Anda di halaman 1dari 16

BAB 5

Pemilihan Lokasi
A. Pertimbangan Pemilihan Lokasi

Manajemen perusahaan harus mempertimbangkan berbagai hal dalam melakukan


pemilihan lokasi.pertimbangan dimaksud mencakup aspek social, ekonomi, politik, dan
keamanan lokasi. Russel dan Taylor (2000) menyatakan bahwa dalam pemilihan lokasi untuk
pabrik banyak terkait dengan kebutuhan untuk tetap bertahan dalam jangka panjang ( survival
in the long run). Pembuatan keputusan lokasi pada umumnya dilakukan lebih sering untuk
operasi layanan jasa disbanding dengan lokasi pabrik. Fasilitas untuk bisnis yang menyangkut
bidang jasa cenderung lebih kecil ukurannya dan lebih murah, walaupun untuk rumah sakit
cenderung memerlukan suatu investasi yang sangat besar dan sangat mahal. Jasa tergantung
pada derajat tingkat kejenuhan pasar atas produknya sehingga penempatan lokasinya benar-
benar bagian dari produk mereka. Di samping itu, pada pemilihan lokasinya benar-benar bagian
dari produk mereka. Di samping itu, pada pemilihan lokasi usaha jasa, tekanannya terutama
terletak pada kemudahan para pelanggan dalam mencapai lokasi itu.

Dervtsiotis (1987) berpandangan bahw pemilihan lokasi berada di tangan top


management sebuah perusahaan, baik pada usaha pabrikmaupun pada usaha jasa. Dalam
pemilihan lokasi itu, manajemen puncak perlu memperhitungkan pertimbangan berikut.

1. Lokasi itu berkaitan dengan investasi jangka panjang yang sangat besar jumlahnya
yang berhadapan dengan kondisi-kondisi yang penuh ketidakpastian.
2. Lokasi itu menentukan suatu kerangka pembatas atau kendala operasi yang
permanen (mencakup undang-undang, tenaga kerja, masyarakat, dan lain-lain) dan
kendala itu mungkin sulit dan mahal untuk diubah.
3. Lokasi mempunyai akibat yang signifikan dengan posisi kompetitif perusahaan, yaitu
akan meminimumkan biaya produksi dan juga biaya pemasaran keluaran yang
dihasilkan.

Pembuatan keputusan lokasi pada umumnya dilakukan lebih sering untuk operasi layanan
jasa dibanding dengan lokasi untuk pabrik. Fasilitas untuk bisnis yang menyangkut bidang jasa
cenderung lebih kecil ukurannya lebih murah, walaupun untuk rumah sakit cenderung
memerlukan suatu investasi yang sangat besar dan sangat mahal. Jasa tergantung pada derajat
tingkat kejenuhan pasar atas produknya sehingga penempatan lokasinya benar-benar bagian
dari produk mereka.

Menurut Chase, Aquilano, dan Jocobs (2001), Jacob dan Chase (2011) dan Chas dan
Aquilano (1995), permasalahan yang dihadapi dalam pemilihan fasilitas dijumpai pada bisnis
sudah ada dan yang baru, dan pemecahannya sangat menentukan kesuksesan perusahaan di
masa yang akan datang. Suatu unsure penting dalam perancangan suatu rantai pasokan
(Supply chain) perusahaan ialah pemilihan lokasi fasilitasnya

Memperhatikan uraian di atas, maka berbagai pertimbangan dalam pemilihan lokasi harus
dilakukan oleh usahawan. Pertimbangan yang ada menurut Russel dan Taylor (2000), Chase,
Aquilano, dan Jacobs (2001), serta Chase dan Aquilano (1995) yang perlu mendapatkan
perhatian manajemen adalah sebagai berikut.

1. Perencanaan Jangka Panjang Perusahaan


Berkaitan dengan rencana jangka panjang perusahaan, manajemen perlu
mempertimbangkan kemungkinan memperluas area jika di masa yang akan datang itu
perusahaan akan melakukan ekspansi atau peningkatan kapasitas. Demikian pula jika di
masa mendatang, perusahaan akan melakukan kebijakan diversifikasi atas produk yang
dihasilkan, di lokasi yang telah dipilih terdapat peluang yang cukup untuk menunjang
kebutuhan pemasangan mesin baru. Di sampingitu, lokasi menjamin kelancaran aliran
pemasukan bahan baku dan aliran penyaluran keluaran yang dihasilkan.

