Anda di halaman 1dari 12

Jurnal STIKES

Volume 5, No. 2, Desember 2012

KEJENUHAN KERJA (BURNOUT) DENGAN KINERJA PERAWAT DALAM


PEMBERIAN ASUHAN KEPERAWATAN

JOB BURNOUT (BURNOUT) WITH PERFORMANCE BY NURSES IN


NURSING CARE PROVISION

Puspa Ayu Maharani


Akde Triyoga
STIKES RS Baptis Kediri
(akde_triyoga@yahoo.com)

ABSTRAK

Kejenuhan kerja adalah suatu kondisi fisik, emosi dan mental yang tidak baik
akibat situasi kerja yang berat dalam jangka panjang. Penelitian ini bertujuan
mengetahui hubungan kejenuhan kerja dengan kinerja perawat dalam pemberian
asuhan keperawatan. Desain penelitian Analitik Korelasi. Populasi penelitian perawat
yang bekerja di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Baptis Kediri, jumlah sampel 53
responden, diambil dengan teknik Accidental Sampling. Variabel independen
kejenuhan kerja (burnout), dan variabel dependen kinerja perawat. Data dikumpulkan
menggunakan kuesioner dan observasi, kemudian diuji mengunakan Spearmans rho
dengan tingkat kemaknaan >0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian
besar responden mengalami kejenuhan kerja ringan yaitu sebanyak 45 responden
(85%), dan sebagian besar responden memiliki kinerja dalam pemberian asuhan
keperawatan yang baik yaitu sebanyak 39 responden (73,6%). Hasil uji statistik
menunjukkan = 0.068. Kesimpulan dari penelitian ini adalah tidak ada hubungan
kejenuhan kerja dengan kinerja perawat dalam pemberian asuhan keperawatan di
instalasi rawat inap (IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri.

Kata Kunci : Kejenuhan kerja, Kinerja, Perawat

ABSTRACT

Job burnout is a condition that physical, emotional and mental drop caused by a very
demanding job situation in the long term. This study aims to determine the job burnout
relationship with the performance of nurses in providing nursing care in Inpatient
Installation Kediri Baptist Hospital. Design used in this study were Analytical
Correlation. The populations were nurses who worked in Inpatient Installation Kediri
Baptist Hospital. The number of samples were 53 respondents and was taken by
Accidental Sampling. Independent variable is job burnout and the dependent variable is
the performance of nurses. Data was collected using questionnaires and observations,
then analyse using Spearman's rho test with a significance level of > 0.05. These results
indicate that most respondents experienced light job burnout as many as 45 respondents
(85%), and the majority of respondents have a performance in the provision of good
nursing care that was 39 respondents (73.6%). The results of statistical spearman's rho
tests showed = 0068. The conclusion of this study is no relationship of job burnout with

167
Kejenuhan Kerja ( Burnout ) dengan Kinerja Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
Puspa Ayu, Akde Triyoga

the performance of nurses in providing nursing care at inpatient installation Kediri Baptist
Hospital.

Keywords: job burnout, performance, nurse

Pendahuluan sudah bekerja antara 3 5 tahun, dan lebih


dominan terjadi pada jenis kelamin laki
laki. Sedangkan hasil Penelitian
Kejenuhan kerja (Burnout) adalah menunjukkan adanya kejenuhan tinggi pada
suatu kondisi fisik, emosi dan mental yang pegawai yang berakibat pada kinerja
sangat drop yang diakibatkan oleh situasi pegawai, ini berarti kinerja pegawai
kerja yang sangat menuntut dalam jangka menurun karena kejenuhan kerja
panjang (Muslihudin, 2009). National meningkat. Sedangkan hasil wawancara
Safety Council (NSC) tahun 2004 terstruktur yang dilakukan oleh peneliti
mengatakan bahwa kejenuhan kerja pada tanggal 31 Oktober 2011 1
merupakan akibat stres kerja dan beban November 2011 terhadap 15 orang perawat
kerja yang paling umum, gejala khusus di Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah
pada kejenuhan kerja ini antara lain Sakit Baptis Kediri yang dipilih secara acak
kebosanan, depresi, pesimisme, kurang menunjukkan bahwa 4 orang perawat
konsentrasi, kualitas kerja buruk, (26,67 %) memiliki kejenuhan kerja tinggi,
ketidakpuasan, keabsenan, dan kesakitan 5 orang perawat (33.34 %) memiliki
atau penyakit. Kejenuhan kerja merupakan kejenuhan kerja sedang, 4 orang perawat
sesuatu hal yang sering dialami dalam (26,67 %) memiliki kejenuhan kerja ringan,
setiap pekerjaan, perawat merupakan salah dan 2 orang perawat (13,34 %) memiliki
satu profesi yang beresiko memiliki stres respon normal atau tidak mengalami
dan beban kerja yang tinggi. Kinerja kejenuhan kerja. Adapun tanda kejenuhan
perawat adalah sesuatu yang dapat dari para perawat antara lain, seringnya
dirasakan oleh para pasien, apabila kinerja melihat jam pada saat bekerja, menunda-
buruk maka menyebabkan penurunan mutu nunda atau bahkan mempercepat kegiatan
pelayanan. Kejenuhan kerja menjadi suatu yang seharusnya belum dilakukan, keluhan
masalah bagi organisasi apabila pegal dan rasa capek, menggunakan
mengakibatkan kinerja menurun, selain handphone yang berlebihan pada saat jam
kinerja yang menurun produktivitas juga kerja.
menurun (Dale, 2011). Keadaan jenuh Perawat dituntut untuk bertanggung
seringkali pikiran kita menjadi terasa penuh jawab memberikan praktik keperawatan
dan mulai kehilangan rasional, hal ini dapat yang aman dan efektif serta bekerja pada
menyebabkan kewalahan dengan pekerjaan lingkungan yang memiliki standar klinik
dan akhirnya menyebabkan keletihan yang tinggi (Mahlmeister, 2003).
mental dan emosional, kemudian mulai Kejenuhan kerja dapat disebabkan oleh
kehilangan minat terhadap pekerjaan dan kekurangan kontrol, ekspektasi kerja yang
motivasi menurun, pada akhirnya kualitas tidak jelas, dinamika ruang kerja yang
kerja dan kualitas hidup ikut menurun disfungsional, ketidaksesuaian dalam nilai,
(National Safety Council, 2004). pekerjaan yang tidak disukai, dan aktivitas
Berdasarkan penelitian ekstrem (Muslihudin, 2009). Kejenuhan
Mohammadbagher Gorji tahun 2011 kerja memiliki hubungan terhadap
tentang Status Kejenuhan Kerja (Burnout) kelelahan mental, kehilangan komitmen,
Dengan Kinerja (Job Performance) Pada dan penurunan motivasi seiring waktu.
Pegawai Bank menunjukkan bahwa 30,75% Kejenuhan kerja merupakan suatu masalah
pegawai rata-rata mengalami kejenuhan yang dapat menyebabkan seseorang
kerja, menekankan bahwa kejenuhan kerja mencoba mencapai sutu tujuan yang tidak
(Burnout) ini dirasakan oleh pegawai yang realistis dan pada akhirnya mereka

