Anda di halaman 1dari 7

Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) yang semakin besar membutuhkan perhatian dan

perlakuan khusus dalam pelaksanaan pembangunan. Usia 60 tahun ke atas merupakan tahap akhir
dari proses penuaan yang memiliki dampak terhadap tiga aspek, yaitu biologis, ekonomi, dan sosial.
Secara biologis, lansia akan mengalami proses penuaan secara terus menerus yang ditandai dengan
penurunan daya tahan fisik dan rentan terhadap serangan penyakit. Secara ekonomi, umumnya lansia
lebih dipandang sebagai beban daripada sumber daya. Secara sosial, kehidupan lansia sering
dipersepsikan secara negatif, atau tidak banyak memberikan manfaat bagi keluarga dan masyarakat.
Negara perlu memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada lansia sehingga keberadaannya
tidak menjadi beban pembangunan, melainkan dapat berpartisipasi secara aktif dan positif.
Jumlah lansia di Indonesia
mencapai 20,24 juta jiwa, setara dengan 8,03 persen dari seluruh penduduk Indonesia tahun 2014.
Bekal pendidikan sangat dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kehidupan lansia,
supaya tetap produktif dan berperan aktif dalam masyarakat. Kemampuan baca tulis, tingkat ijazah
yang dimiliki, serta pengalamannya menempuh pendidikan formal, dapat menjadi ukuran kesiapannya
dalam menjalani hari tua.
Lansia termasuk ke dalam kelompok penduduk rentan yang berhak atas jaminan
perlindungan sosial untuk pengembangan dirinya secara utuh, sebagaimana amanat Undang-Undang
Dasar 1945. Jaminan sosial dibutuhkan untuk keamanan penghasilan bagi lansia yang umumnya
sudah tidak produktif lagi secara ekonomi. Rumah tangga lansia yang telah memiliki jaminan sosial
baru sebesar 6,66 persen, dimana proporsi terbesar adalah jaminan pensiun. Adapun rumah tangga
lansia yang memiliki jaminan kesehatan sebesar 52,75 persen. Jamkesmas adalah merupakan jenis
jaminan kesehatan utama yang dimiliki lansia. Jaminan kesehatan tersebut memberikan kemudahan
bagi lansia untuk memperoleh pelayanan kesehatan secara aman dan berkualitas.
Peningkatan jumlah penduduk lansia memerlukan perhatian dan perlakuan khusus dalam
pelaksanaan pembangunan. Terdapat dua kategori penduduk lansia, yaitu lansia potensial maupun
lansia tidak potensial. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 43 tahun 2004 dijelaskan bahwa lansia
potensial adalah lansia yang masih mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri
dan biasanya tidak bergantung kepada orang lain. Sementara itu, lansia tidak potensial adalah lansia
yang sudah tidak mempunyai kemampuan untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan biasanya
bergantung kepada orang lain. Lansia tidak potensial inilah yang dapat menjadi beban pembangunan.
Oleh karena itu, berbagai kondisi lansia tersebut perlu dikaji sehingga program pembangunan yang
dijalankan mampu melindungi dan memberdayakan lansia.
Dari kedua piramida tersebut terlihat pula bahwa ujung piramida, yaitu dimulai dari kelompok
usia 60 tahun ke atas, semakin melebar berarti terjadi peningkatan penduduk lansia. Penurunan angka
kelahiran, peningkatan angka harapan hidup, dan bertambahnya jumlah penduduk lansia dari tahun
ke tahun menunjukkan bahwa struktur penduduk Indonesia bertransisi ke arah struktur penduduk tua
(ageing population).
Tidak hanya dilihat dari jumlah penduduk, struktur penduduk tua juga dapat dilihat dari
proporsi penduduk pada kelompok umur tertentu. Suatu negara dikatakan berstruktur tua jika
mempunyai populasi lansia di atas tujuh persen (Soeweno, 2009). Gambar 3.2 memperlihatkan
proporsi lansia di Indonesia telah mencapai 8,03 persen dari keseluruhan penduduk. Selain itu, terlihat
pula bahwa proporsi penduduk 0-4 tahun lebih rendah dibanding proporsi penduduk 5-9 tahun.
Sementara proporsi penduduk produktif 10-59 tahun terbesar jika dibandingkan kelompok umur.
lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan struktur penduduk menuju
tua (ageing population).
Pendidikan merupakan proses sepanjang hayat. Setiap orang, tidak mengenal usia, memiliki
hak untuk terus belajar demi mengembangkan wawasan, pola pikir dan kemampuannya yang dapat
digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Undang-Undang No.13 Tahun 1998 tentang
Kesejahteraan Lanjut Usia, Bab III Pasal 5 Ayat 2.d mengenai hak dan kewajiban lansia menyebutkan
sebagai penghormatan dan penghargaan kepada lanjut usia diberikan hak untuk meningkatkan
kesejahteraan sosial, salah satunya dalam pelayanan pendidikan dan pelatihan. Berbekal pendidikan
dan pelatihan yang memadai diharapkan timbul kemandirian pada lansia sehingga tidak menjadi
beban bagi dirinya, keluarga maupun masyarakat.
Keberadaan lansia dengan pendidikan yang memadai juga diharapkan untuk pembangunan
pendidikan. Para lansia yang berpendidikan dapat ikut andil dalam pendidikan generasi berikutnya
melalui pendekatan intergenerasi, misal lansia mengajarkan baca tulis kepada angota rumah tangga
lainnya. Kegiatan intergenarasi ini juga memiliki manfaat bagi lansia, yaitu mencegah kepikunan. Hal
ini menjamin pula adanya proses pendidikan sepanjang masa (long life learning).
Kemampuan membaca dan menulis sangat bermanfaat bagi lansia. Dengan mampu
membaca dan menulis lansia dapat mengakses ilmu pengetahuan, menjadikannya sebagai alat
komunikasi baik lewat kertas maupun media elektronik, dan dapat pula membantu pengentasan buta
