Anda di halaman 1dari 41

RSUD BINTAN

EPISIOTOMY

No. Dokumen Revisi Halaman


0 1/1

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Penyanyatan mulus serambi kemaluan (perineum) untuk
memudahkan kelahhiran bayi (kamus kedokteran 2000)
1. Untuk melebarkan jalan lahir.
MAKSUD DAN TUJUAN 2. Untuk mencegah robekan perineum secara total.
- Penyanyatan mulus serambi kemaluan (perineum) untuk
KEBIJAKAN memudahkan kelahiran bayi dengan adanya indikasi.
- Yang melakukan semua bidan jaga yang mempunyai sertifikat
APN.
Persiapan:
PROSEDUR 1. Sarung tangan steril 1 pasang
2. Gunting episiotomy steril.
3. Kasa steril.
4. Lidocain HCL 1 %
5. Spuit 5 cc
6. Inform consent
7. Larutan klorin 0,5%
8. Betadine 12%

Pelaksanaan:
1. Anestesi local
a. Jelaskan pada ibu tentang apa yang akan dilakukan
dan bantulah agar ibu merasa tenang.
b. Pakailah sarung tangan, berikan antiseptic.
c. Dengan cairan NAcL dalam kasa steril. Ambilah spuit
5 cc kemudian isi spuit dengan bahan.
d. Anestesi (lidocain Hcl 1%)

RSUD BINTAN EPISIOTOMY


No. Dokumen Revisi Halaman
0 1/2

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
e. Letakkan 2 jari (telunjuk dan jari tengah) diantara
PROSEDUR kepala janin dan perineum untuk melindungi kepala
bayi. Lakukan secara Mediallateral di perinium.
f. Tusukkan jarum tepat di bawah kulit perineum pada
daerah komisura posterior (fourchette) yaitu bagian
sudut bawah vulva.
g. Arahkan jarum dengan membentuk sudut 450 ke
sebelah kiri atau kanan garis tengah perineum.
Lakukan aspirasi untuk memastikan bahwa ujung
jarum tidak memasuki pembuluh darah sambil
menarik mundur untuk mencegah akumulasi bahan
anesthesia hanya pada satu tempat.

UNIT TERKAIT 1. Ruang kamar bersalin.


2. Ruang perawatan postpartum.
3. Poli nifas

RSUD BINTAN AMNIOTOMY


No. Dokumen Revisi Halaman
0 1/1

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Tindakan untuk membuka selaput amnion dengan jalan membuat
robekan kecil yang kemudian akan melebar secara spontan akibat
gaya berat cairan dan adanya tekanan di dalam rongga amnion
(sarwono prawiroharjo, 2001)
Untuk memecah selaput ketuban bila belum pecah dan cervix telah
MAKSUD DAN TUJUAN membuka lengkapi/ sepenuhnya (10 cm).
- Merobek selaput amnion yang kemudian akan melebar secara
KEBIJAKAN spontan akibat gaya berat cairan dan adanya tekanan di dalam
rongga amnion, Dengan adanya indikasi.
- Yang melakukan semua bidan yang jaga dan mempunyai
sertifikat APN.
Persiapan:
PROSEDUR 1. Setengah klem kocher atau klem Kelly.
2. Sarung tangan steril 1 pasang.
3. Larutkan klorin 0,5% dalam tempatnya.
4. Nierbeken (bengkok).
5. Inform consent.
Pelaksanaan:
1. Jelaskan pada ibu tentang apa yang akan dilakukan.
2. Atur posisi ibu menjadi posisi litotomi.
3. Pakailah sarung tangan.
4. Lakukan vulva hygiene sebelum melakukan pemeriksaan
dalam (VT).
5. Lakukan pemeriksaan dalam ( VT) untuk memastikan
kepala sudah masuk, pembukaan sudah lengkap dan
selaput ketuban belum pecah serta tidak terba bagian kecil
janin/ tali pusat.pegang dengan hati-hati kocher dari
wadah.
6. Dengan tangan kiri kemudian masukkan dengan
bimbingan telunjuk dan jari tengah kanan hingga
menyentuh selaput ketuban.

RSUD BINTAN AMNIOTOMY


No. Dokumen Revisi Halaman
0 1/2

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
7. Saat his berkurang kekuatannya, gerakkan Ujung jari
PROSEDUR tangan kanan membimbing ujung setengah kocher
menggores selaput ketuban 1-2 cm hingga ketuban pecah,
perhatikan warna, bau dan jumlah cairan yang keluar.
8. Keluarkan kocher dari vagina ibu dengan tangan kiri,
masukkan ke dalam bengkok..
9. Pertahankan jari tangan kanan tetap dalam vagina untuk
meyakinkkan kepala turun dan tidak teraba tali pusat serta
bagian terkecil janin setelah ketuban dipecahkan.
10. Keluarkan jari tangan kanan dari vaggina.
11. Cuci dan lepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik,
lalu rendam dalam larutan klorin 0,5%.
12. Periksa kembali denyut jantung janin
UNIT TERKAIT 1. Ruang bayi
2. Ruang VK
3. Ruang nifas

