Anda di halaman 1dari 18

Case Kecil

Low Tension Glaucoma

Pembimbing:
dr.Djoko Heru Sp.M

Oleh:
Tammy Vania
11.2015.096

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT MARDI RAHAYU KUDUS
PERIODE 13 Februari 2017- 18 Maret 2017

KEPANITERAAN KLINIK
STATUS ILMU PENYAKIT MATA
FAKULTAS KEDOKTERAN UKRIDA
SMF ILMU PENYAKIT MATA

RS MARDI RAHAYU, KUDUS, JAWA TENGAH


Nama : Tammy Vania
NIM : 11.2015.096
Dr. Pembimbing : dr Djoko Heru,Sp.M

I. IDENTITAS PASIEN
Nama lengkap : Nn Anisa
Umur : 18 tahun
Agama : Islam
Alamat : Pedawang, Bae, Kudus
Status : Belum Kawin
Pekerjaan : Pelajar
No. RM : 261515

II. ANAMNESIS
Anamnesis secara : autoanamnesis pada tanggal 17 Februari 2017 di Poli Mata
Keluhan Utama : Kedua mata terasa Kemeng sejak dua bulan yang lalu

Riwayat Penyakit Sekarang:


Enam bulan yang lalu pasien datang ke poliklinik mata RS Mardi Rahayu
untuk memeriksakan matanya dan membuat kacamata minus karena merasa
penglihatannya terganggu, OS tidak mengetahui berapa hasil pengukurannya..
Dua bulan sebelum pasien datang kembali ke poliklinik Rumah Sakit Mardi
Rahayu (RSMR), pasien mengeluh kemeng pada ke dua matanya tapi tidak terlalu
parah, penglihatan tidak kabur, tidak disertai nrocos (air mata yang keluar terus-
menerus) tanpa disertai mual dan muntah. Mata kemeng biasanya terjadi makin
berat setelah main handphone berjam-jam. Kepala juga terasa pusing cekot-cekot
setelah main hp atau menatap layar ber-jam jam, Tidak gatal, tidak ada perdarahan
dalam mata, tidak ada bengkak, tanpa keluhan demam.

1
Pasien belum memeriksakan diri ke medis dan belum memberikan pengobatan apa-
apa. Satu hari sebelum datang ke poliklinik pasien merasa kepalanya pusing dan
matanya nyeri.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien menggunakan kacamata, tidak memiliki penyakit kencing manis, darah
tinggi atau alergi obat.

Riwayat Penyakit Keluarga:


Tidak ada keluarga pasien yang mengalami hal serupa pasien, Kakak pasien
juga menggunakan kacamata. Tidak ada riwayat kencing manis, tekanan darah tinggi.

Riwayat Sosial Ekonomi:


Pengobatan ditanggung BPJS kelas 1 mandiri, status ekonomi cukup.

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. VITAL SIGN
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x / menit
Pernafasan : 18 x / menit
Suhu : 36,4 C
Keadaan Umum : Baik
Kesadaran : Compos mentis
Status Gizi : TB 155 cm BB 45 kg IMT : 18,7 (Normal )

B. STATUS OFTALMOLOGI
Gambar:

OD OS

ODS Tenang Tidak tampak kelainan

2
OCULI DEXTRA(OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA(OS)
9/12 Visus 6/15
Gerak bola mata normal, Gerak bola mata normal,
kedudukan bola mata di Bulbus okuli kedudukan bola mata di
tengah, tengah,
enoftalmus (-), enoftalmus (-),
eksoftalmus (-), eksoftalmus (-),
strabismus (-) strabismus (-)
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (-),
blefarospasme (-), Palpebra blefarospasme (-),
lagoftalmus (-), lagoftalmus (-),
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi siliar (-), injeksi siliar (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
anemis (-) anemis (-)
Putih Sklera Putih
Bulat Bulat
Arcus senilis (-) Arcus senilis (-)
edema (-), Kornea edema (-),
keratik presipitat (-), keratik presipitat (-),
infiltrat (-), sikatriks (-), infiltrat (-), sikatriks (-),
Bleb(-) Bleb (-)
Jernih, kedalaman cukup, Camera Oculi Anterior Jernih, Kedalaman cukup,
hipopion (-), hifema (-) (COA) hipopion (-), hifema (-)
Kripta(N), atrofi (-) coklat, Kripta(N), atrofi (-) coklat,
edema(-), Iris edema(-),
synekia (-) synekia (-)
Reguler, bentuk bulat Reguler, bentuk bulat,
Letak sentral, Pupil Letak sentral,
Diameter 3 mm Diameter 3 mm
Refleks pupil (+) Refleks pupil (+)
Jernih Lensa Jernih
3
Jernih Vitreus Jernih
Papil bentuk bulat, batas Retina Papil bentuk bulat, batas tegas,
tegas, CD ratio 0,3, Macula CD ratio 0,3 , Macula Lutea
Lutea (+), Pelebaran vena (+), Pelebaran vena (-), Warna
(-), Warna orange- orange-kemerahan, A:V = 2:3,
kemerahan, A:V = 2:3, Eksudat (-)
Eksudat (-)
(+) Fundus Refleks (+)
N TIO Digital N
Tidak tampak kelainan Sistem Lakrimasi Tidak tampak kelainan

