Anda di halaman 1dari 8

Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No.

1, Januari 2015 pISSN 2477-3441


eISSN 2477-345X

PERKAWINAN ANAK DI BAWAH UMUR DALAM PERSPEKTIF


HUKUM, HAM DAN KESEHATAN

Inna Noor Inayati1


1
Akademi Kebidanan Bandung Yayasan Ciara Putri, Jl. Garuda No. 79/83 Bandung 40183

ABSTRAK

Perkawinan di bawah umur dinilai menjadi masalah serius karena memunculkan kontroversi di masyarakat. Perkawinan di
bawah umur menjadi permasalahan dan fakta di masyarakat yang masih terus berkembang. Indonesia merupakan salah satu
negara di dunia dengan angka perkawinan dibawah umur. Perkawinan di bawah umur sering terjadi karena sejumlah alasan
dan pandangan baik secara hukum, agama dan tradisi dan budaya di masyarakat. Dampak terhadap kesehatan sebagai
praktik tradisi yang berbahaya yang menyebabkan kenaikan angka kematian ibu dan bayi serta gangguan gangguan kesehatan
reproduksi. Penelitian ini mengkaji lebih jauh tentang permasalahan dalam perkawinan anak di bawah umur dalam perspektif
hukum, HAM dan kesehatan. Metode penelitian menggunakan metode kualitiatif, pendekatan yuridis normatif, pendekatan
perundang-undangan dan pendekatan konsep, penyajian dengan spesifikasi penelitian deskriptif, pengambilan data sekunder
dengan bahan, analisis dengan metode kualitatif normatif, penyajian data berdasarkan kerangka teori dan pemahaman dalam
menafsirkan data. Dalam pandangan hukum, perkawinan di bawah umur banyak terjadi karena besarnya toleransi yang
diberikan Undang-undang Perkawinan dengan memberikan batasan usia 16 tahun untuk boleh menikah. Perlu dilakukan
upaya harmonisasi antar berbagai sistem hukum perkawinan yang berlaku di Indonesia agar tantangan legislasi yang timbul
akibat disparitas ketentuan hukum dalam persoalan perkawinan anak di bawah umur. Revisi Undang-Undang Perkawinan dan
Pendewasaan Usia Perkawinan diusulkan sebagai bagian dari upaya pencegahan perkawinan anak usia dini. Tinjauan
kesehatan reproduksi, pernikahan anak di bawah umur mempunyai banyak resiko dan bahaya karena secara fisik dan mental
dimana anak belum siap untuk melahirkan, sehingga timbul gangguan dalam sistem reproduksi sampai kematian ibu dan
bayi. Diperlukan komitmen pemerintah untuk menghentikan praktik-praktik tradisi berbahaya yang mempengaruhi
kesehatan perempuan dan anak dengan meratifikasi regulasi yang terkait dengan perlindungan anak dan perempuan.
Sosialisasi kesehatan reproduksi dan pendidikan seks terhadap remaja harus dilakukan secara intensif dengan
mengintegrasikan dalam kurikulum pembelajaran di sekolah.
Kata kunci: Perkawinan dibawah umur, Hukum, Kesehatan

MARRIAGE CHILDREN UNDER AGE IN PERSPECTIVE


LAW , HUMAN RIGHTS AND HEALTH

ABSTRACT
Child marriage considered to be a serious problem because it gave rise to controversy in the community. Child marriage
become a problem due to the fact in the community is still growing. Indonesia is one country in the world with the number of
child marriage . Child marriage often occur due to a number of reasons and a good view of the legal, religious and cultural
traditions in society. Impact on health as harmful traditional practices which cause an increase in maternal and infant
mortality and impaired reproductive health disorders. This study examines the much study of the problems the child
marriage in the perspective of law, human rights and health. Qualitative methods empirically method, normatif juridical
approach, the statute approach and concept approach , the presentation to the specifications of descriptif research,
secondary data collection with materials, analisis with normatif qualitative methods, presentation of data based on a
theoretical framework and understanding in interpreting the data. In view of the law, the child marriage many occur
because of the tolerances given Marriage Law by giving an age limit of 16 years to be married. Efforts should be made
between the various systems harmonization of marriage laws i force in Indonesia order to challenge the legislation arising
from disparities in the law in matters of child marriage . Revision of the Marriage Act and the Marriage Age Maturation
proposed as part of efforts to prevent early childhood marriages. Overview reproductive health, child marriage has a lot of
risk and danger because physically and mentally in which the child is not ready to give birth, causing disruption in the
reproductive system to maternal and infant mortality. Required the government's commitment to stop harmful traditional
practices affecting the health of women and children by ratifying the regulations relating to the protection of children and
women. Reproductive health and Sexual Education of adolescents should be conducted intensively by integrating the
teaching curriculum in schools
Keyword: Child marriage, Law, Human Right, Health

