Anda di halaman 1dari 6

Pendahuluan

Kanker vagina merupakan kanker yang jarang terjadi dan hanya terjadi sekitar
1-2% dari semua kasus keganasan ginekologi. Sekitar 85% berasal dari karsinoma sel
skuamosa dan sisanya diikuti adenokarsinoma, sarkoma, dan melanoma. Dalam
penegakan diagnosis kanker vagina, tumor tidak boleh dianggap sebagai kanker
vagina primer kecuali serviks tidak terlibat atau hanya minimal terlibat oleh tumor
yang jelas timbul di vagina. Sebagian besar kanker vagina merupakan metastasis dari
kanker ginekologik lain, mungkin timbul dari kanker serviks, endometrium, ovarium,
penyakit trofoblas gestasional, kanker kolorektal, kanker urogenital atau vulva.
Perluasan kanker serviks ke vagina kemungkinan merupakan keganasan paling umum
yang melibatkan vagina. HPV, histerektomi dini, dan terapi radiasi sebelumnya
merupakan faktor risiko kanker vagina, namun etiologi yang spesifik belum dapat
diidentifikasi.

Patologi
Karsinoma sel skuamosa dapat bersifat ulseratif maupun eksofitik. Karsinoma
tersebut biasnaya melibatkan dinding posterior 1/3 atas vagina, namun dapat pula
multisentrik. Keterlibatan langsung dari kandung kemih dan rectum mungkin terjadi.
Insidensi metastasis ke nodus limfatikus secara langsung berkaitan dengan ukuran
tumor. Rute metastasis bergantung pada lokasi tumor di vagina. Tumor di bagian
sepertiga bawah vagina bermetastasis seperti kanker vulva, terutama pada kelenjar
getah bening inguinal. Kanker bagian atas vagina, dimana merupakan lokasi yang
paling sering, bermetastasis seperti kanker serviks. Drainase limfatik vagina terdiri
dari kapiler Meshwork pada lapisan mukosa dan submukosa dengan anastomosis
multiple. Akibatnya, lesi di bagian sepertiga medial vagina dapat bermetastasis ke
nodus limfatikus inguinal atau langsung ke kelenjar limfa di dalam pelvis.
Melanoma dan sarcoma vagina bermetastasis seperti kanker epidermoid,
meskipun metastasis ke hati dan paru-paru lebih sering. Nevus jarang terjadi di
vagina; oleh karena itu, lesi berpigmen apapun pada vagina seharusnya dibiopsi.
Permukaan anterior dan bagian bawah vagina merupakan tempat yang paling
sering. Tumor biasanya eksofitik dan digambarkan sebagai polipoid atau
pedunculated dengan nekrosis sekunder.
Sarcoma vagina terjadi pada anak di bawah usia 5 tahun dan pada wanita usia
50-60 tahun. Rabdomiosarkoma embrional menggantikan mukosa vagina perempuan
muda dan terdiri dari massa polipoid, edematosa, dan translusen yang dapat menonjol
dari introitus vagina. Leiomiosarkoma, sarcoma sel reticulum, dan sarcoma yang tak
terklasifikasi terjadi pada wanita yang lebih tua. Dinding anterior vagina bagian atas
merupakan tempat asal yang paling sering. Wujud tumor ini bergantung pada ukuran
dan derajat penyakit pada waktu diagnosis.
Adenokarsinoma clear cells muncul bersama dengan adenosis vagina, yang
mana dalam beberapa tahun terakhir ini terdeteksi paling banyak pada wanita muda
dengan riwayat terpapar dietilstilbestrol (DES) dalam uterus. Adenosis vagina dan
adenokarsinoma dapat terjadi pada wanita usia produktif dan menopause.
Metastasis adenokarsinoma ke vagina dapat muncul dari uretra, kelenjar
Bartholini, rektumatau kandung kemih, rongga endometrium, endoserviks, atau
ovarium; atau dapat juga metastasis dari tempat yang jauh. Hipernefroma ginjal
bermetastasis secara khas ke bagian 1/3 bawah pada dinding anterior vagina. Tumor
ini bukan merupakan tumor primer vagina.

Temuan Klinis
Kanker vagina sering asimptomatik, diketahui dengan pemeriksaan rutin
sitologi vagina, dan dipastikan dengan biopsi setelah digambarkan lokasinya dan
derajat tumor dengan kolposkopi.
Perdarahan vagina pasca menopause dan/atau discharge berdarah merupakan
gejala yang paling sering ditemukan. Sekitar 50% pasien dengan kanker vagina yang
invasif dilaporkan dilakukan pemeriksaan dalam 6 bulan setelah gejala-gejala terlihat.
Lebih jarang, tumor stadium lanjut mungkin menimpa rektum atau kandung kemih
atau menyebar ke dinding pelvis sehingga menyebabkan rasa nyeri dan oedem kaki.
Diagnosis kanker primer vagina tidak dapat ditegakkan kecuali metastasis dari
tempat lain sudah disingkirkan. Riwayat dan pemeriksaan fisik yang lengkap harus
dilakukan, termasuk pemeriksaan pelvis dengan teliti, pemeriksaan sitologi servikal,
biopsi endometrium ketika ada indikasi, inspeksi vagina menyeluruh, termasuk
kolposkopi, dan biopsi tumor vagina. Pemeriksaan palpasi bimanual vagina dengan
hati-hati dapat mendeteksi nodul submukosa yang kecil yang tidak terlihat saat
pemeriksaan.
Sistem staging untuk kanker vagina adalah secara klinis dan bukan dengan
pembedahan.

