Anda di halaman 1dari 11

Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No.

1, Januari 2015 pISSN 2477-3441


eISSN 2477-345X

FAKTOR YANG MEMENGARUHI KETERAMPILAN WPS DALAM MELAKUKAN


PRAKTIK NEGOSIASI PENGGUNAAN KONDOM SEBAGAI UPAYA
MENCEGAH IMS PADA WPS DI EKS LOKALISASI SARITEM
BANDUNG TAHUN 2014

Metha Dwi Tamara, S.ST., M.KM1


1
STIKes Dharma Husada Bandung, Jl. Terusan Jakarta Bandung , 40282, Indonesia

ABSTRAK

Infeksi Menular Seksual (IMS) merupakan ko-faktor yang mempermudah tertularnya infeksi HIV. Penanggulangan IMS di
kalangan yang berperilaku berganti-ganti pasangan dilaksanakan melalui sistim pencegahan berupa penggunaan kondom.
Wanita Penjaja Seks (WPS) merupakan salah satu populasi yang berperan dalam program pencegahan IMS. Tidak
tercapainya konsistensi penggunaan kondom, diduga karena penolakan pihak pelanggan dan keterampilan WPS yang kurang
dalam melakukan negosiasi kepada pelanggan untuk menggunakan kondom. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengaruh
faktor predisposisi dan penguat pada keterampilan WPS dalam negosiasi penggunaan kondom sebagai upaya mencegah
IMS pada WPS di eks lokalisasi Saritem Kota Bandung. Rancangan penelitian ini adalah cross sectional dengan ukuran
sampel ditentukan berdasarkan Rule of Thumb, yang melibatkan 140 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner.
Analisis statistik bivariabel menggunakan uji chi-kuadrat serta multivariabel dengan analisis regresi linier ganda/multiple
linier regression. Hasil penelitian bivariabel menunjukkan adanya pengaruh terhadap faktor predisposisi: usia (p=0,001),
masa kerja (p<0,001), frekuensi melayani (p=0,006), pendidikan (p<0,001), pengetahuan tentang IMS (p<0,001),
pengetahuan tentang negosiasi penggunaan kondom (p<0,001), dan sikap (p<0,001). Faktor penguat: dukungan teman
(p<0,001), dukungan pengasuh (p<0,001), dukungan tenaga kesehatan (p<0,001), dan dukungan LSM (p<0,001) pada
keterampilan WPS dalam melakukan praktik negosiasi penggunaan kondom. Hasil analisis multivariabel menunjukkan
bahwa yang paling berpengaruh pada keterampilan WPS dalam melakukan praktik negosiasi penggunaan kondom di eks
lokalisasi Saritem Bandung adalah dukungan LSM (p<0,00; t hitung= 8,737). Terdapat pengaruh keterampilan negosiasi
WPS pada konsistensi penggunaan kondom di eks lokalisasi Saritem Bandung (x 2= 106,510; p<0,001). Saran pada penelitian
ini kepada dinas kesehatan agar bekerjasama dengan LSM mengaktifkan kembali fasilitas kesehatan reproduksi serta tenaga
kesehatan untuk melakukan penyuluhan dan pendidikan kesehatan kepada para WPS
Kata kunci: Faktor penguat, Faktor predisposisi, Konsistensi penggunaan kondom, Negosiasi penggunaan kondom.

FACTORS INFLUENCES THE WPS SKILLS IN PRACTICE NEGOTIATIONS


CONDOM USE AS EFFORTS IMS PREVENT IN EKS LOCALIZATION SARITEM
BANDUNG 2014

ABSTRACT
Sexually transmitted infections (STIs) are co-factors that facilitate transmission of HIV infection. Prevention of sexually
transmitted infections (STI) among who behaves changing partners implemented through prevention system be the use of
condoms. Female sex workers (FSW) are a population that plays a role in STI prevention programs. Not achieving
consistency the use of condoms, allegedly due the refusal of customers and lack FSW skills in negotiating to customers to
use condom. Purpose the research to determine the effect of predisposing factors and amplifiers the skills of FSW on
negotiating the use of condoms as effort to prevent STI in FSW in ex localization Saritem Bandung. The research design is
cross sectional sample size is determined based on the Rule of Thumb, involving 140 respondents. Data collection used
questionnaires. Bivariate statistical analysis used chi-square tests and multivariable linear multiple regression analysis.
Results of bivariate research shows the influence of the predisposing factors: age (p = 0.001), work period (p <0.001),
serving frequency (p = 0.006), education (p <0.001), knowledge about the STI (p <0.001), knowledge about negotiating the
use of condoms (p <0.001), and attitude (p <0.001); reinforcing factor: support of friends (p <0.001), caretakers support (p
<0.001), the support of health workers (p <0.001), and NGO support (p <0.001) in the FSW skills in practice negotiating
the use of condoms. Results of multivariable analysis showed that the most influential in the FSW skills in practice
negotiating the use of condoms ex localization Saritem Bandung are is the support of NGOs (p<0.000; t= 8,737). There are
influence of negotiation skill FSW to consistency the use of condoms in ex localization Saritem Bandung (x2=106,510;
p<0,001). Suggestions on this research to the health department with LSM in order to reactivate the reproductive health
facilities as well as health workers to conduct counseling and health education to FSW.
Keywords: Consistency the use of condoms, Negotiation the use of condoms, Predisposing factors, Reinforcing factors

