Anda di halaman 1dari 13

Tugas Askeb Gadar

ASUHAN KEBIDANAN PADA BY. W USIA 2 HARI DENGAN


HIPOGLIKEMIA
Dosen Pengampu
Eli Inayanti, SST., M. Kes

Oleh
Fathiyatur Rohmah (152101003)

PROGRAM STUDI D-III KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN INSAN SE AGUNG
BANGKALAN
TAHUN 2016/2017
TINJAUAN TEORI

1. Definisi
Hipoglikemia terjadi ketika kadar glukosa serum secara signifikan lebih
rendah daripada rentang pada bayi normal dengan usia postnatal yang sesuai.
Walaupun hipoglikemia dapat terjadi dengan gejala neurologis, seperti letargi, koma,
apnea, seizure atau simpatomimetik, seperti pucat, palpitasi, diaforesis, yang
merupakan manifestasi dari respon terhadap glukosa, banyak neonatus dengan serum
glukosa rendah menunjukkan tanda hipoglikemia nonspesifik (Kliegman et al, 2011).
Serum glukosa pada neonatus menurun segera setelah lahir sampai 13
hari pertama kehidupan. Pada bayi aterm yang sehat, serum glukosa jarang berada di
bawah nilai 35 mg/dL dalam 13 jam pertamakehidupan, di bawah 40 mg/dL dalam
324 jam, dan kurang dari 45 mg/dL (2.5 mmol/L) setelah 24 jam (Kliegman et al,
2011).
Hipoglikemia pada neonatus didefinisikan sebagai kondisi dimana glukosa
plasma di bawah 30 mg/dL (1.65 mmol/L) dalam 24 jam pertama kehidupan dan
kurang dari 45 mg/dL (2.5 mmol/L) setelahnya (Cranmer, 2013). Estimasi rata-rata
kadar glukosa darah pada fetus adalah 15 mg/dL lebih rendah daripada konsentrasi
glukosa maternal. Konsentrasi glukosa akankemudian berangsur-angsur menurunpada
periode postnatal. Konsentrasi di bawah 45 mg/dL didefinisikan sebagai
hipoglikemia. Dalam 3 jam, konsentrasi glukosa pada bayi aterm normal akan stabil,
berada di antara 5080 mg/dL. Terdapat dua kelompok neonatus dengan risiko
tinggi mengalami hipoglikemia, yaitu bayi lahir dari ibu diabetik (IDM) dan bayi
IUGR (Hay et al, 2007).
Hipoglikemia merupakan masalah metabolik yang paling sering ditemukan
pada neonatus.Pada anak, hipoglikemia terjadi pada nilai glukosa darah kurang dari
40 mg/dL. Sementara pada neonatus, hipoglikemia adalah kondisi dimana glukosa
plasma kurang dari 30 mg/dL pada 24 jam pertama kehidupan dan kurang dari 45
mg/dL setelahnya (Cranmer, 2013).
2. Manifestasi Klinis
Walaupun hipoglikemia sering diklasifikasikan dalam simtomasis dan
asimtomatis, penggolongan tersebut sebenarnya merefleksikan ada atau tidaknya
tanda-tanda fisik yang menyertai kadar glukosa darah yang rendah. Berbagai tanda
dapat terlihat pada kasus hipoglikemia berat atau berkepanjangan dan pada bayi yang
mengalami hipoglikemia ringan sampai sedang yang berkepanjangan serta pada bayi
yang mengalami stres fisiologis. Tanda-tanda klinis yang ditemukan merupakan tanda
nonspesifik dan merupakan akibat dari gangguan pada lebih dari satu aspek fungsi
sistem saraf pusat. Meliputi:
1. Pola pernapasan abnormal, seperti takipnea, apnea, atau distress napas;
2. Tanda-tanda kardiovaskuler, seperti takikardia atau bradikardia,
3. Dan manifestasi neurologis seperti jitteriness, letargis, kemampuan mengisap
yang lemah, instabilitas suhu tubuh, dan kejang.
Banyak dari tanda-tanda tersebut merupakan akibat dari gangguan neonatus
yang lain, seperti sepsis, hypokalemia, dan pendarahan intracranial. Hipoglikemia
harus dipertimbangkan pada bayi yang menunjukkan satu atau lebih dari gejala-gejala
tersebut, karena hipoglikemia yang tak segera diatasi dapat mengakibatkan
konsekuensi serius, dan penatalaksanaan hipoglikemia pun cepat, relatif mudah, dan
memiliki efek samping minimal.Tetapi, pada standar penatalaksanaan neonatus yang
ada saat ini, sebagian besar kasus hipiglikemia terdiagnosis selama pemeriksaan rutin
pada bayi yang dipertimbangkan berisiko namun dalam evaluasi tampak normal
secara fisiologis (McGowen, 2003).
Lucile Packard Childrens Hospital, 2013, memaparkan bahwa tanda-tanda
hipoglikemia pada neonatus meliputi :
1. Jitteriness (gelisah)
2. Cyanosis (blue coloring) (sianosis)
3. Apnea (stopping breathing) (berhenti bernafas)
4. Hypothermia (low body temperature)
5. Poor body tone (gerak tubuh lemah)
6. Poor feeding (menghisap lemah)
7. Lethargy (lesu)
8. Seizures (kejang)
3. Etiologi
Penyebab hipoglikemia pada neonatus, meliputi berikut.
1. Persistent Hyperinsulinemic Hypoglicemia of Infancy (hipoglikemia
hiperinsulinemia persistent terhadap bayi)
2. Penyimpanan glikogen yang terbatas (misalnya pada prematur dan IUGR)
3. Peningkatan penggunaan glukosa (seperti pada kasus hipotermia, polisitemia,
sepsis, defisiensi hormon pertumbuhan).
4. Penurunan glikogenolisis, gluokoneogenesis, atau penggunaan substrat alternatif
(misalnya pada gangguan metabolisme dan insufisiensi adrenal).
5. Penurunan penyimpanan glikogen (seperti pada stress akibat asfiksia perinatal,
dan starvation).

4. Patogenesis
2.4.1 Prematuritas dan IUGR
Penyebab hipoglikemia pada neonatus dapat dikategorikan berdasarkan
gangguan yang menyertai pada satu atau lebih proses yang diperlukan untuk produksi
glukosa hepatic normal. Penyimpanan glikogen hepatik jumlahnya terbatas baik pada
bayi preterm yang belum mengalami periode akumulasi glikogen cepat selama masa
akhir gestasi, dan bayi kecil masa kehamilan (KMK/SGA) yang belum memiliki
suplai persediaan substrat yang adekuat untuk sintesis glikogen, yang akan berakibat
pada timbulnya risiko hipoglikemia. IUGR yang disebabkan oleh insufisiensi plasenta
dengan ukuran lingkar kepala bayi yang normal menyebabkan peningkatan kebutuhan
glukosa pada bayi yang sudah dalam kondisi penyimpanan glikogen rendah karena
tingginya brain-to-bidyweight ratio. Bayi postterm dan gestasi ganda juga berisiko
hipoglikemia karena adanya insufisiensi plasenta relatif.Penelitian yang dilakukan
pada kelompok bayi preterm dan IUGR menemukan adanya perubahan pola sekresi
insulin, metabolisme substrat, dan respons hormonal terhadap perubahan konsentrasi
glukosa darah dibandingkan dengan bayi yang sesuai masa kehamilan (SMK/AGA)
(McGowen, 2003).

2.4.2 Bayi dari Ibu Diabetik (Infants of Diabetic Mother)


IDM memiliki sekresi insulin pancreas yang tinggi karena paparan glukosa
maternal dalam konsentrasi tinggi selama di dalam uterus. Transportasi glukosa
plasenta meningkat, berakibat pada hiperglikemia janin, yang pada akhirnya akan
menstimulasi sekresi insulin oleh pancreas janin. Sekeresi insulin pancreas pada IDM
jaug lebih tinggi dibandingkan dengan nonIDM. Perubahan-perubahan yang
diinduksi oleh diabetes pada metabolisme maternal, seperti perubahan pada asam
amino serum, berperan pada perubahan metabolik yang terjadi pada IDM.
Setelah lahir, konsentrasi glukosa darah yang tinggi sudah tidak ada, tetapi
kondisi hiperinsulinemia menetap, sehingga mengakibatkan rasio insulin:glucagon
tinggi pada postnatal. Akibatnya, glikogenolisis dan lipolysis terhambat, enzim
glukoneogenik tidak terinduksi, dan glukosa hepatik tetap pada kadar yang rendah
dalam kondisi glukosa darah yang rendah. (McGowen, 2003).

