Anda di halaman 1dari 101

LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PROSES PENGOLAHAN DAN PENGEMASAN TEH MAHKOTA DEWA


DI PT. SALAMA NUSANTARA

Oleh:
Andriana Jumiharti Lestari
NIM A1M011001

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PROSES PENGOLAHAN DAN PENGEMASAN TEH MAHKOTA DEWA


DI PT. SALAMA NUSANTARA

Oleh:
Andriana Jumiharti Lestari
NIM A1M011001

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat


Memperoleh Gelar Sarjana Teknologi Pertanian pada Fakultas Pertanian
Universitas Jenderal Soedirman

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2014
LAPORAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

PROSES PENGOLAHAN DAN PENGEMASAN TEH MAHKOTA DEWA


DI PT. SALAMA NUSANTARA

Oleh:
Andriana Jumiharti Lestari
NIM A1M011001

Diterima dan disetujui


Tanggal :

Mengetahui :
Pembantu Dekan I, Pembimbing,

Dr. Ir. Heru Adi Djatmiko, MP. Dr. Ir. Aisyah Tri Septiana, MP.
NIP. 19601108 198601 1 001 NIP. 19630903 198803 2 001
PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat

dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan laporan

praktik kerja lapangan yang berjudul Proses Pengolahan dan Pengemasan Teh

Mahkota Dewa di PT. Salama Nusantara.

Penyelesaian penulisan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini tak lepas dari

bantuan, motivasi dan bimbingan dari berbagai pihak sehingga penulis

mengucapkan terima kasih yang tulus kepada :

1. Dr. Ir. Heru Adi Djatmiko, MP. selaku Pembantu Dekan I Fakultas Pertanian

Universitas Jenderal Soedirman yang telah membantu perijinan pelaksanaan

Praktik Kerja Lapangan.

2. Dr. Ir. Aisyah Tri Septiana, MP. selaku pembimbing utama Praktik Kerja

Lapangan.

3. Pimpinan PT. Salama Nusantara yang telah memberikan ijin kepada penulis

untuk melaksanakan Praktik Kerja Lapangan.

4. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Laporan Praktik Kerja

Lapangan ini.

Penulis menyadari bahwa penyusunan Laporan Praktik Kerja Lapangan ini

terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun

sangat penulis harapkan.

Purwokerto, Juni 2014

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Halaman

PRAKATA iv

DAFTAR ISI v

DAFTAR TABEL vii

DAFTAR GAMBAR viii

DAFTAR LAMPIRAN ix

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang 1
B. Tujuan Praktik Kerja Lapangan 3
C. Manfaat Praktik Kerja Lapangan 3

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Teh Hijau 5
B. Mahkota Dewa 10
C. Benalu Teh 13
D. Pengemasan 14
E. Sanitasi 19
F. Pengelolaan Limbah 22
III. METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN
A. Tempat dan Waktu Pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan 24
B. Materi Praktik Kerja Lapangan 24
C. Metode Praktik Kerja Lapangan 25
IV. JADWAL PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN 26

V. PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Perusahaan 27


B. Proses Pengolahan Teh Mahkota Dewa 36

v
C. Teknologi Pengemasan 53
D. Sanitasi Perusahaan 64
E. Pengelolaan Limbah 71
F. Analisis SWOT 72
VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 77
B. Saran 77

DAFTAR PUSTAKA 79

LAMPIRAN 82

vi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Komposisi kimia daun teh 7

2. Jadwal pelaksanaan praktik kerja lapangan 26

vii
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Denah lokasi PT. Salama Nusantara 29

2. Layout perusahaan 30

3. Struktur organisasi perusahaan 31

4. Alat penyangrai/blower 42

5. Alat presseur/sealer 43

6. Proses pengolahan mahkota dewa 44

7. Proses pengolahan teh hijau 47

8. Proses pengolahan benalu teh 50

9. Proses pengolahan teh mahkota dewa 52

10. Kemasan plastik teh mahkota dewa 130 g 59

11. Kemasan plastik teh mahkota dewa 100 g 59

12. Kemasan karton teh mahkota dewa 61

13. Kemasan kardus teh mahkota dewa 62

14. Alat hand sealer tradisonal 64

viii
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1. Persetujuan pendaftaran BPOM 82

2. Sertifikat halal MUI 83

3. Piagam penghargaan paramakarya ................................................. ..... . 84

4. Piagam penghargaan dari Gubernur DIY......................................... ..... . 85

5. Sertifikat pelatihan ........................................................................... ..... . 86

6. Daftar kelompok petani mahkota dewa ........................................... ..... . 87

7. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-1 ....................... ..... . 88

8. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-2 ....................... ..... . 89

9. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-3 ....................... ..... . 90

10. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-4 ....................... ..... . 91

11. Penilaian pelaksanaan praktik kerja lapangan ................................. ..... . 92

ix
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Saat ini banyak orang kurang memperhatikan kesehatan. Baik secara sadar

atau tidak, kehidupan di era global yang serba instan saat ini di sekitar kita telah

tercemari dengan zat-zat yang meracuni alam dimana kita tinggal, terutama yang

berasal dari makanan yang dikonsumsi. Akibatnya zat-zat yang merugikan tubuh

menumpuk, sehingga saat ini kita dihadapkan pada fenomena penyakit-penyakit

degeneratif seperti diabetes, kanker, jantung, asam urat, lever, vertigo, stroke, dan

penyakit dalam lainnya.

Saat ini telah banyak diketahui bahwa di dalam bahan pangan terdapat

senyawa yang mempunyai peranan penting bagi kesehatan. Senyawa tersebut

mengandung komponen aktif yang mempunyai aktivitas fisiologis yang

memberikan efek positif bagi kesehatan tubuh orang yang mengkonsumsinya.

Istilah pangan fungsional merupakan nama yang paling dapat diterima semua

pihak untuk segolongan makanan dan atau minuman yang mengandung bahan-

bahan yang diperkirakan dapat meningkatkan status kesehatan dan mencegah

timbulnya penyakit-penyakit tertentu.

Pangan fungsional adalah pangan yang tidak hanya memberikan zat-zat

gizi esensial pada tubuh, tetapi juga memberikan efek perlindungan kesehatan

atau bahkan penyembuhan terhadap beberapa penyakit. Minuman herbal adalah

minuman yang berbahan dasar tanaman-tanaman yang memiliki kandungan

1
senyawa kimia bersifat fungsional pada tubuh manusia jika dikonsumsi secara

teratur (Thomas,1989).

Pangan fungsional dibedakan dari suplemen makanan dan obat

berdasarkan penampakan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Apabila obat

fungsinya terhadap penyakit bersifat pengobatan (kuratif), maka pangan

fungsional hanya bersifat membantu pencegahan suatu penyakit (preventif).

Sedangkan suplemen makanan adalah bahan pangan dengan tujuan untuk

memberikan tambahan bagi diet normal yang merupakan sumber gizi.

Teh Mahkota Dewa merupakan minuman herbal untuk kesehatan yang

merupakan campuran dari buah mahkota dewa, teh hijau dan benalu teh. Dalam

minuman herbal tersebut ditambahkan mahkota dewa karena mahkota dewa

mengandung zat pembantu penyembuhan kanker dan penyakit dalam, serta buah

mahkota dewa juga mudah dibudidayakan. Teh hijau dan buah mahkota dewa

merupakan perpaduan formula yang sangat efektif karena ketiganya mengandung

senyawa polifenol yang dikandungnya antara lain Epikatekin (EC), Epigalo

katekin (EGC), Epikatekin Galat (ECG), Epigalokatekin Galat (EGCC),

flavonoid, asam galat dan klorogenat. Zat-zat di atas memiliki antioksidan kuat

diantaranya efek antimultagenik, antitumor, antibakteri pembakar kolesterol tubuh

dan penyebab penyakit degeneratif (Widowati, 2006).

Minuman teh merupakan salah satu minuman penyegar yang popular di

masyarakat. Teh adalah salah satu minuman yang sering dikonsumsi masyarakat

setelah air putih, dan juga menjadi minuman penyegar yang dapat menghilangkan

rasa haus. Pengolahan teh pada dasarnya dimaksudkan untuk mengubah

2
komponen kimia daun teh, benalu, maupun mahkota dewa segar sehingga menjadi

hasil olahan yang memiliki sifat-sifat yang dikehendaki pada air seduhannya

seperti warna, rasa, dan aroma yang baik dan disukai (Siswoputranto, 1978).

Penggunaan teknologi yang tepat dan memenuhi standar, sangat penting

dalam menentukan kualitas produk yang dihasilkan sehingga menentukan mutu

dari produk akhir teh. Respon yang cukup memuaskan dari konsumen mendorong

penulis untuk mengetahui proses pengolahan dan pengemasan pada teh mahkota

dewa di PT. Salama Nusantara Yogyakarta.

B. Tujuan Praktik Kerja Lapangan

Tujuan pelaksanakan praktik kerja lapangan adalah:

1. Mengetahui dan mempelajari proses pengolahan dan pengemasan teh

mahkota dewa pada PT. Salama Nusantara Yogyakarta.

2. Melengkapi pengetahuan yang diperoleh pada bangku kuliah, sehingga

dapat digunakan sebagai studi banding antara teori yang diperoleh

dengan kenyataan yang ada di lapangan.

C. Manfaat Praktik Kerja Lapang

Manfaat Praktik Kerja Lapang pengolahan teh mahkota dewa di PT.

Salama Nusantara Yogyakarta adalah:

1. Menambah wawasan, pengetahuan, serta pengalaman tentang pengolahan

dan pengemasan teh mahkota dewa.

3
2. Memperoleh informasi mengenai proses pengolahan dan pengemasan teh

mahkota dewa.

3. Memperoleh pengalaman bekerja di PT. Salama Nusantara Yogyakarta.

4
II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Teh Hijau

Teh diperoleh dari pengolahan daun tanaman teh (Camellia sinensis L) dari

familia Theaceae. Tanaman ini diperkirakan berasal dari daerah pegunungan

Himalaya dan daerah-daerah pegunungan yang berbatasan dengan Republik

Rakyat Cina, India, dan Burma. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah tropik

dan subtropik dengan menuntut cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun

(Siswoputranto, 1978).

Pengolahan teh hijau di Indonesia telah dikenal sejak lama namun

dilaksanakan dengan peralatan dan teknologi yang sederhana. Teh hijau

merupakan pucuk daun muda tanaman teh yang diolah tanpa melalui proses

fermentasi. Daun teh hijau mengandung antioksidan dan telah lama digunakan

dalam pengobatan tradisional. Daun teh hijau sangat bagus untuk minuman

kesehatan dan penyegar (Siswoputranto, 1978).

Teh hijau diproduksi dengan penguapan tanpa fermentasi atau tanpa

melangsungkan terjadinya oksidasi enzimatis dalam silinder atau dandang yang

berlubang supaya warna hijaunya bertahan. Pada teh hijau bau daunnya tidak

hilang karena tidak mengalami proses fermentasi itu, maka harus dikompensasi

dengan wangi-wangian non teh (James, 1992). Menurut Kusuma (2009) terdapat

beberapa tahapan pengolahan teh hijau antara lain :

a. Pelayuan

Pelayuan pada pengolahan teh hijau bertujuan untuk menginaktifkan enzim

polifenol oksidase dan menurunkan kandungan air dalam pucuk daun, agar pucuk

5
menjadi lentur dan mudah tergulung. Pelayuan dilaksanakan dengan cara

mengalirkan sejumlah pucuk secara berkesinambungan ke dalam alat pelayuan

Rotary Panner dalam keadaan panas dengan suhu 800C 1000C. Persentase layu

sekitar 60% dengan tingkat kerataan layuan yang baik.

b. Penggulungan

Penggulungan pada teh hijau tidak bertujuan untuk mempertemukan enzim

dengan polifenol seperti pada pengolahan teh hitam, tetapi bertujuan untuk

mengeluarkan cairan sel ke permukaan daun sehingga lebih cepat terekstraksi

pada saat penyeduhan air panas. Lama penggulungan berkisar antara 15 17

menit.

c. Pengeringan

Pengeringan pada pengolahan teh hijau bertujuan untuk menurunkan kadar

air dari pucuk yang digulung hingga 3%-4%, memekatkan cairan sel yang

menempel di permukaan daun sampai berbentuk seperti perekat, dan memperbaiki

bentuk gulung pada teh jadi. Mesin pengering dengan suhu 1300C 1350C. Lama

pengeringan 25 menit.

d. Sortasi kering

Sortasi kering bertujuan untuk memisahkan, memurnikan, dan membentuk

atau mengelompokkan jenis mutu the hijau dengan bentuk ukuran yang spesifik

sesuai dengan standar teh hijau.

Komposisi kimia daun teh sangat berpengaruh terhadap mutu teh yang

dihasilkan. Komponen-komponen kimia tersebut berpengaruh secara langsung

6
terhadap warna, flavor dan rangsangan seduhan teh (Nasution et al., 1975).

Komposisi kimia daun teh secara lengkap disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Komposisi kimia daun teh (% berat kering)

Komponen kimia Daun segar (%)

Selulosa dan serat kasar 34


Protein 1
Klorofil dan pigmen 1,5
Pati 8,5
Tanin 25
Tannin teroksidasi 0
Kafein 4
Asam amino 8
Mineral 4
Abu 5,5
Sumber : Nasution dan Tjiptadi (1975).

Menurut Nazaruddin dan Paimin (1996), bahan-bahan kimia yang terdapat

dalam daun teh digolongkan menjadi 4 kelompok besar yaitu:

1. Substansi fenol

Teh sebagian besar mengandung ikatan biokimia yang disebut polifenol,

termasuk didalamnya flavonoid (Pambudi, 2000). Subkelas flavonoid yang

banyak terdapat dalam teh adalah flavanols dan flavonols. Daun teh yang masih

hijau dan segar mengandung zat tepung sekitar 0,4 persen dari bahan kering. Saat

daun teh diolah, zat tepung tadi berubah menjadi gula.

Daun teh hijau mengandung empat polifenol utama yang disebut katekin.

Katekin (flavan 3-ols) merupakan bagian dari flavanols (Wang, et al., 2000).

Katekin adalah tanin yang tidak mempunyai sifat menyamak dan menggumpalkan

protein. Daun teh mengandung bahan penyamak sekitar 20-30 persen dari bahan

kering seluruhnya.

7
Penelitian menunjukkan bahwa katekin mampu melawan radikal bebas

dalam tubuh. Teh hijau juga mengandung antioksidan yang bernama

Epigallocatechin gallate (EGCG) yang memiliki efek antioksidan dua kali lipat

dibandingkan anggur merah. EGCG terbukti jauh lebih efektif daripada vitamin C

dan E dalam pembentukan sel-sel baru. Antioksidan dan kandungan kimia lain

dalam teh mencegah pertumbuhan kanker dan tumor. Daun teh mengandung

antioksidan paling tinggi dibandingkan dengan bagian teh yang lain. Kandungan

senyawa polifenol yang sangat banyak dalam teh hijau berperan sebagai

pelindung terhadap kanker. Polifenol tergolong dalam antioksidan yang sangat

ampuh. Senyawa ini akan menetralkan radikal bebas yang menjadi penyebab

kanker tersebut (Siswoputranto, 1978).

2. Substansi bukan fenol

Selain polifenol, teh juga mengandung kafein yang merupakan salah satu

golongan dari alkaloid. Kandungan kafein dalam teh berkisar antara 2-4 % berat

kering daun teh. Kadar kafein pada bagian tanaman tidak sama misalnya pada

daun yang termuda sebesar tiga sampai empat persen, pada tangkai 0,5 persen dan

pada daun peko dua persen. Kandungan kafein dalam teh secara kimia lebih

dikenal sebagai 1,3,7 trimethylxantine (Dufresne dan Farnwoth, 2000). Substansi

bukan fenol lainnya meliputi karbohidrat, substansi pektin, protein dan asam-asam

amino, klorofil dan zat warna yang lain, asam organik, substansi resin, vitamin-

vitamin dan substansi mineral. Senyawa-senyawa tersebut memiliki peranan dan

fungsi yang spesifik yang akan menentukan sifat produk teh yang dihasilkan.