PENDAHULUAN

www.jurnal.ibijabar.org 16
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

World Health Organization (WHO) Jln. Gardujati, Kelurahan Kebonjeruk,


tahun 2008 memperkirakan terdapat 7,2 juta Kecamatan Andir, Kota Bandung. Lembaga
kasus C. Trachomatis, 25,4 juta kasus N. Swadaya Masyarakat (LSM) Penggunaan
Gonorrhoe, 3,0 juta kasus sifilis dan 42,9 juta kondom tidak terealisasi secara global di Kota
kasus T. Vaginalis, sedangkan untuk Bandung, khususnya pada setiap lokalisasi.
penyebaran human immunodeficiency virus/ Salah satu upaya Pemerintahan Kota Bandung
acquired immune deficiency syndrome yaitu bekerjasama dengan LSM untuk
(HIV/AIDS) di dunia pada dewasa dan anak memfasilitasi kondom secara gratis dan
sebanyak lebih dari 25 juta kasus. 1,2 berkala pada setiap lokalisasi. namun sampai
Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia tahun saat ini upaya itu belum berjalan dengan baik.
2010 yaitu 80.000120.000 kasus. Ancaman Tidak tercapainya konsistensi penggunaan
pada tahun 2010 terdapat sekitar 100.000 kondom, diduga karena penolakan pihak
kasus yang menderita/meninggal karena AIDS pelanggan dan keterampilan WPS yang kurang
dan sekitar 30.00040.000 kasus yang dalam melakukan negosiasi kepada pelanggan
mengidap virus HIV terdapat pada kalangan untuk menggunakan kondom.8
Wanita Penjaja Seks (WPS). Penyebaran Faktor yang berpengaruh pada
HIV/AIDS di Indonesia sudah masuk dalam keterampilan WPS dalam melakukan negosiasi
populasi umum setelah virus ini menginfeksi penggunaan kondom menurut Green dan
WPS dengan tingkat infeksi sebesar 26,5%. Kreuter tahun 2005 yaitu faktor predisposisi
Infeksi HIV pada WPS, naik tiga kali lipat berupa usia, masa kerja, frekuensi melayani,
(6,1%) dibandingkan dengan enam bulan pendidikan, pengetahuan, sikap, dan faktor
sebelumnya (1,7%), dikhawatirkan telah penguat berupa dukungan teman seprofesi,
terjadi infeksi ke rumah tangga dan populasi pengasuh, petugas kesehatan, serta lembaga
umum di Kota Bandung. Kota Bandung swadaya masyarakat. Program penyuluhan
merupakan jalur lintasan angkutan darat dan tentang IMS dan kondom oleh tenaga
udara yang didukung dengan fasilitas kesehatan dan program penyediaan kondom
transportasi yang memadai serta tingkat gratis di eks lokalisasi Saritem sudah berjalan
mobilitas yang relatif tinggi, serta peningkatan baik, akan tetapi keterampilan WPS dalam
pembangunan yang ditandai dengan pesatnya melakukan negosiasi penggunaan kondom
perkembangan pusat-pusat perbelanjaan dan masih rendah. Rendahnya keterampilan WPS
tempat hiburan3 dalam melakukan negosiasi penggunaan
Penanggulangan IMS di Indonesia kondom terhadap pelanggan berpengaruh pada
telah banyak dilaksanakan, seperti konsep konsistensi penggunaan kondom. Konsistensi
pencegahan dan perawatan bagi orang penggunaan kondom yang rendah berpengaruh
terinfeksi HIV/AIDS, serta meningkatkan pada upaya pemerintah dalam melakukan
sistim penanggulangan HIV/AIDS. (Aditama, pencegahan IMS. Berdasarkan fenomena
2014) Salah satu upaya dalam mencegah tersebut peneliti tertarik untuk meneliti faktor
peningkatan angka kejadian HIV/ AIDS adalah yang memengaruhi keterampilan WPS dalam
dengan kondom, namun masih banyaknya melakukan praktik negosiasi penggunaan
WPS yang tidak menggunakan kondom saat kondom sebagai upaya mencegah IMS pada
melayani pelanggan. Konsistensi WPS WPS.
menggunakan kondom yang rendah pada
pelanggan dilatar belakangi oleh kegagalan METODOLOGI PENELITIAN
dalam bernegosiasi. Negosiasi yang efektif
antara pelanggan dan WPS dalam Penelitian ini bersifat analitik dengan
menggunakan kondom sangat diperlukan demi menggunakan desain kuantitatif cross
terwujudnya hubungan seksual yang aman sectional. Penelitian ini dilakukan untuk
bagi kedua belah pihak, sehingga dapat mengetahui faktor yang memengaruhi
menurunkan angka kejadian IMS di kalangan keterampilan WPS dalam melakukan praktik
WPS. Prevalensi IMS pada WPS di Jawa Barat negosiasi penggunaan kondom sebagai upaya
pada tahun 2013, yaitu sebesar 10.198 kasus. mencegah IMS pada WPS di eks lokalisasi
Lokasi berisiko di Jawa Barat Saritem Kota Bandung tahun 2014.
khususnya Bandung adalah eks lokalisasi Pengambilan sampel dalam penelitian ini
Saritem yang berada di daerah Kebon Kalapa, diukur berdasarkan Rule of Thumb yang
www.jurnal.ibijabar.org 17
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

