Anda di halaman 1dari 4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sonny Sumarsono (2003:4), Sumber Daya Manusia (SDM) atau human


recources mengandung dua pengertian. Pertama, adalah usaha kerja atau jasa yang
dapat diberikan dalam proses produksi. Dalam hal lain SDM mencerminkan
kualitas usaha yang diberikan oleh seseorang dalam waktu tertentu untuk
menghasilkan barang dan jasa. Pengertian kedua, SDM menyangkut manusia
yang mampu bekerja untuk memberikan jasa atau usaha kerja tersebut. Mampu
bekerja berarti mampu melakukan kegiatan yang mempunyai kegiatan ekonomis,
yaitu bahwa kegiatan tersebut menghasilkan barang atau jasa untuk memenuhi
kebutuhan atau masyarakat.
MEA merupakan singkatan dari Masyarakat Ekonomi ASEAN yang memiliki
pola mengintegrasikan ekonomi ASEAN dengan cara membentuk sistem
perdagangan bebas antara negara-negara anggota ASEAN. MEA merupakan
kesepakatan negara-negara ASEAN untuk mentranformasikan kawasan ASEAN
menjadi suatu kawasan di mana terdapat aliran bebas barang, jasa, investasi dan
tenaga kerja terampil serta aliran modal yang lebih bebas, dituangkan di dalam
ASEAN Charter (Piagam ASEAN) sebagai landasan legal dan konstitusional dan
Indonesia telah meratifikasi piagam tersebut dengan menerbitkan UU No. 38
Tahun 2008 sebagai payung berbagai perjanjian kerjasama di tingkat ASEAN.
Pelaksanaan kesepakatan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 sudah di
depan mata. Indonesia harus mulai mempersiapkan diri jika tidak ingin menjadi
sasaran masuknya produk-produk negara anggota ASEAN. Indonesia harus
banyak belajar dari pengalaman pelaksanaan free trade magreeent (FTA) dengan
China, akibatnya China menguasai pasar komoditi Indonesia. Tidak ada pilihan
lain selain menghadapi dengan percaya diri bahwa bangsa Indonesia mampu dan

1
2

menjadi lebih baik perekonomiannya dalam keikutsertaan Masyarakat Ekonomi


ASEAN 2015 ini.
Seiring perkembangan globalisasi, pasar sebagai aspek penting dan faktor
kunci bagi industri farmasi menjadi sangat kompleks, dinamis, dan sulit
diprediksi. Hal ini disebabkan pola pasar yang terjadi di industri farmasi berbeda
dengan pola pasar industri lainnya, dimana obat peredarannya diatur secara ketat
sehingga dalam pemasarannya industri farmasi harus melakukan pemasaran sesuai
dengan regulasi yang berlaku. Industri farmasi sebagai salah satu industri yang
memerlukan sentuhan teknologi tinggi sangat dipengaruhi oleh globalisasi, oleh
karena itu industri farmasi harus mampu menghadapi tantangan persaingan pasar
global dengan baik. Ungkapan think globally act locally menjadi kata kunci bagi
industri farmasi dalam persaingan, sehingga sebelum menguasai pasar global dan
regional, industri harus memiliki kekuatan internal yang kuat untuk bertahan di
era globalisasi.
Strategi dalam menghadapi globalisasi tergantung dari strategi kompetitif
perusahaan. Tingkat persaingan yang tinggi, memaksa setiap perusahaan yang ada
dalam indusri tersebut untuk menjalankan usahanya dengan lebih efektif dan
efisien. Efektif berarti keselarasan antara apa yang sudah direncanakan dengan
hasil yang didapat, sedangkan efisien berarti mampu memproduksi suatu output
tertentu dengan menggunakan sumber daya yang ada seminimal mungkin. Untuk
itu perlu dilakukan persiapan dengan adanya Masyarakat Ekonomi ASEAN
(MEA), tenaga kesehatan pada umumnya dan farmasi pada khususnya juga harus
berbenah dengan akan hal tersebut. Farmasis diharapkan mampu meningkatkan
kompetensinya serta skill yang mereka miliki dan juga kaderisasi di dunia
perkuliahan perlu untuk menekankan hal tersebut.
Atas dasar uraian diatas, penulis tertarik untuk membuat Karya Tulis Ilmiah
dengan judul Pentingnya Meningkatkan SDM Kefarmasian dalam Menghadapi
Pasar Bebas.
3

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah hakikat pentingnya meningkatkan SDM kefarmasian dalam
menghadapi pasar bebas?
2. Mengapa meningkatkan SDM kefarmasian sangat penting dalam
menghadapi pasar bebas di Indonesia?
3. Bagaimana pelaksanaan peningkatan SDM kefarmasian dalam menghadapi
pasar bebas di Indonesia?
4. Bagaimana pelaksanaan peningkatan SDM kefarmasian dalam menghadapi
pasar bebas di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang?
5. Bagaimana pandangan islam terhadap pelaksanaan peningkatan SDM
kefarmasian dalam menghadapi pasar bebas di Kecamatan Tirtoyudo,
Kabupaten Malang?

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan pelaksanaan kegiatan pengamatan ini sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui hakikat pentingnya meningkatkan SDM kefarmasian
dalam menghadapi pasar bebas di Indonesia.
2. Untuk mengetahui alasan pentingnya meningkatkan SDM kefarmasian
dalam menghadai pasar bebas di Indonesia.
3. Untuk mengetahui pelaksanaan peningkatan SDM kefarmasian dalam
menghadapi pasar bebas di Indonesia.
4. Untuk mengetahui pelaksanaan peningkatan SDM kefarmasian dalam
menghadapi pasar bebas di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.
5. Untuk mengetahui pandangan islam terhadap pelaksanaan peningkatan
SDM kefarmasian dalam menghadapi pasar bebas di Kecamatan Tirtoyudo,
Kabupaten Malang.
4

1.4 Manfaat Penulisan


1. Untuk memahami hakikat pentingnya meningkatkan SDM kefarmasian
dalam menghadapi pasar bebas di Indonesia.
2. Untuk memahami alasan pentingnya meningkatkan SDM kefarmasian
dalam menghadai pasar bebas di Indonesia.
3. Untuk memahami pelaksanaan peningkatan SDM kefarmasian dalam
menghadapi pasar bebas di Indonesia.
4. Untuk memahami dan menyikapi pelaksanaan peningkatan SDM
kefarmasian dalam menghadapi pasar bebas di Kecamatan Tirtoyudo,
Kabupaten Malang.
5. Untuk memahami dan menyikapi sikap pandangan islam terhadap
pelaksanaan peningkatan SDM kefarmasian dalam menghadapi pasar bebas
di Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang.