Anda di halaman 1dari 155

PROSES PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA

PADA TIRAM Pinctada maxima

LA EDDY

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN
SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*

Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi berjudul Proses


pembentukan kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima adalah benar karya
saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks
dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir Disertasi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.

Bogor, Agustus 2014

La Eddy
NRP B161090081
RINGKASAN

LA EDDY. Proses pembentukan kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima.


Dibimbing oleh WASMEN MANALU, RIDWAN AFFANDI, dan NASTITI
KUSUMORINI

Mutiara yang berkualitas sangat bergantung pada kantung mutiara yang


terbentuk. Untuk mendapatkan kantung mutiara yang baik maka harus melakukan
kajian tentang pemilihan saibo, posisi peletakan inti yang tepat, umur yang tepat
untuk dijadikan saibo, jenis kelamin, dan tempat pemeliharaan selama
perkembangan kantung mutiara.
Penelitian ini terdiri atas beberapa tahap yang bertujuan untuk mengetahui
pengaruh penggunaan saibo yang berasal dari tiram jenis lain pada proses
pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada maxima, pengaruh posisi peletakan
saibo dan inti yang berbeda pada proses pembentukan kantung mutiara tiram
Pinctada maxima, pengaruh penggunaan saibo yang berasal dari tiram dengan
umur yang berbeda pada proses pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada
maxima, pengaruh perbedaan jenis kelamin pada pembentukan kantung mutiara
tiram Pinctada maxima, pengaruh kedalaman pada pembentukan kantung mutiara
tiram Pinctada maxima. Parameter yang diukur dan diamati meliputi jumlah
kumulatif tiram yang mengalami kematian dan penolakan inti, persentasi tiram
yang berhasil membentuk kantung mutiara, kecepatan dan persentasi penutupan
inti mutiara, konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf,
perkembangan histologis struktur kantung mutiara, data pendukung meliputi suhu,
salinitas, dan pH air.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa implantasi pada tiram Pinctada
maxima dapat menggunakan saibo dari tiram jenis lain, pembentukan kantung
mutiara pada penggunaan saibo tiram Pinctada margaritifera lebih baik bila
dibandingkan dengan saibo tiram Pteria penguin dan saibo tiram Atrina vexillum.
Pembentukan kantung mutiara dapat dilakukan pada bagian usus, anus, dan
ventral gonad. Pembentukan kantung mutiara pada posisi implantasi inti di
ventral gonad lebih baik bila dibandingkan dengan implantasi di bagian usus dan
anus. Pembentukan kantung mutiara dengan menggunakan saibo dari tiram yang
telah berumur 28 bulan lebih baik bila dibandingkan dengan saibo dari tiram
yang berumur 14 dan 21 bulan. Pembentukan kantung mutiara pada tiram berjenis
kelamin betina lebih baik bila dibandingkan dengan jenis kelamin jantan.
Pembentukan kantung mutiara pada kedalaman 3 dan 6 meter lebih baik bila
dibandingkan dengan kedalaman 9 dan 12 meter.

Kata kunci: Implantasi, Kantung Mutiara, Pinctada maxima, Saibo.


SUMMARY

LAEDDY. Pearls Sac Formation in Pinctada maxima Oyster. Supervised by


WASMEN MANALU, RIDWAN AFFANDI, and NASTITI KUSUMORINI

Pearl quality in cultured pearl is determined by the pearl sac formed around
the implanted nucleus. To get a good pearl sac formation, it was conducted a
study on the selection of donor oyster as a source of saibo, position of
implantation in the body of the host oyster, age of donor oyster as a donor of saibo,
sex of the host oyster, and the depth of rearing of host oyster during the
development of the pearl sac.
This study consisted of several steps to determine the effect of different
species and genus of donor oysters, different positions of nucleus implantation,
different ages of donor oyster, different sexes of host oysters, and different depths
of rearing on the pearl sac formation in the Pinctada maxima host osyters.
Parameters observed were the cumulative number of oysters that experience death
and rejection of nucleus, percentage of successful oyster to form the pearl sac,
speed of pearl sac growth and percentage of nucleus coverage by pearl sac,
oxygen consumption, haemolymph glucose, calcium and phosphorus
concentrations, histological structure of pearl sac development, marine water
temperature, salinity, and pH.
The results showed that the Pinctada maxima oyster implantation can use
other species and genuses of oysters as sources of saibo. Pearl sac formation in
the Pinctada maxima host oyster implanted with saibo obtained from Pinctada
margaritifera oyster was better when compared with those implanted with saibo
obtained from Pteria penguin and Atrina vexillum donor oysters. Pearl sac
formation can be done on the the intestine, anus, and ventral gonad. Pearl sac
formation in the Pinctada maxima host oyster was better when nucleus was
implanted in the ventral position of the gonads as compared when implantation
was conducted at the intestine and anus. Pearl sac formation in Pinctada maxima
host oyster was better when using saibo from donor oyster with the age of 28
months when compared with the ages of 14 and 21 months. Pearl sac formation in
the female oyster was better than in the male oyster. Pearl sac formation was
better when the host oyster was reared at a depth of 3 and 6 meters as compared to
when the host oysters were reared at the depth of 9 and 12 meters.

Keywords: Implantation, pearl sac, Pinctada maxima, saibo.


Hak Cipta Milik IPB, Tahun 2014
Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan
atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan
IPB

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB
PROSES PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA
PADA TIRAM Pinctada maxima

LA EDDY

Disertasi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Doktor
pada
Program Studi Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2014
Penguji pada Ujian Tertutup:
1. Dr drh. Damiana Rita Ekastuti, MS
Staf Pengajar Departemen AFF, Fakultas Kedokteran Hewan IPB
2. Dr.Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc
Staf Pengajar Departemen MSP, Fakultas Perikanan dan Kelautan IPB

Penguji pada Ujian Terbuka :


1. Dr.drh.Yulvian Sani
Peneliti Madya pada BALITVET Bogor
2. Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si
Dirjen Perikanan Budi Daya, Kementerian Kelautan dan Perikanan RI
Judul Disertasi : Proses pembentukan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima
Nama : La Eddy
NRP : B161090081

Disetujui oleh
Komisi Pembimbing

Prof. Ir.Wasmen Manalu, Ph.D


Ketua

Dr. dra. Nastiti Kusumorini Prof. Dr. Ir. Ridwan Affandi, DEA
Anggota Anggota

Diketahui oleh

Ketua Program Studi/Mayor Dekan Sekolah Pascasarjana


Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat

Prof. Dr. Drh. Agik Suprayogi, M.Sc, AIF Dr. Ir. Dahrul Syah, M.ScAgr

Tanggal ujian : 21 Juli 2014 Tanggal lulus :


PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-
Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Penelitian ini dilaksanakan
sejak bulan September 2011 sampai Desember 2012 dengan judul Proses
Pembentukan Kantung Mutiara pada Tiram Pinctada Maxima.
Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Prof. Ir. Wasmen Manalu,
Ph.D, Bapak Prof. Dr. Ir. Ridwan Affandi, DEA dan Ibu Dr. Dra. Nastiti
Kusumorini selaku komisi pembimbing yang telah banyak memberi saran. Terima
kasih juga penulis sampaikan kepada Dr drh. Damiana Rita Ekastuti, MS dan
Dr.Ir. Fredinan Yulianda, M.Sc selaku penguji luar komisi pada ujian sidang
tertutup, serta Dr. drh.Yulvian Sani dan Dr. Ir. Slamet Soebjakto, M.Si selaku
penguji luar komisi pada ujian sidang terbuka. Terima kasih penulis sampaikan
kepada Bupati Kabupaten Halmahera Selatan dan Kepala Desa Baru, Kabupaten
Halmahera Selatan. Di samping itu, penghargaan penulis sampaikan kepada
seluruh staf pengajar Program Studi Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat IPB.
Penghargaan penulis sampaikan juga kepada Pemilik, Manager dan seluruh
karyawan perusahaan CV. Duta Aru Indah Cabang Pulau Obi (Pulau Garaga dan
Teluk Dalam). Ibu Hj. Asmarida, Ibu Sri, dan Pak Wawan dari Laboratorium
Fisiologi dan Farmakologi IPB, Bapak Edy Sukma Ramdani, Ibu Dian Anggraeni
dari Laboratorium Nutrisi, Fakultas Peternakan IPB, atas bantuan dan kerja
samanya. Terima kasih juga kepada rekan-rekan mahasiswa IFO dan Akuakultur
yang telah banyak membantu penulis.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada ayah, ibu, mertua, istri,
Dirwan, Lukman serta seluruh keluarga, atas doa dan kasih sayangnya.
Semoga karya ilmiah ini bermanfaat.

Bogor, Agustus 2014

La Eddy
B 161090081
i

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
DAFTAR GAMBAR ii
DAFTAR TABEL x
DAFTAR LAMPIRAN xi
1 PENDAHULUAN 1
Latar Belakang 1
Tujuan Penelitian 3
Manfaat Penelitian 3
Kebaruan Penelitian (Novelty) 3
2 TINJAUAN PUSTAKA 5
Jenis-Jenis Tiram Mutiara 5
Anatomi Tubuh Tiram Mutiara 5
Reproduksi Tiram Mutiara 11
Faktor-Faktor Ekologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tiram
Mutiara 11
Fisiologi Pembentukan Mutiara 13
3 HISTOLOGI DAN PERUBAHAN FISIOLOGIS SELAMA
PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM Pinctada
maxima DENGAN IMPLANTASI SAIBO DARI GENUS DAN
SPESIES TIRAM DONOR YANG BERBEDA 19
Pendahuluan 21
Bahan dan Metode 23
Hasil 24
Pembahasan 38
Simpulan 41
4 HISTOLOGI DAN PERUBAHAN FISIOLOGI PEMBENTUKAN
KANTUNG MUTIARA TIRAM Pinctada maxima YANG
DIIMPLANTASI PADA USUS, ANUS, DAN VENTRAL GONAD 41
Pendahuluan 43
Bahan dan Metode 44
Hasil 45
Pembahasan 57
Simpulan 62
5 PROSES PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM
Pinctada maxima DENGAN MENGGUNAKAN SAIBO YANG
DIDAPATKAN DARI UMUR TIRAM YANG BERBEDA 62
Pendahuluan 64
Bahan dan Metode 64
Hasil 65
Pembahasan 77
Simpulan 79
6 PROSES PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM
Pinctada maxima JANTAN DAN BETINA 79
Pendahuluan 81
ii

Bahan dan Metode 82


Hasil 83
Pembahasan 91
Simpulan 94
7 PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM Pinctada
maxima YANG DIPELIHARA PADA KEDALAMAN BERBEDA 94
Pendahuluan 96
Bahan dan Metode 97
Hasil 98
Pembahasan 111
Simpulan 113
8 PEMBAHASAN UMUM 113
9 SIMPULAN DAN SARAN 116
DAFTAR PUSTAKA 117
LAMPIRAN 127
RIWAYAT HIDUP 133

DAFTAR GAMBAR

1 Kerangka konseptual pendekatan masalah dan tahapan penelitian


pembentukan kantung mutiara. 4
2 Tiram mutiara Pinctada maxima (Winanto 2004). 5
3 Anatomi tubuh tiram Pinctada fucata yang terdiri atas otot adductor
(AM), byssus (B), visceral mass (VM), Mantel (M), Mulut (F), proses
pertumbuhan (GP), insang (G) (Acosta-Salmn et al. 2004). 6
4 Morfologi cangkang luar dan cangkang dalam tiram Pinctada maxima
(Wilbur dan Saleuddin 1983) 8
5 Fotograf zona mantel Pinctada margaritifera yang terdiri atas zona
marginal (Mz), zona sentral (Cz), zona pallial (Pz), dan isthmus (It)
(Acosta-Salmn dan Southgate 2005). 9
6 Bagian mantel dan cangkang (Wilbur dan Saleuddin 1983).
Keterangan : lapisan cangkang prismatic (PR), lapisan nacreus
cangkang (NC), pallial line (PL), pallial muscle (PM), inner
epithelium (IM), mucosa cell (MC), pallial nerve (PN), longitudinal
pallial muscle (LPM), inner fold (IF), middle fold (MF), outer fold
(OF), outer epithelium (OE), periostracal groove (PG), periostracum
(P), ekstrapallial space (EPS). 10
7 Pola tahapan yang berbeda dalam pembentukan kantung mutiara pada
tiram Pinctada fucata. Keterangan : (1) Inti dimasukkan ke bagian
gonad, (2) Setelah 15 hari, kantung mutiara menyatu dengan jaringan
ikat (inti telah diterima oleh tiram inang = A, inti ditutupi oleh gamet
= B), (3) Setelah 30 hari, sebuah kantung mutiara lengkap dapat
diamati dengan struktur homogen (Cochennec-Laureau et al. 2010). 14
iii

8 Teori pembentukan mutiara secara alami (Strack 2006). 15


9 Peletakan inti pada dinding cangkang bagian dalam untuk
menghasilkan mutiara blister (setengah lingkaran). 16
10 Peletakan inti pada bagian ventral gonad untuk menghasilkan mutiara
bulat. 16
11 Berbagai macam warna mutiara yang dapat dihasilkan melalui budi
daya mutiara. 16
12 Berbagai macam ukuran, bentuk, permukaan, dan kilauan mutiara. 17
13 Deskripsi jenis saibo yang diambil dari beberapa jenis tiram Atrina
vexillum (A), Pteria penguin (B), Pinctada margaritifera (C), dan
Pinctada maxima (D). 24
14 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian
selama 4 minggu setelah diimplantasi dengan saibo dari jenis tiram
lain. Keterangan : saibo Atrina vexillum (), Pteria penguin (),
Pinctada margaritifera (), Pinctada maxima (). 25
15 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian
selama 4 minggu setelah diimplantasi dengan saibo dari jenis tiram
lain. Keterangan : saibo Atrina vexillum (), Pteria penguin (),
Pinctada margaritifera (), Pinctada maxima (). 25
16 Persentase tiram Pinctada maxima yang berhasil membentuk kantung
mutiara setelah 4 minggu diimplantasi dengan saibo dari jenis tiram
lain. Keterangan : saibo tiram Atrina vexillum (), Pteria penguin
(), Pinctada margaritifera (), Pinctada maxima (). 26
17 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang
berasal dari tiram Atrina vexillum. Anak panah menunjukkan adanya
hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel
inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi
(II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun.
Minggu ketiga setelah implantasi (III), sudah tidak terlihat sel-sel
inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak
terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi. (H&E.x100). 28
18 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang
berasal dari tiram Pteria penguin. Anak panah menunjukkan adanya
hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel
inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi
(II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun.
Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih terlihat jumlah sel-sel
inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak
terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi. (H&E.x100). 29
19 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang
berasal dari tiram Pinctada margaritifera. Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
iv

implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat jumlah
sel-sel inflamasi dan hemosit (mulai sembuh). Minggu keempat
setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel
inflamasi. (H&E.x100). 30
20 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo dari
tiram Pinctada maxima. Anak panah menunjukkan adanya hemosit.
Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel inflamasi
dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi (II) masih
terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu
ketiga setelah implantasi (III), mulai sembuh ditandai dengan tidak
terlihat lagi sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah
implantasi (IV), tidak terlihat hemosit dan sel-sel inflamasi.
(H&E.x100). 31
21 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Atrina vexillum. Minggu
pertama (21A), Minggu kedua (21B), Minggu ketiga (21C), dan
Minggu keempat (21D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel
mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c) Basement
membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis, (f)
Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 32
22 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Pteria penguin.
Keterangan: Minggu pertama (22A), Minggu kedua (22B), Minggu
ketiga (22C), dan Minggu keempat (22D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 33
23 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Pinctada margaritifera.
Keterangan : Minggu pertama (23A), Minggu kedua (23B), Minggu
ketiga (23C) dan Minggu keempat (23D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400). 34
24 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Pinctada maxima.
Keterangan : Minggu pertama (24A), Minggu kedua (24B), Minggu
ketiga (24C), dan Minggu keempat (24D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 35
25 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami penolakan
inti selama 4 minggu setelah implantasi pada lokasi yang berbeda.
Keterangan : bagian usus (), anus (), ventral gonad (). 46
v

26 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian


selama 4 minggu setelah implantasi pada lokasi yang berbeda.
Keterangan : bagian usus (), anus (), ventral gonad (). 46
27 Persentase tiram Pinctada maxima yang berhasil membentuk kantung
mutiara setelah 4 minggu implantasi pada lokasi berbeda. Keterangan:
bagian usus (), anus () and ventral gonad (). 47
28 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi di bagian usus.
Keterangan : Anak panah menunjukkan adanya hemosit. Minggu
pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel inflamasi dan
hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi (II) masih
terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu
ketiga setelah implantasi (III), masih terlihat jumlah sel-sel inflamasi
dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat
lagi hemosit dan sel-sel inflamasi yang terbentuk. (H&E.x100). 49
29 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi di bagian anus.
Keterangan: anak panah menunjukkan adanya hemosit. Minggu
pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel inflamasi dan
hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi (II) terlihat sel-
sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah
implantasi (III), jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit,
luka mulai sembuh. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak
terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh. (H&E.
x100). 50
30 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima setelah diimplantasi di bagian ventral
gonad. Keterangan: Anak panah menunjukkan adanya hemosit.
Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel inflamasi
dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi (II) jumlah
sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit dan hampir tidak terlihat.
Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat lagi sel-sel
inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak
terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi, jaringan telah sembuh
(H&E. x100). 51
31 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi di bagian
usus. Keterangan: Minggu pertama (31A), Minggu kedua (31B),
Minggu ketiga (31C) dan Minggu keempat (31D): (a) Nukleus, (b)
Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal
(c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika
muskularis, (f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400). 52
32 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi di bagian
anus. Keterangan: Minggu pertama (32A), Minggu kedua (32B),
Minggu ketiga (32C) dan Minggu keempat (32D): (a) Nukleus, (b)
vi

Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal
(c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika
muskularis, (f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400). 53
33 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi di bagian
ventral gonad. Keterangan : Minggu pertama (33A), Minggu kedua
(33B), Minggu ketiga (33C) dan Minggu keempat (33D): (a) Nukleus,
(b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel
kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika
muskularis, (f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400). 54
34 Jumlah kumulatif tiram mutiara yang mengalami kematian setelah
diimplantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram
dengan umur berbeda selama 4 minggu pengamatan. Keterangan : 14
bulan (), 21 bulan (), 28 bulan (). 66
35 Jumlah kumulatif tiram yang mengalami penolakan inti setelah
diimplantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram
dengan umur berbeda selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: 14
bulan (), 21 bulan (), 28 bulan (). 66
36 Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara pada
tiram Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan menggunakan
saibo yang berasal dari tiram dengan umur berbeda selama sebulan
pengamatan. Keterangan : 14 bulan (), 21 bulan () dan 28 bulan
bulan (). 67
37 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram
Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang berasal dari
tiram yang berumur 14 bulan. Keterangan: Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih terlihat jumlah
sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi
(IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi. (H&E. x100). 69
38 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram
Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang berasal dari
tiram yang berumur 21 bulan. Keterangan: Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), jumlah sel-sel
inflamasi dan hemosit sangat sedikit, luka mulai sembuh. Minggu
keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel
inflamasi, luka telah sembuh. (H&E. x100). 70
39 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram
Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang berasal dari
tiram yang berumur 28 bulan. Keterangan: Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
vii

sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah


implantasi (II) jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat lagi sel-
sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV),
tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi, jaringan telah sembuh
(H&E. x100). 71
40 Histologis perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan
saibo tiram Pinctada maxima yang telah berumur 14 bulan.
Keterangan : Minggu pertama (40A), Minggu kedua (40B), Minggu
ketiga (40C) dan Minggu keempat (40D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 72
41 Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan saibo
tiram Pinctada maxima yang telah berumur 21 bulan. Keterangan:
Minggu pertama (41A), Minggu kedua (41B), Minggu ketiga (41C)
dan Minggu keempat (41D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel
mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal, (c) Basement
membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis, (f)
Vakuola (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 73
42 Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan saibo
tiram Pinctada maxima yang telah berumur 28 bulan. Keterangan:
Minggu pertama (42A), Minggu kedua (42B), Minggu ketiga (42C)
dan Minggu keempat (42D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel
mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c) Basement
membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis, (f)
Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 74
43 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian
selama 4 minggu implantasi pada jenis kelamin berbeda. Keterangan :
tiram jantan (--), dan betina (). 83
44 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami penolakan
inti selama 4 minggu implantasi pada jenis kelamin berbeda.
Keterangan : tiram jantan (--), dan betina (). 84
45 Persentase tiram Pinctada maxima yang berhasil membentuk kantung
mutiara selama 4 minggu implantasi dengan jenis kelamin berbeda.
Keterangan : tiram jantan () dan betina (). 84
46 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima jantan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan
hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III),
tidak terlihat lagi sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat
setelah implantasi (IV), luka akibat telah sembuh dan tidak terlihat
lagi hemosit dan sel-sel inflamasi. (H&E.x100). 86
viii

47 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima betina. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), jumlah
sel-sel inflamasi dan hemosit sudah tidak terlihat, luka mulai sembuh.
Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit
dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh. (H&E.x100). 87
48 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan pada tiram betina. Keterangan: Minggu pertama (48A),
Minggu kedua (48B), Minggu ketiga (48C) dan Minggu keempat
(48D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas
sel-sel epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan
submukosa, (e) Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h)
Hemosit (H&E. x400). 88
49 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu
pengamatan pada tiram jantan. Keterangan: Minggu pertama (49A),
Minggu kedua (49B), Minggu ketiga (49C) dan Minggu keempat
(49D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas
sel-sel epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan
submukosa, (e) Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis dan (h)
hemosit (H&E. x400). 89
50 Jumlah kumulatif tiram mutiara yang mengalami kematian setiap
minggu selama sebulan pengamatan yang dipelihara pada kedalaman
berbeda. Keterangan: 3 meter (), 6 meter (), 9 meter (), 12
meter (). 98
51 Jumlah kumulatif tiram mutiara yang mengalami penolakan inti setiap
minggu selama sebulan pengamatan yang dipelihara pada kedalaman
berbeda. Keterangan : 3 meter (), 6 meter (), 9 meter (), 12
meter (). 99
52 Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara tiram
Pinctada maxima selama sebulan yang dipelihara pada kedalaman
berbeda. Keterangan: 3 meter (), 6 meter (), 9 meter (), 12 meter
(). 99
53 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 3 meter
selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi namun mulai menurun.
Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat lagi inflamasi dan
hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), luka sayatan saat
operasi inti telah sembuh. (H&E.x100). 101
54 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 6 meter
ix

selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah menunjukkan


adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi namun mulai menurun.
Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat lagi inflamasi dan
hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), luka sayatan saat
operasi inti telah sembuh. (H&E.x100). 102
55 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 9 meter
selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya
sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi namun mulai menurun.
Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih ada terlihat inflamasi
dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), luka sayatan
saat operasi inti telah sembuh. (H&E.x100). 103
56 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 12
meter selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih
ada sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi
(IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi dan jaringan
telah sembuh (H&E.x100). 104
57 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima yang dipelihara pada kedalaman 3 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (57A), minggu kedua
(57B), minggu ketiga (57C) dan minggu keempat (57D): (a) Nukleus,
(b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel
kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika
muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 105
58 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima yang dipelihara pada kedalaman 6 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (58A), minggu kedua
(58B), minggu ketiga (58C) dan minggu keempat (58D): (a) Nukleus,
(b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel
kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika
muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 106
59 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima yang dipelihara pada kedalaman 9 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (59A), minggu kedua
(59B), minggu ketiga (59C) dan minggu keempat (59D): (a) Nukleus,
(b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel
x

kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika


muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 107
60 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima yang dipelihara pada kedalaman 12 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (60A), minggu kedua
(60B), minggu ketiga (60C) dan minggu keempat (60D): (a) Nukleus,
(b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel
kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika
muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400). 108

DAFTAR TABEL

1 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase


penutupan inti pada tiram Pinctada maxima dengan menggunakan
saibo yang diambil dari tiram Atrina vexillum, Pteria penguin,
Pinctada margaritifera, dan Pinctada maxima 27
2 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,
jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima dengan menggunakan saibo yang diambil dari tiram
Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera dan Pinctada
maxima 36
3 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor
hemolimf pada tiram Pinctada maxima dengan menggunakan saibo
yang diambil dari tiram Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada
margaritifera, dan Pinctada maxima 37
4 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase
penutupan inti pada tiram Pinctada maxima dengan posisi peletakan
inti yang berbeda 48
5 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,
jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima dengan posisi implantasi yang berbeda 55
6 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium, dan kadar
fosfor hemolimf pada tiram Pinctada maxima dengan posisi
peletakan inti yang berbeda. 56
7 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase
penutupan inti pada tiram Pinctada maxima dengan perlakuan umur
saibo yang berbeda selama 4 minggu pengamatan. 68
8 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,
jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima dengan dengan perlakuan umur saibo yang berbeda
selama 4 minggu pengamatan. 75
9 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium, dan kadar
fosfor hemolimf pada tiram Pinctada maxima dengan perlakuan umur
saibo yang berbeda selama 4 minggu pengamatan. 76
xi

10 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan rataan


persentase penutupan inti mutiara pada tiram Pinctada maxima jantan
dan betina selama 4 minggu pengamatan. 85
11 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,
jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima jantan dan betina 90
12 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium dan fosfor
hemolimf pada tiram Pinctada maxima jantan dan betina selama 4
minggu pengamatan. 91
13 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase
penutupan inti pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada
kedalaman berbeda selama 4 minggu pengamatan. 100
14 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,
jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman berbeda selama 4
minggu pengamatan. 109
15 Kelimpahan plankton di lokasi pemeliharaan tiram Pinctada maxima. 110
16 Rataan konsumsi oksigen, rataan kadar glukosa, kadar kalsium, dan
kadar fosfor hemolimf pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara
pada kedalaman berbeda selama 4 minggu pengamatan. 111

DAFTAR LAMPIRAN

1 Prosedur kerja penelitian 127


2 Prosedur penentuan parameter pengamatan 128
3 Prosedur pembuatan preparat histologi kantung mutiara 131
1

1 PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tiram merupakan salah satu moluska yang dapat menghasilkan mutiara,


tetapi tidak semua tiram dapat menghasilkan mutiara yang bagus dan memiliki
nilai jual yang tinggi. Tiram penghasil mutiara umumnya berasal dari famili
Pteriidae, beberapa jenis famili ini dapat ditemukan di perairan laut Indonesia
seperti Pinctada maxima, Pinctada margaritifera, Pinctada fucata, Pinctada
chimnitzii, dan Pteria penguin (Winanto 2009).
Mutiara dapat dihasilkan secara alami dan budi daya. Teori pembentukan
mutiara alami terjadi akibat adanya partikel padat yang terjebak dalam tubuh
tiram, terutama di antara bagian mantel dan cangkang bagian dalam. Mantel
kemudian menyelubungi partikel padat tersebut dan bagian mantel inilah yang
disebut sebagai kantung mutiara. Namun, belum ada bukti ilmiah yang
mendukung teori ini karena dari beberapa mutiara alami yang dibedah
menunjukkan bahwa bagian inti mutiara bukanlah partikel padat (Strack 2006).
Mutiara hasil budi daya akan melewati serangkaian proses dengan campur
tangan manusia. Bentuk rekayasa ini dikenal dengan istilah implantation atau
implantasi, yaitu menyisipkan inti mutiara bersama saibo (irisan mantel tiram
mutiara lain) ke dinding gonad tiram mutiara. Mantel yang dijadikan saibo
diambil dari zona pallial mantel karena zona ini berisi banyak jaringan saraf dan
arteri pallial. Saibo yang disisipkan akan berkembang mengelilingi inti
menyerupai kantung sehingga disebut kantung mutiara (Acosta-Salmn dan
Southgate 2005). Selain saibo, pembentukan mutiara melibatkan peran nacre pada
cangkang. Nacre merupakan bagian permukaan yang berkilau dari mutiara atau
bagian yang berkilau dari dalam cangkang. Komposisi nacre pada cangkang
adalah 95-99% kalsium karbonat dan 1-5% matriks organik (Duplat et al. 2006).
Nacre pada cangkang diistilahkan sebagai mother of pearl (ibu dari mutiara)
sedangkan nacre yang melekat di inti disebut mutiara (Mamangkey dan Southgate
2009).
Saibo dapat berasal dari jenis tiram yang sama maupun jenis tiram yang lain
(Taylor 2002). Peneliti tersebut melakukan percobaan dengan mengimplantasi 2
jenis saibo yang berasal dari tiram yang sama, yakni Pinctada maxima tetapi asal
saibo dengan latar belakang nacre berwarna perak dan emas, kemudian
diimplantasi pada Pinctada maxima yang berwarna perak, ternyata mendapatkan
hasil yang signifikan. Tiram dengan saibo perak menghasilkan 98,2% mutiara
putih perak dan tidak menghasilkan mutiara warna emas dan sangat sedikit warna
krem atau kuning, sedangkan saibo emas menghasilkan 12,7% mutiara berwarna
putih perak dan 8,4% warna emas serta 78,8% warna krem atau kuning. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa saibo dari jenis tiram yang sama dapat
membentuk kantung mutiara dan menghasilkan mutiara yang berbeda. Untuk itu
perlu kajian yang lebih jauh lagi agar dapat menentukan saibo yang terbaik untuk
pembentukan kantung mutiara. Penelitian lain juga telah dilakukan dengan cara
xenografts antara tiram Pinctada maxima dan Pinctada margaritifera, tetapi
hasilnya tidak mempengaruhi pembentukan kantung mutiara, namun
2

mempengaruhi hasil akhir mutiara, seperti warna, kulit, bentuk, deposisi nacre,
dan bobot mutiara. Deposisi nacre ditemukan lebih tinggi di xenografts yang
terdiri atas Pinctada maxima sebagai donor dan Pinctada margaritifera sebagai
tiram inang (host) dari pada xenograft timbal balik dan allografts. Warna dan
permukaan mutiara juga sangat dipengaruhi oleh jenis tiram donor yang
digunakan sebagai xenografts, misalnya tiram Pinctada maxima sebagai tiram
inang (host) yang diimplantasi dengan saibo dari Pinctada margaritifera hasilnya
akan memproduksi lebih banyak mutiara berwarna hitam dan bila sebaliknya
maka akan memproduksi mutiara berwarna perak (McGinty et al. 2010). Kajian
tentang umur tiram yang akan dijadikan saibo sampai saat ini masih terus
dilakukan. Sayatan histologis mantel tiram Pinctada fucata yang telah berumur 1
tahun dan 7 tahun memperlihatkan adanya conchiolin secretion atau protein yang
terlibat dalam pelapisan mutiara sehingga dapat disimpulkan bahwa secara in
vivo tiram Pinctada fucata yang telah berumur 7 tahun memiliki kemampuan
regenerasi mantel yang lebih baik sehingga dapat dijadikan sebagai tiram donor.
Namun, penelitian ini masih perlu dibuktikan karena harus dilanjutkan ke proses
implantasi saibo sehingga dapat diketahui pembentukan kantung mutiara (Rao et
al. 2010).
Saibo yang telah terimplantasi akan berkembang menyerupai kantung yang
mengelilingi inti kemudian mensekresikan bahan-bahan yang diperlukan pada
pelapisan mutiara. Secara histologi, pada tiram Pinctada margaritifera Polynesia
Prancis terlihat bahwa bagian dalam mantel (innermantel) mengalami degradasi
dan hanya tersisa bagian luar mantel (outer mantel). Bagian luar mantel inilah
yang akan mengalami pertumbuhan dan perkembangan kemudian membentuk
kantung mutiara yang membutuhkan waktu rata-rata sekitar 30 hari. Waktu yang
dibutuhkan untuk pembentukan kantung mutiara sering kali berbeda-beda pada
setiap tiram, bila terlalu lama maka akan mempengaruhi kualitas mutiara karena
mengurangi waktu proses pelapisan inti (Cochennec-Laureau et al. 2010).
Bagian gonad merupakan organ yang disayat untuk peletakan saibo dan inti,
oleh karena itu saat implantasi dilakukan maka perlu mengetahui tingkat
kematangan gonad. Selain itu, posisi peletakan saibo dan inti juga berpengaruh
pada hasil mutiara karena menurut laporan Chellam et al. (1991) pada Pinctada
fucata, warna mutiara yang dihasilkan mungkin akan berwarna kuning emas,
pink, putih atau krem, bergantung pada perbedaan tempat peletakan saibo dan inti.
Mutiara yang dihasilkan di daerah ventral gonad berwarna putih atau emas,
sedangkan yang diproduksi di daerah dorsal gonad yang dekat dengan hepato-
pankreas biasanya berwarna abu-abu atau putih. Mutiara yang bentuknya
sempurna biasanya sering kontak dengan organ-organ internal, seperti hati, dan
usus. Mutiara yang dihasilkan dekat dengan otot reftraktor cenderung tidak bagus
dengan permukaan yang tidak rata, bentuknya seperti tonjolan yang tidak
beraturan. Namun laporan ini juga tidak menerangkan tentang proses
pembentukan kantung mutiara tetapi hanya melihat mutiara yang dihasilkan.
Setelah implantasi maka tiram tersebut harus mengalami proses yang namanya
tento atau pemeliharaan di laut dengan posisi umbo di bawah dengan tujuan untuk
perbaikan luka akibat sayatan dan pembentukan kantung mutiara. Pemeliharaan
dilakukan di laut dengan kedalaman tertentu, namun sampai sekarang kajian ini
masih belum jelas sehingga perlu dilakukan penelitian yang mengungkapkan
kedalaman optimal untuk menghasilkan kantung mutiara yang baik.
3

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji proses fisiologis pembentukan


kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima dengan beberapa faktor penentu
pada saibo dan faktor kedalaman. Penelitian ini dilakukan dengan lima tahap yang
terdiri atas :
a. Penelitian tahap I bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan saibo
yang berasal dari tiram jenis lain pada proses pembentukan kantung
mutiara tiram Pinctada maxima.
b. Penelitian tahap II bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi peletakan
saibo dan inti yang berbeda pada proses pembentukan kantung mutiara
tiram Pinctada maxima.
c. Penelitian tahap III bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan
saibo yang berasal dari tiram dengan umur yang berbeda pada proses
pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada maxima.
d. Penelitian tahap IV bertujuan untuk mengetahui pengaruh perbedaan jenis
kelamin tiram inang pada pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada
maxima.
e. Penelitian tahap V bertujuan untuk mengetahui pengaruh kedalaman pada
pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada maxima.

Manfaat Penelitian

Informasi yang diperoleh dari penelitian ini akan melengkapi data biologis
dan fisiologi pada budi daya mutiara. Selain itu, temuan ini diharapkan dapat
digunakan sebagai dasar teknik implantasi mutiara agar mendapatkan mutiara
secara efektif dan efisien dengan kualitas maksimal.

Kebaruan Penelitian (Novelty)

Belum pernah dilaporkan penelitian tentang fisiologis pembentukan kantung


mutiara dengan menggunakan saibo dari jenis tiram lain, lokasi implantasi inti
yang berbeda, perbedaan jenis kelamin dan kedalaman dengan profil kadar
glukosa, kadar kalsium, dan fosfor hemolimf pada tiram inang Pinctada maxima.
4
4

Gambar 1 Kerangka konseptual pendekatan masalah dan tahapan penelitian pembentukan kantung mutiara.
5

2 TINJAUAN PUSTAKA

Jenis-Jenis Tiram Mutiara

Tiram Pinctada maxima (Gambar 2) termasuk dalam filum mollusca dan


famili Pteriidae dengan klasifikasi sebagai berikut (Tmkin 2006)

Filum : Mollusca
Kelas : Pelecypoda
Ordo : Anycomyria
Famili : Pteriidae
Genus : Pinctada
Spesies : Pinctada maxima

Gambar 2 Tiram mutiara Pinctada maxima (Winanto 2004).

Famili ini umumnya dapat menghasilkan mutiara. Ciri morfologi tiram Pinctada
maxima adalah tubuhnya dilindungi oleh sepasang cangkang yang tipis dan keras.
Selain jenis ini, ada beberapa jenis tiram mutiara yang dapat ditemukan di
perairan Indonesia, yakni Pinctada margaritifera, Pinctada fucata, Pinctada
chimnitzii, dan Pteria penguin. Semua anggota famili ini hidup di laut. Moluska
lain penghasil mutiara yang sejauh ini dikenal berasal dari kelompok abalone dan
beberapa gastropoda lain serta beberapa jenis bivalvia air tawar (Winanto 2004).
Pada prinsipnya, semua molluska bercangkang dapat menghasilkan mutiara,
akan tetapi tidak semua dapat menghasilkan mutiara yang baik dan memiliki
kualitas tinggi. Mutiara yang dihasilkan dari jenis bivalvia air tawar memiliki nilai
jual yang rendah dibandingkan mutiara yang dihasilkan tiram air laut.

Anatomi Tubuh Tiram Mutiara

Tubuh tiram mutiara terdiri atas 2 bagian, yaitu bagian ekternal (cangkang)
dan internal mencakup kaki, mantel, dan kumpulan organ visceral. Kaki
merupakan salah satu bagian tubuh yang bersifat elastis, terdiri atas susunan
jaringan otot, yang dapat meregang. Tiram mutiara termasuk monomary atau
6

hewan yang memiliki otot tunggal dengan fungsi untuk membuka dan menutup
cangkang. Secara keseluruhan tubuh internal tiram mutiara tersaji pada Gambar 3.

Gambar 3 Anatomi tubuh tiram Pinctada fucata yang terdiri atas otot adductor
(AM), byssus (B), visceral mass (VM), Mantel (M), Mulut (F), proses
pertumbuhan cangkang (GP), insang (G) (Acosta-Salmn et al. 2004).

Tiram mutiara memiliki serabut otot adduktor posterior, terletak melintang


di setiap katup, berbentuk seperti baji dan berakhir sempit tepat di belakang
ventrikel jantung. Bagian terminal rektum menjulur sepanjang garis tengah
permukaan posterior, dengan dua daerah yang berbeda, yaitu satu strip tendonous
sempit yang terbuat dari serat putih berkilau membentuk batas posterior dan yang
lain terdiri atas serat semitranslucent (Saucedo et al. 2008), sedangkan kaki
memiliki berkas otot retraktor yang simetris sepanjang horizontal tubuh. Otot-otot
yang berbentuk V dan berasal dari kelenjar byssal melekat pada kanan dan kiri
katup cangkang bagian dalam. Kaki memiliki empat levators, dua anterior dan
dua posterior. Kontraksi levator anterior menyebabkan kaki dapat ditarik kembali
dan mengangkat bagian punggung, sedangkan levator posterior berada setingkat
dengan mulut dan tidak terlalu penting. Otot-otot branchial menyebabkan
pemendekan insang dan penarikan kaki posterior.
Tiram mutiara bersifat filter feeder atau mengambil makanan dengan jalan
menyaring pakan yang ada di dalam air laut. Getaran silia pada insang
menimbulkan arus air yang masuk ke dalam rongga mantel. Gerakan silia akan
memindahkan fitoplankton yang berada di sekeliling insang. Labial palp atau
simpul bibir akan membawa masuk makanan ke dalam mulut (Saucedo et al.
2008).
Mulut terletak pada bagian ujung depan saluran pencernaan atau di sebelah
atas kaki. Makanan yang ditelan masuk ke dalam mulut kemudian melalui
kerongkongan yang pendek langsung masuk ke perut, atau saluran kantong tipis
pada perut dengan kulit luar (cuticle) kasar yang berfungsi untuk memisah-
misahkan makanan. Dari perut sisa makanan (kotoran) akan dibuang melalui
saluran usus yang relatif pendek dan bentuknya seperti huruf S kemudian keluar
lewat anus (Saucedo et al. 2008).
Tiram mutiara bernapas dengan insang yang terdiri atas empat lembaran
berbentuk bulan sabit, masing-masing terletak pada setiap sisi rongga mantel.
Sistem peredaran darah terdiri atas serangkaian arteri dari jantung dan hati.
7

Jantung terdiri atas ventrikel tunggal dan sepasang kontraktil auricles berdinding
tipis. Jantung menerima darah dari tubuh (insang dan mantel) masuk ke ventrikel
jantung, aliran darah balik dicegah oleh semacam katup, kemudian darah dialirkan
lewat aorta anterior dan posterior dan, akhirnya darah dialirkan ke otot adduktor,
rektum, dan anus. Darah dialirkan ke seluruh tubuh dengan aorta anterior melalui
serangkaian arteri kecil dan bersirkulasi perlahan-lahan, sedangkan darah
deoksigenasi dikumpulkan dalam vena kemudian dibawa ke dalam insang atau
organ ekskretoris. Darah dari ginjal dialirkan ke mantel dan hati. Selanjutnya
darah kembali ke jantung melalui vena branchial eferen. Darah dari tiram mutiara
tidak berwarna (Saucedo et al. 2008). Sistem ekskresi tiram mutiara terdiri atas
sepasang kelenjar nephridia dan banyak perikardial kecil dari proyeksi dinding
auricles. Setiap nephridium terhubung ke perikardium dengan saluran lebar.
Pericardial merupakan kelenjar aksesori di dinding auricles yang memiliki fungsi
sekretoris. Sistem saraf tiram mutiara berbentuk lateral simetris dan memiliki tiga
pasang ganglia yang terdiri atas ganglia otak pada sisi kerongkongan, pedal
bergabung untuk membentuk ganglion tunggal di dasar kaki dan ganglia parieto-
splanknik pada permukaan anterior otot adduktor.

Bagian Cangkang

Tiram mutiara memiliki sepasang cangkang yang berfungsi melindungi


organ bagian dalam, terbentuk sejak masih larva yang mengalami tiga tahap
metamorfosis, yakni tahap prodissconch I, prodissconch II, dan tahap dissconch.
Tahap prodissconch I terjadi saat gastrulasi, tepatnya fase trochopore (fase ini
membentuk sel epitel yang tebal pada bidang periostracum). Cangkang telah
mengandung amorphous calcium carbonate sejak tahap prodissconch I,
aragonite pada tahap prodissconch II, dan pembentukan kristal seperti calcite atau
aragonite pada tahap dissconch (Gardner 2008). Pada spesies Pinctada maxima,
cangkang dihubungkan oleh semacam engsel berwarna hitam, memiliki diameter
dorso-ventral anterior-pasterior hampir sama sehingga bentuknya agak bundar,
seperti tersaji pada Gambar 4.
Pembentukan cangkang didasari oleh teori kompartemen atau adanya
peranan beberapa kompartemen tubuh, seperti hemolimf, jaringan tubuh
ekstrapallial, dan cangkang yang terlibat dalam proses biomineralisasi. Pembuatan
cangkang membutuhkan bahan-bahan inorganik, seperti kalsium (Ca2+) dan
bikarbonat (HCO3-) yang nantinya akan membentuk kristal CaCO3 (Gardner
2008). Lapisan penyusun cangkang terdiri atas bagian luar atau periostrakum
yang tersusun dari zat organik (chitin), bagian tengah atau prismatik yang tersusun
dari kristal kalsite dan bagian dalam atau nacreus yang tersusun dari matriks
organik dan kalsium karbonat (kristal aragonite) (Gardner 2008). Mineralisasi
cangkang mencakup beberapa hal, yaitu perpindahan Ca dan HCO3 dari medium
eksternal selama deposisi cangkang, pembongkaran Ca dan HCO3 dari cangkang
bila kadar hemolimf mengalami defisit, sekresi material organik oleh mantel
untuk mineralisasi cangkang dan pertukaran ion pada jaringan epitel tubuh
(Wilbur dan Saleuddin 1983).
8

Gambar 4 Morfologi cangkang luar dan cangkang dalam tiram Pinctada


maxima (Wilbur dan Saleuddin 1983)
Keterangan:
1. 1. Dorsal margin (tepi bawah)
2. 2. Umbo
3. 3. Anterior ear (telinga depan)
4. 4. Anterior margin (tepi depan)
5. 5. Ventral margin (tepi atas)
6. 6. Growth line (garis pertumbuhan)
7. 7. Posterior margin (tepi belakang)
8. 8. Posterior ear (telinga belakang)
9. 9. Hinge line (garis engsel)
10. 10. Ligamen
11. Byssus notch (takik bisus)
12. Impressions of pallial muscles (bekas otot pallial)
13. Pallial line (garis pallial)
14. Nacre
15. Non-nacreous border (batas bukan nacre)
16. Impression of adductor (bekas otot aduktor)
17. Impression of retractor (bekas otot retraktor)

.
Bagian Mantel

Mantel adalah organ tubuh tiram yang menutupi organ bagian dalam dan
sebagian melekat dengan otot aduktor. Secara makro, mantel terdiri atas 4 zona,
yaitu zona sentral, zona marginal, zona pallial, dan isthmus (tersaji pada Gambar
5). Zona sentral berfungsi untuk melindungi organ dalam, zona marginal
merupakan zona bagian luar yang berhubungan dengan periostracal groove,
isthmus berhubungan dengan engsel bagian dalam, serta zona pallial yang sangat
9

penting karena dipakai sebagai saibo ketika implantasi dilakukan serta berisi
jaringan saraf dan arteri pallial (Acosta-Salmn dan Southgate 2005).