2. Kedekatan dengan Sumber Bahan


Perusahaan berkepintingan untuk selalu memperoleh bahan mentah yang dibutuhkan
dengan, layak harganya,berkelanjutan atau terus-menerus, dan biaya pengangkutan yang
rendah serta tidak mudah rusak sehingga bila diproses nantinya menjadi barang jadi, biaya
produksi dapat ditekan dan kualitas barang yang dihasilkan akan bagus. Dalam hubungan
dengan bahan baku yang akan diolah, perusahaan pabrik menghadapi salah satu dari dua
kenyataan, yaitu sebagai berikut.
a. Pabrik yang memerlukan bahan baku dalam volume besar, bahan itu sulit diangkut,
akan susut beratnya dalam proses pengolahan, angkutan hasilnya lebih mudah dan
lebih kecil resikonya, harga bahan baku relative hasilnya lebih mudah dan lebih kecil
risikonya, harga bahan baku relative murah, dan tersedianya secara melimpah hanya
pada tempat tertentu (ubiquitet relative). Pabrik sejenis ini akan lebih efisien jiak
memilih lokasi dekat sumber bahan ( raw naterials orientation industry ). Misalnya
pabrik semen, pabrik peleburan besi, kilang minyak, pabrik gula, dan sebagainya.
b. Pabrik yang memerlukan bahan baku dalam volume yang besar, tetapi bahan itu
mudah diangkut, berat keluaran ditambah dalam proses pengolahan, angkutan
hasilnya lebih sulit dan lebih mahal. Oleh karena itu, pabrik seperti ini akan memilih
lokasi yang dekat dengan pasar (market orientation industry). Misalnya, pabrik
minuman dalam kemasan botol, pabrik pengalengan ikan, cold storage, dan
sebagainya. Pabrik markisa dan sirop cenderung memilih orientasi pasar dibanding
dengan orientasi bahan. Biji markisa mudah mengangkutnya dan biaya angkutannya
relatif mjrah. Akan tetapi, sesudah diolah menjadi jus markisa dan dikemas dalam
botol, risiko angkutan hasilnya lebih besar dan cenderung lebih mahal. Dengan
demikian, industry pengolahan markisa memilih orientasi (mendekati) pasar.