www.jurnal.ibijabar.org 46
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

PENDAHULUAN menghindari stigma sebutan perawan tua dan


berupaya mempercepat perkawinan dengan
Perkawinan di bawah umur dinilai berbagai alasan.
menjadi masalah serius karena memunculkan Studi literasi UNICEF menemukan
kontroversi di masyarakat, tidak hanya di bahwa interaksi berbagai faktor menyebabkan
Indonesia namun juga menjadi isu anak berisiko menghadapi pernikahan di usia
internasional. Perkawinan di bawah umur dini. Diketahui secara luas bahwa pernikahan
menjadi permasalahan karena fakta di anak berkaitan dengan tradisi dan budaya,
masyarakat yang masih terus berkembang. sehingga sulit untuk mengubah. Alasan
Menurut Council of Foreign Relations, ekonomi, harapan mencapai keamanan sosial
Indonesia merupakan salah satu dari sepuluh dan finansial setelah menikah menyebabkan
negara di dunia dengan angka absolut tertinggi banyak orangtua mendorong anaknya untuk
perkawinan anak dan tertinggi kedua di menikah di usia muda.
ASEAN setelah Kamboja. Diperkirakan satu Dampak terhadap kesehatan,
dari lima anak perempuan di Indonesia perkawinan di bawah umur sebagai praktik
menikah sebelum mereka mencapai 18 tahun. tradisi yang berbahaya, karena menyebabkan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lima peningkatan resiko kesehatan reproduksi,
provinsi yang memiliki angka perkawinan antara lain kematian ibu dan gangguan
bawah umur tertinggi, yaitu Jawa Timur (28 kesehatan reproduksi. Pengabaian terhadap
%), Jawa Barat (27,2%), Kalimantan Selatan hak-hak dasar anak perempuan yang terputus
(27 %), Jambi (23%), Sulawesi Tengah (20,8 karena kawin sebelum umur 15-18 tahun akan
%). berpotensi mempertinggi angka kematian ibu
Berdasarkan Survei Demografi dan (359/100.000 kelahiran), angka kematian bayi
Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 (32/1000 kelahiran), melahirkan bayi dengan
menunjukkan Age Specific Fertility Rate malnutrisi (4,5 juta/tahun) yang menyebabkan
(ASFR) perempuan usia 15-19 tahun mencapai hilangnya generasi berkualitas bagi bangsa di
48/1000. Perempuan usia 15-19 tahun yang masa depan. Peraturan perundangan yang
menikah di perkotaan meningkat jadi 32% dari mengatur tentang perkawinan tidak sejalan
26% berdasarkan SDKI 2007, sedangkan di dengan berbagai instrumen hukum
pedesaan menurun menjadi 58% dari 61%. perlindungan anak, di antaranya Konvensi Hak
UNICEF juga melaporkan bahwa prevalensi Anak, Undang-Undang Perlindungan Anak,
ini bergeser terutama di daerah perkotaan Konvensi CEDAW dan UU tentang
dimana pada tahun 2014 terdapat 25% Penghapusan Kekerasan dalam Rumah
perempuan berusia 20-24 yang menikah di Tangga.
bawah usia 18. Dari latar belakang di atas, muncul
Pada faktanya perkawinan di bawah tiga persoalan penting secara yuridis yang
umur sering terjadi karena sejumlah alasan berkembang dalam pemikiran tentang
dan pandangan baik secara hukum, agama dan perkawinan anak di bawah umur ini. Pertama,
tradisi dan budaya di masyarakat. Berdasarkan perkawinan anak dibawah umur dinilai
Hukum Perkawinan dalam Undang-Undang bertentangan dengan Undang-undang No. 35
No. 1 Tahun 1974 melegitimasikan usia tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dalam
perkawinan 16 tahun bagi perempuan dan 19 undang-undang ini dijelaskan pengertian anak
tahun bagi laki-laki. Dalam ranah agama adalah mereka yang berusia kurang dari 18
disebabkan adanya justifikasi negatif dari teks- tahun, termasuk yang masih di dalam
teks agama yang berkonotasi positif, jika kandungan. Sementara itu, Undang-Undang
dilakukan atas pertimbangan kemaslahatan Perkawinan memberikan toleransi yang cukup
moral dan agama. Karena itu masyarakat yang besar terhadap perkawinan di bawah umur
melakukan perkawinan bawah umur mendapat karena memberi batasan usia perkawinan 16
legitimasi dari ajaran agama yang dianutnya tahun bagi perempuan, dan 19 tahun bagi laki-
tersebut. Dalam perspektif tradisi dan budaya, laki. Dalam UU No. 1 tahun 1974 tentang
kerap kali perkawinan di bawah umur terjadi Perkawinan Pasal 7 ayat (1) disebutkan;
karena dorongan kultural dalam satu Perkawinan hanya diijinkan bila pihak pria
komunitas yang memposisikan perempuan mencapai usia 19 (sembilas belas) tahun dan
sebagai kelas dua dimana masyarakat pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam

www.jurnal.ibijabar.org 47
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

belas) tahun.Pasal tersebut dinilai perempuan. Di Negara kita melalui UU No.30


bertentangan dengan Undang-Undang No. 35 Tahun 2009 Pasal 133 ayat (1) menyatakan :
Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak yang setiap bayi dan anak berhak terlindungi dan
menyatakan batasan usia anak dalam Pasal 1 terhindar dari segala bentuk diskriminasi dan
ayat (1) Anak adalah seseorang yang belum tindak kekerasan yang dapat mengganggu
berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk kesehatannya.
anak yang masih dalam kandungan. Pasal ini Berdasarkan permasalahan diatas
yang menyatakan dengan jelas penulis ingin mengkaji lebih jauh tentang
mengkategorikan kelompok usia seperti yang permasalahan dalam perkawinan anak di
tercantum dalam UU Perkawinan tersebut bawah umur dalam perspektif hukum, HAM
sebagai anak-anak. Akibatnya perkawinan di dan kesehatan.
bawah umur sering terjadi dimasyarakat karena
mendapatkan legitimasi dari Undang-Undang METODOLOGI PENELITIAN
tersebut.
Kedua, apakah benar perkawinan di Metode penelitian ini menggunakan
bawah umur dinilai keliru bila kita mengacu metode kualitiatif dengan menggunakan
kepada Undang-Undang No. 1 tahun 1974 pendekatan yuridis normatif yang difokuskan
tentang perkawinan. Sepanjang perkawinan untuk mengkaji penerapan kaidah-kaidah atau
dilakukan dengan mengacu kepada undang- norma-norma dalam hukum positif. Titik tolak
undang tersebut, apakah mereka dinilai keliru penelitian adalah analisis terhadap peraturan
atau salah? Kita tidak bisa menyalahkan perundangan-undangan. Pendekatan yang
perkawinan di bawah umur sepanjang dilakukan adalah pendekatan perundang-
pernikahan itu mengacu kepada undang- undangan (statute approach) dan pendekatan
undang yang memayunginya. Baik Undang- konsep (conceptual approach). Pendekatan
Undang Perkawinan maupun Undang-Undang perundang-undangan dilakukan untuk meneliti
Perlindungan Anak memiliki derajat yang aturan-aturan yang penormaannya kondusif
sama. Undang-undang ini tidak bisa disalahkan dan konsep dalam kaitannya dengan
begitu saja. Seorang yang menikah di bawah perkawinan di bawah umur. Penyajian dengan
umur, bisa dianggap benar jika memang dia spesifikasi penelitian deskriptif.
mematuhi ketentuan undang-undang yang Pengambilan data menggunakan bahan
dimaksud. Jika perkawinan anak bawah umur pustaka sebagai data sekunder dengan studi
yang ditoleransi Undang-Undang Perkawinan pustaka dan studi dokumentasi. Analisis data
bertentangan Undang-Undang Perlindungan penelitian ini adalah metode kualitatif normatif
Anak, bukankah Undang-Undang Perkawinan yaitu metode analisis yang dilakukan dengan
jauh lebih awal hadir di negara ini. Lalu pendekatan normatif/doctrinal. Penyajian data
kenapa perkawinan bawah umur disalahkan dilakukan bersamaan dengan analisa data
karena memberikan toleransi dan bertentangan berdasarkan kerangka teori dan pemahaman
dengan Undang-undang Perlindungan anak? yang berkembang pada saat menafsirkan data.
Ketiga, bagaimana pandangan
berdasarkan hak asasi manusia dan hukum
HASIL DAN PEMBAHASAN
kesehatan mengenai praktik-praktik dan tradisi
perkawinan anak di bawah umur. Piagam PBB
Undang-Undang Perkawinan No. 1
secara tegas memasukan salah satu asas
Tahun 1974 menyatakan bahwa perkawinan
utamanya tentang penghormatan terhadap hak
hanya diijinkan jika pihak pria sudah mencapai
asasi manusia, seperti juga tercantum dalam
usia 19 tahun dan pihak perempuan sudah
Deklarasi Hak-Hak Asasi Manusia dan
berusia 16 tahun
Convention on the Elimination of All Forms of
Perkawinan hanya diizinkan bila pihak pria
Discrimination against Women (CEDAW)
mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan
Pasal 2 : mengejar kebijakan penghapusan
pihak wanita sudah mencapai usia 16 (enam
diskriminasi terhadap perempuan melalui
belas) tahun (Pasal 7 ayat (1) UU
semua upaya yang tepat dan segera. Dalam
Perkawinan). Dalam UU Perkawinan juga
hal ini Negara-Negara Pihak diwajibkan
terdapat dispensasi terhadap ketentuan batas
untuk menghapuskan segala bentuk
usia perkawinan yang bisa dimintakan dari
ketidakadilan dan ketidaksetaraan pada