168
Jurnal STIKES
Volume 5, No. 2, Desember 2012

kehabisan energi dan perasaan tentang dan kenaikan gaji, mengenal pegawai yang
dirinya dan orang-orang disekitarnya memenuhi syarat penugasan khusus,
(Gehmeyr, 2003). Akibat dari kejenuhan memperbaiki komunikasi antara atasan dan
kerja itu sendiri dapat muncul dalam bentuk bawahan, serta menentukan pelatihan dasar
berkurangnya kepuasan kerja, untuk pelatihan karyawan yang
memburuknya kinerja, dan produktivitas memerlukan bimbingan khusus. Canadian
yang rendah. Apapun penyebabnya, Nursing Association (CNA) tahun 2003
munculnya kejenuhan kerja berakibat membuat suatu lingkungan model praktik
kerugian di pihak pekerja maupun profesional yang berkualitas, yaitu kontrol
organisasi. Adanya beban kerja dan beban kerja, kepemimpinan dalam
kejenuhan kerja pada diri perawat akan keperawatan, kontrol kualitas pelayanan,
menurunkan kualitas kerja perawat, apabila dukungan dan penghargaan, pengembangan
kualitas kerja perawat menurun maka tidak profesi serta inovasi dan kreativitas.
hanya pasien yang dirugikan tetapi yang Membuat suatu lingkungan model praktik
pertama pekerja itu sendiri, Institusi dan keperawatan yang berkualitas tentang beban
yang paling penting adalah dapat kerja yang mencangkup kejenuhan kerja
memperburuk kondisi pasien yang akhirnya perlu adanya data yang empiris.
menuju kepada penurunan mutu asuhan
keperawatan (Rice, 2002)
Menurut Mulyana tahun 2009, untuk Metodologi Penelitian
menurunkan kejenuhan kerja hal pertama
yang harus dilakukan adalah adanya
kesadaran diri dari pimpinan bahwa dalam Desain penelitian yang digunakan
melaksanakan pekerjaannya, seorang adalah korelasional, yaitu penelitian
pegawai banyak menghadapi berbagai yang bertujuan untuk menjelaskan suatu
masalah yang bisa berdampak pada hubungan, memperkirakan, menguji
timbulnya kejenuhan kerja, hendaknya para berdasarkan teori yang ada. Hubungan
pimpinan melakukan beberapa hal antara korelatif mengacu pada kecenderungan
lain, melakukan pembinaan pegawai secara bahwa variasi suatu variabel diikuti oleh
profesional, membina hubungan profesional variasi variabel yang lain (Nursalam,
yang tidak kaku dan akrab baik antara 2003). Penelitian ini bertujuan untuk
pimpinan dan pegawai, ataupun sesama menguji korelasi 2 variabel yaitu
pegawai, melakukan dukungan sosial yang kejenuhan kerja dan kinerja perawat.
cukup bermakna kepada pegawai, adanya Populasi adalah keseluruhan dari
usaha dari pegawai itu sendiri yaitu suatu variabel yang menyangkut masalah
menjaga kondisi fisik dan mental sehingga yang diteliti (Nursalam, 2001). Pada
terbentuk suatu manajemen stress yang penelitian ini populasinya adalah semua
baik, meningkatkan hubungan yang perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA)
harmonis kepada orang lain, membuat Rumah Sakit Baptis Kediri. Jumlah
lingkungan sekitar menjadi aman dan populasi dalam penelitian ini sebanyak
nyaman, serta meningkatkan wawasan serta 112 Perawat yang terdiri dari perawat
melakukan kegiatan yang bermanfaat. Sarjana Keperawatan (Strata 1/S-1), Ahli
Menurut Nursalam tahun 2007, untuk Madya Keperawatan (Diploma III/D-
meningkatkan kinerja pada perawat dengan III), dan lulusan Sekolah Perawat
cara pengawasan yang dilakukan oleh Kesehatan (SPK).
manajer keperawatan guna mencapai hasil Sampel adalah sebagian dari
organisasi adalah sistem penilaian kerja keseluruhan obyek yang diteliti dan
perawat. Melalui evaluasi reguler dari dianggap mewakili seluruh populasi
setiap pelaksanaan kerja pegawai, manajer (Nursalam, 2001). Sampel dalam
harus dapat mencapai beberapa tujuan, penelitian ini adalah Perawat Instalasi
yaitu memperbaiki pelaksanaan kerja, Rawat Inap (IRNA) di Rumah Sakit
memberitahu kalau kerja mereka kurang Baptis Kediri yang memenuhi kriteria
memuaskan, serta mempromosikan jabatan inklusi. Kriteria inklusi untuk sampel

