Anda di halaman 1dari 33

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Medula spinalis tersusun dalam kanalis spinalis dan di selubungi oleh sebuah lapisan
jaringan konektif, dura meter. Tumor medulla spinalis merupakan suatu kelainan yang tidak
lazim dan hanya sedikit ditemukan dalam populasi. Namun, jika lesi tumor tumbuh dan
menekan medulla spinalis, tumor ini dapat menyebabkan disfungsi anggota gerak,
kelumpuhan dan hilangnya sensasi (Black, M Joyce,1997)
Insiden dari semua tumor primer medulla spinalis sekitar 10% sampai 19% dari semua
tumor primer susunan saraf pusat. (SSP), dan seperti tumor pada aksis saraf, insidennya
meningkatseiring dengan umur. Prevalensi pada jenis kelamin tertentu hampir semuanya
sama, kecuali pada meningloma yang pada umurnya terdapat pada wanita, serta
ependymoma yang lebih sering pada laki-laki. Sekitar 70% dari tumor intradular merupakan
ekstramedular dan 30% merupakan intramedular. (Daniel Tjen,1999)
Komplikasi yang dapat ditimbulkan pada tumor medulla spinalis sangatlah perlu
diperhatikan mengingat dampaknya akan memperparah keadaan pasien, seperti; kerusakan
serabut-serabut neuron, hilangnya sensasi nyeri (keadaan parah), perdarahan, metastasis,
kekauan, kelemahan, gangguan koordinasi, menyebabkan kesulitan berkemih atau hilangnya
pengendalian terhadap kandung kemih atau sembelit (Danel Tjen, 1999)

1
1.2 Rumusan Masalah
a. Apa Definisi dari Tumor Medula Spinalis ?
b. Apa Etiologi dari Tumor Medula Spinalis ?
c. Apa Manifestasi Klinik dari Tumor Medula Spinalis ?
d. Apa Patofisiologi dari Tumor Medula Spinalis ?
e. Bagaimana Pemeriksaan Penunjang pada Tumor Medula Spinalis ?
f. Bagaimana Penatalaksanaan pada Tumor Medula Spinalis ?
g. Bagaimana Asuhan Keperawatan pada Tumor Medula Spinalis ?

1.3 Tujuan Masalah


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan
a. Memahami Definisi dari Tumor Medula Spinalis
b. Memahami Etiologi dari Tumor Medula Spinalis
c. Memahami Manifestasi Klinik dari Tumor Medula Spinalis
d. Memahami Patofisiologi dari Tumor Medula Spinalis
e. Memahami Pemeriksaan Penunjang pada Tumor Medula Spinalis
f. Memahami Penatalaksanaan pada Tumor Medula Spinalis
g. Memahami Asuhan Keperawatan pada Tumor Medula Spinalis

1.4 Manfaat Makalah


Makalah ini di harapkan dapat bermanfaat bagi pembaca baik sebagai sumber informasi
maupun referensi baru serta tambahan ilmu.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi Fisiologi


Medula spinalis adalah bagian dari susunan saraf pusat yang seluruhnya terletak dalam
kanalis vertebralis. Medulla spinalis dikelilingi oleh struktur-struktur yang secara berurutan
dari luar ke dalam terdiri atas : (Price, Sylvia Anderson, 1995)
1. Dinding kanalis vertebralis yang terdiri atas tulang vertebrae dan ligament.
2. Lapisan jaringan lemak ekstradural yang mengandung anyaman pembuluh darah vena.
3. Meninges, yang terdiri atas :
a. Durameter (pachymeninx)
b. Arachnoid (leptomeninx)yang menempel secara langsung pada durameter, sehingga
diantara kedua lapisan ini dalam keadaan normal tidak dijumpai suatu ruangan.
c. Ruangan subarachnoid yang di dalamnya terdapat cairan serebrospinal (CSF)
d. Piameter, yang menempel langsungpada bagian luar medulla spinalis

Pada tubuh orang dewasa panjang medulla spinalis adalah sekitar 43cm. Pada masa 3
bulan perkembangan intrauterin, panjang medulla spinalis sama dengan panjang korpus
vertebrae. Pada masa perkembangan berikutnya, kecepatan pertumbuhan korpus vertebrae
melebihi kecepatan pertumbuhan medulla spinalis. Akibatnya pada masa dewasa, ujung
kaudal medulla spinalis terletak setinggi tepi cranial korpus vertebrae lumbal II atau
intervetebral disk I/II. Perbedaan panjang medulla spinalis dan korpus bertebrae ini
mengakibatkan terbentuknya konus medularis (bagian paling kaudal dari medulla spinalis
yang berbentuk kerucut dan terutama terdiri dari segmen-segmen sacral medulla spinalis) dan
cauda equine (kumpulan radiks nervus lumbalis bagian kaudal dan radiks nervus sakralis
yang mengapung dalam (CSF). Kearah kaudal, ruangan subarachnoid berakhir setinggi
segmen sacral II/III korpus vertebrae dengan demikian, diantara korpus vertebrae lumbal II
sampai korpus vertebrae sacral III tidak lagi terdapat medulla spinalis, melainkan hanya
terdapat cauda equina yang terapung-apung didalam CSF. Hal ini memungkinkan tindakan
fungsi lumbal di daerah intervertebral disk III/IV atau IV/V tanpa mencederai medulla
spinalis. (Price, Sylvia Anderson, 1995)