www.jurnal.ibijabar.org 48
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

Pengadilan atau Pejabat lain yang di tunjuk legitimasi dengan sistem perwalian dan
oleh kedua orang tua/wali. persetujuan.
Dalam hal penyimpangan dalam ayat (1) Kalangan yang memiliki pandangan
pasal ini dapat minta dispensasi kepada ini menilai bahwa Undang-Undang
Pengadilan atau pejabat lain yang diminta oleh Perkawinan dinilai sudah tidak representatif
kedua orang tua pihak pria atau pihak wanita lagi dengan kondisi kekinian. Undang-undang
(Pasal 7 ayat (1) UU Perkawinan) ini dinilai perlu direvisi menyesuaikan dengan
Pasal lain yang menjadi masalah fakta-fakta dan pemikiran yang berkembang di
adalah ketentuan pernikahan seseorang di masyarakat. Dalam pemikiran lain, perkawinan
bawah usia 21 tahun harus dilakukan dengan di bawah umur lebih nilai negatifnya
persetujuan dari orang tua tercantum dalam dibandingkan positifnya, dipandang dari segi
Pasal 6 ayat (1) manapun. Sebagaimana dikatakan dalam
Untuk melangsungkan perkawinan seorang Undang-undang No. 35 tahun 2014,
yang belum mencapai umur 21 (dua puluh perlindungan anak dimaksudkan untuk
satu) tahun harus mendapat izin kedua orang menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar
tua. (Pasal 6 ayat (2) UU Perkawinan). dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
Dengan ketentuan itu, Undang-Undang ini berprestasi secara optimal sesuai dengan harkat
memberikan dispensasi kepada anak-anak dan martabat kemanusiaan, demi terwujudnya
untuk menikah di bawah umur. Padahal, anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak
pernikahan sudah pasti harus melibatkan orang mulia, dan sejahtera. Undang-Undang
tua, karena pada prinsipnya orangtua-lah yang melindungi setiap anak memiliki hak untuk
menikahkan anaknya. dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan
Dalam pasal tersebut di atas, tidak berpartisipasi secara wajar sesuai dengan
secara tegas tercantum larangan untuk menikah harkat dan martabat, serta mendapat
di bawah umur disertai adanya dispensasi perlindungan dari kekerasan dan deskriminasi.
dengan adanya izin dari pengadilan atau Perkawinan di bawah umur
pejabat yang kompeten. Undang-Undang dikhawatirkan akan membelenggu hak-hak
Perkawinan disalahkan karena dituding anak dan menghentikan harapan-harapan anak
memberikan toleransi yang besar terhadap untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan
perkawinan di bawah umur. Salah satu yang berprestasi. Terlebih lagi lembaga pernikahan
dipersoalkan Undang-Undang ini adalah Pasal seperti memberi peluang untuk terjadinya
7 ayat (1), yang mengatur tentang batasan usia perkawinan di bawah umur. demgan dalih
pernikahan, yang dikategorikan sebagai usia mempertimbangkan pencegahan hubungan di
anak-anak. luar perkawinan. Walaupun hal ini dalam
Pasal ini jelas-jelas bertentangan perspektif agama merupakan suatu keharusan,
dengan Undang-undang Perlindungan Anak akan tetapi bukan berarti harus mengabaikan
Pasal 1 ayat (1), yang memberikan definisi bahaya serta resiko yang akan di
anak adalah sebelum usia 18 tahun. timbulkannya.
Anak adalah seseorang yang belum berusia Sistem perwalian turut memberikan
18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang konstribusi dalam terjadinya perkawinan di
masih dalam kandungan. (Pasal 1 ayat (1) UU bawah umur berkaitan dengan rukun yang
Perlindungan Anak). Ada 3 hal yang perlu harus di penuhi oleh calon mempelai
dikritisi dari pasal-pasal di atas. Pertama, perempuan. Dengan adanya ketentuan
masalah batas usia perkawinan bagi perwalian ini memberikan peluang bagi anak-
perempuan dalam UU Perkawinan yang terlalu anak perempuan untuk dikawinkan secara
muda dikategorikan sebagai kelompok anak paksa sekalipun melalui institusi dispensasi
merujuk pada UU Perlindungan Anak. Kedua, nikah. Hal ini bertentangan dengan
dengan ditetapkannya batasan usia perkawinan perlindungan hukum terhadap anak yang
16 tahun bagi perempuan dan usia 19 tahun diartikan sebagai perlindungan terhadap
bagi pria, berarti UU Perkawinan memberikan berbagai kebebasan dan hak asasi anak
ruang dan toleransi bagi anak-anak untuk (fundamental rights and freedoms of children)
melakukan perkawinan di bawah umur. Ketiga, serta berbagai kepentingan dengan
Undang-Undang Perkawinan juga memberikan kesejahteraan anak. Sedangkan menurut UU
Kesejahteraan Anak Pasal 9 mengatakan

