Anda di halaman 1dari 7

SEBUAH REVOLUSI DALAM PEMIKIRAN AKUNTANSI?

Meskipun dekade 1960 dideskripsikan oleh Carl Nelson sebagai sebuah masa keemasan
dalam sejarah penelitian akuntansi (Nelson, 1973), beberapa karya yang dikutip sebagai contoh dari
penelitian tersebut juga sangat dikritik. Nelson menyatakan bahwa, meskipun penelitian tersebut
impresif seperti beasiswa, tetapi kita tidak mengalami kemajuan yang besar dari keadaan kita di
tahun 1960. Ia juga dilaporkan memiliki ketidaksukaan dan meragukan nilai-nilai dari beberapa studi
akuntansi saat ini. Dalam hal yang sama, Gonedes dan Dopuch menyatakan bahwa beberapa studi
tersebut secara teoritis menyimpang dan dapat dikatakan bahwa untuk menyatakan bahwa suatu
prosedur akuntansi lebih superior dari prosedur lainnya, dapat dilihat dari model apa yang
digunakan (Gonedes dan Dopuch, 1974).

Hal ini akan diperdebatkan disini bahwa kritik-kritik tersebut berdasarkan pada
kesalahpahaman dari peranan sesuatu yang disebut penelitian priori dalam menyingkirkan ide-ide
dan praktik-praktik yang sudah ketinggalan jaman. Jauh dari menjadi hal yang tidak produktif,
penelitian-penelitian tersebut merupakan langkah yang diperlukan dalam revolusi yang saat ini
sedang berjalan di dalam pemikiran akuntansi. Jauh dari suatu pemikian yang diragukan nilai-
nilainya, penelitian-penelitian tersebut membantu menempatkan kita di dalam posisi yang secara
signifikan berbeda dibandingkan dengan tahun 1960. Apakah penelitian tersebut memang
menyimpang tidaklah relevan dalam konteks ini, dan kritik yang dilontarkan Gonedes dan Dopuch
merupakan karakteristik yang wajar dan sehat dari penelitian teoritis tersebut.

REVOLUSI ILMIAH

Gagasan akan sebuah revolusi di dalam akuntansi berasal dari karya Kuhn yang berjudul The
Structure of Scientific Revolutions (1970). Thesisnya menyatakan bahwa ilmu pengetahuan tidak
berjalan dari akumulasi. Namun sebaliknya, serangkaian revolusi yang memecahkan tradisi muncul
ketika suatu teori ilmiah yang dulunya sangat dihormati akan ditolak oleh teori ilmiah lain yang tidak
sesuai dengan teori tersebut (Kuhn, 1970). Teori atau ide-ide baru bersifat unik karena tidak
diturunkan dari dogma yang sebelumnya diterima. Teori baru tersebut tidak hanya sekedar
perbaikan dari teori lama dan dalam proses berpindah dari teori lama ke teori baru, komunitas
ilmuwan melakukan tahap-tahap sebagai berikut:

1. Pengakuan terhadap anomali


2. Suatu periode ketidakamanan
3. Pengembangan serangkaian ide baru
4. Identifikasi sekelompok pemikiran
5. Dominasi dari praktik atau ide baru

Tahap pertama merupakan pendahulu dari keseluruhan proses, tahap pertama tersebut
mengawali suatu periode krisis yang akan terjadi selanjutnya. Selama periode tersebut, ilmuwan
menjadi semakin tidak puas dengan kerangka kerja teoritis yang ada saat ini, dan mulai mencari
alternatifnya. Oleh karena itu tahap kedua dan ketiga akan saling berinteraksi. Seiring
meningkatnya rasa tidak puas, pencarian alternatif-alternatif lain semakin mendapatkan dorongan.
Kemudian kelompok pemikiran muncul, maka satu ide atau praktik baru akan tampak menonjol dan
dominan dibandingkan ide-ide lainnya.