8
3. Substansi aromatis

Aroma pada teh baik secara langsung ataupun tidak langsung timbul

karena dipengaruhi oleh oksidasi senyawa polifenol. Aroma digolongkan menjadi

4 fraksi, yaitu: fraksi karboksilat, fraksi fenolat, fraksi karbonil dan fraksi netral

bebas karbonil. Ciptadi dan Nasution (1979), menambahkan bahwa senyawa

pembentuk aroma teh terutama terdiri dari minyak atsiri yang bersifat mudah

menguap dan bersifat mudah direduksi. Senyawa polifenol menurut Eden (1976),

akan mengalami perubahan kimia menjadi beberapa seri senyawa yaitu turunan

asam-asam galat dan katekin. Harler (1963), menambahkan bahwa katekin

merupakan komponen yang penting dari teh dan berperan terhadap warna, rasa

getir (pugency) dan karakteristik rasa seduhan.

4. Enzim-enzim

Enzim di dalam daun teh berperan sebagai biokatalisator pada setiap reaksi

kimia dalam tanaman. Enzim yang terdapat dalam daun teh antara lain adalah

invertase, amilase, oximetilase, protease, peroxidase dan -glukosidase.

Keberadaan enzim pada daun teh akan mempengaruhi kecepatan reaksi oksidasi

polifenol dengan bantuan udara bebas.

Teh hijau banyak disarankan untuk dikonsumsi karena manfaatnya

berlipat. Tak hanya sebagai antioksidan kuat, memerangi penyakit jantung atau

mencegah peradangan. Di samping hal di atas,catechin juga anti-alergik, yaitu

mencegah terbentuknya histamin yang merupakan reaksi badan bila terserang

alergen yang menyebabkan alergi. Riset membuktikan bahwa secangkir teh hijau

9
mempunyai daya antioksidan lebih besar daripada satu porsi brokoli, wortel,

bayam atau strawberry (Nazzarudin, 1996).

Khasiat utama teh berasal dari senyawa polifenol yang secara optimal

terkandung dalam daun teh yang masih muda. Daun teh hijau memiliki kandungan

15-30% senyawa polifenol. Teh hijau diolah melalui inaktivasi enzim polifenol

oksidase yang terdapat di dalam daun teh tanpa mengalami proses fermentasi. Hal

ini berbeda dengan teh lainnya yang mengalami proses semifermentasi maupun

fermentasi. Perbedaan dari proses pengolahan teh tersebut berpengaruh pada

kandungan polifenolnya (Nazzarudin, 1996).

B. Mahkota Dewa

Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Boerl) merupakan tanaman obat

yang sudah dikenal dan saat ini semakin diminati masyarakat. Tanaman yang

berasal dari Papua berkhasiat untuk mengobati luka, diabetes, lever, flu, alergi,

sesak nafas, disentri, penyakit kulit, diabetes, jantung, ginjal, kanker, darah tinggi,

asam urat, penambah stamina. ketergantungan narkoba, dan pemicu kontraksi

Rahim (Dalimartha, 2004).

Menurut Riwan (2008) tahapan pengolahan buah mahkota dewa menjadi

teh sebagai berikut:

a. Buah mahkota dewa yang sudah tua atau matang dipanen, lalu pilih buah yang

utuh serta bebas dari bekas serangan hama dan penyakit.

b. Cuci di bawah air mengalir, tanpa menggunakan sabun.

c. Kulit dan daging buahnya diambil dengan cara diiris tipis.

10
d. Kemudian dikeringkan hingga 10% dari berat basah.

e. Buah mahkota dewa yang sudah menjadi potongan tersebut di sangrai selama 5

menit lalu jadi teh mahkota dewa yang siap dikonsumsi dengan cara

dipanaskan atau diseduh dengan air panas.

Selain diolah menjadi teh racik maupun teh celup, mahkota dewa juga

dapat dibuat menjadi produk kering instan dan efferscent (Dewanti dkk, 2005); jus

daun mahkota dewa (Setiawan dan Eko, 2012); zat warna alami tekstil

(Kurniastuti dan Lia, 2009); produk perawatan dan kecantikan seperti bedak,

lulur, ramuan rempah untuk mandi dan shampo (Hasanah, 2013).

Mahkota dewa bisa dimanfaatkan dalam dua bentuk. Pertama, dalam

bentuk tidak diolah atau dimakan langsung segar atau dimakan dengan sambal

seperti rujak. Pemanfaatan seperti ini sangat berbahaya. Efek sampingnya cukup

serius, mulai dari luka-luka di bibir dan di mulut, mati rasa di lidah, sampai

mabuk dan keracunan. Kedua, dalam bentuk sudah diolah menjadi ramuan-

ramuan. Ramuan-ramuan ini bisa dikombinasikan dengan ramuan dari tanaman

obat lain (Harmanto, 2001).

Menurut Gotama dkk (1999), buah mahkota dewa memiliki komposisi

kimia terdiri dari alkaloid, flavonoid, dan saponin. Kulit buahnya juga

mengandung alkaloida, triterpen, saponin dan flavonoida. Menurut Lenny (2006),

alkaloid adalah golongan senyawa organik yang terbanyak ditemukan di alam.

Hampir seluruh senyawa alkaloid berasal dari tumbuh-tumbuhan dan tersebar luas

dalam berbagai jenis tumbuhan. Semua alkaloid mengandung paling sedikit satu

atom nitrogen yang biasanya bersifat basa dan dalam sebagian atom nitrogen ini

11
merupakan bagian dari cincin heterosiklik. Mahkota dewa mengandung

antihistamin alkaloida, yang bersifat detoksifikasi yaitu dapat menetralisir racun

di dalam tubuh, sebab daun maupun buahnya agak pahit (Harmanto, 2001).

Flavanoid mempunyai keguunaan untuk melancarkan peredaran darah ke

seluruh tubuh dan mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah,

mengurangi kandungan kolesterol serta mengurangi penimbunan lemak pada

dinding pembuluh darah, mengurangi kadar risiko penyakit jantung koroner,

mengandung antiinflamasi (antiradang), berfungsi sebagai antioksidan, dan

membantu mengurangi rasa sakit jika terjadi pendarahan atau pembengkakan

(Gotama dkk, 1999).

Saponin merupakan senyawa glikosida kompleks dengan berat molekul

tinggi yang dihasilkan terutama oleh tanaman, hewan laut tingkat rendah dan

beberapa bakteri. Saponin mengandung gugus gula terutama glukosa, galaktosa,

xylosa, rhamnosa atau methilpentosa yang berikatan dengan suatu aglikon

hidrofobik (sapogenin) berupa triterpenoid, steroid atau steroid alkaloid. Saponin

mempunyai fungsi sebagai sumber anti bakteri dan anti virus, meningkatkan

sistem kekebalan tubuh, meningkatkan vitalitas, dan mengurangi penggumpalan

darah (Harmanto, 2001). Saponin juga dapat menurunkan kolesterol, mempunyai

sifat sebagai antioksidan, antivirus dan anti karsinogenik. Senyawa saponin juga

dapat membantu mengurangi kadar glukosa darah di tubuh karena dapat

membentuk suatu lapisan membran pada permukaan usus halus sehingga dapat

menghambat absorbsi glukosa (Mills, 2000).

12
Menurut penelitian Simanjuntak (2008), selain mengandung alkaloid,

saponin, dan flavanoid, buah mahkota dewa juga memiliki kandungan kimia yang

terdiri dari asam lemak, steroid, benzofenon glikosida, dan karbohidrat.

Dosis efektif yang aman dan bermanfaat belum diketahui secara tepat.

Untuk obat yang diminum biasanya digunakan beberapa irisan buah kering (tanpa

biji). Selama beberapa hari baru dosis ditingkatkan sedikit demi sedikit, sampai

dirasakan manfaatnya. Untuk penyakit berat seperti kanker dan psoriaris, dosis

pemakaian kadang harus lebih besar agar mendapat manfaat perbaikan. Efek

samping yang timbul harus diperhatikan (Dalimartha, 2004).

C. Benalu Teh

Di Indonesia sebenarnya ada berbagai spesies benalu tetapi masyarakat

umum lebih mengenal benalu berdasarkan tumbuhan inang tempat tumbuhnya

seperti benalu teh, benalu duku, benalu mangga, dan lain-lain (Pitoyo,1996).

Keunikan benalu disatu pihak dianggap sebagai tumbuhan yang mengganggu

karena sifat parasitnya pada tumbuhan komersial seperti teh dan tumbuhan

penghasil buah-buahan, tetapi di lain pihak benalu dianggap sebagai tumbuhan

yang bermanfaat karena potensinya sebagi tumbuhan obat. Benalu memiliki

kandungan flavanoid dan tanin (Windari dan Raharjo, 1998).

Dalam ilmu farmasi, flavanoid dikenal sebagai senyawa antiradang,

antioksidan, pereda sakit (analgesik), antivirus, anti-HIV, mencegah keracunan

hati, antikelebihan lemak, merangsang kekebalan tubuh, sebagai vasodilator

(memperlancar aliran darah), mencegah penggumpalan darah, antialergi, dan

13
antikanker. Keberadaan flavanoid itu didukung oleh zat-zat lain yang juga

terdapat pada benalu, seperti proline, hydroproline, myo-inositol, dan

chiroinosotils. Senyawa tanin juga terdapat pada tanaman benalu, karena hasil

kerja sama asam gallic dengan catechin, yang menyebabkan padatnya kadar tanin

pada daun dan tangkai batang (Windari dan Raharjo, 1998).

Teh hijau, buah mahkota dewa dan benalu teh merupakan perpaduan

formula yang sangat efektif karena ketiganya mengandung senyawa polifenol

yang dikandungnya antara lain epikatekin (EC), epigalo Katekin (EGC),

Epikatekin Galat (ECG), Epigalokatekin Galat (EGCC), flavonoid, asam galat dan

klorogenat. Zat-zat di atas memiliki anti oksidan kuat diantaranya efek anti

multagenik, anti tumor, anti bakteri pembakar kolesterol tubuh dan penyebab

penyakit degeneratif (Windari dan Raharjo, 1998).

D. Pengemasan

Berkembangnya teknologi pengolahan pangan saat ini mendorong

manusia untuk berusaha menciptakan produk-produk baru ataupun

mengembangkan produk yang telah ada. Pengolahan pangan selain untuk

penganekaragaman pangan dan untuk meningkatkan nilai sensorinya, juga

bertujuan untuk memperpanjang umur simpannya. Pengemasan disebut juga

pembungkusan, pewadahan atau pengepakan, dan merupakan salah satu cara

pengawetan bahan hasil pertanian, karena pengemasan dapat memperpanjang

umur simpan bahan. Pengemasan adalah wadah atau pembungkus yang dapat

14
membantu mencegah atau mengurangi terjadinya kerusakan-kerusakan pada

bahan yang dikemas (Syarief,1989).

Produk makanan umumnya sering mengalami penurunan mutu setelah

sampai ke tangan konsumen, oleh karena itu dibutuhkan pegemasan yang sesuai

dengan bahan makanan tersebut untuk mempertahankan mutu dari makanan itu

sendiri. Pengemasan merupakan kegiatan untuk menampung, melindungi, menera,

membawa, dan memasarkan produk dalam satu wadah serta terencana. Perbaikan

dalam pengemasan memberikan saham yang besar terhadap pemasaran makanan

tradisional yang lebih efisien. Para konsumen sekarang ini umumnya ingin

menerima barang-barang dengan kerusakan yang lebih sedikit, dengan potensi

ketahanan yang lebih lama, serta daya tarik yang lebih besar dari pada sebelumnya

karena kemajuan-kemajuan dalam pengemasan. Pengemasan modern dapat

memberikan sumbangan terhadap perbaikan penanganan bahan makanan antara

produsen dengan konsumen (Pantastico, 1993).

Adanya sistem pemasaran yang bersaing satu sama lain, cara-cara yang

lebih maju dengan cepat dapat diterima. Persyaratan pengemasan sangat berbeda-

beda tergantung pada barang yang harus dikemas dan persyaratan yang harus

dipenuhi oleh pengemas sampai konsumen. Pengemasan bukan merupakan

sesuatu yang dapat memperbaiki mutu, oleh karena itu hanya hasil yang paling

baiklah yang harus dikemas. Penjagaan mutu yang paling baik adalah bila

pengemasan dikombinasikan dengan penyimpanan atau pengangkutan yang baik

(Pantastico, 1993).

15
Pengemasan bahan pangan harus memperhatikan lima fungsi yaiitu :

1. Harus dapat mempertahankan produk agar bersih dan memberikan

perlindungan terhadap kotoran dan pencemaran lainnya.

2. Harus memberikan perlindungan pada bahan pangan terhadap kerusakan

fisik, air, oksigen, dan sinar.

3. Harus berfungsi secara benar, efisien, dan ekonomis dalam proses

pengepakan yaitu selama pemasukan bahan pangan ke dalam kemasan. Hal

ini berarti bahan pengemas harus sudah dirancang untuk siap pakai pada

mesin-mesin yang ada atau yang baru akan dibeli untuk keperluan tersebut.

4. Harus mempunyai suatu tingkat kemudahan untuk dibentuk menurut

rancangan seperti kemudahan dalam membuka atau menutup kembali wadah

tersebut, dan juga harus dapat mempermudah pada tahap selanjutnya selama

pengelolaan di gudang dan selama pengankutan untuk distribusi. Terutama

harus dipertimbangkan dalam ukuran, bentuk dan berat dari unit pengepakan.

5. Harus memberi informasi, keterangan dan daya tarik penjualan. Unit-unit

pengepakan yang dijual harus dapat menjual apa yang harus dilindunginya

dan melindungi apa yang dijual (Buckle et al., 1987).

Fungsi pengemasan dapat dibagi dua, yaitu pengemasan untuk transportasi

dan distribusi, serta pengemasan untuk perdagangan supermarket atau eceran.

Pengemasan untuk tansportasi dan distribusi mengutamakan bahan dan desain

yang dapat melindungi kerusakan, terutama dari faktor getaran dan kejutan selama

pengiriman, sedangkan untuk perdagangan diutamakan bahan dan desain yang

dapat memikat konsumen (Syarief, 1989).

16
Berdasarkan bahan dasar pembuatannya maka jenis-jenis kemasan pangan

adalah kemasan kertas, gelas, kaleng/logam, plastik dan kemasan komposit atau

kemasan yang merupakan gabungan dari beberapa jenis bahan kemasan, misalnya

gabungan antara kertas dan plastik atau plastik, kertas dan logam. Masing-masing

jenis bahan kemasan ini mempunyai karakteristik tersendiri, dan hal ini menjadi

dasar untuk pemilihan jenis kemasan yang sesuai untuk produk pangan.

Karakteristik-karakteristik dari masing-masing bahan kemasan tersebut antara

lain:

1. Kemasan kertas

Kemasan kertas memiliki karakteristik yaitu tidak mudah robek, tidak dapat

digunakan untuk produk cair, tidak dapat dipanaskan, dan fleksibel.

2. Kemasan gelas

Kemasan gelas memiliki karakteristik yaitu berat, mudah pecah, harganya

mahal, non biodegradable, dapat dipanaskan, transparan/translusid, bentuknya

tetap (rigid), dapat digunakan dalam proses massal (bahan padat atau cair), dan

dapat didaur ulang.

3. Kemasan logam (kaleng)

Kemasan logam memiliki karakteristik yaitu bentuknya tetap, ringan, dapat

dipanaskan, dapat digunakan dalam proses massal (bahan padat atau cair),

tidak transparan, dapat bermigrasi ke dalam makanan yang dikemas, non

biodegradable, dan tidak dapat didaur ulang.