Tes Lapang Pandang (Tes Konfrontasi)


Tes Lapang Pandang lebih sempit daripada lapang pandang pemeriksa

Pemeriksaan TIO
OD: 13 OS: 15

IV. RESUME
Subjektif:
Seorang wanita 18 tahun datang ke poliklinik mata RS Mardi Rahayu (RSMR)
dengan keluhan mata kiri dan kanan terasa nyeri dan kepala yang pusing , nyeri terasa
memberat setelah pasien menatap handphone terlalu lama. Enam bulan yang lalu,
pasien pernah datang ke RSMR dengan keluhan mata kanan dan kiri penglihatannya
menurun, pasien dibuatkan resep kacamata dengan koreksi :

OD Koreksi OS
S: 0,25 6/6 S : 2,5 6/6
C :0,75 C: -0,5
A :1100 A: 1000

Objektif:
OCULI DEXTRA(OD) PEMERIKSAAN OCULI SINISTRA(OS)
9/12 Visus 6/15
Edema (-), hiperemis(-), Edema (-), hiperemis(-),
nyeri tekan (-), nyeri tekan (+),
blefarospasme (-), Palpebra blefarospasme (-),
4
lagoftalmus (-), lagoftalmus (-),
ektropion (-), entropion (-) ektropion (-), entropion (-)
Edema (-), Edema (-),
injeksi siliar (-), injeksi siliar (-),
injeksi konjungtiva (-), Konjungtiva injeksi konjungtiva (-),
infiltrat (-), infiltrat (-),
hiperemis (-) hiperemis (-)
anemis (-) anemis (-)
Bulat Bulat
Arcus senilis (-) Arcus senilis (+)
edema (-), Kornea edema (-),
keratik presipitat (-), keratik presipitat (-),
infiltrat (-), sikatriks (-), infiltrate (-), hemoragik (-),
Jernih, kedalaman cukup, Camera Oculi Anterior Jernih, Kedalaan cukup,
hipopion (-), hifema (-) (COA) hipopion (-), hifema (-)
Reguler, bentuk bulat Reguler, bentuk bulat,
Letak sentral, Pupil Letak sentral,
Diameter 3 mm Diameter 3 mm
Refleks pupil (+) Refleks pupil (+)
Papil bentuk bulat, batas Retina Papil bentuk bulat, batas tegas,
tegas, CD ratio 0,3, Macula CD ratio 0,3, Macula Lutea
Lutea (+),papil sedikit atrof (+),papil atrof dan ekskavasi
dan ekskavasi Pelebaran vena Pelebaran vena (-), Warna
(-), Warna orange- orange- kemerahan, A:V =
kemerahan, A:V = 2:3, 2:3. Eksudat (-)
Eksudat (-)
N TIO Digital N

Tes Lapang Pandang (Tes Konfrontasi)


Tes Lapang Pandang lebih sempit daripada lapang pandang pemeriksa
Pemeriksaan TIO
OD: 13 OS: 15

V. DIAGNOSA BANDING
1. ODS Glaukoma Sudut Terbuka

5
Dasar diagnosis yang mendukung yaitu penurunan tajam penglihatan, nyeri di
mata, tekan palpebral, pernah mengalami nyeri mata sampai kepala dan tampak
halo saat melihat sumber cahaya.
Pada pemeriksaan didapatkan defek lapang pandang, atrofi papil retina (C/D ratio
meningkat.
Dasar diagnosis yang tidak mendukung yaitu COA dalam, TIO rendah sampai
normal.

