Anda di halaman 1dari 57

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kualitas sebuah perguruan tinggi dapat dilihat dari kemampuan alumninya

dalam mengaplikasikan ilmunya di lapangan, namun pada kenyataannya banyak

alumni dari perguruan tinggi yang dianggap berkualitas gagal dalam

mengaplikasikan ilmunya di lapangan, Idealisme ilmu yang diperoleh kadang tidak

relefan dengan kondisi sosial lapangan kerja yang cukup dinamis.Untuk itu,

Universitas Islam Kalimantan Al - Banjary (UNISKA) Banjarmasin Khususnya

Fakultas Kesehatan Masyarakat, mewajibkan setiap mahasiswa yang akan

menyelesaikan pendidikan untuk melaksanakan kegiatan magang di instansi sesuai

dengan jurusan yang diprogramkan dan program magang sebagai salah satu mata

kuliah pendukung yang diharapkan FKM Sebagai salah satu fakultas yang dapat

menghasilkan sarjana kesehatan berkualitas dan memiliki kemampuan kompetitif

yang signifikan dengan perkembangan dunia kerja.

Program magang ini diharapkan dapat menjadi tambahan pengetahuan

mahasiswa dengan melakukan identifikasi permasalahan, analisis dan penyelesaian

permasalahan, proses produksi dan pengelolaan limbah, Survailans serta penerapan

ilmu dan teknologi, khususnya Ilmu didalam bidang kesehatan masyarakat. Untuk

itu diperlukan lahan atau tempat magang yang dapat menerapkan ilmu di bidang

kesehatan baik di Unit Pelayanan Kesehatan maupun Badan Negara seperti Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan.

Pekerjaan merupakan bagian yang memegang peranan penting bagi

kehidupan manusia yang dapat memberikan kepuasan dan tantangan, sebaliknya

dapat pula merupakan gangguan dan ancaman. Terjadinya gangguan kesehatan

akibat lingkungan kerja fisik yang buruk telah lama diketahui, juga telah pula
2
dipahami bahwa desain dan organisasi kerja yang tidak memadai seperti kecepatan

dan beban kerja yang berlebihan merupakan faktor-faktor lain yang dapat

menimbulkan stress akibat kerja.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa stres dalam bekerja pasti akan terjadi

pada setiap karyawan/pekerja. Mereka mengalami stres karena pengaruh dari

pekerjaan itu sendiri maupun lingkungan tempat kerja. Seseorang yang mengalami

stres dalam bekerja tidak akan mampu menyelesaikan pekerjaannya dengan

baik.disinilah muncul peran dari perusahaan untuk memperhatikan setiap kondisi

kejiwaan (stres) yang dialami oleh pekerjanya. Dalam hal ini perusahaan dapat

menentukan penanganan yang terbaik bagi pekerja tersebut serta tidak mengurangi

kinerja karyawan tersebut.

Diperlukan upaya-upaya yang tepat dan terarah dalam mengatasi masalah

tersebut, berdasar masalah tersebut saya memilih judul Mengatasi Stres Akibat

Kerja pada Karyawan Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan Madiun.

B. Tujuan Magang
1. Tujuan Umum

- Memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa dengan cara ikut serta

sehari hari sebagai integral organisasi dalam suatu Instansi.

- Tujuan magang ini adalah untuk Mengatasi Stres Akibat Kerja pada Karyawan

Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Madiun.

2. Tujuan Khusus

Secara khusus, magang ini bertujuan untuk :

- Untuk meningkatkan pengetahuan mahasiswa tentang dunia kerja, baik dalam

hal konsep keilmuannya maupun aplikasi praktisnya.


- Mengembangkan wawasan dunia kerja bagi mahasiswa, agar dapat

meningkatkan adaptasi kepribadian dan sosial kemasyarakatan.


3
- Meningkatkan kemampuan analisa mahasiswa, khususnya terhadap masalah

kesehatan masyarakat.
- Menggali hubungan keterkaitan dan kesepadanan antara perguruan tinggi dan

dunia kerja
- Mengetahui Struktur Organisasi dan ketenagaan di Kantor Cabang Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Madiun.


- Mengidentifikasi permasalahan permasalahan kesehatan yang dihadapi di

Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan Madiun.


- Membuat Prioritas masalah dan menganalisis penyebab masalah serta

membuat alternative pemecahan masalah terutama pada stres akibat kerja pada

Karyawan Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan Madiun.
- Membuat rencana kegiatan dan anggaran untuk mengatasi stres akibat kerja

pada karyawan Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan Madiun.
4
C. Manfaat Magang

1. Bagi Perguruan Tinggi

Perguruan Tinggi dalam hal ini Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas

Islam Kalimantan ( UNISKA ) dapat memperkaya khasanah dunia kerja melalui

informasi yang diperoleh dari lapangan. Sehingga dapat melakukan penyesuaian

materi perkuliahan terhadap tuntutan dunia kerja yang pada akhirnya dapat

menghasilkan lulusan yang lebih kompetitif.

2. Bagi Puskesmas Bati Bati

Puskesmas Bati Bati sebagai lokasi magang mahasiswa mendapatkan

bantuan pegawai / tenaga yang masih idealisme dan penuh dengan ilmu-ilmu segar

yang baru dipelajari dari bangku perkuliahan.

3. Bagi Mahasiswa

- Mahasiswa dapat menimba pelajaran praktis dari lapangan dan

membandingkan ilmu yang diperoleh dengan dunia kerja yang sesungguhnya.

Sehingga dapat mempersiapkan diri dalam menghadapi kompetisi pasca

pendidikan.

- Dapat memepelajari cara kerja yang sebenarnya sesuai dengan lokasi

magang,memeperoleh sikap kerja dan keterampilan serta menambah

wawasan dan penegetahuan sesuai bidang ilmu.

- Memperdalam pengertian dan penghayatan tentang kemanfaatan ilmu yang

dipelajari.

- Memperdalam pengertian tentang cara berfikir dan bekerja yang

komprehensif,sehingga dapat menghayati suatu permasalahan kesehatan yang

dihadapi di instansi magang serta mendewasakan cara berfikir dan

meningkatkan daya penalaran dalam melakukan penelaahan,perumusan

masalah dan pemecahan masalah kesehatan masyrakat.


5
BAB II

ANALISA SITUASI

A. Gambaran Kantor Cabang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial

Ketenagakerjaan Madiun
1. Sejarah BPJS Ketenagakerjaan

Sejarah terbentuknya BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT. Jamsostek

(Persero) mengalami proses yang panjang, dimulai dari UU No.33/1947 jo UU

No.2/1951 tentang kecelakaan kerja, Peraturan Menteri Perburuhan (PMP) No.48/1952

jo PMP No.8/1956 tentang pengaturan bantuan untuk usaha penyelenggaraan

kesehatan buruh, PMP No.15/1957 tentang pembentukan Yayasan Sosial Buruh, PMP

No.5/1964 tentang pembentukan Yayasan Dana Jaminan Sosial (YDJS),

diberlakukannya UU No.14/1969 tentang Pokok-pokok Tenaga Kerja. Secara

kronologis proses lahirnya asuransi sosial tenaga kerja semakin transparan.

Setelah mengalami kemajuan dan perkembangan, baik menyangkut

landasan hukum, bentuk perlindungan maupun cara penyelenggaraan, pada tahun

1977 diperoleh suatu tonggak sejarah penting dengan dikeluarkannya Peraturan

Pemerintah (PP) No.33 tahun 1977 tentang pelaksanaan program asuransi sosial tenaga

kerja (ASTEK), yang mewajibkan setiap pemberi kerja/pengusaha swasta dan BUMN

untuk mengikuti program ASTEK. Terbit pula PP No.34/1977 tentang pembentukan

wadah penyelenggara ASTEK yaitu Perum Astek.

Tonggak penting berikutnya adalah lahirnya UU No.3 tahun 1992 tentang Jaminan

Sosial Tenaga Kerja (JAMSOSTEK). Dan melalui PP No.36/1995 ditetapkannya PT.

Jamsostek sebagai badan penyelenggara Jaminan Sosial Tenaga Kerja. Program

Jamsostek memberikan perlindungan dasar untuk memenuhi kebutuhan minimal bagi

tenaga kerja dan keluarganya, dengan memberikan kepastian berlangsungnya arus

penerimaan penghasilan keluarga sebagai pengganti sebagian atau seluruhnya

penghasilan yang hilang, akibat risiko sosial.