169
Kejenuhan Kerja ( Burnout ) dengan Kinerja Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
Puspa Ayu, Akde Triyoga

dalam penelitian ini antara lain: perawat perempuan yaitu sebanyak 42 responden
yang bersedia diteliti, perawat yang tidak (79,3 %)
sedang cuti, perawat yang bekerja 1 tahun,
bukan menjabat sebagai Kepala Ruangan,
perawat yang menerima pasien baru, Tabel 2 Karakteristik Responden
perawat yang dinas shift pagi dan siang. berdasarkan Umur di
Jumlah sampel sebanyak 53 perawat. Instalasi Rawat Inap
Sampling adalah suatu proses dalam (IRNA) Rumah Sakit
menyeleksi porsi dari populasi untuk Baptis Kediri pada tanggal
dapat mewakili populasi (Nursalam, 15 Februari 2012 22
2001). Sampling yang digunakan dalam Maret 2012.
penelitian ini adalah Accidental Umur Frekuensi %
Sampling. 20-30 Tahun 26 49,1
Variabel adalah ukuran atau ciri yang 31-40 Tahun 21 39,6
dimiliki oleh kelompok (Orang, benda,
41-50 Tahun 4 7,5
situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki
oleh kelompok tersebut (Nursalam, 2001). >50 Tahun 2 3,8
Variabel dalam penelitian ini ada dua Jumlah 53 100
yaitu variabel bebas dan variabel
tergantung. Variabel bebas dalam Berdasarkan tabel 2 dapat dipelajari
penelitian ini adalah kejenuhan kerja, bahwa paling banyak perawat yang
sedangkan variabel tergantungnya adalah bekerja di Instalasi Rawat Inap (IRNA)
kinerja perawat. Rumah Sakit Baptis Kediri berusia 20-30
tahun yaitu sebanyak 26 responden
(49%)
Hasil Penelitian

Tabel 3 Karakteristik Responden


Data Umum berdasarkan Pendidikan di
Instalasi Rawat Inap (IRNA)
Rumah Sakit Baptis Kediri
Data umum penelitian ini meliputi pada tanggal 15 Februari
jenis kelamin, umur, lama kerja serta 2012 22 Maret 2012.
tingkat pendidikan. Data umum disajikan
dalam bentuk tabel seperti berikut. Pendidikan Frekuensi %
SPR / SPK 7 13,2
Diploma III 36 67,9
Tabel 1 Karakteristik Responden Keperawatan
berdasarkan Jenis Kelamin S1 10 18,9
di Instalasi Rawat Inap Keperawatan
(IRNA) Rumah Sakit Jumlah 53 100
Baptis Kediri pada Tanggal
15 Februari 2012 22 Berdasarkan tabel 3 dapat dipelajari
Maret 2012. bahwa sebagian besar perawat yang
Jenis bekerja di Instalasi Rawat Inap (IRNA)
Frekuensi % Rumah Sakit Baptis Kediri berpendidikan
Kelamin
Laki-laki 11 20,8 Diploma III Keperawatan yaitu sebanyak
Perempuan 42 79,2 36 responden (68 %)
Jumlah 53 100
Berdasarkan tabel 1 dapat
dipelajari bahwa sebagian besar
responden mempunyai jenis kelamin

170
Jurnal STIKES
Volume 5, No. 2, Desember 2012

Tabel 4 Karakteristik Responden kejenuhan kerja (Burnout) ringan


berdasarkan Lama Kerja di sebanyak 45 responden (85 %)
Instalasi Rawat Inap (IRNA)
Rumah Sakit Baptis Kediri
pada tanggal 15 Februari Tabel 6 Kinerja Perawat dalam
2012 22 Maret 2012. Pemberian Asuhan
Lama Frekuensi % Keperawatan di Instalasi
Kerja Rawat Inap (IRNA) Rumah
1-5 Tahun 26 49,1 Sakit Baptis Kediri
5-10 Tahun 10 18,9 Kinerja Frekuensi %
>10 Tahun 17 32,1 perawat
Jumlah 53 100 Kinerja Baik 39 73,6
Kinerja Cukup 14 26,4
Kinerja Kurang 0 0
Dari data diatas dapat diketahui
bahwa paling banyak perawat RS Baptis
Jumlah 53 100
Kediri memiliki lama kerja 1-5 tahun
sebanyak 26 responden (49 %)
Dari data diatas dapat diketahui
bahwa sebagian besar responden memiliki
Data Khusus kinerja dalam pemberian asuhan
keperawatan yang baik yaitu sebanyak 39
responden (73,6 %)
Pada bagian ini akan ada penyajian
data tentang kejenuhan kerja (burnout)
Tabel 7 Hubungan Kejenuhan Kerja
dengan kinerja perawat dalam pemberian
(burnout) dengan Kinerja
asuhan keperawatan serta tabulasi silang
Perawat dalam Pemberian
antara kejenuhan kerja (burnout) dengan
Asuhan Keperawatan di
kinerja perawat dalam pemberian asuhan
Instalasi Rawat Inap (IRNA)
keperawatan di Instalasi Rawat Inap
Rumah Sakit Baptis Kediri
(IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri
Kejenu Kinerja perawat Total
han baik cukup kur
Tabel 5 Kejenuhan Kerja (burnout) Kerja ang
Responden di Instalasi (Burno N % N % N % N %
Rawat Inap (IRNA) Rumah ut)
Sakit Baptis Kediri pada Berat 0 0 0 0 0 0 0 0
tanggal 15 Februari 2012 Sedang 0 0 0 0 0 0 0 0
22 Maret 2012
Kejenuhan Kerja Frekuensi % Ringan 31 58 14 27 0 0 45 85
(burnout)
Tidak 8 15 0 0 0 0 8 15
Kejenuhan kerja 0 0 jenuh
(burnout) berat Jumlah 39 73 14 27 0 0 53 100
Kejenuhan kerja 0 0
(burnout) sedang
Kejenuhan kerja 45 84,9 Dari hasil tabulasi silang dapat
(burnout) ringan dipelajari bahwa lebih dari 50% responden
Tidak mengalami 8 15,1
mengalami kejenuhan kerja (burnout)
kejenuhan (burnout) ringan dan memiliki kinerja dalam
pemberian asuhan keperawatan yang baik
yaitu sebanyak 31 responden (58%),
Total 53 100
sedangkan responden yang memiliki
kinerja dalam pemberian asuhan
Dari data diatas dapat diketahui
bahwa sebagian besar responden memiliki

