Anda di halaman 1dari 13

1.

ANATOMI SISTEM PERKEMIHAN PADA IBU HAMIL


Selama kehamilan Sistem Perkemihan mengalami berbagai perubahan
structural dan fungsional dengan banyaknya perubahan structural yang
bertahan dengan baik sampai periode postpartum. Perubahan utama selama
kehamilan adalah retensi natrium dan peningkatan cairan ekstraseluler. BAK
cenderung menetapkan frekuensinya mulai dari kehamilan 6-12 minggu, pada
usia kehamilan selanjutnya perubahan jaringan bagian bawah rongga panggul
akan meningkatkan frekuensi BAK dari biasanya. Setelah 16 minggu
pembesaran uterus akan membuat ureter menjadi dilatasi untuk menampung
banyaknya urin.
1) Ginjal
`Ginjal ibu hamil harus bekerja sebagai organ ekskresi primer bagi
janin, disamping beruhubungan dengan peningkatan volume dan
metabolisme intravascular dan ekstraseluler. Perubahan ginjal secara
fisiologis selama kehamilan berhubungan dengan efek progesterone
dalam merelaksasikan otot serta tekanan dari perubahan uterus dan
perubahan system kardiovaskuler.
Peningkatan panjang ginjal mencapai 1,5cm, hal ini disebabkan
oleh peningkatan aliran darah, volume pembuluh darah serta peningkatan
cairan ruang interstitial. Ukuran glomerulus bertambah namun jumlah
selnya tidak berubah. Secara keseluruhan, struktur mikroskopik ginjal
wanita hamil dan tidak hamil sama saja.
2) Ureter
Bagian-bagian ginjal seperti calix renal, pelvis renal dan ureter
mengalami dilatasi, perpanjangan, peningkatan tonus otot dan penurunan
gerak peristaltic. Perubahan tersebut mengiringi terjadinya hemodinamik,
filtrasi glomerulus dan kinerja tubular. Dilatasi calix renal, pelvis renal
dan ureter dimulai pada trimester pertama dan menetap sampai trimester
ketiga pada lebih dari 90% wanita.
Pada 85% wanita, ureter yang berdilatasi ke arah kanan lebih
banyak daripada ke arah kiri, mungkin disebabkan oleh dextrorotasi
uterus karena adanya kolon sigmoid di kuadran kiri rongga pelvik.
3) Vesica Urinaria
Kapasitas vesica urinaria meningkat pada kehamilan mencapai
1000ml. Estrogen mempengaruhi hipertropi lapisan vesica urinaria.
Mukosa vesica urinaria menjadi hiperemis karena peningkatan ukurannya.
Mukosa juga menjadi oedema

2. FISIOLOGI PERKEMIHAN PADA IBU HAMIL


Adanya peningkatan 60% aliran darah sampai akhir trimester pertama
yang kemudian secara bertahap turun sampai akhir kehamilan. GFR
meningkat 50% selama kehamilan yang dimulai segera setelah konsepsi dan
berakhir minggu ke-9 sampai 16.
Kadar glukosa urin dapat meningkat selama kehamilan. Tubulus
mengalami penurunan kemampuan dalam mengabsorbsi glukosa. Glukosuria
umumnya terjadi pada kehamilan. Proteinuria juga umum terjadi selama
kehamilan karena ada eksresi berlebih asam amino, namun proteinuria
dengan hipertensi merupakan masalah serius.

Perubahan Anatomi dan Adaptasi Fisiologis Pada Ibu Hamil Trimester I,


II, dan III pada system Perkemihan.
1) Trimester I
Pada bulan pertama kehamilan kandung kencing tertekan sehingga
sering timbul kencing.
Keadaan ini hilang dengan tuanya kehamilan bila uterus gravidus
keluar dari rongga panggul dan ginjal wanita harus mengakomodasi
tuntutan metabolisme dan sirkulasi tubuh ibu yang meningkat dan juga
mengekresi produk sampah janin. Fungsi ginjal berubah karena adanya
hormone kehamilan, peningkatan volume darah, postur wanita, aktifitas
fisik dan asupan makanan. Sejak minggu ke-10 gestasi pelvic ginjal dan
ureter berdilatasi.
Ginjal pada kehamilan sedikit bertambah besar panjang bertambah
1-1,5 cm, volume renal meningkat 60 ml dari 10 ml pada wanita yang
tidak hamil.
Protein urine secara normal disekresikan 200-300mg/hari, bila
melebihi 300 mg/perhari maka harus diwaspadai terjadi komplikasi.
2) Trimester II
Kandung kemih tertekan oleh uterus yang membesar mulai
berkurang, karena uterus sudah mulai keluar dari rongga panggul. Pada
trimester kedua, kandungan kemih tertarik keatas dan keluar dari panggul
sejati kearah abdomen. Uretra memanjang sampai 7,5 cm karena kandung
kemih bergeser ke arah atas. Kongesti panggul pada masa hamil
ditunjukan oleh hyperemia kandung kemih dan uretra. Peningkatan
vaskularisasi ini membuat mukosa kandung kemih menjadi mudah luka
dan berdarah.
Tonus kandung kemih dapat menurun. Hal memungkinkan distensi
kandung kemih sampai sekitar 1500 ml. pada saat yang sama, pembesaran
uterus menekan kandung kemi,menimbulkan rasa ingin berkemih
walaupun kandung kemih berisi sedikit urine.
3) Trimester III
Pada kehamilan kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul
keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing akan
mulai tertekan kembali. Pada kehamilan tahap lanjut pelvis ginjal kanan
dan ureter lebih berdilatasi dari pada pelvis kiri akibat pergeseran uterus
yang berat ke kanan. Perubahan-perubahan ini membuat pelvis dan ureter
mampu manampung urine dalam volume yang lebih besar dan juga
memperlambat laju aliran urine.