2. Glaukoma primer sudut tertutup ODS


Dasar Diagnosis : Nyerinya timbul perlahan-lahan onsetnya , tekanan
intraocularnya juga biasanya tidak tinggi dan meningkatnya perlahan-lahan.
Dasar diagnosis yang tidak mendukung : Terdapat sinekia perifer anterior, bisa
terdapat pigmen di sudut superior atau di bagian iris .

VI. DIAGNOSA KERJA


ODS Low Tension Glaucoma

DASAR DIAGNOSIS
Pemeriksaan subjektif :
Dari anamnesa, wanita berumur 18 tahun datang dengan keluhan mata kiri dan kanan
nyeri. Enam bulan lalu, pasien pernah datang ke poliklinik mata RSMR untuk buat kacamata.
Sejak dua bulan yang lalu pasien , mengeluh nyeri pada mata sampai kepala,
penglihatan sedikit berbayang penurunan visus, mata silau disertai rasa pusing dan sakit
kepala.
Pemeriksaan objektif :
1. Pada OS visus tidak membaik dengan pin hole pertanda kelainan organik, palpebral
terdapat nyeri tekan, kornea oedem, COA dangkal, Pupil normal , dengan reflex pupil
(+), pada retina ditemukan CD ratio 0,3, papil atrofi dan ekskavasi pertanda adanya
glaukoma.
2. Tes konfrontasi lebih sempit daripada lapang pandang pemeriksa pertanda adanya
glaucoma.
3. TIO OD: 13, OS: 15 (Normal <21)

VIII. PENATALAKSANAAN
Promotif

6
- Memberikan edukasi kepada pasien tentang penyakit glaucoma dengan tekanan
rendah atau tekanan normal (Low Tension Glaucoma )
- Menjelaskan faktor resiko, upaya pencegahan, pengenalan tanda penyakit, komplikasi
yang dapat terjadi.
- Edukasi pasien untuk memberikan obat-obatan baik tetes maupun minum secara
teratur
Preventif
- Menghindari konsumsi jamu-jamuan atau penghilang nyeri golongan steroid
berlebihan.
Kuratif
- Medikamentosa
R/ C-lyters ED Fl no I
S4 dd gtt ODS
R/ I-Addritor 0,5% ED Fl No I
S2 dd gtt I ODS
R/Methylcobalamin 500 mg tab NoXV
S2 dd tab 1

Non Medikamentosa :-
Rehabilitatif
Evaluasi visus dan TIO secara rutin
Jaga kebersihan area sekitar mata
Gunakan obat secara teratur & kontrol kondisi mata 2 minggu lagi untuk
mengevaluasi adanya perdarahan, infeksi sekunder

IX. PROGNOSIS
OKULI DEKSTRA (OD) OKULI SINISTRA (OS)
Ad Vitam : ad bonam ad bonam
Ad Fungsionam : dubia ad bonam dubia ad bonam
Ad Sanationam : dubia ad bonam dubia ad bonam
Ad Kosmetikan : ad bonam ad bonam

X. USUL DAN SARAN


Usul :

7
- Pemeriksaan dengan gonioskopi untuk semakin menegakkan diagnosis ODS
glaucoma sudut terbuka atau tertutup.
- Pengawasan dan evaluasi Lapang pandang dengan pemeriksaan perimeter.
- Pengawasan dan evaluasi TIO dengan Tonometer secara rutin.
- Pengawasan dan evaluasi keadaan optic disc dengan Funduscopy secara rutin.
Saran:
- Memakai obat-obat yang diberikan dengan benar dan teratur
- Konsumsi obat secara teratur
- Kontrol ke poliklinik mata 2 minggu kemudian atau langsung kontrol bila
keadaan semakin memburuk

8
TINJAUAN PUSTAKA
Glaukoma

A. DEFINISI
Glaukoma adalah suatu neuropati optik kronik didapat yang ditandai oleh
pencekungan (cupping) diskus optikus dan pengecilan lapangan pandang; biasanya
disertai peningkatan tekanan intraokular. Glaukoma berasal dari kata yunani
glaukos yang berarti hijau kebiruan, yang memberikan kesan warna tersebut pada
pupil penderita glaukoma.1,2

