Anda di halaman 1dari 137

50 tahun

PO UI
Visi Allah yang Dihidupi

TIM LITERATUR
PANITIA PERAYAAN 50 TAHUN
PERSEKUTUAN OIKUMENE UNIVERSITAS INDONESIA
50 tahun
PO UI
Visi Allah yang Dihidupi

50 Tahun PO UI
Visi Allah yang Dihidupi

Oleh: Tim Literatur Panitia Perayaan 50 Tahun PO UI


Copyright: Tim Literatur Panitia Perayaan 50 Tahun PO UI

Diterbitkan dalam Bahasa Indonesia oleh


Tim Literatur Panitia Perayaan 50 Tahun PO UI

Penyunting Penyelia: Yoel M Indrasmoro


Penyunting Pengelola: Desca Lidya Natalia,
Elisabeth Yosephine Maria Tambunan, Siwi Sarita
Penata Letak: Yunita Andriana
Foto-foto: istimewa

Ayat-ayat Alkitab, kecuali ada catatan khusus, dikutip dari


Alkitab Perjanjian Lama (TB), Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 1974 dan
Alkitab Perjanjian Baru (TB), edisi 2, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), 1997.

Cetakan Pertama: 2017

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip, memperbanyak,


atau menyalin baik secara menyeluruh maupun sebagian dalam bentuk el-
ektronik, cetak, dan lain sebagainya tanpa izin tertulis dari penerbit.
DAFTAR ISI
Pengantar ...... 4
Sambutan ......... 6
Bab I - Sejarah PO UI ....... 13
Bab II - Persekutuan Mahasiswa Kristen .. 25
Sebuah Konsep Dasar tentang PMK ... 25
Generasi Saat Ini dan Tantangannya yang Menanti ........ 30
Interdenominasi dalam PMK ....... 35
Bab III - Bukan Mahasiswa Biasa ...... 41
Sesuatu yang Sering Dibiarkan Tenggelam ... 40
Antara Studi, Organisasi dan Pelayanan ......... 45
Saya, saya, saya ....... 48
Saya Tidak Takut Menulis tentang Rasa Takut ....... 52
Geng PO Fasilkom .... 56
Ilusi Renjana ...... 60
Kebenaran yang Relatif .... 65
Berpacaran Kristen? ..... 69
Bersahabat dalam Keragaman .... 73
Kuliah: Inisiatif Allah yang Indah .... 77
Bab IV - Alumni Kristen ....... 85
Pekerjaan dan Ladang Misi ... 82
Adaptasi Gaya Hidup ..... 86
Godaan Jabatan . 90
Relasi dengan Rekan Kerja 95
Berjalan Pincang di Tengah Komunitas yang Menopang ... 99
Hidup Sehat .. 104
Coram Deo, Hidup di Hadapan Allah sebagai Pelayan 109
Pernikahan Kristen ... 113
Menjadi Terang bagi Bangsa 117
Bab V - Quo Vadis PO UI .... 124
Data Diri Penulis ..... 132
pengantar
Generasi demi
Generasi
oleh Desca Lidya Natalia

Belum lama ini saya melakukan perjalanan keluar kota dengan beberapa
rekan seprofesi tapi dari kantor yang berbeda. Ternyata tidak hanya
berbeda kantor, tapi kami punya jarak usia 3-4 tahun--tentu mereka lebih
muda. Sepanjang perjalanan, aktivitas mereka tidak lepas dari ponsel pintar
untuk mengabadikan hampir semua momen yang menurut saya biasa-biasa
saja. Ratusan foto dan rekaman peristiwa tersimpan, selanjutnya diunggah
ke media sosial, terutama ke akun Instagram di fitur "Insta-story".
Persoalan lain, rekan-rekan saya tersebut punya banyak permintaan
ke panitia, mulai dari lokasi tempat makan, menu makan siang, kendaraan
antar jemput, oleh-oleh untuk dibawa pulang dan keinginan-keinginan
"kecil" lain yang tampak tidak signifikan namun tetap diutarakan. Panitia
pun meluluskan permintaan tersebut. Saya pun berpikir sungguh mereka
"anak-anak" manja yang tidak fokus pada pekerjaan tapi lebih suka mencari
kesenangan.
Namun kemudian saya berpikir, bukankah manusia juga melakukan hal
yang sama seperti rekan-rekan saya (dan saya juga) kepada Tuhan?
Bukankah kita kerap cerewet meminta hal-hal "kecil" yang sebenarnya su-
dah Tuhan sediakan dengan baik tapi kita ingin sesuatu yang menurut
pemikiran manusia "lebih baik" agar bisa ditunjukkan ke manusia lain?
Standar manusia menjadi tolak ukur kita, hal ini tentu tidak sesuai dengan
keinginan Tuhan agar kita tidak serupa dengan dunia (Roma 12:2).
Herannya Tuhan tetap sabar kepada manusia.
Pelajaran lain yang saya dapatkan, memang muncul generasi "milenial"
yang cirinya terdepan terkait teknologi, sangat peduli tampilan diri di media
sosial, menyukai gambar atau hal-hal visual, kreatif, dan kondisi-kondisi lain
yang tidak terpikirkan generasi sebelumnya. Bisa saja hal ini mendatangkan
dampak positif tapi bisa juga sebaliknya, seperti yang saya rasakan terhadap
rekan-rekan saya di atas.
Lalu apa hubungannya dengan Persekutuan Oikumene UI (PO UI) yang
dalam anugerah Tuhan sudah 50 tahun berdiri? Masa 50 tahun tentu
menunjukkan pemeliharaan Allah kepada umat-Nya di UI sekaligus
perjuangan orang-orang yang mendapatkan anugerah keselamatan ber-
juang untuk menghidupi visi Allah semasa di kampus maupun setelah men-
jadi alumni. Generasi demi generasi memiliki jejak langkahnya sendiri untuk
menunjukkan contoh bagaimana tetap setia dalam panggilan Allah.
Terlepas bagaimana ciri generasi tersebut toh Tuhan tetap berotoritas,
pekerjaan kita adalah bagaimana sebaik mungkin menerjemahkan otoritas
Tuhan itu di hadapan generasi-generasi terkini.
Dalam anugerah Tuhan juga panitia perayaan 50 Tahun PO UI
mengumpulkan tulisan-tulisan para alumni muda maupun madya untuk
menunjukkan kesaksian mereka mengenai pemeliharaan Tuhan dalam
bidang-bidang tertentu. Kesaksian-kesaksian ini menjadi implementasi
nyata bagaimana prinsip-prinsip persekutuan yang tertuang di bab awal
direnda Tuhan dengan indah sehingga menjadi suatu sejarah untuk
generasi selanjutnya. Persoalannya apakah generasi sekarang juga akan
melanjutkan kesaksian tersebut ke generasi mendatang?
Akhirnya, buku ini hendak mengukuhkan: ketika mahasiswa berupaya
tekun menghidupi visi Tuhan, dampaknya akan dirasakan nyata bukan
ha-nya semasa mahasiswa tapi juga setelah menjadi alumni. Kiranya buku
ini juga menjadi salah satu contoh bahwa kasih Allah yang abadi menjadi
jawaban untuk menjembatani segala perbedaan perilaku generasi sehingga
Injil tetap dapat diberitakan sampai Kristus datang yang kedua kalinya.
Selamat membaca!
Puji syukur patut kita panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah
menyertai kita sampai hari ini, 50 tahun sudah Persekutuan Oikumene
Universitas Indonesia (PO UI) berdiri. Kesempatan ini selayaknya kita
gunakan untuk melihat dan mensyukuri karya Allah yang luar biasa
sepanjang perjalanan PO UI. Penyertaan Tuhan akan persekutuan di kampus
kita sungguh setia dan berkelanjutan. Persekutuan kampus ini sudah melalui
berbagai macam keadaan, tantangan, bahkan rintangan yang sampai
mengancam eksistensinya. Hanya penyertaan dan pemeliharaan Tuhanlah
yang terus mempertahankan persekutuan ini hingga bisa berdiri sampai hari
ini.
Kalau kita lihat dari keadaan fisik, persekutuan kita terus bertumbuh.
Jumlah jemaat, fasilitas, bahkan hak dan kewajiban sebagai organisasi pun
semakin besar. Jika dulu persekutuan dimulai oleh 4-5 orang yang
membentuk kelompok dan melakukan pembahasan Alkitab, sekarang ada
lebih dari 100 kelompok yang aktif berkumpul dan bersekutu untuk
mempelajari firman Tuhan. Jika dulu kita melaksanakan pesekutuan di
selasar atau taman, sekarang kita diberi ruang kelas atau bahkan auditorium
fakultas untuk memuji Tuhan secara rutin. Jika dulu jemaat berkumpul tanpa
ikatan dan aturan organisasi, bersyukur saat ini sudah ada struktur yang
jelas sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang punya hak untuk
berkegiatan. Jelas kita merasakan penyertaan Tuhan yang begitu besar
kepada PO UI.
Tetapi, apakah perkembangan tersebut sejalan dengan perubahan dan
pertumbuhan rohani yang terjadi pada diri masing-masing sebagai
mahasiswa dan alumni, sebagai murid Kristus? Bagaimana dengan visi kita?
Bagaimana dengan kehidupan pasca-kampus yang kita jalani? Lebih luas
lagi, bagaimana kita sebagai murid Kristus akhirnya menjalani kehidupan
sehari-hari? Apakah kita menghidupi visi yang Allah berikan kepada kita?
Visi untuk menjalankan peran kita sebagai garam dan terang dunia, serta
mengerjakan profesi kita dengan penuh integritas; mencerminkan sifat
Kristus di manapun kita ditempatkan-Nya.
Apakah penyertaan Tuhan dalam persekutuan dan pertumbuhan rohani
kita secara pribadi sejalan dengan bagaimana kita menjalankan peran kita
sebagai anak-anak Allah yang telah dikaruniakan keselamatan?
Pada momen kebangkitan ini, marilah kita kembali melihat bahwa karya
penebusan Kristuslah yang memampukan kita untuk menghidupi visi-Nya
bagi kita hingga akhirnya kita dapat menjadi pelaku dan pewarta injil bagi
dunia, sesuai dengan panggilan pribadi kita, di bidang yang sudah
dirancang Tuhan sebagaimana Ia pandang baik.

Soli deo Gloria

Geraldo Sirait
Koordinator PO UI 2017
Sambutan
Segala hormat, puji, dan syukur kita panjatkan kepada Allah Bapa, Allah
Putra, dan Allah Roh Kudus, Ketiganya yang Esa, yang telah memelihara,
menjaga, dan memberkati Persekutuan Oikumene Universitas Indonesia
selama lebih dari 50 tahun dengan segala dinamikanya.
PO UI ada semata karena anugerah Tuhan yang memakai berbagai
peristiwa dan keadaan untuk memberikan wadah dan kesempatan bagi
umat-Nya untuk dapat menikmati hadirat-Nya dan menjadi duta-duta-Nya
bagi kemuliaan nama-Nya di Universitas Indonesia yang kita cintai ini.
Awalnya PO UI bukanlah suatu organisasi formal, tetapi sebagai Panitia
Tetap wadah umat Kristiani Katolik dan Protestan untuk mengadakan
beberapa kegiatan tingkat UI seperti perayaan Natal; Paskah; dan
penyambutan mahasiswa baru. Rektor UI waktu itu (Prof. Dr. Ir. Soemantri
Brodjonegoro) mengusulkan untuk membangun gereja di UI sebagai
pendamping masjid Arif Rachman Hakim, tetapi mengingat beragamnya
denominasi gereja, maka diputuskan pembentukan wadah kegiatan untuk
umat Kristiani yang diberi nama Persekutuan Oikumene Universitas
Indonesia (PO UI), yang kemudian dalam perjalanannya berubah menjadi
Persekutuan Sivitas Akademika Universitas Indonesia (POSA UI) untuk
mempertegas bahwa wadah ini bukan hanya untuk mahasiswa tetapi
seluruh sivitas akademika termasuk dosen; karyawan; dan alumni. Visi
pertama POSA UI adalah visi kesatuan (Yohanes 17:21).
Awal tahun 1970-an mulai timbul kegiatan diskusi isu-isu sosial
kemasyarakatan yang bertempat di Fratheran Jl. Kramat VII/25 yang terbuka
bagi siapa saja, dan juga ada kegiatan pemahaman Alkitab (PA) di FT UI
yang dirintis oleh dosen FT Ir. Jimmy Kuswadi dan Ir. Jonathan Parapak.
Dengan bertumbuhnya kelompok pemahaman Alkitab di FT UI maka
berdirilah PO FT UI dengan Kelompok-kelompok Tumbuh Bersamanya
(KTB), dan mulai membagikan visi menceritakan Kabar Baik dan mendalami
Firman Tuhan ke beberapa fakultas di lingkungan Salemba seperti
FIPIA (FMIPA), FE, FKG, dan kampus Rawamangun. Persekutuan-persekutuan
fakultas ini kemudian bergabung dengan wadah PO UI yang sudah ada.
Pada tahun 1981 POSA UI mengadakan retreat se-UI yang pertama, dan
diikuti dengan semakin berkembangnya persekutuan di fakultas-fakultas
baik di Salemba, maupun di Rawamangun. Pada era 1980-an ini pula
saudara-saudara dari Katolik memisahkan diri dari POSA UI dan mendirikan
KUKSA yang pada tahun 1999 menyatakan diri menjadi Unit Kegiatan
Mahasiswa dengan nama KMK UI. Pada tahun 1987 sebagian kampus UI
mulai pindah ke Depok, dan jemaat di tiap fakultas pun semakin banyak dan
semakin mandiri, tetapi tanpa disadari pada era 1990-an status POSA untuk
beberapa waktu menjadi tidak jelas di dalam organisasi UI, bahkan sempat
bergabung dengan BEM. Pada Januari 2004 dengan status UI sebagai
Universitas Badan Hukum Milik Negara, dan melalui berbagai pendekatan,
PO UI disahkan oleh Rektorat UI menjadi salah satu Unit Kegiatan
Mahasiswa dengan segala hak dan kewajibannya, tetapi kegiatannya
dibatasi hanya untuk kalangan mahasiswa saja, sedangkan sivitas akademika
lainnya hanya sebagai pendukung saja.
Dengan terjadinya berbagai perubahan pada sistem pendidikan nasional
yang berimbas pada UI juga, serta perkembangan di luar kampus maka visi
PO UI menjadi: menghasilkan alumni Kristiani yang takut akan Tuhan, yang
menjalankan perannya sebagai garam dan terang dunia, dan menjadi
profesional di bidangnya.
50 tahun bukanlah waktu yang singkat, banyak perubahan terjadi, tetapi
kasih setia Tuhan tetap selama-lamanya, dan kita telah mengalaminya.
Kiranya peringatan ke 50-tahun PO UI ini terus memotivasi dan
mendorong kita untuk terus mewujudkan visi kita sebagai saksi-saksi Kristus
yang takut akan Tuhan, menjalankan peran kita sebagai garam dan terang
dunia, dan hidup berintegritas bagi kemuliaan nama-Nya.

Soli Deo Gloria.

Ir. Sunaryo, Ph.D


Pembina PO UI
Sejarah
PO UI
AWAL M ULA PERSEKUTUAN O IKUMENE UI
Sebenarnya, tanggal spesifik kapan PO UI lahir tidak ada yang menge-
tahui. 21 September 1966 muncul karena mengadopsi Malam Pengucapan
Syukur (MPS) yang memperingati hari jadi ke-30 PO UI pada 21 September
1996. Kesepakatan itu dilakukan oleh Shinta M.G Tambunan (FE 91), me-
wakili pihak Protestan, Nikolaus Dachi (FMIPA 89) mewakili Katolik, pembina
Persekutuan Oikumene Sivitas Akademika (POSA) UI yaitu Arif Gosita, dan
koordinator POSA UI saat itu James Sibarani (FMIPA 91).
Pada awal berdirinya, fungsi PO UI adalah sebagai panitia acara tetap
tingkat UI seperti penyambutan mahasiwa baru, Natal UI dan Paskah UI.
Kepanitiaan mulai terbentuk ketika rektor UI periode 1964-1973,
Prof. Sumantri Brodjonegoro, menunjuk doseh FH yaitu Arif Gosita untuk
membuat suatu gereja karena rekan beragama Islam boleh mendirikan
masjid--yang sekarang dikenal sebagai Masjid Arif Rahman Hakim di UI
Salemba. Tapi karena saat itu denominasi gereja beragam maka diputuskan
untuk membuat wadah kerohanian bersama antara umat Katolik dan umat
Protestan bernama PO UI.
Dalam perjalanannya PO UI berubah status menjadi POSA UI dengan
tujuan mewadahi bukan hanya mahasiswa melainkan seluruh sivitas
akademika Katolik dan Protestan di UI. P-nya pun bukan Persekutuan tapi
lebih dikenal sebagai Panitia Oikumene meski bersifat tetap. Perkembangan
selanjutnya, fungsi POSA UI sesuai surat Pembantu Rektor III bergeser:
koordinasi dan penyelenggaraan serta pertanggungjawaban kegiatan
kerohanian Katolik dan Protestan di bawah pimpinan universitas.
Pengurus pertama pada September 1966 adalah dosen FH Arif Gosita
sebagai Ketua, mahasiswa Psikologi Romo Sumo Darsono selaku Wakil
Ketua, Pembantu Rektor II yang juga dosen FE Marsudi sebagai Sekretaris,
dan karyawan administrasi keuangan rektorat Junus Salis selaku Bendahara.
Visi pertama POSA UI adalah visi Kesatuan Yohanes 17:21 sebagai
bentuk kesatuan umat percaya Kristen Katolik dan Kristen Protestan.
Keberadaan POSA UI diakui secara de facto oleh pimpinan universitas. Mulai
1966 sampai 1970-an tidak diketahui dengan jelas bagaimana
perkembangan POSA UI tapi POSA UI tetap menyelenggarakan kegiatan-
kegiatan tingkat universitas (Natal dan Paskah).
PERIODE 1970-AN
Di bawah bimbingan Frater Danu dan Frater Deiler POSA UI juga
mengadakan pertemuan dan diskusi di Jalan Kramat VII No 25 (frateran)
atau di UI Rawamangun atau di taman FE Salemba. Pertemuan itu
membahas isu sosial yang terjadi di masyarakat dan sering juga dihadiri
oleh kawan-kawan dari pihak muslim. Kegiatan POSA UI terus berkembang
dengan diadakan pelatihan kepemimpinan yang dinamakan Leadership
Training Course (LTC) untuk menyiapkan mahasiswa Kristen memimpin
rapat, berdiskusi, beragumen di depan publik dan sebagainya.
Pada saat yang sama, dosen-dosen di FT yaitu Jimmy Kuswadi dan
Jonathan L Parapak mulai membangun persekutuan di FT pada sekitar 1972
dalam bentuk Kelompok Penggalian atau Pemahaman Alkitab (KPA) yang
saat ini lazim disebut Kelompok Kecil (KK).
Gererasi pertama yang dibina oleh Jimmy dan Jonathan pada 1973
adalah Hendra Firmanto Santoso (FE 72), Yudi Martono (FT 72), Zacheus
Indrawan (FT 71), Simon P Ibrahim (FT 72), dan Iwan Radyanta (FKG 72). KPA
biasa mengunakan tempat kosong di FH (masih di Salemba) dan FT saat
sholat Jumat. Sepeninggalan Jimmy yang kembali ke Australia, persekutuan
ini terus dilanjutkan dengan kegiatan utama adalah PA dan pesekutuan doa
bertempat di ruang kelas gedung C lantai 2 FT dengan peserta tidak lebih
dari 10 orang.
Pada 1975, FT melakukan 2 kali gelombang penerimaan mahasiswa baru
dan seksi kerohanian berkesempatan masuk dalam panitia mapram
sehingga jumlah peserta persekutuan PA bertambah hampir tiga kali lipat
sehingga perlu minta izin pemakaian ruangan dari pimpinan fakultas dan
diizinkan setiap Jumat. Bahkan bukan hanya diizinkan, Pembantu Dekan II
Dian Sigit juga menganjurkan doa pagi.
Pada Februari 1976, PO FT mengadakan retreat pertama di Cipanas
dengan pembicara Iman Santoso dan Dorothy Marx. Sebagai follow up
maka dibentuklah beberapa Kelompok Tumbuh Bersama (KTB) yang
menjadi modal soliditas persekutuan di FT. Salah satu hasil KK tersebut
adalah adalah dosen jurusan Sipil, Zakheus Indrawan.
Pada 1978 mulai dibentuk persekutuan secara organisasi oleh Zacheus
Indrawan, Andi Gunawan Mulia, Halim Santosa, Marta, Monica, Sunaryo,
Simon, Mangapul Sagala, Ratna Kumala, dan sivitas PO FT lain. Tim Misi FT
UI yang digalang Mangapul Sagala cs mengikuti persekutuan mahasiswa
Kristen se-Jakarta (disebut sebagai Badan Pelayanan Mahasiswa atau BPM)
yang diadakan di Jalan Kramat VII no 29, alias dekat dengan persekutuan
POSA UI sehingga tim misi FT UI pun ikut serta dalam kegiatan di frateran
itu. Tim misi pun terus menjangkau mahasiswa-mahasiswa di POSA UI tapi
karena apa yang dikerjakan POSA UI dan tim misi berbeda maka terjadi
perbedaan pendapat, terutama dengan rekan-rekan Katolik di POSA UI.
Perbedaan itu terutama berasal dari perbedaan visi dan bahkan bukan
hanya perbedaan antara Katolik dengan Protestan, tapi juga antar-Protestan.
Hingga pada Kamp Kepemimpinan I 1981 terjadi perbedaan pandangan
tentang doktrin keselamatan dan merembet ke liturgi hingga organisasi.
Lebih lanjut terjadi masalah struktural di POSA UI. Ketua POSA UI pada
1981 adalah Edison Simanjuntak (FH 74) dan wakilnya Mangapul Sagala.
Tapi kemudian muncul tiga ketua POSA UI secara bersamaan dengan
persepsi masing-masing yaitu Mangapul Sagala (karena ada yang meng-
anggap Mangapul adalah wakil ketua periode sebelumnya dan dianggap
mewakili wilayah Salemba), ada juga Monang Dadeak (FISIP, mewakili
Rawamangun) dan Sutopo (mewakili Katolik) sebagai Ketua.
Perpecahan itu tidak mengganggu perluasan penjangkauan. Penjangkau-
an diperluas melalui masa pramahasiswa (mapram) dengan mengadakan
retreat penginjilan bagi mahasiswa baru FT UI pada Februari 1976 di Wisma
St. Yoseph/Wisma Shamlom, Cipanas. Pada masa itu juga mulai berdiri
Kepenguruan FT UI dengan nama PA FT UI lalu berubah PO FT UI dengan
ketua Andi G Mulia dengan kepengurusan 1976-1977.
Di FK, perintisan persekutuan dimulai pada 1976 dengan penunjukkan
Jeane Winaktoe dan Supriyadi sebagai sub-sie spritual di Senat Mahasiswa.
Pada 1977, Supriyadi dibantu Robert Simanjuntak dan Ruyandi Hutasoit
menyelenggarakan persekutuan di FK sehingga pada 1979 struktur
kepengurusan yang mandiri dari senat terbentuk dan baru pada 1980
AD/ART tersusun.
Sementara persekutuan di FKG dimulai dengan cara yang tidak di-
rencanakan sama sekali. Saat itu Ratna Kumala sedang memfotokopi bahan
PA di FE. Pada saat bersaman, ada 2 mahasiswa FKG yang memperhatikan
lalu menanyakan bahan itu kepada Ratna sehingga Ratna bercerita tentang
PA dan persekutuan di FT. Kedua orang itu: Lily Mustafa dan Rospita Sitorus
pun tertarik ikut persekutuan FT.
Keduanya lalu memulai persekutuan FKG. Sebagai bantuan, PO FT
mengutus Sunaryo dan Ratna, jumlah mahasiswa yang ikut persekutuan pun
mencapai puluhan mahassiwa.
Dalam retreat penginjilan FT 1978, ada 4 mahasiswa UI Rawamangun
yang bergabung yaitu Yvonne Hetarihon (FH 74), Sally (FPsi 77), Wenny Um-
boh (FISIP 78) dan Hanna Gultom (Fakultas Sasta 78). Dari keempatnya lahir
Persekutuan Oikumene Rawamangun (POR) yang selanjutnya menjadi
Persektuaun Oikumene UI Rawamangun (POUR).
Gerakan pekabaran Injil pun menyebar ke kampus-kampus lain seperti
FMIPA, FKG, FE dan POUR. Untuk misi ke FMIPA dan FE dialkukan oleh Andi
G Mulia, Susilo, Sunaryo, Mangapul Sagala, Simon P Ibrahim dan Haryanto.
Generasi pertama yang terbina di FMIPA adalah Daltur Rendakasiang
(angkatan 78), Hendro Wibowo (77), Rianti T (78), Kristina (77), Sulityono
(77), Anti (77), Esther, Grace, Singab, dan lainnya. Sehingga pada Juli 1979
FMIPA mengadakan kamp penginjilan pertama dan terpilih Daltur sebagai
koordinator pertama FMIPA.
Sedangkan persekutuan di FE dimulai pada 1979 oleh Sabarudin, Jimmy
Suryanto Budhi, Berna Lumbanraja, Mia, Ratna, Hulman, Hendra Firmanto
dan Robert Tobing (dua nama terakhir sudah lebih dulu terlibat dalam
persekutuan FE).
Perintisan di FMIPA dan FE dimulai dengan mengundang beberapa
teman dari kedua fakultas ke Persekutuan Jumat di PO FT dan diajak
membentuk KTB yang dipimpin dari rekan-rekan PO FT. Setelah KTB ber-
jalan, PO FT juga membantu menyusun program acara Jumat serta pembu-
atan bahan PA. Khusus di MIPA, ada satu dosen yagn selalu rajin ikut dan
dengan rendah hati mau belajar PA yaitu Prof Dr Darmadi. Persekutuan FMI-
PA pun berkembang kuat dan kompak. Sedangkan di FE, persekutuannya
berada di bawah Senat sehingga beberapa kali terkendala izin kegiatan dan
penggunaan ruang.
PERIODE 1980-AN
Kampus UI di Rawamangun terdiri dari empat fakultas yaitu F. Psikologi,
FS (Fakultas Sastra), FH dan FISIP. PO FT juga bermisi ke sana. Awalnya
persekutuan dengan cara ber-PA dan pembentukan KTB agak sulit karena
sering terbawa kepada perdebatan dan adu argumentasi. Hal ini terutama
karena karakteristik mahasiswa yang berbeda dengan mahasiswa di kampus
Salemba sehingga persekutuan lebih sering diadakan dengan tipe
kebaktian.
POUR (PO UI Rawamangun) dimulai dari Yvonne Hetarihon, Sally, Wenny
Umboh, Hanna Gultom membentuk KTB di Rawamangun. Sebagai
kelanjutannya muncul KTB yang dipimpin oleh Ratna Kumala dengan AKTB
yaitu Junicke Siahaan (FISIP 79), Donda Panggabean (FS 80), Susan (FPsi)
dan Megi yang menjadi cikal bakal terbentuknya POUR pada 1982.
Pada 1981 POSA UI mengadakan retreat penginjilan bernama Kamp
Kepemimpinan UI I di Wisma Sanawisata, Ciloto. Dari retreat ini mucnul
buah-buah yaitu Foster Gultom (FISIP), Atiek Purba (FS), Santi, Rita Tobing
(FPsi), Liana Santi dan Soekarmini (FISIP). Ketua POUR pertama adalah
Wenny Umboh (FISIP) dilanjutkan Ramlan Ginting (FH).
Sejumlah KK muncul di POUR antara lain KK yang dipimpin oleh Pendeta
Agustinus Titi beranggotakan Jamer (FH 83), Peter Jacobs (FH 83), Samudera
(FH 82); KK yang dipimpin Mangapul Sagala dengan anggota KK: Audrey
Tangkudung (FS), Robinson Pangaribuan (FISIP), Harry Sorinsong (FH), Rudy
Purwanto (FT) dan Jeffry Lumankun (FPsi).
FS (saat ini Fakultas Ilmu Budaya) selanjutnya melepaskan diri memben-
tuk persekutuan sendiri pada 5 April 1982 dengan perintisnya Atiek Purba,
Froly Lelengboto, Lina Pardede, Audrey Tangkudung dan Poppy
(Koordinator PO FS pertama).
Permasalah muncul saat pemilihan ketua POSA UI 1984-1985. Ada dua
calon dari pihak yang berbeda pandangan. Calon Katolik adalah Sutopo
(FMIPA) dan Protestan adalah Daltur Rendakasiang (FMIPA). Meski pemilihan
berlangsung tegang, keluarlah Daltur R sebagai ketua POSA UI yang baru.
Hasil pemilihan dilaporkan ke rektorat sebagai hasil yang sah. Tapi karena
tidak puas dengan hasil yang diperoleh maka pihak Katolik memembentuk
Keluarga Umat Katolik Sivitas Akademika (KUKSA) UI melalui Raker di
Gelanggang Mahasiswa Kuningan dan melapor ke Rektor bahwa mereka
membentuk wadah sendiri. Tapi untuk kegiatan kebersamaan tingkat UI
(Natal dan Paskah), POSA dan KUKSA masih bekerja sama, hal ini terus
berlangsung hingga 1997-1998.
Perpisahan dengan pihak Katolik menjadi sesuatu yang tidak bisa
dihindari, tapi POSA tidak menutup pintu terhadap mahasiswa Katolik yang
ingin dibina. Dalam perjalanannya, banyak mahasiswa Katolik yang
bergabung, antara lain Emmi Katharina (FE 81 dan koordinator POSA FE),
Rohana Sitanggang (FE 82 dan Ketua I POSA FE), Yosefa Sayekti (FE 83 dan
Sekretaris POSA FE), Flaviana Tagung (FMIPA), Nikolaus Dachi (Koordinator
POSA UI 1994-1995), Rohaya Sitanggang (Sekretaris PO UI 2004-2005).
Perpindahan ke Depok secara bertahap pada 1985-1987 mendorong
kemandirian fakultas. Misalnya FH melepaskan diri pada 1986 dengan
koordinator pertama Harry Soroinsong, dan pengurus adalah Reunita
Simbolon, Peter Jacobs, Samudra Sinaga, Jamer Purba dan Made Siahaan.
Namun setelah berpindah ke UI Depok pada Oktober 1987, ketua
dipercayakan kepada Peter Jacobs. FISIP juga mandiri pada 1986 dengan
ketua Andriyani dan disokong oleh Junicke Siahaan, Liana Santi, Soekarmini,
Victor Silaten, Wiwied Dharsono, Ellia, Frida H. Joan Kussoy, Jerry Logahan,
Lunaedi dan Rubensun Pangaribuan. Sementara F. Psikologi dimulai oleh
Rita Tobing, Sandy Misero (koordinator pertama) dan Jeffrey Lumankun.
Meski punya persekutuan masing-masing di fakultas, acara di tingkat UI
seperti Natal, Paskah dan Kamp Kepemimpinan tetap diadakan pada 25-29
September 1987 di Kinasih.
Saat pindah ke Depok, rektorat juga membuat satu faklutas baru yaitu
Politeknik UI (lalu menjadi Politeknik Negeri Jakarta atau PNJ). Pada awal
pertama berdiri namanya adalah Persekutuan Mahasiswa Kristen Oikumene
yang diketuiai oleh Stefanus. Baru pada 1985, saat ketuanya adalah
Alexander Worotikan, PMKO berubah menjadi POSA UI seturut perpindahan
fakultas-fakultas Salemba dan Rawamangun ke Depok.
Setelah kepemimpinan Daltur periode 1984-1985 terjadi kevakuman di
tubuh POSA UI hingga 1988 hingga POSA memiliki ketua baru yaitu Arwin
Soelaksono (FT 83). Pada masa inilah era pengurus harian tingkat universitas
atau PH terbentuk. Pada era ini juga visi kesatuan POSA UI berubah dan
diserap menjadi visi PH PO UI.
Pada 1987 mulailah dibentuk kepengurusan baru. Inilah organisasi POSA
UI yang modern seperti model yang sekarang (model Pengurus Harian atau
PH). Ketua pertama adalah Robinson Pangaribuan dari FISIP (periode
1987-1988). Saat itu bidangnya sangat sederhana yaitu Persekutuan Antar
Fakultas (PAF) dan proyek.
Selain permasalahan internal, pada 1980-an, terjadi ancaman pihak
ekternal saat UI dipimpin Prof Nugroho Notosusanto (1982-1986). Pada
1984 ia mengeluarkan Surat Keputusan (SK) yang melarang kegiatan keaga-
maan di lingkungan UI, termasuk membubarkan Dewan Mahasiswa UI
(DEMA UI) karena adanya Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi
Kemahasiswaan (NKK/BKK) karena periswtiwa Malapetaka 11 Maret (Malari)
1982. Namun ketika Nugroho meninggal, maka SK itu pun ikut "meninggal".
Pengganti Nugroho, Sujudi (1986-1994) memberlakukan Statuta UI yang
mengakibatkan DEMA muncul kembali dengan nama Senat Mahasiswa (SM)
UI sehingga POSA UI pun setara dengan DMA dan Masjid UI. Persoalannya,
POSA UI menjadi tidak jelas karena tidak setara dengan SM UI, tidak di
bawah SM UI dan hanya di bawah (Pembinaan Ketakwaan) Bintakwa UI.
Hal ini berlangsung hingga POSA UI sah menjadi UKM pada 2004.
Pada 1980-an ini juga muncul persekutuan baru di Fakultas Ilmu
Komputer (Fasilkom) yang awalnya adalah bagian dari program studi FMIPA.
Setelah berdiri menjadi fakultas sendiri, maka persekutuan pertama mereka
diadakan pada 30 September 1989.
Periode ini PO UI dimampukan untuk mengambil bagian bermisi
ke kampus-kampus lain baik sebagai pembicara, trainer MC, pemusik, PA,
pemimpin KK/KTB juga membantu masyarakat umum melalui pelayanan
FMIPA, FK dan lembaga pelayanan mahasiswa lain.
PERIODE 1990-AN
Pada periode ini, POSA UI masih diakui. Ketika itu Kamp UI 94
diberangkatkan oleh Pembantu Rektor (Purek) III secara resmi di Rotunda UI
menggunakan jaket kuning untuk menunjukkan bahwa Kamp UI ini adalah
acara resmi UI.
Pada 1991-1992 di bawah kepemimpinan Antonius Manaor (FK) mulai
dibentuk seksi pembinaan UI. Salah satu programnya adalah Training CPKK
tingkat UI dan mulai dilakukan penyusunan AD/ART POSA UI.
Persekutuan FKM berdiri pada periode ini karena mereka baru menerima
lulusan SMA pada 1989 sehingga persekutuan pertama dibentuk sekitar
1990, meski persekutuan di FKM sudah ada sebelum periode tersebut. Ketua
pertama adalah Wiwik, dilanjutkan Lusi dan teman-temannya.
Selain FKM, Tuhan juga menganugerahkan persekutuan kepada Fakultas
Ilmu Keperawatan (FIK), setelah FIK berpisah dengan FK. Persekutuan mulai
dirintis pada 1996 oleh Santi Clara (FISIP 94) yang juga menjabat sebagai
Pengurus Harian (PH) UI dengan persekutuan dinamakan Pertiwat
(Persekutuan Tingkat Perawat).
Pada 1999, terjadi dua peristiwa besar yaitu KUKSA sah menjadi UKM UI
sehingga berganti nama menjadi Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK) UI.
Peristiwa kedua adalah Politeknik UI dilepas rektorat UI sehingga berubah
menjadi Politeknik Negeri Jakarta (PNJ).
Pada kepengurusan PH POSA UI 1996-1997, Tuhan menaruh kerinduan
dan visi yang besar kepada Makson Purba (FK 90) dan Ariotejo Bayuaji
(FT 91) yang menjabat seksi misi dan pembinaan. Mereka membagikan ide
untuk membuat suatu pelatihan pemuridan dan misi dengan tujuan
menghasilkan mahasiswa UI yang misioner, memiliki semangat dan berjiwa
militan bagi kegerakan misi, memenangkan jiwa-jiwa bagi Tuhan sesuai

Ilustrasi: Kamp PI
Amanat Agung. Ada 8 orang meresponi ide tersebut yaitu Martinus Zega
(FK 90), Sondang Simanjuntak (FK 90), Lamser Aritonang (FISIP 90),
Messalynda Ratna (FH 92), Candra Wijaya (FK 92), Hendarsih (FE 92), Marry
Nainggolan (FPsi 92) dan Maria Herlina (FPsi 93). Kesepuluh orang ini
kemudian dinamakan Tim 10 yang merupakan cikal bakal Tim Misi POSA UI.
Pelatihan pemuridan dan misi dikenal sebagai LPM. Tim 10 bersama-
sama mempersiapkan diri sebagai konseptor, pelaksana, pendamping dan
pelatih dalam LPM 1. Melalui LPM, muncul daerah-daerah target pelayanan
seperti Pos KPK Kosambi di Tangerang, beberapa desa di Lampung Selatan
dan Lampung Tengah serta RSCM. Melalui LPM 1 pada 1996, terdapat 21
orang yang melayani pangilan bermisi.
Pada periode ini juga muncul Paduan Suara (PS) PO UI. Dimulai oleh
Pahala Simamora (FS) pada 1989-1990 yang berinisiatif untuk mengumpul-
kan beberapa pengurus dan tim ini POSA UI dan fakultas yang memiliki
karunia bernanyi yang baik untuk membentuk paduan suara. Latihan
diadakan menjelang acara besar UI yaitu Malam Pengucapan Syukur (MPS),
Natal dan Paskah. Kriteria mahasiswa yang bisa bergabung adalah mereka
yang punya kedewasaan rohani diunjang dengan karunia bernyanyi yang
baik. Beberapa mahasiswa yang aktif pada masa awal PS POSA UI adalah
Robinson Pangaribuan (FISP), Peter Jacobs (FH), Tomy Awuy (FS), Elsa
Manurung dan Flaviana Tagung (FMIPA).
Pada 1990, Novi Manurung terpilih sebagai koordinator PSPOSA
pertama yang dilatih oleh Abner dari FK. Pada 1995, PSPOSA mengalami
perubahan yaitu terbuka untuk semua jemaat, bukan hanya tim inti dan
koordinator fakultas. Saat itu PS dipimpin Rere Silalahi (FISIP 94) dan dilatih
Daniel Dasalak (FT 94). PS pun tidak lagi temporal tapi punya latihan rutin
setiap minggu. Selanjutnya PS dilatih James Panjaitan, Elda Pardede, Inggrid
Napitupulu (FE 98), Monang Saragih (FE 98) dan Ray Tambunan (FMIPA 03).