171
Kejenuhan Kerja ( Burnout ) dengan Kinerja Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
Puspa Ayu, Akde Triyoga

keperawatan yang cukup sebanyak 14 berat dan kejenuhan kerja sedang, namun
responden (27%) didapatkan hasil kejenuhan kerja ringan
sebanyak 45 responden (85 %) dan tidak
merasa jenuh sebanyak 8 responden (15%).
Tabel 8 Hasil Uji Statistik Hubungan Dari hasil kuesioner domain kejenuhan
Kejenuhan Kerja (burnout) yang paling menonjol adalah kelelahan
dengan Kinerja Perawat emosional, kemudian penurunan prestasi
dalam Pemberian Asuhan pribadi, dan depersonalisasi.
Keperawatan di Instalasi Menurut teori kejenuhan kerja
Rawat Inap (IRNA) Rumah (Burnout) adalah proses kelelahan fisik dan
Sakit Baptis Kediri emosional yang diperkirakan dapat terjadi
Kejenuh Kerja akibat faktor-faktor stres yang berhubungan
an dengan pekerjaan (kamus keperawatan edisi
Spearm Correlation
ans rho Coefficient 1,000 -,253
7, 2005). Sedangkan menurut Nasional
kejenuh Safety Council tahun 2009 kejenuhan kerja
an Sig. (2- merupakan akibat dari stress kerja dan
. ,068
tailed) beban kerja yang paling umum. Burnout
N merupakan gejala kelelahan emosional yang
53 53
Correlation
disebabkan oleh tingginya tuntuntan
kinerja -,253 1,000 pekerjaan, yang sering dialami individu
Coefficient
Sig. (2- yang bekerja pada situasi dimana ai harus
,068 .
tailed) melayani kebutuhan orng banyak (Rita,
N 53 53 2004). Kejenuhan itu sendiri juga
dipengaruhi oleh lingkungan tempat
Hasil Uji Spearmans Rho : melakukan suatu pekerjaan. Apabila
didapatkan = 0,068 maka Ho diterima lingkungan yang dirasa sesuai dengan apa
dan Ha ditolak berarti tidak ada hubungan yang di kehendaki dan sesuai dengan
antara kejenuhan kerja (burnout) dengan kemampuan maka kejenuhan ini akan dapat
kinerja perawat dalam pemberian asuhan dihindari.
keperawatan di Instalasi Rawat Inap Beban kerja adalah fekuensi kegiatan
(IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri. rata-rata dari masing-masing pekerjaan
Correlation coefficient adalah -0,253. dalam jangka waktu tertentu (Wandy,
0,253 atau masih menjauhi 1 berarti 2007). Beban kerja dapat dilihat dari tugas-
kedua variabel memiliki hubungan yang tugas yang diberikan kepada perawat dalam
tidak signifikan. Tanda negatif berarti kegiatan sehari-harinya. Apakah melebihi
kedua variabel berlawanan arah dalam dari kemampuan mereka, bervariasi, atau
hubungan keduanya. Jadi apabila adakah tugas tambahan diluar tugas sehari-
kejenuhan kerja rendah maka kinerja hari perawat. Semakin banyak tugas
perawat akan tinggi, begitu pula tambahan yang harus dikerjakan perawat,
sebaliknya. maka akan semakin besar beban kerja yang
harus ditanggung oleh perawat tersebut, dan
apabila semakin besar beban mereka akan
Pembahasan dapat menyebabkan kejenuhan. Kejenuhan
kerja (Burnout) ini juga dapat dikarenakan
pekerjaan yang monoton atau tidak
Kejenuhan Kerja (Burnout) Perawat di bervariasi, tugas kerja yang tidak jelas,
Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah kontrol kerja yang kurang, lingkungan kerja
Sakit Baptis Kediri yang disfungsional, dan aktivitas yang
ekstrem (overload) (Muslihudin, 2009).
Gejala yang dapat ditunjukkan oleh
Berdasarkan hasil penelitian terhadap seseorang yang mengalami kejenuhan kerja
53 responden di dapatkan tidak ada antara lain resistensi yang tinggi untuk
responden yang mengalami kejenuhan kerja melaksanakan kegiatan, terdapat perasaan