Karena tahapan ini melibatkan perubahan fundamental di dalam pandangan dan praktik di
dalam komunitas sarjana, Kuhn menerapkan metafora politik dari revolusi ke dalam prosesnya. Ia
berpendapat bahwa perubahan hanya akan terjadi ketika terdapat kegagalan fungsi yang
menunjukkan bahwa institusi atau praktik yang ada saat ini tidak lagi dapat mengatasi permasalahan
yang dihadapi oleh institusi atau praktik tersebut. Seperti halnya revolusi politik yang berusaha
merubah institusi politik menjadi sesuatu institusi yang berbeda, begitu juga dengan revolusi ilmiah
yang berusaha merubah ide atau praktik yang tidak sesuai lagi. Perubahan fundamental seperti itu
tidak dapat terjadi di dalam institusi atau kerangka kerja konseptual eksisting. Pihak yang
menentang tidak akan cocok dengan pihak incumbent.

Suatu proses atau revolusi tidak dapat diselesaikan dengan cepat. Asimilasi suatu ide baru
tidak akan lengkap sampai teori yang telah diterima sebelumnya dapat direkonstruksi dan dievaluasi.
Hal ini merupakan proses revolusi intrinsik yang jarang diselesaikan dalam waktu singkat (Kuhn
1970).

Kuhn mempertimbangkan kemungkinan thesisnya untuk diterapkan pada bidang ilmu


pengetahuan lainnya meskipun terdapat beberapa perbedaan yang jelas. Meskipun demikian,
seperti halnya teori ilmiah dapat menjelaskan dan menetapkan suatu fenomena fisik, teori akuntansi
juga dapat menjelaskan dan menetapkan suatu fenomena keuangan. Lebih jauh lagi, apabila pola
kejadian di dalam akuntansi dapat dipandang mengikuti pola revolusi yang dijelaskan oleh Kuhn,
maka kita akan dapat menjelaskan alasan pentingnya masa keemasan penelitian yang disebutkan
diatas. Dengan melakukan hal tersebut, kita juga akan dapat menjawab kritik terhadap penelitian
yang dilakukan pada masa keemasan tersebut.

THE ACCOUNTING DISCLIPINARY MATRIX

Teknik dasar yang digunakan untuk menyimpan catatan akuntansi dapat ditelusuri sampai
dengan lebih dari 500 tahun yang lalu, namun informasi yang disimpan secara konvensional pada
catatan-catatan tersebut sebagian besar merupakan produk dari abad ini. Hanya dalam waktu 75
tahun doktrin biaya historis mengkristal dan mendominasi literatur dan praktik akuntansi. Selama
tahun 1930 dan 1940, terdapat beberapa percobaan untuk memformalkan kerangka kerja yang
mendasari aturan-aturan pencatatan dan pelaporan keuangan. Karya dari Gilman (1939), Sanders,
Hatfield dan Moore (1938), Paton dan Littleton (1940) dan lainnya mencoba untuk merasionalisasi
praktik-praktik eksisting dan menentukan kerangka kerja didalamnya dimana ide-ide dan prosedur-
prosedur asal dapat dievaluasi.

Kerangka kerja ide-ide yang muncul pada periode ini memiliki karakteristik paradigma. Akan
tetapi, perhatikan bahwa Kuhn menggunakan istilah paradigma dalam beberapa cara. Hal ini yang
menyebabkan kebingungan sehingga akan digunakan istilah pengganti. Untuk serangkaian ide
umum yang mengikat suatu komunitas ilmuwan, Kuhn menggunakan istilah disclipinary matrix.
Terdapat beberapa fitur yang membedakan sebuah disciplinary matrix (disclipinary karena merujuk
pada kepemilikan umum oleh anggota dari sebuah disiplin ilmu tertentu; matrix karena terdiri dari
berbagai elemen yang tersusun dengan teratur dan perlu dirinci lebih lanjut).
Fitur-fitur tersebut adalah sbb:

1. Generalisasi simbolik, representasi simbolik umum dari suatu disiplin ilmu yang telah
dipahami dan diterima.
2. Komitmen bersama, suatu keyakinan yang menentukan hal apa yang akan diterima sebagai
suatu solusi.
3. Nilai-nilai, berbagai kualitas yang diharapkan anggota komunitas dari pekerjaan yang
dilakukan oleh kolega mereka.
4. Contoh masalah yang tampak solusi, merupakan hal yang akan dihadapi siswa ketika
masuk ke dalam komunitas dan menunjukkan contoh bagaimana siswa dapat menyelesaikan
masalah tersebut.