Ilustrasi: PO FT
PERIODE 2000-AN
UI berubah menjadi Badan Hukum Milik Negara (BHMN) pada 2000,
keberadaan POSA UI pun tergugat di mata rektorat. Pada 14 Januari 2004,
POSA UI baru sah menjadi UKM dengan dua kondisi baru. Pertama, dua
huruf "SA" dalam singkatan POSA harus ditanggalkan sehingga hanya
menjadi PO. Artinya, yang boleh terlibat dalam pelaksanaan kepengurusan
hanyalah mahasiswa sedangkan sivitas akademika lain hanya boleh
berpartisipasi secara tidak langsung. Kedua, status POSA PNJ sebagai bagi-
an dari POSA UI harus dilepas sehingga PO UI hanya terdiri dari 12 fakultas
di UI.
Dengan kepastian status hukum di rektorat, keberdaaan persekutuan-
persekutuan fakultas di UI pun terjamin karena PO UI terdiri dari PO-PO
fakultas. Tanggung jawab PO UI yang membawahi PO-PO fakultas pun
kepada bidang Hubungan Mahasiswa dan Alumni (Mahalum) rektorat UI,
bukan kepada BEM/MPM UI atau BEM atau MPM fakultas.
Meski PO UI sudah diakui, PO UI tidak mendapat sekretariat di Pusgiwa
karena sudah diberikan kepada organisasi lain saat PO UI masih berstatus
POSA UI.
Sejumlah tantangan yang berusaha dijawab pada masa ini adalah
bagaimana akhirnya agar mahasiswa lebih dipersiapkan memasuki dunia
alumni melalui KTB Misi yaitu KTB yang secara khusus mempersiapkan ma-
hasiswa untuk "bermisi" secara profesional di bidang masing-masing. Hara-
pannya mahasiswa dilatih untuk mengintegrasikan iman (mandat injili) dan
ilmu (mandat budaya) semasa masih ada di kampus.
Pada 2009 terjadi perubahan periodesasi kepengurusan organisasi di UI.
SK Rektor mewajibkan semua UKM dan Badan Otonom Fakultas mengganti
periode kepengurusan menjadi Januari Desember. PH UI sebagai UKM pun
wajib mengikuti SK Rektor tersebut. Kondisi ini mendatangkan masalah ka-
rena sebelumnya kriteria menjadi seorang PH adalah pernah atau sedang
bergumul menjadi PKK dan pernah menjadi pengurus fakultas. Sementara
kepengurusan maupun KK di masing-masing PO Fakultas juga ada yang
terlambat, meski keterlambatan ini tidak semata-mata disebabkan karena
perubahan periodisasi.
Kondisi jemaat pun berubah, salah satu penyebabnya adalah karena
perkembangan teknologi komunikasi. Teknologi dan aplikasi-aplikasi
perangkat lunak ini memungkinkan pengurus menjangkau jemaat melalui
media visual yang lebih canggih. Tapi di sisi lain jangan sampai
pemanfaatan teknologi oleh pengurus ini menggantikan proses penjang-
kauan dan pemuridan yang sejati.
Sedangkan tantangan dari luar adalah timbulnya ajaran tidak sehat
seperti ajaran yang menentang Allah Tri Tunggal maupun kemunculan
lembaga-lembaga persekutuan yang menggunakan label UI padahal tidak
membawa semangat interdenominasi.
Pada 2011, Fakultas Vokasi hadir di UI sehingga dimulailah perintisan PO
Vokasi. Perkuliahan di fakultas ini hanya 3 tahun sehingga pola
kepengurusan, KK dan regenerasi menjadi tantangan bagi PO UI. Denny
Vissaro (FE 2007) dan Stefiani Sirait (Fisip 2008) menjadi tim inti dalam
perintisan PO Vokasi ini. Beberapa PO Fakultas seperti POSA FKM, Pertiwat
(FIK), PO FT, PO Fisip, PO FE dan PO FMIPA memberikan PKK-nya untuk
melayani KK di PO Vokasi.
Pada 2013, FK dan FKG mulai pindah ke Depok untuk bergabung dalam
Rumpun Ilmu Kesehatan bersama dengan FIK dan FKM. Setelah berdiskusi,
akhirnya diputuskan kalau pelaksanaan KK tetap dipegang oleh PO fakultas
masingmasing, namun untuk Persekutuan Jumat sempat ditampung oleh
PO FKM sebelum akhirnya terpisah dengan FKG melakukan persekutuan
besar pada Kamis dan FK pada Selasa hingga saat ini.

Ilustrasi: Perayaan HUT PO UI ke- 49, tahun 2015


Persekutuan
Mahasiswa
Kristen
Sebuah Konsep Dasar
tentang PMK
oleh Lina Kristo

PMK adalah singkatan dari Persekutuan Mahasiswa Kristen. Saat ini ada
ratusan PMK di banyak kampus di Jakarta dan Indonesia. PO (Persekutuan
Oikumene) UI adalah PMK di kampus UI. Tulisan ini akan membahas konsep
dasar tentang PMK. Untuk memahami konsep dasar PMK kita harus melihat:
Visi PMK, Misi PMK , Keunikan PMK

VISI PMK
Visi PMK adalah menghasilkan alumni yang dewasa dalam Kristus dan
siap menjadi garam dan terang serta berkat bagi bangsa dan negara,
masyarakat, gereja dan keluarga.
Visi ini didapat dari firman Allah yang dibukakan kepada para perintis
PMK dan diteruskan dari generasi kepada generasi. Formulasi visi tidaklah
persis sama di setiap PMK, tetapi memiliki benang merah yaitu melihat jauh
kedepan kepada profil alumni yang berdampak bagi Indonesia. Beberapa
perikop kitab suci yang menjadi sumber visi antara lain: Yesaya 6:3, Matius
5:13-16, Efesus 4:13-16, dan Kolose 1:28. Isabelo Magalit yang melayani
PMK di Filipina berkata, Saya punya impian. Saya memimpikan bahwa dari
dunia mahasiswa akan muncul secara terus-menerus pria dan wanita yang
mengasihi Tuhan Yesus lebih dari apa pun dan membenci dosa lebih dari
apa pun. Mahasiswa adalah calon pemimpin masa depan. Student Today
Leader Tomorrow adalah cara pandang PMK melihat mahasiswa. PMK
adalah kumpulan mahasiswa Kristen yang sedang diperlengkapi untuk
menjadi alumni yang siap diutus ke pelbagai bidang profesi dan menjadi
berkat di sana.
Visi sangat penting. Amsal 28:18 menyatakan: Bila tidak ada wahyu
menjadi liarlah rakyat. Without vision, people perish. Samuel Escobar
mengatakan bahwa tanpa visi sebuah gerakan akan mati. Movement
become a monument. Mungkin masih ada kepengurusan, program, dan
pendanaan, tetapi sesungguhnya PMK itu sudah mati.

MISI PMK
Apa yang PMK harus kerjakan untuk mewujudkan visi di atas? Di sini kita
mengenal empat rangkap misi atau tugas PMK, yaitu: Penginjilan,
Pemuridan, Pelipatgandaan, dan Pengutusan (4P)

P1 - Penginjilan
(lih. Yoh 3:16; Ef. 2:1-10; Mat. 28:16-20)
Rahasia besar manusia berdosa dapat mengasihi Tuhan dan membenci
dosa adalah mengalami secara pribadi anugerah keselamatan. Sebagai
manusia berdosa Mahasiswa, sekalipun baik dan pintar, tetap membutuhkan
anugerah keselamatan. They are clever, but only One can make them wise.
Status mahasiswa Kristen tidak menjamin bahwa mereka telah mengalami
anugerah keselamatan. Untuk sampai kepada pengalaman keselamatan,
mahasiswa harus mendengar dan percaya kepada Injil. Di sinilah PMK
menyadari akan misinya untuk memberitakan Injil kepada mahasiswa.
PMK, sekumpulan mahasiswa yang sudah mengalami kasih Kristus,
bersama-sama menyaksikan kasih dan Injil Kristus kepada teman-temannya.
Sesungguhnya mahasiswa yang paling efektif untuk menyampaikan Injil
kepada mahasiswa. Students reaching students adalah motto Penginjilan
di dunia kampus.

P2 Pemuridan
(lih. Mat. 4:18-22, 28:16-20; Kol. 1:28-29; Ef. 4:11-14 )
Ada satu buku yang berjudul Murid Kristus dibuat bukan dilahirkan. Buku
ini menegaskan akan pentingnya pelayanan pemuridan. Sama seperti
seorang bayi atau anak tidak mungkin bertumbuh besar dengan sendirinya,
seorang bayi rohani atau anak rohani memerlukan penggembalaan dan
pembinaan untuk bertumbuh menjadi murid Kristus yang dewasa. Tugas
besar PMK adalah mengerjakan pemuridan. Kelompok kecil atau KTB
(Kelompok Tumbuh Bersama) menjadi tulang punggung pemuridan
bersama-sama dengan aktivitas persekutuan lainnya seperti acara
Persekutuan Jumat, training, retret dll.
P3 - Pelipatgandaan
(lih. 2Tim. 2:2; Mat. 28:16-20; Yos. 1:1-9)
Pelipatgandaan adalah sebuah proses regenerasi PKK (Pemimpin
Kelompok Kecil) pemuridan dan pengurus PMK yang baru. Cara yang paling
efektif untuk melayani mahasiswa dan memimpin PMK adalah mahasiswa
juga. Karena itu, masa studi mahasiswa yang terbatas makin menegaskan
akan pentingnya PMK, selain mengerjakan penginjilan dan pemuridan, juga
melatih mereka yang setia dalam pemuridan untuk siap menjadi PKK dan
pengurus berikut, seperti Musa mempersiapkan Yosua, Paulus mempersiap-
kan Timotius, Tuhan Yesus mempersiapkan Simon Petrus. Seorang PKK atau
pengurus secara pribadi dan bersama-sama harus mempersiapkan adik-adik
rohani mereka untuk menjadi penerus pelayanan mahasiwa di kampus.

P4 Pengutusan
(lih. Mat. 5: 13-16; Ef. 2:10; Ams. 11:10)
Visi PMK adalah alumni yang menjadi garam dan terang dunia. PMK per-
lu memperdengarkan panggilan menjadi garam dan terang dunia kepada
mahasiswa yang telah dimuridkan. Bahwa dunia medis, dunia konstruksi,
dunia pendidikan, dan pelbagai dunia profesi membutuhkan karya dan
pengabdian alumni yang takut akan Tuhan dan mengasihi sesama. PMK
menolong dan mengutus mahasiswa tingkat akhir untuk menemukan
ladang misi profesi yang Tuhan tetapkan bagi mereka.

KEUNIKAN PMK
PO UI sudah berusia cukup tua, baik dihitung dari sejak wadah POSA UI
dibentuk oleh Rektor UI pada tahun 1966 maupun dihitung sejak mulainya
gerakan kelompok PA (Pemahaman Alkitab), KTB tahun 1973. Bila tidak hati-
hati, PO UI sebagai Persekutuan Mahasiswa Kristen di kampus UI bisa
terjebak kepada rutinitas, tradisi atau keteraturan organisasi belaka. Karena
itu, perlu bagi generasi PMK sekarang untuk menghayati hakikat
keberadaan PMK sebagai sebuah gerakan persekutuan mahasiswa dengan
keunikan dinamika dan semangatnya.
PMK sebagai Gerakan Persekutuan dan Pelayanan Mahasiswa terbentuk
bukan karena ide manusia atau perintah pimpinan Kampus, tetapi karena
kuasa firman Allah dan pekerjaan Roh Kudus yang membukakan visi ilahi
akan adanya barisan alumni yang mencintai Tuhan lebih dari apa pun dan
membenci dosa lebih dari apa pun. Alumni yang berakar kuat dalam firman
Ilustrasi: OKK PO UI 2016

Allah, alumni yang siap menjadi garam dan terang, menjadi berkat bagi
Indonesia dan dunia. Untuk itu PMK berjuang memberitakan Injil,
memuridkan, melatih dan mengutus mahasiswa untuk menjadi alumni yang
demikian.
Keunikan dinamika dan semangat PMK meliputi:

1. Gerakan mempelajari Alkitab (Bible Movement)


(lih. Neh. 8: Kis 2:42)
Mahasiswa haus dan rindu untuk mempelajari firman Allah dan
tunduk serta taat pada ajaran Alkitab.

2. Gerakan Doa (Prayer Movement)


(lih. Kis. 1:14, 2:42, 4:23-31; Ef. 1:16-17, 3:14-21, 6:10-20)
Gerakan pelayanan yang mengandalkan dan bergantung penuh
kepada Tuhan dan pekerjaan Roh Kudus dalam doa.

3. Gerakan Penginjilan (Evangelizing Movement)


(lih. Kis. 11:19-21)
Students reaching students. Mahasiswa yang telah mengalami
Kristus dengan semangat memberitakan Injil kepada teman-temannya
di kampus.
4. Gerakan Pemuridan (Discipleship Movement)
(lih. Kolose 1:28-29, 4:12; 1Tes. 2)
A movement that makes genuine disciples of Christ . Gerakan
menjadikan murid Kristus yang sejati

5. Gerakan Misi (Mission Movement)


(lih. Kis. 2:47, 16:4-12; Mat. 5:13-16)
PMK bukan dari kita untuk kita, tapi PMK adalah gerakan yang
terisap kepada misi Allah bagi dunia, baik misi Penginjilan maupun misi
menjadi garam dan terang di pelbagai dunia profesi.

6. Gerakan Mahasiswa (Student Movement)


(lih. Kis. 1:8)
A movement committed to students initiative and responsibility .
Ini adalah keunikan yang sulit dimengerti oleh gereja, hamba Tuhan
ataupun alumni. Bahwa sebetulnya yang paling bertanggung jawab dan
efektif menjadi saksi Kristus bagi mahasiswa adalah mahasiswa. Dan
yang paling dinamis untuk memimpin PMK adalah mahasiwa. Mahasiswa
yang memikul tanggung jawab kepemimpinan bagi gerakan PMK ini
tanpa meniadakan bantuan dari alumi, gereja atau lembaga lainnya.

7. Gerakan Interdenominasi
(lih. Yoh. 17: 21-23)
PMK tidak berada dibawah organisasi atau denominasi gereja. PMK
bersifat lintas denominasi. Ini bukan berarti ajaran PMK adalah gado-
gado atau tidak mementingkan ajaran doktrin yang benar, tetapi
mengambil yang baik dan memperjuangkan kesatuan tubuh Kristus.

Penutup
Sudah ribuan mahasiswa mengalami persekutuan dengan Injil melalui
Persekutuan Mahasiswa Kristen di kampus UI. Kiranya keyakinan Rasul
Paulus (lih. Flp. 1:6) menjadi keyakinan dan doa kita bahwa Tuhan yang
telah memulai pekerjaan baik di tengah kampus UI akan meneruskan
sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus. Amin.
Generasi Saat Ini dan
Tantangannya yang Menanti
oleh Indra Prawira

Dr. Oliver Barclay dalam tulisannya yang berjudul Peperangan Masa


Kini, mengatakan bahwa setiap orang pada jamannya masing-masing perlu
bertanya pada dirinya sendiri, Apa peperangan sesungguhnya yang harus
dijalani hari ini? Pertanyaan ini perlu dijawab khususnya oleh mereka yang
terlibat dalam pelayanan persekutuan mahasiswa; mereka yang Allah
panggil untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28:19-20)
di kampus ini. Perubahan metode, dan program pelayanan diperlukan untuk
melayani kondisi dunia yang juga selalu berubah namun, sudah tepatkah
yang kita lakukan? Atau perubahan tersebut nyatanya sama sekali tidak
menjawab kebutuhan generasi yang saat ini kita layani? Dalam anugerah-
Nya, PO UI sudah menginjak usia yang ke-50 tahun. Lantas, apa peperangan
sesungguhnya yang harus kau jalani hari ini, hai PO UI?

Selfie-Centered Generation
Perkembangan teknologi pada awal abad 21 ini telah sangat mengubah
cara hidup masyarakat dunia. Tidak saja di negara-negara maju, Indonesia
pun terkena pengaruhnya. Menurut survei lembaga bernama We are Social,
pertumbuhan pengguna media sosial pada perangkat handphone di
Indonesia mencapai angka 39% (26 juta pengguna) dalam jangka waktu
1 tahun saja (2016-2017). Hal tersebut menyebabkan Indonesia menduduki
peringkat ketiga negara dengan pengguna media sosial terbesar di dunia,
setelah Amerika Serikat dan India. Pengguna media social di Indonesia
menurut jajakpendapat.net pada 2016 ialah mereka yang berusia 2025
tahun, diikuti oleh mereka yang berusia 1619 tahun. Artinya, tak lain
merupakan generasi muda yang sedang menimba ilmu, khususnya mereka
yang sedang berada di perguruan tinggi/universitas yaitu kita dan
mahasiswa-mahasiswi yang kita layani di kampus.
Penggunaan teknologi memang tidak dapat dihindari dari kehidupan
sehari-hari, bahkan di dalam kegiatan belajar-mengajar di kampus. Namun,
tidak dapat ditolak juga bahwa generasi kita saat ini sudah mengalami
kecanduan akan teknologi. Tentunya, kecanduan ini menjadi suatu ancaman
bagi perjalanan hidup sebagai murid-murid Kristus.
Dalam bukunya, #struggles, Craig Groeschel mengajukan suatu
argumen: secara online generasi kita lebih terhubungkan daripada generasi-
generasi sebelumnya, tetapi sering kita merasa lebih sendirian, kesepian,
bosan, serta hampa dari pada apa yang dapat kita ungkapkan.
Ia melanjutkan argumennya dengan bertanya, Apakah kamu mengalaminya
juga?. Hidup kita dipenuhi dengan kesibukan, semakin gila dan semakin
heboh tiap harinya. Kita terus-menerus dibombardir dengan informasi yang
lebih banyak dari yang mampu kita prosesnewsfeed, iklan, blog, tweet,
gambar, story, video, musik, permainan dan sebagainya. Kita terus dituntut
untuk up-to-dateapps pada gadget kita, teknologi gadget yang terus
berubah dan diperbarui. Namun di akhir hari yang kita jalani, semua berlalu
tanpa ada yang mengisi pikiran dan hati kita. Kita kelelahan dan kosong.
Teknologi ternyata juga telah mengubah cara kita menerima/mengolah
informasi, cara kita berhubungan dengan sesama, cara kita memandang diri
kita sendiri, dan mungkin apa yang kita hargai dan percayai tentang Allah.
Saya tidak sedang mengatakan bahwa teknologi adalah suatu momok yang
jahat dan kita harus membuangnya. Namun mari kita perhatikan: ketika kita
telah dikendalikan oleh teknologi dan suatu waktu kita berhadapan dengan
ke-nyata-an (entah itu masalah, konflik, atau rasa haus dalam batin kita
dsb.), kita dengan sangat mudah beralih kepada ke-maya-an. Kita melarikan
diri dari kenyataan untuk mencari kepuasan, kenyamanan, dan hiburan
dalam media sosial kita. Kita lebih menikmati hidup dalam dalam layar
gadget kita daripada mengalami sentuhan kasih dan kehadiran Allah secara
nyata pada diri kita.
Relasi-relasi maya dalam gadget kita juga mengisolasi kita dari relasi
yang sesungguhnya dengan sesama murid Kristus. Bahkan mungkin relasi
kita dengan Tuhan sudah tergantikan oleh relasi-relasi dalam aktivitas
online kita. Di titik inilah, timbul suatu paradoks: kita terkoneksi, namun
sesungguhnya kita terdiskoneksi. Pertanyaannya: berapa banyak
mahasiswa-mahasiswi, generasi kekinian dalam persekutuan kita yang
mengalami paradoks ini? Bahkan, apakah jangan-jangan kita juga
mengalami hal tersebut?
Dalam Cerita Besar Allah, kita diciptakan untuk memuliakan Dia dan
menikmati persekutuan dengan-Nya. Kita diciptakan bukan untuk
mendapatkan pengakuanberapa banyak likes, views bagi diri sendiri
tetapi untuk menunjukkan kasih kepada sesama. Kita diciptakan untuk
berelasi secara nyata, karena Allah sendiri adalah Allah yang relasional. Oleh
karena itu, dalam melayani kebutuhan generasi kekinian (atau yang biasa
disebut the millenials), kita perlu membuka kehidupan kita, menjadi otentik
di hadapan Allah dan mereka, menghadirkan Allah melalui diri kita dan
membagikan kasih serta kebenaran-Nya. Inilah yang sesungguhnya yang
sedang mereka butuhkan dan rindukan dalam perjalanan kehidupan mereka
sebagai murid Kristus di kampus ini.

Rekan Seperjalanan
Pelayan kaum muda yang terkenal, Mark Yaconelli. Ia merupakan anak
dari seorang pelayan kaum muda yang juga terkenal, Mike Yaconelli. Dalam
bukunya, Pelayanan Kaum Muda Kontemplatif, Yaconelli menceritakan
pengalamannya ketika ia harus menarik kaum muda yang terhilang dari
sebuah gereja untuk kembali datang dan hadir dalam persekutuan kaum
muda di gereja tersebut. Berbagai cara telah ia lakukan: memperbanyak
acara persekutuan dan kebersamaan untuk mereka, menaikkan anggaran
biaya untuk kegiatan mereka, bekerja dan rapat berpuluh-puluh jam,
menghubungi mereka via telepon, menyediakan tumpangan untuk ke
gereja, menyediakan makanan dan minuman di persekutuan tiap minggu
dan sebagainya. Apa yang ia dapatkan? Tidak ada, kecuali frustrasi yang
amat dalam dan kekecewaan pada diri sendiri.
Allah segera membukakan matanya dan ia sadar bahwa bukanlah
program, metode, acara, ataupun dirinya yang mampu menolong setiap
anak muda di gerejanya untuk mengalami pertumbuhan dalam gereja.
Ia sadar bahwa sesungguh-sungguhnya yang perlu ia kerjakan adalah
membiarkan Allah sendiri hadir bagi anak muda di gerejanya; Allah yang
hadir melalui kehadiran dirinya dan pelayan kaum muda lainnya bagi
remaja/pemuda.
Pada zaman ini, tempat terakhir di mana banyak kaum muda
menemukan orang yang terbuka dan bersedia mendengar adalah di dalam
gereja/persekutuan. Namun, apa yang mereka temukan? Bukannya telinga
yang mendengar, mereka mendapati nasihat. Bukannya sebuah kesaksian
bagi hidup mereka, mereka hanya menawarkan program-program dan
kegiatan-kegiatan. Sedangkan yang mereka butuhkan adalah orang-orang
yang paling berdampak dalam hidup mereka, orang-orang yang mengubah
dan membentuk mereka, yaitu orang-orang yang hadir bagi merekaorang
-orang yang mau menerima mereka di tengah apapun yang sedang mereka
alami.
Apa artinya hadir? Yaconelli mendefinisikannya sebagai berikut: terbuka
dan tersedia bagi orang-orang lain (kaum muda) dengan sepenuh diri,
sampai selelah mungkin. Hadir berarti terhubung dengan kaum muda sama
seperti Yesus terhubung dengan orang-orang laindengan otentisitas
(tidak pura-pura) dan transparansi (apa adanya). Ia kemudian melanjutkan
dengan mendeskripsikan Yesus: Dia adalah pribadi yang murah hati, sabar,
baik, menyambut, berani, jujur, dan penuh belas kasihan. Dia selalu ada bagi
orang lain. Dia menaruh perhatian kepada Allah dan orang lain pada saat
yang sama. Dia mau menerima orang lain. Dia mempunyai mata yang sabar,
melihat orang dalam keindahan mereka walaupun mereka dalam kondisi
yang buruk. Dia mau menyerahkan diri-Nya bagi kita. Pelayanan kaum
muda/mahasiswa adalah pelayanan kontemplatif, pelayanan yang
menghadirkan Kristus dengan kasih dan kebenaran-Nya di tengah-tengah
kaum muda yang sedang ter-diskoneksi.

Penutup
Ketika PO UI sudah menginjak usia yang ke-50 tahun, ada beberapa
pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama sehingga kita bisa
berperang bagi generasi ini.
Apa peperangan sesungguhnya yang harus kita jalani hari ini? Dalam
kitab Hakim-hakim kita melihat Israel tidak lagi berperang melawan musuh-
musuh mereka, sehingga Israel turut dalam penyembahan-penyembahan
berhala yang dilakukan oleh musuh mereka. Mereka lupa akan peperangan
sesungguhnya yang harus mereka jalani. Mereka hidup dalam kesengsaraan.
Bagi kita saat ini, apa godaan/tantangan/nilai-nilai/gaya hidup yang
ditawarkan dunia pada generasi saat ini yang bisa menjauhkan mereka dari
ke-Kristenan yang alkitabiah, atau meninggalkan iman sama sekali?
Apa artinya menjadi murid Kristus di tengah-tengah dunia yang
selfie-centered ini? Berapa banyak mahasiswa-mahasiswi yang PO UI layani
saat ini, hidup dalam diskoneksi dengan Allah dan sesama? Mereka tidak
lagi hidup dalam relasi dan kasih yang nyata, melainkan terbuai dengan
relasi dan kasih yang maya.
Bagaimana dengan kita? Apakah sebagai orang-orang yang Allah
panggil untuk memuridkan mahasiswa-mahasiswi di kampus ini, kita telah
benar-benar hadir bagi mereka, sebagai rekan seperjalanan? Apakah
kehadiran kita merupakan representasi kehadiran Kristus yang mau berbagi
hidup, mendengar, membuka tangan serta menerima siapapun yang
membutuhkan? Atau pemuridan kita hanya sibuk membuat program-
program, kegiatan-kegiatan yang tidak ada maknanya bagi pertumbuhan
iman mereka. Sudahkah kita secara pribadi juga merasakan dan mengalami
kehadiran Allah yang nyata dalam hidup kita?

Kiranya Allah terus hadir untuk menolong dan menyertai para hamba-
hamba-Nya di PO UI (Pengurus Harian dan tiga belas PO Fakultas) untuk
melayani mahasiswa-mahasiswi Kristen di kampus ini; melayani generasi
saat ini dan segudang tantangannya yang menanti.
Soli Deo Gloria!
Interdenominasi dalam PMK
oleh Joki Ridho Ricardo Marpaung

Kata interdenominasi sering diucapkan dan didengar dalam dunia


Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK), terkhusus untuk mahasiswa yang
mengambil bagian dalam pelayanan. Dalam konteks bergereja pun, kata
interdenominasi bukan hal baru, walau sering dikenal juga dengan istilah
ekumene (oikumene).
Dari namanya, interdenominasi terdiri atas dua kata, yaitu inter dan
denominasi. Inter secara sederhana berarti antara, sedangkan
denominasi berarti golongan/aliran/kelompok. Sehingga secara sederhana
juga, interdenominasi di dalam PMK bisa kita artikan sebagai antar
golongan/aliran gereja atau tidak condong ke aliran gereja/denominasi ter-
tentu.
PMK terdiri atas banyak mahasiswa Kristen, yang berasal dari berbagai
latar belakang gereja, termasuk Katolik. Di Indonesia saja, menurut Pendeta
Jan S. Aritonang dalam bukunya yang berjudul Berbagai Aliran di Dalam dan
Sekitar Gereja, ada sekitar 350 organisasi gereja dan sekitar 400-an
orga-nisasi gerejawi yang bernaung di bawah nama yayasan. Organisasi
gereja maupun gerejawi tersebut bisa menganut satu atau lebih aliran ter-
tentu yang berasal dari Eropa maupun Amerika.
Menyadari kondisi tersebut, apalagi aktivitas PMK pun berisi pujian,
ibadah, dan pengajaran, maka semangat interdenominasi harus ada dan
tertanam dengan kuat di dalam PMK, khususnya dalam diri mahasiswa yang
melayani. Bila hal itu tidak terjadi, maka PMK bisa condong ke aliran gereja
tertentu, bahkan lebih buruk lagi, dapat menjadi perpanjangan tangan
gereja tersebut. Jika hal ini terjadi, bukan tidak mungkin banyak mahasiswa
yang akan menjauhi PMK karena tidak nyaman dengan aliran gereja
tersebut.
Tetapi, tidak berarti juga interdenominasi dalam PMK berarti ada sistem
kuota ataupun penggiliran demi prinsip keadilan atau keterwakilan bagi
setiap aliran gereja. Interdenominasi tidak bicara kuota jumlah pemusik,
PKK, pengurus, atau pelayan lain yang berimbang dari latar belakang aliran
gereja A, B, maupun C. Interdenominasi juga tidak bicara penggiliran
warna Persekutuan Jumat per minggu dari tiap semesternya, misalnya
minggu pertama khusus lagu dan tata ibadah dari aliran gereja A, maka
minggu selanjutnya dari gereja B, dan seterusnya. Bukan seperti itu!
Interdenominasi berbicara lebih dari sekadar perkara teknis di lapangan.
Tulisan ini pun juga bukan panduan teknis tentang pelaksanaan interde-
nominasi di dalam kehidupan PMK.
Untuk bisa menjalankan prinsip interdenominasi di PMK, maka segenap
pelayan di PMK harus mengerti dahulu semangat interdenominasi dan
menerapkannya dalam pelayanan mereka kepada warga jemaat. Sehingga
warga jemaat juga dapat mengerti dan melaksanakan semangat
interdenominasi dalam jangka panjangnya karena PMK dapat bersifat netral
terhadap suatu aliran gereja.
Bicara interdenominasi, maka kita akan berbicara tentang kesatuan,
dalam hal ini kesatuan jemaat. Dapatkah pelayan hingga warga jemaat
dengan latar belakang gereja yang beragam dapat bersatu? Dan bagaimana
caranya agar bisa bersatu?
Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Efesus menyerukan agar setiap
jemaat Efesus, yaitu orang yang percaya, memelihara kesatuan yang ada
dengan berbagai cara (Ef. 4:1-16). Paulus tidak menyerukan ciptakanlah
persatuan jemaat!, tetapi peliharalah kesatuan jemaat dengan berbagai
cara! (ay. 3).
Untuk memahami Efesus 4 ini, kita juga perlu melihat Efesus 2:11-22, di
mana LAI memberi judul: Dipersatukan di Dalam Kristus. Kita sebagai
manusia tidak mampu menciptakan persatuan jemaat. Tugas kita adalah
memelihara kesatuan jemaat yang sudah ada. Hanya Kristuslah yang
sanggup menyatukan kita melalui karya keselamatan-Nya sehingga kita
semua yang percaya kepada-Nya menjadi satu dalam tubuh, Roh,
pengharapan, Tuhan, iman, baptisan, Allah dan Bapa (ay. 3-6). Ini poin dasar
dan utama dalam tema kesatuan jemaat.
Akhirnya, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana cara kita menjaga
kesatuan jemaat yang sudah Kristus kerjakan? Dalam Efesus 4 ini Paulus
memberikan arahannya dalam ayat 1-3 dan 11-13. Dalam ayat 1-3, kiat dari
Paulus adalah: hiduplah sebagai layaknya orang yang sudah ditebus, rendah
hati, lemah lembut, dan sabar. Sedangkan dalam ayat 11-13 Paulus
menyerukan bagi segenap jemaat untuk terus bertumbuh dan menjadi de-
wasa ke arah/menyerupai Kristus, dan juga memiliki kesatuan iman dan
pengetahuan yang benar tentang Kristus. Dan agar warga jemaat bisa men-
capai dan melaksanakan hal tersebut, maka yang bertanggung jawab adalah
para gembala di kampus, baik itu PKK, ketua bidang di kepengurusan, tim
inti, dan yang lainnya.
Kita sering mengatakan bahwa perbedaan itu indah dan anugerah dari
Tuhan. Tetapi, di sisi lain, dalam kadar tertentu, kita sering merasa
terganggu atau tidak nyaman dengan adanya perbedaan di sekitar kita.
Kadang timbul keinginan agar hal-hal itu bisa sesuai dengan apa yang kita
pikirkan, inginkan, bahkan sukai. Namun realitasnya, hal tersebut sangatlah
kecil bisa terwujud.
Karena itu, menerima perbedaan yang ada di sekitar kita menjadi suatu
keniscayaan. Melalui jemaat di kota Efesus, Paulus menasihati kita untuk
rendah hati, lemah lembut, sabar, dan dewasa dalam iman dalam
merespons perbedaan yang ada. Tanpa hal-hal tersebut kita bisa melihat
perbedaan yang ada menjadi suatu hal yang menakutkan dan mengancam,
padahal belum tentu perbedaan yang kita temui itu salah dalam terang
Firman Tuhan.
Tanpa sikap rendah hati, lemah lembut, sabar, dan dewasa dalam iman,
kita akan sulit melihat metode baptis yang berbeda antaraliran gereja; kita
akan sulit melihat adanya warna puji-pujian, alat musik yang digunakan,
atau bahkan praktik beribadah yang berbeda; kita akan sulit melihat
perbedaan karunia roh yang ada di tiap warga jemaat; dan juga kita akan
sulit melihat perbedaan pengajaran/doktrin yang dipegang oleh beragam
aliran gereja.
Jika saudara bertanya, dalam semangat interdenominasi, sejauh apa
respons kita menyikapi perbedaan yang ada, apakah perlu diterima dan
dirangkul semua perbedaan yang ada atau perlu ditolak sebagian? Jawaban
yang paling tepat, walau mungkin tidak terlalu praktis, adalah bertanya
kepada yang Sang Empunya pelayanan ini dan juga yang telah memper-
satukan kita, yaitu Kristus. Atau dengan kata lain teruslah bertumbuh di
dalam iman dan pengetahuan kepada-Nya melalui pembelajaran firman
Allah yang benar dan bertanggung jawab (ay. 13, 15). Sehingga, ketika kita
diperhadapkan pada perbedaan yang baru kita lihat, Roh Kudus akan
memimpin kita untuk bisa menilai apakah perbedaan tersebut sesuai
dengan firman Allah atau tidak. Dengan pengenalan yang baik akan firman
Allah, kita tidak akan lagi diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin
pengajaran, kita tidak akan lagi ditipu oleh permainan palsu manusia yang
licik dan menyesatkan (ay. 14).
Mungkin kelihatannya ada sekat antartiap aliran gereja yang menyulitkan
mereka untuk bersatu. Biarkan saja seperti itu! Bagian kita adalah
menghargai pilihan yang berbeda dari tiap orang dan tetap mengasihi
mereka di dalam Kristus karena kita satu tubuh dan Kristus adalah
kepalanya (ay. 15-16). Sebagaimana nasihat Bapak Gereja Agustinus:
In essentials, unity; In non-essentials, liberty; In all things, charity.
Selamat memperjuangkan semangat interdenominasi di dalam PMK
masing-masing!

