Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ibnu Taimiyah, sebagaimana yang digambarkan oleh Syafiq A. Mughni,

adalah seorang ulama terkemuka dan disegani pada zamannya hingga saat

sekarang ini.1 Lebih dari itu, ia bahkan dianggap titisan Imam besar Ahmad bin

Hanbal yang mewarisi tingkat intelektualitas Ahmad bin Hambal hingga dijuluki

Ahmad (bin Hanbal) muda.2

Ibnu Taimiyah juga merupakan tokoh pemikir Islam klasik yang reputasi

keilmuannya mampu menembus hingga zaman kontemporer ini. Pemikirannya

dalam berbagai bidang baik Filsafat, Kalam, Hadis, Fiqh maupun Tasawuf masih

menjadi rujukan. Khususnya yang mengatasnamakan dirinya sebagai aliran Salaf.

Termasuk Aliran Wahabiyah di Arab Saudi, Muhammadiyah di Indonesia, bahkan

akhir-akhir ini di Ambon khususnya pasca konflik sosial di Maluku, muncul satu

aliran yang menamakan dirinya aliran Salaf (salafiah). Kelompok ini selalu

menyerang orang-orang yang menggandrungi tasawuf dan filsafat. Mereka

berasumsi bahwa tasawuf adalah ajaran bidah yang tidak pernah diamalkan oleh

para Ulama Salaf termasuk Ibnu Taimiyah. Timbulnya pandangan seperti ini

disebabkan karya-karya otentik Ibnu Taimiyah, khususnya dalam bidang Tasawuf,

1 Muhammad Uwaidah, Abu al-Abbas Taqi ad-Din Ahmad Ibn Taimiyyah Syaikh al-Islam (Beirut;

Daral-Kutub al-Islamiyah, 1992), 5.


2 Syafiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan (Surabaya: LPAM, 2002), .

97.

1
sangat sedikit dibaca dan dipelajari secara teliti.3 Ini juga menjadi titik balik untuk

diteliti, apakah seluruh Ulama Salaf menklaim demikian atau hanya segelintir

kalangan semata. Begitu juga kaitanya dengan berbagai Dayah dan Pesantren,

apakah hanya Pesantren yang mengklaim dirinya Salaf atau juga ada golongan

lain yang sejalan terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah, atau justru terdapat kalangan

ulama Salaf sendiri yang justru rasist dengan pola pemikiran keislaman Ibnu

Taimiyah.

Ibnu Taimiyah memahami banyak bidang keilmuan, salah satu yang paling

terkenal adalah keahliannya dalam menafsirkan Al-Quran dah Hadist. Ibn

Taimiyah dinilai telah membuka jalan bagi lahirnya mufassir klasik Ibn Katsir.

Ibn Taimiyah memperoleh penghargaan dari Muhammad Rasyid Ridha dalam

Tafsir Al-Manar. Bahkan M. Quraish Shihab menyatakan bahwa Ibn Taimiyah

adalah salah seorang ulama yang paling banyak mempengaruhi jalan pikiran

Rasyid Ridha.4 Ini menjadi bukti bahwa kapasitas Ibnu Taimiyah tidak diragukan

lagi dalam menguasai berbagai ilmu keislaman, khususnya dalam

menginterprentasi sumber asli.

Berbekal segala kemampuan yang dimiliki, Ibn Taimiyah berupaya

membangun kembali masyarakat Islam di atas sendi-sendi Islam yang pokok,

yaitu Al-Quran dan Al-Sunah.5 Upaya yang dilakukannya berangkat dari asumsi

dasar bahwa kaum Muslimin generasi pertama maju dengan pesat karena mereka

3 Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama Masalah dan Pemikiran (Cet. I; Jakarta: Sinar Harapan,
1982), 98.
4 H. Masyhud, Pemikiran Ibn Taimiyah Tentang Metode Penafsiran Al-Quran Sebagai Upaya

Pemikiran Pemahaman Terhadap Al-Quran, dalam Jurnal Penelitian AgamaNomor 2, (2008), 2.


5 Qamaruddin Khan, Pemikiran Politik Ibn Taimiyah, Terj. Anas Mahyudin (Bandung: Pustaka,

1983), 315-347.

