Anda di halaman 1dari 15

Bagian I: Pengantar Basis Data Terdistribusi

(9 Juni 2009)

Pengantar: Dalam posting hari ini akan dibahas gambaran umum mengenai basis data terdistribusi
(distributed database ), khususnya untuk menjawab pertanyaan mendasar Apa itu basis data
terdistribusi?

Basis data terdistribusi (distributed database) adalah suatu basis data yang berada di bawah kendali
sistem manajemen basis data (DBMS) terpusat dengan peranti penyimpanan ( storage devices) yang
terpisah-pisah satu dari yang lainnya. Tempat penyimpanan ini dapat berada di satu lokasi yang secara
fisik berdekatan (misal: dalam satu bangunan) atau terpisah oleh jarak yang jauh dan terhubung melalui
jaringan internet. Penggunaan basis data terdistribusi dapat dilakukan di server internet, intranet atau
ekstranet kantor, atau di jaringan perusahaan.

Untuk menjaga agar basis data yang terdistribusi tetap up-to-date, ada dua proses untuk menjaganya,
yakni replikasi dan duplikasi. Dalam replikasi, digunakan suatu perangkat lunak untuk mencari atau
lebih tepatnya melacak perubahan yang terjadi di satu basis data. Setelah perubahan dalam satu basis
data teridentifikasi dan diketahui, baru kemudian dilakukan perubahan agar semua basis data sama satu
dengan yang lainnya. Proses replikasi memakan waktu yang lama dan membebani komputer karena
kompleksitas prosesnya. Sementara itu, proses duplikasi tidak sama dan tidak sekompleks replikasi.
Dalam proses ini, satu basis data dijadikan master, kemudian diperbanyak menjadi sejumlah duplikat.
Selama proses duplikasi berlangsung, perubahan hanya boleh dilakukan pada basis data master agar
data lokal tidak tertimpa.

Pengguna (user) dari sebuah basis data terdistribusi dapat mengakses basis data melalui dua jenis
aplikasi, yakni

aplikasi lokal: aplikasi yang tidak memerlukan data dari tempat lain
aplikasi global: aplikasi dengan kebutuhan akan data dari tempat lain

Dalam proses perancangan basis data terdistribusi, harus diperhatikan aspek transparansi, yaitu interaksi
user terhadap basis data merupakan interaksi dengan satu sistem secara utuh. Transparansi harus
terlihat dalam dua hal, yaitu

1. Distribusi: para pengguna harus dapat berinteraksi dengan sistem secara keseluruhan sebagai
satu sistem yang utuh. Kesatuan ini harus ada pada kinerja sistem dan metode pengaksesan.
2. Perubahan (transaksi): Setiap transaksi (penambahan, penghapusan, atau peng- update-an)
harus mempertahankan integritas antara basis data yang berbeda-beda dalam satu sistem.
Setiap transaksi harus dibagi ke dalam sejumlah subtransaksi, yang tiap-tiap darinya memberikan
pengaruh pada keseluruhan sistem basis data.
ilustrasi basis data terdistribusi

Bagian II: Pemanfaatan Basis Data Terdistribusi dan


Masalah Transparansi
(24 Juni 2009)

Pengantar: Setelah mendapat gambaran mengenai basis data terdistribusi pada posting dua pekan
yang lalu, pertanyaan yang mungkin timbul selanjutnya adalah Untuk apa basis data terdistribusi
diimplementasikan? Posting kali ini akan diawali dengan bahasan mengenai hubungan antara basis data
terdistribusi dengan distributed computing. Pembahasan dilanjutkan dengan kelebihan dan kekurangan
basis data terdistribusi, juga masalah (issue) transparansi dalam pengelolaan basis data terdistribusi.

Dengan demikian, pemanfaatan basis data terdistribusi dapat memudahkan perolehan informasi
dari berbagai lokasi yang berbeda, bahkan berjauhan, di samping meningkatkan kinerja sistem
dengan beberapa komputer yang bekerja bersamaan.

