Anda di halaman 1dari 9

Kasus-Kasus yang Sudah

mendapat keputusan
Mahkamah Internasional
1. Sengketa Sipadan dan Ligitan
Sengketa Sipadan dan Ligitan adalah
persengketaan Indonesia dan Malaysia atas pemilikan terhadap kedua pulauyang
berada di Selat Makassar yaitu pulau Sipadan (luas: 50.000 meter) dengan
koordinat: 4652.86N 1183743.52Edan pulau Ligitan (luas: 18.000 meter)
dengan koordinat: 49N 11853E. Sikap Indonesia semula ingin membawa
masalah ini melalui Dewan Tinggi ASEAN namun akhirnya sepakat untuk
menyelesaikan sengketa ini melalui jalur hukum Mahkamah Internasional

Kronologi sengketa
Persengketaan antara Indonesia dengan Malaysia, mencuat pada tahun 1967
ketika dalam pertemuan teknis hukum laut antara kedua negara, masing-masing
negara ternyata memasukkan pulau Sipadan dan pulau Ligitan ke dalam batas-
batas wilayahnya. Kedua negara lalu sepakat
agar Sipadan dan Ligitan dinyatakan dalam keadaan status status quoakan
tetapi ternyata pengertian ini berbeda. Pihak Malaysia membangun resor
parawisata baru yang dikelola pihak swasta Malaysia karena Malaysia
memahami status quo sebagai tetap berada di bawah Malaysia sampai
persengketaan selesai, sedangkan pihak Indonesia mengartikan bahwa dalam
status ini berarti status kedua pulau tadi tidak boleh ditempati/diduduki sampai
persoalan atas kepemilikan dua pulau ini selesai. Pada tahun 1969 pihak
Malaysia secara sepihak memasukkan kedua pulau tersebut ke dalam peta
nasionalnya.
Pada tahun 1976, Traktat Persahabatan dan Kerja Sama di Asia Tenggara atau
TAC (Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia) dalam KTT
pertama ASEAN di pulau Bali ini antara lain menyebutkan bahwa akan
membentuk Dewan Tinggi ASEAN untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi
di antara sesama anggota ASEAN akan tetapi pihak Malaysia menolak beralasan
karena terlibat pula sengketa dengan Singapura untuk klaim pulau Batu Puteh,
sengketa kepemilikan Sabah dengan Filipina serta sengketa kepulauan
Spratley di Laut Cina Selatan dengan Brunei Darussalam, Filipina, Vietnam, Cina,
dan Taiwan. Pihak Malaysia pada tahun 1991 lalu menempatkan sepasukan polisi
hutan (setara Brimob) melakukan pengusiran semua warga negara Indonesia
serta meminta pihak Indonesia untuk mencabut klaim atas kedua pulau.
Sikap pihak Indonesia yang ingin membawa masalah ini melalui Dewan Tinggi
ASEAN dan selalu menolak membawa masalah ini ke ICJkemudian melunak.
Dalam kunjungannya ke Kuala Lumpur pada tanggal 7 Oktober 1996,
Presiden Soeharto akhirnya menyetujui usulan PM Mahathir tersebut yang
pernah diusulkan pula oleh Mensesneg Moerdiono dan Wakil PM Anwar Ibrahim,
dibuatkan kesepakatan Final and Binding, pada tanggal 31 Mei 1997, kedua
negara menandatangani persetujuan tersebut. Indonesia meratifikasi pada
tanggal 29 Desember 1997 dengan Keppres Nomor 49 Tahun 1997 demikian pula
Malaysia meratifikasi pada 19 November 1997., sementara pihak mengkaitkan
dengan kesehatan Presiden Soeharto dengan akan dipergunakan fasilitas
kesehatan di Malaysia