2.4.3 Eritroblastosis Fetalis dan Agen Tokolitik Beta Agonis


Walaupun ibu diabetes merupakan penyebab utama hiperinsulin pada
neonatus, sekresi insulin postnatal dapat menjadi abnormal karena penyakit-penyakit
lainnya. Bayi yang menderita eritroblastosis fetalis memiliki kadar insulin yang tinggi
dan jumlah sel betapankreas yang banyak. Mekanisme terjadinya hal ini masih belum
jelas, tetapi salah satu hipotesis menjelaskan bahwa glutation yang dirilis dari sel
darah merah terhemolisis akan mengaktivasi insulin dalam sirkulasi, dan kemudian
memicu sekresi insulin serta up-regulation sel beta. Transfusi tukar dapat
mengeksaserbasi masalah karena darah yang ditransfusikan biasanya diawetkan
dengan kombinasi dekstrosa dan agen lain. Selama transfusi tukar, bayi mendapatkan
tambahan glukosa yang signifikan, dengan respon insulin berlebih dari pancreas yang
hyperplasia. Di akhir transfusi tukar, laju pemberian glukosa dikembalikan pada
keadaan normal, (baseline) tetapi kadar insulin tetap tinggi, sehingga menyebabkan
terjadinya hipoglikemia (McGowen, 2003).
Penggunaan agen tokolitik beta agonis seperti terbutalin juga menyebabkan
hiperinsulinemia pada neonatus, terutama jika agen tersebut digunakan selama lebih
dari 2 minggu dan dihentikan pada waktu kurang dari 1 minggu sebelum persalinan.
Neonatus yang berada dalam kondisi ini akan memiliki penyimpanan glikogen
rendah, yang akan menyebabkan terjadinya hiperinsulinemia serta efek-efek yang
timbul karena rendahnya kadar glukosa (McGowen, 2003).

2.4.4 Hiperinsulinisme
Hipoglikemia yang menetap lebih dari 57 hari jarang terjadi dan paling
sering disebabkan oleh hiperinsulinisme. Beberpa neonatus yang IUGR atau asfiksia
akan mengalami hiperinsulinemia yang menetap selama 4 minggu, tetapi kasus
seperti ini relatif jarang terjadi. Beberapa tipe hiperinsulinisme kongenital disebutkan
merupakan penyebab utama hipoglikemia yang menetap sampai melebihi 1 minggu
pertama kehidupan. (McGowen, 2003).

2.4.5 Kelainan Metabolisme pada Neonatus


Kelainan metabolisme pada neonatus akan mempengaruhi ketersediaan
prekursor glukoneogenik atau fungsi enzim yang dibutuhkan untuk produksi glukosa
hepatik. Defek metabolik yang menyebabkan hipoglikemia meliputi berbagai bentuk
kelainan penyimpanan glikogen, galaktosemia, defek oksidasi asam lemak, defisiensi
karnitin, beberapa bentuk asidemia amino, intoleransi fruktosa herediter (fructose-
1,6-diphos-phatase deficiency), dan defek enzim glukoneogenik lainnya. Gangguan
endokrin lainnya seperti kegagalan hipopituitari dan adrenal juga dapat berakibat
pada terjadinya hipoglikemia karena tidak adanya respon hormonal yang sesuai
terhadap hipoglikemia dan selanjutnya mengakibatkan kegagalan aktivasi produksi
glukosa hepatik.Tetapi kondisi ini sangat jarang dan harus dipertimbangkan adanya
etiologi lainnya.
2.6 Penatalaksanaan
Hypoglycemia: Suggested Therapeutic Regimens
Screening test Presence of Symptoms Action
2045 mg/dL No symptoms of Draw blood glucose; if the infant is
hypoglycemia alert and vigorous, feed; follow with
frequent glucose monitoring.
If the infant continues to have blood
glucose <4045 mg/dL or is unable
to feed, provide intravenous glucose
at 6 mg/kg/min (D10W at 3,6
mL/kg/h)
<45 mg/dL Symptoms of Hypoglycemia Draw blood glucose, provide bolus
present of D10W (2 mL/kg) followed by an
infusion of 6 mg/kg/min (3,6
mL/kg/h)
<20 mg/dL With or without symptoms Draw blood glucose; provide bolus
of hypoglycemia of D10W followed by infusion of 6
mg/kg/min.
If IV access coannot be obtained
immediately, an umbilical vein line
should be used.