Basis data terdistribusi pada dasarnya adalah bagian dari sistem komputer terdistribusi, atau disebut juga
distributed computing. Distributed computing sendiri adalah sistem yang dapat membuat komputer-
komputer yang berbeda dan bekerja secara bersamaan dapat saling bertukar informasi dalam satu
kesatuan sistem. Dengan basis data terdistribusi, operasi basis data dapat dikendalikan dari satu mesin
(komputer) dan dijalankan pada mesin-mesin yang lain.

Sistem komputer terdistribusi, tentunya juga dengan basis data terdistribusi, dapat membantu
penyelesaian berbagai masalah, khususnya yang berkaitan dengan bisnis. Sistem komputer terdistribusi
dapat mempercepat aplikasi dengan membagi operasi-operasi pada mesin yang berbeda. Selain itu,
komputer-komputer yang berpartisipasi dalam sistem komputer terdistribusi boleh jadi saling berjauhan
letaknya. Dengan demikian, pemanfaatan basis data terdistribusi dapat memudahkan perolehan informasi
dari berbagai lokasi yang berbeda, bahkan berjauhan, di samping meningkatkan kinerja sistem dengan
beberapa komputer yang bekerja bersamaan.

Kelebihan dan Kekurangan Basis Data Terdistribusi


Pemanfaatan basis data terdistribusi dapat memberikan manfaat bagi sistem yang
mengimplementasikannya. Hal ini disebabkan oleh kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, antara lain

kinerja yang lebih baik karena data ditempatkan di tempat yang sesuai dengan kebutuhan dan
komputer-komputer dalam sistem dapat bekerja secara paralel, sehingga pembebanan pada
komputer (server) menjadi seimbang.
alasan ekonomis, yaitu bahwa merancang sistem yang terdiri atas jaringan komputer-komputer
kecil (sederhana) dibandingkan dengan mengimplementasikan komputer tunggal yang canggih.

alasan modularitas, yaitu bahwa sistem-sistem yang bekerja dalam basis data terdistribusi dapat
dimodifikasi, ditambah, atau dikurangi tanpa memengaruhi modul lain (sistem lain dalam basis
data terdistribusi). Dengan pembagian lokasi data, jika terjadi masalah atau musibah pada
sistem, tidak semua data terancam, melainkan hanya data pada tempat-tempat tertentu.

alasan organisasi dan otonomi pada sistem-sistem yang berpartisipasi, misalnya pada suatu
kantor perusahaan, terdapat beberapa departemen. Dengan basis data terdistribusi, data-data
perusahaan dapat disebar ke tiap-tiap departemen yang bertanggung jawab atasnya.

Akan tetapi, di samping kelebihan-kelebihan yang dimilikinya, basis data terdistribusi juga memiliki
kendala, antara lain

masalah kompleksitas, yaitu bukan pekerjaan yang mudah untuk membuat basis data yang
tersebar terlihat sebagai satu kesatuan. Administrator basis data mempunyai tugas ekstra untuk
menjaga agar basis data yang tersebar di berbagai lokasi terlihat transparan. Di samping itu,
pemeliharaan sistem-sistem yang berlainan lebih kompleks ketimbang pemeliharaan sistem besar
yang utuh sebagai satu kesatuan. Tingginya kompleksitas juga dapat menyebabkan
pembengkakan biaya.
masalah desain, yaitu bahwa desain yang dibuat harus memperhatikan arsitektur komputer yang
terdiri atas sistem-sistem yang terpisah, selain itu juga memperhatikan data yang difragmentasi
(dipecah-pecah) ke dalam lokasi berlainan. Perubahan dari basis data terpusat menjadi
terdistribusi juga menjadi masalah karena belum ada standar metodologi dalam konversi DBMS
terpusat menjadi DBMS terdistribusi.

keamanan data, yaitu bukan hanya satu sistem yang harus diberi proteksi keamanan data,
melainkan juga fragmen-fragmennya yang tersebar di berbagai lokasi, juga jalur komunikasi
antarsistem.

kendala mempertahankan integritas karena dalam menjaga integritas sistem melalui jaringan
juga dapat memakan resource yang besar dari jaringan.