17
4. Kemasan plastik

Kemasan plastik memiliki karakteristik yaitu bentuknya fleksibel, transparan,

mudah pecah, non biodegradable, ada yang tahan panas, dan monomer

penyusun kemasannya dapat mengkontaminasi produk. Saat ini penggunaan

plastik sebagai bahan pengemas menghadapi berbagai persoalan lingkungan,

yaitu tidak dapat didaur ulang dan tidak dapat diuraikan secara alami oleh

mikroba di dalam tanah, sehingga terjadi penumpukan sampah palstik yang

menyebabkan pencemaran dan kerusakan bagi lingkungan. Kelemahan lain

adalah bahan utama pembuat plastik yang berasal dari minyak bumi, yang

keberadaannya semakin menipis dan tidak dapat diperbaharui.

5. Komposit (kertas/plastik)

Kemasan komposit memiliki karakteristik yaitu lebih kuat, tidak transparan,

proses massal, digunakan untuk pengisian aseptis, bentuk bahan pangan khusus

cairan, dan non biodegradable.

Selain jenis-jenis kemasan di atas saat ini juga dikenal kemasan edible dan

kemasan biodegradable. Kemasan edible adalah kemasan yang dapat dimakan

karena terbuat dari bahan-bahan yang dapat dimakan seperti pati, protein atau

lemak, sedangkan kemasan biodegradable adalah kemasan yang jika dibuang

dapat didegradasi melalui proses fotokimia atau dengan menggunakan mikroba

penghancur (Julianti dan Nurminah, 2006).

18
E. Sanitasi

Sanitasi dalam industri pangan, mencakup cara kerja yang bersih dan

aseptik dalam berbagai bidang, meliputi persiapan pengolahan, pengepakan

penyiapan maupun transport makanan. Hygiene menunjukkan pelaksanaan prinsip

sanitasi untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan. Kontaminasi dapat

dikurangi atau ditekan seminimal mungkin dengan cara melaksanakan prinsip

sanitasi selama pengolahan. Udara, ruangan pengolahan, peralatan, pekerja, dan

bahan pangan dapat menjadi sumber kontaminan, hal tersebut dapat dibuktikan

dengan pengujian secara sederhana (Betty, 1984).

Menurut Giyatmi dan Irianto (2000), sanitasi merupakan usaha manusia

untuk memanipulasi lingkungan untuk memberi manfaat bagi manusia dan untuk

mengelola lingkungan dengan cara memperbaiki, menjaga atau memulihkan

kesehatan lingkungan. Permasalahan yang banyak berhubungan dengan sanitasi

adalah aspek yang berhubungan dengan mikroba khususnya bakteri, protozoa, dan

virus. Hal ini terjadi karena adanya kontak dengan lingkungan di dalam proses

produksi, pengolahan, penyimpanan, dan pemasaran makanan.

Perusahaan yang sudah menerapkan sanitasi yang baik pada semua aspek

produksi atau pengolahan diharapkan akan dapat menghasilkan produk makanan

bermutu yang dikehendaki dan terjamin keamanannya secara kimia,

mikrobiologis, fisik dan estetika. Meskipun suatu perusahaan berhasil

memproduksi makanan dengan penampilan yang menarik, rasa enak dan bernilai

gizi baik menjadi percuma jika produk tersebut ternyata tidak aman untuk

dikonsumsi, sehingga semuanya tidak dapat dinikmati oleh konsumen.

19
1. Sanitasi ruang pengolahan

Udara tidak mengandung mikroorganisme secara alami, tetapi

kontaminasidari lingkungan sekitarnya mengakibatkan udara mengandung

berbagai mikroorganisme; misalnya dari debu, air, proses aerasi, dari penderita

saluran infeksi dan lain-lain. Mikroorganisme yang terdapat diudara biasanya

melekat pada bahan padat mikro misalnya debu atau terdapat didalam

droplet/tetesan air. Jika didalam suatu ruangan banyak terdapat debu dan cair,

maka mikroba yang ditemukan didalamnya juga bermacam-macam ; termasuk

bakteri, kapang ataupun khamir. Oleh karena itu kebersihan ruang pengolahan

harus lebih diutamakan mengingat ruang pengolahan adalah ruang utama yang

berhubungan langsung dengan produk sebelum jadi dan setelah jadi.

2. Sanitasi alat-alat pengolahan

Salah satu sumber kontaminan utama dalam pengolahan pangan juga

berasaldari penggunaan wadah dan alat pengolahan yang kotor dan mengandung

mikroba dalam jumlah cukup tinggi. Pencucian alat pengolahan dengan

menggunakan air yang kotor, dapat menyebabkan mikroba yang berasal dari air

pencuci dapat menempel pada wadah alat tersebut.

3. Sanitasi pekerja

Sanitasi dalam pengolahan pangan juga ditentukan oleh tingkat kebersihan

dan kesehatan pekerja yang melakukan pengolahan; karena tangan, kuku,kulit,

rambut, saluran pernafasan, maupun pakaian yang kotor dan tidak terawat dapat

menyebabkan kontaminasi pada bahan pangan yang diolahnya.

20
4. Sanitasi bahan pangan

Mutu bahan dasar yang digunakan dalam pengolahan pangan sangat

menentukan mutu produk akhirnya (produk olahan). Penggunaan bahan baku

yang terkontaminasi oleh mikroorganisme dalam jumlah yang banyak akan

menghasilkan produk dengan mutu rendah dan kemungkinan menyebabkan

produk lebih mudah busuk selama penyimpanan.

Menurut Ranken (1993), sanitasi makanan adalah salah satu usaha

pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk

membebaskan bahan dari segala bahaya yang dapat menganggu kesehatan, mulai

dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan,

penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana produk tersebut siap untuk

dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan

untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari

penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli, dan

kerusakan/pemborosan makanan.

Sanitasi makanan meliputi kegiatan usaha yang ditujukan kepada kebersihan

dan kemurnian makanan agar tidak menimbulkan suatu penyakit. Usaha-usaha

sanitasi tersebut meliputi tindakan-tindakan saniter yang ditujukan pada semua

tingkatan, sejak makanan mulai dibeli, disimpan, diolah, dan disajikan untuk

melindungi agar konsumen tidak dirugikan kesehatannya (Marriott, 1985).

21
F. Pengelolaan Limbah

Limbah merupakan salah satu hasil dari aktifitas hidup manusia. Hal

tersebut keberadaannya sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial-ekonomi

masyarakat itu sendiri dan aktifitas manusia. Sumber limbah itu sendiri dapat

berasal dari aktifitas rumah tangga maupun industri.

Menurut Ahira (2011), limbah mengadung senyawa organik dan anorganik

dengan kuantitas yang bermacam macam serta berefek buruk pada kesehatan

manusia, salah satunya adalah limbah yang dihasilkan oleh industri pangan.

Limbah selama pengolahan dihasilkan hampir disetiap tahapan proses. Limbah

tidak boleh terakumulasi atau tinggal dalam ruang tempat pengolahan makanan,

kecuali jika tidak bisa dihindarkan. Harus ada tempat khusus untuk menampung

dan mengolah limbah agar hasil buangannya nanti tidak merusak lingkungan.

Lebih baik jika limbah ditampung dalam bak yang tertutup rapat untuk mencegah

penyebaran penyakit.

Sebagian besar limbah padat sisa kotoran dapat disimpan sebagai pengisi

tanah, meskipun teknik lain dapat dilakukan seperti dibakar, disebar sebagai

lapisan tipis pada tanah yang kosong, dibuat pupuk atau makanan ternak yaitu

setelah pemekatan atau pengeringan. Limbah cair dapat dibuang di parit dengan

perlakuan pendahuluan misalnya pengeringan, pengaturan pH, penghilangan

minyak, pengendapan dan sebagainya (Buckle et al., 1987).

22
Menurut Buckle et al. (1987) pada umumnya cara penanganan limbah

yang digunakan tergantung pada:

1. Ada tidaknya, seberapa jauh (tempatnya), seberapa besar dan jenis dari pabrik

penanganan limbah milik kota praja dalam daerah tersebut.

2. Tingkat penanganan yang diperlukan untuk membuat saluran-saluran yang

memadai menuju agen-agen pengatur yang mengawasi pembuangan limbah.

3. Biaya penanganan.

4. Lapangan tanah yang tersedia untuk pananganan dan pembuangan.

Di dalam setiap proses produksi teh menghasilkan limbah yang terdiri dari

limbah padat, limbah cair, dan emisi. Limbah padat dari industri teh berasal dari

ampas teh yang merupakan sisa dari tiap tahapan proses produksi. Penanganan

limbah teh yang benar harus dilakukan agar tidak mencemari lingkungan. Limbah

padat dari proses pengolahan teh tidak terlalu berbahaya. Penanganannya hanya

perlu dilakukan dengan cara menyapunya kemudian memasukkannya ke dalam

karung untuk selanjutnya dibuang atau dijadikan pupuk organik. Limbah cair

berasal dari sisa-sisa pencucian alat-alat yang digunakan selama proses pencucian.

Limbah emisi berasal dari heat exchanger yang terdapat di bagian proses pelayuan

dan pengeringan (Hasanah, 2009).

23
III. MATERI DAN METODE PRAKTIK KERJA LAPANGAN

A. Tempat dan Waktu Praktik Kerja Lapangan

Praktik Kerja Lapangan direncanakan akan dilaksanakan selama 26 hari

kerja dari tanggal 27 Januari 2014 sampai dengan 25 Februari 2014 di PT. Salama

Nusantara, Yogyakarta.

B. Materi Praktik Kerja Lapangan

Materi yang akan dikaji pada praktik kerja lapangan ini adalah:

1. Kondisi umum perusahaan

a. Sejarah dan perkembangan perusahaan

b. Lokasi dan tata letak perusahaan

c. Struktur organisasi perusahaan

d. Ketenagakerjaan

2. Proses pengolahan

a. Penyedia bahan baku

b. Alat dan mesin pengolahan teh mahkota dewa

c. Proses pengolahan teh mahkota dewa

3. Teknologi Pengemasan

a. Bahan baku pengemasan teh mahkota dewa

b. Jenis pengemasan teh mahkota dewa

c. Sistem pengemasan teh mahkota dewa

d. Alat dan mesin pengemasan teh mahkota dewa

24
C. Metode Praktik Kerja Lapangan

Pelaksanaan praktik kerja lapangan dilakukan dengan menggunakan

beberapa metode, antara lain:

1. Survei langsung terhadap kegiatan proses pengolahan dan pengemasan teh

mahkota dewa di PT Salama Nusantara Yogyakarta.

2. Partisipasi aktif dalam proses pengolahan dan pengemasan teh mahkota

dewa di PT Salama Nusantara Yogyakarta.

3. Wawancara kepada karyawan dan petugas lain di PT Salama Nusantara

Yogyakarta.

4. Pengambilan data dalam praktik kerja lapangan ini meliputi :

1. Pengambilan data primer, melalui:

a. Berpartisipasi aktif dalam tahapan proses pengolahan dan

pengemasan teh mahkota dewa di PT Salama Nusantara

Yogyakarta.

b. Wawancara dengan karyawan dan petugas lain di PT Salama

Nusantara Yogyakarta.

c. Observasi terhadap kegiatan dan hasil pengolahan dan pengemasan

teh mahkota dewa di PT Salama Nusantara Yogyakarta.

2. Pengambilan data sekunder diperoleh melalui:

a. Data - data yang dimiliki oleh PT Salama Nusantara Yogyakarta.

b. Dokumen, data, catatan, buku, pustaka dansumber-sumber lain

yang mendukung.

25
IV. JADWAL PELAKSANAAN PRAKTIK KERJA LAPANGAN

Jadwal pelaksanaan praktik kerja lapangan dilaksanakan 26 hari kerja dari

tanggal 27 Januari 2014 sampai dengan 25 Februari 2014 dengan jadwal

pelaksanaan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 2. Jadwal pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan

Minggu
No
Kegiatan
I II III IV

Persiapan dan pengenalan kondisi


1
lingkungan PT Salama Nusantara
Yogyakarta.
Pengambilan data primer pada
2
proses pengolahan teh mahkota
dewa.
Pengambilan data primer pada
3
proses pengemasan teh mahkota
dewa.
Pengambilan data sekunder dan
4 kelengkapan data yang dibutuhkan
dalam penyajian laporan dan
persiapan pembuatan laporan.

26
V. PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Perusahaan

1. Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

Sejarah berdirinya PT Salama Nusantara adalah pada awal tahun 2003 di kala

bangsa Indonesia masih dalam kondisi krisis ekonomi yang berdampak kepada

kehidupan masyarakat luas dan pemimpin perusahaan mencari nilai tambah usaha

kecil-kecilan atau home industri. Pada waktu itu pemimpin perusahaan tersebut

mencoba berbagai macam usaha mulai dari jual beli alat-alat elektronik dan

kendaraan bermotor, meracik kopi sampai akhirnya meracik jamu.

Berbekal dari sebuah buku yang didapatkan dari seorang teman, buku

berjudul Budidaya Mahkota Dewa maka pemimpin perusahaan mencoba

meracik buah mahkota dewa, ditambah benalu teh dan teh hijau menjadi minuman

kesehatan Teh Mahkota Dewa. Hasilnya pun banyak yang melaporkan dari teman-

teman yang mengkonsumsi ramuan tersebut sangat manjur dan dapat

menyehatkan tubuh mereka. Kemudian perusahaan tersebut terus berkembang

hingga saat ini dan pemasaran dilakukan mulai dari pasar lokal (didaerah

Yogyakarta dan sekitarnya), nasional, hingga mengekspor produk tersebut ke luar

negeri seperti Malaysia.

Tanggal 20 April 2004 secara resmi berdiri Industri Obat Tradisional dengan

nama SALAMA NUSANTARA. Bentuk awal perusahaan ini berdiri adalah

industri rumah tangga, kemudian meningkat ke UMKM (Usaha Mikro Kecil dan

Menengah) dan berkembang menjadi PT (Perseroan Terbatas). Modal awal yang

27
digunakan sebesar Rp. 20.000.000,00. Bangunan dan tanah dimiliki oleh Bapak

HM Maryono selaku pemegang saham tertinggi yaitu 70%. Perusahaan belum

memiliki cabang di daerah lain.

PT. Salama Nusantara telah mendapatkan ijin resmi dari:

IZIN EDAR BALAI POM : TR No. 053151771

IZIN USAHA SK MENKES RI : No. 448/3125/IV.2

Lolos Uji LAB. BALAI POM Tahun 2005

Diawasi oleh Apoteker Alumnus UGM Yogyakarta

Sertifikat Halal MUI : No. 121 300000 80306

Pada era tahun 2000 pesatnya teknologi telah membawa peradaban manusia

yang terus menerus berubah dari zaman ke zaman. Pola hidup manusia pun

berubah begitu drastis akibat dari majunya zaman sehingga faktor kesehatan juga

menjadi masalah tersendiri. Penyakit-penyakit manusia modern pun timbul akibat

dari gaya dan pola hidup. Kelebihan kolesterol, makan-makanan yang serba instan

dan siap saji, kurang berimbangnya nilai-nilai gizi dan nutrisi yang tidak

memenuhi kebutuhan tubuh telah melahirkan penyakit diabetes melitus, asam

urat, hipertensi, jantung koroner, dan kanker yakni berkurangnya harapan hidup

manusia.

Ditinjau dari sumber daya alamnya, Pulau Jawa mempunyai potensi yang luar

biasa akan kekayaan tanaman dan tumbuhan yang mempunyai khasiat obat.