www.jurnal.ibijabar.org 49
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

bahwa orang tua adalah yang pertama kali dimaksudkan untuk menjamin kehidupan
bertanggungjawab atas terwujudnya anak-anak untuk hidup, tumbuh, berkembang,
kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani dan berprestasi.
maupun sosial. Sebagaimana diketahui, upaya
Persoalan sekarang, kenapa Undang- perlindungan anak didasarkan pada prinsip-
undang Perkawinan mengakomodir batasan prinsip konvensi hak anak-anak yang meliputi
umur anak-anak untuk terciptanya sebuah non diskriminasi, kepentingan yang terbaik
perkawinan?. Ada kalangan yang menilai untuk anak, hak anak untuk hidup, dan
aturan batas usia perkawinan ini memiliki penghargaan terhadap pendapat anak. Isu
kaitan dengan masalah kependudukan, yang perlindungan anak menguat ketika banyaknya
menjadi isu penting saat Undang-undang itu praktek dan peristiwa yang terjadi di dunia
disiapkan, disusun, dan dibuat DPR dan terhadap anak-anak yang dieksploitasi untuk
pemerintah. Dengan adanya batasan usia ini, berbagai kepentingan, termasuk dipekerjakan
Undang-undang perkawinan bermaksud sebagai tenaga kerja yang murah. Isu anak
merekayasa atau menahan laju perkawinan lainnya juga terjadi dalam hal perlakukan yang
yang akan berdampak pada lonjakan diskriminatif terhadap anak, anak-anak yang
penduduk. Sebagaimana diketahui, pemerintah diperjualbelikan, dan isu lainnya. Padahal anak
saat ini berupaya mengendalikan ledakan harus diberi hak hidup, tumbuh, berkembang,
penduduk dengan berbagai cara, termasuk dan berprestasi dalam menjalani
dengan Undang-undang Perkawinan. Jika kehidupannya. Hal ini dimaksudkan agar anak-
batasan usia perkawinan tidak batasi waktu itu, anak menjadi manusia yang memiliki masa
mengakibatkan laju kelahiran yang tinggi dan depan bagi dirinya sendiri sesuai dengan
berakibat kepada kematian ibu. Menurut konsiderans dalam UU Perlindungan Anak
sejarah pembentukan UU Perkawinan, yang poin (b,c)
menjadi dasar pertimbangan batas usia kawin b.bahwa setiap anak berhak atas
tersebut adalah kematangan biologis seseorang kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang
bukan kedewasaannya. Hal ini dimaksudkan serta berhak atas perlindungan dari kekerasan
untuk mengantisipasi berkembangnya dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan
perkawainan dibawah umur, yang banyak dalam Undang-Undang Dasar Negara
terjadi sejak tahun 1920-an. Republik Indonesia Tahun 1945; c. bahwa
Pengaturan usia dalam perkawinan ini anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda
dinilai sudah sesuai dengan prinsip-prinsip penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki
perkawinan yang menyatakan calon suami dan peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga
calon istri sudah matang jiwa dan raganya. wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan
Tujuan ini untuk menciptakan keluarga yang tidak manusiawi yang mengakibatkan
bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia;.
Yang Maha Esa, serta menghasilkan keturunan Dalam pengaplikasian kedua UU ini kita
yang kuat dan sehat. Pada usia 16 tahun bagi dapat menganalisis pada asas hukum lex
perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki, dinilai posterior derogate legi priori dan lex
sudah memiliki kesiapan mental dan jasmani, specialis derogate legi generali. Mengingat
serta sudah memiliki akil baligh sebagaimana asas ini mengatur aturan hukum mana yang
ditekankan ajaran agama. diakui sebagai suatu aturan yang berlaku.
Batasan usia ini kemudian menjadi Artinya, persoalannya bukan berkenaan
persoalan dan isu serius di masyarakat ketika dengan perumusan suatu kebijakan tentang
upaya perlindungan anak mulai hukum (formulation policy), tetapi berkenaan
disosialisasikan. Memang, terdapat perbedaan dengan game-rules dalam penerapan hukum.
kurun waktu yang panjang dari usia Dalam hal ini, asas ini menjadi penting bagi
penyusunan dan pembuatan Undang-Undang penegak hukum apakah suatu peristiwa akan
Perkawinan dengan Undang-undang diterapkan aturan yang ini atau yang itu.
Perlindungan Anak. Semangat yang Diperlukannya harmonisasi antar berbagai
dikampanyekannya pun berbeda, Undang- sistem hukum perkawinan yang berlaku di
Undang Perkawinan dimaksudkan untuk Indonesia agar tantangan legislasi yang timbul
mengendalikan ledakan penduduk, sedangkan akibat disparitas ketentuan hukum dalam
Undang-Undang Perlindungan Anak persoalan perkawinan anak dibawah umur