6
Selanjutnya pada akhir tahun 2004, Pemerintah juga menerbitkan UU Nomor

40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Undang-undang

itu berhubungan dengan Amandemen UUD 1945 tentang perubahan pasal 34 ayat 2,

yang kini berbunyi: Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh

rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan

martabat kemanusiaan. Manfaat perlindungan tersebut dapat memberikan rasa aman

kepada pekerja sehingga dapat lebih berkonsentrasi dalam meningkatkan motivasi

maupun produktivitas kerja.

Kiprah Perusahaan yang mengedepankan kepentingan dan hak normatif Tenaga

Kerja di Indonesia terus berlanjut. Sampai saat ini, PT. Jamsostek (Persero)

memberikan perlindungan 4 (empat) program, yang mencakup Program Jaminan

Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT) dan

Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK) bagi seluruh tenaga kerja dan keluarganya.

Tahun 2011, ditetapkanlah UU No 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara

Jaminan Sosial. Sesuai dengan amanat undang-undang, tanggal 1

Januari 2014 PT Jamsostek akan berubah menjadi Badan Hukum Publik. PT

Jamsostek tetap dipercaya untuk menyelenggarakan program jaminan sosial tenaga

kerja, yang meliputi JKK, JKM, JHT dengan penambahan Jaminan Pensiun

mulai 1 Juli 2015.

Pada tahun 2014 pemerintah menyelenggarakan program Jaminan Kesehatan

Nasional (JKN) sebagai program jaminan sosial bagi masyarakat sesuai UU No. 24

Tahun 2011, Pemerintah mengganti nama Askes yang dikelola PT. Askes Indonesia

(Persero) menjadi BPJS Kesehatan dan mengubah Jamsostek yang dikelola PT.

Jamsostek (Persero) menjadi BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan (Badan

Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan) merupakan program publik yang

memberikan perlindungan bagi tenaga kerja untuk mengatasi risiko sosial ekonomi

tertentu dan penyelenggaraannya menggunakan mekanisme asuransi sosial.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara yang bergerak dalam bidang asuransi sosial

BPJS Ketenagakerjaan yang dahulu bernama PT Jamsostek (Persero) merupakan


7
pelaksana undang-undang jaminan sosial tenaga kerja. BPJS Ketenagakerjaan

sebelumnya bernama Jamsostek (jaminan sosial tenaga kerja), yang dikelola oleh PT.

Jamsostek (Persero), namun sesuai UU No. 24 Tahun 2011 tentang BPJS, PT.

Jamsostek berubah menjadi BPJS Ketenagakerjaan sejak tanggal 1 Januari 2014. BPJS

Kesehatan dahulu bernama Askes bersama BPJS Ketenagakerjaan merupakan program

pemerintah dalam kesatuan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang diresmikan

pada tanggal 31 Desember 2013. Untuk BPJS Kesehatan mulai beroperasi sejak

tanggal 1 Januari 2014, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan mulai beroperasi sejak 1 Juli

2015.

Menyadari besar dan mulianya tanggung jawab tersebut, BPJS Ketenagakerjaan

pun terus meningkatkan kompetensi di seluruh lini pelayanan, mengembangkan

berbagai program dan manfaat yang langsung dapat dinikmati oleh pekerja dan

keluarganya. Kini dengan sistem penyelenggaraan yang semakin maju, program BPJS

Ketenagakerjaan tidak hanya memberikan manfaat kepada pekerja dan pengusaha saja,

tetapi juga memberikan kontribusi penting bagi peningkatan pertumbuhan ekonomi

bangsa dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

2. Visi dan Misi BPJS Ketenagakerjaan

a. Visi BPJS Ketenagakerjaan


Menjadi Badan penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) berkelas dunia,
terpercaya, bersahabat dan unggul dalam Operasional dan Pelayanan
b. Misi BPJS Ketenagakerjaan
Sebagai badan penyelenggara jaminan sosial tenaga kerja yang memenuhi
perlindungan dasar bagi tenaga kerja serta menjadi mitra terpercaya bagi :
1) Tenaga Kerja : Memberikan perlindungan yang layak bagi tenaga
kerja dan keluarga
2) Pengusaha : Menjadi mitra terpercaya untuk memberikan perlindungan
kepada tenaga kerja dan meningkatkan produktivitas.
3) Negara : Berperan serta dalam pembangunan
3. Wilayah Kerja BPJS Ketenagakerjaan

Kantor Cabang Madiun Jl. A. Rahman saleh no. 8 Madiun 63139, Madiun 63139,

telp: 0351-492018, 462864, faks: 0351-452974 Status Kantor : Kelas III


4. Nilai-Nilai BPJS Ketenagakerjaan
a. Iman : Taqwa, berfikir positif, tanggung jawab, pelayanan tulus ikhlas.
b. Profesional : Berprestasi, bermental unggul, proaktif dan bersikap positif
terhadap perubahan dan pembaharuan.
c. Teladan : Berpandangan jauh kedepan, penghargaan dan pembimbingan
d. (reward & encouragement), pemberdayaan.
e. Integritas : Berani, komitmen, keterbukaan
f. Kerjasama : Kebersamaan, menghargai pendapat, menghargai orang lain.
5. Struktur Organisasi
a. Kepala Kantor Cabang
Mengarahkan, mengevaluasi dan mengendalikan kegiatan

operasional di Kantor Cabang, selaras dengan kebijakan dan

strategi yang ditetapkan di Kantor Wilayah, guna memastikan

pencapaian target Cabang dan wilayah secara optimal, sesuai dengan

standar dan ketentuan yang berlaku di perusahaan.

Wewenang yang dimiliki Kepala Kantor Cabang :

1) Memberikan persetujuan penempatan investasi dana di

area kerjanya sesuai dengan batasan kewenangannya.

2) Merekomendasikan pembentukan Kantor Cabang kelas I

Pembantu baru.

3) Merekomendasikan program PKP yang sesuai dengan

kondisi Cabang kelas I.


4) Mengajukan usulan mutasi dan promosi pegawai di Cabang

kelas I untuk diajukan ke Kantor Wilayah.

5) Memberi persetujuan pengadaan barang dan jasa untuk

Kantor Cabang kelas I sesuai dengan batas kewenangannya.

6) Memberikan persetujuan peremajaan sarana infrastruktur

teknologi informasi.

7) Memberikan persetujuan pencairan anggaran rutin.

8) Menjadi perwakilan perusahaan di Cabang kelas I.

b. Kabid. Pemasaran Peserta PU (Penerima Upah)

Merencanakan program pemasaran PU (untuk pengembangan

kepesertaan) dan pengelolaan kepesertaan formal melalui program

Customer Relationship Management (CRM) di cabang yang

selaras dengan strategi pemasaran wilayah, memantau dan

membina kinerja Relationship Officer (RO) serta

mengendalikan pelayanan administrasi kepesertaan, guna

memastikan target kepesertaan formal dan iuran di cabang tercapai

dengan efektif dan efisien. Wewenang yang dimiliki Kabid.

Pemasaran Formal adalah :

1) Menyusun strategi tindak lanjut atas potensi yang ada.

Mengajukan usulan target kepesertaan dan iuran.


2) Menyetujui penerbitan KPJ berdasarkan permintaan RO.

Menentukan akun untuk setiap RO.

3) Menangani keluhan peserta dalam batas kewenangan.

Menyetujui pengeluaran anggaran rutin.

4) Mengajukan usul reward/punishment untuk RO.

5) Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya


c. MO (Marketing officer)

Tugas marketing officer terbagi menjadi 3 yaitu :

1) Menyusun usulan program pemasaran untuk tim-nya,

mengkoordinasikan dan/atau melaksanakan kegiatan

pemasaran untuk mengakuisisi kepesertaan baru atau

mendapatkan kembali peserta yang telah keluar dari

kepesertaan (untuk masuk kembali menjadi

peserta), serta melakukan pembinaan kepada tim, guna

memastikan tercapainya target kepesertaan dan iuran yang

telah dibebankan.