3. Kedekatan dengan Pasar


Alasan utama suatu perusahaan dekat dengan pasar adalah agar dapat melayani
konsumen atau barang hasil produksina cepat dipasarkan. Disamping itu biaya
pengangkutan produk ke pasar dapat lebih rendah, sehingga harga akan ditekan atau lebih
rendah dengan harapan julah produk yang terjual akan lebih banyak dan akhirnya
mendapat penjualan yang lebih besar. Kemudain, perlu dipertimbangkan pula jika
produknya mudah rusak atau tidak, berat produk,proporsi biaya distribusi barang jadi pada
total biaya. Perusahaan besar dengan jangkauan pasar yang luas, dapat mendirikan pabrik-
pabriknya di banyak tempat tersebar untuk mendekati pasar. Dalam uraian di atas telah
dikemukakan perusahaan industriyang cenderung memilih lokasi atas pertimbangan
kedekatan dengan pasar (proximity to markets).
4. Iklim Bisnis
Suatu iklim bisnis yang baik dapat meliputi hadirnya bisnis yang serupa ukurannya,
hadirnya perusahaan baru dalam industry yang sama, hadirnya perusahaan asing lainnya
karena adanya kebijakan perusahaan multinasional dalam pemilihan lokasi internasional. Di
dunia nyata, pemerintah suatu Negara, juga menerbitkan peraturan yang berhubungan
dengan kegiatan bisnis termasuk pengaturan lokasi industry. Intervensi pemerintah local
atau daerah juga sering dijumpai, yaitu untuk melokasikan industry di suatu area agar
memudahkan mengatur kegiatan industry di daerahnya. Di kawasan itu perusahaan
industry diberikan subsidi tertentu dan insentif pengurangan pajak, serta disediakan
fasilitas pendukung lain untuk mendorong perusahaan industry masuk ke lokasi yang
ditunjuk.
5. Biaya Total Produksi
Tujuan kriteria ini adalah untuk mendorong usaha industry ataupun jasa untuk memilih
lokasi yang akan meminimumkan biaya operasi. Dalam biaya total tersebut tercakup biaya
pemasukan bahan, pendistribusian dan pemasaran keluaran, upah buruh, harga tanah,
biaya konstruksi, beban pajak, biaya energy, dan biaya pengolahan lainnya. Permasalahan
yang harus dijawab dalam pemilihan lokasi berbasis biaya total yang minimal ialah: (a)
adanya kemungkinan perusahaan kehilangan respons dari pelanggannya karena lokasinya
sulit dijangkau serta jauh dari konsentrasi konsumennya; atau (b) adanya perpindahan
bahan reproduksi yang berlebihan di antara lokasi-lokasi sebelum menyerahkan produk
akhir kepada pelanggan
6. Ketersediaan Infrasturktur
Kebutuhan terhadap ketersediaan infrastruktur pada perusahaan industry ataupun jasa
biasanya volumenya ckup besar, sangat memerlukan dukungan berbagai macam
prasarana, seperti jalan raya, rel kereta api, hubungan udara, pasokan listrik, air, sarana
telekomunikasi, dan energy. Jika perusahaan memilih lokasinya didaerah dimana terdapat
ketersediaan infrastruktur seperti di yang disebutkan, maka pabrik harus mendirikan atau
menyediakan infrastruktur itu sendiri sehingga tentunya akan membutuhkan investasi yang
lebih besar lagi. Pemerintah suatu negara dan juga pemerintah daerah harus mampu
menyediakan prasarana demikian yang memenuhi persyaratan yang diminta oleh
usahawan industry dan jasa. Sarana dan prasarana seperti itu akan menjadi insentif dalam
pemilihan lokasi
7. Ketersediaan tenaga kerja dan kualitas tenaga kerja
Supply tenaga kerja yang cukup umumnya merupakan faktor penting, walaupun kualitas
dan komposisi dari tenaga kerja yang tersedia juga penting. Misalnya, pabrik atau industry
yang membutuhkan pekerja yang memiliki skill. Skill Labor atau tenaga kerja terampil
tidak mungkin di dapat disetiap daerah dan sangat sukar untuk memindakan skill labor
yang ada disuatu daerah ke daerah lain tanpa ada peningkatan upah atau bentuk
kompensasi lainnya. Di lokasi harus tersedia pasokan tenaga kerja yang diperlukan oleh
usahawan pabrikdan jasa, baik dari sisi jumlahnya maupun dari sisi mutunya. Bahkan
pasokan tenaga kerja yang memadai dan upah yang relative murah akan menjadi salah
satu dari beberapa insentif utama dalam pemilihan lokasi. Di samping itu, sikap dan
perilaku tenaga kerja yang tersedia untuk mengikuti pendidikan dan latihan juga akan
menjadi bagian dari pertimbangan. Bagi banyak prusahaan sekarang kebiasaan dan sikap
calon pekerja suatu daerah lebih penting dari keterampilan dan pendidikan, karena jarang
perusahaan yang dapat menemukan tenaga kerja baru yang telah siap pakai untuk
pekerjaan harus menyelenggarakan program latihan khusus bagi tenaga kerja baru.
8. Ketersediaan Pembekal (Presence of supplier)
Pembekal adalah mitra usahawan dalam mengelola bisnisnya. Pembekal yang andal
adalah tulang belakang usaha industry dan jasa. Dengan demikian tersedianya pembekal,
baik berupa leveransir bahan kebutuhan maupun penyedia komponen produk yang
dibutuhkan oleh usaha industry, akan menjadi daya tarik dalam pemilihan lokasi.
9. Kebijakan Pemerintah dan Risiko Politik
Beberapa negara memberikan pembatasan dalam penempatan usaha industry asing di
negaranya. Pembatasan itu dapat berupa keharusan mempergunakan bahan local,
memanfaatkan tenaga kerja local, dan kewajiban untuk melakukan alih tenologi. Geopolitik
yang berubah sangat cepat merupakan pemandanganyang dijumpai di banyak negara
dewasa ini dan melahirkan peluang bisnis yang menantang. Akan tetapi, tuntunan agar
tahapan pengolahan diperluas muncul di banyak negara. Banyak negara atau daerah
dalam suatu negara menghendaki agar industry pengolahan yang dibangun di kawasannya
menghasilkan produk jadi, atau setidak-tidaknya menjadi komponen siap rakit. Pembatasan
demikian dapat menjadi salah satu hambatan dalam pembuatan keputusan pemilihan
lokasi. Dengan demikian, usahawan industry akan menghadapi risiko politik, baik dalam
memilih negara penempatan lokasi pabriknya, maupun kebijakan penyelenggara negara di
lokasi yang bersangkutan terhadap keputusan pengolahan di masa mendatang.
10. Zone Perdangan Bebas
Beberapa negara menunjuk wilayah tertentu di negaranya sebagai kawasan
perdangan bebas dengan berbagai insentif pajak di dalamnya. Hal itu dimaksudkan untuk
mendorong pemodal asing memilih lokasi di wilayah itu. Di Indonesia dikenal kawasan
perdagangan bebas Sabang di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dan Pulau Batam di Riau.
Selanjutnya, sejak 1 Januari 2003 kawasan Asean telah memasuki suatu era baru, yaitu era
perdagangan bebas sehingga semua negara di kawasan Asean harus meminimalkan
pembatas menuju perdagangan bebas. Pembatas bea masuk akan dicabut, dan negara-
negara Asean masuk ke system perdagangan bebas pungutan bea sejak 2010. Kondisi
demikian akan memaksa industry di semua negara untuk mempertinggi daya saingnya.