mempunyai masa kerja minimal 3 bulan yang paling kuat adalah dukungan LSM (RP=
berjumlah sebanyak 140 orang. Teknik sampel 36,000). (Tabel 3)
peluang, pengambilan sampel dilakukan secara
random (acak), jadi setiap sampel yang Korelasi antara Praktik Negosiasi
diambil diurutkan menurut kode masuk, maka Penggunaan Kondom (Y1) dengan berbagai
sampel yang diambil adalah dengan no urut Variabel yang diteliti
ganjil. Seluruh faktor terbukti bepengaruh pada
Variabel penelitian terdiri dari variabel keterampilan WPS dalam melakukan praktik
bebas dan variabel terikat. Variabel bebas negosiasi penggunaan kondom, (nilai p semua
terdiri dari faktor predisposisi antara lain usia, faktor di bawah nilai alfa). Dilihat dari hasil
masa kerja, frekuensi melayani, pendidikan, perhitungan variabel yang paling kuat
pengetahuan tentang IMS dan negosiai pengaruhnya adalah dukungan LSM dengan
penggunaan kondom, sikap, serta faktor nilai RS= 0, 934, dan yang paling lemah
penguat antara lain dukungan teman seprofesi, pengaruhnya adalah frekuensi melayani
pengasuh petugas kesehatan, dan LSM. dengan nilai RS= 0,281. (Tabel 4)
Variabel terikat terdiri dari keterampilan WPS
dalam melakukan praktik negosiasi Pengaruh Variabel yang di teliti pada Skor
penggunaan kondom, serta konsistensi Praktik Negosiasi Penggunaan Kondom
penggunaan kondom. Analisis data dilakukan Terdapat 5 variabel yang paling berpengaruh
secara univariat dan multivariat dengan regresi pada keterampilan WPS dalam melakukan
linier ganda. praktik negosiasi penggunaan kondom, yaitu
pendidikan (t hitung= 2,74), pengetahuan
HASIL DAN PEMBAHASAN tentang IMS (t hitung= 2,532), sikap terdapat
pencegahan IMS (t hitung= 2,093), dukungan
HASIL pengasuh (t hitung= 3,781), dan dukungan
Karakteristik subjek penelitian LSM (t hitung= 8,737). (Tabel 5)
Jumlah sampel dalam penelitian 140 orang.
Gambaran distribusi frekuensi (tabel 1) dilihat Variabel yang paling berpengaruh pada Skor
dari segi karakterisitik menunjukkan bahwa Praktik Negosiasi Penggunaan Kondom
107 WPS merupakan usia dewasa; masa kerja Variabel berpengaruh signifikan pada
singkat sebanyak 65 WPS; 86 WPS frekuensi keterampilan WPS dalam melakukan praktik
melayani 5 tamu setiap hari; dan pendidikan negosiasi penggunaan kondom adalah
sebagian besar SMP dengan jumlah 65 WPS. pendidikan, pengetahuan tentang IMS, sikap
terhadap pencegahan IMS, dukungan
Deskripsi Statistik dari Pendidikan, pengasuh, serta dukungan LSM dengan hasil
Pengetahuan, Sikap, dan Dukungan, regresi linier. Praktik negosiasi penggunaan
Praktik Negosiasi, dan Konsistensi kondom: Skor variabel praktik negosiasi=
Penggunaan Kondom -7,084 + 1,683x kategori pendidikan + 0,147 x
Nilai median yang paling tinggi pada pengetahuan IMS + 0,136 x sikap pencegahan
pengetahuan tentang IMS (71,43), dan nilai IMS + 0,305 x dukungan pengasuh + 0,520 x
median yang paling rendah pada dukungan dukungan LSM (multiple= 95,1%). Hasil
pengasuh (35,00). (Tabel 2) perhitungan t hitung yang paling tinggi
menunjukkan variabel yang paling
Faktor yang Memengaruhi Keterampilan memengaruhi adalah dukungan LSM. (Tabel
Praktik Negosiasi Penggunaan Kondom 6)
Seluruh faktor terbukti berpengaruh pada
keterampilan WPS dalam melakukan praktik Tabel 1 Karakteristik subjek penelitian
negosiasi penggunaan kondom, terbukti dari
nilai p semua faktor di bawah nilai alfa.Semua Variabel Jumlah %
variabel pada faktor predisposisi berpengaruh. 1. Usia (tahun)
Faktor yang memiliki pengaruh paling kuat Muda 25 17,9
adalah sikap pencegahan IMS (RP= 17,471). Dewasa 107 76,4
Semua variabel pada faktor penguat Tua 8 5,7
berpengaruh. Faktor yang memiliki pengaruh
www.jurnal.ibijabar.org 18
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

2. Masa kerja (tahun) 1. Usia (tahun)


Muda 0,00
Singkat 65 46,4 Dewasa 20 80,0 5 20,0 1 640 (1,0140,45)
Sedang 49 35,0 Tua 49 45,8 58 54,2 3,66 (0,5023,18)
Lama 26 18,6 1 12,5 7 87,5 1,0
3. Frekuensi melayani 2. Masa kerja
(tahun) 0,00
(tamu) 7 5,0 Singkat 61 93,8 4 6,2 0 5,11 (2,829,25)
12 47 33,6 Sedang 9 18,4 40 81,6 1,0
34 86 61,4 Lama 0 0,0 26 100 -
>=5 3 Frekuensi
melayani
4. Pendidikan (tamu)
SD 39 27,9 12 7 100 0 0,0 0,00 2,39 (1,863,06)
SMP 65 46,4 34 27 57,4 20 42,6 6 1,37 (0,971,95)
SMU 36 25,7 >=5 36 41,9 50 58,1 1,0
4. Pendidikan
<=SD 29 74,4 10 25,6 0,00 2,68 (1,534,68)
Tabel 2 Deskripsi Statistik dari Pendidikan, SMP 31 47,7 34 52,3 0 1,72 (0,963,08)
SMU 10 27,8 26 72,2 1,0
Pengetahuan, Sikap, dan Dukungan, 5. Pengetahuan
Praktik Negosiasi, dan Konsistensi tentang IMS
Penggunaan Kondom Kurang 62 92,5 5 7,5 0,00 8,444 (4,37616,295)
Baik 8 11,0 65 89,0 0 1,0
Variabel (Skala Ukuran statistik
6. Pengetahuan
100 )* Rerata Medi Rentang tentang praktik
(SD) an negosiasi
1. Pengetahuan 61,63 71,43 28,5785,71 penggunaan
tentang IMS (16,71) kondom
Kurang 49 94,2 3 5,8 0,00 3,949 (2,7035,770)
2. Pengetahuan 57,1 60,00 40,00 Baik 21 23,9 67 76,1 0 1,0
tentang (15,65) 100,00 7. Sikap terhadap
negosiasi pencegahan
3. Sikap 48,67 53,33 16,6780,00 IMS
terhadap (18,23) Negatif
pencegahan Posittif 66 97,1 2 2,9 0,00 17,471 (6,73545,322)
IMS 4 5,6 68 94,4 0 1,0
4. Dukungan 35,76 36,67 3,3363,33 Faktor
Penguat
teman (16,69) 1. Dukungan
seprofesi teman
5. Dukungan 37,00 35,00 6,6763,33 seprofesi
pengasuh (16,95) Kurang 66 98,5 1 1,5 0,00 17,978 (6,93046,634)
6. Dukungan 38,45 40,00 6,6770,00 Baik 4 5,5 69 94,5 0 1,0
tenaga (17,01) 2. Dukungan
kesehatan Pengasuh -
Kurang 70 100 0 0,0 0,00
7. Dukungan 46, 12 46,43 7,1482,14
Baik 0 0,0 70 100 0
LSM (20,87) 3. Dukungan
8. Praktik 47,22 46,88 14,5883,33 Tenaga
negosiasi (21,34) Kesehatan
9. Konsistensi 45,21 45,00 10,0080,00 Kurang 66 97,1 2 2,9 0,00 17,471 (6,73545,322)
penggunaan (19,75) Baik 4 5,6 68 94,4 0 1,0
kondom 4. Dukungan
Ket: *Dihitung berdasarkan rumus LSM
Kurang 68 100 0 0,0 0,00 36,000 (9,180
Skala 100=100*(Skor individu-Skor terendah)
Baik 2 2,8 70 100 0 141,180)
Rentang 1,0
**Berdasarkan nilai median untuk setiap Ket : *Berdasarkan uji chi kuadrat; RP (Ratio
variabel di atas akan dikategorikan menjadi Prevalens); IK (Interval Konfidensi 95%)
dua kategori yaitu <median dan median
Tabel 4 Korelasi antara Praktik Negosiasi
Tabel 3 Faktor yang Memengaruhi Penggunaan Kondom (Y1) dengan
Keterampilan Praktik Negosiasi berbagai Variabel yang diteliti
Penggunaan Kondom
Korelasi Y1 Koefisien Nilai p
dengan korelasi
Variabel Praktik Negosiasi Nilai RP (IK 95%)
(RS)
Independen Kurang Baik P
1. Usia 0,396 <0,001
N % N %
Faktor 2. Masa kerja 0,797 <0,001
Predisposisi 3. Frekuensi 0,281 0,001