3
Seperti halnya korpus vertebrae, medulla spinalis juga terbagi ke dalam beberapa
segmen, yaitu : cervikal (C1-C8), segmen torakal (T1-T12), segmen lumbal (L1-L5), segmen
sakral (S1-S5) dan 1 segmen koksigeal yang vestigial. Serabut syaraf yang kembali ke
medulla spinalis diberi nama sesuai lokasi masuk/keluarnya dari kanalis vertebralis pada
korpus vertebrae yang bersangkutan. Syaraf dari C1-C7 berjalan di sebelah atas korpus
vertebrae yang bersangkutan, sedangkan dari syaraf C8 ke bawah berjalan di sebelah atas
korpus vertebrae bawah korpus vertebrae yang bersangkutan. (Priguna, Sidharta, 1989)
Diameter bilateral medulla spinalis selalu lebih panjang di bandingkan diameter
ventrodorsal. Hal ini terutama terdapat pada segmen medulla spinalis yang melayani
ekstremitas atas dan bawah. Pelebaran ke arah bilateral ini disebut intumesens, yang terdapat
pada segmen C4-T1 (intumesens cervikalis) dan segmen L2-S3 (intumesens lumbosakral).
Pada permukaan medulla spinalis dapat dijumpai fisura mediana ventalis, dan empat buah
sulkus, yaitu sulkus medianus dorasalis, sulkus dorsolateralis, sulkus intermediodorsalis dan
sulkus ventrolateralis. (Priguna, Sidharta, 1989)
Pada penampang transversal medulla spinalis, dapat di jumpai bagian sentral yang
berwarna lebih gelap (abu-abu)yang dikenal dengan gray matter. Gray matter adalah suatu
area yang berbentuk seperti kupu-kupu atau huruf H. Area ini mengandung badan sel neuron
beserta percabangan dendritnya. Di area ini terdapat banyak serat-serat saraf yang tidak
berselubung myelin serta banyak mengandung kapiler-kapiler darah. Hal inilah yang
mengakibatkan area ini berwarna lebih gelap. (Priguna, Sidharta, 1989)
Di bagian perifer medulla spinalis, tampak suatu area yang mengelilingi grey matter yang
tampak lebih cerah dan di kenal dengan white matter. White matter terdiri atas serat-serat

4
saraf yang berselubung myelin dan berjalan dengan arah longitudinal. (Priguna, Sidharta,
1989)

2.2 Pengertian
Tumor medulla spinalis adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang atau
isinya dan biasanya menimbulkan gejala-gejala karena keterlibatan medulla spinalis atau
akar-akar saraf. (Price, Sylvia Anderson,1995)
Tumor medulla spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah
cervical pertama hingga sacral. Tumor medulla spinalis merupakan tumor yang jarang terjadi
dan memiliki onset dan perjalanan penyakit yang perlahan. (Priguna, Sidharta, 1989)

2.3 Klasifikasi
Tumor medulla spinalis berdasarkan lokasinya menjadi 2 yaitu :
1. Tumor Intramedula yaitu tumor yang terjadi pada jaringan medulla spinalis sendiri,
sentral gray metter dan anterior commisure. Tumor intramedula berasal dari sel atrosit
atau sel ependema. Perkembangan tumor ini akan mengakibatkan kompresi pada
medulla spinalis, akar saraf spinal dan terjadi kerusakan pada paremkim.
Jenis tumor intramedula ini di antaranya : (Price, Sylvia Anderson, 1995)
a. Ependimomas, ditemukan khususnya pada conus medulari dan filum medulari
(cauda equine ependimoma) terjadi kira-kira 13% dari tumor medulla spinalis.
Dari hasil mikroskop di ependimal di temukan banyak sel-sel polygonal.
b. Astrositomas dan oligodenrogliomas, tumor yang terjadi pada sel-sel astrosit dan
dendrogia.
2. Ekstramedula yaitu tumor yang berada di luar medulla spinalis. Tumor ini di
kelompokkan menjadi dua yaitu :
a. Tumor intradural, terjadi diantara durameter dan medulla spinalis. Tumor ini
berasal dari medulla spinalis itu sendiri. Termasuk jenis tumor ini adalah
meningioma, neurofibroma.
b. Tumor extradural, umumnya berasal dari kolumna vertebralis atau dari dalam
ruang ekstradural. Termasuk jenis tumor ini adalah karsinoma metastase, limfoma
dan multiple mieoma.

5
2.4 Etiologi
Faktor resiko tumor dapat terjadi pada setiap kelompok ras insiden meningkat seiring
dengan pertambahan usia, faktor resiko akan meningkat pada orang yang terpajan zat kimia
tertentu (okrionitil, tinta, pelarut, minyak pelumas), namun hal tersebut belum bisa
dipastikan. Pengaruh genetic berperan serta dalam timbulnya tumor, penyakit sklerosis TB
dan penyakit neurofibromatosis. (Black, M Joyce, 1997)

2.5 Manifestasi Klinis


1. Tanda dan gejala umum
Nyeri
Kerusakan atau hilangnya sensori
Kerusakan atau gangguan motorik
Keruskan spinter bladder maupun bowel

2. Tumor pada bagian servikal


a. Servikal bagian atas
Distres pernapasan
Paralisis diaphragma
Nyeri kepala
Kaku kuduk
Nistagmus
Disfungsi saraf kranial
Quadriparalisis
b. Servikal bagian bawah
Nyeri pada lengan dan bahu
Kelemahan
Paresthesia
Kehilangan fungsi motorik
Meningkatnya reflex

6
3. Tumor pada bagian thorak
Hilangnya sensori
Paralisis spastik
Gangguan bladder dan bowel
Nyeri pada bagian dada
Kelemahan otot pada kaki
Atropi otot
Kontraktur pada kaki
Tanda babinski positif

4. Tumor pada Lumbosakral


Nyeri pada bagian belakang
Paresis
Hilangnya sensori
Paralisis spastik
Tidak berfungsinya bladder dan bowel
Gangguan seksual
Menurunnya reflex

2.6 Patofisiologi
Proses patologi pada tumor medula spinalis terjadi akibat adanya kompresi atau
penekanan pada medulla spinalis dan akar-akar saraf, terganggunya sirkulasi darah atau
obstruksi dari cairan serebrospinalis. Perkembangan dan makin bertambahnya massa akan
menimbulkan kerusakan pada medulla spinalis, edema, dan infak. Akibat lebih lanjut akan
terjadi gejala neurologik seperti gangguan sensorik atau hilangnya sensori maupun terjadi
paralisis. Tanda dan gejala neurologi lain tergantung pada lokasi dan tipe tumor (Daniel Tjen,
1999)
Tumor medulla spinalis baik primer maupun sekunder menyebabkan kompresi medulla
spinalis, akar-akar syaraf serta kandungan intracranial, sehingga terjadi kelemahan sensoris
maupun motoris tergantung pada letak lesi.
Tanda dan gejala lesi akar syaraf :