RSUD BINTAN ATONIA UTERI


No. Dokumen Revisi Halaman
0 1/1

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Keadaan lemahnya tonus/ kontraksi rahim yang menyebabkan
uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat
implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir. (Sarwono, 2008)
Agar bidan dapat melakukan secara rutin manajemen aktif kala III
MAKSUD DAN TUJUAN pada semua wanita yang bersalin untuk menurunkan insidens
perdarahan pascapersalinan akibat atonia uteri.
- Lemahnya kontraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak
KEBIJAKAN mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi
plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.
- Penatalaksanaan dengan konsultasi dokter jaga / SpOG
- Jika keadaan emergency bidan jaga melakukan sesuai SPO
Persiapan:
PROSEDUR 1. Inform consent.
2. Sarung tangan steril 1 pasang.
3. Oxytosin 10 IU 2 ampul.
4. Ergometrin 0,2 mg atau misoprostol 600-1000 gram.
5. Infuse set.
6. Cairan RL.
7. Albocath no 16 atau 18.
8. Tampon.
9. Larutkan klorin 0,5% dalam tempatnya.
10. Nierbeken (bengkok).

Penatalaksanaan:
1. Massage fundus uteri segera setelah lahirnya plasenta
(maksimal 15 detik ) pemijatan merangsang kontraksi
uterus sambil dilakukan penilaian kontraksi uterus.
2. Bersihkan bekuan darah atau selaput ketuban dari vagina
dan lubang serviks.
3. Pastikan kandung kemih kosong.
4. Lakukan kompresi bimanual internal selama 5 menit.
5. Anjurkan keluarga untuk melakukan kompresi bimanual
eksternal.
RSUD BINTAN
ATONIA UTERI

No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
6. Keluarkan tangan perlahan-lahan.
PROSEDUR 7. Berikan ergometrin 0,2 mg/IM atau misoprostol 600-1000
mcg/ rektal (jangan diberikan bila tekanan darah tinggi).
8. Pasang infuse menggunakan jarum no 16 atau 18 drip
oxytosin 20 IU dalam RL 500 cc.
9. Observasi perdarahan, kontraksi dan vital sign.
UNIT TERKAIT Ruang VK

RSUD BINTAN MANUAL PLASENTA


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Tindakan untuk melepas plasenta secara manual (menggunakan
tangan) dari tempat implantasinya dan kemudian melahirkannya
keluar dari kavum uteri.
1. Untuk melepaskan plasenta dari tempat implantasinya.
MAKSUD DAN TUJUAN 2. Untuk mencegah terjadinya perdarahan.
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN
Persiapan :
PROSEDUR 1. Inform consent.
2. Sarung tangan panjang DTT.
3. Sarung tangan DTT .
4. Kateter nelaton steril.
5. Klem penjepit atau kocher.
6. Underpad.
7. Anesthesia verbal atau analgesia/ rectal.
8. Alat pelindung diri.

Penatalaksaan:
1. Kenakan alat pelindung diri.
2. Lakukan kateterisasi (bila kandung kemih penuh).
3. Jepit tali pusat dengan klem atau kocher pada jarak 5-10 cm
dari vulva, tegangkan dengan satu tangan sejajar lantai.
4. Masukkan satu tangan (punggung tangan ke bawah) ke
dalam vagina dengan menelusuri sisi bawah tali pusat.
5. Setelah tangan mencapai pembukaan serviks, minta asisten
untuk memegang kocher, kemudian tangan lain penolong
menahan fundus uteri.
6. Sambil menahan fundus uteri, masukkan tangan ke dalam
cavum uteri sehingga mencapai tempat implantasi vagina.

RSUD BINTAN MANUAL PLASENTA


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PROSEDUR 7. Bentangkan tanagn obstetric menjadi datar seperti member
salam (ibu jari merapat ke jari telunjuk dan jari-jari lain saling
merapat).
8. Temntukan implantasi plasenta, temukan tepi plasenta paling
bawah.
Bila plasenta berimplantasi di korpus belakang, tali
pusat tetap di sebelah atas dan sisipkan ujung jari-jari
tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana
punggung tangan menghadap ke bawah (posterior
ibu)
Bila di korpus depan maka pindahkkan tangan ke
sebelah atas tali pusat dan sisipkan ujung jari-jari
tangan diantara plasenta dan dinding uterus dimana
punggung tangan menghadap ke atas (anterior ibu).
9. Setelah ujung-ujung jari masuk diantara plasenta dan
dinding uterus maka perluas pelepasan plasenta dengan jalan
menggeser tanggan ke kanan dan kiri sambil digeserkan ke
atas (cranial ibu) hingga semua perlekatan plasenta terlepas
dari dinding uterus.
Catatan:
Bila plasenta tidak teraba atau plasenta berada pada
dataran yang sama tinggi dengan dinding uterus
maka hentikan karena hal itu menunjukkan plasenta
inkreta (tertanam dalam miometrium).
Bila hanya sebagian dari implantasi plasenta dapat
dilepaskan dan bagian lainnya melekat erat maka
hentikan pula plasenta manual karena hal tersebut
adalah plasenta akreta. Sebaiknya ibu diberi
uteritonika tambahan (misoprostol 600 mcg/rectal)
sebelum dirujuk ke fasilitas kesehatan rujukan.