www.jurnal.ibijabar.org 19
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

melayani IMS
4. Pendidikan 0,441 <0,001 Dukungan 0,305 0,081 3,78 <0,0
5. Pengetahuan 0,878 <0,001 pengasuh 1 01
tentang IMS Dukungan 0,520 0,060 8,73 <0,0
6. Pengetahuan 0,791 <0,001 LSM 7 01
tentang negosiasi Konstanta -7,084 - - -
7. Sikap terhadap 0,884 <0,001
pencegahan IMS Ket: *Analisis regresi linier ganda
8. Dukungan teman 0,884 <0,001
seprofesi
9. Dukungan 0,923 <0,001 PEMBAHASAN
pengasuh
10. Dukungan tenaga 0,880 <0,001 Salah satu keterbatasan penelitian ini
kesehatan yaitu tempat penelitian merupakan area yang
11. Dukungan LSM 0,934 <0,001
pernah dilakukan penelitian dengan tema yang
Ket:*RS=koefisien korelasi Rank Spearman
berbeda, ada kemungkinan WPS yang
Tabel 5 Pengaruh Variabel yang di teliti berdomisili dalam jangka waktu lama di eks
pada Skor Praktik Negosiasi lokalisasi ini merasa jenuh dengan kegiatan
Penggunaan Kondom penelitian ini.
Pada usia dewasa WPS sudah
Variabel Koefisie SE t Nilai menemukan konsep dirinya, berbeda dengan
nB hitung p usia muda yang sedang mencari jati diri dan
Usia 0,104 0,023 1,093 0,276 mudah terpengaruh oleh lingkungan dan teman
Masa kerja -0,422 -0,031 -0,930 0,35 sebaya termasuk dalam melakukan hubungan
Frekuensi -0,257 -0,017 -0,774 0,440 seksual yang tidak aman. Menurut Green dan
melayani
Pendidikan 1,683 0,614 2,74 0,007
Kreuter,9 keterampilan melakukan negosiasi
penggunaan kondom dipengaruhi oleh
Pengetahua 0,147 0,058 2,532 0,012 pengaruh dari dalam seseorang. Wanita penjaja
n tentang seks (WPS) pada usia muda biasanya memiliki
IMS
Pengetahua -0,12 -0,009 -0,220 0,826
pengaruh yang tinggi dari dalam sehingga sulit
n tentang mendengarkan nasihat dari luar. Usia dewasa
negosiasi sering diidentikkan dengan pengalaman yang
Sikap 0,136 0,065 2,093 0,038 cukup dan keberanian dalam menjalani suatu
terhadap hubungan yang baik dengan pelanggan,
pencegahan
IMS sehingga dalam merayu pelanggan sudah
Dukungan 0,069 0,054 0,943 0,347 memiliki pengalaman dan adanya ikatan
teman dengan pelanggan
seprofesi Wanita penjaja seks (WPS) dengan
Dukungan 0,305 0,081 3,781 <0,00
masa kerja singkat di eks lokalisasi Saritem
pengasuh 1
Dukungan -0,088 -0,070 -1,121 0,264 memiliki penghasilan berkisar Rp.800.000,-
tenaga sampai dengan Rp.2.500.000,- per bulan
kesehatan karena umumnya WPS mengirim sebagian
Dukungan 0,520 0,060 8,737 <0,00 penghasilannya untuk keluarga di tempat asal
LSM 1
dan sebagian lainnya untuk membayar hutang
Ket: *Analisis regresi linier ganda
pada pengasuh. Wanita penjaja seks (WPS)
Tabel 6 Variabel yang paling berpengaruh
yang masa kerjanya singkat, berada pada tahap
pada Skor Praktik Negosiasi
pencarian pelanggan, selain itu belum sering
Penggunaan Kondom
berhubungan dengan tenaga kesehatan dan
Variabel Koefisien SE t Nilai LSM, sehingga keterampilan dalam
B hitu p melakukan negosiasi pun belum baik. Semakin
ng sering WPS berinteraksi dengan pelanggan
Pendidikan 1,683 0,614 2,74 0,007 yang berbeda karakter akan membentuk
Pengetahuan 0,147 0,058 2,53 0,012 pengalaman, maka semakin baik keterampilan
tentang IMS 2 WPS dalam melakukan negosiasi. Menurut
Sikap 0,136 0,065 2,09 0,038
terhadap 3 penelitian yang dilakukan Oppong, 59
pencegahan dinyatakan bahwa semakin sering WPS