7
1. Lesi pada daerah servikal menyebabkan kelemahan dan atrofi lengan bahu, kelemahan
sensoris dan motoris berupa hiperestesia dalam dermaton vertebra servikalis (C2). Tumor
pada servikal (C5, C6, C7) menyebabkan hilangnya reflekstendon ekstremitas atas,
kompresi C6 menyebabkan defisit sensorik, pada C7 menyebakan hilangnya sensorik jari
telunjuk dan jari tengah.
2. Lesi pada daerah thorakal menyebabkan kelemahan spastic pada ekstremitas bagian
bawah dan parestesia serta menyebabkan nyeri pada dada dan abdomen.
3. Lesi pada lumbal bagian bawah dan segmen-segmen sacaral bagian atas menyebabkan
kelemahan dan atrofi oto-otot perineum betis dan kaki serta kehilangan reflex
pergelangan kaki serta hilangnya sensasi daerah perianal dan genitalia, gangguan control
usus dan kandung kemih akibat lesi pada sacral bagian bawah.
4. Lesi kauda ekuina menyebabkan gejala-gejala sfingter dini dan impotensi. Tanda-tanda
khas lainnya adalah nyeri tumpul pada sacrum dan perineum, yang kadang-kadang
menjalar ke tungkai (Price, 2006 :1192 )

2.7 Pemeriksaan Penunjang


1. X-ray spinal : menentukan adanya lesi dan kerusakan vertebra.
2. Myelografi : mengidentifikasi adanya kejang, derajat tumor.
3. CT Scan : identifikasi lokasi tumor.
4. Lumbal Pungsi : menganalisa cairan serebrospinalis, peningkatan jumlah protein
menunjukkan adanya tumor.

MRI tumor medulla spinalis (intradural intramedular)

8
MRI tumor medulla spinalis (intradural ekstramedular)

2.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanan umum
Terapi radiasi setelah pembedahan
Pemasangan collar servikal
Fisioterapi
2. Pembedahan
Merupakan pilihan utama dengan melakukan laminektomi
3. Pengobatan
Kemoterapi sistemik
Kortikosteroid seperti deksametason
Antasid
Analgetik seperti acetaminophen

2.9 Komplikasi
Kompresi atau penekanan pada medulla spinalis
Hilangnya fungsi sensori
Hilangnya fungsi motorik
Kegagalan pernapasan
Komplikasi yang muncul akibat pembedahan adalah : (Price, Sylvia Anderson, 1995)
a. Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi pada anak-anak
dibanding orang dewasa. Deformitas pada tulang belakang tersebut dapat
menyebabkan kompresi medulla spinalis.
9
b. Setelah pembedahan tumor medulla spinalis pada servikal, dapat terjadi obstruksi
foramen Luschka sehingga menyebabkan hidrosefalus.

10
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Pengkajian
1. BIODATA
a. Umur
Tumor medulla spinalis dapat terjadi pada semua kelompok usia tetapi jarang di
jumpai sebelum usia 10 tahun. (Price, 2006 : 1190)
b. Jenis Kelamin
Meningioma lebih sering terjadi pada wanita usia separuh baya. (Price, 2006 :
1193)
c. Pekerjaan
Pekerjaan yang berhubungan langsung terhadap paparan bahan kimia yang bersifat.

2. KELUHAN UTAMA
Nyeri hebat pada malam hari dan ketika tulang belakang di gerakkan serta pada saat
istirahat baring.

3. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Awal dirasakan nyeri hebat pada malam hari dan saat berubah posisi serta keluhan-
keluhan lain seperti kelemahan ekstremitas, mual muntah, kesulitan bernapas serta
cara penanganannya.

4. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Riwayat tumor baik yang ganas maupun jinak pada system syaraf atau pada organ
lain. Keluhan yang pernah di rasakan misalnya : pusing, nyeri, gangguan dalam
berbicara, kesulitan dalam menelan, kelemahan ekstremitas.

5. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Riwayat tumor atau kanker dalam keluarga

11
6. RIWAYAT PSIKOSOSIOSPIRITUAL
Pengkajian mekanisme koping yang digunakan untuk menilai respon emosi klien
terhadap penyakit yang di deritanya dan perubahan peran klien dalam keluarga.
Apakah ada tampak yang timbul pada klien yaitu timbul seperti ketakutan akan
kecacatan, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara
optimal dan pandangan terhadap dirinya yang salah (gangguan citra tubuh).

7. PENGKAJIAN BIO-PSIKO-SOSIAL-SPIRITUAL
a. Pernapasan
1) Irama pernapasan tidak teratur
2) Takipnea
3) Dispnea
4) Kesulitan bernapas
5) Pergerakan dada simetris
b. Nutrisi
Terjadi ketidakmampuan untuk menelan, mual muntah, serta kesulitan bernapas
dapat menyebabkan intake makanan yang tidak adekuat sehingga terjadi
penurunan berat badan
c. Aktivitas istirahat tidur
1) Aktivitas
Kelemahan ekstremitas, nyeri pada punggung dapat menyebabkan
ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas.
2) Istirahat tidur
Gangguan istirahat tidur dapat terjadi akibat nyeri yang hebat pada malam hari
serta saat berbaring dan karena cemas.
d. Hygiene personal
Terjadi peningkatan kebutuhan akan bantuan orang lain dalam pemenuhan
hygiene personal akibat adanya kelemahan ekstremitas, penurunan tingkat
kesadaran seta nyeri.

12
e. Eliminasi
Terjadi gangguan BAB dan BAK.