ASUHAN KEPERAWATAN PYELONEFRITIS AKUT

KONSEP DASAR MEDIS


1. DEFINISI
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang
sifatnya akut maupun kronis. Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung
selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak
sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan
pielonefritis kronis.
Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan
jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth,
2002: 1436).
Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul
secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002:
668)
Inflamasi pelvis ginjal disebut Pielonefritis, penyebab radang pelvis ginjal
yang paling sering adalah kuman yang berasal dari kandung kemih yang
menjalar naik ke pelvis ginjal. Pielonefritis ada yang akut dan ada yang kronis
(Tambayong. 2000)

2. ETIOLOGI
1) Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus
besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit
dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit.
2) Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung
kemih.
3) Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah
oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh
penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih.
4) Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal
atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke
dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal.
5) Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran
darah.
Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal
adalah:
1) Kehamilan
Sering ditemukan pada wanita hamil, biasanya diawali dengan hidro ureter
dan hidro nefrosis akibat obstruksi ureter karena uterus yang membesar.
2) Kencing manis
3) Keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk
melawan infeksi.

3. PATOFISIOLOGI
Bakteri naik ke ginjal dan pelvis ginjal melalui saluran kandung kemih dan
uretra. Flora normal fekal seperti Eschericia coli, Streptococus fecalis,
Pseudomonas aeruginosa, dan Staphilococus aureus adalah bakteri paling
umum yang menyebabkan pielonefritis akut. E. coli menyebabkan sekitar
85% infeksi.
Pada pielonefritis akut, inflamasi menyebabkan pembesaran ginjal yang
tidak lazim. Korteks dan medula mengembang dan multipel abses. Kaliks dan
pelvis ginjal juga akan berinvolusi. Resolusi dari inflamasi menghasilkan
fibrosis dan scarring. Pielonefritis kronis muncul setelah periode berulang
dari pielonefritis akut. Ginjal mengalami perubahan degeneratif dan menjadi
kecil serta atrophic. Jika destruksi nefron meluas, dapat berkembang menjadi
gagal ginjal.

4. MANIFESTASI KLINIK
Demam tinggi, menggigil, sakit pinggang hebat, mual-muntah, nafsu
makan kurang, dan anuria. Pada pemeriksaan urine di jumpai banyak
bergumpal
1) Pengaruh terhadap kehamilan
Bisa berpengaruh terhadap hasil konsepsi seperti abortus, partus
prematurus dan kematian janin. Bila cepat diobati kehamilan berjalan
sampai cukup bulan dan persalinan akan normal. Pengakhiran kehamilan
biasanya tidak perlu, kecuali penyakit tidak mempunyai respon terhadap
terapi
2) Pengaruh kehamilan terhadap penyakit
Pielitis dan Sistitis lebih mudah terjadi dalam kehamilan. Penyakit
yang telah ada menjadi lebih berat karena kehamilan.

