Anda di halaman 1dari 20

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan utama suatu program pemuliaan tanaman adalah untuk mendapatkan

kombinasi genotip baru untuk diseleksi lebih lanjut sampai menghasilkan varietas

baru yang lebih unggul. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan kegiatan

persilangan antara tetua jantan dan betina yang memiliki gamet yang diinginkan

yang disebut dengan hibridisasi. Hasil persilangan tersebut merupakan fase

penting dalam program pemuliaan tanaman. Dengan demikian hibridisasi dapat

diartikan sebagai upaya untuk mendapatkan kombinasi genetik yang diinginkan

melalui persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda komposisi genetiknya.

Keturunan hasil hibridisasi ini akan mengalami segregasi pada F1 bila kedua

tetuanya heterozigot, atau pada F2 bila kedua tetuanya homozigot. Akibat

terjadinya segregasi ini akan menimbulkan keragaman genetik yang selanjutnya

dilakukan seleksi dan evaluasi terhadap karakter tanaman yang diinginkan.

Pada dasarnya tanaman penyerbuk silang adalah heterozigot dan

heterogenus. Satu individu dan individu lainnya mempunyai genetis yang berbeda.

Keragaman genetis yang umumnya cukup besar dibanding dengan tanaman

penyerbuk sendiri dalam menentukan kriteria seleksi diutamakan pada sifat

ekonomis yang terpenting dahulu, tanpa dicampur aduk dengan sifat sifat lain

yang kurang urgensinya. Pengertian yang bertalian dengan keseimbangan Hardy-

Weinberg adalah pengertian mengenai silang dalam, macam macam gen dan

1
sebagainya sangat membantu memahami sifat sifat tanaman penyerbuk silang

dan metode metode seleksinya.

Varietas unggul didapat melalui beberapa metode pemuliaan tanaman.

Metode pemuliaan ini sangat ditentukan oleh sistem penyerbukan ataupun cara

perkembangbiakan tanaman. Metode untuk tanaman menyerbuk sendiri berbeda

dengan metode untuk tanaman menyerbuk silang. Metode yang dikembangkan

secara seksual berbeda dengan yang dikembangkan secara aseksual. Beberapa

metode pemuliaan tanaman yang diketahui yaitu introduksi, seleksi dan hibridisasi

dilanjutkan seleksi.

Tanaman jagung mempunyai komposisi genetik yang sangat dinamis karena

cara penyerbukan bunganya menyilang. Fiksasi gen-gen unggul (favorable genes)

pada genotipe yang homozigot justru akan berakibat depresi inbreeding yang

menghasilkan tanaman kerdil dan daya hasilnya rendah. Tanaman yang vigor,

tumbuh cepat, subur, dan hasilnya tinggi justru diperoleh dari tanaman yang

komposisi genetiknya heterozigot.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ini adalah menghasilkan biji F1 dengan kombinasi

sifat tetua dari persilangan jagung, sebagai salah satu tahap dalam perakitan

varietas baru untuk tanaman menyerbuk silang.

2
II. TINJAUAN PUSTAKA

Perkawinan antar spesies merupakan salah satu cara yang digunakan dalam

meningkatkan keragaman genetik bahan pemuliaan. Keragaman tersebut nantinya

akan diseleksi untuk mendapatkan varietas yang memiliki sifat unggul. Varietas

bersifat unggul tersebut yang nantinya dapat dilepas sebagai varietas unggul.

Perkawinan silang antar spesies dan dalam spesies memiliki beberapa perbedaan

dalam tingkat keragaman genetik nantinya. Jenis perkawinan tersebut dipengaruhi

oleh beberapa faktor. Sehingga dalam proses perkawinan dalam tanaman atau

sering disebut dengan penyerbukan (Alfikri, 2011).