2
berpegang kepada ajaran Islam dan menghormati Al-Quran. Sebaliknya, kaum

muslimin pada masanya lemah dan kurang dihargai komunitas agama lain karena

mereka telah meninggalkan sumber ajarannya. Ia berkesimpulan bahwa tugas

utama yang harus dijalankannya adalah menyeru umat Islam untuk kembali

kepada Al-Quran dan Al-Sunah, dalam memahaminya menggunakan pemahaman

kaum muslimin generasi pertama untuk menguji madzhab-madzhab dan hasil

pemikiran kaum muslimin dari masa ke masa.6 Hal tersebut mungkin bisa

terwujud apabila intensitas pendidikan dan pemahaman keilmuan lebih

ditingkatkan, terkhusus dalam lembaga-lembaga keislaman seperti dayah,

pesantren, dan berbagai instansi lainnya.

Penyebaran dan pertumbuhan kebudayaan Islam di Indonesia, salah

satunya banyak dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan Islam yang dikenal

dengan Dayah di Aceh, Pesantren di Jawa, dan Surau di Minangkabau. Masing-

masing lembaga keagamaan ini memiliki sosok yang paling berpengaruh yang

mana biasanya disebut Kiyai, Syeikh, Teungku, Romo, dan berbagai istilah lainnya

tergantung dimana posisi lembaga tersebut berada.

Lembaga pendidikan khas Aceh yang disebut dayah merupakan sebuah

lembaga yang pada awalnya memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan

pengkaderan ulama. Kehadirannya sebagai institusi pendidikan Islam di Aceh bisa

6 Muhammad al-Bahy, Alam Pemikiran Islam dan Perkembangannya, Terj. Al-Yasa Abu Bakar

(Jakarta: Bulan Bintang, 1987), 7.

3
diperkirakan hampir bersamaan tuanya dengan Islam di nusantara. Kata dayah

berasal dari bahasa Arab, yakni zawiyah, yang berarti pojok.7

Istilah zawiyah, secara literal bermakna sudut, diyakini oleh masyarakat

Aceh pertama kali digunakan sudut Mesjid Madinah ketika Nabi Muhammad

Saw. berdakwah pada masa Islam. Pada abad pertengahan, kata zawiyah dipahami

sebagai pusat agama dan kehidupan mistik dari penganut tasawuf, kerena itu,

hanya didominasi oleh ulama perantau, yang telah dibawa ketengah-tengah

masyarakat. Kadang-kadang lembaga dibangun menjadi sekolah agama dan pada

saat tertentu zawiyah juga di jadikan sebagai pondok bagi pencari kehidupan

spiritual. Sangat mungkin bahwa disebarkan ajaran Islam di Aceh oleh para

pendakwah tradisional Arab dab Sufi; di samping itu, nama lain dari dayah adalah

rangkang. Perbedaannya, eksistensi dan peran rangkang dalam kancah

pembeajaran lebih kecil dibandingkan dengan dayah.8

Pada awal terbentuknya masyarakat Islam di Aceh sudah dikenal tiga jenis

lembaga pendidikan dasar, yaitu: Rumoh, Meunasah dan Dayah. Selanjutnya

gampong-gampong yang telah membentuk masyarakat Islam, jumlahnya semakin

bertambah. Maka, tiga atau lebih masyarakat gampong yang berdekatan mulai

pula merencanakan untuk mendirikan sebuah mesjid sebagai tempat shalat Jumat,

salah satu shalat wajib khusus bagi laki-laki yang menurut ketentuan hukum Islam

merupakan shalat (sembahyang yang wajib hukumnya). Mesjid tidak saja sebgai

tempat shalat tetapi juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan Islam. Di

7 Muntasir, Dayah Dan Ulama Dalam Masyarakat Aceh, dalam Jurnal Sarwah Nomor 2, (tt), 43.
8 M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah, Pengawal Agama Masyarakat Aceh, (Lhokseumawe: Nadia
pondantion, 2003), 33.