Gambar 5 Fotograf zona mantel Pinctada margaritifera yang terdiri atas zona
marginal (Mz), zona sentral (Cz), zona pallial (Pz), dan isthmus (It)
(Acosta-Salmn dan Southgate 2005).

Mantel mempunyai peranan penting dalam mineralisasi cangkang dan


pelapisan mutiara, karena terdiri atas sel-sel epitel yang dapat meregulasi ion-ion
dari lingkungan yang melewati insang, kemudian hemolimf, diteruskan ke bagian
luar epitel mantel dan masuk ke bagian dalam epitel mantel. Ion-ion melewati
mantel selama mineralisasi yang dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu
secara pasif ke gradien elektrokimia, transport aktif, dan pergerakan Ca yang
harus bergandengan dengan ion lain. Epitel mantel bagian luar sebagian melekat
pada cangkang (periostracum) dan sebagian lagi menjulur ke lingkungan,
mengandung sel kuboiodal yang dilingkari oleh sel-sel mukus, hal yang sama juga
ada pada bagian epitel mantel lainnya. Bagian-bagian mantel yang berhubungan
dengan cangkang tersaji pada Gambar 6 (Wilbur dan Saleuddin 1983).
Secara histologi, mantel terdiri atas selaput jaringan penghubung yang
dilindungi sel-sel epitel, bagian yang berhubungan dengan cangkang sebelah
dalam disebut epitel luar, mengeluarkan zat kapur untuk membentuk cangkang.
Sel epitel luar ini juga menghasilkan kristal kalsium karbonat (CaCO3) dalam
bentuk kristal aragonit, lebih dikenal sebagai nacre dan kristal heksagonal
kalsite yang merupakan pembentuk lapisan seperti prisma pada cangkang. Sel-sel
ini juga mengeluarkan zat organik dan protein yang disebut conchiolin
(C32H48N2O11), dengan bahan kristal yang mengandung kapur sebagai perekat dan
seperti lendir (Cahn 1949).
Potongan mantel yang diambil dari tiram dimasukkan ke dalam organ
bagian dalam, maka sel epitel tersebut dapat memproduksi sel-sel baru dan terus
berkembang di samping menghasilkan bahan kapur (calcareous). Fungsi sel
epitelium ialah memproduksi sel-sel baru selama proses pembentukan lapisan
mutiara (Wada dan Komaru 1994). Pada kondisi yang sesuai, mantel dapat
dicangkokkan ke dalam organ lain. Ekstrapallial memegang peranan penting pada
proses biomineralisasi cangkang karena terletak di antara mantel bagian luar,
periostrocum dan bagian internal cangkang, tetapi konsep dari peran bagian
exrapallial sangat kompleks dan kontroversial (Wilbur dan Saleuddin 1983).
10

Menurut Marin et al. (2007) cairan diseksresikan ke dalam ekstrapallial selama


proses mineralisasi dan merupakan bagian penting dalam proses perkembangan
cangkang.

Gambar 6 Bagian mantel dan cangkang (Wilbur dan Saleuddin 1983).


Keterangan : lapisan cangkang prismatic (PR), lapisan nacreus
cangkang (NC), pallial line (PL), pallial muscle (PM), inner
epithelium (IM), mucosa cell (MC), pallial nerve (PN), longitudinal
pallial muscle (LPM), inner fold (IF), middle fold (MF), outer fold
(OF), outer epithelium (OE), periostracal groove (PG), periostracum
(P), ekstrapallial space (EPS).

Bagian Cairan Ekstrapallial

Secara garis besar, pada cairan ekstrapallial moluska air tawar maupun air
laut ditemukan kation seperti Na, K, dan Ca, serta anion seperti HCO3, Cl, dan
SO4 (Ma et al. 2007). Kalsium (Ca2+) dan karbonat (HCO3-) akan membentuk
kristal CaCO3 dengan melibatkan hemolimf dan jaringan tubuh seperti bagian
ekstrapallial serta cangkang.
Formasi cangkang dibentuk dengan memproduksi CaCO3 sesuai dengan
reaksi:

CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3- H+ + CO32-

Ca2+ + HCO3- CaCO3 + H+

Peningkatan deposisi cangkang selalu berasosiasi dengan peningkatan


aktivitas enzim karbonik anhidrase dalam jaringan mantel, sedangkan
penghambatan enzim karbonik anhidrase signifikan menurunkan laju mineralisasi.
Pada molluska laut, ion-ion tersebut didapatkan dari medium eksternal dengan
dua cara, yakni proses regulasi mineral dari periostrocum yang masuk ke bagian
ekstrapallial dan transfer ion dari insang yang masuk ke hemolimf dan lambung.
Bagian ekstrapalial memegang peranan penting dalam mengatur pH selama
11

pertukaran Ca/H melewati membran luar dari epitel mantel (Wilbur dan Saleuddin
1983).

Reproduksi Tiram Mutiara

Tiram mutiara mempunyai jenis kelamin terpisah, kecuali pada beberapa


kasus tertentu ditemukan sejumlah individu yang hermaprodit. Perubahan kelamin
biasanya terjadi setelah memijah atau pada fase awal perkembangan gonad.
Berdasarkan deskripsi perkembangan gonad, tingkat kematangan gonad tiram
mutiara betina dikelompokkan menjadi lima fase. Fase I ialah tahap tidak aktif
atau istirahat (inactive atau resting). Pada fase ini gonad berukuran kecil dan
bening transparan, pada beberapa kasus gonad berwarna jingga. Pengamatan pada
fase ini sangat sulit dilakukan. Fase II ialah perkembangan atau pematangan
(developing atau maturing). Pada fase ini material gametogenik atau sel kelamin
mulai ada dalam gonad, saat mencapai fase lanjut, gonad mulai menyebar di
sepanjang bagian posterior sekitar otot refraktor dan lebih terlihat jelas di bagian
anterior dorsal. Sebagian besar oocyte (bakal telur) bentuknya belum beraturan
dan inti belum terlihat. Fase III, yaitu fase matang (mature), gonad tersebar
merata hampir di seluruh organ pencernaan, biasanya berwarna krem kekuningan
dan sebagian besar oocyte berbentuk seperti buah pir dengan ukuran 68 m x 50
m dan inti berukuran 25 m. Fase IV memiliki ciri matang penuh atau memijah
sebagian (fully maturation atau partially spawned), gonad mengembung, tersebar
merata, secara konsisten akan keluar dengan sendirinya bila ada sedikit getaran.
Oocyte terdapat di seluruh dinding kantong serta hampir semuanya berbentuk
bulat dan berinti, oocyte berukuran rata-rata 51,7 2 m. Fase V ialah fase salin
(spent). Pada fase ini bagian permukaan gonad mulai menyusut dan mengkerut
dengan sedikit gonad tertinggal di dalam lumen (saluran-saluran di dalam organ
reproduksi) dan kembali ke fase I (Eckelbarger dan Davis 1996a, 1996b)

Faktor-Faktor Ekologi yang Mempengaruhi Pertumbuhan Tiram Mutiara

Batasan-batasan faktor ekologi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi


reproduksi tiram mutiara seperti pada pembenihan adalah lokasi terlindung, dasar
perairan, arus, salinitas, suhu, kecerahan, pH air, dan oksigen terlarut (Winanto et
al. 2001; Winanto 2004; Winanto et al. 2009)

Lokasi terlindung
Lokasi yang ideal untuk pembenihan tiram mutiara ialah berdekatan dengan
pantai yang secara alami terlindung dari pengaruh angin dan gelombang besar
yang dapat menyebabkan kondisi perairan menjadi keruh. Lokasi yang terlindung
sangat diperlukan untuk pemeliharaan, khususnya untuk induk. Hal ini
dikarenakan selain dapat terhindar dari stress fisiologis, seperti mengeluarkan
semua isi gonad atau memijah sebelum waktunya. Lokasi pembenihan yang
terlindung dapat dijumpai di daerah sekitar teluk atau pulau-pulau kecil.
12

Dasar perairan
Kondisi dasar perairan seperti karang berpasir atau berkarang merupakan
lokasi yang baik untuk peletakan inlet atau pipa untuk mengambil air laut guna
keperluan operasional pembenihan. Selain itu dapat memilih lokasi dengan dasar
perairan pecahan-pecahan karang.

Arus
Arus yang kuat dapat mengaduk dasar perairan sehingga parairan menjadi
keruh dan dapat bercampur dengan substansi lain yang tidak diinginkan. Selain
itu, pasang surut air laut harus diperhatikan karena dapat menyediakan dan
menggantikan air secara total dan terus-menerus sehingga perairan terhindar dari
kemungkinan adanya limbah atau bahan pencemar lainnya.

Salinitas
Tiram mutiara tidak dapat hidup pada salinitas di bawah 15 ppt dan di atas
50 ppt karena dapat mengakibatkan kematian hingga 100%. Tiram mutiara dapat
hidup pada salinitas antara 24-50 ppt. Salinitas yang optimal bagi pertumbuhan
tiram mutiara adalah 32-35 ppt, oleh karena itu pemilihan lokasi pembenihan
sebaiknya di perairan yang memiliki salinitas kisaran ini.

Suhu
Umumnya, tiram mutiara tidak dapat hidup di bawah suhu 18oC , sedangkan
untuk kelangsungan hidup tiram mutiara membutuhkan lingkungan dengan suhu
berkisar 25-30oC. Suhu air kisaran 27-30oC juga dianggap cukup layak untuk
kehidupan tiram mutiara.
Dalam kondisi laboratorium, suhu yang bervariasi dapat mempengaruhi
waktu penempelan larva tiram mutiara. Pada suhu 28,2-29,8C, larva akan
menempatkan diri untuk menetap dan melekat pada substrat setelah berumur 24
hari. Selanjutnya, pada rentang suhu 24,3-27,2C, larva baru akan melekat setelah
32 hari. Sementara pada suhu rendah, sebagian besar tiram mutiara akan
menghabiskan waktunya untuk melakukan metamorfosis secara lengkap dan
melekatkan diri untuk menetap. Selain itu suhu air dapat mempengaruhi proses
metabolisme. Perubahan suhu, walaupun kecil, selama pemeliharaan larva dapat
mengakibatkan kematian. Pada suhu 24-30C, tiram mutiara (Pinctada
margaritifera) sangat aktif melakukan kegiatan metabolisme, sedangkan pada
suhu 18-20C tiram mutiara tidak aktif lagi. Suhu air yang baik untuk
pemeliharaan larva berkisar 25-27C. Di Balai Budi Daya Laut Lampung, larva
dan spat Pinctada maxima menunjukkan kelangsungan hidup dan pertumbuhan
yang baik pada kisaran suhu antara 26-28C.

Kecerahan
Kecerahan air penting karena berhubungan dengan kedalaman penetrasi
cahaya yang dibutuhkan oleh organisme, bila sedikit cahaya (agak gelap) maka
cangkang tiram akan terbuka lebar, sedangkan bila cahaya terang cangkang
kurang terbuka lebar. Oleh karena itu, proses pemeliharaan larva dan spat harus
dalam keadaan agak gelap sehingga tiram tersebut merasa nyaman dalam
melakukan filtrasi makanan.
13

Pada saat larva masih stadia veliger, kecerahan yang tidak terlalu tinggi
akan melindungi tubuhnya dari radiasi sinar ultraviolet karena larva masih bersifat
fototaksis positif (menyukai cahaya) dan umumnya proses metamorfosis
memerlukan sinar yang sesuai dan kebutuhan sinar pada tiap spesies tidak sama.
Kecerahan air antara 4,5-6,5 m sangat baik untuk dijadikan lokasi pemeliharaan
induk.

Derajat keasaman (pH) air


Tiram mutiara tidak dapat hidup pada derajat keasaman air atau pH perairan
yang lebih tinggi dari 9 dan kurang dari 4. Tiram mutiara dapat hidup pada pH
berkisar 6,75-8,6 sedangkan pH optimum bagi pertumbuhan tiram mutiara
berkisar 6,75-7,00. Pada pH 4,0-6,5, tiram mengalami penurunan pertumbuhan
dan jumlah tiram yang normal hanya sekitar 10%.

Oksigen terlarut (DO)


Oksigen terlarut dapat menjadi faktor pembatasan kelangsungan hidup dan
perkembangannya. Tiram mutiara dapat hidup baik pada perairan dengan
kandungan oksigen terlarut berkisar 5,2-6,6 ppm. Pendapat yang berbeda
menyatakan bahwa tiram mutiara tidak akan mengalami banyak stress pada
kisaran konsentrasi oksigen terlarut yang terbatas. Hal ini merupakan fakta karena
metabolisme pada kebanyakan moluska bergantung pada batas tekanan oksigen
terlarut dan dapat bertahan sampai mencapai batas tekanan terendah hingga
oksigen terlarut akan naik kembali.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan oksigen terlarut tiram
mutiara Pinctada fucata berukuran 40-50 mm mengonsumsi oksigen sebanyak
1,339 L/L, ukuran 50-60 mm mengonsumsi 1,650 L/L, dan ukuran 60-70 mm
mengonsumsi 1,810 L/L. Di tempat pemeliharaan yang terkendali, seperti
hatchery, sebenarnya kebutuhan oksigen terlarut tidak menjadi masalah.
Ketersedian oksigen terlarut dapat diatasi dengan membuat udara buatan melalui
alat blower.

Fisiologi Pembentukan Mutiara

Pembentukan Kantung Mutiara


Kantung mutiara berasal dari potongan mantel tiram mutiara lain (saibo)
yang diimplantasikan bersama-sama dengan inti. Potongan mantel tersebut
mengalami perkembangan membentuk seperti kantung mengelilingi inti yang
kemudian mensekresikan bahan-bahan yang diperlukan dalam pelapisan mutiara.
Secara histologi pada Pinctada margaritifera dari Polynesia Prancis terlihat
bagian innermantel yang diimplantasi ke dalam gonad mengalami degradasi dan
hanya tersisa bagian outer mantel. Bagian luar mantel inilah yang akan
mengalami pertumbuhan dan perkembangan kemudian membentuk kantung
mutiara dalam waktu sekitar 30 hari serta membutuhkan waktu rata-rata 18 bulan
untuk menghasilkan mutiara. Setelah hari pertama pascaoperasi, terjadi infiltrasi
hemosit yang tinggi akibat adanya luka/sayatan pada gonad. Setelah 6 hari,
jaringan mengalami penyembuhan yang ditandai dengan berkurangnya infiltrasi
hemosit, jaringan epitel berkembang sepanjang jaringan ikat, kantung mutiara
tumbuh mengelilingi inti, serta gamet terjebak dalam rongga inti. Setelah 12 hari,
14

kantung mutiara hampir terbentuk yang terdiri atas lapisan sel epitel pipih dan
berbentuk kubus yang didukung oleh serat-serat halus stroma. Matriks organik
teramati pada rongga inti yang menandai tahap awal proses mineralisasi, namun
matriks organik sering terdistorsi oleh hadirnya sisa-sisa atau puing-puing sel
gamet di dalam rongga inti. Setelah 30 hari, kantung mutiara telah terbentuk
sempurna, sebagaimana tersaji pada Gambar 7 (Cochennec-Laureau et al. 2010).

Gambar 7 Pola tahapan yang berbeda dalam pembentukan kantung mutiara


pada tiram Pinctada fucata. Keterangan : (1) Inti dimasukkan ke
bagian gonad, (2) Setelah 15 hari, kantung mutiara menyatu dengan
jaringan ikat (inti telah diterima oleh tiram inang = A, inti ditutupi
oleh gamet = B), (3) Setelah 30 hari, sebuah kantung mutiara lengkap
dapat diamati dengan struktur homogen (Cochennec-Laureau et al.
2010).

Pembentukan Mutiara
Mutiara dihasilkan secara alami dan budi daya. Mutiara yang dihasilkan
secara alami dapat ditemukan di alam, namun sudah sangat langka. Teori
pembentukan mutiara alami terjadi akibat adanya partikel padat yang terjebak
dalam tubuh tiram, terutama antara bagian mantel dan cangkang bagian dalam.
Mantel akan menyelubungi partikel padat tersebut. Bagian mantel kemudian
menyelubungi partikel padat tersebut, dan bagian mantel inilah yang disebut
sebagai kantung kantung mutiara (tersaji pada Gambar 8). Namun, belum ada
bukti ilmiah yang mendukung teori ini karena dari beberapa mutiara alami yang
dibedah menunjukkan bahwa bagian inti mutiara bukanlah partikel padat (Strack
2006).
15

Gambar 8 Teori pembentukan mutiara secara alami (Strack 2006).


Keterangan :
1. Adanya partikel padat yang terjebak antara mantel dan cangkang bagian
dalam.
2. Sel-sel epitel mantel akan memisahkan partikel padat dengan cara
menyelubunginya.
3. Sel-sel epitel mantel telah menyelubungi partikel padat dan sel-sel epitel
mantel inilah yang disebut kantung mutiara.

Mutiara budi daya terdiri atas 2 bentuk, yakni berupa mutiara blister
(setengah lingkaran) dan mutiara bulat. Mutiara blister dihasilkan dengan cara
melekatkan inti di dinding cangkang bagian dalam (tersaji pada Gambar 9),
sedangkan mutiara bulat (tersaji pada Gambar 10) dihasilkan dengan cara
implantation atau implantasi, yaitu dengan menyisipkan inti bersama selembar
organ mantel (irisan daging tiram mutiara lain yang dikenal dengan nama saibo)
ke gonad tiram mutiara. Mantel yang dijadikan saibo diambil dari zona pallial
mantel karena zona ini berisi banyak jaringan saraf dan arteri pallial. Mantel atau
saibo yang disisipkan akan berkembang mengelilingi inti menyerupai kantung
sehingga disebut kantung mutiara (Acosta-Salmn dan Southgate 2005).
Pembentukan kantung mutiara menjadi sangat penting karena akan menentukan
kualitas mutiara. Untuk mendapatkan kantung mutiara yang baik maka harus
melakukan kajian tentang pemilihan saibo. Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa saibo dapat menentukan warna mutiara sesuai yang
diinginkan. Warna mutiara bervariasi sesuai dengan kesukaan seseorang, ada yang
berwarna pink, kuning, perak, dan hitam (Gambar 11), tetapi tidak hanya dari segi
warna, mutiara juga dinilai dari segi ukuran, bentuk, permukaan, dan kilauan
mutiara (Gambar 12)
16

Gambar 9 Peletakan inti pada dinding cangkang bagian dalam untuk


menghasilkan mutiara blister (setengah lingkaran).

Gambar 10 Peletakan inti pada bagian ventral gonad untuk menghasilkan


mutiara bulat.

Gambar 11 Berbagai macam warna mutiara yang dapat dihasilkan melalui budi
daya mutiara.
17

Gambar 12 Berbagai macam ukuran, bentuk, permukaan, dan kilauan mutiara.

Proses pelapisan inti mutiara membutuhkan biomineralisasi yang rumit


sehingga sampai sekarang belum jelas ditetapkan, walaupun telah banyak
penelitian dilakukan untuk mengungkap hal ini. Proses pembentukan mutiara hasil
budi daya membutuhkan campur tangan manusia karena harus melakukan
implantasi pada bagian gonad dengan memasukkan inti dan saibo (irisan mantel
tiram mutiara lain). Organ mantel ini diambil dari individu tiram mutiara yang
lain dan berperan sebagai donor. Inti dan irisan mantel ditempatkan di bagian
gonad tiram setelah sebelumnya dibuat irisan kecil pada dinding gonad, irisan
daging mantel akan membentuk kantung mutiara (pearl sac) dan nantinya akan
memproduksi nacre, bila implantasi hanya memasukkan inti saja maka mutiara
tidak terbentuk (Strack 2006). Jika potongan mantel yang diambil dari tiram
dimasukkan ke dalam organ bagian dalam (gonad), maka sel epitel mantel
tersebut dapat memproduksi sel-sel baru dan terus berkembang di samping
menghasilkan bahan kapur (calcareous). Fungsi sel epitel ialah memproduksi sel-
sel baru selama proses pembentukan lapisan mutiara (Wada dan Komaru 1994).
Sel epitel luar dari mantel juga menghasilkan kristal kalsium karbonat
(CaCO3) dalam bentuk kristal aragonit, yang lebih dikenal sebagai nacre atau
mother of pearl dan kristal kalsite yang merupakan pembentuk lapisan seperti
lapisan prismatik pada cangkang. Sel-sel ini juga mengeluarkan zat organik dan
protein yang disebut conchiolin (C32H48N2O11), dengan bahan kristal yang
mengandung kapur sebagai perekat dan seperti lendir (Cahn 1949). Proses
selanjutnya memerlukan kontrol bahan-bahan inorganik, seperti kalsium dan
karbonat oleh hormon serta enzim. Kontrol biomineralisasi selama pembentukan
mutiara membutuhkan metabolisme kalsium yang melibatkan calmodulin (CAM)
dan calmodulin-like protein (CaLP) karena secara bersama-sama melakukan
absorbsi, transpor, sekresi, deposisi, dan akumulasi kalsium dalam tubuh tiram.
Calmodulin-like protein adalah bagian dari matriks protein cangkang yang
berhubungan dengan pembentukan kristal kalsite pada lapisan prismatik cangkang
(Li et al. 2005). Calmodulin merupakan protein pengikat kalsium yang dapat
mempengaruhi banyak fungsi seluler yang berbeda. CAM berfungsi antara lain
menengahi proses seperti peradangan, metabolisme, apoptosis, kontraksi otot
18

polos, gerakan intraseluler, memori, pertumbuhan saraf, dan respons imun. Saat
tiram mutiara mengalami luka sayatan akibat implantasi inti maka diduga akan
mempengaruhi kerja sel, terutama kerja fosfolipase C (PLC) yang menghidrolisis
ikatan fosfodiester pada phosphatidylinositol 4,5-bisphosphate untuk
menghasilkan diasilgliserol (DAG) dan inositol 1,4,5-trifosfat yang dikenal
dengan second mesenger. Sinyal IP3 menyebabkan pelepasan kalsium dari
retikulum endoplasma dengan bantuan pompa Ca2+-ATPase (Ca2+ terkumpul dalam
sitosol akibat disekresikan oleh RE), dan pelepasan kalsium dari mitokondria
dengan bantuan antiport Ca2+-Na+. Phosphatidylserine akan mengaktivasi
phosphokinase C (PKC) untuk berikatan dengan DAG. Selain itu, akibat
kelebihan Ca2+ sitosolik maka sel akan terus mentranspor Ca2+ ke CES sehingga
Ca2+ sitosol menjadi normal kembali. CAM mengalami perubahan konformasi
pada saat mengikat kalsium, yang memungkinkan untuk mengikat protein khusus
untuk penanganan khusus. CAM memiliki bobot molekul sekitar 16.700 yang
dapat mengikat hingga empat ion kalsium, dan dapat menjalani modifikasi
pascatranslasi sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan sel target, seperti
pelapisan mutiara.
Fungsi CaLP (Calmodulin-Like Protein) ialah mengikat protein untuk
memfasilitasi trasformasi kalsite di lapisan prismatik menjadi aragonite pada
lapisan nacre (Marin dan Luquet 2004; Marin et al. 2007). Penelitian lain tentang
CaLP pada tiram mutiara jenis Pinctada fucata menemukan bahwa dengan
pewarnaan imunohistologi pada cangkang dideteksi CaLP di sekitar lapisan
prismatik (kalsite) dan bagian nacre (aragonite). Secara in vitro CaLP
berpengaruh pada pembentukan kristal kalsite, serta CaLP berkombinasi dengan
protein yang larut dalam air akan membentuk kristal aragonite pada nacre,
sehingga CaLP dimungkinkan berperan selama pembentukan nacre pada mutiara
(Yan et al. 2007).
Peran matriks protein sangat penting dalam mencapai proses biomineralisasi
(Michenfelder et al. 2003) karena secara histologi matriks protein sudah mulai
terlihat setelah beberapa hari implantasi (Cochennec-Laureau et al. 2010). Enzim
alkaline fosfatase sangat berperan dalam biomineralisasi mutiara karena menurut
Chen et al. (2005) pada Pinctada fucata, asam amino arginina dan lisina
merupakan substrat yang diaktifkan oleh enzim alkaline fosfatase selama
pembentukan mutiara di nacre. Hal ini menjadi menarik karena tidak menjelaskan
peran enzim alkaline fosfatase pada organ lain selama pembentukan mutiara,
sehingga Xie et al. (2007) menemukan bahwa enzim alkaline fosfatase
terdistribusi di hepatic duct sampai diverkula pencernaan serta Jing et al. (2007)
menjelaskan bahwa secara imunohistokimia, asam fosfat positif ditemukan pada
bagian kelenjar pencernaan dan filament atau lembaran insang. Fungsi signal
protein C yang tertinggi terletak pada lipatan luar mantel dan insang, serta adanya
peranan enzim alkaline fosfatase dalam proses tersebut (Chen et al. 2004).
Peran matriks protein sangat penting dalam mencapai proses biomineralisasi
(Michenfelder et al. 2003), karena secara histologi matriks protein sudah mulai
terlihat setelah beberapa hari implantasi (Cochennec-Laureau et al. 2010). Pearlin
dan peral keratin berinteraksi untuk menginduksi nukleasi aragonite (Matsushiro
et al. 2003). Protein matriks organik (OMPs) terlibat dalam pembentukan
cangkang dan mutiara (Zhang dan Zhang 2006). Pada tiram mutiara, struktur
utama dari berbagai OMPs telah diklasifikasikan berdasarkan distribusi atau pola
19

ekspresi gen ke dalam tiga kategori, yaitu OMPs yang ada dalam lapisan
nacreous, di lapisan prismatik, dan di antara kedua lapisan tersebut (ruang
ektrapallial). Sebagian besar OMPs diperkirakan menjalani modifikasi
posttranslasi, terutama untuk nacrein (Miyamoto et al. 2005), glikosilasi dengan
oligosakarida yang mengandung sulfit dan asam sialat (Takakura et al. 2008).
Selain komponen protein, matriks organik dari tiram mutiara berisi struktur
polisakarida dan kitin (Suzuki dan Nagasawa 2007). Lebih jauh lagi Kong et al.
(2009) telah melaporkan bahwa prisilkin-39 memiliki dua fungsi, yaitu
pembentukan kitin dan regulasi bahan-bahan mineral pada bagian prismatik
cangkang tiram Pinctada fucata.
Dengan demikian, komponen matriks organik dari cangkang tiram mutiara
telah mengungkapkan adanya berbagai molekul yang mungkin berinteraksi dan
berkoordinasi untuk pembentukan dan penentuan struktur cangkang polimorfik
(Matsushiro et al. 2003). Menurut Jackson et al. (2010) bahwa informasi tentang
OMPs masih dapat dilakukan melalui analisis transkriptome dari jaringan mantel.
Fungsi dari berbagai komponen matriks organik dalam kaitannya dengan
pembentukan dan penentuan struktur cangkang polimorfik telah diselidiki oleh
kombinasi pendekatan yang berbeda, yaitu kristalisasi secara in vitro kalsium
karbonat (Zaremba et al. 1996) dan secara in vivo dari seluruh proses
pembentukan cangkang dengan " flat pearl" " (Fritz et al. 1994). Eksperimen
terbaru yang dilakukan secara invivo oleh Suzuki et al. (2009) dengan
menggunakan metode interferensi RNA untuk memodifikasi sintesis salah satu
matriks protein, yaitu Pif97 dan Pif80, ke dalam sel-sel epitel luar. Hasilnya
menunjukkan bahwa Pif97 dan Pif80 berperan dalam mengatur kristalisasi
kalsium karbonat pada pembentukan nacre Pinctada fucata.
Hal-hal tersebut di atas telah menjelaskan bahwa komponen matriks organik
memainkan peran penting dalam penentuan struktur cangkang. Sel-sel epitel luar
memainkan peran sentral dalam pembentukan cangkang. Ion anorganik untuk
kristalisasi kalsium karbonat diangkut ke ruang extrapallial dan semua komponen
matriks cangkang disintesis dan disekresikan oleh sel-sel ini. Pembentukan
mutiara juga digambarkan seperti hal-hal tersebut di atas.

3 HISTOLOGI DAN PERUBAHAN FISIOLOGIS SELAMA


PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM Pinctada maxima
DENGAN IMPLANTASI SAIBO DARI GENUS DAN SPESIES TIRAM
DONOR YANG BERBEDA

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Mahasiswa Program Doktor Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 2Dosen Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pasca sarjana IPB, 3Dosen Mayor Budi Daya Perairan Sekolah Pasca
sarjana IPB
ABSTRAK

Penelitian dilakukan untuk mempelajari penggunaan genus dan spesies


tiram donor yang berbeda selama pembentukan kantung mutiara pada Pinctada
20

maxima. Sebanyak tiga ratus dua puluh tiram Pinctada maxima digunakan sebagai
tiram inang dengan rancangan acak lengkap 4 x 4 pola faktorial dengan 20
ulangan. Faktor pertama adalah sumber saibo yang terdiri atas 4 level, yakni
Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera, dan Pinctada maxima.
Faktor kedua adalah waktu setelah implantasi inti dengan 4 level, yakni 1, 2, 3,
dan 4 minggu. Parameter yang diamati adalah persentase tiram yang berhasil
membentuk kantung mutiara, kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan
persentase penutupan inti oleh kantung mutiara, perkembangan histologis kantung
mutiara, konsumsi oksigen, serta kadar glukosa, kalsium, dan fosfor hemolimf.
Tiram inang Pinctada maxima diimplantasi dengan saibo dari genus yang
berbeda, yaitu Atrina vexillum dan Pteria penguin, hanya berhasil membentuk
kantung mutiara masing-masing sebesar 30 dan 45%. Namun, pada tiram
Pinctada maxima yang diimplantasi dengan saibo dari genus yang sama (Pinctada
margaritifera) memiliki persentase tiram yang berhasil membentuk kantung
mutiara mencapai 70% dan saat saibo berasal dari spesies yang sama (Pinctada
maxima) memiliki persentase tiram berhasil membentuk kantung mutiara sedikit
lebih tinggi mencapai 80%. Namun, kecepatan pembentukan kantung mutiara dan
persentase penutupan inti oleh kantung mutiara tiram Pinctada maxima dengan
implantasi saibo dari jenis tiram Pteria penguin, Atrina vexillum dan Pinctada
margaritifera hanya sekitar 20% lebih rendah dibandingkan dengan spesies yang
sama (Pinctada maxima). Konsentrasi glukosa hemolimf dan konsumsi oksigen
tidak terpengaruh oleh spesies dan genus tiram donor yang berbeda. Pembentukan
kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima dengan saibo dari spesies yang
sama memberikan hasil terbaik dibandingkan dengan spesies yang berbeda,
seperti tiram Pinctada margaritifera serta dari genus yang berbeda, seperti Pteria
penguin dan Atrina vexillum.

Kata kunci : Kantung Mutiara, Saibo, Pinctada maxima, Pinctada margaritifera,


Pteria penguin, Atrina vexillum

HISTOLOGICAL AND PHYSIOLOGICAL CHANGES DURING


PEARL SAC FORMATION IN Pinctada maxima HOST OYSTERS
IMPLANTED WITH SAIBOS FROM DIFFERENT GENUS AND SPECIES
OF DONOR OYSTERS

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Doctoral Programme Majoring in Physiology and Pharmacology, Graduate
2
School, Bogor Agricultural University. Majoring in Physiology and
Pharmacology, Graduate School, Bogor Agricultural University, 3Majoring in
Aquaculture, Graduate School, Bogor Agricultural University.

ABSTRACT

An experiment was conducted to study the effect of different genus and


species of donor oysters on the pearl sac formation in Pinctada maxima host
21

oysters. Three hundred and twenty Pinctada maxima host oysters were assigned
into a completely randomized design with a 4 x 4 factorial arrangement with 20
replications. The first factor was the source of saibo consisted of 4 levels i.e.,
Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera, and Pinctada maxima
oysters. The second factor was time after nucleus implantation with 4 levels i.e.,
1, 2, 3, and 4 weeks. The parameters observed were the percentage of successful
oyster to form the pearl sac, the speed of pearl sac growth and the percentage of
nucleus coverage by the pearl sac and histological development of the pearl sac,
oxygen consumption, haemolymph glucose, calcium, and phosphorus
concentrations. Pinctada maxima host oysters implanted with saibo from different
genus of Atrina vexillum and Pteria penguin only succeeded in forming pearl sac
by 30 and 45%, respectively. However, in Pinctada maxima oysters implanted
with saibo from the same genus with different species, Pinctada margaritifera
oyster, the percentage of host oysters succeeded in forming pearl sac 4 weeks
observation after nucleus implantation reached 70% and when implanted saibos
were from the same species, Pinctada maxima, the percentage of oysters
succeeded in forming pearl sac was slightly higher and reached 80%. However,
the speed of pearl sac formation and the percentage of nucleus coverage by pearl
sac in Pinctada maxima host oysters implanted with saibos obtained from
different genus and species of Pteria penguin, Atrina vexillum and Pinctada
margaritifera only around 20% lower than in those implanted with saibos
obtained from the same species of Pinctada maxima donor oysters. Haemolymph
glucose concentrations and oxygen consumption were not affected by the different
species and genus of donor oysters. Different species and genus of donor oysters
showed a different haemolymph calcium and phosphorus concentrations patterns
during 4 weeks pearl sac formation after nucleus implantation. In conclusion,
pearl sac formation in Pinctada maxima host oysters gave the best result when the
saibos used were from the same species as compared to those from different
species such as Pinctada margaritifera oysters and from different genus such as
Pteria penguin and Atrina vexillum.

Keywords: Pearl sac formation, Saibo, Pinctada maxima, Pinctada margaritifera,


Pteria penguin, Atrina vexillum

Pendahuluan

Mutiara hasil budi daya yang berasal dari tiram Pinctada maxima umumnya
sangat disukai karena memiliki kualitas yang tinggi. Kualitas mutiara hasil budi
daya salah satunya ditentukan oleh kualitas saibo. Saibo diambil dari bagian
mantel tiram lain, tepatnya bagian pallial, karena memiliki jaringan saraf dan
arteri pallial (Acosta-Salmn et al. 2004). Secara histologis, mantel terdiri atas
selaput jaringan penghubung yang dilindungi oleh sel-sel epitel. Bagian yang
berhubungan dengan cangkang sebelah dalam disebut epitel luar atau outer mantel
yang menghasilkan kristal kalsium karbonat (CaCO3) dalam bentuk kristal
aragonit, yang lebih dikenal sebagai nacre atau mother of pearl dan kristal
kalsite yang merupakan pembentuk lapisan prismatik pada cangkang (Cahn 1949).
22

Setelah implantasi saibo dan inti, maka bagian inner mantel dari saibo
mengalami degradasi dan yang tersisa adalah bagian outer mantel, selanjutnya
bagian outer mantel berkembang dari sel-sel epitel yang kompleks menjadi sel-sel
epitel yang sederhana dan akhirnya membentuk kantung mutiara dengan menutupi
inti secara keseluruhan (Cochennec-Laureau et al. 2010). Sel-sel tiram donor
dapat bertahan sebagai kantung mutiara sampai masa panen mutiara (Arnaud-
Haond et al. 2007). McGinty et al. (2011) menunjukkan bahwa sel-sel donor juga
aktif dalam proses transkripsi, terutama mensekresi matriks protein nacreous yang
berkontribusi terhadap pembentukan mutiara.
Kelangsungan hidup jaringan mantel yang diimplantasi menunjukkan bahwa
ada kerja sama biologis yang kompleks antara dua genus yang unik selama proses
biomineralisasi inti (Cochennec-Laureau et al. 2010). Pada tiram Pinctada fucata
setelah 12 dan 18 bulan implantasi ditemukan sel-sel mantel tiram donor yang
bertahan sebagai kantung mutiara dan berkontribusi untuk pembentukan nacre
mutiara (Masaoka et al. 2013).
Beberapa penelitian sebelumnya juga telah menemukan bahwa adanya
kecenderungan warna nacre dari cangkang tiram donor dapat mempengaruhi
keseluruhan warna mutiara yang dihasilkan (Taylor 2002; Zhifeng et al. 2012).
Telah terdeteksi dua matriks protein nacre (N44 dan N66) pada kantung mutiara.
Penelitian ini juga telah mengkonfirmasi untuk enam matriks protein lain, yakni
Nacrein, EFCBP, N16, ACCBP, MSI60, dan N19 (Wang et al. 2009).
Penelitian xenografts antara tiram Pinctada maxima dan Pinctada
margaritifera menunjukkan bahwa hasilnya tidak mempengaruhi pembentukan
kantung mutiara, walaupun demikian mempengaruhi hasil mutiara seperti warna,
kondisi permukaan, bentuk, ketebalan nacre, dan bobot mutiara. Lapisan nacre
ditemukan lebih besar di xenografts yang terdiri atas Pinctada maxima sebagai
donor dan Pinctada margaritifera sebagai tiram penerima (host) dari pada
perlakuan xenograf terbalik dan allografts. Warna dan kondisi permukaan
mutiara juga sangat dipengaruhi oleh jenis tiram donor yang digunakan sebagai
xenografts , misalnya tiram Pinctada maxima sebagai tiram penerima (host) yang
diimplantasi dengan mantel (saibo) dari Pinctada margaritifera. Hasilnya dari
perlakuan tersebut akan diperoleh lebih banyak mutiara warna hitam dan bila
sebaliknya maka akan diperoleh mutiara warna perak (McGinty et al. 2010).
Mantel dari jenis tiram lain dapat di ditransplantasikan, tetapi akan ditolak oleh
sistem kekebalan tubuh. Oleh karena itu, para ilmuwan mutiara harus dapat
mengembangkan metode baru untuk menekan sistem kekebalan tubuh
(Fukushima et al. 2014).
Beberapa penelitian di atas telah membuktikan bahwa pemilihan saibo
menjadi sangat penting karena saibo menentukan kualitas mutiara, terutama
warna mutiara. Selain itu, hasil perlakuan xenografts telah membuktikan bahwa
saibo dapat diambil dari jenis tiram lain. Untuk itu, perlu mempertegas hasil
temuan di atas dengan melakukan kajian tentang pembentukan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima dengan menggunakan saibo dari famili yang sama
(Atrina vexillum, Pteria penguin, dan Pinctada margaritifera). Kajian ini
dilakukan untuk membandingkan perkembangan kantung mutiara tiram Pinctada
maxima dengan menggunakan sumber saibo yang berbeda.
23

Bahan dan Metode

Hewan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan November 2011 sampai dengan


Januari 2012 di Pulau Garaga Obi (01o25S, 127o20E) Provinsi Maluku Utara,
tepatnya di perusahaan mutiara CV. Duta Aru Indah. Tiram inang menggunakan
tiram Pinctada maxima yang didapatkan dari perusahaan mutiara, sedangkan
tiram donor (sebagai saibo) diambil di sekitar lokasi penelitian. Penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 4x4 dengan 20 kali
ulangan. Faktor pertama adalah jens saibo yang terdiri atas 4 level, yakni saibo
yang berasal dari tiram Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera,
dan Pinctada maxima. Faktor kedua dalah waktu setelah implantasi yang terdiri
atas minggu ke- 1, 2, 3, dan 4.
Total tiram yang digunakan sebanyak 320 ekor yang terdiri atas empat
puluh delapan (48) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
hemolimf (kadar glukosa, kalsium, dan fosfor), kecepatan dan persentase
penutupan inti oleh kantung mutiara (4 x 4 dengan 3 ulangan). Empat puluh
delapan (48) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
parameter histologis. Seratus empat puluh empat (144) tiram digunakan untuk
pengukuran kematian dan penolakan inti. Untuk pengukuran persentase tiram
yang berhasil membentuk kantung mutiara selama 4 minggu percobaan, total 80
tiram yang digunakan (4 group x 20 ulangan). Pemilihan tiram Atrina vexillum,
Pteria penguin, dan Pinctada margaritifera sebagai tiram donor didasarkan pada
kriteria yang sama dalam memilih tiram inang. Prosedur penelitian tersaji pada
Lampiran 1.

Deskripsi Jenis Saibo yang Digunakan

Bagian mantel yang dijadikan sebagai saibo diambil dari bagian pallial.
Saibo jenis tiram Atrina vexillum memiliki bagian pallial mantel yang
permukaanya berwarna putih bercampur kuning, serat-serat otot terlihat jelas,
lebih tipis bila dibandingkan dengan Pteria penguin, setelah disayat saibo menjadi
lebih keras (Gambar 13A). Saibo jenis tiram Pteria penguin memiliki bagian
pallial mantel yang permukaannya berwarna putih bercampur hitam, tidak terlalu
tebal bila dibandingkan dengan saibo tiram Pinctada margaritifera dan serat-serat
otot hanya sedikit terlihat (Gambar 13B). Untuk jenis tiram Pinctada
margaritifera memiliki bagian pallial yang permukaannya berwarna putih
bercampur kuning, agak tebal, serat-serat otot hanya sedikit terlihat, setelah
disayat saibo masih terasa lembut, saibo tiram jenis ini mirip seperti saibo tiram
Pinctada maxima (Gambar 13C). Saibo jenis tiram Pinctada maxima memiliki
bagian pallial mantel yang permukaannya berwarna hitam bercampur kuning,
tidak terlalu tebal bila dibandingkan dengan saibo tiram Pinctada margaritifera
dan serat-serat otot hanya sedikit terlihat (Gambar 13D).
24

Gambar 13 Deskripsi jenis saibo yang diambil dari beberapa jenis tiram Atrina
vexillum (A), Pteria penguin (B), Pinctada margaritifera (C), dan
Pinctada maxima (D).

Paramater Pengamatan
Pengamatan dilakukan setiap minggu selama sebulan, parameter yang
diukur dan diamati meliputi: jumlah kumulatif tiram yang mengalami kematian
dan penolakan inti, persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara,
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara, konsumsi oksigen, kadar
glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf (tersaji pada Lampiran 2),
perkembangan histologis struktur kantung mutiara (lampiran 3), data pendukung
meliputi suhu, salinitas, dan pH air.

Analisis Data
Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis sidik ragam dengan
menggunakan software SAS (Statistic Analisis System) versi 9.1.3 (Mattjik dan
Sumertajaya 2006).

Hasil

Kematian dan Penolakan Inti Kumulatif, Persentase Tiram yang Berhasil


Membentuk Kantung Mutiara pada Tiram Pinctada maxima yang
Diimplantasi dengan Menggunakan Saibo yang Berasal dari Jenis Tiram
Lain

Besarnya persentase tiram yang membentuk kantung mutiara disebabkan


oleh sedikitnya tiram yang mengalami kematian dan penolakan inti. Tiram yang
mengalami kematian disajikan pada Gambar 14 dan penolakan inti disajikan pada
Gambar 15. Perlakuan saibo tiram Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada
margaritifera, dan Pinctada maxima mengalami kematian secara berturut-turut
sebesar 23.3, 21.67, 10, dan 8.3% sedangkan perlakuan saibo tiram Atrina
25

vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera dan Pinctada maxima


mengalami penolakan inti secara berturut-turut sebesar 46.67, 33.3, 20, dan
11.67%. Persentase tiram mutiara yang berhasil membentuk kantung mutiara
disajikan pada Gambar 16. Perlakuan dengan menggunakan saibo yang berasal
dari tiram Atrina vexillum hanya berhasil membentuk kantung mutiara sebesar
30%, perlakuan saibo tiram Pteria penguin sebesar 45% dan perlakuan saibo dari
tiram Pinctada margaritifera sebesar 70%, sedangkan perlakuan saibo dari tiram
Pinctada maxima sebesar 80%.
tiram yang mengalami

30
Jumlah kumulatif

25
kematian (%)

20
15
10
05
00
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 14 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian


selama 4 minggu setelah diimplantasi dengan saibo dari jenis tiram
lain. Keterangan : saibo Atrina vexillum (), Pteria penguin (),
Pinctada margaritifera (), Pinctada maxima ().

