Anda di halaman 1dari 9

Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No.

1, Januari 2015 pISSN 2477-3441


eISSN 2477-345X

GAMBARAN PENYEBAB KEMATIAN BAYI DI RSUD BANJAR


PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2014

Chanty Yunie Hartiningrum, S.SiT, M.Kes1


1
STIKes RESPATI TASIKMALAYA, Jl. Raya Singaparna KM 11 Cikunir-Tasikmalaya-Jawa Barat 46418,
Indonesia

ABSTRAK

Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia masih jauh dari target yang harus dicapai tahun 2015 sesuai
kesepakatan sasaran MDGs. Data yang diperoleh dari RSUD Banjar angka kematian bayi pada tahun 2010 mencapi 187 bayi,
pada tahun 2011 mencapai 171 bayi, pada tahun 2012 mencapai 224 bayi, sedangkan untuk tahun 2013 mencapai 207 bayi .
Berbagai faktor yang berkontribusi terhadap tingginya kematian ibu dan kematian bayi. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk menggambarkan faktor yang menyebabkan kematian bayi berdasarkan faktor bayi dan faktor ibu di Rumah Sakit
Banjar Propinsi Jawa Barat. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan metode deskriftif. Populasi dalam
penelitian ini adalah bayi baru lahir yang meninggal, sampel sebanyak 52 bayi dengan menggunakan teknik total sampling.
Data dianalisis menggunakan analisis univariat. Hasil penelitian menunjukkan kasus kematian bayi berdasarkan faktor bayi
diantaranya oleh IUFD sebanyak 67 kasus (45,89 %), akibat prematur sebanyak 32 kasus (21,92 %), asfiksia sebanyak 46
kasus (31,51 %), sepsis sebanyak 20 kasus (13,70 %), gemeli sebanyak 14 kasus (9,59 %), persalinan spontan sebanyak 48
kasus (92,31 %), riwayat penyakit yang dialami ibu sebanyak 22 kasus (42,31 %), usia ibu 20-35 tahun pada kematian bayi
sebanyak 33 kasus (63,46 %) dan paritas ibu multipara sebanyak 35 kasus (67,31 %). Kesimpulan dari penelitian ini adalah
gambaran penyebab yang berpengaruh terhadap kematian bayi diantaranya adalah IUFD, prematur, asfiksia, sepsis, dan
riwayat penyakit ibu. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan bahan acuan dan pembanding untuk perbaikan status
kesehatan terutama kesehatan yang berhubungan dengan masalah kematian bayi.
Kata Kunci : IUFD, Prematur, Asfiksia, Sepsis, Gemeli, Jenis Persalinan, Riwayat Penyakit, Umur, Paritas.

DESCRIPTION OF CAUSES OF INFANT MORTALITY IN BANJAR HOSPITAL


WEST JAVA PROVINCE 2014

ABSTRACT
Ratio Maternal Mortality Rate (MMR) and Infant Mortality Rate (IMR) in Indonesiais still far from the targets to be achieved
by 2015 as agreed millennium development goals, but in Indonesia is stillin the effort todecrease. Artifact sare many factors
that contribute to maternal mortalityin height and infant mortality. These factors can be identified, among others, factor
srelated to infant and maternal factors. The aim of this study is to describe the factors that cause infant mortality caused by
factorsin fant and maternal factorsin Banjar Hospital West Java. This research usesdescriptiv equantitative research
methods. The population is allinfants who die,the sample amounted to 52 babies with sampling using total sampling
technique. Data were analyzed using univariate data analysis. The result showed that the causes of infant mortality by a
factor of babyis a picture of the causes of infant deaths caused by IUFD31 cases (56.62%), premature 14 cases (26.92%),
asphyxia 12 cases (23.08%), sepsis 5 cases (9.62%), gemeli 10 cases (19.23%), the type of spontaneous labor 48 cases
(92.31%), history of illness experienced by mothers 22 cases (42.31%), maternal age 20-35 in 33 cases(63.46%),
andmaternalparitymultipara35 cases(67.31%). The conclusions of this studyisan over view causes that affect tinfant
mortality in clued IUFD, preterm, asphyxia, sepsis, anda history of maternal disease. This study is expected to beused as a
reference and comparison for improving health status, especially health-related problems of infant mortality.
Keyword : IUFD, Premature, asphyxia, sepsis, Gemeli, Type Delivery, Disease history, Age, Parity.