RSUD BINTAN MANUAL PLASENTA


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PROSEDUR 10. Sementara satu tangan masih di dalam kavum ueri,
lakukan eksplorasi untuk menilai tidak ada sisa plasenta
yang tertinggal.
11. Pindahkan tangan luar dari fundus ke supra simfisis (tahan
segmen bawah uterus) kemudian instruksikan
asisten/penolong untuk menarik tali pusat sambil tangan
dalam membawa plasenta keluar (hindari terjadinya
percikan darah).
12. Lakukan penekanan (dengan tangan yang menahan supra
ssimfisis) uterus kea rah dorso cranial setelah plasenta
dilahirkan dan tempatkan plasenta di dalam wadah yang
telah disediakan.
13. Dekontaminasi sarung tangan (sebelum dilpaskan) dan
peralatan lain yang digunakan.
14. Lepaskan dan rendam sarung tangan dan peralatan
lainnya di dalam larutan klorin 0,5%bselam 10 menit.
15. Cuci tangan dengan sabun dan air bersih mengalir,
keringkan.
16. Periksa vital sign ibu, perdarahan dan kontraksi hingga 2
jam pasca tindakan.
UNIT TERKAIT Ruang VK

RSUD BINTAN ABORTUS IMINENS


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup diluar kandungan, dan sebagai batasan
digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat badan
anak kurang dari 1000 gram.
Abortus imminens:
Adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi pendarahan per
vaginam ostium masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik
dalam kandungan

Untuk mempertahankan kehamilan


MAKSUD DAN TUJUAN
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN
Penatalaksanaan:
PROSEDUR 1. Inform consent.
2. Melakukan pemasangan infuse ringer laktat atau dex 5%.
3. Istirahat total di tempat tidur.
4. Meningkatkan aliran darah ke rahim.
5. Mengurangi rangsangan mekanis.
6. Mengurangi perdarahan, apabila perdarahan tidak berhenti
dalam 48 jam maka akan berpotensial terjadinya abortus
insipiens.
7. Berikan obat penenang penobarbital 3x30 ml gram, valium,
anti perdarahan: adona, transamin, vitamin B komplek,
hormonal: progesterone 10 mg sehari untuk therapy subsitusi
dan untuk mengurangi kerentanan otot-otot rahim misalnya
(gestanon, dhupaston), anti kontraksi rahim: duvadilan,
papaverin.

RSUD BINTAN ABORTUS IMINENS


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
8. Evaluasi pendarahan jumlah dan lamanya.
PROSEDUR
9. Ulangi tes kehamilan.
10. Konsultasi pada dokter ahli atau penanganan lebih lanjut dan
pemeriksaan ultrasonografi.
11. Berikan konseling pada ibu untuk mengurangi aktivitas yang
berat dan tidak melakukan coitus selama satu bulan setelah
perdarahan berhenti.
UNIT TERKAIT Ruang perawatan kebidanan

RSUD BINTAN KETUBAN PECAH DINI


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Umur kehamilan lebih dari 20 minggu
Keluar cairan jernih dari Vagina
Pada pemeriksaan fisik : suhu normal bila tidak infeksi
Pada pemeriksaan obstetrik bunyi jantung janin biasanya normal.
Pemeriksaan inspekulo: terlihat cairan keluar dari ostium uteri
eksternum.
Untuk mencegah infeksi dan kematian janin karena infeksi atau
MAKSUD DAN TUJUAN prematuritas
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN
A. Konservatif :
PROSEDUR 1. Rawat di RS
2. Antibiotika kalau ketuban pecah < 6 jam (ampisilin atau
eritromicin bila tidak tahan ampisilin).
3. Bila umur kehamilan < 32-34 minggu, dirawat selama air
ketuban masih keluar, atau sampai air ketuban tidak
keluar lagi.
4. Bila sudah 32-34 minggu masih keluar, maka pada usia
kehamilan 35 minggu pertimbangan untuk terminasi
kehamilan sangat tergantung pada kemampuan
perawatan.
5. Pada usia kehamilan 34 minggu berikan steroid selama 7
hari, untuk memacu kematangan paru janin dan kalau
mungkin diperiksakan kadar lesitin dan spingomeilin
tiap minggu.