Ilustrasi: Ibadah Paskah PO UI 2016


Bukan
Mahasiswa
Biasa
Sesuatu yang Sering
Dibiarkan Tenggelam
oleh Elisabeth Yosephine Maria Tambunan

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air,


yang menghasilkan buahnya pada musimnya,
dan yang tidak layu daunnya;
apa saja yang diperbuatnya berhasil
(Mzm. 1:3)

Pohon adalah organisme yang unik untuk menggambarkan seseorang


seperti yang dikatakan oleh pemazmur. Seseorang yang seperti pohon
adalah orang yang kesukaannya Taurat TUHAN dan yang merenungkan
Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2). Orang tersebut juga dikatakan
berbahagia.
Ketika merenungkan ayat tersebut, saya menemukan hal menarik yang
patut direnungkan oleh siapa pun yang mengaku dirinya Kristen: pohon
tersebut ditanam di tepi aliran air. Saya meyakini bahwa bagian yang
penting dari pohon adalah akarnya yang dapat membawa air dan makanan
yang dibutuhkan. Dengan demikian, akar yang tertanam di tepi aliran air
seperti pada pohon ini pastilah akar yang akan mengerjakan perannya
dengan baik; sebab ia dekat dengan sumber air. Ini tentu akan
menghasilkan pertumbuhan yang baik pula bagi pohon; berbuah dan
memiliki daun yang segar. Tanpa akar yang sehat, pohon tersebut akan
mati.
Seperti itulah gambaran ketika kita berbicara mengenai pertumbuhan
rohani yang semakin dalam. Kalau kita mengibaratkan diri sebagai pohon,
tentu kita akan mengakarkan diri kita pada tepi aliran air agar terjadi
pertumbuhan yang baik. Lalu kita akan dengan mudah mengatakan bahwa
hal ini berarti kita harus mengakarkan diri pada firman Allahdan itu benar.
Tetapi, ada empat hal penting yang sedang menjadi perhatian saya ketika
mencoba merumuskan apa yang harus dituangkan ke dalam artikel
sederhana di tengah luasnya pembahasan mengenai pertumbuhan rohani
yang semakin dalam ini.
Pertama, pemazmur mengatakan bahwa mereka yang kesukaannya
ialah firman Tuhan dan yang merenungkannya siang dan malamlah
yang dapat diumpamakan seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air.
Bukan semata-mata orang yang membacanya saja. Saya menghayati betul
bahwa rasa suka berperan penting untuk melihat motivasi seseorang ketika
membaca firman Allah. Ada orang yang membaca firman Allah hanya
karena penasaran, ada juga yang membacanya hanya karena tuntutan.
Tetapi, ketika pembacaan firman Allah tersebut dilandasi oleh rasa suka,
tentu itu akan memiliki arti yang berbeda. Lazimnya, kesukaan itu
menghadirkan kebahagiaan, bukan? Perenungannya adalah bahagiakah kita
ketika membaca firman Allah apa pun kondisi kita?
Kedua, ketika seseorang memiliki kesukaan akan firman Allahtidak
mungkin tidakdia akan merenungkan firman itu siang dan malam. Saya
menghayati kalimat siang dan malam ini sebagai gambaran seseorang
yang akhirnya dapat merespons setiap hal yang terjadi di sepanjang harinya
sesuai dengan firman Allah. Perenungan akan firman Allah, kapankah
terakhir kali kita melakukannya? Saya meyakini bahwa hanya dengan
perenunganlah kita akan benar-benar menyerahkan diri kita untuk
mengakar kuat di dalam firman tersebut. Merenungkan firman Allah
menandakan sikap yang ingin belajar dan diajar, serta menunjukkan
kerendahan hati. Melalui proses ini pula kepekaan kita akan pekerjaan
Roh Kudus akan terwujud. Karena di sinilah kita memberi ruang kepada
Roh Kudus untuk mengajari kita dalam memahami firman Allah yang kita
baca.
Namun disayangkan, proses perenungan ini pulalah yang minim
terjadi di dalam diri kita sebagai mahasiswa dengan berbagai
kesibukannyadi semester berapa pundengan segelintir kegiatan
organisasi dan kepanitiaan, serta masih banyak kesibukan lainnya. Tidak
hanya itu, di tengah deringan notifikasi dari aplikasi dan sosial media ini
dan itu, sulit rasanya memiliki waktu yang berkualitas juga untuk
merenungkan firman Allah. Kita mulai membenarkan penggunaan Alkitab
elektronik dengan alasan mengikuti zaman tanpa memiliki kebijaksanaan
dalam menggunakannya. Ketika sedang Saat Teduh menggunakan ponsel,
kita lalu sambil membalas chat dari grup kerja kelompok kita. Lagi retret
dan mengikuti sesi, kita lalu sibuk mengecek ponsel kita manakala ada
yang mencari-cari kita. Ditambah lagi, kita mulai bosan dengan setiap
kalimat yang disampaikan pembicara. Saya tidak berada pada titik ekstrem
dengan mengatakan anti terhadap perkembangan teknologi dan zaman;
tetapi jika itu menjadikan kita tidak sempat merenungkan firman Allah, kita
perlu mengevaluasi diri kita masing-masing. Salah satu poin evaluasinya
tentulah: apakah kesukaan kita ialah firman-Nya? Adakah perasaan yang
begitu senang, bahagia, dan sukacita terhadap firman-Nya? Karena,
seperti yang saya sampaikan, mereka yang kesukaannya adalah firman
Allahtidak mungkin tidakakan merenungkan firman itu siang dan
malam.
Semakin besar kebisingan, semakin samar kita mendengar suara
Tuhan melalui firman. Semakin kecil kebisingan, semakin jelas kita
mendengar suara Tuhan melalui firman. Kebisingan itu bisa berarti
banyak hal; tidak harus melulu soal notifikasi sosial media yang kita punya.
Kebisingan pun bisa berupa: ambisi dan cita-cita kita yang tidak murni dari
Tuhan, yang mungkin selama ini tidak kita sadari menghalangi kita
memberikan ruang dan waktu yang lebih bagi firman Allah. Kebisingan juga
bisa berupa kesukaan kita akan hal-hal lain yang membuat seolah-olah
cinta kita akan Allah dan firman-Nya sedang bertanding dengan cinta kita
akan yang lainnyaketika bahkan Tuhan hanya ingin menjadi yang satu-
satunya di dalam hati kita. Kita jarang merenungkan hal ini. Karena memang
waktu kita minim untuk hal seremeh merenung. Bagi kita, merenung
tampak seperti tidak mengerjakan apa-apa. Kalau begitu, mungkinkah kita
sedang menempatkan pertumbuhan rohani sebagai pilihan yang bisa
diabaikan? Ataukan sebagai tujuan yang bisa tidak usah dicapai?
Pada tahun 2015, saya pernah mengambil suatu keputusan yang
terkesan tidak penting terkait keinginan saya untuk mengalami
pertumbuhan rohani yang semakin dalam, yakni: tidak menggunakan
sosial media Instagram, Twitter, dan Path selama sekitar sebulan. Saat itu
saya sedang mengalami masa-masa cukup sulit yang membuat saya
sungguh memerlukan hikmat Tuhan dan kepekaan dari-Nya atas situasi
yang saya alami. Salah satu hal yang membuat saya merasa terhambat
untuk mendapatkan hikmat dan melatih kepekaan rohani tersebut adalah
penggunaan sosial media yang saya rasa berlebihan. Keputusan itu
membuat saya mengganti waktu-waktu yang biasanya saya pakai untuk
online dengan melakukan Pendalaman Alkitab yang rutin. Selain itu, saya
juga menggantinya dengan mencari lagu-lagu rohani baru (yang belum
pernah saya ketahui sebelumnya), mempelajari, merenungkan pesan firman
Allah yang terdapat pada lagu-lagu tersebut, dan menyanyikannya dalam
waktu-waktu penyembahan saya kepada Tuhan. Satu keyakinan saya saat
itu adalah saya ingin dengan jelas mengimani kehadiran Tuhan dan merasa-
kan kasih-Nya yang sangat besar melawat diri saya di tengah kesulitan yang
saya alami. Di luar dugaan, saya mengalami pemulihan yang ajaib yang
membuat saya tidak merasakan kesedihan, kekhawatiran, kemarahan, atau
pun perasaan negatif lainnya, sebaliknya, saya merasakan damai sejahtera
dan ketenangan yang berasal dari iman yang bertumbuh dengan baiknya
melalui firman Allah yang saya terima dengan jelas tanpa gaungan notifikasi
yang mengganggu saya. Saya juga dapat merasakan Tuhan mengerjakan
pertumbuhan rohani yang memampukan saya menghadapi situasi sulit
tersebut dengan pengharapan dan kasih yang berasal dari Tuhan.
Ketiga, saya membayangkan pertumbuhan rohani yang semakin dalam
sama seperti pohon yang akarnya semakin dalam dan kuat menopang sang
pohon. Pertumbuhan rohani membuat kita semakin mengenal diri kita
sebagai manusia berdosa. Pertumbuhan rohani juga membuat kita
semakin menyadari dan mengimani Allah yang kudus, mulia, dan
berkuasasampai-sampai kita tidak bisa mengelak untuk menyatakan Allah
kepada orang lain yang melihat kita. Itulah yang dikerjakan Tuhan sebagai
Pemberi pertumbuhan rohani di dalam hidup kita. Kita tidak bisa
mereka-rekakan pertumbuhan rohani kita sendiri. Semuanya adalah
pekerjaan Allah Roh Kudus, sekalipun melibatkan kita.
Kalau penuhnya presensimu di Persekutuan Jumat, tidak pernah
absennya kamu di Persekutuan Doa, seberapa rajinnya kamu datang
Kelompok Kecil, dan seberapa tingginya jabatan kerohanianmu di
kepengurusan kampus membuatmu menjadi sombong, berarti ada yang
salah dengan sikap hatimu. Sama halnya dengan: jika kedisiplinanmu
bersaat teduh, banyaknya jumlah buku Penggalian Alkitab yang sudah kamu
bahas, sekian juta seminar dan pembinaan rohani yang sudah kamu hadiri
membuatmu meragukan Allah yang mahakuasa dan kudus, berarti ada yang
salah dengan sikap hatimu. Perkataan ini benar, bahwa sikap hati
memegang peranan penting di dalam pertumbuhan rohani kita.
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar
kehidupan (Ams. 4:23). Kehidupan seperti apa yang dipancarkan dari
hati kita?
Keempat, Persekutuan Oikumene Universitas Indonesia adalah salah satu
alat kasih karunia Tuhan untuk mengerjakan pertumbuhan rohani di dalam
diri kita sebagai mahasiswa harapan bangsa. Kita berperan penting dalam
pembangunan bangsa Indonesia di berbagai aspeknya sesuai dengan
bidang kita masing-masing. Janji Tuhan kepada mereka yang kesukaannya
adalah firman Allah dan yang merenungkannya siang dan malam adalah
apa saja yang diperbuatnya berhasil. Kita percaya bahwa keberhasilan
yang dijanjikan Tuhansekalipun berbeda dengan persepsi kitaadalah
keberhasilan yang sejati dan yang paling mendatangkan damai sejahtera.
Saya berharap keempat hal ini dapat menggerakkan hati kita untuk
berjuang dalam pertumbuhan rohani yang sedang Allah kerjakan di dalam
diri kita masing-masing sebagai mahasiswa Kristen. Saya pun berdoa
semoga perjuangan tentang pertumbuhan rohani yang dalam tidak lagi
tenggelam di antara timbunan perjuangan kita lainnya semacam IPK,
perlombaan dan konferensi, jabatan organisasi, atau bahkan jabatan
kerohanian. Semoga Roh Kudus menyempurnakan keterbatasan saya untuk
berbagi dalam artikel ini dan menolong para pembaca untuk mendapatkan
pengertian yang benar dari Tuhan.
Antara Studi, Organisasi, dan Pelayanan
oleh Winner Pasaribu

Dengan kemampuan akademis seadanya, berpredikat anak daerah, tak


pernah masuk peringkat 3 besar, tanpa prestasi khusus dan bergengsi
selama SMA, tentu memilih kuliah pada program studi Ilmu Hukum di
Universitas Indonesia hanyalah mimpi. Saat mimpi itu berakhir manis di
Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) Undangan 2011,
saya senang sekaligus bingung. Faktanya menjadi mahasiswa FH UI bukan
impian saya sejak awal. Saya pikir kuliah di daerah asal saja sudah cukup.
Namun, saya bertekad menghindari keinginan orang tua agar menempuh
pendidikan di Akademi Kepolisian saat itu. Satu-satunya cara adalah
diterima sebagai mahasiswa UI.
Masa-masa awal di kampus tidak berjalan seperti yang diharapkan. Saya
pernah di-bully habis-habisan saat masa ospek yang kemudian melahirkan
rasa antipati terhadap dunia kampus. Alhasil saya menjadi pribadi yang
menutup diri, tidak terlibat organisasi atau kepanitiaan apa pun, tak ada
kebanggaan. Indeks prestasi yang buruk menambah runtuhnya kepercayaan
diri sebagai anak muda. Saya benci pada keadaan. Namun kemudian, saya
sadar bahwa sesuatu harus dibah. Saya butuh komunitas yang mampu
membangun, menggerakkan, dan memberi saya tujuan dan harapan.
Syukur kepada Tuhan Yesus, komunitas pertama saya di Universitas
Indonesia adalah persekutuan, PO FH UI. Di persekutuan ini, saya mengha-
biskan semester 2 dan 3 untuk mengenal siapa saya, siapa Tuhan, dan apa
tujuan-Nya bagi saya. Di persekutuan ini pula saya menemukan rumah dan
keluarga; orang-orang yang mengerti saya, membantu pertumbuhan karak-
ter saya. Di sini saya menemukan sahabat; rekan seperjalanan yang
menginspirasi saya yang turut menjaga iman dan tujuan saya. Pelan tapi
pasti, pengenalan saya akan Dia memberi dorongan untuk melayani Tuhan
dengan baik lewat persekutuan kampus maupun gereja lokal.
Perlahan saya tahu, Tuhan Yesus punya rancangan indah untuk saya
rancangan damai sejahtera. Dia sedang mengerjakan sesuatu yang besar,
yang tidak pernah saya lihat, tidak pernah saya dengar, tidak pernah timbul
dalam hati saya. Saya dikasihi, disayangi-Nya. Keberadaan saya di UI pun
hanya karna kasih Tuhan.
Dari waktu ke waktu iman saya dibangkitkan, pengharapan saya
dipulihkan, perspektif dan karakter saya diperbarui. Saya begitu yakin ketika
saya mengutamakan kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semua akan
ditambahkan.
Kisah saya juga tidak menjadi underdog story. Studi semester 4 dan
selanjutnya tidak lantas menjadi sempurna. Karena saya ada di kampus,
maka kegiataan utama saya adalah belajar dan mengembangkan diri. Kare-
na itu, hari-hari di kampus saya pergunakan untuk menabung ilmu sebanyak
-banyaknya, mendapatkan nilai sebaiknya dan tujuan akhirnya lulus tepat
waktu. Untuk tujuan itu, saya harus cukup selektif memilih mata kuliah.
Tidak hanya mata kuliah yang menarik. tetapi juga tetap menunjang mimpi
saya untuk menjadi praktisi hukum kenamaan pada suatu hari nanti. Saya
memaksakan diri untuk punya waktu-waktu membaca buku hukum dan
menangkap isu hukum yang sedang hangat serta ikut pula dalam kelompok
belajar dan kelompok diskusi yang ada. Dengan pertolongan Tuhan Yesus,
tiap-tiap semester berikutnya berjalan lebih menyenangkan. Grafik nilai saya
terus meroket dan akhirnya mampu menyelesaikan studi tepat waktu
dengan indeks prestasi yang sangat memuaskan saya.
Di sisi lain, saya sadar bahwa sebagai mahasiswa saya harus mengem-
bangkan diri, mengasah softskills, kepemimpinan, berinteraksi dengan
masalah dan melatih disiplin. Apalagi saya ada di Universitas Indonesia,
tempat terbaik dengan orang-orang terbaik untuk mendapatkan semua itu.
Karena itu, saya harus mempergunakan kesempatan yang ada. Bagi saya
yang waktu itu ada di tahun keduapilihannya terbatas: terlibat dalam
organisasi atau kepanitiaan.
Sekali lagi, kisah saya bukan underdog story. Saya tidak kemudian
direkrut menjadi anggota wali amanat atau pimpinan BEM atau mengepalai
organisasi atau mengoordinasikan kepanitiaan atau ketua PO FH UI atau
posisi kenamaan lainnya di kampus. Ada langkah yang harus saya mulai,
seperti menjadi staf, satu level dengan mahasiswa dari angkatan yang lebih
muda. Seperti duduk sebagai anggota, mendengarkan teman seangkatan
memberi ceramah kepemimpinan dan pelatihan organisasi.
Memang harus cukup rendah hati dan terus mengingat tujuan awal saya
untuk mengembangkan diri. Dengan pertolongan Tuhan Yesus, pada tiap-
tiap semester berikutnya saya diberi banyak kesempatan ikut dalam
kegiatan organisasi dan kepanitiaan. Saya pernah menjabat sebagai ketua
organisasi dan koordinator berbagai kepanitiaan. Hal yang cukup
mengejutkan, pada masa akhir perkuliahan, saya ditunjuk sebagai
koordinator PSAF, kepanitiaan yang memperkenalkan orientasi studi dan
kampus kepada mahasiswa baru, kepanitiaan ini yang lebih sering disebut
ospek. Tuhan Yesus sungguh baik!
Banyak orang mencoba merumuskan cara terbaik menjalani masa
perkuliahan di kampus. Ada yang cenderung mencoba meraih indeks
prestasi setinggi-tingginya, ada yang sibuk dengan organisasi dan kepani-
tiaan. Ada yang menginginkan kedua-duanya. Manakah yang lebih utama?
Jawaban saya sederhana, tugas saya adalah mengenal dan mengasihi
Yesus, Tuhan kita. Meskipun dalam menjalaninya ada jatuh dan bangun.
Tetapi, tugas itu yang menolong saya melihat seluruh aspek hidup sebagai
kesempatan untuk melayani-Nya. Membantu memisahkan apa itu keperluan
dan keinginan dalam memilih mata kuliah yang saya perlukan, organisasi
yang saya perlukan, kepanitiaan yang saya perlukan.
Keyakinan saya begitu kokoh, ketika kita mengasihi Tuhan, maka kita
akan sadar bahwa studi adalah media pelayanan sekaligus wadah Tuhan
untuk mengerjakan rancangan-Nya yang indah bagi hidup kita. Organisasi
dan kepanitiaan adalah wadah pelayanan sekaligus wadah Tuhan berkarya
dan membentuk pribadi kita. Kalau kita mengerti bahwa studi dan
organisasi adalah pelayanan, kita pasti memberi yang terbaik. Memang,
yang terbaik tidak selalu sempurna. Apa pun hasilnya, saya anggap sebagai
proses.
Persekutuan kampus mengambil peran dalam kehidupan rohani saya.
Menolong saya mengerti status kita sebagai anak Allah yang dicinta dan
dikasihi. Sebagai anak Allah, saya diberi hak atas seluruh janji Allah. Masa
depan saya sungguh ada dan harapan saya tidak akan hilang.
Saya, Saya, Saya
oleh Lidya Corry

Ketika pertama kali menjejakkan kaki di Universitas Indonesia, kalimat


yang muncul dalam pikiran adalah: Saya akan mematrikan nama saya
sebagai salah satu lulusan terbaik kampus ini. Hal ini bukan tanpa alasan.
Lahir dan besar di keluarga yang sangat menghargai pencapaian, saya
tumbuh menjadi seorang anak dengan target yang jelas dan rencana yang
terukur.
Selanjutnya, Tuhan seolah-olah menjawab pertanyaan saya. Pada masa
orientasi di Fakultas Hukum, panitia mengadakan talkshow dengan tema
Mahasiswa Berprestasi. Salah seorang narasumber menceritakan bagaimana
ia mencapai predikat Mahasiswa Berprestasi dengan perencanaan yang
matang. Saya pun merasa tercerahkan dengan cerita narasumber tersebut.
Saya pun mulai merencanakan perjalanan saya di kampus perjuangan, mulai
dari rencana mengikuti kompetisi-kompetisi, aktif berorganisasi, menjadi
bagian di acara-acara kampus, dan berbagai rencana lain.
Bukan hanya membuat perencanaan, saya juga berjuang mewujudkan
poin-poin dalam to-do-list saya. Kompetisi (dan prestasi) pertama saya
jalani ketika status saya masih mahasiswa baru (maba). Pada tahun pertama
kuliah, saya aktif dalam tiga organisasi (bahkan empat jika menghitung
Persekutuan Oikumene). Saya rajin mengecek dan mengisi pendaftaran
panitia di papan open recruitment. Indeks Prestasi Kumulatif saya di dua
semester 1 di atas 3.8. Bisa dibilang, saya semakin dekat dengan titel
Mahasiswa Berprestasi yang saya idam-idamkan.
Walau demikian, saya tidak melupakan hubungan saya dengan Tuhan.
Saya adalah mahasiswa mantan binaan siswa. Saya menerima Yesus sebagai
Tuhan dan Juru Selamat pada bangku SMA, bahkan saya melayani sebagai
pengurus Rohani Kristen (Rohkris) di SMA saya. Karena itu, saya tidak
melewatkan persekutuan di kampus. Saya rajin datang ke Persekutuan
Jumat dan ikut Kelompok Kecil. Saya tetap mencintai persekutuan, walau
terlibat jauh dalam persekutuan jelas tidak ada dalam to-do-list saya. Sekali
lagi, saya punya target yang harus dicapai dan titel yang ingin diraih. Pada
waktu itu saya berpikir: Semua pencapaian saya adalah bagi kemuliaan
Tuhan. Jika saya berhasil, ini Tuhanlah yang dipuji dan dimuliakan.
Ketika duduk di semester 3, saya kembali mengikuti suatu kompetisi di
Semarang. Keikutsertaan saya dalam kompetisi ini sudah sesuai dengan
rencana saya, dan sungguh bersyukur karena anggota tim saya juga
memiliki kemampuan yang mumpuni. Pada awal latihan saya yakin bahwa
kompetisi ini akan membawa saya selangkah lebih dekat dengan impian
saya. Namun, saya salah.
Proses latihan begitu sulit. Seluruh pikiran, jiwa, hati, dan fisik saya
terkuras kering. Saya merasa berjalan sendirian sambil membawa beban
yang begitu menekan berat. Akhirnya, untuk pertama kali dalam hidup saya,
saya mengerti arti berjalan di luar kehendak Tuhan. Pada H-7 kompetisi,
saya sadar bahwa Tuhan tidak pernah menghendaki saya mengikuti
kompetisi itu. Bahkan lebih jauh lagi, Tuhan tidak pernah menginginkan
saya menjadi mahasiswa berprestasi. Dari awal, dari detik saya menyusun
rencana perjalanan saya di kampus, Tuhan tidak pernah menjadi alasan saya
mengerjakan semua ini. Semua saya lakukan bagi diri saya sendiri, bagi
kemuliaan saya sendiri. Ini semua tentang bagaimana saya bisa menjadi
yang terbaik. Ini semua tentang bagaimana supaya saya dikagumi dan
dipuji oleh semua orang. Ini semua tentang saya.
Saya hancur. Bukan hanya hancur karena saya gagal, tetapi karena saya
sadar bahwa semua hal yang saya kejar dan perjuangkan selama ini,
semuanya adalah sampah. Semua prestasi dan pencapaian itu bagai kem-
bang api yang nyalanya indah dan berkilau, namun sekejap saja lalu hilang.
Semua tidak berharga, semua sementara. Kesadaran betapa egois dan
self-centered-nya saya meninggalkan lubang yang begitu dalam di hati
saya.
Akhirnya, saya menyerahkan semua ambisi dan hasrat terdalam saya ke
atas mezbah-Nya. Saya bakar semua impian dan cita-cita saya menjadi yang
terbaik, menjadi mahasiswa berpresasi, dan belasan ambisi kosong saya
yang egois itu. Saya memutuskan untuk menyerahkan hati saya sepenuhnya
kepada-Nya dan hidup seturut kehendak-Nya semata.
Kemudian saya tahu mengenai konsep berhala dalam hati manusia.
Dalam bukunya Gods at War, Kyle Idleman menyatakan bahwa ada
peperangan di dalam hati setiap manusia. Apa yang kita cari dan kejar
dalam hidup kita akan menentukan siapakah allah yang akan me-
menangkan hati kita. Setiap hal yang kita cari, kejar, dan inginkan lebih dari
Allah, itulah yang menjadi allah kita. Bahkan hal-hal yang baik sekali pun,
seperti keluarga, kenyamanan, prestasi dan pencapaian, ataupun hal-hal
lain; juga bisa menjadi allah yang kita sembah tanpa kita sadari. Dalam
kasus saya, diri saya dan ambisi sayalah yang dahulu saya menangkan
dalam hati saya.
Cerita saya hanyalah bagian kecil dari cerita jutaan mahasiswa lain
di seluruh dunia. Dunia sedang berjalan menuju kehampaan. Banyak
mahasiswa mencari dan mengejar kebahagiaan dengan menyembah
berhala-berhala di dalam hati mereka: Saya mencari kenyamanan, yang
penting saya nyaman!; Saya mengejar harga diri, saya harus dipuji dan
dikagumi!; Saya ingin punya relasi dan jaringan yang luas, saya mau
semua orang menyukai saya! Kita berpikir hal-hal itu akan membawa kita
pada kebahagiaan dan kepuasaan.
Apalagi pada zaman teknologi seperti sekarang ini. Dunia maya
menawarkan jalan pintas mencapai kebahagiaan itu. Dengan mudah kita
duduk diam di satu tempat dengan gawai dan menikmati kenyamanan yang
ditawarkan. Dengan mudah kita bisa menunjukkan pencapaian kita, prestasi
kita, barang-barang mahal atau bahkan makanan cantik kita; dan
membuat orang lain kagum dengan hidup kita. Dengan mudah kita bisa
mendapatkan relasi dengan banyak orang di seluruh dunia dan memoles
diri kita sedemikian rupa agar kita disukai teman-teman dunia maya kita.
Tetapi, benarkah semua hal di atas mampu membawa kita pada
kebahagiaan sejati?
Satu kalimat Kyle Idleman pun menyadarkan saya, We were made for
God, and until He is our greatest pleasure, all the other pleasure of this life
will lead to emptiness. Saya sudah mencobanya, dan sayalah bukti bahwa
semuanya hanyalah kebahagiaan semu. Lalu, apa kebahagiaan sejati kita?
Jawabannya cukup dua kata: Yesus Kristus.
Karya Kristus bagi umat manusia melalui darahnya yang mahal
(lih. 1Ptr. 1:18-19) dan kasih yang Ia curahkan di atas kayu salib cukup untuk
memuaskan jiwa dan hati kita. Dialah bagian terbaik yang tidak akan
pernah diambil dari kita. Tiada satu pun ciptaan lain (terlebih lagi ciptaan
dari ciptaan, seperti gawai atau koneksi internet yang kita gunakan) yang
dapat memuaskan hati manusia. Hanya Sang Pencipta hati yang mampu
memuaskan hati kita.
Pada akhirnya, tidak ada satu pun hal yang kita peroleh dengan hanya
memikirkan diri kita sendiri karena sedari awal, sejak dunia ini diciptakan,
semuanya bukan tentang manusia. Semua tentang Dia, Sang Pencipta
semesta; Pemilik hidup dan napas kita; yang menebus manusia dari
kematian yang kekal; Tuhan Yesus Kristus.

From my heart to the heaven,


Jesus be the center,
its all about You,
yes its all about You.
(Jesus at the Center, Hillsong Worship)
Saya Tidak Takut
Menulis tentang Rasa Takut
oleh Ruth Lidya Panggabean

Halo, Kak! Gimana kalo aku mengundurkan diri dari penulisan?


Dengan mata basah, saya mengirim chat ke Kak Bebeth, anggota redaksi
buku 50 Tahun PO UI yang menawarkan saya untuk berkontribusi dalam
buku tersebut. Awalnya saya kira akan diberi kesempatan menulis tema lain,
tetapi ketika saya mengetahui harus menulis tentang rasa takut gagal dan
takut dipandang buruk oleh orang lain, selama dua minggu saya
mengalami writers block.
Saya panik diperhadapkan pada sebuah isu yang belum selesai dalam
kehidupan pribadi saya sendiri. Kesaksian apa yang mau saya bagikan
kalau saya sendiri tidak tahu cara menghadapinya?. Jangan-jangan
tulisanmu adalah cara Tuhan menjawab kegelisahanmu, demikian balas
Kak Bebeth ketika akhirnya saya menjelaskan alasan ketakutan saya menulis.
Saya tercenung. Kak Bebeth memberikan saya kesempatan sekali lagi,
sembari menopang doa untuk pergumulan saya secara spesifik. Sebagai
jawaban atas doa kami, Tuhan sendiri yang akhirnya menunjukkan saya titik
tolak yang lebih jauh dari sekadar menghadapi rasa takut.

The Heart of the Problem is the Problem of the Heart.