Menurut Alfikri (2011) bahwa hibridisasi (persilangan) adalah penyerbukan

silang antara tetua yang berbeda susunan genetiknya. Berdasarkan

pengelompokan tanaman yang digunakan dalam persilangan, hibridisasi

dibedakan menjadi:

a. Hibridisasi intravarietas, yaitu persilangan yang dilakukan antara tanaman yang

varietasnya sama.

b. Hibridisasi intervarietas, yaitu persilangan yang dilakukan antara tanaman yang

varietasnya berbeda dalam spesies yang sama. Hibridisasi ini disebut juga

hibridisasi intraspesifik.

c. Hibridisasi interspesifik, yaitu persilangan antara tanaman dari dua spesies yang

berbeda dalam genus. Hibridisasi ini disebut juga hibridisasi intragenerik. Jenis

persilangan initelah dilakukan untuk memindahkan gen ketahanan terhadap

hama dan penyakit atautoleransi terhadap kekeringan pada varietas tanaman

gandum, tomat, tebu, dan lain-lain.

3
d. Hibridisasi intergenerik, yaitu persilangan yang dilakukan antar tanaman dari

genus yang berbeda. Beberapa contoh tanaman hasil persilangan ini adalah

Raphanobrassica, Rabbage, Maize-teosinte, sugarcane-sorghum, dan lain-lain.

Hibridisasi ini juga biasa digunakan untuk memindahkan sifat ketahanan

penyakit, hama dan kekeringan dari genus tanaman liar ke tanaman budidaya.

Pada tanaman menyerbuk silang, hibridisasi biasanya digunakan untuk

mengujipotensi tetua atau pengujian ketegaran hibrida dalam rangka pembentukan

varietas hibrida. Selain itu, hibridisasi juga dimaksudkan untuk memperluas

keragaman. Penyerbukan silang adalah berpindahnya serbuk sari dari suatu bunga

tanaman lain menuju kepala putik tanaman yang berbeda. Penyerbukan ini terjadi

karena terhalangnya serbuk sari dari bunga yang sama untuk melangsungkan

penyerbukan sendiri. Umumnya penyerbukan terjadi karena bantuan angin dan

serangga ( Nasir, 2001).

Metode pemuliaan tanaman menyerbuk silang sedikit berbeda dengan

tanaman menyerbuk sendiri karena pada tanaman menyerbuk silang, dalam

populasi alami terdapat individu-individu yang secara genetik heterozigot untuk

kebanyakan lokus. Secara genotipe juga berbeda dari satu individu ke individu

lainnya, sehingga keragaman genetik dalam populasi sangat besar. Fenomena lain

yang dimanfaatkan dalam tanaman menyerbuk silang adalah ketegaran hibrida

atau heterosis. Heterosis didefinisikan sebagai meningkatnya ketegaran (vigor)

dan besaran F1 melebihi kedua tetuanya. Sebaliknya bila diserbuk sendiri akan

terjadi tekanan inbreeding. Beberapa metode yang populer pada tanaman

menyerbuk silang misalnya pembentukan varietas hibrida, seleksi massa, seleksi

4
daur ulang, dan dilanjutkan dengan pembentukan varietas bersari bebas atau

varietas sintetik. Untuk tanaman yang membiak secara vegetaif dapat dilakukan

seleksi klon, hibridisasi yang dilanjutkan dengan seleksi klon. Cara ini dapat

digunakan juga untuk pemuliaan tanaman tahunan yang biasa dibiakan secara

vegetatif (Yunianti dkk, 2011).

Menurut Allard (1992) bahwa metode seleksi pada tanaman menyerbuk

silang antara lain:

1. Cara pemotongan populasi dasar.

2. Ada tidaknya kontrol terhadap persilangan.

3. Model perangen pada populasi bersangkutan.

4. Tipe uji keturunan.

5. Macam dari varietas komersil yang akan dibentuk.

Menurut Allard (1992) bahwa metode penting yang sesuai dengan

penyerbukan silang antara lain:

a. Seleksi massa. Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan

macam-macam varietas yang disilangkan. Dalam seleksi ini jumlah yang

dipilih banyak karena untuk memperbanyak generasi berikutnya.

b. Pemuliaan persilangan kembali. Metode ini digunakan dengan spesies

persilangan luar yang nilainya sama baiknya dengan spesies yang berpolinasi

sendiri.

c. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan. Varietas hibrida tergantung dari

keunggulan keragaman yang mencirikan hibrid F1 diantara genotipe

5
tertentu.Tipe genotipe yantg disilangkan melahirkan galur-galur, klon, strain,

dan varietas.

d. Seleksi berulang. Seleksi yang diulang, genotipe yang diinginkan dipilih dari

genotipe ini atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi

yang menghasilkan populasi untuk disilangkan.

e. Pengembangan varietas buatan.