B. FISIOLOGI HUMOR AQUEOUS


Humor aqueous mengalir ke dalam bilik posterior kemudian masuk diantara
permukaan posterior iris dan selanjutnya masuk ke bilik anterior. HA keluar dari bilik
anterior melalui dua jalur, yaitu jalur konvensional (jalur trabekula) dan jalur
uveosklera (jalur non trabekula). Jalur trabekula pada bilik anterior dibentuk oleh
dasar iris dan kornea perifer, melewati trabekular meshwork dari sklera, masuk ke
kanal schlemn (sekitar 30 saluran pengumpul dan 12 vena aqueous). Melalui kanal
kolektor, HA dibawa ke pembuluh darah sklera dimana HA bercampur dengan darah.
Pada jalur uveosklera, HA mengalir melalui korpus siliaris ke ruang supra arakhnoid
dan masuk ke dalam sirkulasi pada vena.1,2,3

C. KLASIFIKASI
Klasifikasi glaukoma:1,2
A. Glaukoma primer
Sudut terbuka
Sudut tertutup
B. Glaukoma sekunder
Sudut terbuka
Sudut tertutup
C. Glaukoma kongenital
Glaukoma sudut terbuka ditandai dengan membran pratrabekular, kelainan trabekular,
kelainan pascatrabekular. Glaukoma sudut tertutup ditandai dengan sumbatan pupil (iris
bombe), pergeseran lensa ke anterior, pendesakan sudut, sinekia anterior perifer.1,2,3

D. PATOFISIOLOGI

9
Sudut bilik mata dibentuk dari jaringan korneosklera dengan pangkal iris. Pada
keadaan fisiologis pada bagian ini terjadi pengaliran keluar cairan bilik mata.
Berdekatan dengan sudut ini didapatkan jaringan trabekulum, kanal Schlemm, sclera
spur, garis Schwalbe dan jonjot iris. Dalam keadaan normal, humor aqueus dihasilkan
di bilik posterior oleh badan siliar, lalu melewati pupil masuk ke bilik anterior
kemudian keluar dari bola mata melalui trabekula meshwork ke canalis schlemm.1,2,3

Mekanisme peningkatan tekanan intraokular pada glaukoma adalah gangguan


aliran keluar humor aqueus akibat kelainan sistem drainase sudut kamera anterior
(glaukoma sudut terbuka) atau gangguan akses humor aqueus ke sistem drainase
(glaukoma sudut tertutup).1,2,3
Pada glaukoma sudut terbuka kelainan terjadi pada jaringan trabekular,
sedangkan sudut bilik mata terbuka lebar. Jadi tekanan intra okuler meningkat karena
adanya hambatan outflow humor aqueus akibat kelainan pada jaringan trabekular.
Pada glaukoma sudut tertutup, jaringan trabekular normal sedangkan tekanan
intraokuler meningkat karena obstruksi mekanik akibat penyempitan sudut bilik mata,
sehingga outflow humor akuos terhambat saat menjangkau jalinan trabekular.
Keadaan seperti ini sering terjadi pada sudut bilik mata yang sempit (tertutup).1,2,3

E. GEJALA DAN TANDA


10
Glaukoma disebut sebagai pencuri penglihatan karena berkembang tanpa
ditandai dengan gejala yang nyata. Oleh karena itu, separuh dari penderita glaukoma
tidak menyadari bahwa mereka menderita penyakit tersebut. Biasanya diketahui di
saat penyakitnya sudah lanjut dan telah kehilangan penglihatan.1,2
Pada fase lanjut glaukoma, gejala-gejala berikut mungkin timbul:
- Hilangnya lapang pandang perifer
- Sakit kepala
- Penglihatan kabur
- Melihat pelangi bila melihat sumber cahaya.
Pada glaukoma sudut terbuka akan terjadi penglihatan yang kabur dan
penurunan persepsi warna dan cahaya. Terjadi penurunan luas lapang pandang yang
progresif. Yang pertama hilang adalah lapang pandang perifer yang pada akhirnya
hanya akan menyisakan penglihatan yang seperti terowongan (tunnel vision).
Penderita biasanya tidak memperhatikan kehilangan lapang pandang perifer ini karena
lapang pandang sentralnya masih utuh. Pada glaukoma sudut tertutup dapat terjadi
gejala nyeri, sakit kepala, nausea, mata merah, penglihatan kabur dan kehilangan
penglihatan. 1,2