Sebagian wilayah di Kabupaten Kulon Progo terdapat berbagai sumber dan pusat

tanaman obat, oleh karena itu langkah yang tepat apabila Salama Nusantara hadir

di tengah-tengah zaman global, namun tetap berprilaku dan bergaya hidup

28
tradisional. Saat ini dengan seiring berjalannya waktu PT. Salama Nusantara kini

juga memproduksi minuman instan seperti jahe merah, temulawak, kunyit,

secang, serta kopi jahe.

2. Lokasi dan Tata Letak

Kantor Pusat Salama Nusantara terletak di kota Wates Ibu kota Kabupaten

Kulon Progo Yogyakarta. Letak yang sangat strategis, mudah dijangkau dengan

alat transportasi pribadi maupun umum. Jarak ke terminal Wates sekitar 1 km, ke

stasiun Wates sekitar 2 km. Tepatnya sebelah barat terminal Wates, Jl. KH.

Ahmad Dahlan Purworejo km 2 Wonomulyo Sebokarang Wates Kulon Progo

Yogyakarta.

Kantor unit bahan baku terletak di Ngaliyan Ngargosari Samigaluh Kulon

Progo. Bisa ditempuh dari kota Wates sekitar 1 jam (kurang lebih 35 km dari

kantor pusat). Petani bahan baku tersebar di sepanjang Pegunungan Menoreh.

Gambar 1. Denah lokasi PT. Salama Nusantara Yogyakarta

29
Pada perusahaan tersebut, terdapat area keluarga, area kantor, area produksi,

dan garasi. Area produksi keluarga terdiri dari ruang tamu utama, ruang keluarga,

kamar tidur, kamar mandi, dan dapur. Area kantor terdiri dari ruang pemasaran

dan display produk. Area produksi teh mahkota dewa terdiri dari gudang bahan

baku, ruang pencampuran, ruang stok produk jadi, ruang pengolahan (sangrai),

dan kamar mandi. Area produksi minuman instan dan makanan kecil terdiri dari

ruang pengolahan, gudang, dan dapur karyawan. Pada gambar layout dibawah ini,

area produksi digunakan untuk semua produk PT. Salama Nusantara Yogyakarta.

Gambar 2. Layout Perusahaan

3. Visi dan Misi Perusahaan

PT Salama Nusantara memiliki visi yaitu Mewujudkan Bangsa Indonesia

Sehat dengan Herbal Tanpa Bahan Kimia Obat dan juga memiliki misi yaitu

Menempatkan Herbal sebagai Solusi Problem Kesehatan Menuju Kesejahteraan

Hakiki Sejati.

30
4. Struktur Organisasi Perusahaan

Direktur

Drs. HM

Wakil Direktur

Hj. Nur Hidayati M

Kabag. Unit Bahan Marketing Sekretaris &


Baku Administrasi

Petani Unit distribusi,


market dan Karyawan
database

Distributor/agen Apoteker.

Konsumen

Pelanggan

Gambar 3. Struktur Organisasi Perusahaan

PT. Salama Nusantara dipimpin oleh seorang Direktur yang juga

merupakan pemilik dari perusahaan ini sendiri. Tugas dari Direktur Utama adalah

mengkoordinasi dan mengendalikan semua kegiatan perusahaan, merencanakan

dan menyusun program kerja jangka pendek dan jangka panjang, membina

karyawan, mengurus dan mengelola kekayaan perusahaan, mewakili perusahaan

didalam dan diluar pengadilan, mengambil kebijakan dan keputusan perusahaan

dan penanggung jawab perusahaan. Direktur dalam menjalankan tugasnya,

31
dibantu seorang Wakil Direktur yang juga memiliki wewenang dan tanggung

jawab yang sama terutama apabila perusahaan sedang ditinggalkan. Tugas dari

Wakil Direktur adalah membantu tugas Direktur Utama, mengawasi dan

mengkoordinasi karyawan.

Direktur dan Wakil Direktur membawahi tiga divisi penting dalam

perusahaan yaitu bagian Unit Bahan Baku yang dipegang oleh Kepala Bagian

Unit Bahan Baku, bagian Pemasaran yang dipegang oleh Kepala Bagian

Pemasaran atau Marketing dan bagian Sekretaris & Administrasi. Masing-masing

kepala bagian memiliki tugas spesifik yang berhubungan dengan unit-unit khusus

dibawahnya sesuai divisi masing-masing.

Kepala Bagian Unit Bahan Baku membawahi ketua-ketua kelompok petani

dan petani plasma baik untuk teh, mahkota dewa, maupun benalu teh yang

nantinya akan menyetor bahan baku untuk perusahaan. Tugas dari Kepala Bagian

Unit Bahan Baku adalah menyediakan, menampung dan mengelola bahan baku

dari ketua kelompok tani plasma untuk mensuplai kebutuhan perusahaan. Petani

bertugas menanam bahan baku, mengolah bahan baku menjadi setengah jadi

(rajangan kering), kemudian disetor ke ketua kelompok tani.

Kepala Bagian Pemasaran atau Marketing membawahi Unit Distribusi,

Market dan Database, Distributor-distributor, dan Konsumen. Bagian Marketing

merupakan bagian yang berperan dalam pemasaran produk jadi agar sampai

kepada konsumen. Tugasnya adalah mengelola dan memanajemen pemasaran dan

mengembangkan jaringan pemasaran produk. Unit Distribusi, Market & Database

bertugas untuk memberikan pendapat dan saran kepada Direktur Utama terhadap

32
rencana distribusi dan market, melaksanakan tugas yang diberikan Direktur

Utama, mengatur distribusi dan mendistribusikan produk, merencanakan strategi

pemasaran, promosi dan menjaring minat agen untuk memperluas jaringan

pemasaran, membackup tugas Direktur Utama, menyusun dan membuat data

penting perusahaan. Distributor/agen bertugas untuk menjualkan produk,

memperluas jaringan ke seluruh pelosok.

Sekretaris dan Administrasi membawahi para karyawan dan apoteker.

Bagian ini berfungsi dalam melaksanakan pengolahan dari bahan baku menjadi

produk jadi serta pengawasan mutu dari produk tersebut. Sekretaris &

Administrasi bertugas untuk mengendalikan dan menyelenggarakan kegiatan di

bidang administrasi, membuat laporan pengeluaran dan pemasukan, dan

melaksanakan tugas lain yang diberikan oleh atasan. Karyawan bertugas untuk

memproses bahan setengah jadi menjadi siap jual, meliputi : sangrai bertugas

memasak rajangan mahkota dewa kering, pencampuran bertugas mencampur

ketiga bahan menjadi satu dan menimbang sesuai isi kemasan, dan packing

bertugas mengemas produk yang sudah jadi. Apoteker bertanggung jawab

terhadap perijinan produk perusahaan dan mengawasi hasil produk.

5. Ketenagakerjaan

Karyawan PT. Salama Nusantara pada awal berdiri yaitu tahun 2004-2005

hanya sebatas anggota keluarga sebanyak 3 orang. Tahun 2005-2006 sebanyak 10

orang dan pada tahun 2005-2014 sebanyak 25 orang.

33
Tenaga kerja berasal dari masyarakat sekitar dengan cara rekruitment dan

masa percobaan 2 bulan. Syarat minimal ijazah SMP dengan masa bekerja di

perusahaan tersebut sampai usia 56 tahun. Hampir sebagian besar karyawan

adalah wanita. Waktu kerja biasa PT. Salama Nusantara adalah selama 8 jam/

hari. Karyawan masuk hari Senin sampai hari Minggu kecuali untuk hari Jumat

hanya karyawan piket yang masuk dikarenakan setiap hari Jumat perusahaan

libur. Adapun jadwal pelaksanaan kerja di PT. Salama Nusantara adalah sebagai

berikut :

Hari Biasa

Jam masuk : 07.30 16.00 WIB

Istirahat Pagi : 10.00 10.30 WIB

Istirahat Siang : 12.00 13.00 WIB

Lembur

Lembur Pagi : 06.00 07.30 WIB

Lembur Sore : 16.00 18.00 WIB

Lembur Malam : 19.00 22.00 WIB

Hari Libur

Libur hari Jumat, hanya karyawan piket tetap masuk pada hari jumat.

Pemberian upah pada tiap tingkatan pekerja berbeda-beda berkisar antara Rp.

900.000,00 Rp. 2.000.000,00/bulan. Bagi pekerja yang lembur, upah yang

diberikan Rp 4.000,00/jam. Sistem pemberian upah ditetapkan oleh pimpinan

perusahaan itu sendiri yang terdiri dari 2 sistem yaitu :

34
1. Gaji bulanan yang diberikan untuk tenaga kerja atau karyawan ditingkat

direksi.

2. Gaji mingguan diberikan untuk karyawan tingkat produksi dan pemberian gaji

dilakukan setiap hari Kamis. Sistem gaji pada PT. Salama Nusantara

berdasarkan jumlah jam kerja karyawan karena terkadang ada karyawan yang

dalam bekerja tidak sampai batas waktu yang ditentukan.

Fasilitas yang diberikan oleh PT. Salama Nusantara kepada pekerja antara

lain tunjangan hari raya, cuti hamil dan cuti tahunan, namun belum ada asuransi

kecelakaan. Bagi pekerja yang melanggar peraturan yang telah ditetapkan, akan

mendapat sanksi antara lain:

a. Ditegur secara lisan

b. Ditegur secara tertulis

c. Diminta untuk mengundurkan diri

Selain karyawan pada produksi, PT. Salama Nusantara juga bekerja sama

dengan para petani dalam pemenuhan bahan baku. Petani tersebut berasal dari

beberapa kecamatan di kabupaten Kulon Progo DIY yaitu Samigaluh, Girimulyo,

Pengasih, dan Kokap. Pola pemberdayaan petani mahkota dewa yang merupakan

bahan baku utama dalam pembuatan teh mahkota dewa terdiri dari alur

pemerolehan bahan baku yaitu :

PETANI -------> KETUA KELOMPOK -----------> PT. Salama Nusantara

35
B. Proses Pengolahan Teh Mahkota Dewa

1. Penyediaan Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan Teh Mahkota Dewa yaitu

terdiri dari buah mahkota dewa, teh hijau, dan benalu teh dengan proporsi

mahkota dewa 70%, teh hijau 20%, dan benalu teh 10 %. Suplai bahan baku

dalam pembuatan teh mahkota dewa berasal dari bahan baku yang berasal dari

kebun mahkota dewa yang dimiliki oleh PT. Salama Nusantara Yogyakarta dan

juga petani plasma.

a. Mahkota Dewa

Mahkota dewa yang digunakan dalam pembuatan teh mahkota dewa pada

PT. Salama Nusantara diperoleh dari berbagai petani mahkota dewa yang

mendapatkan bimbingan dari PT. Salama Nusantara dari awal pembibitan sampai

panen buah mahkota dewa. Alur pemerolehan bahan baku utama pembuatan teh

mahkota dewa yaitu sebagai berikut :

PETANI ------- > KETUA KELOMPOK --------- > SALAMA NUSANTARA

Masing-masing petani buah mahkota dewa menyerahkan hasil panennya

kepada ketua kelompok tani yang selanjutnya buah mahkota dewa akan

mengalami proses pengolahan sebelum digunakan sebagai bahan baku pembuatan

teh mahkota dewa. Masing - masing kelompok petani mempunyai anggota yang

berjumlah antara 15 -20 anggota. Ketua kelompok petani inilah yang memiliki

alat-alat untuk memproses pengolahan bahan baku sampai bahan kering dan siap

untuk dilakukan proses selanjutnya dalam pembuatan teh mahkota dewa. Tahapan

proses pengolahan tersebut yaitu sortasi basah, kemudian dilakukan pencucian,

36
perajangan lalu dikeringkan dengan cara pengeringan tradisional (melakukan

penjemuran dibawah sinar matahari selama 2-3). Setelah itu, bahan baku tersebut

diserahkan ke perusahaan atau kepala bagian unit bahan baku.

Persyaratan bahan baku yang digunakan antara lain:

Buah dari hasil tanaman yang diberi perlakuan organik yaitu proses

pemupukannya menggunakan pupuk organik sehingga tidak terdapat

residu kimia pada bahan yang dipanen.

Buah dari hasil induk yang sudah berumur minimal empat tahun karena

buah yang didapat kualitasnya lebih baik dari segi kandungannya.

Buah dipetik dalam keadaan tidak terlalu masak (warna buah merah

kehitaman/kecoklatan) dan tidak dalam keadaan masih muda (warna

buah masih hijau) dengan kriteria warna buahnya merah dan ukurannya

besar sesuai dengan kematangan buah tersebut.

Dirajang dengan ukuran kecil dengan kadar air kurang dari 10%, yang

diketahui dari irisan tipis tersbut mudah dipatahkan (Herawati dkk,

2012).

Bagian buah mahkota dewa yang digunakan dalam pembuatan teh

mahkota dewa di PT. Salama Nusantara adalah daging buahnya. Biji buah

mahkota dewa harus dihilangkan terlebih dahulu, karena biji buah mahkota dewa

adalah bagian tanaman yang paling beracun. Memiliki bentuk bulat lonjong

dengan diameter sekitar 1 cm. Bagian dalamnya berwarna putih. Bila biji ini

tergigit, dapat menyebabkan lidah akan merasa kaku dan badan terasa meriang,

37
oleh karena itu biji hanya digunakan untuk pengobatan aneka jenis penyakit kulit

(Harmanto, 2001).

Buah mahkota yang baik yang digunakan dalam pembuatan teh mahkota

dewa yaitu buah mahkota dewa yang memiliki kualitas baik yaitu dalam keadaan

segar, berwarna putih, memiliki bau yang khas menyerupai bahan segarnya, tidak

terdapat potongan biji mahkota dewa, tekstur tidak lunak, dan tidak busuk

(Herawati dkk, 2010). Dalam pembuatan teh mahkota dewa, buah mahkota dewa

yang akan diproses yaitu buah yang sudah dalam bentuk potongan atau rajangan

tipis dan telah dikeringkan. Jika terdapat buah mahkota dewa yang tiba di

perusahaan tetapi kurang memenuhi syarat dari perusahan, maka buah tersebut

akan dikembalikan kepada pemasok.

Dalam keadaan segar, kulit dan daging buah muda mahkota dewa terasa

sepet-sepet pahit, sedangkan yang sudah tua sepet-sepet agak manis. Menurut

Sumastuti (2002), jika dimakan segar akan menimbulkan bengkak di mulut,

sariawan, mabuk, bahkan keracunan, sehingga kulit dan daging mahkota dewa

tersebut tidak dianjurkan untuk dikonsumsi dalam keadaan segar. Cangkangnya

memiliki rasa sepet-sepet pahit, lebih pahit dari kulit dan daging buah. Bagian ini

juga tidak dianjurkan untuk dikonsumsi langsung karena dapat mengakibatkan

mabuk, pusing, bahkan pingsan. Setelah diolah, bagian ini lebih mujarab

dibandingkan dengan kulit dan daging buah. Bagian cangkang ini juga dapat

mengobati penyakit berat seperti kanker payudara, kanker rahim, sakit paru-paru,

dan sirosis hati.

38
Hal yang perlu diwaspadai yaitu tanaman mahkota dewa cukup beracun,

bila salah dalam penggunaannya, dapat berakibat negatif bagi konsumen. Perlu

diperhatikan bahwa bagian tanaman yang digunakan untuk obat adalah bagian

daging buahnya. Penggunaan daging buah mahkota dewa ini pun sebaiknya

dalam keadaan kering dan dengan dosis yang terbatas, sesuai dengan aturan pakai

yang terdapat pada produk yang diproduksi. Wanita hamil muda dilarang

mengonsumsi mahkota dewa, selain itu telah dibuktikan bahwa mahkota dewa

mampu berperan seperti oxytosin atau sintosinon yang dapat memacu kerja otot

rahim sehingga memperlancar proses persalinan karena dapat membahayakan

kehamilan yang masih muda.

b. Teh hijau

Teh diperoleh dari pengolahan daun tanaman teh (Camellia sinensis L)

dari familia Theaceae. Tanaman ini dapat tumbuh subur di daerah tropik dan

subtropik dengan menuntsinar matahari yang cukup dan hujan sepanjang tahun

(Siswoputranto, 1978).