Sesuai dengan deskripsi tersebut, disclipinary matrix dari akuntan yang muncul pada tahun
1940 dapat dideskripsikan sbb:

1. Generalisasi simbolik termasuk di dalamnya gagasan dan formulasi yang dapat diterima
seperti perhitungan double-entry, penyajian pendapatan, klasifikasi aset lancar/aset tetap
dan perhitungan modal kerja, rate of return, dan rasio hutang/ekuitas.
2. Komitmen bersama, termasuk di dalamnya realization and matching principles gagasan
going concern dan penilaian aset berbasis biaya.
3. Nilai-nilai, termasuk di dalamnya konservatisme, konsistensi, materialitas, dll.
4. Dan terakhir berupa contoh yang dapat dilihat pada buku teks dan eksposisi dari periode
tersebut.

Setelah seorang siswa dapat menyerap elemen-elemen di dalam disclipinary matrix, siswa
tersebut memandang semua situasi masalah dalam cara yang sama dengan anggota lain di dalam
kelompoknya. Penulis dan peneliti memiliki standar praktik yang umum, dan masalah juga memiliki
solusi yang umum. Sehingga kita memiliki kesamaan dalam pelatihan dan pandangan yang
membantu mengikat komunitas kelompok terpelajar.
Akan tetapi, keberadaan disclipinary matrix tidak menyiratkan bahwa tidak terdapat
serangkaian aturan yang kaku dan tidak bisa dilanggar. Akan tetapi, karena anggota komunitas telah
dilatih dalam problem-solution, mereka tidak memerlukan seluruh aturan yang ada. Akuntansi
berada pada posisi seperti ini sebelum tahun 1930. Penulis hanya menuliskan prinsip-prinsip umum.
Hanya setelah krritik yang pada tahun 1920 dan awal 1930, dilakukan suatu upaya untuk
memformalkan kerangka kerja ide-ide akuntansi dan dibentuk suatu badan untuk menjalankan
fungsi tersebut.

ANOMALI DAN KETIDAKAMANAN PROFESIONAL

Penemuan baru berkembang seiring dengan kesadaran akan terjadinya anomali, dengan
mengenali bahwa alam telah melanggar ekspektasi yang dikembangkan dari paradigma yang
mengatur praktik-praktik konvensional (Kuhn, 1970).

Kritik terhadap praktik akuntansi konvensional telah berlangsung cukup lama dan solusi
terhadap masalah yang diajukan terdapat dalam kerangka kerja konvensional. Contoh yang luar
biasa sebelum periode disclipinari matrix biaya historis mengemuka adalah oleh Paton (1922),
Sweeney (1936) dan MacNeal (1939). Akan tetapi kritik yang mereka lontarkan hanya memiliki
dampak yang kecil pada model biaya histori yang akan muncul kemudian. Pengakuan tidak diberikan
pada literatur akuntansi atas besarnya jumlah anomali yang menentang resolusi dan menyebabkan
profesi akuntansi memiliki nama yang buruk sampai dengan tahun 1960-an dan awal 1970-an.
Selama periode ini, kecacatan fundamental di dalam model biaya historis telah berkali-kali
diidentifikasi dan dikritik oleh ilmuwan, pebisnis dan pengadilan. Kritik tersebut mencapai
puncaknya dengan dipubilkasikannya karya Briloff dengan judul Unaccountable Accounting (1972)
dan karya Chamber dengan judul Securities and Obscurities (1973).

Reaksi dari para ahli teori terhadap bukti-bukti yang ditunjukkan kepada mereka sesuai
dengan yang sebelumnya diprediksikan oleh Kuhn, yaitu ketika mereka mengalami periode
ketidakamanan profesi dimana akuntansi menjadi subjek pemeriksaan yang teliti dan sesekali
mengalami perubahan atau amandemen.