Melalui sebuah retreat pada hari perpanjangan tenggat pengumpulan
tulisan, Allah menunjukkan kepada saya bahwa akar permasalahan rasa
takut gagal dan rasa takut dianggap buruk oleh orang lain adalah rusaknya
gambar diri (self image).
Gambar diri merupakan cara kita memandang diri sendiri yang
dipengaruhi oleh beragam faktor, seperti cara pandang orang lain,
lingkungan sekitar, bentukan media, dan sebagainya. Semakin banyak kita
menginternalisasi cara pandang mereka terutama yang negatif, semakin
buruk pula kita melihat diri sendiri.
Beberapa indikasi seseorang yang rusak gambar dirinya adalah sering
merasa insecure dan merasa tidak berharga, mencari-cari pengakuan,
penerimaan, dan penghargaan dari orang lain, sombong ketika berhasil dan
minder ketika gagal, moody karena kondisi hati selalu bergantung situasi,
mengalami depresi, bahkan bunuh diri.
Ada satu faktor lagi yang tak kalah penting dalam membentuk gambar
diri kita selain hal-hal di atas, yakni cara pandang Tuhan. Bagaimana
kebenaran firman Allah menjelaskan siapa kita yang sesungguhnya?
Yesaya 43:4a Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan
Aku ini mengasihi engkau. Dunia ini membentuk gambar diri sebagai
sesuatu yang bersyarat. Kita harus memenuhi standar khusus dalam penam-
pilan, prestasi, dan status sosial supaya kita pantas untuk merasa berharga.
Allah justru memandang kita dengan cara yang sama sekali berbeda. Rasa
berharga yang kita peroleh dari-Nya tidak bersyarat, bukan karena apa yang
kita miliki atau lakukan, melainkan hanya karena Dia mengasihi kita.
Dia memilih kita semenjak dunia belum dijadikan. Dia menenun kita
dalam kandungan dan merancangkan tujuan mengapa kita berada di dunia
sekarang. Bukankah seharusnya cara pandang-Nya lah yang kita gunakan
tiap kali mengingat siapa kita ini?
Konsep ini mirip dengan doktrin keselamatan dalam Kekristenan yang
didasarkan pada kasih karunia, bukan perbuatan. Sungguh pun ini bukan
sebuah kebenaran yang baru kita dengar, sudahkah kita secure dengan
gambar diri kita seperti kita meyakini keselamatan? Bila kita masih
membanding-bandingkan pelayanan kita dengan pelayanan orang lain, bila
kita menganggap buah pelayanan sebagai target-target dan bukannya
karunia, bila kita langsung merasa tertolak ketika AKK atau teman yang kita
injili menghindar, kita perlu bercermin sekali lagi pada firman ini: Galatia
1:10 Jadi bagaimana sekarang: adakah kucari kesukaan manusia atau
kesukaan Allah? Adakah kucoba berkenan kepada manusia? Sekiranya aku
masih mau mencoba berkenan kepada manusia, maka aku bukanlah hamba
Kristus.
Kita bukan hamba yang benar sekalipun pada kita melekat status
pengurus, pelayan, pemimpin kelompok kecil maupun jemaat PO UI. Ketika
kita lebih memikirkan pendapat manusia mengenai kita daripada pendapat
Allah. Tidakkah itu menyedihkan?
Hati saya tergetar ketika pertama kali mengetahui firman Tuhan
berbicara setegas ini. Tuhan membukakan pada saya bahwa ternyata gambar
diri saya sendiri pun belum dipulihkan. Lahir dan besar di tengah keluarga
yang minim apresiasi dan sulit menerima kesalahan telah membuat saya
mengadopsi pola yang sama dalam menilai diri sendiri.

Lalu, Harus Bagaimana?


Jika kamu kini menyadari bahwa kamu juga bergumul dengan isu
gambar diri, ada empat hal yang saya dan kamu dapat terapkan:
1. Mengampuni orang lain
Markus 11:25 Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu
sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya
bapamu yang di sorga mengampuni kesalahanmu
Seperti yang saya tulis sebelumnya, gambar diri yang rusak sering kali
merupakan dampak dari internalisasi perkataan orang lain yang
berlangsung selama bertahun-tahun. Pada sesi retreat yang saya ikuti,
saya mengambil waktu untuk memberikan pengampunan kepada orang-
orang yang pernah mengatakan kalimat-kalimat menyakitkan. Lalu, saya
berdoa memohon pemulihan hati dan gambar diri dari Tuhan.

2. Mengakui rasa takut


Mazmur 42:6 Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di da-
lam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi
kepada-Nya, penolongku dan Allahku!
Mengakui segala ketakutan kita akan kegagalan, akan pandangan
orang lain, atau akan apapunbaik kepada Tuhan maupun kepada diri
sendiri, bertujuan untuk menghentikan self-denial, melepaskan perasaan-
perasaan yang sebelumnya kita tekan, dan mengevaluasi false beliefs
yang terpendam di alam bawah sadar. Melalui doa dan juga self-talk,
saya menjadi lebih aware ketika kalimat-kalimat menghakimi diri sendiri
kembali datang dan menanggapinya dengan memperkatakan janji
Tuhan.
3. Menenggelamkan diri dalam perenungan firman
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran
oleh firman Kristus
Ketika kita membiarkan nilai-nilai dan perkataan orang lain mendikte
hidup kita, itu artinya nilai-nilai dan perkataan dari Tuhan belum
mengakar kuat di batin kita. So preach Gospel to yourself every day.
Selalu sediakan waktu untuk menghafal ayat, mendengarkan video/
audio khotbah, atau PA pribadi.

4. Melangkah dalam iman


Yesaya 41:10 Janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah
bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan
menolong engkau, Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-
Ku yang membawa kemenangan
Rasa takut gagal dan takut dipandang buruk oleh orang lain
berpotensi menghalangi kita mengalami terobosan-terobosan dalam
hidup. Namun jika kita sungguh mengenal siapa Bapa kita dan meng-
genggam janji-Nya, segala intimidasi si jahat akan perlahan tergantikan
oleh damai sejahtera seiring kita mengambil langkah.

Meski pada mulanya saya tidak berani menuliskan kesaksian saya di sini
karena insecure memikirkan apa respons pembacanya nanti, pada akhirnya
Tuhan sendiri yang memampukan saya menyelesaikannya, menyediakan
bahan tulisan bagi saya, bahkan lebih lagi, memulihkan gambar diri saya
yang tidak benar dengan cara-Nya yang ajaib.
Saya tidak lagi takut menulis tentang rasa takut. Soli Deo Gloria!
Geng PO Fasilkom
oleh Gohan Parningotan

Saya punya beberapa teman Persekutuan Oikumene (PO) angkatan


2013, mereka sering berkumpul bersama, untuk berdiskusi, mengerjakan
tugas, ataupun makan bersama. Beberapa kali saya bergabung bersama
mereka, meski kadang ketika saya datang mereka langsung bubar. Mereka
adalah Kelo, Ari, Gema, Julian, dan Nathan. Mereka biasa berkumpul di
tenda putih Fasilkom atau di perpustakaan.
Pada suatu sore saya pernah duduk bergabung bersama mereka dan
menceritakan pengamatan saya tentang perkumpulan mereka itu. Geng
mereka bernama Cupaw Selaw (saya tidak yakin penulisannya benar). Mung-
kin pengamatan saya ini bermula ketika saya masih semester 6 di Fasilkom.
Hari itu, setelah sesi kuliah selesai, saya mampir ke tenda putih Fasilkom
sebelum pulang. Tenda putih ini berhasil diakuisisi oleh anak-anak PO
Fasilkom setelah sebelumnya ditempati oleh gamer-gamer angkatan 2012
yang sudah tobat. Di sana anak-anak PO sering check out (CO) pelayan
ibadah Jumat, rapat, atau sekadar berkumpul, termasuk geng Cupaw Selaw.
Kalau saya perhatian, geng itu berkumpul hampir setiap hari di sana.
Mereka biasa berkumpul pada siang hari untuk makan siang bersama atau
pada sore hari setelah semua sesi kelas selesai untuk makan sore atau
diskusi. Geng mereka mengingatkan saya kepada kehidupan jemaat mula-
mula sepert dalam Kisah Para Rasul 2. Dijelaskan bahwa jemaat mula-mula
selalu berkumpul untuk memecah roti dan berdoa. Jemaat mula-mula juga
berkumpul tiap hari dengan tekun dan dengan sehati di bait Allah. Mirip
sekali bukan? Saya mengatakan itu kepada mereka.
Bayangkan jika setiap mahasiswa di persekutuan kampus bisa
meluangkan waktunya seperti geng ini untuk berkumpul setiap hari atau
paling tidak beberapa kali dalam seminggu. Di persekutuan banyak hal bisa
diceritakan, kesulitan kuliah, meminta bantuan mengerjakan tugas,
mendiskusikan kondisi politik terkini, masalah keluarga, dan banyak lagi.
Banyak hal bisa ditemukan di dalam persekutuan dan semuanya dimulai
dari keterbukaan. Dengan ngobrol-ngobrol seperti ini, bisa saja masalah
dapat ditemukan solusinya, konflik dapat dipecahkan, dan sakit hati dapat
diredakan. Hanya saja saya tidak jarang menemukan mahasiswa yang tidak
terlalu suka untuk berkumpul bersama dengan teman-teman persekutuan
seperti ini.

Alasan untuk Tidak Berelasi


Dalam cerita jemaat mula-mula, jemaat digambarkan sebagai umat yang
bertekun dalam pengajaran rasul-rasul, suka berkumpul untuk makan
bersama, berbagi harta dengan sesama atau saling membantu, gembira dan
tulus, serta suka memuji Allah. Jemaat mula-mula merupakan jemaat yang
memiliki relasi yang dekat satu sama lain. Hal ini ditunjukkan dengan
kuantitas pertemuan mereka serta kesehatian mereka untuk saling
membantu satu sama lain. Menurut saya penggambaran relasi jemaat mula-
mula merupakan penggambar yang baik untuk dicontoh oleh persekutuan
mahasiwa.
Mahasiswa menghabiskan mayoritas waktunya di lingkungan kampus.
Setiap hari dari pukul 08.00 WIB hingga sore bahkan malam hari mahasiswa
menghabiskan waktu di kampus. Jumlah ini mungkin lebih tinggi jika kamu
merupakan mahasiswa yang memilih untuk kos di sekitar kampus.
Komunitas terdekat seorang mahasiswa adalah teman-teman kampusnya,
maka komunitas di dalam kampus merupakan sesuatu yang penting.
Namun sayang, saya sering menemukan mahasiswa yang tidak suka untuk
berelasi dengan teman-teman persekutuan di kampus dan lebih memilih
untuk segera pulang ke rumah atau juga mencari komunitas di luar kampus.
Ada beberapa hal yang mungkin menjadi alasan mahasiswa untuk tidak
berelasi dengan teman-teman di persekutuan kampus.
Alasan pertama adalah kesibukan. Sebagai mahasiswa, saya merasakan
sendiri padatkan kegiatan perkuliahan. Tugas dan tuntutan materi kuliah
untuk dipelajari sering membuat mahasiswa tidak ingin menghabiskan
waktunya berlama-lama untuk berelasi bersama teman. Kita bisa menjadi
sangat sibuk untuk mengejar studi dan ingin segera lulus hingga akhirnya
tidak sempat untuk duduk bersama dengan teman persekutuan. Benar bah-
wa tugas seorang mahasiswa adalah belajar, tetapi tugas utama seorang
mahasiswa Kristen berbeda. Tugas seorang mahasiswa Kristen adalah bela-
jar dan memberitakan Injil di kampusnya.
Saya tidak percaya bahwa seorang mahasiswa tidak memiliki waktu
untuk berelasi dengan teman-teman di kampus karena kesibukan kuliah.
Tidak punya punya waktu untuk bersekutu bisa berarti bahwa mahasiswa
tersebut tidak melihat bahwa persekutuan di kampus adalah prioritasnya.
Apa yang saya maksud untuk bersekutu atau berelasi dengan persekutuan
tidak berarti menyediakan waktu berjam-jam untuk bertemu secara khusus
dengan teman persekutuan. Berelasi dapat berarti makan siang bersama
selama 20 menit sambil bercerita tentang tugas kuliah, atau bisa juga
mengajak teman untuk mengerjakan tugas bersama-sama. Kamu bisa
mengambil waktu makan siang, makan malam, atau bahkan akhir pekan
untuk berelasi dengan teman persekutuanmu.
Alasan kedua adalah khawatir persekutuan memboroskan. Saya terma-
suk orang yang suka makan-makan bersama teman, dan saya akui
terkadang itu memang boros. Tidak jarang saya menawarkan untuk men-
traktir mereka agar bisa bertemu setelah pulang kuliah. Seperti jemaat mula
-mula, berelasi memang membutuhkan biaya, bahkan Allah sendiri
ditagihkan biaya untuk bisa berelasi dengan manusia. Tapi biaya bukanlah
alasan untuk tidak bisa menjalin relasi dengan teman-teman
persekutuan. Kios kantin atau sekadar minum di kafe sederhana sudah
cukup untuk bisa berelasi dengan teman persekutuan. Selain itu, UI juga
memiliki banyak taman dan tempat untuk berelasi dengan teman-teman
persekutuanmu. Acara kebersamaan akhir pekan di taman rektorat, lari sore
bersama berkeliling UI, atau hanya duduk sore di pinggir danau UI bisa jadi
momen berelasi yang baik dengan teman-teman persekutuan di kampus.
Ketiga, takut untuk terbuka dengan teman satu persekutuan. Berelasi
menuntut kita untuk terbuka. Beberapa orang memang tidak terlalu suka
untuk membicarakan tentang hidupnya. Membicarakan kelemahan dan
kekurangan diri sendiri membuat dirinya dianggap lemah dan buruk.
Persekutuan Kristen yang baik seharusnya menjadi persekutuan yang aman
bagi pribadi yang lemah. Teladan jemaat mula-mula menunjukkan
persekutuan mereka adalah persekutuan yang tulus hati. Persekutuan
Mahasiswa Kristen harus bisa menjadi tempat yang nyaman untuk maha-
siswa menceritakan masalah dan kelemahan diri. Seseorang yang mencer-
itakan kelemahan dirinya harusnya tidak dipandang sebagai seorang yang
lemah dan sebaliknya justru harus menjadi pribadi yang diterima dan dito-
long. Saya rasa ini merupakan salah satu peran persekutuan yang penting di
zaman yang putus asa ini.
Dalam cerita perempuan Samaria yang ditemui Yesus di sumur Yakub,
kita melihat bagaimana seorang Yesus yang begitu mengenal perempuan
tersebut dan juga menolongnya dengan memberikan air kehidupan. Saya
berdoa kita semua bisa meneruskan pertolongan dari Yesus bagi mahasiswa
yang putus asa dalam studi, pelayanan, keluarga, bahkan pasangan hidup.

Ilustrasi: Geng Cupaw Selaw


Ilusi Renjana
oleh Barry Michael Cavin

Ada semacam konstruksi sosial yang sangat khusus tercipta di tengah


kalangan mahasiswa sekarang mengenai tipe pekerjaan yang didasari
renjana (passion). Misalnya mengenai pekerjaan yang memberikan dampak
sosial dan pekerjaan yang bervisi. Umumnya, pekerjaan di industri kreatif,
sosial, pendidikan, dan pembangunan wilayah lebih banyak dilihat sebagai
pekerjaan yang erat kaitannya dengan renjana dan panggilan hidup,
sedangkan pekerjaan di bank swasta, di perusahaan asuransi, di pabrik, atau
di perusahaan komersial tidak. Pekerjaan-pekerjaan inilah yang kemudian
seringkali dianggap sebagai hal yang dilakukan hanya menghasilkan uang
untuk hidup dan tidak dipandang sebagai bagian dari panggilan hidup.
Tentu itu pandangan yang sangat keliru, dan umumnya tersebar karena
pengaruh dari pandangan dunia mengenai panggilan hidup. Seperti kita
tahu, panggilan hidup memang bukanlah suatu hal yang eksklusif
dibicarakan hanya di dalam persekutuan Kristen. Ada begitu banyak paham
dan aliran yang lahir di dunia sebagai usaha manusia untuk mencari makna
hidup. Dalam konteks mahasiswa, pertanyaan tentang panggilan hidup juga
sangat relevan, terutama dalam kaitannya dengan dunia pekerjaan. Bukan
suatu hal yang mengherankan jika sekarang ini kita banyak terpapar oleh
berbagai diskursus mengenai pekerjaan yang sesuai dengan renjana ,
pekerjaan yang membawa perubahan sosial, dan pekerjaan yang turut
menyumbang kontribusi buat bangsa dan negara, dari luar komunitas
persekutuan Kristen. Hal yang dijabarkan tentu positif, namun hal-hal ini
juga sering kali mengecoh kita sebagai mahasiswa Kristen, yang walaupun
tetap menggumulkan panggilan hidup dalam koridor Alkitab yang benar,
namun dalam aplikasinya bisa menjadi kabur.
Jika demikian, bagaimana seorang mahasiswa Kristen menggumulkan
panggilan hidup dan apa perbedaannya dengan orang yang tidak mengenal
Kristus?
Pertama, tentu pergumulan panggilan hidup mahasiswa Kristen harus
diawali dengan pertobatan. Bertobatberpaling dari dosa dan mengikuti
kehendak Allahadalah panggilan umum Allah kepada semua manusia.
Ketika Yesus memanggil Petrus, Yohanes, dan Yakobus untuk menjadi murid
-muridnya, Petrus diperintahkan Yesus untuk menebar jala dan
mendapatkan jalanya dipenuhi ikan. Lalu respons Petrus kepada Yesus:
Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa (Luk. 5:1-11).
Dalam hal ini, Petrus mengakui dirinya berdosa, dan menyadari penuh
implikasinyabahwa dosa menciptakan jarak antara Tuhan dan dirinya.
Pertobatan Petrus mengawali panggilan hidupnya yang khusus untuk
kemudian menjadi Rasul Yesus dan melayani Yesus hingga akhir hidupnya.
Selanjutnya, hidup dalam pertobatan berarti kita harus selalu
menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan kita, termasuk pusat pergumulan
panggilan hidup kita. Menggumulkan panggilan hidup dalam Tuhan berarti
terlebih dahulu mendengarkan Dia yang memanggil kita. Hal ini sangat
penting karena ketika kita tidak memulai pencarian panggilan hidup dari
apa yang Tuhan kehendaki, kita akan terjebak dengan apa yang rasanya kita
sukai, dan apa yang rasanya bisa memberi dampak positif bagi orang
banyak. Lagi-lagi, tentu kedua hal ini merupakan hal yang positif, namun
perhatikan bahwa kedua hal ini berpusat pada hal-hal selain Allah, dan
memulai pencarian dari hal-hal seperti ini bisa berakibat fatal dan membuat
seseorang berakhir dalam perasaan frustrasi karena tak kunjung
menemukan pekerjaan yang dia sukai.
Mengutamakan Allah dalam menggumulkan panggilan hidup berarti
memandang panggilan hidup bukan sekadar mengenai pekerjaan apa yang
kita jalani atau dampak sosial apa yang kita hasilkan, melainkan soal sikap
hati yang memandang pekerjaan kita sebagai wujud ekspresi yang penuh
sebagai seorang ciptaan yang diciptakan dalam gambar dan rupa Allah
yang bekerja; dan juga medium di mana kita bisa mempersembahkan diri
kita untuk Allah. Dengan perspektif ini, panggilan hidup dan pekerjaan
bukanlah suatu hal yang perlu dicari untuk kemudian ditemukan, melainkan
menjadi suatu hal yang harus terus dihidupidi mana pun kita
ditempatkan.
Berdasarkan hal-hal ini, kita bisa melihat beberapa hal untuk kemudian
bisa menghidupi panggilan hidup kita: Providensia Allah. Hal ini didasari
dari kesadaran bahwa Allah berotoritas atas seluruh kehidupan kita,
sehingga kesempatan yang dia sediakan adalah pintu bagi kita untuk
menuju panggilan hidup yang Dia kehendaki. Kesempatan apa yang kita
miliki? Ke mana dan kepada siapa Allah memimpin kita? (lih. Kis.); Talenta.
Allah tentu memberikan kemampuan dan keahlian kepada kita untuk
melayani Dia sepanjang kehidupan kita. Hal apa yang banyak kita ketahui?
Bidang apa yang kita ahli dalam mengerjakannya? (lih. Mat. 25:14-29);
Renjana. Dalam pertobatan, kegelisahan dan kepedulian kita akan
diarahkan kepada hal-hal yang Allah kehendaki. Hal apa atau siapa yang
menggelisahkan kita? Hal apa atau siapa yang kita pedulikan dan
gumulkan? (lih. Mzm. 37:4); Hikmat. Allah mengehendaki kita bergumul
sebagai bagian dalam persekutuan Kristen. Apa pendapat rekan-rekan
persekutuan yang juga hidup dalam pertobatan? (lih. Ams. 13:19-25).
Selain keempat hal di atas, kita juga perlu melihat lingkungan yang ada
di sekeliling kita. Hidup di Indonesia sebagai rumah bagi begitu banyak
suku bangsa dan agama juga merupakan tantangan sendiri bagi kita
sebagai seorang mahasiswa Kristen. Setiap aliran dan agama menghendaki
nilai yang dibawa komunitasnya bisa dianut oleh sebanyak-banyaknya
orang. Yesus tentu juga menghendaki kita sebagai mahasiswa Kristen untuk
bisa memberikan pengaruh kepada komunitas di mana kita berada dan
menjadikan komunitas tersebut semakin berkenan di hadapan Allah. Hal ini
pun menambah pertanyaan mengenai panggilan hidup kita dan kaitannya
dengan bangsa Indonesia: Bagaimana kita sebagai umat Kristen bisa
memberi pengaruh dan memasukkan standar hidup Yesus ke dalam budaya
bangsa, sistem pemerintahan, sistem pendidikan, sistem keuangan,
penegakan hukum, industri dan bisnis hingga menjadikan Kristus sebagai
Tuhan atas Indonesia?
Dalam Matius 5:13-16, Yesus menganalogikan orang Kristen sebagai
garam dan terang. Garam mengawetkan, sedangkan terang menerangi. Dua
hal ini dipilih Yesus untuk menggambarkan bagaimana orang Kristen harus
bisa memberi pengaruh kepada komunitas di mana dirinya berada. Sebagai
garam, kehadiran orang Kristen seharusnya bisa menghambat degradasi
moral dan kerusakan sosial, dengan kata lain menghambat hal-hal negatif.
Dan sebagai terang, kehadiran orang Kristen harusnya bisa mengurangi
kegelapan, dengan kata lain memberikan pengaruh positif. Dengan
perspektif ini, kita sebagai mahasiswa Kristen harus merenungkan kontribusi
bagi bangsa bukan lagi dengan mengategorikan pekerjaan yang bisa
berkontribusi dan yang tidak, melainkan dengan seberapa banyak kita bisa
menjadi garam dan terang di tempat kerja kita masing-masingdi mana
pun kita ditempatkan.
Saat ini, saya pribadi mengimani bahwa panggilan hidup saya adalah
pendidikan Matematika di Indonesia, dan sedang berusaha menghidupinya.
Proses pergumulan yang saya lalui juga dapat dikatakan tidak singkat dan
tidak mudah. Memandang ke belakang, saya bersyukur ada providensia
Allah yang dominan berperan di dalam proses pergumulan saya. Sejak kecil,
proposal rencana hidup yang saya ajukan ke Tuhan sering kali ditolak. Saya
ingin masuk SMP 115, Tuhan bilang SMP 19; ingin masuk SMA 8, tetapi
Tuhan menambah bonus 2 menjadi SMA 82; ingin ikut Olimpiade Sains
Nasional, tetapi hanya bisa sampai Olimpiade Sains Provinsi; ingin jurusan
Ilmu Komputer, tetapi Tuhan bilang Matematika; ingin banyak ikut lomba
Matematika, tetapi banyak diarahkan ikut organisasi kemahasiswaan; ingin
S2 jurusan Matematika Murni melanjutkan apa yang saya ambil di S1, tetapi
Tuhan kasih jurusan Matematika Terapan. Namun, justru dari setiap
pengalaman rencana saya dibelokkan oleh Allah ke arah yang tadinya saya
tidak inginkan, saya semakin bisa melihat bahwa sungguh rencana Allah
adalah rencana yang terbaik. Dan dari begitu banyak pilihan hidup yang
saya miliki sebagai alumni UI, saya bersyukur Allah sematkan pergumulan
mengenai pendidikan Matematika ini ke pundak saya.
Saya belajar bahwa meskipun ada ketakutan dan kegelisahan saat saya
beraktivitas, namun saya juga merasakan ketenangan dan kegembiraan
dalam menjalaninya (lih. Mat. 11:29-30). Saya bersyukur Allah terus arahkan
jalan saya, langkah demi langkah untuk bisa semakin menghayati panggilan
hidup yang Allah bebankan kepada saya. Satu hal yang perlu dilakukan
adalah terus menjaga hidup dalam pertobatan. Betul bahwa tantangan
hidup dan godaan dosa tidak akan meninggalkan kita selama kita hidup,
namun hidup bertobat berarti terus mengakui keberdosaan kita dan setia
kembali kepada Dia yang memiliki hidup dan panggilan hidup kita. Itu juga
berarti terus setia menjaga relasi pribadi kita dengan Tuhan.
Dan mengabdi Tuhan, dan mengabdi bangsa, dan negara Indonesia.
Potongan lirik ini adalah kalimat terakhir yang diambil dari Himne
Universitas Indonesia, semoga bisa menjadi pengingat bagi kita untuk terus
mengabdi kepada Tuhan, bangsa, dan negara.
Kebenaran yang Relatif
oleh Lukas Nainggolan

Kita tidak dapat memungkiri bahwa zaman sekarang setiap orang, atau
suatu komunitas, sedang meyakini dan menghidupi kebenaran yang
dianutnya. Bahkan, apabila kebenaran tersebut sebenarnya ditolak oleh
komunitas lebih luas, contohnya negara, ada kalanya kebenaran tersebut
diperjuangkan agar akhirnya diterima. Contohnya seperti yang terjadi
komunitas LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender) yang sedang
gencar agar mereka diterima masyarakat. Banyak orang memperjuangkan
hak untuk memiliki kebenaran sendiri, menjadikankan kebenaran yang
relatif.
Bila dikaitkan dengan tulisan Timothy Keller dalam buku Prodigal God,
terdapat dua tipe orang yang membangun kebenaran di luar Kristus.
Pertama, orang religious akan membangun kebenaran dalam diri berdasar-
kan aturan-aturan agama yang mengikatnya. Sedangkan, orang yang
irreligious membangun kebenaran sesuai dengan keyakinannya sendiri.
Hidup dalam kebenaran Kristus pastinya sulit, bukan saja sulit untuk tetap
teguh dalam kebenaran tersebut tetapi juga bagaimana membagikan
kebenaran tersebut. Sebagai mahasiswa yang mungkin baru beberapa
tahun bertobat, pastinya sulit dan akan jatuh bangun ketika menerapkan
kebenaran di tengah orang-orang sekitar yang membangun kebenarannya
sendiri.
Pengalaman saya dalam menghidupi kebenaran selama mahasiswa
beberapa kali membuat saya sempat frustrasi dan titik terendahnya ingin
mundur dalam menjadi murid. Salah satu yang pernah saya alami adalah
dalam menghidupi kebenaran untuk hidup tidak mengejar ambisi,
melainkan hidup sepenuhnya untuk menjalani panggilan dari Tuhan.
Komitmen untuk hidup benar-benar membangun Kerajaan Allah sering saya
katakan tiap sesi pengutusan di retreat. Momen berjumpa dengan Tuhan,
menikmati Firman-Nya, dan bersekutu dengan sesama selama beberapa
hari membangun kerohanian diri saya dan mendorong berkomitmen untuk
hidup bagi Kerajaan-Nya.
Setelah retreat, rasanya sangat antusias untuk menerapkan komitmen itu
dalam kehidupan mahasiswa. Sekalipun harus menyerahkan waktu di luar
kuliah untuk melayani dan tidak dapat mengejar ambisi untuk organisasi/
lomba, semua dijalani dengan sukacita. Tantangan yang datang dari
pergumulan keluarga dan teman akibat melakukan kebenaran pun rasanya
dapat dilewati dengan baik.
Tapi, hal itu tidak bertahan lama. Setelah lewat 1-2 bulan, rasanya sangat
sulit untuk benar-benar hidup hanya untuk Kerajaan-Nya. Pikiran itu muncul
ketika melihat teman-teman dapat melakukan banyak hal dalam
perkuliahan mereka. Saya pun menjadi rendah diri. Cerita tentang ambisi
teman-teman, membuat saya terinspirasi untuk hidup seperti itu. Keberhasi-
lan yang mereka alami mulai membuat saya ragu untuk tetap hidup dalam
kebenaran. Belum lagi, rasa bersalah yang terlintas karena harusnya Kristen
yang bersaksi itu seperti mereka: mengerjakan dan mencapai banyak hal.
Hal-hal tersebut muncul bukan hanya karena melihat orang lain, tetapi
juga pergumulan pribadi saya baik yang datang dari keluarga, pelayanan,
maupun pergaulan. Pergumulan hidup yang terjadi mendukung saya untuk
berpikir lebih enak jadi teman-teman yang lain, hidup untuk diri dan
meraih berbagai kesuksesan! Untuk apa menyerahkan hidup buat Tuhan?
Hal itu saya alami sampai pernah berada di titik hampir memutuskan untuk
berhenti mengikut Tuhan dan melayani sungguh-sungguh. Cukup jadi
orang Kristen biasa dan tetap hidup untuk diri sendiri.
Di titik terbawah tersebut, Tuhan menyatakan kebenaran lain yang
mengubahkan saya. Salah satu firman yang saya nikmati adalah dari
Mazmur 73. Ketika Pemazmur membandingkan dirinya menderita karena
mengikut Tuhan sedangkan orang fasik bahagia padahal menolak Tuhan.
Ia pun ingin berhenti saja untuk mengikut Tuhan. Tapi, setelah ia menikmati
diam bersama Tuhan, pemikirannya kembali difokuskan bahwa yang
menjadi indikator kebahagiaan sejati bukanlah sukses di mata dunia,
melainkan hidup bersama Tuhan selamanya. Kebahagiaan yang dinikmati
oleh orang fasik sesungguhnya adalah sementara, tetapi menikmati hidup
dekat dengan Tuhan itulah sesungguhnya kebahagiaan sejati. Kebenaran ini
menuntun saya kembali bahwa sesungguhnya kesia-siaan bukanlah ketika
mengikut Tuhan, melainkan ketika hidup menolak Tuhan. Di saat orang-
orang lain mempercayakan masa depan kepada hal-hal yang mereka capai
semasa kuliah, saya kembali mempercayakan masa depan saya pada Allah
dan bukan pada hal-hal yang saya telah capai.
Pergumulan dalam menghidupi kebenaran yang saya alami dapat
berbeda dengan mahasiswa lain yang sama-sama berjuang juga
menghidupi kebenaran Kristus. Mungkin ada yang berjuang dalam ranah
kejujuran dan kesungguhan menjalani kuliah, menjaga kekudusan dalam
pergaulan, nilai-nilai moral yang sesuai kebenaran, atau aspek lainnya.
Mungkin ada pula yang bergumul bukan hanya dalam hal penerapan
Firman Tuhan secara moral, tetapi dalam hal kebenaran secara doktrin.
Dalam hal doktrin, misalkan, menghadapi sekitar yang menolak kebenaran
Yesus adalah Tuhan. Sekalipun berbeda, saya meyakini pergumulannya
sama yaitu sulit secara konsisten menghidupinya di tengah banyak orang
yang hidup dengan kebenaran yang bertolak belakang, apalagi ketika orang
yang bertolak belakang tersebut secara langsung menentang kita. Tan-
tangan dalam menghidupi kebenaran tesebut mungkin membuat kita ingin
berhenti saja untuk tetap setia menghidupi kebenaran tersebut.
Sulitnya untuk hidup dalam kebenaran di tengah dunia yang berbeda
disadari pula oleh Paulus ketika memberikan surat kepada Timotius. Dalam
2 Timotius 3, Paulus menyampaikan kondisi orang-orang yang hidup dalam
keadaan akhir zaman. Ada sekitar 20 kondisi yang Paulus paparkan dan
setelah itu ia menyadarkan Timotius bahwa sangat sulit hidup sesuai
dengan kebenaran Kristus. Sekalipun begitu, Paulus berpesan kepada
Timotius Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus
Yesus akan menderita aniaya; Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang
pada kebenaran yang telah engkau terima dan yakini ... (2 Timotius
3:12,14). Paulus meminta Timotius untuk tetap berpegang pada kebenaran
sekaligus orang-orang di sekitar hidup dalam kebenarannya sendiri.
Akan tetapi, pesan Paulus tidak berhenti disitu saja, Ia pun memberi pesan
pada Timotius untuk beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak
baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah
dengan segala kesabaran dan pengajaran (2 Timotius 4:2).
Kiranya pesan Paulus kepada Timotius juga menjadi pesan bagi kita
sebagai mahasiswa yang sedang berjuang menghidupi kebenaran yang kita
terima dalam Kristus. Kita diminta untuk tetap teguh pada kebenaran yang
diterima, tetapi bukan itu saja, kita diminta untuk memberitakan kebenaran
tersebut, menyatakan yang salah, menegur, dan menasihati sesama yang
tidak hidup dalam kebenaran Kristus. Di tengah orang-orang yang
menyatakan benar apa yang dianggap salah dan dengan gencar ingin
diakui haknya untuk memiliki kebenaran tersebut, kiranya kita tetap ingat
pada pesan yang disampaikan oleh Rasul Paulus.
Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk
mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan
untuk mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Kiranya Kitab
Suci yang Allah anugerahkan bagi kita menolong untuk kita tetap teguh
pada kebenaran Kristus di tengah banyak orang yang membangun
kebenarannya sendiri. Sekalipun banyak risiko yang akan dialami, kiranya
janji penyertaan Tuhan meneguhkan kita untuk tetap berdiri di dalam
kebenaran.
Berpacaran Kristen?
oleh Frankie Kusumawardana