11. Blok Perdagangan


Dewasa ini dijumpai pula kolaborasi beberapa negara di kawasan tertentu untuk
membentuk blok perdagangaan. Misalnya, Benelux (Belgia, Belanda dan Luksemburg) di
Eropa Barat telah membuat kesempatan untuk saling membantu dalam usaha memulihkan
perekonomian masing-masing negara setelah Perang Dunia II.

12. Keamanan
Faktor keamanan merupakan faktor yang sangat dipertimbangkan oleh pengusaha
dalam pemilihan lokasi. Tanpa jaminan keamanan, usahawan akan ragu-ragu
menanamankan modalnya di daerah yang bersangkutan. Demikian pula pada perusahaan
multinasional, soal keamanan suatu negara akan sangat penting. Vietnam dan Kamboja
misalnya, dalam era perang dengan Amerika Serikat, telah mendorong perusahaan asing
dan domestic memindahkan lokasinya ke negara lain. Akan tetapi, sesudah perang usai
dan Vietnam menjadi aman, pemodal domestic dan asing tertarik menanamkan modalnya
di Vietnam karena Vietnam memiliki sumber daya alam yang kaya dan tenaga kerja yang
melimpah serta murah, ulet, dan terampil.

13. Aturan Lingkungan


Dengan semakin sadarnya masyarakat akan kelestarian lingkungan, isu lingkungan
menjadi penting dalam pemilihan lokasi. Bahkan soal lingkungan ini sudah diatur dalam
konveksi internasional, antara lain ISO-14000 yang mengatur Sistem Manajemen
Lingkungan (Ecomanagement System atau EMS) dan masalah audit lingkungan
(Ecomanagement Audit Scheme atau EMAS). Lebih lanjut dikenal pula aturan tentang
kewajiban pelabelan lngkungan atas produk yang dipasarkan ke pasar dunia, khususnya ke
Eropa dan Amerika yang disebut Ecolabeling.Di Indonesia, aturan mengenai ecolabeling ini
mulai diberlakukan sejak 1 Januari 2000. Pemerintah semua negara telah melakukan
pembatasan terhadap emisi CO2 ke udara dan larangan pemakaian CFC untuk produk
kulkas, pendingin ruangan, dan sebagainya, sebagai bagian dari usaha meminimalkan efek
rumah kaca. Setiap pendirian industry harus didukung oleh Analisis Mengenai Dampak
Lingkungan (Amdal). Dengan demikian, pemilihan lokasi menjadi semakin sulit sebab selain
harus mempertimbangkan aspek ekonomi, juga harus mempertimbangkan aspek
lingkungan, social, dan politik-keamanan.

14. Penerimaan Masyarakat Lokal


Ketersediaan masyarakay menerima segala dampak, baik dampak negative maupun
positif didirikannya pabrik didaerah tersebut. Perusahaan harus memperhatikan lingkungan
dimana perusahaan berlokasi, karena pabrik pati akan mengeluarkan limbah dan zat padat
yang tercemar dan sering mengeluarkan suara bising. Tapi disisi lain masyarakat juga
membutuhkan industry tersebut, karena menyediakan lapangan pekerjaan. Kemudian
masalah lainnya yaitu, Aspek sosial, budaya,keyakinan, tata nilai masyarakat, dan adat
istiadat setempat harus diperhitungkan. Di suatu daerah yang hukum adat dan pengaruh
kepala sukunya masih kuat, soal pemilikan atas tanah, sekalipun sudah diproses menurut
hukum formal, tetap masih harus mendapatkan pengakuan dari pemangku adat. Menurut
mereka tanah adalah mirip adat sehingga hanya pemangku adat yang dapat mengalihkan
penguasaan atas tanah yang ada. Penerimaan masyarakat akan menjadi jaminan terhadap
keamanan dan kestabilan bisnis di masa datang.

