis granulomatosa


Kelainan ini jarang dijumpai. HOUSER dan ROTHMAN melaporkan bahwa
penyakit ini sering menyerang anak-anak, lesi berupa papul kemerahan tertutup
krusta tebal berwarna kuning kecoklatan dan melekat erat pada dasarnya. Krusta ini
dapat menimbul seperti tanduk sepanjang 2 cm, lokalisasinya sering terdapat di
muka, kepala, kuku, badan, tungkai, dan faring.(8)

2.8 Diagnosis Banding

Kandidiosis Kutis lokalisata : - Eritrasma lesi di lipatan, lebih merah,


batas tegas, kering, tidak ada satelit, sinar
wood positif.
- Dermatitis Intertriginosa
- Dermatofitosis (tinea)

2.9 Diagnosis

1. Anamnesis dan gejala klinik yang khas.


Kandidiasis kutis biasanya terja di pada lipatan kulit yang lembab dan
termaserasi. Keluhan yang sering terjadi adalah gatal, kemerahan, dan daerah yang
termaserasi.(6) Kulit nyeri, inflamasi, eritematous, dan ada satelit vesikel/pustula, bula
atau papulopustular yang pecah meninggalkan permukaan yang kasar dengan tepi
yang erosi. (10)

2. Pemeriksaan penunjang dengan pemeriksaan dengan KOH 10-20% dan pengecatan


gram.

8
Pada pemeriksaan dengna KOH 10% menunjukan adanya spora dan pseudohifa,
namun pada kandidiasis kutis tidak selalu tampak.(10,11)
Pada pengecetan gram, yeast akan menjadi dense, gram positif, oviod bodies,
diameter 2-5m. Kombinasi antara Gomori Methanemine Silver (GMS) dan Congo
Red dapat bermanfaat untuk mendiagnosa banding infeksi fungi. Pada Blastomyces
dan Pityrosporum memberikan hasil positif pada hasil pengecetan, sedangkan pada
Candida dan Hitoplasma negatif.(11)

Gambar 1.4 Species Candida pada pemeriksaan KOH 10%

3. Kultur.
Pada kultur C. albicans harus dibedakan dengan jenis kandida yanng lain, yang
biasanya jarang menjadi patogen. Seperti C. krusei, C. stellatoidea, C. tropicalis, C.
pseudotropicans, dan C. guilliermondii. Kultur pada Sabouraud glucose agar yang
dibubuhi antibiotik (kloramfenikol) menunjukan hasil biakan yang seperti krim,
keabu-abuan, dan koloni basah dalam waktu 4 hari. (11)

Gambar 1.5 Hasil kultur Species Candida

9
4. Histo PA bila diagnosis meragukan.
Dengan pengecetan PAS (Periodic Acid-Schiff) atau GMS . pilihan untuk kandida
leukoplakia dan bila diperlukan pada kandidiasis kutis.(10)
5. Glukosa darah dan reduksi urine untuk melihat diabetes mellitus.(10)

2.10 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan terpenting adalah menghindari atau menghilangkan faktor


predisposisi. Salah satunya dengan cara selalu mempertahankan agar daerah tubuh
yang lembab selalu kering.(1,8)

Terapi topical:

Larutan ungu gentian:


- 0,5 % untuk selaput lendir
- 1-2% untuk kulit
dioleskan sehari 2 kali selama 3 hari.
Nistatin dapat diberikan berupa krim, salep, emulsi.
Golongan azol
krim atau bedakmikonazol 2%
bedak, larutan dan krim klotrimazol 1%
krim tiokonazol1%
krim bufonazol1%
krim isokonazol1%
krim siklopiroksolamin 1%
Antimikotik topikal lain yang berspektrum luas.6

Terapi sistemik:

Nistatin tablet
untuk menghilangkan infeksi lokal dalam saluran cerna, obat ini tidak diserap oleh
usus.
Amfoterisin B
Diberikan intravena untuk kandidiasis sistemik.