RSUD BINTAN KETUBAN PECAH DINI


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
B. Aktif:
PROSEDUR 1. Kehamilan : 36 minggu, bila 6 jam belum terjadi
persalinan induksi dengan oksitosin,
2. Bila gagal lakukan seksio sesarea pada keadaan CPD dan
letak lintang.
3. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis
tinggi dan persalinan diakhiri.
4. Bila pelvik skor < 5, diakhiri persalinan dengan seksio
sesarea.
5. Bila pelvik skor >5, induksi persalinan, partus per
vaginam

UNIT TERKAIT 1. Ruang VK


2. Ruang perawatan kebidanan

RSUD BINTAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Memberikan pertolongan pada perdarahan per vaginam setelah
melahirkan lebih dari 500 cc atau perdarahan disertai dengan gejala
dan tanda-tanda syok.
Stabilisasi kondisi korban segera dirujuk ke rumah sakit rujukan.
MAKSUD DAN TUJUAN
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN
PROSEDUR Persiapan
Alat
o Alat pelindung diri (masker, kacamata safety,
handscoen, scort)
o Obat emergency
o Obat-obatan anti perdarahan
o Cairan infuse
o Tampon
o VC set
o Hecting set
Pasien
lingkungan

Pelaksanaan
Segera setelah plasenta dan selaput ketuban dilahirkan,
lakukan massage uterus supaya berkontraksi (selama
maksimal 15 detik) untuk mengeluarkan gumpalan darah.
Sambil melakukan massase fundus uteri, periksa plasenta dan
selaput ketuban untuk memastikan plasenta utuh dan
lengkap.
Jika perdarahan terus terjadi dan uterus teraba berkontraksi
baik, berikan 10 unit oksitosin IM
Jika kandung kemih ibu bisa dipalpasi, pasang kateter ke
dalam kantung kemih

RSUD BINTAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
Periksa laserasi pada perineum, vagina dan serviks dengan
PROSEDUR seksama menggunakan lampu yang terang. Jika sumber
perdarahan sudah diidentifikasi, klem dengan forcep arteri
dan jahit laserasi dengan menggunakan anastesi local
(lidokain I %)
Jika uterus mengalami atoni atau perdarahan terus terjadi.
Berikan masases uterus untuk mengeluarkan gumpalan
darah.
Periksa lagi apakah plasenta utuh, usap vagina dan ostium
serviks untuk menghilangkan jaringan plasenta atau selaput
ketuban yang tertinggal.
Jika kandung kemih ibu bisa dipalpasi, pasang kateter ke
dalam kandung kemih.
Lakukan kompresi bimanual internal maksimal lima menit
atau hingga perdarahan bisa dikendalikan dan uterus
berkontraksi dengan baik.
Anjurkan keluarga untuk memulai mempersiapkan
kemungkinan rujukan
Jika perdarahan dapat dikendalikan dan uterus berkontraksi
dengan baik :
o Teruskan kompresi bimanual selama 1-2 menit atau
lebih
o Keluarkan tangan dari vagina dengan hati-hati
o Pantau kala empat persalinan dengan seksama,
termasuk sering melakukan massase uterus untuk
memeriksa atoni, mengamati perdarahan dari vagina,
tenakan darah dan nadi.

RSUD BINTAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
Jika perdarahan tidak terkendali dan uterus tidak
PROSEDUR berkontraksi dalam waktu lima menit setelah dimulainya
kompresi bimanual pada uterus maka keluarkan tangan dari
vagina dengan hati-hati.
Jika tidak ada hipertensi pada ibu, berikan metergin 0,2 mg
IM

Mulai IV ringer laktat 500 cc + 20 unit oksitosin menggunakan
jarum berlubang besar (16 atau 18 G) dengan teknik aseptik.
Berikan 500 cc pertama secepat mungkin, dan teruskan
dengan IV ringer laktat + 20 unit oksitosin yang kedua.
Jika uterus tetap atoni dan atau perdarahan terus berlangsung
Ulangi kompresi bimanual internal.
Jika uterus berkontraksi, lepaskan tangan anda perlahan-
lahan dan pantau kala empat persalinan dengan cermat.
Jika uterus tidak berkontraksi, rujuk segera ke tempat dimana
operasi bisa dilakukan
Bila perdarahan tetap berlangsung dan kontraksi uterus tetap
tidak ada, maka kemungkinan terjadi rupture uteri, (syok
cepat terjadi tidak sebanding dengan darah yang nampak
keluar, abdomen teraba keras dan fundus mulai baik),
lakukan kolaborasi dengan OBSGYN)

RSUD BINTAN PERDARAHAN POSTPARTUM PRIMER


No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
Bila kompresi bimanual tidak berhasil, cobalah kompresi
PROSEDUR aurta. Cara ini dilakukan pada keadaan darurat sementara
penyebab perdarahan sedang dicari.
Perkirakan jumlah darah yang keluar dan cek dengan teratur
denyut nadi, pernafasan dan tekanan darah
Buat catatan yang saksama tentang semua penilaian tindakan
yang dilakukan dan pengobatan yang dilakukan

UNIT TERKAIT Ruang VK

RSUD BINTAN
PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN PEB
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
Tanggal terbit
STANDAR PROSEDUR Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN Kegawat Daruratan pada kehamilan/prsalinan yang ditandai
dengan TD diastole > 110 mmhg disertai Protein Uria (++).
1. Ibu mendapat penanganan yang cepat dan tepat
MAKSUD DAN TUJUAN 2. Mencegah kejadian Eklamsia.
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN
1. Tensi meter dan stateskop.
PERSIAPAN ALAT 2. Arloji
3. Reflek hamer
4. Fundus ca
5. Standar infus, infus
6. Blood set, aboket no. 18
7. Kapas alkohol, plester
8. Kaas streril
9. Spuit 10 cc, spuit 20 cc
10. Mgso4 20% dan 40%
11. Caglukonas
12. Polycateter
13. Aquadest