www.jurnal.ibijabar.org 8
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

PENDAHULUAN bayi di rumah sakit tersebut mengalami


peningkatan dari tahun 2010-2013. Kematian
Angka Kematian bayi di Indonesia bayi tahun 2010 angka kematian bayi mencapi
masih tinggi dibandingkan dengan negara 187 bayi, pada tahun 2011 mencapai 171 bayi,
berkembang lainnya. Angka Kematian Bayi pada tahun 2012 mencapai 224 bayi,
(AKB) adalah jumlah kematian bayi dalam sedangkan untuk tahun 2013 mencapai 207
usia 28 hari pertama kehidupan per 1000 bayi. Di sini dapat terlihat angka kematian bayi
kelahiran hidup. Angka ini merupakan salah di RSUD Banjar pada tahun 2010 dan 2011
satu indikator derajat kesehatan bangsa. ada penurunan tetapi pada tahun 2012 ada
Tingginya angka Kematian bayi ini dapat kenaikan yang sangat signifikan, namun
menjadi petunjuk bahwa pelayanan maternal kematian bayi pada tahun 2013 mengalami
dan noenatal kurang baik, untuk itu dibutuhkan penurunan. Berdasarkan uraian diatas,
upaya untuk menurunkan angka kematian bayi penelitian ini mengkaji masalah kematian bayi
tersebut (Saragih, 2011). berdasarkan faktor bayi dan faktor ibu di
Angka Kematian Ibu dan Angka RSUD Banjar Proinsi Jawa Barat pada tahun
Kematian Bayi di Indonesia masih jauh dari 2014.
target yang harus dicapai tahun 2015 sesuai
kesepakatan sasaran pembangunan millenium, METODOLOGI PENELITIAN
namun di Indonesia saat ini masih dalam upaya
penurunan. Hasil Survei Demografi Kesehatan Metode penelitian yang digunakan
Indonesia (SDKI) tahun 2012 angka kematian adalah penelitian deskriptif yang
bayi sebesar 32 kematian per 1.000 kelahiran menggambarkan faktor penyebab kematian
hidup. Angka itu hanya turun sedikit dari AKB bayi. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli
SDKI 2007 yaitu 34 per 1.000 kelahiran hidup. 2015 dengan pengambilan lokaso di RSUD
Angka Kematian Bayi (AKB) masih jauh dari Banjar Propinsi Jawa Barat. Populasi dalam
target yang harus dicapai pada tahun 2015 penelitian ini adalah bayi baru lahir yang
sesuai dengan kesepakatan Sasaran meninggal di RSUD Banjar Tahun 2014
Pembangunan Millenium yaitu sebesar 23 per dengan jumlah 52 bayi, data tersebut
1000 kelahiran hidup. Dan untuk Angka merupakan data bayi meninggal yang lahir di
Kematian Ibu sendiri mencapai 359/100.000 RSUD Banjar dengan pengambilan sampel
kelahiran hidup. (Pedoman Pelayanan dengan teknik total sampling.
Antenatal Terpadu edisi kedua Kementrian Data diperoleh dengan cara merekap
Kesehatan RI tahun 2012). dari tahunan yang sudah tersedia di rekam
Tedapat banyak faktor yang medik RSUD Banjar tahun 2014 melalui
berkontribusi terhadap tinginya angka format checklist mengenai kematian bayi yang
kematian ibu dan angka kematian bayi. Faktor- disebabkan oleh faktor bayi dan ibu, kemudian
faktor tersebut dapat didentifikasi antara lain data tersebut diolah melalui beberapa tahapan
berkaitan dengan faktor langsung penyebab yaitu pengeditan data, tabulasi data,
dari bayi dan faktor penyebab langsung dari selanjutnya dianalisis dengan distribusi
ibu, untuk faktor penyebab langsung dari bayi frekuensi.
antara lain BBLR, Asfiksia, tetanus, masalah
gangguan pemberian ASI, Masalah infeksi dan HASIL DAN PEMBAHASAN
lain-lain (Maryunani, 2013) sedangkan untuk
faktor penyebab langsung dari ibu antara lain Adapun penyebab kematian bayi di
ibu jarang memeriksakan kandungannya ke RSUD Banjar Propinsi Jawa Barat dapat
bidan, hamil di usia muda, jarak yang terlalu dilihat pada tabel berikut:
sempit, hamil di usia tua, kurangnya asupan
gizi bagi ibu dan bayinya; makanan yang Tabel 1 Kematian Bayi Berdasarkan
dikonsumsi ibu tidak bersih (Fauziyah, 2011). Faktor Bayi
RSUD Banjar merupakan rumah sakit Faktor bayi F %
pendidikan milik pemerintah daerah yang IUFD
berada di Propinsi Jawa Barat. Kasus kematian Ya 67 45,89
Tidak 79 54,11