4
sekeliling kampus mesjid, arah samping dan belakang didirikan bangunan-

bangunan kecil yang dikenal dengan nama rangkang tempat tinggal para pemuda

yang sedang belajar di mesjid tersebut (pada waktu sekarang keadaan yang serupa

ini hampir tidak dijumpai lagi). Kajian mereka di sini umumnya telah meningkat

kepada berbagai masalah hukum Islam (fiqh) secara lebih luas dan mendalam

sehingga dapat pula disebutkan, bahwa rangkang merupakan lembaga pendidikan

Islam tingkat menengah yang pernah lahir di Aceh.9

Dayah pada masa perjuangan (masa kolonial Belanda), setiap daerah

(nanggroe) memiliki sekurang-kurangnya mempunyai sebuah dayah, Belanda

kemudian merubahnya menjadi landschap yang jumlahnya 129 buah. Dengan

demikian jumlah dayah diperkirakan berjumlah 129 buah. Dayah pada masa ini

memegang peranan penting dalam pengerahan tenaga pejuang ke medan

pertempuran, terutama dalam mengobarkan semangat melalui pembacaan hikayat

Perang Sabi di dayah-dayah, rangkang, meunasah dan masjid. Bahkan ada dayah

seperti dayah di sekitar Batee Iliek yang langsung menjadi kota pertahanan.10

Ulama dayah merupakan suatu komunitas khusus diantara ulama Aceh,

mereka adalah alumni dari dayah. Oleh karena itu mereka dianggap lebih

terhormat dibandingkan dengan orang yang menuntut ilmu ditempat/lembaga

pendidikan lain seperti lulusan madrasah atau sekolah. Orang-orang yang belajar

9 Zakaria Akmad dkk, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh (Jakarta: DEPDIKBUD, 1984),
13-14.
10 Marzuki, Sejarah dan Perubahan Pesantren di Aceh, dalam Jurnal Studi Agama Millah, No.

1,(2011), 225-226.

5
selain dari dayah dan mampu menguasai ilmu agama secara mendalam disebut

sebagai ulama modern walaupun perbedaannya tidak begitu jelas.11

Setiap dayah yang didalamnya terdapat ulama yang secara spesifik

diistilahkan dengan Teungku. Teungku berperan sebagai pusat pertumbuhan dan

pengetahuan Islam yang mana dayahnya menjadi tempat komunikasi sosial.12

Istilah teungku sendiri yang ditujukan sebagai sosok nomor satu dalam

sebuah dayah sudah melekat sejak zaman kerajaan Aceh dimana raja juga

berperan penuh dalam memberi dukungan untuk memunuhi pendidikan rakyatnya,

adapun beberapa kerajaan itu seperti Kerajaan Peureulak, Tamiang, (Aceh Timur);

Samudra Pasei (Aceh Utara), Lingga (Aceh Tengah), Kerajaan Pidie (Aceh Pidie),

Kerajaan Lamuri/Aceh (Aceh Besar) dan Kerajaan Daya (Lamno, pantai Barat). 13

Teungku bukan hanya sebagai pemimpin dayah semata, dalam beberapa

kondisi ia juga bisa berperan sebagai penasehat raja, ratu atau sultan. Bahkan

antara teungku dayah sebagai ulama, dan sultan sebagai pemimpin politik saling

bersinergi dalam menjalankan pemerintaan, ketika pemimpin politik mengalami

krisis mereka (teungku dayah) tampil keruang politik menggantikan peran yang

terakhir dalam mempertahankan kerajaan.14

11M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah: Peranan Responnya Terhadap Pembaharuan Hukum Islam,
Dalam Dodi S.Truna Dan Ismatu Ropi (ed) Pranata Islam Di Indonesia, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,
2002), 119.
12 Hasbi Amiruddin, Menatap Masa Depan Dayah di Aceh (Yogyakarta: Polydoor, 2009), 104.
13 A. Hasjmy, Pendidikan Islam di Aceh dalam Perjalanan Sejarah (Darussalam: Sinar, no. 1975),

8-9.
14 Nirzalin, Krisis Agensi Politik Teungku Dayah di Aceh, Disertasi (Yogyakarta: FISIPOL

UGM, 2011), 13.