15. Keunggulan Bersaing


Suatu keputusan penting untuk perusahaan multinasional ialah pemilihan atas negara
yang menjadi tempat kedudukan (home base) masing-masing bisnis yang berbeda. Porter
menyatakan bahwa suatu perusahaan dapat mempunyai tempat kedudukan (home base)
yang berbeda untuk segmen atau bisnis yang juga berbeda. Keunggulan bersaing
diciptakan pada suatu home base dengan disertai rumusan strategi tertentu, produk inti
dan teknologi proses diciptakan, dan suatu kebijakan produksi massa penting
dipertimbangkan. Suatu perusahaan perlu memindahkan home base perusahaannya dari
suatu negara ke negara yang lain untuk merangsang inovasi dan menyediakan lingkungan
yang kondusif untuk daya saing global. Konsep ini dapat juga berlaku untuk perusahaan
domestic yang berusahan mendapatkan keunggulan kompetitif dengan memperhitungkan
daya topamg lokasi.
B. METODE PEMILIHAN LOKASI

Manajemen Produksi juga membagi dalam aktivitas pemilihan lokasi, tersedia beberapa
metode analisis. Metode yang lazim dijumpai dalam praktik mencakup metode pusat titik berat
(center of gravity method ), metode median sederhana (simple median method ), metode
pemeringkatan factor (factor rating method), aplikasi metode transportasi ( transportation
method ), dan metode holistic (heuristic method).

Adapun penjelasan dari daktor pemilihan lokasi adalah sebagai berikut:


1. Metode Factor rating; metode ini memberikan suatu landasan penetuan lokasi dengan
cara membubuhkan bobot terhadap factor- factor yang perlu dipertimbangkan. Selain
factor- factor kuantitatif seperti kapasitas, biaya, dan jarak dapat juga dianalisis factor-
factor kualitatif seperti sikap masyarakat. Factor kualitatif dikuantitatifkan untuk
memudahkan penilaian. Akan tetapi bisa dinilai sering terjadi dari masuknya
subyektifitas, keobyk tifan mendasari pentingnya penilaian dilakukan oleh lebih dari satu
orang dan hasilnya di rata- ratakan. Metode pemeringkatan factor mempunyai enam
tahapan :
a. Mengembangkan daftar factor- faktro terkait;
b. Menetapkan bobot pada setiap factor untuk mencerminkan seberapa jauh factor itu
penting bagi pencapaian tujuan perusahaan;
c. Mengembangkan suatu skala untuk setiap factor;
d. Meminta manajer untuk menentukan skor setiap lokasi untuk setiap factor dengan
menggunakan skala yang telah dikembangkan pada tahap ke-3;
e. Mengalihkan skor dengan bobot dari setiap factor dan menetukan jumlah total untuk
setiap lokasi;\
f. Membuat rekomendasi yang didasarkan pada skor laba maksimal, dengan juga
mempertimbangkan hasil dari pendekatan kuantitatif.

2. Pusat Titik Berat; Metode ini digunakan untuk memilih sebuah lokasi usaha yang mampu
meminimaliskan jarak atau biaya menuju fasilitas- fasilatas yang sudah ada. Mulanya di
buat suatu peta berskala dari tempat- tempat yang akan di tuju dengan memilih titik
sebaran sebagai pusat koodinat. Jarak antara tempat berasumsi garis lurus, dan biaya
distribusi per unit produk per kilometer adalah sama. Lokasi pabrik atau gudang yang
tepat dicari dengan mengaplikasikan dengan rumus berikut .