www.jurnal.ibijabar.org 9
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

Faktor bayi F % Kematian bayi karena asfiksia yakni


Jumlah 146 100,00 sebanyak 31,51 %. Asfiksia merupakan salah
Prematur satu penyakit yang mempunyai dampak buruk
Ya 32 21,92 terhadap kelangsungan hidup bayi.Asfiksia ini
Tidak 114 78,08 disebabkan karena kekurangan oksigen dan
Jumlah 146 100,00 dapat menyerang pada bayi sehingga pada
Asfiksia
akhirnya dapat menyebakan kematian bayi.
Ya 46 31,51
Tidak 100 68,49
Penyebab kematian yang paling cepat
Jumlah 146 100,00 pada neonatus adalah asfiksia. Asfiksia
Gemeli perinatal merupakan penyebab mortalitas dan
Ya 14 9,59 morbiditas yang penting. Akibat jangka
Tidak 132 90,41 panjang, asfiksia perinatal dapat diperbaiki
Jumlah 146 100,00 secara bermakna jika gangguan ini diketahui
Sepsis sebelum kelahiran sehingga dapat diusakan
Ya 20 13,70 perbaikan sirkulasi atau oksigenasi janin
Tidak 126 86,30 intrauterine atau segera melahirkan janin untuk
Jumlah 146 100,00 mempersingkat masa hipoksemia janin yang
terjadi.
Kematian bayi karena IUFD sebanyak Kematian bayi yang mengalami gemeli
45,89%, hal ini mengindikasikan bahwa IUFD yakni sebanyak 9,59 %. Data tersebut
merupakan salah satu faktor yang dapat menunjukkan bahwa gemeli merupakan salah
menyebabkan kematian pada bayi baru lahir. satu faktor yang dapat menyebabkan bayi
Kematian pada bayi baru lahir yang mengalami kematian.Gemeli ini dapat
diakibatkan oleh IUFD dapat dipahami karena memeberikan resiko yang lebih tinggi terhadap
bayi sebenarnya telah mengalami kematian ibu dan janin.Oleh karena itu, dalam
sejak dalam kandungan sehingga bayi tersebut menghadapi kehamilan ganda harus dilakukan
akan mengalami kematian pula pada saat perawatan antenatal yang intensif.
dilahirkan. Menurut Wiknjosastro (2010) pada
Kematian akibat prematur yakni kehamilan kembar distensi uterus berlebihan,
sebanyak 21,92 %. Persentase angka kejadian sehingga melewati batas toleransi dan
prematur yang dialami bayi meninggal tersebut seringkali terjadi putus
menunjukkan bahwa sebagian kecil dari bayi prematurus.Pertumbuhan janin kehamilan
yang mengalami kematian adalah bayi yang kembar tergantung dari faktor plasenta apakah
kurang bulan berdasarkan usia kehamilannya. menjadi satu (kembar monozigotik) atau
Peneliti berpendapat bahwa bayi bagaiman lokalisasi implantasi
prematur adalah kelahiran bayi pada saat masa plasentanya.Kedu faktor tersebut mungkin
kehamilan kurang dari 259 hari dihitung dari terdapat jantung salah satu janin lebih kuat dari
hari terakhir haid ibu. Bayi prematur yang lainnya. Sehingga janin yang mempunyai
ukurannya kecil, kepalanya terlihat besar untuk jantung lemah mendapat nutrisi yang kurang
tubuhnya yang kecil. Refleknya masih buruk, menyebabkan pertumbuhan terhambat sampai
demikian juga tonus ototnya terutama otot kematian janin dalam rahim
polos di saluran cerna dan di sistem kemih Kematian bayi yang mengalami sepsis
belum siap menunaikan fungsinya. yakni sebanyak 13,70 %. Data tersebut
Kematian bayi yang dialami oleh bayi menunjukkan bahwa sebagian kecil kematian
prematur dapat dipahami oleh peneliti sebab bayi adalah bayi yang mengalami sepsis.
bayi prematur memiliki resiko cukup tinggi Menurut Ida Ayu (2012) gejala klinis
terhadap kematian bayi. Bayi yang lahir dari sepsis dapat berupa malas minum, bayi
prematur sebenarnya belum siap secara usia tertidur , tampak gelisah, bernapas cepat, berat
untuk dilahirkan sehingga kesiapan untuk badan cepat menurun, terjadi diare dengan
hidup diluar rahim belum terpenuhi dan menifestasinya,panas badan bervariasi dapat
akibatnya bayi yang lahir prematur tersebut meningkatkan menurun atau dalam batas
mempunyai resiko mengalami kematian bayi. normal, pergerakan makin menurun dan pada