2) Mereview data potensi dan/atau melaksanakan kegiatan

pemasaran untuk mengakuisisi kepesertaan baru atau

mendapatkan kembali peserta yang telah keluar dari

kepesertaan (untuk masuk kembali menjadi peserta), serta

melakukan pembinaan kepada tim, guna memastikan


tercapainya target kepesertaan dan iuran yang telah

dibebankan.

3) Mengumpulkan data potensi dan melaksanakan kegiatan

pemasaran untuk mengakuisisi kepesertaan baru atau

mendapatkan kembali peserta yang telah keluar dari

kepesertaan (untuk masuk kembali menjadi peserta), guna

memastikan tercapainya target kepesertaan dan iuran yang telah

dibebankan.

d. Relationship Officer (RO)

Menyusun usulan rencana pengelolaan kepesertaan untuk

tim-nya, mengkoordinasikan dan/atau melaksanakan kegiatan

pembinaan kepada peserta (sebagai bagian dari program Customer

Relationship Management / CRM), memberikan pelayanan dan

menangani keluhan peserta dengan cepat dan tepat, serta melakukan

pembinaan kepada tim-nya, guna tercapainya tertib administrasi,

terjalinnya hubungan baik dengan peserta, dan meningkatkan

kepesertaan dan iuran yang telah ditetapkan.

e. Penata Madya Administrasi Pemasaran (PMAP)

Menghimpun dan mengelola data yang terkait dengan kegiatan

pemasaran dan administrasi kepesertaan, melakukan pelayanan

dokumen administrasi dan penghitungan besar iuran serta denda


(jika ada), guna menyediakan data yang akurat dan dokumen

yang lengkap untuk mendukung kelancaran kegiatan

pemasaran.Wewenang yang dimiliki Penata Madya Administrasi

Pemasaran adalah :

1) Melakukan verifikasi dokumen pendukung dari calon peserta

Menginput data calon peserta serta pencetakan dokumen

2) Melakukan pengolahan data administrasi dan dokumen bagi

peserta

3) Memberikan dukungan terhadap tugas Marketing/Relationship

Officer

f. Kabid. Pelayanan

Merencanakan, mengkoordinasikan, memantau dan mengevaluasi

penyelenggaraan dan pelayanan program JHT, JK, JPK dan JKK

guna memastikan kegiatan pelayanan berlangsung lancar dan

memenuhi standar kualitas yang ditentukan. Wewenang yang

dimiliki Kabid. Pelayanan :

1) Menangani keluhan peserta dalam batas kewenangan.

2) Menyetujui pengeluaran anggaran rutin.

3) Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya.

4) Mengevaluasi kinerja petugas pelayanan

g. Penata Madya Jaminan Pelayanan JHT JP


Melakukan verifikasi terhadap dokumen pendukung proses

klaim program JHT & JP, menentukan iuran pertama yang harus

dibayar, menentukan besar klaim dan memproses klaim sesuai

ketentuan yang berlaku, guna memenuhi kewajiban pembayaran

klaim kepada peserta dengan tepat jumlah dan tepat waktu.

Wewenang yang dimiliki Penata Madya Jaminan JHT JP :

1) Menetapkan besaran klaim


2) Menolak pengajuan klaim yang belum memenuhi persyaratan
h. Penata Madya Jaminan Pelayanan JKK - JK

Melakukan verifikasi dokumen pendukung dan perhitungan biaya

sesuai ketentuan dalam proses klaim program JKK- JK,

menentukan besar klaim dan memproses klaim, serta memantau

kinerja dan melakukan pembinaan kepada mitra PPK, guna

memenuhi kewajiban proses klaim kepada peserta dengan tepat

sasaran, tepat mutu dan tepat waktu. Wewenang yang dimiliki

Penata Madya Jaminan JKK- JK:

1) Menetapkan besaran klaim

2) Menolak pengajuan klaim yang belum memenuhi persyaratan


3) Menyusun draft Perjanjian Kerjasama
i. CSO (Customer Service Officer)

Memberikan pelayanan kepada peserta maupun calon

peserta sesuai kebutuhan (seperti pelayanan kepesertaan,

iuran, pengajuan jaminan, permintaan informasi, dll), menangani


keluhan peserta sesuai ketentuan, guna memenuhi kebutuhan

dengan tepat sasaran dan tepat waktu, dan untuk menjaga

kepuasan pelanggan sesuai standar yang ditetapkan. Wewenang

yang dimiliki CSO :

1) Memberi layanan informasi.

2) Memproses pengajuan jaminan.


3) Memproses pengajuan koreksi data.
4) Menanggapi keluhan sesuai batas kewenangannya
j. Kabid. Keuangan & TI

Memantau dan mengkoordinasikan kegiatan yang terkait dengan

pengelolaan keuangan dan teknologi informasi di Kantor Cabang,

guna memberikan dukungan pada aspek keuangan & TI bagi

kegiatan operasional yang efektif dan efisien. Wewenang yang

dimiliki Kabid. Keuangan & TI :

1) Mengevaluasi dan mengusulkan peremajaan sarana

infrastruktur teknologi informasi

2) Melakukan otorisasi pengeluaran kas sesuai dengan batas

kewenangan.

3) Memfinalisasi hasil pencatatan keuangan.

k. Penata Madya Keuangan

Mengkompilasi usulan anggaran dari setiap Bidang di Kantor

Cabang, melaksanakan pengendalian penggunaan anggaran dan

mencatat transaksi yang terjadi, serta memenuhi kewajiban


perpajakan perusahaan, guna menghasilkan pengelolaan anggaran

yang efektif dan efisien serta dipenuhinya kewajiban yang terkait

dengan perpajakan. Wewenang yang dimiliki Penata madya

keuangan :

1) Melakukan verifikasi penerimaan dan pengeluaran.

2) Memverifikasi pengajuan penggunaan dana.

3) Menghitung kewajiban

pajak.

4) Menyelesaikan pembayaran klaim peserta


5) Membuat laporan keuangan

l. Penata Madya

TI

Melaksanakan pengaturan penggunaan, perbaikan, dan

pemeliharaan hardware, software dan jejaring, serta mengelola

database dan aplikasi, guna mengoptimalkan pengoperasian

perangkat sistem informasi untuk memberikan pelayanan yang

cepat dan akurat kepada peserta dan untuk efektivitas kegiatan

operasional. Wewenang yang dimiliki penata madya TI :

1) Melakukan maintenance hardware dan software

2) Melakukan pengelolaan dan pengamanan database


3) Menyelesaikan permasalahan terkait hardware, software dan

database
m. Kabid. Pemasaran BPU (Bukan Penerima Upah)

Merencanakan program pemasaran informal dan program khusus

(untuk pengembangan kepesertaan) dan pengelolaan kepesertaan di

bidang jasa konstruksi dan sektor informal di cabang yang

selaras dengan strategi pemasaran wilayah, memantau dan

membina kinerja Relationship Officer(RO) serta mengendalikan

pelayanan administrasi kepesertaan, guna memastikan target

kepesertaan serta iuran di bidang jasa konstruksi dan sektor

informal di cabang tercapai dengan efektif dan efisien.

Merencanakan dan mengkoordinasikan penerapan program PKP,

selaras dengan strategi di Kantor Wilayah, guna efektivitas dan

efisiensi program untuk mendukung kegiatan pemasaran.

Wewenang yang dimiliki Kabid. Pemasaran Informal :

1) Menyusun strategi tindak lanjut atas potensi yang ada.

2) Mengajukan usulan target kepesertaan dan iuran.

3) Menyetujui penerbitan KPJ berdasarkan permintaan RO.

4) Menentukan target untuk setiap RO.

5) Menangani keluhan peserta dalam batas kewenangan.

6) Menyetujui pengeluaran anggaran rutin.

7) Mengajukan usul reward / punishment untuk RO.

8) Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya


n. Penata Madya Pemasaran BPU (Bukan Penerima Upah)

Melaksanakan kegiatan pemasaran (untuk mengembangkan

kepesertaan) dan pembinaan kepada peserta di sektor informal dan,

memberikan pelayanan dan menangani keluhan peserta dengan

cepat dan tepat, guna memastikan tercapainya target kepesertaan

dan iuran informal yang telah dibebankan dan untuk menjaga

kepuasan peserta. Wewenang yang dimiliki Penata Madya

Pemasaran BPU adalah :

1) Melakukan kontak dengan calon peserta

2) Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya


3) Meminta data peserta

o. Penata Madya Kesejahteraan Peserta

Melaksanakan kegiatan pemasaran (untuk mengembangkan

kepesertaan) dan pembinaan kepada peserta di sektor jasa

konstruksi memberikan pelayanan dan menangani keluhan

peserta dengan cepat dan tepat, guna memastikan tercapainya

target kepesertaan dan iuran jasa konstruksi yang telah

dibebankan dan untuk menjaga kepuasan peserta. Wewenang

yang dimiliki Penata Madya Kesejahteraan Peserta adalah :

1) Melakukan kontak dengan calon peserta

2) Melakukan negosiasi dalam batas kewenangannya


3) Meminta data peserta

p. Kabid. Umum & SDM

Memantau dan mengkoordinasikan kegiatan pengelolaan

sumber daya manusia, pengadaan barang dan jasa, pemeliharaan

aset dan pelayanan umum bagi pegawai (seperti rumah tangga,

kebersihan, keamanan, kearsipan, dsb), serta hubungan komunikasi

dengan pihak internal dan eksternal, guna memberikan dukungan

pada aspek SDM & Umum bagi kelancaran kegiatan bisnis di

kantor cabang. Wewenang yang dimiliki Kabid. Umum & SDM :

1) Menetapkan kandidat calon pegawai baru.

2) Menetapkan pembelian barang dan jasa sesuai dengan

kewenangannya.
3) Merekomendasikan vendor.

4) Menetapkan kegiatan pelatihan dan pembinaan pegawai dalam

batas wewenangnya.

5) Memberikan teguran sehubungan dengan kinerja pegawai.


6) Mewakili perusahaan dalam penanganan masalah hubungan

industrial.

q. Penata Madya SDM


1) Melaksanakan pemenuhan kebutuhan pegawai, sehingga

tersedia tepat waktu dan tepat kualifikasi;


2) Melaksanakan pengelolaan administrasi (termasuk antara

lain data lembur, cuti, sakit, dan lain-lain) pegawai Kantor

Cabang agar tersedia data yang akurat;

3) Mengkoordinasikan pelaksanaan penilaian kinerja pegawai untuk

memperoleh hasil penilaian yang akurat;

4) Melaksanakan kegiatan pengembangan pegawai dalam rangka

memenuhi kualifikasi SDM yang telah ditentukan;

5) Mengkoordinasikan pemberian hak bagi pegawai sesuai

ketentuan, sehingga hak pegawai terpenuhi tepat waktu;

18. Penata Madya UMUM

1) Melaksanakan kegiatan kesekretarian, pengelolaan arsip, dan

layanan umum lainnya, untuk mendukung kelancaran kegiatan

operasional;

2) Melaksanakan pengelolaan aset, sehingga dapat diperdayakan

secara optimal;

3) Melaksanakan penyediaan barang/jasa, sehingga tersedia tepat

mutu dan tepat waktu;

4) Melaksanakan pengelolaan atas kontrak kerja penyediaan

barang/jasa dan mengelola database vendor untuk tertib

administrasi dan hukum kelancaran kegiatan pengadaan;


5) Melaksanakan program komunikasi dengan internal dan eksternal

perusahaan, untuk menjaga citra perusahaan;

Sri Rafik He M Tau


Dicky Sudarma Ahmad rni Widyant chid
Hardiant di (Kabid. (Kabid. Ha a (Kabid. Wid
o Pemasar Pemasar rta Keuanga yat
(K an an t n & TI) mok
a. Peserta Peserta (Kabid. o
K PU) BPU) Pelayana (Kab
C n) id.
P
Um
)
um

1. Dian K R (PMPJ JKK-JK) 1. Sukartni (PM Keu) 1.Nuning W (PM SDM)


Kristant 1. Fariz 1.2. Heru (PMPJ JHT-JP) 2. Haditya R H (PM TI) 2.Bonni S (PM Umum)
o Joko (MO) Nurul
3. Ridwan (PMPJ JKK-JK) 3. Vita (PM Keu)
( 2. Rosta Huda4. Anita Noor F (JHT-JP) 4. Rahardian (PM
P (MO) N5. Retno Wulandari (CS) Keu)
M 3. Rusydi (6. Putri Nur Aulia (CS)
P (PMAP) P7. Suko Fajar (CS)
P 4. Indah M8. Maharani Cita Sasmi
) Suyaningtya K Sec Dri Office
s P urit ver: Boy
) (
( y: 1. (OB)
R 2. Haris 1. Ali Suw 1.
O Nur Y Purn aji Wahyudi
) (PM omo 2. 2.
5. Yohana BPU) S Sid Markaba
Desy Eka 2. ha n
P (RO) Suw 3. Ferry
6. arji Cahyo
Bramantyo 3.
E (MO) Sug
7. Rina eng
(RO) R
8. Puji
Susant (RO)
BAB III

PEMETAAN MASALAH

A. Identifikasi Masalah

Masalah dapat diartikan suatu keadaan yang tidak diinginkan terjadi atau

suatu tujuan yang tidak tercapai.Dapat juga diartikan sebagai suatu keadaan yang

bertentangan dengan situasi dan kondisi yang diakibatkan beberapa faktor

penyebab.Dalam penulisan laporan magang ini untuk mengidentifikasi masalah

tersebut dipergunakan metode pendekatan Pola Kerja Terpadu yaitu dengan

menggunakan Pohon Masalah (Pernyataan Negatif).

Pelaksanaan magang di Puskesmas Bati Bati mulai dari tanggal 18 Pebruari

sampai 18 Maret 2013, dengan melakukan berbagai tahap kegiatan meliputi

perkenalan dan orientasi kesemua bagian pelayanan . Dalam pelaksanaannya di

dapatkan berbagai permasalahan kesehatan untuk kemudian di analisis.

Permasalahan tersebut didapat berdasarkan fakta di lapangan dan dari berbagai

data yaitu dari data laporan tahunan Puskesmas Bati Bati tahun 2012 dan data

program sampai dengan bulan Maret 2013, di dapatkan data berbagai

permasalahan sebagai berikut :

1. Pada Pemberantasan Penyakit Menular

Masih ada dan tingginya kasus penyakit demam berdarah setiap tahun di

Wilayah kerja Puskesmas Bati Bati, bahkan cenderung meningkat 3 ( tiga )

21
kali lipat. Yaitu pada tahun 2012 sebanyak 7 kasus dan di tahun 2013

mencapai 21 kasus.

2. Imunisasi pada bayi tidak UCI (Universal Child Immunization)

3. Rendahnya kunjungan pada Posyandu Lansia


Kunjungan Posyandu Lansia hanya 21, 20 % dari jumlah Lansia yang ada
4. KIA
Cakupan K4 masih dibawah target, yaitu pencapaian program hanya 77,3 %

Dari beberapa fokus masalah yang ingin diambil sebagai prioritas permasalahan

dari identifikasi permasalahan dibeberapa bidang yang ada, diprioritaskan pada

bidang kegiatan Pemberantasan Penyakit Menular yaitu hususnya pada penanganan

penyakit Demam Berdarah. Dan dari beberapa program kesehatan yang telah

dilaksanakan pada masing masing unit pelayanan kesehatan dapat di ambil beberapa

permasalahan dengan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Pada Tahun 2012 ditemukan 7 Kasus DBD dan tahun 2013 ini sampai

dengan bulan Maret terdapat 21 kasus di Wilayah kerja Puskesmas

Bati Bati

2. Dari 11 desa hanya 6 desa yang cakupan Imunisasi mencapai UCI Th

2012

3. Kunjungan oleh lansia sakit sebanyak 21,02% Kondisi seperti ini

terjadi hampir di semua Posyandu Lansia yang ada diwilayah kerja

22
Puskesmas Bati Bati yaitu sebanyak 5 Posyandu dengan rata rata

kehadiran setiap bulannya hanya 5 orang .

4. Cakupan K4 Ibu hamil diwilayah Puskesmas Bati Bati pada tahun

2012, tidak mencapai target, pencapaian program hanya 77,3%.