www.jurnal.ibijabar.org 20
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

melayani, maka akan semakin melindungi pendidikan formal, namun dapat juga melalui
dirinya dari IMS dengan meyakinkan pendidikan kesehatan yang diberikan oleh
pelanggan menggunakan kondom melalui tenaga kesehatan. Menurut penelitian
negosiasi yang efektif sehingga pelanggan Oppong,59 dinyatakan hasil yang signifikan
menggunakan kondom. pada pengaruh tingkat pendidikan pada
Pendidikan yang tidak memadai keterampilan WPS dalam melakukan
merupakan salah satu faktor risiko tingginya negosiasi, semakin tinggi pendidikan WPS,
IMS. Wanita penjaja seks (WPS) dengan maka akan semakin baik keterampilan WPS
pendidikan SMP memiliki wawasan yang dalam melakukan negosiasi. Pendidikan yang
lebih, sehingga cenderung mudah menerima tinggi menjadi alasan untuk tidak akan
perubahan. Peningkatan kemampuan selamanya menjadi WPS, maka WPS
keterampilan WPS dalam melakukan negosiasi memerlukan perlindungan ekstra untuk
tidak hanya melalui pendidikan formal, namun melindungi diri dari IMS dengan melayani
dapat juga melalui pendidikan kesehatan yang pelanggan yang menggunakan kondom.
diberikan oleh tenaga kesehatan. Menurut Pendidikan yang dimiliki WPS menjadikan
penelitian Oppong,59 dinyatakan hasil yang modal WPS untuk melakukan negosiasi,
signifikan pada pengaruh tingkat pendidikan dengan pendidikan yang tinggi maka para
pada keterampilan WPS dalam melakukan WPS memiliki keahlian untuk menyerap
negosiasi, semakin tinggi pendidikan WPS, penyuluhan dari tenaga kesehatan dengan
maka akan semakin baik keterampilan WPS cepat dan tanggap.56
dalam melakukan negosiasi. Pendidikan yang Wanita penjaja seks (WPS) termotivasi
tinggi menjadi alasan untuk tidak akan untuk melakukan negosiasi dengan baik jika
selamanya menjadi WPS, maka WPS mendapatkan pengetahuan tentang negosiasi
memerlukan perlindungan ekstra untuk dengan benar dari orang yang dipercayainya.
melindungi diri dari IMS dengan melayani Selama ini WPS melakukan negosiasi
pelanggan yang menggunakan kondom. termasuk penawaran penggunaan kondom
Pendidikan yang dimiliki WPS menjadikan kepada pelanggan, tetapi tidak sampai tahap
modal WPS untuk melakukan negosiasi, merayu dan memaksa pelanggan. Bagi
dengan pendidikan yang tinggi maka para sebagian WPS, pelayanan terbaik merupakan
WPS memiliki keahlian untuk menyerap salah satu alasan untuk tidak melakukan teknik
penyuluhan dari tenaga kesehatan dengan negosiasi. Wanita penjaja seks (WPS) akan
cepat dan tanggap terus berusaha merayu dan memaksa
Pemahaman WPS terhadap pelanggan untuk mau menggunakan kondom
pengetahuan IMS cukup beragam. Sebagian hanya pada pelanggan yang memiliki tanda-
besar WPS memiliki pengetahuan baik pada tanda penyakit.
penyebab IMS dan pencegahan IMS. Wanita Sikap yang positif akan menciptakan
penjaja seks (WPS) mengetahui penyakit IMS keterampilan yang baik dalam melakukan
ditularkan melalui hubungan seksual namun negosiasi begitupun sebaliknya,
tidak mengetahui bahwa IMS dapat menular kecenderungan ini dimotivasi oleh dukungan
meskipun hanya sekali melakukan hubungan pengasuh yang mengingatkan WPS untuk
jika pasangan seksual memiliki penyakit IMS. selalu menggunakan kondom saat pertama kali
Wanita penjaja seks (WPS) menyatakan bahwa datang ke lokalisasi. Hasil penelitian ini
sulitnya mengidentifikasi seorang pelanggan didukung oleh pendapat Thursonte yang
menderita penyakit IMS khususnya dikutip Wahid,49 menyatakan bahwa sikap
HIV/AIDS. Wanita penjaja seks (WPS) telah sebagai tindakan yang bersifat positif atau
memahami penyebab IMS salah satunya negatif yang berhubungan dengan objek
adalah pekerjaan yang dijalaninya sekarang psikologi. Sikap positif yaitu sikap yang
merupakan pekerjaan yang rentan terhadap menunjukkan atau memperlihatkan,
penyakit tersebut, jadi WPS sadar bahwa saat penerimaan, dan menyetujui norma-norma
melakukan hubungan seksual dengan yang berlaku di tempat individu berada. Sikap
pelanggan salah satu cara pencegahannya yang negatif akan berdampak pada
adalah menggunakan kondom. Peningkatan keterampilan dalam negosisai, WPS yang
kemampuan keterampilan WPS dalam memiliki sikap negatif akan menganggap
melakukan negosiasi tidak hanya melalui negosiasi merupakan hal yang tidak sesuai dan
www.jurnal.ibijabar.org 21
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

sulit untuk dilakukan, sebaliknya WPS yang negosiasi penggunaan kondom. Penelitian ini
memiliki sikap positif akan menganggap sesuai dengan teori Green dan Kueter sebagai
negosiasi merupakan hal yang sesuai dan harus faktor penguat dimana dukungan seseorang
dilakukan. Hasil jawaban WPS diketahui sangat berpengaruh pada perilaku WPS. Pada
bahwa minoritas kurang mampu membujuk penelitian Chiao,65 dinyatakan bahwa
pelanggan untuk menggunakan kondom, keterampilan negosiasi seorang WPS salah
kemungkinan karena pelanggan tidak merasa satunya dipengaruhi oleh dukungan pengasuh
puas bila menggunakan kondom. Keluhan yang selalu memerintahkan WPS untuk
pelanggan dan ketidaksuksesan WPS dalam melakukan negosiasi kepada pelanggan
melakukan negosiasi ini dilatarbelakangi oleh sebelum melayani sampai pelanggan mau
sikap yang menolak untuk melakukan rayuan menggunakan kondom. Dukungan pengasuh
kepada pelanggan dan diikuti dengan dapat dilihat dari dukungan terhadap
kebutuhan akan uang yang diberikan oleh penyuluhan oleh tenaga kesehatan serta
pelanggan, sehingga WPS lebih membuka lebar LSM untuk memfasilitasi
mengutamakan keinginan pelanggan. kondom di lokalisasi. Penerimaan yang baik
Dukungan teman seprofesi ini oleh pengasuh terhadap kebijakan yang
merupakan salah satu faktor yang ditentukan oleh LSM dan tenaga kesehatan
memengaruhi keterampilan WPS dalam mengenai teknik negosiasi demi tercapainya
negosiasi. Dukungan untuk negosiasi kesepakatan penggunaan kondom pada
penggunaan kondom dari teman diberikan oleh pelanggan, dapat memberikan kepercayaan
teman seprofesi berupa penyampaian cerita. diri kepada WPS untuk melakukan negosiasi
Pengalaman melakukan negosiasi yang tepat dengan baik.
yaitu pada saat terdapat jalinan yang baik Tenaga kesehatan selama ini telah
antara pelanggan dan WPS, maka tujuan melakukan promosi kesehatan mengenai
negosiasi tersebut akan berhasil. Hal ini sesuai kondom dan IMS yang dilakukan secara rutin,
dengan penelitian Couture, dkk.63 yang namun untuk pendidikan kesehatan mengenai
dinyatakan bahwa pelanggan memiliki praktik negosiasi penggunaan kondom masih
hubungan dengan WPS jika WPS dapat kurang. Penempatan media promosi kesehatan
membuat jalinan yang baik terhadap selama ini dinilai cukup strategis, semakin
pelanggannya. Masih banyaknya WPS yang rutin tenaga kesehatan melakukan promosi
tidak berbagi pengalaman tentang cara kesehatan, maka semakin sering komunikasi
negosiasi dikarenakan tidak mengetahui cara antara WPS dan tenaga kesehatan sehingga
melakukan negosiasi, atau menganggap bahwa tercipta hubungan saling percaya. Penerimaan
negosiasi merupakan hal yang mudah sehingga pendidikan oleh WPS dari tenaga kesehatan
tidak perlu disampaikan kepada temannya. dimulai dengan hubungan saling percaya
Menurut studi di Amerika Serikat salah antara tenaga kesehatan dan WPS. Menurut
satunya yang memengaruhi keterampilan WPS telah banyak promosi yang diberikan
seseorang yaitu dukungan teman seprofesi. oleh tenaga kesehatan, sayangnya untuk para
Jaringan kelompok teman sebaya akan mudah WPS dengan masa kerja singkat promosi
memengaruhi teman yang lainnya melalui kesehatan ini masih merupakan kegiatan yang
diskusi dan curhat. Dukungan teman sebaya tidak rutin bahkan tidak didapatkan, karena
tidak hanya sampai memengaruhi seseorang akhir-akhir ini tenaga kesehatan jarang datang
dalam merespons dengan baik untuk melakukan promosi kesehatan. Pemahaman
melakukan negosiasi, bahkan dapat dan penilaian WPS terhadap produk promosi
memengaruhi keterampilan negosiasi secara penggunaan kondom belum mampu menarik
efektif. Saran dari orang-orang sekitar yang minat WPS. Para WPS akan menerima dengan
secara langsung dapat secara efektif menjadi baik dan melakukan keterampilan negosiasi
salah satu strategi untuk mempromosikan jika tenaga kesehatan memberikan pendidikan
teknik bernegosiasi yang baik.65 kesehatan secara rutin, khususnya pendidikan
Dukungan pengasuh hanya sebatas kesehatan mengenai negosiasi penggunaan
mengingatkan saja belum sampai memberikan kondom. Hasil penelitian ini sesuai dengan
pelajaran dan bertukar pikiran, maka peran penelitian Bodiono,48 bahwa dukungan tenaga
pengasuh sangat dibutuhkan untuk kesehatan dapat mengubah sikap dan perilaku
meningkatkan keterampilan WPS dalam WPS dalam praktik negosiasi penggunaan
www.jurnal.ibijabar.org 22
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