8. PEMERIKSAAN FISIK
a. B1 (Breathing)
Irama pernapasan tidak teratur
Takipnea
Dispnea
Kesulitan bernapas
Pergerakan dada
b. B2 (Blood)
Bradikardi
Hipotensi
Sianosis
c. B3 (Brain)
Penurunan kesadaran
Nyeri pada vertebra thorakalis, vertebra servikal, vertebra lumbalis
Defisit sensorik
d. B4 (Bladder)
Distensi kandung kemih
Nyeri tekan pada kandung kemih
e. B5 (Bowel)n
Berat badan menurun
Nyeri abdomen
f. B6 (Bone)
Penurunan skala otot
Kelemahan fleksi panggul dan spastisitas tungkai bawah
Kehilangan refleks lutut dan refleks pergelangan kaki
Atrofi otot betis dan kaki

13
3.2 Diagnosa Keperawatan
PRE :
1. Nyeri kronis berhubungan dengan inflamasi akibat tumor.
2. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan kerusakan neuromuscular.
3. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan ketidaktauan klien dan keluarga
tentang penyakit.
4. Perubahan persepsi sensori berhubungan dengan perubahan resepsi sensoris,
transmisi, atau integrasi.
5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual,
muntah, dan tidak nafsu makan.
6. Defisit perawatan diri berhubungan dengan gangguan neurofisiologis.
7. Ketidakefektifan pola nafas
8. Gangguan eliminasi

POST :
1. Resiko infeksi berhubungan dengan tindakan operasi
2. Anxietas berhubungan dengan kurang pengetahuan dan hospitalisasi

3.3 Intervensi
1. Pre Op
NO DIAGNOSA TUJUAN DAN INTERVENSI
KEPERAWATAN KRITERIA HASIL
1. Nyeri kronis berhubungan NOC : NIC :
dengan inflamasi akibat Pain Level,
tumor Pain control, Pain Management
Comfort level
Definisi : Lakukan pengkajian
Sensori yang tidak Kriteria Hasil : nyeri secara
menyenangkan dan o Mampu mengontrol komprehensif termasuk
pengalaman emosional yang nyeri (tahu penyebab lokasi, karakteristik,
muncul secara aktual atau nyeri, mampu durasi, frekuensi,
potensial kerusakan jaringan menggunakan tehnik kualitas dan faktor
atau menggambarkan nonfarmakologi untuk presipitasi
adanya kerusakan (Asosiasi mengurangi nyeri, Observasi reaksi
Studi Nyeri Internasional): mencari bantuan) nonverbal dari
serangan mendadak atau o Melaporkan bahwa ketidaknyamanan
14
pelan intensitasnya dari nyeri berkurang dengan Gunakan teknik
ringan sampai berat yang menggunakan komunikasi terapeutik
dapat diantisipasi dengan manajemen nyeri untuk mengetahui
akhir yang dapat diprediksi o Mampu mengenali pengalaman nyeri
dan dengan durasi kurang nyeri (skala, intensitas, pasien
dari 6 bulan. frekuensi dan tanda Kaji kultur yang
nyeri) mempengaruhi respon
Batasan karakteristik : o Menyatakan rasa nyeri
Laporan secara verbal nyaman setelah nyeri Evaluasi pengalaman
atau non verbal berkurang nyeri masa lampau
Fakta dari observasi o Tanda vital dalam Evaluasi bersama
Posisi antalgic untuk rentang normal pasien dan tim
menghindari nyeri kesehatan lain tentang
Gerakan melindungi ketidakefektifan
Tingkah laku berhati- kontrol nyeri masa
hati lampau
Muka topeng Bantu pasien dan
Gangguan tidur (mata keluarga untuk mencari
sayu, tampak capek, dan menemukan
sulit atau gerakan kacau, dukungan
menyeringai) Kontrol lingkungan
Terfokus pada diri yang dapat
sendiri mempengaruhi nyeri
Fokus menyempit seperti suhu ruangan,
(penurunan persepsi pencahayaan dan
waktu, kerusakan proses kebisingan
berpikir, penurunan
Kurangi faktor
interaksi dengan orang
presipitasi nyeri
dan lingkungan)
Pilih dan lakukan
Tingkah laku distraksi,
penanganan nyeri
contoh : jalan-jalan,
(farmakologi, non
menemui orang lain
farmakologi dan inter
dan/atau aktivitas,
personal)
aktivitas berulang-
ulang) Kaji tipe dan sumber
Respon autonom nyeri untuk
(seperti diaphoresis, menentukan intervensi
perubahan tekanan Ajarkan tentang teknik
darah, perubahan nafas, non farmakologi
nadi dan dilatasi pupil) Berikan analgetik
Perubahan autonomic untuk mengurangi
dalam tonus otot nyeri
(mungkin dalam rentang Evaluasi keefektifan
dari lemah ke kaku) kontrol nyeri
Tingkah laku ekspresif Tingkatkan istirahat
(contoh : gelisah, Kolaborasikan dengan