Dari permasalahan tersebut diatas terlihat bahwa Puskesmas Bati Bati

telah menindak lanjuti beberapa permasalahan kesehatan dan peningkatan

kasus penyakit DBD menjadi prioritas permasalahan dengan tujuan

menurunkan angka kasus penyakit DBD atau bahkan agar tidak ada lagi kasus

penyakit tersebut serta memutus mata rantai penularan penyakit DBD . Dan

kasus penyakit DBD yang cenderung meningkat di Puskesmas Bati Bati

merupakan sebuah permasalahan.

B. Prioritas Masalah

Dari beberapa masalah yang telah diidentifikasi,maka perlu ditetapkan

masalah mana yang perlu diprioritaskan untuk diselesaikan atau perencanaan

tindakan guna pemecahan permasalahan tersebut.


Adapun kriteria yang digunakan dalam menentukan prioritas masalah

berdasarkan pembobotan yang diberikan sebagai berikut :

U (Urgent) S (Serius) G (Growth)


5 = Sangat Mendesak 5 = sangat serius 5 = sangat tinggi
4 = mendesak 4 = serius 4 = tinggi
3 = cukup 3 = cukup 3 = cukup
2 = kurang 2 = kurang 2 = kurang
1 = sangat kurang 1 = sangat kurang 1= sangat kurang

23
Teknik yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah yang telah

diidentifikasi dari beberapa unit program kesehatan pada Puskesmas Bati Bati

adalah dengan menggunakan analisis situasi Urgency Seriousness Groowth

(USG), dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 3.1

Analisis menggunakan Matrik USG (Urgent Serius Growth)

N Masalah Pokok U S G Total

1. Masih terjadinya kasus DBD setiap 5 5 5 15

tahun dan semakin meningkat jumlah

kasus DBD
2. Imunisasi di desa pada bayi tidak UCI 4 4 3 11
3. Masih rendahnya kunjungan lansia di 4 4 3 11

Posyandu

Lansia
4. Cakupan K4 Bumil tidak mencapai target 4 3 3 10

Adapun permasalahan yang berkaitan dengan masih adanya kasus DBD

dan semakin meningkat pada tahun 2013 diwilayah Puskesmas Bati Bati adalah:

24
Gambar.2 Diagram Fish Bone

MANUSIA METODE BIAYA

Gampang
Kurangnya Peningkatan Promosi susah Tingginya
kesadaran PSN PSN melalui 3 M, Survey
jentik berkala kasus dbd di
wilayah kerja
Puskesmas

Kondisi kebersihan Belum ada uji lab


dan perubh. Musim pendukung
ekstrim diagnosis DBD di
PKM

Sarana dan
LINGKUNGAN Prasarana

Keterangan :

1. Aspek Manusia

Kurangnya kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan pelaksanaan

PSN

Pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya PSN

( pemberantasan sarang nyamuk ) dalam mencegah penularan penyakit

DBD sangat kurang, hal ini disebabkan sikap mereka yang masa bodoh

dan menganggap bukan hal penting atau hal sepele pemeliharaan

kebersihan lingkungan melalui gerakan 3 M plus dan menjadi panik

setelah adanya kasus penyakit DBD .

25
2. Peningkatan Promosi PSN melalui gerakan 3 M

Dalam pelaksanaan kegiatan tidaklah semudah perencanaan, petugas

harus lebih mengimplementasikan kegiatan tersebut dan menyampaikan

informasi ke masyarakat bahwa pentingnya PSN dalam memutus mata

rantai penularan penyakit dan bahwa PSN adalah yang paling efektif

dalam membasmi nyamuk sebagai vector penyakit. Kegiatan dilakukan

secara kontinyue dan peningkatan kewaspadan pada musim yang curah

hujannya tinggi. Bahwa PSN di lakukan di mulai dari lingkungan terkecil

yaitu rumah tangga untuk kemudian di tempat umum lainnya, dan bahwa

PSN bukanlah kegiatan milik Pemerintah semata melainkan harus

dilaksanakan oleh seluruh warga masyarakat agar dapat menekan

perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti.


Kegiatan survey jentik secara berkala dilakukan agar dapat di ketahui

daerah yang angka jentiknya tinggi dan dilakukan abatesasi selektif, serta

pemusnahan jentik yang ditemukan oleh kader jumantik dan masyarakat

sendiri. Tanpa campur tangan dari masyarakat sangatlah berat untuk

menekan perkembangbiakan nyamuk tersebut.

26
3. Aspek Lingkungan

Kondisi keadaan lingkungan sangat mempengaruhi pertumbuhan nyamuk

aedes aegypti sebagai vektor, dikarenakan nyamuk ini berkembang biak

dan bertelur pada air penampungan yang bersih. Sehingga pada musim

hujan masyarakat harus memperhatikan tempat tempat atau wadah yang

dapat menjadi tempat bertelur nyamuk tersebut, curah hujan tinggi

memungkinkan genangan air pada setiap wadah yang terbuka sehingga

memberi ruang bagi nyamuk berkembang biak. Lingkungan yang bersih

dengan meminilasir air tertampung dapat mengurangi perkembangan

nyamuk. Selalu curigai tempat yang dapat menampung air bersih walau

sedikit, karena kadang pada tempat yang luput dari pengamatan di

temukan jentik nyamuk tersebut.

4. Aspek sarana dan prasarana

Laboratorium Puskesmas Bati Bati belum ada uji hasil pendukung

diagnosis Penyakit Demam Berdarah , hal ini mengakibatkan

keterlambatan penegakan diagnosis sehingga penderita yang di curigai

terkena DBD harus ke Rumah Sakit terdekat terlebih dahulu.

Dikarenakan hal tersebut kadang terjadi keterlambatan penderita di bawa

27
ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan atau bahkan kadang

penderita sudah pada masa kritis.

5. Aspek Biaya

Gampang susah

Pembiayaannya gampang-gampang susah, dikarenakan program yang di

rencanakan dan susun untuk tahun depan terkadang harus berpatokan

pada anggaran kas daerah yang terkadang tiap SKPD / instansi udah

diberi dana minim. Sehingga dengan banyaknya program di Puskesmas

dipilah dan disaring lagi yang mana program dan kegiatan yang harus

terlebih dahulu dilaksanakan.

Adapun yang menjadi Pokok masalah dari permasalahan yang

berkaitan dengan masih adanya kasus penyakit DBD bahkan cenderung

meningkat dianalisis melalui matrik USG (Urgent,Serius,Growth) adalah :

Tabel 3.2

Analisis menggunakan Matrik USG (Urgent Serius Growth)

N Masalah Pokok U S G Total

28
o

1. Perlunya peningkatan Promosi PSN 5 4 4 13

melalui gerakan 3 M plus dan survey

jentik oleh Jumantik terlatih


2. Kurangnya Kesadaran masyarakat dalam 5 4 3 12

PSN ( Pemberantasan sarang nyamuk )

dan pemantauan jentik


3. Kondisi kebersihan lingkungan dan 4 4 3 11

musim hujan
4. Belum ada uji Laboratorium pendukung 4 3 3 10

diagnosis

Berdasarkan pada tabel diatas dapat diketahui bahwa urutan prioritas

masalah yang ada adalah sebagai berikut :

1. Perlunya peningkatan Promosi PSN melalui gerakan 3 M Plus dan

survey jentik oleh kader Jumantik yang terlatih di semua desa wilayah

kerja Puskesmas Bati Bati.

2. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam melakukan PSN

3. Kondisi kebersihan lingkungan perumahan yang masih buruk dan

musim hujan

29
4. Belum ada uji Laboratorium pendukung diagnosis penyakit DBD

Kemudian dari permasalahan pokok yang menjadi prioritas tersebut dapat

ditentukan masalah spesipik berkaitan dengan makin meningkatnya angka

kejadian kasus penyakit DBD disebabkan oleh beberapa penyebab atau yang

sering disebut sebagai masalah Pokok,yaitu :

a. Perlunya peningkatan Promosi PSN, petugas harus secara kontinyue

mengajak dan terus mempromosikan gerakan PSN sebagai kegiatan

paling efektif. Menyebarluaskan informasi tersebut di berbagai

kalangan, dari anak usia sekolah, remaja, ibu ibu di Posyandu dan

masyarakat lainnya dengan memanfaatkan media yang ada. Serta

promosi PSN tidak hanya pada saat ada kasus tapi sejak sedini

mungkin.Dengan lebih mengenalkan PSN diharapkan tercipta

lingkungan bersih dan angka bebas jentik meningkat serta penderita

kasus DBD dapat ditekan . Dan memastikan ke masyarakat bahwa

Fogging focus bukanlah tindakan efektif memberantas nyamuk aedes

tapi itu hanya membunuh nyamuk dewasa saja yang terpenting adalah

membasmi telur dan jentiknya di samping pengenalan dini ciri ciri

penyakit Demam berdarah dan proses penularannya. Karena penyakit

DBD adalah penyakit yang proses penularannya cepat dan dapat

menjadi wabah serta dapat menimbulkan kematian jika terlambat

dilakukan penanganan terhadap penderita.