6
Teungku yang dimaksudkan dalam beberapa sumber diataslah yang

menjadi salah satu fokus penulis dalam memberikan sumbangsi penilaiannya

terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah. Baik itu dalam konteks tauhid, fiqh, tasawuf,

penafsiran dan tema-tema terkait.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang diangkat dan

diteliti oleh penulis diantaranya:

1. Bagaimanakah corak pemikiran Ibnu Taimiyah menurut perspektif

Teungku Dayah Mesjid Raya, Samalanga?

2. Bagaimanakah kontribusi dan pengaruh Ibnu Taimiyah terhadap Dayah

Mesjid Raya, Samalanga?

C. Tujuan Penelitian

Ada beberapa tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan Skripsi ini sesuai

dengan pembatasan dan perumusan masalah, yaitu:

1. Untuk mengetahui corak pemikiran Ibnu Taimiyah menurut Perspektif

Teungku Dayah Mesjid Raya, Samalanga?

2. Untuk mengetahui kontribusi dan pengaruh Ibnu Taimiyah terhadap

Dayah Mesjid Raya, Samalanga?

7
D. Kajian Pustaka

Berkaitan dengan permasalahan yang diangkat, tentang Ibnu Taimiyah

telah ditemukan beberapa karya yang berkaitan dengan tema diatas, adapun karya-

karya itu adalah :

Pendidikan Tauhid dalam Perspektif Ibnu Taimiyah dalam Skripsi

Muhammad Taufiqur Rahman (STAIN Ponorogo, 2015), yang secara sistematis

mendeskripsikan dengan sangat baik bagaimana Ibnu Taimiyah merupakan salah

satu tokoh pencinta ilmu, terkhusus ilmu Tauhid dan keislaman lainnya. Ibnu

Taimiyah dalam karya ini juga menjelaskan tentang berbagai macam tauhid dan

metodenya dengan spesifik dan terperinci.

Skripsi dengan Judul Peran Ibnu Taimiyah dalam Pemurnian Aqidah

Islamiyah yang ditulis oleh Frengki Swito, yang didalamnya membahas tentang

bagaimana peran dan pengaruh pemikiran Ibnu Taimiyah terhadap berbagai aliran

keislaman di Indonesia seperti Gerakan Muhammadiyah, Gerakan al-Irsyad, dan

Gerakan Persatuan Islam (PERSIS).

Jurnal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Ambon mengenai Pandangan

Tasawuf Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Tuhfah Al-Iraqiyyah Fi Al-Amal Al-

Qalbiyyah oleh Duriana memberikan banyak wawasan bagi para pembaca tentang

corak pemikiran Tasawuf Ibnu Taimiyah yang berupaya mengembalikan citra

sufisme untuk tetap berada pada ketentuan Al-Quran dan Sunnah.

8
Dari beberapa karya diatas dan beberapa temuan karya lainnya, sejauh ini

tidak ditemukan pembahasan secara khusus tentang pandangan Teungku Dayah

terhadap pemikiran Ibnu Taimiyah sehingga pembahasan ini layak untuk diangkat

dan diteliti. Dari sini penulis tertarik untuk melakukan penelitian dan pembahasan

tentang Ibnu Taimiyah dalam pandangan Teungku Dayah (Studi kasus di Dayah

Mesjid Raya, Desa Kampong Putoh, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen).

E. Kerangka Teori

Salah satu alasan yang menjadikan Ibnu Taimiyah sebagai sosok yang

kontroversi adalah sikap tegasnya dalam mengklaim segelintir oknum tasawuf,

ilmu kalam, filsafat yang keluar dari jalur nash sebagai orang yang sesat. Hal itu

menjadikannya sebagai pemikir yang ditentang oleh beberapa kalangan termasuk

oknum yang berorientasi dalam dunia tasawuf.

