Anda di halaman 1dari 10

BAB III

LOGIKA / MANTIQ

A. Defenisi Logika

Logika adalah sebuah ilmu. Setiap ilmu mempelajari suatu gerak


khusus dalam hubungannya dengan corak gerak material lainnya, dan berusaha
untuk menemukan hukum-hukum dan corak tertentu dari gerakan tersebut.
Logika adalah ilmu tentang proses berfikir. Seorang ahli logika mempelajari
kegiatan-kegiatan proses berfikir yang ada di kepala setiap manusia dan
mencoba merumuskan hukum-hukum, bentuk-bentuk dan inter-relasi semua
proses mentalnya. Dua tipe penting logika pernah muncul dalam dua tahap
perkembangan ilmu logika, yakni : logika formal dan logika dialektik. Keduanya
merupakan bentuk-bentuk perkembangan tertinggi gerak mental. Keduanya
memiliki kesesuaian fungsinya pengertian sadar terhadap semua bentuk gerak.
Walaupun kita baru saja tertarik pada dialektika materialis, janganlah kita
langsung mempelajari dialektika materialis sebagai cara berfikir. Kita harus
mendeketi dialektika secara tidak langsung dengan pertama kali menguji ide-ide
mendasar dari jenis lain cara berfikir: cara berfikir logika formal. Sebagai metode
berfikir, logika formal adalah lawan dari dialektika materialis.
Menjelaskan definisi mantiq (logika) dan juga untuk menjelaskan
subyek dan kegunaannya, para logikawan kontemporer mengungkapkan
pembahasan dengan memasukkan topik-topik berikut ini: ilmu dan
pembagiannya: pikiran dan terjadinya kesalahan dalam berfikir yaitu;
1. Ilmu dan pembagiannya ( tasawwur dan tasdik), sebagian memandang
bahwa tahu dan ilmu (connaissance) adalah bagian dari tasawwuraat
badihi (konsepsikonsepsi daruri dan badihi) dan oleh karena itu tidak
membutuhkan defenisi dan mereka melihat bahwa ilmu itu kaifiyyaatun
Nafsaani (kualitas-kualitas jiwa) dan wijdaani (pengetahuan nurani)
yang mana setiap orang mendapatkannya secara terang dalam dirinya.
2. Adapun kelompok ilmuan yang menggagas konstruksi defenisi ilmu,
sebagian diantara mereka mengatakan bahwa; ilmu adalah gambaran
yang dihasilkan dari sesuatu di sisi akal yakni ilmu adalah suatu
gambaran yang dihasillkan dari sesuatu didalam akal atau fakultas
mengetahui seperti ilmu kita pada si A atau pada manusia, hewan, pohon,
segi empat, matahari, dan ilmu kita bahwa bumi itu bulat, benua Asia
lebih luas dari pada benua Afrika, dll.

Tashawwur adalah gambaran sederhana dzihni dimana tidak terjadi


penyandaran sesuatu kepada sesuatu yang lain.

Tashdik adalah penyandaran sesuatu terhadap yang lain apakah


dalam bentuk afirmasi atau dalam bentuk negasi, seperti tashdik bahwa Bumi
adalah bulat dan Bumi adalah tidak diam