30
Pengaktifan kader jumantik baik di Sekolah maupun di masyarakat

selaku pengawas jentik secara berkala di semua desa di wilayah kerja

Puskesmas Bati Bati sebagai antisifasi ledakan pertumbuhan nyamuk

aedes. Jika perkembangan nyamuk tersebut tinggi yang berdampak

pula pada peningkatan kasus penyakit DBD di suatu desa / lokasi, dan

survey jentik merupakan salah satu usaha dari intervensi pencegahan

yang efektif. Survey sebaiknya dilakukan secara berkala dan didukung

oleh anggaran pembiayaan kegiatan yang memadai. Sebuah kegiatan

yang di fasilitasi dan dikerjakan sesuai kerangka acuan akan memberi

infut dan menghasilkan output yang diharapkan. Pelatihan dan

penyegaran kader jumantik untuk menigkatkan keahlian sangat

membantu kelancaran kegiatan tersebut, di samping pelaporan dini dan

akurat oleh petugas Puskesmas. Keberadaan kader baik kader jumantik

maupun kader Fogging focus sangatlah bernilai dalam upaya

pengendalian dan penanganan kasus penyakit demam berdarah.

Karena pencegahan dan pemutusan mata rantai penularan pada suatu

kasus sangatlah penting.

b. Kesadaran masyarakat yang masih rendah dan kurangnya

kewaspadaan sewaktu musim hujan bahwa gerakan 3 M plus sangat

efektif memberantas nyamuk yaitu dengan melakukan ; mengubur

barang bekas berupa botol, pecahan kaca dan sebagainya, menutup

penampungan air dengan rapat serta menguras bak penampungan air


31
setiap minggu sekali atau 3 hari sekali. Ditambah plus yaitu

penggunaan kelambu ketika tidur dan pemakaian kawat kasa nyamuk

di samping penggunaan obat nyamuk serta memelihara ikan pada

kolam penampungan air. Dan adanya anggapan bahwa gerakan

gerakan kebersihan adalah kegiatan milik Pemerintah, sehingga

masyarakat merasa tidak dilibatkan atau merasa tidak perlu melibatkan

diri ikut gerakan tersebut.

c. Kualitas lingkungan perumahan yang masih belum memenuhi syarat

kesehatan yang kemudian didukung oleh musim hujan yang curah

airnya tinggi sehingga terbentuklah tempat tempat penampungan air

yang menjadi lahan berkembang biaknya nyamuk aedes selaku vector

penyakit tersebut. Disamping kurang perhatian terhadap upaya

penyehatan di lingkungan pemukiman melalui berbagai gerakan.

d. Belum ada uji Laboraorium pendukung diagnosis penyakit DBD, yang

merupakan salah satu penghambat penentuan diagnosis secara

dini.Sehingga penderita tidak mengalami keterlambatan penanganan

atau di rujuk ke Rumah Sakit atau bahkan terdiagnosa penyakit lain

misalnya types. Dikarenakan penentu diagnosis tersebut minimal

bahwa trombosit menurun di bawah normal dan hematokrit meningkat

melebihi 20 %. Hendaknya ujinya di Laboratorium Puskesmas Bati

Bati dilengkapi dengan uji tersebut.

32
Dari ke 4 (empat) faktor penyebab yang telah diuraikan diatas dapat dilihat

melalui Pohon Masalah atau Pohon Pernyataan Negatif.pada ( Gambar 3 ) berikut :

Gambar. 3

POHON MASALAH

(PERNYATAAN NEGATIF)

KASUS DBD
CENDERUNG MENINGKAT

Akibat 4

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

---

33
ANGKA BEBAS JENTIK
MASIH RENDAH 1

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

---

Sebab 2

KEBERSIHAN LINGK KURANGNYA KURANGNYA PROMOSI SARANA DAN


BELUM M.S DAN KESADARAN MASY DLM PSN DAN KURANGNYA PRASARANA
MUSIM HUJAN PSN & PELAP.KSS DBD PENGAKTIFAN JUMANTIK KURANG
OLEH MASY
DI SEMUA DESA

KURANGNYA
KURANGNYA KEGIATAN TIDAK SEMUA DESA MOTIVASI KURANG
BIMBINGAN PEMANTAU JENTIK MEMILIKI KADER
TEKHNIS DARI SECARA BERKALA JUMANTIK
DINAS KESEHATAN DAN ABATESASI
SELEKTIF

34
Berdasarkan permasalahan yang telah dipaparkan seperti yang terlihat pada

Pohon Masalah , maka beberapa sasaran yang ingin dicapai,yaitu:

1. Peningkatan Promosi PSN oleh petugas dan pengaktifan kader Jumantik di

semua desa melalui Pelaksanaan pelatihan kader Jumantik. serta adanya

petugas pemantau jentik ( Jumantik ) yang memahami tentang kegiatan

program di setiap desa, serta kegiatan di lakukan secara berkala terutama pada

musim hujan yang curah airnya sangat tinggi. .Pengaktifan kader dan adanya

pelatihan kader petugas Jumantik serta kader pelaksana fogging focus untuk

menunjang seluruh kegiatan dan didukung anggaran pembiayaan yang

memadai.

2. Tersedianya dukungan masyarakat dalam menggalakkan PSN dan adanya

gerakan oleh semua warga dimulai dari rumah tangga di semua desa untuk

waspada Penyakit DBD dengan melakukan pengamatan dan waspada

terhadap tempat tempat yang di curigai .

Pelaporan segera oleh masyarakat / warga / keluarga penderita ke petugas

kesehatan di Puskesmas Bati Bati bila ada di temukan kasus penyakit DBD di

lokasi dengan melampirkan hasil uji diagnosis laboraorium jika pasien telah di

35
rawat di Rumah Sakit sesegera mungkin agar segera di tindaklanjuti dan untuk

mengetahui penyebab serta penanggulangannya agar tidak menular.

3. Terwujudnya lingkungan sehat dan kewaspadaan dini terhadap bahaya

penyakit Demam berdarah oleh masyarakat dan terwujudnya kerjasama

semua pihak serta dukungan penuh lintas sector terkait.

4. Terpenuhinya sarana dan prasarana penunjang, yaitu uji pendukung diagnosis

yang didukung system pencatatan dan pelaporan petugas pemegang program

penyakit DBD, disamping peningkatan keahlian petugas dan adanya

pembentukan tim penanganan kasus penyakit DBD . Serta adanya pelatihan

dan bimbingan tekhnis dari Dinas Kesehatan.

Dengan mewujudkan sasaran tersebut diatas, maka diharapkan Optimalisasi

kegiatan program Pemberantasan penyakit Menular hususnya penyakit Demam

berdarah di Puskesmas Bati Bati dapat terwujud. Adanya dukungan masyarakat serta

dukungan lintas sektor maupun lintas program disamping penanganan dini gerak

cepat jika ada kasus sangat membantu dalam pemutusan penularan penyakit DBD.