Tabel 1. Pembagian staging karsinoma vagina oleh FIGO


Diagnosis Banding
Tumor jinak pada vagina cukup jarang, biasanya berbentuk kistik, tumbuh
dari duktus mesonefrik (Wolffian) atau duktus paramesonefrik, dan biasanya
ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan dinding anterolateral vagina (kista
duktus Gartner).
Lesi ulseratif dapat terjadi pada tempat terjadinya trauma langsung, setelah
adanya reaksi inflamasi akibat retensi pessarium atau benda asing lain yang cukup
lama, atau kadang setelah terkena luka bakar kimiawi. Penyakit kelamin
granulomatosa jarang mengenai vagina namun dapat didiagnosis dengan studi
laboratorium yang tepat dan biopsi. Endometriosis yang menembus cavum douglas ke
dalam vagina bagian atas tidak dapat dibedakan dari kanker kecuali dengan biopsi.
Kanker pada uretra, kandung kemih, rectum atau kelenjar bartholin mungkin
dapat menembus atau menyebar hingga ke dalam vagina. Karsinoma cloacogenic
adalah tumor langka di daerah anorektal yang berasal dari membran kloaka pada saat
embrio. Tumor bertanggung jawab atas 2-3% karsinoma anorektal dan terjadi lebih
dua kali lebih sering pada wanita. Meskipun tumor metastatik ini sering menembus ke
dalam vagina sebagai lesi fungasi atau ulserasi, mereka mungkin hadir sebagai massa
submukosa. Pemeriksaan biopsi harus dilakukan untuk menegakkan diagnosis
histologi.

Penanganan
Setelah dilakukan biopsy untuk memastikan penyakit, semua pasien harus
melalui pemeriksaan fisik secara teliti dan evaluasi derajat lokal dan metastasis
penyakit. Evaluasi pre-pengobatan yang termasuk sebagai berikut: x-ray dada,
intravena pyelogram, sistoskopi, prokosigmoidoskopi, dan CT scan pada perut dan
panggul. Pengobatan pasien dengan kanker vagina invasif terdiri dari gabungan terapi
sinar eksternal dan terapi radiasi internal. Pada pasien yang masih berkeluarga
merupakan faktor penting untuk edukasi keluarga, pembedahan harus
dipertimbangkan. Pada pasien dengan lesi stadium I dan IIA, histerektomi radikal
dengan vaginektomi bagian atas dapat dilakukan. Namun tindakan ini rumit
dilakukan karena anatomis vagina dengan rektum, kandung kemih, dan uretra yang
saling berdekatan.
Pada kelompok pasien dengan stadium III atau IV dapat memperoleh manfaat
dari radiasi panggul pra operasi yang dilanjutkan dengan operasi radikal. Sebagian
besar pasien yang diterapi dengan iradiasi, yang terdiri dari iradiasi eksternal pelvis
luas diikuti dengan implan intrakavitas atau interstisial, atau terapi eksternal
tambahan melalui area tindakan yang telah berkurang ukurannya dan dilokalisasi
pada parametrium yang terkena. Dalam beberapa kasus, karsinoma pada introitus
dapat diterapi seperti kanker vulva, dengan menggunakan vulvektomi radikal dan
limfadenektomi inguinalis superfisialis dan dalam. Lesi yang sangat kecil dan stage
awal dapat diterapi dengan vaginektomi total. Namun, jarak kandung kemih dan
rektum yang dekat sering menghalangi operasi konservatif. Iradiasi pada dasarnya
sama dengan yang digunakan untuk kanker pada vagina bagian atas. Bila sepertiga
bagian bawah vagina terlibat, nodus inguinalis harus diobati dengan iradiasi atau
limfadenektomi inguinalis.
Prinsip pengobatan adenokarsinoma primer pada vagina sama dengan kanker
epidermoid. Namun, terapi pilihan untuk karsinoma clear cell pada vagina dan
serviks pada wanita muda masih belum jelas. Sekitar 60% tumor terjadi di bagian atas
vagina, dan sisanya terjadi di serviks. Kejadian metastasis nodal sekitar 18% pada
stadium I dan 30% atau lebih pada penyakit stadium II. Jika penyakit ini ditemukan
lebih awal dan terbatas pada vagina bagian atas dan serviks, radikal histerektomi,
vaginektomi atas, dan limfadenektomi pelvis dengan pelestarian ovarium dapat
dilakukan. Lesi yang lebih lanjut diobati dengan iradiasi.
Sarcoma batryoides, varitas rhabdomyosarcoma, biasa terjadi pada pasien
dengan usia kurang dari 5 tahun. Radioterapi dan eksisi lokal menunjukkan hasil yang
kurang baik; tatalaksana eksenterasi pelvic merupakan terapi standar. Kemoterapi
primer vincristine, actinomycin D, dan cyclophosphamide ditambah radioterapi
menunjukkan hasil yang baik untuk mengobati pasien dengan penyakit ini. Melanoma
pada vagina mungkin dapat diterapi dengan radioterapi, eksisi konservatif, dan atau
pembedahan radikal. Kanker epidermoid yang kembali muncul setelah radiasi primer
dapat dilakukan eksenterasi pelvis. Kemoterapi pada penyakit rekuren relatif tidak
efektif, tetapi multidrug regimen cisplatin mungkin lebih efektif.

Prognosis
Ukuran serta tinkatan staging dari penyakit saat terdiagnosis adalah indikator
paling penting dalam menentukan prognosis pada kanker sel squamous. Survival rate
5 tahun 77% pada pasien dengan stage I, 45% pada pasien dengan stage II, 31% pada
pasien dengan stage III, dan 18% pada pasien dengan dengan stage IV.
Melanoma, tumor yang kecil namun dapat sangat ganas, dan sangat sedikit
respon terapi. Tumor ini dapat kembali di tempat yang sama dan metastasis ke bagian
paru dan hepar. Kemoterapi dan imunoterapi sudah dapat digunakan sebagai terapi
adjuvan.