F. DIAGNOSIS
1. Funduskopi.
Untuk melihat gambaran dan menilai keadaan bagian dalam bola mata terutama
saraf optik.1,2

2. Tonometri.
Pemeriksaan untuk mengukur tekanan bola mata, baik dengan alat kontak
(menyentuh bola mata) maupun non kontak.1,2
3. Gonioskopi.
Adalah pemeriksaan untuk menilai keadaan sudut bilik mata, adakah hambatan
pengaliran humor aquous.1,2

11
4. Perimetri.
Pemeriksaan lapang pandangan dengan komputer, untuk mendeteksi atau menilai
hilangnya lapang pandang akibat kerusakan saraf penglihatan. Pemeriksaan
lengkap ini hanya dilakukan pada penderita yang dicurigai menderita glaukoma
saja.1,2
5. Tes provokasi
a. Untuk glaukoma sudut terbuka
i. Tes minum air
Penderita disuruh berpuasa, tanpa pengobatan selama 24 jam.
Kemudian disuruh minum 1 L air dalam 5 menit. Lalu tekanan
intraokuler diukur setiap 15 menit selama 1,5 jam. Kenaikan tensi 8
mmHg atau lebih dianggap mengidap glaukoma.
ii. Pressure congestion test
Pasang tensimeter pada ketinggian 50-60 mmHg, selama 1 menit.
Kemudian ukur tensi intraokulernya. Kenaikan 9 mmHg atau lebih
mencurigakan, sedang bila lebih dari 11 mmHg pasti patologis.
iii. Kombinasi test minum dengan pressure congestion test
Setengah jam setelah tes minum air dilakukan pressure congestion test.
Kenaikan 11 mmHg mencurigakan, sedangkan kenaikan 39 mmHg
atau lebih pasti patologis.
iv. Tes steroid
Diteteskan larutan dexamethasone 3-4 dd gt 1 selama 2 minggu.
Kenaikan tensi intraokuler 8 mmHg menunjukkan glaukoma.1,2
b. Untuk glaukoma sudut tertutup
i. Tes kamar gelap
Orang sakit duduk di tempat gelap selama 1 jam, tak boleh tertidur. Di
tempat gelap ini terjadi midriasis, yang mengganggu aliran cairan bilik
mata ke trabekulum. Kenaikan tekanan lebih dari 10 mmHg pasti
patologis, sedang kenaikan 8 mmHg mencurigakan.
ii. Tes membaca
Penderita disuruh membaca huruf kecil pada jarak dekat selama 45
menit. Kenaikan tensi 10-15 mmHg patologis.
iii. Tes midriasis

12
Dengan meneteskan midriatika seperti kokain 2%, homatropin 1% atau
neosynephrine 10%. Tensi diukur setiap jam selama 1 jam. Kenaikan
5 mmHg mencurigakan sedangkan 7 mmHg atau lebih pasti patologis.
Karena tes ini mengandung bahaya timbulnya glaukoma akut, sekarang
sudah banyak ditinggalkan.
iv. Tes bersujud (prone position test)
Penderita disuruh bersujud selama 1 jam. Kenaikan tensi 8-10 mmHg
menandakan mungkin ada sudut yang tertutup, yang perlu disusun
dengan gonioskopi. Dengan bersujud, lensa letaknya lebih ke depan
mendorong iris ke depan, menyebabkan sudut bilik depan menjadi
sempit.1,2

G. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
a. Supresi pembentukan humor aqueous1-4
1) Penghambat adrenergic beta adalah obat yang paling luas digunakan untuk
terapi glaukoma. Obat ini dapat digunakan tersendiri atau dikombinasikan
dengan obat lain. Preparat yang tersedia sekarang yaitu timolol maleat 0,25%
dan 0,5%, betaksolol 0,25% dan 0,5%, levobunolol 0,25% dan 0,5%, dan
metipranolol 0,3%.
2) Apraklonidin adalah suatu agonis adrenergik 2 baru yang menurunkan
pembentukan humor akuos tanpa efek pada aliran keluar.
3) Inhibitor karbonat anhidrase sistemik-asetazolamid adalah yang paling
banyak digunakan, tetapi terdapat alternatif lain yaitu diklorfenamid dan
metazolamid. Digunakan untuk glaukoma kronik apabila terapi topikal tidak
memberi hasil memuaskan dan glaukoma akut dimana tekanan intraokular
yang sangat tinggi yang perlu segera di kontrol. Obat ini mampu menekan
pembentukan HA sebesar 40-60%.