Keputusan Mahkamah Internasional


Pada tahun 1998 masalah sengketa Sipadan dan Ligitan dibawa ke ICJ, kemudian
pada hari Selasa 17 Desember 2002 ICJ mengeluarkan keputusan tentang kasus
sengketa kedaulatan Pulau Sipadan-Ligatan antara Indonesia dengan Malaysia.
Hasilnya, dalam voting di lembaga itu, Malaysia dimenangkan oleh 16 hakim,
sementara hanya 1 orang yang berpihak kepada Indonesia. Dari 17 hakim itu, 15
merupakan hakim tetap dari MI, sementara satu hakim merupakan pilihan
Malaysia dan satu lagi dipilih oleh Indonesia. Kemenangan Malaysia, oleh karena
berdasarkan pertimbangan effectivity (tanpa memutuskan pada pertanyaan dari
perairan teritorial dan batas-batas maritim), yaitu pemerintahInggris (penjajah
Malaysia) telah melakukan tindakan administratif secara nyata berupa
penerbitan ordonansi perlindungan satwa burung, pungutan pajak terhadap
pengumpulan telur penyu sejak tahun 1930, dan operasi mercu suarsejak 1960-
an. Sementara itu, kegiatan pariwisata yang dilakukan Malaysia tidak menjadi
pertimbangan, serta penolakan berdasarkan chain of title (rangkaian kepemilikan
dari Sultan Sulu) akan tetapi gagal dalam menentukan batas di perbatasan laut
antara Malaysia dan Indonesia di selat Makassar.
KRONOLOGIS SENGKETA INDONESIA MALAYSIA
ATAS PULAU SIPADAN DAN LIGITAN
Tahun Peristiwa
Sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan muncul pertama kali pada perundingan mengen
landas kontinen antara RI dan Malaysia di Kuala Lumpur (9-12 September 1969). Ha
1969
Kesepakatan: kedua pihak agar menahan diri untuk tidak melakukan kegiatan-kegia
menyangkut kedua pulau itu sampai penyelesaian sengketa.

Malaysia melakukan tindakan sepihak dengan menerbitkan peta yang memasukkan


1970 pulau tersebut ke dalam wilayah nasionalnya, dan beberapa tahun kemudian melak
pembangunan dan pengelolaan fasilitas-fasilitas wisata di kedua pulau itu.

Pembahasan sengketa oleh Presiden RI Soeharto dan PM Malaysia Mahathir Muham


1989 Yogyakarta, tahun 1989. Hasil kesimpulan: sengketa mengenai kedua pulau tersebu
untuk diselesaikan dalam kerangka perundingan bilateral.

Kedua pihak sepakat untuk mengajukan penyelesaian sengketa tersebut ke Mahkam


Internasional dengan menandatangani dokumen Special Agreement for the Submis
1997 the International Court of Justice on the Dispute between Indonesian and Malaysia
concerning the Sovereignty over Pulau Ligitan and Pulau Sipadan di Kuala Lumpur
tanggal 31 Mei 1997.

Pada tanggal 2 November 1998, kesepakatan khusus yang telah ditandatangani itu
1998 kemudian secara resmi disampaikan kepada Mahkamah Internasional, melalui suatu
letter atau notifikasi bersama.

Proses argumentasi tertulis (written pleadings) dari kedua belah pihak dianggap r
2000 pada akhir Maret 2000 di Mahkamah Internasional. Argumentasi tertulis itu terdiri a
penyampaian memorial, counter memorial, dan reply ke Mahkamah Internasi

Proses penyelesaian sengketa Pulau Sipadan dan Ligitan di Mahkamah Internasiona


memasuki tahap akhir, yaitu proses argumentasi lisan (oral hearing), yang berlan
dari tanggal 3-12 Juni 2002. Pada kesempatan itu, Menlu Hassan Wirajuda selaku pe
kuasa hukum RI, menyampaikan argumentasi lisannya (agents speech), yang kem
diikuti oleh presentasi argumentasi yuridis yang disampaikan Tim Pengacara RI. Mah
Internasional kemudian menyatakan bahwa keputusan akhir atas sengketa tersebut
2002
ditetapkan pada Desember 2002.

Pada tanggal 17 Desember 2002, Mahkamah Internasional di Den Haag menetapkan


Sipadan dan Ligitan menjadi bagian dari wilayah kedaulatan Kerajaan Malaysia atas
efektivitas karena Malaysia telah melakukan upaya administrasi dan pengelolaan
konservasi alam di kedua pulau tersebut.