Cx = Koordinat X dari pusat titik berat

Cy = Koordinat Y dari pusat titik berat

Vi = volume dari bahan yang akan diangkut dari sumber ke- I

Dix = jarak dari sumber bahan ke-I dari sumbu X

Diy = jarak dari sumber bahan ke-I dari sumbu V

K = banyaknya sumber bahan yang dievaluasi

3. Metode median sedehana; pada dasarnya mirip cara penyelesaianya dengan Center of
Gravity Method. Aplikasinya memerlukan beberapa tahapan, yaitu sebagai berikut :

a. hitung jumlah atau volume bahan yang akan diangkut, V;

b. cari median dari volume angkutan V, yaitu 0,5 x V;

c. buat peta dimensi dua dan identifikasi lokasi sumber bahan berdasarakan nilai
koordinat X,Y tiap sumber;
d. Urutkan sumber bahan menurut jaraknya ke-X dan ke-Y;
e. Pilih sumber bahan terdekat sampai mencapai median dan titik di mana median
dicapai menunjukkan X0 dan Y0;
f. Hitung selisih mutlak antara lokasi sumber dengan X0 dan Y0;
g. Cari nilai biaya angkutan;
h. Cari lokasi optimal.
4. Metode Trasnpotasi; pada prinsipnya metode ini mencari nilai optimal yang dapat
diperoleh dengan mempertimbangkan pemenuhan demand dan supply pada biaya
transpotasi yang terendah. Tujuan dari model transportasi adalah untuk menentukan
pola pengangkatan yang terbaik dari beberapa titik penawaran (pasokan/sumber) ke
beberapa titik permintaan (tujuan) agar dapat meminimalkan produksi total biaya
transportasi. Setiap perusahaan dengan titik jaringan penawaran- permintaan
menghadapi masalah seperti ini. Walaupun teknik pemograman linear dapat digunakan
untuk menyelesaikan masalah sejenis ini, telah dikembangkan algoritma yang lebih
efesien, special-purpose, untuk mengembangkan aplikasi transportasi. Model
transportasi menemukan pemecahan awal yang layak dan kemudian membuat
peningkatan bertahap sampai tercapai pemecahan yang optimal. Lebih lanjut, juga
dipakai beberapa pembatasan dalam aplikasinya, yaitu :
a. Aplikasi dalam Pemilihan Lokasi dimana dalam pengembangannya tidak hanya
dipakai untuk analisis distribusi, tetapi juga sudah dipakai dalam pemilihan lokasi
dan perencanaan agregat;
b. Evaluasi Derajat Optimum dimana dilakukan dengan memberikan nilai 0 selanjutnya
diselesaikan dengan mencari indeks baris dan kolom yang telah ditentukan, setelah
dilakukan evaluasi derajat optimum maka untuk menyelesaikan perlu dilakukan uji
derajat optimal untuk menentukan apakah lokasi memenuhi syarat atau tidak.
5. Heuristics Method atau lazim juga disebut metode holistic Yang merupakan metode
pemilihan lokasi yang sangat baik diterapkan dalam usaha menentukan lokasi
perusahaan jasa, layan public seprti rumah sakit atau puskesmas dan lainnya. Metode
ini mudah penerapannya karena tidak menggunakan formula matematik yang rumit.

C. Prosedur Meminimumkan Biaya Distribusi

Untuk meminimumkan biaya dengan mempergunakan metode transportasi ini, perlu


dilakukan berbagai langkah, yaitu sebagai berikut:
1. Nyatakan program dengan jelas sehingga jumlah kapasitas pengiriman atau sumber
yang tersedia sama dengan jumlah kapasitas permintaan terhadap produk yang
bersangkutan.
2. Aplikasikan metode lokasi awal untuk mendapatkan solusi yang layak
3. Evaluasilah hasil lokasi awal untuk menentukan apakah alokasi telah optimal atau belum
sehingga masih harus diperbaiki
4. Evaluasi derajat optimal program minimisasi dilakukan, baik atas jumlah kotak atau
pasar yang dilayani maupun kotak atau pasar yang tidak dilayani
5. Modifikasilah solusi yang ad ajika syarat optimal dalam butir 4 dipenuhi
6. Ulangi langkah ke-3, ke-4, dan ke-5 sampai dicapai kondisi optimal.
D. Pendekatan Maksimisasi Kontribusi
Aplikasi metode transportasi dalam memecahkan analisis distribusi yang optimal dapat pula
dilakukan melalui pendekatan maksimisasi kontribusi. Secara teoritis, kontribusi adalah selisih
antara harga jual dan biaya variable yang berguna untuk menutupi biaya tetap
organisasi/perusahaan sekaligus menghasilkan laba.