Menurut Syukur (2009) bahwa dalam melakukan persilangan harus

diperhatikan faktor-faktor tersebut, antara lain:

1. Penyesuaian waktu berbunga. Waktu tanam tetua jantan dan betina harus

diperhatikan supaya saat anthesis dan reseptif waktunya bersamaan.

2. Waktu emaskulasi dan penyerbukan. Pada tetua betina waktu emaskulasi harus

diperhatikan, padi harus pagi hari, bila melalui waktu tersebut polen telah jatuh

ke stigma. Juga waktu penyerbukan harus tepat ketika stigma reseptif. Jika

antara waktu antesis bunga jantan dan waktu reseptif bunga betina tidak

bersamaan, maka perlu dilakukan singkronisasi. Caranya dengan membedakan

waktu penanaman antara kedua tetua, sehingga nantinya kedua tetua akan siap

dalam waktu yang bersamaan. Untuk tujuan sinkronisasi ini diperlukan

informasi tentang umur tanaman berbunga.

Varietas jagung hibrida merupakan generasi pertama (F1) hasil persilangan

dua tetua galur murni atau lebih. Galur murni didapat setelah dilakukan

penyerbukan sendiri (selfing) minimal 5-6 generasi, karena pada generasi kelima

secara teoritis didapat tingkat kehomozigotannya yang mendekati 97%.

Penyerbukan sendiri (selfing) pada tanaman yang secara alami menyerbuk silang

6
menyebabkan terjadinya tekanan silang dalam (inbreedingdepression), yaitu

kemunduran pada vigor tanaman yang disebabkan oleh bertambahnya frekuensi

dari alel-alel homozigot, sedangkan heterozigotannya berkurang 50% pada setiap

fokus (Hanum, 2008).

Varietas-varietas jagung yang ada di Indonesia memiliki sifat biji yang keras

karena dikembangkan dalam rangka proteksi terhadap serangan hama penyakit.

Varietas sejenis ini memiliki karakteristik kandungan protein yang rendah karena

tidak memiliki gen opaque-2 yang mengendalikan kadar protein. Adanya gen

opaque-2, dapat meningkatkan kandungan protein, tetapi dilain pihak

menyebabkan biji jagung lunak, dan rapuh. Ahli pemuliaan mulai

mengembangkan tanaman jagung yang memiliki kadar protein yang tinggi dengan

cara menginduksi gen opaque-2 kedalam suatu varietas, tetapi cara tersebut

memunculkan sifat yang tidak diinginkan seperti rendahnya produksi dan sifat

kerapuhan biji (Hanum, 2008).

Jika tanaman jagung diserbuki sendiri, keturunan yang diperoleh (galur S1)

mempunyai vigor yang lebih rendah daripada tanaman S0 semula, daya hasil

berkurang, tinggi tanaman lebih kecil, tongkol lebih besar, dan lain-lain.

Sebaliknya jika dua galur yang berbeda disilangkan, maka keturunan yang

diperoleh (tanaman F1) mempunyai vigor yang lebih besar daripada kedua galur

induknya, seperti daya hasil lebih tinggi, tanaman lebih tinggi, tongkol lebih

besar, dan lain-lain. Bertambahnya vigor pada generasi F1 hasil persilangan antar

dua galur murni disebut gejala heterosis. Heterosis adalah keunggulan hibrida atau

7
hasil persilangan (F1) yang melebihi nilai atau kisaran kedua tetuanya (Wijaya,

2007).

8
III. METODE PRAKTIKUM

A. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah tongkol tetua betina dan

malai tetua jantan. Sedangkan alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah

kantong kertas besar, kantong kertas sedang, trigonal klip/stapler-isi stapler, label

dan pensil.

