Anda di halaman 1dari 5

KERAJAAN PAJANG

A. Berdirinya Kerajaan Pajang

Kerajaan pajang adalah kerajaaan islam yang ada di Jawa, meskipun pemerintahannya
tidak begitu lama tetapi kerajaan pajang pernah berkuasa. Kerajaan pajang mestinya
muncul sebelum runtuhnya kerajaan Majapahit. Karena Majapahit masih bebrkuasa
maka kareajaan pajang belum begitu diperhatikan. Pada abad ke-14 Pajang sudah
disebut dalam kitab Negarakertagama karena dikunjungi oleh Hayam Wuruk dalam
perjalanannya memeriksa bagian Barat. Antara abad ke-11 dan 14 di Jawa Tengah
Selatan tidak ada Kerajaan tetapi Majapahit masih berkuasa sampai kesana. Sementara
itu, di Demak mulai muncul Kerajaan kecil yang didirikan oleh tokoh-tokoh beragama
Islam. Namun, sampai awal abad ke-16 kewibawaan raja Majapahit masih diakui.
Setelah Majapahit mengalami kemunduran atau lebih tepatnya pada akhir abad ke 17
dan awal abad ke 18 para penulis kertasura menuliskan asal-usul kerajaan pajang.
Kerajaan Pajang adalah kerajaan islam di Jawa yang didirikan oleh Jaka Tingkir. Kerajaan
pajang terletak di pengging yang dulunya dipimpin oleh Ki Ageng Pengging selaku Bupati.
Yang kemudian dihukum mati oleh raja Demak karena dugaan ingin berontak terhadap
kerajaan Demak. Setelah dewasa Jaka Tingkir mengabdikan diri ke Demak, karena
kepandaiannya ia diangkat menjadi menantu oleh Sultan Trenggono.
Setelah sultanTrenggono meninggal terjadi perebutan kekuasaan ataran pangeran
Sekar Sedolepan dengan Sunan Prawoto. Setelaha sunan Prawoto menjadi raja beliau
berhasil dibunuh oleh Arya Penangsang anak Pangeran Sekar Sedolepan tetapi Arya
Penangsang berhasil dikalahkan oleh Jaka tingkir yang kemudian dinobatkan menjadi
raja dengan nama Hadiwijaya dan beliau memindahkan semua daerah kekuasaan ke
Pajang. Ada tiga raja yang pernah memimpin kerajaan pajang, raja pertama adalah
Hadiwijaya pendiri kerajaan Pajang itu sendiri. Yang kedua adalah Arya Pangiri anak
angkat sekaligus menantunya yang awalnya memimpin Demak. Yang ketiga adalah
pangeran Benawa anak kandung Hadiwijaya yang kemudain merebut kekuasaan dari
tangan Arya Pangiri.
Kerajaan Pajang dipuncak masa keemasan pada masa kepemimpinan Hadiwijaya,
dimana beliau dapat membuat para Raja penting di Jawa timur mengakui kekuasaanya.
Beliau berhasil memperluas daerahnya. Selain memperluas dearahnya Pajang
mempunyai lumbung padi yang besar karena irigasinya berjalan lancar. Dalam aspek
sosial budaya dan ekonomi Pajang mengalami kemajuan. Dibidang sosial Budaya,
kebudayaan yang semula sudah berkembang di Demak dan Jepara menyebar
kepedalaman begitupun dengan agama islam yang perlahan menyebar di pedalaman
dan pesisir pantai utara dan masyarakat Pajang menjalankan syariat islam dengan
sungguh-sungguh. Dalam aspek ekonomi pertanian maju dengan pesat, memiliki
lumbung padi yang besar bahkan Pajang sudah melakukan eksport beras melalui
perniagaan bengawan solo.
Untuk aspek politik sendiri banyak sekali perselisihan karena perebutan kekuasaan,
wali sanga yang dulunya berperan penting pada masa kerajaan Demak bahkan ikut
menentukan keputusan politik kerajaan Demak tetapi pada masa kerajaan pajang wali
sanga juga masih berperan tapi tidak begitu kental ditambah Sunan Kalijaga meminta
kepada sunan kudus agar para wali tidak ikut campur karena sebagai orang tua dan
penyebar agama tidak sepantasnya ikut berkelahi merebutkan kekuasaan. Banyak sekali
pihak luar yang ikut campur dengan perselisihan perebutan kekuasaan. Pajang dulunya
adalah daerah Pengging, Jaka Tingkir adalah anak dari Kebo Kenanga atau Ki Ageng
Pengging yang menjadi bupati di pengging (Hendra 2012). Jadi sebenarnya Pajang
dulunya adalah daerah pengging yang bupatinya adalah Ki Ageng Pengging. Ki Ageng
pengging yang akhirnya dihukum mati oleh raja demak karena dianggap akan