10
Kotrimazol
Pada kandidiasis vaginalis dapat diberikan kotrimazol 500mg per vaginam dosis
tunggal, sistemik dapat diberikan ketokonazol 2x200 mg dosis tunggal atau dengan
flukonazol 150 mg dosis tunggal.
Itrakonazol
diberikanpada kandidiasis vulvovaginalis.Dosis untuk orang dewasa 2x100 mg
sehari, selama 3 hari.(1,8)

2.11Prognosis

Umumnya baik, bergantung pada berat ringannya faktor predisposisi.(1)

11
BAB III

LAPORAN KASUS

3.1 Identitas Pasien

Nama : Ny.MT

Umur : 57 th

Jenis Kelamin : Perempuan

Status : Janda

Agama : Kristen Protestan

Suku : Batak

Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

Alamat : Kav. Baru Blok A12 No.1

3.2 Anamnesis

Dilakukan auto anamnesis pada tanggal 19 Januari 2017 pukul 10.45 wib

Keluhan Utama

Gatal-gatal pada lipatan ketiak dan lipatan paha.

Riwayat Penyakit Sekarang

Gatal- gatal pada lipatan ketiak kiri dan lipatan paha kiri sejak 1
minggu yang lalu
Gatal dirasakan hilang timbul
Gatal dirasakan bertambah saat siang hari,terutama saat berkeringat
Gatal pertama kali dirasakan didaerah ketiak, awalnya terjadi kemerahan
di daerah ketiak yang semakin lama semakin meluas
Gatal di selangkangan timbul setelah gatal di lipat ketiak muncul
Riwayat kontak dengan penderita dengan penyakit yang sama tidak ada
Pasien mandi 2 kali sehari dengan menggunakan sabun bayi.
Pasien mengganti baju setiap sehabis mandi atau saat baju basah setelah
berkeringat, tidak pernah berpakaian ketat dan berganti pakaian dengan
orang lain.
Pakaian di cuci dan dijemur dibawah matahari.
Dirumah ataupun lingkungan tempat tinggal tidak ada hewan
peliharaan.

12
Pasien belum pernah berobat dan membeli obat sendiri untuk penyakit
sekarang
Riwayat Penyakit dahulu

Tidak pernah menderita penyakit seperti ini sebelumnya

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit yang sama dengan
pasien.

3.3 Pemeriksaan Fisik

3.3.1 Status Generalis


Kesadaran : Composmentis Cooperative
Keadaan Umum: Baik
Nadi : Tidak dilakukan pemeriksaan
Nafas : Tidak dilakukan pemeriksaan
TD : Tidak dilakukan pemeriksaan
Suhu : Tidak dilakukan pemeriksaan
Kepala/leher : Tidak ada kelainan / pembesaran KGB (-)
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
Kulit : Sianosis tidak ada, ikterik tidak ada.
Thorax : Cor/Pulmo : Tidak dilakukan pemeriksaan.
Abdomen : Hepar/Lien : Tidak dilakukan pemeriksaan.
Ekstremitas : Akral hangat,edema pretibia (-)

3.3.2 Status Dermatolgikus


Lokasi : Regio axillaris sinistra dan regio inguinal sinistra
Distribusi : Terlokalisir, Unilateral
Bentuk : Tidak khas
Susunan : Anular
Batas : Tegas
Ukuran : Plakat

13
Efloresensi
Primer : makula eritematosa berbatas tegas.
Sekunder : skuama halus, tampak adanya erosi dan lesi satelit dan
hiperpigmentasi.

Gambar lesi :

REGIO AXILLA REGIO INGUINAL


SINISTRA SINISTRA

3.3.3 Status Venerologikus


Tidak dilakukan pemeriksaan.

3.4 Diagnosis Banding


1. Kandidiasis kutis
2. Tinea kruris
3. Psoriasis

3.5 Pemeriksaan Penunjang


- Tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

3.6 Diangnosis Kerja


- Kandidiasis kutis.