Masalah-Masalah yang Harus Diperhatikan (Issues) dalam Basis Data Terdistribusi

Dalam aplikasi sistem manajemen basis data terdistribusi (DDBMS), ada beberapa masalah (issue), yang
harus diperhatikan, antara lain:

1. transparansi
2. perancangan (desain)

3. pemrosesan query

4. manajemen transaksi

5. arsitektur dan middleware


Issue Transparansi dalam Basis Data Terdistribusi

Dalam posting dua pekan yang lalu, telah dibahas bahwa distribusi dan transaksi data dalam basis data
terdistribusi harus transparan. Secara lebih rinci, untuk memelihara transparansi dalam basis data
terdistribusi, ketiga aspek transparansi berikut ini harus diperhatikan:

1. Jaringan: keberadaan jaringan dalam implementasi basis data harus seolah-olah tidak ada dalam
pandangan pengguna. Penggunaan bahasa query (query language) harus tidak terikat pada
lokasi penyimpanan data. Selain itu, lokasi penyimpanan data tidak boleh disertakan pada
penamaan data. Sebagai akibatnya, semua nama yang digunakan pada basis data harus unik di
seluruh sistem. Selain itu, pencarian data dalam basis data terdistribusi harus dibuat efisien dan
pemindahan lokasi data pada basis data harus dibuat mudah.
2. Replikasi: data pada basis data terdistribusi mungkin memiliki replika pada lokasi yang berbeda.
Pembuatan replika ini harus ada di bawah kendali sistem, bukan pengguna. Termasuk di dalam
aspek ini modifikasi data, yaitu tiap-tiap replika harus selalu diperbaharui dan mekanisme kontrol
konkurensi harus menangani replika berdasarkan konsistensi pembacaan.

3. Fragmentasi: jika basis data terdistribusi bersifat terfragmentasi (secara detailnya akan dibahas
pada posting selanjutnya), setiap query yang dimasukkan oleh pengguna harus ditangani sistem
sedemikian sehingga mempengaruhi relasi-relasi yang terbagi dalam fragmen-fragmen. Sistem
juga harus bisa menangani query sedemikian sehingga keseluruhan sistem dapat memperoleh
hasil dari satu query dari lokasi yang berbeda-beda.

Bagian III: Perancangan Basis Data Terdistribusi


(7 Juli 2009)

Pengantar: Dalam posting bagian ini akan dibahas perancangan basis data
terdistribusi berikut masalah-masalah yang berkaitan dengannya.

Seperti halnya proses perancangan sistem lainnya, perancangan basis data terdistribusi juga memerlukan
serangkaian proses analisis dan desain. Termasuk di dalam proses ini adalah analisis kebutuhan beserta
proses-proses perancangan, yakni desain secara konseptual bersama dengan desain tampilan ( view)
informasi; desain distribusi yang melibatkan pengaturan pembagian data; kemudian desain fisik (lihat
gambar).
bagan proses perancangan basis data terdistribusi

Fragmentasi

Dalam basis data terdistribusi, fragmentasi dilakukan pada relasi-relasi yang ada pada basis data.
Fragmentasi membagi suatu relasi yang ada menjadi sejumlah fragmen atau pecahan relasi yang tetap
mempertahankan keutuhan informasi semula. Kelebihan dari fragmentasi, yang menjadi alasan
dilakukannya adalah dimungkinkannya pemrosesan data secara paralel dan penempatan tupel relasi,
yang berisi sejumlah informasi, pada tempat yang tepat, yaitu yang paling membutuhkannya.
Fragmentasi sendiri terbagi atas empat jenis, yaitu:

primary horizontal: sebuah relasi R(A1, , An) difragmentasi berdasarkan himpunan predikat-
predikat relasi PR = {p1, , pn}. Tiap-tiap predikat merupakan perbandingan yang digunakan
dalam aljabar relasional, yang dapat melibatkan operator perbandingan =, ?, <, atau >.
derived horizontal: pembuatan partisi suatu relasi R berdasarkan partisi yang dibuat pada relasi
lain, misalkan S. Satu atau beberapa atribut di R mengacu kepada primary key pada S.