1. Sengketa Pulau Miangas


Kondisi geografi Indonesia sebagai negara kepulauan yang dipersatukan oleh
lautan dengan Pancasila sebagai ideologi bangsa telah melahirkan suatu budaya
politik persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Dalam usaha mencapai kepentingan, tujuan dan cita-cita nasional, bangsa
Indonesia dihadapkan pada tantangan, ancaman, hambatan dan gangguan yang
harus ditanggulangi. Salah satu bentuk ancaman tersebut adalah masalah
perbatasan NKRI yang mencuat beberapa pekan terakhir ini yaitu klaim Negara
Philipina atas pulau Miangas yang secara posisi geografis kedudukannya lebih
dekat dengan negara tetangga yang diindikasikan memiliki keinginan
memperluas wilayah. Pulau Miangas ini adalah salah satu pulau terluar Indonesia
yang memiliki luas 3, 15 km2 dan masuk dalam desa Miangas, Kecamatan
Nanusa Kabupaten Talaud Propinsi Sulawesi Utara. Pulau Miangas dan Pulau
Manoreh berdasarkan peta Spanyol 300 tahun lalu dan Trakat Paris tahun 1989,
merupakan wilayah Philiphina. Pernyataan Konsulat Jenderal RI untuk Davao City
Philipina yang mengejutkan bahwa Pulau Miangas dan Pulau Manoreh
berdasarkan peta Spanyol 300 tahun lalu merupakan wilayah Philiphina, bahkan
masalah ini dengan UU pemerintah Philipina yang baru, kedua pulau ini telah
masuk pada peta pariwisata Philipina. Pemerintah Philipina mengakui
keberadaan pulau Miangas sebagai miliknya berdasarkan Trakat Paris tahun
1989, Trakat Paris tersebut memuat batas-batas Demarkasi Amerika serikat (AS)
setelah menang perang atas Spanyol yang menjajah Philipina hingga ke Miangas
atau La Palmas. Trakat itu sudah dikomunikasikan Amerika Serikat ke Pemerintah
Hindia Belanda, tetapi tidak ada reservasi formal yang diajukan pemerintah
hindia Belanda terhadap Trakat itu. Hingga kini Indonesia dan Philipina belum
mengikat perjanjian batas wilayah tersebut.
Putusan Mahkamah Internasional/MI,International Court of Justice (ICJ) tanggal
17-12-2002 yang telah mengakhiri rangkaian persidangan sengketa kepemilikan
P. Sipadan dan P. Ligitan antara Indonesia dan Malaysia mengejutkan berbagai
kalangan. Betapa tidak, karena keputusan ICJ mengatakan kedua pulau tersebut
resmi menjadi milik Malaysia. Disebutkan dari 17 orang juri yang bersidang
hanya satu orang yang berpihak kepada Indonesia. Hal ini telah memancing
suara-suara sumbang yang menyudutkan pemerintah khususnya Deplu dan
pihak-pihak yang terkait lainnya. Dapat dipahami munculnya kekecewaan di
tengah-tengah masyarakat, hal ini sebagai cermin rasa cinta dan kepedulian
terhadap tanah air.
Sengketa Indonesia dengan Filipina adalah perairan laut antara P. Miangas
(Indonesia) dengan pantai Mindanao (Filipina) serta dasar laut antara P. Balut
(Filipina) dengan pantai Laut Sulawesi yang jaraknya kurang dari 400 mil.
Disamping itu letak P. Miangas (Indonesia) di dekat perairan Filipina, dimana
kepemilikan P. Miangas oleh Indonesia berdasarkan Keputusan Peradilan
Arbitrage di Den Haag tahun 1928. Di Kecamatan Nanusa, Kabupaten Talaud,
Pulau Miangas merupakan titik terluar yang paling jauh dan berbatasan dengan
Filipina. Dalam adat Nanusa, Miangas disebut Tinonda. Konon, pulau ini sering
menjadi sasaran bajak laut. Selain merebut harta benda, perompak ini membawa
warga Miangas untuk dijadikan budak di Filipina. Di masa Filipina dikuasai
penjajah Spanyol, Miangas dikenal dengan sebutan Poilaten yang memiliki arti:
Lihat pulau di sana. Karena di Miangas banyak ditumbuhi palm mulailah disebut
Las Palmas. Lambat laun pulau ini disebut Miangas. Miangas bukan hanya
menjadi sasaran perompakan. Pulau ini memiliki sejarah panjang karena menjadi
rebutan antara Belanda dan Amerika. Amerika mengklaim Miangas sebagai
jajahannya setelah Spanyol yang menduduki Filipina digeser Amerika. Tapi,
Belanda keberatan. Sengketa berkepanjangan terjadi, kasus klaim Pulau Miangas
ini diusung ke Mahkamah Internasional. Secara geografis, penjajah Amerika
Serikat mulai bersentuhan dengan Sulawesi bagian utara sejak akhir abad ke 19.
Di tahun 1898 itu, Amerika baru saja menguasai Filipina, setelah memerangi
Spanyol yang ratusan tahun menduduki negara kepulauan itu. Setelah Spanyol
ditaklukkan, muncul sengketa antara Amerika dengan Hindia Belanda. Sejumlah
warga Karatung mempertahankan pulau itu sebagai bagian dari gugusan
Kepulauan Nanusa. Saat penentuan demarkasi antara Amerika dan Belanda,
wakil raja Sangihe dan Talaud, serta tokoh adat Nanusa dihadirkan di Miangas.
Dalam pertemuan untuk menentukan pulau itu masuk jajahan Belanda atau
Spanyol, salah seorang tokoh adat Petrus Lantaa Liunsanda mengucapkan kata-
kata adat bahwa Miangas merupakan bagian Nanusa. Gugusan Nanusa mulai
dari Pulau Malo atau disebut tanggeng kawawitan (yang pertama terlihat) hingga
Miangas.
Setelah Indonesia merdeka, kehidupan di Kepulauan Nanusa ini tidak berubah. Di
masa Soekarno menjadi Presiden, hampir tak ada pembangunan di daerah itu.
Terutama untuk fasilitas umum, seperti sekolah. Sekolah di pulau-pulau ini paling
banyak dijalankan Yayasan Pendidikan Kristen. daerah perbatasan tampaknya
selalu berarti wilayah terisolasi, tertinggal. Ini merupakan dampak kebijakan
pembangunan nasional di masa lalu. Potensi sumber daya laut yang dapat
menjadi sumber kemakmuran masyarakat kepulauan, tidak mendapat perhatian.
Sebanyak 16 pulau di Talaud sendiri telah membentuk kabupaten. Dari jumlah
itu, sembilan pulau belum didiami dan tujuh pulau lainnya sudah berpenghuni.
Pembentukan kabupaten ini tidak lepas lantaran rendahnya tingkat
pengembangan daerah perbatasan selama ini.