www.jurnal.ibijabar.org 50
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

dapat dijembatani dengan transnasionalisasi organ reproduksi ibu belum matang secara
hukum dengan menggunakan instrumen HAM biologis, berdampak pada gangguan
yang bisa di jadikan referensi batas usia pertumbuhan dan perkembangan janin.
minimum untuk menikah dalam kajian secara Berdasarkan SDKI tahun 2012 Angka
sosiologis hukum. Dalam hal ini perbedaan Kematian Ibu (AKI) meningkat menjadi
kurun waktu yang panjang dari penyusunan 359/100.000 kelahiran. Angka itu, 5,2 kali
dan pembuatan Undang-Undang Perkawinan lebih tinggi dibandingkan Malaysia 1,2 kali
dengan Undang-Undang Perlindungan Anak lebih tinggi dibandingkan Filipina dan 2,4 kali
dapat dijadikan suatu analisa yang disesuaikan lebih tinggi jika dibandingkan dengan
dengan perkembangan terkini terutama pada Thailand. Sedangkan Angka Kematian Bayi
pasal-pasal yang dapat menjadi celah hukum (AKB) 32/1000 kelahiran hidup. Berdasarkan
bagi terjadinya perkawinan anak di bawah Riskesdas 2010 ibu hamil dengan faktor risiko
umur. 4 terlalu yang dapat meningkatkan angka
Dalam kesehatan, kita merujuk dasar kematian dan kesakitan ibu, yaitu terlalu tua
pemikiran di balik ketentuan usia perkawinan hamil dimana ibu hamil di atas usia 35 tahun
dalam UU Perkawinan yang menitik beratkan sebanyak 27%, terlalu muda untuk hamil
pada aspek biologis dimana melemahkan dimana ibu hamil di bawah usia 20 tahun
pertimbangan yang dikaitkan dengan sebanyak 2,6%, terlalu banyak jumlah anak
kesehatan reproduksi berdasarkan UU No.36 lebih dari 4 sebanyak 11,8% dan terlalu dekat
tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 136 ayat jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun.
(2) Upaya pemeliharaan kesehatan remaja Perkawinan di bawah umur merupakan
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) termasuk salah satu faktor pemicu tingginya AKI dan
untuk reproduksi remaja dilakukan agar AKB disebabkan terlalu muda usia ibu hamil.
terbebas dari berbagai gangguan kesehatan Menurut UNICEF, seorang perempuan yang
yang dapat menghambat kemampuan hamil sebelum usia 18 tahun secara fisik dan
menjalani kehidupan reproduksi secara sehat. mental belum siap untuk melahirkan seorang
Pasal 71 Undang-Undang Nomor 36 Tahun anak. Merujuk pada hasil SDKI 2012 dimana
2009 tentang Kesehatan menyatakan bahwa ASFR mengalami peningkatan dibandingkan 5
kesehatan reproduksi merupakan keadaan tahun yang lalu, Kepala BKKBN Fasli Jalal
sehat secara fisik, mental, dan sosial secara menyatakan bahwa usia kehamilan terlalu
utuh, tidak semata-mata bebas dari penyakit muda biasanya akan berujung pada perceraian,
atau kecacatan yang berkaitan dengan sistem, kekerasan dalam rumah tangga dan
fungsi, dan proses reproduksi pada laki-laki permasalahan kesehatan. Hal ini disebabkan
dan perempuan. Konsep reproduksi sehat yang tingkat emosional masih labil usia karena usia
dikembangkan BKKBN mengatur usia terlalu muda.
melahirkan antara 20-30 tahun, artinya Secara fisik, melahirkan dibawah usia
menunda perkawinan atau melahirkan pertama 20 sangat beresiko bagi seorang perempuan,
sampai usia 20 tahun. Hal ini untuk dimana organ reproduksinya belum kuat untuk
meningkatkan reproduksi wanita dalam masa melahirkan. Hal ini menjadi penyumbang
yang paling optimal untuk proses kehamilan tingginya angka kematian ibu saat melahirkan.
dan persalinan. Mengutip studi literatur Fadlyana dan Larasaty
Undang-Undang Perkawinan mensyaratkan (2009) bahwa anatomi tubuh anak belum siap
bagi perempuan berusia 16 tahun atau lebih untuk proses mengandung maupun melahirkan,
untuk menikah, sehingga peluang nikah dini sehingga dapat terjadi komplikasi berupa
menjadi terbuka lebar dan berpotensi obstructed labour serta obstetric fistula. Data
merugikan kesehatan dari perempuan. Menteri dari UNPFA tahun 2003, memperlihatkan
Kesehatan RI Nila Moeloek yang dikutip 15%-30% persalinan di usia dini disertai
berita Antara (2014) menyatakan bahwa dengan komplikasi kronik, yaitu obstetric
perempuan yang menikah pada usia dini fistula. Lebih lanjut Fadlyana dan Larasaty
rentan mengalami masalah kesehatan yang (2009) menyatakan kehamilan di usia yang
dapat menyebabkan meninggal pada masa sangat muda berkorelasi dengan angka
kehamilan dan persalinan serta dapat kematian dan kesakitan ibu. Disebutkan bahwa
menyebabkan bayi yang dilahirkan menemui anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko
masalah kesehatan. Hal ini disebabkan karena lima kali lipat meninggal saat hamil maupun