E. Pengujian Derajat Optimum Pemecahan


Setelah proses alokasi selesai, sesuai dengan prosedur yang telah dikemukakan dalam
uraian terdahulu, untuk menguji derajat optimum hasil alokasi, perlu memerikasa jumlah kotak
yang berisi dan indeks kotak yang kosong.
BAB 8
Perencanaan Kapasitas: Usaha Jasa

1. Strategi Penyediaan Kapasitas Layanan Jasa

Strategi penyediaan kapasitas layanan jasa ini tentu akan berbeda di antara usaha jasa
yang juga berbeda. Namun demikian, took eceran khususnya dan usaha jasa pada
umumnya sangat berkepentingan terhadap keseimbangan antara kapasitas layanan dengan
kapasitas permintaan pelanggan akhir. Dikatakan demikian karena semua pelanggan
menginginkan pelayanan yang cepat dan sesuai spesifikasi, jumlah, dan waktunya dengan
yang dibutuhkannya. Nasabah sebuah bank yang selalu antre di depan loket sebelum
mendapatkan pelayanan lambat laun akan merasa tidak puas atau bosan sehingga
berusaha melirik bank lain yang mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Restoran
siap saji yangmampu memberikan layanan yang cepat tentu akan digandrungi oleh
pelanggannya. Sebaliknya, yang tidak mampu memberikan layanan yang cepat lambat laun
akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Melebihi kebutuhan. Ini terjadi karena mesin atau
alat yang diadakan harus memiliki kapasitas yang besar. Kelebihan kapasitas akan
menimbulkan biaya umum sampai kapasitas itu digunakan. Kelebihan kapasitas akan
menimbulkan biaya umum sampai kapasitas itu digunakan. Untuk menentukan pilihan
strategi mana yang layak dipilih, manajemen perusahaan harus melakukan suatu studi
kelayakan. Tanpa mengurangi pentingnya arti danperanan studi kelayakan dalam pemilihan
strategi, apabila menurut proyeksi permintaan layanan jasa di masa mendatang untuk
kurun waktu yang cukup panjang adalah tinggi, pilihan unfrequent investment lebih layak
untuk dipertimbangkan.

2. Penyediaan Kapasitas Layanan Jasa

Pada pembicaraan mengenai jasa spesifik ini akan dikemukakakn kebutuhan layanan
jasa angkutan. Menurut Schumer (1968) dan Eaton (1968), jasa angkutan itu harus
memenuhi beberapa criteria mutu, yaitu kecepatan (Speed), Keamanan (safety),
Keteraturan (regularity), Frekuensi kedatanagn (frequency), keterpaduan
(compherensiveness), kecukupan kapasitas (capacity), keterjangkauan biaya atau harganya
(acceptable cost), tanggung jawab atau keselamatan (responsibility) dan kenyamanan
(comfort).

3. Teori Antrean

1. Pengertian dan Kegunaan


Teori Antrean sebuah teori analisis keefektifan system yang dikenalkan oleh A.K.
Erlang, seorang ahli teknik berkebangsaan Denmark. A.K.Erlang berusaha mengatur
kemampuan sebuah fasilitas servis untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya
kepada pelanggan. A.K.Erlang adalah seorang teknisi yang bekerja di Kantor Telepon
Denmark dengan tugas melakukan penyambungan permintaan pembicaraan local dan
interloka (saat itu belum dikenal telepon otomat dan SLJJ). Erlang mendapat kenyataan
bahwa permintaan yang tiba pada saat yang sama kadang-kadang sebagian harus antre
menunggu giliran karena fasilitas sambungan sibuk dan pada saat yang lain, permintaan
kurang sehingga fasilitas menganggur.

Memperhatikan fenomenadi atas A.K.Erlang melakukan suatu studi untuk melakukan


modifikasi system guna mengefektifkan pemakaian system pelayanan dan pada akhirnya
akan memuaskan setiap pelanggan yang tiba meminta pelayanan.
Teori yang dikenalkan itu kemudian disebut ntrean atau sebagai teori waiting line
theory. Model berguna untuk mengukur keefektifan system secara cepat dan secara
garis besar dengan melihat beberapa indicator pelayanan yang penting, yaitu estimasi
tentang hal-hal berikut.
a. Beberapa pelanggan yang antre menunggu pelayanan dalam waktu tertentu?
b. Beberapa pelanggan yang ada dalam system, yaitu yang sedang dilayani dan antre
menunggu pelayanan?
c. Berapa lama pelanggan harus menunggu dalam antrena sebelum tiba gilirannya
untuk menerima pelanggan?
d. Berapa lama pelanggan harus berada dalam system, yaitu waktu untuk menerima
pelayanan dan waktu untuk menunggu dalam antrean sebelum menunggu
pelanggan?
2. Model Analisis Antrean