Status Pulau Miangas


KEKALAHAN Indonesia dalam sengketa kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitandi
Mahkamah Internasional tampak cukup menyentak perhatian para elite terhadap
pulau-pulau di perbatasan yang selama ini terabaikan. Mengutip keterangan
para anggota DPR, sebagaimana diberitakan pers, salah satunya adalah Pulau
Miangas (berbatasan dengan Filipina).

Khusus berkaitan dengan status kepemilikan Pulau Miangas, ada beberapa hal
yang perlu dijelaskan:

1. Pulau Miangas adalah salah satu pulau kecil di gugusan Kepulauan Talaud
yang sejak zaman dulu dalam tradisi masyarakat setempat dianggap
sebagai bagian integral dari wilayah kepulauan di Sulawesi Utara, yakni
Kepulauan Sangihe dan Talaud. Di Sangihe Talaud, pulau yang
bersentuhan langsung dengan wilayah negara tetangga, Filipina, bukan
hanya Miangas, tapi ada beberapa pulau lain, yang termasuk dalam
wilayah Kepulauan Kawio, Marore, Kawaluso. Namun, karena posisi
geografisnya, Miangas dijadikan tapal batas terutara dari wilayah
Kepulauan Sangihe Talaud, yang mencakup sejumlah pulau dari Miangas
hingga Biaro.
2. Miangas bukan pulau kosong, tapi berpenghuni bahkan berstatus
kecamatan di Kabupaten Talaud (dulu Kabupaten Sangihe Talaud),
Sulawesi Utara. Dengan demikian, pulau tersebut secara administratif
sudah berada dalam penguasaan efektif pemerintah Indonesia.
3. Miangas memang pernah menjadi sengketa antara Indonesia dan Filipina.
Namun sengketa tersebut sudah berakhir, yakni dengan penetapan status
Miangas sebagai bagian RI melalui Mahkamah Internasional. Keputusan
tersebut didasarkan pada kenyataan adanya ?penguasaan efektif?
Kerajaan Pulau-Pulau Talaud atas Pulau Miangas di masa lampau, serta
faktor kesamaan tradisi, bahasa, dan asal-usul penduduk Miangas dengan
penduduk Kepulauan Talaud pada umumnya (dari aspek sosiokultural,
penduduk Miangas lebih dikenal sebagai ?orang Talaud?) meski dalam
aspek ekonomi Miangas lebih dekat dengan Filipina.
4. Dalam literatur, Pulau Miangas dikenal dengan tiga nama, yakni Las
Palmas (Pulau Kelapa), Miangas, dan Tinonda. Sebutan ?Las Palmas?
berasal dari bangsa Eropa dan memasyarakat di Filipina. Sedangkan ?
Miangas? adalah nama asli pulau tersebut, yang secara tradisional dipakai
oleh masyarakat Talaud. ?Tinonda? adalah sebutan tradisional untuk
penduduk yang menetap di Pulau Miangas.
5. Penguasaan efektif Indonesia atas Miangas telah berlangsung sejak zaman
Hindia Belanda, bahkan menjadi petunjuk batas wilayah ?Kerajaan
Kepulauan Talaud? yang mencakup wilayah ?dari Miangas hingga
Napombalu.?
6. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 4
Tahun 1960 tentang Perairan Indonesia, Miangas adalah salah satu
patokan penentuan batas perairan Indonesia. Dengan demikian, dari
aspek hukum Indonesia, status Pulau Miangas sudah sangat jelas. Namun
Indonesia dan Filipina seyogianya segera menyelesaikan masalah batas
landas kontinen yang hingga kini belum juga tuntas.
7. Untuk menjaga keutuhan wilayah Negara Kesatuan RI, pembangunan
Pulau Miangas memang perlu perhatian serius. Namun pembangunan
tersebut hanya bermakna positif bila bersifat integratif dengan wilayah
sekitarnya, yakni dikaitkan dengan Kepulauan Kawio, Marore, Kawaluso,
serta dengan Kecamatan Nanusa, Essang, Beo, yang berdekatan dengan
pulau tersebut.
1. Keputusan Mahkamah Internasional antara Bosnia vs. Serbia
Keputusan bersejarah yang dikeluarkan oleh Mahkamah Internasional
(International Court of Justice/ICJ) terhadap genosida atau pembunuhan secara
massal dalam perkara Bosnia-Herzegovina melawan Serbia-Montenegro
merupakan suatu contoh bahwa keputusan yang bijaksana tidak selalu menjadi
putusan yang baik.