Selama tahun 1960-an dan 1970-an, Accounting Principles Board di Amerika Serikat dan
komite-komite lain yang setara di berbagai negara mengajukan amandemen terhadap peraturan
akuntansi untuk mengatasi anomali dan kritik yang ada. Berbagai penyataan, karangan ilmiah dan
artikel jurnal yang menyoroti masalah seperti pembelian versus pooling, akuntansi ekuitas,
akuntansi dampak pajak dan materialitas segera bermunculan. Bahkan terdapat upaya untuk
meningkatkan solidaritas didalam profesi.

Solusi ad hoc yang muncul dalam periode krisis memiliki konsekuensi yang lebih besar; solusi
tersebut memungkinkan untuk merenungkan kembali suatu peraturan dimana hal tersebut
sebelumnya tidak dapat dilakukan. Sehingga dengan menyebarkan berbagai versi dari disclipinary
matrix, krisis yang terjadi dapat melonggarkan aturan tentang puzzle-solving yang pada akhirnya
memungkinkan munculnya disclipinary matrix yang baru (Kuhn, 1970). Sebagai contoh, debat
tentang pembelian versus pooling memicu diskusi nilai aset mana yang bukan merupakan biaya
original; akuntansi ekuitas terlibat di dalam menilai kembali investasi di perusahaan yang terkait;
akuntansi dampak pajak memperluas penerimaan debet dan kredit berbasis nontransaksi. Apabila
akuntansi mengikuti urutan revolusi, penerimaan teknik yang diadopsi sebagai respon atas berbagai
masalah ini akan mempercepat penerimaan dari sebuah alternatif disclipinary matrix.

Akan tetapi, terdapat satu jenis anomali yang terbukti sulit untuk dilakukan perubahan.
Sistem berbasis biaya historis gagal untuk menilai perubahan harga aset dan perubahan di
dalamdaya beli dari sistem moneter. Kegagalan tersebut menjadi sumber kritikan, khususnya pada
periode inflasi. Merupakan hal yang ganjil meskipun terdapat nilai going concern di dalam laporan
keuangan, namun laporan tersebut tidak lagi menyajikan keadaan sesungguhnya dari perusahaan
tersebut. Terdapat beberapa penyalahgunaan kewenangan oleh personel yang memiliki data harga
saat ini yang tidak dibagikan ke personel lainnya. Namun akuntansi untuk dampak terhadap inflasi
memerlukan revisi yang substansial dari pemikiran-pemikiran konvensional di dalam akuntansi.
Solusi sementara seperti akuntansi ekuitas di Inggris dan Australia, atau melakukan sesekali
melakukan revaluasi, hanya sebagian yang berhasil. Harga spesifik dan masalah tingkat harga
merupakan jenis anomali yang akan menjatuhkan seperangkat peraturan yang ada saat ini.
Karakteristik anomali tersebut yang menolak untuk berasimilasi dengan paradigma yang ada, akan
mendorong munculnya teori baru (Kuhn, 1970).

Telah lama terdapat keprihatinan tentang pondasi praktik akuntansi. Akan tetapi, akan
memungkinkan untuk memahami dua perkembangan yang saling berhubungan seperti kutipan
diatas. Perkembangan yang pertama adalah pencarian akan asumsi-asumsi pada berbagai level yang
mendefinisikan asumsi dasar di dalam akuntansi. Akan tetapi asumsi dasar tersebut tidak mengarah
ke seperangkat ide-ide dasar yang telah diakui sebelumnya. Akan tetapi seperti yang disebutkan
oleh Kuhn, asumsi dasar tersebut menunjukkan adanya kecacatan di dalam disclipinary matrix dan
melonggarkan ikatan dari tradisi yang kolot. Oleh karena itu tidaklah mengejutkan meskipun dengan
sejumlah besar waktu dan uang yang dihabiskan, AICPA terlambat menyadari akan perlunya sebuah
pernyataan akuntansi dan untuk memulai studi untuk menemukan tujuan dari sebuah laporan
keuangan.

Perkembangan lain yang dapat dilihat pada periode ini adalah adanya perhatian terhadap
prinsip-prinsip dan pembangunan teori secara umum. Dimulai dengan kontribusi dari Chamber yaitu
Blueprint for a Theory of Accounting (1955), atau komentar dari Mattessich (!957), Devine (1960),
Chamber (1963), dll. Diskusi filosofis ini selain berperan untuk meningkatkan ketelitian dari disiplin
ilmu akuntansi, juga diharapkan membantu membuka teka-teki yang berada di lapangan.