kondom, khususnya pendidikan kesehatan 73 WPS (52,1%). Hasil akhir analisis chi-
dengan praktik akan lebih menarik kuadrat menunjukkan bahwa hipotesis
dibandingkan dengan pendidikan kesehatan diterima, Keterampilan WPS dalam melakukan
hanya melalui teori. Sebagian besar WPS di negosiasi penggunaan kondom berpengaruh
eks lokalisasi Saritem Bandung sudah terhadap konsistensi penggunaan kondom,
mendapatkan pendidikan kesehatan secara yaitu nilai p=0,000. Hal ini sesuai dengan
rutin oleh tenaga kesehatan yang bekerjasama penelitian Wyatt,68 yang menyatakan bahwa
dengan LSM, namun untuk pendidikan keberhasilan dalam melakukan negosiasi akan
mengenai keterampilan negosiasi penggunaan berdampak pada keberhasilan WPS
kondom belum pernah dilakukan, sehingga menawarkan kondom kepada pelanggan saat
WPS menilai pentingnya pendidikan kesehatan melakukan hubungan seks. Sebagian besar
dilaksanakan di eks lokalisasi mengenai cara WPS sudah memiliki konsisten yang tinggi
melakukan rayuan agar dapat menghadapi dan sebagian WPS masih memiliki konsistensi
pelanggan yang tidak mau menggunakan yang rendah. Kelemahan WPS dalam
kondom. Hasil penelitian cross-sectional yang menawarkan kondom terjadi akibat resistensi
dilakukan Couture, dkk.63 menunjukkan bahwa pasangan. Pelanggan sering kali merasa berhak
dukungan tenaga kesehatan melalui untuk memaksa WPS melayani tanpa
penyuluhan, khususnya konseling mengenai menggunakan kondom. Keterampilan WPS
IMS dan strategi menghadapi pelanggan dalam yang rendah dalam melakukan negosiasi akan
melakukan negosiasi berpengaruh pada mengakibatkan pelanggan menolak untuk
keterampilan WPS dalam negosiasi, karena menggunakan kondom, karena pelanggan
dengan penyuluhan yang diberikan oleh tenaga tidak dapat terpengaruh oleh ajakan WPS.
kesehatan maka akan menyadarkan WPS Keterampilan negosiasi ini membantu WPS
untuk mencegah penularan IMS. untuk mengajak atau memengaruhi pelanggan
Dukungan LSM pada keterampilan menggunakan kodom saat melakukan
WPS dalam negosiasi terdapat pengaruh yang hubungan seksual, negosiasi ini merupakan
signifikan. Hal ini sesuai dengan penelitian salah satu jalan keluar untuk melakukan
yang dilakukan Green dan Kreuter, 9 yang tahapan apa saja yang harus dilakukan untuk
menyatakan dukungan LSM merupakan membujuk pelanggan. Keterampilan yang
sumber utama bagi WPS untuk meningkatkan rendah dalam melakukan negosiasi
keterampilan dalam negosiasi. Dukungan LSM mengakibatkan WPS tidak dapat menghadapi
dapat dioptimalkan agar semua WPS memiliki pelanggan dengan berbagai karakter yang
kesadaran yang sama untuk memiliki mengakibatkan kegagalan WPS mengambil
keterampilan bernegosiasi dengan baik. keputusan yang menguntungkan bagi kedua
Aplikasi ini dapat dilakukan dengan belah pihak.56
pendidikan kesehatan dan secara rutin selalu
memberikan kondom dan pelumas secara SIMPULAN
gratis.67 Secara keseluruhan kegiatan LSM di Faktor yang paling berpengaruh pada
eks lokalisasi Saritem Bandung sudah baik keterampilan WPS dalam praktik negosiasi
dimulai dengan kegiatan yang secara rutin penggunaan kondom adalah dukungan LSM di
dilakukan setiap bulannya dengan memberikan eks lokalisasi Saritem. Keterampilan WPS
pendidikan mengenai PMS dan kondom, dalam negosiasi penggunaan kondom
namun selama bulan September 2012 sampai berpengaruh pada konsistensi penggunaan
dengan Januari 2014 kegiatan tersebut tidak kondom di eks lokalisasi Saritem.
dilakukan karena kurangnya tenaga sosial di
LSM. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) SARAN
mulai aktif melakukan pendidikan kesehatan 1. Disarankan kepada Dinas Kesehatan Kota
kembali Bulan Februari 2014. Bandung untuk mengaktifkan kembali
Pada penelitian mengenai pengaruh Klinik Kesehatan Reproduksi yang
keterampilan WPS dalam praktik negosiasi didukung oleh tenaga kesehatan agar setiap
penggunaan kondom pada konsistensi WPS yang menunjukkan gejala IMS dapat
penggunaan kondom hasil penelitian univariat secara dini dirujuk ke rumah sakit guna
menunjukkan bahwa hasil tertinggi yaitu menekan angka kejadian HIV/AIDS.
konsistensi penggunaan kondom yang tinggi
www.jurnal.ibijabar.org 23
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