50
Jumlah kumulatif tiram

40
penolakan inti (%)
yang mengalami

30
20
10
00
1 2 3 4
Minggu ke -

Gambar 15 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami


penolakan inti selama 4 minggu setelah diimplantasi dengan saibo
dari jenis tiram lain. Keterangan : saibo Atrina vexillum (), Pteria
penguin (), Pinctada margaritifera (), Pinctada maxima ().
26

100

Persentase tiram yang

kantung mutiara (%)


berhasil membentuk
80

60

40

20

0
Saibo

Gambar 16 Persentase tiram Pinctada maxima yang berhasil membentuk


kantung mutiara setelah 4 minggu diimplantasi dengan saibo dari
jenis tiram lain. Keterangan : saibo tiram Atrina vexillum (), Pteria
penguin (), Pinctada margaritifera (), Pinctada maxima ().

Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti dan Persentase Penutupan Inti Mutiara


Tiram Pinctada maxima yang Diimplantasi dengan Menggunakan Saibo yang
Berasal dari Jenis Tiram Lain

Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti dan persentase penutupan inti


mutiara selama 4 minggu pengamatan disajikan pada Tabel 1. Kecepatan saibo
mengelilingi inti dan persentase penutupan inti tiram Pinctada maxima yang
diimplantasi dengan menggunakan saibo dari jenis tiram yang sama lebih tinggi
bila dibandingkan dengan jenis tiram lain. Persentase kecepatan pertumbuhan
kantung mutiara yang diimplantasi dengan saibo Atrina vexillum dibandingkan
dengan saibo Pinctada maxima pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut
sebesar 79, 90, 89, dan 88%, sedangkan persentase kecepatan pertumbuhan
kantung mutiara yang diimplantasi dengan saibo Pteria penguin dibandingkan
dengan saibo Pinctada maxima pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut
sebesar 88, 98, 89, dan 90%. Persentase kecepatan pertumbuhan kantung mutiara
yang diimplantasi dengan saibo Pinctada margaritifera dibandingkan dengan
saibo Pinctada maxima pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut sebesar
94, 98, 94, dan 95%.
Persentase penutupan inti mutiara yang diimplantasi dengan saibo Atrina
vexillum dibandingkan dengan saibo Pinctada maxima pada minggu 1, 2, 3, dan 4
secara berturut-turut sebesar 76, 84, 80, dan 90%, sedangkan persentase
penutupan inti mutiara yang diimplantasi dengan saibo Pteria penguin
dibandingkan dengan saibo Pinctada maxima pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara
berturut-turut sebesar 90, 91, 81, dan 92%. Persentase penutupan inti mutiara
yang diimplantasi dengan saibo Pinctada margaritifera dibandingkan dengan
saibo Pinctada maxima pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut sebesar
94, 98, 94, dan 95%.
27

Tabel 1 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase


penutupan inti pada tiram Pinctada maxima dengan menggunakan
saibo yang diambil dari tiram Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada
margaritifera, dan Pinctada maxima

Minggu ke-
Jenis Saibo
1 2 3 4
Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara (mm/hari)
Tiram Av 1.220.08b 1.750.08b 2.220.82a 2.460.82b
Tiram Pp 1.370.17ab 1.890.09ab 2.220.08a 2.510.08ab
Tiram Pmg 1.460.14ab 1.890.08ab 2.370.08ab 2.650.08ab
Tiram Pmx 1.560.08a 1.930.08a 2.510.08a 2.800.08a
Persentase Penutupan Inti Mutiara (%)
Tiram Av 37.210.78c 58.921.56c 74.421.55b 87.342.37c
Tiram Pp 43.933.23b 64.082.37b 74.940.90b 89.410.10c
Tiram Pmg 43.411.55b 66.661.55b 75.450.90b 93.021.55b
Tiram Pmx 49.102.37a 70.542.05a 93.021.55a 97.160.90a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Keterangan : Av (Atrina vexillum), Pp
(Pteria penguin), Pmg (Pinctada margaritifera), Pmx (Pinctada maxima).

Histologis Infiltrasi Hemosit dan Perkembangan Kantung Mutiara Tiram


Pinctada maxima yang Diimplantasi dengan Menggunakan Saibo yang
Berasal dari Jenis Tiram Lain

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara yang


diimplantasi dengan saibo yang berasal dari tiram Atrina vexillum disajikan pada
Gambar 17. Minggu pertama setelah implantasi terlihat adanya sel-sel inflamasi
dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi terlihat sel-sel
inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi,
jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit dan luka sudah mulai sembuh.
Minggu keempat setelah implantasi, tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel
inflamasi, luka telah sembuh. Jumlah infiltrasi hemosit tersaji pada Tabel 2.
28

Gambar 17 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang
berasal dari tiram Atrina vexillum. Anak panah menunjukkan adanya
hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-
sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang
mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), sudah tidak
terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah
implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi.
(H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara yang


diimplantasi dengan saibo yang berasal dari tiram Pteria penguin disajikan pada
Gambar 18. Minggu pertama setelah implantasi terlihat adanya sel-sel inflamasi
dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi terlihat sel-sel
inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi,
jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit yang mengindikasikan bahwa
luka sudah mulai sembuh. Minggu keempat setelah implantasi, tidak terlihat lagi
hemosit dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh. Jumlah infiltrasi hemosit tersaji
pada Tabel 2.
29

Gambar 18 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang
berasal dari tiram Pteria penguin. Anak panah menunjukkan adanya
hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-
sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah
implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang
mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih terlihat
jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah
implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi.
(H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara yang


diimplantasi dengan saibo yang berasal dari tiram Pinctada margaritifera
disajikan pada Gambar 19. Minggu pertama setelah implantasi terlihat adanya sel-
sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi terlihat
sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah
implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit dan luka sudah
mulai sembuh. Minggu keempat setelah implantasi, tidak terlihat lagi hemosit dan
sel-sel inflamasi, luka telah sembuh. Jumlah infiltrasi hemosit tersaji pada Tabel
2.
30

Gambar 19 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo yang
berasal dari tiram Pinctada margaritifera. Anak panah menunjukkan
adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat
adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua
setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak
terlihat jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit (mulai sembuh).
Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit
dan sel-sel inflamasi. (H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara yang


diimplantasi dengan saibo yang berasal dari tiram Pinctada maxima disajikan
pada Gambar 20. Minggu pertama setelah implantasi terlihat adanya sel-sel
inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi terlihat sel-
sel inflamasi dan hemosit yang menurun yang mengindikasikan luka mulai
sembuh. Minggu ketiga dan keempat setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi
dan hemosit tidak terlihat lagi. Jumlah infiltrasi hemosit tersaji pada Tabel 2.
31

Gambar 20 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi dengan saibo dari
tiram Pinctada maxima. Anak panah menunjukkan adanya hemosit.
Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel
inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi
(II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), mulai sembuh
ditandai dengan tidak terlihat lagi sel-sel inflamasi dan hemosit.
Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat hemosit dan
sel-sel inflamasi. (H&E.x100).

Histologis perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu pengamatan


dengan perlakuan saibo tiram Atrina vexillum disajikan pada Gambar 21. Pada
minggu pertama setelah implantasi, bagian inner mantel mengalami degradasi dan
tersisa outer mantle yang terdiri atas 5-6 lapis sel-sel epitel kuboid yang akan
mengalami nekrosis (adanya pyknosis dan vakuola), lapisan submukosa yang
mengalami dilatasi sehingga membesar dan tunika muskularis tidak mengalami
perubahan (Gambar 21A). Pada minggu kedua setelah implantasi, terlihat 2-3
lapis sel-sel epitel kuboid, tetapi sebagian besar akan mengalami nekrosis, lapisan
submukosa yang mengalami dilatasi dan adanya hemosit yang mulai berkurang,
sedangkan tunika muskularis tidak berubah (Gambar 21B). Pada minggu ketiga
setelah implantasi, terlihat 1-2 lapis sel-sel epitel kuboid yang masih mengalami
nekrosis dan adanya lapisan submukosa yang masih berdilatasi dan adanya
vakuola-vakuola yang mengindikasikan masih terjadi degenerasi (Gambar 21C).
Pada minggu keempat setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid masih terlihat 1-2
lapis yang masih terjadi nekrosis. Lapisan submukosa masih berdilatasi. Sebagian
32

sel-sel epitel telah membentuk monolayer yang mengelilingi inti, namun belum
sempurna (21D).

Gambar 21 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Atrina vexillum. Minggu
pertama (21A), Minggu kedua (21B), Minggu ketiga (21C), dan
Minggu keempat (21D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel
mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c) Basement
membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis, (f)
Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu pengamatan


dengan perlakuan saibo tiram Pteria penguin disajikan pada Gambar 22. Pada
minggu pertama setelah implantasi, bagian inner mantel mengalami degradasi dan
tersisa outer mantle yang terdiri atas 3-4 lapis sel-sel epitel kuboid yang akan
mengalami nekrosis (adanya pyknosis dan vakuola), lapisan submukosa yang
mulai berdilatasi dan tunika muskularis (Gambar 22A). Pada minggu kedua
setelah implantasi, terlihat 2-3 lapis sel-sel epitel kuboid, tetapi sebagian besar
akan mengalami nekrosis, lapisan submukosa yang berdilatasi dan adanya hemosit
serta tunika muskularis (Gambar 22B). Pada minggu ketiga setelah implantasi,
terlihat 1-2 lapis sel-sel epitel kuboid, adanya lapisan submukosa yang membesar,
adanya vakuola dan pyknosis (Gambar 22C). Pada minggu keempat setelah
implantasi, telah terbentuk sel-sel epitel monolayer yang mengelilingi inti, namun
belum sempurna (Gambar 22D).
33

Gambar 22 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Pteria penguin.
Keterangan: Minggu pertama (22A), Minggu kedua (22B), Minggu
ketiga (22C), dan Minggu keempat (22D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu pengamatan


dengan perlakuan saibo tiram Pinctada margaritifera disajikan pada Gambar 23.
Pada minggu pertama setelah implantasi, bagian inner mantel mengalami
degradasi dan tersisa outer mantle yang terdiri atas 3-4 lapis sel-sel epitel kuboid
yang akan mengalami nekrosis (adanya pyknosis), lapisan submukosa berdilatasi
dan tunika muskularis tidak mengalami perubahan (Gambar 23A). Pada minggu
kedua setelah implantasi, terlihat 2-3 lapis sel-sel epitel kuboid, tetapi sebagian
besar akan mengalami nekrosis, lapisan submukosa yang ikut mengalami dilatasi,
adanya vakuola dan tunika muskularis (Gambar 23B). Pada minggu ketiga setelah
implantasi, terlihat 1-2 lapis sel-sel epitel kuboid, lapisan submukosa yang
mengalami nekrosis, dan vakuola yang mengindikasikan terjadi degenerasi
(Gambar 23C). Pada minggu keempat setelah implantasi, telah terbentuk sel-sel
epitel monolayer yang mengelilingi inti, namun belum sempurna (Gambar 23D).
34

Gambar 23 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Pinctada margaritifera.
Keterangan : Minggu pertama (23A), Minggu kedua (23B), Minggu
ketiga (23C) dan Minggu keempat (23D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu pengamatan


dengan perlakuan saibo tiram Pinctada maxima (jenis yang sama) disajikan pada
Gambar 24. Pada minggu pertama setelah implantasi, terlihat bagian inner mantel
telah mengalami degradasi (nekrosis) dan hanya terlihat bagian outer mantel
berupa 2-3 layer sel-sel epitel mukosa, yaitu sel-sel epitel kuboid, sel-sel
submukosa juga yang mengalami dilatasi (Gambar 24A). Minggu kedua setelah
implantasi, sel-sel epitel kuboid dan sel-sel submukosa masih mengalami
nekrosis, pyknosis, serta adanya vakuola (Gambar 24B). Minggu ketiga setelah
implantasi, telah terlihat sel-sel epitel kuboid monolayer dan hampir mengelilingi
inti (Gambar 24C). Minggu keempat setelah implantasi, kantung mutiara telah
terbentuk berupa sel epitel kuboid monolayer yang mengelilingi inti dan
membentuk kantung mutiara (Gambar 24D).
35

Gambar 24 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan dengan perlakuan saibo tiram Pinctada maxima.
Keterangan : Minggu pertama (24A), Minggu kedua (24B), Minggu
ketiga (24C), dan Minggu keempat (24D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400).

Pada minggu pertama setelah implantasi, semua jenis saibo mengalami


degradasi di bagian inner mantel dan hanya tersisa outer mantel, tetapi saibo tiram
Pinctada maxima lebih cepat mengalami degradasi dengan hanya tersisa 2-3
lapisan sel-sel epitel kuboid dibandingkan dengan saibo Pinctada margaritifera
dan Atrina vexillum yang sama-sama masih tersisa 3-4 lapis, sedangkan saibo
Atrina vexillum lebih lambat mengalami degradasi karena masih tersisa sebanyak
5-6 lapis. Minggu kedua setelah implantasi, saibo tiram Pinctada maxima
mengalami degradasi lebih cepat pada sel-sel epitel kuboid sehingga tersisa 1-2
lapis saja, sedangkan saibo tiram Pinctada margaritifera, Pteria penguin, dan
Atrina vexillum masih tersisa 2-3 lapis. Minggu ketiga setelah implantasi, saibo
Pinctada maxima telah terbentuk sel-sel epitel monolayer yang mengelilingi inti,
namun belum sempurna karena masih ada vakuola-vakuola di sekitarnya,
sedangkan saibo tiram Pinctada margaritifera juga mengalami hal yang sama,
namun masih tersisa 1-2 lapis. Saibo tiram Pteria penguin dan Atrina vexillum
masih terlihat sel-sel epitel kuboid sebanyak 2 lapisan, tetapi sebagian telah
mengalami nekrosis. Minggu keempat setelah implantasi, pada saibo Pinctada
maxima telah terbentuk sel-sel epitel monolayer (selapis) yang mengelilingi inti,
sedangkan pada saibo Pinctada margaritifera sel-sel epitel monolayer telah
36

terbentuk, namun belum sempurna, sedangkan saibo Pteria penguin dan Atrina
vexillum masih terlihat sel-sel epitel kuboid yang masih mengalami nekrosis.
Hasil kuantitatif histologi (Tabel 2) menunjukkan bahwa infiltrasi hemosit
terjadi paling tinggi pada minggu pertama setelah implantasi, namun menurun di
minggu kedua dan minggu ketiga, tetapi minggu keempat tidak terlihat lagi.
Infiltrasi hemosit lebih rendah bila implantasi dilakukan dengan menggunakan
saibo dari genus yang sama tetapi lebih tinggi bila menggunakan saibo dari genus
berbeda. Saibo yang berasal dari genus sama lebih cepat terdegradasi membentuk
sel-sel epitel sederhana (selapis saja) dibandingkan dengan saibo dari genus
berbeda. Hal ini sama dengan jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan
vakuola. Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis pada minggu pertama
lebih tinggi pada tiram yang diimplantasi dengan menggunakan saibo dari tiram
berbeda jenis.

Tabel 2 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,


jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima dengan menggunakan saibo yang diambil dari tiram
Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera dan Pinctada
maxima.

Minggu ke-
Jenis Saibo
1 2 3 4
+
Infiltrasi hemosit (lobus/ LP )
Tiram Av 16.3 2.5*** 9.32.1** x x
Tiram Pp 15.3 1.2*** 7.72.1** x x
Tiram Pmg 7.7 1.5** 4.71.5** x x
Tiram Pmx 5.7 0.6** 3.61.2* x x
Jumlah lapisan sel-sel epitel
Tiram Av 5-6 3-4 2-3 1-2
Tiram Pp 3-4 2-3 1-2 1-2
Tiram Pmg 3-4 2-3 1-2 1-2
Tiram Pmx 2-3 1-2 1 1
Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis (sel/LP++)
Tiram Av 20.02.0a 14.31.5a 8.72.1a 4.71.2
Tiram Pp 18.32.5a 12.31.5a 8.01.7a 4.01.0
Tiram Pmg 17.72.1a 7.31.5b 4.71.2b 4.01.7
b b b
Tiram Pmx 5.70.6 4.71.1 4.31.2 3.71.2
Jumlah vakuola (sel/LP++)
Tiram Av 7.71.5a 6.31.5a 5.01.0b 6.30.5ab
Tiram Pp 8.71.5a 6.20.6a 4.30.6b 7.72.1a
a a a
Tiram Pmg 7.31.5 5.70.6 8.60.5 5.01.0b
Tiram Pmx 3.70.6b 3.80.5a 5.01.0b 6.30.6ab
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Keterangan : Av (Atrina vexillum), Pp
(Pteria penguin), Pmg (Pinctada margaritifera), Pmx (Pinctada maxima). LP+
(Lapang pandang dengan pembesaran 100 kali), LP++ (Lapang pandang dengan
pembesaran 400 kali) *** (Tinggi),**(Sedang), *(Rendah), x (Tidak terlihat).
37

Konsumsi Oksigen, Kadar Glukosa, Kalsium, dan Fosfor Hemolimf Tiram


Pinctada maxima yang Diimplantasi dengan Menggunakan Saibo yang
Berasal dari Jenis Tiram Lain

Konsumsi oksigen pada semua perlakuan sumber saibo tidak berbeda nyata.
Dengan demikian, perbedaan jenis saibo tidak mempengaruhi laju metabolisme
tiram. Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor hemolimf
selama 4 minggu pengamatan disajikan pada Tabel 3. Suhu lingkungan selama
pemeliharaan tiram mengalami fluktuasi sebesar 26.2-30.4oC dan salinitas sebesar
32 ppt. Suhu selama pengamatan laju konsumsi oksigen sebesar 27.5-28oC dan
salinitas sebesar 32 ppt. Kadar glukosa dengan menggunakan saibo tiram Atrina
vexillum memiliki kadar glukosa yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan
saibo tiram Pteria penguin, Pinctada margaritifera, dan Pinctada maxima

Tabel 3 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor


hemolimf pada tiram Pinctada maxima dengan menggunakan saibo
yang diambil dari tiram Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada
margaritifera, dan Pinctada maxima
Sumber Minggu ke -
Saibo 1 2 3 4
Konsumsi Oksigen (mgl O2-1 g-1 jam-1)
Tiram Av 0.00390.0004 0.00370. 0004 0.00370.0003 0.00370.0003
Tiram Pp 0.00380.0005 0.00370.0006 0.00370.0002 0.00360.0002
Tiram Pmg 0.00370.0007 0.00360.0005 0.00380.0002 0.00380.0003
Tiram Pmx 0.00360.0004 0.00350.0001 0.00350.0006 0.00360.0009
Kadar glukosa hemolimf (mg/dL)
ab
Tiram Av 2.250.11 1.490.21b 1.340.05a 0.960.14ab
Tiram Pp 2.680.50a 1.870.78a 1.050.14b 1.420.14a
ab a c
Tiram Pmg 2.370.66 1.840.90 0.870.05 0.560.38b
Tiram Pmx 1.920.80c 1.640.46b 1.250.41a 0.090.003c
Kadar kalsium hemolimf (ppm)
Tiram Av 286.115.19a 288.400.53a 282.670.12b 281.740.83b
Tiram Pp 268.125.01b 272.703.18c 272.840.65d 268.921.89c
c b c
Tiram Pmg 250.430.59 278.762.11 280.491.10 265.893.79c
Tiram Pmx 274.990.70a 283.601.38a 288.390.53a 289.410.68a
Kadar fosfor hemolimf (ppm)
Tiram Av 7.760.90a 4.450.75b 6.361.58b 5.901,12ab
Tiram Pp 5.331.41b 3.551.04b 5.491.60b 5.550,84b
b a b
Tiram Pmg 3.980.31 7.090.67 5.650.45 6.300,61ab
a a a
Tiram Pmx 7.070.41 7.330.73 8.041.93 8.511.60a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Av (Atrina vexillum), Pp (Pteria
penguin), Pmg (Pinctada margaritifera), Pmx (Pinctada maxima).

Perlakuan saibo tiram Pinctada maxima memiliki kadar kalsium dan fosfor
lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan saibo tiram Atrina vexillum,
Pteria penguin, dan Pinctada margaritifera. Rataan kadar kalsium pada semua
perlakuan adalah sekitar 250.43-289.41 ppm, sedangkan kadar fosfor berkisar
38

3.55-10.89 ppm. Walaupun pada setiap minggu kadar kalsium dan fosfor
mengalami fluktuasi, tubuh tiram selalu berusaha untuk menjaga homeostatis.
Pada minggu pertama, perlakuan saibo tiram Atrina vexillum memiliki kadar
fosfor lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan saibo tiram Pteria
penguin, Pinctada margaritifera, dan Pinctada maxima, tetapi pada minggu
kedua, ketiga, dan keempat perlakuan saibo tiram Pinctada maxima memiliki
kadar fosfor lebih tinggi bila dibandingkan dengan perlakuan saibo tiram Pteria
penguin, Atrina vexillum, dan Pinctada margaritifera.

Pembahasan

Hasil penelitian ini menegaskan bahwa ketika sumber saibo itu berasal dari
spesies yang sama atau genus yang sama maka keberhasilan implantasi dan
pembentukan kantung mutiara meningkat secara dramatis bila dibandingkan
dengan tiram yang berasal dari genus yang berbeda. Kegagalan implantasi
terutama disebabkan oleh meningkatnya penolakan saibo dan kematian tiram
inang yang diimplantasi dengan saibo dari genus yang berbeda. Namun, ketika
implantasi itu berhasil, pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara pada
tiram Pinctada maxima sebagai tiram inang hanya berbeda sekitar 20% dengan
saibo yang berasal dari genus yang berbeda. Kelangsungan hidup dan penolakan
inti dengan menggunakan saibo yang berasal dari spesies yang sama dalam
rentang normal. Namun, ketika tiram donor berasal dari genus yang berbeda maka
kelangsungan hidup menurun dan penolakan inti meningkat drastis dan keluar dari
rentang normal. Tiram Pinctada maxima yang berada pada industri mutiara,
kelangsungan hidup tiram inang yang diimplantasi adalah 90-98% dan penolakan
inti adalah 70-90% (Taylor et al. 2008). Namun, pada tiram Pinctada
margaritifera sebagai tiram inang, penolakan inti selama 3 bulan setelah
implantasi mencapai 45,4% (Cochennec-Laureau et al. 2010) dan hasil ini serupa
dengan yang ditemukan di tiram Pinctada maxima yang diimplantasi dengan
saibo dari genus yang berbeda.
Peningkatan kematian dan penolakan inti tiram inang Pinctada maxima
ketika diimplantasi dengan saibo yang diperoleh dari genus yang berbeda atau
tiram donor berbeda mungkin akibat stres yang disebabkan luka sayatan dan
reaksi imun terhadap jaringan yang dicangkokkan dari genus yang berbeda.
Proses implantasi menginduksi stress dan reaksi kekebalan pada tiram inang
sehingga mempengaruhi sistem endokrin dan kekebalan tubuh (Li et al. 2010).
Pengamatan histologi menunjukkan bahwa ada infiltrasi hemosit yang tinggi
dalam jaringan ikat di sekitar gonad tiram inang. Hemosit berfungsi dalam
perbaikan luka, pencernaan, dan transportasi nutrisi, ekskresi dan kekebalan
(Cheng et al. 2004). Namun, hemosit dan infiltrasi sel-sel inflamasi pada tiram
inang Pinctada maxima yang berhasil membentuk kantung mutiara selama 4
minggu implantasi saibo dari genus dan spesies yang berbeda tidak berbeda.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiram inang Pinctada maxima
setelah diimplantasi dengan saibo yang berasal dari genus yang berbeda
mengalami stres yang lebih tinggi seperti yang ditunjukkan oleh konsentrasi
glukosa hemolimf yang lebih tinggi dibandingkan dengan saibo dari spesies dan
genus yang sama. Pola-pola konsentrasi glukosa hemolimf, hemosit, dan infiltrasi
39

sel-sel inflamasi serupa selama 4 minggu pengamatan setelah implantasi inti.


Konsentrasi glukosa hemolimf yang tinggi di awal implantasi dan menurun drastis
seiring dengan pemulihan cedera. Hasil penelitian ini jelas menunjukkan bahwa
tiram inang Pinctada maxima yang diimplantasi dengan saibo dari genus yang
berbeda menunjukkan stres yang lebih tinggi. Penggunaan relaksan dan anestesi
dapat dipertimbangkan untuk mengurangi stres yang disebabkan oleh implantasi
(Hooper et al. 2014).
Mekanisme respons terhadap stres yang berbeda untuk implantasi saibo dari
genus yang berbeda tidak jelas. Organisme yang berbeda meskipun dengan
spesies yang sama memiliki genotipe dan pola antigenisitas yang berbeda. Jarak
dalam filogeni dapat mempengaruhi perbedaan pola antigenisitas. Semakin jauh
perbedaan genotipe antara tiram inang dan tiram donor maka reaksi kekebalan
tiram inang semakin tinggi sehingga lebih banyak menolak inti. Namun, data
dasar tentang keberhasilan implantasi inti dalam genus dan spesies kerang mutiara
yang berbeda tidak tersedia dalam literatur. Data awal dalam membandingkan
teknik xenograft dan allograft dalam genus yang sama tetapi spesies yang berbeda
dari Pinctada maxima dan Pinctada margaritifera menunjukkan bahwa
penggunaan saibo dari spesies yang berbeda tetapi genus yang sama tidak berarti
meningkatkan penolakan inti dan mengurangi retensi inti bila dibandingkan
dengan tiram saat diimplantasi dengan spesies yang sama (McGinty et al. 2010).
Gambaran histologi kantung mutiara menunjukkan bahwa proses
pembentukan kantung mutiara pada penelitian ini membutuhkan waktu lebih dari
30 hari. Sel-sel epitel dari saibo mengalami perubahan menjadi lebih sederhana.
Penelitian sebelumnya tentang kantung mutiara telah dilakukan. Pada kerang air
tawar, proses pembentukan kantung mutiara dimulai dengan proliferasi dari epitel
luar mantel, kemudian adanya sel epitel luar yang membuat lembaran kontinu di
jaringan mesodermal. Selanjutnya, sekresi bahan cangkang (periostracum,
pristmatic, dan nacreous) menyebabkan akumulasi zat pembentuk mutiara di
dalam kantung mutiara itu sendiri (Kawakami 1954). Jenis dan perkembangan sel
epitel kantung mutiara sebagian besar bergantung pada daerah mantel mana yang
dipilih selama implantasi (Dix 1973). Pada kerang air tawar Hyriopsiss chlegelii
membutuhkan waktu 30 hari untuk membentuk kantung mutiara (Shi et al. 1985).
Implantasi mantel di tiga spesies kerang mutiara air tawar, yaitu Hyriopsis
(Limnoscapha) myersiana, H.(L.) desowitzi, dan Chamberlainia hainesiana
terlihat kantung mutiara sepenuhnya dibentuk dalam waktu 15 hari (Panha dan
Kosavititkul 1997). Norton et al. (2000) menunjukkan bahwa jaringan epitel
memiliki kemampuan regenerasi yang cepat dengan fungsi dari masing-masing
jenis sel epitel juga berbeda seperti sel epitel kolumnar mengeluarkan zat yang
membuat periostracum, sementara sel-sel epitel sederhana, sel epitel kuboid
skuamosa tanpa silia menghasilkan zat mutiara untuk lapisan nacreous.
Pembentukan kantung mutiara yang dilakukan secara allograf pada tujuh
spesies kerang air tawar Chamberlainia hainesiana, Hyriopsis (Limnoscapha)
myersiana, H. (H.) bialatus, Pseudodon inoscularis cumingi, H. (L.) dezowitzi,
Pseudodon vondembuschianus ellipticus, dan Pseudodon. Rata-rata pada hari ke-
7, kantung mutiara telah terbentuk dengan adanya sel epitel luar mantel, adanya
beberapa hemosit, adanya sel-sel epitel kuboid sederhana dan sel-sel mukosa.
Pada hari ke-15, banyak hematosit yang ditemukan di kantung mutiara. Pada hari
40

ke-30 terlihat sel-sel epitel kuboid sederhana dan sel epitel skuamosa tanpa silia
(Chatchavalvanich et al. 2010).
Pengalaman di lapangan mungkin mengarahkan penggunaan genus yang
sama atau bahkan spesies yang sama dari tiram donor untuk meningkatkan retensi
inti dan jumlah tiram hidup selama implantasi inti. Data ini dapat digunakan
dalam mengembangkan teknik xenograft dalam meningkatkan kualitas mutiara
yang dihasilkan dalam produksi mutiara dengan menggunakan spesies yang
berbeda dan genus yang berbeda dari tiram donor. Meskipun kematian dan
penolakan inti oleh tiram inang meningkat ketika saibo berasal dari genus yang
berbeda, saat implantasi berhasil dan kantung mutiara telah tumbuh mengelilingi
inti, laju pertumbuhan kantung mutiara dan kecepatan penutupan inti oleh kantung
mutiara hanya lebih rendah sekitar 20%. Hasil penelitian ini jelas menunjukkan
bahwa tiram inang Pinctada maxima jika diimplantasi dengan saibo dari genus
yang berbeda dapat mengembangkan kantung mutiara yang merupakan awal dari
sintesis mutiara. Penggunaan xenograft dapat meningkatkan kualitas mutiara
(McGinty et al. 2010),
Untuk mengurangi jumlah tiram yang mengalami penolakan inti dan
kematian yang tinggi pada tiram inang dapat diselesaikan dengan menggunakan
anestesi dan relaksan sehingga mengurangi stres pada tiram inang (Acosta-
Salmn dan Davis 2007). Pengaruh genus yang berbeda dari tiram donor pada
pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara telah jelas. Tiram inang
Pinctada maxima dapat diimplantasi dengan saibo dari genus yang berbeda dan
spesies yang berbeda menunjukkan degradasi yang lebih lambat dari outer mantel
untuk membentuk satu lapisan sel epitel kuboid selama 4 minggu setelah
implantasi inti. Tiram inang Pinctada maxima yang diimplantasi dengan saibo
dari spesies yang sama (Pinctada maxima), satu minggu setelah implantasi inti
menunjukkan degradasi outer mantle yang cepat untuk membentuk monolayer sel
epitel kuboid. Saat kantung mutiara terbentuk, langkah berikutnya dalam sintesis
mutiara ialah sintesis dan deposisi lapisan matriks organik mengelilingi inti
(Awaji dan Machii 2011). Meskipun kualitas mutiara yang dihasilkan sebagian
besar ditentukan oleh genotipe tiram donor, bahan yang digunakan untuk sintesis
mutiara (lapisan matriks) disediakan oleh tiram inang (Jerry et al. 2012). Sampai
saat ini, mekanisme regulasi dan pensignalan dalam regulasi ketersediaan substrat
di lokasi sintesis mutiara, terutama di lapisan sel-sel kantung mutiara belum
dipahami dengan baik. Data yang ditemukan dalam penelitian ini jelas
menunjukkan bahwa genus yang berbeda dan jenis tiram donor secara signifikan
mempengaruhi pola konsentrasi kalsium dan fosfor hemolimf sebagai mineral
utama yang diperlukan untuk sintesis matriks mutiara. Bagaimana pengaruh pola
yang berbeda dari konsentrasi kalsium dan fosfor hemolimf pada kualitas mutiara
yang dihasilkan diperlukan studi lebih lanjut. Keadaan osmotik dan salinitas air
laut sangat mempengaruhi sistem osmoregulasi dan sinyal osmotik dan ekspresi
gen penyandi saluran ion (Lockwood dan Somero 2011; Zhao et al. 2012; Meng
et al. 2013). Namun, hal ini tidak terkait dengan keadaan osmotik dan salinitas air
laut yang berbeda. Perbedaan dapat dikaitkan dengan interaksi sel-sel antara
jaringan yang diimplan dan sel inang di tempat implantasi.
41

Simpulan

Implantasi pada tiram Pinctada maxima dapat menggunakan saibo dari


tiram jenis lain, pembentukan kantung mutiara pada penggunaan saibo dari tiram
Pinctada margaritifera lebih baik bila dibandingkan dengan saibo tiram Pteria
penguin dan saibo tiram Atrina vexillum.

4 HISTOLOGI DAN PERUBAHAN FISIOLOGI PEMBENTUKAN


KANTUNG MUTIARA TIRAM Pinctada maxima YANG DIIMPLANTASI
PADA USUS, ANUS, DAN VENTRAL GONAD

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3), Nastiti Kusumorini 2)


1
Mahasiswa Program Doktor Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 2Dosen Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 3Dosen Mayor Budi Daya Perairan Sekolah
Pascasarjana IPB
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh perbedaan posisi


peletakan saibo dan inti pada pembentukan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola
faktorial. Faktor pertama adalah posisi implantasi yang terdiri atas 3 level, yakni
usus, anus, dan ventral gonad. Faktor kedua adalah waktu setelah implantasi yang
terdiri atas minggu ke- 1, 2, 3, dan 4. Saibo menggunakan tiram Pinctada maxima
yang telah berumur 28 bulan. Paramater yang diamati meliputi persentase tiram
yang berhasil membentuk kantung mutiara, penolakan inti, kematian, kecepatan
pertumbuhan kantung mutiara dan persentase penutupan inti, histologis kantung
mutiara, konsumsi oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor hemolimf. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa tiram yang dimplantasi pada bagian ventral gonad
memiliki keberhasilan persentase pembentukan kantung mutiara yang lebih tinggi
(80%) selama 4 minggu dibandingkan dengan bagian usus dan anus (secara
berturut-turut 45 dan 55). Jumlah tiram yang mengalami penolakan inti dan
kematian lebih tinggi pada implantasi di bagian usus dan anus. Kecepatan dan
persentase pembentukan kantung mutiara yang diimplantasi pada bagian ventral
gonad lebih tinggi dibandingkan dengan bagian usus dan anus. Tiram yang
diimplantasi pada bagian ventral gonad mengalami peningkatan kadar kalsium
dan fosfor seiring dengan pembentukan kantung mutiara. Selama perkembangan
kantung mutiara, kadar glukosa hemolimf mengalami peningkatan di minggu
pertama setelah implantasi dan menurun di minggu berikutnya. Tiram yang
diimplantasi pada bagian ventral gonad memiliki kadar glukosa hemolimf yang
rendah. Konsumsi oksigen tidak berbeda pada semua posisi implantasi inti.
Struktur morfologis dan histologis perkembangan kantung mutiara tidak berbeda
di semua posisi implantasi, yang dimulai dengan degradasi inner mantel dan
tersisa outer mantel kemudian membentuk sel-sel epitel monolayer yang
42

mengelilingi inti mutiara. Posisi peletakan inti dan saibo di bagian ventral gonad
memberikan hasil yang terbaik, tetapi bagian usus dan anus dapat dijadikan
sebagai alternatif posisi untuk multi lokasi implantasi pada tiram Pinctada
maxima.

Kata kunci: Anus, Kantung mutiara, Usus, Ventral Gonad, Pinctada maxima.

HISTOLOGICAL AND PHYSIOLOGICAL CHANGES DURING


PEARL SAC FORMATION IN Pinctada maxima OYSTERS IMPLANTED
IN THE INTESTINE, ANUS AND GONAD

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Doctoral Programme Majoring in Physiology and Pharmacology, Graduate
2
School, Bogor Agricultural University. Majoring in Physiology and
Pharmacology, Graduate School, Bogor Agricultural University, 3Majoring in
Aquaculture, Graduate School, Bogor Agricultural University.

ABSTRACT
An experiment was conducted to study the pearl sac formation in Pinctada
maxima oyster implanted nuclei in different sites. One hundred and eighty oysters
were assigned into a completely randomized design with a 3 x 4 factorial
arrangement with 20 replications. The first factor was the site of nucleus
implantation consisted of 3 levels i.e., intestine, anus, and ventral gonad. The
second factor was time after implantation with 4 levels i.e., 1, 2, 3, and 4 weeks.
Saibos used were obtained from Pinctada maxima oyster aged 28 months. The
parameters observed were the percentage of successful oyster to form the pearl
sac, the speed and percentage of pearl sac formation, developmental histology of
the pearl sac. Haemolymph glucose, calcium, and phosphorus concentrations
were measured as new biological data in the process of pearl sac formation.
Oysters implanted nuclei in the ventral gonad had the highest percentage that form
pearl sac (80%) 4 weeks after nucleus implantation as compared to those
implanted in the intestines and anus (45 and 55%, respectively). The number of
nucleus rejection and oyster mortality was high in oysters implanted in the
intestine and anus. The speed and percentage of pearl sac formation was the
highest in oyster implanted in the ventral gonad as compared to those implanted in
the anus and intestine. Oysters implanted in the ventral gonad had increased
hemolymph calcium and phosphorus concentrations with the advance of pearl sac
formation. Haemolymph glucose concentration was the highest in the first week
after implantation and decreased and reached the lowest concentrations 4 weeks
after implantation. Oysters implanted nucleus in the ventral gonad had the lowest
haemolymph glucose concentration during 4 weeks of pearl sac development.
Oxygen consumption was not affected by the location of nucleus implantation.
Histological structure of the pearl sac developments were similar in all positions
of nucleus implantation, began with the degradation of inner mantel and
progression of epithelial cells surrounding the epithelial monolayer of pearl
nucleus. Position of saibo and nucleus implantation in the ventral gonad gave the
best result in pearl sac formation as compared to those in the intestine and anus;
43

however the intestine and anus can be used as alternative locations of nucleus
implantation in pearl culture in Pinctada maxima for multiple implantations.

Key words: Nucleus implantation, Anus, Intestine, Ventral gonad, Pearl sac,
Pinctada maxima.

Pendahuluan

Teknik produksi mutiara hasil budi daya dimodifikasi dan dikembangkan


dari proses mutiara alami di alam. Pembentukan dan perkembangan kantung
mutiara diawali dengan masuknya partikel inti di dalam jaringan tubuh tiram
sehingga mengakibatkan iritasi (Victor 2000). Modifikasi yang diterapkan dalam
produksi mutiara adalah implantasi inti dan saibo dari tiram donor ke dalam organ
tubuh tiram inang. Lebih jauh lagi, keberhasilan produksi mutiara ditentukan oleh
kesuksesan proses implantasi dan pembentukan kantung mutiara dalam
mengelilingi inti (Kawakami 1954; Machii 1968; Awaji dan Suzuki 1995;
Cochennec-Laureau et al. 2010; Masaoka et al. 2013). Proliferasi dari mantel
yang diimplantasi akan membentuk lapisan epitel sekretorik yang mensintesis
matriks organik kemudian mengontrol dan menentukan deposit mineral di sekitar
inti (Aoki 1966; Mamangkey et al. 2009; Mamangkey dan Southgate 2009).
Peletakan matriks organik di sekitar inti adalah awal dari sintesis mutiara
(Cochennec-Laureau et al. 2010).
Keberhasilan produksi mutiara hasil budi daya dipengaruhi oleh jumlah atau
persentase penolakan inti dan kematian tiram inang dari proses implantasi sampai
masa panen mutiara. Dalam praktiknya di lapangan, tiram inang dapat mengalami
kematian setelah implantasi atau jika itu bertahan, mutiara yang diperoleh
berkualitas rendah dengan bentuk yang tidak teratur (Cochennec-Laureau et al.
2010).
Secara umum, implantasi inti untuk produksi mutiara dilakukan dengan
memasukkan inti ke bagian gonad. Namun, implantasi inti di bagian lain dari
tubuh tiram mungkin dapat dilakukan. Mutiara blister yang sebagian besar
dihasilkan oleh tiram air tawar, dalam proses produksi mutiara, inti ditempelkan
ke dinding cangkang. Penggunaan gonad sebagai tempat implantasi inti mungkin
didasarkan pada keberhasilan dan kualitas mutiara yang dihasilkan. Produksi
mutiara hasil budi daya dengan lokasi yang berbeda pada tiram Pinctada fucata
telah dilaporkan (Alagarswami 1974). Warna, bentuk, dan kualitas mutiara yang
dihasilkan dipengaruhi oleh tempat yang berbeda selama implantasi inti (Chellam
et al. 1991). Chatchavalvanich et al. (2010) menunjukkan bahwa mutiara dapat
dihasilkan lebih dari satu di empat bagian organ dalam tubuh kerang air tawar.
Namun, data dasar biologis tiram inang selama pembentukan kantung mutiara di
lokasi yang berbeda pada proses implantasi inti tidak tersedia. Data dan informasi
ini sangat penting dalam memahami biologi dasar dan pembentukan kantung
mutiara dalam tubuh tiram inang yang diimplantasi di lokasi yang berbeda.
Informasi ini dapat digunakan untuk mengembangkan teknik implantasi di
beberapa tempat dalam tubuh tiram Pinctada maxima agar dapat meningkatkan
produksi mutiara hasil budi daya.
Data perubahan struktur histologis pada tiram inang setelah implantasi dan
selama pembentukan kantung mutiara secara in vivo dan in vitro telah dipelajari
44

seperti pada tiram Pinctada fucata (Velayudhan et al. 1994; Awaji dan Machii
2011) dan Pinctada margaritifera (Cochennec-Laureau et al. 2010), studi
histokimia mantel dan sel sekretoris kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima
(Dix 1972). Pengamatan juga telah dilakukan terhadap perubahan histologis tiram
inang selama pembentukan kantung tiram mutiara Pinctada maxima (Scoones
1996; Mamangkey et al. 2009) tetapi terbatas pada implantasi di bagian ventral
gonad. Data dan informasi ini sangat penting dalam memahami dasar histologis
dan pembentukan kantung mutiara tiram inang di lokasi yang berbeda dari tubuh
tiram.
Studi secara genetik sintesis mutiara telah dilakukan dan kualitas mutiara
yang dihasilkan ditentukan oleh genetik tiram donor (McGinty et al. 2010;
McGinty et al. 2011; Masaoka et al. 2013). Meskipun kualitas mutiara yang
dihasilkan ditentukan oleh genotipe tiram donor (Masaoka et al. 2013), mineral
dan bahan organik yang diperlukan untuk sintesis mutiara diproduksi dan dipasok
oleh tiram inang. Data perubahan fisiologis, seperti kadar glukosa, kalsium, dan
fosfor hemolimf selama pembentukan kantung mutiara pada tiram Pinctada
maxima sebagai host yang diimplantasi pada lokasi berbeda di luar gonad tidak
tersedia. Ketersediaan bahan organik dan kalsium dalam hemolimf tiram inang
sangat penting untuk keberhasilan produksi mutiara sejak disintesis dari matriks
organik yang membutuhkan asam amino dan deposisi mineral (Aoki 1966;
Mamangkey et al. 2009; Chatchavalvanich et al. 2010; Cochennec-Laureau et al.
2010).
Penelitian ini dirancang untuk memberikan dasar histologis, data biologis,
dan fisiologis tiram inang yang diimplantasi di lokasi yang berbeda selama
pembentukan kantung mutiara untuk meningkatkan pemahaman tentang
pembentukan kantung mutiara dan kemungkinan beberapa lokasi implantasi di
tiram inang Pinctada maxima. Studi ini merupakan laporan pertama tentang profil
kadar glukosa, kalsium, fosfor hemolimf tiram inang selama pembentukan
kantung mutiara dengan lokasi implantasi inti yang berbeda.

Bahan dan Metode

Materi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Maret sampai dengan April 2012 di
Pulau Garaga Obi (01o25S, 127o20E), Provinsi Maluku Utara tepatnya di
perusahaan mutiara CV. Duta Aru Indah. Tiram donor dan host menggunakan
tiram Pinctada maxima yang didapatkan dari perusahaan mutiara. Penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3x4 dengan 20 kali
ulangan. Faktor pertama adalah posisi implantasi yang terdiri atas 3 level, yakni
usus, anus, dan ventral gonad. Faktor kedua adalah waktu setelah implantasi yang
terdiri atas minggu ke- 1, 2, 3, dan 4. Setiap lokasi implantasi menggunakan 80
ekor tiram Pinctada maxima.
45

Total tiram yang digunakan sebanyak 240 ekor yang terdiri atas tiga puluh
enam (36) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
hemolimf (kadar glukosa, kalsium, dan fosfor), kecepatan dan persentase
penutupan inti oleh kantung mutiara (3 x 4 dengan 3 ulangan). Tiga puluh enam
(36) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran parameter
histologis. Seratus delapan (108) tiram digunakan untuk pengukuran kematian dan
penolakan inti. Untuk pengukuran persentase tiram yang berhasil membentuk
kantung mutiara selama 4 minggu percobaan, total 60 tiram yang digunakan (3
group x 20 ulangan). Prosedur penelitian tersaji pada Lampiran 1.