Topik tentang berpacaran Kristen bukanlah sesuatu yang asing. Ratusan


atau mungkin ribuan buku dan artikel telah ditulis. Lalu harus seberapa
dalam topik ini dibahas dalam buku ini? Apa yang menjadikan tulisan ini
berbeda sehingga para pembaca tidak sekadar mendapatkan pengulangan
atau kompilasi prinsip yang dirangkumkan dari berbagai berbagai sumber?
Artikel ini ditulis menyambut ulang tahun PO UI ke-50. Momen ulang
tahun sangatlah baik bila digunakan untuk berefleksi. Jadi, saya pikir baik
sekali jika artikel ini diisi dengan sebuah refleksi perjalanan saya mengenai
topik ini. Biarlah kisahyang penuh keunikan dan merupakan inisiatif Allah
bagi sayabisa menjadi berkat bagi kita semua yang membacanya.
Hal paling prinsip dalam topik berpacaran Kristen adalah tujuan
berpacaran. Bukan hal asing di telinga kita bahwa tujuan berpacaran
tidaklah sekadar untuk bersenang-senang ataupun kepuasan diri sendiri,
melainkan untuk mempersiapkan diri menyongsong perkawinan. Allah
sendirilah yang memulai institusi perkawinan (Kej. 12). Karena itu, setiap
proses yang akan dijalani menuju perkawinan tersebut semestinya dilakukan
seturut dengan kehendak Sang Pencipta, Sang Inisiator. Masa pacaran
termasuk tahapan sebelum perkawinan. Tidak ada kisah mengenai cara
berpacaran di Alkitab, namun prinsip-prinsip tentang perkawinan ada.
Jadi, secara sederhana, terapkanlah prinsip-prinsip tentang perkawinan da-
lam persiapannya, yaitu dalam kita berpacaran.
Mari kita sebut beberapa di antaranya. Misalnya: perkawinan antara
laki-laki dan perempuan, maka berpacaran pun antara laki-laki dan
perempuan; menjaga kekudusan dalam perkawinan, maka dalam
berpacaran pun kita perlu menjaga kekudusan; perkawinan juga adalah
suatu proses pertumbuhan, bukan suatu akhir, maka berpacaran pun
hendaknya dilihat sebagai suatu bentuk proses yang disiapkan Allah bagi
kita.
Selanjutnya: dalam perkawinan, laki-laki diperintahkan untuk mengasihi
istri sebagaimana Kristus mengasihi jemaat, maka dalam pacaran
hendaknya para laki-laki berlatih untuk mengasihi pasangannya sebagai-
mana Kristus mengasihi jemaat; dan sebagaimana istri diperintahkan untuk
menghormati suami, hendaknya dalam pacaran, para perempuan juga
berlatih diri untuk memberikan respek yang dibutuhkan pasangannya.
Banyak bukan? Tulisan ini tidak akan bisa memuat semuanya secara
detail. Andai bisa, saya ingin membagikan satu kenyataan: pemahaman
yang komprehensif akan semuanya itu tidak akan menjamin bahwa relasi
pacaran kita akan indah dan lancar.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, Apa dong yang kita butuhkan?
Oh, sudah tentu Tuhan, bukan? Ya. Saya tidak menyangkal bahwa Tuhan
adalah yang terutama dalam kita berpacaran. Namun, ada satu hal yang
menjadi refleksi saya, yaitu mengasihi manusia sebagai seorang manusia.
Perjalanan berpacaran saya dimulai saat masih mahasiswa tingkat ke-3.
Dalam pembicaraan dengan mentor saya yang akan menikah, saya
bertanya, Kasih seperti apa yang membuat Koko dan Cici memutuskan
untuk pacaran dan menikah? Jawaban mentor saya saat itu sangatlah tidak
memuaskan, Frankie, tahu 1 Korintus 13? Setengah tidak percaya dengan
jawaban yang hanya seperti itu, saya menjawab dengan percaya dirinya saat
itu, Tahulah, Ko! Sudah baca banyak buku eksposisinya bahkan.
Lalu dengan lembut, mentor saya berkata, Nah, sekarang rasakan dan ala-
milah semuanya itu sendiri.
Jujur, saya sangat tidak puas saat itu. Namun, memang benar, Tuhan
punya waktu-Nya sendiri. Sekitar lima tahun sesudahnya, saat saya
bergumul untuk memulai pacaran, saya dihadapkan pada bagaimana
sulitnya merasakan, mengalami, dan mempraktikkan 1 Korintus 13 itu. Saya
disadarkan bahwa setiap teori (tidak bermaksud mengecilkan firman Allah)
memang mudah untuk dibaca, di-PA-kan, didiskusikan, namun tidak mudah
untuk dijalani.
Lebih jauh tentang mempraktikkan kasih dalam Alkitab dalam masa
pacaran (yang sudah saya pelajari secara mendalam sejak saya SMA), Tuhan
mengizinkan saya untuk bergulat dalam apa artinya mengasihi pacar
sebagaimana Kristus mengasihi jemaat. Saat saya menyadari bahwa Kristus
mengasihi jemaat dengan kasih yang tak terbatas, bahkan sampai mati di
kayu salib. Saya bertanya kepada diri sendiri: Apakah saya sanggup
mengasihi pasangan saya sampai mati di kayu salib? Tidak sulit bagi saya
untuk berkorban waktu dan uang bagi pacar saya saat itu. Tetapi, sewaktu
ditantang untuk mematikan diri, pada saat itulah kesulitan yang
sebenarnya muncul.
Saya adalah Frankie. Saya bertumbuh dalam keluarga yang mengajarkan
tentang mengejar kesempurnaan, penuh tuntutan, dan rasa takut akan
berbuat salah. Ketidaksempurnaan adalah dosa bagi saya. Inilah diri saya
yang sangat sulit sekali untuk saya matikan demi mengasihi pacar saya.
Bagi saya, mengasihi itu mendidik dengan kesempurnaan. Jadi, saat ada
ketidaksempurnaan (kekurangan) dalam diri pacar saya, otomatis saya
pasti akan berusaha sekuat tenaga untuk mengubahnya. Itulah kasih
menurut saya. Bisa dibayangkan betapa menderitanya pacar saya mendapat
pacar yang sangat penuntut? Lebih lagi, yang dituntutnya adalah sebuah
kesempurnaan ilahi.
Saya sering berkata kepada pacar saya, Kamu tuh harus bisa PA. Kamu
tuh harus rajin saat teduh. Kamu tuh harus jadi tiang doa bagi keluargamu
pada masa depan. Kamu tuh harus bisa jadi wanita yang tangguh, mama
yang kuat. Kamu nggak boleh sakit-sakitan seperti ini, dan masih banyak
lagi. Sebab kalau kamu tidak bisa seperti ini, kita nggak bakal jadi pasangan
yang menjadi teladan. Kita nggak bakal jadi pasangan yang seimbang.
Kita bakal gagal berpacaran Kristen.
Sungguh disayangkanselama beberapa waktu lamanyasaya masih
sangat memercayai bahwa itu adalah cara mengasihi yang paling benar.
Saya membela diri dengan keyakinan bahwa dalam proses membentuk
pacar saya itu pun, saya dilatih untuk sabar, murah hati, tidak melakukan
yang tidak sopan, bahkan tidak mencari keuntungan sendiri. Saya kan
sedang mencari keuntungan dan kebaikan pacar saya. Padahal sebenarnya
saya hanyalah mencari keuntungan saya sendiri, yaitu perwujudan pacaran
Kristen yang sempurna dan ternyata semuanya itu salah.
Satu hal yang saya lupakan tentang Kristus mengasihi jemaat, yaitu
bahwa Kristus adalah Tuhan dan jemaat adalah manusia. Tuhan punya
kesempurnaan, namun manusia penuh dengan ketidaksempurnaan. Saya
gagal untuk mengasihi pacar saya sebagai seorang manusia yang
mempunyai kelemahan dan semua itu disebabkan karena saya lupa bahwa
saya juga adalah seorang manusia yang memiliki kekurangan dan tidak
sempurna. Pengetahuan saya tentang firman Allah, prinsip berpacaran, dan
perkawinan ideal, justru membuat saya lupa bahwa saya dan pacar saya
adalah sama-sama manusia. Manusia yang bertumbuh dari keluarga
manusia. Manusia yang bisa saja dididik dengan cara yang salah oleh orang
tua yang tidak sempurna.
Kristus mengasihi jemaat sampai sakit, bahkan mati, justru karena
ketidaksempurnaan (dosa) kita. Karena itu, saat kita dipanggil untuk menga-
sihi sebagaimana Kristus mengasihi jemaat, justru ketidaksempurnaan inilah
yang Kristus ajarkan untuk kita kasihi dari pasangan kita. Di sinilah saya baru
menyadari makna kasih yang sejati dari Allah, yaitu Allah yang mengasihi
meski saya tidak sempurna, termasuk dalam berpacaran secara Kristen.
Kasih itulah yang Tuhan benar-benar ajarkan kepada saya dalam masa pa-
caran saya. Saya sangat bersyukur karena saya dihajar semasa pacaran
sebelum semuanya terlambat.
Saya tidak tahu apa pergumulan Saudara selama ini dalam berpacaran
secara Kristen. Apakah kegiatannya? Apakah caranya? Apakah batasannya?
Ciuman boleh atau tidak? Apakah prinsipnya? Saya tidak tahu. Tetapi satu
yang pasti: Tuhan memanggil kita yang mau menikah dengan
mendahuluinya dengan berpacaran karena Tuhan ingin mengajarkan kita
untuk mengasihi seorang manusia sebagai seorang manusia. Apakah kita
sudah benar-benar mengasihi sebagaimana Tuhan mengasihi?
Selamat dikasihi dan selamat mengasihi!
Bersahabat dalam Keragaman
oleh Rachel Elizabeth Hosanna Butarbutar

Which of these three do you think


proved to be a neighbor? Jesus asked.
The one who showed him mercy, the lawyer said.
(The Parable of the Good Samaritan)

Siapa yang pernah menonton FTV jadul atau kekinian? Kerapkali


pemeran antagonisnya bergabung dalam satu geng yang selalu bersama.
Selain itu, penampilan luar mereka pun terlihat seragam, mulai dari dari
ujung rambut sampai ujung kaki, rambut klimis ditambah naik motor,
hingga menggunakan bahasa gaul dan gaya dab (kebalikan). Jujur, dahulu
saya melihat kekompakan seperti itu keren, asyik, menarik, dan layak untuk
ditiru.
Kini saya sadar bahwa kecenderungan untuk berteman dengan orang-
orang yang memiliki kemiripan dengan kita adalah natural. Manusia akan
merasa lebih nyaman berada dalam komunitas yang mempunyai banyak
kesamaan dengannya. Entah seleranya, entah cara berpikirnya. Entah isi
timeline media sosialnya, entah channel Youtube langganannya. Sadar tidak
sadar, dari dahulu sampai sekarang relasi dalam pertemanan menjadi suatu
tantangan bagi kita.
Wajar saja, sebab setiap hari kita diperhadapkan pada persoalan yang
akarnya adalah perbedaan. Terkhusus sebagai anak UI, perbedaan lumrah
ditemukan. Contohnya ada anak yang memilliki orang tua anggota DPR
komisi 2, ada anak yang orang tuanya tukang becak, ada anak asli Jekardah,
ada juga anak dari daerah luar Jakarta, ada anak yang suka belajar
sepanjang hari, ada anak yang sukanya rapat-nongkrong sampai pagi, ada
anak yang bercita-cita jadi orang kaya, tetapi ada juga ada anak yang ingin
ke daerah terpencil demi mengabdi bagi negara. Sungguh bermacam-
macam. Bahkan di PO UI pun kita menemukan banyak perbedaan.
Melalui tulisan ini, penulis pun ingin mengajak agar kita menghadapi
tantangan tersebut dengan bijak, kreatif, dan alkitabiah di tengah
persahabatan dengan pribadi yang beragam.

Persahabatan vs Penginjilan
Sewaktu masih berkuliah, saya pernah mengikuti sebuah pelatihan
penginjilan. Jujur saja, kesan yang didapatkan tidaklah sebaik yang di-
harapkan. Sebab melihat antusiasme pembicara dan peserta lain, penulis
merasa berada di satu acara marketing training. Begitu banyak metode
diajarkan untuk mendekati orang bukan Kristen yang baru dijumpai atau
dikenal agar mereka mendengar kisah tentang Tuhan Yesus.
Saya pun bertanya dalam hati, Lho, kok terasa tidak tulus dan jahat
sekalipun ini untuk Tuhan? Karena rekan dan sahabat saya yang belum
percaya harus menjadi objek penginjilan, Hingga akhirnya saya mengambil
keputusan untuk tidak terlalu aktif mengikuti pelatihan-pelatihan
penginjilan dan mulai mempelajari dan menghidupi firman tentang Kristus,
Injil, orang percaya, dan orang yang belum percaya melalui Bible study.
Sampai hari ini yang saya memahami dan meyakini bahwa iman adalah
anugerah, datangnya dari Tuhan. Tidak ada yang dapat mempersulit atau
mempermudah seseorang mendapatkan iman. Tak ada pula kriteria bagi
orang yang mau beriman. Asalkan Tuhan mau, siapa pun bisa percaya kepa-
da-Nya. Iman juga bukan turunan atau bawaan lahirberbeda dengan
agama. Jadi, bicara tentang beriman atau tidaknya seseorang kepada Kristus
berarti berbicara tentang otoritas Allah yang tidak dapat diganggu gugat.
Bagian kita yang sudah dikaruniakan iman adalah mewujudnyatakan
kepercayaan kita pada Sang Pencipta melalui tindakan kasih kita kepada
sesama dengan tulus, ikhlas, dan tidak dibuat-buat.
Kasihini yang rupanya tidak saya dapatkan sewaktu pelatihan
penginjilan. Sebaliknya, rasa takut malah mendominasi hati dan pikiran saya
selama dilatih. Takut waktu saya habis, takut saya tidak sempat
menceritakan tentang Tuhan Yesus kepada strangers, takut mereka mati
sebelum menjadi orang percaya, takut mereka binasa, takut Tuhan marah
kepada saya karena lalai menginjili, dan masih banyak lagi ketakutan
lainnya. Tetapi, satu ketakutan yang paling menggema di telinga saya, yaitu
takut kasih saya tidak ada bagi teman-teman yang menjadi target
penginjilan bagi saya.
Saya sudah sering melihat gaya penginjilan mahasiswa. Jujur, saya
merasa gerah sekali. Sangat terlihat tidak alami alias setting-an. Penginjil
terkesan bertanya untuk menjebak agar dapat mendemonstrasikan metode
penginjilan yang sudah dihafalkan. Atau penginjil mendengar untuk dapat
segera menjawab dengan panjang dan lebar tentang empat hukum rohani.
Tidak jarang lo, saya melihat gaya berbicara para penginjil sama dengan
gaya bicara sales. Tidak ada rasa ingin mengerti, empati, apalagi kasih yang
genuine.
Puji Tuhan, setelah menjadi alumni saya melihat ada perubahan pada
diri saya dan orang-orang dalam lembaga penginjilan di sekitar saya. Dalam
anugerah Allah, ada kedewasaan berpikir dan kasih yang matang yang
diukir Tuhan dalam hati dan pikiran kami dalam memandang persahabatan
dalam keragaman. Saya pribadi menjadi mengerti bahwa tidak boleh kita
menjadikan persahabatan sebagai kedok penginjilan. Itu salah.
Persahabatan dan penginjilan sejatinya adalah dua hal tak terpisahkan.
Persahabatan yang injili, itu yang benar.
Wah, berat sekali ya mendengar kata injili? Namun percayalah, teman-
teman, perintah Allah selalu mengandung anugerah sehingga selalu
mungkin bagi kita untuk melakukannya. Jadi, perintah untuk menjalin
persahabatan yang injili, terkhusus dalam keragaman tak terbatas adalah
untuk diterapkan.
Lantas, bagaimanakah caranya?

Dasar Persahabatan yang Injili


Berbicara soal Injil berarti berbicara tentang kasih. Kasih dengan kualitas
agape, seperti kasih Kristus bagi manusia yang berdosa kepada-Nya. Kiat
praktis untuk dapat memenuhi dasar persahabatan yang injili adalah
dengan berusaha menjadi seperti orang Samaria yang baik hati.
Kasih yang ditunjukkan orang Samaria kepada orang terluka di tengah
jalan adalah kasih yang peka pada kondisi orang lain. Kasih yang peduli dan
tidak egois. Kasih yang mau berlelah dan rela berkorban. Kasih yang mem-
beri hal terbaik dari dirinya. Kasih yang mau membalut luka. Kasih yang mau
menopang dan menempatkannya di atas keledai. Kasih yang dengan sabar
menuntun hingga penginapan. Kasih yang mau membayar, tanpa
mengharapkan balasan. Kasih yang berani dan tuntas. Kasih yang tulus dan
memberi lebih dari yang dunia pandang cukup.
Sangatlah tidak mudah melakukannya. Oleh karena itu, mulailah dengan
doa. Berdoa bagi diri sendiri agar Tuhan menganugerahkan hati yang
mengasihi semua sahabat yang kita miliki; berdoa juga bagi sahabat-
sahabat kita agar memiliki hati yang siap untuk menerima Kristus sebagai
Tuhan dan Juru Selamat hidup mereka. Kemudian, mari kita jalani hidup ini
dengan jujur dan terbuka agar para sahabat kita dapat melihat betapa Allah
sangat mengasihi mereka melalui kita.
Jika suatu hari mereka bertanya tentang Kristus, berilah jawab dengan
lugas. Jangan takut, sebab dalam kasih tidak ada rasa takut! Juga jangan
terburu-buru, sebab dalam waktu-Nya dan dengan cara-Nya, Allah memilih
orang-orang yang ke dalam hatinya disematkan iman agar mereka percaya
dan menyembah Yang Empunya kerajaan di bumi seperti di surga.
Teman-teman, kita tidak boleh asal-asalan menghadapi perbedaan. Kita
harus bertanggung jawab atas pengetahuan dan iman yang kita miliki agar
dapat menjalin persahabatan yang injili dalam keragaman dunia ini.
Wake up! Lets live this kind of love to reach the lost souls. Semoga kita
dipakai-Nya untuk menyiapkan hati sahabat-sahabat kita bagi Allah untuk
bertakhta di sana!
Soli Deo Gloria!
Kuliah:
Inisiatif Allah yang Indah
oleh Emilia Tiurma Savira

God wants us to learn, and God loves knowledge.


Sebagai mahasiswa Kristen, penulis berasumsipun dalam praktiknya
belum sempurnakita mengetahui bagaimana sikap dan karakter seorang
mahasiswa Kristen yang dikehendaki Allah dalam kehidupan perkuliahan.
Ibadah dalam persekutuan, Kelompok Kecil, Kelompok Tumbuh Bersama,
dan forum lain juga telah berulang kali memberikan gambaran bagaimana
karakter dan sikap seorang mahasiswa yang mencerminkan iman Kristen.
Berarti, masalah mahasiswa Kristen saat ini bukan berada pada tataran
tahu dan tidak tahu, tetapi persoalan mau dan tidak mau.
Lantas, apa yang menyebabkan mahasiswa Kristensadar atau tidak
enggan menerapkan apa yang mereka ketahui mengenai karakter dan sikap
seorang mahasiswa Kristen dalam menjalani tanggung jawabnya pada masa
kuliah?
Penulis merasa bahwa satu hal yang jarang dibukakan adalah mengenai
mahasiswa sebagai bagian institusi pendidikan tinggi, dan bagaimana kai-
tannya dengan nilai-nilai Kristen. Untuk memahami hal tersebut, kita dapat
mempelajarinya dari Amsal Salomo.
Mengutip bible.org, tujuan Salomo menulis Amsal berdasarkan Amsal
1:1-7 adalah:
1. Memaparkan successful living berdasarkan parameter dunia dan pa-
rameter Allah.
2. Mengetahui hikmat dan arahan.
3. Mendapatkan pengajaran dalam kebijaksanaan, kebenaran, dan keadi-
lan.
4. Membantu agar mereka yang belum berpengalaman mendapatkan
peringatan, pengetahuan, dan larangan.
5. Memahami hikmat dan pernyataan.
6. Belajar dan menerapkan hidup yang takut akan Tuhan.
Salomo mencatat bahwa Tuhan punya alasan mengapa Ia meng-
hendaki manusia untuk belajar. Tujuannya adalah memiliki sikap
hidup yang takut akan Tuhan. Dalam proses inilah karakter dan sikap se-
bagai seorang Kristen dibentuk. Sering paparan tentang karakter dan sikap
kerja mahasiswa yang menerapkan nilai-nilai Kristiani dianggap sebagai
ajakan untuk berbuat baik semata. Padahal, dalam berkuliah, ada enam
tujuan di atas yang Tuhan ingin manusia kerjakan secara terus-menerus.
Ketika Tuhan hendak mengerjakan kebaikan dalam perkuliahan kita, apakah
respons kita selama ini?
Sembari merenungkan kembali bagaimana sikap diri masing-masing,
penulis akan mencoba untuk menyebutkan contoh-contoh kasus di mana
mahasiswa dihadapkan pada masalah akademis mau pun nonakademis.
Contoh kasus sederhana adalah saat menghadapi tugas kuliah yang banyak
dengan deadline berdekatan, tetapi ada tanggung jawab dalam organisasi
atau komunitas, pelayanan, ditambah ada tugas kelompok di mana anggota
-anggotanya sulit untuk berkumpul lengkap.
Sebelum kepala telanjur berasap, penulis ingin mengajak pembaca
untuk belajar pada istri yang cakap dalam Amsal 31. Kesibukan istri yang
cakap seperti diceritakan penulis Amsal sedikit banyak mirip kesibukan
mahasiswa. Mulai dari Amsal 31:13, kesibukan istri yang cakap dijelaskan
dengan detail, mulai dari tidur larut, turun lapangan langsung, dan
melakukan pekerjaan manajerial. Tetapi, Sang Istri tidak mengeluh.
Responsnya adalah mengerjakan dengan setia dan sukacita. Hasilnya? Sang
Istri dapat memberikan hasil optimal dari apa yang dikerjakannya. Pada
akhir perikop, Amsal mencatat bahwa hal itu dapat terjadi karena istri yang
cakap ini memiliki sikap takut akan Tuhan.
Meski penulis Amsal mengambil contoh seorang istri, namun teladan
yang diberikan dapat berlaku universal, termasuk untuk mahasiswa. Ketika
mahasiswa memiliki sikap takut akan Tuhan, mahasiswa akan mampu
menunjukkan kinerja baik tanpa menabrak norma, dan yang terutama, tidak
menabrak ketetapan-ketetapan Allah. Adakah Sang Istri yang cakap me-
lempar tanggung jawab, mengakal-akali tugas, atau menyerah? Dengan
kesibukan yang sedemikian rupa, ia tetap mengutamakan kualitas hasil
pekerjaannya karena ia tahu bahwa ia mengerjakannya untuk Tuhan. Karena
itu, ia tidak mau mengakal-akali, berbohong, mengakui apa yang bukan
pekerjaannya, atau menyerah memberi yang seadanya saja.
Sering kali ketika dihadapkan pada kondisi penuh tekanan, mahasiswa
akan mulai mencari cara-cara sendiri. Mahasiswa berpotensi untuk asal-
asalan dalam mengerjakan tugas, melempar tanggung jawab, dan meniru/
mencontek/menyalin pekerjaan orang baik yang bersumber dari teman atau
media lain seperti internet. Tanpa membatasi preferensi orang dalam cara
bekerja, perbedaan cara belajar, dan cara manajemen waktu, Amsal
mengenai istri yang cakap memberikan contoh bahwa ia mengerjakan
tugasnya dengan tekun, setia, dan bersuka cita sesuai dengan peran yang
telah dipercayakan Allah kepada dirinya. Hal ini juga dapat diteladani oleh
mahasiswa. Jika kembali dalam kehidupan kampus sehari-hari, mahasiswa
dapat mengevaluasi dan menilai tindakan seperti apa yang menunjukan
kesetiaan, ketekunan, dan sukacita dalam kehidupan sehari-hari di
kampus.
Kedua, Amsal juga mengajak pembacanya dalam hal ini penulis tujukan
kepada mahasiswa-- untuk belajar dari semut. Pembelajaran dalam Amsal
yang sering dibicarakan adalah soal kerajinan semut. Malas adalah tindakan
yang jelas tidak disukai Tuhan. Sehingga tanpa perlu membahas lebih jauh,
tulisan ini juga mendukung agar mahasiwa berjuang melepaskan diri dari
kemalasan.
Tetapi, ada hal lain yang ingin penulis angkat dalam pelajaran sikap
semut. Semut melakukan pekerjaan dengan konsisten, baik saat sendiri
maupun berkelompok. Terlebih lagi, semut akan tetap memberikan yang
terbaik ketika tidak ada yang mengawasi karena semut mengetahui
perannya dan memahami dengan baik apa tujuan pekerjaanya. Tidak
semata mengumpulkan makanan, namun mengetahui bahwa mengumpul-
kan makanan berarti menjaga kelangsungan hidupnya dan koloninya.
Mahasiswa, dalam segala kebisingan dunia, sering kali melupakan peran
dan tujuan dari tugas-tugas yang diberikan. Mahasiswa juga sering lupa
dengan tujuan awal kenapa memilih organisasi A, B, dan C, atau memilih
berkecimpung dalam kegiatan D, E, dan F. Sama seperti semut yang tak
sekadar mengumpulkan makanan, untuk memiliki etos kerja dalam landasan
motivasi yang baik, mahasiswa perlu menyadari tujuan pengerjaan tugas
tersebut. Tujuannya sederhana: Tuhan ingin anak-Nya belajar, baik dari sisi
ilmu maupun sisi pembentukan karakter, agar nama Tuhan nantinya
semakin dimuliakan.
Jadi, untuk bisa memiliki etos kerja yang baik, mahasiswa perlu
memahami dahulu bahwa seluruh proses perkuliahan yang tengah dijalani
adalah inisiatif Allah. Allah yang terlebih dahuludan secara aktif
menempatkan kita dalam jurusan kita masing-masing, mempunyai rencana
kepada anak-anak-Nya. Dengan memahami bahwa perkuliahan ini adalah
inisiatif Allah, respon kita sebagai mahasiswa hendaknya mengerjakan dan
menjalani peran dengan setia, tekun, dan dalam sukacita. Output dalam
kehidupan sehari-hari secara detail akan berbeda sesuai konteks dan
karakter individu mahasiswa dan lingkungan kita sebagai mahasiswa.
Penulis mengajak mahasiswa untuk bisa menempatkan diri secara relevan
terhadap lingkungan. Namun yang terutama adalah tidak melepaskan
kehadiran penuh Tuhan dalam proses belajar.
Tuhan ada ketika kamu sedang print tugas, Tuhan ada ketika kamu mulai
menulis lapaaar di buku catatan karena kelas tak kunjung usai, Tuhan ada
saat kamu kelelahan menaiki tangga jembatan stasiun UI, Tuhan pun di sana
ketika kamu susah payah membuat timeline organisasi, ketika kamu sakit
hati dengan kata-kata dosenmu, dan Tuhan ada di setiap proses belajarmu,
mengamat-amati pertumbuhanmu. Beranilah setia dan bersusah-susah
dalam perkuliahan. Tuhan suka ilmu dan kebijaksanaan. Tuhan suka
anak-Nya belajar. Apalagi yang lebih indah dari setia dalam pekerjaan yang
menyukakan hati Tuhan?
Alumni
Kristen
Pekerjaan dan Ladang Misi
oleh Morentalisa Hutapea

Apa? Sudah lima tahun? Lama juga ya! Itulah respons yang biasa saya
peroleh dari orang-orang yang bertanya sudah berapa lama saya bekerja di
satu lembaga.
Sebagai seorang alumni muda, banyak orang merasa sayang ketika saya
menghabiskan lima tahun pertama dari masa kelulusan saya dengan
mengabdikan diri pada sebuah lembaga nirlaba yang bergerak di sektor
energi. Respons tadi, meski terdengar umum, sebenarnya
menunjukkan suatu akar yang cukup bermasalah dari sebuah budaya yang
disebut kutu loncat. Seorang peloncat merupakan sebuah fenomena di
mana para pekerja memilih untuk berganti-ganti pekerjaan dalam jangka
waktu yang relatif singkat.
Fenomena pindah kerja merupakan salah satu ciri kaum millennials yang
mungkin sulit dipahami generasi terdahulu. Pada era sebelumnya, loyalitas
terhadap suatu perusahaan atau suatu instansi/institusi tempat seseorang
berkarya merupakan sebuah etos kerja yang dianggap lumrah. Kita bisa
bertemu dengan orang-orang yang menghabiskan puluhan tahun hidupnya
untuk bekerja di sebuah perusahaan.
Bagi pihak perusahaan, fenomena pindah kerja tentu menimbulkan
sejumlah kendala. Kendala tersebut terkait dengan munculnya kesulitan
yang harus dihadapi kala harus kehilangan para pekerja. Mereka harus
memulai dari awal proses seleksi dan pelatihan bagi pegawai pengganti
yang kadang menghabiskan waktu dan energi yang tak sedikit. Walaupun
tampaknya sejumlah perusahaan telah beradaptasi dengan budaya baru ini
dengan menciptakan sebuah mekanisme yang memberi ruang bagi para
kutu loncat ini.
Penganut aliran kutu loncat ini biasanya memiliki sejumlah alasan positif,
salah satunya adalah keinginan untuk terus belajar dan juga berkembang
ketika menemukan hal-hal baru. Beberapa melihat bahwa untuk mencapai
sebuah tujuan tertentu, dia harus memperlengkapi dirinya dengan belajar
dari beberapa tempat berbeda. Namun, tidak banyak juga yang akhirnya
mengikuti budaya ini karena satu alasan bernama: ketidakpuasan.
Faktor penyebab ketidakpuasan pun beragam. Gaji atau pendapatan
yang diberikan oleh instansi tempat bekerja biasanya menempati posisi
tertinggi dari faktor pendorong budaya kutu loncat ini. Selain itu,
ketidakpuasaan terhadap atasan sepertinya menempati posisi berikutnya,
diikuti dengan ketidakpuasan terhadap budaya kantor, beban kerja, rekan
kerja, serta sejumlah alasan lainnya.
Jika ditilik, mungkin banyak yang merasa bahwa alasan tersebut terlihat
wajar atau normal bagi kebanyakan orang. Bukankah wajar jika gaji tidak
memuaskan, kita berhak mencari tempat yang lebih memenuhi standar gaji
yang kita harapkan? Bukankah wajar jika mencari atasan yang lebih baik?
Bukankah wajar untuk mencari tempat yang lebih bisa memberi kita
lompatan karir yang lebih cemerlang?
Namun kalau kita perhatikan lagi, sejumlah alasan baik di atas memiliki
satu fokus: diri sendiri.
Hal ini tentu berbeda jauh dengan prinsip yang dikemukakan Paulus
ketika menulis surat kepada jemaat Kolose. Ia berpesan kepada warga
jemaat yang memiliki posisi sebagai hamba, Hai hamba-hamba, taatilah
tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan
mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati
karena takut akan Tuhan. Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah
dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang
ditentukan bagimu sebagai upah (Kol. 3:22-24a).
Meski Paulus menulis surat tersebut dalam konteks masyarakat yang
mungkin berbeda dengan kondisi masa kini, namun tulisan tersebut
memiliki pesan yang bersifat kekal, bahwa pusat dari pekerjaan adalah
Tuhan. Tuhan sendiri yang memberikan pekerjaan itu.
Melalui pesan tersebut juga, kita dapat menyimpulkan bahwa para
pengikut Kristus dipanggil untuk mengikuti satu prinsip yang terlihat sangat
berbeda dengan budaya generasi millennials masa kini. Kita dipanggil untuk
melihat bahwa pekerjaan bukanlah tentang kita. Pekerjaanlah bukan
mengenai keuntungan kita pribadi. Bahwa tujuan utama dari setiap
pekerjaan adalah Tuhan, dan kita percaya bahwa Tuhanlah yang akan
memberikan kita upah dalam setiap pekerjaan yang kita miliki.
Lalu apakah itu berarti pilihan pekerjaan dan perencanaan karier tidak
penting sama sekali?
Tentu tidak. Pekerja profesional akan menghabiskan 8-12 jam waktu
mereka untuk hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan (termasuk
perjalanan ke dan dari kantor/tempat kerja menuju rumah). Jika kita
menginvestasikan waktu dan energi yang sedemikian besar untuk satu hal,
tentu kita harus memastikan bahwa hal tersebut memang memiliki nilai
sepadan.
Pertanyaannya sekarang, apa defenisi dari nilai sepadan yang dimaksud?
Jawabannya kembali ke nas tadi, bahwa pekerjaan tersebut ditujukan untuk
Tuhan yang akan memberi implikasi kekekalan bagi kita. Alasan dari
pemilihan pekerjaan haruslah jauh lebih besar daripada diri dan
kepentingan diri sendiri yakni agenda Allah, bahwa Kerajaan-Nya datang
dan kehendak-Nya jadi.
Perubahan pola pandang harus dimiliki. Kita harus memakai kacamata
yang memampukan kita untuk terus melihat bahwa pekerjaan adalah
sebuah ladang di mana kita diberi kesempatan untuk menabur benih
kerajaan Allah. Kerajaan Allah berbicara mengenai pemerintahan Allah, di
mana damai sejahtera dan sukacita hadir di sana.
Bisa dibayangkan jika semua anak Tuhan benar-benar mengupayakan
seluruh aspek kehidupannya untuk membawa kerajaan Allah nyata dalam
dunia kerja? Jika semua anak Tuhan di seluruh dunia hidup jujur,
berintegritas, menyatakan kasih dan kebenaran, serta tidak malu-malu
memproklamasikan prinsip-prinsip kebenaran dalam Kristus? Bagaimana
jika seluruh anak Tuhan di seluruh dunia menyadari bahwa dirinya adalah
duta besar dari Kerajaan Allah dan berupaya keras agar kerajaan Allah
tersebut nyata di mana pun mereka berada?
Dunia seperti apa yang akan kita hidupi sekarang jika semua anak Tuhan
benar-benar mewujudkannya?
Hanya saja hal ini tentu membutuhkan kerja keras dan mungkin
keputusan untuk mati bagi diri sendiri setiap hari. Ketika gaji tidak sesuai
dengan kapasitas dan beban kerja, mampukah kita mendemonstrasikan
ucapan syukur yang tak henti-henti dan menyatakan bahwa Allah yang
memelihara? Ketika bos ataupun rekan kerja terasa begitu menyebalkan,
bisakah kita mengambil langkah iman untuk mengampuni dan bahkan,
mengasihi? Ketika standar umum mengatakan bahwa mengambil
kesempatan dalam kesempitan, sanggupkah kita menunjukkan bahwa
kejujuran masih ada? Saat semua orang sikut-sikutan berusaha naik tangga
dengan segala daya dan upaya, mampukah kita menunjukkan sikap
mendahulukan kepentingan bersama dan orang banyak?
Dengan etos dan cara pandang demikian, kita sedang
mendemonstrasikan nilai-nilai Kerajaan Allah yang mungkin tidak pernah
dilihat atau dimengerti oleh dunia. Dan mungkin, kita adalah pribadi yang
Tuhan pilih untuk memperkenalkan Allah kepada mereka yang belum
mengenal Dia.
Saya selalu melihat bahwa kantor dan lapangan pekerjaan adalah ladang
misi yang paling baik, sekaligus paling sulit, bagi seseorang untuk
mengomunikasikan Kristus. Mungkin kita adalah satu-satunya akses mereka
mengenal jalan kebenaran dan hidup, serta prinsip-prinsip yang ada di
dalam-Nya. Pertanyaannya, apakah kita menyadari priviledge tersebut?
We are called to be a missionary, in our office. We are called to be the
ambassador of God and His Kingdom in our workplace. Are we willing to
answer that call and pay the price?
Adaptasi Gaya Hidup
oleh Victor Gomgom Pardomuan Sihombing