Menurut Nazaruddin dan Paimin (1996), sebelum dilakukan proses

pengolahan, pucuk daun teh harus dalam keadaan segar. Pucuk daun teh yang

masih segar adalah yang belum mengalami perubahan secara fisik maupun kimia

setelah pemetikan sampai tiba di lokasi pengolahan. Hal tersebut sangat penting

untuk mendapatkan teh yang bermutu baik. Bila daun-daun teh rusak, sel-selnya

sebagian juga rusak. Peristiwa tersebut menyebabkan enzim-enzim dalam daun

terutama polifenol oksidase kontak dengan oksigen menyebabkan fermentasi

sebelum daun dilayukan dan digiling. Daun teh yang telah rusak sebelum

39
dilayukan, menghasilkan teh kering yang berwarna coklat dan mempunyai sedikit

ujung/pucuk yang baik.

PT. Salama Nusantara memperoleh bahan baku teh hijau yaitu dari

daerah Bandung serta dari beberapa kelompok petani yang terdapat di daerah

Samigaluh Kulon Progo Yogyakarta. PT. Salama Nusantara menerima bahan baku

teh hijau yang sudah kering dan telah siap untuk dicampurkan dengan mahkota

dewa serta benalu teh. Teh hijau yang digunakan yaitu teh hijau yang tidak terlalu

hancur dan teh hijau organik. Teh hijau organik ialah teh hijau dalam

pemupukannya diberikan pupuk organik.

Teh hijau dibuat dengan cara menginaktivasi enzim oksidase atau

fenolase yang ada dalam pucuk daun teh segar dengan cara pemanasan atau

penguapan menggunakan uap panas sehingga oksidasi enzimatis terhadap katekin

dapat dicegah (Andi, 2006). Teh hijau yang digunakan untuk pengolahan teh

mahkota dewa adalah teh hijau yang telah diolah sampai siap digunakan sebagai

bahan campuran dalam pembuatan teh mahkota dewa. Tahapan pengolahan

tersebut diantaranya sortasi basah, perajangan, penggulungan, dan pengeringan.

Teh hijau yang tidak sesuai standar untuk dijadikan bahan baku, maka akan

dikembalikan kepada pihak utama atau pemasok teh hijau tersebut.

c. Benalu teh

Benalu teh didatangkan juga bersama dengan daun teh hijau kering dari

perkebunan teh di daerah Bandung serta dari beberapa kelompok petani

perkebunan teh yang terdapat di daerah Samigaluh Kulon Progo Yogyakarta. PT.

Salama Nusantara menerima bahan baku benalu teh yang sudah melalui proses

40
pengolahan sampai kering dan telah siap untuk dicampurkan dengan mahkota

dewa serta teh hijau. Tahapan proses pengolahan tersebut diantaranya sortasi

basah, perajangan, dan pengeringan. Kriteria benalu teh yang diterima sama

seperti teh hijau yaitu tidak terlalu hancur. Benalu teh yang tidak sesuai standar

untuk dijadikan bahan baku, maka akan dikembalikan kepada pihak utama atau

pemasok bahan tersebut.

2. Alat dan Mesin Pengolahan

Proses produksi teh mahkota dewa masih menggunakan alat-alat

tradisional, akibat keterbatasan masukan teknologi pada perusahaan tersebut.

Pengadaan alat-alat tersebut berasal dari kerjasama beberapa pihak :

a. Usaha sendiri

b. Pihak PEMKAB (Pemerintah Kabupaten)

c. DIKTI (perguruan tinggi UGM dan UMY)

Alat-alat yang digunakan pada proses pengolahan teh mahkota dewa antara lain:

a. Blower

Blower digunakan untuk menyangrai irisan tipis buah mahkota dewa

kering agar tetap awet, menetralkan zat-zat berbahaya serta menjaga nilai

tradisional dari obat herbal tersebut. Mahkota dewa tersebut tidak disangrai

dengan menggunakan oven listrik karena pada oven listrik mahkota dewa yang

dihasilkan memiliki warna atau tingkat kematangan yang tidak seragam. Pada

proses penyangraian buah mahkota dewa menggunakan blower karena alat

tersebut merupakan masukan teknologi dari Universitas Muhammadiyah

41
Yogyakarta (UMY) kepada PT. Salama Nusantara yang berupa penggunaan

mesin penyangrai yang terbuat dari baja stainless yang mampu meningkatkan

kapasitas produksi teh mahkota dewa dan menghasilkan tingkat keseragaman

warna mahkota dewa. Mahkota dewa mengalami penyangraian dalam blower

kurang lebih selama 45 menit pada suhu 100C. PT. Salama Nusantara saat ini

memiliki dua buah blower dalam keadaan baik. Kapasitasnya 10 kg untuk sekali

produksi.

Mekanisme kerja blower cukup mudah yaitu dengan meletakkan blower

diatas tungku pembakaran, kemudian masukkan mahkota dewa yang akan di

sangrai ke dalam alat, lalu putar tuas menggunakan tangan sampai matang.

Tuas

Gambar 4. Alat penyangrai/blower

42
b. Presseur / sealer

Sealer digunakan untuk mengepres plastik yang digunakan sebagai

pengemas agar kedap udara dan air sehingga produk didalamnya awet serta tidak

tercemari bahan pengotor. PT. Salama Nusantara memiliki satu buah sealer yang

dapat digunakan untuk mengemas teh mahkota dewa.

Mekanisme kerja dari sealer tradisional ini menggunakan listrik. Pertama

lipat plastik yang akan dipres setelah itu ditekan dengan pegangan kayu beberapa

detik, lalu angkat.

Pegangan kayu

Gambar 5. Hand Sealer tradisional

c. Tungku

Tungku digunakan untuk pembakaran dalam proses penyangraian mahkota

dewa. Tungku tersebut`menggunakan arang dan api sebagai bahan bakarnya, tidak

menggunakan listrik. Pembakaran dengan arang tersebut bertujuan untuk

menghilangkan aroma mahkota dewa yang masih sangat kuat setelah dikeringkan.

43
3. Proses Pengolahan

a. Pengolahan Mahkota Dewa

Bahan baku pembuatan teh mahkota dewa yaitu buah mahkota dewa, teh

hijau, dan benalu teh. Proses pengolahannya melalui beberapa tahap, yaitu

pengolahan bahan baku yaitu buah mahkota dewa, teh hijau, dan benalu teh yang

selanjutnya dilakukan proses pencampuran dari ketiga bahan baku tersebut.

Diagram alir pengolahan mahkota dewa :

Mahkota dewa

Sortasi basah

Pencucian

Perajangan

Pengeringan

Sortasi kering

Penimbangan

Gambar 6. Proses pengolahan mahkota dewa

44
Pengolahan buah mahkota dewa pascapanen meliputi proses sortasi basah,

pencucian, perajangan, pengeringan, sortasi kering, dan penimbangan.

1. Sortasi basah

Sortasi basah yang dilakukan PT Salama Nusantara meliputi pemilihan buah

mahkota dewa yang tidak busuk dan juga pembersihan dari bahan pengotor yang

ada.

2. Pencucian

Setelah buah disortir basah, buah terpilih dibersihkan dengan air yang

mengalir yang bersih. Buah yang sudah bersih dapat langsung diangin anginkan

selama satu hari, lalu dijemur dibawah terik sinar matahari sambil sering dibolak-

balik. Pengeringan buah secara utuh ini memang agak sulit, tetapi mempermudah

dalam konsumsinya.

3. Perajangan

Setelah mahkota dewa dikeringkan kemudian dilakukan perajangan,

kemudian buah mahkota dewa diiris dengan ketebalan 5 mm, sebaiknya dalam

pengirisan jangan terlalu tipis agar senyawa aktif di dalamnya tidak hilang.

Perajangan ini dilakukan oleh ketua kelompok petani mahkota dewa yang bekerja

sama dengan PT. Salama Nusantara sebagai pemasok bahan baku. Perajangan

dilakukan dengan menggunakan pisau stainless agar tidak terjadi reaksi kimia

yang merugikan. Pada proses perajangan yang diambil adalah daging buahnya

sedangkan untuk biji buah mahkota dewa dibuang atau dihilangkan karena biji

mahkota dewa merupakan racun apabila dikonsumsi. Kulit dan daging buah diiris

setipis mungkin.

45
4. Pengeringan

Setelah dilakukan perajangan selanjutnya dilakukan proses pengeringan,

dimana pengeringan bertujuan untuk menghilangkan unsur-unsur racun yang

terdapat pada bagian tanaman mahkota dewa, dan untuk mengurangi kadar air

sampai batas perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim yang dapat

menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti. Pengeringan ini dilakukan

dibawah sinar matahari selama 2-3 hari, cara ini dilakukan karena proses yang

mudah dilakukan dan murah, tetapi pengeringan dengan cara ini mempunyai laju

atau kecepatan yang lambat karena tergantung pada iklim. Bahan harus dilindungi

dari serangan serangga dan ditutupi pada malam hari. Selain itu pengeringan

dengan matahari sangat rentan terhadap resiko kontaminasi lingkungan seperti

mikroba, sehingga pengeringan sebaiknya jauh dari jalan raya atau udara yang

kotor (Julisti, 2010). Ciri khusus simplisia dari buah mahkota dewa yang sudah

kering adalah berat buahnya sudah berkurang, kadar airnya sekitar kurang dari

10% yang ditandai dengan irisan tipis dari buah mahkota dewa mudah dipatahkan

(Herawati dkk, 2012). Setelah kering, rajangan dari buah mahkota dewa tersebut

kemudian disangrai. Proses penyangraian dilakukan bertujuan untuk menjadikan

buah lebih awet, serta menetralkan zat-zat yang berbahaya dan tetap menjaga nilai

tradisionalnya agar tidak tercampur dengan logam dan bahan bahan yang

berbahaya lainnya. Waktu penyangraian dilakukan kurang lebih selama kurang

lebih 5 10 menit.

46
5. Sortasi Kering

Buah mahkota dewa yang telah disangrai kemudian dilakukan sortasi kering.

Sortasi kering disini betujuan untuk memisahkan dari kemungkinan adanya

pengotor selama proses pengolahan. Setelah disortir dan dihasilkan mahkota dewa

yang nantinya siap untuk dilakukan pencampuran dengan daun teh hijau dan

benalu teh yang sebelumnya telah mengalami proses pengolahan.

6. Penimbangan

Setelah buah mahkota dewa disangrai, kemudian disortir dan mahkota dewa

siap dilakukan pencampuran dan sebelumnya dilakukan penimbangan terlebih

dahulu. Dalam satu kali produksi mahkota dewa yang dibutuhkan adalah 10,5 kg.

b. Pengolahan Teh Hijau

Bahan baku lain yang digunakan untuk pembuatan teh mahkota dewa

adalah teh hijau, dimana teh hijau berasal dari pucuk daun muda tanaman teh yang

diolah tanpa melalui proses fermentasi. Diagram alir proses pengolahan teh hijau

sederhana, yaitu :
Daun teh hijau

Pelayuan

Penggulungan

Pengeringan

Sortasi

Penimbangan

Gambar 7. Proses pembuatan teh hijau

47
1. Pelayuan

Pucuk daun teh hasil dari pemetikan yang diambil tiga tangkai dari ujung

dipilih daun yang tidak busuk dan tidak rusak/berlubang. Daun teh tersebut tidak

dicuci terlebih dahulu sehingga wadah dan proses yang dilakukan harus bersih.

Selanjutnya daun teh dipaparkan di tempat yang teduh atau dibawah atap berupa

lapisan tipis, dengan maksud agar daun tersebut layu. Setelah diangin anginkan

kurang lebih selama 1 2 hari , daun daun telah cukup layu. Cara pelayuan yang

sering dilakukan adalah menggunakan bantuan sinar matahari (dijemur). Pelayuan

diakhiri apabila telah dihasilkan daun yang amat lemas.

2. Penggulungan

Setelah dilakukan pelayuan selanjutnya daun teh tersebut dilakukan

penggulungan. Cara penggulungan daun sangat sederhana, yaitu teh hijau

digulung dengan telapak tangan, kemudian teh yang sudah digulung diletakkan

diatas tampah. Setelah penggulungan daun teh menjadi agak basah dan lengket,

karena enzim keluar dari sel sel daun. Daun kemudian dijemur sebentar supaya

menjadi agak kering.

3. Pengeringan

Setelah dilakukan perajangan kemudian daun teh dikeringkan. Pengeringan

dilakukan dibawah sinar matahari secara tidak langsung yaitu dengan cara ditutup

kain hitam selama kurang lebih 1 hari. Selanjutnya pengeringan dilajutkan

menggunakan oven listrik atau cabinet dryer dengan suhu 80C selama kurang

lebih 4 jam.

48
4. Sortasi kering

Setelah pengeringan dilakukan, kemudian daun teh yang telah kering

dilakukan sortasi, sortasi ini bertujuan untuk memisahkan dari kemungkinan

adanya pengotor selama proses pengolahan. Cara menyortir daun teh tersebut

yaitu dapat dilakukan dengan cara diayak dengan saringan untuk memisahkan

antara teh kasar dengan remukan teh, dimana dalam pengolahan teh mahkota

dewa ini menggunakan daun teh yang kasar atau tidak remuk.

5. Penimbangan

Sama seperti pada pengolahan mahkota dewa, teh hijau ditimbang terlebih

dahulu sebelum dilakukan pencampuran dengan bahan lain. Teh hijau yang

dibutuhkan dalam satu kali produksi yaitu 3,0 kg.

c. Pengolahan Benalu Teh

Benalu teh didatangkan juga bersama dengan daun teh hijau kering dari

perkebunan teh di daerah Bandung dan juga daerah Samigaluh Kulon Progo

Yogyakarta. Benalu teh telah dikeringkan oleh para petani sebelumnya. Benalu

teh yang telah kering siap untuk dicampurkan dengan bahan baku yang lain

seperti teh hijau dan mahkota dewa.

49
Diagram alir proses pengolahan benalu teh sederhana, yaitu :

Benalu teh

Sortasi basah

Perajangan

Pengeringan

Sortasi kering

Penimbangan

Gambar 8. Proses pengolahan benalu teh

1. Sortasi basah

Benalu teh dipilih yang tidak busuk dan tidak rusak/berlubang. Benalu teh

tersebut tidak dicuci terlebih dahulu sehingga wadah dan proses yang dilakukan

harus bersih.

2. Perajangan

Setelah dilakukan sortasi basah selanjutnya daun teh tersebut dilakukan

perajangan dengan menggunakan pisau stainless.

3. Pengeringan

Setelah dilakukan perajangan kemudian daun teh dikeringkan. Pengeringan

dilakukan dibawah sinar matahari secara tidak langsung yaitu dengan cara ditutup

50
kain hitam selama kurang lebih 1 hari. Selanjutnya pengeringan dilajutkan

menggunakan oven listrik atau cabinet dryer dengan suhu 80C selama kurang

lebih 4 jam.

4. Sortasi kering

Setelah pengeringan dilakukan, kemudian benalu teh yang telah kering

dilakukan sortasi, sortasi ini bertujuan untuk memisahkan dari kemungkinan

adanya pengotor selama proses pengolahan. Cara menyortir benalu teh tersebut

yaitu dapat dilakukan dengan cara diayak dengan saringan untuk memisahkan

antara benalu yang kasar dengan remukan, dimana dalam pengolahan teh mahkota

dewa ini menggunakan benalu teh yang kasar atau tidak remuk.