172
Jurnal STIKES
Volume 5, No. 2, Desember 2012

gagal didalam diri, cepat marah dan sering lain melalui pertemuan ilmiah dan
kesal, rasa bersalah dan menyalahkan, penataran atas ijin/persetujuan atasan,
keengganan dan ketidakberdayaan, melaksanakan sistem pencatatan dan
negatifisme, isolasi dan penarikan diri, pelaporan asuhan keperawatan yang tepat
perasaan capek dan lelah setiap hari, sering dan benar sesuai standar asuhan
memperhatikan jam ketika melaksanakan keperawatan, melaksanakan serah terima
kegiatan, hilang perasaan positif terhadap tugas kepada petugas pengganti secara lisan
klien, menunda kontak dengan klien, maupun tertulis, pada saat penggantian
membatasi telepon dari klien dan dinas, memberikan penyuluhan kesehatan
kunjungan dari tempat kerja, kepada pasien dan keluarganya sesuai
menyamaratakan klien, tidak mampu dengan keadaan dan kebutuhan pasien,
menyimak apa yang klien ceritakan, merasa melatih pasien menggunakan alat bantu
tidak aktif, sinisme terhadap klien dan sikap yang dibutuhkan, melatih pasien untuk
menyalahkan, gangguan tidur atau sulit melaksanakan tindakan keperawatan,
tidur, asyik dengan diri sendiri, menyiapkan pasien yang akan pulang
mendukung tindakan untuk mengontrol (Depkes, 1999)
lingkungan misalnya menggunakan obat Menurut peneliti, kejenuhan kerja
penenang, sering demam dan flu, sering lebih dominan dirasakan pada responden
sakit kepala dan gangguan pencernaan, laki-laki, 10 dari 11 responden laki-laki
kaku dalam berfikir dan resisten terhadap mengalami kejenuhan kerja ringan,
perubahan, rasa curiga yang berlebihan dan kejenuhan kerja ringan ini juga dirasakan
paranoid, penggunaan obat-obatan yang pada usia 41-50 tahun, semua responden
berlebihan, atau sangat sering membolos. dalam rentang usia ini mengalami
Tugas-tugas yang dilakukan oleh kejenuhan kerja ringan, hal ini dapat
perawat Instalasi Rawat Inap (IRNA) antara diakibatkan adanya beban pikiran yang
lain memelihara kebersihan ruang rawat dirasakan, adapun beban tersebut antara lain
dan lingkungannya, menerima pasien sesuai (keluarga, anak, kebutuhan keluarga,
prosedur dan ketentuan yang berlaku, ataupun lingkungan yang kurang sesuai).
memelihara peralatan keperawatan dan Responden dengan lama kerja 1-5 tahun
medis agar selalu dalam keadaan siap pakai, juga cenderung memiliki kejenuhan kerja,
melakukan pengkajian keperawatan sesuai hal ini dapat disebabkan karena jenis
batas kewenangannya, menentukan masalah pekerjaan yang dilakukan setiap harinya
keperawatan sesuai dengan kemampuannya, tidak bervariasi. Menurut Maslach tahun
melakukan tindakan keperawatan kepada 2008 kejenuhan kerja (Burnout) ini
pasien sesuai kebutuhan dan batas cenderung dirasakan pada karyawan dengan
kemampuannya, melatih/membantu pasien lama kerja yang dini, karena semakin lama
untuk melakukan latihan gerak, melakukan karyawan bekerja ia akan semakin terbiasa
tindakan darurat kepada pasien sesuai dengan pekerjaannya, sedangkan untuk
protap yang berlaku, melaksanakan evaluasi karyawan yang baru memulai menguasai
tindakan keperawatan sesuai batas pekerjaannya dan mulai belajar menguasai
kemampuannya, mengobservasi kondisi pekerjaan secara tidak langsung dapat
pasien, selanjutnya melakukan tindakan menjadi beban dan stres pada pegawai baru
yang tepat berdasarkan hasil observasi yang pada akhirnya dapat menyebabkan
tersebut, sesuai batas kemampuannya, kejenuhan dalam bekerja.
berperan serta dengan anggota tim Semua responden dengan jenjang
kesehatan dalam membahas kasus dan pendidikan S-1 keperawatan mengalami
upaya meningkatkan mutu asuhan kejenuhan kerja (burnout) ringan, data yang
keperawatan, melaksanakan tugas pagi, didapat dari kuesioner, hal ini dapat
sore, malam dan hari libur secara bergilir dikarenakan hubungan interpersonal yang
sesuai jadwal, mengikuti pertemuan berkala kurang adekuat, serta jenis pekerjaan yang
yang diadakan oleh kepala ruang rawat, dirasa terlalu monoton. Hasil penelitian
meningkatkan pengetahuan dan kejenuhan kerja ini mengacu pada 3 domain
keterampilan di bidang keperawatan, antara kejenuhan yaitu kelelahan emosional,

173
Kejenuhan Kerja ( Burnout ) dengan Kinerja Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
Puspa Ayu, Akde Triyoga