PROSEDUR 1. Laksanakan penilaian klinik untuk memastikan K/U penderita


2. Ukur TD untuk pastikan diastole > 110 mmhg
3. Pasang Infus
4. Pasang Kateter untuk ketahui produksi urine
5. Cek respirasi dan refleks patella.
6. Bila RL > 16 x/mt, Refleks pattela +/+, beri injeksi Mgso4
20% 4g/IV selama 5 mt, kemudian diikuti dengan pemberian
Mgso4 40 10g/IM masing-masing 5g Boki dan Boka.
7. Ukur Keseimbangan Cairan
8. Observasi TTV :
a. TD
b. Keluhan Subyektif : Nyeri kepala frontal, Nyeri ulu
hati, Hyper Refleksia
c. Tanda intosikasi Mgso 4 : Pernapasan < 16X/mt,
Urine < 30 cc/jam, Refleks patela.
d. DJJ : < 100 x/mt atau > 160 x/mt segera Kolaborasi
Dokter.
9. Laksanakan Kolaborasi dokter untuk Penanganan selanjutnya
10. Mencuci tanggan
11. Melakukan Dokumentasi
UNSUR TERKAID Ruangan VK

DAFTAR SPO RUANG BERSALIN

1. PENATALAKSANAAN EPISIOTOMI

2. PENATALAKSANAAN AMNIOTOMI
3. PENATALAKSANAAN ATONIA UTERI
4. PENATALAKSANAAN MANUAL PLACENTA
5. PENATALAKSANAAN ABORTUS IMMINENS
6. PENATALAKSANAAN KPD
7. PENATALAKSANAAN PENDARAHAN POST PARTUM PRIMER

RSUD BINTAN
PENANGANAN KEGAWAT DARURATAN PEB
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang


Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN
b. Keluhan Subyektif : Nyeri kepala frontal, Nyeri ulu
PROSEDUR hati, Hyper Refleksia
c. Tanda intosikasi Mgso 4 : Pernapasan < 16X/mt,
Urine < 30 cc/jam, Refleks patela.
d. DJJ : < 100 x/mt atau > 160 x/mt segera Kolaborasi
Dokter.
9. Laksanakan Kolaborasi dokter untuk Penanganan selanjutnya
10. Mencuci tanggan
11. Melakukan Dokumentasi
UNIT TERKAIT Ruangan VK

RSUD BINTAN
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN

MAKSUD DAN TUJUAN


SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN

PROSEDUR
UNIT TERKAIT
RSUD BINTAN

No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN

MAKSUD DAN TUJUAN


SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN

PROSEDUR
UNIT TERKAIT

RSUD BINTAN
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
PENGERTIAN

MAKSUD DAN TUJUAN


SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2014
KEBIJAKAN

PROSEDUR
UNIT TERKAIT

PERINATOLOGI
RSUD BINTAN
PENATALAKSANAAN INTUBASI
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
Pelaksanaan :
PROSEDUR a) menghisap sekresi sebelum dan selama tindakan intubasi
berlangsung.
b) Dokter melakukan Intubasi
c) Mengisi balon pipa endotrakheal tube, sesudah dokter
melakukan intubasi
d) Melakukan pernafasan buatan menggunakan air viva
(bagging) sebelum dan sesudah intubasi pada saat dokter
melakukan pemeriksaan auskultasi.
e) Menfiksasi ETT diantara bibir atas dan lubang hidung.
f) Memfiksasi ETT dipipi kiri dan kanan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan


a) Letakkan punggung tangan diatas mulut untuk menilai
balon berisi udara dengan cukup
b) Kempiskan balon secara berkala, minimal tiap 4 jam
selama 10 detik untuk mempertahankan sirkulasi trachea.
c) Ganti ETT, setiap minggu/sesuai kondisi pasien
d) Ubah letak ETT setiap pergantian Fiksasi.

UNIT TERKAIT

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN

PROSEDUR A. PERLENGKAPAN
1. Bengkok
2. Wakom
3. Duk segi empat/ kain alas bokong
4. Handuk besar 1 buah dan kecil 1 buah
5. Celemek/ baju plastic
6. Pelindung (Tutup kepala, kaca mata, masker dan sepatu boot)
7. Pakaian ibu (kain, pembalut dan celana dalam)
8. Selimut bayi
9. Tempat sampah 4 buah (sampah basah, kering, pakaian kotor
dan sampah tajam).