www.jurnal.ibijabar.org 10
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

pemeiksaan mungkin dijumpai seperti bayi tersebut, terlihat bahwa sebagian kecil
berwarna kuning ada pembesaran hati dan kematian bayi baru lahir akibat dari proses
limpe bercak darah di bawah kulit dan kejang- persalinan dengan SC maupun dengan vakum.
kejang. Pada persalinan dengan bedah sesar
bayi yang lahir seringkali mengalami masalah
Kematian Bayi Berdasarkan Faktor Ibu bernapas untuk pertama kalinya. Sering pula
sang bayi terpengaruh pengaruh obat bius yang
Tabel 2 Distribusi Frekuensi Kematian diberikan kepada sang ibu, sehingga dari
Bayi Berdasarkan Faktor Jenis kesulitas bernafas bayi dapat mengalami
Persalinan Ibu kekurangan oksigen yang berdampak pada
Jenis Persalinan F % kematian.
Spontan 48 92,31 Tabel 3 Distribusi Frekuensi Kematian
Buatan (Operasi caesar, 4 7.69 Bayi Berdasarkan Faktor Riwayat
Vacum ekstraksi) Penyakit Ibu
Persalinan anjuran 0 0 Riwayat Penyakit F %
Jumlah 52 100,00 Diabetes melitus 2 3,85
Pre eklampsia/ eklampsia 4 7,69
Kematian bayi yang dilahirkan dengan Anemia 12 23,08
persalinan spontan sebanyak 92,31%. Hipertensi 3 5,77
Walaupun secara teori persalinan spontan tidak Riwayat prematur pada 1 1,92
memiliki komplikasi ataupun persalinan tanpa kehamilan sebelumnya
buatan ini tidak dapat menyebabkan kematian Tidak memiliki riwayat 30 57,69
pada bayi. penyakit
Namun dari hasil penelitian, data Jumlah 52 100,0
rekam medis menunjukkan mayoritas Kematian bayi baru lahir yang
persalinan adalah spontan sehingga menurut diakibatkan oleh diabetes mellitus sebanyak 2
asumsi peneliti, ada faktor lain yang dapat kasus (3,85%). Menurut analisis peneliti,
menyebabkan kematian pada bayi baru lahir diabetes pada kehamilan mengakibatkan
baik dari faktor bayi sendiri maupun faktor ibu. Insufisiensi plasenta sehingga dapat
Seperti faktor persalinan dengan buatan seperti menyebabkan kematian janin dalam rahim. Hal
SC dan ekstraksi vakum. ini sesuai dengan teori Brunner and Suddarth
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (2001) diabetes mellitus merupakan
dalam proses persalinan spontan komplikasi sekelompok kelainan kadar glukosa dalam
pada bayi tetap dapat terjadi atau dengan kata darah atau hiperglikemia. Pada Diabetes
lain ibu maupun bayi tetap mengalami resiko Mellitus, kemampuan tubuh untuk bereaksi
yang dapat meningkatkan kesakitan dan terhadap insulin dapat menurun, atau pankreas
kematian. Salah satu resiko pada bayi adalah dapat menghentikan sama sekali produksi
asfiksia dimana bayi mengalami penekanan insulin. Kematian pembuluh darah ke uterus
saatterjadi mekanisme persalinan berlangsung, dan plesenta sehingga meningkatkan
meliputi engagement, penurunan kepala, insufisiensi uteroplasma, yang mengakibatkan
fleksi, rotasi dalam, ekstensi, rotasi luar kematian janin.
danekspulsi (Sumarah, 2009). Hasil penelitian diperoleh kematian
Kasus kematian pada persalinan bayi baru lahir akibat preklampsia sebanyak 4
spontan juga dapat disebabkan oleh adanya kasus (7,69%). Menurut analisis peneliti,
faktor maternal (hipotensi, syok maternal, preklampsia sebagai suatu keadaan dimana
malnutrisi), faktor uterus (kontraksi plasenta terjdi pengapuran akibat kadar garam
memanjang, gangguan vaskuler), faktor tali tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan janin
pusat (prolapsus dan penumbungan tali pusat), tehambat bahkan menyebabkan kematian.
dan faktor plasenta (degenerasi Kematian akibat anemia sebanyak 12
vaskuler,solusio plasenta). (JNPK-KR, 2012) kasus (23,08%). Melihat data tersebut, peneliti
Kemudian sebanyak 4 kasus (7,36%) berpendapat bahwa ibu yang mengalami
adalah persalinan dengan operasi caesar dan anemia memiliki resiko mengalami kematian
vacum ekstraksi. Menurut data tersebut pada neoantal dan perinatal.Hal ini disebabkan