vertical: fragmentasi ini dilakukan dengan memisah-misahkan atribut-atribut dari skema relasi R
ke dalam skema-skema Ri. Setiap fragmen relasi harus memiliki primary key relasi asli.

hybrid: fragmentasi yang mempunyai pola campuran dari ketiga relasi di atas

Ilustrasi Fragmentasi

Misalkan ada dua relasi sebagai berikut:

PEGAWAI(NoPeg, NamaPeg, Posisi, Gaji, NoDep)


DEPT(NoDep, NamaDep, Lokasi)

Contoh fragmentasi untuk tiga jenis fragmentasi yang telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut:

dalam fragmentasi primary horizontal, dimisalkan ada himpunan predikat yang diakses oleh
aplikasi yang berbeda. Satu aplikasi memperoleh informasi pegawai dengan posisi DBAdmin,
sementara aplikasi lainnya memperoleh informasi pegawai dengan gaji lebih besar dari Rp 15
juta. Predikat sederhana dapat dinyatakan dalam himpunan sbb: . Selanjutnya, predikat-predikat
dapat dinyatakan ke dalam himpunan dari minterm, yaitu
. Selanjutnya, predikat-predikat dapat
dinyatakan ke dalam himpunan dari minterm, yaitu sebagai berikut
o m1 = Posisi = DBAdmin ^ Gaji > 15000000

o m2 = Posisi ? DBAdmin ^ Gaji > 15000000

o m3 = Posisi = DBAdmin ^ Gaji = 15000000

o m4 = Posisi ? DBAdmin ^ Gaji = 15000000

dalam fragmentasi derived horizontal , misalkan DEPT dipartisi berdasarkan predikat Lokasi =
Bandung, sehingga ada dua partisi

DEPT1 = sLokasi = Bandung (DEPT)


DEPT2 = sLokasi ? Bandung (DEPT)

sementara, itu PEGAWAI dipartisi berdasarkan partisi DEPT sebagai berikut:

PEGAWAIi PEGAWAI left outer join DEPTi


dalam fragmentasi vertical, relasi PEGAWAI(NoPeg, NamaPeg, Posisi, Gaji, NoDep) difragmentasi
ke dalam fragmen relasi PEGAWAI 1(NoPeg, NamaPeg, Gaji) dan PEGAWAI 2(NoPeg, Posisi,
NoDep).

Ketepatan Fragmentasi

Fragmentasi dikatakan tepat apabila memenuhi syarat-syarat berikut:

kelengkapan: dekomposisi relasi R ke dalam fragmen-fragmen R 1, , Rn dikatakan lengkap jika


setiap tupel R dapat ditemukan dalam fragmen Ri mana pun.
rekonstruksi: jika relasi R terdekomposisi ke dalam fragmen-fragmen R 1, , Rn, terdapat
operator relasional sedemikian sehingga .

disjoint: jika sebuah relasi R dipartisi, sebuah tupel dalam R, jika ditemukan dalam fragmen R i,
tidak akan ditemukan dalam fragmen Rj dengan i ? j.