A. Prosedur Kerja

1. Sungkup dibuat terlebih dahulu menggunakan kantong kertas.

2. Sungkup diberi label atau ditulisi nama-nama varietas yang disilangkan,

waktu persilangan dan tanggal persilangan

3. Tanaman jagung yang sudah matang bunga jantannya diambil serbuk sarinya

menggunakan sungkup. Benang sari diguncang-guncangkan di dalam

sungkup agar serbuk sari jatuh ke dalam sungkup.

4. Sungkup berisi serbuk sari diikat dengan kuat di bagian atas tongkol jagung

varietas lain yang putiknya belum matang, dengan tujuan serbuk sari dapat

membuahi putik jagung.

5. Setelah dua minggu, dilakukan pengamatan terhadap hasil persilangan yang

dilakukan

9
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tetua Betina X Tetua Jantan

(varietas palakka) (varietas sukmaraga)

Sukmaraga X Palakk

(Tongkol besar dan rentan F1 (Tongkol kecil dan tahan

penyakit karat, tahan bulai, penyakit karat, rentan bulai,

toleran tanah masam) tidak toleran tanah masam)

(Tongkol besar, tahan penyakit karat, tahan bulai, toleran tanah masam)
Jumlah biji dalam tongkol : 95 buah

Tanggal penyerbukan : 19 Mei 2016

Tanggal pengamatan : 24 Mei 2016

Gambar 1.Tetua Betina Gambar 2.Tetua Jantan

10
Gambar 3. Proses Hibridisasi Gambar 4. Hasil F1

A. Pembahasan

Hibridisasi merupakan suatu perkawinan silang antara berbagai jenis spesies

pada setiap tanaman.Yang mempunyai tujuan untuk memperoleh organisme

dengan sifat-sifat yang diinginkan dan dapat berfariasi jenisnya. Pada peristiwa

hibridisasi akan memperoleh kombinasi genetikyang diperoleh melalui

persilangan dua atau lebih tetua yang berbeda genotipnya (Yunianti, 2011).

Hibridisasi atau persilangan bertujuan menggabungkan sifat-sifat baik dari kedua

tetua atau induknya sedemikian rupa sehingga sifat-sifat baik tersebut dimiliki

keturunannya. Hibridisasi merupakan metode pemuliaan tanaman yang dilakukan

pada tanaman yang dikembangbiakan secara vegetatif.Sumber variasi sifat atau

klon-klon baru yang sangat luas variabilitasnya dan menjadi sumber penyeleksian

klon baru dapat diperoleh dengan metode hibridisasi ini.Sebagai hasil dari

11
hibridisasi adalah timbulnya keragaman genetik yang tinggi pada keturunannya,

yang kemudian digunakan pemulia tanaman untuk memilih tanaman yang

mempunyai sifat-sifat sesuai dengan yang diinginkan.(Tanto, 2002).

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan langkah pertama yang

dilakukan adalah dicari tetua betina dari suatu varietas yang memiliki sifat unggul.

Pemilihan tetua betina ini dipilih yang unggul agar hasil dari anakan yang nanti

dilakukan persilangan dengan tetua jantan juga berkualitas unggul. Dalam

pemilihan tetua betina dipilih tetua betina yang belum terserbuki oleh tepung sari

dari tetua jantan yang lain. Selain itu dicari tetua betina yang memiliki kondisi

yang sehat agar dapat menghasilkan anakan yang baik pula.Setelah didapatkan

tetua betina nya maka dilakukan pencarian tetua jantan. Sama seperti pada

pemilihan tetua betina, dalam pemilihan tetua jantan dipilih sesuai sifat

tanamannya agar nanti hasilnya sesuai dengan yang disilangkan. Pemilihan tetua

jantan ini dipastikan bunga jantan belum pecah kotak sarinya dan kondisi nya

sehat agar dapat membuahi bunga betina. Pemilihan tetua menjadi salah satu

tahap yang krusial dalam proses pemuliaan melalui persilangan. Setelah tetua

betina dan tetua jantan dipilih maka langkah selanjutnya yaitu mengambil tepung

sari dengan hati-hati kerena tepung sari bersifat halus dan mudah terbang oleh

angin. Tepung sari dari pemilihan tetua jantan diambil dengan cara digoyangkan

dan dimasukkan ke dalam sungkup. Pengambilan sebanyak mungkin untuk

mengurangi potensi gagal pada hibridisasi tanaman meyerbuk silang.Tepung sari

yang telah didapatkan lalu di tuangkan ke tongkol tetua betina nya. Dalam

pemilihan tetua betina dicari tongkol tanaman jagung yang masih muda,

12
kondisinya masih baik, panjang rambut tongkol belum terlalu panjang dan tongkol