B. CARA KERJA
1. Mengamati tanda dan gejala persalinan kala dua
Ibu mempunyai keinginan untuk meneran
Ibu merasa tekanan yang semakin meningkat pada
rectum dan/ atau vaginanya
Perineum menonjol
Vulva-vagina dan sfingter anal membuka

2. Memastikan perlengkapan, bahan dan obat-obatan


esensial siap digunakan. Mematahkan ampul oksitosin 10
unit dan menempatkan tabung suntik steril sekali pakai di
dalam partus set

3. Mengenakan baju penutup atau celemek plastik yang


bersih

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
4. Melepaskan semua perhiasan yang dipakai dibawah siku,
PROSEDUR mencuci kedua tangan dengan sabun dan air bersih yang
mengalir dan mengeringkan tangan dengan handuk satu kali
pakai/pribadi yang bersih.

5. Memakai satu sarung dengan DTT atau steril untuk semua


pemeriksaan dalam.

6. Mengisap oksitosin 10 unit ke dalam tabung suntik (dengan


memakai sarung tangan disinfeksi tingkat tinggi atau steril)
dan meletakkan kembali di partus set/ wadah disenfeksi
tingkat tinggi atau steril tanpa mengkontaminasi tabung
suntik).

7. Membersihkan vulva dan perenium, menyekanya dengan


hati-hati dari depan ke belakang dengan menggunakan kapas
atau kassa yang sudah dibasahi air disenfeksi tingkat tinggi.
Jika mulut vagina, perenium atau anus terkontaminasi oleh
kotoran ibu, membersihkannya dengan seksama dengan cara
menyeka dari depan ke belakang. Membuang kapas atau
kassa yang terkontaminasi dalam wadah yang benar.
Mengganti sarung tangan jika terkontaminasi.

8. Dengan menggunakan teknik aseptik, melakukan pemeriksaan


dalam untuk memastikan bahwa pembukaan serviks sudah
lengkap
Bila selaput ketuban belum pecah, sedangkan pembukaan
sudah lengkap, lakukan amniotomi.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
9. Mendekontaminasi sarung tangan dengan cara mencelupkan
PROSEDUR tangan yang masih memakai sarung tangan kotor ke dalam
larutan klorin 0,5% dan kemudian melepaskannya dalam
keadaan terbalik serta merendamnya di dalam larutan klorin
0,5% selama 10 menit.

10. Memeriksa Denyut Jantung Janin (DJJ) setelah kontraksi


berakhir untuk memastikan bahwa DJJ dalam batas normal
(120-160 kali/ menit).
Mengambil tindakan yang sesuai jika DJJ tidak normal.
Mendokumentasikan hasil-hasil pemeriksaan dalam, DJJ
dan semua hasil-hasil penilaian serta asuhan lainnya pada
partograf.

11. Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan


janin baik. Membantu ibu berada dalam posisi yang nyaman
sesuai keinginannya.
Menunggu hingga ibu mempunyai keinginan untuk
meneran. Melanjutkan pemantauan kesehatan dan
kenyamanan ibu serta janin sesuai dengan pedoman
persalinan aktif dan mendokumentasikan temuan-
temuan.
Menjelaskan kepada anggota keluarga bagaimana
mereka dapat mendukung dan memberi semangat
kepada ibu saat ibu mulai meneran.

12. Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu


untuk meneran. (pada saat ada his, bantu ibu dalam posisi
setengah duduk dan pastikan ia merasa nyaman).

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan
PROSEDUR yang kuat untuk meneran :
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai
keinginan untuk meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk
meneran.
14. Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya
(tidak meminta ibu berbaring terlentang).
Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu
Menganjurkan asupan cairan per oral.
Menilai DJJ setiap lima menit
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu
primipara atau 60 /menit (1 jam) untuk ibu multipara,
merujuk segera.Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk
meneran.
Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau
mengambil posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran
dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk mulai meneran
pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat
di antara kontraksi.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan
segera.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
13. Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan
PROSEDUR yang kuat untuk meneran :
Membimbing ibu untuk meneran saat ibu mempunyai
keinginan untuk meneran
Mendukung dan memberi semangat atas usaha ibu untuk
meneran.
14. Membantu ibu mengambil posisi yang nyaman sesuai pilihannya
(tidak meminta ibu berbaring terlentang).
Menganjurkan ibu untuk beristirahat diantara kontraksi
Menganjurkan keluarga untuk mendukung dan memberi
semangat pada ibu
Menganjurkan asupan cairan per oral.
Menilai DJJ setiap lima menit
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segera dalam waktu 120 menit (2 jam) meneran untuk ibu
primipara atau 60 /menit (1 jam) untuk ibu multipara,
merujuk segera.Jika ibu tidak mempunyai keinginan untuk
meneran.
Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau
mengambil posisi yang aman. Jika ibu belum ingin meneran
dalam 60 menit, menganjurkan ibu untuk mulai meneran
pada puncak kontraksi-kontraksi tersebut dan beristirahat
di antara kontraksi.
Jika bayi belum lahir atau kelahiran bayi belum akan terjadi
segera setelah 60 menit meneran, merujuk ibu dengan
segera.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN

PROSEDUR 15. Jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6
cm, meletakkan handuk bersih di atas perut ibu untuk
mengeringkan bayi.
16. Meletakkan kain yang bersih dilipat 1/3 bagian, dibawah
bokong ibu.
17. Membuka partus set
18. Memakai sarung tangan DTT atau steril pada kedua tangan.