Punya slip gaji atas nama sendiri! Ya, itu adalah awal saya benar-benar
mempunyai uang sendiri. Ini bukan uang orang tua, tetapi uang dari hasil
keringat sendiri. Tentu saja, saya berkuasa menggunakannya. Saya bisa
mencicipi banyak hal atau pergi ke semua tempat yang saya mau dengan
uang itu.
Saat bekerja, saya mulai bertemu banyak orang baru. Benar-benar
banyak dan baru. Lain orang, lain pikirannya, dan lain juga gaya hidupnya.
Tidak seperti di kampus yang lebih seragam. Saya melihat seribu cara yang
memungkinkan untuk menjalani hidup.
Kekuasaan dan kebebasan baru ini saya rasakan juga saat menjadi
alumni dan mulai bekerja. Mungkin Anda juga. Memang ada beberapa dari
kita yang sejak kuliah sudah mulai bekerja dan punya uang sendiri. Ada juga
yang pergaulannya sudah luas saat berada di kampus. Tetapi bagi saya,
rasanya luar biasa saat menjadi alumni! Dunia luas kini terbentang di
hadapan kita. Langitlah batasnya.
Tak lama, perubahan gaya hidup pun terjadi. Kita beradaptasi. Kita
punya cara berpakaian, warna rambut, atau peralatan jinjing yang berbeda.
Dulu ketika mahasiswa, ia tidak begitu! Demikian ungkapan yang sering
kita dengar.
Sebagai alumni Kristen, kita lalu bertanya-tanya, sejauh apa kita bisa
berubah? Orang yang satu dan yang lainnya memiliki pendapat berbeda.
Kita khawatir untuk mengikuti perubahan karena kita takut salah. Atau, kita
merasa tidak perlu berpikir terlalu panjang. Jalani saja hidup dan ikuti
perubahan!
Nyatanya, dunia memang terus berubah dan menawarkan banyak hal
baru. Misalnya pada awal 2000-an, ketika Facebook dan media-media sosial
lahir. Mereka mengubah cara manusia berinteraksi. Alih-alih bertatap muka,
sebagian orang kini suka menatap telepon selulernya. Bermedia sosial kini
normal. Kita bisa mengunggah gambar, membuat video, bertukar kabar,
hingga berjualan di sana.
Dunia maya jadi ramai dan sibuk. Bahkan kegiatan seperti membelikan
makanan atau mencari calo untuk mengantre tiket tertentu bisa diurus
lewat dunia maya. Tulisan ini dibuat pada Maret 2017 dan saya penasaran
bagaimana kehidupan manusia 5 atau bahkan 10 tahun mendatang?
Sesuatu yang dianggap menarik saat ini, mungkin bias jadi usang pada
masa depan. Mereka yang tidak bisa beradaptasi dengan perubahan
dianggap kuno dan diabaikan.
Menariknya, kita hidup di dunia ini sebagai orang Kristen. Sejarah
mencatat Kekristenan lahir sekitar 2.000 tahun lampau. Menghidupi
kepercayaan berumur uzur ini di tengah dunia yang berubah dengan cepat
tentu bukan hal mudah. Beberapa bagian di Alkitab malah berumur lebih
lama dari itu (Catatan: Perjanjian Lama ditulis sebelum masa Yesus lahir).
Sulit sekali membayangkan kalau sebuah kitab lawas bisa memberi ide
tentang gaya hidup kita di masa kini.
Menurut saya, salah satu bagian terbaik dari Alkitab adalah
penjelasannya mengenai sifat dasar manusia. Kejadian 3 menjelaskan
dengan lugas kisah kejatuhan pertama manusia ke dalam dosa. [K]amu
akan menjadi seperti Allah, demikian sang ular berusaha merayu manusia
untuk memakan buah terlarang (Kej. 3:5). Manusia memakannya. Sejak saat
itu hingga kini manusia berusaha menjadi Tu(h)an. Sayangnya bukan jadi
Tuan yang bertanggung jawab dan adil, manusia malah rakus, egois, dan
jahat.
Keselamatan lalu dianugerahkan Tuhan agar manusia bisa lepas dari
situasi ini. Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang
hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah
mati dan telah dibangkitkan untuk mereka, kata Paulus ketika menjelaskan
tujuan karya keselamatan Tuhan (2Kor. 5:15). Mereka yang telah menerima
keselamatan adalah manusia yang semua bagian hidupnya diserahkan
untuk menyenangkan Kristus.
Sewaktu menjadi alumni, ajaran dasar Alkitab ini sangat menantang
untuk diikuti. Apalagi, kini kita bisa berkuasa atas hidup dan bebas
menjalaninya. Di sinilah justru pertarungannya. Tiap-tiap hari kita harus
memilih antara mengikuti kehendak kita atau menyenangkan Kristus. Gaya
hidup kita menunjukkan pilihan kita.
Memang itu tidak berarti bahwa gaya hidup kita lalu menjadi datar dan
murung. Kita suka beranggapan buruk kepada Tuhan. Kita mengira Dia
antikesenangan. Menjadi Kristen sejati lalu diidentikkan dengan menjauhkan
diri dari kegembiraan dan hanya mengurusi hal-hal yang sifatnya
mengernyitkan dahi. Sesuatu yang membawa senyum dan tawa atau penuh
dengan warna dicurigai sebagai dosa.
Padahal, kita bisa melihat sendiri bagaimana Tuhan bersenang-senang
dengan karya-Nya. Berjalanlah ke taman dan lihatlah bagaimana pohon,
daun dan bunga diciptakan dengan beraneka bentuk dan warna.
Menengadahlah ke langit dan lihatlah bagaimana awan yang melintas
kadang bisa memukau karena bisa memunculkan beragam bentuk. Tuhan
bersenang-senang dengan alam.
Kita perlu bijaksana. Tidak semua perubahan itu buruk. Teknologi,
misalnya. Teknologi menjadi buruk ketika kita tidak bijak menggunakannya.
Kecanggihan teknologi masa kini membuat manusia bisa berkomunikasi
dengan mudahnya. Hubungan antarmanusia menjadi semakin cair. Itu hal
yang baik bukan? Menjadi buruk bila kemudian kita mengabaikan mereka
yang ada di sekitar kita.
Ada banyak isu lain yang harus kita cermati. Kebanyakan adalah
soal-soal sederhana seperti cara berpakaian, kepemilikan barang, per-
temanan, dan lainnya. Dunia tidak serta merta geger dan berubah saat kita
menetapkan pilihan. Langit tidak akan terbelah menjadi dua saat kita
mengubah cara berpakaian kita mengikuti gaya terkini. Komentar sumir dari
beberapa orang yang biasanya kita dengar saat perubahan gaya hidup kita
dinilai berubah terlalu ekstrem.
Pada akhirnya, keakraban dengan Tuhan yang bisa menjadi pembeda.
Kiat lama ini masih manjur. Kita tidak bisa sekedar membaca Alkitab.
Tantangannya adalah mendaratkan nilai-nilai Alkitab ke dalam kehidupan
kita setiap harinya. Ya, setiap hari. Ini bisa terjadi ketika kita memiliki
Saat Teduh harian yang bukan rutinitas, tetapi berkualitas.
Kekristenan memang tidak melulu bicara soal proyek-proyek besar dan
hebat untuk mengubah dunia. Kekristenan juga bicara soal mengikut Kristus
dalam hidup keseharian. Gaya hidup kita bisa menjadi wujud dari iman kita.
Bila Kristuslah penguasa hati kita, maka orang lain dapat dengan mudah
merasakan dan melihatnya.
Semoga kita tidak jengah dengan visi PO UI yang mengajak kita untuk
menjadi terang. Bagi kita yang tinggal di kota, kita bisa jadi sudah lelah
melihat cahaya. Menutup mata di dalam kegelapan dan tertidur rasanya
damai sekali. Di mana-mana orang hidup dengan gaya hidupnya masing-
masing yang egois dan rakus. Naif untuk mengubahnya.
Mari kita beradaptasi dengan gaya hidup dunia masa kini! Lewat gaya
hidup kita, kita bisa mencelikkan mata orang akan sifat dasar mereka dan
membawanya kembali kepada Kristus. Tidak sendiri, tetapi bersama-sama
dengan orang Kristen lainnya.
Seperti glow stick yang diacungkan ke atas dan digoyang-goyangkan
saat kita menonton sebuah konser musik. Ketika kita bergerak bersama,
keren!
Godaan Jabatan
oleh Tri Wahyuni Herlambang

Jabatan atau posisi dalam pekerjaan, saya yakini sebagai tanggung


jawab yang Tuhan percayakan untuk dikerjakan. Pada satu sisi, Tuhan
memakainya sebagai alat pembentuk diri, ditajamkan dalam karakter dan
spiritual, maupun skill dan intelektual; pada sisi lain, ada peranan dan
kontribusi kita untuk bekerja keras, memberi upaya terbaik, dan menjadi
pelaku firman sebagai kesaksian hidup di tengah dunia melalui teladan
dalam bekerja.
Dunia menanamkan mindset bahwa jabatan dalam pekerjaan adalah
salah satu tolok ukur tahapan kesuksesan seseorang dalam berkarier. Lewat
Kejadian 2:15yang menyatakan bahwa tugas Adam dan Hawa adalah
bekerja memelihara dan mengelola tamandalam tahun-tahun awal
bekerja, saya diajak Tuhan untuk menyadari bahwa pekerjaan adalah berkat
dan panggilan, bukan sekadar alat pemenuh kebutuhan ataupun pemuas
jiwa.
Selama tujuh tahun mengerjakan panggilan berkarya di dunia hukum,
keinginan menaati Allah ketika dihadapkan berbagai pilihan menjadi sebuah
keputusan sulit, namun memperkaya iman.
Sebulan setelah lulus dan menyandang status alumni baru, saya
mendaftar dan ikut seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
Kejaksaan Agung RI sebagai seorang Jaksa Muda. Saya mengikuti proses
seleksi dengan tekun hingga tahap terakhir. Namun, jalannya tidak mulus,
bahkan kandas, ketika pada tahap terakhir pengumuman kelulusan, ada
oknum institusi tersebut yang meminta uang pelicin senilai Rp. 160 juta
dengan imbalan janji akan lulus menjadi calon jaksa dalam seleksi tahap
akhir tersebut.
Membeli sebuah kebanggaan berupa prestise jabatan PNS dengan cara
suap adalah godaan yang sempat dialami orang tua saya kala itu. Setelah
melalui perdebatan panjang, Tuhan menyentuh hati mereka dengan
pemahaman betapa menyedihkan dan memalukannya kalau anaknya
menjadi aparat hukum dengan cara melanggar hukum.
Dalam kekecewaan karena tidak berhasil menjadi abdi negara sesuai
keinginan, Allah menuntun saya masuk ke area swasta, sebuah firma hukum,
yang pimpinan serta hampir semua pegawainya juga seorang Kristen. Tak
terkatakan betapa bersyukurnya saya karena diberi tempat kerja yang baik,
lingkungan yang menyenangkan, rekan kerja yang bersahabat, mendapat
banyak kesempatan belajar, terlihat sebagai tempat yang sempurna untuk
meniti karier bagi calon profesional muda, ditambah ada ibadah kecil dan
PA bulanan bersama. Bangganya bukan kepalang, pertama kali punya
penghasilan, bisa membantu kebutuhan keluarga dan membelikan orang
tua ini-itu dengan uang hasil keringat sendiri. Sensasi kebanggaan (atau
kesombongan) meletup setiap kali dipanggil orang/klien dengan sebutan
profesi yang terdengar keren dan eleganpengacara.
Sampai pada suatu hari zona nyaman itu berhenti di satu titik:
mendapat perintah atasan untuk mengantarkan uang pelicin senilai
Rp. 1 juta kepada panitera pengadilan terkait kasus tertentu yang ditangani.
Sebuah instruksi tugas sederhana dengan konsekuensi yang tidak
sederhana.
Tugas yang ditakutkan sejak awal terjadi juga. Menolak perintah tersebut
jelas akan berakibat saya kehilangan jabatan dan pekerjaan, kehilangan
semua yang saya anggap cukup berharga pada masa itu. Ketakutan dan
kekhawatiran melanda seketika; seakan ada alarm yang mengisyaratkan
kalau sebentar lagi saya akan bergeser keluar dari zona aman-nyaman dan
masuk ke zona konflik.
Rasa takut dan khawatir menggoda saya agar kompromi dengan
perintah jabatan yang bertentangan dengan firman Allah. Berulang kali saya
meyakinkan diri untuk tidak terjebak dalam pergulatan ego, hawa nafsu
berupa kepuasan diri semu, narsisme akan prestise pangkat jabatan
maupun jenis pekerjaan, iming-iming gaji, dan sebagainya, mengarahkan
saya pada pertanyaan: Mau menjadi besar atau menjadi benar? Bagaimana
mengatasi kehendak diri untuk tidak memilih sesuatu yang tidak efektif dan
efisien?
Godaan untuk kompromi pun sirna ketika firman-Nya dengan lembut
menyapa saya: Hanya kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-
sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai hukum yang telah diperintahkan
kepadamu ; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri...; dan meng-
ingatkan saya pada teks Our Daily Bread: It is better you declare the truth
and being rejected than to withhold the truth just to be accepted .
Firman-Nya menolong saya untuk memilih apa yang benar dan meyakini
bahwa anugerah jaminan kekal yang Tuhan beri itu lebih dari cukup. Allah
yang menyediakan ladang untuk dikerjakan adalah Pribadi yang sama,
menguatkan, dan menuntun untuk tidak tersandung. Allah yang menaruh
visi, Allah yang sama juga yang akan mencukupkan segala sesuatu seturut
anugerah-Nya.
Keputusan itu pun berbuah dengan dilaporkannya saya sebagai
pembangkang perintah atasan, menuai konsekuensi terselenggaranya
sidang oleh pimpinan kantor dan senior dalam satu forum khusus keeso-
kan harinya. Saya dihakimi sebagai bocah kecil kemarin sore yang sok tahu
dan sok suci dan dituduh bersalah karena melawan perintah atasan dan
menghambat kelancaran pekerjaan kantor.
Pascakejadian, satu bulan lamanya saya mencoba bertahan di tengah
drama pemboikotan dan pengasingan, tidak diberi pekerjaan apa pun
pekerjaan sebelumnya langsung di-take over orang lain. Saya hanya dibiar-
kan duduk di meja tanpa ditugaskan melakukan apa pun, juga tidak diajak
bicara oleh senior dan bos, dan sepanjang hari menerima tatapan iba dari
para staf kantor lain.
Saya mencoba bertahan, berdoa, dan berdiam untuk melihat apa yang
hendak Allah nyatakan melalui hal ini. Berjuang keras memahami dan
menikmati sukacita dan damai sejahtera di tengah penderitaan akibat
ketaatan pada Allah bukanlah pekerjaan ringan. Apakah saya melakukan
yang benar? Apakah saya sudah cukup berhikmat? Bagaimana menerapkan
cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati dalam konteks ini? Kalau
benar, Kenapa malah ketakutan hebat yang melanda. Saya menyadari benar
akan selalu ada harga yg harus dibayar untuk setiap ketaatan, namun tak
pernah terbayangkan akan sepahit ini.
Roh Kudus pun mengingatkan saya bahwa tak sepatutnya kekhawatiran
menguasai diri. Saya tak perlu berjerih lelah mempertahankan pekerjaan ini.
Perintah-Nya untuk bekerja dengan segenap hati berada dalam konteks
bekerja sebagai Pelayan Allahdengan cara dan motivasi benar, bukan
dengan melawan hukum negara dan hukum Allah, bukan pula hanya untuk
diterima orang lain atau disebut loyal, atau agar bos/rekan kerja senang,
atau demi promosi jabatan, atau sekadar mempertahankan suatu pekerjaan
tertentu. Perspektif untuk menaati pimpinan/atasan sebagai representasi
Allah di tempat kerja menjadi kurang relevan dalam konteks iniketika
yang dikerjakan atau diperintahkan bertentangan dengan Firman-Nya.
Karena itu, setelah mendoakan dan berkonsultasi sana-sini dengan pem-
bimbing rohani, saya memutuskan untuk pamit keluar kantor tersebut.
Syukur kepada Allah, Ia memberi jawaban doa. Sebulan kemudian, Ia
memberi tempat kerja yang jauh lebih baik dalam segala aspek (meski tak
lepas dari pergumulan) dan menjadi tempat berkarya sampai enam tahun
kemudian.
Dalam pergumulan saya, memaknai esensi bekerja sebagai berkarya
dalam visi Allah membantu saya memperbaiki sikap hati dalam bekerja dan
fokus pada tujuan besar mengerjakan keselamatan di tengah dunia. Saya
melihat apa dan mana pilihan yang bernilai kekal, dan mana yang tidak;
agar tidak terjebak memilih sikap tindak yang kurang efektif, dan bahkan
tidak efisien, yang berujung pada kesenangan semu dan kepuasan palsu,
serta yang terburuk, mendukakan hati Tuhan. Apa yang kita pilih
merefleksikan apa yang kita hargai atau anggap berharga dalam hidup. Ini
menjadi pengingat efektif bagi saya untuk melihat apa yang menjadi fokus
utama diri saya dalam bekerja? Membangun kerajaan-Nya atau kerajaan
saya?
Mari izinkan Allah menghancurkan hasrat (dan ego) diri yang diam-diam
masih merajai dan menggantinya dengan hati yang rindu untuk merasa apa
yang Allah rasa dan melihat apa yang Allah lihat, agar hal yang kita inginkan
dan kita pilih (dalam bekerja) pada waktu sekarang dan nanti adalah
cerminan keinginan Allah semata, serta tidak terjebak dalam suatu pilihan
tindakan yang kurang perlu dan tidak tepat guna bagi pekerjaan-Nya di
dunia.
Baiklah kita mengingat kembali bahwa Allah bekerja di seluruh dunia
dalam segala cara, waktu dan tempat, dan kita adalah bagian kecil di
dalamnya. Kiranya dalam mengerjakan panggilan profesi, Allah Sang Maha
Benar dan Maha Besar melimpahkan kekuatan dan hikmat untuk kita
memilih taat kepada-Nyasetiap saat.
Soli Deo Gloria.

Tiada yang baka, di dalam dunia,


segala yang indah pun akan lenyap.
Namun kasih-Mu demi Tuhan Yesus,
sungguh bernilai dan tinggal tetap.
(NKB 211)
Relasi dengan Rekan Kerja
oleh Hardiono Iskandar Setiawan

Setiap manusia memiliki panggilan hidup, yaitu purpose atau makna dari
seluruh keberadaan hidupnya. Entah seorang pengikut Kristus ataupun
bukan, pada perjalanan hidupnya cepat atau lambat setiap orang pasti akan
mencari makna dari seluruh keberadaan hidupnya.
Beruntung bagi orang yang telah mengenal Kristus, kita mengalami
transformasi hidup di mana Kristus menjadi pusat seluruh kehidupan kita.
Sejak mengenal Kristus, kita tidak lagi hidup bagi diri sendiri, tetapi hidup
untuk menyenangkan hati-Nya. Dalam Kristus juga, kita menemukan
panggilan hidup yaitu melayani dan menikmati kasih Allah. Di mana dalam
kasih-Nya, Allah memanggil kita untuk melayani dengan berbagai cara,
salah satunya melalui profesi atau pekerjaan kita.
Dunia pekerjaan menuntut saya untuk berelasi dengan orang percaya
maupun orang yang belum percaya. Dalam relasi tersebut, sayadan kita
jugaakan mengalami berbagai macam tantangan yang timbul dari
perbedaan nilai hidup, cara pandang, maupun tujuan yang ingin dicapai
dalam bekerja. Kita bekerja untuk menyenangkan hati Allah, melayani
sesama sekaligus menyaksikan kasih Allah di hadapan dunia, sedangkan
mereka yang belum mengenal Kristus masih mengedepankan nilai, cara
pandang, dan tujuan yang berpusat pada dirinya sendiri. Hal-hal inilah yang
kita alami sehari-hari, dan sedikit banyak menimbulkan gesekan dalam
lingkungan di mana kita bekerja.
Saat kita bekerja dengan jujur, lingkungan kerja kita merasa alergi. Saat
kita datang tepat waktu, lingkungan kerja kita merasa risih. Saat kita
berprestasi, lingkungan kerja kita tidak mau mengakuinya karena iri. Atau
bahkan, promosi kita dihambat semata-mata karena kita percaya kepada
Tuhan Yesus. Hal-hal ini sebenarnya hanya sebagian kecil dari apa yang
dialami orang percaya di dunia kerja. Rasanya benar-benar mengalami apa
yang disebut sebagai domba yang diutus ke tengah-tengah
serigala (Mat. 10:16), kita sering tidak berdaya di tengah lingkungan kerja.
Belum lagi dalam dunia pekerjaan, kita senantiasa diperhadapkan
dengan persoalan-persoalan yang abu-abu, di mana garis benar dan salah
tidak lagi tergambar jelas, bukan lagi ketika duduk di bangku sekolah
ataupun kuliah. Pada bangku sekolah atau kuliah, menyontek adalah salah.
Titik. Mudah. Terlambat adalah salah. Titik. Mudah. Tidak mengerjakan tugas
adalah salah. Titik. Mudah. Tetapi, bagaimana dalam dunia pekerjaan? Uang
suap adalah salah. Mudah? Kalau uang terima kasih? Benar atau salah?
Mulai tanda tanya. Sekarang, bagaimana kalau uang sisa anggaran yang
dibagi-bagi karena kebiasaan? Hmmm sulit?
Saya teringat kepada beberapa orang senior yang hidup taat pada
Tuhan. Mereka menceritakan pengalaman dan kesulitan saat hendak
mengembalikan uang yang bukan hak mereka. Mereka bahkan dikecam dan
dikucilkan oleh lingkungan kerja karena mengembalikan apa yang bukan
menjadi hak mereka. Tentunya, pertentangan-pertentangan nilai maupun
sikap itu dialami oleh setiap orang percaya di dunia pekerjaan, juga saya
sendiri.
Saat ini Tuhan mengutus saya sebagai aparat penegak hukum, saya
berelasi dengan berbagai macam orang. Tidak mudah bagi saya, ketika
harus berada di lingkungan pekerjaan penegak hukum di mana rekan-rekan
sekerja saya masih berpusat pada kepentingan diri sendiri. Penegakan
hukum dan keadilan bahkan tidak terpikirkan oleh mereka, dan tidak jarang
digunakan sebagai alat untuk memeras atau menindas orang. Lingkungan
seperti ini seolah terus-menerus memaksa saya untuk terbawa dalam arus
penegakan hukum yang koruptif.
Suatu waktu, atasan saya juga pernah memberikan sejumlah uang
ucapan terima kasih yang saya tahu betul uang tersebut bukanlah uang
yang patut saya terima. Saat itu saya bergumul dan berdoa selama dua
malam, bertanya kepada Tuhan bagaimana cara saya menghadapi hal
seperti ini. Pada hari ketiga, akhirnya Tuhan menjawab dan meneguhkan
pergumulan saya untuk mengembalikan uang tersebut kepada atasan saya.
Pada hari itu saya mendatangi ruangan atasan saya, dan mengutarakan
maksud saya untuk mengembalikan uang tersebut, meskipun atasan saya
sempat menolak sehingga terjadi perdebatan, saya bersyukur karena Tuhan
akhirnya melunakkan hati atasan saya dan membuatnya mengerti. Namun,
kejadian ini selanjutnya membuat saya dianggap aneh dan dikucilkan
karena tindakan saya mengacaukan tradisi yang selama ini berjalan di
lingkungan kerja saya.
Sering kali saya kesulitan untuk tidak berbalik membenci atau
menghakimi mereka dalam batin, yang pada akhirnya membuat saya tidak
bisa bekerja bersama dengan mereka, atau lebih jauh membuat saya
menghindari mereka dan bersikap apatis. Tetapi, ketika saya ingin
menghindari dan membenci rekan kerja saya, kasih-Nya dan firman-Nya
terus-menerus menawan saya untuk kembali lagi mengasihi rekan-rekan
kerja saya, betapapun sukarnya batin saya menerima mereka. Saya teringat
akan kasih Allah kepada manusia, di mana Kristus telah mati untuk kita,
ketika kita masih berdosa (lih. Rm. 5:8). Hal ini membuat saya menyadari
betapa besarnya kasih Allah kepada saya dan juga kepada mereka,
sehingga saya tidak menyerah untuk mengasihi rekan-rekan kerja saya.
Saya yakin kita semua berjuang menjaga relasi dengan rekan kerja di
lingkungan pekerjaan masing-masing. Dari pengalaman saya di atas, ada
beberapa hal yang menurut saya penting untuk dilakukan supaya kita dapat
menjaga integritas. Pertama, kita wajib mendoakan rekan-rekan dan
kondisi tempat kita bekerja. Kedua, sekalipun sulit, kita harus berusaha
untuk menegur dan menyatakan kebenaran.
Dua hal tersebut sesungguhnya merupakan bentuk kasih kita kepada
rekan kerja, karena bagaimana mereka dapat selamat jika tidak percaya
kepada Kristus, seperti tertulis dalam Roma 10:14-15: Tetapi bagaimana
mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia?
Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mreka tidak mendengar
tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada
yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-
Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: Betapa indahnya
kedatangan mereka yang membawa kabar baik!
Tentunya, teguran dan kebenaran yang hendak kita bagikan harus
disampaikan dengan hikmat karena Tuhan menginginkan kita untuk cerdik
seperti ular dan tulus seperti merpati. Inilah yang menjadi tanggung jawab
orang percaya di mana pun kita ditempatkan. Saya percaya, sesungguhnya
hikmat dan kasih itu bersumber dari relasi kita dengan Allah dan hanya
dapat kita penuhi oleh karena anugrah-Nya.
Sola Gratia!
Berjalan Pincang
di Tengah Komunitas yang Menopang
oleh Gregorius Silitonga

Kisah ini nyata saya alami, namun saya bahasakan kembali dengan gaya
alegori. Meminjam satu bagian tubuh yaitu kaki yang sempat membuat diri
sulit berdiri, apalagi berlari. Hingga saya menemukan suatu keindahan dari
persekutuan yang bersedia menopang ketika saya sedang berjalan pincang.

Awal Mula Penderitaan


Semua bermula dari bengkak serius pada ibu jari kaki sebelah kiri. Luka
itu semakin hari menjadi semakin besar dan infeksinya makin mengkha-
watirkan. Rasanya begitu menyakitkan. Tiap gesekan yang terjadi rasanya
seperti ditimpa benda tajam secara berulang-ulang. Sakitnya bikin meringis.
Kadang jeritan aduh tidak lagi cukup sebagai ungkapan ketidak-
sanggupan. Sering kali hanya berakhir dengan tangis meringis mencoba
untuk menepis nyeri yang telanjur melukai.
Segala rasa sakit itu saya coba abaikan. Hari-hari saya lalui dengan
kegiatan yang normal. Nyatanya ibu jari ini berada tersembunyi dengan
berbalutkan kaos kaki, berlindungkan sepatu tebal. Memang, luka itu bisa
aman disembunyikan, tetapi ketimpangan ketika berjalan mampu dilihat
semua orang. Beberapa orang terdekat sempat menduga lalu bertanya:
Ada masalah apa dengan kakimu? Hanya luka kecil jawab saya singkat.
Tanggapan itu begitu ampuh untuk sekadar menghindar dari masalah yang
sudah kadung besar. Hal ini juga ampuh menghindari diri dari perhatian-
perhatian yang kadang malah bikin hati tidak enak.
Hari berganti dengan rasa nyeri yang semakin meninggi. Luka itu
semakin membesar hampir menggerogoti satu bagian ibu jari. Infeksi telah
menjalar. Mungkin saatnya pergi ke dokter. Jadwal kunjungan telah
direncanakan jauh-jauh hari. Tidak lama berselang, jadwal kunjungan itu
pun tiba. Dokter memeriksa dengan saksama lalu ia mengizinkan saya ber-
bicara.
Dalam perasaan putus asa saya bertanya, Apakah diizinkan saya
memotong kaki kiri saya? Dokter itu pun menjawab Dari satu sisi, selalu
ada izin, tetapi hal itu tidak pernah menguntungkan, tidak pernah
diinginkan, tidak pernah dianjurkan karena konsekuensinya tidak akan
menjadikan kondisi Anda jauh lebih baik. Kalau pun itu saya lakukan, itu
adalah sesuatu yang begitu menyedihkan bagi saya, juga untuk Anda. Itu
akan melumpuhkan hidup Anda. Anda hanya akan tinggal menetap, dalam
keadaan yang menyedihkan akan menerima hasil yang amat buruk jika
Anda menginginkan memotong kaki Anda.
Lalu, apa yang akan Dokter lakukan terhadap kaki saya? saya bertanya
kembali.
Dokter pun menjawab, Saya tidak akan langsung mengamputasi kaki
Anda hanya karena bermaksud menyembuhkan bengkak serius pada ibu jari
kaki Anda. Sebaliknya, saya akan berusaha membalut yang luka dan sebisa
mungkin mengurangi penyebaran infeksinya. Bagaimanapun juga, Anda
tetap menginginkan kaki Anda tetap ada di tubuh anda bukan? Kaki Anda
itu satu daging dengan tubuh Anda. Hanya karena infeksi pada ibu jari kaki
tidak akan membuat saya mengamputasi kaki Anda. Jika itu saya lakukan,
itu adalah kebodohan terbesar yang pernah saya lakukan."
Lalu, dalam kondisi apa langkah amputasi bisa dilakukan? tanya saya
lagi.
Hanya jika kaki Anda sudah begitu hancur atau telah mati, dokter
menanggapi pertanyaan saya dengan menunduk lemas. Sambil perlahan
menegakkan kepala, ia lalu menambahkan, Langkah untuk pemisahan
organ tidak bisa saya ambil dengan enteng seolah-olah hal itu berakibat
ringan saja. Tidak! Langkah itu saya ambil dengan begitu sedih dan enggan.
Namun, memang ada situasi dan kondisi di mana tindakan pemisahan harus
saya ambil."
Ketidaan Harapan
Namun, kondisi tidak semakin membaik. Infeksi itu sudah sedemikian
menjalar ke bagian lainnya dan mengharuskan untuk mengambil tindakan
yang sama sekali tidak saya inginkan. Amputasi. Berada di posisi demikian
sungguh sulit. Kehilangan satu anggota tubuh begitu menyakitkan, juga
pada sisi lain sangat menyusahkan.
Memiliki anggota tubuh yang lengkap adalah keniscayaan yang
diinginkan oleh semua orang. Namun, kadang kala kehidupan memiliki
cerita lain. Allah memiliki kisah yang khusus kepada setiap pribadi. Sejatinya
Allah tidak merancangkan keburukan terjadi di dalam kehidupan manusia.
Semua penderitaan yang dialami manusia harus dilihat sebagai satu bagian
cerita besar Allah di dalam kehidupan manusia, bukan terbatas hanya
kepada satu individu.
Ini adalah satu bagian dari penderitaan kehidupan di mana Allah terlibat
di dalam setiap kesakitan yang dirasakan manusia. Apakah itu adalah
perasaan kehilangan, kesakitan fisik, juga kesedihan karena berbagai beban
kehidupan. Hal tersebut bisa berdampak dalam relasi dengan keluarga juga
sesama. Kondisi diri menjadi sedemikian hancur sehingga menjadikan diri
begitu hancur dan memilih untuk menutup diri dari perhatian orang lain.