Inilah pertama kalinya negara anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa mencoba


untuk mengajukan perkara genosida kepada ICJ. Namun ICJ nampaknya telah
menghilangkan satu-satunya kesempatan yang masih tersisa bagi pemegang
kekuasaan yang sah, sejak kematian Slobodan Milosevic yang secara tidak
langsung berakibat dengan dihapuskannya Mahkamah Kejahatan Perang di
Yugoslavia (International Criminal Tribunal for Former Yugoslavia/ICTY) yang
berkemungkinan untuk meminta pertanggungjawaban terhadap dirinya.

Keputusan mahkamah yang menjelaskan bahwa meskipun apa yang terjadi pada
tahun 1995 di Srebenica memang merupakan tindakan dari genosida namun
negara Serbia tidaklah secara langsung mempunyai keterlibatan terhadap
tindakan tersebut, merupkan keputusan yang diharapkan dapat diterima oleh
masing-masing pihak. Putusan yang seakan-akan bersifat kompromi ini tidaklah
mampu berbuat banyak, akan tetapi justru menyalakan api lama di tengah-
tengah etnik Balkan yang rentan akan konflik.

Keputusan tersebut menimbulkan berbagai isyu besar. Genosida dikenal secara


luas sebagai kejahatan internasional luar biasa dan seiring dengan
meningkatnya perkembangan dunia, setiap usaha terjadinya hal tersebut
sangatlah penting untuk dijadikan perhatian. Berbagai pengamat berpendapat
bahwa pemerintah Serbia pada saat ini tidak dapat dimintakan
pertanggungjawaban terhadap kejahatan yang dilakukan oleh pemerintah
sebelumnya. Terdapat juga pendapat yang mencoba untuk menggambarkan
perbedaan antara pemerintah dan negara. Bagaimanapun juga, sifat yang luas
biasa dan kejam dari genosida membawa perintah secara moril kepada
masyarakat internasional maupun nasional untuk membawa pelaku kejahatan
pada posisinya. Tetapi, kesulitan untuk menjalankan maksud utama guna
meniadakan kelompok yang dilindungi secara khusus berarti bahwa keputusan
seperti halnya dikeluarkan oleh ICJ masihlah jauh dari harapan.

Menurut Alexander Solzhenistan, hal ini membuktikan bahwa pengadilan


mungkin bukanlah instrument terbaik untuk mencapai rekonsiliasi dalam politik
internasional. Jika pemerintahan berkuasa saat ini, Perdana Menteri Vladimir
Kostunica, cukup serius mengenai kurangnya keterlibatan dalam pemberantasan
sistematis terhadap golongan minoritas pada masa lalu, maka jejak rekam
mereka semasa konflik seharusnya merefleksikan usaha adanya rehabilitasi dan
reintegrasi.