15
merintih, menangis, dokter jika ada keluhan
waspada, iritabel, nafas dan tindakan nyeri
panjang/berkeluh kesah) tidak berhasil
Perubahan dalam nafsu Monitor penerimaan
makan dan minum pasien tentang
manajemen nyeri
Faktor yang
berhubungan : Analgesic
Agen injuri (biologi, kimia, Administration
fisik, psikologis) Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas, dan derajat
nyeri sebelum
pemberian obat
Cek instruksi dokter
tentang jenis obat,
dosis, dan frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih analgesik yang
diperlukan atau
kombinasi dari
analgesik ketika
pemberian lebih dari
satu
Tentukan pilihan
analgesik tergantung
tipe dan beratnya
nyeri
Tentukan analgesik
pilihan, rute
pemberian, dan dosis
optimal
Pilih rute pemberian
secara IV, IM untuk
pengobatan nyeri
secara teratur
Monitor vital sign
sebelum dan sesudah
pemberian analgesik
pertama kali
Berikan analgesik
tepat waktu terutama
saat nyeri hebat
Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda dan
gejala (efek samping)
16
2. Hambatan mobilitas fisik NOC : NIC :
berhubungan dengan Joint Movement : Exercise therapy :
kerusakan neuromuskuler Active ambulation
Mobility Level Monitoring vital sign
Definisi : Self care : ADLs sebelm/sesudah
Keterbatasan dalam Transfer performance latihan dan lihat
kebebasan untuk pergerakan respon pasien saat
fisik tertentu pada bagian Kriteria Hasil : latihan
tubuh atau satu atau lebih Klien meningkat dalam Konsultasikan
ekstremitas aktivitas fisik dengan terapi fisik
Mengerti tujuan dari tentang rencana
Batasan karakteristik : peningkatan mobilitas ambulasi sesuai
Postur tubuh yang Memverbalisasikan dengan kebutuhan
tidak stabil selama perasaan dalam Bantu klien untuk
melakukan kegiatan meningkatkan kekuatan menggunakan
rutin harian dan kemampuan tongkat saat berjalan
Keterbatasan berpindah dan cegah terhadap
kemampuan untuk Memperagakan cedera
melakukan penggunaan alat Bantu Ajarkan pasien atau
keterampilan motorik untuk mobilisasi tenaga kesehatan lain
kasar (walker) tentang teknik
Keterbatasan ambulasi
kemampuan untuk Kaji kemampuan
melakukan pasien dalam
keterampilan motorik mobilisasi
halus Latih pasien dalam
Tidak ada koordinasi pemenuhan
atau pergerakan yang kebutuhan ADLs
tersentak-sentak secara mandiri sesuai
Keterbatasan ROM kemampuan
Kesulitan berbalik
Dampingi dan Bantu
(belok)
pasien saat mobilisasi
Perubahan gaya
dan bantu penuhi
berjalan (Misal :
kebutuhan ADLs ps.
penurunan kecepatan
Berikan alat Bantu
berjalan, kesulitan
jika klien
memulai jalan,
memerlukan.
langkah sempit, kaki
diseret, goyangan Ajarkan pasien
yang berlebihan pada bagaimana merubah
posisi lateral) posisi dan berikan

17
Penurunan waktu bantuan jika
reaksi diperlukan
Bergerak
menyebabkan nafas
menjadi pendek
Usaha yang kuat
untuk perubahan
gerak (peningkatan
perhatian untuk
aktivitas lain,
mengontrol perilaku,
fokus dalam
anggapan
ketidakmampuan
aktivitas)
Pergerakan yang
lambat
Bergerak
menyebabkan tremor

Faktor yang
berhubungan :
Pengobatan
Terapi pembatasan
gerak
Kurang pengetahuan
tentang kegunaan
pergerakan fisik
Indeks massa tubuh
diatas 75 tahun
percentil sesuai
dengan usia
Kerusakan persepsi
sensori
Tidak nyaman, nyeri
Kerusakan
muskuloskeletal dan
neuromuskuler
Intoleransi
aktivitas/penurunan
kekuatan dan stamina
Depresi mood atau
cemas
Kerusakan kognitif
Penurunan kekuatan
otot, kontrol dan atau

18
masa
Keengganan untuk
memulai gerak
Gaya hidup yang
menetap, tidak
digunakan,
deconditioning
Malnutrisi selektif
atau umum
3. Kurangnya pengetahuan NOC : NIC :
berhubungan dengan Kowlwdge : disease Teaching : disease
ketidaktauan klien dan process Process
keluarga tentang penyakit Kowledge : health Berikan penilaian
Behavior tentang tingkat
Definisi : Kriteria Hasil : pengetahuan pasien
Tidak adanya atau Pasien dan keluarga tentang proses
kurangnya informasi menyatakan pemahaman penyakit yang spesifik
kognitif sehubungan dengan tentang penyakit, Jelaskan patofisiologi
topic spesifik. kondisi, prognosis dan dari penyakit dan
program pengobatan bagaimana hal ini
Batasan karakteristik : Pasien dan keluarga berhubungan dengan
memverbalisasikan adanya mampu melaksanakan anatomi dan fisiologi,
masalah, ketidakakuratan prosedur yang dijelaskan dengan cara yang
mengikuti instruksi, perilaku secara benar tepat.
tidak sesuai. Pasien dan keluarga Gambarkan tanda dan
mampu menjelaskan gejala yang biasa
kembali apa yang muncul pada penyakit,
Faktor yang dijelaskan perawat/tim dengan cara yang tepat
berhubungan : keterbatasan kesehatan lainnya Gambarkan proses
kognitif, interpretasi penyakit, dengan cara
terhadap informasi yang yang tepat
salah, kurangnya keinginan Identifikasi
untuk mencari informasi, kemungkinan
tidak mengetahui sumber- penyebab, dengna cara
sumber informasi. yang tepat
Sediakan informasi
pada pasien tentang
kondisi, dengan cara
yang tepat
Hindari harapan yang
kosong
Sediakan bagi keluarga
informasi tentang
kemajuan pasien
dengan cara yang tepat
Diskusikan perubahan

19
gaya hidup yang
mungkin diperlukan
untuk mencegah
komplikasi di masa
yang akan datang dan
atau proses
pengontrolan penyakit
Diskusikan pilihan
terapi atau penanganan
Dukung pasien untuk
mengeksplorasi atau
mendapatkan second
opinion dengan cara
yang tepat atau
diindikasikan
Eksplorasi
kemungkinan sumber
atau dukungan, dengan
cara yang tepat
Rujuk pasien pada
grup atau agensi di
komunitas lokal,
dengan cara yang tepat
Instruksikan pasien
mengenai tanda dan
gejala untuk
melaporkan pada
pemberi perawatan
kesehatan, dengan cara
yang tepat

4. Perubahan persepsi sensori NOC : NIC :


berhubungan dengan Kriteria Hasil : Pemberian obat
perubahan resepsi sensoris, Kaji secara teratur supossitoria guna
transmisi, atau integrasi perubahan orientasi, mempermudah prose
kemampuan bicara, BAB
Batasan Karakteristik : afektif, sensoris dan Konsultasi dengan ahli
- Disorientasi proses pikir fisioterapi atau okupasi
- Perubahan respon Kaji kesadaran sensoris
terhadap rangsang seperti repon sentuhan,
- Inkoordinasi motorik panas/dingin, benda
- Perubahan pola tajam atau tumpul,
komunikasi kesadaran terhadap
- Distorsi auditorius dan gerakan dan letak
visual tubuh, perhatikan
- Penghidu adanya masalah