5. Penimbangan

Sama seperti pada pengolahan mahkota dewa, benalu ditimbang terlebih

dahulu sebelum dilakukan pencampuran dengan bahan lain. Benalu teh yang

dibutuhkan dalam satu kali produksi yaitu 1,5 kg.

d. Pengolahan Teh Mahkota Dewa

Setelah pengolahan mahkota dewa, teh hijau dan benalu teh selesai,

kemudian dilakukan pencampuran antara mahkota dewa, teh hijau dan benalu teh.

51
Diagram alir proses pengolahan teh mahkota dewa sebagai berikut:

Bahan Baku

Mahkota dewa Teh hijau Benalu teh

Penyangraian

Sortasi kering Sortasi kering Sortasi kering

Penimbangan Penimbangan Penimbangan

Pencampuran

Pengemasan

Gambar 9. Proses pengolahan teh mahkota dewa

Pencampuran mahkota dewa, teh hijau, dan benalu teh tersebut dilakukan

diatas wadah seperti tampah yang besar, terbuat dari baja stainless. Setelah itu

52
dilakukan pengadukan menggunakan tangan sampai campuran dari ketiga bahan

tersebut merata. Pencampuran bahan baku tersebut merupakan proses akhir dari

pengolahan teh mahkota dewa yang selanjutnya dilakukan pengemasan. Setelah

pencampuran selesai selanjutnya campuran tersebut dikemas dalam kemasan

plastik ukuran 100 g dan 130 g, kemudian disegel dengan cara dipress

menggunakan alat press.

C. Teknologi Pengemasan

1. Bahan Baku Pengemasan

PT. Salama Nusantara bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan

pencetakan dan jasa penyedia kemasan yang berasal dari kota Yogyakarta, untuk

memenuhi kebutuhan bahan kemas yang digunakan dalam pengemasan teh

mahkota dewa. Biasanya pihak perusahaan mulai meminta pengiriman ketika

stok kemasan sudah hampir habis. Kemasan teh mahkota dewa di PT. Salama

Nusantara ini mempunyai bentuk desain kemasan yang sangat unik dan menarik.

Desain kemasan perlu diciptakan agar mempunyai nilai estetika yang tinggi, oleh

karena itu diperlukan perencanaan yang baik dalam hal ukuran dan bentuk

sehingga efisien dalam proses pengepakan, distribusi dan penyajian. Desain

kemasan hendaknya mampu menumbuhkan kepercayaan dan mempengaruhi

calon konsumen untuk menjatuhkan pilihan terhadap bahan yang dikemas. Setelah

berhasil menarik perhatian dari calon konsumen, kemasan harus menampilkan

produk pada suatu keadaan yang siap jual. Gambaran-gambaran yang terbaik dari

bahan yang dikemas perlu diperlihatkan dengan jelas pada kemasan yang

53
digunakan, sehingga memberikan gambaran bahwa produk tersebut memang

disajikan untuk memenuhi kebutuhan utama calon konsumen secara memuaskan.

Mekanisme alur dalam pembuatan kemasan di PT. Salama Nusantara yaitu

pihak perusahaan membuat suatu desain kemasan dibawah arahan direktur

perusahaan, kemudian desain tersebut dikirim ke perusahaan pemasok bahan

kemas untuk dilakukan pencetakan kemasan yang diminta oleh pihak perusahaan.

Bahan baku kemasan primer dalam pengemasan teh mahkota dewa seperti

plastik diperoleh dari sebuah toko plastik didaerah Wates. Sementara bahan baku

kemasan sekunder seperti karton dus dan kemasan tersier seperti kardus diperoleh

dari percetakan dan perusahaan penyedia jasa di Yogyakarta.

2. Jenis Pengemasan

Berdasarkan bahan dasar pembuatannya maka jenis kemasan pangan yang

tersedia saat ini adalah kemasan kertas, gelas, kaleng/logam, plastik dan kemasan

komposit atau kemasan yang merupakan gabungan dari beberapa jenis bahan

kemasan, misalnya gabungan antara kertas dan plastik atau plastik, kertas dan

logam. Masing-masing jenis bahan kemasan ini mempunyai karakteristik

tersendiri, dan hal ini menjadi dasar untuk pemilihan jenis kemasan yang sesuai

untuk produk pangan.

Biasanya pada produk teh digunakan kemasan PE, kertas/alumunium foil,

OPP, dan LDPE untuk mencegah kehilangan aroma dan CO2 (Anonim, 2007).

PT. Salama Nusantara mengemas produknnya dengan berbagai jenis kemasan dan

dengan beberapa ukuran. Jenis kemasan yang digunakan antara lain plastik LDPE

54
(Low Density Polyethylene), PP (Polypropilen), kemasan karton dus, dan kemasan

kardus box.

Ada tiga jenis plastik PE (Polyetilen) yaitu Low Density Polyethylene (LDPE)

yang mudah dikelim dan murah, Medium Density Polyethylene (MDPE) yang

lebih kaku dari LDPE dan lebih tahan suhu tinggi, dan High Density Polyethylene

(HDPE) yang paling kaku dan tahan suhu tinggi (suhu 120C). Sifat umum dari

PE adalah mempunyai penampakan bervariasi dan transparan, berminyak, mudah

dibentuk, lemas, gampang ditarik, daya rentang tinggi tanpa sobek, mudah

dikelim panas, tidak cocok untuk bahan berlemak dan tahan terhadap asam, basa,

alkohol, deterjen; untuk penyimpanan beku (-50C), transmisi gas cukup tinggi

(untuk makanan beraroma), serta kedap air dan uap air (Anonim, 2007). HDPE

biasanya digunakan sebagai bahan pembuat botol susu, botol/kemasan deterjen,

kemasan margarin, pipa air, dan tempat sampah, sedangkan LDPE digunakan

dalam aplikasi film plastik seperti sebagai kantong plastik dan plastik

pembungkus.

Persamaan antara plastik PP (Polypropilen) dengan PE (Polyetilen) antara

lain ringan, mudah dibentuk, dan transparan. Sedangkan perbedaan plastik PP

(Polypropilen) dengan PE (Polyetilen) antara lain plastik jenis PP tidak lebih

jernih, lebih kaku, kekuatan tarik lebih besar, lebih rapuh pada suhu rendah, lebih

mudah pecah, tidak mudah sobek, permeabilitas uap air lebih rendah,

permeabilitas gas sedang, lebih tahan terhadap suhu tinggi (150C) terutama

untuk makanan sterilisasi, titik leleh lebih tinggi sehingga lebih sulit dibuat

kantung, lebih tahan terhadap asam kuat, basa dan minyak sehingga baik untuk

55
kemasan minyak, pada suhu tinggi akan bereaksi dengan benzena, siklen, toluen,

dan asam nitrat kuat (Anonim, 2007).

Berdasarkan struktur sistem kemas, pihak perusahaan membagi kemasan

menjadi tiga yaitu kemasan primer, kemasan sekunder, dan kemasan tersier.

a. Kemasan primer

Kemasan primer yaitu kemasan yang berhubungan langsung dengan bahan

yang akan dikemas. PT. Salama Nusantara menggunakan bahan plastik sebagai

pengemas primer untuk produk teh mahkota dewa. Plastik yang digunakan adalah

jenis LDPE (Low Density Polyethylene) untuk ukuran kemasan 130 g, sesuai

dengan literatur Miltz (1992) karena bahan yang dikemas tidak beraroma tajam,

tidak berlemak, penampakan kemasannya transparan sehingga produk dapat

dilihat dari luar, fleksibel sehingga mudah dibentuk, heat seal (dapat dikelim

dengan panas) dan memiliki titik leleh 120C, selain itu juga kedap terhadap air,

uap air dan gas (Anonim, 2007). Alasan lain menggunakan plastik jenis LDPE ini

adalah untuk mencegah kerusakan fisik dan mikrobiologis akibat pengaruh dari

air maupun uap air seperti tekstur menjadi lunak dengan kadar air yang tinggi

pada teh mahkota dewa dapat menyebabkan mikroba akan mudah tumbuh, serta

kerusakan secara kimia akibat pengaruh dari pertukaran gas yang terdapat di udara

seperti terjadi reaksi oksidasi enzimatis karena bersentuhan langsung dengan

oksigen yang membuat warna produk menjadi lebih coklat, kehilangan aroma dan

CO2.

Kemasan plastik yang digunakan tidak hanya jenis LDPE (Low Density

Polyethylene), tetapi produk yang mempunyai berat 100 g dikemas dengan

56
menggunakan plastik jenis PP (Polyropilen) jika disesuaikan dengan ciri-ciri

plastik yang digunakan di PT. Salama Nusantara Yogyakarta. Ciri-ciri jenis

plastik tersebut adalah ringan, mudah dibentuk, lebih tebal daripada LDPE,

transparan, dan lebih kaku (Anonim, 2007). Hal ini dikarenakan pada produk

yang memiliki berat 100 g tidak dikemas lagi dengan kemasan sekunder, sehingga

dibutuhkan kemasan plastik yang lebih kuat dan tebal, serta lebih tahan terhadap

suhu tinggi untuk melindungi produk didalamnya pada saat didistribusikan. Pada

kemasan plastik jenis PP (Polypropilen) ini sudah terdapat desain kemasan yang

dibuat oleh percetakan yang bekerja sama dengan PT. Salama Nusantara tersebut,

sehingga setelah dikemas dengan plastik produk dapat langsung dipasarkan ke

konsumen. Pada desain kemasan tersebut tercantum beberapa informasi,

diantaranya nama produk yang dipasarkan, komposisi produk, logo dan nama

perusahaan yang memproduksi, kegunaan atau manfaat dari produk, berat produk,

alamat dan kontak perusahaan, tanggal kadaluarsa, nomor izin dari BPOM RI dan

izin usaha SK Menteri Kesehatan RI, serta logo halal dari MUI.

Alasan penggunaan kemasan plastik 100 g karena lebih praktis

didistribusikan kepada konsumen lokal dengan berat atau ukuran yang tidak

terlalu besar dan harganya juga tidak terlalu mahal sehingga konsumen kalangan

menengah ke bawah dapat mengkonsumsi produk tersebut. Sedangkan

penggunaan kemasan plastik 130 g dibuat untuk memberi variasi ukuran terhadap

produk, safety jika didistribusi jarak jauh karena dilapisi dengan kemasan

sekunder dan tersier. Dalam dosis pemakaiannya, setiap seduhan dari produk teh

mahkota dewa tersebut dibutuhkan takaran sebesar 1,5 sendok makan dalam 150

57
ml air, untuk hasil terbaik dalam penyembuhan penyakit digunakan tiga kali

sehari selama dua bulan berturut-turut.

Kelebihan dari kemasan plastik LDPE (Low Density Polyethylene) yang

digunakan yaitu ringan, fleksibel, multiguna, kuat, tidak karatan, serta dapat diberi

warna dan harganya yang relatif murah. Selain itu plastik ini bisa dicetak dengan

gambar desain sesuai keinginan untuk kemasan 100 g. Kelemahan plastik tersebut

adalah tidak tahan panas, tidak hermetis (plastik masih bisa ditembus udara

melalui pori-pori plastik) tetapi sebelumnya udara didalam kemasan plastik dapat

dihilangkan dengan cara pengepresan menggunakan hand sealer, apabila bereaksi

dengan bahan dapat membahayakan kesehatan dan mudah terjadi pengembunan

uap air didalam kemasan ketika suhu turun (Anonim, 2007).

Kelebihan dari kemasan plastik PP (Polypropilen) yaitu lebih kuat dan

ringan dengan daya tembus uap yang rendah, ketahanan yang baik terhadap

lemak, stabil terhadap suhu tinggi dan cukup mengkilap (Buckle, et al., 1987).

Kemasan plastik jenis ini biasanya digunakan untuk tempat makanan dan

minuman seperti tempat menyimpan makanan, botol minum dan terpenting botol

minum untuk bayi. Kelemahannya adalah tidak transparan dan kerapuhan pada

suhu rendah (0C) (Anonim, 2007). Gambar dari kemasan plastik dapat dilihat

pada gambar dibawah ini.

58
Gambar 10. Kemasan plastik teh mahkota dewa (130 g)

Gambar 11. Kemasan plastik teh mahkota dewa (100 g)

b. Kemasan sekunder

Kemasan sekunder adalah kemasan yang membungkus kembali produk

makanan yang telah dikemas dalam kemasan primer. Tujuan dari penggunaan

kemasan sekunder adalah untuk lebih melindungi produk dari kerusakan akibat

benturan selain itu bisa juga sebagai media informasi produk. PT. Salama

Nusantara menggunakan duplex/karton dus/karton lipat sebagai pengemas

sekunder. Informasi yang terdapat dalam kemasan sekunder ini antara lain nama

59
produk yang dipasarkan, komposisi produk, logo dan nama perusahaan yang

memproduksi, kegunaan atau manfaat dari produk, berat produk, alamat dan

kontak perusahaan, tanggal kadaluarsa, harga produk, aturan pakai, peringatan-

peringatan seperti wanita hamil dilarang mengkonsumsi produk tersebut, nomor

izin dari BPOM RI dan izin usaha SK Menteri Kesehatan RI, serta logo halal dari

MUI.

Kemasan duplex/karton lipat lebih sering berfungsi sebagai wadah luar

atau sebagai penyokong wadah utama dalam pengemasan bahan pangan agar lebih

kuat, dan rigid. Karton lipat merupakan jenis pengemas yang popular karena

mempunyai sifat praktis, murah, lebih tebal, ringan, dan mudah dilipat sehingga

hanya memerlukan sedikit ruang dalam pengangkutan dan penyimpanan (Anonim,

2007). Demikian pula dalam pencetakan dan penggrafisan dapat dilakukan untuk

meningkatkan penampilan produk. Pemakaian yang luas dari jenis kemasan ini

disebabkan oleh banyaknya variasi dalam hal model, bentuk dan ukuran dengan

karakteristik yang khusus. Karton lipat memiliki kelebihan antara lain elastisitas

lebih baik dibanding kayu, dapat dicetak sesuai keinginan pada permukaannya,

dapat dikerjakan secara masinal, pemakaiannya mudah, dan juga dapat sebagai

media informasi. Kelemahannya adalah tidak tahan panas, tidak tahan air, mudah

sobek, tidak elastis dan tidak transparan (Anonim, 2007). PT Salama Nusantara

menggunakan kemasan duplex/karton lipat untuk kemasan 130 g. Gambar dari

kemasan karton lipat dapat dilihat pada gambar 12.

60
Gambar 12. Kemasan karton teh mahkota dewa

c. Kemasan tersier

Kemasan tersier adalah kemasan yang membungkus kembali kemasan

sekunder. Tujuan dari penggunaan kemasan tersier adalah untuk melindungi

produk teh mahkota dewa dari kerusakan selama distribusi serta untuk

mempermudah transportasi. Jenis kemasan yang digunakan PT. Salama

Nusantara adalah kemasan kardus dalam ukuran yang besar. Kelebihan dari

pengemas kardus adalah ringan, mudah dicetak, murah, mudah didaur ulang.

Kelemahan kardus adalah tidak tahan air dan kelembaban, mudah sobek, tidak

elastis dan tidak transparan (Anonim, 2007).

Informasi yang terdapat dalam kemasan sekunder ini antara lain nama

produk yang dipasarkan, komposisi produk, logo dan nama perusahaan yang

memproduksi, alamat dan kontak perusahaan, tanggal kadaluarsa, harga produk,

aturan pakai, nomor izin dari BPOM RI dan izin usaha SK Menteri Kesehatan RI,

serta logo halal dari MUI.

61
PT Salama Nusantara menggunakan kardus untuk pemesanan teh mahkota

dewa dalam dan luar negeri. Biasanya satu kardus berisi 50 kemasan karton.

Setiap kardus pada bagian atas dan bawah diberi lakban agar kuat menahan beban.

Gambar dari kemasan kardus dapat dilihat pada gambar 13.