aksara generasi penerus.
Lansia yang bertahan sampai dengan saat sekarang adalah mereka yang menikmati masa
muda pada awal masa kemerdekaan, dimana sarana dan prasarana dan fasilitas pendidikan pada
masa tersebut masih sangat terbatas, kemiskinan masih membelenggu. Hal ini dimungkinkan menjadi
penyebab rendahnya partisipasi pendidikan mereka.
Berdasarkan jenis kelamin, terlihat adanya perbedaan pola pendidikan yang ditamatkan
antara lansia laki-laki dan perempuan. Lansia laki-laki pada umumnya cenderung mengenyam
pendidikan yang lebih tinggi dibanding dengan lansia perempuan. Lansia laki-laki yang menamatkan
pendidikan di setiap jenjang (tamat SD, tamat SMP, dan tamat SMA/sederajat ke atas) persentasenya
lebih tinggi dibandingkan dengan lansia perempuan. Sementara itu, persentase lansia perempuan
yang tidak/belum pernah sekolah dan tidak menamatkan pendidikan di SD/sederajat lebih tinggi
daripada pemuda di perkotaan (Lihat Tabel 4.3). Hal ini secara tidak langsung menunjukkan adanya
kesenjangan dalam bidang pendidikan antara lansia laki-laki dan perempuan.
Proses penuaan seseorang ditentukan secara genetik dan dipengaruhi oleh gaya hidupnya ketika
muda. Kondisi kesehatan seseorang ketika usia lanjut merupakan hasil dari proses akumulasi sejak
dalam kandungan, anak-anak, dewasa, hingga menjelang lansia. Lansia yang telah membiasakan
pola hidup sehatnya sejak muda akan memiliki kondisi kesehatan yang lebih baik daripada lansia yang
masa lalunya tidak berperilaku hidup sehat.
Undang-undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia menjelaskan
bahwa pelayanan kesehatan harus diberikan sebagai salah satu upaya untuk memenuhi hak lansia
dalam meningkatkan kesejahteraan sosialnya. Pelayanan kesehatan yang dimaksud adalah dalam
rangka memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan dan kemampuan penduduk lansia agar
kondisi fisik, mental, dan sosialnya dapat berfungsi secara wajar. Pelayanan kesehatan bagi lansia
termasuk penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan, upaya penyembuhan (kuratif), yang
diperluas pada bidang pelayanan geriatrik/gerontologik, serta pengembangan lembaga perawatan
lansia yang menderita penyakit kronis dan/atau penyakit terminal. Upaya pemerintah yang telah
dilakukan antara lain pendirian home care bagi lansia berkebutuhan khusus, program usaha
ekonomi
produktif, serta Posyandu Lansia. Kegiatan yang dilaksanakan melalui posyandu lansia di antaranya
adalah pemeriksaan kesehatan, pemberian makanan tambahan, dan senam lansia.
Penduduk lanjut usia termasuk ke dalam kelompok rentan. Pemerintah telah berupaya
meningkatkan kesejahteraan rakyat dengan menyelenggarakan beberapa bentuk perlindungan sosial
terutama bagi masyarakat yang tergolong rentan, termasuk di dalamnya adalah: lansia, penduduk
miskin, anak, penyandang disabilitas ganda (fisik dan mental) serta penduduk yang tinggal di kawasan
terpencil. Oleh sebab itu, diperlukan perlindungan/jaminan sosial bagi mereka dalam menghadapi
ketidakstabilan ekonomi maupun sosial yang bertujuan agar dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidupnya yang layak.
Jumlah lansia yang terus meningkat memerlukan berbagai penanganan khusus, baik yang
menyentuh lansia secara langsung maupun antisipasi permasalahan yang mungkin akan terjadi.
Negara perlu memberikan perlindungan dan pemberdayaan kepada lansia, sehingga kelangsungan
dan kualitas hidup mereka tetap membaik dan keberadaannya tidak menjadi beban bagi
pembangunan. Undang-Undang Nomor 13 tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia
mengindikasikan keseriusan pemerintah dalam menangani berbagai masalah kesejahteraan lansia.
Undang-undang tersebut diaplikasikan melalui Peraturan Pemerintah Nomor 43 Tahun 2004 tentang
Upaya Peningkatan Kesejahteraan Sosial Lanjut Usia, serta Peraturan Menteri Sosial Nomor 19
Tahun 2012 tentang Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia. Pemerintah juga menginisiasi
pembentukan Komisi Nasional dan Komisi Daerah Lanjut Usia melalui Keputusan Presiden Nomor 52
Tahun 2004 dan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 60 Tahun 2008.
Posyandu Lansia
Pelayanan yang disediakan oleh Posyandu Lansia adalah pemeriksaan tekanan darah dan
kesehatan yang dilakukan setiap satu bulan sekali, serta pemberian makanan tambahan dan
senam lansia yang dilakukan seminggu atau dua minggu sekali. Posyandu Lansia juga
melaksanakan kegiatan pelatihan dan peningkatan keterampilan bagi lansia. Pembentukan
Posyandu Lansia di bawah pembinaan Puskesmas setempat.
Puskesmas Santun Lansia
Puskesmas Santun Usila merupakan puskesmas yang memberikan pelayanan kesehatan
lengkap kepada pra lansia dan lansia yang meliputi aspek promotif, preventif, kuratif, dan
rehabilitatif. Puskesmas Santun Lansia disediakan di tiap-tiap Kabupaten/Kota. Sebagaimana
posyandu untuk balita, Puskesmas Santun Usila juga memberikan Kartu Menuju Sehat (KMS)
lansia sebagai salah satu instrumen pemantauan kesehatan. Puskesmas Santun Lansia dilengkapi
peralatan Usila KIT. Lansia mendapatkan layanan prioritas di Puskesmas Santun
Lansia, mulai dari pendaftaran, pemeriksaan, tindakan, hingga pemberian obat dilaksanakan
dalam satu ruang. Lansia tidak perlu berpindah tempat dan mengantri lagi untuk memperoleh
pelayanan lainnya.