B. Dasar-dasar logika
Konsep bentuk logis adalah inti dari logika. Konsep itu menyatakan
bahwa kesahihan (validitas) sebuah argument ditentukan oleh bentuk
logisnya, bukan oleh isinya. Dalam hal ioni logika menjadi alat untuk
menganalisis argument, yakni hubungan antara kesimpulan dan bukti
atau bukti-bukti yang diberikan (premis). Logika silogistik tradisional
Aristoteles dan logika simbolik modern adalah contoh-contoh dari logika
formal. Dasar penalaran dalam logika ada dua, yakni deduktif dan
induktif. Penalaran deduktif kadang disebut logika deduktif adalah
penalaran yana membangun atau mengevakuasi argument deduktif.
Argumen dinyatakan deduktif jika jebenaran dari kesimpulan ditarik atau
merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya. Argumen deduktif
dinyatakan valid atau tidak valid. Bukan benar atau salah. Sebuah
argument deduktif dinyatakan valid jika hanya jika kesimpulannya
merupakan konsekuensi logis dari premis-premisnya.
Sejarah logika yunani kuno logika dimulai sejak thales (624 SM
548SM), filsuf yunani pertama yang meninggalkan segala dogeng,
takhayul, dan cerita-cerita isapan jempol dan berpaling kepada akal budi
untuk memecahkan rahasia alam semestas.
Abad pertengahan dan logika modern pada abad 9 hingga abad 15,
buku-buku Aristoteles masih digunakan. Thomas Aquinas 1224-1274 dan
kawan-kawannya berusaha mengadakan sistematisasi logika. Lahirlah
logika modern.
Logika masuk kedalam kategori matematika murni karena
matematika adalah logika tersistematisasi, matematika adalah
pendekatan logika kepada metode ilmu ukur yang menggunakan tanda-
tanda atau symbol-simbol matematika (logika simbolik).

C. Macam-macam logika
Logika alamiah adalah logika kinerja akal budi manusia yang
berfikir secara tepat dan lurus sebelum dipengaruhi oleh
keinginan-keinginan dan kecenderungan-kecenderungan yang
subyektif. Kemampuan logika alamiah manusia ada sejak lahir. Di
dalam tulisan tulisan logika , kita sudah sedikit banyak mengenal
istilah logika maupun materi-materinya. Ada yang disebut logika
formal dan logika material, juga ada yang disebut deduktif dan
induktif.
ada beberapa persoalan tentang hal ini yang menjadi sebab
kenapa kita tidak dapat menggunakan logika secara praktis dan
nyata. Pertama, kita selalu menganggap apa yang kita pikir itu
benar, kedua kita selalu meganggap apa yang difikir oleh orang
lain salah bila bertolak belakang dengan pola piker kita.
Ini awal dari banyak kesalahan berpikir logika, bahkan
filsuf sekaliber Bertand Arthur William Russell (1872-1970) pun
pernah mengalami kesalahan ini, Oleh karena itu, hindarilah dua
dasar pikiran yang telah dikutipkan.Sebab, apapun yang kita
pikirkan, ucapkan, maupun yang dinyatakan secara kukuh tetap
memiliki kesalahan logis yang bersifat internal (terkandung
didalamnya) atau internal logical fallacy.

D. Logika sebagai Esensi dari Filsafat


Permasalahan yang lama ini dihadapi oleh pada filusuf menurut
Russell adalah karena para filusuf tekadang terlalu berlebihan dan selalu
berusaha untuk mencapai sesuatu yang terbaik. Walaupun keadaan ini
tidak mungkin bias dicapai karena para filusuf yang ada selama ini kurang
tepat melihat permasalahan filsafat dan metode-metode yang digunakan
untuk memecahkan filsafat.
Menurut Russell permasalahan-permasalahan filsafat dan
metode-metode filsafat selama ini tidak mudah untuk dipahami atau
dirumuskan oleh sekolah-sekolah yang ada, banyak permasalahan-
permasalahan tradisional yang belum dapat dipecahkan oleh
pengetahuan sekarang ada. Banyak permasalahan-permasalahan
tradisional yang belum dapat dipecahkan oleh pengetahuan yang
sekarang ada. Bahkan ada beberapa permasalahan yang sudah mulai
ditinggalkan namun sebenarnya masih bias dipecahkan melalui metode-
metode yang tepat dengan tingkat pengetahuan yang lebih maju. Dalam
merumuskan permasalahan ini, Russell mencoba membaginya ke dalam
3 tipe besar yaitu tipe pertama disebut sebagai tipe tradisional klasik yang
diwakili oleh pemikiran Kant dan Hegal, periode ini menekankan pada
kecenderungan untuk mengadopsi pemecahan permasalahan yang
terjadi sekarang dengan metode-metode dan hasil-hasil yang telah
dicapai pada masa Plato dan lainnya. Tipe kedua adalah Evolusionisme,
yang dimulai dari pemikiran Darwin hingga Hebert Spence. Namun pada
perkembangan selanjutnya didominasi oleh pemikiran William James dan
M Bergson. Dan tipe ketiga adalah yang disebut Logika Atomisme, yang
melihat filsafat melalui metode kritis matematika. Pada tipe tradisional
Klasik perhatian utamanya adalah para filusuf yunani yang menekankan
pada rasio sebagai perhatian utamanya.
Metode apriori digunakan dalam tipe ini untuk mengkaji
fenonema yang ada, rasio apriori ini digunakan untuk mengungkapkan
rahasia tentang dunia dan dapat membuktikan kenyataan seperti apa
yang ditampakkan.
Logika dalam tipe tradisional klasik ini di konstruksikan
melalui proses negasi, logika dibuat untuk mengutuk mereka semua
untuk menerima fenonema dan fenonema diungkapkan untuk sadar akan
dunianya, dunia dibentuk oleh logika dengan sedikit peran dari
pengalaman.