betina belum terserbuki. Proses hibridisasi ini harus dilakukan secara hati-hati

karena sifat tepung sari yang mudah diterbangkan oleh angin. Setelah itu tongkol

betina ditutupi sungkup kertas untuk mencegah penyerbukan yang tidak

dikehendaki. Agar tidak terkena hujan, sinar matahari atau angin, atau terjadi

penyerbukan yang tidak sesuai maka bagian betina yang telah diserbuki

disungkup (Alfikri, 2011). Terakhir dilakukan pengamatan lagi setelah 2 minggu

dan dilihat hasil jumlah biji pada tongkol nya.

Menurut Syukur (2009) secara garis besar penyerbukan silang buatan

meliputi beberapa tahap yaitu persiapan, kastrasi, pengambilan serbuk sari dan

melakukan penyerbukan.

1. Persiapan

Hibridisasi buatan meliputi persiapan peralatan dan

tanaman.Persiapan peralatan untuk persilangan ini berupa gunting kecil,

pisau, pinset, loupe, kuas, buku catatan dan plastik, sedangkan persiapan

tanaman meliputi pemilihan tetua jantan dan betina dengan sifat-sifat yang

dimilikinya (Alfikri, 2011).

2. Kastrasi

Kastrasi atau emaskulasi adalah membuang benang sari yang

masih muda ataukuncup bunga dari tanaman induk betina dengan tujuan

agar tidak terjadipenyerbukan sendiri (Syukur, 2009).

3. Pengambilan Serbuk Sari

13
Serbuk sari diambil dari benang sari yang segar dari bunga sedang

mekar, karena diperkirakan pada saat itu mempunyai daya kecambah yang

tinggi. Biasanya bila tersentuh sedikit saja serbuk sari langsung pecah dan

mengeluarkan serbuk sari (Alfikri, 2011).

4. Penyerbukan.

Menurut Syukur (2009) yang harus diperhatikan pada saat

penyerbukan adalah pada saat tanaman sedang berbunga lebat, sebab

tanaman yang baru berbunga atau hampir habis bunganya sering

mengecewakan.Suhu udara yang baik untuk melakukan penyerbukan

adalah sekitar 200sampai 250C sebab kepala putik cepat mengering pada

suhu yang terlalu tinggi. Serbuk sari yang terdapat pada kepala sari

ditempelkan pada kepala putik yang berlendir tadi dengan cara serbuk sari

dioleskan dengan kuas pada kepala putik. Untuk mengetahui serbuk sari

apakah sudah cukup diberikan, dapat dilihat dengan menggunakan kaca

pembesar (Sunarto 1997). Setelah penyerbukan, bunga ditutup kembali

selama beberapa hari.

Macam-macam metode hibridisasi menyerbuk silang antara lain :

1. Seleksi massal

Seleksi ini merupakan cara yang penting dalam pengembanan macam-

macam varietas yang disilangkan. Dalam seleksi ini jumlah yang dipilih

banyak untuk memperbanyak generasi berikutnya.

2. Pemuliaan persilangan kembali

14
Metode ini digunakan dengan spesies persilangan luar yang nilainya sama

baiknya dengan spesies yang berpolinasi sendiri.

3. Hibridisasi dari galur yang dikawinkan.

Varietas hibrida tergantung dari keunggulan keragamanyang mencirikan

hibrid F1 diantara genotipe tertentu. Tipe genotipe yantg disilangkan

melahirkan galur-galur, klon, strain, dan varietas.

4. Seleksi berulang.

Seleksi yang diulang, genotipe yang diinginkan dipilih dari genotipe ini

atau turunan sejenisnya disilangkan dengan luar semua kombinasi yang

menghasilkan populasi untuk disilangkan.