20
- Konsentrasi buruk penglihatan
- Perubahan proses pikir Observasi respon
- Respon emosional perilaku
berlebihan Hilangkan suara bising
- Perubahan pola perilaku atau stimulus yang
berlebuhan
Berikan stimulus yang
berlebihan seperti
verbal, penghidu, taktil,
pendengaran, hindari
isolasi secara fisik dari
psikologis

5. Ketidakseimbangan nutrisi NOC : NIC :



kurang dari kebutuhan tubuh Nutritional Status : food Nutrition Management
berhubungan dengan mual, and Fluid Intake Kaji adanya alergi
muntah, dan tidak nafsu Kriteria Hasil : makanan
makan. Adanya peningkatan Kolaborasi
berat badan sesuai dengan ahli gizi untuk
Definisi : Intake nutrisi tidak dengan tujuan menentukan jumlah
cukup untuk keperluan Berat badan ideal kalori dan nutrisi yang
metabolisme tubuh. sesuai dengan tinggi dibutuhkan pasien.
badan Anjurkan pasien
Batasan karakteristik : Mampu untuk meningkatkan
- Berat badan 20 % atau mengidentifikasi intake Fe
lebih di bawah ideal kebutuhan nutrisi Anjurkan pasien
- Dilaporkan adanya intake Tidak ada tanda tanda untuk meningkatkan
makanan yang kurang dari malnutrisi protein dan vitamin C
RDA (Recomended Daily Tidak terjadi penurunan Berikan substansi
Allowance) berat badan yang berarti gula
- Membran mukosa dan Yakinkan diet
konjungtiva pucat yang dimakan
- Kelemahan otot yang mengandung tinggi
digunakan untuk serat untuk mencegah
menelan/mengunyah konstipasi
- Luka, inflamasi pada Berikan makanan
rongga mulut yang terpilih ( sudah
- Mudah merasa kenyang, dikonsultasikan dengan
sesaat setelah mengunyah ahli gizi)
makanan Ajarkan pasien
- Dilaporkan atau fakta bagaimana membuat
adanya kekurangan catatan makanan harian.
makanan Monitor jumlah
- Dilaporkan adanya nutrisi dan kandungan
perubahan sensasi rasa kalori
- Perasaan Berikan informasi

21
ketidakmampuan untuk tentang kebutuhan
mengunyah makanan nutrisi
- Miskonsepsi Kaji kemampuan
- Kehilangan BB dengan pasien untuk
makanan cukup mendapatkan nutrisi
- Keengganan untuk makan yang dibutuhkan
- Kram pada abdomen
- Tonus otot jelek Nutrition Monitoring
- Nyeri abdominal dengan BB pasien dalam
atau tanpa patologi batas normal
- Kurang berminat terhadap Monitor adanya
makanan penurunan berat badan
- Pembuluh darah kapiler Monitor tipe dan
mulai rapuh jumlah aktivitas yang
- Diare dan atau steatorrhea biasa dilakukan
- Kehilangan rambut yang Monitor interaksi
cukup banyak (rontok) anak atau orangtua
- Suara usus hiperaktif selama makan
- Kurangnya informasi, Monitor lingkungan
misinformasi selama makan
Jadwalkan
Faktor-faktor yang pengobatan dan
berhubungan : tindakan tidak selama
Ketidakmampuan jam makan
pemasukan atau mencerna Monitor kulit kering
makanan atau mengabsorpsi dan perubahan
zat-zat gizi berhubungan pigmentasi
dengan faktor biologis, Monitor turgor kulit
psikologis atau ekonomi. Monitor kekeringan,
rambut kusam, dan
mudah patah
Monitor mual dan
muntah
Monitor kadar
albumin, total protein,
Hb, dan kadar Ht
Monitor makanan
kesukaan
Monitor pertumbuhan
dan perkembangan
Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva
Monitor kalori dan
intake nuntrisi

22
Catat adanya edema,
hiperemik, hipertonik
papila lidah dan cavitas
oral.
Catat jika lidah
berwarna magenta,
scarlet

6. Defisit perawatan diri NOC : NIC :


berhubungan dengan Self care : Activity of Self Care assistane :
gangguan neurofisiologis Daily Living (ADLs) ADLs
Monitor kemempuan
Definisi : Kriteria Hasil : klien untuk perawatan
Gangguan kemampuan Klien terbebas dari bau diri yang mandiri.
untuk melakukan ADL pada badan Monitor kebutuhan
diri Menyatakan klien untuk alat-alat
kenyamanan terhadap bantu untuk kebersihan
Batasan karakteristik : kemampuan untuk diri, berpakaian,
ketidakmampuan untuk melakukan ADLs berhias, toileting dan
mandi, ketidakmampuan Dapat melakukan makan.
untuk berpakaian, ADLS dengan bantuan Sediakan bantuan
ketidakmampuan untuk sampai klien mampu
makan, ketidakmampuan secara utuh untuk
untuk toileting melakukan self-care.
Dorong klien untuk
Faktor yang melakukan aktivitas
berhubungan : kelemahan, sehari-hari yang
kerusakan kognitif atau normal sesuai
perceptual, kerusakan kemampuan yang
neuromuskular/ otot-otot dimiliki.
saraf Dorong untuk
melakukan secara
mandiri, tapi beri
bantuan ketika klien
tidak mampu
melakukannya.
Ajarkan klien/ keluarga
untuk mendorong
kemandirian, untuk
memberikan bantuan
hanya jika pasien tidak
mampu untuk
melakukannya.
23
Berikan aktivitas rutin
sehari- hari sesuai
kemampuan.
Pertimbangkan usia
klien jika mendorong
pelaksanaan aktivitas
sehari-hari.