E. Logika dan bahasa abad pertengahan


Secara umum filsafat abad pertengahan memiliki pemahaman
yang menarik tentang konsep bahasa dan logika. Menurut
ashworth, bahasa dan logika memiliki tujuan yang jelas. Keduanya
berfungsi untuk menyatakan kebenaran, sehingga orang bisa
bergerak maju dalam membentuk pengetahuan baru. Kedua
konsep ini menimbulkan perdebatan antara dua filsuf besar pada
waktu itu, yakni agustinus dan Thomas Aquinas. Agustinus tidak
percaya akan kemampuan manusia akan sampai pada
pengetahuan yang tepat. Sedangkan menurut Thomas Aquinas
fungsi utama dari bahasa adalah untuk mengetahui kebenaran
melalui konsep-konsep yang dapat dirumuskan oleh akal budi
manusia.
Bahasa adalah kumpulan informasi yang dikumpulkan dan
nantinya durumuskan, guna membentuk suatu pengetahuan yang
sistematis ( scientia). Didalam filsafat abad pertengahan menurut
Ashworth, bahasa tidak dapat di lepas dari logika. Keduanya terkait
dengan kebenaran, walaupun dengan cara yang berbeda.
Seorang filsuf islam yang bernama ibnu sina berpendapat bahwa,
fungsi logika adalah untuk mengantarkan manusia dari apa yang
diketahui menuju yang tidak diketahui. Artinya, logika mengantar
manusia untuk membuka tabir-tabir pengetahuan yang sebelumnya
tidak diketahui. Didalam proses ini logika dapat mengantarkan
manusia pada kebenaran yang sesungguhnya. Kebenaran itu
tidaklah diciptakan oleh manusia, melainkan sudah tertanam
didalam tata alam semesta yang rasional.
Logika abad pertengahan difokuskan untuk membantu manusia
melepaskan diri dari kesalahan berfikir. Logika pada abad
pertengahan berbeda dengan yang dikemukakan oleh Aristotelian,
yang berkembang pada masa yunani kuno. Pada masa abad
pertengahan, logika yang berkembang tidak mengacu pada stuktur
formal silogisme ala aristoteles untuk bisa sampai pada kebenaran.
Menurut ahworth dalam arti umum dialektika adalah logika ( logica).
namun dalam arti sempit setidaknya ada dua makna yang berbeda.
Yang pertama adalah dialektika sebagai seni berdebat, dan yang
kedua elektika sebagai seni untuk menemukan sintesis dari
argument-argumen yang berbeda. Ashworth juga menjelaskan
beragam arti kata logika. kata itu berasal dari bahasa yunani yaitu
logos, yang berarti kata-kata atau akal budi. Dalam arti ini logika
bisa juga disebut sebagai ilmu pengetahuan rasional ( rational
science ). Seorang filsuf pada abad pertengahan bernama Boethius
berpendapat bahwa filsafat dapat dibagi menjadi tiga yakni filsafat
natural, filsafat moral dan filsafat rasional. Logika terletak dalam
ranah filsafat rasional.
Logika adalah suatu cara yang diciptakan untuk meneliti
ketepatan penalaran dan mencegah kesesatan berfikir. Dari sudut
pandang ilmu logika berarti penyelarasan berfikir yang disesuaikan
dengan kenyataan sehari-hari, sehingga kwalitas pengetahuan
selalu berada dalam pengujian terus-menerus dan bergerak secara
empiris dan toeritis.
Ada enam hal yang merupakan alat untuk mengetahui proses
terjadinya pengetahuan yaitu :
1. Pengalaman indera ( sense experience ), aristoteles