14
3.7 Penatalaksanaan

1. Medikamentosa

Sistemik
- Cetirizine Hyrocchloride tablet 10 mg. Per oral 2 x 1 tab

Topikal
- Ketokonazole 2% cream dioleskan 2 x sehari (pagi dan sore) sesudah
mandi.

2. Non medikamentosa
Edukasi
- Edukasi tentang penyakit kandidiasis.
- Hindari faktor pencetus (kelembapan, kebiasaan berendam dalam air
terlalu lama, kontak dengan penderita)
- Jangan menggaruk lesi
- Hindari pemakaian handuk atau yang lainnya secara bersama
- Semua pakaian dan alas tidur dicuci dengan air panas
- Mandi teratur, jaga kebersihan badan, dan mengganti pakaian
- Konsumsi obat teratur dan oleskan obat sesuai petunjuk dokter.

3.8 Pemeriksaan anjuran


Pemeriksaan kulit atau usapan mukokutan dengan larutan KOH 10%
- Interpretasi yang diharapkan ; ditemukan sel ragi (+), hifa semu (+)

Pemeriksaan biakan dalam agar dekstrosa glukosa Saboraud (setelah 24-48 jam)
- Interpretasi yang diharapkan ; yeast like colony (+)

Pewarnaan gram
- Interpretasi yang diharapkan ; jamur tampak memadat, gram positif,
budding cell dengan diameter 2-5 um.

3.9 Prognosis

Quo ad Vitam : ad bonam

Quo ad Functionam : ad bonam

Quo ad Sanationam : ad bonam

15
BAB IV

PEMBAHASAN

Wanita, usia 57 tahun datang ke Poli Kulit dan Kelamin RSUD Embung Fatimah
Kota Batam pada tanggal 19 Januari 2017 pukul 10.45 WIB dengan keluhan gatal pada
lipatan ketiak kiri dan lipatan paha kiri sejak 1 minggu yang lalu. Gatal yang dirasakan
didahului daerah lipatan ketiak 2 hari setelahnya hal yang sama dirasakan pada daerah
lipatan paha. Rasa gatal dirasakan hilang timbul semakin bertambah hebat bila penderita
berkeringat. Penderita juga mengeluh tidak tahan terhadap gatal karena mengganggu
aktifitas. Biasanya penderita menggaruk daerah tersebut untuk mengurangi rasa gatal
sehingga kulitnya menjadi kemerahan dan mengelupas.

Penderita belum mendapatkan pengobatan untuk keluhan tersebut sebelumnya,


Penderita mengatakan sekitar 2 minggu yang lalu melakukan perjalanan ke luar kota.
Daerah yang panas dari tempat sebelumnya ia tempati, sehingga penderita mengatakan
berkeringat terus-menerus. Penderita mengakumandi minimal 2 kali dalam sehari dan
mengganti baju setiap kali mandi atau saat baju basah setelah berkeringat. Penderita juga
mengaku mencuci pakaian dan menjemurnya dibawah sinar matahari. Dirumah ataupun
lingkungan tempat tinggal tidak ada hewan peliharaan. Penderita menyangkal pernah
mengalami keluhan yang sama sebelumnya.

16
Hasil anamnesis pada pasien ini sesuai dengan Kuswadji pada Ilmu Penyakit
Kulit FKUI bahwa :

Anamnesis

Kasus Teori
Penderita wanita 57 th mengeluh gatal Infeksi kandida dapat terjadi, apabila ada faktor
pada lipatan ketiak kiri dan lipatan predisposisi baik endogen maupun eksogen.
paha kiri sejak 1 minggu yang lalu.
Endogen :
Rasa gatal dirasakan hilang timbul
semakin bertambah hebat bila Perubahan fisiologik:
penderita berkeringat. Kehamilan, karena
perubahan pH dalam vagina.
Kegemukan, karena banyak
keringat.
Debilitas.
Iatrogenik.
Endokrinopati, gangguan
gula darah kulit.
Penyakit kronik dengan
keadaan umum yang buruk.
4. Umur: usia tua dan bayi lebih mudah
terkena infeksi ini karena status imunologi
yang tidak sempurna.
5. Imunologik: penyakit genetik.