Paramater Pengamatan

Pengamatan dilakukan setiap minggu selama sebulan. Parameter yang dukur


dan diamati meliputi jumlah kumulatif tiram yang mengalami kematian dan
penolakan inti, persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara,
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara, konsumsi oksigen, kadar
glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf (tersaji pada Lampiran 2),
perkembangan histologis struktur kantung mutiara (Lampiran 3), data pendukung
meliputi suhu, salinitas, dan pH air.

Analisis Data
Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis sidik ragam dengan
menggunakan software SAS (Statistic Analysis System) versi 9.1.3 (Mattjik dan
Sumertajaya 2006).

Hasil

Kematian dan Penolakan Inti Kumulatif, Persentase Tiram yang Berhasil


Membentuk Kantung Mutiara pada Tiram Pinctada maxima dengan Posisi
Peletakan Inti yang Berbeda

Besarnya persentase tiram yang membentuk kantung mutiara disebabkan


sedikit tiram yang mengalami kematian dan penolakan inti. Persentase tiram yang
mengalami penolakan inti (Gambar 25) lebih besar dari tiram yang mengalami
kematian (Gambar 26). Persentase tiram yang mengalami penolakan inti di bagian
usus, anus, dan ventral gonad secara berturut-turut adalah sebesar 35, 26.7, dan
11.7%. Persentase tiram yang mengalami penolakan inti di usus dan anus lebih
tinggi dibandingkan dengan di ventral gonad. Bagaimanapun juga data
menunjukkan bahwa usus dan anus merupakan potensi lokasi implantasi untuk
produksi mutiara tiram Pinctada maxima. Persentase tiram yang mengalami
kematian pada peletakan inti di bagian usus, anus, dan ventral gonad secara
berturut-turut adalah sebesar 20, 18.3, dan 8.3%. Persentase tiram yang
mengalami kematian di usus dan anus lebih tinggi dibandingkan dengan di ventral
gonad.
46

40

yang mengalami penolakan


Jumlah kumulatif tiram
35
30
25
inti (%) 20
15
10
05
00
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 25 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami


penolakan inti selama 4 minggu setelah implantasi pada lokasi yang
berbeda. Keterangan : bagian usus (), anus (), ventral gonad ().

25
yang mengalami kematian
Jumlah kumulatif tiram

20
15
(%)

10
05
00
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 26 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian


selama 4 minggu setelah implantasi pada lokasi yang berbeda.
Keterangan : bagian usus (), anus (), ventral gonad ().

Data menunjukkan bahwa implantasi inti di bagian usus dan anus memiliki
persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara sekitar 50% atau
setengah dari posisi ventral gonad. Persentase tiram yang berhasil membentuk
kantung mutiara pada perlakuan posisi peletakan inti yang berbeda tersaji pada
Gambar 27. Tiram dengan posisi peletakan inti di bagian ventral gonad memiliki
persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara adalah sebesar 80%,
sementara pada posisi peletakan inti di bagian usus dan anus, persentase tiram
yang membentuk kantung mutiara secara berturut-turut hanya sebesar 45 dan
55%.
47

100
90

Persentase tiram yang

kantung mutiara (%)


berhasil membentuk
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Posisi Peletakan Inti

Gambar 27 Persentase tiram Pinctada maxima yang berhasil membentuk


kantung mutiara setelah 4 minggu implantasi pada lokasi berbeda.
Keterangan: bagian usus (), anus () and ventral gonad ().

Kecepatan Pertumbuhan Kantung Mutiara dan Persentase Penutupan Inti


pada Tiram Pinctada maxima dengan Posisi Peletakan Inti yang Berbeda

Kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan persentase penutupan inti


tiram Pinctada maxima selama 4 minggu pengamatan pada posisi peletakan inti
yang berbeda tersaji pada Tabel 4. Kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan
persentase penutupan inti tiram Pinctada maxima selama 4 minggu pengamatan
di ventral gonad lebih tinggi bila dibandingkan dengan di usus dan di anus.
Kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan persentase penutupan inti
meningkat seiring dengan peningkatan waktu setelah implantasi. Tidak ada
interaksi antara lokasi implantasi inti dan waktu setelah implantasi pada kecepatan
pertumbuhan kantung mutiara. Ada interaksi antara lokasi implantasi inti dan
waktu setelah implantasi pada persentase penutupan inti oleh kantung mutiara.
Dua minggu setelah implantasi, bagian anus memiliki persentase penutupan inti
kantung mutiara yang sama dengan ventral gonad. Perbedaan rata-rata kecepatan
pertumbuhan kantung mutiara dan persentase penutupan inti oleh kantung mutiara
antarlokasi implantasi inti kurang dari 20%. Ini berarti bahwa ketika implantasi
berhasil (tidak ada penolakan) maka pembentukan kantung mutiara di bagian usus
dan anus berkembang secara normal dengan kecepatan sedikit lebih rendah dari
bagian ventral gonad. Lebih rinci lagi, persentase kecepatan pertumbuhan
kantung mutiara yang diimplantasi di bagian usus dibandingkan di bagian ventral
gonad pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut sebesar 74, 86, 83, dan
84%, sedangkan persentase kecepatan pertumbuhan kantung mutiara yang
diimplantasi di bagian anus dibandingkan di bagian ventral gonad pada minggu 1,
2, 3, dan 4 secara berturut-turut sebesar 83, 89, 78, and 82% %.
Persentase penutupan inti oleh kantung mutiara yang diimplantasi di bagian
usus dibandingkan di bagian ventral gonad pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara
berturut-turut sebesar 86, 79, 83, dan 85%, sedangkan persentase penutupan inti
oleh kantung mutiara yang diimplantasi di bagian anus dibandingkan di bagian
ventral gonad pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut sebesar 78, 94, 78,
dan 82%.
48

Tabel 4 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase


penutupan inti pada tiram Pinctada maxima dengan posisi peletakan inti
yang berbeda.

Posisi Peletakan Minggu ke -


Inti 1 2 3 4
Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara (mm/hari)

Bagian Usus 1.180.08b 1.740.17b 2.090.08b 2.320.08b


Bagian Anus 1.320.08b 1.800.08b 2.080.08b 2.370.08b
Ventral gonad 1.600.08a 2.030.08a 2.460.08a 2.750.08a

Persentase Penutupan Inti Mutiara (%)


Bagian Usus 44.442.37b 55.812.33c 77.261.18b 83.461.19b
Bagian Anus 40.311.55b 66.671.55b 72.350.90b 80.363.50b
Ventral Gonad 51.680.98a 70.801.18a 92.760.45a 98.190.45a
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).

Histologi Infiltrasi Hemosit dan Perkembangan Kantung Mutiara Tiram


Pinctada maxima dengan Posisi Peletakan Inti yang Berbeda

Saat inti diterima dan tidak ada penolakan inti oleh tiram inang, maka pola
infiltrasi hemosit dan respons inflamasi dari jaringan tidak berbeda atau serupa di
setiap lokasi yang berbeda dari implantasi tiram Pinctada maxima. Data yang
diperoleh pada penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan respons
dari jaringan usus, anus, dan ventral gonad. Histologi infiltrasi hemosit selama
perkembangan kantung mutiara tiram Pinctada maxima di bagian usus disajikan
pada Gambar 28. Tiram yang diimplantasi di usus dapat membentuk kantung
mutiara, namun pada minggu pertama setelah implantasi terlihat sel-sel inflamasi
dan hemosit yang tinggi. Dua minggu setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi
dan hemosit mulai menurun. Tiga minggu setelah implantasi, jumlah sel-sel
inflamasi dan hemosit sangat rendah dan luka mulai pulih. Pada akhir
pengamatan, yakni 4 minggu setelah implantasi, tidak ada hemosit dan sel-sel
inflamasi ditemukan.
49

Gambar 28 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi di bagian usus.
Keterangan : Anak panah menunjukkan adanya hemosit. Minggu
pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel inflamasi dan
hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi (II) masih
terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu
ketiga setelah implantasi (III), masih terlihat jumlah sel-sel inflamasi
dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat
lagi hemosit dan sel-sel inflamasi yang terbentuk. (H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara pada


tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi di bagian anus disajikan pada Gambar
29. Minggu pertama setelah implantasi terlihat adanya sel-sel inflamasi dan
hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi terlihat sel-sel inflamasi
dan hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi, jumlah sel-
sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit dan luka sudah mulai sembuh. Minggu
keempat setelah implantasi, tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi, luka
telah sembuh.
50

Gambar 29 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplatasi di bagian anus.
Keterangan: anak panah menunjukkan adanya hemosit. Minggu
pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel inflamasi dan
hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi (II) terlihat
sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga
setelah implantasi (III), jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sangat
sedikit, luka mulai sembuh. Minggu keempat setelah implantasi (IV),
tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh.
(H&E. x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara setelah


diimplantasi di bagian ventral gonad tersaji pada Gambar 30. Pada minggu
pertama terjadi infiltrasi hemosit/sel radang yang tinggi, hal ini akibat
luka/sayatan yang dibuat saat implantasi. Setelah minggu kedua jumlah hemosit
menurun, saat minggu ketiga jumlah hemosit terlihat sedikit sekali atau luka
akibat sayatan saat operasi mulai sembuh. Setelah minggu keempat, tidak terlihat
lagi hemosit dan tiram telah sembuh dari luka akibat implantasi.
51

Gambar 30 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima setelah diimplantasi di bagian ventral
gonad. Keterangan: Anak panah menunjukkan adanya hemosit.
Minggu pertama setelah implantasi (I) terlihat adanya sel-sel
inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu kedua setelah implantasi
(II) jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit dan hampir
tidak terlihat. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat
lagi sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah
implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi,
jaringan telah sembuh (H&E. x100).

Histologis perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima


dengan posisi peletakan inti di bagian usus, anus, dan ventral gonad masing-
masing disajikan secara berturut-turut pada Gambar 31, 32, dan 33. Histologi
perkembangan kantung mutiara pada minggu pertama setelah implantasi saibo
dan inti di bagian usus terlihat sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas 5-6 sel-sel
epitel kuboid. Sebelum terjadi necrosis, sel-sel epitel terlebih dahulu mengalami
pyknosis (inti sel terlihat mengecil dan akhirnya nekrosis). Di antara lapisan
mukosa dan lapisan submukosa ada basement membrane. Basement membrane
berfungsi sebagai tempat melekatnya sel-sel epitel selama pembentukan kantung
mutiara. Lapisan submukosa berisikan cairan atau nutrisi yang diperlukan sel-sel
epitel selama proses degenerasi. Vakuola yang terbentuk akibat proses degenerasi
dari sel-sel epithel. Lapisan submukosa mulai mengalami dilatasi. Tunika
muskularis terlihat sebagai dasar menempelnya lapisan submukosa (Gambar
31A). Minggu kedua setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid mengalami
perubahan menjadi 3-4 lapisan, tetapi sebagian sel-sel epitel tersebut mengalami
peningkatan nekrosis sehingga terlihat 2 lapisan saja. Lapisan submukosa
mengalami dilatasi sehingga terlihat membesar and tunika muskularis tidak
52

mengalami perubahan (Gambar 31B). Minggu ketiga setelah implantasi, lapisan


epitel sel-sel kuboid mengalami degenerasi sehingga hanya terlihat 2 lapis saja
dan lapisan submukosa masih mengalami dilatasi (Gambar 31C). Minggu
keempat setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid mengalami degenerasi dan hanya
terlihat selapis sel-sel epitel kuboid saja dan bagian lain tidak mengalami
perubahan (Gambar 31D).

Gambar 31 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi di
bagian usus. Keterangan: Minggu pertama (31A), Minggu kedua
(31B), Minggu ketiga (31C) dan Minggu keempat (31D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel
epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e)
Tunika muskularis, (f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara pada minggu pertama setelah


implantasi saibo dan inti di bagian anus terlihat sel-sel epitel mukosa yang terdiri
atas 4-5 sel-sel epitel kuboid. Sel-sel epitel kuboid mengalami nekrosis karena
terlihat sel-sel epitel yang mengalami pyknosis (inti sel terlihat mengecil) dan
sebagian juga mengalami degenerasi karena ditemukan vakuola-vakuola. Sel-sel
epitel kuboid yang mengalami nekrosis dan degenerasi selalu menempel pada
basement membrane. Lapisan submukosa telah mengalami dilatasi (Gambar 32A).
Minggu kedua setelah implantasi, lapisan mukosa lebih cepat mengalami
nekrosis, dikarenakan lebih banyak sel-sel epitel kuboid yang mengalami
53

pyknosis sehingga terlihat 2-3 sel-sel epitel kuboid. Lapisan submukosa mulai
berdilatasi dan tunika muskularis tidak mengalami perubahan (Gambar 32B).
Minggu ketiga setelah implantasi, lapisan epitel mukosa hanya terlihat 1-2 lapis
saja yang sedang mengalami degenerasi ditandai dengan adanya vakuola. Lapisan
submukosa masih mengalami dilatasi (Gambar 32C). Minggu keempat setelah
implantasi, sel-sel epitel kuboid mengalami degenerasi dan akhirnya nekrosis.
Lapisan submukosa mengalami dilatasi sehingga terlihat lebih besar dan sebagian
telah membentuk sel-sel epitel satu lapis. (Gambar 32D).

Gambar 32 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi di
bagian anus. Keterangan: Minggu pertama (32A), Minggu kedua
(32B), Minggu ketiga (32C) dan Minggu keempat (32D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel
epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e)
Tunika muskularis, (f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara pada minggu pertama setelah


implantasi saibo dan inti di bagian ventral gonad lebih cepat terjadi degradasi
karena terlihat sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas 2-3 sel-sel epitel kuboid,
tetapi masih akan mengalami nekrosis karena terlihat sel-sel epitel yang
mengalami pyknosis (inti sel terlihat mengecil) dan ditemukan vakuola. Basement
membrane memisahkan lapisan mukosa dan submukosa. Lapisan submukosa
mengalami dilatasi (Gambar 33A). Minggu kedua setelah implantasi, lapisan
mukosa mengalami nekrosis dan hanya terlihat 1-2 lapis (adanya pyknosis).
54

Lapisan submukosa telah mengalami dilatasi dan basement membrane terlihat


jelas memisahkan sel-sel epitel dan lapisan submukosa (Gambar 33B). Minggu
ketiga setelah implantasi, lapisan sel-sel epitel mukosa telah membentuk satu lapis
atau monolayer dan ditemukan banyak sekali vakuola yang mengindikasikan
terjadi degenerasi sel-sel epitel yang akhirnya nekrosis (Gambar 33C). Pada
minggu keempat setelah implantasi, kantung mutiara telah terbentuk berupa sel
epitel kuboid monolayer yang mengelilingi inti (Gambar 33D).

Gambar 33 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi di
bagian ventral gonad. Keterangan : Minggu pertama (33A), Minggu
kedua (33B), Minggu ketiga (33C) dan Minggu keempat (33D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-
selepitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa,
(e) Tunika muskularis, (f) Vakuola, dan (g) Pyknosis. (H&E. x400).

Setelah implantasi, bagian inner mantel mengalami degradasi sehingga


hanya terlihat outer mantel. Outer mantel terdiri atas jaringan epitel mukosa
berbentuk kuboid yang terus mengalami degradasi. Ada beberapa perbedaan
mencolok dari posisi peletakan inti di usus, anus, dan ventral gonad. Pada minggu
pertama setelah implantasi di bagian ventral gonad telah terjadi degradasi yang
sangat cepat pada sel-sel epitel mukosa sehingga hanya terlihat sekitar 2-3 lapisan,
sedangkan di bagian usus, sel-sel epitel mukosa tidak terlalu mengalami
degradasi sehingga terlihat agak tebal sekitar 5-6 lapisan dan bagian anus sekitar
4-5 lapisan. Pada minggu kedua setelah implantasi, bagian ventral gonad terlihat
55

sel-sel epitel mukosa telah mengalami degradasi sehingga hanya terdiri atas 1-2
lapisan sel-sel epitel kuboid, sedangkan di bagian usus terlihat masih tebal sekitar
3-4 lapisan dan bagian anus sekitar 2-3 lapisan. Pada minggu ketiga setelah
impalntasi, di bagian ventral gonad telah terbentuk sel-sel epitel monolayer
sedangkan di bagian usus dan anus masih belum terbentuk sel-sel epitel
monolayer, masih terlihat 1-2 sel-sel epitel kuboid. Pada minggu keempat setelah
implantasi, di bagian ventral gonad terlihat sel-sel epitel monolayer telah
mengelilingi inti, sedangkan di bagian usus dan anus sudah terlihat sel-sel epitel
monolayer, namun belum sempurna karena masih ditemukan 2 lapisan sel-sel
epitel kuboid.
Hasil kuantitatif histologi (Tabel 5) menunjukkan bahwa terjadi infiltrasi
hemosit yang tinggi pada implantasi di bagian usus dan anus, tetapi lebih rendah
pada bagian ventral gonad. Sel-sel epitel lebih cepat mengalami degradasi pada
implantasi di bagian ventral gonad dibandingkan bagian usus dan anus yang lebih
lambat. Hal yang sama juga terlihat pada jumlah sel-sel epitel yang mengalami
pyknosis dan vakuola.

Tabel 5 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,


jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima dengan posisi implantasi yang berbeda
Posisi Minggu ke-
implantasi 1 2 3 4
++
Infiltrasi hemosit (lobus/ LP )
Usus 28.0 2.5*** 18.73.0*** 9.02.0*** x
Anus 19.6 2.5*** 12.31.5*** 4.71.5** x
Ventral Gonad 10.3 3.2*** 4.31.5** x x
Jumlah lapisan sel-sel epitel
Usus 5-6 3-4 2-3 1-2
Anus 4-5 2-3 1-2 1-2
Ventral Gonad 2-3 1-2 1 1
++
Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis (sel/LP )
Usus 16.03.0a 7.31.5ab 5.70.6a 3.70.6
a a a
Anus 16.71.1 9.017 5.30.6 4.71.5
Ventral Gonad 7.71.2b 5.71.2b 3.70.6b 3.01.0
Jumlah vakuola (sel/LP++)
Usus 9.72.1 9.02.0a 9.02.7a 3.01.0
Anus 7.31.5 7.61.5ab 6.01.7ab 3.30.6
b b
Ventral Gonad 6.31.5 5.31.2 4.01.7 2.70.6
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Keterangan : LP+ (Lapang pandang
dengan pembesaran 100 kali), LP++ (Lapang pandang dengan pembesaran 400
kali) *** (Tinggi),**(Sedang), *(Rendah), x (Tidak terlihat).
56

Konsumsi Oksigen, Kadar Glukosa, Kalsium, dan Fosfor Hemolimf pada


Tiram Pinctada maxima dengan Posisi Peletakan Inti yang Berbeda

Konsumsi oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor hemolimf pada tiram
pinctada maxima dengan posisi peletakan inti yang berbeda tersaji pada Tabel 6.
Tingkat metabolisme yang ditunjukkan dengan konsumsi oksigen pada semua
perlakuan tidak terpengaruh oleh lokasi implantasi inti dan waktu setelah
implantasi inti. Implantasi inti di usus dan anus tidak mengubah tingkat
metabolisme tiram bila dibandingkan di ventral gonad sebagai lokasi standar
implantasi inti. Rataan konsumsi oksigen berkisar 0,0034-0,0037 (mg/L /jam).
Suhu lingkungan selama pemeliharaan tiram mengalami fluktuasi sebesar
26.2-30.4oC, salinitas sebesar 32 ppt dan pH berkisar 7.2-7.9, sedangkan suhu
selama pengamatan laju konsumsi oksigen sebesar 27.5-28oC.

Tabel 6 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium, dan kadar
fosfor hemolimf pada tiram Pinctada maxima dengan posisi peletakan
inti yang berbeda.
Posisi Minggu ke-
Peletakan Inti 1 2 3 4
-1 -1 -1
Konsumsi oksigen (mgl O2 g jam )
Bagian Usus 0.00350.0004 0.00370.0002 0.00350.0001 0.00360.0001
Bagian Anus 0.00350.0002 0.00350. 0002 0.00370.0002 0.00360.0001
Ventral Gonad 0.00350.0004 0.00340.0003 0.00360.0001 0.00350.0002
Kadar glukosa hemolimf (mg/dL)
Bagian Usus 1.390.32b 0.910.55b 1.280.24 1.100.47a
a a
Bagian Anus 2.660.25 1.740.14 1.400.29 0.750.07a
Ventral Gonad 2.250.11a 1.700.47a 1.580.28 0.180.04b

Kadar kalsium hemolimf (ppm)


Bagian Usus 274.751.66b 170.710.77c 282.031.01a 289.721.06b
Bagian Anus 290.710.58a 257.8911.96a 264.390.82b 235.721.00c
Ventral Gonad 185.0610.35c 226.9510.55 b
251.7410.41c 299.655.61a

Kadar fosfor hemolimf (ppm)


Bagian Usus 3.951.43 6.021.52b 7.900.58b 6.631.46a
Bagian Anus 4.250.76 11.320.41a 10.651.49a 6.300.21a
b
Ventral Gonad 5.591.73 7.340.72 9.551.61ab 10.890.71b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).

Pola kadar glukosa hemolimf tiram yang diimplantasi di lokasi berbeda


adalah serupa. Minggu pertama setelah implantasi, kadar glukosa hemolimf
tinggi, namun mencapai nilai terendah setelah 4 minggu implantasi. Selama 1 dan
2 minggu setelah implantasi, tiram yang diimplantasi di usus dan anus memiliki
kadar glukosa hemolimf tertinggi dibandingkan dengan ventral gonad. Namun, 3
minggu setelah implantasi, kadar glukosa hemolimf serupa di semua lokasi
implantasi inti. Minggu keempat setelah implantasi, tiram yang diimplantasi di
ventral gonad memiliki kadar glukosa hemolimf terendah.
57

Posisi implantasi inti dan waktu setelah implantasi signifikan


mempengaruhi kadar kalsium hemolimf. Ada interaksi antara posisi implantasi
inti dan waktu setelah implantasi pada kadar kalsium hemolimf. Bagian ventral
gonad yang merupakan posisi standar implantasi inti, memiliki kadar kalsium
hemolimf yang linear, yaitu meningkat seiring dengan peningkatan waktu
pembentukan kantung mutiara. Tiram yang diimplantasi di usus memiliki kadar
kalsium hemolimf yang tinggi di awal implantasi dan terjadi penurunan setelah
minggu kedua serta meningkat lagi pada minggu ke tiga dan keempat. Tiram
yang diimplantasi di anus memiliki kadar kalsium hemolimf tertinggi saat minggu
pertama setelah implantasi, tetapi menurun sampai minggu keempat.

Pembahasan

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan produksi


mutiara hasil budi daya, maka dapat dilakukan implantasi di bagian organ lain
selain gonad, seperti di usus dan anus. Saat implantasi berhasil dilakukan, terjadi
proses pembentukan kantung mutiara yang secara histologis relatif sama. Namun,
penurunan yang signifikan pada tingkat keberhasilan implantasi di usus dan anus
terkait dengan tingginya angka penolakan inti dan kematian tiram selama 4
minggu setelah implantasi. Tingginya tingkat penolakan inti tiram yang
diimplantasi di usus dan anus dapat dikaitkan dengan penghambatan interaksi
antar sel-sel epitel mantel (saibo) dengan jaringan ikat dari tiram inang akibat
menerima gangguan fisik yang disebabkan oleh aktivitas peristaltik usus dan anus.
Semakin tinggi aktivitas peristaltik usus dan anus akibat implantasi inti maka
semakin menghambat fusi antara jaringan mantel (saibo) dengan jaringan ikat
dari tiram inang. Kurangnya fusi antara jaringan mantel (saibo) dan jaringan ikat
tiram inang adalah alasan utama penolakan inti mutiara. Kontak maksimum antara
tepi luar dari jaringan mantel dan inti diperlukan untuk meningkatkan
keberhasilan implantasi. Kurangnya fusi ini dapat disebabkan oleh distensi
jaringan ikat terkait dengan kehadiran hemosit di seluruh zona sayatan dan
nukleus serta lesi degeneratif dari transplantasi perkembangan kantung mutiara
(Cochennec-Laureau et al. 2010).
Pengamatan di tiram Pinctada margaritifera telah dilaporkan bahwa
terjadi cedera ireversibel saluran pencernaan selama operasi implantasi inti yang
disertai dengan reaksi inflamasi yang kuat (Cochennec-Laureau et al. 2010).
Sayatan dari saluran pencernaan dapat menyebabkan cedera ireversibel yang
menyebabkan reaksi inflamasi yang kuat yang akhirnya tiram mengalami
kegagalan pembentukan kantung mutiara di usus dan anus. Namun, pengamatan
histologis pada tiram mutiara berhasil dengan adanya pembentukan kantung. Hal
ini menunjukkan bahwa secara umum tidak ada perbedaan dalam infiltrasi
hemosit di tiram mutiara yang sukses membentuk kantung mutiara di ventral
gonad, usus, dan anus, walaupun di bagian ventral gonad terjadi infiltrasi hemosit
yang lebih sedikit. Data ini menegaskan bahwa keberhasilan implantasi inti dan
pembentukan kantung mutiara ditentukan oleh reaksi inflamasi minimum. Oleh
karena di usus dan anus terjadi kegiatan peristaltik yang lebih tinggi seperti
pencernaan makanan dan penyerapan nutrisi dibandingkan dengan ventral gonad,
58

maka tingkat penolakan inti yang tinggi dalam usus dan anus dapat dikaitkan
dengan kegiatan ini.
Penelitian ini menemukan bahwa jumlah tiram yang mengalami penolakan
inti di posisi ventral gonad lebih besar dari jumlah tiram yang mati. Fenomena
yang sama juga ditemukan pada implantasi inti di usus dan anus. Untuk
mengurangi jumlah tiram yang mengalami penolakan inti, maka anestesi
dianjurkan pada saat implantasi inti. Faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi
penolakan inti adalah kesalahan teknis selama proses implantasi dan stres
mekanik.
Penyebab umum kematian selama implantasi inti di kerang mutiara adalah
infeksi luka yang ditimbulkan pada saat operasi implantasi. Namun, penyakit,
biofouling, kerusakan cangkang, dan polusi juga mungkin bertanggung jawab
terhadap kematian tiram. Secara umum, angka kematian tiram rata-rata di bawah
10% (Chellam et al. 1991) dan tingkat kematian yang diamati pada tiram yang
diimplantasi di ventral gonad adalah serupa, tetapi implantasi di usus dan anus
mengalami kematian hampir dua kali dibandingkan dengan di ventral gonad.
Pengamatan di tiram Pinctada margaritifera telah dilaporkan bahwa sebagian
besar tiram yang mati menunjukkan cedera ireversibel saluran pencernaan dan
kerusakan akibat luka tersebut, yang dibuat selama operasi implantasi, dan disertai
dengan reaksi inflamasi yang kuat (Cochennec-Laureau et al. 2010). Oleh karena
pengamatan penelitian ini dilakukan pada tiram yang sukses dalam pembentukan
kantung mutiara, maka tiram yang diimplantasi dengan posisi implantasi inti
yang berbeda menunjukkan perbedaan dalam reaksi inflamasi walaupun bagian
ventral gonad lebih sedikit. Sejak implantasi dilakukan di usus dan anus, proses
implantasi itu sendiri dapat menyebabkan cedera dari saluran pencernaan yang
akhirnya menyebabkan angka kematian lebih tinggi di lokasi usus dan anus.
Kemungkinan reaksi inflamasi yang kuat selama cedera saluran pencernaan yang
dialami oleh tiram inang dapat menjadi alasan untuk tingkat penolakan inti yang
lebih tinggi dan kematian tiram selama 4 minggu pengamatan pembentukan
kantung mutiara.
Terlepas dari rendahnya tingkat keberhasilan implantasi dan pembentukan
kantung mutiara karena tingginya tingkat penolakan inti dan kematian pada tiram
inang di posisi implantasi usus dan anus, saat implantasi berhasil dan kantung
mutiara dibentuk, pengamatan histologis menunjukkan pola yang sama pada
pembentukan kantung mutiara. Keberhasilan tiram dalam membentuk kantung
mutiara selama 4 minggu pengamatan, intensitas hemosit dalam jaringan yang
diimplantasi adalah serupa pada tiram yang diimplantasi di usus, anus, dan ventral
gonad. Namun, kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan persentase
penutupan inti oleh kantung mutiara pada tiram yang diimplantasi di usus dan
anus lebih rendah dibandingkan dengan tiram yang diimplantasi di ventral gonad,
yaitu hanya sekitar 80%. Semakin rendah pertumbuhan dan perkembangan
kantung mutiara pada tiram yang diimplantasi di usus dan anus mungkin terkait
dengan kontribusi dan interaksi antara sel yang dicangkokkan dengan sel-sel pada
tempat implantasi serta ketersediaan substrat sebagai prekursor proliferasi sel- sel
kantung mutiara di posisi implantasi inti. Sel-sel di usus dan anus mungkin tidak
dapat mendukung pasokan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan kantung
mutiara tidak sebaik sel-sel gonad. Selain itu, perbedaan kecepatan pembentukan
kantung mutiara diamati dalam penelitian ini tidak terkait dengan lingkungan
59

eksternal tiram inang, seperti salinitas dan suhu yang akan mempengaruhi
perubahan fisiologis dalam tubuh tiram inang. Penelitian ini dilakukan dalam
kondisi lingkungan perairan yang sama. Suhu air dilaporkan mempengaruhi
kecepatan pembentukan kantung mutiara (Machii dan Nakahara 1957) melalui
efek suhu air pada aktivitas mitosis sel epitel kantung mutiara (Awaji dan Machii
2011).
Pengamatan sebelumnya melaporkan bahwa posisi yang berbeda dari
implantasi inti dan saibo di tiram Pinctada fucata mempengaruhi warna dan
bentuk mutiara yang dihasilkan (Chellam et al. 1991). Hal itu diketahui bahwa
kualitas dan warna mutiara yang dihasilkan ditentukan oleh genotipe tiram donor,
karena genotipe donor tidak berbeda, perbedaan warna dan bentuk dari mutiara
yang dihasilkan dapat dikaitkan dengan kondisi lingkungan internal dan lokal di
sekitar implantasi yang berbeda. Posisi yang berbeda selama implantasi inti (usus,
anus, dan ventral gonad) memiliki kapasitas yang berbeda dalam memasok nutrisi
yang diperlukan untuk pertumbuhan dan proliferasi kantung mutiara. Efek dari
posisi implantasi inti pada pembentukan kantung mutiara dapat dikaitkan dengan
pasokan nutrisi dan gerakan mekanis organ dalam tubuh. Tiram mutiara memiliki
pencernaan dan organ reproduksi yang menyatu sehingga pergerakan mekanis
pencernaan dan organ reproduksi mempengaruhi pembentukan kantung mutiara
(Saucedo et al. 2005; Saucedo et al. 2008).
Pertumbuhan dan perkembangan sel-sel kantung mutiara selama
mengelilingi dan menutupi inti ditentukan oleh tingkat proliferasi jaringan yang
diimplantasi untuk membentuk lapisan epitel sekretoris yang mensintesis dan
mendeposit matriks organik, kemudian mengontrol dan menentukan deposit
mineral di sekitar inti (Aoki 1966; Dix 1972; Mamangkey et al. 2009). Proliferasi
sel kantung mutiara ditentukan oleh sinyal yang mengontrol proliferasi sel dan
ketersediaan nutrisi yang dibutuhkan untuk perbanyakan sel. Selama pertumbuhan
dan perkembangan sel-sel kantung mutiara, sel-sel ini mengekspresikan
genotipenya sendiri (Inoue et al. 2011; Liu et al. 2012; Marie et al. 2012) untuk
mensintesis protein baik sebagai enzim, kofaktor, atau faktor pertumbuhan yang
mengontrol proliferasi (mitosis) sel, ketersediaan substrat dan prekursor untuk
proliferasi sel. Oleh karena itu, ketersediaan nutrisi dan prekursor baik sebagai
bahan organik (asam amino, lipid, monosakarida, dan mineral) mempengaruhi
proliferasi dan aktivitas mitosis sel. Peningkatan komposisi media kultur mirip
dengan komposisi hemolimf selama kultur in vitro kantung mutiara terlihat
bahwa terjadi peningkatan aktivitas dari sel epitel kantung mutiara (Awaji dan
Machii 2011). Hal ini juga menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi Ca2+
media kultur dalam kultur sel in vitro menghasilkan peningkatan sekresi nacrein
(Gong et al. 2008). Bagaimanapun, perkembangan sel kantung mutiara dalam
mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk proliferasi dan mitosis tidak
diketahui. Tampaknya, tidak ada informasi tentang pengaturan ketersediaan
nutrisi dalam sel kantung mutiara untuk mendukung proliferasi sel-sel tersebut.
Data konsentrasi hemolimf sebagai tempat distribusi nutrisi selama pertumbuhan
dan perkembangan kantung mutiara tidak tersedia.
Sel-sel berinteraksi melalui molekul bioaktif yang tidak diketahui terlibat
dalam pembentukan kantung mutiara. Dalam proses pembentukan kantung
mutiara, sel-sel epitel luar (outer epithel) dari allograft mantel menjadi sel-sel
skuamosa yang terus mengalami proliferasi (Machii 1968; Awaji dan Suzuki
60

1995). Hemosit ikut membungkus allograft dan mensekresikan matriks


ekstraseluler (Suzuki et al. 1991). Setelah pembentukan kantung mutiara, sel-sel
epitel kantung mutiara mulai mensekresikan matriks cangkang bersama-sama
dengan transpor aktif kalsium dan ion bikarbonat (Wilbur dan Saleuddin 1983).
Namun, fungsi sel-sel epitel luar, seperti transportasi ion, sintesis cangkang,
sekresi matriks, dan mekanisme kontrol dari proses ini, masih belum dipahami
dengan baik. Interaksi antara sel-sel epitel luar dan hemosit sangat penting untuk
kemajuan pembentukan kantung mutiara dan penyembuhan luka (Awaji dan
Machii 2011). Pengamatan pada tiram mutiara menunjukkan bahwa hemosit
agranular, yang terakumulasi dalam situs luka, menghasilkan matriks ekstraseluler
baru sehingga terbentuk epitel baru (Suzuki et al. 1991; Suzuki dan Funakoshi
1992). Interaksi antara sel-sel, sitokin, dan matriks ekstraseluler tampaknya
terlibat dalam pengendalian proliferasi sel pada moluska (Awaji dan Machii
2011).
Ada juga kemungkinan bahwa sel-sel epitel luar mempertahankan fungsinya
untuk melakukan pengangkutan ion seperti Ca2+ (Wilbur dan Saleuddin 1983).
Dalam proses penyembuhan luka kulit mamalia, banyak jenis sel berkomunikasi
satu sama lain melalui sitokin. Peptida bioaktif, seperti transforming growth
factor-, protein morfogenetik tulang, faktor pertumbuhan dari fibroblast dasar,
dan faktor pertumbuhan keratinosit, yang dikenal untuk menengahi interaksi
mesenchymal-epitel di kulit, yang mengarah ke regenerasi epitel (Yamaguchi et
al. 2005). Pada moluska, adanya beberapa faktor pertumbuhan peptida telah
dilaporkan (Hermann et al. 2000; Lelong et al. 2000; Akalal et al. 2003).
Klarifikasi lebih lanjut dari faktor pertumbuhan molluska, matriks ekstraseluler
dan analisis fungsional akan memberikan kontribusi pada pengembangan metode
kultur jaringan untuk sel kantung mutiara (Awaji dan Machii 2011).
Sebuah gen protein dari matriks cangkang menunjukkan adanya pola posisi
gen tertentu yang mengekspresikan epitel luar (Takeuchi dan Endo 2006). Ada
kemungkinan bahwa ekspresi gen matriks protein pada sel epitel luar dipengaruhi
oleh struktur kristal cangkang yang berdekatan dengan sel-sel epitel. Ada juga
kemungkinan bahwa terjadi interaksi antara sel-sel pada epitel dan jaringan
sekitarnya sehingga mempengaruhi ekspresi gen. Mekanisme kontrol dari ekspresi
protein matriks cangkang akan menjadi daerah penting dalam studi masa depan
pada pembentukan mutiara (Awaji dan Machii 2011).
Kontrol hormon atau endokrin pembentukan cangkang adalah fenomena
yang banyak diamati, terutama pada gastropoda air tawar (Geraerts 1976;
Dogterom et al. 1979; Kunigelis dan Saleuddin 1985). Pada siput air tawar
Lymnaea stagnalis, jenis neuron tertentu (sel-sel hijau muda di ganglia otak,
LGCs) mengontrol tubuh dan pertumbuhan cangkang bekicot (Geraerts 1976).
Molluska insulin-related peptides (MIPS) atau semacam peptida insulin
diproduksi di LGCs dan dilepaskan ke hemolimf, MIPS adalah kandidat hormon
untuk kontrol tubuh dan pertumbuhan cangkang bekicot (Smit et al. 1988).
Peptida bioaktif yang mengendalikan pertumbuhan tubuh dan cangkang belum
dapat dijelaskan pada bivalvia, tetapi beberapa faktor yang mungkin terlibat dalam
pengendalian pembentukan cangkang telah dilaporkan (Cudennec et al. 2006),
termasuk struktur cDNA dari peptida insulin pada tiram Crassostrea gigas
(Hamano et al. 2005) dan Mizuhopecten yessoensis (GenBank AB125891) serta
informasi mengenai faktor-faktor pertumbuhan molluska dan reseptor faktor
61

pertumbuhan (Hermann et al. 2000; Lelong et al. 2000; Akalal et al. 2003; Zhou
et al. 2010).
Sayatan pada usus, anus, dan ventral gonad membuat tiram mengalami
stress yang ditandai dengan adanya infiltrasi hemosit. Lacoste et al. (2002b)
sebelumnya telah menunjukkan bahwa stress meningkatkan jumlah total hemosit
pada tiram Crassostrea gigas. Stress mempengaruhi beberapa aktivitas hormon,
seperti CRH (corticotropin releasing hormone), ACTH (adrenocorticotrophic
hormone), sitokin, noradrenalin, adrenalin, dopamin, dan kortisol. Stress
mengaktifkan sistem endokrin seperti corticotropin releasing hormone (CRH)
yang merangsang pelepasan hormon adrenocorticotrophic (ACTH). Adanya
ACTH menstimulasi pelepasan asam-asam amino biogenik, yang akhirnya
menimbulkan efek sekunder pada tiram (Hooper et al. 2007).
Kadar glukosa hemolimf selama 4 minggu pengamatan setelah implantasi
memiliki pola yang sama dengan penyembuhan luka dan inflamasi. Inflamasi
pada minggu pertama terjadi peningkatan, tetapi menurun pada minggu keempat
implantasi. Hal yang sama juga ditemukan pada kadar glukosa hemolimf.
Peningkatan kadar glukosa hemolimf berasosiasi dengan tingginya stress selama
implantasi sebagai respons terhadap inflamasi pada tiram inang (Lacoste et al.
2002b). Selama stress, terjadi peningkatan kortisol (Hooper et al. 2007) yang
dikaitkan dengan peningkatan konsentrasi glukosa. Peningkatan stres selama awal
implantasi terjadi infiltrasi hemosit dan kadar glukosa hemolimf. Saat luka
implantasi telah sembuh, hemosit rendah dan kadar glukosa hemolimf mencapai
tingkat terendah. Kadar glukosa hemolimf menurun sesuai dengan kemajuan
pertumbuhan kantung mutiara setelah implantasi dapat menunjukkan
kemungkinan peningkatan penyerapan glukosa tanpa peningkatan mobilisasi
glukosa atau penyerapan ke hemolimf. Glukosa diperlukan untuk sumber energi
metabolisme basal dan mendukung kegiatan sintetik conchiolin. Conchiolin
organik di alam terdiri atas mukopolisakarida (Chellam et al. 1991). Namun, tidak
ada data yang tersedia untuk membandingkan konsentrasi glukosa hemolimf pada
tiram selama pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara. Beberapa
penelitian telah menganalisis hemolimf seperti logam berat dan asam amino
bebas pada moluska, termasuk Pinctada fucata (Kawai 1981), namun data ini
tidak terkait dengan fase pertumbuhan kantung mutiara.
Pola kadar kalsium dan fosfor hemolimf selama pertumbuhan kantung
mutiara setelah implantasi inti berbeda dari glukosa. Meskipun sintesis mutiara
tidak dimulai selama 4 minggu setelah implantasi, peningkatan kalsium dan fosfor
dalam hemolimf menunjukkan persiapan kalsium, fosfor, dan mungkin untuk
produksi mutiara. Dilaporkan bahwa setelah pembentukan kantung mutiara, sel-
sel epitel kantung mutiara mulai mensekresikan matriks protein cangkang
bersama-sama dengan transpor aktif kalsium dan ion bikarbonat (Wilbur dan
Saleuddin 1983) yang dapat mempengaruhi konsentrasi kalsium dalam hemolimf.
Sel-sel dari kantung mutiara memperoleh makanan dari jaringan sekitarnya
(hemolimf) (Chellam et al. 1991).
Studi ini menunjukkan bahwa implantasi inti mempengaruhi kadar kalsium
dan fosfor hemolimf. Penting untuk dicatat bahwa tiram yang diimplantasi pada
ventral gonad memiliki pola konsentrasi kalsium dan fosfor yang meningkat
secara linear. Hal ini menunjukkan bahwa tiram Pinctada maxima mulai
mempersiapkan mineral yang diperlukan untuk sintesis mutiara, meskipun
62

kantung mutiara masih belum sepenuhnya terbentuk. Tiram yang diimplantasi


pada usus dan anus memiliki pola kadar kalsium dan fosfor yang berbeda yang
terlihat dengan rendahnya pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara. Ion-
ion dalam tubuh tiram sangat berkorelasi dengan peningkatan deposit cangkang
karena selalu dikaitkan dengan aktivitas yang meningkat dari enzim karbonat
anhidrase di jaringan mantel, sedangkan penghambatan enzim karbonat anhidrase
secara signifikan mengurangi tingkat mineralisasi (Gardner 2008).

Simpulan

Pembentukan kantung mutiara dapat dilakukan pada bagian usus, anus, dan
ventral gonad. Pembentukan kantung mutiara pada posisi implantasi inti di
bagian ventral gonad lebih baik bila dibandingkan dengan implantasi di bagian
usus dan anus.

5 PROSES PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM


Pinctada maxima DENGAN MENGGUNAKAN SAIBO YANG
DIDAPATKAN DARI UMUR TIRAM YANG BERBEDA

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Mahasiswa Program Doktor Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 2Dosen Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 3Dosen Mayor Budidaya Perairan Sekolah
Pascasarjana IPB
ABSTRAK
Pembentukan kantung mutiara menjadi sangat penting karena menentukan
kualitas mutiara. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan saibo yang
berasal dari tiram dengan umur yang berbeda. Penelitian ini menggunakan 180
ekor tiram dengan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial. Faktor pertama
adalah saibo yang berasal dari tiram yang telah berumur 14, 21, dan 28 bulan.
Faktor kedua adalah waktu setelah implantasi yang terdiri atas minggu ke- 1, 2, 3,
dan 4. Paramater yang diamati meliputi persentase tiram yang berhasil
membentuk kantung mutiara, kecepatan dan persentase pembentukan kantung
mutiara, perkembangan struktur histologis kantung mutiara, konsumsi oksigen,
kadar glukosa hemolimf, kadar kalsium dan fosfor hemolimf. Hasil menunjukkan
bahwa rataan persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara pada
perlakuan saibo umur 28 bulan dan 21 bulan sebesar 80% dan perlakuan saibo
umur 14 bulan sebesar 75%, sedangkan rataan kecepatan dan persentase
pembentukan kantung mutiara setiap minggu pada perlakuan saibo umur 28
bulan berbeda nyata dibandingkan dengan perlakuan saibo umur 14 dan 21 bulan.
Kadar glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf, konsumsi oksigen, tidak
dipengaruhi oleh umur tiram donor. Secara histologi terlihat bahwa terjadi
infiltrasi hemosit pada minggu pertama dan kedua, namun mulai menurun
memasuki minggu ketiga dan keempat. Selain itu, terlihat pembentukan kantung
mutiara terjadi dengan adanya perubahan pada sel epitel kompleks menjadi sel
63

epitel sederhana. Pembentukan kantung mutiara pada perlakuan saibo umur 28


bulan lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan saibo umur 14 dan 21 bulan.

Kata kunci : Kantung mutiara, Pinctada maxima, umur saibo.