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa diantara kesesatan para filosof, sufi,

dan mutakallimin yaitu mereka lebih mendahulukan penelitian, bukti-bukti dan

ilmu dari pada naqli dengan mengatakan bahwa penelitian itu wajib karena ia

pasti mendatangkan pengetahuan yang benar.15

Ibnu Taimiyah sebenarnya tidak menolak peggunaan akal dalam masalah

akidah, hanya saja posisi akal harus mengikuti nash atau posisi akal di bawah

nash. Karena itu mudah dipahami kalau ia tidak sependapat dengan penggunaan

15 Syekh Said Abdul Azhim, Ibn Taimiyah: Pembaruan Salafi dan Dawah Reformasi,

diterjemahkan oleh Faisal Saleh (Cet.I; Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 2005), 37.

9
takwil dalam masalah-masalah akidah. Ibnu Taimiyah sangat menyayangkan, jika

melihat orang yang mengikuti seseorang hanya karena ketenaran dan

kedudukannya, tanpa mengetahui dalil dan landasan kebenaran di dalamnya.16

Selain tentang perkara tauhid dan tasawuf diatas, pemikiran Ibnu Taimiyah

yang menjadikannya sorotan adalah tentang kepemimpinan non-muslim dalam

Islam. Dimana dalam kasus ini, Ibnu Taimiyah setuju dengan golongan yang

membolehkan umat Islam dipimpin oleh pemimpin kafir. Pendapatnya yang

paling terkenal dan kontroversial adalah lebih baik dipimpin oleh pemimpin kafir

yang adil, daripada dipimpin oleh pemimpin muslim yang dzalim.17

Jadi sudah tak asing lagi, dalam wacana pemikiran Islam, Ibnu Taimiyah

oleh beberapa kalangan ditempatkan sebagai tokoh yang menentang tasawuf,

berfikir kontroversi, bahkan ia dituduh sebagai inspirator bagi aliran wahabi

dalam memeberantas berbagai pemikiran keislaman yang dianggapnya sudah jauh

dari sumber asli. Oleh sebab itu, perlu kiranya dilakukan pengkajian mendalam

pemikiran Ibnu Taimiyah, khususnya dalam pandangan teungku dayah, yang pada

tulisan ini difokuskan dalam ruang lingkup Dayah Mesjid Raya, Samalanga.

16 Duriana , Pandangan Tasawuf Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Tuhfah Al-Iraqiyyah Fi Al-Amal

dalam Jurnal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Ambon Nomor 2 (2014), 6.


17 Abu Tholib Khalik, Pemimpin Non-Muslim dalam Perspektif Ibnu Taimiyah, dalam Jurnal

Studi Keislaman no 1, (2014), 1.

10
F. Metode Penelitian

Metode adalah cara atau jalan sehubungan upaya ilmiah, maka metode

merupakan cara kerja untuk memahami objek penelitian. Sehingga metode

merupakan salah satu faktor yang terpenting dan menentukan dalam penelitian.

Hal ini disebabkan berhasil atau tidaknya penelitian akan banyak ditentukan oleh

tepat atau tidaknya penelitian dan penentuan metode yang digunakan. Oleh karena

itu untuk memenuhi harapan tersebut, maka perlu adanya langkah-langkah yang

harus ditempuh dalam penelitian, adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai

berikut :

1. Jenis Penelitian

Adapun dalam penelitian ini, menggunakan salah satu jenis penelitian

deskriptif yaitu studi kasus (case study). Studi kasus merupakan suatu tipe

pendekatan dalam penelitian yang penelaahannya kepada satu kasus yang

dilakukan secara intensif, mendalam, mendetail dan komprehensif.18 Dalam hal

ini subyek penelitian dapat saja individu, kelompok, lembaga, maupun

masyarakat. Tujuan studi kasus yaitu untuk memberikan gambaran secara

mendetail tentang latar belakang, sifat-sifat serta karakter-karakter yang khas dari

kasus ataupun status dari individu, yang kemudian akan dijadikan suatu hal yang

bersifat umum.

