Anda di halaman 1dari 8

2.

1 Dasar Teori

Aktuator adalah sebuah peralatan mekanis untuk menggerakkan


atau mengontrol sebuah mekanisme atau sistem. Aktuator diaktifkan
dengan menggunakan lengan mekanis yang biasanya digerakkan
oleh motor listrik, yang dikendalikan oleh media pengontrol otomatis yang
terprogram di antaranya mikrokontroler.
Aktuator adalah elemen yang mengkonversikan besaran listrik
analog menjadi besaran lainnya misalnya kecepatan putaran dan
merupakan perangkat elektromagnetik yang menghasilkan daya gerakan
sehingga dapat menghasilkan gerakan pada robot. Untuk meningkatkan
tenaga mekanik aktuator ini dapat dipasang sistem gearbox. Aktuator
dapat melakukan hal tertentu setelah mendapat perintah dari kontroller.
Misalnya pada suatu robot pencari cahaya, jika terdapat cahaya, maka
sensor akan memberikan informasi pada kontroller yang kemudian akan
memerintah pada aktuator untuk bergerak mendekati arah sumber
cahaya. Fungsi utama dari sebuah aktuator adalah menghasilkan gerakan
baik gerakan linear, maupun gerakan non linear.

Aktuator dalam perspektif kontrol dapat dikatakan sebagai :

Aktuator : Pintu kendali ke sistem

Aktuator : Pengubah sinyal listrik menjadi besaran mekanik

Batasan aktuator riil : Sinyal kemudi terkesil, saturasi.

Fungsi aktuator adalah sebagai berikut.

Penghasil gerakan

Gerakan rotasi dan translasi

Mayoritas aktuator > motor based

Aktuator dalam simulasi cenderung dibuat linier

Aktuator riil cenderung non-linier


Jenis tenaga penggerak pada aktuator

Aktuator tenaga elektris, biasanya digunakan solenoid, motor arus searah (Mesin DC).
Sifat mudah diatur dengan torsi kecil sampai sedang

Aktuator tenaga hidrolik, torsi yang besar konstruksinya sukar.

Aktuator tenaga pneumatik, sukar dikendalikan.

Aktuator lainnya: piezoelectric, magnetic, ultra sound.

Tipe aktuator elektrik adalah sebagai berikut:

1. Solenoid.

2. Motor stepper.

3. Motor DC.

4. Brushless DC-motors.

5. Motor Induksi.

6. Motor Sinkron.

Keunggulan aktuator elektrik adalah sebagai berikut:

1. Mudah dalam pengontrolan

2. Mulai dari mW sampai MW.

3. Berkecepatan tinggi, 1000 10.000 rpm.

4. Banyak macamnya.

5. Akurasi tinggi

6. Torsi ideal untuk pergerakan.

7. Efisiensi tinggi

Aktuator dapat dibedakan berdasarkan tenaga penggeraknya antara


lain:
1. Aktuator tenaga Elektris
Aktuator tenaga Elektris yaitu jenis aktuator yang
penggeraknya adalah sistem Elektrik/ menggunakan tenaga listrik.
Beberapa komponen diantaranya adalah Solenoid, Motor DC,dll.
Aktuator jenis ini menjadi pilihan karena implementasinya relatif
mudah. Namun hanya untuk tenaga menengah kebawah.

2. Aktuator tenaga Hidrolik


Aktuator tenaga Hidrolikyaitu jenis aktuator yang
penggeraknya adalah Hidrolik/cairan. Aktuator ini digunakan untuk
memenuhi kebutuhan akan Torsi dan tenaga yang besar. Contohnya
adalah Silinder hidrolik.
Kelebihan dari aktuator tenaga hidrolik, diantaranya:
a. Fluida hidrolik bisa sebagai pelumas dan pendingin.
b. Dengan ukuran kecil dapat menghasilkan gaya/torsi besar
c. Mempunyai kecepatan tanggapan yang tinggi
d. Dapat dioperasikan pada keadaan yang terputus-putus
e. Kebocoran rendah
f. Fleksibel dalam desain

3. Aktuator tenaga Pneumatik


Aktuator tenaga Pneumatik yaitu jenis aktuator yang
penggeraknya adalah sistem pneumatik. Sistem pneumatik
merupakan sistem kontrol yang penggeraknya berasal dari udara
yang dimampatkan.
Aktuator pneumatic adalah aktuator yang memanfaatkan
udara bertekanan menjadi gerakan mekanik. Dengan memberikan
udara bertekanan pada sisi permukaan piston sesuai dengan gerak
pistonnyaJuga menghasilkan tenaga gerak yang besar. Namun
memiliki kelemahan dalam hal implementasi dan konstruksi karena
membutuhkan komponen yang besar
Aktuator pneumatik gerak lurus dibedakan menjadi 2:
a. Silinder Kerja Tunggal
Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi
permukaan piston, sisi yang lain terbuka ke atmosfir. Silinder hanya
bisa memberikan gaya kerja ke satu arah. Gerakan piston kembali
masuk diberikan oleh gaya pegas yang ada didalam silinder
direncanakan hanya untuk mengembalikan silinder pada posisi awal
dengan alasan agar kecepatan kembali tinggi pada kondisi tanpa
beban.