THE PEARL SAC FORMATION IN OYSTER Pinctada maxima USING


OYSTER SAIBO OBTAINED FROM DIFFERENT AGES

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Doctoral Programme Majoring in Physiology and Pharmacology, Graduate
School, Bogor Agricultural University. 2Majoring in Physiology and
Pharmacology, Graduate School, Bogor Agricultural University, 3Majoring in
Aquaculture, Graduate School, Bogor Agricultural University.

ABSTRACT

Pearl sac formation is very important because it determines the quality of


the pearl. This study was designed to determine the age of donor oysters on pearl
sac formation in Pinctada maxima host oysters. One hundred and eighty oysters
were assigned into a completely randomized design with a 3 x 4 factorial
arrangement with 20 replications. The first factor was the age of Pinctada maxima
as donor oysters consisted of 3 levels i.e., 14, 21, and 28 months. The second
factor was time after implantation with 4 levels i.e., 1, 2, 3, and 4 weeks. The
parameters observed included oxygen consumption, haemolymph glucose
concentrations, haemolymph calcium and phosphorus concentrations, the
percentage of successful oyster to form the pearl sac, the speed and percentage of
pearl sac formation, and histology of the pearl sac. The results showed that the
average percentage of successful oyster that form pearl sac in the host oysters
implanted with saibo from 28 and 21 months donor oysters was 80% and from 14
months donor oyster was 75%. The average speed and the percentage of the pearl
sac formation every week in the host oyster implanted with saibo from 28 months
donor oyster significantly different from those implanted with saibo from 14 and
21 months donor oysters. Haemolymph calcium and phosphorus concentrations,
oxygen consumption and haemolymph glucose concentrations were not affected
by the age of donor oysters. Histologically, hemocyte infiltrations were observed
in the first and second week, but began to decline into the third and fourth weeks
after nucleus implantation. The pearl sac formation occurred with a change from
the complex epithelial cells into simple epithelial cells. Pearl sac formation was
better in the host oysters implanted with saibo from 28 months donor oysters
when compared to those implanted with saibo from 14 and 21 months donor
oysters.

Key word: Pearl sac, pearl, Pinctada maxima, saibo


64

Pendahuluan

Mutiara dihasilkan secara alami dan budi daya. Mutiara hasil budi daya
diproduksi dengan cara mengimplantasi potongan mantel yang dinamakan saibo
dan inti ke bagian organ dalam tubuh tiram (Kawakami 1954; Machii 1968; Awaji
dan Suzuki 1995; Masaoka et al. 2013). Mantel yang dijadikan saibo diambil dari
zona pallial mantel karena zona ini berisi banyak jaringan saraf dan arteri pallial
(Acosta-Salmn dan Southgate 2005). Penelitian Rao et al. (2010) menjelaskan
bahwa sayatan histologi mantel tiram Pinctada fucata yang telah berumur 1 dan 7
tahun memperlihatkan adanya conchiolin secretion yang terlibat dalam proses
pelapisan mutiara. Secara in vitro tiram Pinctada fucata yang telah berumur 7
tahun memiliki kemampuan regenerasi mantel yang lebih baik sehingga dapat
dijadikan tiram donor. Hal ini menjelaskan bahwa secara in vivo, tiram yang telah
berumur 7 tahun lebih baik dijadikan sebagai tiram donor dibandingkan dengan
tiram yang berumur 1 tahun. Namun penelitian ini masih harus dibuktikan karena
belum diimplantasi ke tiram inang.
Setelah implantasi saibo dan inti, saibo membentuk kantung mutiara.
Pembentukan kantung mutiara dimulai dengan degradasi bagian inner mantel dan
hanya tersisa bagian outer mantel (Cochennec-Laureau et al. 2010). Bagian outer
mantel terdiri atas jaringan epitel yang mampu beregenerasi dengan cepat (Norton
et al. 2000). Regenerasi jaringan epitel membentuk kantung mutiara menjadi
sangat penting karena menentukan kualitas mutiara, seperti warna, bentuk,
kilauan, dan permukaan mutiara. Untuk mendapatkan kantung mutiara yang baik
maka harus melakukan seleksi tiram donor agar mendapatkan saibo yang
berkualitas (Taylor 2002). Tayale et al. (2012) menjelaskan bahwa penggunaan
tiram donor (saibo) yang berasal dari alam (liar atau bukan hasil budi daya) lebih
baik karena meningkatkan kualitas mutiara yang dihasilkan seperti kilauan,
ketebalan nacre, bobot, dan warna mutiara. Kekurangan penelitian ini hanya
belum dapat menentukan umur tiram donor tersebut.
Kajian tentang umur tiram yang akan dijadikan saibo sampai saat ini masih
belum banyak yang dilaporkan. Biasanya perusahaan mutiara tidak
memperhatikan umur tiram mutiara yang akan dijadikan saibo, namun hanya
memperhatikan asal tiram yang digunakan sebagai saibo. Hal ini dilakukan karena
tiram donor (saibo) menentukan warna mutiara. Untuk mendapatkan mutiara
dengan kualitas tinggi diperlukan pemilihan saibo yang baik, salah satunya dari
faktor umur sehingga dapat mempersiapkan umur tiram yang digunakan sebagai
saibo secara berkelanjutan. Oleh karena umur saibo sangat penting dalam
menentukan kualitas mutiara maka diperlukan kajian tentang umur tiram yang
tepat untuk dijadikan sebagai saibo. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji
penggunaan saibo yang berasal dari tiram dengan umur yang berbeda pada proses
pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada maxima.

Bahan dan Metode

Hewan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan September sampai dengan November


2011 di Pulau Garaga Obi (01o25S, 127o20E) Provinsi Maluku Utara tepatnya di
65

perusahaan mutiara CV. Duta Aru Indah. Tiram donor dan host menggunakan
tiram Pinctada maxima yang didapatkan dari perusahaan mutiara, tetapi tiram
donor memiliki perbedaan umur, yakni 14, 21, dan 28 bulan. Penelitian
menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 3x4 dengan 20 kali
ulangan. Faktor pertama adalah umur saibo yang terdiri atas 3 level 14, 21, dan
28 bulan. Faktor kedua dalah waktu setelah implantasi yang terdiri atas minggu
ke- 1, 2, 3, dan 4. Setiap implantasi umur saibo menggunakan 80 ekor tiram
Pinctada maxima.
Total tiram yang digunakan sebanyak 240 ekor yang terdiri atas tiga puluh
enam (36) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
hemolimf (kadar glukosa, kalsium, dan fosfor), kecepatan dan persentase
penutupan inti oleh kantung mutiara (3 x 4 dengan 3 ulangan). Tiga puluh enam
(36) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran parameter
histologis. Seratus delapan (108) tiram digunakan untuk pengukuran kematian dan
penolakan inti. Untuk pengukuran persentase tiram yang berhasil membentuk
kantung mutiara selama 4 minggu percobaan, total 60 tiram yang digunakan (3
group x 20 ulangan). Prosedur penelitian tersaji pada Lampiran 1.

Paramater Pengamatan

Pengamatan dilakukan setiap minggu selama sebulan. Parameter yang


diukur dan diamati meliputi jumlah kumulatif tiram yang mengalami kematian
dan penolakan inti, persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara,
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara, konsumsi oksigen, kadar
glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf (tersaji pada Lampiran 2),
perkembangan histologis struktur kantung mutiara (Lampiran 3), data pendukung
meliputi suhu, salinitas, dan pH air.

Analisis Data

Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis sidik ragam dengan


menggunakan software SAS (Statistic Analysis System) versi 9.1.3 (Mattjik dan
Sumertajaya 2006)

Hasil

Kematian dan Penolakan Inti Kumulatif, Persentase Tiram yang Berhasil


Membentuk Kantung Mutiara pada Tiram Pinctada maxima dengan
Perlakuan Umur Saibo yang Berbeda

Besarnya persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara


disebabkan oleh sedikitnya tiram yang mengalami kematian dan penolakan inti.
Tiram yang mengalami kematian setelah implantasi disajikan pada Gambar 34
dan penolakan inti disajikan pada Gambar 35.
66

Jumlah tiram yang mengalami kematian dan penolakan inti pada umur saibo
14, 21, dan 28 bulan tidak berbeda, tetapi jumlah tiram yang mengalami
penolakan inti lebih besar dibandingkan dengan tiram yang mengalami kematian.
Perlakuan umur saibo 14, 21, dan 28 bulan menyebabkan tiram mengalami
kematian secara berturut-turut sebesar 10, 8.3, dan 5% sedangkan yang
mengalami penolakan inti secara berturut-turut sebesar 15, 11.7, dan 15%.

12
mengalami kematian

10
Jumlah kumulatif

08
tiram yang

06
(%)

04
02
00
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 34 Jumlah kumulatif tiram mutiara yang mengalami kematian setelah


diimplantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram
dengan umur berbeda selama 4 minggu pengamatan. Keterangan : 14
bulan (), 21 bulan (), 28 bulan ().
tiram yang mengalami

16
penolakan inti (%)
Jumlah kumulatif

14
12
10
08
06
04
02
00
1 2 3 4

Minggu setelah implantasi

Gambar 35 Jumlah kumulatif tiram yang mengalami penolakan inti setelah


diimplantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram
dengan umur berbeda selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: 14
bulan (), 21 bulan (), 28 bulan ().

Persentase tiram yang membentuk kantung mutiara dengan umur saibo yang
berbeda selama 4 minggu pengamatan disajikan pada Gambar 36. Perlakuan umur
saibo 14 bulan memiliki persentase tiram yang membentuk kantung mutiara
sebesar 75%, sedangkan umur saibo 21 bulan dan 28 bulan sebesar 80%, hanya
berbeda 5% lebih tinggi dari umur saibo 14 bulan.
67

100

Persentase tiram yang


90

kantung mutiara (%)


berhasil membentuk
80
70
60
50
40
30
20
10
0
Umur Saibo

Gambar 36 Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara pada


tiram Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan menggunakan
saibo yang berasal dari tiram dengan umur berbeda selama sebulan
pengamatan. Keterangan : 14 bulan (), 21 bulan () dan 28 bulan
bulan ().

Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara dan Persentase Penutupan Inti


pada Tiram Pinctada maxima dengan Perlakuan Umur Saibo yang Berbeda

Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase penutupan


inti pada tiram Pinctada maxima yang diimplantasi dengan menggunakan saibo
yang berasal dari tiram yang umurnya berbeda selama 4 minggu pengamatan
disajikan pada Tabel 7. Implantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari
tiram yang telah berumur 28 bulan memiliki kecepatan saibo mengelilingi inti
mutiara yang lebih cepat dibandingkan dengan penggunaan saibo yang berasal
dari tiram yang telah berumur 14 bulan dan 21 bulan, akan tetapi setelah 4 minggu
implantasi, kecepatan saibo mengelilingi inti tidak berbeda. Lebih rinci lagi,
persentase kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dengan menggunakan saibo
yang berasal dari tiram yang telah berumur 14 bulan dibandingkan dengan umur
28 bulan pada minggu 1, 2, 3, dan 4 sebesar 82, 93, 98, dan 93% (secara berturut-
turut), sedangkan persentase kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dengan
menggunakan saibo yang berasal dari tiram yang telah berumur 21 bulan
dibandingkan dengan umur tiram 28 bulan pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara
berturut-turut adalah sebesar 78, 85, 84, dan 90%.
Persentase penutupan inti kantung mutiara yang diimplantasi dengan
menggunakan saibo yang berasal dari tiram yang berumur 14 bulan dibandingkan
dengan umur 28 bulan pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut adalah
sebesar 76, 89, 80, dan 86%, sedangkan persentase penutupan inti kantung
mutiara yang diimplantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram
yang berumur 21 bulan dibandingkan umur 28 bulan pada minggu 1, 2, 3, dan 4
secara berturut-turut adalah sebesar 86, 79, 81, dan 86%.
68

Tabel 7 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase


penutupan inti pada tiram Pinctada maxima dengan perlakuan umur
saibo yang berbeda selama 4 minggu pengamatan.
Minggu ke-
Saibo
1 2 3 4
Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara (mm/hari)
a a a a
Umur 14 Bln 1.080.17 1.700.14 2.180.82 2.460.82
b a a b
Umur 21 Bln 1.310.08 1.810.01 2.230.08 2.650.08
c b b c
Umur 28 Bln 1.700.14 2.180.08 2.650.08 2.940.08

Persentase Penutupan Inti Mutiara (%)


a a
Umur 14 Bln 39.022.49 62.535.86 75.721.18a 84.766.45a
b a
Umur 21 Bln 44.442.37 55.812.33 77.261.18a 83.461.19a
c b b b
Umur 28 Bln 51.421.18 70.280.89 95.91.79 98.712.24
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).

Kecepatan pembentukan kantung mutiara dan persentase penutupan inti


yang diimplantasi dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram dengan
umur berbeda mempunyai nilai korelasi 0.96 dan menunjukkan korelasi yang
berbeda nyata (P<0.01) yang berarti bahwa semakin tinggi kecepatan
pembentukan kantung mutiara maka semakin besar persentase pembentukan
kantung mutiara. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan kecepatan
pembentukan kantung mutiara diikuti dengan peningkatan persentase penutupan
inti.

Histologi Infiltrasi Hemosit dan Perkembangan Kantung Mutiara Tiram


Pinctada maxima dengan Perlakuan Umur Saibo yang Berbeda

Saat inti diterima dan tidak ada penolakan inti oleh tiram inang, maka pola
infiltrasi hemosit dan respons inflamasi dari jaringan tidak berbeda atau serupa
pada setiap tiram Pinctada maxima yang diimplantasi dengan saibo yang berasal
dari umur tiram yang berbeda. Histologi dari infiltrasi hemosit selama
perkembangan kantung mutiara tiram Pinctada maxima yang diimplantasi dengan
saibo yang berasal dari tiram yang telah berumur 14 bulan disajikan pada Gambar
37. Tiram Pinctada maxima yang diimplantasi dengan saibo yang berasal dari
tiram yang telah berumur 14 bulan terjadi pembentukan kantung mutiara, namun
pada minggu pertama setelah implantasi terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit
yang tinggi. Dua minggu setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit
mulai menurun. Tiga minggu setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan
hemosit sangat rendah dan luka mulai pulih. Pada akhir pengamatan, yakni 4
minggu setelah implantasi, tidak ada hemosit dan sel-sel inflamasi.
69

Gambar 37 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram


Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan saibo yang berasal
dari tiram yang berumur 14 bulan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan
hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III),
masih terlihat jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat
setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel
inflamasi. (H&E. x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram


Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan saibo yang berasal dari tiram yang
telah berumur 21 bulan disajikan pada Gambar 38. Minggu pertama setelah
implantasi terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit
sangat sedikit, luka mulai sembuh. Minggu keempat setelah implantasi, tidak
terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi dan luka telah sembuh.
70

Gambar 38 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram


Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan saibo yang berasal
dari tiram yang berumur 21 bulan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), jumlah
sel-sel inflamasi dan hemosit sangat sedikit, luka mulai sembuh.
Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit
dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh. (H&E. x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram


Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan saibo yang berasal dari tiram yang
telah berumur 28 bulan disajikan pada Gambar 39. Pada minggu pertama terjadi
infiltrasi hemosit/sel radang yang tinggi, hal ini akibat luka/sayatan yang dibuat
saat implantasi. Setelah minggu kedua jumlah hemosit menurun, saat minggu
ketiga jumlah hemosit terlihat sedikit sekali atau luka akibat sayatan saat operasi
mulai sembuh. Setelah minggu keempat, tidak terlihat lagi hemosit dan tiram telah
sembuh dari luka akibat implantasi.
71

Gambar 39 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan mutiara pada tiram


Pinctada maxima setelah diimplantasi dengan saibo yang berasal
dari tiram yang berumur 28 bulan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak
terlihat lagi sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah
implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi,
jaringan telah sembuh (H&E. x100).

Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan saibo tiram


Pinctada maxima yang berumur 14 bulan disajikan pada Gambar 40. Pada
minggu pertama setelah implantasi terlihat bagian inner mantel telah mengalami
degradasi (nekrosis) dan hanya terlihat bagian outer mantel berupa 5-6 lapisan
sel-sel epitel mukosa, yaitu sel-sel epitel kuboid yang mengalami nekrosis. Sel-sel
epitel terlebih dahulu mengalami pyknosis (inti sel terlihat mengecil dan akhirnya
nekrosis). Di antara lapisan mukosa dan lapisan submukosa ada basement
membrane. Basement membrane berfungsi sebagai tempat melekatnya sel-sel
epitel selama pembentukan kantung mutiara. Lapisan submukosa berisikan cairan
atau nutrisi yang diperlukan sel-sel epitel selama proses degenerasi. Adanya
vakuola dan jumlah hemosit telah berkurang. Vakuola yang terbentuk akibat
proses degenerasi dari sel-sel epitel. Lapisan submukosa mulai mengalami
dilatasi. Tunika muskularis terlihat sebagai dasar menempelnya lapisan
submukosa (Gambar 40A). Minggu kedua setelah implantasi, sel-sel epitel
mengalami peningkatan nekrosis sehingga hanya terlihat 2-3 lapisan sel-sel epitel
kuboid. Lapisan submukosa mengalami dilatasi dan tunika muskularis tidak
mengalami perubahan (Gambar 40B). Minggu ketiga setelah implantasi, lapisan
epitel sel-sel kuboid mengalami degenerasi sehingga mulai terbentuk selapis sel-
72

sel epitel kuboid, namun sebagian masih terlihat 2 lapis saja. Lapisan submukosa
masih mengalami dilatasi (Gambar 40C). Minggu keempat setelah implantasi, sel-
sel epitel kuboid mengalami degenerasi dan hanya terlihat selapis sel-sel epitel
kuboid saja (monolayer of epithelial cells) dan bagian lain tidak mengalami
perubahan (Gambar 40D).

Gambar 40 Histologis perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan


saibo tiram Pinctada maxima yang telah berumur 14 bulan.
Keterangan : Minggu pertama (40A), Minggu kedua (40B), Minggu
ketiga (40C) dan Minggu keempat (40D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan saibo tiram


Pinctada maxima yang berumur 21 bulan disajikan pada Gambar 41. Pada
minggu pertama setelah implantasi terlihat bagian inner mantel telah mengalami
degradasi (nekrosis) dan hanya terlihat bagian outer mantel berupa 2-3 lapisan
sel-sel epitel mukosa, yaitu sel-sel epitel kuboid yang mengalami nekrosis.
Adanya vakuola dan jumlah hemosit telah berkurang. Vakuola yang terbentuk
akibat proses degenerasi dari sel-sel epitel. Lapisan submukosa mulai mengalami
dilatasi. Tunika muskularis terlihat sebagai dasar menempelnya lapisan
submukosa (Gambar 41A). Minggu kedua setelah implantasi, sel-sel epitel
mengalami peningkatan nekrosis sehingga hanya terlihat 1-2 lapisan sel-sel epitel
73

kuboid. Lapisan submukosa mengalami dilatasi, tunika muskularis tidak


mengalami perubahan (Gambar 41B). Minggu ketiga setelah implantasi, lapisan
epitel sel-sel kuboid mengalami degenerasi sehingga mulai terbentuk selapis sel-
sel epitel kuboid, namun sebagian masih terlihat 2 lapis saja. Lapisan submukosa
masih mengalami dilatasi sehingga terlihat membesar (Gambar 41C). Minggu
keempat setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid mengalami degenerasi dan hanya
terlihat selapis sel-sel epitel kuboid saja (monolayer of epithelial cells), lapisan
submukosa mengalami dilatasi sehingga tetap membesar dan bagian lain tidak
mengalami perubahan (Gambar 41D).

Gambar 41 Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan


saibo tiram Pinctada maxima yang telah berumur 21 bulan.
Keterangan: Minggu pertama (41A), Minggu kedua (41B), Minggu
ketiga (41C) dan Minggu keempat (41D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal, (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan saibo tiram


Pinctada maxima yang berumur 28 bulan disajikan pada Gambar 42. Pada
minggu pertama setelah implantasi terlihat bagian inner mantel telah mengalami
degradasi (nekrosis) dan hanya terlihat bagian outer mantel berupa 1-2 layer sel-
sel epitel mukosa, yaitu sel-sel epitel kuboid yang mengalami nekrosis dan adanya
hemosit. Sel-sel epitel terlebih dahulu mengalami pyknosis (inti sel terlihat
mengecil dan akhirnya nekrosis). Adanya vakuola dan jumlah hemosit telah
berkurang. Vakuola yang terbentuk akibat proses degenerasi dari sel-sel epitel.
Lapisan submukosa mulai mengalami dilatasi. Tunika muskularis terlihat sebagai
dasar menempelnya lapisan submukosa (Gambar 42A). Minggu kedua setelah
implantasi, sel-sel epitel mengalami peningkatan nekrosis. Lapisan submukosa
74

mengalami dilatasi sehingga terlihat membesar dan tunika muskularis tidak


mengalami perubahan (Gambar 42B). Minggu ketiga setelah implantasi, lapisan
epitel sel-sel kuboid mengalami degenerasi sehingga mulai terbentuk selapis sel-
sel epitel kuboid dan lapisan submukosa masih mengalami dilatasi (Gambar 42C).
Minggu keempat setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid mengalami degenerasi
dan hanya terlihat selapis sel-sel epitel kuboid saja (monolayer of epithelial cells)
dan bagian lain tidak mengalami perubahan (Gambar 42D).

Gambar 42 Histologi perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan


saibo tiram Pinctada maxima yang telah berumur 28 bulan.
Keterangan: Minggu pertama (42A), Minggu kedua (42B), Minggu
ketiga (42C) dan Minggu keempat (42D): (a) Nukleus, (b) Lapisan
sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel epitel kuboidal (c)
Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e) Tunika muskularis,
(f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit. (H&E. x400).

Histologis perkembangan kantung mutiara dengan menggunakan saibo


tiram Pinctada maxima yang telah berumur 14, 21, dan 28 bulan memiliki
beberapa perbedaan, yakni saat minggu pertama setelah implantasi, saibo umur 14
bulan lebih lambat terdegradasi karena masih terlihat 5-6 lapisan sel-sel epitel
kuboid sedangkan saibo umur 21 dan 28 bulan hanya tersisa 2-3 lapisan sel-sel
epitel kuboid. Minggu kedua setelah implantasi, saibo umur 14 bulan masih
tersisa 2-3 lapis sel-sel epitel kuboid, sedangkan saibo umur 21 dan 28 bulan
hanya tersisa 1-2 lapisan saja. Minggu ketiga setelah implantasi, saibo umur 14
bulan tersisa 1-2 lapisan sel-sel epitel kuboid, sedangkan saibo umur 21 dan 28
bulan hanya tersisa 1-2 lapisan sel-sel epitel kuboid namun sebagian besar telah
75

membentuk sel-sel epitel monolayer. Minggu keempat setelah implantasi, saibo


umur 14, 21, dan 28 bulan telah terbentuk sel-sel epitel kuboid yang selapis atau
monolayer namun sel-sel epitel yang terbentuk dari saibo umur 14 bulan masih
belum sempurna.
Hasil kuantitatif histologi (Tabel 8) menunjukkan bahwa pada awal
implantasi terjadi infiltrasi hemosit yang tinggi pada semua perlakuan umur saibo,
tetapi mulai menurun pada minggu kedua dan akhirnya tidak terlihat di minggu
ketiga dan keempat. Sel-sel epitel lebih cepat terdegradasi pada perlakuan umur
saibo 28 bulan dibandingkan dengan 14 bulan dan 21 bulan. Jumlah sel-sel epitel
yang mengalami pyknosis pada minggu pertama, kedua dan ketiga lebih sedikit
pada perlakuan umur saibo 28 bulan dibandingkan dengan 14 bulan dan 21 bulan,
namun tidak berbeda pada minggu keempat. Jumlah vakuola pada minggu kedua,
ketiga dan keempat tidak berbeda pada semua pelakuan umur saibo dan hanya
berbeda pada minggu pertama.

Tabel 8 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,


jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima dengan dengan perlakuan umur saibo yang berbeda
selama 4 minggu pengamatan.
Minggu ke-
Saibo
1 2 3 4
+
Infiltrasi hemosit (lobus/ LP )
Umur 14 Bln 20.0 2.6*** 7.71.5** X x
Umur 21 Bln 19.3 2.1*** 8.31.2** X x
Umur 28 Bln 17.7 1.5*** 5.71.5** X x
Jumlah lapisan sel-sel epitel
Umur 14 Bln 5-6 2-3 1-2 1
Umur 21 Bln 2-3 1-2 1-2 1
Umur 28 Bln 1-2 1-2 1 1
Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis (sel/LP++)
Umur 14 Bln 11.32.1a 9.31.5a 8.31.5a 3.70.6
Umur 21 Bln 10.71.5ab 7.01.0ab 5.31.2b 4.30.6
b b b
Umur 28 Bln 8.01.0 6.31.2 3.70.6 3.30.6
Jumlah vakuola (sel/LP++)
Umur 14 Bln 8.70.6a 4.31.5 5.70.5 5.31.5
b
Umur 21 Bln 5.31.2 3.70.6 5.01.0 4.31.2
Umur 28 Bln 5.30.6b 5.70.6 4.71.5 4.71.2
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Keterangan : LP+ (Lapang pandang
dengan pembesaran 100 kali), LP++ (Lapang pandang dengan pembesaran 400
kali) *** (Tinggi),**(Sedang), *(Rendah), x (Tidak terlihat).

Konsumsi Oksigen, Kadar Glukosa, Kalsium, dan Fosfor Hemolimf pada


Tiram Pinctada maxima dengan Perlakuan Umur Saibo yang Berbeda

Tingkat metabolisme yang ditunjukkan dengan konsumsi oksigen pada


semua penggunaan saibo yang berasal dari umur tiram berbeda tidak berbeda.
76

Rataan konsumsi oksigen berkisar 0,0035-0,0038 (mg/L /jam). Rataan konsumsi


oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor hemolimf pada Pinctada maxima
pada semua penggunaan saibo yang berasal dari umur tiram berbeda selama 4
minggu pengamatan disajikan pada Tabel 9. Rataan konsumsi oksigen
menunjukkan bahwa pada semua penggunaan saibo yang berasal dari umur tiram
berbeda tidak berbeda nyata. Rataan kadar glukosa hemolimf berbeda nyata pada
minggu ketiga dengan kisaran 5.74-1.65 mg/dL. Tidak ada perbedaan yang nyata
pada kadar kalsium hemolimf dengan menggunakan saibo yang berasal dari tiram
dengan umur berbeda dengan kisaran 648.72-723.39 ppm. Kadar fosfor hemolimf
juga tidak berbeda nyata dengan kisaran 6.99-20.15 ppm.
Pola kadar glukosa hemolimf tiram yang diimplantasi dengan menggunakan
saibo yang berasal dari tiram yang umurnya berbeda adalah serupa. Minggu
pertama setelah implantasi, kadar glukosa hemolimf tinggi, namun mencapai nilai
terendah setelah 4 minggu implantasi. Tidak ada interaksi antara umur saibo dan
waktu setelah implantasi pada kadar kalsium hemolimf. Namun, hasil ini belum
mewakili secara keseluruhan kadar kalsium hemolimf karena saat pengambilan
hemolimf pada tahap ini tidak dilakukan dengan membelah kedua cangkang
tiram. Hal yang sama juga terjadi pada kadar fosfor hemolimf. Perbedaan kadar
kalsium dan fosfor hemolimf terjadi akibat pengambilan hemolimf yang disertai
dengan terambilnya nutrisi di dalam usus karena bagian organ dalam tubuh tiram
Pinctada maxima yang menyatu sehingga sulit untuk melakukan pengambilan
hemolimf secara tepat.

Tabel 9 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium, dan kadar
fosfor hemolimf pada tiram Pinctada maxima dengan perlakuan umur
saibo yang berbeda selama 4 minggu pengamatan.

Umur Minggu ke-


Saibo 1 2 3 4
Konsumsi oksigen (mgl O2-1 g-1 jam-1)
14 Bulan 0.00340.0002 0.00340.0002 0.00350.0001 0.00360.0002
21 Bulan 0.00360.0003 0.00350. 0002 0.00340.0001 0.00360.0001
28 Bulan 0.00360.0004 0.00350.0002 0.00350.0001 0.00350.0001
Kadar glukosa hemolimf (mg/dL)
14 Bulan 5.740.45a 2.160.85 2.020.74ab 2.510.62
21 Bulan 1.790.55b 2.350.39 1.650.67b 2.320.66
28 Bulan 4.582.26ab 2.260.22 3.270.82 a
2.410.79
Kadar kalsium hemolimf (ppm)
14 Bulan 712.5617.84 723.397.53 684.419.69 722.3622.01
21 Bulan 716.1015.11 697.198.87 678.5328.36 696.478.56
28 Bulan 716.4557.92 700.6328.79 648.7282.20 712.6720.08
Kadar fosfor hemolimf (ppm)
14 Bulan 11.491.65 12.423.28a 8.242.32b 10.294.13a
a a
21 Bulan 11.904.41 10.774.93 12.882.73 8.331.16a
28 Bulan 14.094.58 8.262.26b 14.094.58a 6.991.20b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).
77

Pembahasan

Penelitian ini menemukan bahwa saibo berkembang mengelilingi inti secara


tidak merata atau menjulur sehingga sulit untuk mengukur perkembangan kantung
mutiara. Data kecepatan saibo mengelilingi inti dan persentase penutupan inti
mutiara dapat mengatasi hal ini. Kecepatan dan pembentukan kantung mutiara
pada perlakuan saibo umur 28 bulan lebih baik bila dibandingkan dengan
perlakuan saibo umur 14 dan 21 bulan. Usia tiram donor mempengaruhi
kecepatan regenerasi mantel. Untuk produksi mutiara budi daya, kerang mutiara
yang telah berumur tua umumnya disukai untuk digunakan sebagai saibo dari
yang berumur muda karena yang umur muda pertumbuhan saibo lambat (Gervis
dan Sims 1992), menurut Carlson (2011) kekurangan gizi mempengaruhi proses
regenerasi mantel.
Secara histologi, pembentukan kantung mutiara ditemukan bahwa saibo
mengalami perubahan, terutama bagian inner mantel mengalami degradasi,
sedangkan bagian outer mantel mengalami perubahan, yakni sel-sel epitel
kompleks berubah menjadi sel-sel epitel yang lebih sederhana. Perlakuan umur
saibo 14 bulan, outemantel mengalami nekrosis yang lebih lambat karena sampai
minggu kedua setelah implantasi masih terlihat 2-3 susunan sel-sel epitel kuboid.
Perlakuan umur saibo 21 dan 28 bulan mengalami nekrosis yang lebih cepat
sehingga sudah terlihat 1-2 lapis saja. Pada minggu kedua telah terlihat selapis
sel-sel epitel yang mengelilingi inti. Penelitian ini juga menegaskan bahwa tiram
yang mengalami kematian dan penolakan inti pada perlakuan umur saibo 14 bulan
sebesar 25%, sedangkan perlakuan umur saibo 21 dan 28 bulan hanya sebesar
20%, tetapi yang perlu dicatat juga bahwa hasil ini didapatkan selama 4 minggu.
Bila waktu diperpanjang lebih dari 4 minggu, kemungkinan tiram masih akan
mengalami kematian dan penolakan inti. Untuk mengurangi jumlah tiram yang
mengalami penolakan inti maka disarankan menggunakan anastesi saat
implantasi, selain itu faktor kesalahan teknisi selama melakukan proses implantasi
dan stress mekanik yang dilakukan oleh pekerja. Fakta penelitian ini memberikan
bukti bahwa saat melakukan implantasi, harus memperhatikan umur tiram yang
akan dijadikan tiram donor karena sangat berpengaruh pada pembentukan kantung
mutiara yang pada akhirnya mempengaruhi kualitas mutiara.
Konsumsi oksigen pada penelitian ini tidak berbeda nyata antarperlakuan
karena suhu tidak mengalami perubahan yang berkisar 27,2-27,6C. Implantasi
inti tidak mempengaruhi laju konsumsi oksigen sehingga tidak berpengaruh pada
metabolisme tubuh tiram Pinctada maxima. Menurut Goddard (1996), laju
konsumsi oksigen dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk suhu air, bobot
badan, dan tingkat aktivitas. Tiram Pinctada maxima memiliki kemampuan untuk
mengatur homeostasis oksigen. Choi et al. (2013) juga menjelaskan bahwa
beberapa gen pada bivalvia, misalnya faktor hypoxia (HF-1), berfungsi sebagai
homeostasis oksigen pada tiram Crassostrea gigas.
Kerusakan jaringan mantel dan biaya energi dari proses penyembuhan, serta
regenerasi tidak mengganggu fungsi tubuh lainnya (Acosta-Salmn et al. 2004).
Carlson (2011) menyatakan bahwa regenerasi mantel membutuhkan semua fungsi
seluler dan proses ini memakan waktu lebih lama daripada penyembuhan luka.
Tingkat penyembuhan luka di tiram mutiara kemungkinan akan dipengaruhi oleh
kondisi fisiologis tiram. Proses penyembuhan luka digambarkan dengan penelitian
78

lain, tetapi dengan melakukan eksisi mantel seperti menemukan bahwa


penyembuhan luka akibat eksisi epitel mantel terjadi dalam waktu 3-4 hari
sementara morfogenesis membutuhkan waktu 3 bulan. Setelah eksisi mantel maka
kedua ujung mantel digulung ke arah dalam untuk meminimalkan pendarahan
(Acosta-Salmn dan Southgate 2006).
Tiram mengalami perubahan kadar glukosa yang fluktuatif dari minggu
pertama sampai minggu keempat, namun bila dilihat lagi ternyata rataan kadar
glukosa minggu pertama lebih tinggi bila dibandingkan dengan kadar glukosa
pada minggu berikutnya. Hal ini disebabkan tiram masih mengalami stress akibat
luka/sayatan yang dibuat saat implantasi. Tiram mengalami stress sehingga terjadi
peningkatan kadar glukosa hemolimf. Insulin like subtance (ILS) berperan penting
dalam menjaga homeostatis kadar glukosa hemolimf pada Crassostrea gigas
(Jouaux et al. 2013). Guvlou et al. (2013b) menjelaskan bahwa selama
hipoksia, signal protein kinase AMP (AMPK ) berperan dalam homeostatis
glukosa pada otot polos Crassostrea gigas.
Stress yang disebabkan oleh proses implantasi akan memicu reaksi imun
yang terlihat dari infiltrasi hemosit saat awal implantasi. Sebelumnya Li et al.
(2010) telah menjelaskan bahwa setelah operasi inti terjadi peningkatan hemosit
yaitu granulosit dan hyalinosit. Hal ini menunjukkan bahwa penyisipan inti
mengaktifkan sistem kekebalan tubuh karena hemosit memainkan peran penting
dalam proses penyembuhan luka. Hal yang sama juga dikemukakan oleh Lacoste
et al. (2002b) yang menjelaskan bahwa stress meningkatkan total jumlah hemosit
pada tiram Crassostrea gigas.
Stress dapat menyebabkan diaktifkannya molekul-molekul seperti CRH,
ACTH, cytokine-like molecules, asam-asam amino biogenik (noradrenalin,
adrenalin, dan dopamin) dan cortisol-like molecules yang terdapat dalam hemosit
pada gastropoda dan bivalvia (Genedani et al. 1994; Ottaviani et al. 1998). Sistem
saraf, heamosit, dan hemolimf mengandung dopamine dan noradrenalin. Hemosit
juga memiliki peptida neuroaktif lainnya, seperti somatostatin dan neurotensin
(Malagoli et al. 2007). ACTH, b-endorphin, interleukin (IL-1, IL-1, IL-2, IL-6)
dan tumor necrosis factor (TNF-) telah ditemukan dalam hemosit pada
gastropoda Planorbarius corneus dan Viviparus ater. Interleukin-1, IL-6, INF-
dan TNF juga telah diidentifikasi pada gastropoda Lymnaea stagnalis. Pada
gastropoda ini, interleukin-2 menimbulkan pelepasan adrenalin dan noradrenalin,
tetapi terhambat oleh CRH. Penghambatan serupa juga terjadi dengan IL-1, IL-
1, TNF- dan TNF-. Kompetisi ini mungkin merupakan mekanisme umpan
balik, serta menunjukkan hubungan antara imunitas dan fungsi endokrin (Hooper
et al. 2007). Katekolamin disintesis oleh hemosit kerang dan dilepaskan ke
hemolimf selama stres sehingga noradrenalin (NA) menghambat respons imunitas
seperti fagositosis melalui sinyal/jalur -adrenergic/cAMP dan produksi reactive
oxygen species (ROS) (Lacoste et al. 2001a; Lacoste et al. 2001b; Lacoste et al.
2002a). Produksi spesies oksigen reaktif (ROS) mempengaruhi mekanisme
imunitas seluler kerang (Pipe dan Coles 1995). Spesies oksigen reaktif yang
paling penting (ROS) adalah radikal superoksida, hidrogen peroksida H2O2, dan
hidroksil OH (Holmblad dan Sderhll 1999). Cu/Zn SOD dapat digunakan
sebagai bioindikator pencemaran lingkungan perairan dan stress seluler tiram
mutiara (Anju et al. 2013).
79

Kadar kalsium dan fosfor pada penelitian ini tidak berbeda nyata
antarperlakuan. Menurut Wilbur dan Saleuddin (1983) cairan tubuh dan
komposisi ion dalam hemolimf (Na+, K+, Ca2+,Mg2+,Cl- dan HCO3-) diatur secara
hati-hati oleh hormon agar selalu dalam keadaan homeostatis selain itu regulasi
ion, eksresi, dan reabsorbsi diatur oleh ginjal.
Pada tiram Pinctada fucata, deposisi CaCO3 tidak dapat dikontrol oleh
matriks protein selama awal implantasi. Namun, ekspresi yang signifikan dari
matriks protein pada kantung mutiara dideteksi pada hari ke 30-35 setelah
implantasi. Pada hari 30, telah ada lapisan tipis CaCO3 yakni amorf CaCO3. Pada
hari 35, lapisan nacreous telah terbentuk, matriks protein menunjukkan adanya
bioaktivitas pengembangan mutiara. Matriks protein mengontrol fase kristal,
bentuk, ukuran, nukleasi, dan agregasi kristal CaCO3 (Liu et al. 2011).
Protein lain seperti sarko/reticulum endoplasma Ca2+-ATPase (SERCA)
juga berperan dalam mempertahankan homeostatis ion kalsium dan ditemukan
paling tinggi di insang dan mantel (Fan et al. 2007). Matriks protein dari nacre
memainkan peranan penting dalam fase mineralisasi dan diferensiasi sel-sel yang
terlibat dalam proses biomineralisasi karena secara invitro matriks protein dapat
mempercepat nukleasi kristal kalsium karbonat dan meningkatkan aktivitas enzim
alkaline fosfatase sehingga mendorong pembentukan kristal aragonit (Zhang dan
Zhang 2006).

Simpulan

Pembentukan kantung mutiara dengan menggunakan saibo dari tiram yang


telah berumur 28 bulan lebih baik bila dibandingkan dengan saibo dari tiram
yang berumur 14 dan 21 bulan.

6 PROSES PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM


Pinctada maxima JANTAN DAN BETINA

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Fakultas MIPA-Biologi Unpatti-Ambon Maluku, 2Mayor Ilmu-ilmu Faal
dan Khasiat Obat, Sekolah Pascasarjana IPB, 3Mayor Budi Daya Perairan
Sekolah Pascasarjana IPB

ABSTRAK
Penelitian tahap ini bertujuan untuk mengkaji pembentukan kantung mutiara
pada tiram Pinctada maxima jantan dan betina. Penelitian menggunakan
rancangan acak lengkap (RAL) pola faktorial 2x4 dengan 20 kali ulangan. Faktor
pertama adalah jenis kelamin 2 level yang terdiri atas jantan dan betina. Faktor
kedua adalah waktu setelah implantasi yang terdiri atas minggu ke- 1, 2, 3, dan 4.
Paramater yang diamati meliputi persentase tiram yang berhasil membentuk
kantung mutiara, penolakan inti, kematian, kecepatan pertumbuhan kantung
mutiara dan persentase penutupan inti, histologi kantung mutiara, konsumsi
oksigen, kadar glukosa, kalsium, dan fosfor hemolimf. Hasil menunjukkan bahwa
implantasi pada tiram betina memiliki persentase tiram yang berhasil membentuk
80

kantung mutiara sebesar 80%, sedangkan pada tiram jantan sebesar 75%.
Penolakan inti dan kematian tiram pada jenis kelamin jantan dan betina tidak
berbeda. Kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan persentase pembentukan
kantung mutiara pada tiram betina lebih baik dibandingkan tiram jantan. Kadar
kalsium dan fosfor hemolimf tidak berbeda namun lebih tinggi pada tiram betina,
sedangkan kadar glukosa hemolimf dan konsumsi oksigen tidak berbeda nyata,
namun lebih rendah pada tiram betina. Perkembangan struktur morfologi dan
struktur histologis kantung mutiara pada semua perlakuan tidak berbeda.

Kata kunci : Tiram Betina, Tiram Jantan, Implantasi, Kantung Mutiara,


Pinctada maxima

THE PEARL SAC FORMATION IN MALE AND FEMALE Pinctada


maxima OYSTERS

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Doctoral Programme Majoring in Physiology and Pharmacology, Graduate
2
School, Bogor Agricultural University. Majoring in Physiology and
Pharmacology, Graduate School, Bogor Agricultural University, 3Majoring in
Aquaculture, Graduate School, Bogor Agricultural University.

ABSTRACT

This study was designed to study the effect of male and female host oysters
on the pearl sac formation in Pinctada maxima oyster. The experiment was
designed in a completely randomized design with 2 x 4 factorial arrangement and
20 replications. The first factor was sex of host oyster consisted of 2 levels i.e.,
males and females. The second factor was week after implantation with 4 levels
i.e., 1, 2, 3, and 4 weeks. The parameters observed were the percentage of
successful oyster to form the pearl sac, the speed and percentage of pearl sac
formation, histology of the pearl sac growth and development, haemolymph
glucose, calcium, and phosphorus concentrations. The results showed that the
percentage of host oysters that succeeded in forming a pearl sac was 80 and 75%
in female and male host oysters, respectively. Speed of pearl sac growth and the
percentage of nucleus coverage by the pearl sac in female host oysters were better
than that in males host oysters. There was no difference in nucleus rejection and
mortality in male and female host oysters. Haemolymph calcium, phosphorus,
and glucose concentrations, oxygen consumption, and developmental morphology
and histology of the pearl sac were not different between male and female host
oysters. It was concluded that pearl sac formation in the female host oyster was
better than that in male host oyster.