www.jurnal.ibijabar.org 51
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 191 negara. Indonesia sebagai anggota PBB
tahun, sementara risiko ini meningkat dua kali telah meratifikasi dengan Kepres Nomor 36
lipat pada kelompok usia 15-19 tahun. Hasil tahun 1990. Dengan demikian Konvensi PBB
penelitian Godha et al (2011) menyatakan tentang Hak Anak tersebut telah menjadi
bahwa terdapat hubungan signifikan antara hukum Indonesia dan mengikat seluruh warga
pernikahan dibawah umur dengan penurunan negara Indonesia. Secara umum Komisi Hak-
kesuburan, rendahnya penggunakan fasilitas Hak Asasi Manusia menetapkan rencana aksi
pelayanan kesehatan ibu dan anak serta untuk pengapusan praktik-praktik tradisi yang
meningkatnya masalah kesehatan ibu. Hasil mempengaruhi kesehatan perempuan anak-
penelitian Raj & Boehmer (2013) menyatakan anak. Negara-negara berkewajiban untuk
bahwa negara dengan angka pernikahan memperbaiki sikap sosial dan budaya yang
dibawah umur tinggi berpotensi meningkatkan bertujuan untuk menghilangkan praktik-praktik
angka kematian ibu dan bayi serta yang didasarkan pada pandangan yang
menggambarkan rendahnya tingkat pelayanan merendahkan atau melemahkan kaum
kesehatan ibu. minoritas, khususnya anak-anak.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Adapun ketentuan pidana dalam yang
tentang Kesehatan Reproduksi No. 61 tahun tercantum dalam KUHP berkaitan dengan
2014 bahwa setiap perempuan berhak pernikahan anak di bawah umur terdapat
mendapatkan pelayanan kesehatan ibu untuk dalam KUHP Pasal 288 ayat (1) barang siapa
mencapai hidup sehat dan mampu melahirkan bersetubuh dengan seorang wanita di dalam
generasi yang sehat dan berkualitas serta pernikahan, yang diketahui atau sepatutnya
mengurangi angka kematian ibu. Tenaga harus di duga bahwa sebelum mampu dikawin,
kesehatan dalam hal ini seorang bidan, harus diancam, apabila perbuatan mengakibatkan
memberikan pelayanan kesehatan masa luka-luka, dengan pidana penjara paling lama
sebelum hamil yang merupakan kegiatan empat tahun. Selanjutnya ayat (2) jika
ditujukan pada perempuan sejak saat remaja perbuatan mengakibatkan luka-luka berat,
hingga saat sebelum hamil dalam rangka dijatuhkan pidanan paling lama delapan
menyiapkan perempuan menjadi hamil sehat tahun1. Selanjutnya ayat (3) jika
sesuai dengan perkembangan mental dan fisik. mengakibatkan mati dijatuhkan pidanan
Pelayanan kesehatan reproduksi pada remaja penjara paling lama duabelas tahun.
atau anak dibawah umur bertujuan untuk. Walaupun ketentuan pidanan sudah jelas, tetapi
mempersiapkan remaja menjalani kehidupan sampai saat ini jarang bahkan tidak pernah
reproduksi sehat dan bertanggung jawab terdengar adanya kriminalisasi terhadap
Pernikahan di bawah umur yang perbuatan tersebut.
menjadi faktor penyumbang tinggi angka
kematian ibu, perlu segera dibuat regulasi SIMPULAN
tentang Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP)
pada remaja di perkotaan ataupun pedesaan. Kesimpulan yang dapat diambil dari
Mayoritas Negara telah mendeklarasikan pembahasan dalam penelitian ini adalah
bahwa usia minimal yang dilegalkan untuk sebagai berikut:
menikah adalah 18 tahun yang merupakan 1. Adanya legalitas hukum perkawinan anak
implementasi kebijakan Konvensi Hak-Hak dibawah umur.
Anak pada tahun 1989. Godha et al (2011) 2. Konsep perwalian yang menyatakan wali
merekomendasikan diperkuat undang-undang sebagai penentu perkawinan.
yang lebih ketat terhadap pernikahan anak dan 3. Konsep dasar dikeluarkannya UU
peningkatan program kesehatan reproduksi Perkawinan dan UU Perlindungan Anak
untuk mencapai kesehatan perempuan secara bertolak belakang dalam hal tujuan, yang
optimal. menyebabkan disparitas dalam penerapan
Dalam perspektif HAM, anak sosiologi hukum dan dampak aplikatif
mempunyai hak yang bersifat asasi. Instrumen terhadap kesejahteraan anak.
hukum yang mengatur perlindungan hak-hak 4. Perkawinan di bawah umur meningkatkan
anak diatur dalam konvensi PBB tentang Hak- angka kematian ibu dan bayi serta
Hak Anak (Convention on The Rights of The gangguan kesehatan reproduksi.
Child) tahun 1989, telah diratifikasi oleh lebih
1