Tingkat pendidikan

Menurut sarwono waspadji tahun 2011 jika status sosial ekonomi rendah maka arus tekanan
darah tinggi menjadi lebih tinggi, sedangkan sosioekonomi berkaitan dengan pendidikan.
Tingkat pendidikan secara tidak langsung juga mempengaruhi tekanan darah. Tingkat
pendidikan berpengaruh terhadap gaya hidup yaitu kebiasaan merokok, kebiasaan minum
alkohol, dan kebiasaan melakukan aktivitas fisik seperti olahraga. Hasil Riskesdas tahun 2013
dalam Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan 2013 menyatakan bahwa penyakit
hipertensi (tekanan darah tinggi) cenderung tinggi pada pendidikan rendah dan menurun sesuai
dengan peningkatan pendidikan. Tingginya risiko terkena hipertensi pada pendidikan yang
rendah, kemungkinan disebabkan karena kurangnya pengetahuan pada seseorang yang
berpendidikan rendah terhadap kesehatan dan sulit atau lambat menerima informasi
(penyuluhan) yang diberikan oleh petugas sehingga berdampak pada perilaku/pola hidup sehat
(Anggara dan Prayitno, 2013 ). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyuni
dan Eksanoto (2013) yang membuktikan bahwa ada hubunganyang signifikan antara tingkat
pendidikan dengan tekanan darah, nilai p=0,000. Pada penelitian tersebut sebanyak 58,5%
subjek dalam kategori tingkat pendidikan rendah mengalami hipertensi, 4,3% subjek dalam
kategori tingkat pendidikan menengah mengalami hipertensi, dan 3,9% subjek dalam kategori
tingkat pendidikan tinggi mengalami hipertensi.