18 Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial : Dasar-dasar dan Aplikasi (Jakarta :


CV. Rajawali, 1992), 22.

11
2. Fokus Penelitian (Research Focus)

Fokus penelitian adalah apa-apa yang akan diteliti dalam sebuah kegiatan

penelitian untuk menghindari permasalahan yang terlalu luas, maka dalam sebuah

penelitian harus ada fokus yang dijadikan kajian dalam penelitian. Karena

permasalahan yang ada biasanya sangat komplek dan tidak mungkin diteliti secara

serempak dari semua segi secara serentak. Seringkali permasalahan melibatkan

begitu banyak variabel dan faktor, sehingga berada diluar jangkauan kemampuan

seorang peneliti. Selain itu, suatu penelitian yang menyangkut permasalahan yang

terlalu luas tidak akan dapat memberikan kesimpulan yang bermakna dalam.19

Adapun yang dijadikan fokus dalam penelitian ini adalah; Ibnu Taimiyah dalam

pandangan Teungku Dayah.

3. Subyek Penelitian (Research Subyek)

Subyek penelitian adalah individu-individu atau kelompok yang dijadikan

unit atau satuan (kasus) yang berkaitan dengan penelitian.20 Dalam makna yang

lain subyek penelitian adalah sumber utama data penelitian, yaitu yang memiliki

data mengenai variabel-variabel yang diteliti.21 Sumber data menurut Suharsimi

Ari Kunto dapat dibagi menjadi tiga (3P), yaitu; person, paper dan place. Person

berarti orang, dalam hal ini bisa pengasuh atau pimpinan, para pengurus dayah,

Paper berarti kertas, hasil wawancara, manuskrip, foto, dokumen, karya tulis,

19 Saifudin Azwar, Metodologi Penelitian, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997), 12.


20 Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, 109.
21 Saifudin Azwar, Metodologi Penelitian, 34.

12
biodata atau yang lainnya. Place berarti tempat, ruang atau kejadian yang

berlangsung di suatu tempat.22

Berangkat dari tiga komponen tersebut, maka dalam penelitian ini yang

dijadikan sumber data penelitian adalah :

a. Kyai/Pengasuh/Pimpinan Dayah, yang terdiri dari Pimpinan Umum,

Wakil Pimpinan I dan Wakil Pimpinan II.

b. Ustadz/Pengurus Dayah, yang terdiri dari ketua dan wakil ketua.

c. Santri dan santriwati yang mengikuti proses belajar-mengajar di Dayah.

d. Sumber-sumber tertulis yang berupa arsip, karya tulis, buku, suratsurat

resmi atau non-resmi yang berkaitan dengan Dayah Mesjid Raya,

Samalanga.

e. Sedangkan objek yang menjadi sasaran dalam penelitian ini adalah Dayah

Mesjid Raya, Samalanga.

4. Metode Pengumpulan Data

Data adalah semua kenyataan (fakta) yang dapat dijumpai oleh peneliti di

lapangan dan direkam sebagai fokus atau subyek yang diteliti.23 oleh sebab itu

ketetapan menggunakan metode dalam pengumpulan data adalah sangat penting

dan metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif karena

metode ini sesuai dengan masalah yang sedang diteliti.


22 Suharsimi Ari Kunto, Prosedur Penelitian (Yogyakarta: Rineka Cipta, 1996), 144.
23 Abdul Wahib, Pengumpulan dan Analisis Data, Makalah Disampaikan Pada Pelatihan
Metodologi Penelitian Agama Dan Sosial IAIN Walisongo Semarang, 1999, hlm. 2.

13
Adapun untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian ini,

maka metode yang digunakan adalah sebagai berikut :

a. Metode Interview atau Wawancara

Metode wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan

penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau

pewawancara dengan si penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang

dinamakan interview guide (panduan wawancara).24

Dalam hal ini digunakan model wawancara bebas terpimpin, yang mana

orang yang diwawancarai dapat memberikan jawaban dalam situasi bebas dan

peneliti mengendalikan arah dari wawancara.25 Metode ini digunakan untuk

memperoleh data-data dari: Pimpinan Umum, Wakil Pimpinan I dan Wakil

Pimpinan II Dayah, Ketua dan Wakil Ketua Ustadz/Pengurus Dayah, Kepala

Desa, santri dan santriwati dan perwakilan masyarakat setempat.

b. Metode Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan dengan sistematis fenomena-

fenomena yang diselidiki.26 Adapun alat pengumpulan datanya disebut panduan

observasi, yang digunakan untuk mendapatkan data hasil pengamatan baik

terhadap benda, keadaan, kondisi, situasi, kegiatan, proses, atau penampilan

tingkah laku seseorang.