2. Disarankan kepada LSM dapat bekerjasama Daryanto. 2010. Ilmu komunikasi. Edisi ke-1.
dengan tenaga kesehatan yang untuk Bandung: PT. Sarana Tutorial Nurani
memberikan penyuluhan dan pendidikan Sejahtera.
kesehatan kepada para WPS, agar Dayakisni T. Psikologi sosial Universitas
penyuluhan dan pendidikan dapat Muhamaadiyah Malang. 2007. Metode
dilakukan secara rutin. penelitian dan teori komunikasi. Edisi
3. Disarankan kepada Pemerintahan Kota Revisi: Malang: Universitas
untuk melakukan tindakan pencegahan agar Muhamadiyah Malang.
tidak ada lagi yang bermunculan, karena Depkes RI. 2010. Laporan Penelitian
sebagian besar WPS memiliki masa kerja pengembangan pelayanan kesehatan
singkat. komprehensif berbasis Primary Health
Care (PHC) bagi pekerja seks perempuan
DAFTAR PUSTAKA (PSP) di Bali; penjajagan pendekatan
Aditama TY. 2014. Laporan kasus HIV/AIDS struktur sosial masyarakat dalam
di Indonesia. Jabar: Ditjen PP & PL penanggulangan HIV-AIDS. Depkes RI.
Kemenkes RI. Depkes RI. 2004. Pedoman penatalaksanaan
Adu-Oppong A, Grimes RM, Ross MW, Risser PMS. Jakarta: Depkes RI.
J, Kessie G.(2007). Socian and Depkes RI. 1997. Petunjuk Pencegahan
behavioral determinants of consistent Penularan HIV secara Seksual. Edisi 6.
condom use among female commercial Jakarta.
sex workers in Ghana. Journal article- DepKes RI. 2008. Renstra HIV/AIDS Provinsi
reearch, tables/charts, AIDS Education & Jawa Barat 2007. Jabar: Depkes RI.
Prevention (AIDS EDUC PREV). Volume DepKes RI. 2010. Strategi promosi
2 Edisi Februari. pencegahan penyalahgunaan Napza di
Aulia TRN. 2012. Sistem pendidikan Indonesia. Jakarta: Depkes RI.
nasional. Bandung: Nuansa Aulia.. Elga S, Masruchah M, Imam A. 2008. Agama
Azwar S. 2007. Sikap manusia. Edisi ke-2. dan kesehatan reproduksi: Kesehatan
Cetakan ke-10. Yogyakarta: Agromedia. reproduksi, kebudayaan dan masyarakat.
Caple C, Schub T, Pravikoff D. 2010 Sexually Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
transmitted diseases: Risk Factors. Fleming P. 2011. Negosiasi yang sukses.
Journal: CINAHL Nursing Guide. Volume Jakarta: Megapoin.
2 Edisi Juli. Gina M, Wingood, Ralph J. 2007. The effects
Chiao C; Institusi of Health and Welfare of an abusive primary partner on the
Policy, School of Medicine, National condom use and sexual negotiation
Yang-Ming University, Taipe, Taiwan. practice of African-America. Hlm 138
(2009). Promoting HIV testing and 54: Am J Public Health.
condom use among Filipina commercial Hafied C. 2009. Pengantar ilmu komunikasi.
sex workers: findings froma quasi- Jakarta: Divisi Perguruan Tinggi PT
experimental intervention study. Hlm RajaGrafindo Persada.
892901: AIDS and Behavior. Hardisman. 2009. HIV/AIDS di Indonesia:
Cohen H. 2003. Negosiasi untuk segala fenomena gunung es dan peranan
situasi. Semarang: Dahara Prize. pelayanan kesehatan primer. Jurnal
Couture, Claude M, Soto. J.C, Joseph. G, Kesehatan Masyarakat Nasional: 3(5);
Zunzunegui. MV. 2010. Determinants of 2009.
intention to use condoms among clients of Hendrawan H. 2008. Peran karakteristik dan
female sex workers in Haiti. Hlm 25362: perilaku pada kejadian servisitis gonore
Article AIDS Care. serta pengaruhnya pada kepekaan
Crittenden D. 2009. Menggugat mitos Neisseria gonorrhoaeae terhadap
kebebasan wanita-wanita salah modern: antibiotik yang direkomendasikan
wanita salah langkah? Dalam: Mansoor DepKes RI pada wanita penjaja seks.
S, penerjemah. Cetakan ke-1. Bandung: (Tesis). Bandung: Fakultas Kedokteran
Qonita. Universitas Padjadjaran.
Hindle T. 2010. Negotiating skills. Jakarta:
Dian Rakyat.
www.jurnal.ibijabar.org 24
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