Beberapa agen lain telah digunakan untuk penatalaksanaan hipoglikemia refraktori,


dan paling sering digunakan untuk penatalaksanaan pada salah satu kondisi
hiperinsulinemia. Kortikosteroid, hidrokortison 5-15 mg/kgBB per hari dalam dua
atau tiga dosis terbagi, atau prednisone 2 mg/kgBB perhari. Pemberian agen-agen
tersebut diikuti dengan adanya penurunan penggunaan glukosa perifer dan
peningkatan konsentrasi glukosa darah, tetapi efek samping dari agen tersebut
terhadap sistem metabolisme lainnya harus dijadikan bahan pertimbangan. Pemberian
kortikosteroid sebagai tambahan dari pemberian glukosa intravena bermanfaat dalam
kondisi ketika kebutuhan glukosa lebih besar daripada 15 mg/kgBB.
DAFTAR PUSTAKA

Cranmer, H. (2013). Neonatal Hypoglycemia. Emedicine Medscape.


Hay, W. (2008). The Newborn Infant. Lange Current Diagnosis and Treatment of
Pediatrics. McGraw-Hill : Denver-Colorado.
Lucille Packard Childrens Hospital at Stanford. (2013). Hypoglycemia in the
Newborn.
McGowan, J. (2003). Neonatal Hypoglycemia. Pediatrics in Review. American
Associaton of Pediatrics Publication.
Sperling, Mark. A, (2011). Hypoglycemia. Nelson Pediatrics 19th edition. Elsevier
Saunders : Philadelphia.
ASUHAN KEBIDANAN PADA BY. W USIA 2 HARI DENGAN
HIPOGLIKEMIA

Tanggal periksa : 2 Juni 2017 Jam : 10.00 WIB


Tempat : BPM No. Register :-
I. DATA SUBJEKTIF
A. Biodata
a. Biodata Bayi
Nama Bayi : Bayi Ny. X
Umur Bayi : 2 hari
Tanggal /Jam lahir : 31 Mei 2017 / 04.10 WIB
Jenis Kelamin : Perempuan

b. Biodata orang tua


Nama : Ny. X Nama : Tn. Z
Umur : 27 tahun Umur : 32 tahun
Agama : Islam Agama : Islam
Suku : Madura Suku : Madura
Pendidikan : SMA Pendidikan : SMK
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Kali Anyar Alamat : Kali Anyar

B. Keluhan Utama
Ibu mengatakan bayinya usia 2 hari mengalami gemetar, tangisannya lemah, pucat,
timbul keringat dingin, dan bayi malas menyusu.

C. Riwayat Kehamilan
Ibu mengatakan ini adalah hamil anak pertama. Ibu mengatakan rutin periksa satu
bulan sekali ke bidan dan hasilnya ibu tidak mengalami penyulit dalam kehamilan
hingga mendekati proses bersalin, ibu pernah mendapat imunisasi TT sebanyak dua
kali. Ibu melahirkan pada usia kehamilan 9 bulan.
D. Riwayat Persalinan
Ibu melahirkan di BPS ditolong oleh bidan secara spontan, usia kehamilan saat
bersalin adalah cukup bulan. Saat proses persalinan ibu dan bayi dalam keadaan baik.

E. Riwayat Kesehatan Ibu dan Keluarga


Ibu mengatakan memiliki riwayat penyakit diabetes atau penyakit gula yang diderita
oleh ibu sebelum hamil hingga saat hamil. Dan ibu mengatakan tidak mempunyai
penyakit kelamin, darah tinggi, hepatitis, TBC, asma dan HIV/AIDS begitu pula
dengan keluarganya.

F. Riwayat Laktasi
Ibu mengatakan bayinya kesulitan minum ketika di beri ASI sejak lahir, daya
hisapnya pun lemah. Ketika disusui bayi terlihat malas dan tertidur.