24 Moh. Nazir, Metode Penelitian (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1999), 234.


25 Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Pengantar) (Yogyakarta: Andi Offset, Ed. Revisi, 2002),
35.
26 Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta : Yayasan Fak. Psikologi UGM, 1993), 136.

14
Dalam pengumpulan data ini menggunakan teknik non partisipan artinya

peneliti tidak terlibat secara langsung dalam setiap kegiatan kegiatan yang

dilaksanakan oleh dayah, hanya untuk kegiatan-kegiatan tertentu peneliti

mengamati dari dekat. Metode ini digunakan untuk mengamati fasilitas atau

sarana, serta mengamati perspektif teungku dayah terhadap pemikiran Ibnu

Taimiyah. Juga didukung oleh data-data pustaka yang terkait dengan figur dan

sosok serta pemikiran Ibnu Taimiyah.

c. Metode Dokumentasi

Metode dokumentasi, yakni mencari data mengenai variabel yang berupa

catatan, transkip, buku-buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen rapat, legger,

agenda dan sebagainya.27 Metode dukumentasi ini digunakan untuk mendapatkan

data-data berupa tulisan-tulisan yang berhubungan dengan objek penelitian yang

akan dibahas dalam penelitian ini, serta digunakan sebagai metode penguat dari

hasil metode interview dan observasi.

Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang struktur

organisasi, jadwal kegiatan pesantren, letak geografis, grafik strategi dan

dokumentasi lainnya yang berkaitan dengan penelitian.

5. Metode Analisis Data

Setelah data terkumpul, selanjutnya menganalisa data, metode yang

digunakan dalam menganalisa data adalah metode deskriptif kualitatif. Dimana

27 Suharsimi Ari Kunta, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta,
2002), 135.

15
data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan langkah-langkah sebagai

berikut:

a. Menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber.

b. Mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan jala abstraksi, yaitu

usaha membuat rangkuman inti, proses, pernyataan-pernyataan yang perlu.

c. Menyusun data dalam satuan-satuan/mengorganisasi pokok-pokok fikiran

tersebut dengan cakupan fokus penelitian dan menyajikannya secara

deskriptif.

d. Mengadakan pemeriksaan keabsahan data/memberi makna pada hasil

penelitian dengan cara menghubungkannya dengan teori.

e. Mengambil kesimpulan.28

Sehingga metode ini dilaksanakan apabila data sudah terkumpul, lalu

disusun, dilaporkan apa adanya, diinterpretasikan atau dijelaskan seperlunya dan

akhirnya disimpulkan secara logis.

Adapun alasan peneliti menggunakan metode analisa data sebagaimana

tersebut diatas adalah karena metode itu lebih sesuai mengingat kebanyakan data

yang terkumpul dan dianalisa bersifat kualitatif.

Dalam pendekatannya, penelitian ini menggunakan pendekatan Induktif,

yakni: pendekatan berfikir yang berangkat dari fakta-fakta yang khusus, peristiwa-

28 Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1993),
190.

16
peristiwa yang konkret, kemudian dari fakta-fakta atau peristiwa-peristiwa yang

khusus konkrit itu ditarik generalisasi-generalisasi yang mempunyai sifat umum.29

Pendekatan ini penulis gunakan untuk mengambil kesimpulan yang

bersifat umum dari data-data yang bersifat khusus, dengan dibantu pendapat para

ahli dan penjelasan dari literatur. Penulisan proposal Skripsi ini berpedoman

kepada buku panduan penulisan Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry

Darussalam Banda Aceh.30

29 Sutrisno Hadi, Metodologi Research I, (Yogyakarta : Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi

Universitas Gadjah Mada, 1983), hlm. 42.


30 Syamsul Rijal, dkk, Panduan Penulisan Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-Raniry (Banda

Aceh: Ushuluddin Publishing, 2013), 6-10.

17
DAFTAR PUSTAKA

A. Hasjmy, Pendidikan Islam di Aceh dalam Perjalanan Sejarah. Darussalam:

Sinar, 1975.