5. KOMPLIKASI
Ada tiga komplikasi penting dapat ditemukan pada pielonefritis akut
(Patologi Umum & Sistematik J. C. E. Underwood, 2002: 669):
1) Nekrosis papila ginjal. Sebagai hasil dari proses radang, pasokan darah
pada area medula akan terganggu dan akan diikuti nekrosis papila
guinjal, terutama pada penderita diabetes melitus atau pada tempat
terjadinya obstruksi.
2) Fionefrosis. Terjadi apabila ditemukan obstruksi total pada ureter yang
dekat sekali dengan ginjal. Cairan yang terlindung dalam pelvis dan
sistem kaliks mengalami supurasi, sehingga ginjal mengalami
peregangan akibat adanya pus.
3) Abses perinefrik. Pada waktu infeksi mencapai kapsula ginjal, dan
meluas ke dalam jaringan perirenal, terjadi abses perinefrik.
Komplikasi pielonefritis kronis mencakup penyakit ginjal stadium akhir
(mulai dari hilangnya progresifitas nefron akibat inflamasi kronik dan
jaringan parut), hipertensi, dan pembentukan batu ginjal (akibat infeksi kronik
disertai organisme pengurai urea, yang mangakibatkan terbentuknya batu)
(Brunner&Suddarth, 2002: 1437).

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1) Urinalisis
(1) Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya
ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang
pandang besar (LPB) sediment air kemih.
(2) Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment
air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik
berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis.
2) Bakteriologis
(1) Mikroskopis : satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 -103
organisme koliform / mL urin plus piuria
(2) Biakan bakteri
(3) Tes kimiawi : tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada
uji carik.
(3.1) Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
(3.2) Hitung koloni : hitung koloni sekitar 100.000 koloni per
milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen
dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
3) Metode tes
(1) Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes
Griess untuk pengurangan nitrat).
(2) Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria.
(3) Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang
mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
4) Tes- tes tambahan :
(1) Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan
untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus
urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau
hiperplasie prostate.
(2) Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur
urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab
kambuhnya infeksi yang resisten.

7. PENATALAKSANAAN
Pasien pielonefritis akut beresiko terhadap bakteremia dan memerlukan
terapi antimikrobial yang intensif. Terapi parentral di berikan selama 24-48
jam sampai pasien afebril. Pada waktu tersebut, agens oral dapat diberikan.
Pasien dengan kondisi yang sedikit kritis akan efektif apabila ditangani hanya
dengan agens oral. Untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri yang tersisa,
maka pengobatan pielonefritis akut biasanya lebih lama daripada sistitis.
Masalah yang mungkin timbul dalam penanganan adalah infeksi kronik
atau kambuhan yang muncul sampai beberapa bulan atau tahun tanpa gejala.
Setelah program antimikrobial awal, pasien dipertahankan untuk terus
dibawah penanganan antimikrobial sampai bukti adanya infeksi tidak terjadi,
seluruh faktor penyebab telah ditangani dan dikendalikan, dan fungsi ginjal
stabil. Kadarnya pada terapi jangka panjang.

8. PENGOBATAN
(1) Mengurangi demam dan nyeri dan menentukan obat-obat antimikrobial
seperti trimethroprim-sulfamethoxazole (TMF-SMZ, Septra), gentamycin
dengan atau tanpa ampicilin, cephelosporin, atau ciprofloksasin (cipro)
selama 14 hari.
(2) Merilekskan otot halus pada ureter dan kandung kemih, meningkatkan
rasa nyaman, dan meningkatkan kapasitas kandung kemih menggunakan
obat farmakologi tambahan antispasmodic dan anticholinergic seperti
oxybutinin (Ditropan) dan propantheline (Pro-Banthine)
(3) Pada kasus kronis, pengobatan difokuskan pada pencegahan kerusakan
ginjal secara progresif.
KONSEP DASAR KEPERAWATAN
1. Pengkajian
1) Identifikasi Pasien
Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai insidens infeksi
saluran kemih yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria.
2) Riwayat Penyakit
(1) Keluhan utama : nyeri punggung dibawah dan disuria.
(2) Riwayat penyakit sekarang: masuknya bakteri ke kandung kemih
sehingga menyebabkan infeksi.
(3) Riwayat penyakit dahulu: mungkin pasien pernah mengalami penyakit
seperti ini sebelunnya.
(4) Riwayat penyakit keluarga: ISK bukanlah penyakit keturunan.
3) Pola fungsi kesehatan
(1) Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan: kurangnya pengetahuan
pasien tentang pencegahan.
(2) Pola istirahat dan tidur: istirahat dan tidur pasien mengalami gangguan
karena gelisah dan nyeri.
(3) Pola eliminasi: pasien cenderung mengalami disuria dan sering
kencing.
(4) Pola aktivitas: aktivitas pasien mengalami gangguan karena rasa nyeri
yang kadang datang.
4) Pemeriksaan fisik
(1) Tanda-tanda vital
Tekanan Darah: normal / meningkat
Nadi: normal/ meningkat
Respirasi: normal/ meningkat
Temperatur: meningkat

2. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut
2) Hipertermi
3) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan
4) Ansietas