Gambar 13. Kemasan kardus teh mahkota dewa

3. Sistem Pengemasan

Sistem pengemasan teh mahkota dewa yang dilakukan di PT. Salama

Nusantara menggunakan sistem semi otomatis, artinnya pengemasan yang

dilakukan tidak semua menggunakan mesin pengemasan melainkan masih ada

yang menggunakan pengemasan manual dengan bantuan tangan manusia.

Pada proses pembuatan teh mahkota dewa melewati proses pencampuran

bahan baku, setelah itu dilakukan pengemasan I secara manual yaitu memasukkan

teh mahkota dewa ke dalam plastik setelah itu dipres menggunakan alat sealer

agar kedap udara dan air sehingga produk didalamnya awet serta tidak tercemari

bahan pengotor. Sealer yang digunakan adalah model hand press sealer yang

62
terbuat dari kayu. Mekanisme kerjanya sangat mudah cukup meletakan plastik

kemasan diantara hand sealer tersebut, lalu di tekan layaknya mesin press.

Setelah melalui proses pengemasan I, dilakukan pengemasan II secara manual

produk teh mahkota dewa selanjutnya dimasukkan menggunakan tangan manusia

kedalam karton lipat yang sudah dibentuk menjadi bentuk kotak. Pengemasan

dalam kotak karton dilakukan setelah produk dikemas dalam kemasan plastik

dengan berat 130 g yang kemudian dimasukkan kedalam kemasan karton lalu di

pinggir permukaan karton diberi lem agar lebih kuat menahan beban serta awet

dan tidak terbuka saat distribusi hingga ke konsumen.

Setelah itu, dilakukan pengemasan III yaitu secara manual produk teh

mahkota dewa yang telah dikemas menggunakan karton lipat, dimasukkan

menggunakan tangan manusia kedalam kardus dan disusun dengan rapi. Didalam

satu kardus terdapat 50 kotak teh mahkota dewa.

4. Alat dan Mesin Pengemasan

Alat yang digunakan untuk mengemas teh mahkota dewa yaitu hanya hand

sealer tradisional, selebihnya masih menggunakan tangan manusia. Hand sealer

digunakan untuk mengepres plastik yang digunakan sebagai pengemas agar kedap

udara dan air. PT. Salama Nusantara memiliki satu buah hand sealer yang dapat

digunakan untuk mengemas teh mahkota dewa.

Sealer tersebut terbuat dari kayu. Mekanisme kerja dari hand sealer

tradisional ini menggunakan listrik. Pertama lipat plastik yang akan dipres setelah

63
itu ditekan dengan pegangan kayu beberapa detik, lalu angkat. Gambar dari mesin

sealer dapat dilihat pada gambar 14.

Pegangan kayu

Gambar 14. Hand Sealer tradisional

Spesifikasi dari alat tersebut antara lain:

Tipe : Side Cutter Model

Impulse Power : 400W

Seal Length : 300mm

Seal Width : 2mm

Machine Weight : 4.5kg

D. Sanitasi Perusahaan

Sanitasi merupakan hal penting yang harus selalu diperhatikan oleh

perusahaan karena menentukan kualitas produksi. Sanitasi yang baik dari

perusahaan akan menghasilkan produk yang bermutu serta dapat memperoleh

kepercayaan dari konsumen. Kegiatan sanitasi yang diterapkan di PT. Salama

Nusantara Yogyakarta meliputi:

64
1) Sanitasi lingkungan produksi

Sanitasi lingkungan produksi perlu mendapat perhatian, karena berkaitan

erat dengan masyarakat sekitar, pengolahan, dan kelestarian lingkungan.

Lingkungan produksi berhubungan dengan lokasi dan konstruksi bangunan.

Sanitasi lingkungan produksi berguna untuk memperoleh lingkungan yang aman

dan nyaman serta memenuhi persyaratan kesehatan. Beberapa aspek yang perlu

diperhatikan antara lain:

a. Lokasi bangunan

Lokasi pabrik terdapat di daerah yang penduduknya tidak padat. Bangunan

terletak di kawasan industri dan bersebelahan dengan pemukiman warga, jalan

raya, dan sawah-sawah milik warga.

b. Konstruksi bangunan

Konstruksi bangunan dibuat sesuai dengan keadaan tanah dan fungsi dari

bangunan. Hal - hal yang dapat diperhatikan adalah:

Lantai

Lantai pabrik pada ruang produksi disyaratkan harus mempunyai

konstruksi yang halus, tidak licin, drainase, mudah dibersihkan, tahan terhadap

bahan kimia, dan bebas dari keretakan. Lantai pada PT Salama Nusantara

Yogyakarta terbuat dari ubin dengan permukaan rata sehingga tidak menyebabkan

genangan air.

Dinding

Dinding bangunan terbuat dari bahan bersemen yang dilapisi dengan cat.

Syarat dinding yang baik untuk ruang produksi adalah dinding yang mudah

65
dibersihkan serta kedap terhadap air. Dinding ruang produksi seluruhnya terbuat

dari bahan yang bersemen. Dinding tersebut dilapisi dengan menggunakan cat

tembok berwarna putih.

Ventilasi

Penyediaan ventilasi di setiap ruangan perusahaan bertujuan untuk

sirkulasi udara dan untuk pengaturan perbedaan suhu dan tekanan antara suhu di

dalam ruangan dengan suhu di luar ruangan. Pada ruang penyimpanan bahan baku

ventilasi tidak terlalu banyak dengan tujuan senyawa volatil tidak menguap

keluar. Ventilasi terdapat pada setiap ruang yang ada dalam perusahaan.

Atap

Atap yang digunakan terbuat dari bahan yang ringan dan bergelombang.

Atap yang baik memiliki ketinggian tertentu dan mudah dibersihkan, tetapi atap

pada ruang produksi teh mahkota dewa di PT. Salama Nusantara Yogyakarta ini

atapnya tidak terlalu tinggi sehingga tidak memberikan kenyamanan para pekerja,

karena udara di dalam ruangan agak panas terutama pada saat proses

pencampuran teh mahkota dewa dibebaskan sejumlah panas.

Penerangan

Penerangan yang cukup akan memudahkan dan memperlancar jalannya

proses produksi. Penerangan sangat dibutuhkan terutama pada saat pabrik

beroperasi pada malam hari. Penerangan yang digunakan cukup memadai dengan

memasang lampu-lampu penerangan pada setiap ruang. Pada PT. Salama

Nusantara Yogyakarta tidak menggunakan penerangan pada saat proses produksi

karena produksi teh mahkota dewa hanya dilakukan pada pukul 07.30-16.00 WIB,

66
sehingga pada waktu tersebut banyak cahaya matahari yang masuk ke dalam

ruang produksi melewati jendela sehingga tidak dibutuhkan tambahan penerangan

lagi.

Pada ruang sortasi kering terdapat fan. Fan berfungsi untuk menyedot debu-

debu yang bertebaran di udara, lalu keluar dari ruang sortasi kering, tersedotnya

debu maka gangguan pernafasan pekerja dapat diminimalkan dan dapat menjaga

kebersihan ruang sortasi kering.

Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian lebih dalam konstruksi

bangunan yaitu lantai, dinding, atap dan langit-langit, ventilasi udara, penerangan,

dan tata ruang, sehingga diperlukan jadwal untuk menjaga kebersihan terhadap

konstruksi bangunan. Sanitasi di dalam perusahaan cukup baik dengan alasan

yaitu terdapat jadwal kebersihan yang rutin, lantai mudah dibersihkan.

Kebersihan perusahaan sangatlah penting agar produk tidak terkontaminasi

oleh mikroba yang dapat menurunkan kualitas produk akhir serta menciptakan

kondisi yang nyaman dan sehat. Perusahan dalam menjaga kebersihan halaman

pabrik, memiliki petugas kebersihan, seperti adanya tukang sapu yang setiap pagi

menyapu halaman sekitar pabrik. Pembersihan terhadap ruang yang ada dalam

perusahaan dilakukan setiap hari. Pembersihan dilakukan dengan cara menyapu

serta mengepel lantai di setiap ruangan untuk membersihkan dari debu/kotoran

yang dapat berasal dari proses pengolahan produk.

2) Sanitasi bahan baku

Sanitasi bahan baku ini dilakukan untuk menjaga kondisi dan kualitas bahan

baku agar tetap bagus sehingga produk akhir yang dihasilkan juga bagus. Pada

67
perusahaan ini dilakukan pengecekan pada saat bahan baku sampai di lokasi

perusahaan untuk memisahkan bahan baku yang rusak/cacat agar tidak terjadi

kontaminasi yang dapat menurunkan kualitas produk akhir. Bahan baku yang

sebagian besar cacat maka langsung dikembalikan ke pemasok bahan baku dan

tidak dimasukkan ke dalam ruang bahan baku.

3) Sanitasi pekerja

Pekerja yang terlibat langsung sejak proses persiapan bahan baku,

pengolahan dan sampai dengan penyimpanan merupakan sumber potensial

pencemaran mikroba, karena melalui tangan dan tubuh para pekerja yang

berhubungan langsung dengan bahan pangan yang akan diolah, dapat

menyebabkan tejadinya kontaminasi dari tangan dan tubuh pekerja yang

mengandung mikroba ke bahan pangan yang akan diolah. Sanitasi terhadap

pekerja perlu diadakan demi terciptanya kesehatan, keselamatan dan kenyamanan

agar karyawan tidak terganggu dalam melakukan pekerjaannya, untuk memenuhi

tujuan tersebut maka disediakan berbagai peraturan-peraturan dan fasilitas

sanitasi.

Peraturan-peraturan tersebut antara lain:

a. Karyawan yang masuk ruang produksi harus dalam keadaan bersih

b. Tidak diperbolehkan merokok di dalam ruang produksi.

c. Tidak diperbolehkan menggunakan alas kaki di dalam ruang pengolahan.

d. Karyawan bagian produksi harus menggunakan masker dan tutup kepala.

e. Tidak diperbolehkan makan dan minum saat proses produksi berlangsung.

Fasilitas sanitasi yang disediakan berupa:

68
a. Masker

Setiap tahap pengolahan harus dilakukan antisipasi walaupun sederhana

untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan kerja para pekerja, maka

diperlukan perlengkapan untuk kelengkapan pekerja seperti masker.

Masker terbuat dari kain yang cukup untuk melindungi dari debu dan

kelembaban berlebih dan tidak terlalu pengap. Masker digunakan pada saat

sortasi yang memiliki kelembaban tinggi, pencampuran teh mahkota dewa

di ruang produksi, pengemasan, dan gudang yang berdebu.

b. Tutup kepala

Tutup kepala sama seperti masker, terbuat dari kain yang cukup untuk

melindungi dari debu. Tutup kepala digunakan untuk menjaga kualitas teh

mahkota dewa agar tidak terjadi pencemaran dari debu yang berasal dari

kepala atau rambut pekerja sehingga keamanan teh dapat dijaga.

c. Apron

Apron ini biasa disebut dengan celemek. Karyawan pada PT. Salama

Nusantara Yogyakarta menggunaka apron tersebut pada saat proses

produksi yang meliputi pencampuran bahan baku sampai dengan

pengemasan. Penggunaan apron ini bertujuan untuk menjaga kualitas

produk dari debu atau mikroba yang berasal dari pakaian pekerja.

d. Alas kaki

Setiap karyawan diwajibkan mengganti alas kakinya saat masuk ke

perusahaan. Hal ini dilakukan untuk mencegah kontaminasi silang dari

luar perusahaan ke dalam perusahaan.

69
e. Sarana toilet

Sarana toilet disesuaikan oleh banyaknya pekerja, oleh karena itu ada

pembagian sarana toilet untuk pekerja pada masing - masing proses. Toilet

ditempatkan tidak berdekatan dari ruang produksi, sehingga tidak

menimbulkan kontaminasi ataupun bau yang mengganggu. Di perusahaan

ini terdapat 3 buah toilet untuk pekerja.

f. Sarana beribadah

Sarana beribadah ini berupa sebuah musholla yang dapat digunakan oleh

pekerja untuk melaksanakan ibadahnya. Sarana ini dilengkapi dengan peralatan

beribadah dan tempat wudhu.

Kendala kendala yang dihadapi oleh perusahaan pada aspek sanitasi ini

adalah masih kurangnya kesadaran dan kedisiplinan akan perlengkapan kerja,

serta rendahnya pengetahuan para pekerja akan pentingnya menjaga kebersihan

dan sanitasi di lingkungan perusahaan pada beberapa tahapan pengolahan.

4) Sanitasi peralatan

Sanitasi peralatan dan mesin pengolahan juga penting dilakukan untuk

menjaga agar peralatan dan mesin yang digunakan selalu dalam keadaan bersih

dari kontaminan sehingga tidak menurunkan nilai estetika ataupun nilai mutu

produk. Sanitasi peralatan perlu dilakukan secara berkala terutama pada mesin

yang kontak langsung dengan bahan.

Sanitasi peralatan pada perusahaan ini dilakukan dengan cara pembersihan

secara manual dan pengecekan terhadap alat yang bertujuan untuk mengetahui ada

tidaknya kerusakan alat. Proses pengecekan dilakukan setiap hari sebelum dan

70
sesudah proses pengolahan. Selain itu, perawatan terhadap alat dilakukan dengan

beberapa cara, antara lain:

Pemberian oli pada bagian-bagian alat yang memerlukan, dilakukan sebelum

dan sesudah alat dioperasikan.

Servis untuk setiap alat dengan tujuan memeriksa bagian-bagian dalam alat

sekaligus membersihkan kotoran dan kerak-kerak yang ada.

E. Pengelolaan Limbah

Kondisi lingkungan berpengaruh besar dalam proses produksi. Limbah

merupakan hasil samping dari proses pengolahan yang erat hubungannya dengan

lingkungan. Limbah perlu penanganan khusus agar tidak berpengaruh buruk pada

produk. PT. Salama Nusantara Yogyakarta pada proses produksinya

menghasilkan limbah padat dan gas.

1. Limbah padat

Limbah padat ini berupa padatan-padatan yang dihasilkan dari teh, benalu

teh, dan mahkota dewa yang hancur pada proses produksi. Limbah tersebut

ditangani dengan cara di alirkan ke sungai atau dengan pembakaran yang

dilakukan pada tempat terpisah yang jaraknya jauh dari area proses pengolahan.

Limbah padat berupa abu juga dihasilkan pada proses produksi teh mahkota dewa

tersebut yang berasal dari tungku pembakaran menggunakan kayu bakar atau

penyangraian, dan sisa pengolahan dari tahapan proses sortasi kering. Debu-debu

atau abu dari hasil sortasi daun teh hijau, teh mahkota dewa, dan benalu teh akan

akan dibuang setiap harinya. Deu-debu atau abu tersebut juga dapat digunakan

71
untuk tambahan pupuk bagi tanah sawah dan digunakan sebagai bahan pewarna

pembuatan batik (Primanita, 2010).

2. Limbah gas

Limbah gas berupa asap yang berasal dari pembakaran atau penyangraian

mahkota dewa, asap tersebut dialirkan melalui cerobong asap terlebih dahulu

diproses sehingga tidak menjadi debu. Asap dialirkan ke dalam cerobong asap

tersebut bertujuan agar asap/gas hasil pembakaran tersebut tidak masuk ke ruang

pengolahan sehingga tidak mengganggu jalannya proses pengolahan (Primanita,

2010).

F. Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah salah satu langkah analisis yang digunakan dalam

proses pengembangan perusahaan dengan pertimbangan faktor internal dan faktor

eksternal dari perusahaan yang dianalisis. Tujuan yang ingin dicapai dari analisis

SWOT adalah untuk memperoleh gambaran yang jelas dan obyektif tentang

kelayakan struktur dan fungsi serta kelayakan kinerja suatu perusahaan dalam

angka waktu tertentu.