PROPOSAL ALTERNATIF DAN EVALUASINYA

Satu konsekuensi langsung dari diskusi filosofis adalah kemunculan dan perbaikan dari
berbagai alternatif yang ada dalam disclipinary matrix. Terdapat beberapa upaya untuk
mendapatkan sistem yang secara logis konsisten di dalam mengatasi cacat di dalam sistem biaya
historis. Beberapa penulis yang mengajukan sistem ini diantaranya Sprouse dan Monitz (1962) dan
Chambers (1966). Karya dari para penulis ini diperdebatkan selama dekade 1960-an dan debat itu
berfungsi untuk menjernihkan dan mengidentifikasi berbagai alternatif. Tanpa identifikasi tersebut,
tahapan selanjutnya dari proses revolusi tidak dapat dilakukan. Untungnya tahapaban dalam proses
revoluvi tersebut dapat dilanjutkan seperti ditunjukkan oleh publikasi terhadap evaluasi atas
berbagai alternatif tersebut. Laporan dari Trueblood Study mengandung beberapa diskusi. Evaluasi
yang lebih komprehensif dilakukan oleh Chambers (1970), Macdonald (1974), McDonald (1972),
Hanna (1974), dll, sementara studi yang dilakukan Price Waterhouse memberikan perhatian tentang
perlunya memperkenalkan alternatif-alternatif tersebut ke dalam program pengajaran reguler.

Fakta bahwa proses evaluasi telah terjadi dan terus berlanjut, merupakan bukti pentingnya
akan sesuatu yang disebut a priori works. Dalam pola yang telah dibahas sebelumnya, a priori works
memberikan peranan yang sangat penting; yaitu sebagai reaksi alami terhadap anomali yang ada
dan tahapan vital di dalam pemilihan disclipinary matrix yangbaru. Lebih jauh lagi, dengan
mempertimbangkan a priori works dan menentukan berbagai alternatif tersebut, maka kita berada
dalam posisi yang berbeda dibandingkan dengan tahun 1960. Saat ini beberapa sekolah mulai
menggunakan berbagai alternatif tersebut dimana hal ini tidak akan mungkin terjadi di tahun 1960.

Akan tetapi sebelum mendiskusikan kemungkinan tersebut, terdapat beberapa karakteristik


di dalam tahap evaluasi yang dideskripsikan oleh Kuhn. Kuhn menaruh perhatian terhadap
kesamaan dari tahap evaluasi dengan periode pre-paradigm. Ini merupakan tahap dimana terjadi
perdebatan yang panjang atas metode legitimasi dan solusi standar. Di dalam akuntansi, tahap ini
ditandai dengan berbagai debat tentang penerimaan data terkait peristiwa eksternal perusahaan
dan data yang didasarkan pada niat dan tujuan manajer, penyajian laporan arus kas, perhitungan
earning per share, berbagai masalah seperti nilai kurs mata uang asing, pelaporan perusahaan yang
terdiversifikasi, kontrak jangka panjang, proyek pengembangan lahan, legitimasi alokasi biaya dan
pertimbangan kembali standar seperti objektifitas, indepedensi dan bebas dari bias yang harus
dipenuhi.

DOKTRIN PEMIKIRAN

Merupakan hal yang mungkin untuk mengidentifikasi berbagai doktrin tentang beberapa
atau seluruh hal yang menjadi perhatian. Akan tetapi terdapat satu contoh yang dirasa cukup yaitu
tentang alternatif pengukuran aset. Empat doktrin yang dapat diidentifikasi:

1. Akuntansi Penyesuaian Tingkat Harga


2. Akuntansi Biaya Penggantian
3. Akuntansi Penurunan Nilai
4. Akuntansi Kontemporer Terus-Menerus (Nilai Realisasi Bersih)

Peneliti akutansi tidak hanya menggunakan keyakinan atau membuat keputusan yang
sederhana. Akan tetapi terdapat beberapa contoh perdebatan di dalam literatur yang dapat
digunakan untuk mengidentifikasi beberapa karakteristik dari debat paradigma (Kuhn, 1970).
Sebagai contoh, setiap kelompok akan mempertahankan paradigmanya sendiri di dalam
berargumen. The Provisional Statement of Accounting Practice No. 7 yang diterbitkan oleh ICA di
Inggris dan Wales menunjukkan perlunya suatu metode yang menunjukkan dampak perubahan
dalam kekuatan daya beli uang di dalam akun yang berbasis konvensi yang ada saat ini.