1. Uji Validitas

Uji Validitas Item atau butir dapat dilakukan dengan menggunakan software SPSS.[1] Untuk
proses ini, akan digunakan Uji Korelasi Pearson Product Moment. Dalam uji ini, setiap item
akan diuji relasinya dengan skor total variabel yang dimaksud. Dalam hal ini masing-masing
item yang ada di dalam variabel X dan Y akan diuji relasinya dengan skor total variabel
tersebut.

Agar penelitian ini lebih teliti, sebuah item sebaiknya memiliki korelasi (r) dengan skor total
masing-masing variabel 0,25.[2] Item yang punya r hitung < 0,25 akan disingkirkan akibat
mereka tidak melakukan pengukuran secara sama dengan yang dimaksud oleh skor total skala
dan lebih jauh lagi, tidak memiliki kontribusi dengan pengukuran seseorang jika bukan malah
mengacaukan.

Cara melakukan Uji Validitas dengan SPSS:

1. Buat skor total masing-masing variable.


2. Klik Analyze > Correlate > Bivariate
3. Masukkan seluruh item variable x ke Variables
4. Masukkan total skor variable x ke Variables
5. Ceklis Pearson ; Two Tailed ; Flag
6. Klik OK
7. Lihat kolom terakhir. Nilai >= 0,25.
8. Lakukan hal serupa untuk Variabel Y.

2. Uji Reliabilitas

Uji Reliabilitas dilakukan dengan uji Alpha Cronbach. Rumus Alpha Cronbach sebagai
berikut:
Note:

Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha
> 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal
karena memiliki reliabilitas yang kuat.[3] Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai
berikut:

Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna


Jika alpha antara 0,70 0,90 maka reliabilitas tinggi
Jika alpha antara 0,50 0,70 maka reliabilitas moderat
Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[4]

Jika alpha rendah, kemungkinan satu atau beberapa item tidak reliabel: Segera identifikasi
dengan prosedur analisis per item. Item Analysis adalah kelanjutan dari tes Aplha sebelumnya
guna melihat item-item tertentu yang tidak reliabel. Lewat ItemAnalysis ini maka satu atau
beberapa item yang tidak reliabel dapat dibuang sehingga Alpha dapat lebih tinggi lagi
nilainya.

Reliabilitas item diuji dengan melihat Koefisien Alpha dengan melakukan Reliability Analysis
dengan SPSS ver. 16.0 for Windows. Akan dilihat nilai Alpha-Cronbach untuk reliabilitas
keseluruhan item dalam satu variabel. Agar lebih teliti, dengan menggunakan SPSS, juga akan
dilihat kolom Corrected Item Total Correlation.

Nilai tiap-tiap item sebaiknya 0.40 sehingga membuktikan bahwa item tersebut dapat
dikatakan punya reliabilitas Konsistensi Internal.[5] Item-item yang punya koefisien korelasi
< 0.40 akan dibuang kemudian Uji Reliabilitas item diulang dengan tidak menyertakan item
yang tidak reliabel tersebut. Demikian terus dilakukan hingga Koefisien Reliabilitas masing-
masing item adalah 0.40.

Cara Uji Reliabilitas dengan SPSS:

1. Klik Analyze > Scale > Reliability Analysis


2. Masukkan seluruh item Variabel X ke Items
3. Pastikan pada Model terpilih Alpha
4. Klik OK
Jika nilai alpha > 0,7 artinya reliabilitas mencukupi (sufficient reliability) sementara jika alpha
> 0,80 ini mensugestikan seluruh item reliabel dan seluruh tes secara konsisten secara internal
karena memiliki reliabilitas yang kuat.[6] Atau, ada pula yang memaknakannya sebagai
berikut:

Jika alpha > 0,90 maka reliabilitas sempurna


Jika alpha antara 0,70 0,90 maka reliabilitas tinggi
Jika alpha antara 0,50 0,70 maka reliabilitas moderat
Jika alpha < 0,50 maka reliabilitas rendah[7]
merokok1

Frequency Percent Valid Percent Cumulative


Percent

bukan perokok 65 67,7 67,7 67,7

perokok ringan 19 19,8 19,8 87,5


Valid
perokok sedang 12 12,5 12,5 100,0

Total 96 100,0 100,0

Kruskal-Wallis Test
Ranks

merokok1 N Mean Rank

bukan perokok 65 45,16

perokok ringan 19 60,61


tekanan darah responden
perokok sedang 12 47,42
Total 96

Test Statisticsa,b

tekanan darah
responden

Chi-Square 5,674
df 2
Asymp. Sig. ,059

a. Kruskal Wallis Test


b. Grouping Variable: merokok1