memberontak kerajaan Demak dan untuk menklukkan pengging maka dihukum matilah
ki Ageng pengging.
Jaka Tingkir yang dulunya menjadi seorang tamtam di jerajaan Demak di bawah
pemerintah Pangeran trenggana, karena keahlianya ia dijadikan meenanntu oleh Sultan
Demak(Marwati Djoened Poesponegoro 2010:55). Sepeninggal Sultan Trenggono,
Demak mengalami kemunduran. Terjadi perebutan kekuasaan antara Pangeran Sekar
Sedolepen, saudara Sultan Trenggono yang seharusnya menjadi raja dan Sunan Prawoto,
putra sulung Sultan Trenggono. Sunan Prawoto kemudian dikalahkan oleh Arya
Penangsang, anak Pengeran Sekar Sedolepen.
Namun, Arya Penangsang pun kemudian dibunuh oleh Joko Tingkir, menantu Sultan
Trenggono yang menjadi Adipati di Pajang (Aprilia Kirana, 2012). Jaka Tingkir menyuruh
Ki Ageng Panjawi, Ki Ageng Pemanahan, Ngabei Loring Pasar, dan Juru Martani untuk
menyerang Arya Penangsang. Dengan kemenangan tersebut lalu berpindahlah
kekuasaan Demak ke Pajang yang dipimpin oleh Jaka Tingkir atau Hadiwijaya (Hendra,
2012). Keberhasilan jaka tingkir mengalahkan Arya Penangsang membawa kemujuran
dalam hidupnya. Setelah ia mengalahkan Arya penangsang ia dinobatkan menjadi raja
demak yang kemudian pusat pemerintahanya di pindahkan ke Pajang hingga akhirnya
menjadi kerajaan Pajang.
B. Raja-Raja yang Pernah Memerintah Perajaan Pajang
Kerajaan pajang pertama kali diperinta oleh Jaka tingkir pada tahun 1878 anak dari Ki
Ageng Pengging. Jaka Tingkir mempunyai nama asli yaitu mas karebet itu dinobatkan
menjadi raja setelah berhasil menglahkan Arya penangsang ia dinobatkan menjad raja
dengan nama Hadiwijaya. Sultan Pajang meninggal dunia dan dimakamkan di Butuh,
suatu daerah di sebelah barat taman kerajaan Pajang. Dia digantikan oleh menantunnya,
Aria Pangiri, anak susuhan Prawoto tersebut di atas. Waktu itu, Aria Pangiri menjadi
penguasa di Demak. Setelah menetap di keratin Pajang, Aria Pangiri dikelilingi oleh
pejabat-pejabat yang dibawanya dari Demak. Sementara itu, anak Sultan Adiwijaya,
Pangeran Benawa, dijadikan penguasa di Jipang (Aji Raksa, 2008). Disitu terlihat jelas
telah terjadi perebutan kekuasaan antara Aria Pangiri sebagai menantu dan pangeran
benawa sebagai anak kandung.
Semeninggalnya Hadi Wijaya Arya pengiri dinobbatkan menjadi raja yang kemudian
bebrnama Ngawantipura pada tahun 1883. Pada masa pemerintahannya terjadi banyak
kekecauan di kerajaan pajang hal itu terjadi karena adanya perlakuan yang berbeda
antara rakyat pajang dengan demak. Beliau yang semula memerintah demak
membuanya berlaku tidak adil terhadap rakyat pajang. Ia mendatangkan orang-orang
Demak untuk menggeser kedudukan para pejabbat Pajang bahkan orang-orang pajang
tersisih oleh kedatangan orang-orang Demak sehingga menyebabkan para penduduk
Pajang menjadi perampok karena kehilangan matapencaharian dan sebagian lagi pindah
ke Jipang mengabdikan diri kepada Pangeran Benawan (Andy Candra, 2012). Selain itu ia
juga tidak mempedulikan kesejahteraan rakyatnya melainkan hanya memikirkan bagai
mana cara menaklukkan Mataram.
Melihat semua perlakuan Arya Pengiri atau Ngawantipura Pangeran Benawa merasa
tidak suka dan ingin kembali mrebut kekuasaan. Selain itu karena tidak puas dengan
nisabya di tengah-tengah lingkungan yang masih asing baginya, meminta bantuan
kepada Senopati, penguasa Mataram, untuk mengusir raja Pajang yang baru itu. Pada
tahun 1588, usahanya itu berhasil. Sebagai rasa terima kasih, Pangeran Benawa
menyerahkan hak atas warisan ayahnya kepada Senopati (Aji Raksa 2008). Akan tetapi
senopati Mtaram tidak menerima tawaran dari Pangeran Benawa dan tetap tinggal di
Mataram hanya saja beliau meminta prajurit Pajang. Dengan begitu dinobtakanlah
Pangeran Benawa sebagai raja pajang tetapi dibawah perlindungan Mataram.