depersonalisasi dan penurunan prestasi 17 yang menyatakan bekerja secara


pribadi. kreativitas dan spontanitas, hal ini sesuai
Hasil kuesioner di dapatkan domain dengan teori dari Potter tahun 2005 yang
kejenuhan yang paling menonjol pada menyebutkan bahwa salah satu tanda dan
penelitian ini adalah kelelahan emosional. gejala dari kejenuhan kerja adalah bersikap
Kelelahan emosional disini lebih ke arah kreativitas dan spontanitas. Sikap kreatif
persepsi responden terhadap perasaan capek dan spontan kadang sangat diperlukan oleh
dan lelah baik dalam segi psikologis perawat dalam menanggapi keadaan yang
maupun fisik. Kelelahan emosional di sini mendesak, tetapi setiap tindakan perawat
dapat dilihan dari kuesioner kejenuhan memiliki prosedur operasional yang baku,
kerja pada no pertanyaan 1 sampai 8 dan alangkah baiknya apabila perawat
Adapun pertanyaan yang paling mengiuti prosedur yang telah dibuat
mendapatkan respon dari responden adalah sehingga hasil yang didapatkan sesuai
no pertanyaan 2 yang menyatakan perasaan dengan yang diharapkan.
lelah dan capek setelah pulang kerja
sebagian besar responden menyatakan
bahwa mereka mengalami perasaan letih Kinerja Perawat dalam Pemberian
dan lelah setiap hari. Menurut peneliti letih Asuhan Keperawatan di Instalasi Rawat
dan lelah wajar bila dirasakan setiap selesai Inap (IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri
kerja, tetapi apabila setiap hari merasa
capek dan lelah setiap pulang kerja maka
kemungkinan terjadi karena faktor tertentu. Berdasarkan hasil penelitian terhadap
Contoh: kejenuhan dalam lingkungan 53 responden didapatkan tidak ada
ataupun kegiatan yang dilakukan di tempat responden yang memiliki kinerja yang
kerja. kurang, responden yang memiliki kinerja
Motivasi seseorang turut berperan serta cukup sebanyak 14 responden (26,4%) dan
dalam terjadinya kejenuhan, apabila responden yang memiliki kinerja baik
motivasi rendah maka akan mempengaruhi sebanyak 39 responden (73,6%).
sikap dan kepuasan dalam bekerja dan pada Secara teori faktor yang
akhirnya akan menjadi kejenuhan kerja. mempengaruhi kinerja adalah kemampuan
Sedangkan untuk indikator depersonalisasi yang meliputi kemampuan potensi dan
yang mengacu pada sifat negatif, tanggapan kemampuan realita (pendidikan), motivasi
sinis, ataupun memisahkan diri dari yang meliputi sikap dalam menghadapi
individu lain di tempat kerja. Hal yang situasi dan sikap mental yang mendorong
paling menonjol pada indikator seseorang untuk mencapai potensi kerja
depersonalisasi ini adalah pertanyaan no 9 secara maksimal, dukungan yang diterima
tentang menyamaratakan keadaan klien atau meliputi bekerja secara kolaboratif dengan
pasien yang berada di bawah tanggung personel rumah sakit dan pemberi
jawabnya. Hal tersebut sesuai dengan perawatan kesehatan lainnya dalam
pernyataan dalam referensi Muslihudin perawatan perencanaan serta mendukung
tahun 2009 yang menyatakan bahwa salah dan menginterpretasi kebijakan dan
satu tanda dan gejala dari kejenuhan kerja prosedur klinik, dan keberadaan pekerjaan
yaitu menyamaratakan klien. yang dilakukan (beban kerja) yang meliputi
Pasien di rumah sakit memiliki tugas perawat dalam menjalankan perannya
keadaan yang berbeda-beda serta kebutuhan sebagai pemberi asuhan keperawatan,
yang berbeda pula, apabila pasien dengan hubungan perawat dengan organisasi
keadaan gawat dan pasien yang tidak dalam meliputi komunikasi secara profesional
keadaan gawat dalam penanganannya sesuai dengan lingkup tanggung jawab
disamaratakan maka salah satu pasien akan merupakan dasar hubungan interpersonal
dirugikan dari segi kesembuhan pasien itu yang baik antara perawat dan tenaga
sendiri. Sedangkan untuk indikator kesehatan lainnya serta perawat dengan
penurunan prestasi pribadi hal yang paling organisasi.
menonjol dapat dilihat dari pertanyaan no

174
Jurnal STIKES
Volume 5, No. 2, Desember 2012

Menurut Gibson tahun 1987 ada tiga keperawatan yang dilakukan dengan cara
faktor yang berpengaruh terhadap kinerja observasi kepada responden penelitian yaitu
yaitu faktor individu : kemampuan, perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA)
ketrampilan, latar belakang keluarga, Rumah Sakit Baptis Kediri. Menurut
pengalaman kerja, tingkat sosial dan peneliti, berdasarkan jenis kelamin tidak
demografi seseorang. Faktor psikologis: ada perbedaan dalam hal kinerja, jenis
persepsi, peran, sikap, kepribadian, kelamin perempuan maupun laki-laki
motivasi, dan kepuasan kerja. Faktor apabila dibandingkan dengan total
organisasi seperti struktur organisasi, desain responden keduanya memiliki
pekerjaan, kepemimpinan, dan sistem perbandingan kinerja yang sama yaitu
penghargaan. keduanya memiliki kinerja dalam
Penilaian kinerja merupakan alat yang pemberian asuhan keperawatan yang baik.
paling dapat dipercaya oleh manajer Semua responden dengan umur >50 tahun
perawat dalam mengontrol sumber daya serta lama keja >10 tahun mempunyai
manusia dan produktivitas. Proses penilaian kinerja yang baik. Responden dengan umur
kinerja dapat digunakan secara efektif 20-30 tahun dan lama kerja 1-5 tahun rata-
dalam mengarahkan perilaku pegawai, rata memiliki kinerja yang cukup, menurut
dalam rangka menghasilkan jasa peneliti ini dapat terjadi karena responden
keperawatan dalam kualitas dan volume dalam umur 20-30 tahun dan lama kerja 1-5
yang tinggi. Perawat manajer dapat tahun masih dalam proses belajar
menggunakan proses operasional kinerja menguasai pekerjaan yang mereka lakukan,
untuk mengatur arah kerja dalam memilih, sehingga mengalami keraguan dalam
melatih, membimbing perencanaan karier melaksanakan suatu pekerjaan. Dari 20 poin
serta memberi penghargaan kepada perawat yang dinilai dalam kinerja perawat dalam
yang berkompeten. Idealnya, setiap pemberian asuhan keperawatan yang
supervisor pegawai terdekat hendaknya dimulai pada pengkajian sampai dengan
mengevaluasi pelaksanaan kerjanya, di evaluasi, poin terendah didapatkan dalam
mana satu orang mengevaluasi kerja penilaian pengkajian keperawatan dalam
rekannya secara akurat. Keduanya harus hal melakukan pemeriksaan fisik pada
selalu mengadakan kontak, langsung, dan pasien baru, sebagian besar perawat dalam
diperpanjang, sehingga penilai memiliki melaksanakan pengkajian fisik ini tidak
kesempatan untuk menganalisis sampel secara menyeluruh dari kepala sampai kaki
yang memadai dari seluruh aspek dari (head to toe). Menurut peneliti hal tersebut
pelaksanaan kerja pegawai. Adalah suatu dikarenakan perawat di ruang Instalasi
hal mustahil bagi seorang supervisor, yang Rawat Inap melaksanakan pemeriksaan
jangkauan pengawasannya terlalu luas, fisik sesuai dengan keluhan yang dirasakan
untuk melakukan kontak yang sering dan pasien. Untuk poin merumuskan diagnosis
lama dengan semua bawahannya. Apabila keperawatan, intervensi keperawatan,
sistem penilaian pelaksanaan kerja implementasi keperawatan, serta evaluasi
ditujukan untuk menghasilkan informasi keperawatan hampir semua tindakan
yang benar, maka jangkauan dilakukan dengan tepat.
pengawasannya harus cukup kecil, sehingga
setiap manajer memiliki waktu dan
kesempatan untuk menganalisis seluruh Hubungan Kejenuhan Kerja (Burnout)
aktivitas kerja, terutama masing-masing Dengan Kinerja Perawat Dalam
karyawan. Pemberian Asuhan Keperawatan Di
Variabel kinerja perawat yang diteliti Instalasi Rawat Inap (IRNA) Rumah
dalam penelitian ini adalah kinerja perawat Sakit Baptis Kediri.
dalam pemberian asuhan keperawatan
kepada pasien yang meliputi pengkajian
keperawatan, perumusan diagnosis Berdasarkan hasil uji statistik
keperawatan, intervensi keperawatan, Spearmans Rho yang didasarkan pada
implementasi keperawatan, serta evaluasi tingkat kemaknaan 0,05 didapatkan =