Alokasi

Dalam basis data terdistribusi, alokasi mengacu kepada distribusi data ke tempat yang optimal. Ada tiga
aspek dalam memastikan alokasi menjadi optimal, antara lain

biaya minimal, yang mencakup aspek komunikasi, penyimpanan, dan pemrosesan (pembacaan
dan update); biaya mengacu pada waktu dan biaya jaringan
kinerja, yang mencakup waktu respons dan throughput

konstrain pemrosesan dan penyimpanan per situs (tempat menyimpan data)

Alokasi Kebutuhan Informasi


Untuk dapat mengalokasikan basis data terdistribusi secara optimal, dibutuhkan informasi-informasi
tentang sistem sebagai berikut:

informasi basis data


o skema konseptual basis data dan jumlah situs tersedia

o jumlah, ukuran, dan selektivitas fragmen per relasi global

informasi aplikasi

o jumlah query aplikasi

o rata-rata jumlah akses baca dariquery ke dalam sebuah fragmen

o rata-rata jumlah akses update dari query ke dalam sebuah fragmen

o matriks yang menunjukkan query mana yang meng-update dan/atau membaca fragmen
tertentu

o situs asal tiap-tiap query dijalankan

informasi situs

o unit cost penyimpanan data dalam satu situs

o unit cost pemrosesan data dalam satu situs

informasi jaringan

o komunikasi antara dua situs, mencakup antara lain bandwidth dan tunda (latency)

Replikasi

Sistem basis data terdistribusi dapat menyimpan duplikat dari data yang sama dalam site yang berbeda
agar perolehan informasi yang semakin cepat dan toleransi kesalahan. Proses ini disebut replikasi.
Replikasi pada relasi bersifat redundan pada dua atau lebih situs.

Replikasi pada relasi disebut replikasi penuh bila relasi tersebut disimpan pada semua situs. Basis data
disebut redundan penuh jika tiap-tiap site mengandung duplikat dari keseluruhan basis data.

Replikasi dilakukan karena memiliki kelebihan sebagai berikut:

jika situs asli yang menyimpan relasi R mengalami kegagalan, relasi R tetap dapat diakses
melalui replikanya
query pada relasi R dapat berjalan secara paralel di simpul (situs) yang berbeda

lebih sedikit transfer data, yaitu tidak perlu lagi mengambil data suatu relasi melalui jaringan
karena sudah ada replika dalam situs lokal.

Namun, proses replikasi juga memiliki kelemahan, antara lain

proses update yang lebih rumit karena setiap replika relasi R harus di-update.
kendali atas konkurensi yang lebih rumit karena update terhadap replika secara konkuren
dapat menyebabkan basis data menjadi tidak konsisten sehingga diperlukan mekanisme khusus
dalam penanganan konkurensi.

Sementara itu, dalam melakukan replikasi, ada dua strategi, yaitu

sinkron: sebelum seluruh proses transaksi update dinyatakan selesai, data yang telah
dimodifikasi disinkronkan ke setiap duplikatnya; proses ini harus menunggu hingga data di
tempat penyimpanan duplikat selesai ditulis sebelum dilakukan perubahan lainnya sehingga
menjadi lebih kompleks
asinkron: copy data diperbaharui secara periodik berdasarkan data utama yang diperbaharui;
proses penulisan data selesai tanpa perlu menunggu penulisan data di tempat penyimpanan
duplikat selesai; proses ini memang meningkatkan kinerja sistem namun risikonya, inkonsistensi
data bisa terjadi.

Bagian IV: Pemrosesan Query Terdistribusi


(21 Juli 2009)

Pengantar: Dalam posting bagian ini akan dibahas masalah (issue) lainnya dalam basis data
terdistribusi, yaitu pemrosesan query terdistirbusi, berikut pertimbangan dan contoh kasus dalam
pembuatan query.

Pemrosesan query pada basis data terdistribusi berbeda dari pemrosesan query pada basis data terpusat.
Query-query pada relasi global perlu disesuaikan agar dapat menganani relasi-relasi dalam fragmen.
Pembuatan query pada perancangan basis data terdistribusi dapat diilustrasikan dengan bagan di bawah
ini.
Bagan pembuatan query terdistribusi

Pada basis data terpusat, evaluasi query harus memperhatikan faktor pengaksesan storage (disk), yakni
jumlah blok pada hard disk yang dibaca/tulis. Sementara itu, dalam pemrosesan query pada basis data
terdistribusi, diperlukan pula pertimbangan dari sisi