Kandidiasis intertriginosa adalah Lesi didaerah


lipatan kulit ketiak, lipat paha, intergluteal, lipat
payudara, antara jari tangan dan kaki, glans
penis dan umbilikus, berupa bercak yang
berbatas tegas, bersisik, basah, dan eritematosa
dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel
dan pustul-pustul kecil atau bula yang bila
pecah meninggalkan daerah erosi, dengan
pinggir yang kasar dan berkembang seperti lesi

17
primer.

- Riwayat bepergian keluar kota Faktor eksogen:


di daerah yang lebih panas
Iklim, panas, dan kelembaban.
dari tempat sebelumnya yang
Kebersihan kulit.
mengakibatkan penderita
Kebiasaan merendam kaki dalam air
keringatan terus menerus
yang lama.
hingga baju basah.
Kontak dengan penderita, misalnya
pada thrush, balanopotitis.

Dari anamnesis didapatkan keluhan gatal pada lipatan ketiak kiri dan lipatan paha
kiri sejak 1 minggu yang lalu. Gatal yang dirasakan didahului daerah lipatan ketiak 2 hari
setelahnya hal yang sama dirasakan pada daerah lipatan paha. Rasa gatal dirasakan hilang
timbul semakin bertambah hebat bila penderita berkeringat. Penderita juga mengeluh
tidak tahan terhadap gatal karena mengganggu aktifitas. Biasanya penderita menggaruk
daerah tersebut untuk mengurangi rasa gatal sehingga kulitnya menjadi kemerahan dan
mengelupas.

Status Dermatologist
Kasus Teori
Lesi ditemukan pada Regio axillaris Keluhan yang sering terjadi adalah gatal,
sinistra dan regio inguinal sinistra.
kemerahan, dan daerah yang termaserasi.
Distribusi : Terlokalisir, Unilateral Kulit nyeri, inflamasi, eritematous, dan ada
Bentuk : Tidak khas satelit vesikel/pustula, bula atau
Susunan : Anular papulopustular yang pecah meninggalkan
Batas : Tegas permukaan yang kasar dengan tepi yang
Ukuran : Plakat erosi,
Efloresensi
Primer : makula eritematosa berbatas
tegas.
Sekunder : skuama halus, tampak adanya
erosi dan lesi satelit dan hiperpigmentasi.

18
Pada status dermatologikus terdapat makula eritematosa berbatas tegas,
skuama halus, tampak adanya erosi dan lesi satelit dan hiperpigmentasi. Keadaan di
atas sesuai dengan teori yang ada.

Diagnosis Banding

Kandidiasis kutis Tinea kruris Psoriasi


Defenisi Penyakit jamur yang Tinea kruris yang Psoriasis adalah
bersifat akut atau sering disebut jock peradangan kulit
subakut disebabkan itchmerupakan yang bersifat kronik
oleh spesies Candida, infeksi jamur dengan karakteristik
biasanya oleh spesies superfisial yang berupa plak
albicans dan dapat mengenai kulit pada eritematosa berbatas
mengenai mulut, daerah lipat paha, tegas, skuama kasar,
vagina, kulit, kuku, genital, sekitar anus berlapis, dan
bronki, atau paru. dan daerah berwarna putih
perineum. sekitar keperakan terutama
anus selain itu juga pada siku, lutut,
dapat mencapai scalp, punggung,
perut bagian bawah umbilikus dan
dan daerah gluteus. lumbal.

Etiologi tersering sebagai Epidermophyton 1. Trauma fisik


penyebab ialah floccosum dan akibat gesekan atau
Candida albicans Trichophyton garukan.
rubrum. 2. Infeksi : infeksi
Selain itu juga dapat streptokokus dapat
disebabkan oleh menyebabkan
Trich psoriasis gutata
Ophyton 3. Stress
mentagrophytes 4. Obat : obat-
obatan yang dapat
. memicu timbulnya
psoriasis yaitu
glukokortikoid,
lithium, obat
antimalaria, dan B
blocker.