5. Pengembangan varietas buatan (Allard, 1960).

Contoh tanaman hasil hibridisasi menyerbuk silang yaitu tanaman jagung,

termasuk tanaman monoccious dimana bunga jantan dan betina letaknya terpisah.

Bunga jantan berbentuk malai terletak di bagian pucuk tanaman, sedangkan bunga

betina terletak kira-kira pada pertengahan batang tanaman. serbuk sari dihasilkan

pada malai 1-3 hari sebelum rambut tongkol keluar. rambut tongkol ini ber!ungsi

sebagai kepala putik dan tangkai putik. Serbuk sari mudah diterbangkan angin.

Satu malai dapat menghasilkan kurang lebih 2 juta serbuk sari atau setara dengan

50.000 serbuk sari untuk tiap rambut tongkol, bila diasumsi tiap tongkol terdapat

500 biji. Oleh karena letak bunga yang terpisah dan serbuk sarinya mudah

diterbangkan angin maka rambut tongkol besar sekali kemungkinannya untuk

mendapatkan serbuk sari dari tanaman di sebelahnya. Penyerbukan silang hampir

15
terjadi 95%. Dalam kondisi optimal, serbuk sari tetap ber!ungsi selama 12-18 jam

(Nasir, 2001).

Selain tanaman jagung, tanaman hasil hibridisasi silang yang telah

dilakukan berdasarkan penelitian yaitu tanaman semangka. Peristiwa hibridisasi

yang dilakukan pada tanaman semangka akan memperoleh kombinasi genetik

yang diperoleh melalui persilangan dua atau lebih tetua tanaman semangka yang

berbeda genotipnya dari hasil persilangan antara tanaman semangka varietas new

dragon yang berasal dari taiwan dengan tanaman semangka varietas farmer giant

dan hasil dari persilangan tersebut didapatkan varietas baru dengan daging buah

berwarna merah cerah.

Selain itu, tanaman yang menyerbuk silang dari jenis tanaman hias yaitu

tanaman anthurium. Beberapa tanaman anthurium yang jenisnya berbeda

dijadikan sebagai tetua agar menghasilkan kombinasi genetik yang sesuai.

Tanaman anthuium yang digunakan sebagai tetua betina adalah jenis sunset,

champion, midori, lady jane orange, aromatic, lady jane ungu, dan obake putih,

dan untuk tetua jantan adalah laura, sunset, pink Exotic, hawaiian butterfly, lady

jane merah, midori. Metode persilangan yang dilakukan adalah persilangan

antarspesies dari Anthurium andreanum. Keberhasilan tertinggi diperoleh pada

pasangan persilangan Obake putih x Pink Exotic, diikuti oleh Midori x Pink

Exotic, Champion x Laura, dan Lady Jane x Merah Ati masing-masing lebih dari

130 biji. Keberhasilan yang tinggi menunjukkan bahwa pasangan tetua tersebut

mempunyai kompatibilitas yang tinggi (Syukur, 2009).

16
Berdasarkan hasil praktikum, telah dilakukan proses hibridisasi silang di

kebun jagung di daerah sumbang. Varietas jagung yang disilangkan hanya berupa

simulasi untuk hibridisasi, namun kegiatan hibridisasi tetap dilakukan secara

nyata. Varietas jagung yang disilangkan adalah varietas Palakka (jantan) serta

varietas Sukmaraga (betina). Sifat pada tetua betina adalah memiliki tongkol besar

dan rentan pemyakit karat, tahan bulai, toleran tanah masam sementara sifat pada

tetua jantan adalah tongkol kecil dan tahan penyakit karat rentan bulai, tidak

toleran tanah masam. Sifat anakan atau F1 yang diharapkan pada keturunan

adalah jagung yang mempunyai tongkol besar dan tahan penyakit karat, tahan

bulai, toleran tanah masam. Pertumbuhan tongkol jagung dari hasil persilangan

yaitu berjumlah 95 buah biji dan hampir seluruh tongkol terisi biji sesuai dengan

stadia pertumbuhannya. Hal ini sesuai dengan pendapat Tanto (2002), yang

menyatakan bahwa setelah rambut-rambut mulai muncul tangkai tongkol dan

klobot mendekati pertumbuhan penuh, seluruh rambut akan terus memanjang

sampai saat dibuahi. Stadia berikutnya tongkol, klobot dan janggel telah sempurna

dan pati mulai diakumulasi ke endosperm (pengisian biji).