berpendapat bahwa ilmu terjadi bila subjek diubah
dibawah pengaruh objek. Objek masuk dalam diri subjek
melalui persepsi indera ( sensasi ).
2. Nalar ( reason ) adalah salah satu corak berfikir dengan
menggabungkan dua pemikiran atau lebih dengan
maksud untuk mendapatkan pengetahuan baru. Ada tiga
asas tentang nalar yaitu: principium ( asas kesamaan ),
principium contradictionis ( asas pertentangan ), dan
principium tertii exclusi ( asas tidak adanya kemungkinan
ketiga ).
3. Otoritas ( authority ) adalah kekuasaan yang sah yang
dimiliki seseorang dan diakui oleh kelompoknya.
4. Intuisi ( intuition ) adalah kemampuan yang ada pada diri
manusia yang berupa proses kejiwaan tanpa suatu
rangsangan atau stimulus mampu membuat pernyataan
berupa ilmu.
5. Wahyu ( revelation ) adalah berita yang disampaikan
oleh tuhan kepada nabi-nya untuk kepentingan umatnya.
6. Keyakinan ( faith ) adalah suatu kemampuan yang ada
pada diri manusia yang diperoleh melalui kepercayaan.
F. perkembangan logika
ada beberapa alasan mengapa cara tersebut kita ambil.
Pertama, dalam sejarah perkembangan cara berfikir, dialetika
merupakan perkembangan lebih lanjut dari logika formal. Logika
formal adalah sebuah ilmu pengetahuan besar tentang system
proses berfikir. Logika formal merupakan hasil karya filsafat zaman
yunani kuno.
dialektika merupakan hasil dari gerakan ilmu pengetahuan
revolusioner selama seabad yang dilakukan oleh pekerja-pekerja
intelektual. Dialektika muncul sebagai cara berfikir terbaru para
filsuf-filsuf besar dalam refolusi demokratik di eropa barat pada
abad ke -6 dan abad ke-17.
Para ahli dialektika modern tidak melihat logika formal sebagai
sesuatu yang tak berguna. Sebaliknya, mereka menganggap
bahwa logika formal tidak sekedar sesuatu yang penting dalam
sejarah perkembangan metode berfikir tapi juga sangat penting
pada saat ini agar berfikir benar, tapi dalam dirinya logika formal
juga kurang lengkap. Unsure-unsur absyahnya menjadi bagian
dalam dialektika. Hubungan antara logika formal dan dialektika
menjadi berkebalikan. Dalam ajaran modern, dialektika berada di
garda depan dan sisi formal logika menjadi sub-ordinat
terhadapnya. Karena kedua tipe yang bertentangan tersebut
memilik banyak kesamaan, dan logika formal masuk sebagai materi
structural dalam kerangka logika dialetik, maka berguna sekali bagi
kita menggunakan logika formal.
G. TIGA HUKUM DASAR LOGIKA FORMAL
Ada tiga hukum dasar logika formal yang pertama dan
terpenting adalah hukum identitas. Hukum tersebut dapat
disebutkan dengan berbagai cara seperti sesuatu adalah selalu
sama dengan atau identik dengan dirinya misalnya dalam aljabar A
sama dengan A rumusan khusus hukum tersebut tak terlalu
penting.
Hukum kedua dari logika formal adalah hukum kontradiksi
menyatakan bahwa A adala bukan non A. hukum kontradiksi
menunjukan pemisahan perbedaan antara esensi materi dengan
fikiran.
Hukum yang ketiga adalah hukum tidak ada jalan tengah.
Menurut hukum tersebut segala sesuatu hanya memiliki satu