1. transmisi data melalui jaringan


2. peningkatan kinerja yang potensial akibat pemrosesan query secara paralel

Dalam membuat query pada basis data terdistribusi, perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

penyesuaian dari query relasi global ke query terhadap fragmen, yaitu bahwa ekspresi relasi
global dalam query harus disesuaikan menjadi ekspresi relasi fragmen; relasi global harus dapat
direkonstruksi (dibuat terlihat global) dari fragmen-fragmennya
penyederhanaan ekspresi aljabar relasional, juga deteksi dan penghilangan redundant

pemilihan strategi join yang optimal (khususnya pada program yang melakukan semi-join)

pemilihan rencana pemrosesan query yang optimal

Sebagai contoh, jika dimisalkan terdapat relasi global PARTS(PartNo, OrderNo, Price) yang dipartisi
menjadi

PARTS1:= 0PartNo300(PARTS)
PARTS2:= 301PartNo500(PARTS)
PARTS3:= 501PartNo999(PARTS)

Query Q = 25PartNo350(PARTS) pada relasi global dapat diubah menjadi bentuk query fragmen berikut:

mengganti relasi global menjadi definisi fragmen-fragmennya:


Q1 = 25PartNo350(PARTS1 PARTS2 PARTS3)
melakukan pushdown pada tiap-tiap fragmen:
Q2 = 25PartNo350(PARTS1) 25PartNo350(PARTS2) 25PartNo350(PARTS3)

Pemrosesan Paralel pada Query Fragmen

Jika dimisalkan sebuah relasi R difragmentasi secara horizontal (seperti contoh sebelumnya)
menjadi R1 Rn, aljabar relasional seleksi dan proyeksi menjadi
F(R) (F(R1)) (F(Rn))
attr(R) (attr(R1)) (attr(Rn))
Fungsi-fungsi agregat (query Q(R) diasumsikan menghasilkan relasi satu kolom)

o min(Q(R)) min(Q(R1), , Q(Rn))

o max(Q(R)) max(Q(R1), , Q(Rn))

o sum(Q(R)) sum(Q(R1)) + + sum(Q(Rn))

Operasi R join S
Jika dimisalkan relasi S difragmentasi berdasarkan fragmentasi relasi R, sedemikian sehingga R =
R1 R2 dan S = S1 S2, setiap fragmen dari R hanya perlu digabungkan (di- join) dengan
fragmen dari S yang bersesuaian dengannya.

Pemrosesan Join Query

Jika terdapat relasi-relasi pada tempat (situs) yang terpisah, misalnya relasi R di situs A 1, S di A2, dan T di
A3, query R join S join T yang dilakukan pada situs A i, harus ditampilkan hasilnya pada situs Ai. Strategi
pemrosesan query yang mungkin adalah sebagai berikut:

Meng-copy salinan semua relasi R, S, dan T ke situs Ai, kemudian melakukan join secara lokal di
Ai
Melakukan join secara bertahap, sbb:

1. menyalin R ke A2 dan menghasilkan temp1 = R join S

2. temp1 disalin ke A3 dan menghasilkan temp2 = temp1 join T

3. temp2 sebagai hasil akhir dipindahkan ke Ai

Strategi join di atas dapat dipilih dengan mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

jumlah data yang ditransfer (salin)


biaya (resource) yang diperlukan untuk transfer data antarsitus

kecepatan pemrosesan di tiap situs


Operasi join dapat pula dioptimalkan dengan menggunakan strategi semijoin. R semijoin S attr(R) (R join
S). Jika dimisalkan relasi R disimpan di A 1 dan S di A2, kemudian dilakukan operasi R join S pada A1),
strategi semijoin dapat diilustrasikan sebagai berikut:

1. lakukan proyeksi di A1 hanya dengan atribut yang dimiliki R dan S; temp1 := attr(R) attr(s)(R)
2. hasil temp1 disalin ke A2 dan di-join dengan S; temp2 := S join temp1; perhatikan bahwa temp2
adalah juga S semijoin R