Beberapa contoh di atas tidak dimaksudkan sebagai kritik. Namun tampak jelas berbagai ide
akan sistem dapat dievaluasi dalam konteks dimana sistem tersebut akan diaplikasikan, karenanya
komentar pada awal artikel ini oleh Gonedes dan Dopuch tidaklah tepat. Hal pentingnya adalah
argumen seperti ini merupakan hal yang penting dan proses yang tidak dapat dipisahkan untuk
memenangkan dukungan dari pihak yang menentang argumen tersebut (Kuhn, 1970). Seperti
Nelson, kesalahan Gonedes dan Dopuch terletak pada kegagalan mereka untuk mengidentifikasi
adanya a priori research di dalam transisi ke dalam disciplinary matrix yang baru.

Namun demikian debat ini memiliki karakteristik lain. Pengadopsian disclipinary matrix yang
baru mensyaratkan pergeseran fundamental dalam pandangan dimana ahli teori mengetahui
segalanya. Sehingga di dalam akuntansi terdapat perubahan: seperti pandangan bahwa nilai
moneter selalu stabil telah berubah dan menerima pandangan bahwa nilai moneter bersifat variabel
dan pandangan lainnya.

DISCLIPINARY MATRIX YANG BARU?

Analisis yang dipresentasikan di artikel menyatakan bahwa pemikiran akuntansi keuangan


sedang mengalami revolusi. Bila revolusi tersebut memang benarterjadi, maka kritik terhadap a
priori research yang disebutkan di awal artikel ini sala tempat. Kritik tersebut gagal untuk mengenali
pentingnya suatu penelitian yang mengarahkan pada penggambaran serangkaian ide-ide alternatif.
Alternatif tersebut merupakan kandidat untuk disclipinary matrix yang baru, yang menjadi dasar dari
berbagai doktrin yang saling bersaing.

Bila analogi yang disajikan diatas benar, bila gagasan tentang revolusi dari Kuhn dapat
diterapkan pada akuntansi, maka akuntansi dapat bangkit dari krisis yang sedang terjadi (Kuhn,
1970). Serangkaian ide alternatif telah diajukan dan diperdebatkan, dan doktrin-doktrin mulai
bermunculan. Tidak dapat disangkal bahwa analisis tersebut tidak memungkinkan kita untuk
mengidentifikasi periode waktu yang sesuai dengan tahap-tahap revolusi yang diajukan oleh Kuhn.
Akan tetapi, karakteristik dari sebuah disclipinary matrix yang dapat diterima, periode
ketidakamanan dan perkembangan serangkaian ide alternatif akan dapat dikenali dengan baik di
dalam akuntansi.

Apakah yang akan menjadi hasilnya? Masih terlalu dini untuk dikatakan dari sisi akuntansi.
Peneliti tidak dapat diburu-buru untuk mengamati pengadopsian serangkaian ide alternatif
manapun. Debat yang berkelanjutan, terutama dikalangan akademisi, namun perdebatan tersebut
semakin melibatkan organisasi penelitian dari badan profesional berfungsi untuk mengidentifikasi
suatu doktrin. Menurut Kuhn tahap selanjutnya akan menjadi pergeseran dukungan terhadap satu
alternatif. Akan tetapi proses ini akan memakan waktu. Selain itu, akan melibatkan asimilasi teori
baru dan menimbulkan rekonstruksi teori sebelumnya dan reevaluasi fakta-fakta sebelumnya. Akan
tetapi hal tersebut tidak akan terjadi dalam waktu semalam dan dilakukan oleh satu orang saja
(Kuhn, 1970).