www.jurnal.ibijabar.org 52
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

5. Perkawianan di bawah umur merupakan Raj, A., Boehmer, U. (2013). Girl Child
praktik tradisi berbahaya yang Marriage and Its Association With National
mempengaruhi kesehatan perempuan dan Rates of HIV, Maternal Health, and Infant
anak. Mortality Across 97 Countries. University of
California, San Diego, Division of Global
DAFTAR PUSTAKA Public Health, Department of Medicine,
Fadlyana,E., Larasaty, S. (2009). Pernikahan University of California, San Diego. Diakses
Usia Dini dan Permasalahannya .Bagian Ilmu dari:
Kesehatan Anak FK Universitas Padjajaran/RS http://vaw.sagepub.com/content/19/4/536.shor
Dr Hasan Sadikin Bandung, Sari Pediatri
2009;11(2):136-41). Diakses dari Ramadhan, H. (2013). Meningkatnya Angka
http://saripediatri.idai.or.id/ Pernikahan Dini di Perkotaan.
http://www.jurnalperempuan.org
Godha D., Hotchkiss D., Gage A.(2011). The
Influence of Child Marriage on Fertility, Radha,D. (2007). CEDAW: Mengembalikan
Fertility Kontrol and Maternal Heath Care Hak Perempuan. Jakarta: SMK Grafika Desa
Utilization: a multicountry study from South Putera.
Asia. Chapel Hill, North Carolina, University
of North Carolina at Chapel Hill, Carolina Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang
Population Center. MEASURE Evaluation Perkawinan
PRH. Diakses dari:
http://www.popline.org/node/551715 Undang-Undang Nomor 4 tahun 1979
tentang Kesejahteraan Anak
Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
Undang-Undang Nomor 39 tahun 1999
Hanafi,Y. (2011). Kontroversi Perkawinan tentang Hak Asasi Manusia
Anak di Bawah Umur. Bandung: Mandar
Maju. Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan
Hardiman, F.B. (2011). Hak-Hak Asasi
Manusia: Polemik dengan Agama dan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2014
Kebudayaan. Yogyakarta: Kanisius. tentang Perlindungan Anak

Muhamad, A.K. (2004). Hukum dan Penelitian Waluyadi. (2009). Hukum Perlindungan Anak.
Hukum. Bandung: Citra Adia Bakti. Bandung: Mandar Maju.

MK tolak naikkan batas usia minimal untuk Widanti, A. (2005). Hukum Berkeadilan
menikah.(2015). diakses dari: Jender. Jakarta: Buku Kompas.
http://www.bbc.com/indonesia/berita_i
ndonesia/2015/06/150618_indonesia_m
k_nikah

Menkes Mendorong revisi UU Perkawinan.


(2015). Diakses dari :
http://www.hukumonline.com/berita/

Pernikahan Anak: Status Anak


Perempuan?. (2015). Diakses dari
http://www.jurnalperempuan.org

Peraturan Pemerintah No. 61 tahun 2014


tentang Kesehatan Reproduksi

www.jurnal.ibijabar.org 53