Dan diharapkan yang pada akhirnya nanti dapat tercapainya penurunan angka

penderita penyakit DBD atau bahkan tidak ada lagi kasus penyakit tersebut. Dari

sasaran yang telah di susun untuk kemudian seperti yang digambarkan sebagai

berikut :
36
Gambar. 4

POHON SASARAN

(PERNYATAAN POSITIF)

KASUS DBD MENURUN


ATAU BAHKAN TIDAK ADA
LAGI

Akibat 4

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

---

ANGKA BEBAS
JENTIK TINGGI
1

-------------------------------------------------------------------------------------------------------

---

Sebab 2

TERCIPTANYA PENINGKATAN PROMOSI TERPENUHINYA


LINGK SEHAT & TERSEDIANYA PSN DAN PENGAKTIFAN SARANA DAN
WASPADA DBD DUKUNGAN MASY JUMANTIK DI SEMUA PRASARANA
DLM PSN DAN DESA KURANG
ABATESASI PROMOSI PSN & PENYAKIT 37
DBD OPTIMAL
TERPANTAU JENTIK SCR SEMUA DESA MEMILIKI
TERPENUHINYA BERKALA & KADER JUMANTIK DGN TERWUJUDNYA
BIMBINGAN PELAKS.ABATESASI PELAKS.PELATIHAN MOTIVASI PEGAWAI
SELEKTIF SHG
TEKHNIS DARI KADER & PENYULUHAN UNTUK
TERPANTAU DAERAH
DINKES TTG RAWAN & MANGKA
DI MASYA MENGEMBANGKAN
PROGRAM DBD BEBAS JENTIK DIRI
MENINGKAT

BAB IV
38
PEMECAHAN MASALAH

A. Alternatif pemecahan masalah

Berdasarkan prioritas masalah yang terpilih,maka perlu adanya upaya

upaya kegiatan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit DBD

tidak pada musim hujan saja, dan adanya dukungan berbagai pihak yaitu dari

lintas sector, program dan masyarakat. Berbagai upaya yang harus dilakukan

berkaitan dengan upaya penurunan angka kejadian kasus penyakit DBD di

Puskesmas Bati Bati dan peningkatan kemampuan petugas dalam

penatalaksanaan kasus penyakit dbd adalah:

1. Meningkatkan kerjasama dan dukungan lintas sektor

2. Mengikuti Pelatihan tentang Program penyakit Demam

berdarah

3. Melaksanakan Konsultasi ke Dinas Kesehatan tentang Program

DBD

4. Peningkatan kerjasama lintas program

6. Laboratorium Puskesmas di dukung uji penegak diagnosis

penyakit DBD

7. Pengaktifan kader Jumantik di setiap desa

8. Pelatihan dan penyegaran kader jumantik

39
9. Pemantauan jentik secara berkala dan abatesasi selektif di

semua desa

10. Pembentukan tim penanganan kasus penyakit demam berdarah.

B. Prioritas Pemecahan Masalah

Selanjutnya dari beberapa upaya yang akan dilakukan dalam alternatif

pemecahan masalah, maka perlu pula penetapan ataupun penentuan upaya

yang bisa dilaksanakan dalam prioritas pemecahan masalah dengan beberapa

faktor pertimbangan baik segi dana(pembiayaan),dan faktor faktor lain.

Berdasarkan analisa dengan menggunakan matrik Benefit Cost Ratio

(CBR) maka dipilih sebagai prioritas sebagai pemecahan masalah adalah

Peningkatan promosi PSN dan Pengaktifan kader Jumantik di semua desa ,

ini dapat dilihat dari tabel dibawah ini.

Tabel 4.1

Analisa menggunakan Matrik BCR ( Benefit Cost Ratio )

N ALT ERNATIF B C R

O
1. Melaksanakan pelatihan kader jumantik 5 3 1,7
2. Melaksanakan pemantauan jentik berkala di 5 4 1,25

semua desa
3. Mengikuti pelatihan tentang program penyakit 5 5 1

40
demam berdarah

Keterangan Nilai BCR :

B ( Benefit ) C (Cost)

5 = Sangat menguntungkan 5 = Biaya sangat besar

4 = Menguntungkan 4 = Besar

3= Cukup 3= Cukup

2= Kurang 2= Kurang

1= Sangat Kurang 1= Sangat kurang

Pemantauan jentik secara berkala dan dilakukan di seluruh desa merupakan

salah satu upaya pemutusan mata rantai penularan penyakit dan bagian dari

pemberantasan sarang nyamuk ( PSN ) , agar kegiatan tersebut berjalan lancar

diperlukan adanya tenaga terlatih yaitu kader juru pemantau jentik yang mau dan siap

melakukan kegiatan sesuai prosedur.Dan dalam hal ini merupakan permasalahan yang

di prioritaskan adalah pelaksanaan kegiatan pelatihan kader Jumantik dan kegiatan

pemantauan jentik berkala, kegiatan tersebut dilaksanakan saling berkaitan satu sama

lain karena pemantauan jentik merupakan implementasi dari kegiatan pelatihan kader.

41
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Pohon Alternatif

Gambar : 5

POHON ALTERNATIF

MENURUNNYA KSS DBD ATAU


TDK ADA LAGI KSS DBD

MENINGKATNYA ANGKA BEBAS


JENTIK DI DESA

TERSEDIANYA PETUGAS DAN


KADER YANG MEMAHAMI
TTG PENYAKIT DBD

42
TERSEDIANYA KESEMPATAN
MENGIKUTI PELATIHAN PROG
DBD DAN SURVEY JENTIK KADER

MELAKUKAN BIMBINGAN KADER MENGIKUTI PELATIHAN MELAKSANAKAN


TEKHNIS JUMANTIK KONSULTASI KE DINAS
KESEHATAN SCR

C. Rencana kegiatan / Anggaran

Rencana Kegiatan

Perencanaan kegiatan (Plant of Action) dalam kegiatan Melaksanakan

Bimbingan Teknis tentang Program Penyakit DBD adalah sebagai berikut :

1. Pendahuluan
43
Melaksanakan bimbingan teknis tentang program penyakit DBD

merupakan salah satu kegiatan penting dalam pencapaian peningkatan

kemampuan petugas dalam mengelola program penyakit DBD serta

penanganan kasus, sehingga kegiatan dapat dilaksanakan secara optimal dan

dapat meningkatkan kewaspadaan dalam penanganan kasus penyakit demam

berdarah serta pemutusan penularan penyakit.

2. Analisis situasi (keadaan masalah)

Masih adanya kasus penyakit DBD bahkan cenderung meningkat 3

( tiga ) kali lipat di bandingkan kasus pada tahun sebelumnya.Hal ini

dibuktikan dari hasil Laporan Tahunan Puskesmas Bati Bati Tahun 2012 dan

laporan program penyakit DBD sampai dengan bulan Maret 2013. Untuk

meningkatkan promosi Pemberantasan Sarang Nyamuk ( PSN ) salah satunya

melalui survey jentik yang dilakukan oleh kader di setiap desa, kegiatan

kunjungan dilingkungan perumahan oleh petugas pemantau jentik yang

dilaksanakan tidak secara berkala serta tidak pada semua desa. Terlihat bahwa

angka bebas jentik di desa masih rendah dari yang diharapkan / target.

Sedangkan target program yaitu 95 % dari rumah yang di survey harus bebas

jentik nyamuk aedes. Untuk itu peerlu adanya dilaksanakan pelatihan petugas

pemantau jentik dan pelaksanaan pemantauan jentik di setiap desa oleh kader /

petugas jumantik yang telah dilatih. Disamping masih belum adanya uji

44
pendukung diagnosis penyakit DBD di laboratorium Puskesmas Bati Bati dan

perlunya peningkatan kemampuan petugas.