C. Masa Keemasan.
Masa keemasan kerajaan Pajang terjadi pada masa pemerintahan raja Hadiwijaya atau
jaka tingkir raja pertamanya. Sultan Pajang mulai melakukan perluasan kekuasaan
sehingga beberapa daerah sekitarnya antara lain Jipang dan Demak sendiri mengakui
kekuasaan pajang. Demikian pula ia meluaskan pengaruhnya ke daerah pesisir utara
seperti Jepara, Pati, bahkan kearah barat sampai ke Banyumas( Marwati Djoened
Poesponegoro, 2010:55). Selama pemerintahan Sultan Adiwijaya, kekusastraan dan
kesenian yang sudah maju di Demak, dan Jepara lambat laun dikenal di pedalaman Jawa.
Pengaruh agama Islam yang kuat di pesisir dan menjalar tersebar ke daerah
pedalaman (Aji Raksa 2008). Pada masa pemerintahan Raja Hadiwijaya mulai banyak
raja-raja kecil yang tunduk padanya selain itu ia juga memperluas daerahnya sampai
madiun, aliran anak sungai solo myang besar, blora dan kediri. Pada tahun 1581, ia
berhasil mendapatkan pengakkuan sebagai sultan islam dari Raja-Raja penting di Jawa
Timur (Aji Raksa 2008). Untuk peresmiannya pernah diselenggarakan pertemuan
bersama di istana Sunan Prapen di Giri, hadir pada kesempatan itu para Bupati dari
Jipang, Wirasaba (Majaagung), Kediri, Pasuruan, Madiun, Sedayu, Lasem,Tuban, dan Pati.
Pembicara yang mewakili tokokh-tokoh Jawa Timur adalah Panji Wirya Krama, Bupati
Surabaya.
Disebutkan pula bahwa Arosbaya (Madura Barat) mengakui Adiwijaya sehubunga
dengan itu bupatinya bernama Panembahan Lemah Duwur diangkat menantu Raja
Pajang (Andy Candra, 2012). Dari itu semua dapat terlihat bahwa sudah ada hubungan
baik antara kerajaan pajang dengan Raja-Raja di Jawa Timur dan itu berdampak baik
pada kedua pihak.
D. Aspek Sosial Budaya, Ekonomi dan Politik

1. Aspek Sosial Budaya


Pada zaman Pakubuwono I dan Jayanegara bekerja sama untuk menjadikan Pajang
semakin maju dibidang pertanian sehingga Pajang menjadi lumbung beras pada abad
ke-16 sampai abad 17, kerja sama tersebut saling menguntungkan bagi kedua belah
pihak. Kehidupan rakyat Pajang mendapat pengaruh Islamisasi yang cukup kental
sehingga masyarakat Pajang sangat mengamalkan syariat Islam dengan sungguh-
sungguh (Andy Candra, 2012). Pada pemerintahanSultan Hadiwijaya dunia kesusastraan
serta kesenian yang semula sudah berkembang di Demak dan Jepara perlahan-lahan
mulai menyebar di pedalaman selaian kesusastraan yang menyebar pedalaman agama
islam juga memberikan pengaruh yang kuat dipedalaman dan pesisir pantai.