Hasil dari persilangan yang dilakukan diperoleh jumlah biji sebanyak 95

biji. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya prosentase jumlah biji jagung yang

dihasilkan. Berdasarkan hasil jagung yang didapatkan tidak sesuai dengan

literatur. Menurut pendapat Wijaya (2007), Biji jagung normal tersusun rapi

padat tongkol, biji berkeping tunggal (monokotil). Jumlah biji berkisar antara 200-

400 butir. Tanaman jagung mempunyai satu atau dua tongkol, tergantung varietas.

Tongkol jagung diselimuti oleh daun kelobot. Tongkol jagung yang terletak pada

17
bagian atas umumnya lebih dahulu terbentuk dan lebih besar dibanding yang

terletak pada bagian bawah. Setiap tongkol terdiri atas 10-16 baris biji yang

jumlahnya selalu genap (Yunianti, 2011). Pada praktikum kali ini terjadi

kegagalan, hal ini dapat diakibatkan adanya hujan yang terlalu lebat yang

mengakibatkan suasana menjadi lembab dan seringnya terserang hama dan

penyakit sehingga mudah busuk. Selain itu, pada saat penyerbukan tanpa

diketahui praktikan, tongkol yang akan diserbuki sudah diserbuki terdahulu oleh

serbuk sari dari jantan lain melalui perantara angin. Dan juga adanya kematangan

yang tidak bersamaan antara malai dan tongkol pada satu pohon jagung, sehingga

waktu penyerbukan menjadi lama tertunda. Selain itu, waktu yang terlalu cepat

untuk pengamatan juga sangat berpengaruh terhadap kegagalan dalam

pembentukan biji jagung.

18
V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan data pengamatan pada praktikum acara hibridisasi tanaman

menyerbuk silang kali ini diperoleh jumlah biji total 95 biji dimana biji F1 ini

merupakan hasil persilangan antara tetua jantan varietas Palakka dan tetua betina

varietas Sukmaraga. Dari hasil pengamatan ini dapat dikatakan berhasil.

B. Saran

Praktikum acara hibridisasi tanaman menyerbuk silang ini sudah baik,

semoga di praktikum berikutnya menjadi lebih baik.

19
DAFTAR PUSTAKA

Alfikri, A. L. 2011. Metode Hibridisasi Buatan.<http://blog.ub.ac.id/labib/sample-

page/>. Diakses pada tanggal 1 Juni 2016.

Allard, R. W. 1960. Principle of Plant Breeding. John Willey&Sons, Inc.

Hanum, Chairani. 2008.Teknik Budidaya Tanaman. Direktorat Pembinaan

Kejuruan Pertanian,Bandung.

Nasir, M. 2001. Pengantar Pemuliaan Tanaman. Direktorat Jenderal Pendidikan

Tinggi. Departemen Pendidikan Nasional, Jakarta.

Sunarto. 1997. Pemuliaan Tanaman. IKIP Semarang Press, Semarang.

Syukur, M., S. Sujiprihati, dan R. Yunianti. 2009. Teknik pemuliaan tanaman.

Bagian Genetika dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan

Hotikultura. IPB, Bogor. 284 hal.

Tanto. 2002. Pemuliaan Tanaman dengan Hibridisasi. PT. Raja Grafindo

Persada, Jakarta.

Wijaya, A., R. Fastia, dan F. Zulficia. 2007. Efek xenia pada persilangan jagung

Surya dengan jagung Srikandi Putih terhadap karakter biji jagung. Jurnal

Akta Agrosia. 2: 199 203.

Yunianti, Rahmi., Sriani Sujiprihati., dan Muhamad Syukur. 2011. Teknik

Persilangan Buatan. Kanisius, Yogyakarta.

20