karakteristik tertentu, jika A sama dengan A maka tidak dapat
menjadi non-A. A tidak dapat menjadi bagian dari dua kelas
bertentangan pada waktu yang sama.
H. MATERIAL DAN REALITAS HUKUM
Hukum identitas hanyalah absyah untuk melihat dunia secara
universal ketimbang untuk melihat kesadaran manusia itu sendiri.
Hukum tersebut muncul setiap hari dan dimana saja dalam
kehidupan social. Jika kita tidak bisa mengenali bagian mental yang
sama, lewat beberapa tindakan, maka kita tidak akan bisa
melakukan produksi. Jika seorang petani tidak mengerti akan
perkembangan jagung yang ia tanam dari biji sampai menghasilkan
jagung lagi, dan kemudian menjadi bahan makanan, maka tidak
mungkin ada pertanian. Pengenalan kebenaran dengan jalan
seperti itu tak lain merupakan sebuah contoh khusus tentang
pengenalan tahap hukum identitas.
Teori Darwin tentang revolusi pengorganisasian manusia
berasal dan tergantung dari pengenalan terhadap identitas esensial
sebagai mahluk yang berbeda diatas bumi ini. Hukum gerak
mekanik newton dapat disimpulkan berasal dari gerak massa, dari
logika batu jatuh hingga planet-planet yang berputar dalam system
matahari. Semua ilmu pengetahuan lahir dan merupakan bagian
dari hukum identitas. Hukum identitas mengarahkan hingga
mengenali keragaman, perubahan permanen, kesamaan,
pemisahan dan penampakan yang berbeda, guna mencakup
keseluruhan semua itu, serta guna mendapatkan penghubung antar
fase-fase berbeda dari fenomena tertentu.
Hukum logika formal mengekspresikan masa depan yang
mempresentasikan dunia nyata. Hukum-hukum tersebut berisi
suatu materi dan berisi dasar objektif. Hukum-hukum tersebut
secara bersamaan merupakan hukum berfikir, hukum masyarakat
dan hukum alam. Ketiga akar hukum tersebut memiliki karakter
universal.
I. LOGIKA FORMAL DAN AKAL SEHAT
Lingkaran intelektual borjuis, akal sehat dijadikan suatu pola dan
cara berfikir serta menjadi penuntun tindakan. Hanya ilmu
pengetahuan yang dilandasi akal sehat yang bisa berada pada
hirarki nilai yang tinggi. Mereka yang anti dialektika hanya tidak tau
apa dialektika itu. Mereka bahkan tidak tahu apa logika formal itu.
Hal itu tidak mengejutkan. Apakah kelas kapitalis tahu apa itu
kapitalisme, bagaimana hukum-hukumnya beroprasi, jika mereka
tahu, mereka akan sadar akan krisis dan perang yang mereka buat,
dan tak seyakin sekarang dengan system yang mereka nikmati itu.
Konsepsi dan mekanisme logika formal, seperti silogisme,
merupakan alat berfikir yang akrab dan seuniversal layaknya pisau
tajam. Seperti yang kita ketahui, borjuis percaya bahwa masyarakat
kapitalis akan abadi karena menurut mereka, merupakan hal ilmiah
dan tidak dapat di ubah. Sosialisme, kata mereka, adalah tidak
mungkin dan tidak masuk akal sehat kerena manusia akan selalu
terbagi kedalam dua kelas yang saling bertentangan. Yakni yang
kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang lemah, pemerintah dan
yang diperintah setiap kelas akan berjuang sampai mati demi
mencapai hidup yang lebih baik.