19. Saat kepala bayi membuka vulva dengan diameter 5-6 cm,
lindungi perenium dengan satu tangan yang dilapisi kain
tadi, letakkan tangan yang lain di kepala bayi dan lakukan
tekanan yang lembut dan tidak menghambat pada kepala
bayi membiarkan kepala keluar perlahan-lahan.
Menganjurkan ibu untuk mengeran perlahan-lahan atau
bernafas cepat saat kepala lahir.
Jika ada mekonium dalam cairan ketuban, segera
hisap mulut dan hidung setelah kepala lahir
menggunakan penghisap lendir de lee dtt atau steril
atau bola karet penghisap yang baru dan bersih.
Dengan lembut menyeka muka,mulut dan hidung
bayi dengan kain atau kasa yang bersih.

20. Memeriksa lilitan tali pusat dan mengambil tindakan yang


sesuai jika hal terjadi, dan kemudian meneruskan segera
proses kelahiran.
Jika tali pusat melilit leher janin dengan longgar ,
lepaskan lewat bagian atas kepala
Jika tali pusat melilit leher janin dengan erat,
mengklemnya di dua tempat dan memotongannya.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
21. Menunggu hingga kepala bayi melakukan putar paksi luar
PROSEDUR secara spontan.

22. Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, tempatkan


kedua tangan di dua sisi muka bayi.menganjurkan ibu
mengeran saat kontraksi selanjutnya. dengan lembut menarik
kearah bawah dan ke arah luar hingga bahu hingga bahu
anterior muncul dibawah arkus pubis dan kemudian dengan
lembut menarik kearah atas dan kearah keluar untuk
melahirkan bahu posterior.

23. Setelah kedua bahu dilahirka, menelusurkan tangan mulai


dari kepala bayi yang berada dibagian bawah mengarah
perineum ,membiarkan bahu dan lengan posterior lahir
ketangan tersebut. mengendalikan kelahiran siku dan tangan
bayi saat melewati perineum, gunakan lengan bagian bawah
untuk menyanggah tubuh bayi saat dilahirkan.
menggunakan tangan anterior untuk mengendalikan siku
dan tangan anterior bayi saat ke dua lahir.

24. Setelah tubuh dan lengan lahir menelusurkan tangan anterior


dari punggung kearah kaki untuk menyyangga dari
punggung saat kaki lahir. Memegang kedua mata kaki bayi
dengan hati-hati membantu kelahiran kaki.

25. Menilai bayi dengan cepat, kemudian meletakkan bayi diatas


perut ibu dengan posisi kepala bayi sedikit lebih rendah dari
tubuhnya.

27. Periksa kembali perut Ibu untuk memastikan tak ada bayi
dalam uterus (hamil tunggal).

28. Memberi tahu pada ibu ia akan disuntik.


RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
29. Dalam waktu 2 menit setelah kelahiran bayi, memberikan
PROSEDUR suntikan oksitosin 10 unit IM di 1/3 paha kanan atas ibu
bagian luar, setelah mengaspirasi terlebih dahulu.

30. Menjepit tali pusat menggunakan klem kira-kira 3 cm dari


pusat bayi, melakukan urutan dari tali pusat mulai dari klem
pertama(ke arah ibu).

31. Memegang tali pusat dengan satu tangan, melindungi bayi


dari gunting dan memotong tali pusat diantara 2 klem
tersebut. melakukan pengikatan tali pusat.

32. Meletakkan bayi diatas perut ibu skin to skin (IMD).

33. Menyelimuti bayi dengan kain atau selimut yang bersih dan
kering, menutupi bagian kepala, membiarkan tali pusat
terbuka.

34. Memindahkan klem pada tali pusat hingga berjarak 5-10cm


dari vulva.

35. Letakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, ditepi atas
sympisis untuk mendeteksi, tangan lain meregangkan tali
pusat.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
36. Menunggu uterus berkontraksi dan kemudian melakukan
PROSEDUR penegangan ke arah bawah pada tali pusat dengan lembut.
lakukan tekanan yang berlawanan arah pada bagian bawah
uterus dengan cara menekan uterus kearah atas belakang
(dorso kranial) dengan hati-hati untuk mencegah terjadinya
inversio uteri. jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik ,
menghentikan penengangan tali pusat hingga kontrasi mulai.

Jika uterus tidak berkontraksi, meminta ibu atau seseorang


untuk melakukan rangsangan puting susu.