Key word: Female oyster, Implantation, Male oyster, Pearl sac formation,
Pinctada maxima
81

Pendahuluan

Pembentukan kantung mutiara dimulai dengan degradasi bagian inner


mantel dan hanya tersisa bagian outer mantel (Cochennec-Laureau et al. 2010).
Degradasi sel-sel epitel kompleks menjadi sel-sel epitel sederhana sampai
terbentuk kantung mutiara pada setiap tiram berbeda. Perbedaan ini berhubungan
dengan metabolisme tubuh masing-masing tiram. Tiram betina memiliki
kebutuhan energi untuk metabolisme yang berbeda dari tiram jantan. Tiram betina
membutuhkan energi yang lebih besar untuk pertumbuhan dan perkembangan
gamet sehingga ketika terjadi penurunan energi maka tidak ada lagi cadangan
energi yang disimpan untuk gametogenesis (Chvez-Villalba et al. 2011).
Kebutuhan energi yang berbeda antara tiram jantan dan betina seperti
gametogenesis berpengaruh pada pembentukan kantung mutiara. Selain
kebutuhan energi, kadar hormon yang berbeda antara tiram jantan dan betina
dapat mempengaruhi pembentukan kantung mutiara. Beberapa penelitian telah
membuktikan bahwa gametogenesis sangat dipengaruhi oleh kadar hormon
estrogen, seperti pemberian estradiol pada tiram jenis Mytilus galloaprovincialis.
Pada ovarium jenis tiram Crassostrea gigas ditemukan reseptor estrogen
alfa dan beta, terutama pada inti folikel (Matsumoto et al. 2007). Selama
reproduksi pada tiram jenis Mytilus edulis ditemukan reseptor estrogen pada
jaringan saraf otak. Sistem saraf mengontrol hormon 17-beta-estradiol yang
dilakukan melalui bantuan reseptor estrogen atau disebut ganglionic estrogen
reseptor sehingga menjelaskan bahwa otak berperan dalam mengatur signal ke
organ reproduksi (Stefano et al. 2003).
Gametogenesis pada tiram jantan dan betina berhubungan dengan kerja
hormon reproduksi (Zhu et al. 2003). Gonadotropin-releasing hormone sangat
berhubungan dengan kebutuhan energi selama reproduksi tiram. Hormon 17-beta
estradiol dan testosteron berperan sebagai modulator endogen pada gametogenesis
karena pada bivalvia jenis Mya arenaria ditemukan peningkatan kedua hormon
ini selama vitellogenesis (Gauthier-Clerc et al. 2006b). Li et al. (2010)
menjelaskan bahwa estrogen mempengaruhi kerja hormon reproduksi tiram
mutiara karena suntikan estradiol dapat merangsang vitelogenin. Pembentukan
vitelogenin atau kuning telur sangat penting untuk gametogenesis.
Kebutuhan energi metabolisme yang berbeda dan reproduksi antara tiram
jantan dan betina yang berbeda akan mempengaruhi pembentukan kantung
mutiara. Pada tiram Crassostrea gigas, terjadi alokasi energi yang tinggi untuk
reproduksi. Pada tahap pertama gametogenesis, ekpressi mRNA AMP-activated
protein kinase (AMPK) lebih tinggi pada jantan. Hal yang sama juga terjadi pada
aktivitas mitosis dan diferensiasi sel germinal. Fosforilasi AMPK dan treonin
172 lebih rendah dalam gonad betina matang (pada tahap 3 saat pembentukan
oosit), sementara itu terjadi fosforilasi yang tinggi pada spermatozoa matang.
Aktivasi ini merupakan strategi pengelolaan energi selama gametogenesis
(Guvlou et al. 2013a). Kemampuan dalam mengelola energi antara tiram jantan
dan betina yang berbeda akan mempengaruhi pembentukan kantung mutiara.
Selain itu, kemampuan pertahanan tubuh juga berbeda. Sayatan pada gonad
saat implantasi membuat tiram mengalami stress sehingga mempengaruhi
pembentukan kantung mutiara. Sebelumnya Cheng dan Chen (2000) menjelaskan
bahwa kemampuan tiram untuk bertahan dari cidera atau infeksi parasit
82

bergantung pada sistem pertahanan. Hemosit dianggap sebagai mediator selular


utama sistem pertahanan pada bivalvia. Jumlah hemosit tiram lebih dipengaruhi
oleh reproduksi yang berhubungan dengan variasi suhu musiman dibandingkan
dengan ketersediaan pangan. Gametogenesis menyebabkan pengurangan
cadangan energi dan pengurangan jumlah hemosit (lebih banyak hyalinocytes),
kapasitas adhesi dan aktivitas fagositosis (Delaportea et al. 2006). Berdasarkan
hal tersebut di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan jenis
kelamin pada perkembangan kantung mutiara tiram Pinctada maxima.

Bahan dan Metode

Materi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Mei sampai dengan Juni 2012 di
Pulau Garaga Obi (01o25S, 127o20E) Provinsi Maluku Utara tepatnya di
perusahaan mutiara CV. Duta Aru Indah. Tiram donor dan host menggunakan
tiram Pinctada maxima yang berjenis kelamin jantan dan betina, didapatkan dari
perusahaan mutiara. Implantasi saibo bersifat allograf, yaitu jika implantasi pada
tiram betina maka saibo juga diambil dari tiram betina, begitupun sebaliknya pada
tiram jantan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) pola
faktorial 2x4 dengan 20 kali ulangan. Faktor pertama adalah jenis kelamin yang
terdiri atas 2 level, yakni jantan dan betina. Faktor kedua adalah waktu setelah
implantasi yang terdiri atas 4 minggu yakni minggu ke- 1, 2, 3, dan 4. Setiap jenis
kelamin menggunakan 80 ekor tiram Pinctada maxima.
Total tiram yang digunakan sebanyak 160 ekor yang terdiri atas dua puluh
empat (24) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
hemolimf (kadar glukosa, kalsium, dan fosfor), kecepatan dan persentase
penutupan inti oleh kantung mutiara (2 x 4 dengan 3 ulangan). Dua puluh empat
(24) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran parameter
histologis. Tujuh puluh dua (72) tiram digunakan untuk pengukuran kematian dan
penolakan inti. Untuk pengukuran persentase tiram yang berhasil membentuk
kantung mutiara selama 4 minggu percobaan, total 40 tiram yang digunakan (2
group x 20 ulangan). Prosedur penelitian tersaji pada Lampiran 1.

Paramater Pengamatan

Pengamatan dilakukan setiap minggu selama sebulan, parameter yang


diukur dan diamati meliputi jumlah kumulatif tiram yang mengalami kematian
dan penolakan inti, persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara,
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara, konsumsi oksigen, kadar
glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf (tersaji pada Lampiran 2),
perkembangan histologis struktur kantung mutiara (Lampiran 3), data pendukung
meliputi suhu, salinitas, dan pH air.
83

Analisis Data
Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis sidik ragam dengan
menggunakan software SAS (Statistic Analysis System) versi 9.1.3 (Mattjik dan
Sumertajaya 2006).

Hasil

Kematian dan Penolakan Inti Kumulatif, Persentase Tiram yang Berhasil


Membentuk Kantung Mutiara pada Tiram Pinctada maxima Jantan dan
Betina

Persentase tiram yang mengalami penolakan inti lebih besar dari tiram yang
mengalami kematian. Besarnya persentase tiram yang membentuk kantung
mutiara pada jenis kelamin betina disebabkan karena hanya sedikit tiram yang
mengalami kematian dan penolakan inti. Tiram yang mengalami kematian
disajikan pada Gambar 43, dan tiram yang mengalami penolakan inti disajikan
pada Gambar 44. Persentase tiram yang mengalami kematian pada tiram jantan
dan betina sama besar, yakni 8.3% sedangkan persentase tiram yang mengalami
penolakan inti pada tiram jantan dan betina secara berturut-turut adalah sebesar
16.7 dan 11.7%.
Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara pada tiram
jantan dan betina tersaji pada Gambar 45. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara pada tiram betina
sebesar 80%, sedangkan pada tiram jantan sebesar 75%, hanya berbeda 5%.

9
yang mengalami kematian

8
Jumlah kumulatif tiram

7
6
5
(%)

4
3
2
1
0
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 43 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami kematian


selama 4 minggu implantasi pada jenis kelamin berbeda. Keterangan
: tiram jantan (--), dan betina ().
84

20

tiram yang mengalami


penolakan inti (%)
Jumlah kumulatif
15

10

0
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 44 Jumlah kumulatif tiram Pinctada maxima yang mengalami


penolakan inti selama 4 minggu implantasi pada jenis kelamin
berbeda. Keterangan : tiram jantan (--), dan betina ().

100
90
Persentase tiram yang

kantung mutiara (%)


berhasil membentuk

80
70
60
50
40
30
20
10
0
. Jenis Kelamin

Gambar 45 Persentase tiram Pinctada maxima yang berhasil membentuk


kantung mutiara selama 4 minggu implantasi dengan jenis kelamin
berbeda. Keterangan : tiram jantan () dan betina ().

Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara dan Persentase Penutupan Inti


Mutiara pada Tiram Pinctada maxima Jantan dan Betina

Kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan persentase penutupan inti


tiram Pinctada maxima jantan dan betina selama 4 minggu pengamatan tersaji
pada Tebel 10. Kecepatan pertumbuhan kantung mutiara pada tiram betina lebih
cepat dibandingkan dengan tiram jantan. Tidak ada interaksi antara perbedaan
jenis kelamin dan waktu setelah implantasi pada kecepatan pertumbuhan kantung
mutiara dan persentase penutupan inti oleh kantung mutiara. Hal ini dapat
dijelaskan bahwa implantasi inti dapat dilakukan pada tiram jantan dan betina,
walaupun implantasi pada tiram betina memiliki kecepatan pertumbuhan dan
persentase penutupan inti oleh kantung mutiara yang sedikit lebih baik.
85

Tabel 10 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan rataan persentase
penutupan inti mutiara pada tiram Pinctada maxima jantan dan betina
selama 4 minggu pengamatan.

Minggu ke
Jenis Kelamin
1 2 3 4
Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara (mm/hari)
Jantan 1.460.08b 1.930.09 2.180.08b 2.510.08b
a a
Betina 1.650.08 2.080.08 2.510.08 2.800.08a

Persentase Penutupan Inti Mutiara (%)


Jantan 48.061.55 65.631.79b 81.402.05b 94.571.55
Betina 49.102.37 70.542.05a 93.021.55a 97.160.90
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).

Persentase kecepatan pertumbuhan kantung mutiara yang diimplantasi pada


tiram jantan dibandingkan tiram betina pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-
turut adalah sebesar 89, 93, 87, dan 90%, sedangkan persentase penutupan inti
mutiara tiram jantan dibandingkan dengan tiram betina pada minggu 1, 2, 3, dan 4
secara berturut-turut adalah sebesar 98, 93, 88, dan 97%.

Histologi Infiltrasi Hemosit dan Perkembangan Kantung Mutiara Tiram


Pinctada maxima Jantan dan Betina

Hasil infiltrasi hemosit pada tiram jantan dan betina tidak ada perbedaan.
Histologi dari infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara tiram
Pinctada maxima jantan disajikan pada Gambar 46. Pada tiram jantan, akibat
implantasi terjadi infiltrasi hemosit yang tinggi, namun dua minggu setelah
implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit mulai menurun. Tiga minggu
setelah implantasi, luka mulai sembuh dan tidak terlihat sel-sel inflamasi dan
hemosit. Pada akhir pengamatan, yakni 4 minggu setelah implantasi, tidak ada
hemosit dan sel-sel inflamasi. Hal ini menunjukkan bahwa luka saat implantasi
telah sembuh.
86

Gambar 46 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima jantan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi dan
hemosit yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III),
tidak terlihat lagi sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat
setelah implantasi (IV), luka akibat telah sembuh dan tidak terlihat
lagi hemosit dan sel-sel inflamasi. (H&E.x100).

Hal serupa juga dialami oleh tiram betina (Gambar 47), implantasi
menyebabkan infiltrasi hemosit yang tinggi, namun dua minggu setelah
implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit mulai menurun. Tiga minggu
setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit sudah tidak terlihat dan
luka mulai sembuh. Pada akhir pengamatan, yakni 4 minggu setelah implantasi,
tidak ada hemosit dan sel-sel inflamasi ditemukan.
87

Gambar 47 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima betina. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), jumlah
sel-sel inflamasi dan hemosit sudah tidak terlihat, luka mulai
sembuh. Minggu keempat setelah implantasi (IV), tidak terlihat lagi
hemosit dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh. (H&E.x100).

Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima


betina disajikan pada Gambar 48. Histologi perkembangan kantung mutiara pada
tiram betina sama dengan tiram jantan. Pada minggu pertama setelah implantasi
terlihat bagian inner mantel telah mengalami degradasi (nekrosis) dan hanya
terlihat bagian outer mantel berupa 1-2 lapisan sel-sel epitel mukosa, yaitu sel-sel
epitel kuboid yang mengalami nekrosis karena ada pyknosis, sel-sel epitel kuboid
melekat pada basement membrane dan terlihat hemosit yang tinggi. Lapisan
submukosa juga mengalami dilatasi yang berdekatan dengan tunika muskularis
(Gambar 48A). Minggu kedua setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid masih
mengalami nekrosis dan degenerasi, jumlah hemosit terlihat berkurang, sedangkan
lapisan submukosa masih mengalami dilatasi dan berdekatan dengan tunika
muskularis (Gambar 48B). Minggu ketiga setelah implantasi, telah terlihat sel-sel
epitel kuboid yang mulai membentuk satu lapis atau monolayer dan hampir
mengelilingi inti serta lapisan submukosa yang berdilatasi sehingga terlihat
membesar (Gambar 48C). Minggu keempat setelah implantasi, kantung mutiara
telah terbentuk berupa sel epitel kuboid monolayer yang mengelilingi inti dan
88

membentuk kantung mutiara, namun masih terus mengalami degenerasi (Gambar


48D). Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram jantan dan betina tidak
ada perbedaan.

Gambar 48 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan pada tiram betina. Keterangan: Minggu pertama (48A),
Minggu kedua (48B), Minggu ketiga (48C) dan Minggu keempat
(48D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri
atas sel-sel epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan
submukosa, (e) Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h)
Hemosit (H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima


jantan disajikan pada Gambar 49. Histologi perkembangan kantung mutiara pada
tiram jantan menunjukkan bahwa pada minggu pertama setelah implantasi terlihat
bagian inner mantel telah mengalami degradasi (nekrosis) dan hanya terlihat
bagian outer mantel berupa 1-2 lapisan sel-sel epitel mukosa, yaitu sel-sel epitel
kuboid yang mengalami nekrosis karena ada pyknosis, sel-sel epitel kuboid
melekat pada basement membrane. Lapisan submukosa juga mengalami dilatasi,
terlihat hemosit yang tinggi (Gambar 49A). Pada minggu kedua setelah
implantasi, sel-sel epitel kuboid masih mengalami nekrosis dan degenerasi.
Lapisan submukosa masih mengalami dilatasi dan jumlah hemosit mulai
berkurang (49B). Pada minggu ketiga setelah implantasi, telah terlihat sel-sel
epitel kuboid yang mulai membentuk satu lapis atau monolayer dan hampir
mengelilingi inti (49C). Pada minggu keempat setelah implantasi, kantung
89

mutiara telah terbentuk berupa sel epitel kuboid monolayer yang mengelilingi inti
dan membentuk kantung mutiara serta masih mengalami degenerasi (49D).

Gambar 49 Histologi perkembangan kantung mutiara selama 4 minggu


pengamatan pada tiram jantan. Keterangan: Minggu pertama (49A),
Minggu kedua (49B), Minggu ketiga (49C) dan Minggu keempat
(49D): (a) Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri
atas sel-sel epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan
submukosa, (e) Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis dan (h)
hemosit (H&E. x400).

Hasil kuantitatif histologi (Tabel 11) menunjukkan bahwa di minggu


pertama dan kedua setelah implantasi terjadi infiltrasi hemosit yang tinggi pada
tiram jantan bila dibandingkan dengan tiram betina, tetapi tidak berbeda saat
minggu ketiga dan keempat karena hemosit sudah tidak terlihat. Jumlah sel-sel
epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola mulai menurun seiring dengan
bertambahnya waktu implantasi. Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis
dan vakuola tidak berbeda pada tiram jantan dan betina.
90

Tabel 11 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,


jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima jantan dan betina

Jenis Minggu ke-


kelamin 1 2 3 4
+
Infiltrasi hemosit (lobus/ LP )
Jantan 11.0 20*** 7.22.0** x X
Betina 9.0 1.0** 4.30.5** x X
Jumlah lapisan sel-sel epitel
Jantan 2 1-2 1 1
Betina 2 1-2 1 1
Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis (sel/LP++)
Jantan 6.70.6 6.01.0 4.30.5 4.01.0
Betina 7.01.0 5.71.7 4.01.7 3.31.2
++
Jumlah vakuola (sel/LP )
Jantan 6.71.5 6.71.5a 2.70.6 2.30.6
b
Betina 7.31.5 3.30.6 2.71.2 2.60.5
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Keterangan : LP+ (Lapang pandang
dengan pembesaran 100 kali), LP++ (Lapang pandang dengan pembesaran 400
kali) *** (Tinggi),**(Sedang), *(Rendah), x (Tidak terlihat).

Konsumsi Oksigen, Kadar Glukosa, Kadar Kalsium, dan Fosfor Hemolimf


pada Tiram Pinctada maxima Jantan dan Betina

Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium dan fosfor


hemolimf tiram Pinctada maxima jantan dan betina selama 4 minggu pengamatan
tersaji pada Tabel 12. Konsumsi oksigen tiram Pinctada maxima jantan dan betina
tidak berbeda nyata, tetapi tiram jantan memiliki konsumsi oksigen yang lebih
banyak dibandingkan dengan tiram betina. Kadar glukosa hemolimf pada tiram
jantan lebih tinggi dibandingkan tiram betina.
Hal ini menjelaskan bahwa tiram jantan yang diimplantasi lebih mudah
stress dibandingkan dengan tiram betina. Rataan kadar kalsium hemolimf pada
tiram betina lebih tinggi dibandingkan tiram jantan. Namun, pola kadar kalsium
hemolif tiram jantan dan betina tidak berbeda yakni secara linear. Hal yang sama
juga ditemukan pada kadar fosfor hemolimf. Kadar kalsium dan fosfor hemolimf
dalam tubuh selalu diupayakan homeostatis, namun seiring dengan pertumbuhan
dan perkembangan kantung mutiara maka tiram berusaha untuk mempersiapkan
bahan-bahan untuk mineralisasi inti.
91

Tabel 12 Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium dan fosfor
hemolimf pada tiram Pinctada maxima jantan dan betina selama 4
minggu pengamatan.
Jenis Minggu ke-
Kelamin 1 2 3 4
Konsumsi oksigen (mgl O2-1 g-1 jam-1)
Jantan 0.00360.0003 0.00360. 0001 0.00360.0001 0.00370.0001
Betina 0.00350.0004 0.00340.0003 0.00360.0001 0.00350.0002
Kadar glukosa hemolimf (mg/dL)
Jantan 2.720.24 2.460.33 1.410.16 0.750.19a
Betina 1.920.80 1.640.46 1.250.41 0.190.003b
Kadar kalsium hemolimf (ppm)
Jantan 278.933.45 276.361.40 281.450.64b 283.740.89
Betina 283.601.38 274.990.70 289.410.68a 288.400.53
Kadar fosfor hemolimf (ppm)
Jantan 6.661.00 7.370.80 8.371.06b 7.911.23
a
Betina 7.070.41 7.330.73 10.890.57 8.041.93
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).

Pembahasan

Hasil penelitian ini jelas menunjukkan bahwa tiram betina memiliki


kecepatan dan persentase pertumbuhan kantung mutiara yang lebih tinggi bila
dibandingkan dengan tiram jantan. Tidak ada perbedaan pada infiltrasi hemosit,
histologis kantung mutiara dan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium
dan fosfor hemolimf. Keberhasilan implantasi yang lebih tinggi, jumlah kematian
dan penolakan inti yang lebih rendah selama 4 minggu setelah implantasi inti pada
tiram jantan dan betina tidak berbeda. Perkembangan kantung mutiara pada tiram
betina lebih baik bila dibandingkan dengan tiram jantan. Pada tiram betina,
persentase tiram yang mengalami kematian dan penolakan inti adalah 20%,
sedangkan pada tiram jantan adalah 25%. Untuk mengurangi jumlah tiram yang
yang mengalami penolakan inti maka disarankan untuk menggunakan anestesi
pada saat implantasi (Norton et al. 1996; Norton et al. 2000; Mamangkey et al.
2009).
Untuk mengurangi jumlah kematian dan penolakan inti setelah implantasi
disarankan untuk menggunakan anestesi selama operasi. Perbedaan dalam
keberhasilan implantasi dapat dikaitkan dengan kondisi histologis gonad tiram
jantan dan betina. Meskipun tidak ada studi tentang perbedaan gonad antara tiram
jantan dan betina selama perkembangan kantung mutiara, tetapi jelas terlihat
bahwa ada interaksi antara saibo dengan jaringan pada gonad tiram jantan dan
betina. Perbedaan pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara pada tiram
jantan dan betina dapat dijelaskan oleh efek dari hormon yang berhubungan
dengan hormon seks dan kondisi histologis dari situs implantasi. Perbedaan
hormonal dan histologis dapat memiliki efek yang kuat pada respons biologis dan
92

fisiologis tiram inang, terutama pada jaringan yang dicangkokkan. Saat


implantasi, tahap kematangan gonad masih dalam tahap perkembangan sehingga
ada perbedaan aktivitas hormon seks dari tiram inang (Arjarasirikoon et al. 2004).
Tiram inang betina berada di bawah dominasi estrogen dan tiram inang jantan
berada di bawah dominasi testosteron (Eckelbarger dan Davis 1996a, 1996b;
Gauthier-Clerc et al. 2006a; Andrew et al. 2008).
Kondisi hormonal yang berbeda antara tiram inang betina dan jantan dapat
mempengaruhi fusi antara jaringan ikat yang akhirnya mempengaruhi
keberhasilan implantasi inti dan pembentukan kantung mutiara. Histologi gonad
tiram inang jantan dan betina yang berbeda dapat mempengaruhi keberhasilan
implantasi dan pertumbuhan kantung mutiara. Data menunjukkan bahwa gonad
tiram inang jantan memiliki keberhasilan yang lebih rendah dalam menerima inti.
Kurangnya fusi antara jaringan yang dicangkokan dengan jaringan ikat gonad
adalah alasan utama penolakan inti. Kurangnya fusi dapat disebabkan oleh
distensi jaringan ikat pada tiram terkait dengan kehadiran hemosit di seluruh zona
sayatan dan inti serta lesi degeneratif dari transplantasi perkembangan kantung
mutiara (Cochennec-Laureau et al. 2010).
Tidak ada perbedaan pada jumlah tiram yang mengalami kematian antara
tiram inang jantan dan betina. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi hormonal dan
histologi gonad jantan dan betina tidak mempengaruhi kematian selama
implantasi inti. Penyebab umum kematian selama implantasi inti di kerang
mutiara adalah infeksi luka yang ditimbulkan pada saat operasi implantasi.
Namun, penyakit, biofouling, dan polusi juga mungkin bertanggung jawab untuk
kematian tiram. Secara umum, angka kematian tiram rata-rata di bawah 10%
(Chellam et al. 1991). Angka kematian yang diamati selama implantasi dalam
penelitian ini adalah serupa, baik pada tiram inang jantan atupun betina.
Pengamatan pada tiram Pinctada margaritifera menunjukkan bahwa sebagian
besar tiram mati menunjukkan cedera ireversibel saluran pencernaan dan
kerusakan akibat operasi pencangkokan, disertai oleh reaksi inflamasi yang kuat
(Cochennec-Laureau et al. 2010).
Namun, kecepatan pertumbuhan kantung mutiara dan persentase penutupan
inti oleh kantung mutiara pada tiram inang betina lebih tinggi dibandingkan
dengan tiram inang jantan. Tingkat pertumbuhan kantung mutiara yang berbeda
terkait dengan kontribusi dan interaksi dari sel cangkok dengan sel-sel pada lokasi
implantasi dan ketersediaan substrat sebagai prekursor proliferasi sel sel kantung
mutiara di tempat implantasi inti. Sel-sel pada gonad jantan tidak sebaik tiram
betina karena mungkin memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk mendukung
pasokan nutrisi untuk pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara. Selain
itu, kondisi hormonal tiram betina dapat mendukung pasokan nutrisi untuk
pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara. Dominasi estrogen pada tiram
betina dapat memiliki efek mitosis yang tinggi pada kantung mutiara itu sendiri
dibandingkan dengan dominasi testosteron pada tiram jantan. Selama
perkembangan gonad, tiram betina memiliki peningkatan estrogen seiring dengan
meningkatnya kematangan gonad. Sebaliknya, tiram jantan selama kematangan
seksual, testosteron tidak secara otomatis lebih tinggi seiring dengan
meningkatnya kematangan gonad (Gauthier-Clerc et al. 2006).
Selain itu, perbedaan kecepatan pembentukan kantung mutiara yang diamati
dalam penelitian ini tidak terkait dengan lingkungan eksternal, seperti salinitas
93

dan suhu yang akan mempengaruhi perubahan fisiologis dalam tubuh tiram.
Penelitian ini dilakukan dalam kondisi lingkungan perairan yang sama. Suhu air
dilaporkan mempengaruhi kecepatan pembentukan kantung mutiara (Aoki 1956;
Machii dan Nakahara 1957; Aoki 1966) melalui efek suhu air pada aktivitas
mitosis sel epitel kantung mutiara (Awaji dan Machii 2011).
Pengamatan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa tiram jantan memiliki
tingkat metabolisme yang lebih tinggi seperti yang ditunjukkan oleh konsumsi
oksigen yang lebih tinggi meskipun secara statistik tidak berbeda. Konsentrasi
glukosa hemolimf, dapat dikaitkan dengan kondisi stres. Tiram inang jantan
memiliki kondisi stres yang lebih tinggi dibandingkan dengan tiram betina. Tiram
jantan berhubungan dengan hormon seperti testosteron yang berkaitan dengan
peningkatan metabolisme dan aktivitas fisik. Namun, laporan sebelumnya
menunjukkan bahwa tiram betina memiliki tingkat metabolisme yang lebih tinggi
dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan perkembangan gamet (Chvez-Villalba
et al. 2011; Chvez-Villalba et al. 2013). Data ini menunjukkan bahwa gonad
betina memfasilitasi ketersediaan nutrisi untuk pengembangan kantung mutiara
dan untuk mendukung proses mineralisasi selama sintesis dan pembentukan
mutiara. Konsentrasi glukosa hemolimf tiram jantan dan betina meningkat selama
minggu pertama, namun menurun setelah implantasi di minggu keempat.Tiram
jantan memiliki konsentrasi glukosa hemolimf lebih tinggi. Data ini menunjukkan
bahwa tiram jantan memiliki respons stres yang lebih tinggi untuk implantasi
dibandingkan dengan betina. Respons stres ini dapat memberikan kontribusi
terhadap keberhasilan implantasi yang lebih rendah dan penolakan inti yang lebih
tinggi pada tiram jantan. Stres merangsang glukoneogenesis dan mobilisasi
glukosa dari glikogen yang mengakibatkan konsentrasi glukosa hemolimf
meningkat (Veldhuijzen dan Cuperus 1975; Veldhuijzen dan Van BeeK 1975).
Hamano et al. (2005) menunjukkan bahwa insulin seperti substrat (ILS)
memainkan peran penting dalam mempertahankan kadar glukosa pada tiram.
Konsentrasi glukosa hemolimf selama 4 minggu setelah implantasi inti
menunjukkan pola yang sama dengan penyembuhan luka dan respons inflamasi.
Tingkat peradangan adalah yang tertinggi selama dua minggu pertama setelah
implantasi dan mencapai level terendah pada minngu keempat setelah implantasi.
Konsentrasi glukosa hemolimf yang meningkat mungkin memiliki hubungan
dengan stres yang tinggi selama awal implantasi karena respons inflamasi dari
tiram inang (Lacoste et al. 2002). Selama stres, kortisol dilaporkan terjadi
peningkatan (Hooper et al. 2007), dikaitkan dengan konsentrasi glukosa yang
meningkat. Peningkatan stres selama awal implantasi seiring dengan peningkatan
infiltrasi hemosit dan kadar glukosa hemolimf. Saat cedera akibat implantasi
disembuhkan maka hemosit menjadi lebih rendah dan kadar glukosa hemolimf
mencapai tingkat terendah. Konsentrasi glukosa hemolimf menurun dengan
kemajuan pertumbuhan kantung mutiara, kemungkinan terjadi penyerapan
glukosa yang meningkat tanpa terjadi peningkatan dalam mobilisasi glukosa atau
penyerapan ke hemolimf. Glukosa diperlukan untuk sumber energi untuk
metabolisme basal dan untuk mendukung kegiatan sintetik serta sintesis bahan
untuk mineralisasi, seperti conchiolin. Conchiolin organik terdiri atas
mucopolisakarida (Chellam et al. 1991). Namun, tidak ada data yang tersedia
untuk membandingkan konsentrasi glukosa hemolimf pada tiram selama
pertumbuhan dan perkembangan kantung mutiara.
94

Beberapa data telah dikumpulakan seperti analisis garam, logam berat, dan
asam amino bebas dalam hemolimf berbagai moluska, termasuk Pinctada fucata
(Kawai 1981), namun data ini tidak terkait dengan fase pertumbuhan kantung
mutiara. Semakin tinggi kadar kalsium dan fosfor hemolimf pada tiram inang
betina dibandingkan dengan tiram inang jantan menunjukkan ketersediaan mineral
untuk mendukung pertumbuhan dan pengembangan kantung mutiara serta sintesis
matriks organik selama pembentukan kantung mutiara. Telah dilaporkan bahwa
setelah pembentukan kantung mutiara, sel-sel epitel kantung mutiara mulai
mensekresikan matriks cangkang bersama-sama dengan transpor aktif ion
kalsium dan bikarbonat (Wilbur dan Saleuddin 1983). Ada kemungkinan bahwa
estrogen dapat merangsang mobilisasi mineral dari tempat penyimpanannya
dalam jaringan untuk persiapan kalsium dan fosfor sebagai persyaratan untuk
pembentukan kantung mutiara dan sintesis mutiara. Meskipun sintesis mutiara
tidak dimulai pada 4 minggu pengamatan setelah implantasi, tetapi konsentrasi
kalsium dan fosfor hemolimf mengalami peningkatan. Hal ini menunjukkan
bahwa telah terjadi persiapan kalsium dan fosfor yang mungkin untuk produksi
mutiara.

Simpulan

Pembentukan kantung mutiara pada tiram berjenis kelamin betina lebih baik
bila dibandingkan dengan jenis kelamin jantan.

7 PEMBENTUKAN KANTUNG MUTIARA PADA TIRAM Pinctada


maxima YANG DIPELIHARA PADA KEDALAMAN BERBEDA

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Mahasiswa Program Doktor Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 2Dosen Mayor Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat
Sekolah Pascasarjana IPB, 3Dosen Mayor Budi Daya Perairan Sekolah
Pascasarjana IPB
ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kedalaman yang


berbeda pada pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada maxima. Saibo
diambil dari tiram Pinctada maxima yang telah memiliki umur 28 bulan, posisi
peletakan inti pada bagian ventral gonad, dan menggunakan tiram betina.
Penelitian menggunakan 320 ekor tiram dengan rancangan acak lengkap (RAL)
pola faktorial 4x4 dengan 20 kali ulangan. Faktor pertama adalah kedalaman yang
terdiri atas 4 level, yakni kedalaman 3, 6, 9 dan 12 meter. Faktor kedua adalah
waktu setelah implantasi yang terdiri atas minggu ke- 1, 2, 3, dan 4. Paramater
yang diamati meliputi persentase tiram yang berhasil membentuk kantung
mutiara, kecepatan dan persentase pembentukan kantung mutiara, dan
perkembangan struktur histologis kantung mutiara, konsumsi oksigen, kadar
glukosa hemolimf, kadar kalsium dan fosfor hemolimf. Hasil menunjukkan bahwa
95

perlakuan kedalaman 3 dan 6 meter memiliki persentase tiram yang membentuk


kantung mutiara sebesar 80% sedangkan perlakuan kedalaman 9 meter sebesar
60% dan 12 meter sebesar 45%. Konsumsi oksigen pada kedalaman 3, 6, dan 9
meter lebih tinggi dari 12 meter. Kecepatan dan persentase pembentukan kantung
mutiara perlakuan kedalaman 3 dan 6 meter lebih tinggi dari perlakuan kedalaman
9 dan 12 meter. Struktur histologi, kadar glukosa tidak berbeda nyata pada semua
perlakuan. Perlakuan kedalaman 3 meter memiliki kadar kalsium hemolimf
sedikit lebih tinggi dibandingkan perlakuan 6, 9, dan 12 meter namun semua
perlakuan kadar kalsium dan fosfor hemolimf hanya berkisar 251-289 ppm. Kadar
fosfor hemolimf berkisar 10.89-5.35 ppm. Pembentukan kantung mutiara pada
perlakuan kedalaman 3 dan 6 meter lebih baik bila dibandingkan dengan
perlakuan kedalaman 9 dan 12 meter.

Kata kunci : Kantung Mutiara, Kedalaman, Pinctada maxima.

PEARL SAC FORMATION IN Pinctada maxima OYSTER REARED


AT DIFFERENT DEPTHS

La Eddy1), Wasmen Manalu2), Ridwan Affandi3) Nastiti Kusumorini 2)


1
Doctoral Programme Majoring in Physiology and Pharmacology, Graduate
2
School, Bogor Agricultural University. Majoring in Physiology and
Pharmacology, Graduate School, Bogor Agricultural University, 3Majoring in
Aquaculture, Graduate School, Bogor Agricultural University.

ABSTRACT
This study was designed to determine the effect of different depths of
rearing on the formation of pearl sac in Pinctada maxima oyster. Three hundred
and twenty oysters were assigned into a completely randomized design with a 4 x
4 factorial arrangement with 20 replications. Saibo used was aged 28 months
Pinctada maxima oyster, nucleus position in the ventral gonad and using female
oysters. The first factor was the depth of rearing consisted of 4 levels i.e., 3, 6, 9,
and 12 meters. The second factor was time after implantation with 4 levels i.e., 1,
2, 3, and 4 weeks. The parameters observed included oxygen consumption,
haemolymph glucose concentrations, haemolymph calcium and phosphorus
concentrations, the percentage of successful oyster to form the pearl sac, the speed
and percentage of pearl sac formation, and histology of the pearl sac. The results
showed that the depth of rearing 3 and 6 meters had percentage of oyster
succeeded in forming pearl sac was 80% while the depth of 9 meters was 60%
and 12 meters was 45%. Oxygen consumptions of oysters reared 3, 6, and 9
meters were higher than that of oysters reared at the depth of 12 meters. The
speeds and the percentages of the pearl sac formation in oysters reared at the
depth of 3 and 6 meters were higher than those of reared at the depth of 9 and 12
meters. Pearl sac histology, hemolymph glucose concentrations were not
significantly different among all treatments. Oysters reared at the depth of 3
meters had haemolymph calcium concentrations slightly higher than those reared
96

at the depth of 6, 9, and 12 meters. Haemolymph calcium concentrations ranged


251-289 ppm. Haemolymph phosphorus concentrations ranged 5.35-9.89 ppm. It
was concluded that pearl sac formation in oysters reared at the depth of 3 and 6
meters was better than those reared at the depth of 9 and 12 meters.

Key word: Depth of rearing, Pinctada maxima, Pearls sac formation

Pendahuluan

Kelangsungan hidup tiram mutiara dipengaruhi oleh faktor eksogen, seperti


suhu, periode bulan, kedalaman, kelimpahan, faktor mekanis, ketersediaan pakan,
dan intensitas cahaya, dan faktor endogen seperti genetik dan hormon (Wada
1984).
Kedalaman sangat berhubungan dengan ketersedian pakan, salinitas, dan
suhu. Suhu merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kelangsungan
hidup, termasuk pertumbuhan dan reproduksi (Helmuth et al. 2006; Menge et al.
2008). Salinitas juga berpengaruh pada pertumbuhan tiram mutiara. Stres
hipoosmotik membuat perubahan pada sistem osmoregulasi dan sinyal osmotik
yang akhirnya berpengaruh pada ekspresi gen (Lockwood dan Somero 2011;
Zhao et al. 2012; Meng et al. 2013). Stress salinitas mempengaruhi jalur
transduksi sinyal kalsium (Zhao et al. 2012; Meng et al. 2013). Osmoregulasi
mempengaruhi peningkatan regulasi gen penyandi pada saluran ion (Lockwood et
al. 2010; Zhao et al. 2012; Meng et al. 2013). Perubahan salinitas, suhu dan
ketersedian pakan pada setiap kedalaman dapat mempengaruhi produksi mutiara.
Mutiara hasil budi daya diproduksi dengan cara mengimplantasi potongan mantel
yang dinamakan saibo dan inti ke bagian organ dalam tubuh tiram. Saibo
berkembang membentuk kantung mutiara (Kawakami 1954; Machii 1968; Awaji
dan Suzuki 1995; Masaoka et al. 2013).
Tiram pada kedalaman tertentu dapat memanfaatkan sumber mineral yang
didapatkan dari makanan maupun lingkungan. Hal ini dapat mempengaruhi proses
pembentukan kantung mutiara dan selanjutnya mempengaruhi proses pelapisan
mutiara. Pembentukan kantung mutiara sangat penting karena berperan dalam
mengeluarkan matriks organik dan kalsium karbonat selama mineralisasi inti
(Inoue et al. 2011). Proses pelapisan inti mutiara melibatkan peran nacre pada
cangkang. Nacre merupakan bagian permukaan yang berkilau dari mutiara atau
juga dinding bagian yang berkilau dari dalam cangkang. Komposisi nacre pada
cangkang adalah 95-99% kalsium karbonat dan 1-5% matriks organik (Duplat et
al. 2006). Nacre diistilahkan sebagai mother of pearl (ibu dari mutiara),
sedangkan nacre yang melekat di inti disebut mutiara. Proses ini dikenal sebagai
biomineralisasi yang melibatkan nacre sampai terbentuk mutiara (Mamangkey
dan Southgate 2009).
Perubahan suhu, salinitas, dan ketersedian sumber mineral lingkungan,
seperti kalsium di kedalaman tertentu dapat mempengaruhi kemampuan
biomineralisasi pada tiram. Menurut Fan et al. (2007) biomineralisasi kalsium
dari nacre sampai terbentuknya mutiara memerlukan proses penyerapan,
transportasi, dan translokasi kalsium. Ion kalsium yang masuk ke dalam sel
merupakan langkah utama pembentukan cangkang sehingga diperlukan channel
ion untuk melakukan fungsi tersebut. Channel ion untuk transpor kalsium
97

terutama pada insang kemudian masuk ke hemolimf sedangkan organ mantel


terutama berada pada lipatan bagian dalam dan tengah jaringan epitel.
Setelah implantasi maka tiram dipelihara di laut dengan kedalaman tertentu.
Pengaruh kedalaman pada pembentukan kantung mutiara masih belum banyak
dikaji. Untuk itu, perlu dilakukan kajian tentang pengaruh kedalaman pada
pembentukan kantung mutiara tiram Pinctada maxima.

Bahan dan Metode

Bahan Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dari Oktober sampai dengan Desember 2012 di


Pulau Garaga Obi, Provinsi Maluku Utara, tepatnya di perusahaan mutiara CV.
Duta Aru Indah. Analisis glukosa dilakukan di Laboratorium Fisiologi FKH,
analisis kalsium dan fosfor hemolimf di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan
Ternak, Fakultas Peternakan IPB dan histologi dilakukan di Balai Penelitian
Veteriner Bogor. Bahan dan alat yang digunakan adalah preparat hitologis, BNF,
kit glukosa, timbangan, sentrifuge, spektofotometer, dan satu set peralatan
implantasi. Jenis tiram mutiara yang digunakan untuk implantasi adalah Pinctada
maxima. Saibo diambil dari tiram jenis Pinctada maxima yang telah berumur 28
bulan. Semua tiram yang diimplantasi berukuran DVM (dorso ventral margin)
tubuh 12 cm, APM (anteroposterior margin) tubuh 11 cm dan bobot tiram 180-
210 gram. Ukuran saibo dan inti semua sama (ukuran saibo 3 x 3 x 1mm dan
diameter inti 6.4 mm).

Metode Penelitian

Total tiram yang digunakan sebanyak 320 ekor yang terdiri atas empat
puluh delapan (48) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
hemolimf (kadar glukosa, kalsium, dan fosfor), kecepatan dan persentase
penutupan inti oleh kantung mutiara (4 x 4 dengan 3 ulangan). Empat puluh
delapan (48) tiram yang berhasil diimplantasi digunakan untuk pengukuran
parameter histologis. Seratus empat puluh empat (144) tiram digunakan untuk
pengukuran kematian dan penolakan inti. Untuk pengukuran persentase tiram
yang berhasil membentuk kantung mutiara selama 4 minggu percobaan, total 80
tiram yang digunakan (4 group x 20 ulangan). Prosedur penelitian tersaji pada
Lampiran 1.

Paramater Pengamatan

Pengamatan dilakukan setiap minggu selama sebulan. Parameter yang


diukur dan diamati meliputi jumlah kumulatif tiram yang mengalami kematian
dan penolakan inti, persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara,
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara, konsumsi oksigen, kadar
glukosa, kadar kalsium dan fosfor hemolimf (tersaji pada Lampiran 2),
98

perkembangan histologi struktur kantung mutiara (Lampiran 3), data pendukung


meliputi suhu, salinitas, dan pH air.

Analisis Data

Data yang telah didapatkan kemudian dianalisis sidik ragam dengan


menggunakan software SAS (Statistic Analysis System) versi 9.1.3 (Mattjik dan
Sumertajaya 2006).

Hasil

Kematian dan Penolakan Inti Kumulatif, Persentase Tiram yang Berhasil


Membentuk Kantung Mutiara pada Tiram Pinctada maxima yang Dipelihara
pada Kedalaman Berbeda

Jumlah tiram yang mengalami kematian disajikan pada Gambar 50 dan


penolakan inti disajikan pada Gambar 51. Persentase tiram yang mengalami
kematian pada kedalaman 3, 6, 9, dan 12 meter secara berturut-turut adalah
sebesar 8.3, 6.7, 13.3, dan 20%, sedangkan persentase tiram yang mengalami
penolakan inti pada kedalaman 3, 6, 9, dan 12 meter secara berturut-turut adalah
sebesar 11.7, 13.3, 26.7, dan 35%. Persentase tiram mutiara yang membentuk
kantung mutiara selama 4 minggu pengamatan pada kedalaman berbeda disajikan
pada Gambar 52. Perlakuan kedalaman 3 dan 6 meter memiliki persentase tiram
yang membentuk kantung mutiara sebesar 80%, sedangkan perlakuan kedalaman
9 meter sebesar 60% dan 12 meter sebesar 45%. Data persentase tiram mutiara
yang membentuk kantung mutiara ini telah termasuk jumlah tiram yang
mengalami kematian dan penolakan inti.

25
yang mengalami kematian
Jumlah kumulatif tiram

20

15
(%)

10

05

00
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 50 Jumlah kumulatif tiram mutiara yang mengalami kematian setiap


minggu selama sebulan pengamatan yang dipelihara pada
kedalaman berbeda. Keterangan: 3 meter (), 6 meter (), 9 meter
(), 12 meter ().
99

40

Jumlah kumulatif tiram

penolakan inti (%)


yang mengalami
30

20

10

00
1 2 3 4
Minggu setelah implantasi

Gambar 51 Jumlah kumulatif tiram mutiara yang mengalami penolakan inti


setiap minggu selama sebulan pengamatan yang dipelihara pada
kedalaman berbeda. Keterangan : 3 meter (), 6 meter (), 9 meter
(), 12 meter ().

100
membentuk kantung mutiara

90
Persentase tiram yang

80
70
60
(%)

50
40
30
20
10
0
Kedalaman

Gambar 52 Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara tiram


Pinctada maxima selama sebulan yang dipelihara pada kedalaman
berbeda. Keterangan: 3 meter (), 6 meter (), 9 meter (), 12
meter ().

Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara dan Persentase Penutupan Inti


pada Tiram Pinctada maxima yang Dipelihara pada Kedalaman Berbeda

Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase penutupan


inti tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman berbeda selama 4
minggu pengamatan tersaji pada Tabel 13. Kecepatan saibo mengelilingi inti
mutiara pada tiram yang dipelihara pada kedalaman 3 meter lebih cepat bila
dibandingkan dengan pada kedalaman 6, 9, dan 12 meter.
100

Persentase kecepatan pertumbuhan kantung mutiara pada tiram yang


dipelihara pada kedalaman 6 meter dibandingkan dengan 3 meter pada minggu 1,
2, 3, dan 4 secara berturut-turut adalah sebesar 94, 98, 92, dan 93%. Persentase
kecepatan pertumbuhan kantung mutiara yang dipelihara pada kedalaman 9 meter
dibandingkan dengan 3 meter pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut
adalah sebesar 70, 93, 81, dan 86%. Persentase kecepatan pertumbuhan kantung
mutiara yang dipelihara pada kedalaman 12 meter dibandingkan dengan 3 meter
pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut adalah sebesar 76, 90, 81, dan
85%.
Persentase penutupan inti mutiara yang dipelihara pada kedalaman 6 meter
dibandingkan dengan 3 meter pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut
adalah sebesar 97, 92, 87, dan 99%. Persentase penutupan inti mutiara yang
dipelihara pada kedalaman 9 meter dibandingkan dengan 3 meter pada minggu 1,
2, 3, dan 4 secara berturut-turut adalah sebesar 66, 79, 73, dan 84%. Persentase
penutupan inti mutiara yang dipelihara pada kedalaman 12 meter dibandingkan
dengan 3 meter pada minggu 1, 2, 3, dan 4 secara berturut-turut adalah sebesar 67,
59, 72, dan 83%.