3. temp2 disalin ke A1 dan dilakukan operasi R join temp2

Strategi semijoin di atas dapat meningkatkan efisiensi operasi join karena data yang dipertukarkan
melalui jaringan menjadi lebih kecil. Untuk membuat join lebih efisien, dapat diimplementasikan
program (semi-)join yang memiliki pemroses query (query processor) untuk membuat partisi dari
sederetan join seperti R1 join R2 join Rn menjadi kumpulan semijoin yang lebih efisien. Pemilihan
semijoin dilakukan dengan mempertimbangkan perpindahan data ( resource dan waktu) beserta konstrain
yang terkait, misalnya waktu respon maksimum dari query.

Bagian V: Multidatabase dan Arsitektur Client/Server


(Penutup: Contoh Sistem dengan Oracle)
(30 Juli 2009)

Pengantar: Posting terakhir ini akan membahas aspek multidatabase, termasuk proses pembuatannya
dengan proses integrasi basis data, juga aplikasi pendukung basis data terdistribusi, yaitu arsitektur
klien/server. Sebagai penutup akan dibahas pula contoh sistem basis data terdistribusi menggunakan
Oracle.

Multidatabase

Suatu sistem basis data terdistribusi adakalanya dibentuk dari beberapa basis data yang berlainan.
Sistem seperti ini disebut multidatabase, yang pembentukannya dilakukan dengan integrasi basis data.
Dalam melakukan integrasi ini, boleh jadi ada ketidakseragaman antara basis data-basis data yang
membentuknya dan mengakibatkan konflik, baik konflik skema (akibat ketidakseragaman skema relasi)
maupun konflik data (akibat ketidakakuratan isi, misalnya presisi, besaran dan satuan, juga data yang
tidak tepat atau sudah tidak berlaku [obsolete]). Oleh karena itu, perlu diperhatikan metode penyelesaian
konflik yang terjadi.

Penyelesaian konflik saat integrasi basis data harus memerlukan analisis yang mendalam akan komponen
basis data dan tidak dapat diotomatisasi. Adapun sebelum dilakukan integrasi, komponen basis data
harus dipersiapkan terlebih dahulu, khususnya untuk penanganan konflik. Proses ini disebut
restrukturisasi. Ilustrasi restrukturisasi dan integrasi basis data dapat dilihat pada bagan berikut:
Bagan Proses Restrukturisasi dan Integrasi Basis Data

Penyelesaian konflik pada restrukturisasi (untuk integrasi) basis data dapat dilakukan dengan
menggunakan view, yaitu relasi/tabel bentukan virtual yang bukan bagian dari skema relasi itu sendiri,
tetapi dapat diperlakukan sebagaimana relasi melalui query dan view lain. View hanya perlu disimpan
definisinya di kamus data tanpa perlu relasinya.

Berikut ini adalah konflik yang dapat terjadi pada proses integrasi basis data berikut contoh
penanganannya:

konflik antartabel
o antara dua tabel

nama tabel (homonim/sinonim), dapat diselesaikan dengan definisi view sendiri

struktur tabel, seperti jumlah atribut berbeda di dua tabel yang informasinya
sama, dapat diselesaikan dengan membuang atribut yang keberadaannya tidak
di semua relasi atau menambahkan atribut yang kurang pada relasi yang
kekurangan atribut (bila perlu dengan nilai default-nya)

integrity constraint, misalnya pada dua situs terdapat tabel yang sama tetapi
isi atribut primary key-nya berbeda, dapat diselesaikan dengan memberikan
primary key tambahan yang berisi informasi situs relasi itu disimpan

o antara banyak tabel, misalnya pada dua komponen basis data jumlah relasinya tidak
sama tetapi informasinya sama, dapat diselesaikan dengan penggabungan relasi dengan
view