Sebelum dikemukakan struktur system pelayanan yang umum dijumpai di dunia nyata.
Bentuk struktur tersebut dibedakan atas sebagai berikut:

1. Single Channel, Single Phase Model (SC-SP). Adalah system pelayanan yang hanya
memiliki satu saluran pelayanan dan jasa yang diberikan akan sempurna pada satu
tahapan saja.
2. Multi Channel, Multi Phase Model (MC-SP). Pada hakikatnya merupakan penggandaan
system yang pertama. Jasa yang diberikan selesai hanya pada satu tahapan saja, tetapi
tenaga pelayanan lebih dari satu.
3. Singe Channel, Multi Phase Model (SC-MP). Adalah system pelayanan yang hanya
memiliki satu saluran pelayanan, tetapi jasa yang diberikan akan selesai hanya daam
satu tahapan.
4. Multi Channel, Multi Phase Model (MC-MP). Adalah system yang memberikan jasa
pelayanan yang akan selesai dalam beberapa tahapan dan petugas pelayanan lebih
daripada satu barisan atau lebih daripada satu orang.

3. Tipe Sumber Populasi.

tipe sumber populasi sebagai berikut:

A. Infinite Model
Tipe ini merupakan model analisis antrean di mana objek yang akan dating meminta
pelayanan pada fasilitas servis yang bersangkutan tidak tertentu (bersifat acak). Misalnya,
kendaraan bermotor yang akan tiba di Stasiun Pengisian Bensin Untuk Umum (SPBU) X
tidak dapat dipastikan asal dan jumlahnya. Ada kemungkinan A yang mengisi bensin SPBU X
hari ini, besok harnya akan mengisi bensin di SPBU Y, Z, dan seterusnya.

Postulat yang dipakai pada model ini adalah sebagai berikut.

1). Pelanggan yang tiba memiliki distribusi Poisson, maksundnya: terdapat kecenderungan
(probabilitas) jumlah objek yang tiba pada jumlah yang lebih besar daripada tingkat rata-
rata kedatangan adalah kecil, sedangkan kecenderungan (probabilitas) jumlah objek yang
tiba pada jumlah yang lebih kecil daripada tingkat rata-rata kedatangan adalah besar.

2). Kemampuan melayani distribusi eksponensial negative

3). Pelayanan pelanggan di fasilitas servis mengikuti disiplin: First come, First Service.

4). Pada system dengan model Single Channel, Single Phase, tingkat mampu layani () >
tingkat rata-rata kedatangan pelanggan.

4. SIMULASI
1. Defenisi
Simulasi adalah kegiatan mengabstraksi sebuah keadaan nyata ke dalam sebuah tiruan
yang menggambarkan keadaan nyata itu melalui aktualisasi karakteristik utama objek yang
berangkutan. (G.A Silver dan J.B Silver 1977).

Memperhatikan pengertian di atas, pada dasarnya dapat dikemukakan bahwa simulasi


merupakan prosedur kuantitatif untuk mencari hasil optimum suatu objek nyata melalui
peniruan karakteristik utama objek nyata yang bersangkutan.

Objek itu data berupa:

a. Pelayanan sebuah usaha ambulans terhadap panggilan pemakai, rumah sakit,


perorangan ataupun pemakai lainnya.
b. Pengaturan persediaan untuk mencapai laba yang maksimumkan atau biaya yang
minimum.
c. Penyusunan anggaran peremajaan armada bus atau truk sebuah usaha angkutan darat;
d. Dan lain sebagainya.

2. Jenis simulasi
Menurut Buffa dan Dyer (1978), ada empat macam simulasi yang lazim dipakai dalam
praktik, yaitu sebagai berikut:
a. Simulasi deterministic, yaitu simulasi atas keadaan nyata melalui abstraksi proses di
mana nilai yang terikat adalah nilai yang terukur atau pasti.
b. Simulasi Stokastik, yaitu simulasi atas keadaan nyata yang proses kejadiannya
bersifat probabilistic.
c. Simulasi diskrit, yaitu simulasi yang dilakukan untuk menirukan suatu keadaan nyata
dalam prototype yang sesuai.
Simulasi kontinum, yaitu simulasi suatu keadaan nyata yang hasilnya akan berada pada
suatu rentang nilai, batas bawah dan batas atas, atau minimum dan maksimum.