Gejala klinis Lesi didaerah lipatan Penderita merasa Plak eritematosa


kulit ketiak, lipat gatal dan kelainan sirkumskrip dengan
paha, intergluteal, lesi berupa plakat skuama putih
lipat payudara, antara berbatas tegas terdiri keperakan diatasnya
jari tangan dan kaki, atas bermacam- dan tanda Auspitz.
glans penis dan macam efloresensi Warna plak dapat
umbilikus, berupa kulit (polimorfik). bervariasi dari
bercak yang berbatas Bentuk lesi yang kemerahan dengan
tegas, bersisik, basah, beraneka skuama minimal,

19
dan eritematosa ragam ini dapat plak putih dengan
dikelilingi oleh satelit berupa sedikit skuama
berupa vesikel- hiperpigmentasi dan tebal hingga putih
vesikel dan pustul- skuamasi menahun. keabuan tergantung
pustul kecil atau bula pada ketebalan
yang bila pecah skuama.
meninggalkan daerah
erosi, dengan pinggir
yang kasar dan
berkembang seperti
lesi
primer.Kandidiasis
mengenai sela jari
tangan (tersering)
pada sela jari ketiga
dan keempat, yang
sering kena air

Penatalaksanaan
Terapi sistemik : KOMPOSISI:
Cetirizine Hyrocchloride tablet 10 mg. Tiap kapsul mengandung cetirizine
Per oral 2 x 1 tab dihidroklorida 10 mg.

Cetirizine adalah metabolit aktif dari


hidroksizin dengan kerja kuat dan panjang.
Merupakan antihistamin selektif, antagonis
reseptor H1 periferal dengan efek dedative
yang rendah pada dosis aktif farmakologi
dan mempunyai sifat tambahan sebagai anti
alergi.
Cetrizine menghambat pelepasan histamin
pada fase awal dan mengurangi migrasi sel
inflamasi.

INDIKASI:
Cetrizine diindikasikan untuk pengobatan
perenial rinitis, alergi rinitis dan urtikaria
idiopatik kronis.

Sumber : Anonim, 2000, informatorium


Obat Nasional Indonesia, Departemen
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta.

20
Terapi topikal : Komposisi:
Tiap gram krim
Ketokonazole 2% cream dioleskan 2 x mengandung: Ketokonazol 20 mg
sehari (pagi dan sore) sesudah mandi.
Farmakologi:
Ketokonazol adalah suatu derivat
imidazole-dioxolan sintetis yang memiliki
aktivitas antimikotik yang poten terhadap
dermatofit, ragi, misalnya Tricophyton sp.,
Epidermophyton floccosum, Pityrosporum
sp., Candida
Indikasi:
Ketokonazole krim diindikasikan untuk
pengobatan topikal pada pengobatan infeksi
dermatofita pada kulit seperti:
Tinea korporis
Tinea kruris
Tinea manusiaTinea pedis
Yang disebabkan oleh Trichopyton
mentagrophytes, Microsporum
canis dan Epidermophyton floccosum. Juga
untuk pengobatan kandidosis kutis dan tinea
(pitiriasis) versikolor.

Sumber:
1.Tjay, Tan Hoan. 2015. Obat-Obat Penting,
Khasiat, Penggunaan dan Efek-efek
Sampingnya. Gramedia. Jakarta
2. Ikatan Apoteker Indonesia. 2010.
Informasi Spesialite Obat Indonesia.
Penerbit Ikatan
Apoteker Indonesia. Jakarta