Menjauh dari Persekutuan


Perasaan terpuruk yang saya alami juga begitu ampuh menjauhkan diri
dari persekutuan. Begitu banyak hal yang bisa menjadi alasan logis hingga
alasan mengada-ada dilancarkan demi menghindar dari persekutuan.
Perasaan malu atas setiap kemalangan yang terjadi di dalam hidup. Merasa
diri begitu malang dibandingkan orang-orang yang memiliki prestasi
gemilang. Merasa diri begitu terkutuk di tengah kehidupan alumni lain yang
begitu indah terbentuk.
Hingga, bukan hanya fisik saya saja yang semakin lemah, kerohanian
juga semakin tak berdaya dan lemah. Namun, syukur kepada Allah atas
rencananya yang indah. Tidak butuh waktu yang lama hingga saya bisa
mengalami bagaimana Tuhan memakai komunitas menjadi tempat bagi
proses penyembuhan luka-luka ini. Semuanya terjadi di dalam
rancangan-Nya dalam waktu dan cara Allah sendiri.
Persekutuan yang Memulihkan
Satu per satu keluarga hadir di dalam proses penyembuhan diri. Satu
dan dua pribadi juga setia menopang di dalam setiap ketimpangan. Ketika
berada di titik ini saya merasakan begitu besar dan luasnya kekuatan kasih
dari persekutuan. Kadang kala kita begitu susah payah mencari persekutuan
yang kita inginkan. Ada saja hal-hal yang membuat persekutuan menjadi
tempat yang begitu menggelisahkan dan juga mengecewakan. Pada
kesempatan lain, ada saatnya kita begitu cocok di dalam suatu persekutuan.
Di sana ada kehangatan dan kejujuran. Kita mendapat, lalu tenggelam di
dalam hangatnya persekutuan. Menjalani dinamika persekutuan bukan
masalah cocok atau tidak cocok. Namun, hal yang paling utama ialah
apakah kita sanggup bertahan, tetap saling mengasihi di tengah cekcok.
Persekutuan memiliki dimensi yang begitu luas dan kadang sulit
dipahami. Ketika saya menghindari, persekutuan mencari. Ketika saya ingin
bersembunyi, persekutuan menyelidiki. Allah tahu hal apa yang sedang saya
alami. Ia tidak diam, ia bertindak juga berpartisipasi. Saya cenderung
menuduh Allah diam karena Dia tidak menyediakan apa yang saya inginkan.
Namun, Ia tahu apa yang saya butuhkan.
Mengalami sendiri bagaimana warna persekutuan bermula dengan
nuansa pengampunan untuk kesalahan, juga penerimaan untuk kelemahan.
Situasi ini benar-benar menolong saya untuk pulih di dalam memperbaiki
citra diri. Pembentukan itu terus berlanjut hingga hadirnya warna
persekutuan yang berbicara lantang akan kebenaran berdasarkan kasih.
Rasa syukur juga saya alami akan hadirnya sahabat-sahabat baik yang tidak
selalu menyanjung, namun kadang memukul ketika saya sedang badung.
Karena persekutuan Kristen didirikan semata-mata di dalam anugerah
Kristus bagi kita orang berdosa, maka hadirlah di dalam persekutuan dalam
motivasi pelayanan persaudaraan yang teratur. Layani sesama saudara
secara sederhana dan rendah hati. Kita bisa memulai dengan menjadi
simpatisan. Seiring jalan jika Tuhan membukakan bagian pelayanan yang
bisa diikuti, ambil segera dan terlibatlah. Keterlibatan aktif akan menolong
diri kita memahami nilai keberhargaan dari suatu persekutuan sekaligus
memupuk rasa memiliki.
Persekutuan Kristen merupakan pemberian yang bersifat anugerah.
Karena itu, biarlah kita yang sampai sekarang memiliki hak istimewa men-
jalani hidup Kristen bersama dengan orang-orang Kristen lainnya terus
memuji Allah dari lubuk hati kita. Biarlah kita berterima kasih kepada Allah
pada lututnya dan mengaku sebagaimana Bonhoeffer: Adalah anugerah,
hanya anugerah, kalau kita diizinkan hidup dalam persekutuan bersama
dengan sesama Kristen.
Melalui berbagai pengalaman ini saya mengecap begitu indahnya kasih
Allah yang Ia nyatakan melalui kehadiran persekutuan. Allah berinisiatif
menghadirkan pertolongan-Nya melalui kesatuan tubuh-Nya untuk terus
menopang sekalipun saya masih berjalan pincang.
Hidup Sehat
oleh Rotua JV Manullang

Cita-cita saya dari kecil adalah menjadi dokter. Namun, Tuhan


berkehendak lain. Saya diberi kesempatan untuk berkuliah di UI sebagai
mahasiswa Teknik Industri. Sejujurnya saya adalah orang yang sudah
menyadari pentingnya kesehatan sejak kecil karena kebiasaan yang ibu saya
terapkan di rumah. Saya yakin bahwa apa pun kebiasaan yang dibentuk
sejak kecil di keluarga, biasanya akan terbawa sampai dewasa, dan sering
kali akan membentuk pola pikir kita. Kebiasaan dan pola pikir sehat sejak
kecil itulah yang akhirnya mendorong saya untuk tetap berusaha
menjalankan pola hidup sehat sampai sekarang.
Saya menyadari bahwa semakin bertambah usia, menjaga kesehatan
bukanlah suatu hal yang mudah karena banyak faktor, salah satunya adalah
faktor penuaan, yang malah memegang peranan penting dan sulit
dikontrol. Oleh karena itu, usaha untuk menjaga kesehatan perlu kita
lakukan dengan konsisten dan terus-menerus setiap hari jika ingin menua
dengan sehat.
Saya sadar, untuk menjalankan pola hidup sehat dengan konsisten perlu
alasan yang sangat kuat karena seperti mengubah ritual hidup. Alasan
terkuat mengapa orang Kristen perlu menjaga kesehatan pun kembali
kepada firman Allah. Saya merenungkan beberapa ayat tentang mengapa
kita perlu menjaga kesehatan jasmani kita.
Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang
diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah,dan bahwa
kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya
telah lunas dibayar: karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"
(1Kor. 6:19-20).
Jelas tubuh kita adalah bait Roh Kudus. Hal Ini menjadi alasan yang
terkuat bagi kita untuk peduli terhadap tubuh kita. Akankah tubuh yang
adalah bait Roh Kudus ini diisi atau dihiasi dengan minyak atau lemak dan
sampah yang tidak bermanfaat bahkan merusak? Tentunya tidak. Ayat itu
juga mencantumkan bahwa diri kita bukanlah milik kita sendiri lagi; kita
telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar. Sehingga kita mempunyai
tanggung jawab untuk memuliakan Allah dengan tubuh kita.
Jika kita ingin menjalankan panggilan di dunia dan menjalankan tugas-
tugas-Nya sebaik mungkin, maka kita harus sehat dan fit terus. Ini adalah
tanda hormat kita kepada-Nya. Jika Tuhan ingin kita sehat, kita pasti sehat.
Tetapi, ada bagian kita dalam bersikap bijak dan bertanggung jawab dalam
menjaga pemberian Tuhan yaitu tubuh kita ini, sebagai persembahan yang
diperkenan Allah. Bukan semata-mata roh dan jiwa, tetapi juga tubuh
jasmani kita. Seperti dalam Roma 12:1: Karena itu, saudara-saudara, demi
kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan
tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan
kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati".
Dari pengalaman saya, tuntutan alumni yang banyak, sering membuat
alumni memprioritaskan kesehatan pada urutan bawah. Tidak ada waktu
untuk menjalankan pola hidup sehat, tidak ada waktu olahraga, tidak ada
waktu makan buah, kesibukan sering menjadi excuse. Selain itu, mungkin
karena pikiran awal kita menilai pola hidup sehat itu susah, sulit, tidak enak
maka kita pun semakin malas untuk menjalaninya. Sehari, dua hari masih
sanggup, tetapi akhirnya menyerah pada kenyamanan.
Saya juga mengingat firman Allah yang menyatakan: Segala sesuatu
halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku,
tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apa pun
(1Kor. 6:12). Karena segala sesuatu diperbolehkan (bebas), Tuhan justru
menempatkan tanggung jawab yang lebih banyak kepada kita untuk
memilih dan membuat keputusan sendiri dengan bijaksana. Jadi, biarlah
Roh yang mengendalikan kita, bukan keinginan tubuh/fisik yang
mengendalikan sehingga kita bisa dengan bijak memilih, bahkan hal
sesederhana seperti memilih makanan.
Lalu bagaimana bisa hidup sehat?
Secara sederhana, definisi sehat secara fisik adalah kondisi di mana
sistem organ tubuh bekerja dengan selaras, tanpa adanya gangguan.
Adanya gangguan pasti akan terlihat dari hasil pemeriksaan medis. Faktor-
faktor yang memengaruhi keselarasan itu adalah:

1. Nutrisi yang lengkap dan seimbang


2. Istirahat yang cukup
3. Olahraga yang teratur
4. Kondisi rohani, mental dan sosial yang seimbang
5. Lingkungan yang bersih

Kelima faktor di atas mungkin sudah dari kecil kita dengarkan, namun
sangat sulit untuk dilakukan, juga jarang berhasil. Karena untuk berhasil,
selain butuh alasan kuat juga butuh disiplin. Alasan kuat adalah motif yang
sedemikian kuat sehingga ketika kita tidak melakukannya, kita akan merasa
tidak nyaman dibandingkan jika kita melakukannya. Dan seharusnya, alasan
kuat pertama untuk memiliki pola hidup sehat adalah karena Allah
menginginkannya. Alasan penting berikutnya bisa kita tentukan sendiri.
Apakah untuk keluarga, diri sendiri, panggilan hidup, atau alasan lain. Patut
disayangkan, jika karena gaya hidup yang tidak sehat, karya kita terhambat
karena penyakit degeneratif. Penyakit degeneratif adalah penyakit yang
menyebabkan terjadinya kerusakan atau penghancuran terhadap jaringan
atau organ tubuh karena gaya hidup tidak sehat dan didukung oleh faktor
usia. Misalnya, diabetes, penyakit jantung, serangan jantung dan stroke.
Setelah memutuskan mau berusaha hidup sehat, kita harus paham
tentang gaya hidup sehat dengan mengumpulkan informasi yang akurat
dan inspiratifyang dapat dipraktikkan langsung. Fokus pada gaya hidup
sehat akan membuat kita akan terdorong untuk mencari semua informasi
yang dibutuhkan terkait ilmu dan keterampilan untuk melakukannya.

Gaya hidup sehat adalah kombinasi:


1. Makan sehat
Memilih makanan yang sehat untuk dimakan. Nutrisinya lengkap dan
seimbang komposisinya. Makan dengan nutrisi lengkap adalah
mengandung karbohidrat, protein, vitamin, lemak, mineral, air.
Kiatnya adalah:
* Menukar karbohidrat sederhana menjadi karbohidrat kompleks.
Karbohidrat sederhana adalah semua karbohidrat yang terasa manis
di mulut dan mudah diserap tubuh seperti gula pasir, tepung roti, mi
instan, minuman manis dan nasi putih. Karbohidrat kompleks lebih
lambat diserap tubuh, misalnya nasi merah, pasta, roti gandum.
* Makan buah dua kali sehari sebagai snack dan tidak di malam hari.
Lebih baik jika makan buah tanpa dijus, bisa dikombinasi dengan
oats, susu skim, dan kacang-kacangan sehat. Menu kombinasi favorit
saya adalah overnight oats.
* Mengolah makanan dengan tidak digoreng. Menggoreng makanan
akan merusak komposisi nutrisi di makanan, bukannya mendapatkan
manfaat, malah meningkatkan resiko stroke, kegemukan, dan masih
banyak lagi. Dengan mengonsumsi makanan yang digoreng, kita
sama saja seperti melukai tubuh sendiri karena terjadi inflamasi atau
peradangan di tubuh (karena efek omega 6). Lebih baik mengolah
makanan dengan mengukus, menumis, memanggang atau merebus
atau untuk sayur-sayuran tidak dimasak terlalu lama karena
fitonutrisinya akan hilang. Dengan kekayaan informasi sekarang, kita
bisa tetap mengolah makanan sehat dan tetap enak.
* Jika memasak sendiri, sedapat mungkin makan dari sumber protein
segar bukan olahan (nugget, bakso, dan makanan sejeninsya).
Memasak protein sebaiknya menghindari menggunakan teflon
karena akan merusak struktur protein di makanan. Pilihlah yang
menggunakan stainless steel, kaca atau air fryer, oven.
* Mengonsumsi protein dengan porsi lebih banyak dari karbohidrat.
Protein pada ikan lebih cepat bisa diserap dari daging. Untuk
memiliki metabolisme sehat yang bisa membakar kalori lebih banyak,
sebaiknya konsumsi protein yang sesuai kebutuhan tubuh.
* Makan tiga kali sehari sesuai waktu makan tiap hari. Dengan tidak
melewatkan waktu makan, badan kita akan melakukan proses
metabolisme lebih lama.
* Tambahkan menu harian dengan suplemen nutrisi penunjang
tubuh yang aman dan mengandung multivitamin, mineral,
mikronutrisi dan antioksidan. Suplementasi kita perlukan karena kita
sudah harus sadar bahwa nutrisi dari makanan sehari-hari tidak akan
cukup untuk memenuhi nutrisi ideal tubuh.
2. Olahraga
Olahraga penting dan manfaatnya banyak. Olahraga rutin minimal 30
menit, 3 kali seminggu.
Kiatnya adalah olahraga sesuai kebutuhan kesehatan dan tujuan yang
ingin dicapai. Jika tujuannya kesehatan jantung dan pernapasan, tipe
cardio akan sangat baik. Jika ingin membakar lemak tubuh, sebaiknya
lakukan olahraga khusus pembakaran lemak (kita bisa memilih HIIT: high
-intensity interval training), plank atau kombinasi cardio HIIT. Sejak rutin
berolahraga di rumah minimal 5 menit sehari selain badan jauh lebih fit,
lemak tubuh berkurang dan kulit lebih cerah.
3. Istirahat cukup
Istirahat cukup sangat penting untuk pemulihan sel-sel tubuh dan
jaringan. Pada beberapa orang, tidur terlalu larut menyebabkan
kegemukan karena fungsi hormon tidak optimal akibat lever yang tidak
bekerja optimal.
4. Pikiran sehat
Pikiran yang sehat sangat penting dengan manajemen stres. Jika saya
stres, tiga hal sederhana yang bisa dilakukan adalah berdoa, mendengar
musik, dan tertawa. Stres tinggi akan menyebabkan hormon stres terus
tinggi sepanjang hari dan hal ini akan merusak metabolisme nutrisi di
tubuh.
5. Aktivitas sehat, komunitas sehat
Dengan membiasakan melakukan aktivitas sehat. Salah satunya
adalah mandi matahari pada pagi hari. Jalan bersama anak atau
pasangan atau sekadar ikut komunitas sehat.
Dengan memiliki komunitas yang juga pola hidup sehat, kita pun akan
termotivasi untuk menjalankan pola hidup sehat.
Coram Deo
Hidup di Hadapan Allah Sebagai Pelayan
oleh Eunika Rukmi
Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal,
jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka,
melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu
seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia
(Kol. 3:22-23)

Setelah bertobat dan menjadi Kristen, menjadi seorang hamba atau pe-
layan adalah sebuah identitas. Its our being. Hal itu tidak berubah ketika
kita keluar dari kampus dan menjadi seorang alumni.
Seperti ketika saya masih menjadi mahasiswa dan mengikuti kelompok
kecil, menjadi murid adalah being dan identitas saya. Melayani menjadi
pengejawantahan dari hidup saya sebagai seorang murid. Lantas bagaimana
kita melayani pada saat itu? Sebagian besar dari kita melayani dalam
konteks aktivitas persekutuan dan melalui studi kita.
Jika kita hidup dengan konsep coram Deo, hidup di hadapan Allah,
seperti yang dikemukakan dalam Kolose 3: 23berbuat segala sesuatu un-
tuk Tuhanmaka pertanyaan haruskah saya melayani menjadi sebuah per-
tanyaan yang sifatnya retorik.
Sesungguhnya coram Deo adalah esensi dalam hidup Kekristenan.
R.C. Sproul menulis, coram Deo berarti hidup dan berada di hadirat, atau di
hadapan Tuhan. Coram Deo berarti menyadari kehadiran Allah dalam hidup
kita dan menyadari bahwa hidup kita disetir oleh visi dan otoritas Allah,
untuk kemuliaan-Nya. This is the big idea of a Christian life.
Apakah dengan bekerja saya sudah melayani? Dengan konsep coram
Deo, maka semua hal adalah pelayanan. Saya, dan kita juga, tidak bisa lagi
mengotak-kotakkan bahwa yang ini pelayanan dan yang itu bukan. Peker-
jaan yang dianugerahkan kepada kita tentu merupakan sebuah pelayanan.
Tempat kerja adalah ladang yang Tuhan berikan kepada kita untuk digarap.
Perilaku dan etika bekerja kita menjadi penting karena mencirikan
identitas kita sebagai seorang Kristen, sebagai seorang pelayan. Kita mem-
berikan yang terbaik, di tengah deadline, tekanan atasan, cibiran rekan kerja,
hanya karena kita sadar bahwa sebenarnya kita sedang bekerja buat Tuhan.
Tidak ada lagi pikiran untuk mengorupsi waktu, uang, atau fasilitas karena
tempat kerja kita pun tidak luput dari hadirat Allah.
Mungkin, pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik dan kadang
membuat gusar adalah: Apakah saya harus melayani secara khusus atau
kembali melayani di persekutuan mahasiswa? Bagaimana saya sebagai
alumni dapat menentukan pelayanan yang strategis untuk saya? Bagaimana
dan di mana Tuhan ingin saya berkarya sebagai pengejawantahan dari iden-
titas saya sebagai pelayan-Nya?
Prinsipnya sama seperti ketika kita mencari panggilan hidup atau
pekerjaan. Saya pernah diajar untuk menganalisis tiga aspek panggilan, yaitu
heart call, talent call, dan providential call. Heart call berbicara tentang se-
buah hal yang menjadi kerinduan hati kita, sesuatu yang membuat hati kita
tergerak seketika. Talent call berbicara tentang hal-hal yang terampil kita
kerjakan, yang sering kali mengundang pujian dari orang-orang di sekitar
kita. Di sisi lain, providential call adalah sesuatu yang sering kali ditaruh
atau diarahkan Tuhan dalam jalan hidup kita, tanpa kita mengerti.
Mendapatkan dan memahami ketiga aspek panggilan tersebut terkadang
tidak mudah, terlebih lagi mencari irisan di antaranya. Terkadang ketiga
aspek itu menyatu dan berkaitan satu sama lain sehingga kita dengan
mudah mengetahui panggilan kita. Namun, sering pula ketiga aspek itu tid-
ak berkaitan sama sekali. Lalu, mungkinkah kita mengabaikan salah satu
aspek tersebut?
Jawabannya, mungkin. Pada akhirnya, ada tiga hal yang menajamkan
ketiga aspek tersebut: doa, firman Allah, dan komunitas. Bagi saya, sah-sah
saja jika pada saat tertentu kita menjalani salah satu dari ketiga aspek
tersebut, jika jelas tuntunan Tuhan mengarahkan kita untuk berjalan ke sana.
Ingatlah kisah bagaimana Saulus dan Barnabas diutus dalam Kisah Para
Rasul 13? Keduanya diutus oleh jemaat ketika mereka mendengar suara
Tuhan saat sedang berada di tengah persekutuan. Itulah gunanya gereja
atau komunitas, untuk menajamkan panggilan agar apa yang kita lakukan
memang benar sesuai dengan kehendak Tuhan. Komunitas adalah tempat
berbagi di mana pembentukan Tuhan terjadi. Manusia tidak pernah dibentuk
sendirian. Manusia dibentuk dalam sebuah komunitas.
Sejak saya lulus hingga sekitar satu tahun lalu, saya tidak memiliki satu
bentuk pelayanan gerejawi atau pelayanan dalam komunitas Kristen di mana
saya fokus dan terus-menerus mengerjakannya. Pelayanan yang sering saya
lakukan adalah terlibat sebagai panitia camp dan konferensi. Pelayanan
semacam itu berjangka waktu pendek dan sering kali susah untuk diteruskan
menjadi pelayanan lainnya.
Bukan berarti saya tidak mensyukuri dan menikmati pelayanan semacam
itu. Tentu saya menikmati pelayanan-pelayanan musiman seperti itu karena
selalu ada pengalaman, teman baru, percakapan, dan permasalahan yang
kemudian menjadi berkat rohani dan mendewasakan iman serta karakter
saya.
Akan tetapi, sejak setahun lalu, saya dan suami diperhadapkan tentang
isu pemuridan di gereja. Suatu waktu, saya dan suami diundang mengikuti
beberapa sesi kelas pemuridan di gereja. Di sana, kami diperkenalkan
tentang sebuah konsep yang disebut intentional disciple-making church,
sebuah konsep di mana aktivitas gereja difokuskan pada pemuridan.
Di situlah kami sadar betapa jauhnya kesenjangan antara gereja dan pela-
yanan mahasiswa mengenai isu pemuridan.
Banyak hal mengenai pemuridan yang merupakan hal yang baru untuk
para aktivis gereja sementara saya dan suami sudah bertahun-tahun
mengenal pemuridan sejak kami dibina sebagai mahasiswa. Kami berdua
adalah produk pemuridan itu sendiri. Ketika kampus sedang memperta-
nyakan mengapa pemuridan menurun, mengapa kelompok kecil semakin
sedikit, gereja baru sadar bahwa mereka seharusnya melakukan hal ini.
Kemudian, dengan sedihnya, kami mendengar cerita para hamba Tuhan
yang ketika masih menjadi mahasiswa sekolah teologi, merasa tidak pernah
dimuridkan. Bagaimana cara kami memuridkan kalau kami tidak pernah
dimuridkan? tanya mereka. Hal itu membuat saya sadar, inilah momen di
mana alumni Kristen yang telah dibina dalam persekutuan mahasiswa dan
menjadi produk dari pemuridan, turun ke gereja dan menggerakkan gereja
untuk mengerjakan pemuridan itu sendiri.
Saya teringat suatu hari diminta untuk melayani seorang remaja putri di
gereja yang mengalami masalah terkait lawan jenis. Dari cerita remaja putri
tersebut, saya melihat betapa pemuridan penting bagi dia dan teman-
teman sebayanya karena pergaulan di dunia sudah sedemikian gawat dan
hancur. Betapa strategisnya bila dia semenjak masa remajanya dibina
dengan baik dalam sebuah kelompok kecil.
Sebagian besar remaja di gereja saya berasal dari keluarga dengan
tingkat ekonomi baik. Mereka mendapatkan pendidikan terbaik, dikuliahkan
di luar Indonesia di universitas-universitas terbaik dunia dan kembali ke
Indonesia untuk mewarisi posisi pengambil keputusan. Betapa strategisnya
jika mereka menyerahkan diri sebagai murid Tuhan sejak remaja dan
tumbuh menjadi intelektual-intelektual Kristen yang takut akan Tuhan.
Bayangkan akan semakin banyak Ahok di negara ini, yang menganggap
mati adalah keuntungan dan hidup adalah untuk Kristus. Begitu banyak pe-
rubahan yang bisa dilakukan oleh anak-anak ini. Namun, siapa yang mau
mengerjakan pemuridan untuk mereka di gereja?
Seperti yang digambarkan C.S. Lewis dalam buku Mere Christianity, kita
sekarang sedang berada dalam sebuah selasar yang dikelilingi oleh banyak
pintu. Di balik sebuah pintu, ada tujuan hidup yang Tuhan telah rancangkan
untuk kita. Di selasar inilah kita bernyanyi-nyanyi Be Thou My Vision.
Dengan serius, kita mencari pintu mana yang harus kita buka. Namun, ketika
sudah melangkah masuk ke dalam salah satu pintu, tentu lagu nyanyian
harus berubah menjadi Jalan salib perlulah korban, srahkan semua pada
Hu. Begitu visi dan panggilan sudah ditemukan, di situlah medan
pertempuran kita.
Pelayanan diperlukan alumni bukan karena alumni perlu menjaga diri
supaya tidak jatuh semakin mirip dengan dunia. Menurut saya, seseorang
yang sadar betul identitasnya adalah seorang pelayan yang hidup terus-
menerus di hadapan Tuhan tidak akan punya waktu untuk memikirkan hal
lain selain visi yang diberikan Tuhan kepadanya. Dengan demikian, peran
komunitas adalah untuk terus menajamkan visi dan menjadi penolong
dalam pertempuran tersebut.
Pernikahan Kristen
oleh Avia Destimianti

Sacha Stevenson adalah seorang youtuber asal Kanada yang terkenal


dengan video-video lucunya mengenai kesehariannya di Indonesia. Video
seri terbarunya yang berjudul "Nasib saya Nikah" berisi parodi kehidupan
pernikahannya dengan Angga suaminya. Di video ke-6, Sacha bercerita
mengenai ekspektasi yang dimiliki masyarakat Indonesia tentang
bagaimana seorang istri seharusnya bersikap. Sacha akhirnya berkesimpulan
bahwa kalau perannya dibalik, yaitu jika Angga adalah bule-nya dan Sacha
adalah orang Indonesia, maka hubungan mereka akan lebih baik.
Menurutnya, sebagai perempuan Indonesia dia akan tumbuh besar dengan
didikan untuk mematuhi dan melayani suaminya, sedangkan Angga akan
dididik untuk menghormati kesetaraan gender.
Sambil tertawa saya berpikir, Seharusnya Sacha tidak perlu berandai-
andai bertukar kebangsaan dengan suaminya, karena relasi suami istri ideal
seperti yang ia inginkan sudah ada di Alkitab." Saya langsung membuka
Efesus 5:21-33 dan tertarik pada judul perikop terjemahan NIV yaitu
Instruction for Christian Household yang seakan menegaskan bahwa
perikop ini adalah manual bagi rumah tangga Kristen. Pada perikop ini
dijelaskan bagaimana suami dan istri seharusnya berelasi satu sama lain
dengan Kristus sebagai dasarnya. Seandainya mereka tahu mengenai harta
karun ini...
Sebagai seorang yang terlahir dari keluarga tidak utuh dan bukan
Kristen, saya sangat bersyukur Tuhan Yesus berkenan menyatakan diriNya
sebagai Tuhan dan Juru Selamat serta secara bertahap menebus konsep
saya tentang perempuan dan pernikahan. Selama 11 tahun menikah, saya
menyaksikan bagaimana Firman Tuhan adalah satu-satunya landasan yang
kokoh dalam membangun Rumah Tangga.
Cara berpikir (worldview) akan menentukan setiap pilihan dan langkah
hidup yang kita ambil. Pertanyaannya adalah, apa sumber utama yang
mempengaruhi cara kita berpikir? Apakah tradisi keluarga atau bahkan
ask.fm? Kolose 2:8 mengatakan Hati-hatilah, supaya jangan ada yang
menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran
turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus. Sebagai
pengikut Kristus kita harus memakai kaca mata Kristus dalam melihat segala
sesuatu termasuk ketika mencari pasangan dan menjalani pernikahan
Kristen. Satu-satunya cara agar dapat memakai kacamatanya Kristus adalah
dengan mengakar pada FirmanNya.
Saya ingin berbagi mengenai bagaimana saya dan suami membangun
pernikahan berdasarkan Firman Tuhan, dimulai dari bagaimana kami berdua
memilih satu sama lain dan bagaimana kami menjalani pernikahan.

Mencari pasangan
1. Tujuan pernikahan
Dunia akan mengatakan berbagai macam alasan untuk menikah, mu-
lai dari supaya dapat keturunan sampai sudah umurnya. Firman Tuhan
menggambarkan tujuan pernikahan yang indah di mana melalui
pernikahan, pasangan bisa saling melayani kemudian bersama mereka
melayani orang lain. Dengan demikian dunia yang belum percaya dapat
menyaksikan gambaran nyata hubungan Kristus dengan gerejaNya
(Ef 5:22-33).

2. Kriteria memilih pasangan


Jika sudah paham tujuan pernikahan maka kriteria kita dalam
memilih pasangan juga akan menyesuaikan. Pertama, pada 1 Sam 16:7
kita dapat melihat bagaimana manusia melihat rupa, tapi Tuhan melihat
hati. Habiskan waktu untuk mengenali hati dan karakter seseorang se-
bagai bahan pertimbangan memilih pasangan. Tentu daya tarik perlu
ada tapi jangan hanya fisik yang menjadi faktor penentu utama
melainkan hati yang takut akan Tuhan (Ams 31:30). Kedua, seiman itu
minimal, lebih jauh lagi ia harus dapat diajak berlari bersama memenuhi
panggilan Tuhan Yesus.

Menjalani pernikahan
1. Pembagian peran dan persiapan menjadi orangtua
Ketika kita disatukan dalam penikahan maka kita tidak lagi dua tapi
satu dalam mencapai tujuan pernikahan yang Tuhan tetapkan. Artinya
suami istri memiliki panggilan yang sama dan dipenuhi melalui peran
yang saling melengkapi. Panggilan utama kita sebagai pengikut Kristus
bukanlah profesi melainkan the great commandment (Mrk 12:30) dan
the great commission (Mat 28:19-20).
Pernikahan sudah lengkap jika terdiri dari suami dan istri
(Kej 1: 27-31). Anak adalah tambahan dan anugerah sekaligus amanat
yang harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Di Ulangan 6: 4-9
orang tua dimandatkan untuk memuridkan anak secara menyengaja dan
terus menerus. Saya dan suami dianugerahi seorang anak dan kami
belajar untuk menjalankan mandat ini dengan serius. Kami membuat
kesepakatan bahwa salah satu dari kami bekerja dari rumah, kami
bahkan memutuskan untuk homeschool anak kami.
Awalnya saya mengalami pergumulan yang begitu berat ketika harus
bekerja dari rumah. Karena tumbuh merasa tidak dikasihi, saya melihat
karir sebagai identitas dan sumber nilai diri, bahkan bersembunyi di
balik kata "panggilan." Hal ini membuat saya mengevaluasi lagi seluruh
perspektif hidup saya. Apakah melakukan kehendak Tuhan Yesus lebih
penting dari karir? Saya terus diingatkan bahwa panggilan utama saya
adalah menjadikan segala bangsa murid-Nya, diawali dengan
menjadikan anak saya murid Kristus. Kami berdua berbagi peran dalam
memuridkan anak kami.

2. Penyelesaian Konflik
Ada beberapa prinsip yang kami pelajari. Pertama, jangan menuntut
pasangan untuk membuat kita bahagia karena tuntutan itu hanya dapat
dipenuhi oleh Kristus. Paulus di Filipi 4: 12 mengatakan "... aku telah
belajar rahasia hidup berkecukupan..". Menarik bahwa hidup
berkecukupan (contentment) adalah sesuatu yang harus dipelajari. Oleh
karena itu, tekunlah belajar hidup berkecukupan di dalam Kristus dalam
segala keadaan maka sukacita akan terus mengalir memenuhi rumah
tangga. Kedua, jadilah proaktif bukan reaktif. Ada banyak hal yang
sebaiknya disepakati bersama di awal pernikahan, misalnya interaksi
dengan keluarga besar, pengelolaan keuangan, metode pendidikan
anak, dsb. Ketiga, setiap ada konflik datanglah pada Tuhan Yesus lebih
dulu. Jika kita setia membaca Firman Tuhan, Roh Kudus akan menarik
deposito Firman Tuhan itu untuk mengajar kita (2 Tim 3:16).

3. Pelayanan bersama
Tuhan membentuk pernikahan agar menjadi saksi dan pelayan dalam
memberikan gambaran mengenai hubungan Kristus dengan gerejaNya
pada masyarakat sekitar. Oleh karena itu, setiap pasangan harus
memiliki mentalitas melayani. Setiap kegiatan yang dilakukan,
pengelolaan uang, dan interaksi dengan orang lain adalah dalam rangka
membe-ritakan tentang Tuhan Yesus kepada dunia sedang mengamati.
Saya dan suami mengusahakan sebisa mungkin melayani bersama, baik
itu di rumah (mengerjakan chores), gereja, persekutuan, maupun di
masyarakat. Setiap pelayanan juga merupakan sarana pemuridan anak
kami untuk menunjukkan seperti inilah Firman Tuhan diaplikasikan.

Kembali pada Sacha dan Angga. saya berdoa agar pernikahan Saudara
dan saya dapat menjadi saksi untuk saudara-saudara seperti mereka yang
belum mengenal Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat serta belum
mengetahui harta karun yang tersembunyi di setiap Firman Tuhan. Teruslah
setia membangun keluarga yang berakar pada Firman Tuhan karena
keluarga kita adalah etalase yang menampilkan kehidupan keluarga di
mana Tuhan Yesus bertahta di atasnya dan gambaran bagaimana interaksi
Kristus dengan jemaatNya. Selamat membangun keluarga dan menjadi saksi
Kristus bagi dunia!
Menjadi Terang bagi Bangsa
oleh Hariman Theofilus Aaroozatulo Harefa

Saya awali refleksi pribadi ini dengan menjelaskan status saya sebagai
PNS yang bekerja di Kementerian Luar Negeri. Dalam hitungan
pengalaman bekerja di suatu institusi, saya termasuk baru memasuki fase
pertama. Dengan asumsi masa kerja di pemerintahan berkisar antara
25 - 30 tahun, maka usia kerja saya yang baru memasuki tahun kedelapan
belum banyak memberi pengaruh yang besar. Dalam jabatan dan secara
hierarki kelembagaan, posisi, kewenangan dan tanggung jawab saya pun
belum seberapa. Sebagai salah seorang alumni PO UI yang bekerja di
sektor yang dianggap berpengaruh bagi banyak orang (baca: bangsa)
izinkan saya menyoroti beberapa hal.

Bergumul seperti apa?


Slogan menjadi terang bagi bangsa sudah tidak asing lagi bagi
mahasiswa dan alumni PO UI. Setidak-tidaknya dalam rangkaian ibadah
persekutuan besar seperti PJ, PUI maupun persekutuan antarkampus akan
ada satu atau dua ibadah mengangkat tema ini maupun variasinya.
Di dalam kelompok kecil maupun persekutuan doa pergumulan tentang
bangsa juga dibahas dan didoakan. Pun bagi orang Kristen Indonesia pada
umumnya, pergumulan kebangsaan turut dibahas di mimbar dan menjadi
pokok doa bersama.
Sesungguhnya pergumulan di atas tidak semata-mata menjadi milik PO
UI maupun orang Kristen saja. Dalam bahasanya masing-masing,
pergumulan ini juga menjadi agenda rekan-rekan kita baik di perkumpulan
keagamaan maupun politik di kampus dan masyarakat. Bagi sebagian
rekan kita yang radikal, kebaikan bangsa hanya akan tercapai apabila
golongannya berkuasa dan tidak memberi ruang bagi kebinekaan.
Lantas apa yang menjadi keunikan pergumulan kebangsaan orang
Kristen dan secara khusus pribadi-pribadi binaan PO UI? Pertama, saya
berkeyakinan bahwa setiap orang Kristen tidak hanya didamaikan dengan
Allah oleh Yesus Kristus, tetapi juga diberikan tanggung jawab untuk
mengambil bagian dalam menghadirkan karya keselamatan Allah di dunia.
Karya keselamatan ini tidak semata-mata dilihat dari segi spiritual. Dalam
banyak kesempatan, firman Allah melalui para nabi kerap memberikan
sorotan terhadap ketidakadilan sosial di tengah-tengah kehidupan umat
Allah. Para Rasul pun dalam pelayanan penginjilan tidak melupakan pela-
yanan meja. Secara khusus saya sangat terkesan ketika Tuhan Yesus mem-
beri makan 5.000 orang. Kamu harus memberi mereka makan! (Mrk. 6:37).
Itulah perintah Yesus, ketika para murid kebingungan (dan mungkin juga
enggan) ketika melihat banyak orang telah kenyang akan Firman, namun
menderita kelaparan secara fisik. Dengan demikian saya meyakini bahwa
orang Kristen harus terlibat juga dalam pergumulan sosial dan fisik di
sekelilingnya.
Kedua, pada bagian awal saya menggunakan frasa banyak orang untuk
menggantikan bangsa. Mengapa? Saya meyakini bahwa pergumulan orang
Kristen tidak boleh dibatasi oleh semata-mata semangat kebangsaan.
Tanggung jawab Kristen melebihi status kewarganegaraan seseorang.
Negara dan bangsa merupakan entitas politik yang berganti rupa sepanjang
sejarah dan dikendalikan oleh kepentingan pihak-pihak yang berkuasa. Kita
saat ini hidup di era pemerintahan yang memiliki tujuan-tujuan yang secara
relatif baik. Agak mudah untuk mengasosiasikan pergumulan menjadi
terang bagi bangsa dengan jalan mendukung tujuan-tujuan negara saat ini.
Namun, coba bayangkan seandainya kita hidup di tengah rezim yang
kepentingannya buruk dan mengancam kemanusiaan secara umum.
Menjadi terang bagi bangsa bukan berarti mendorong keinginan rezim
di bawah bendera kepentingan nasional. Mengabdi bangsa merupakan
alat pelayanan yang lebih luas.
Bekerja di mana?
Antara pergumulan (baca: idealisme) dan kenyataan hidup sering kali
tidak selaras satu sama lain, termasuk bagi mahasiswa dan alumni binaan
PO UI. Macam-macam faktor menjadi pertimbangan dalam memilih
pekerjaan. Saat ini saya rasa pergumulan orang Kristen bukan semata-mata
ketiadaan alumni Kristen di posisi yang strategis. Mahasiswa binaan PO UI
rasa-rasanya selalu menjadi incaran HRD instansi negeri dan swasta. Alumni
PO UI juga sudah banyak yang menempati jabatan-jabatan bergengsi.
Masalah yang tidak kalah penting saat ini adalah kualitas. Kualitas tersebut
adalah bagaimana seorang alumni Kristen dapat bertahan dari pengaruh
yang dapat mengikis cita-citanya, terus berjuang, dan pada gilirannya dapat
memengaruhi lingkungannya.
Sebelum lebih jauh, pertanyaan yang juga penting untuk dijawab yaitu
bagaimana kita mendefinisikan posisi strategis? Dalam pengandaian di
medan laga, posisi strategis adalah posisi di mana pihak yang
menguasainya bisa mendapatkan keunggulan sehingga dapat
memengaruhi jalannya pertempuran. Bila dihubungkan dengan pergumulan
kebangsaan, kita tentu perlu mengenali mana posisi-posisi yang dapat
mendorong kemajuan pergumulan menerangi bangsa.
Ada sebagian orang menilai bahwa posisi-posisi strategis ini letaknya di
jabatan pemerintahan, elite korporasi, yang eksposurnya luas dan tanggung
jawabnya besar. Saya sendiri cenderung meyakini bahwa setiap alumni,
bahkan mahasiswa, dapat memberikan kontribusinya sebagai pelita di
berbagai profesi yang dipilih dan dijalani. Ada begitu banyak medan laga
yang perlu dimenangkan. Dalam kenyataannya juga, tidak semua orang,
termasuk alumni PO UI, mendapatkan kesempatan untuk menduduki jab-
atan-jabatan tersebut. Selain itu tidak semua alumni PO UI bisa
mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keinginannya karena berbagai faktor
dan bisa jadi memang ada panggilan lain.
Saya memasuki lembaga di mana saya mengabdi saat ini pada awalnya
dengan cita-cita besar yaitu berperan bagi peningkatan kesejahteraan
masyarakat melalui peran diplomasi yang bebas aktif utamanya di bidang
lingkungan hidup. Seiring berjalannya waktu, pergumulan dan cita-cita
tersebut pasang surut karena dipengaruhi berbagai hal.
Penempatan di biro yang tidak sesuai bidang, rutinitas kantor dan
ekspektasi yang tidak terpenuhi sempat mengaburkan fokus dan harapan.
Di sisi lain, saya melihat rekan-rekan alumni di posisi-posisi yang mungkin
dianggap tidak strategis justru dapat memberikan terang bagi lingkungan
dan komunitasnya.
Kontras pengalaman ini menyadarkan saya bahwa pergumulan menjadi
terang tidak berhenti ketika harapan dan ekpektasi tidak selaras. Justru hal-
hal tersebut mendorong diri untuk senantiasa menguji pergumulan dan
komitmen. Sekadar posisi strategis belum tentu memberikan kemampuan
bagi seseorang menjadi terang. Bagi alumni menyasar posisi strategis di
bidang apa pun perlu diuji apakah sekadar pencapaian pribadi atau
memang demi menjadi terang.