3. Intervensi
No Diagnosa NOC NIC
1 Nyeri akut Setelah dilakukan 1. Pantau intensitas,
tindakan lokasi, dan factor
keperawatan selama yang memperberat
x 24 jam, nyeri atau meringankan
dapat berkurang nyeri
2. Anjurkan minum
dengan criteria
banyak 2-3 liter jika
hasil:
Tidak ada keluhan tidak ada kontra
nyeri pada saat indikasi
3. Pantau haluaran
berkemih, tidak
urine terhadap
mengekspresikan
perubahan warna,
nyeri secara verbal
bau dan pola
atau pada wajah.
berkemih, masukan
dan haluaran setiap 8
jam dan pantau hasil
urinalisis ulang
4. Berikan tindakan
nyaman, seperti
pijatan punggung,
lingkungan istirahat
5. Berikan perawatan
parineal
6. Kolaborasi
pemberian analgesic
sesuai kebutuhan dan
evaluasi
keberhasilannya
2 Hipertermi Setelah dilakukan 1. Pantau suhu pasien
tindakan (derajat dan pola) ;
keperawatan selama perhatikan
x 24 jam, menggigil/diaforesis
2. Pantau suhu
demam pasien
lingkungan, batasi /
berkurang dengan
tambahkan linen
criteria hasil: suhu
tempat tidur, sesuai
tubuh kembali indikasi
3. Berikan kompres
normal
mandi hangat;
hindari penggunaan
alcohol
4. Berikan selimut
pendingin
5. Kolaborasi
pemberian
antipiretik
3 Ketidakseimbanga Setelah dilakukan 1. Pantau / catat
n nutrisi kurang tindakan permasukan diet
2. Tawarkan
dari kebutuhan keperawatan selama
perawatan mulut
x 24 jam, nafsu
sering/cuci dengan
makan bertambah
larutan (25%)
dengan criteria
cairan asam asetat.
hasil: menunjukkan
3. Berikan permen
status gizi : asupan
karet, permen
makanan, cairan
keras, penyegar
dan zat gizi
mulut diantara
makan
4. Berikan makanan
sedikit tapi sering
5. Kolaborasi :
(1) Konsul dengan
ahli gizi/tim
pendukung
nutrisi
(2) Batasi kalium,
natrium dan
pemasukan
fosat sesuai
indikasi
(3) Awasi
pemeriksaan
labiratorium,
contoh; BUN,
albumin serum,
transferin,
natrium dan
kalium.
4 Ansietas Setelah dilakukan 1. Beri kesempatan
tindakan klien untuk
keperawatan selama mengungkapkan
x 24 jam, cemas perasaannya
2. Pantau tingkat
pasien hilang
kecemasan
dengan criteria
3. Beri dorongan
hasil: klien nampak
spiritual
tenang, gelisah 4. Beri penjelasan
berkurang, tentang penyakitnya
ketakutan
berkurang, dapat
beristirahat,
frekuensi nafas 12-
24/menit
DAFTAR PUSTAKA

Alnetral. 2012. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN


PYELONEFRITIS . http://alnetral507.blogspot.co.id/2012/07/asuhan-
keperawatan-pada-klien-dengan.html (diakses 13 November 2015 pukul
19:00 WITA)
Brunner & Suddarth. 2000. Keperawatan Medikal-Bedah. Edisi 8 vol 2. Jakarta:
EGC
Dessy, T., dkk. 2009. Perubahan Fisiologi Masa Nifas. Akademi Kebidanan
Mambaul Ulum Surakarta.
Kusuma Hardi dan Nurain Huda Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC (jilid 1). Yogyakarta :
Media Action Publishing
Kusuma Hardi dan Nurain Huda Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis dan NANDA NIC-NOC (jilid 2). Yogyakarta :
Media Action Publishing
Sely. 2010. ASUHAN KEPERAWATAN PIELONEFRITIS INFEKSI GINJAL.
http://sely-biru.blogspot.co.id/2010/02/askep-pielonefritis-infeksi-
ginjal.html (diakses 13 November 2015 pukul 19:00 WITA)
Tambayong, Jan. 2000. Patofisiologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Penyimpangan KDM

Kehamilan

Penekanan vesika
urinaria dan saluran
kemih

Kecepatan
pengeluaran urine

Eliminasi bakteri di
vesika urianaria

Bakteri naik ke sal.


Kemih atas/ginjal
Pelepasan mediator
Pelepasan pirogen Infeksi Iritasi kimia histamine,
prostaglandin
Termoregulasi Pyelonefritis akut
Hipotalamus
Suhu tubuh

Perubahan Nyeri Lambung


Demam
status
menggigil
kesehatan Nyeri akut Asam lambung

Cemas Hipertermi
Mual muntah
Ketidakseimbangan
Ansietas nutrisi kurang dari BB Anoreksia
kebutuhan tubuh