21
BAB V

KESIMPULAN

Telah diperiksa seorang pasien Ny. MT, perempuan, usia 57 tahun datang ke Poli
Kulit dan Kelamin RSUD Embung Fatimah Kota Batam pada tanggal 19 Januari 2017
pukul 10.45 WIB dengan keluhan gatal pada lipatan ketiak kiri dan lipatan paha kiri sejak
1 minggu yang lalu. Gatal yang dirasakan didahului daerah lipatan ketiak 2 hari
setelahnya hal yang sama dirasakan pada daerah lipatan paha. Rasa gatal dirasakan hilang
timbul semakin bertambah hebat bila penderita berkeringat. Penderita juga mengeluh
tidak tahan terhadap gatal karena mengganggu aktifitas. Biasanya penderita menggaruk
daerah tersebut untuk mengurangi rasa gatal sehingga kulitnya menjadi kemerahan dan
mengelupas.Penderita belum mendapatkan pengobatan untuk keluhan tersebut
sebelumnya.

Pada pemeriksaan status generalis dalam batas normal. Pada pemeriksaan status
dermatologikus lokasi lipatan ketiak kiri dan lipatan paha kirididapatkan bentuk tidak
khas, susunan anular, batas tegas, ukuran plakat. Efloresensi tampak makula eritematosa
berbatas tegas, skuama halus, tampak adanya erosi, lesi satelit dan hiperpigmentasi. Pada
pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.

Diagnosis pasien ini adalah pasien mengalami penyakit kandidiasis intertriginosa.


Diterapi dengan non medikamentosa Edukasi kepada pasien tentang penyakitnya, hindari
faktor pencetus (kelembapan, kebiasaan berendam dalam air terlalu lama, kontak dengan
penderita),jangan menggaruk lesi, hindari pemakaian handuk atau yang lainnya secara
bersama, semua pakaian dan alas tidur dicuci dengan air panas, mandi teratur, jaga
kebersihan badan, dan mengganti pakaian setelah mandi maupun saat lembab.Terapi
medikamentosaCetirizine Hyrocchloride tablet 10 mg. Per oral 2 x 1 tab. Ketokonazole
2% cream dioleskan 2 x sehari (pagi dan sore) sesudah mandi.

22
DAFTRA PUSTAKA

1. Kuswadji. Kandidosis. Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin Edisi VI. Balai
Penerbit FKUI. Jakarta : 2011. Hal 106-109

2. Hay R J, Ashbee H R. Mycology. In:Rooks Textbook of Dermatology. Vol


II. Blackwell Punlishing, UK: 2010. p 36.56-36.69

3. Harahap, Marwali . Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta. 2000. Hal 81

4. Habif, T. P, eds. Clinical Dermatology: A Color Guide to Diagnosis and


Therapy 4th edition. Pennsylvania. Mosby, inc. 2004. p. 440-450

5. Abdullah, Benny. Dermatologi-Pengetahuan Dasar dan Kasus di Rumah


Sakit. Airlangga University Press, Surabaya. 2009. Hal 108-112

6. Scheinfeld, Noah S. Candidiasis Cutaneous. [online]. 2008 [cited 2008


Juni 18] : [screens]. Available from : URL:http://www.emedicine.com

7. Wolff, Klauss. Candidiasis. Dalam : Fitzpatrick. Dermatology in General


Medicine. Ed 7th. New york. McGraw Hill Company. 2007. p: 1822

8. Kuswadji. Kandidosis. Dalam : Djuanda A., Hamzah M., Aishah S., Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi IV, Balai Penerbit Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta, 2006. Pp:103-6

9. Budimulja,Unandar. Mikosis.Ilmu penyakit Kulit dan Kelamin Edisi VI.


Balai Penerbit FKUI. Jakarta : 2011. Hal 94

10. SuyosoSunarso, Ervianti Evy, Barakbah Jusuf. Kandidiasis Superfisialis.


Pedoman Diagnosis dan Terapi-edisi III. Bag/ SMF Ilmu Kulit dan
Kelamin. RSU Dokter Soetomo: Surabaya. 2005. Hal 72-77

11. William D James, Timothy G Berger, Dirk M Elston. Editors. Diseases


Resulting from Fungi and Yeast, In:Andrews Disease of the Skin: Clinical
Dermatology, Tenth Edition. Philadelphia: W.B Saunders Company. 2006.
p 297-301

23