Analisis SWOT mencakup empat hal, yaitu :

1. Strengths (kekuatan) yang dimiliki perussahaan.

2. Weakness (kelemahan) yang dimiliki perusahaan.

3. Opportunities (peluang) yang berasal dari luar atau masyarakat

terhadap perusahaan.

4. Threats (ancaman) yang berasal dari pihak luar.

72
Proses pengambilan keputusan strategis selalu berkaitan dengan

pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan. Perencana

startegis (strategic planner) harus menganalisa faktor-faktor strategis perusahaan

(kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman) dalam kondisi yang ada.

Berdasarkan pengamatan dan analisis SWOT yang telah dilakukan

perusahaan memiliki beberapa Strenghts (kekuatan), sehingga perusahaan tetap

dapat melakukan proses produksi, yaitu :

1. Memiliki citra produk yang bagus di mata konsumen teh.

2. Memiliki cita rasa yang khas dengan selera konsumen pada umumnya.

3. Lokasi perusahaan strategis karena dekat dengan jalur utama

transportasi, juga berdekatan dengan perusahaan-perusahaan, seperti

PLN, PT. TELKOM, dan PAM serta Pembelanjaan daerah Wates.

4. Pelayanan terhadap konsumen (costumer service) sangat terbuka dan

ramah.

Beberapa Weakness (kelemahan) atau masalah yang harus diatasi untuk

dapat memanfaatkan peluang yang ada. Kelemahan tersebut antara lain :

1. Tidak semua pekerja pada bagian produksi menggunakan masker atau

penutup mulut.

2. SDM belum begitu bagus, terutama pada pekerja harian dan borongan

dimana pendidikan mereka sangat rendah, bahkan ada yang tidak

pernah mengenyam pendidikan. Keahlian kurang dipehatikan, karena

yang penting adalah keterampilan dan pengalaman.

73
3. Lokasi pabrik dengan lokasi penyedia/pemasok bahan baku yang tidak

didalam satu wilayah, sehingga kurang efisien dan memakan biaya

lebih banyak untuk pendistribusian bahan baku serta proses

pengolahan.

4. Beberapa proses pengolahan yang masih manual, seperti pemilihan

teh hijau dan mahkota dewa oleh pekerja wanita, serta pengemasan

dengan tenaga manusia.

5. Tenaga kerja yang beberapa diantaranya sudah berumur sehingga

sedikit lambat.

6. Beberapa pekerja masih belum dapat melakukan sifat disiplin kerja,

seperti penggunaan masker, penutup kepala, sarung tangan, dan surat

keterangan tidak masuk bekerja yang terkadang palsu.

Beberapa Opputinities (peluang) yang dimiliki perusahaan, namun belum

dapat dimanfaatkan dengan baik, antara lain:

1. Perluasan wilayah pemasaran dan perluasan wilayah pabrik.

2. Perkembangan teknologi yang semakin baik, sebelumnya

menggunakan alat tradisional dalam semua proses produksi, namun

saat ini telah mengunakan beberapa mesin dalam beberapa tahap

proses produksi.

3. Daya beli masyarakat meningkat yang dibuktikan dengan semakin

banyak permintaan konsumen terhadap produk teh mahkota dewa PT.

Salama Nusantara.

4. Pengembangan produk baru.

74
Beberapa Threats (ancaman) yang perlu diwaspadai oleh perusahaan,

antara lain :

1. Banyak perusahaan yang sejenis dalam daerah pemasaran yang sama.

2. Hambatan memasuki pasar karena adanya faktor konsumen yang

dominan terhadap suatu produk sejenis tertentu, misalnya konsumen

telah terbiasa mengkonsumsi teh jenis tertentu enggan untuk beralih

mengkonsumsi jenis teh yang lain.

3. Bahan baku yang berasal dari suplier tidak bisa menjamin akan selalu

tetap sesuai pemesanan, sehingga akan mempengaruhi banyaknya

produksi.

4. Keadaan perekonomian negara yang belum stabil, sehingga

menyebabkan harga ikut tidak stabil dan merugikan perusahaan.

Beberapa startegi yang dapat dilakukan oleh perusahaan, dalam hal

memanfaatkan peluang yang ada berdasar pada kekuatan yang dimiliki, yaitu :

1. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas produk.

2. Pengembangan produk-produk baru yang inovatif sesuai

perkembangan jaman dan gaya hidup masyarakat saat ini (trend).

3. Pengembangan teknologi dan peralatan khususnya dalam proses

pengolahan.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi berbagai kelemahan yang

ada, berdasar pada peluang yang dimiliki oleh perusahaan adalah :

1. Meningkatkan kualitas SDM, misalnya melalui pelatihan atau training

secara berkala.

75
2. Mengelola biaya operasional perusahaan secara efektif.

3. Meningkatkan disiplin kerja karyawan.

Beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk menghadapi ancaman yang

ada, berdasar pada kekuatan yang dimiliki perusahaan, antara lain :

1. Mempertahankan dan meningkatkan kualitas serta citra produk.

2. Meningkatkan kepercayaan konsumen dengan melakukan kegiatan

promosi.

3. Meningkatkan sistem pelayanan konsumen.

4. Membuka jaringan kerjasama dengan pihak lain untuk pengembangan

perusahaan.

Strategi yang dapat dilakukan untuk mengatasi kelemahan dan berbagai

ancaman adalah :

1. Menetapkan strategi bisnis yang lebih efesien dan efektif.

2. Mengganti teknologi khususnya peralatan produksi dengan mesin yang

lebih canggih dan efesien untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas

produk.

76
VI. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pelakasanaan kerja praktik lapangan di PT. Salama

Nusantara, maka dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut:

1. Teh mahkota dewa merupakan pencampuran antara makota dewa (70%),

teh hijau (20%), dan benalu teh (10%) yang diproses lebih lanjut dan

memperbaiki cita rasanya.

2. Proses pengolahan teh mahkota dewa secara garis besar, meliputi sortasi,

perajangan, pengeringan, penyangraian buah mahkota dewa,

pencampuran, dan pengemasan.

3. Teknologi pengemasan teh mahkota dewa yang dilakukan di PT. Salama

Nusantara menggunakan sistem semi otomatis, artinya pengemasan yang

dilakukan tidak semua menggunakan mesin pengemas, melainkan masih

ada yang menggunakan pengemasan manual dengan bantuan manusia.

4. PT. Salama Nusantara memiliki tiga jenis kemasan yaitu kemasan plastik

dengan berat 100 g dan 130 g, kemasan karton dengan berat 130 g dan

kemasan kardus dengan isi 40 kotak teh mahkota dewa yang digunakan

untuk distribusi jarak jauh.

B. Saran

1. PT. Salama Nusantara diharapkan memiliki laboratorium sendiri untuk

melakukan pengujian terhadap kualitas teh mahkota dewa sehingga mutu

77
atau komposisi dari produk teh mahkota dewa dapat diketahui dengan

pasti.

2. Memperbaiki dan meningkatkan teknologi peralatan dan mesin yang

digunakan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi produksi.

3. PT. Salama Nusantara diharapkam memiliki perpustakaan sehingga dapat

memberikan informasi yang lebih jelas tentang perusahaan maupun produk

teh mahkota dewa.

4. Perusahaan sebaiknya memperluas daerah pemasok bahan baku untuk

mengantisipasi kekurangan, baik mahkota dewa, teh, maupun benalu teh

dan memperluas jalur distribusi agar lebih dikenal oleh masyarakat luas.

5. Perusahaan lebih memperkenalkan hasil produk ke konsumen yang lebih

luas dan meningkatkan hasil penjualan, perusahaan perlu menigkatkan

kegiatan promosi baik di media massa maupun media elektronik.

78
DAFTAR PUSTAKA

Ahhira, A. 2011. Cara menanggulangi limbah industri pangan. (On-line)


http://www. anneahira.com/cara-menanggulangi-limbah.htm, diakses pada
24 Mei 2014.

Ahyani, A. 1990. Manajemen Produksi Pengendalian Produksi. BPFE.


Yogyakarta 135 hal.

Andi, N.A.S. 2006. Taklukan Penyakit dengan Teh Hijau. Tangerang: PT.
Agromedia Pustaka.

Anonim. 2007. Pengemasan Bahan Pangan. E-book Pangan.


http://tekpan.unimus.ac.id/wp-content/uploads/2013/07/PENGEMASAN-
BAHAN-PANGAN.pdf, diakses pada 8 Mei 2014.

Betty, S. L. J. 1984. Sanitasi Dalam Pengolahan Pangan. IPB, Bogor.

Buckle, K.A., R.A. Edwards, G.H. Flees, dan M. Wooton. 1987. Ilmu Pangan.
Jakarta: UI-Press.

Ciptadi, W. dan M. Z. Nasution. 1979. Mempelajari Cara Pemanfaatan Teh


Hitam Mutu Rendah untuk Pembuatan Teh Dadak. IPB, Bogor.

Dalimartha, S. 2004. Deteksi Dini Kanker dan Simplisia Antikanker. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama.

Dewanti, T., S.N. Wulan, dan I.C. Nur. 2005. Aktivitas antioksidan dan
antibakteri produk kering, instan dan effervescent dari buah mahkota dewa.
Jurnal Teknologi Pertanian. Vol. 6 (1): 29-36.

Dufresne, C dan E. Farnwoth. 2000. Tea, kombucha, and health : A Review.


Journal of Food Research International. 33:409-421.

Giyatmi dan H. E. Irianto. 2000. Teknik Sanitasi Pada Industri Makanan.


Departemen Pendidikan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Jurusan
Teknologi Pangan Universitas Sahid, Jakarta. 225 hal.

Gotama IBI, S. Sugiarto, M. Nurhadi, Y. Widiyastuti, S. Wahyono, dan I.J. Prapti.


1999. Inventaris tanaman obat Indonesia Jilid V. Jakarta: Departemen
Kesehatan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan; hal. 147-8.

Harmanto, N. 2001. Mahkota Dewa Obat Pusaka Para Dewa. Jakarta: Agromedia
Pustaka.

79
Hasanah, A.R. 2009. Pengaruh penggunaan limbah teh dalam pakan terhadap
penampilan produksi ayam pedaging. Skripsi. Fakultas Peternakan
Universitas Brawijaya, Malang.

Hasanah, A. 2013. Budidaya Mahkota Dewa. Universitas Brawijaya, Malang.

Herawati, D., L. Nurwaida, dan Sumarto. 2012. Cara Produksi Simplisia yang
Baik. Bogor: Seafest Center IPB.

James, S. 1992. Komoditi Teh Peranannya dalam Perekonomian Indonesia.


Yogyakarta: Kanisius.

Julianti, E. dan Nurminah, M. 2006. Teknologi Pengemasan E-book. Departemen


Teknologi Pertanian USU, Medan.

Kurniastuti, F dan L. D. Susanti. 2009. Pembuatan Zat Warna Alami Tekstil dari
Biji Buah Mahkota Dewa. Laporan Tugas Akhir. Universitas Sebelas Maret,
Surakarta.

Kusuma, S. A. F. 2009. Jenis Teh dan Pengolahannya. Universitas Padjajaran,


Bandung.

Lenny S. 2006. Senyawa Flavonoid, Fenilpropanoida dan Alkaloida. Medan:


USU.

Marriott. N. G. 1985. Pronciples of Food Sanitation. The AVI Book, Published by


Van Nostrand Reinhold Comp. New York.

Mill, S and K. Bone. 2000. Principles and Practise of Phytotheraphy Modern


Herbal Medicine. Churchill Livingstone. Edinburg Toronto.

Miltz, J. 1992. Food Packaging. Handbook of Food Engineering, D.R. Heldman


and D.B.Lund (Ed). Marcel Dekker, Inc. New York.

Nasution, Z. dan W. Tjiptadi. 1975. Pengolahan Teh. Teknologi Industri


Pertanian FATETA IPB, Bogor.

Nazaruddin dan F.B. Paimin. 1996. Pembudidayaan dan Pengolahan Teh.


Jakarta: Penebar Swadaya.

Pambudi, J. 2000. Potensi teh sebagai sumber zat gizi dan perannya dalam
kesehatan. Di dalam Prosiding Seminar Teh untuk Kesehatan. Pusat
Penelitian Teh dan Kina Gambung. Bandung.

80
Pantastico, E.R.B. 1993. Fisiologi Pasca Panen, Penanganan dan Pemanfaatan
Buah-Buahan dan Sayur-Sayuran Tropika dan Sub Tropika. Yogyakarta:
UGM Press.

Pitoyo, S. 1996. Mistletoe Horticulture, Control and Utilisation. Trubus


Agriwidya. (in Indonesia).

Riwan. 2008. Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa). (Online). http://tanaman-


kesehatan.blogspot.com/2008/05/mahkota-dewa-phaleria-macrocarpa.html,
diakses pada 1 Mei 2014.

Ranken, M.D and R.C. Kill. 1993. Food Industrial Manual 23rd Edition. Dalam
Noviatri. 2000. Skripsi. Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas
Brawijaya, Malang.
Setiawan, B dan E. Suhartono. 2012. Efek jus daun mahkota dewa (Phaleria
Macrocarpa) sebagai antimodifikasi protein plasma akibat reaksi glikosilasi
in vitro. Jurnal Farmasi. Vol 1(1): 1-5.

Siswoputranto, P.S. 1978. Perkembangan Teh, Kopi, Cokelat Internasional.


Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Syarief, R., S. Santausa, St. Ismayana B. 1989. Teknologi Pengemasan Pangan.


Laboratorium Rekayasa Proses Pangan, PAU Pangan dan Gizi, IPB.
Widowati, L. 2006. Kajian hasil penelitian mahkota dewa. Jurnal Bahan Alam
Indonesia ISSN 1412-2855. Vol. 4(1): 223-227.

Winarto,W.P. 2007. Mahkota Dewa. Jakarta: Penebar Swadaya.

Windari, F.I. and J. S. Raharjoe.1998. Keanekaregaman Jenis Benalu di Pulau


Jawa. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Vol. 4(4): 25-29.

81
LAMPIRAN

Lampiran 1. Persetujuan Pendaftaran BPOM

82
Lampiran 2. Sertifikat halal MUI

83
Lampiran 3. Piagam penghargaan Paramakarya

84
Lampiran 4. Piagam penghargaan dari Gubernur DIY

85
Lampiran 5. Sertifikat pelatihan

86
Lampiran 6. Daftar kelompok petani mahkota dewa di PT. Salama Nusantara
Yogyakarta.

No Nama Ketua Alamat


Kelompok
1. Dewa Sari Sukidi Tegalsari Ngargosari Samigaluh Kulon
Progo
2. Sumber Waras RR. Ngaliyan Ngargosari Samigaluh Kulon
Suryatinah Progo
3. Wido Sari Ngatijah Ngaliyan Ngargosari Samigaluh Kulon
Progo
4. Sedyo Mulyo Sri Suharti Trayu Ngargosari Samigaluh Kulon
Progo
5. Jari Ibu Teguh S. Jomblangan Banjarsari Samigaluh Kulon
Progo
6. Ngudi Makmur Paidin Sabrang Kidul Purwosari Girimulyo
Kulon Progo
7. Sadewa Jumaryanto Sabrang Kidul Purwosari Girimulyo
Kulon Progo
8. Giri Maju Supriyanto Kutogiri Sidomulyo Pengasih Kulon
Progo
9. Sunyo Giri Tukiman Sunyo Jatimulyo Girimulyo Kulon Progo
10. Menoreh Kamijan Kalibiru Hargowilis Kokap Kulon Progo
11. Tani Mulyo Tukiran Purwosari Girimulyo Kulon Progo

87
Lampiran 7. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-1

88
Lampiran 8. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-2

89
Lampiran 9. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-3

90
Lampiran 10. Laporan harian praktik kerja lapangan minggu ke-4

91
Lampiran 11. Penilaian pelaksanaan praktik kerja lapangan

92