2. Aspek Ekonomi
Pajang mengalami kemajuan di bidang pertanian sehingga menjadi lumbung beras
dalam abad ke-16 dan 17 (Andy Candra, 2012). Kemajuan pertanian itu tidak terlepas
karena pajang yang terletak di Datarann Rendah tempat bertemunya sungai pepe dan
sungai dengkeng, kedua sungai tersebut berasal dari sumber mata air dari lereng gunung
merapi dean bengawan solo sehingga irigasi berjalan lancar dan pertanianpun
mengalami kemajuan yang pesat. Pada masa kejayaan Demak, pajang sudah melakukan
eksport beras melalui perniagaan bengawan solo. Melihat lumbung padi yang begitu
besar Demak ingin menguasai pajang dan juga mataram kerana lumbung padinya untuk
membentuk negara yang agraris maritim yang ideal.

3. Aspek Politik
pada masa Kerajaan Demak wali sanga berperan sangat penting karena mereka ikut
memmbangun dan mendirikan kerajaan Demak tersebut bahkan mereka ikut
menentukan kebijakan politik demak. Tetapi setelah masa kerajaan Pajang peran wali
sanga masih dibutuhkan tetapi tidak terlalu kental. Dalam berita dikabarkan bahwa
Sunan Kudus terlibat dalam pembunuhan Sunan Prawata yang yang dibunuh oleh Arya
Panangsang. Setelah terjadi perselisihan antara Ayapenangsang dan Hadiwijaya
Dikisahkan Sunan Kalijaga memohon kepada Sunan Kudus agar para sepuh, Wali sebagai
ulama dapat menempatkan diri sebagai orang tua. Tidak ikut campur dalam urusan
rumah tangga anak-anak. Biarkanlah Arya Penangsang dan Hadiwijaya menyelesaikan
persoalanya sendiri (Andy Candra, 2012). Mereka hanya mengamati semua yang terjadi
dan mereka hanya berkata sing becik ketitik sing olo ketoro. Jadi disitu terlihat jelas
bahwa mereka yang bersangkutan harus menyelesiakan permasalahan masing-masing
tanpa campur aduk orang lain, karena pasti ada banyak pihak yang ingin melihat
kehancuran dari mereka. Terjadi banyak perselisihan yang terjadi, dan perselisihan itu
terjadi karena perebutan kekuasaan antara yang satu dengan yang lainnya. Mereka
hanya mementingkan keinginan mereka dan apa yang mereka lakukan semata-mata
hanya kerana pemikiran mereka masing-masing. Mereka hanya gila akan kekuasaan yang
ingin mereka dapatkan. Dikisahkan Sunan Kudus sebagai Guru Sultan Hadiwijaya,
mengundang Sultan untuk datang ke Kudus untuk mendinginkan suasana. Pada saat itu
terjadi perang mulut antara Arya Penangsang dan Sultan Hadiwijaya dan mereka saling
menghunus keris. Konon Sunan Kudus berteriak: Apa-apaan kalian! Penangsang cepat
sarungkan senjatamu, dan masalahmu akan selesai! Arya Penangsang patuh dan
menyarungkan keris Setan Kobernya. Setelah pertemuan usai, konon Sunan Kudus
menyayangkan Arya Penangsang, maksud Sunan Kudus adalah menyarungkan keris ke
tubuh Sultan Hadiwijaya dan masalah akan selesai (Andy Candra, 2012).tetapi setelah itu
Arya Penangsang dapatdikalahkan oleh Hadiwijaya dengan cara kuda gerak rimang yang
tunggangi oleh Arya penangsang di pancing oleh bkuda betina Sutawijaya melewati
bengawan sore setelah di luar bengawan sore kekuatan Arya Penangsang melemah
dapat dibunuh. Atas jasanya Ki Penjawi diberi tanah di Pati dan Ki Gede Pemanahan
diberi tanah di Mentaok, Mataram. Sutawijaya adalah putra Ki Gede Pemanahan dan
merupakan putra angkat Sultan Hadiwijaya sebelum putra kandungnya, Pangeran
Benawa lahir. Sutawijaya konon dikawinkan dengan putri Sultan sehingga Sutawijaya
yang akhirnya menjadi Sultan Pertama Mataram yang bergelar Panembahan Senopati,
anak keturunannya masih berdarah Raja Majapahit (Andy Candra, 2012).