G. Riwayat Eliminasi
Bayi BAB 2 kali sehari. Dan BAK 7 kali dalam sehari.

H. Riwayat imunisasi
Ibu mengatakan bayinya telah mendapat imunisasi Hb0 pada umur 1 hari.

II. DATA OBJEKTIF


A. Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum : Bayi terlihat lemas dan mengantuk
Tanda-tanda vital :
Nadi : 134 x/menit
Pernapasan : 65 x/menit
Suhu : 36 C
B. Pemeriksaan Antropometri
BB : 4000 gram PB : 52 cm
LK : 35 cm LD : 34 cm
LILA : 10 cm

C. Pemeriksaan fisik
a. Kepala : Tidak ada moulase, tidak ada caput succadenum, tidak ada
cephalhematom, ubun-ubun lunak, tidak cekung/cembung,
tampak verniks di kulit kepala.
b. Telinga : Simetris, letak sejajar dengan ujung mata.
c. Mata : Mata tidak kering, konjungtiva merah muda, sklera putih,
gerakan mata berputar.
d. Hidung : Tidak ada napas cuping hidung, tidak ada ronchi dan
wheezing, pernapasan belum teratur.
e. Mulut : Tidak ada labiopalatoskizis, reflek hisap lemah
f. Leher : Pergerakan leher tampak ekstensi bila badan diangkat,
tidak ada fraktur klavikula, tidak ada pembesaran abnormal.
g. Dada : Normal, payudara dan puting susu simetris, bunyi nafas
dada vaskuler, tidak terdengan bunyi jantung ke tiga.
h. Abdomen : Bentuk normal. Tidak ada pembesaran hepar, keadaan tali
pusat masih basah dan tidak ada tanda infeksi.
i. Punggung : Tidak ada spina bifida.
j. Genital : Jenis kelamin perempuan, labia mayora menutupi labia
minora
k. Anus : Berlubang dan sudah mengeluarkan mekonium.
l. Kulit : Terdapat verniks kaseosa sedikit, warna kulit merah tidak
keriput, turgor kulit jelek, tidak ada pembengkakan dan
tidak ada tanda lahir.
m. Ekstremitas
Atas : Gerakan tangan lemah, jari-jari tangan lengkap, dan tidak
ada kelainan.
Bawah : Gerakan kaki lemah, jari-jari lengkap, dan tidak
ada kelainan.
n. Reflek
Reflek moro :+
Reflek rooting : lemah
Reflek sucking : lemah
Reflek swallowing : +
Reflek tonik neck :+
Reflek babinsky :+

D. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium, GDS bayi : 39 mg/dl ( < 45 mg/dl )

E. Data Tambahan
GDS ibu : 250 mg/dl

III. ASSESMENT
Bayi Ny. H usia 2 hari neonatus cukup bulan dengan hipoglikemia

IV. PLANNING
1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu, suami, dan keluarga bahwa bayi
memiliki kadar gula darah kurang.
E/ ibu, suami dan keluarga mengerti hasil pemeriksaan
2. Melibatkan keluarga pada saat bidan melakukan tindakan pada bayi
E/ Keluarga bersedia terlibat dalam mengasuh bayinya
3. Mengobservasi keadaan umum bayi dan tanda-tanda vital
E/ Keadaan bayi terlihat lemah, hasil tanda-tanda vital bayi:
BB : 4000 gr Nadi : 130 kali / menit
Suhu badan : 36 0C RR : 65 kali/menit
4. Mempertahankan suhu tubuh bayi agar tetap hangat
E/ Membungkus bayi dengan selimut yang kering dan hangat, menjaga suhu
lingkungan di sekitar bayi agar tetap hangat (bayi digedong, menggunakan
topi, sarung tangan dan sarung kaki)
5. Menganjurkan pada ibu agar tetap memberikan ASI sesering mungkin pada
bayinya
E/ Ibu bersedia melakukannya
6. Mengajarkan kepada ibu mengenai cara pemberian ASI minimal 34 jam
sekali dengan porsi sedikit 30 cc tapi sering. Jika bayi tidak mau menyusu,
mulai pemberian makan dengan menggunakan sonde dalam waktu 13 hari
lahir dengan menggunakan susu khusus untuk bayi hipoglikemia.
E/ Ibu mengerti dan bersedia melakukannya
7. Menganjurkan pada keluarga untuk membawa anaknya ke Rumah Sakit
apabila keadaanya belum membaik
E/ Keluarga mengerti dan bersedia melakukannya