Pengalaman dari Eropa Barat setelah Perang Dunia II merupakan suatu bukti
bahwa bangsa yang terbagi-bagi perlu dipertemukan kembali dalam tingkatan
personal. Apa yang diperlukan adalah naratif yang sama sebagaimana dengan
Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi di Afrika Selatan membawa cerita-cerita masa
lalu dari mereka yang menderita. Bersama dengan rencana untuk reintegrasi di
mana termasuk dengan kompensasi tempat tinggal dan moneter untuk para
pelarian di pengasingan, hal tersebut mungkin merupakan jalan terbaik untuk
meyakinkan bukan hanya terciptanya perdamaian, tetapi juga menghilangkan
rasa trauma masa lalu.

1. Putusan Mahkamah Internasional: AS Langgar Hak Narapidana


Meksiko
Washington-Amerika Serikat (AS) mengaku akan mempelajari terlebih dahulu
keputusan Mahkamah Pengadilan Internasional, yang mengharuskannya
meninjau kembali vonis mati atas 51 narapidana asal Meksiko.

Kami akan mempelajarinya. Ini merupakan putusan yang sangat kompleks,


kata Juru Bicara Gedung Putih, Scott McClellan, di washington, Kamis (1/4) waktu
setempat.
Mahkamah Pengadilan Internasional dalam sidang Rabu (31/3) lalu menyatakan
bahwa Amerika Serikat (AS) telah melanggar hak 51 warga Meksiko yang divonis
hukuman mati. Selanjutnya pihak berwenang AS diperintahkan agar kasus para
terpidana mati tersebut ditinjau kembali.
Demikian putusan pengadilan yang dibentuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
di Den Haag, Belanda, tersebut dalam menanggapi tuntutan yang diajukan
Meksiko bahwa hak para warga mereka, yang dipidana dalam kasus
pembunuhan, untuk mendapat bantuan hukum dari pemerintah tidak boleh
dihalangi pihak berwenang di AS. AS harus meninjau keputusan dan hukuman
yang diberikan, kata ketua dewan hakim, Shi Jiuyong.
Dia mengatakan bahwa peninjauan kembali tersebut dapat dilakukan
berdasarkan proses banding normal dalam sistem pengadilan di AS.
Namun McClellan mengatakan bahwa pihaknya tidak dapat langsung
melaksanakan keputusan tersebut karena para narapidana diadili di beberapa
pengadilan yang tersebar di beberapa negara bagian yang memiliki otonomi
hukum.
Permohonan Banding
Mahkamah memutuskan agar pihak berwenang di AS harus menerima
permohonan banding dari tiga narapidana asal Meksiko yang yang telah divonis
hukuman mati. Para pejabat Meksiko memuji putusan mahkamah tersebut
sebagai kemenangan hukum internasional. Mereka yakin bahwa AS akan
mematuhi putusan mahkamah tersebut.
Arturo Dajer, penasihat hukum Departemen Luar Negeri Meksiko, mengatakan
bahwa putusan tersebut merupakan perangkat hukum yang penting yang
menentukan masa depan narapidana asal Meksiko di AS.
Departemen Kehakiman AS sampai belum memberikan tanggapan. Namun Duta
Besar AS untuk Belanda, Clifford Sobel, mengatakan bahwa dia turut gembira
dengan beberapa bagian dari putusan tersebut.
Menurut Sobel pemerintahnya akan mempertimbangkan putusan tersebut
berdasarkan wewenang pemerintah federal kepada negara bagian yang
memroses kasus yang melibatkan warga Meksiko.
Putusan mahkamah tersebut bersifat mengikat, mutlak, dan tidak dapat diajukan
banding. Selama ini putusan dari mahkamah tersebut jarang diabaikan. Bila
salah satu pihak yang bersangkutan tidak mematuhi putusan tersebut maka
dapat diadukan ke PBB.
Putusan tersebut diambil berdasarkan Konvensi Wina 1963 yang menjamin orang
yang dituduh melakukan tindak kriminal serius di suatu negara asing memiliki
hak untuk menghubungi pemerintahnya untuk meminta bantuan dan yang
bersangkutan patut diberitahu hak hukumnya oleh pihak yang menahan.
Pihak berwenang di AS dianggap lalai memberi tahu hak hukum tersebut bagi 51
narapidana asal Meksiko. Namun, penasihat hukum AS, William Taft, berargumen
bahwa Meksiko tidak berhak mencampuri sistem pengadilan negaranya
berkaitan hak hukum 51 narapidana tersebut

(banyak sumber)