www.jurnal.ibijabar.org 11
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

karena anemia dapat menyebabkan ibu Secara teori ibu yang tidak memiliki penyakit
mengalami defisiensi zat besi dan kurang selama kehamilan tidak beresiko atau
energi kronik. Sehingga Bayi yang dilahirkan menyebabkan kematian bayi baru lahir.Namun
dengan prematur, menghambat pada kenyataan dilapangan menunjukkan mayoritas
pertumbuhan janin dalam kandungan, kematian bayi dilahirkan dari ibu yang tidak
perdarahan pada persalinan memiliki penyakit selama kehamilan.
Benson (2009) mengemukakan potensi
pertumbuhan janin akan terhambat akibat Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kematian
berkurangnya fungsi plasenta. Selain itu Bayi Berdasarkan Faktor Proses
gangguan maternal akibat perfusi plasenta Persalinan Ibu
diantaranya mencakup anemia, hipertensi, Proses Persalinan F %
preeklampsia malnutrisi yang pada akhirnya Partus Lama 2 3,85
terdapat kemungkinan adanya potensi Ketuban Pecah Dini 5 9,62
pertumbuhan terhambat. Kala II Lama 7 13,46
Kasus kematian bayi lahir yang Tidak 38 73,08
Jumlah 52 100,00
disebabkan oleh hipertensi dalam kehamilan
sebanyak 3 kasus (5,77%). Penyakit hipertensi
dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler Partus lama memberikan kontribusi
yang terjadi sebelum kehamilan atau timbul sebanyak 2 kasus (3.85%) menyebabkan
dalam kehamilan atau pada permulaan kematian pada bayi baru lahir. Dengan
persalinan, hipertensi dalam kehamilan demikian, menurut analisis peneliti dampak
menjadi penyebab penting dari kelahiran mati partus lama pada bayi adalah dapat merugikan,
dan kematian neonatal. Ibu dengan hipertensi apabila panggul sempit dan juga terjadi
akan menyebabkan terjadinya insufisiensi ketuban pecah lama serta infeksi intra uterus.
plasenta, hipoksia sehingga pertumbuhan janin Infeksi intrapartum bukan saja merupakan
terhambat dan sering terjadi kelahiran penyulit yang serius pada ibu, tetapi juga
prematur. merupakan penyebab penting kematian janin
Kematian bayi baru lahir akibat riwayat dan neonatus. Hal ini sesuai dengan Sulaiman
persalinan prematur sebelumnya sebanyak 1 (2010) yang mengatakan bahwa dampak partus
kasus. Menurut analisis peneliti.Ibu yang lama pada bayi adalah partus lama dapat
pernah melahirkan bayi prematur memberikan merugikan, apabila panggul sempit dan juga
kontribusi terhadap angka kematian bayi baru terjadi ketuban pecah lama serta infeksi intra
lahir walaupun dalam jumlah yang sedikit. uterus. Infeksi intrapartum bukan saja
Hal ini sesuai dengan teori yang merupakan penyulit yang serius pada ibu,
mengatakan bahwa riwayat persalinan seorang tetapi juga merupakan penyebab penting
ibu yang melahirkan akan berpengaruh pada kematian janin dan neonatus.
kehamilan berikutnya dimana seorang wanita Sebanyak 5 kasus (9,62%) kematian
yang pernah melahirkan bayi prematur, bayi diakibatkan oleh ketuban pecah dini.
memiliki risiko yang lebih tinggi untuk Ketuban pecah dini (KPD) didefinisikan
melahirkan bayi prematur pada kehamilan sebagai pecahnya ketuban sebelum waktunya
berikutnya. Seorang wanita yang pernah melahirkan. Hal ini dapat terjadi pada akhir
melahirkan bayi dengan berat badan kurang kehamilan maupun jauh sebelum waktunya
dari 1,5 kg, memiliki risiko sebesar 50% untuk melahirkan. KPD preterm adalah KPD
melahirkan bayi prematur pada kehamilan sebelum usia kehamilan 37 minggu. KPD yang
berikutnya. Seorang wanita yang pernah memanjang adalah KPD yang terjadi lebih dari
mengalami persalinan prematur pada 12 jam sebelum waktunya melahirkan
kehamilan sebelumnya berkorelasi erat dengan (Wiknjosastro, 2010).
prematur pada kehamilan selanjutnya (Varney, Dengan demikian dampak dari ketuban
2012) pecah dini adalah kemungkinan infeksi dalam
Kematian bayi yang tidak mempunyai rahim dan persalinan prematuritas yang dapat
riwayat penyakit yang berhubungan dengan mengakibatkan morbiditas dan mortalitas ibu
persalinan sebanyak 30 kasus (57,69%). dan bayi. Kala II lama memberikan kontribusi
terhadap kematian bayi baru lahir sebanyak 7