Tabel 13 Rataan kecepatan saibo mengelilingi inti mutiara dan persentase


penutupan inti pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada
kedalaman berbeda selama 4 minggu pengamatan.
Minggu ke-
Kedalaman
1 2 3 4
Kecepatan Saibo Mengelilingi Inti Mutiara (mm/hari)
3 Meter 1.750.08a 2.180.08a 2.560.14a 2.750.08a
6 Meter 1.600.08a 2.080.09a 2.320.08b 2.600.08a
b b c
9 Meter 1.080.16 1.800.08 2.030.08 2.410.14b
12 Meter 1.180.16b 1.750.16b 2.030.08c 2.370.08b
Persentase Penutupan Inti Mutiara (%)
3 Meter 49.102.37a 70.542.05a 93.021.55a 97.160.90a
6 Meter 47.551.18a 64.602.37 a
80.622.33 b
96.381.18a
9 Meter 32.561.55b 55.811.55b 67.961.18c 81.653.23b
12 Meter 33.070.90b 41.864.10 c
66.671.55 c
80.360.45b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05)..

Histologi Infiltrasi Hemosit dan Perkembangan Kantung Mutiara Tiram


Pinctada maxima yang Dipelihara pada Kedalaman Berbeda

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara tiram


Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman berbeda selama 4 minggu
pengamatan tersaji pada Gambar 53, 54 55, dan 56. Tiram yang diimplantasi pada
kedalaman 3 meter (Gambar 53) menunjukkan bahwa minggu pertama setelah
implantasi terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Dua minggu setelah
implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit mulai menurun. Tiga minggu
setelah implantasi, tidak ditemukan lagi inflamasi dan hemosit dan luka mulai
101

pulih. Pada akhir pengamatan, yakni 4 minggu setelah implantasi, luka telah
sembuh karena tidak ada hemosit dan sel-sel inflamasi.

Gambar 53 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 3
meter selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi namun
mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat
lagi inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV),
luka sayatan saat operasi inti telah sembuh. (H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara pada


tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 6 meter selama 4
minggu pengamatan disajikan pada Gambar 54. Minggu pertama setelah
implantasi terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi terlihat sel-sel inflamasi dan hemosit yang mulai
menurun. Minggu ketiga setelah implantasi, jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit
sangat sedikit dan luka sudah mulai sembuh. Minggu keempat setelah implantasi,
tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi, luka telah sembuh.
102

Gambar 54 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 6
meter selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi namun
mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), tidak terlihat
lagi inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi (IV),
luka sayatan saat operasi inti telah sembuh. (H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara pada


tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 9 meter selama 4
minggu pengamatan disajikan pada Gambar 55. Pada minggu pertama terjadi
infiltrasi hemosit/sel radang yang tinggi, hal ini akibat luka/sayatan yang dibuat
saat implantasi. Setelah minggu kedua jumlah hemosit menurun, saat minggu
ketiga jumlah hemosit terlihat sedikit sekali atau luka akibat sayatan saat operasi
mulai sembuh. Setelah minggu keempat, tidak terlihat lagi hemosit dan tiram telah
sembuh dari luka akibat implantasi.
103

Gambar 55 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 9
meter selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) masih terlihat sel-sel inflamasi namun
mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih ada
terlihat inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah implantasi
(IV), luka sayatan saat operasi inti telah sembuh. (H&E.x100).

Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara pada


tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 12 meter selama 4
minggu pengamatan disajikan pada Gambar 56. Pada minggu pertama terjadi
infiltrasi hemosit/sel radang yang tinggi. Hal ini terjadi akibat luka/sayatan yang
dibuat saat implantasi. Setelah minggu kedua jumlah hemosit menurun, saat
minggu ketiga jumlah hemosit terlihat sedikit sekali atau luka akibat sayatan saat
operasi mulai sembuh. Setelah minggu keempat, tidak terlihat lagi hemosit dan
tiram telah sembuh dari luka akibat implantasi.
104

Gambar 56 Histologi infiltrasi hemosit selama perkembangan kantung mutiara


pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman 12
meter selama 4 minggu pengamatan. Keterangan: Anak panah
menunjukkan adanya hemosit. Minggu pertama setelah implantasi (I)
terlihat adanya sel-sel inflamasi dan hemosit yang tinggi. Minggu
kedua setelah implantasi (II) jumlah sel-sel inflamasi dan hemosit
yang mulai menurun. Minggu ketiga setelah implantasi (III), masih
ada sel-sel inflamasi dan hemosit. Minggu keempat setelah
implantasi (IV), tidak terlihat lagi hemosit dan sel-sel inflamasi dan
jaringan telah sembuh (H&E.x100).

Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada maxima


yang dipelihara pada kedalaman 3, 6, 9, dan 12 meter secara berturut-turut
disajikan pada Gambar 57, 58, 59, dan 60. Histologi perkembangan kantung
mutiara di kedalaman 3 meter menunjukkan bahwa pada minggu pertama setelah
implantasi, terlihat bagian inner mantel telah mengalami degradasi (nekrosis) dan
hanya terlihat bagian outer mantel berupa 2-3 lapisan sel-sel epitel mukosa, yaitu
sel-sel epitel kuboid, sel-sel submukosa juga yang mengalami dilatasi (Gambar
57A). Minggu kedua setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid dan sel-sel
submukosa masih mengalami nekrosis, pyknosis, serta adanya vakuola (Gambar
57B). Minggu ketiga setelah implantasi, telah terlihat sel-sel epitel kuboid
monolayer dan hampir mengelilingi inti (Gambar 57C). Minggu keempat setelah
implantasi, kantung mutiara telah terbentuk berupa sel epitel kuboid monolayer
yang mengelilingi inti dan membentuk kantung mutiara (Gambar 57D).
105

Gambar 57 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada


maxima yang dipelihara pada kedalaman 3 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (57A), minggu kedua
(57B), minggu ketiga (57C) dan minggu keempat (57D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel
epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e)
Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis dan (h) Hemosit.
(H&E. x400).

Histologi perkembangan kantung mutiara di kedalaman 6 meter pada


minggu pertama setelah implantasi, terlihat bagian outer mantel berupa 2-3
lapisan sel-sel epitel mukosa berbentuk kuboid yang mengalami nekrosis dan
menempel pada basement membrane. Lapisan submukosa yang berdilatasi serta
adanya vakuola-valuola (Gambar 58A). Minggu kedua setelah implantasi, sel-sel
epitel kuboid masih mengalami pyknosis dan akhirnya nekrosis, serta adanya
vakuola. Lapisan submukosa masih berdilatasi (Gambar 58B). Minggu ketiga
setelah implantasi, telah terlihat sel-sel epitel kuboid monolayer, namun sebagian
masih mengalami nekrosis dan degenerasi (Gambar 58C). Minggu keempat
setelah implantasi, kantung mutiara telah terbentuk berupa sel epitel kuboid
monolayer yang mengelilingi inti dan membentuk kantung mutiara, namun
sebagian masih berdegenerasi dan lapisan submukosa yang berdilatasi sehingga
terlihat membesar (Gambar 58D).
106

Gambar 58 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada


maxima yang dipelihara pada kedalaman 6 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (58A), minggu kedua
(58B), minggu ketiga (58C) dan minggu keempat (58D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel
epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e)
Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis dan (h) Hemosit.
(H&E. x400).

Histologi perkembangan struktur kantung mutiara di kedalaman 9 meter


pada minggu pertama setelah implantasi, terlihat bagian outer mantel berupa 5-6
lapisan sel-sel epitel mukosa berbentuk kuboid yang mengalami nekrosis (adanya
pyknosis) dan menempel pada basement membrane. Lapisan submukosa yang
berdilatasi sehingga terlihat membesar serta adanya vakuola-valuola yang
mengindikasikan terjadinya degenerasi (Gambar 59A). Minggu kedua setelah
implantasi, sel-sel epitel kuboid masih mengalami pyknosis, nekrosis hingga
terlihat 3-4 lapisan sel-sel epitel kuboid serta adanya vakuola. Lapisan submukosa
masih berdilatasi (Gambar 59B). Minggu ketiga setelah implantasi, telah terlihat
sel-sel epitel kuboid monolayer mengalami nekrosis sebagian besar masih terlihat
2 lapis dan terus berdegenerasi (Gambar 59C). Minggu keempat setelah
implantasi, kantung mutiara telah terbentuk berupa sel epitel kuboid monolayer
yang mengelilingi inti dan membentuk kantung mutiara, namun sebagian masih
berdegenerasi dan lapisan submukosa yang berdilatasi sehingga terlihat
membesar (Gambar 59D).
107

Gambar 59 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada


maxima yang dipelihara pada kedalaman 9 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (59A), minggu kedua
(59B), minggu ketiga (59C) dan minggu keempat (59D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel
epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e)
Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit.
(H&E. x400).

Histologi perkembangan struktur kantung mutiara di kedalaman 12 meter


serupa atau sama dengan kedalaman 9 meter. Pada minggu pertama setelah
implantasi, terlihat bagian outer mantel berupa 5-6 lapisan sel-sel epitel mukosa
berbentuk kuboid yang mengalami nekrosis (adanya pyknosis) dan menempel
pada basement membrane. Lapisan submukosa yang berdilatasi sehingga terlihat
membesar terjadi degenerasi pada sel-sel epitel kuboid (Gambar 609A). Minggu
kedua setelah implantasi, sel-sel epitel kuboid masih mengalami pyknosis dan
akhirnya nekrosis hingga terlihat 3-4 lapisan sel-sel epitel kuboid serta adanya
vakuola. Lapisan submukosa masih berdilatasi (Gambar 60B). Minggu ketiga
setelah implantasi, telah terlihat sel-sel epitel kuboid monolayer mengalami
nekrosis sebagian besar masih terlihat 2 lapis dan terus berdegenerasi (Gambar
60C). Minggu keempat setelah implantasi, kantung mutiara telah terbentuk berupa
sel epitel kuboid monolayer yang mengelilingi inti dan membentuk kantung
mutiara, namun sebagian besar masih berdegenerasi (Gambar 60D).
108

Gambar 60 Histologi perkembangan kantung mutiara pada tiram Pinctada


maxima yang dipelihara pada kedalaman 12 meter selama 4 minggu
pengamatan. Keterangan: Minggu pertama (60A), minggu kedua
(60B), minggu ketiga (60C) dan minggu keempat (60D): (a)
Nukleus, (b) Lapisan sel-sel epitel mukosa yang terdiri atas sel-sel
epitel kuboidal (c) Basement membrane, (d) Lapisan submukosa, (e)
Tunika muskularis, (f) Vakuola, (g) Pyknosis, dan (h) Hemosit.
(H&E. x400).

Histologi perkembangan struktur kantung mutiara di kedalaman 3, 6, 9, dan


12 meter memiliki pola yang sama, yakni bagian inner mantel mengalami
degradasi (nekrosis) dan hanya tersisa bagian outer mantel, memiliki basement
membrane sebagai tempat melekatnya sel-sel epitel serta lapisan submukosa yang
berdekatan dengan tunika muscularis, sedangkan perbedaannya terletak pada
kecepatan nekrosis sel-sel epitel kuboid menjadi sel-sel epitel monolayer. Lebih
jauh lagi pada minggu pertama setelah implantasi, di kedalaman 3 meter telah
terjadi nekrosis sel-sel mukosa yang sangat cepat dibandingkan dengan
kedalaman 6 meter (2-3 lapis), kedalaman 9 dan 12 meter masih terlihat 5-6
lapisan dari sel-sel epitel kuboid.
Pada minggu kedua setelah implantasi, di kedalaman 3 meter terjadi
nekrosis yang cepat sehingga sebagian sel-sel epitel kuboid telah menjadi
monolayer walaupun sebagian lagi masih ada yang 2 lapis. Hal yang sama juga
terjadi di kedalaman 6 meter, sedangkan di kedalaman 9 dan 12 meter masih
tersisa 3-4 lapisan sel-sel epitel kuboid.
Pada minggu ketiga setelah implantasi, di kedalaman 3 meter telah
terbentuk selapis sel-sel epitel kuboid atau monolayer yang hampir mengelilingi
109

inti, sedangkan di kedalaman 6, 9, dan 12 meter masih tersisa 1-2 lapisan sel-sel
epitel kuboid. Pada minggu keempat setelah implantasi, di kedalaman 3 dan 6
meter telah terbentuk kantung mutiara berupa sel epitel kuboid monolayer yang
mengelilingi inti dan membentuk kantung mutiara, sedangkan di kedalaman 9 dan
12 meter telah terbentuk sel-sel epitel monolayer tetapi belum sempurna.
Hasil kuantitatif histologi (Tabel 14) menunjukkan bahwa pada awal
implantasi terjadi infiltrasi hemosit yang tinggi pada semua tingkat kedalaman
terutama kedalaman 6, 9 dan 12 meter, tetapi mulai menurun pada minggu kedua
dan akhirnya tidak terlihat di minggu ketiga dan keempat. Sel-sel epitel lebih
cepat terdegradasi pada kedalaman 3 dan 6 meter dibandingkan dengan 9 dan 12
meter. Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis lebih sedikit pada
kedalaman 3 meter dibandingkan kedalaman 6, 9 dan 12 meter.

Tabel 14 Rataan kuantitatif infiltrasi hemosit, jumlah lapisan sel-sel epitel,


jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis dan vakuola pada tiram
Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman berbeda selama 4
minggu pengamatan.
Minggu ke-
Jenis Saibo
1 2 3 4
+
Infiltrasi hemosit (lobus/ LP )
3 Meter 5.7 0.6** 3.61.2* x x
6 Meter 11.7 2.5*** 4.31.2** x x
9 Meter 12.3 3.1*** 4.30.5** x x
12 Meter 15.3 2.3*** 9.22.0** x x
Jumlah lapisan sel-sel epitel
3 Meter 2-3 1-2 1 1
6 Meter 2-3 1-2 1-2 1
9 Meter 5-6 3-4 1-2 1
12 Meter 5-6 3-4 1-2 1
Jumlah sel-sel epitel yang mengalami pyknosis (sel/LP++)
3 Meter 5.70.6b 4.71.1c 4.31.2b 3.71.2
6 Meter 7.31.2b 6.70.6bc 5.71.2ab 5.71.5
a b a
9 Meter 10.71.5 7.71.5 7.31.2 4.30.5
12 Meter 13.32.1a 10.71.5a 6.30.5ab 4.70.6
Jumlah vakuola (sel/LP++)
3 Meter 3.70.6b 3.80.5b 3.31.0b 6.30.6a
b ab a
6 Meter 4.70.6 4.31.5 4.30.5 5.70.6a
a b a
9 Meter 7.30.5 6.30.6 4.60.6 2.70.6b
12 Meter 8.01.0a 5.31.5b 5.30.6a 3.60.5b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05). Keterangan : LP+ (Lapang pandang
dengan pembesaran 100 kali), LP++ (Lapang pandang dengan pembesaran 400
kali) *** (Tinggi),**(Sedang), *(Rendah), x (Tidak terlihat).
110

Kelimpahan Plankton, Konsumsi Oksigen, Kadar Glukosa, Kalsium dan


Fosfor Hemolimf pada Tiram Pinctada maxima yang Dipelihara dengan
Kedalaman Berbeda

Kelimpahan plankton di lokasi pemeliharaan tiram Pinctada maxima


disajikan pada Tabel 15. Pada kedalaman 9 meter fitoplankton memiliki
kelimpahan yang lebih tinggi, namun tidak berbeda jauh dari kedalaman 6 meter.
Aktivitas plankton di setiap kedalaman berbeda sangat bergantung pada waktu
pengambilan sampel yang dilakukan karena plankton sangat bergantung pada
intensitas cahaya (kualitas, kuantitas, dan lama periode penyinaran matahari). Hal
ini yang berpengaruh pada penurunan jumlah plankton saat pengambilan sampel
dilakukan. Rataan konsumsi oksigen, kadar glukosa, kadar kalsium, dan fosfor
hemolimf tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman berbeda
selama 4 minggu pengamatan tersaji pada Tabel 16.
Konsumsi oksigen tiram Pinctada maxima yang dipelihara pada kedalaman
3, 6, dan 9 meter lebih besar bila dibandingkan dengan pada kedalaman 12 meter.
Rataan kadar glukosa hemolimf pada setiap kedalaman mengalami fluktuasi
setiap minggu. Rataan kadar kalsium dan fosfor hemolimf berbeda nyata di setiap
kedalaman, tetapi kisarannya tidak terlalu berbeda. Kadar kalsium hemolimf
hanya berkisar 251.10-288.74 ppm dan kadar fosfor hemolimf berkisar 5.35-9.89
ppm.

Tabel 15 Kelimpahan plankton di lokasi pemeliharaan tiram Pinctada maxima.

Kedalaman (meter), Suhu (oC)


Plankton
3, (28) 6, (27.7) 9, (27.5) 12, (27.0)

Zooplankton (ind/m3) 1004 3765 5773 1255

Fitoplankton (sel/m3) 267064 1498972 1880492 756012


Keterangan : Pengambilan sampel dilakukan bulan Desember 2012, pukul 10.00
pagi, cuaca hujan, pengambilan sampel dilakukan 30 meter dari
garis pantai, dalam teluk pada Pulau Garaga Obi Kabupaten
Halmahera Selatan, Maluku Utara.
111

Tabel 16 Rataan konsumsi oksigen, rataan kadar glukosa, kadar kalsium, dan
kadar fosfor hemolimf pada tiram Pinctada maxima yang dipelihara
pada kedalaman berbeda selama 4 minggu pengamatan.
Minggu ke-
Kedalaman
1 2 3 4
Konsumsi oksigen (mgl O2-1 g-1 jam-1)
3 Meter 0.00360.0004a 0.00350.0001a 0.00350.0006a 0.00360.0009a
6 Meter 0.00330.0007ab 0.00350.0003a 0.00370.0002a 0.00370.0001a
9 Meter 0.00230.0003b 0.00320.0004ab 0.00330.0003ab 0.00340.0001a
12 Meter 0.00170.0003b 0.00230.0004b 0.00250.0002b 0.00230.0001b
Kadar glukosa (mg/dL)
c
3 Meter 1.920.80 1.640.46b 1.250.41a 0.090.003c
6 Meter 1.770.50b 1.580.29b 1.430.29 1.460.33a
b b
9 Meter 1.840.31 1.490.52 1.370.51 1.400.37a
12 Meter 2.640.16a 1.670.92b 1.380.35 0.220.05b
Kadar kalsium (ppm)
3 Meter 274.990.70a 283.601.38a 288.390.53a 289.410.68a
6 Meter 282.670.12a 281.740.83a 251.100.41b 279.730.44b
9 Meter 281.181.27a 265.200.38c 278.4111.54a 271.491.23c
12 Meter 272.391.23c 267.930.18c 284.350.66a 287.642.31a
Kadar fosfor (ppm)
a
3 Meter 7.070.41 7.330.73 8.041.93a 8.511.60a
6 Meter 9.851.52a 6.021.23 5.351.30b 6.891,81ab
9 Meter 8.741.32ab 6.171.36 7.631.06b 6.061,41ab
12 Meter 7.380.76b 7.811.23 6.651.00b 5.621,35b
Keterangan : Angka-angka yang diikuti oleh huruf yang berbeda pada kolom yang sama
menunjukkan perbedaan nyata (t<0.05).

Pembahasan

Keseimbangan energi pada tiram dapat dipengaruhi oleh beberapa hal antara
lain kemampuan pencernaan, absorpsi, ekskresi, dan respirasi. Suhu sangat
berpengaruh pada kemampuan respirasi tiram. Semakin meningkat suhu maka
semakin tinggi laju metabolisme, tetapi setelah mencapai suhu maksimal maka
terjadi penurunan laju metabolisme. Secara umum, suhu air laut semakin menurun
seiring dengan bertambahnya kedalaman sehingga pada kedalaman 3 dan 6 meter,
tiram mengkonsumsi oksigen yang lebih besar dari kedalaman 9 dan 12 meter.
Taylor (1976) menunjukkan bahwa konsumsi oksigen dapat ditandai dengan
membukanya cangkang untuk tujuan bernapas, peningkatan aktivitas jantung dan
respirasi pada bivalvia Arctica islandica mengikuti periode penutupan cangkang.
Hal ini digunakan sebagai interpretasi representasi pembayaran kembali utang
oksigen selama masa anaerob.
Penelitian ini menemukan bahwa pada perlakuan kedalaman 3 dan 6 meter
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara lebih besar dibandingkan dengan
pada perlakuan kedalaman 9 dan 12 meter. Hal ini menjelaskan bahwa semakin
tinggi kedalaman pemeliharaan tiram maka semakin rendah suhu sehingga
112

menyebabkan rendahnya kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara (Machii


dan Nakahara 1957). Kecepatan pembentukan kantung mutiara sangat
dipengaruhi oleh suhu air lingkungan. Hasil kecepatan dan persentase penutupan
inti mutiara pada penelitian ini tidak bergantung pada kelimpahan plankton karena
pada kedalaman 3 dan 6 meter kecepatan dan persentase penutupan inti lebih
besar dibandingkan dengan pada kedalaman 9 dan 12 meter. Hal ini
menggambarkan bahwa plankton yang dikonsumsi oleh tiram telah mencukupi
kebutuhan tubuh, termasuk untuk perkembangan kantung mutiara, tetapi bila
untuk keperluan pembentukan mutiara maka mungkin memerlukan nutrisi yang
lebih banyak.
Pada penelitian tahap ini ditemukan bahwa pemeliharan tiram pada
kedalaman 3 dan 6 meter lebih baik dibandingkan dengan pada kedalaman 9 dan
12 meter. Data jumlah kerang yang mengalami kematian dan penolakan inti
menunjukkan bahwa semakin dalam tempat pemeliharaan maka semakin tinggi
risiko kegagalan. Hal ini lebih disebabkan oleh faktor tiram karena tiram yang
dipakai untuk penelitian adalah tiram hasil budi daya yang telah terbiasa hidup
pada kedalaman 3-6 meter. Perlakuan kedalaman 9 dan 12 meter sangat rentan
terhadap perubahan lingkungan, termasuk suhu, sehingga sangat mempengaruhi
proses pembentukan kantung mutiara, walaupun masih banyak faktor lain yang
mempengaruhi seperti arus, salinitas, pH, dan kecerahan. Menurut Chellam et al.
(1991) sejumlah faktor lingkungan memainkan peran dominan dalam menentukan
warna dan kilauan nacre mutiara. Kedalaman air merupakan salah satu faktor
yang paling penting untuk menentukan kualitas mutiara karena rata-rata mutiara
yang bagus cenderung diproduksi di perairan dengan kedalaman kurang dari 10
meter. Selain itu, suhu juga mengontrol laju metabolisme tiram. Suhu yang lebih
tinggi menyebabkan pertumbuhan yang lebih cepat dan meningkatnya deposisi
nacre, tetapi hal ini mempengaruhi kualitas mutiara. Keadaan fisiologis tiram
mutiara dan kondisi lingkungan mempengaruhi kualitas hasil mutiara. Hal ini
bergantung terutama pada perbedaan dalam komposisi kimia air laut, serta jenis
dan jumlah plankton di daerah di mana kerang mutiara dipelihara. Data hasil
kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara pada perlakuan kedalaman 3 dan
6 meter lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan kedalaman 9 dan 12
meter.
Secara histologi, ada perbedaan pada jumlah hemosit di setiap kedalaman.
Kedalaman 3 dan 6 meter, luka akibat implantasi mulai sembuh pada minggu
ketiga, tetapi di kedalaman 9 dan 12 meter saat minggu ketiga masih terlihat
hemosit yang menunjukkan bahwa luka akibat implantasi belum sembuh. Inti dan
saibo yang diimplantasi dianggap sebagai bahan asing sehingga dikemas oleh
hemosit (hemosit granular dan agranular) (Funakoshi 2000). Selama proses
penyembuhan luka, sel-sel epitel luar mantel berbentuk sel-sel skuamosa,
kemudian berpindah ke ruang antara inti dan hemosit. Sel-sel epitel luar akhirnya
membentuk folikel yang mengelilingi inti yang disebut kantung mutiara. Proses
pembentukan kantung mutiara menyerupai proses penyembuhan luka yang terjadi
setelah cedera mantel (Machii 1968).
Secara histologi, kantung mutiara terdiri atas sel-sel epitel yang fungsinya
sama dengan mantel, yaitu membantu melakukan biomineralisasi cangkang.
Pembentukan mutiara menyerupai pembentukan cangkang. Jika cangkang
mengalami kerusakan maka mantel mulai memperbaiki cangkang dan bekerja
113

sama dengan sistem kekebalan tubuh (Mount et al. 2004). Hemosit memainkan
peran utama dalam pertahanan kekebalan moluska dan berpartisipasi aktif untuk
proses perbaikan cangkang. Hemosit mungkin terlibat langsung dalam
mineralisasi cangkang dengan menyimpan CaCO3 sebagai deposito intraseluler
(Cheng dan Chen 2000; Mount et al. 2004). Namun, peran hemosit dengan sel
epitel mantel selama proses mineralisasi cangkang masih perlu diklarifikasi
(sekresi nacre dari sel mantel dapat dievaluasi melalui pembentukan nacre
dalam medium kultur) (Van Phuc et al. 2011).
Fakta penelitian ini membuktikan bahwa setelah melakukan implantasi
maka tiram harus dipelihara pada kedalaman tertentu karena mempengaruhi
pembentukan kantung mutiara, jumlah tiram yang mengalami kematian, dan
penolakan inti.

Simpulan

Pembentukan kantung mutiara pada kedalaman 3 dan 6 meter lebih baik bila
dibandingkan dengan kedalaman 9 dan 12 meter.

8 PEMBAHASAN UMUM

Penelitian ini menemukan bahwa penggunaan saibo dari tiram jenis lain
seperti Pteria penguin, Pinctada margaritifera dan tiram Atrina vexillum dapat
dilakukan pada tiram inang Pinctada maxima karena dapat membentuk kantung
mutiara. Hal ini dilakukan karena saibo menentukan warna dari mutiara.
Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa saibo menentukan warna
mutiara (Taylor 2002). Saibo dari tiram Pinctada margaritifera memiliki
kecepatan dan persentase pembentukan kantung yang lebih baik bila
dibandingkan dengan saibo tiram Pteria penguin dan Atrina vexillum (Tabel 1),
tetapi yang perlu dicatat bahwa saibo dari tiram jenis lain dapat digunakan untuk
pembentukan kantung mutiara. Urutan gen dari tiram donor ditemukan di kantung
mutiara saat panen sehingga mendukung hipotesis bahwa sel-sel donor secara
aktif terlibat dalam biomineralisasi mutiara. Kemampuan tiram Pinctada fucata
sebagai tiram host selama perkembangan kantung mutiara dan proses pelapisan
inti menggambarkan suatu adaptasi yang unik karena berpotensi untuk terlibat
dalam proses transkripsi matriks protein cangkang. Sel-sel gonad memiliki
kapasitas untuk berdiferensiasi menjadi sel yang berbeda jenis (mengambil peran
fungsional sel mantel) sebagai suatu reaksi imunologi terhadap pengenalan sel
mantel selama implantasi, serta adanya proliferasi sel mantel (Fang et al. 2008).
Hasil penelitian ini memberikan bukti bahwa saibo dapat diambil dari tiram jenis
lain sehingga dapat meningkatkan kualitas mutiara, terutama warna karena warna
ditentukan oleh saibo. Penelitian ini masih memerlukan kajian yang lebih lama
karena menyangkut kemampuan tiram host dalam mengatur biomineralisasi inti
sampai masa panen mutiara.
Hasil ini menunjukkan bahwa pemilihan warna dari mutiara dapat dilakukan
dengan menggunakan saibo dari tiram jenis lain yang dapat diimplantasikan pada
tiram Pinctada maxima, walaupun demikian masih terlalu dini untuk mengambil
kesimpulan ini. Proses pembentukan kantung mutiara dengan menggunakan saibo
114

yang didapatkan dari tiram jenis lain membutuhkan waktu lebih dari 30 hari
karena secara histologi, minggu keempat setelah implantasi masih terlihat sel-sel
epitel kuboid yang masih mengalami pyknosis dan masih terus berdegenerasi
membentuk sel-sel epitel monolayer yang sempurna. Pada tiram Pinctada fucata
(saibo alograf) membutuhkan waktu lebih dari 21 hari untuk membentuk kantung
mutiara (Awaji dan Machii 2011), sedangkan kerang air tawar seperti Hyriopsiss
chlegelii membutuhkan waktu 30 hari untuk membentuk kantung mutiara (Shi et
al. 1985). Kerang mutiara air lainnya yakni Hyriopsis (Limnoscapha) myersiana,
H.(L.) desowitzi, dan Chamberlainia hainesiana terlihat kantung mutiara
sepenuhnya dibentuk dalam waktu 15 hari (Panha dan Kosavititkul 1997) dan
kerang lainnya seperti Chamberlainia hainesiana, Hyriopsis (Limnoscapha)
myersiana, H. (H.) bialatus, Pseudodon inoscularis cumingi, H. (L.) dezowitzi,
Pseudodon vondembuschianus ellipticus dan Pseudodon membutuhkan waktu
sekitar 30 hari untuk membentuk kantung mutiara (Chatchavalvanich et al. 2010).
Penggunaan saibo yang didapatkan dari tiram jenis lain tidak mempengaruhi
kebutuhan energi tubuh karena tidak terlihat perbedaan pada konsumsi oksigen
namun harus diperhatikan bahwa tiram mengalami banyak kematian dan
penolakan inti. Luka akibat implantasi dapat menyebabkan tiram mengalami
kematian dan penolakan inti lebih banyak disebabkan oleh kemampuan tiram
dalam menerima benda asing sehingga tubuh menolak benda asing tersebut.
Penelitian ini menemukan jumlah tiram yang mengalami kematian dan
penolakan inti pada perlakuan posisi peletakan saibo dan inti di bagian ventral
gonad sebesar 20%, sedangkan pada bagian anus sebesar 45% dan bagian usus
sebesar 55%, sedangkan kecepatan dan persentase perkembangan kantung mutiara
pada penempatan saibo dan inti di bagian anus dan usus lebih rendah
dibandingkan bagian ventral gonad, yakni kurang dari 20%. Hal ini berhubungan
dengan gerakan mekanis dari organ dalam sehingga memperlambat degradasi
inner mantel dari saibo. Selain itu, diduga berhubungan dengan peran gonad
namun sampai sekarang belum ada penjelasan yang berarti tentang keterlibatan
gonad selama pembentukan kantung mutiara. Hal yang lain adalah tingginya
penolakan inti pada tiram yang diimplantasi di usus dan anus karena terjadi
penghambatan interaksi antara sel-sel epitel mantel (saibo) dengan jaringan ikat
dari tiram inang. Tingginya aktivitas peristaltik usus dan anus akibat implantasi
inti maka semakin menghambat fusi antara jaringan mantel (saibo) dengan
jaringan ikat dari tiram inang. Hasil ini juga dapat menjadikan dasar posisi
peletakan saibo dan inti pada tiram jenis lain yang memiliki ukuran tubuh yang
lebih besar, tetapi masih perlu dilakukan kajian yang lebih lanjut sehingga dapat
dilakukan implantasi pada beberapa lokasi dalam tubuh tiram. Hasil histologi
menunjukkan bahwa sel-sel epitel lebih cepat terdegradasi pada implantasi di
bagian ventral gonad dibandingkan dengan bagian usus dan anus. Minggu
pertama setelah implantasi pada bagian ventral gonad hanya terlihat 2-3 lapisan
sel-sel epitel kuboid tetapi di bagian usus masih terlihat 5-6 lapisan dan bagian
anus masih terlihat 4-5 lapisan, setelah minggu berikutnya sampai minggu
keempat, pada bagian ventral gonad, lebih cepat membentuk sel-sel epitel
monolayer, namun pada bagian usus dan anus lebih lambat.
Pemilihan saibo harus memperhatikan umur tiram. Umur tiram yang
dijadikan saibo sering kali tidak diperhatikan selama proses implantasi sehingga
kantung mutiara yang terbentuk tidak selalu bagus. Saibo yang diambil dari tiram
115

yang telah berumur 28 bulan memiliki kecepatan dan persentase saibo


mengelilingi inti yang lebih besar bila dibandingkan dengan saibo yang diambil
dari tiram yang baru berumur 14 dan 21 bulan, namun bila dilihat perkembangan
kantung mutiara pada minggu keempat saibo yang diambil dari tiram yang
berumur 14 dan 21 bulan mencapai 84% dan 28 bulan mecapai 99%. Hasil lain
seperti persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara, kematian dan
penolakan inti tidak terlalu berbeda. Perbedaan jumlah tiram yang mengalami
kematian pada saibo yang berasal dari tiram 14 dan 28 bulan hanya mencapai
5%, sedangkan penolakan inti tidak berbeda. Untuk persentase jumlah tiram yang
berhasil membentuk kantung mutiara hanya berbeda 5% saja antara saibo yang
diambil dari tiram 14 bulan dengan 21 dan 28 bulan. Hasil ini menunjukkan
bahwa dalam keadaan tertentu tiram yang umurnya lebih muda dapat digunakan
sebagai tiram donor, walaupun demikian masih perlu kajian lanjut sampai
terbentuk mutiara.
Secara histologi ditemukan bahwa pada awal implantasi bagian inner mantel
mengalami degradasi kemudian tersisa bagian outer mantel yang terus mengalami
perubahan dari sel-sel epitel yang kompleks menjadi lebih sederhana atau sel
epitel monolayer yang kemudian mengelilingi inti mutiara. Umur tiram yang
dijadikan sebagai sumber saibo mempengaruhi kecepatan regenerasi mantel. Hasil
ini menunjukkan bahwa saibo yang diambil dari tiram yang umurnya lebih muda
memiliki kecepatan degradasi sel-sel epitel yang lebih lambat dibandingkan
dengan tiram yang umurnya lebih tua. Saat minggu pertama setelah implantasi,
sel-sel epitel kuboid yang terbentuk pada tiram inang yang diimplantasi dengan
saibo 14 bulan masih terlihat 5-6 lapisan sedangkan saibo yang diambil dari tiram
yang berumur 21 dan 28 bulan hanya tersisa 2-3 lapisan saja, sedangkan minggu
berikutnya tidak ada perbedaan karena membentuk monolayer. Kebanyakan tiram
mutiara yang digunakan sebagai saibo berasal dari tiram yang berumur tua karena
pertumbuhan saibo lebih cepat (Gervis dan Sims 1992). Pada penelitian ini tidak
melihat perbedaan umur saibo dalam perannya sebagai penghasil matriks protein
maupun keterlibatannya dalam mengatur mineralisasi untuk proses pelapisan
mutiara, namun hanya membandingkan seberapa besar perkembangan saibo
membentuk kantung mutiara.
Penelitian menemukan bahwa jenis kelamin betina memiliki kemampuan
pembentukan kantung mutiara yang lebih baik bila dibandingkan dengan jenis
kelamin jantan. Persentase penutupan inti dan jumlah tiram inang yang berhasil
membentuk kantung mutiara lebih tinggi pada tiram inang betina dibandingkan
tiram inang jantan, tetapi hanya berbeda kurang dari 5% saja. Hal ini diduga
berhubungan dengan kemampuan pembentukan hormon reproduksi seperti
estrogen untuk vitelogenin tiram betina yang lebih tinggi dari jantan sehingga
ketersediaan enegri lebih tinggi pada tiram betina. Walaupun demikian, perbedaan
ini tidak terlalu besar sehingga tiram jantan dapat digunakan untuk proses
implantasi saibo dan inti. Selain itu, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tiram
mengalami stres yang ditunjukkan dengan infiltrasi hemosit dan peningkatan
kadar glukosa di awal implantasi, namun infiltrasi hemosit mulai menghilang
seiring dengan bertambahnya waktu implantasi dan kadar glukosa menurun di
minggu keempat setelah implantasi. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Li et
al. (2010) bahwa setelah operasi inti terjadi peningkatan hemosit, yaitu granulosit
dan hyalinosit. Hal ini menunjukkan bahwa penyisipan inti mengaktifkan sistem
116

kekebalan tubuh karena hemosit memainkan peran penting dalam proses


penyembuhan luka.
Konsumsi oksigen ternyata tidak ada perbedaan yang nyata antarperlakuan
umur saibo, posisi peletakan saibo dan inti, dan sumber saibo yang berbeda.
Namun berbeda pada perlakuan kedalaman. Pada kedalaman 9 dan 12 meter,
tiram mengkonsumsi oksigen yang lebih sedikit dibandingkan pada kedalaman 3
dan 6 meter. Perubahan kadar glukosa setiap minggu, diduga lebih karena
perubahan kondisi perairan termasuk suhu dan arus.
Pada kedalaman 3 dan 6 meter, sekitar 20% tiram mengalami kematian dan
penolakan inti sedangkan kedalaman 9 meter sebesar 40% dan kedalaman 12
meter sebesar 55%. Hasil ini membuktikan bahwa pengaruh lingkungan sangat
besar pada pembentukan kantung mutiara. Hasil lain juga dilaporkan oleh
Cochennec-Laureau et al. (2010) bahwa tingkat kematian setelah 3 bulan
pascaimplantasi sebesar 12,3%, sedangkan penolakan inti jauh lebih tinggi yang
mencapai 45,4% sehingga berjumlah 57,7%. Pemantauan harian menunjukkan
bahwa sebagian besar kematian terjadi dalam dua minggu pertama
pascaimplantasi. Setelah implantasi pada tiram mutiara Pinctada margaritifera
mengalami kematian sebesar 10% dan menolak inti sebesar 20% (Haws dan Ellis
2000). Selain itu, Norton et al. (2000) juga melaporkan bahwa tiram mutiara
Pinctada margaritifera mengalami kematian sebesar 24% dan penolakan inti
sebesar 16% jadi yang mengalami kegagalan pembentukan kantung mutiara
sebesar 40%. Untuk mengurangi risiko ini maka Acosta-Salmn dan Southgate
(2005) menggunakan relaksan untuk mendapatkan saibo dan melakukan proses
operasi saibo dan inti.
Kecepatan dan persentase penutupan inti mutiara yang dipelihara pada
kedalaman 3 dan 6 meter lebih baik bila dibandingkan dengan kedalaman 9 dan
12 meter. Setelah 4 minggu implantasi, persentase penutupan inti pada kedalaman
3 dan 6 meter hanya berbeda kurang dari 10% dibandingkan dengan kedalaman 9
dan 12 meter. Walaupun demikian, jumlah tiram yang mengalami kematian dan
penolakan inti yang tinggi pada kedalamn 9 dan 12 meter menjadi bahan
pertimbangan dalam pemeliharaan tiram. Hal ini sangat dipengaruhi oleh faktor
keadaan lingkungan pada setiap kedalaman, serta kemampuan tiram dalam
mengelola fisiologi tubuhnya terhadap perubahan lingkungan tersebut. Kedalaman
air merupakan salah satu faktor yang paling penting untuk menentukan kualitas
mutiara karena rata-rata mutiara yang bagus cenderung diproduksi di perairan
dengan kedalaman di bawah 10 meter.

9 SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Setelah melakukan penelitian dapat disimpulkan beberapa hal sebagai


berikut :
1. Implantasi pada tiram Pinctada maxima dapat menggunakan saibo dari tiram
jenis lain, pembentukan kantung mutiara pada perlakuan saibo dari tiram
Pinctada margaritifera lebih baik bila dibandingkan dengan perlakuan saibo
tiram Pteria penguin dan perlakuan saibo tiram Atrina vexillum.
117

2. Pembentukan kantung mutiara dapat dilakukan pada bagian usus, anus, dan
ventral gonad. Pembentukan kantung mutiara pada posisi implantasi inti di
ventral gonad lebih baik bila dibandingkan dengan implantasi di bagian usus
dan anus.
3. Pembentukan kantung mutiara dengan menggunakan saibo dari tiram yang
telah berumur 28 bulan lebih baik bila dibandingkan dengan saibo dari tiram
yang berumur 14 dan 21 bulan.
4. Pembentukan kantung mutiara pada tiram berjenis kelamin betina lebih baik
bila dibandingkan dengan jenis kelamin jantan.
5. Pembentukan kantung mutiara pada kedalaman 3 dan 6 meter lebih baik bila
dibandingkan dengan kedalaman 9 dan 12 meter.

Saran

Penelitian ini sebaiknya dilanjutkan dengan menggunakan saibo yang


memiliki umur tiram lebih dari 28 bulan dan saibo jenis lain yang memiliki warna
nacre berbeda kemudian dibiarkan sampai tiba masa penen.