b. Fasilitasi aliran keluar humor aqueous1-4


1) Kolinergik/ Parasimpatomimetik, yakni pilokarpin, larutan 0,5-6% yang
diteteskan beberapa kali sehari, atau gel 4% yang diteteskan sebelum tidur.
Karbakol 0,75-3% adalah obat kolinergik alternatif. 1,2,3

13
2) Antikolinesterase ireversibel, merupakan obat parasimpatomimetik yang
bekerja paling lama. Obat-obat ini adalah Demekarium Bromida 0,125%
yang umumnya dibatasi untuk pasien afakik atau pseudofakik karena
mempunyai potensi kataraktogenik. Obat-obat ini juga menimbulkan miosis
kuat yang dapat menyebabkan penutupan sudut pada pasien dengan sudut
sempit. Pasien juga harus diberitahu mengenai kemungkinan ablasio retina.1,2
3) Epinefrin 0,25-2%, diteteskan sekali atau dua kali sehari, meningkatkan
aliran keluar humor akueus dansedikit banyak disertai penurunan
pembentukan humor akeus. Terdapat sejumlah efek samping okular
eksternal, termasuk vasodilatasi relek konjungtiva , endapan adrenokrom,
konjungtivitis folikularis, dan reaksi alergi. Efek samping intraokular yang
dapat terjadi adalah edema makula sistoid pada afakia dan vasokonstriksi
ujung saraf optikus. 1,2
4) Dipivefrin, adalah suatu prodrug epinefrin yang dimetabolisasi secara
intraokular menjadi bentuk aktifnya. Epinefrin dan dipivefrin tidak dapat
digunakan untuk mata dengan sudut kamera anterior sempit.1,2,3

c. Miotik, midriatik, dan sikloplegik1-4


Konstriksi pupil sangat penting dalam penatalaksanaan glaukoma sudut
tertutup akut primer dan pendesakan sudut pada iris plateau.Dilatasi pupil
penting dalam pengobatan penutupan sudut akibat iris bombe karena sinemia
posterior. Apabila penutupan sudut disebabkan oleh pergeseran lensa ke anterior,
sikloplegik (siklopentolat dan atropin) dapat digunakan untuk melemaskan otot
siliaris sehingga mengencangkan aparatus zonularis dalam usaha untuk menarik
lensa ke belakang.1,2,3

Pembedahan Glaukoma

Pembedahan pada glaukoma :


1) Bedah filtrasi
Bedah filtrasi dilakukan tanpa perlu pasien dirawat dengan memberi
anestesi lokal kadang-kadang sedikit obat tidur.Dengan memakai alat sangat
halus diangkat sebagian kecil sklera sehingga terbentuk suatu lubang. Melalui
celah sclera yang dibentuk cairan mata akan keluar sehingga tekanan bola
mata berkurang, yang kemudian diserap di bawah konjungtiva. Pasca bedah

14
pasien harus memakai penutup mata dan mata yang dibedah tidak boleh kena
air. Untuk sementara pasien pascabedah glaukoma dilarang bekerja berat.4,5
2) Trabekulektomi
Pada glaukoma masalahnya adalah terdapatnya hambatan filtrasi
(pengeluaran) cairan mata keluar bola mata yang tertimbun dalam mata
sehingga tekanan bola mata naik.Bedah trabekulektomi merupakan teknik
bedah untuk mengalirkan cairan melalui saluran yang ada. Pada
trabekulektomi ini cairan mata tetap terbentuk normal akan tetapi pengaliran
keluarnya dipercepat atau salurannya diperluas.Bedah trabekulektomi
membuat katup sklera sehingga cairan mata keluar dan masuk di bawah
konjungtiva. Untuk mencegah jaringan parut yang terbentuk diberikan 5
fluoruracil atau mitomisin. Dapat dibuat lubang filtrasi yang besar sehingga
tekanan bola mata sangat menurun.Pembedahan ini memakan waktu tidak
lebih dari 30 menit. Setelah pembedahan perlu diamati 4-6 minggu pertama.
Untuk melihat keadaan tekanan mata setelah pembedahan. Dapat dilakukan
jika tertutup 50%.4,5