7. Ketidakefektifan pola nafas NOC : NIC :


berhubungan dengan Respiratory status :
Ventilation Airway Management
Respiratory status :
Definisi : Pertukaran udara Airway patency Buka jalan nafas,
inspirasi dan/atau ekspirasi Vital sign Status guanakan teknik chin
tidak adekuat lift atau jaw thrust bila
Kriteria Hasil : perlu
Batasan karakteristik : Mendemonstrasikan Posisikan pasien untuk
- Penurunan tekanan batuk efektif dan suara memaksimalkan
inspirasi/ekspirasi nafas yang bersih, tidak ventilasi
- Penurunan pertukaran ada sianosis dan Identifikasi pasien
udara per menit dyspneu (mampu perlunya pemasangan
- Menggunakan otot mengeluarkan sputum, alat jalan nafas buatan
pernafasan tambahan mampu bernafas dengan Pasang mayo bila perlu
- Nasal flaring mudah, tidak ada pursed Lakukan fisioterapi
- Dyspnea lips) dada jika perlu
- Orthopnea Menunjukkan jalan Keluarkan sekret
- Perubahan penyimpangan nafas yang paten (klien dengan batuk atau
dada tidak merasa tercekik, suction
- Nafas pendek irama nafas, frekuensi
Auskultasi suara nafas,
- Assumption of 3-point pernafasan dalam
catat adanya suara
position rentang normal, tidak
tambahan
- Pernafasan pursed-lip ada suara nafas
Lakukan suction pada
- Tahap ekspirasi abnormal), Tanda Tanda
mayo
berlangsung sangat lama vital dalam rentang
- Peningkatan diameter normal (tekanan darah, Berikan bronkodilator
anterior-posterior nadi, pernafasan) bila perlu
- Pernafasan rata- Berikan pelembab
rata/minimal udara Kassa basah
Bayi : < 25 atau > 60 NaCl Lembab
Usia 1-4 : < 20 atau > Atur intake untuk
30 cairan mengoptimalkan
Usia 5-14 : < 14 atau keseimbangan.
> 25 Monitor respirasi dan
Usia > 14 : < 11 atau > status O2
24
- Kedalaman pernafasan Terapi Oksigen

24
Dewasa volume Bersihkan mulut,
tidalnya 500 ml saat hidung dan secret
istirahat trakea
Bayi volume tidalnya Pertahankan jalan
6-8 ml/Kg nafas yang paten
- Timing rasio Atur peralatan
- Penurunan kapasitas vital oksigenasi
Monitor aliran oksigen
Faktor yang Pertahankan posisi
berhubungan : pasien
- Hiperventilasi Observasi adanya
- Deformitas tulang tanda tanda
- Kelainan bentuk dinding hipoventilasi
dada Monitor adanya
- Penurunan kecemasan pasien
energi/kelelahan terhadap oksigenasi
- Perusakan/pelemahan
muskulo-skeletal
- Obesitas Vital sign Monitoring
- Posisi tubuh
- Kelelahan otot pernafasan Monitor TD, nadi,
- Hipoventilasi sindrom suhu, dan RR
- Nyeri
- Kecemasan Catat adanya fluktuasi
- Disfungsi Neuromuskuler tekanan darah
- Kerusakan
persepsi/kognitif Monitor VS saat
- Perlukaan pada jaringan pasien berbaring,
syaraf tulang belakang duduk, atau berdiri
- Imaturitas Neurologis
Auskultasi TD pada
kedua lengan dan
bandingkan

Monitor TD, nadi, RR,


sebelum, selama, dan
setelah aktivitas

Monitor kualitas dari


nadi

Monitor frekuensi dan


irama pernapasan

Monitor suara paru

25
Monitor pola
pernapasan abnormal

Monitor suhu, warna,


dan kelembaban kulit

Monitor sianosis
perifer

Monitor adanya
cushing triad (tekanan
nadi yang melebar,
bradikardi,
peningkatan sistolik)

Identifikasi penyebab
dari perubahan vital
sign

26
8. Gangguan eliminasi NOC : NIC :
berhubungan dengan Urinary elimination
Urinary continence Urinary Retention Care
Monitor intake dan
Definisi : Pengosongan Kriteria hasil : output
kandung kemih tidak Kandung kemih kosong Monitor penggunaan
komplit secara penuh obat antikolionergik
Tidak ada residu urin Monitor derajat distensi
Batasan Karakteristik : >100-200 cc bladder
- Tidak ada haluaran urine Bebas dari ISK Intruksikan pada pasien
- Distensi kandung kemih Tidak ada spasme dan keluarga untuk
- Menetes, Disuria bladder mencatat output urine
- Sering berkemih Balance cairan Sediakan privacy untuk
- Inkontinensia aliran seimbang eliminasi
berlebih Stimulasi refleks
- Residu urine, berkemih bladder dengan
sedikit kompres dingin pada
- Sensasi kandung kemih abdomen
penuh Katerisasi jika perlu
Monitor tanda dan
Faktor yang gejala ISK (panas,
berhubungan : hematuria, perubahan
- Sumbatan bau dan konsistensi
- Tekanan ureter tinggi urine).
- Inhibisi arkus reflex,
spincter kuat Urinary Eliminationt
Management

2. Post Op

N DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN INTERVENSI


O KRITERIA HASIL
1. Resiko infeksi berhubungan NOC : NIC :
dengan tindakan operasi Immune Status Infection Control
Knowledge : Infection (Kontrol infeksi)
Definisi : Peningkatan resiko control Bersihkan
masuknya organisme patogen Risk control lingkungan
Kriteria Hasil : setelah dipakai
Faktor-faktor resiko : Klien bebas dari tanda pasien lain
- Prosedur Infasif dan gejala infeksi Pertahankan
- Ketidakcukupan Mendeskripsikan teknik isolasi
pengetahuan untuk proses penularan Batasi
menghindari paparan penyakit, factor yang pengunjung bila
patogen mempengaruhi perlu
- Trauma penularan serta