Hull TH, Jones GW. 2003. Prostitution in Nasrin Kodim, Desy Hiryani. 2011. Program
Indonesia: its history and evolution. Edisi HIV/AIDS untuk rakyat. JKM: 5(4).
ke-1. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Niven N. 2002. Psikologi kesehatan pengantar
Hutapea, Ronald. 2003. AIDS & PMS dan untuk perawat & profesional kesehatan
perkosaan. Cetakan Pertama. Jakarta: lain. Jakarta: EGC.
Rineka Cipta. Notoatmodjo S. 2010. Ilmu kesehatan
Irawan I. 2000. Perkembangan seksualitas masyarakat: Prinsip-prinsip dasar.
remaja. Jakarta: PKBI Pusat. Jakarta: Rineka Cipta.
Irwan B, Oktia W, Sofwan I. 2007. Notoatmodjo S. 2007. Promosi kesehatan dan
Pengembangan model pembentukkan perilaku. Jakarta: Rineka Cipta.
germo sadar kesehatan terhadap tingkat Notoatmodjo S. 2010. Promosi kesehatan
penggunaan kondom pada WPS. teori dan aplikasi, Edisi revisi. Jakarta:
Semarang: Universitas Negeri Semarang. Rineka Cipta.
Kartono K. 2010. Patologi social. Jakarta. Nurul U. 2010. Agar pria mau pakai kondom.
Grafindo Persada. Jakarta: DetikHealth.
Koetjoro MH. 2004. On the spot: tutur dari Plummer FA, Coutinho RA, Ngugi EN, Moses
sarang pelacur. Edisi ke-1. Yogyakarta: S. Sex workers and their client in the
kelompok Penerbit Qalam. epidemiology and control of sexually
Kristianti S. 2012. Condoms use behavior transmitted diseases. Dalam: Holmes KK,
among female sex workers clients in Mardh PA, Spanding PF, Lemon SM,
Semampir of Kediri. (Tesis). Kediri: Stamm WE, Piot P, dkk. 2008.
Poltekkes Kemenkes Malang. penyunting. Sexually transmitted
Ludiow R, Panton F. 2013. Komunikasi diseases. Edisi ke-4 hlm 18797: New
Efektif. Yogyakarta: Agromedia Pustaka. York. McGraw-Hill Company.
Machfoedz I, Suryani E. 2008. Pendidikan Prasetyo FA. 2006. Proses negosiasi antara
kesehatan bagian dari promosi kesehatan. pekerja seks komersial dengan pelanggan
Yogyakarta: Citramaya. dalam pemakaian kondom mencegah
Magnani R, Riono P, Nurhayati, Saputro E, penularan IMS dan HIV/AIDS; studi
Mustikawati D, Anartati A, dkk. 2010. kasus di lokalisasi Boker Ciracas Jakarta
Sexual risk behaviours, HIV and other Timur. Volume 3 Edisi April.
sexually transmitted infections among Renstra DepKes RI. 2007. Data laporan
female sex workers in Indonesia. Sex pengidap Infeksi HIV dan kasus AIDS.
Transm Infect. Jabar: Dirjen P2M dan PPL.
Manapa AJ. 2000. Negosiasi dan teknik Saifuddin A. 2012. Sikap Manusia teori dan
negosiasi, bahan diklat staf dan pimpinan pengukuran. Edisi ke-2. Yogyakarta:
administrasi tingkat pertama, lembaga Pustaka Pelajar Offset.
administrasi negara. Hlm 143152. Sarafino EP. 2006. Health psychology:
Mantra IB. 2011. Strategi penyuluhan biopsychosocial interaction. Edisi ke-5.
kesehatan masyarakat. Jakarta: Pusat USA: John Wiley and Sons.
PKM Depkes RI. Sarwono. 2004. Sosiologi kesehatan. Cetakan
Manuaba IBG. 2010. Memahami kesehatan ke-3. Yogyakarta: Penerbit Gadjah Mada
reproduksi wanita. Jakarta: Arcan. University Press.
Maramis WF. 2006. Ilmu perilaku dalam Satoto. 2007. The right condom on the right
pelayanan masyarakat. Cetakan ke-1. place. Semarang: Erlangga.
Surabaya: Airlangga University. Sevgio. O. 2003. The social organization of
Maryland. 2013. Working with women in commercial sex work in Moscow, Russia.
Prostitution: a critical dimension of HIV Journal: Sexually Transmitted Dis J.
prevention; diunduh 4 Januari 2013 Sharron K, Starthdee SA, Shoveller J, Rush M,
tersedia dari http://www. Kerr T, Thydal MW. 2009. Structural and
Genderhealth.org. eviromental barniers to condom use
Mattock J, Ehrenborg J. 2003. Meraih solusi negotiation with client among female sex
win-win secara kreatif. Jakarta: workers: implicationfor HIV prevention
Gramedia. strategies and policy. Hlm 23441: Am J
Public Health.
www.jurnal.ibijabar.org 25
Jurnal Bidan Midwife Journal Volume 1, No. 1, Januari 2015 pISSN 2477-3441
eISSN 2477-345X

Silalahi RE. 2008. Pengaruh faktor


predisposisi, pendukung dan penguat
terhadap tindakan pekerja seks komersil
(PSK) dalam menggunakan kondom
untuk pencegahan HIV/AIDS di
Lokalisasi Teleju Kota Pekan Baru.
(Tesis). Pekanbaru: Universitas
Dipenogoro.
Smet B. 2009. Psikologi kesehatan. Jakarta:
Penerbit Gramedia.
Sondang SI. 2008. Manajement sumber daya
manusia. Jakarta: Penerbit Bumi Raksa.
Surveilens WPS. 2007. Surveilens terpadu
biologis perilaku pada kelompok berisiko.
Jakarta: Gramedia.
Tana S. 2011. Infeksi menular seksual,
terkendalikah. Yogyakarta: Universitas
Gadjah Mada.
USAID. 2005. Implemeting 100% condom use
policies in Indonesia: a case study of two
districs in Jakarta. Washington DC;
USA: Health Policy Initiative, Task Order
1 Constella Future One Thomas Circle.
Wahid A. 2011. Perlindungan terhadap
korban kekerasan seksual. Bandung: PT
refrika aditama.
Walgito B. 2010. Psikologi pengantar. Edisi
ke-4. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Waluya BR. 2010. AIDS di sekeliling kita.
Bandung: Pioner Jaya.
Wang C, Departement of Epidemiology,
School of Public Health and Community
Medicine, University of Washington
Seattle, WA 98103, USA, Hawes SE,
Gaye A, etc. 2007. HIV prevalence,
previous HIV testing, and condom use
with clients and regular partners among
Senegalese commercial sex workers: 83
(7).
Widyastuti Y. 2009. Kesehatan reproduksi
untuk mahasiswa kebidanan. Yogyakarta:
Fitramaya.
Wyaat D. 2010. Negotiation strategis for men
and women. Academic Research Library:
I (22)..
Yayasan Puspa Keluarga. 2010. Ketidakadilan
gender dalam pelaksanaan kebijakan HIV
dan AIDS: studi kasus dua pelayanan
VCT. Jakarta: Pusat Penelitian Universitas
Indonesia.

www.jurnal.ibijabar.org 26