175
Kejenuhan Kerja ( Burnout ) dengan Kinerja Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
Puspa Ayu, Akde Triyoga

0,068, hal ini berarti tidak ada hubungan keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial,
kejenuhan kerja (Burnout) dengan kinerja motivasi dan kepuasan kerja, struktur
perawat dalam pemberian asuhan organisasi, kepemimpinan, dan sistem
keperawatan di Instalasi Rawat Inap penghargaan.
(IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri. Menurut peneliti, berdasarkan hasil uji
Secara teori, kejenuhan kerja memiliki statistik Spearmans rho tidak ada
hubungan yang signifikan terhadap hubungan kejenuhan kerja dengan kinerja
kepuasan dan motivasi dalam bekerja. perawat dalam pemberian asuhan
Apabila kepuasan kerja tinggi maka keperawatan di Instalasi Rawat Inap Rumah
motivasi kerja juga akan meningkat yang Sakit Baptis Kediri. Sebagian besar
pada akhirnya akan menyebabkan kinerja responden memiliki kejenuhan kerja ringan
menjadi baik. Kejenuhan kerja itu sendiri yaitu sebanyak 45 responden (84,8%)
juga dipengaruhi oleh beban kerja dan stres dengan jenis kelamin laki-laki, umur 41-50
kerja yang paling umum (Nasional Safety tahun, lama kerja 1-5 tahun, dan jenjang
Council, 2004). Menurut Muslihudin tahun pendidikan Sarjana keperawatan. Hasil
2009 kejenuhan kerja dipengaruhi oleh kinerja perawat dalam pemberian asuhan
beberapa faktor antara lain kekurangan keperawatan dari penelitian ini didapatkan
kontrol, ekspektasi kerja yang tidak jelas, sebagian besar responden memiliki kinerja
dinamika ruang kerja yang disfungsional, yang baik yaitu sebanyak 39 responden (73
ketidaksesuaian dalam nilai, pekerjaan yang %) dengan umur >50 tahun, lama kerja >10
tidak disukai, dan aktivitas ekstrem. tahun, dan jenjang pendidikan Sarjana
Perawat dituntut untuk bertanggung jawab keperawatan. Kejenuhan kerja ini dapat
memberikan praktek keperawatan yang terjadi karena berbagai faktor antara lain
maksimal serta bekerja dalam keadaan yang kekurangan kontrol, ekspektasi kerja yang
baik dalam segi fisik maupun psikis tidak jelas, dinamika ruang kerja yang
(Mahlmeister, 2001). Perawat yang mampu disfungsional, ketidaksesuaian dalam nilai,
memanage dirinya dengan baik tidak akan pekerjaan yang tidak disukai, dan aktivitas
mengalami kejenuhan kerja yang tinggi, ekstrem.
tetapi apabila perawat memiliki kontrol diri Menurut peneliti kejenuhan yang
dan tidak mampu mengatur dirinya maka terjadi pada perawat disebabkan oleh
perawat tersebut akan mengalami aktivitas ekstrem dimana pekerjaan
kejenuhan kerja yang tinggi dan dirasakan terlalu monoton dan berlebihan,
berpengaruh terhadap kinerja mereka sehingga perawat membutuhkan energi
(Potter, 2005). Kejenuhan kerja perawat yang lebih agar tetap fokus. Hal ini
yang tinggi akan beresiko terhadap kualitas dibuktikan dengan poin tertingggi pada soal
pelayanan yang diberikan oleh perawat kuesioner tentang kreativitas dan
karena apabila kejenuhan kerja menjadi spontanitas dalam bekerja. Didapatkan
tinggi maka motivasi kerja menjadi rendah bahwa lebih dari 50% responden selalu
sehingga ketelitian dan keamanan kerja kreatif dan spontan dalam bekerja
menjadi menurun dan berdampak pada kemungkinan hal ini terjadi karena perawat
pelayanan kesehatan yang diberikan sudah terbiasa dengan kegiatan yang
(Furguson, pare, 2004). Dampak dilakukan setiap harinya sehingga tindakan
penurunan kinerja perawat dapat apapun yang diberikan kepada pasien
menyebabkan kualitas asuhan keperawatan dilakukan secara spontan dan kreatif.
yang ikut menurun, sehingga mutu Kinerja perawat memiliki pengaruh yang
pelayanan yang diberikan juga ikut besar terhadap kepuasan dan kesehatan
menurun dan dapat merugikan perawat, pasien yang dirawatnya, serta mampu
institusi rumah sakit, serta pasien yang memajukan institusi tempat ia bekerja.
merasakan kinerja para perawat. Menurut Menurut peneliti, dalam penelitian ini
Gibson tahun 1987 yang dikutip oleh hampir semua perawat memiliki kinerja
Mangkunegara tahun 2000, kinerja perawat yang baik yaitu sebanyak 39 responden
dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain (73,6%). Lama kerja turut berperan dalam
kemampuan, keterampilan, latar belakang kinerja perawat hampir semua perawat yang