DAFTAR PUSTAKA

Acosta-Salmn H, Davis M. 2007. Inducing relaxation in the queen conch


Strombus gigas (L.) for cultured pearl production. Aquaculture 262(1):73-
77.
Acosta-Salm n H, Mart nez-Fernndez E, Southgate PC. 2004. A new approach
to pearl oyster broodstock selection: can saibo donors be used as future
broodstock? Aquaculture 231(1):205-214.
Acosta-Salmn H, Southgate PC. 2005. Mantle regeneration in the pearl oysters
Pinctada fucata and Pinctada margaritifera. Aquaculture 246(14):447-
453.
Acosta-Salmn H, Southgate PC. 2006. Wound healing after excision of mantle
tissue from the Akoya pearl oyster, Pinctada fucata. Comparative
Biochemistry and Physiology, Part A 143(2):264-268.
Akalal DBG, Bottenstein JE, Lee SH, Han JH, Chang DJ, Kaang BK, Nagle GT.
2003. Aplysia mollusk-derived growth factor is a mitogen with adenosine
deaminase activity and is expressed in the developing central nervous
system. Molecular Brain Research 117(2):228-236.
Alagarswami K. 1974. Results of multiple implantation of nuclei in production of
cultured pearls. Indian Journal of Fisheries 21(2):601-604.
Andrew M, Dunstan R, O'Connor W, Van Zwieten L, Nixon B, MacFarlane G.
2008. Effects of 4-nonylphenol and 17alpha-ethynylestradiol exposure in
the Sydney rock oyster, Saccostrea glomerata: Vitellogenin induction and
gonadal development. Aquatic toxicology (Amsterdam, Netherlands)
88(1):39.
Anju A, Jeswin J, Thomas P, Paulton M, Vijayan K. 2013. Molecular cloning,
characterization and expression analysis of cytoplasmic Cu/Zn-superoxid
118

dismutase (SOD) from pearl oyster Pinctada fucata. Fish & shellfish
immunology 34(3):946-950.
Aoki S. 1956. Formation of the pearl-sac in the pearl-oyster (Pinctada martensii),
with reference to the autumn and early winter pearl-culture. Bull. Natl.
Pearl Res. Lab 1:41-46.
Aoki S. 1966. Comparative histological observations on the pearl sac tissues
forming nacreous, prismatic and periostracal pearls. Nippon Suisan
Gakkaishi 32:1-10.
Arjarasirikoon U, Kruatrachue M, Sretarugsa P, Chitramvong Y, Jantataeme S,
Upatham ES. 2004. Gametogenic processes in the pearl oyster, Pteria
penguin (Roding, 1798) (Bivalvia, Mollusca). Journal of Shellfish
Research 23(2):403-410.
Arnaud-Haond S, Goyard E, Vonau V, Herbaut C, Prou J, Saulnier D. 2007. Pearl
formation: persistence of the graft during the entire process of
biomineralization. Marine biotechnology 9(1):113-116.
Awaji M, Machii A. 2011. Fundamental studies on in vivo and in vitro pearl
formation: contribution of outer epithelial cells of pearl oyster mantle and
pearl sacs: Terrapub.
Awaji M, Suzuki T. 1995. The pattern of cell proliferation during pearl sac
formation in the pearl oyster. Fisheries Science 61(5):747-751.
Bayne B. 1971. Oxygen consumption by three species of lamellibranch mollusc
in declining ambient oxygen tension. Comparative Biochemistry and
Physiology Part A: Physiology 40(4):955-970.
Cahn AR. 1949. Pearl culture in Japan: General Headquarters, Supreme
Commander for the Allied Powers, National Resources Section.
Carlson BM. 2011. Principles of regenerative biology: Amsterdam ELsevier
Academic Press
Chatchavalvanich K, Nagachinda A, Kovitvadhi U, Kovitvadhi S, Thongpan A,
Meejui O. 2010. Histological development of pearl-sac formation in Thai
freshwater mussels. Kasetsart Journal (Natural Sciences) 44:202-209.
Chvez-Villalba J, Soyez C, Aurentz H, Le Moullac G. 2013. Physiological
responses of female and male black-lip pearl oysters (Pinctada
margaritifera) to different temperatures and concentrations of food.
Aquatic Living Resources 26(03):263-271.
Chvez-Villalba J, Soyez C, Huvet A, Gueguen Y, Lo C, Moullac GL. 2011.
Determination of gender in the pearl oyster Pinctada margaritifera.
Journal of shellfish Research 30(2):231-240.
Chellam A, Victor A, Dharmaraj S, Velayudhan T, Rao KS. 1991. Pearl oyster
farming and pearl culture. FAO Corporate Document Repository.
Chen H, Xie L, Yu Z, Xu G, Zhang R. 2005. Chemical modification studies on
alkaline phosphatase from pearl oyster (Pinctada fucata): a substrate
reaction course analysis and involvement of essential arginine and lysine
residues at the active site. The international journal of biochemistry & cell
biology 37(7):1446.
Chen L, Xie L, Dai Y, Xiong X, Fan W, Zhang R. 2004. Cloning and
characterization of an mRNA encoding a novel G protein -subunit
abundant in mantle and gill of pearl oyster Pinctada fucata. Comparative
119

Biochemistry and Physiology Part B: Biochemistry and Molecular Biology


139(4):669-679.
Cheng W, Chen J. 2000. Effects of pH, temperature and salinity on immune
parameters of the freshwater prawn Macrobrachium rosenbergii. Fish &
shellfish immunology 10(4):387.
Cheng W, Hsiao I-S, Hsu C-H, Chen J-C. 2004. Change in water temperature on
the immune response of Taiwan abalone Haliotis diversicolor supertexta
and its susceptibility to Vibrio parahaemolyticus. Fish & Shellfish
Immunology 17:235-243.
Choi SH, Jee BY, Lee SJ, Cho MY, Lee SJ, Kim JW, Jeong HD, Kim KH. 2013.
Effects of RNA interference-mediated knock-down of hypoxia-inducible
factor- on respiratory burst activity of the Pacific oyster Crassostrea
gigas hemocytes. Fish & Shellfish Immunology 35(2):476-479.
Cochennec-Laureau N, Montagnani C, Saulnier D, Fougerouse A, Levy P, Lo C.
2010. A histological examination of grafting success in pearl oyster
Pinctada margaritifera in French Polynesia. Aquatic Living Resources
23(01):131-140.
Cudennec B, Rousseau M, Lopez E, Fouchereau-Peron M. 2006. CGRP
stimulates gill carbonic anhydrase activity in molluscs via a common
CT/CGRP receptor. Peptides 27(11):2678-2682.
Delaportea M, Soudantb P, Lambertb C, Moala J, Pouvreaua S, Samaina JF. 2006.
Impact of food availability on energy storage and defense related
hemocyte parameters of the Pacific oyster Crassostrea gigas during an
experimental reproductive cycle. Aquaculture 254(1-4):571-582.
Dix TG. 1972. Histochemistry of mantle and pearl sac secretory cells in Pinctada
maxima (Lamellibranchia). Australian Journal of Zoology 20(4):359-368.
Dix TG. 1973. Histology of the mantle and pearl sac of the pearl oyster Pinctada
maxima (Lamellibranchia). Journal of the Malacological Society of
Australia 2(4):365-375.
Dogterom AA, van Loenhout H, van der Schors RC. 1979. The effect of the
growth hormone of Lymnaea stagnalis on shell calcification. General and
Comparative Endocrinology 39(1):63-68.
Duplat D, Puissgur M, Bdouet L, Rousseau M, Boulzaguet H, Milet C, Sellos
D, Van Wormhoudt A, Lopez E. 2006. Identification of calconectin, a
calcium-binding protein specifically expressed by the mantle of Pinctada
margaritifera. FEBS Letters 580(10):2435-2441.
Eckelbarger K, Davis C. 1996a. Ultrastructure of the gonad and gametogenesis in
the eastern oyster, Crassostrea virginica. I. Ovary and oogenesis. Marine
Biology 127(1):79-87.
Eckelbarger K, Davis C. 1996b. Ultrastructure of the gonad and gametogenesis in
the eastern oyster, Crassostrea virginica. II. Testis and spermatogenesis.
Marine Biology 127(1):89-96.
Fan W, Li C, Li S, Feng Q, Xie L, Zhang R. 2007. Cloning, characterization, and
expression patterns of three sarco/endoplasmic reticulum Ca2+-ATPase
isoforms from pearl oyster (Pinctada fucata). Acta biochimica et
biophysica Sinica 39(9):722-730.
120

Fang Z, Feng Q, Chi Y, Xie L, Zhang R. 2008. Investigation of cell proliferation


and differentiation in the mantle of Pinctada fucata (Bivalve, Mollusca).
Marine Biology 153(4):745-754.
Fritz M, Belcher AM, Radmacher M, Walters DA, Hansma PK, Stucky GD,
Morse DE, Mann S. 1994. Flat pearls from biofabrication of organized
composites on inorganic substrates. Nature 371(6492):49-51.
Fukushima E, Iwai T, Miura C, Celino FT, Urasaki S, Miura T. 2014. A
Xenograft mantle transplantation technique for producing a novel pearl in
an akoya oyster host. Marine Biotechnology 16(1):10-16.
Funakoshi S. 2000. Studies on the classification, structure and function of
hemocytes in bivalves. Bulletin of National Research Institute of
Aquaculture (Japan).
Gardner LD. 2008. Investigation of Molecular Mechanisms Regulating
Biomineralization of Pearl Oyster Pinctada maxima. PhD Disertation.
James Cook University.
Gauthier-Clerc S, Pellerin J, Amiard J. 2006a. Estradiol-17beta and testosterone
concentrations in male and female Mya arenaria (Mollusca bivalvia)
during the reproductive cycle. General and comparative endocrinology
145(2):133-139.
Gauthier-Clerc S, Pellerin J, Fournier M, Amiard JC. 2006b. Immunological and
biochemical responses in Mya arenaria (Mollusca Bivalvia) exposed in
vivo to estradiol-17. Comparative Biochemistry and Physiology, Part C
144(3):228-234.
Genedani S, Bernardi M, Ottaviani E, Franceschi C, Leung MK, Stefano GB.
1994. Differential modulation of invertebrate hemocyte motility by CRF,
ACTH, and its fragments. Peptides 15(2):203-206.
Geraerts WPM. 1976. Control of growth by the neurosecretory hormone of the
light green cells in the freshwater snail Lymnaea stagnalis. General and
Comparative Endocrinology 29(1):61-71.
Gervis M, Sims NA. 1992. The biology and culture of pearl oysters (Bivalvia
pteriidae): ICLARM studies and reviews. Manila.
Goddard S. 1996. Feeding, Temperature, and Water Quality, Springer US. pp 51-
74,.
Gong N, Ma Z, Li Q, Li Q, Yan Z, Xie L, Zhang R. 2008. Characterization of
calcium deposition and shell matrix protein secretion in primary mantle
tissue culture from the marine pearl oyster Pinctada fucata. Marine
Biotechnology 10(4):457-465.
Guvlou E, Huvet A, Galindo-Snchez CE, Milan M, Quillien V, Daniel J-Y,
Qur C, Boudry P, Corporeau C. 2013a. Sex-specific regulation of AMP-
activated protein kinase (AMPK) in the pacific oyster Crassostrea gigas 1.
Biology of reproduction 89:1-5
Guvlou E, Huvet A, Sussarellu R, Milan M, Guo X, Li L, Zhang G, Quillien V,
Daniel J-Y, Qur C, et al. 2013b. Regulation of a truncated isoform of
AMP-activated protein kinase (AMPK) in response to hypoxia in the
muscle of Pacific oyster Crassostrea gigas. Journal of Comparative
Physiology B 183(5):597-611.
121

Hamano K, Awaji M, Usuki H. 2005. cDNA structure of an insulin-related


peptide in the Pacific oyster and seasonal changes in the gene expression.
Journal of endocrinology 187(1):55-67.
Haws M, Ellis S. 2000. Collecting black-lip pearl oyster spat: Center for Tropical
and Subtropical Aquaculture.
Helmuth B, Broitman BR, Blanchette CA, Gilman S, Halpin P, Harley CD,
O'Donnell MJ, Hofmann GE, Menge B, Strickland D. 2006. Mosaic
patterns of thermal stress in the rocky intertidal zone: implications for
climate change. Ecological Monographs 76(4):461-479.
Hermann PM, van Kesteren RE, Wildering WC, Painter SD, Reno JM, Smith JS,
Kumar SB, Geraerts WP, Ericsson LH, Smit AB. 2000. Neurotrophic
actions of a novel molluscan epidermal growth factor. The Journal of
Neuroscience 20(17):6355-6364.
Holmblad T, Sderhll K. 1999. Cell adhesion molecules and antioxidative
enzymes in a crustacean, possible role in immunity. Aquaculture
172(1):111-123.
Hooper C, Day R, Slocombe R, Benkendorff K, Handlinger J. 2014.
Histopathology and haemolymph biochemistry following anaesthesia and
movement in farmed Australian abalone (Haliotis rubra and Haliotis
laevigata). Aquaculture 422423(0):202-210.
Hooper C, Day R, Slocombe R, Handlinger J, Benkendorff K. 2007. Stress and
immune responses in abalone: limitations in current knowledge and
investigative methods based on other models. Fish & shellfish immunology
22(4):363-379.
Inoue N, Ishibashi R, Ishikawa T, Atsumi T, Aoki H, Komaru A. 2011. Gene
expression patterns in the outer mantle epithelial cells associated with
pearl sac formation. Marine Biotechnology 13(3):474-483.
Jackson DJ, McDougall C, Woodcroft B, Moase P, Rose RA, Kube M, Reinhardt
R, Rokhsar DS, Montagnani C, Joubert C. 2010. Parallel evolution of
nacre building gene sets in molluscs. Molecular biology and evolution
27(3):591-608.
Jerry DR, Kvingedal R, Lind CE, Evans BS, Taylor JJ, Safari AE. 2012. Donor-
oyster derived heritability estimates and the effect of genotype
environment interaction on the production of pearl quality traits in the
silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima. Aquaculture 338:66-71.
Jing G, Yan Z, Li Y, Xie L, Zhang R. 2007. Immunolocalization of an acid
phosphatase from pearl oyster (Pinctada fucata) and its in vitro effects on
calcium carbonate crystal formation. Marine biotechnology 9(5):650-659.
Jouaux A, Blin J, Adeline B, Heude-Berthelin C, Sourdaine P, Mathieu M,
Kellner K. 2013. Impact of energy storage strategies on gametogenesis and
reproductive effort in diploid and triploid Pacific oysters Crassostrea
gigas Involvement of insulin signaling. Aquaculture 388:173-181.
Kawai S, Machii, A., Kitamura, S. 1981. Tissue culture of aquatic mollusca.
Annual Rep. Osaka City Inst. Public Health Environmental Sci (in
Japanese with English abstract). 44(44):64-72.
Kawakami IK. 1954. Studies on pearl-sac formation. III. Pearl-sac formation in
fresh water mussels. Annot. Zool. Japon (27):215-219.
122

Kong Y, Jing G, Yan Z, Li C, Gong N, Zhu F, Li D, Zhang Y, Zheng G, Wang H.


2009. Cloning and characterization of Prisilkin-39, a novel matrix protein
serving a dual role in the prismatic layer formation from the oyster
Pinctada fucata. Journal of biological chemistry 284(16):10841-10854.
Kunigelis SC, Saleuddin ASM. 1985. Studies on the in vitro formation of
periostracum in Helisoma duryi: the influence of brain. Journal of
Comparative Physiology B 155(2):177-183.
Lacoste A, Cueff A, Poulet SA. 2002a. P35-sensitive caspases, MAP kinases and
Rho modulate -adrenergic induction of apoptosis in mollusc immune
cells. Journal of cell science 115(4):761-768.
Lacoste A, Jalabert F, Malham SK, Cueff A, Poulet SA. 2001a. Stress and stress-
induced neuroendocrine changes increase the susceptibility of juvenile
oysters (Crassostrea gigas) to Vibrio splendidus. Applied and
environmental microbiology 67(5):2304-2309.
Lacoste A, Malham SK, Cueff A, Poulet SA. 2001b. Noradrenaline modulates
oyster hemocyte phagocytosis via a -adrenergic receptorcAMP
signaling pathway. General and Comparative Endocrinology 122(3):252-
259.
Lacoste A, Malham SK, Glbart F, Cueff A, Poulet SA. 2002b. Stress-induced
immune changes in the oyster Crassostrea gigas. Developmental &
Comparative Immunology 26(1):1-9.
Lelong C, Mathieu M, Favrel P. 2000. Structure and expression of mGDF, a new
member of the transforming growth factor- superfamily in the bivalve
mollusc Crassostrea gigas. European Journal of Biochemistry
267(13):3986-3993.
Li S, Xie L, Ma Z, Zhang R. 2005. cDNA cloning and characterization of a novel
calmodulinlike protein from pearl oyster Pinctada fucata. Febs Journal
272(19):4899-4910.
Li W, Shi Z, He X. 2010. Study on immune regulation in Hyriopsis cumingii Lea:
effect of pearl-nucleus insertion in the visceral mass on immune factors
present in the hemolymph. Fish & shellfish immunology 28(5-6):789.
Liu X, Li J, Xiang L, Sun J, Zheng G, Zhang G, Wang H, Xie L, Zhang R. 2012.
The role of matrix proteins in the control of nacreous layer deposition
during pearl formation. Proceedings. Biological sciences/The Royal
Society 279(1730):1000-1007.
Lockwood BL, Sanders JG, Somero GN. 2010. Transcriptomic responses to heat
stress in invasive and native blue mussels (genus Mytilus): molecular
correlates of invasive success. The Journal of experimental biology
213(20):3548-3558.
Lockwood BL, Somero GN. 2011. Transcriptomic responses to salinity stress in
invasive and native blue mussels (genus Mytilus). Molecular Ecology
20(3):517-529.
Ma Z, Huang J, Sun J, Wang G, Li C, Xie L, Zhang R. 2007. A novel extrapallial
fluid protein controls the morphology of nacre lamellae in the pearl oyster,
Pinctada fucata. Journal of Biological Chemistry 282(32):23253-23263.
Machii A. 1968. Histological studies on the pearl sac formation. Bulletin of the
Pearl Res Lab 13:1489-1539.
123

Machii A, Nakahara H. 1957. Studies on the histology of the pearl-sac, II. On the
speed of the pearl-sac formation different by season. Bull Nat Pearl Res
Lab 2:107-112.
Malagoli D, Casarini L, Sacchi S, Ottaviani E. 2007. Stress and immune response
in the mussel Mytilus galloprovincialis. Fish & shellfish immunology
23(1):171.
Mamangkey NGF, Acosta-Salmon H, Southgate PC. 2009. Use of anaesthetics
with the silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima (Jameson). Aquaculture
288(34):280-284.
Mamangkey NGF, Southgate PC. 2009. Regeneration of excised mantle tissue by
the silver-lip pearl oyster, Pinctada maxima (Jameson). Fish & Shellfish
Immunology 27(2):164-174.
Marie B, Joubert C, Tayal A, Zanella-Clon I, Belliard C, Piquemal D,
Cochennec-Laureau N, Marin F, Gueguen Y, Montagnani C. 2012.
Different secretory repertoires control the biomineralization processes of
prism and nacre deposition of the pearl oyster shell. Proceedings of the
National Academy of Sciences 109(51):20986-20991.
Marin F, Luquet G. 2004. Molluscan shell proteins. Comptes Rendus Palevol
3(6):469-492.
Marin F, Luquet G, Marie B, Medakovic D. 2007. Molluscan shell proteins:
primary structure, origin, and evolution. Current topics in developmental
biology 80:209-276.
Masaoka T, Samata T, Nogawa C, Baba H, Aoki H, Kotaki T, Nakagawa A, Sato
M, Fujiwara A, Kobayashi T. 2013. Shell matrix protein genes derived
from donor expressed in pearl sac of Akoya pearl oysters (Pinctada
fucata) under pearl culture. Aquaculture 384387(0):56-65.
Matsumoto T, Nakamura AM, Mori K, Akiyama I, Hirose H, Takahashi Y. 2007.
Oyster estrogen receptor: cDNA cloning and immunolocalization. General
and comparative endocrinology 151(2):195-201.
Matsushiro A, Miyashita T, Miyamoto H, Morimoto K, Tonomura Bi, Tanaka A,
Sato K. 2003. Presence of protein complex is prerequisite for aragonite
crystallization in the nacreous layer. Marine Biotechnology 5(1):37-44.
Mattjik AA, Sumertajaya IM. 2006. Perancangan percobaan dengan aplikasi SAS
dan Minitab. Jilid I. Edisi ke-2. Institut Pertanian (IPB)-Press, Bogor.
McGinty EL, Evans BS, Taylor JUU, Jerry DR. 2010. Xenografts and pearl
production in two pearl oyster species, P. maxima and P. margaritifera:
Effect on pearl quality and a key to understanding genetic contribution.
Aquaculture 302(34):175-181.
McGinty EL, Zenger KR, Taylor JU, Evans BS, Jerry DR. 2011. Diagnostic
genetic markers unravel the interplay between host and donor oyster
contribution in cultured pearl formation. Aquaculture 316(1):20-24.
Meng J, Zhu Q, Zhang L, Li C, Li L, She Z, Huang B, Zhang G. 2013. Genome
and transcriptome analyses provide insight into the euryhaline adaptation
mechanism of Crassostrea gigas. PLoS One 8(3):e58563.
Menge BA, Chan F, Lubchenco J. 2008. Response of a rocky intertidal ecosystem
engineer and community dominant to climate change. Ecology Letters
11(2):151-162.
124

Michenfelder M, Fu G, Lawrence C, Weaver JC, Wustman BA, Taranto L, Evans


JS, Morse DE. 2003. Characterization of two molluscan crystal
modulating biomineralization proteins and identification of putative
mineral binding domains. Biopolymers 70(4):522-533.
Miyamoto H, Miyoshi F, Kohno J. 2005. The carbonic anhydrase domain protein
nacrein is expressed in the epithelial cells of the mantle and acts as a
negative regulator in calcification in the mollusc Pinctada fucata.
Zoological science 22(3):311-315.
Mount AS, Wheeler A, Paradkar RP, Snider D. 2004. Hemocyte-mediated shell
mineralization in the eastern oyster. Science 304:297-300.
Norton JH, Dashorst M, Lansky TM, Mayer RJ. 1996. An evaluation of some
relaxants for use with pearl oysters. Aquaculture 144(13):39-52.
Norton JH, Lucas JS, Turner I, Mayer RJ, Newnham R. 2000. Approaches to
improve cultured pearl formation in Pinctada margaritifera through use of
relaxation, antiseptic application and incision closure during bead
insertion. Aquaculture 184(12):1-17.
Ottaviani E, Franchini A, Franceschi C. 1998. Presence of immunoreactive
corticotropin-releasing hormone and cortisol molecules in invertebrate
haemocytes and lower and higher vertebrate thymus. The Histochemical
journal 30(2):61-67.
Panha S, Kosavititkul P. 1997. Mantle transplantations in freshwater pearl
mussels in Thailand. Aquaculture International 5(3):267-276.
Pipe RK, Coles JA. 1995. Environmental contaminants influencing
immunefunction in marine bivalve molluscs. Fish & Shellfish Immunology
5(8):581-595.
Rao GS, Pattnaik P, Dash B. 2010. Comparative regeneration of excised mantle
tissue in one year and seven year old Indian pearl oyster, Pinctada fucata
(Gould) grown under land-based culture system. Indian Journal of
Fisheries 57(1):39-43.
Reitz L, Smith W, Plumlee M. 1960. Simple, wet oxidation procedure for
biological materials. Analytical Chemistry 32(12):1728-1728.
Saucedo PE, Bervera-Leon H, Monteforte M, Southgate PC, Monsalvo-Spencer P.
2005. Factors influencing recruitment of hatchery reared pearl oyster
(Pinctada mazatlanica; Hanley 1856) spat. Journal of Shellfish Research
24(1):215-219.
Saucedo PE, Southgate PC, Southgate P, Lucas J. 2008. The pearl oyster :
reproduction, development and growth. Amsterdam Netherlands. pp : 131-
186
Scoones R. 1996. The development of the pearl sac in Pinctada margaritifera
(Jamieson 1901) (Lamellibranchia: Pteriidae) and the implications for the
quality of cultured pearlsMSc. Thesis, University of Western Australia,
Nedlands, WA, Australia.
Shi A, Zhang M, Wu Z, Peng X. 1985. On the formation of pearl sac in freshwater
mussel. J. Fish. China Shuichan Xuebao 9(3):247-253.
Smit AB, Vreugdenhil E, Ebberink RH, Geraerts WP, Klootwijk J, Joosse J. 1988.
Growth-controlling molluscan neurons produce the precursor of an
insulin-related peptide. Nature 331(6156):535-538.
125

Stefano GB, Zhu W, Mantione K, Jones D, Salamon E, Cho JJ, Cadet P. 2003. 17-
beta estradiol down regulates ganglionic microglial cells via nitric oxide
release: Presence of an estrogen receptor beta transcript.
Neuroendocrinology Letters 24(3/4):130-136.
Strack E. 2006. Pearls: Rhle-Diebener-Verlag, Stuttgart, Germany. 707 pp.
Suzuki M, Nagasawa H. 2007. The structure-function relationship analysis of
Prismalin14 from the prismatic layer of the Japanese pearl oyster,
Pinctada fucata. FEBS journal 274(19):5158-5166.
Suzuki M, Saruwatari K, Kogure T, Yamamoto Y, Nishimura T, Kato T,
Nagasawa H. 2009. An acidic matrix protein, Pif, is a key macromolecule
for nacre formation. Science 325(5946):1388-1390.
Suzuki T, Funakoshi S. 1992. Isolation of a fibronectin-like molecule from a
marine bivalve, Pinctada fucata, and Its secretion by amebocytes(Cell
Biology). Zoological science 9(3):541-550.
Suzuki T, Yoshinaka R, Mizuta S, Funakoshi S, Wada K. 1991. Extracellular
matrix formation by amebocytes during epithelial regeneration in the pearl
oyster Pinctada fucata. Cell and tissue research 266(1):75-82.
Takakura D, Norizuki M, Ishikawa F, Samata T. 2008. Isolation and
characterization of the N-linked oligosaccharides in nacrein from Pinctada
fucata. Marine biotechnology 10(3):290-296.
Takeuchi T, Endo K. 2006. Biphasic and dually coordinated expression of the
genes encoding major shell matrix proteins in the pearl oyster Pinctada
fucata. Marine biotechnology 8(1):52-61.
Taussky HH, Shorr E. 1953. A microcolorimetric method for the determination of
inorganic phosphorus. J Biol Chem 202(2):675-685.
Tayale A, Gueguen Y, Treguier C, Le Grand J, Cochennec-Laureau N,
Montagnani C, Ky C-L. 2012. Evidence of donor effect on cultured pearl
quality from a duplicated grafting experiment on Pinctada margaritifera
using wild donors. Aquatic Living Resources 25(3).
Taylor A. 1976. Burrowing behaviour and anaerobiosis in the bivalve Arctica
islandica (L.). Journal of the Marine Biological Association of the United
Kingdom 56(01):95-109.
Taylor J, Strack E, Southgate P, Lucas J. 2008. Pearl production. The Pearl
Oyster: pp : 273-302.
Taylor JJU. 2002. Producing golden and silver south sea pearls from Indonesian
hatchery reared Pinctada maxima. World Aquaculture 2002:23rd-27th.
Tmkin I. 2006. Morphological perspective on the classification and evolution of
Recent Pterioidea (Mollusca: Bivalvia). Zoological Journal of the Linnean
Society 148(3):253-312.
Van Phuc P, Viet PQ, Hoang NM, Tam NT, Kim P. 2011. Research on in vitro
culture and inducing nacre crystal formation of freshwater pearl mussel
mantle epithelial cell Sinohyriopsis cumingii. International Journal of
Fisheries and Aquaculture 3(6):105-113.
Velayudhan T, Chellam A, Dharmaraj S, Victor A. 1994. Histology of the mantle
and pearl-sac formation in the Indian pearl oyster Pinctada fucata (Gould).
Indian Journal of Fisheries 41(2):70-75.
Veldhuijzen JP, Cuperus R. 1975. Effects of starvation, low temperature and the
dorsal body hormone on the in vitro synthesis of galactogen and glycogen
126

in the albumen gland and the mantle of the pond snail Lymnaea stagnalis.
Netherlands Journal of Zoology 26(1):119-135.
Veldhuijzen JP, Van BeeK G. 1975. The influence of starvation and of increased
carbohydrate intake on the polysaccharide content of various body parts of
the Pond Snail Lymnaea stagnalis. Netherlands Journal of Zoology
26(1):106-118.
Victor ACC, Chellam, A., Dharmaraj, S., (2000). Pearl Culture. In Marine
Fisheries Research and Management. Ed. Pillai VNaM, N.G. Central
Marine Fisheries Research Institute: Pp. 775-785.
Wada K. 1984. Breeding study of the pearl oyster, Pinctada fucata [in Japan].
Bulletin of National Research Institute of Aquaculture. Japan.
Wada K, Komaru A. 1994. Effect of selection for shell coloration on growth rate
and mortality in the Japanese pearl oyster, Pinctada fucata martensii.
Aquaculture 125(1) : 59-65.
Wang N, Kinoshita S, Riho C, Maeyama K, Nagai K, Watabe S. 2009.
Quantitative expression analysis of nacreous shell matrix protein genes in
the process of pearl biogenesis. Comparative Biochemistry and Physiology
Part B: Biochemistry and Molecular Biology 154(3):346-350.
Wilbur K, Saleuddin A. 1983. The mollusca. Shell formation 4(Part 1):235-287.
Winanto T. 2004. Memproduksi benih tiram mutiara: Penebar Swadaya.
Winanto T, Soedharma D, Affandi R, Sanusi HS. 2009. Pengaruh suhu dan
salinitas terhadap respon fisiologi larva tiram mutiara Pinctada maxima
(Jameson). Jurnal Biologi Indonesia 6(1):51-69.
Winanto T, Soekendarsi E, Paonganan Y. 2001. Hatchery production of spat of
pearl oyster Pinctada maxima (Jameson) in Indonesia. Phuket Marine
Biological Center Special Publication 25(1):189-192.
Xie LP, Wu YT, Dai YP, Li Q, Zhang RQ. 2007. A novel
glycosylphosphatidylinositol-anchored alkaline phosphatase dwells in the
hepatic duct of the pearl oyster, Pinctada fucata. Marine biotechnology
9(5):613-623.
Yamaguchi Y, Hearing VJ, Itami S, Yoshikawa K, Katayama I. 2005.
Mesenchymal-epithelial interactions in the skin: Aiming for site-specific
tissue regeneration. Journal of Dermatological Science 40(1):1-9.
Yan Z, Fang Z, Ma Z, Deng J, Li S, Xie L, Zhang R. 2007. Biomineralization:
functions of calmodulin-like protein in the shell formation of pearl oyster.
Biochimica et Biophysica Acta (BBA)-General Subjects 1770(9):1338-
1344.
Zaremba CM, Belcher AM, Fritz M, Li Y, Mann S, Hansma PK, Morse DE,
Speck JS, Stucky GD. 1996. Critical transitions in the biofabrication of
abalone shells and flat pearls. Chemistry of Materials 8(3):679-690.
Zhang C, Zhang R. 2006. Matrix proteins in the outer shells of molluscs. Marine
Biotechnology 8(6):572-586.
Zhao X, Yu H, Kong L, Li Q. 2012. Transcriptomic responses to salinity stress in
the Pacific oyster Crassostrea gigas. PloS one 7(9):e46244.
Zhifeng G, Fengshao H, Hai W, Kai G, Xin Z, Yaohua S, Aiming W. 2012.
Contribution of donor and host oysters to the cultured pearl colour in
Pinctada martensii. Aquaculture Research. 45(7): 1126-1132.
127

Zhou Y, He Z, Huang J, Gong N, Yan Z, Liu X, Sun J, Wang H, Zhang G, Xie L,


et al. 2010. Cloning and characterization of the activin like receptor 1
homolog (Pf-ALR1) in the pearl oyster, Pinctada fucata. Comparative
Biochemistry and Physiology Part B: Biochemistry and Molecular Biology
156(3):158-167.
Zhu W, Mantione K, Jones D, Salamon E, Cho JJ, Cadet P, Stefano GB. 2003.
The presence of 17-beta estradiol in Mytilus edulis gonadal tissues:
evidence for estradiol isoforms. Neuroendocrinology Letters 24(3/4):137-
140.

LAMPIRAN

Lampiran 1 Prosedur kerja penelitian


Tahapan yang dilakukan selama penelitian ialah tahap pemilihan saibo yang
umur tiramnya berbeda, pemilihan tiram yang akan diimplantasi, tahap implantasi
yang dilakukan di laboratorium, tahap pemeliharaan di laut dan tahap
pembedahan atau pengambilan sampel untuk melihat perkembangan kantung
mutiara.

a. Pemilihan tiram yang akan diimplantasi


Selama penelitian, tiram yang diimplantasi (tiram inang)
menggunakan tiram jenis Pinctada maxima. Tiram yang diimplantasi juga
harus memiliki tingkat kematangan gonad yang sama, yakni fase
perkembangan atau pematangan (developing atau maturing). Semua tiram
yang diimplantasi berukuran DVM (dorso ventral margin) tubuh 12 cm,
APM (anteroposterior margin) tubuh 11 cm dan bobot tiram 180-210
gram. Ukuran saibo dan inti semua sama (ukuran saibo 3 x 3 x 1mm dan
diameter inti 6.4 mm).

b. Pemilihan saibo
Penelitian tahap pertama menggunakan saibo yang diambil dari
tiram Atrina vexillum, Pteria penguin, Pinctada margaritifera dan jenis
yang sama (Pinctada maxiama). Penelitian tahap kedua menggunakan
saibo dari jenis yang sama (Pinctada maxima) namun posisi peletakannya
di bagian usus, anus, dan ventral gonad. Penelitian tahap ketiga
menggunakan saibo yang didapatkan dari tiram yang telah berumur 14, 21,
dan 28 bulan. Untuk tahap keempat dan kelima menggunakan saibo dari
tiram jenis yang sama dengan tiram inang (Pinctada maxima). Bagian
mantel yang diambil sebagai saibo yakni bagian pallial mantel. Saibo yang
telah didapatkan kemudian dipotong-potong sebesar 3 x 3 x 1 mm,
kemudian diletakkan dalam larutan fisiologis dan siap untuk digunakan.

c. Tahap implantasi
Tiram yang akan diimplantasi diletakkan dengan posisi berdiri
sehingga tiram mutiara kekurangan oksigen dan setelah tiram mutiara
membuka cangkang maka digunakan alat pembuka cangkang (shell
opener) untuk membuka cangkang. Setelah cangkang terbuka, baji
128

dipasang sebagai pengganjal agar cangkang membuka sebagian, kemudian


dengan spatula memisahkan insang yang menutupi gonad. Bagian gonad
yang akan disayat adalah bagian ventral gonad (hanya pada tahap kedua
saja dilakukan perbedaan posisi implantasi dengan menempatkan saibo
dan inti di bagian usus dan anus). Setelah membuat sayatan kecil pada
gonad maka secepatnya memasukkan inti dan saibo dengan posisi
innermantel menyentuh inti. Ukuran saibo (3 x 3 x 1 mm), besar sayatan
(6.6 mm) dan diameter inti seragam (6.4).

d. Tahap pemeliharaan
Setelah implantasi maka tiram dipelihara di laut dengan meletakkan
tiram mutiara pada posisi dorsal di atas atau dikenal dengan proses tento.
Selama pemeliharaan, pengambilan sampel dilakukan sesuai dengan waktu
yang ditentukan. Semua proses ini dilakukan dengan hati-hati agar tiram
tidak terlalu mengalami stress. Untuk perlakuan kedalaman maka tiram
dipelihara pada kedalaman 3, 6, 9, dan 12 meter.

Lampiran 2 Prosedur penentuan parameter pengamatan.

Prosedur preparasi sampel untuk analisis mineral kalsium dan fosfor


cangkang dengan menggunakan Wet Ashing (Reitz et al. 1960). Cara kerjanya:
1. Ditimbang 1 g sampel cangkang dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer
ukuran 125 mL/100 mL
2. Ditambahkan 5 mL HNO3 (p) didiamkan selama 1 jam pada suhu ruang di
ruang asam.
3. Dipanaskan di atas hot plate dengan temperatur rendah selama 4-6 jam
(dalam ruang asam).
4. Dibiarkan semalam (sampel ditutup).
5. Ditambahkan 0.4 mL H2SO4 (p), lalu dipanaskan di atas hot plate sampai
larutan berkurang (lebih pekat), biasanya 1 jam.
6. Ditambahkan 2-3 tetes larutan campuran HClO4: HNO3 (2:1). Sampel
masih tetap di atas hot plate, karena pemanasan terus dilanjutkan sampai
ada perubahan warna dari cokelat menjadi kuning tua, kemudian menjadi
kuning muda (biasanya 1 jam)
7. Setelah ada perubahan warna, pemanasan masih dilanjutkan selama 10-15
menit
8. Sampel dipindahkan, dinginkan, dan ditambahkan 2 mL aquades dan 0.6
mL HCl (p).
9. Dipanaskan kembali agar sampel larut (15 menit) kemudian dimasukkan
ke dalam labu takar 100 mL.
10. Apabila ada endapan disaring dengan glass wool
11. Hasil pengabuan basa dianalisis dengan menggunakan AAS (untuk
analisis mineral kalsium) atau spektrofotometer (untuk analisis mineral
fosfor pada panjang gelombang 660 nm). Tapi sebelumnya dipreparasi
dulu dengan faktor pengenceran yang dibutuhkan dan penambahan bahan
kimia untuk menghilangkan ion-ion pengganggu (Cl3La.7H2O).
129

Analisis Mineral Kalsium Serum


1. Dibuat larutan standar untuk : Ca : 2,4 dan 6 ppm
2. Ke dalam tabung reaksi dipipet 0,25 mL serum + 0,05 mL Cl3La.7H2O
3. Ditambahkan aquadest sampai volume larutan 5 mL
4. Disentrifuge 3000 rpm selama 10 menit
5. Dibaca konsentrasi pada AAS (Spektrofotometer Serapan Atom).

Analisis Mineral Fosfor

Analisis mineral fosfor dengan menggunakan spektrofotometer (Taussky


dan Shorr 1953).

Preparasi Larutan:
Larutan A : (Asam Trikhloro acetat= TCA 17%)
Larutan B ((NH4)6Mo7O24.4H2O 10%=ammonium molibdat 10%)
- 10 g ammonium molibdat ditambah 60 mL aquadest
- Ditambahkan 28 mL H2SO4 pekat secara bertahap
- Dibuat larutan sampai 100 mL dengan menambah aquadest
- Didinginkan larutan tersebut dalam suhu kamar
Larutan C (dibuat sesaat sebelum analisis)
- 10 mL larutan B + 60 mL aquadest + 5 g FeSO4.7H2O
- Dibuat larutan sampai 100 mL dengan menambah aquadest
Larutan standar untuk P
- Larutkan 4.394 g KH2PO4 dalam aquadest sampai 1000 mL
(untuk mendapatkan konsentrasi P=1000 ppm)
Perhitungan:
BM KH2PO4=136.09 BA: P = 30.9738
136.09/30.9738 X 1000 mg X 1000 mL/1000 mL = 4.394 g
KH2PO4
Larutan pengikat anion-anion pengganggu (Cl3La.7H2O) :
- Larutkan 6.6838 g Cl3La.7H2O dalam aquadest sampai 25 mL
- Larutan Cl3La.7H2O berfungsi mengikat anion-anion pengganggu
seperti anion sulfat (SO4) dan fosfat (PO4)
Perhitungan :
BM Cl3La.7H2O=371.38 BA: La = 138.91
371.38/138.91 X 100 g X 25 ml/1000 mL = 6.6838 Cl3La.7H2O
(Konsentrasi La dalam larutan = 100.000 ppm).

Prosedur Kerja:
1. Dibuat konsentrasi larutan standar P = 2, 3, 4, dan 5 ppm dalam 5 mL
sehingga diperlukan :
2 ppm = 2 ppm/25 ppm X 5 mL = 0.4 mL KH2PO4
3 ppm = 3 ppm/25 ppm X 5 mL = 0.6 mL KH2PO4
4 ppm = 4 ppm/25 ppm X 5 mL = 0.8 mL KH2PO4
5 ppm = 5 ppm/25 ppm X 5 mL = 1.0 mL KH2PO4
2. Masing-masing volume tersebut ditambah 2 mL larutan C dan aquadest
sampai volume akhir 5 mL.
130

3. Filtrat sampel dipipet ke dalam tabung (ukuran volume sampel yang


dipipet bergantung pada kadar P dalam sampel. Oleh karena itu,
sebelumnya dilakukan pemipetan berbagai volume, dan ditetapkan
apabila warna sampel ada di dalam kisaran warna standar), kemudian di
tambah 2 mL larutan C.
4. Dibaca segera (5 menit-2 jam) pada spektrofotometer dengan panjang
gelombang 660 nm.
Analisis Mineral Fosfor Serum
1. Ditambahkan 1 mL aquadest dalam 0,2 mL plasma/serum, kemudian
ditambahkan larutan A.
2. Larutan dikocok dengan vortex, disentrifuge 2500 rpm selama 10 menit.
3. Filtrat larutan dipipet 3 mL ke dalam tabung, kemudian ditambahkan
larutan C.
4. Dibaca segera (5 menit-2 jam) pada spektrofotometer dengan panjang
gelombang 660 nm.

Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara


Persentase tiram yang berhasil membentuk kantung mutiara (PTKM)
dilakukan untuk mengetahui berapa persen (%) jumlah kerang yang berhasil
membentuk kantung mutiara dengan menghitung jumlah kerang yang membentuk
kantung mutiara (KM) dibagi dengan jumlah total kerang yang diperlakukan (TP)
sesuai dengan persamaan :

KM
PTKM = x 100
TP
Nilai KM = TP - (Jumlah tiram yang mati + Jumlah tiram yang mengalami
penolakan inti)

Kecepatan pembentukan kantung mutiara


Pengukuran kecepatan pembentukan kantung mutiara (VPKM) satuannya
milimeter/minggu dilakukan dengan mengukur panjang kantung mutiara yang
terbentuk (SKM) dibagi dengan seminggu atau 7 hari (TKM) sesuai dengan
persamaan :
SKM
VPKM =
TKM
Untuk nilai SKM maka harus menggunakan rumus keliling lingkaran yakni
2r kemudian dikurangi dengan panjang kantung mutiara yang belum terbentuk.

Persentase penutupan inti mutiara


Pengukuran persentase penutupan inti mutiara (PPIM) dilakukan dengan
mengukur luas kantung mutiara yang terbentuk (LKM) dibagi dengan luas inti
(LI) dikalikan seratus sesuai dengan persamaan :
131

LKM
PPIM = x 100
LI
Nilai LI menggunakan rumus luas bola yakni 4r2, sedangkan nilai LKM
didapatkan dengan menggunakan metode grafis bujur sangkar (kertas grafik mm).

Konsumsi oksigen

Pengukuran laju konsumsi oksigen dilakukan dengan menggunakan rumus


Bayne (1971) sebagai berikut :

(DOx - DOy )
dO2dt-1 =
(g.t)

Keterangan :
dO2dt-1 = Laju konsumsi oksigen ( mg O2g-1 jam-1)
DOx = Kandungan oksigen terlarut pada awal percobaan (mgL-1)
DOy = Kandungan oksigen terlarut pada akhir percobaan (mgL-1)
g = Berat tiram (g)
t = Lama pengamatan (jam)

Kadar glukosa hemolimf

Pengambilan sampel hemolimf dibilas dengan natrium sitrat 3,8% untuk


mencegah pembekuan hemolimf. Sampel hemolimf dianalisis dengan Glucose
liquit color - metode GOD-PAP enzymatic colorimetric test for glucose method
without deproteinisation

Lampiran 3 Prosedur pembuatan preparat histologis kantung mutiara

Pengamatan perkembangan struktur histologis kantung mutiara menggunakan


metode pewarnaan hematoxcilin eosin (H&E) dengan cara kerja sebagai berikut:

A. Prosedur pembuatan preparat histopatologi


1. Spesimen berupa organ dalam tiram Pinctada maxima yang telah
mempunyai inti dipotong pada daerah gonad dengan ketebalan 0,5 cm
dan direndam dalam larutan BNF 10% selama 24-48 jam, tetapi
sebelumnya didekalsifikasi lebih dahulu dalam larutan dekalsifikasi.
2. Setelah inti mutiara cukup lunak, maka ditiriskan pada saringan yang
diletakkan di atas ember kecil kemudian di-trimming dan disusun dalam
tissue cassete yang telah diberi kode sesuai dengan nomor spesimen.
3. Tissue cassete dimasukkan ke dalam keranjang pada Automatic tissue
proceessor kemudian didehidrasi selama 18 jam.
4. Setelah 18 jam tissue cassette dikeluarkan kemudian dilanjutkan dengan
proses dehidrasi dengan mesin vakum selama 30 menit.
132

5. Organ pada tissue cassete diletakkan pada mesin blocking pada suhu 60C,
kemudian organ dilapisi dengan paraplast cair, dan didinginkan hingga
blok parafin membeku. Selanjutnya blok tersebut disimpan dalam freezer
20C hingga pemotongan dengan mesin mikrotom dilakukan.
6. Blok dipotong dengan menggunakan pisau pada mesin mikrotom dengan
ketebalan 3-6 m secara vertikal dan horizontal dikarenakan kantung
mutiara berkembang secara menjulur kemudian menutupi inti.
7. Potongan jaringan tersebut diletakkan pada permukaan air dalam
waterbath yang bersuhu 46C.
8. Sementara itu kaca obyek yang telah diberi kode diberi satu tetes larutan
glyserol 99,5% dan larutan ewith atau albumin (dengan perbandingan 1:1)
dan diratakan pada permukaan kaca obyek.
9. Jaringan pada waterbath dilekatkan pada kaca obyek tersebut dengan cara
mencelupkan sebagian kaca obyek dengan kemiringan 45.
10. Preparat tersebut diletakkan pada rak khusus dan disimpan pada oven yang
bersuhu + 60C sampai pewarnaan dilakukan.
B. Proses pewarnaan hematoxyline dan eosin (HE)
1. Preparat yang akan diwarnai diletakkan dalam rak (1 rak maksimal 15
preparat) dan dicelupkan secara berurutan pada larutan dan waktu sebagai
berikut:

1) Xylol 3 menit
2) Xylol 3 menit
3) Etanol absolut 3 menit
4) Etanol absolut 3 menit
5) Etanol 90% 3 menit
6) Etanol 80% 3 menit
7) Dibilas dengan air yang mengalir. 1 menit
8) Larutan hematoksilin 6-7 menit
9) Dibilas dengan air yang mengalir. 1 menit
10) Larutan Scot 1 menit
11) Dibilas dengan air mengalir.. 1-3 menit
12) Larutan eosin 1-5 menit
13) Dibilas dengan air mengalir. 1 menit
14) Etanol 70% 1 menit
15) Etanol 90% 10 celupan
16) Etanol absolut 10 celupan
17) Etanol absolut. 1 menit
18) Xylol 3 menit
19) Xylol. 3 menit
20) Xylol 3 menit
2. Area di sekeliling jaringan dilap dengan menggunakan tissue, dikeringkan
sampai cairan menguap kemudian dimasukkan dalam cairan xylol.
3. Preparat diangkat dari larutan xylol dalam keadaan basah langsung diberi
satu tetes larutan DPX dengan menggunakan syring kaca lalu ditutup
dengan kaca penutup. Kelebihan cairan dilap dengan tissue.
4. Hasil pewarnaan dilihat dibawah mikroskop.
133

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Halong Ambon pada Tanggal 4 Juli 1979 sebagai


anak pertama dari pasangan La Toge dan Wa Pina. Pendidikan sarjana ditempuh
di Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Khairun Ternate, lulus pada tahun 2004. Pada tahun yang sama
penulis diterima di Progam Studi Biologi pada Program Pascasarjana IPB dan
menamatkannya pada tahun 2006. Kesempatan untuk melanjutkan ke program
doktor pada program studi Ilmu-ilmu Faal dan Khasiat Obat pada Program
Pascasarjana IPB diperoleh pada tahun 2009. Beasiswa pendidikan pascasarjana
diperoleh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi pada Tahun 2010.
Penulis bekerja sebagai dosen di Jurusan Biologi Fakultas MIPA
Universitas Pattimura sejak tahun 2008. Bidang penelitian yang menjadi tanggung
jawab penulis ialah fisiologi hewan.
Selama mengikuti program S-3, penulis menjadi anggota Ikatan Ahli Ilmu
Faal Indonesia (IAIFI). Ada 2 artikel yang telah diusulkan pada jurnal
aquaculuture elsevier dan masih dalam tahap under review dan 1 artikel pada
jurnal Hayati IPB (telah diterima dan dalam perbaikan). Artikel tersebut
merupakan bagian dari program S-3 penulis.