konflik antaratribut

o antara dua atribut

nama atribut (homonim/sinonim), dapat diselesaikan dengan penggantian


nama (rename) atribut di view

integrity constraint, misal tipe data, dapat diselesaikan dengan fungsi-fungsi


konversi, seperti to_char(int) atau to_int(char), pada view
o antara banyak atribut, misalnya dalam penyimpanan informasi nama orang dalam
tabel yang satu digunakan dua atribut (kolom): nama depan dan nama belakang,
sementara pada tabel yang lain digunakan satu atribut nama lengkap; konflik ini dapat
diselesaikan dengan penggabungan string atau pemisahan string dengan fungsi substring

konflik tabel-atribut, dapat merupakan kombinasi dari permasalahan di atas

Arsitektur Klien/Server

Basis data terdistribusi adalah bagian dari sistem komputer terdistribusi. Arsitektur klien/server adalah
model arsitektur perangkat lunak yang umum digunakan dalam sistem ini. Sistem dipisahkan antara klien
dan server; kerjanya adalah sebagai berikut: sistem klien melakukan permintaan dan sistem server
memproses permintaan tersebut. Fungsionalitas dalam arsitektur klien/server dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu:

fungsi presentasi, mencakup antarmuka seperti peranti input dan form


fungsi aplikasi, spesifik terhadap aplikasi yang digunakan

fungsi manajemen data, yang mengelola akses data dalam arsip atau basis data

Bagan ilustrasi arsitektur klien/server adalah sebagai berikut:

Fungsionalitas basis data pada arsitektur klien/server dibagi menjadi dua:

front-end, berhubungan dengan pengguna dan mencakup penanganan masukan, antarmuka


pengguna, dan pembuatan report.
back-end, berhubungan dengan akses data dan penanganan query, kontrol concurrency, dan
recovery

Untuk menghubungkan keduanya, digunakan SQL atau application program interface, dapat berupa
ODBC atau JDBC.

Ada dua jenis sistem server yang umum digunakan, yaitu server transaksi dan server data. Perbedaannya
adalah

pada server transaksi, klien hanya perlu mengirimkan permintaan melalui application program
interface, seperti ODBC dan JDBC; selanjutnya serangkaian prosedur (transaksi) yang
berhubungan dengan pemrosesan query dijalankan di server
pada server data, seluruh fungsionalitas back-end dilakukan di klien, termasuk pemrosesan
query data; server mengirimkan seluruh data yang diminta ke klien, bukan hasil query

Contoh Sistem: Sistem Basis Data Terdistribusi dengan Oracle

Basis data terdistribusi dapat diimplementasikan dengan berbasiskan sistem Oracle. Dalam
implementasinya, sistem basis data terdistribusi dengan Oracle dapat digolongkan menjadi dua:
sistem basis data terdistribusi homogen: seluruh sistem menggunakan basis data Oracle yang
bertempat di satu atau beberapa mesin; Oracle yang digunakan boleh jadi berbeda versi, tetapi
aplikasi harus dapat memahami perbedaan fungsionalitas yang ada di setiap simpul (basis data)
sistem

Ilustrasi Sistem Basis Data Terdistribusi Homogen

sistem basis data terdistribusi heterogen: sedikitnya satu sistem bagian tidak menggunakan
basis data Oracle; agar dapat saling berkomunikasi, perbedaan ini dapat dijembatani dengan
menerapkan salah satu dari berikut:
o Oracle Transparent Gateway yang menggunakan layanan heterogen pada server Oracle
(Oracle Heterogenous Services) dan agen yang spesifik terhadap sistem pada sistem
non-Oracle

o konektivitas generik (generic connectivity), yang dapat diimplementasikan di server


Oracle dan berupa Heterogenous Services ODBC agent atau Heterogenous OLE DB
agent; dengan mengimplementasikannya, tidak diperlukan lagi aplikasi agen yang
spesifik-sistem, tetapi sumber data harus kompatibel dengan ODBC atau OLE DB agar
dapat diakses
Ilustrasi Sistem Basis Data Terdistribusi Heterogen

= Tamat =