Supaya tetap fokus


Terlepas dari posisi strategis atau tidak, setiap alumni POUI yang
bergumul perlu ditantang untuk keluar dari kenyamanan. Bekerja dengan
penuh komitmen karena tuntutan dinas/perusahaan/kantor memang baik,
tetapi ada masa-masa di mana seseorang perlu bersikap jika hal yang
dituntut tidak sesuai dengan pergumulannya. Perasaan takut tidak diterima
lingkungan pergaulan atau terhambat dalam karier adalah batu ujian.
Rutinitas sangat mungkin mengaburkan fokus dalam kehidupan alumni.
Proses kerja yang sudah membudaya di tempat kerja dapat memengaruhi
semangat dan komitmen. Memang tidak semua dapat kita ubah. Perlu
kesabaran dan ketulusan bekerja di tempat strategis yang sudah terbiasa
tidak peka terhadap kebutuhan masyarakat. Sejauh ini saya selalu berusaha
memberikan gagasan kepada pimpinan walaupun saya tahu belum tentu
hal tersebut diterima. Namun, saya sadar juga bahwa ada orang-orang
terlepas dari latar belakang dan kepentingannya masing-masingmasih
mau memperjuangkan hal-hal yang baik untuk masyarakat. Kepada orang-
orang inilah saya berdiskusi, menularkan gagasan dan bekerja bersama.
Saya pun membuka diri terhadap gagasan-gagasan rekan lain, menajamkan
dan mengasah apa yang menjadi pergumulan saya. Setiap kesempatan
untuk interaksi sangat berharga.
Hal yang paling utama dari komitmen menjadi terang adalah
bergantung kepada sumber terang itu sendiri. Ketika segalanya terasa ker-
ing dan semangat menjadi redup, itu adalah saatnya untuk mengisi pelita.
Menjadi terang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan pribadi sebagai
seorang Kristen yang terlebih dahulu dan terus-menerus diubah oleh
Kristus. Saya sendiri pernah mengalami kekeringan rohani karena pernah
berada di situasi yang sangat nyaman. Memang secara fisik saya masih ber-
ibadah, namun tidak menjaga kerinduan untuk berdoa maupun me-
renungkan Firman Tuhan. Melalui sebuah teguran dalam hidup, saya belajar
untuk kembali berlari di perlombaan iman saya.
Teman-teman sesama alumni juga menjadi penolong dalam pergumulan
sebagai terang. Melalui kehadiran rekan-rekan yang juga bergumul untuk
menjadi berkat bagi sesama, kami saling mengasah dan memperkaya visi,
gagasan dan saling menyemangati. Kita tidak pernah tahu rencana apa yang
ada di depan. Namun, kehadiran saudara se-KK, KTB, atau pasangan
merupakan harta berharga yang Tuhan berikan kepada saya (dan rekan-
rekan lainnya) dalam menggumuli panggilan itu.

Penutup
Pada bagian akhir ini, saya kembali menegaskan bahwa pengalaman dan
kedewasaan saya masih harus terus diperkaya dan diuji. Akan tetapi, dari
pengalaman yang masih hijau ini, saya dengan yakin mengatakan bahwa
pergumulan menjadi terang bagi bangsa adalah pergumulan setiap orang
Kristen Indonesia dan secara khusus mahasiswa dan alumni binaan PO UI.
Menjadi terang bagi bangsa bukan hanya pelayanan sebagian orang, tetapi
secara bersama dikerjakan oleh Tubuh Kristus di Indonesia.
Para mahasiwa dan alumni PO UI merupakan orang-orang yang telah
diberikan anugerah fisik dan spiritual sehingga memiliki kewajiban untuk
menjadi terang bagi sekelilingnya. Tidak mesti kumpulan orang-orang
terpilih ini mencari tempat-tempat strategis. Di mana pun, selama visi dan
komitmen iman seseorang kuat, maka dia akan dipakai Tuhan bagi
bangsanya. Bagi yang serius menggumuli untuk masuk ke berbagai
bidang yang berhubungan dengan kekuasaan, jalannya memang tidak
mudah, tetapi bukan berarti mustahil.
Terakhir, menjadi terang tidak mungkin dilakukan sendiri-sendiri. Ruang
yang sangat gelap akan menjadi terang apabila sumber-sumber cahaya,
besar dan kecil, disatukan. Bangun dan pelihara hubungan antara orang-
orang yang punya visi yang sama. Jangkau mereka yang potensial untuk
diajak berjuang! Dan yang terutama selalu bergantung kepada sumber
cahaya utama kita dalam persekutuan pribadi yang erat dengan Kristus.
Quo Vadis
PO UI
C ATATAN R EDAK SI
Dua tulisan mengenai "Quo Vadis PO UI" berasal dari dua alumni
beda generasi yang sama-sama menikmati pelayanan di PO UI.
Meski tidak "janjian" sebelumnya, keduanya sama-sama membuka
dengan kalimat yang sama yaitu "pertanyaan Quo Vadis
mengandung arti yang selalu sulit untuk dijawab".
Redaksi juga setuju bahwa pertanyaan "Quo Vadis" sukar dijawab
sehingga kami sengaja menempatkannya di bab paling belakang.
Namun kesulitan menjawab bukan semata-mata menjadi alasan
penempatan bab ini di bagian paling akhir buku --maupun alasan
memberikan tempat bagi dua penulis untuk menuangkan
gagasannya.
Alasan paling utama adalah agar buku ini bukan menjadi hasil
akhir perjalanan 50 tahun Persekutuan Oikumene
Universitas Indonesia, melainkan menjadi langkah awal bagi
PO UI untuk bertindak sesuai dengan panggilan yang
mula-mula diberikan Tuhan.
Tulisan pertama membahas dengan padat bagaimana "quo vadis"
menjadi titik balik PO UI mengalami intervensi Allah mengerjakan
misi-Nya. Sementara tulisan kedua menuturkan dengan terang
bagaimana "quo vadis" menjadi momentum bagi PO UI untuk
mengambil langkah strategis dalam bersekutu bagi bangsa ini.
Tujuannya hanya satu: agar nama Tuhan dimuliakan.
Quo Vadis PO UI?
oleh Ardhi Poerwoko

Quo vadis? adalah pertanyaan yang terkadang sulit dijawab karena


beberapa alasan. Biasanya jawaban dari pertanyaan ini akan menuntut
perubahan yang luar biasa karena kondisi saat ini begitu buruk sehingga
perubahan dramatis, menyeluruh, dahsyat, bahkan mungkin perombakan
total sangat diharapkan terjadi pada masa depan.
Namun,Quo vadis? juga sulit dijawab karena merasa tak perlu
ditanyakan mengingat merasa saat ini semuanya baik-baik saja. Kesulitan
menjawab Quo vadis? karena bingung siapa yang berhak menentukan
jawaban paling benar dan tepat agar perubahan itu dimungkinkan. Jadi
secara umum ketika seseorang ditanya tentang quo vadis, maka
jawabannya akan sulit. Penyebabnya, jawaban pertanyaan ini mengacu pada
masa depan, suatu perubahan, suatu kebaruan. Menurut saya inilah konsep
yang banyak dipikirkan orang tentang quo vadis.
Terkadang saya berpikir, jangan-jangan belum banyak warga jemaat
yang mengerti dengan utuh konsep Quo vadis? Jangan-jangan
Quo vadis? bukan tentang visi, namun tentang setia kepada panggilan?
Mengambil pemahaman dari wikipedia, quo vadis (Classical Latin:
[ko wadis], Ecclesiastical Latin: [ko vadis]) adalah satu kalimat dalam
bahasa Latin yang terjemahannya secara harfiah berarti: Ke mana engkau
pergi? Kalimat ini adalah terjemahan Latin dari petikan bagian apokrif kisah
Petrus (Acts of Peter): Tuhan, ke mana Engkau pergi?
Kalimat tersebut menurut tradisi gereja disampaikan Petrus kepada
Tuhan Yesus saat hendak melarikan diri dari misinya yang berisiko akan
disalibkan di Roma. Tuhan Yesus lalu menjawab, Aku hendak ke Roma
untuk disalibkan kembali" (Eo Romam iterum crucifigi). Jawaban Sang Guru
membuat Petrus menyadari panggilannya dan ia pun berbalik kembali
ke Roma. Ia kemudian disalibkan secara terbalik dan menjadi martir di sana.
Dari sejarah dan konteksnyaQuo vadis? ini adalah suatu turning point
bagi Petrus untuk terus menatap ke depan dan setia melakukan peran
penggembalaan, suatu turning point karena intervensi Ilahi yang
memampukan Petrus untuk setia.
Namun, pemahaman quo vadis sering dilepaskan dari sejarah dan
konteksnya, lalu yang tinggal hanya pengertiannya saja: mau ke mana?
Sehinga quo vadis banyak diidentikkan dengan visi. Namun, dalam tulisan
ini saya ingin mengaitkan quo vadis dengan aspek sejarahnya yaitu
bagaimana Petrus dengan intervensi Allah kembali ke Roma untuk mati di
sana, menunaikan tugas penggembalaan yang pernah dipesankan Tuhan
Yesus (lih. Yoh. 21).
Jadi jika ditanya Quo Vadis PO UI?, maka jawaban saya ada dua.
Pertama secara organisme dan kedua secara organisasi. Secara organisme
kiranya banyak alumni dan mahasiswa PO UI bisa mengalami intervensi
Allah sehingga kembali setia mengerjakan misi-Nya yang sudah Dia berikan
ke dalam hati kita masing-masing. Jika Petrus bisa dipulihkan dan kembali
taat, maka Yesus yang sama mampu memulihkan, menguatkan dan
memampukan kita kembali menuju Roma untuk mati di sana.
Quo Vadis PO UI? berarti setialah alumni dan mahasiswa untuk
mengerjakan misi Allah.
Kedua, secara organisasi, mari bersama kita melihat kembali untuk apa
Allah menciptakan PO UI? Untuk misi apa PO hadir di tengah-tengah UI?
Pertanyaan pamungkasnya: apakah setiap generasi mampu memaknai misi
dari Allah dan tetap teguh di tengah beragam tantangan yang ada di UI?
Doa saya, PO UI dapat setia mengerjakan misi-Nya, yaitu memuridkan
kaum intelektual dengan Injil sehingga melalui kehidupan dan karya nyata
alumni dan mahasiswa yang terbina dalam PO UI, orang lain dapat melihat
serta memuliakan Allah.
Akhirnya, saya tutup tulisan ini dengan pertanyaan: Quo Vadis PO UI?
Quo Vadis PO UI?
oleh Peter Jacobs

Pertanyaan Quo Vadis? mengandung arti yang selalu sulit untuk


dijawab dengan tuntas. Pertanyaan Mau ke mana? dalam jangka pendek
tentu mudah dipikirkan. Tetapi, memikirkan ke mana suatu perjalanan
dalam jangka panjang membutuhkan visi dan keberanian serta komitmen
untuk mewujudkannya.
Persekutuan Oikumene Universitas Indonesia (PO UI) lahir dari suatu
kerinduan orang-orang yang ingin melihat anak-anak Tuhan di UI bersatu
untuk mewujudkan visi pelayanan mahasiswa. Visi untuk menghasilkan
mahasiswa Kristen yang pada waktunya menjadi alumni yang dewasa dalam
Tuhan dan dapat menjadi berkat bagi bangsa, negara, masyarakat, gereja,
dan keluarga.
Dalam perjalanan selama 50 tahun POUI telah mengalami banyak
pengalaman. Ada pujian, ada juga kritik. Tak perlu disangkal, ucapan syukur
juga terus dikumandangkan, termasuk evaluasi yang mendorong setiap
individu yang terlibat dalam pelayanan ini memperbaiki capaian yang sudah
ada.
Ada dua hal istimewa ketika seseorang pernah menjadi mahasiswa UI
dan mengalami pembinaan melalui PO UI. Pertama tentu menjadi
mahasiswa UI memberikan kebanggaan sekaligus tekanan bahwa
mahasiswa UI harus istimewa. Kedua, pengalaman tak terlupakan sebagai
mahasiswa Kristen yang mengalami pembinaan atau bahkan bertemu Tuhan
secara pribadi di UI. Disadari atau tidak, PO UI telah menjadi bagian dari
hidup para alumni yang pernah mengalami pembinaan melalui PO UI.
Hasilnya tentu beragam, ada yang berbuah lebat, ada juga yang hanya
tinggal kenangan.
Bagaimanapun, setiap alumni yang pernah dilayani dan melayani di PO
UI tidak akan begitu saja melupakannya. Tetapi, untuk apa mengingat PO UI
kalau tidak berusaha mengingat perannya dan berusaha membuatnya
berarti pada masa yang akan datang?
Tulisan ini mengajak kita merenung dan memikirkan langkah strategis
yang perlu dilakukan agar PO UI menjadi suatu organisme yang
memberikan sumbangsih positif bagi kehidupan mahasiswa dan alumni UI
dan selanjutnya menjadi andalan bangsa ini membangun dirinya.
Sekaranglah waktu yang tepat untuk menggagas suatu pemikiran yang
menempatkan PO UI bukan saja menjadi sarana pembinaan rohani, tetapi
lebih dari itu, menjadi katalisator pembangunan bangsa berdasarkan nilai-
nilai luhur yang diajarkan oleh Tuhan Yesus.
Pada waktu lalu, kata-kata di atas terasa klise karena momentum
pembangunan selalu hanyut dibawa kekuatan berbagai kepentingan yang
sudah menggurita. Tetapi, dengan pemerintahan Presiden Joko Widodo
sekarang, bangsa ini melihat secercah harapan. Ya benar, secercah harapan,
dan kita harus menyiraminya dengan keyakinan supaya harapan tersebut
dapat menjadi kenyataan dan kita semua menjadi bagian di dalamnya.
Satu hal yang harus diwaspadai adalah keengganan untuk beranjak dari
posisi nyaman saat ini ke suatu situasi yang berbeda. Berubah tentu baik,
namun berubah demi perubahan itu sendiri perlu kita waspadai. Artinya kita
jangan asal berubah.
Lalu bagaimana? Baiklah kita mulai dari moto pelayanan mahasiswa
yang sulit untuk dilupakan: Student today leader tomorrow. Semua orang
pasti menjadi pemimpindalam arti memberi pengaruh kepada orang lain.
Masalahnya pengaruh seperti apa yang akan kita berikan kepada generasi
muda kita supaya mereka memanfaatkan momentum besar dalam
pembangunan Indonesia? Seperti Paulus yang berusaha melupakan apa
yang di belakang dan mengarahkan diri kepada apa yang di depan,
mengejar dan berusaha mencapai tujuan yaitu panggilan surgawi
(lih. Flp. 3). Purpose driven, ini yang harus diupayakan.
Tentu selama ini PO UI sudah mengerjakan panggilannya dengan baik.
Membina mahasiswa dan memelihara kesatuan di tengah pelayanan
fakultas-fakultas UI adalah suatu tugas yang sangat penting. Namun, kita
harus terbuka melihat kebutuhan zaman yang mendesak, khususnya
kebutuhan akan seorang pemimpin yang cerdas dan takut akan Tuhan.
Kombinasi cerdas dan takut Tuhan ini langka. Cerdas dalam arti mampu
mencari terobosan pemikiran untuk membuat bangsa ini lebih sejahtera.
Takut akan Tuhan diperlukan supaya anak-anak Tuhan berkarya dengan
cara yang diperkenan Tuhan.
Seandainya kita pakai dua patokan tersebut, maka PO UI harus mulai
fokus pada pembinaan yang lebih dari sekadar memelihara kesehatan
rohani dan persatuan. Memang, pembinaan di setiap fakultas juga
mengikutkan isu di atas, namun mengingat PO UI adalah wadah se-UI,
seharusnya PO UI dapat menjadi proxy, wadah, untuk mahasiswa berpikir
secara nasional. UI harus menjadi pabrik pemimpin unggul Indonesia. Inilah
yang menyebabkan PO UI menjadi relevan.
Ketika saya menyebut kata pemimpin, tentu kita sepakat bahwa
pemimpin bukan hanya orang yang menduduki suatu posisi kepemimpinan.
Ya, kita sepakat bahwa semua orang adalah pemimpin. Tetapi, mari kita
persempit definisi pemimpin dengan hanya orang yang menduduki posisi.
Mengapa? Karena dewasa ini kita perlu pemimpin di tingkat nasional dan
daerah yang dapat menjadi motor penggerak pembangunan. Contohnya,
Presiden Joko Widodo yang langsung menjadi secercah harapan tadi. Ahok
(Basuki Tjahaja Purnama) di Jakarta yang juga menjadi harapan banyak
orang yang ingin melihat ibu kota maju dan berpihak pada orang kecil.
Di daerah lain muncul juga pemimpin-pemimpin baru yang membuat
masyarakat punya harapan, sebut saja Ridwan Kamil di Bandung, Tri
Rismaharini di Surabaya, Bupati Bantaeng Nurdin Abdullah, Bupati Banyu-
wangi Abdullah Azwar Anas, dan tokoh-tokoh lain.
Mereka membuat kita berpikir bahwa pemimpin dalam posisi memimpin
itu sangat berperan dalam mewujudkan tujuan kesejahteraan. Dukungan
masyarakat kepada pemimpin di atas juga membuktikan bahwa masyarakat
sekarang adalah orang-orang yang cerdas, tidak mudah dibohongi dengan
propaganda picik, dan sudah bosan dengan permainan politik kotor yang
hanya menguntungkan segelintir pihak.
Mari kita fokus untuk menghasilkan pemimpin di level-level strategis,
di pusat maupun daerah. Sekali lagi, hal ini bukan karena yang lain tidak
penting. PO UI perlu berbagi peran strategis dengan persekutuan di masing
-masing fakultas. Pembinaan rohani dari dasar sampai advance dapat
dilakukan di fakultas. Pembinaan soft skill untuk sukses di tempat kerja,
berwawasan kebangsaan, peduli terhadap orang miskin serta sukses
menjalankan Amanat Agung di market place dapat menjadi ciri pelayanan
PO UI.
Berbagai analisis tentang hasil pelayanan sebenarnya sudah sering
dilakukan. Banyak alumni UI yang dalam perjalanan kariernya melambat dan
akhirnya tidak dapat menduduki posisi strategis. Ada yang menduduki
posisi strategis, tetapi tidak lagi menunjukkan jati diri seorang laskar Kristus
yang bersaksi bagi Dia. Ada yang setia melayani sampai usia tua namun,
tidak fokus dalam panggilan pekerjaannya sehingga tidak menjadi unggul.
Sering kita menemukan dua ekstrem ini. Sulit menemukan alumni yang
sungguh-sungguh cinta Tuhan dan terus berkarya di tengah-tengah bangsa
sebagai seorang pemimpin. Jujur saja, kita sering kesulitan mencari orang
yang pas memberikan kesaksian strategis tentang hal-hal tersebut.
Pembinaan memang tidak pernah berhenti. Pembinaan kala mahasiswa
cukup untuk keperluan mahasiswa. Ketika sudah menjadi alumni, banyak
alumni kaget dengan tuntutan pekerjaan dan pergaulan di tempat kerja.
Itulah sebabnya beberapa orang Kristen langsung berubah menyesuaikan
diri dan menjadi sama dengan orang lain. Di mana kesaksiannya?
Bagaimana memberi dampak kalau sama saja? Di sinilah PO UI harus
menyesuaikan diri agar juga mengerjakan pelayanan alumni yang
berkesinambungan dengan pelayanan mahasiswa. Bekal pelayanan saat
mahasiswa perlu dipertajam dan disesuaikan dengan kebutuhan dunia
alumni.
Alumni UI banyak yang berasal dari luar Jakarta. Bahkan banyak yang
datang dari jauh untuk menuntut ilmu dan kemudian kembali ke daerah
asalnya. Alumni UI di daerah seharusnya membentuk wadah, bisa di dalam
bentuk Persekutuan Alumni PO UI atau dalam wadah khusus seperti ILUNI
UI atau alumni Perkantas daerah sehingga alumni PO UI dapat juga
membangun daerah, bukan hanya di Jakarta. Satu hal yang pasti, kelompok
alumni ini jangan terlalu banyak berkegiatan sosial walaupun hal ini tentu
tidak dapat dihindarkan. Kegiatan orang Kristen seperti paduan suara,
kegiatan sosial dan olahraga tentu penting, tetapi lebih penting lagi belajar
firman Allah dan bersama mencari kehendak Tuhan untuk meningkatkan
kesejahteraan kota kita.
Wadah ini perlu dikoordinasikan dengan keseluruhan pelayanan PO UI
sehingga mahasiswa yang diminta untuk terlibat memahami benang
merahnya serta merasakan indahnya suatu persekutuan. Justru inilah
kekuatan orang Kristen: persekutuan. Tanpa persekutuan, baik besar
maupun kecil, mahasiswa dan alumni akan menjadi lemah, dan tidak dapat
berbuat apa-apa untuk menjadi berkat.
Bertolong-tolongan sangat dibutuhkan untuk mencapai visi kebangsaan
di atas. Kalau ada kawan yang butuh dukungan, endorsement, ataupun
suara untuk menduduki jabatan penting, kiranya alumni PO UI menjadi yang
paling pertama maju dan memberi diri menjadi solusi. Kata-kata bijak
mengingatkan kita: Kalau kita ingin cepat berjalanlah sendiri, tetapi kalau
ingin berjalan jauh, jalanlah bersama-sama. PO UI harus bergandengan
tangan berjalan bersama, supaya panjang dan jauh perjalanan strategis
dapat ditempuh. Melalui PO UI kita bangun Indonesia. Nama Tuhan Yesus
ditinggikan. Amin.

***
Data Diri Penulis
Lina Kristo lahir di Jakarta, 10 Januari 1962. Ia merupakan alumna Teknik
Sipil Fakultas Teknik UI angkatan 1980 dan melanjutkan ke STT Bandung.
Saat ini kak Lina aktif sebagai staf Perkantas dan dapat dihubungi di
linakristo@yahoo.com

Indra Prawira lahir di Jakarta, 3 Maret 1993. Ia berkuliah di Fakultas MIPA


angkatan 2011. Saat ini ia bekerja sebagai staff di Perkantas. Semasa kuliah,
ia pernah menjadi anggota sie. KK PO FMIPA UI dan menjadi koordinator
PO FMIPA UI. Ia dapat dikontak di iprawira93@gmail.com

Joki Ridho Ricardo Marpaung lahir di Jakarta, 30 September 1982.


Ia menamatkan S1 dan S2 di Teknik Metalurgi dan Material UI. Semasa
menjadi mahasiswa ia aktif sebagai pembina pelayan musik FT UI dan
Pengurus Harian PO UI. Saat ini Joki bekerja di PT. ExxonMobil Lubricants
Indonesia dan dapat dikontak di joki.ricardo@gmail.com

Elisabeth Yosephine Maria Tambunan lahir di Medan, 31 Agustus 1993.


Ia adalah alumna Fakultas Hukum UI angkatan 2011 dan saat ini bekerja
sebagai "legal counsellor" di salah satu firma hukum. Elisabeth yang biasa
disapa Bebeth saat di kampus pernah menjadi Tim Inti PO FH UI dan PKK.
Saat ini ia masih menjadi Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa Perkantas
Jakarta dan juga menjadi "worship leader". Bebeth dapat dihubungi di
elisabethyosephine@yahoo.com, sedangkan karyanya dapat dibaca di
elisabethyosephine.com
Winner Pasaribu lahir di Serukam, 20 Februari 1993. Pria yang saat ini
menjadi advokat di salah satu firma hukum itu adalah alumnus FH UI
angkatan 2012 dan saat ini aktif melayani di Gereja Tiberias Indonesia.
Winner dapat dihubungi melalui winner.pasaribu@gmail.com.
Tulisan Winner lainnya dapat ditemukan di winnerpasaribu.wordpress.com

Lidya Corry Tampubolon lahir di Jakarta, 14 Juli 1994. Berkuliah di Fakultas


Hukum UI pada 2012 dan saat ini bekerja sebagai karyawan swasta. Ketika
berkuliah pernah menjadi Tim Inti PO FH UI dan PKK. Pelayanan lain adalah
pengurus NHKBP Tridharma. Lidya bisa dihubungi di lidcorr@gmail.com,
sedangkan tulisannya yang lain bisa dicek di lidcorr.tumblr.com

Gohan Parningotan Lumbangaol lahir lahir Jakarta, 13 Maret 1994. Gohan


berkuliah di Fakultas Ilmu Komputer angkatan 2012 dan saat ini menjadi
wirausahawan. Ia pernah menjadi pengurus Persekutuan Siswa Kristen
Jakarta (PSKJ). Ia dapat dihubungi di gohanparningotanlg@gmail.com.
Karyanya dapat dilihat di gohance.com

Barry Michael Cavin lahir di Jakarta, 5 Mei 1994. Ia adalah alumnus


Fakultas MIPA angkatan 2010 dan saat ini sedang meneruskan S2 di
Imperial College, Inggris. Semasa menjadi mahasiswa ia aktif sebagai
pelayan musik di PO FMIPA dan dapat dikontak di
barrys.sianturi@gmail.com

Lukas Bonar Nainggolan lahir di Depok, 23 Desember 1994. Ia berkuliah di


Fakultas Ekonomi dan Bisnis angkatan 2012. Saat ini bekerja sebagai staf
kontrak Direktorat Pendanaan Luar Negeri Multilateral Badan Perencanaan
Pembangunan Nasional (Bappenas). Semasa mahasiswa, Lukas aktif
melayani di pelayanan siswa dan pernah menjadi Koordinator Persekutuan
Siswa Kristen Jakarta (PSKJ) 2015-2016 dan Panitia Kamp Pengutusan Siswa
2017. Di kampus, Lukas pernah menjadi Paitia Junior Days Out (JDO) FEB UI
2015. Ia bisa dihubungi melalui lukasnainggolan@gmail.com. Tulisan-
tulisan lain dapat dicek di lukasbn.wordpress.com
Frankie Kusumawardana lahir Jakarta, 21 April 1987. Ia adalah lulusan
Fakultas Psikologi UI angkatan 2005. Saat ini ia menjadi konselor sekolah
alias guru Bimbingan Konseling (BK) di UPH College. Frankie juga sudah
mendapatkan gelar Master of Art in Counselling di Singapore Bible College
(2014-2016). Ia dapat dikontak di frankie.kusumawardana@gmail.com

Rachel Elizabeth Hosanna Butarbutar lahir di Bekasi, 3 Oktober 1993.


Ia masuk ke Fakultas Ekonomi dan Bisnis pada 2011 dan saat ini bekerja
sebagai research analyst di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Semasa
berkuliah ia melayani sebagai PKK dan Pengurus Harian PO UI dan saat ini
juga aktif sebagai guru sekolah Minggu. Ia dapat dihubungi pada alamat
rachel.elizabeth.hosanna@gmail.com ataurachelehb.blogspot.com

Emilia Tiurma Savira lahir di Jakarta, 28 April 1994. Perempuan yang saat
ini menjadi Public Relations Consultant ini berasal dari FISIP UI 2012.
Semasa berkuliah ia melayani sebagai singer dan keyboardist dan dapat
dikontak di etsavira@gmail.com. Karya Emilia lain dapat dibaca di
emiliats.wordpress.com dan geotimes.co.id/author/emilia-tiurma-savira

Morentalisa Hutapea lahir di Pematang Siantar, 23 Maret 1988. Ia adalah


alumna FISIP UI angkatan 2006 dari jurusan Hubungan Internasional. Saat
ini Moren bekerja di Yayasan Satu Lentera Indonesia dan masih aktif sebagai
tim misi alumni. Ia dapat dikontak melalui morentalisa@gmail.com dan
tulisan-tulisannya dapat dibaca di morentalisa.wordpress.com

Victor Gomgom Pardomuan Sihombing lahir di Bontang, 4 April 1981.


Ia masuk ke Jurusan Teknik Gas dan Petrokimia (saat ini Departemen Teknik
Kimia) Fakultas Teknik UI pada 1999 dan tamat pada 2003. Saat ini ia
bekerja di salah satu perusahaan swasta dan dapat dikontak di alamat
gepees@gmail.com

Tri Wahyuni Herlambang lahir di Jakarta, 18 Agustus. Ia merupakan lu-


lusan Fakultas Hukum UI dan saat ini sedang meneruskan pembelajaran
hukum di FH UI. Perempuan yang menjadi konsultan hukum ini masih aktif
di KTB 70 sejak SMA. Ia dapat dihubungi di herla.leatemia@gmail.com
Hardiono Iskandar Setiawan lahir di Bandung, 2 November 1989. Pria
yang menghabiskan masa kecil hingga SMA di Bandung itu saat ini bekerja
sebagai Jaksa Fungsional, Kejaksaan Negeri Karawang. Hardi, biasa ia
dipanggil, lulus dari Fakultas Hukum UI angkatan 2009 dan dapat
dihubungi di hardiono.iskandars@gmail.com

Gregorius Silitonga lahir di Jakarta, 6 September 1988. Ia adalah lulusan


Fakultas Ilmu Pengetahuan dan Budaya angkatan 2006 Universitas
Indonesia. Saat ini Gori --panggilan akrabnya-- bekerja sebagai staf
Perkantas dan masih aktif melayani sebagai Tim Musik Gereja GKI Depok.
Ia dapat dikontak melalui tgsilitonga@yahoo.com

Rotua JV Manullang lahir di Kendari, 24 Juni 1986. Ia adalah alumna


Fakultas Teknik UI angkatan 2004. Saat ini Rotu menjadi konsultan
kesehatan dan "weight management" dan dapat dihubungi di
rotua.ie04@gmail.com

Eunika Rukmi merupakan lulusan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
jurusan Ilmu Komunikasi UI angkatan 2004. Semasa menjadi mahasiswa
ia merupakan Koordinator PO FISIP UI 2007-2008. Saat ini Uniq, panggilan
akrabnya, bekerja sebagai "Instructional Designer" di primaindisoft.com

Avia Destimianti adalah perempuan kelahiran Jakarta, 26 Desember 1981.


Ia masuk ke FISIP UI pada 1999 di jurusan Ilmu Administrasi Niaga.
Avia selanjutnya meneruskan sekolah dengan mengambil
Master of Education di Boston University. Tulisan-tulisannya dapat
dilihat di sejumlah website yaitu www.hangatnyarumahku.blogspot.com,
www.casakirana.com, www.kritikismus.com. Saat ini Avia menjadi praktisi
Homeschooling dan melayani di Graduate Center Perkantas, MRII Tanah
Abang dan Rusun Pulogebang
Hariman Theofilus Aaroozatulo Harefa lahir di Jakarta, 14 Desesember
1984. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia angkatan 2002 ini
bekerja sebagai PNS di Kementerian Luar Negeri. Ia lalu melanjutkan studi
master di bidang Development Studies University of Melbourne. Saat ini
Theo --demikian ia biasa dipanggil-- ditempatkan sebagai Sekretaris Ketiga
Fungsi Konsuler KBRI Bangkok dan dapat dihubungi melalui
h24.theofilus@gmail.com

Ardhi Purwoko lahir pada 05 Oktober 1982. Pria ini adalah staf Perkantas
yang mendapatkan gelar Sarjana Teknik dari Teknik Mesin, Fakultas Teknik
UI angkatan 2001. Pur, demikian ia akrab dipanggil dapat dikontak di
ardhipoerwoko@gmail.com

Peter Jacobs lahir di Jakarta, 11 Oktober 1964. Ia masuk ke Fakultas Hukum


UI pada 1983 dan tamat pada 1988. Selanjutnya bang Peter, demikian ia
akrab dipanggil, mendapatkan gelar "Master of Policy Analysis" dari
Saitama University Japan pada 1996 dan Doktor bidang Hukum dari
Universitas Padjadjaran hingga lulus 2011. Selain bekerja di Bank Indonesia,
bang Peter aktif di Badan Pengurus Nasional (BPN) Perkantas, narasumber
dalam persekutuan maupun seminar Kristen di Persekutuan Mahasiswa,
Alumni, Gereja maupun Kantor. Ia dapat dihubungi di
pjacobs.bi@gmail.com
Tulisan bang Peter lain juga dapat dibaca di http://pjacobsbi.blogspot.co.id