www.jurnal.ibijabar.org 12
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

kasus (13,46%), hal ini mengindikasikan dari disebabkan oleh faktor lain atau komplikasi
faktor penyebab proses persalinan, kala II lama lain baik dari ibu maupun bayi yang dilahirkan.
menyebabkan kematian bayi baru lahir Selanjutnya pada usia terlalu mudan
terbesar. Kala II lama dapat disebabkan karena dan terlalu tua menunjukkan faktor ibu juga
inersia uteri, panggul sempit dan bayi besar. dapat menjadi penyebab kematian bayi,
Hal ini sesuai dengan (Harjono, 2011) yang misalnya umur si ibu (terlalu tua dan terlalu
mengatakan pemanjangan kala II (prolonged muda), jumlah anak, jarak kelahiran anak,
expulsive phase) atau disebut juga partus tak salah persepsi tentang kolostrum. Sedangkan
maju adalah suatu persalinan dengan his yang faktor-faktor yang secara tidak langsung
adekuat namun tidak menunjukkan kemajuan menyebabkan kematian bayi berupa kurangnya
pada pembukaan serviks, turunnya kepala dan kesadaran masyarakat bahwa melahirkan
putaran paksi selama 2 jam terakhir. Biasanya berisiko terhadap ibu dan bayi.
persalinan pada primi tua dapat terjadi lebih Walaupun usia bukan faktor langsung
lama. dari kematian perinatal dan neonatal namun,
Hasil penelitian yang dilakukan dari karakteristik usia ibu yang terlalu muda
sebanyak 38 kasus (73,08 %) bayi yang ataupun terlalu tua dapat berisiko melahirkan
meninggal dilahirkan dari ibu yang tidak bayi dengan berat badan lahir rendah/BBLR <
memiliki riwayat persalinan atau tidak partus 2500 gram bahkan kematian. Pada ibu yang tua
lama, tidak KPD dan tidak kala II lama. meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi
Menurut analisis peneliti, proses persalinan kondisi badannya serta kesehatannya sudah
yang dialami oleh ibu dapat berpengaruh mulai menurun sehingga dapat mempengaruhi
terhadap kematian bayi. namun kenyataan di janin intra uterin dan dapat menyebabkan
lapangan mayoritas bayi dilahirkan dari ibu kelahiran prematur, dan komplikasi pada bayi.
dengan riwayat persalinan yang normal.
Menurut asumsi peneliti, ada faktor lain yang Tabel 6 Distribusi Frekuensi Kematian
dapat menyebabkan kematian pada bayi baru Bayi Berdasarkan Faktor Paritas
lahir baik dari faktor bayi sendiri maupun Ibu
faktor ibu yang terdapat dalam penelitian ini Paritas Jumlah Persentasi
Primipara 12 23,08
Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kematian Multipara 35 67,31
Bayi Berdasarkan Faktor Usia Ibu Grande 5 9,62
Usia F % Jumlah 52 100,00
< 20 tahun 2 3,85
20-35 tahun 33 63,46 Tabel 6 menunjukkan bahwa sebanyak
> 35 tahun 17 32,69 23,08 % ibu yang mengalami kematian bayi
Jumlah 52 100,00 adalah ibu dengan paritas primipara, ibu
dengan paritas multipara sebanyak 67,31 %,
Hasil penelitian menunjukkan dari 52 dan ibu dengan paritas grande sebesar 9,62 %.
kasus kematian bayi diketahui bahwa Paritas tinggi merupakan salah satu
berdasarkan usia ibu sebanyak 3,85 % terjadi faktor tidak langsung dalam memberikan
pada ibu berusia kurang dari 20 tahun, kontribusi angka kematian pada bayi. Hal ini
sebanyak 63,46 % pada ibu berusia 20-35 disebabkan karena jumlah anak lebih dari tiga
tahun, dan sebanyak 32,69 % terjadi pada ibu orang merupakan penyebab kehamilan dan
berusia lebih dari 35 tahun. persalinan menjadi beresiko tinggi. Ibu yang
Hasil penelitian ini berbeda dengan telah melahirkan banyak anak rahimnya sudah
teori bahwa usia ini adalah usia reproduksi sangat elastis sehingga memungkinkan
yang sehat. Namun kenyataan dilapangan timbulnya berbagai komplikasi baik pada
bahwa kematian bayi sebagian besar dilahirkan kehamilan dan persalinan.
dari ibu yang berusia reproduksi sehat. Dengan Hasil penelitian yang dilakukan di
demikian, usia 20-35 tahun merupakan rendah Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Mohammad
namun tidak dapat menjamin bahwa ibu dan Hoesin Palembang tahun 2009, sejalan dengan
bayi terhindar dari resiko. Hal ini dapat penelitian Melly Astuti (2008), yang
menjelaskan bahwa penelitian tersebut ada
www.jurnal.ibijabar.org 13
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