37. Setelah plasenta terlepas, meminta ibu untuk mengeran sambil


menarik tali pusat kearah bawah dan kemudian kearah atas ,
mengikuti kurve jalan lahir sambil meneruskan tekanan
berlawanan arah pada utrerus
Jika tali pusat bertambah panjang pindahkan klem hingga
jarak 5-10 cm didepan vulva.
Jika plasenta tidak lepas setelah melakukan penegangan
tali pusat selama 15 menit :
- Mengulangi pemberian oksitosin 10 unit IM
- Menilai kandung kemih dan mengkaterisasi
kandung kemih dengan melakakukan antiseptik
jika perlu.
- Meminta keluarga menyiapkan rujukan
- Mengulangi penengangan tali pusat selama 15
menit berikutnya.
- Merujuk ibu jika plasenta tidak lahir 30 menit
sejak kelahiran bayi.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
38. Jika plasenta tampak di introtus vagina, melanjutkan kelahiran
PROSEDUR plasenta dengan kedua tangan. memegang plasenta dengan
dua tangan dengan hati-hati memutar plasenta hingga
selaput ketuban terpilin dengan lembut melahirkan perlahan-
lahan selaput ketuban tersebut.
Jika selaput ketuban robek, memakai handscoon dtt
atau steril dan memeriksa vagina dan serviks ibu
sesama. menggunakan klem atau forceps dtt yang
tertinggal.
39. Segera setelah plasenta dan selaput ketuban lahir, melakukan
masase uterus, meletakkan telapak tangan di fundus dan
masase dengan gerakan melingkar dengan lembut hingga
uterus berkontraksi (fundus menjadi keras).
Jika uterus tidak berkontraksi setelah masase 15 menit
lakukan rangsangan taktil/masase.
40. Memeriksa ke 2 sisi plasenta baik yang menempel ke ibu
maupun janin dan selaput ketuban untuk memastikan bahwa
selaput ketuban utuh dan lengkap. meletakkan plasenta
didalam kantong plastik dan tempat khusus.
41. Mengevaluasi adanya aselarasi pada vagina dan perineum
dan segera menjahit laserasi yang pendarahan aktif.
42. Mencelupkan kedua tangan yang memakai sarung tangan
kedalam larutan klorin 0,5 % membilas kedua tangan yang
masih bersarung tangan tersebut dengan air dtt dan
mengeringkannya dengan kain yang bersih dan kering.
43. Menilai ulang uterus dan memastikan berkontraksi dengan
baik. mengevaluasi pendarahan persalinan vagina.
44. Melakukan pemeriksaaan antropometri dan injeksi vitamin k.
45. Memberikan injeksi hepatitis b (paha kanan).

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)
No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
46. Melanjutkan pemantauan kontraksi uterus dan pendarahan
PROSEDUR pervaginam:
2-3 kali dalam 15 menit pertama pasca persalinan.
Setiap 15 menit pada jam 1 pertama pasca persalinan.
Setiap 20-30 menit pada jam kedua pertama pasca
persalinan.
Jika uterus tidak berkontraksi dengan baik,
melaksanakan perawatan yang sesuai untuk
melakukan penatalaksanaan antonia uteri.
Jika ditemukan laserasi yang memerlukan penjahitan,
lakukan penjahitan dengan anstesi lokal dan
menggunakan teknik sesuai.

47. Mengajarkan ibu dan keluarga untuk masase uterus dan


memeriksa kontraksi uterus.
48. Mengevaluasi kehilangan darah.

49. Memeriksa tekanan darah,nadi,kandung setiap 15 menit


selam 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit
setiap jam ke dua pertama pasca persalinan.
Memeriksa temperature tubuh ibu sekali setiap jam
selama dua jam pertama pasca persalinan.
Melakukan tindakan yang sesuai untuk tindakan
yang tidak normal.

50. Memeriksakan TTv bayi.


51. Menempatkan semua peralatan dilarutan klorin 0,5% untuk
dekontaminasi (10menit). mencuci dan membilas peralatan
setelah dekontaminasi.

RSUD BINTAN
ASUHAN PERSALINAN NORMAL (APN)

No. Dokumen Revisi Halaman

Jl. Barek Motor no. 2B Kijang

Ditetapkan,
STANDAR PROSEDUR Tanggal terbit Direktur RSUD Bintan
OPERASIONAL

dr. H. Gama AF Isnaeini, MS.c, Sp.A


NIP. 19671017 199703 1 003
SK Direktur Nomor : / SK RSUD BINTAN / / 2015
KEBIJAKAN
52. Membuang bahan-bahan yang terkontaminasi ke dalam
PROSEDUR tempat sampah yang sesuai.

53. Membersihkan ibu dengan menggunakan air dtt.


membersihkan cairan ketuban,lendir ,dan darah.membantu
ibu pakai pakaian yang bersih dan kering.

54. Memastikan bahwa ibu nyaman. membantu ibu memberikan


asi. menganjurkan keluarga untuk memberikan ibu makan
dan minuman yang diinginkan.

55. Mendekontaminasi daerah yang digunakan untuk melahirkan


dengan larutan klorin 0,5% dan membilas dengan air bersih.

56. Mencelupkan sarung tangan kotor di larutan klorin 0,5% dan


membaliknya bagian dalam ke luar dan merendamnya
larutan klorin 0,5% selama 10 menit.

57. Mencuci kedua tangan dengan sabun dan air mengalir.

58. Melengkapi partograf (halaman depan dan belakang).