176
Jurnal STIKES
Volume 5, No. 2, Desember 2012

memiliki lama kerja >10 tahun memiliki perawat dalam pemberian asuhan
kinerja yang baik, hal ini dapat dikarenakan keperawatan di Instalasi Rawat Inap
kemampuan perawat semakin bertambah (IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri, karena
sesuai dengan lama kerja mereka, semua perawat memiliki kinerja yang baik
kemampuan ini terdiri dari kemampuan dan cukup walau memiliki kejenuhan kerja.
potensi serta kemampuan realita. Menurut
Notoadmojo tahun 2002 kinerja seseorang
dipengaruhi oleh pembawaan, kemampuan Saran
yang dapat dikembangkan, bantuan untuk
terwujudnya performance, intensitas materi
maupun non materi, lingkungan, evaluasi. Perawat hendaknya meningkatkan
Kinerja sangat perlu dinilai dan kinerja mereka dengan cara mengevaluasi
dikembangkan oleh pihak institusi karena hasil kinerja, mengikuti pelatihan-pelatihan,
dengan adanya penilaian ini institusi menyusun lingkungan kerja yang nyaman
mampu memperbaiki prestasi kerja yang sehingga kinerja dapat lebih maksimal.
kurang, memberikan kesempatan yang adil Profesi keperawatan hendaknya mampu
kepada pegawai, dan penyesuaian menghindari dan memanajemen stress
kompensasi kepada pegawai, selain itu juga sehingga keadaan kejenuhan dalam bekerja
dapat menilai tingkat kepuasan pasien dan dapat dihindari, serta menggunakan
pegawai. Apabila kinerja pegawai baik, profesionalismenya dalam meningkatkan
maka dapat dinilai pegawai tersebut puas kinerja dengan cara mengembangkan diri
dengan pekerjaan mereka dan klien atau baik dari segi pengetahuan maupun
pasien juga akan puas terhadap hasil kerja ketrampilan. Bagi institusi Rumah Sakit
pegawai tersebut. Hasil penelitian Baptis Kediri diharapkan mampu
menunjukkan tidak ada hubungan antara merangsang minat dalam pengembangan
kejenuhan kerja (Burnout) dengan kinerja pribadi dengan tujuan meningkatkan hasil
perawat dalam pemberian asuhan karya dan prestasi dengan cara memberikan
keperawatan karena lebih dari 50% perawat umpan baik kepada mereka tentang
memiliki kejenuhan kerja ringan namun prestasinya serta menyusun program
juga memiliki kinerja dalam pemberian pengembangan dan pelatihan staf. Sehingga
asuhan keperawatan yang baik. Hal ini RS akan mempunyai tenaga yang cakap dan
berbanding terbalik dengan teori yang terampil untuk pengembangan pelayanan
menyebutkan apabila karyawan memiliki keperawatan dimasa depan.Bagi Peneliti
kejenuhan kerja maka produktivitas serta Selanjutnya, perlu diteliti lebih lanjut
kinerja mereka akan ikut menurun. tentang Hubungan Stress Kerja dengan
Motivasi Kerja Pada Perawat di Instalasi
Rawat Inap (IRNA) Rumah Sakit Baptis
Kesimpulan Kediri.

Kejenuhan kerja (Burnout) pada Daftar Pustaka


perawat di Instalasi Rawat Inap (IRNA)
Rumah Sakit Baptis Kediri didapatkan
sebagian besar perawat memiliki kejenuhan A.Dale Timple. (2011). Memotivasi
kerja ringan sebanyak 45 perawat (85%). Pegawai, Seri Manajemen Sumber
Kinerja perawat dalam pemberian asuhan Daya Manusia. Jakarta: Elex Media
keperawatan di Instalasi Rawat Inap Komputindo
(IRNA) Rumah Sakit Baptis Kediri Anoraga, Pandji. (2001). Mengenal Stress
didapatkan sebagian besar responden Di Tempat Kerja. Bandung: Alfabeta
memiliki kinerja baik yaitu sebanyak 39 Mahlmeister. (2003). Burnout Of Employe.
responden (73%). Hasil uji statistik Amerika : ISH
dinyatakan bahwa tidak ada hubungan Muslihudin. (2009) fenomena Kejenuhan
kejenuhan kerja (Burnout) dengan kinerja (Burnout) di kalangan pegawai dan

177
Kejenuhan Kerja ( Burnout ) dengan Kinerja Perawat dalam Pemberian Asuhan Keperawatan
Puspa Ayu, Akde Triyoga

cara efektif mengatasinya.


www.lpmpjabar.go.id-Fenomena
Kejenuhan (Burnout) Dikalangan
Pegawai dan Cara Efektif
Mengatasinya.html.

Nasional Safety Council. (2004).


Manajemen Stress. Jakarta : ECG

Nursalam. (2003). Konsep Dan Penerapan


Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan. Jakarta : Salemba
Medika

Nursalam. (2007). Manajemen


Keperawatan : Aplikasi Dalam
Praktek Keperawatan Profesional.
Jakarta : Salemba Medika

Nursalam (2001). Metodologi Riset


Keperawatan. Jakarta : Sagung Seto

Nursalam dan Pariani, siti. (2001).


Pendekatan Praktek Metodologi
Research Keperawatan. Jakarta :
Sagung Seto.

Potter, Beverly. (2005). Overcoming


Burnout. Third edition. Oakland :
Ronin

Rice. (2002). Kualitas Dan Mutu


Pelayanan Organisasi. Jakarta: ECG

Sulistyani, Ambar teguh. (2003).


Ensiklopedia Bebas Berbahasa
Indonesia.
http://id.wikipedia.org/wiki. Diakses
20 Desember 2011 jam 20.30

178