kesamaan dimana ibu mempunyai paritas pertumbuhan terhambat sampai kematian


tinggi lebih banyak melahirkan BBLR. Hal janin dalam rahim
tersebut dimungkinkan alat alat reproduksi 6. Kematian bayi yang disebabkan oleh jenis
yang sudah menurun, dan sel sel otot yang persalinan spontan dapat dipengaruhi oleh
mulai melemah sehingga ibu memiliki paritas faktor lain yang dapat menyebabkan
tinggi dengan kejadian BBLR. Hal ini juga kematian pada bayi baru lahir baik dari
sesuai dengan Wiknjosastro (2010) yang faktor bayi sendiri maupun faktor ibu
mengatakan bahwa multigraviditas atau paritas 7. Kematian bayi yang disebabkan oleh
tinggi merupakan salah satu dari penyebab riwayat penyakit dimana paling banyak
terjadinya kasus ketuban pecah sebelum adalah anemia. Komplikasi anemia pada
waktunya. Paritas 2-3 merupakan paritas bayi adalah pertumbuhan terhambat,
paling aman ditinjau dari sudut kematian. prematur, kematian janin dalam
Paritas 1 dan paritas tinggi (lebih dari 3) kandungan.
mempunyai angka kematian maternal lebih 8. Kematian bayi lebih banyak pada ibu
tinggi, risiko pada paritas 1 dapat ditangani berusia ibu 2035 tahun, hal ini dapat
dengan asuhan obstetrik lebih baik, sedangkan disebabkan oleh adanya komplikasi pada
risiko pada paritas tinggi dapat ibu maupun bayi.
dikurangi/dicegah dengan keluarga berencana. 9. Kematian bayi lebih banyak dilahirkan
pada paritas ibu multipara. Hal ini
SIMPULAN disebabkan karena jumlah anak lebih dari
Berdasarkan hasil penelitian yang telah tiga orang merupakan penyebab kehamilan
dilakukan oleh peneliti terhadap kasus dan persalinan menjadi beresiko tinggi.
kematian bayi maka peneliti membuat
kesimpulan sebagai berikut :
1. Penyebab kematian bayi yang disebabkan DAFTAR PUSTAKA
oleh IUFD, karena bayi sebenarnya telah
mengalami kematian sejak dalam Ambarawati, E.R dan Risminati, Y.S. 2009.
kandungan sehingga bayi tersebut akan Asuhan Kebidanan Komunitas.Yogjakarta:
mengalami kematian pula pada saat Nuha Medika.
dilahirkan
2. Kematian bayi yang disebabkan oleh Amiruddin,R dan Hasmi. 2014. Determinan
prematur karena bayi yang lahir prematur Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta: Trans Info