3) Bedah filtrasi dengan implan


Pada saat ini dikenal juga operasi dengan menanam bahan penolong
pengaliran (implant surgery).Pada keadaan tertentu adalah tidak mungkin
untuk membuat filtrasi secara umum sehingga perlu dibuatkan saluran buatan
(artificial) yang ditanamkan ke dalam mata untuk drainase cairan
keluar.Beberapa ahli berusaha membuat alat yang dapat mempercepat
keluarnya cairan dari bilik mata depan.4,5
Upaya di dalam membuat ini adalah :
Dapat mengeluarkan cairan mata yang berlebihan.
Keluarnya tidak hanya dalam jumlah dan persentase.
Mengatur tekanan maksimum, minimum optimal, seperti hidrostat.
Tahan terhadap kemungkinan penutupan
Minimal terjadinya hipotensi
Desain yang menghindarkan migrasi dan infeksi.
Bersifat atraumatik

4) Siklodestruksi

15
Tindakan ini adalah mengurangkan produksi cairan mata oleh badan
siliar yang masuk ke dalam bola mata. Diketahui bahwa cairan mata ini
dikeluarkan terutama oleh pembuluh darah di badan siliar dalam bola mata.
Pada siklodestruksi dilakukan pengrusakan sebagian badan siliar sehingga
pembentukan cairan mata berkurang.Tindakan ini jarang dilakukan karena
biasanya tindakan bedah utama adalah bedah filtrasi.4,5

5) Iridektomi perifer
Digunakan untuk membuat saluran dari bilik mata belakang dan depan
karena telah terdapat hambatan dalam pengaliran humor akueus. Hal ini hanya
dapat dilakukan jika sudut yang tertutup sebanyak 50%. Iredektomi perifer
tidak dapat dilakukan jika kornea masih oedem, jika kornea sudah tenang,
maka harus segera dilakukan agar mencegah rekurensi serangan akut.Jika
sinekia perifer anterior yang terbentuk sudah luas, maka perifer iredektomi
tidak cukup dan harus dilakukan filtrasi.4,5

Post Operasi

Post trabekulektomi akan terbentuk bleb, jika bleb bocor maka memudahkan
terjadinya infeksi dari Staphylococcus epidermidis and Staphylococcus aureus, mudah terjadi
jika trabekulektomi dilakukan pada bagian inferior. Kebocoran bleb dapat menyebabkan
blebitis atau endoftalmitis bleb. Blebitis merupakan inflamasi terbatas pada bleb, sedangkan
pada endoftalmitis bleb inflamasi mencapai intraokuler di ruang vitreus.4,5
Faktor risiko kebocoran bleb meningkat pada penggunaan antifibrotic agen seperti 5-
fluorouracil (5-FU) and mitomycin-C (MMC), tebalnya filter bleb, dan lokasinya yang berada
di inferior, serta adanya infeksi pada kelopak mata. Ditandai dengan bleb berwarna putih susu
dengan hiperemis konjungtiva, reaksi inflamasi pada COA, terdapat pus pada COA dan
hipotoni. Terdapat gejala seperti nyeri, mata merah, penurunan penglihatan, iritasi okuler, dan
peningkatan sensitivitas cahaya post operasi glaucoma.4,5

16
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas HS. Ilmu penyakit mata. Edisi ke-3. Jakarta: FKUI; 2010.
2. Eva PR, Whitcher JP. Vaughan & Absury Oftalmologi Umum. Edisi ke-17. Jakarta:
EGC; 2010.
3. Tsai JC, Denniston A, Murray PI, et. Al, editors. Oxford American handbook of
ophthalmology. New York: Oxford University Press;2011.
4. Ehlers JP., Shah CP. Wills Eye Manual, The: Office and Emergency Room Diagnosis
and Treatment of Eye Disease. 5th Edition. New York: Lippincott Williams &
Wilkins.2008.
5. Alward, W.L.M. Glaucoma: The Requisites in Ophthalmology. St. Louis : Mosby Inc;
2000.

17