Gambar 1. Silinder Kerja Tunggal (sumber:www.)


b. Silinder Kerja Ganda
Konstruksi silinder kerja ganda adalah sama dengan silinder
kerja tunggal, tetapi tidak mempunyai pegas pengembali. Silinder
kerja ganda mempunyai dua saluran (saluran masukan dan saluran
pembuangan). Silinder terdiri dari tabung silinder dan penutupnya,
piston dengan seal, batang piston, bantalan, ring pengikis dan
bagian penyambungan.
Dengan memberikan udara bertekanan pada satu sisi
permukaan piston (arah maju) , sedangkan sisi yang lain (arah
mundur) terbuka ke atmosfir, maka gaya diberikan pada sisi
permukaan piston tersebut sehingga batang piston akan terdorong
keluar sampai mencapai posisi maksimum dan berhenti. Gerakan
silinder kembali masuk, diberikan oleh gaya pada sisi permukaan
batang piston (arah mundur) dan sisi permukaan piston (arah maju)
udaranya terbuka ke atmosfir.
Gambar 2. Silinder Kerja Ganda (sumber:)

Jika silinder harus menggerakkan massa yang besar, maka


dipasang peredam di akhir langkah untuk mencegah benturan keras
dan kerusakan silinder.

Gambar 3. Silinder dengan Peredam di Akhir Langkah

Aktuator pada Pneumatik Valve


Gambar berikut contoh dari sebuah actuator control valve:
1. Upper Diaphragm Case
2. Lower Diaphragm Case
3. Diaphragm
4. Spring.
5. Yoke
6. Travel Indicator
7. Actuator Stem
8. Signal Air Pressure

Gambar 4. Aktuator Pneumatik valve


Prinsip kerja actuator tekanan sinyal pneumatic yang terakumulasi
didalam ruang (diaphragm dan diaphragm case) menimbulkan gaya yang
bekerja melawan pegas sehinga akan menggerakkan bagian stem untuk
bergerak membuka atau menutup body valve. Karena konstruksinya,
body valve akan menjadi terbuka dengan turunnya stem dan ada pula
yang menjadi tertutup dengan turunnya stem.
Karakteristik motor pneumatik:
Pengaturan kecepatan dan momen putar yang halus.
Dimensinya kecil, dan ringan.
Aman pada pembebanan lebih.
Tidak peka terhadap debu, air, panas, dingin.
Tidak akan meledak (aman terhadap ledakan).
Biaya pemeliharaan yang ringan.
Arah putaran mudah dikendalikan.
Daerah kecepatan yang bisa diatur.

Tabel 1. Beberapa elemen regulasi dan penggeraknya


No. Elemen Regulasi Penggerak
1. Valve Pneumatik. Elektrik, hidrolik
2. Pemanas Listrik SCR, tiristor
3. Pompa Motor, inverter
4. Perpindahan Pneumatik, elektrik, hidrolik
Control Valve
Control Valve adalah rangkaian valve yang berfungsi sebagai
pengontrol aliran atau tekanan fluida. Rangkaian ini terdiri dari 2 bagian
utama yaitu: valve body dan actuator. Actuator menerima sinyal input
dari sebuah pengatur (controller), dan memberikan reaksi
membuka/menutup valve sesuai sinyal tersebut.
Hal yang penting untuk diketahui adalah kondisi fail-safe untuk
setiap rangkaian control valve. Fail-safe mode adalah kondisi ketika
rangkaian control valve kehilangan sumber dayanya (misalnya: angin
dari compressor). Penentuan fail-safe mode ini harus disesuaikan dengan
kebutuhan operasi untuk mencegah kecelakaan pekerja dan kerusakan
fasilitas.
Ada 2 (dua) kondisi fail-safe mode, yaitu:
Normally Open (NO) = Air to Close (ATC)
Jika actuator kehilangan tekanan, pegas mendorong
sehingga valve terbuka.
Normally Close (NC) = Air to Open (ATO)
Jika actuator kehilangan tekanan, pegas mendorong
sehingga valve tertutup.

Kondisi fail-safe mode biasanya ditentukan oleh posisi actuator, meski


pada jenis valve ball dan butterfly, juga dapat diatur dari posisivalve.

Masalah Pada Valve (Katup)

a. Kerusakan Fisik
Pemeriksaan fisik sangat penting karena valve yang tidak
bekerja dengan baik kemungkinan disebabkan oleh adanya
kerusakan fisik.

b. Passing / Kebocoran
Kebocoran dapat terjadi karena posisi dosc yang berubah
terhadap seat/tidak tepat. Kebocoran cairan juga disebabkan oleh
timbulnya kerak pada bagian utama valve, perawatannya yaitu
dengan membersihkan steam, disc dan seat.

c. Valve Lack
Bagian yang sering terjadi lack adalah packing gland. Hal ini
dapat diatasi dengan mengencangkan gland nut. Kemudian setelah
dikencangkan jika kerusakan terjadi maka periksalah hand well
karena sering terjadi gesekan antara packing dan steam yang
mengakibatkan hand well susah untuk digerakkan.

d. Pemberian Pelumas
Untuk menjaga ketahanan valve pemberian pelumas pada
steam sangat penting.

DAFTAR PUSTAKA

Handojo, Lienda. 1995. Teknologi Kimia Bagian Satu. Jakarta: Pradnya


Paramita.www.yahoo.com.
Suwarno, Kika dkk. 2011. Aktuator, Gate Valve, dan Steam trap. Politeknik
Negeri Bandung.
Wiki Pedia : https://id.wikipedia.org/wiki/Aktuator