belum siap secara usia untuk dilahirkan Media.
sehingga bayi yang lahir prematur tersebut
mempunyai resiko mengalami kematian Ayu, Ida. 2009. Memahami Kesehatan
bayi. Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC.
3. Kematian bayi yang disebabkan oleh
asfiksia karena bayi kekurangan oksigen Indriyani, D dan Asmuji. 2014. Buku Ajar
sehingga pada akhirnya dapat menyebakan Keperawatan Maternitis. Yogjakarta: Ar-ruzz
kematian bayi Media.
4. Kematian bayi yang disebabkan oleh
sepsis karena bayi terinfeksi yang diawali Joseph dan Nugroho, M. 2010. Ginekologi dan
dengan malas minum, bayi tertidur, Obstetri (OBSGYN).Yogyakarta: Nuha Medika
tampak gelisah, bernapas cepat, berat
badan cepat menurun, diare, panas, bayi Karwati, dkk. 2011. Asuhan Kebidanan V
berwarna kuning ada pembesaran hati dan (Kebidanan Komonitas). Jakarta: CV Trans
limpe bercak darah di bawah kulit dan Info Media.
kejang-kejang.
5. Kematian bayi yang disebabkan oleh Maryunani. 2013. Buku Saku Asuhan dengan
gemeli, disebabkan karena janin yang Berat Badan Lahir Rendah. Jakarta: CV Trans
mempunyai jantung lemah mendapat Info Media.
nutrisi yang kurang menyebabkan

www.jurnal.ibijabar.org 14
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

Manuaba, I.A. 2012. Ilmu Kebidanan,


Penyakit Kandungan dan Keluarga
Berencana. Jakarta: EGC.

Setyorini, R.H. 2013. Belajar Tentang


Persalinan.Yogjakarta: Graha Ilmu.

Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Buku Acuan


Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: PT BINA PUSTAKA.

Proverawati, A dan Ismawati, C. 2010. Berat


Badan Lahir Rendah. Yogyakarta: Nuhu
Medika.

Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu


Kebidanan. Jakarta: PT BINA PUSTAKA.

Sukarni, S dan Sudarti. 2014. Patologi


Kehamilan, Persalinan, Nifas dan Neonatus
Resiko Tinggi. Yogjakarta: Nuha Medika.

Varney, 2012. Obstetri Williams. EGC. Jakarta

Wiknjosasatro, 2010. Buku Acuan Nasional


Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo

www.jurnal.ibijabar.org 15
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

www.jurnal.ibijabar.org 16