3. Kegiatan

a. Tahap Persiapan

1. Pembentukan Tim Kerja

2. Penyusunan rencana kerja

3. Pengajuan Anggaran

b. Tahap Pelaksanaan

1. Membuat kerangka acuan pelaksanaan Pelatihan kader

Jumantik
2. Memperbanyak bahan materi
3. Menghubungi nara sumber
4. Menghubungi calon kader / kader jumantik
5. Menyiapkan sarana dan prasarana pendukung
6. Pelaksanaan kegiatan
Pelatihan kader
Pelaksanaan survey jentik

c. Tahap Pengendalian

1. Melaksanakan Pretes dan Post Test


2. Realisasi kegiatan
3. Pembuatan Laporan hasil pelaksanaan kegiatan
4. Evaluasi kegiatan

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada paket kerja di bawah ini :

45
Pokok Akhir : Pembentukan Tim Kerja

Penanggung Gugat : Koordinator Prog Penyakit DBD

Paket Kerja : No 1

Penyelesaian : 1 hari ( 8 April 2013)

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Membuat konsep surat perintah kerja Koord. Prog

tim DBD
2 Mengetik surat perintah Staf TU
3 Menandatangani surat perintah Kepala 1 hari

Puskesmas

46
4 Memimpin rapat tim Kepala Pusk.
5 Menyiapkan snack 5 orang @ Staf TU Rp.50.000
1 hari
Rp.10000
6 Menyelesaikan administrasi Bendahara 1 hari

keuangan
Jumlah 1 hari Rp.50.000,

Pokok Akhir : Penyusunan Rencana Kerja

Penanggung Gugat : Koordinator Prog Penyakit DBD

Paket Kerja : No 2

Penyelesaian : 1 hari ( 11 April 2013 )

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Membuat format rancangan Koord.Prog 1 hari

kegiatan DBD

2 Mengetik konsep rancangan Staf TU 1 hari


3 Menyempurnakan konsep menjadi Ka.Puskesmas

rencana kerja

4. Mengajukan rencana kerja kepada Koord.Prog Dbd

Kepala Puskesmas

5 Memberitahukan kembali rencana Koord.Prog Dbd

47
kerja kepada tim kerja

6 Menyelesaikan Adm Keuangan

Jumlah 1 hari

Pokok Akhir : Pengajuan Anggaran

Penanggung Gugat : Koord.Prog Penyakit DBD

Paket Kerja : No 3

Penyelesaian : 2 hari (15 - 16 April 2013)

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Membuat usulan biaya Koord.Prog.Db
1 hari
2 Mengetik Draf usulan biaya d
1 hari
3 Meneliti usulan biaya Bendahara
4 Menyetujui usulan biaya Bendahara
5 Mengambil Bendahara 1 hari Rp.90.000
dan mencairkan dana keDinas
3 hari

Pokok Akhir : Membuat Kerangka Acuan Kegiatan

Penanggung Gugat : Koordinator Program Usila

Paket Kerja : No 4

48
Penyelesaian : 1 hari ( 18 April 2013)

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Menyusun jadwal kegiatan Koord.Prog.Db

d
2 Mengetik Jadwal kegiatan Staf TU 1 hari

3 Menandatangani Jadwal Kegiatan Ka. Puskesmas

4 Mengetik undangan Staf TU

5 Menandatangani undangan Ka.Puskesmas

6 Membagi Undangan Koord.Prog.Db

Pokok Akhir : Menghubungi nara sumber

Penanggung Gugat : Koordinator Program Usila

Paket Kerja : No 5

Penyelesaian :1 hari ( 19 April 2013 )

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Menyampaikan surat Koord.Prog.Db

permintaan untuk jadi nara d 1 hari Rp.90.000

2 sumber.

Menyerahkan Jadwal kegiatan Koord.Prog.Db

49
kepada nara sumber . d
3 Administrasi keuangan Bendahara 1 hari

Jumlah 2 hari
Pokok Akhir : Menyiapkan sarana dan prasarana

Penanggung Gugat : Koordinator Prog.Penyakit DBD

Paket Kerja : No 6

Penyelesaian : 2 hari (22-23 April 2013)

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Mengatur ruangan untuk Koord.Prog

pelatihan Usila 1 hari

2 Menyiapkan Snack dan Bendahara 1 hari Rp.600.000

Makan siang :
Peserta : ( 3 org x 11 Desa X Rp 15.000,- = Rp

495.000,-

Narasumber : ( 2 Org X Rp 15.000,- = Rp

30.000,- )

Panitia : ( 5 org X Rp 15.000,- = Rp 75.000,- )

Jumlah Rp 600.000,-
3 Menyediakan ATK Bendahara 1 hari Rp.100.000

4 Transport Peserta Bendahara 1 hari Rp 660.000

33 Org X Rp 20.000,- = Rp 660.000,-

50
5 Pembayaran honor nara sumber Bendahara 1 hari Rp.540.000

6 Pelaksanaan survey jentik di Bendahara 40 hari Rp.2.640.000,

desa -

3 Org X 11 desa X 10 hari X 4 triwulan X


Rp 20.000,- = Rp 2.640.000,-

Jumlah 1 hari Rp.4.540.000

51
Pokok Akhir : Penilaian

Penanggung Gugat : Koordinator Program Penyakit DBD

Paket Kerja :No 7

Penyelesaian : 2 hari ( 6 -7 Mei 2013)

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Mempelajari hasil Pelatihan Koord.Prog.Dbd
2 Membandingkan dengan sebelum Koord Prog.Dbd
1 hari
Pelatihan

3 Mengidentifikasi hambatan dan Koord Prog.Dbd

masalah

4 Mengadakan koreksi bila ada Kepala

penyimpangan Puskesmas

1 hari

5 Mengendalikan Kepala

Puskesmas
Jumlah 2 hari

52
Pokok Akhir : Pelaporan

Penanggung Gugat : Koordinator Program Penyakit DBD

Paket Kerja :No 8

Penyelesaian : 2 hari ( 13 14 Mei 2012)

No Uraian Kerja Penanggung Waktu Biaya

Jawab
1 Menyiapkan bahan laporan Koord Prog.Dbd 1 hari

2 Membuat konsep laporan Koord Prog.dbd Rp 50.000


1 hari

3 Mengetik Draf Laporan Staf TU 1 hari

4 Menandatangani laporan Kepala 1 hari

Puskesmas

5 Mengirim laporan ke Dinas Staf TU 1 hari Rp 90.000

Kesehatan
Jumlah 5 hari Rp140.000

53
REKAPITULASI DAN BIAYA

No Pokok Akhir Biaya


1 Pembentukan Tim Kerja Rp. 50.000
2 Pengajuan Anggaran Rp. 90.000
3 Menghubungi nara sumber Rp. 90.000
4 Menyiapkan sarana dan Prasarana Rp 4.540.000
5 Pelaporan Rp. 140.000
Jumlah Rp. 4.910.000

2. Penjadwalan

Membuat jadwal rencana kegiatan yang telah dituangkan dalam

bagan yang

masing-masing memuat pokok akhir yang berhubungan dengan waktu

pelaksanaannya .

WAKTU Bulan
April 2013 Mei Sept
N 8 11 15 1 1 2 6- 1
-
O POKOK AKHIR - 8 9 2- 7 3-

54
16 2 1 Des

3 4
1 Pembentukan tim kerja X
2 Penyusunan rencana kerja X
3 Pengajuan anggaran x
4 Membuat kerangka acuan X

kegiatan
5 Menghubungi nara sumber x
6 Menyiapkan sarana dan x

prasarana
7 Pelaksanaan Survey jentik X
8 Penilaian X X
Pelaporan X X

BAB IV

P E N U T UP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bab - bab di atas, dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut :

55
1. Prioritas Masalah di Puskesmas Bati Bati Kecamatan Bati Bati adalah

Program Penyakit Demam Berdarah

2. Pada Program Penyakit Demam berdarah permasalahan yang menjadi

Prioritas Masalah adalah masih adanya kasus dan cenderung meningkat 3

kali lipat dengan angka bebas jentik yang masih rendah.

3. Penyebab masalah spesifik adalah kurangnya kegiatan pemantauan jentik

secara berkala di desa dan kurangnya kader / petugas jumantik yang

terlatih.

4. Pemecahan Masalah yang dilakukan adalah melakukan Pelatihan kader

Jumantik dam pelaksanaan survey jentik secara berkala selama 4 triwulan.

B. SARAN

Sehubungan dengan permasalahan diatas,penulis menyarankan agar dapat

mengoptimalkan Program Penyakit Demam berdarah dalam hal penanganan kasus

dan pemutusan mata rantai penularan penyakit di Puskesmas Bati Bati Kecamatan

Bati Bati,ada beberapa hal yang dapat disarankan,yaitu antara lain :

1. Melakukan pelatihan kader Jumantik desa

2 Memaksimalkan kegiatan survey jentik berkala oleh kader jumantik di

semua desa

3. Meningkatkan promosi PSN di masyarakat dalam pencegahan

penularan

56
4. Meningkatkan atau mengoprimalkan peran serta masyarakat dalam

melakukan PSN melalui gerakan 3 M plus.

5. Meningkatakan kerjasama dan dukungan lintas sector serta lintas

program

6. Peningkatan sarana dan prasarana ( uji pendukung diagnosis )

57