Abdul Wahib, Pengumpulan dan Analisis Data. Makalah Disampaikan Pada

Pelatihan Metodologi Penelitian Agama Dan Sosial IAIN Walisongo,

Semarang, 1999.

Abu Tholib Khalik, Pemimpin Non-Muslim dalam Perspektif Ibnu Taimiyah,

dalam Jurnal Studi Keislaman. Nomor 1, (2014): 1.

Bimo Walgito, Psikologi Sosial (Suatu Penganta). Yogyakarta: Andi Offset, Ed.

Revisi, 2002.

Duriana, Pandangan Tasawuf Ibnu Taimiyah dalam Kitab Al-Tuhfah Al-

Iraqiyyah Fi Al-Amal, dalam Jurnal Fakultas Ushuluddin dan Dakwah

Ambon. Nomor 2, (2013): 6.

H. Masyhud, Pemikiran Ibn Taimiyah Tentang Metode Penafsiran Al-Quran

Sebagai Upaya Pemikiran Pemahaman Terhadap Al-Quran, dalam

Jurnal Penelitian Agama. Nomor 2, (2008): 2.

Hasbi Amiruddin, Menatap Masa Depan Dayah di Aceh. Yogyakarta: Polydoor,

2009.

Khan, Qamaruddin. Pemikiran Politik Ibn Taimiyah. Diterjemahkan Oleh Anas

Mahyudin. Bandung: Pustaka, 1983.

18
Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja

Rosdakarya, 1993.

M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah: Peranan Responnya Terhadap Pembaharuan

Hukum Islam, Dalam Dodi S.Truna Dan Ismatu Ropi (ed) Pranata Islam

Di Indonesia. Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 2002.

M. Hasbi Amiruddin, Ulama Dayah, Pengawal Agama Masyarakat Aceh.

Lhokseumawe: Nadia pondantion, 2003.

Marzuki, Sejarah dan Perubahan Pesantren di Aceh, dalam Jurnal Studi Agama

Millah. Nomor. 1,(2011): 225-226.

Moh. Nazir, Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999.

Muhammad al-Bahy, Alam Pemikiran Islam dan Perkembangannya,

Diterjemahkan oleh Al-Yasa Abu Bakar. Jakarta: Bulan Bintang, 1987.

Muhammad Uwaidah, Abu al-Abbas Taqi ad-Din Ahmad Ibn Taimiyyah Syaikh

al-Islam. Beirut; Daral-Kutub al-Islamiyah, 1992.

Mulyanto Sumardi, Penelitian Agama Masalah dan Pemikiran. Jakarta: Sinar

Harapan, 1982.

Muntasir, Dayah Dan Ulama Dalam Masyarakat Aceh, Dalam, Jurnal Sarwah.

Nomor II, (tt): 43.

Nirzalin. Krisis Agensi Politik Teungku Dayah di Aceh, Disertasi, FISIPOL

Yogyakarta, 2007.

19
Saifudin Azwar, Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.

Sanapiah Faisal, Format-format Penelitian Sosial, Dasar-dasar dan

Aplikasi. Jakarta : CV. Rajawali, 1992.

Suharsimi Ari Kunta, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta, 2002.

, Prosedur Penelitian. (Yogyakarta: Rineka Cipta, 1996).

Sutrisno Hadi, Metodologi Research I. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas

Psikologi Universitas Gadjah Mada, 1983.

, Metodologi Research II. Yogyakarta: Yayasan Fak. Psikologi

UGM, 1993.

Syafiq A. Mughni, Dinamika Intelektual Islam Pada Abad Kegelapan. Surabaya:

LPAM, 2002.

Syamsul Rijal, dkk, Panduan Penulisan Skripsi Fakultas Ushuluddin IAIN Ar-

Raniry. Banda Aceh: Ushuluddin Publishing, 2013.

Syekh Said Abdul Azhim, Ibn Taimiyah: Pembaruan Salafi dan Dawah

Reformasi. Diterjemahkan oleh Faisal Saleh. Jakarta: Pustaka al-Kautsar,

2005.

Zakaria Akmad dkk, Sejarah Pendidikan Daerah Istimewa Aceh. (Jakarta:

DEPDIKBUD, 1984.

20