27
- Kerusakan jaringan dan penatalaksanaannya, Instruksikan pada
peningkatan paparan Menunjukkan pengunjung untuk
lingkungan kemampuan untuk mencuci tangan
- Ruptur membran amnion mencegah timbulnya saat berkunjung
- Agen farmasi infeksi dan setelah
(imunosupresan) Jumlah leukosit dalam berkunjung
- Malnutrisi batas normal meninggalkan
- Peningkatan paparan Menunjukkan perilaku pasien
lingkungan patogen hidup sehat Gunakan sabun
- Imonusupresi antimikrobia
- Ketidakadekuatan imum untuk cuci tangan
buatan Cuci tangan
- Tidak adekuat pertahanan setiap sebelum
sekunder (penurunan Hb, dan sesudah
Leukopenia, penekanan tindakan
respon inflamasi) kperawtan
- Tidak adekuat pertahanan Gunakan baju,
tubuh primer (kulit tidak sarung tangan
utuh, trauma jaringan, sebagai alat
penurunan kerja silia, cairan pelindung
tubuh statis, perubahan Pertahankan
sekresi pH, perubahan lingkungan
peristaltik) aseptik selama
- Penyakit kronik pemasangan alat
Ganti letak IV
perifer dan line
central dan
dressing sesuai
dengan petunjuk
umum
Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan
infeksi kandung
kencing
Tingktkan intake
nutrisi
Berikan terapi
antibiotik bila
perlu

Infection
Protection
(proteksi
terhadap infeksi)
Monitor tanda

28
dan gejala infeksi
sistemik dan lokal
Monitor
hitung granulosit,
WBC
Monitor
kerentanan
terhadap infeksi
Batasi
pengunjung
Saring
pengunjung
terhadap penyakit
menular
Partahankan
teknik aspesis
pada pasien yang
beresiko
Pertahankan
teknik isolasi k/p
Berikan
perawatan kuliat
pada area
epidema
Inspeksi kulit
dan membran
mukosa terhadap
kemerahan,
panas, drainase
Ispeksi
kondisi luka /
insisi bedah
Dorong
masukkan nutrisi
yang cukup
Dorong
masukan cairan
Dorong
istirahat
Instruksikan
pasien untuk
minum antibiotik
sesuai resep
Ajarkan
pasien dan

29
keluarga tanda
dan gejala infeksi
Ajarkan cara
menghindari
infeksi
Laporkan
kecurigaan
infeksi
Laporkan
kultur positif

2. Anxietas berhubungan dengan NOC : NIC :


kurang pengetahuan dan Anxiety control Anxiety Reduction
hospitalisasi Coping (penurunan
kecemasan)
Definisi : Kriteria Hasil : Gunakan
Perasaan gelisah yang tak jelas Klien mampu pendekatan yang
dari ketidaknyamanan atau mengidentifikasi dan menenangkan
ketakutan yang disertai respon mengungkapkan gejala Nyatakan dengan
autonom (sumner tidak spesifik cemas jelas harapan
atau tidak diketahui oleh Mengidentifikasi, terhadap pelaku
individu); perasaan keprihatinan mengungkapkan dan pasien
disebabkan dari antisipasi menunjukkan tehnik Jelaskan semua
terhadap bahaya. Sinyal ini untuk mengontol cemas prosedur dan apa
merupakan peringatan adanya Vital sign dalam batas yang dirasakan
ancaman yang akan datang dan normal selama prosedur
memungkinkan individu untuk Postur tubuh, ekspresi Temani pasien
mengambil langkah untuk wajah, bahasa tubuh dan untuk memberikan
menyetujui terhadap tindakan tingkat aktivitas keamanan dan
menunjukkan mengurangi takut
Ditandai dengan berkurangnya Berikan informasi
Gelisah kecemasan faktual mengenai
Insomnia diagnosis, tindakan
Resah prognosis
Ketakutan Dorong keluarga
Sedih untuk menemani
Fokus pada diri anak
Kekhawatiran
Lakukan back /
Cemas
neck rub
Dengarkan dengan
penuh perhatian
Identifikasi tingkat
kecemasan
Bantu pasien
mengenal situasi
yang menimbulkan
30
kecemasan
Dorong pasien
untuk
mengungkapkan
perasaan,
ketakutan, persepsi
Instruksikan pasien
menggunakan
teknik relaksasi
Barikan obat untuk
mengurangi
kecemasan

31
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Tumor medulla spinalis adalah tumor yang berkembang dalam tulang belakang atau
isinya dan biasanya menimbulkan gejala-gejala kareba keterlibatan medulla spinalis atau
akar-akar saraf. (Price sylvia Anderson, 1995).
Insiden dari semua tumor primer medulla spinalis sekitar 10% sampai 19% dari semua
tumor primer susunan saraf pusat. (SSP), dan seperti semua tumor pada aksis saraf,
insidennya meningkat seiring dengan umur. Prevalensi pada jenis kelamin tertentu hampir
semuanya sama, kecuali pada meningioma yang pada umurnya terdapat pada wanita, serta
ependymoma yang lebih sering pada laki-laki. Sekitar 70% dari tumor intradual merupakan
ekstramedular dan 30% merupakan intramedular.

4.2 Saran
Melalui makalah ini di harapkan memberikan sumbangsih pengetahuan mengenai tumor
medulla spinalis dan pelaksanaan baik prahospital maupun prehospital dan asuhan
keperawatan yang professional.

32
DAFTAR PUSTAKA

Black, M Joyce, 1997, Medikal Surgical Nursing Clinical Management for Continuity of
Care, Fifth Edition, WB. Saunders Company
Daniel Tjen, 1999, Penatalaksanaan Cedera Kranioserebral di Instalasi Gawat Darurat,
Jakarta, Widya Medika
Price, Sylvia Anderson, 1995, Fisiologi Proses-Proses Penyakit, Edisi ke empat, Buku
Kedua, Alih Bahasa : Peter Anugrah, Jakarta, EGC
Priguna, Sidharta, 1989, Pemeriksaan Klinis Umum, Jakarta, Dian Rakyat

33